basmalah Pictures, Images and Photos
09/17/21 - Our Islamic Story

Choose your Language

Demak: Salah Satu Kota Terkaya di Pesisir Utara Jawa https://jalurrempah.kemdikbud.go.id/artikel/demak-salah-satu-kota-terkaya-d...

Demak: Salah Satu Kota Terkaya di Pesisir Utara Jawa


https://jalurrempah.kemdikbud.go.id/artikel/demak-salah-satu-kota-terkaya-di-pesisir-utara-jawa

“Demak mulai dikenal pada akhir abad ke-15 sebagai kerajaan bercorak Islam yang pertama di Indonesia.” Begitulah penjelasan buku-buku sejarah tentang Demak. Namun, tersembunyi kemilau lain di kota wali ini, yakni menjadi salah satu simpul di jalur rempah. 

Letak Demak yang tidak terlalu jauh dari pantai menjadikan kota ini banyak dikunjungi oleh para pedagang, diperkirakan sudah sejak abad ke-14. Namun hingga sekarang pengetahuan kita tentang kota Demak hanya terbatas pada kedudukannya sebagai pusat politik kerajaan Islam pertama di Jawa. Dan belum banyak hal yang diungkapkan tentang perannya dalam jalur rempah.

Catatan dari Tomé Pires juga memperlihatkan bahwa kota ini ramai disambangi orang-orang asing. Orang Persia, Arab, Gujarat, Melayu, dan Cina. Selain itu, banyak sekali orang Muslim yang ada di kota Demak kala Pires berkunjung ke sana. Demak tumbuh besar dan menjadi salah satu kota terkaya di pesisir utara Pulau Jawa (Cortesao 1967).

Orang-orang asing yang datang umumnya adalah para saudagar. Sebagian dari mereka memutuskan menetap dan kawin-mawin dengan orang sekitar. Sarana peribadatan, terutama masjid, semakin banyak ditemui di Demak. Tak heran bila Walisongo menjadikan kota ini sebagai pusat penyebaran agama Islam.

Apalagi, menurut sejarahnya, Islam dan pedagang Islam adalah hasil peradaban kota. Oleh karena itu dapat dimengerti mengapa orang-orang Islam yang datang ke Demak dan kota-kota pantai di Jawa umumnya adalah pedagang, atau menjalankan dua aktivitas sekaligus, yaitu menyebarkan agama dan berniaga.

Sebagai satu-satunya ibukota kerajaan di Jawa Tengah yang terletak di pesisir, Demak sudah unggul secara geografis. Inilah yang menarik orang-orang berdatangan, terutama orang-orang Islam. Di samping itu menarik untuk diketahui bahwa ketika Demak runtuh, raja-raja Mataram tidak lagi memilih pusat pemerintahannya di wilayah pesisir, melainkan di pedalaman. Demak jelas menjadi semakin kuat di pesisir.

Memang belum banyak literatur yang memaparkan sejak kapan Demak telah menduduki tempat penting di aspek perdagangan. Sumber cukup kuat mengenai Demak di kancah perdagangan internasinoal barangkali berasal dari prasasti zaman Majapahit pada masa pemerintahan Hayam Wuruk. Disebutkan bahwa nama Demak (Dmak) menjadi salah satu dari 33 pangkalan dari jaringan Iintas air pada masa itu.

Sebuah peta kuno juga memperlihatkan bahwa Demak menjadi simpul penting dalam lalu lintas perdagangan di jalur rempah. Terdapat kota-kota dengan menara berwarna merah. Kota itu adalah Banten, Daramayo (Indramayu), Dama (Demak), dan Iapara (Jepara). Peta ini berbahasa Latin dan sepertinya menjadi peta yang digunakan oleh pelayar-pelayar asing dalam menapaktilasi kota-kota pelabuhan besar, di mana Demak menjadi salah satunya.

Kemudian, pada abad ke-16 Demak juga menjadi tempat penimbunan komoditi perdagangan padi yang berasal dari daerah-daerah pertanian di sekitarnya. Peranan Demak sebagai pusat kegiatan ekonomi pertanian menjadi semakin penting, terutama ketika kota Juwana yang terletak di sebelah timurnya dihancurkan oleh penguasa Majapahit terakhir sekitar tahun 1513. Juwana semula merupakan kota Pelabuhan dengan Pati sebagai ibukotanya. Sama seperti halnya kota pelabuhan Jepara dengan Demak sebagai ibukotanya.

Menurut cerita, kota Juwana dan Pati merupakan wilayah Sandang Garba, yang berarti “raja kaum pedagang”. Sebutan ini mengindikasikan bahwa kota tersebut dulunya merupakan kota pelabuhan yang cukup penting. Oleh karena itu keruntuhan Juwana mengakibatkan Demak secara penuh mendominasi perekonomian di pesisir utara Jawa, khususnya di selat sebelah selatan Pegunungan Muria.

Keterangan secara umum mengenai komoditi yang diperdagangkan di Demak sebagian dapat diketahui dari catatan Pires. Dikatakan bahwa komoditi utama yang menjadi ekspor kerajaan Demak adalah beras dan bahan-bahan makanan yang lain. Tempat tujuan ekspor komoditas tersebut terutama adalah Malaka. Tidak ada penjelasan lebih detail mengenai bahan-bahan makanan yang lain. Juga tidak disebutkan jenis barang-barang yang didatangkan dari negeri asing. Meskipun begitu, secara umum dikatakan bahwa barang dagangan dikonsumsi dalam jumlah yang besar di negeri ini. Barang-barang tersebut berasal dari Gujarat, Keling, Cina, dan Bengala (Cortesao 1967:186).

Pires menyebutkan bahwa surplus hasil panen kerajaan Demak diangkut ke Malaka dengan kapal jung dan pangajava (Cortesao 1967:186). Dengan demikian cukup jelas bahwa kedua jenis angkutan air tersebut mempunyai ukuran yang cukup besar dan kedua-keduanya dapat masuk kategori perahu-muatan-barang (kargo).

Tentang wilayah dan penduduk Demak pada awal abad ke-16 terdapat sedikit keterangan dari Pires. Disebutkan bahwa wilayah Demak tergolong lebih besar daripada kota-kota pantai lain di sekitarnya. Kotanya memiliki delapan sampai sepuluh ribu rumah (Cortesao 1967:184). Berdasarkan keterangan ini, tentu tidak dapat segera diperkirakan jumlah penduduknya, tetapi jika diandaikan setiap rumah terdiri dari 5 orang, maka penduduk Demak pada waktu itu berkisar antara 40.000 hingga 50.000 orang, suatu jumlah yang cukup masuk akal untuk kota Demak pada waktu itu (Rahardjo & Ramelan, 1997).

Lebih lanjut, Schrieke menelusuri sejumlah keterangan menyangkut kondisi wilayah dan sistem jalan darat maupun air di daerah Jawa (1959:97-129). Dikemukakannya, bahwa pada masa Mataram Islam, daerah pesisir terbagi menjadi dua oleh sungai Serang (Tedung) yang mengalir ke laut. Sungai ini terletak antara Demak dan Jepara sehingga wilayah pesisir ini terbagi dua menjadi wilayah timur dan wilayah barat. lni berarti ada jalan air yang dapat dimanfaatkan untuk sarana lalu lintas dari wilayah pedalaman ke wilayah hilir dan sebaiknya. Sementara itu sejumlah wilayah pemukiman dihubungkan satu dengan yang lain dengan jalan-jalan darat. Dari daerah pedalaman (wilayah Mataram) terdapat jalan menuju ke pantai utara, yaitu ke pelabuhan Semarang (sebelumnya adalah Demak).

Sementara untuk melakukan transaksi, mata uang Cina merupakan media tukar-menukar yang penting bagi standar nilai barang-barang yang dipertukarkan. Memang nilai tukar mata uang tersebut terhadap barang yang tertukar tidak selalu sama dari tempat ke tempat, tetapi mata uang tersebut diterima secara umum sebagai alat bayar di dunia internasional.

 

Sumber:

Cortesao, A. (peny.). 1967. The Suma Oriental of Tome Pires. (London: The Hakluyt Society)

de Graaf. H.J. & Pigeaud, T. G. 1986. Kerajaan-kerajaan Islam di Jawa: Peralihan dari Majapahit ke Mataram. (seri Terjemahan). (Jakarta: Grafitipers).

Pigeaud, T. G. 1960. Java in the Fourteenth Century: A Study in Cultural History. The Nagara-Kertagama by Rakawi Prapanca of Majapahit, 1365 AD. (The Hague: Martinus Nijhoff).

Rahardjo, S. & Ramelan W.D. 1997. Kota Demak sebagai Bandar Dagang di Jalur Sutra. (Jakarta: Direktorat Jenderal kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan).

Schrieke, B.J.o. 1957. Indonesia Sociological Studies, II: Ruler and Realm in Early Java. (The Hague: Martinus Nijhoff).

Sedyawati, E. 1985. Pengarcaan Genesa Masa Kadiri dan Singasari: Sebuah Tinjauan Sejarah Kesenian. Disertasi. Fakultas Sastra Universitas Indonesia.

Sumber gambar: https://collectie.wereldculturen.nl/#/query/a10b246b-22d0-4792-b955-faa636e8a606

Naskah: Endi Aulia Garadian

Editor: Doni Ahmadi

Wilayah Pesisir Menjadi Pintu Masuk Islamisasi di Jawa "Kawasan pesisir pantai menjadi pintuk masuk Islam di Pulau Jawa." ...

Wilayah Pesisir Menjadi Pintu Masuk Islamisasi di Jawa

"Kawasan pesisir pantai menjadi pintuk masuk Islam di Pulau Jawa."

https://www.google.com/amp/s/m.republika.co.id/amp/q72wkd320


REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Islamisasi yang terjadi di Indonesia dipengaruhi kuat dari proses Islamisasi di Jawa. Sedangkan proses Islamisasi di Jawa berdasarkan penelitian diawali di kota-kota pesisir.

Dalam buku "Peradaban Jejak Arkeologis dan Historis Islam di Indonesia" karya Hasan Muarif Ambary disebutkan, dari data-data di naskah kuno serta sumber-sumber sejarah lain yang relevan, proses Islamisasi di Jawa memang bermula dari kota-kota pesisir. 

Hal ini dapat dipahami karena pada umumnya Islam yang datang ke Nusantara diperkenalkan oleh para pedagang melalui jalur perdagangan. Sumber naskah Cirebon misalnya—Babad Cirebon—mengungkapkan hal ini.

Disebutkan pula, sejak penemuan makam Fatimah binti Maimun yang bertuliskan tanggal di nisannya tahun 475 hijirah atau 1082 Masehi. Tanda kedatangan Islam di wilayah Jawa ini juga nampak di wilayah Leran, Gresik, atau sebelah barat Surabaya.

Dengan penemuan makam tersebut, para arkeologis dan peneliti terus mengembangkan penemuannya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Islamisasi di Jawa bagian pesisir pada masa Airlangga telah tersebar. Dari proses Islamisasi di wilayah pesisir inilah, di periode berikutnya penyebaran Islam semakin menjamah wilayah-wilayah pedalaman.

Mulai dari Tuban, Gresik, hingga menyebar melwati Sungai Brantas hingga menyentuh Kerajaan Majapahir. Penyebaran Islam di Jawa selain adanya kontribusi para pedagang, tak lepas juga dari peran serta para ulama dan sufi. Misalnya peran sentral Maulana Malik Ibrahim yang menginjakkan kaki ke Nusantara pada 1371, tepatnya di Pelabuhan Gresik.
 

3 Teori Masuknya Islam ke Indonesia https://www.google.com/amp/s/news.detik.com/berita/d-5103389/3-teori-masuknya-islam-ke-indon...

3 Teori Masuknya Islam ke Indonesia

https://www.google.com/amp/s/news.detik.com/berita/d-5103389/3-teori-masuknya-islam-ke-indonesia-lengkap/amp

Jakarta - Salah satu agama yang diakui di Indonesia adalah Islam. Agama ini diketahui berkembang sejak abad ke-13 hingga sekarang di Tanah Air. Lantas, bagaimana teori masuknya Islam ke Indonesia?
Saat ini, ada 6 agama yang diakui di Indonesia, yakni Islam, Protestan, Katolik, Hindu, Budha, dan Konghucu. Islam merupakan agama mayoritas di Indonesia.

Berikut sejarah masuknya Islam di Indonesia lengkap dikutip dari buku 'Sejarah Indonesia Masuknya Islam hingga Kolonialisme' karya Ahmad Fakhri Hutauruk:

1. Teori Gujarat
Pendapat tentang teori masuknya Islam ke Indonesia yang pertama datang dari teori Gujarat. Dalam teori ini, diceritakan Islam masuk ke Nusantara pada abad ke-13 M dari pedagang India Muslim.

Teori ini berkembang dari Pijnappel dari Universitas Leiden yang mengatakan bahwa asal muasal Islam dari Gujarat dan Malabar. Kemudian, orang Arab bermazhab Syafi'i bermigrasi ke India dan orang India lah yang membawanya ke Indonesia.

Pendapat ini juga ditegaskan oleh Snouck Hurgronje dalam buku 'L'Arabie et Les Indes Neelandaises atau Reveu de I'Histoire des Religious bahwa hubungan dagang Indonesia dan India telah lama terjalin, kemudian inskripsi tertua tentang Islam terdapat di Sumatera memberikan gambaran hubungan antara Sumatera dengan Gujarat.

Selain itu, ada juga teori Gujarat dari Moquette di mana ia mengatakan bahwa agama Islam di Tanah Air berasal dari Gujarat berdasarkan bukti peninggalan artefak berupa batu nisan di Pasai, kawasan utara Sumatera pada 1428 M.

Adapun, batu nisan itu memiliki kemiripan dengan batu nisan di makam Maulana Malik Ibrahim di Jawa Timur, yakni memiliki bentuk dengan batu nisan di Cambay, Gujarat, India.

2. Teori Mekah
Pendapat lainnya adalah teori Mekah. Teori ini pertama kali dicetuskan oleh Hamka dalam Dies Natalis PTAIN ke-8 di Yogyakarta sebagai koreksi dari teori Gujarat. Dalam teori masuknya Islam ke Indonesia ini diterangkan bahwa Arab Saudi memegang peranan yang besar.

Pasalnya, menurut Hamka, bangsa Arab pertama kali ke Indonesia membawa agama Islam dan diikuti Persia dan Gujarat. Adapun, disebutkan masuknya Islam terjadi sebelum abad ke-13 M, yakni 7 Masehi atau abad pertama hijriyah.

Hal ini dibuktikan setelah wafatnya Rasulullah SAW pada tahun 632 M, di mana kepemimpinan Islam dipegang oleh para khalifa. Di bawah kepemimpinan itu, agama Islam disebarkan lebih luas hingga ke seluruh Timur Tengah, Afrika Utara, Spanyol.

Kemudian, di masa Dinasti Umayyah pengaruh semakin meluas hingga ke Nusantara. Menurut Arnold (Morrison 1951) bukti masuknya Islam ke Indonesia dari para pedagang Arab menyebarkan Islam ketika mereka berdagang hal ini juga sesuai dengan fakta pedagang Arab menjadi pemimpin pemukiman di pesisir pantai Sumatera. Para pedagang Arab tersebut juga melakukan pernikahan dengan penduduk lokal sehingga agama Islam semakin menyebar di Nusantara.

3. Teori Persia
Teori masuknya Islam ke Indonesia terakhir adalah Persia yang dicetuskan oleh Hoesein Djajadiningrat. Dijelaskan bahwa Islam masuk ke Indonesia dari Persia singgah di Gujarat pada abad ke-13. Hal ini terbukti dari kebudayaan Indonesia yang memiliki persamaan dengan Persia.

Hal ini juga dipertegas oleh Morgan (1963:139-140) bahwa masyarakat Islam Indonesia sama dengan Persia. Terbukti, peringatan 10 Muharram atau Asyura sebagai hari peringatan Syi'ah atas syahidnya Husein. Peringatan ini berbentuk pembuatan bubur Syura.

Selain itu, di Minangkabau bulan Muharram juga dikenal sebagai bulan-bulan Husein. Lalu di Sumatera Tengah diperingati dengan mengarak keranda Husein untuk dilemparkan ke sungai.

Selanjutnya, teori ini juga didukung dengan kesamaan ajaran Syaikh SIti Jenar dengan ajaran Sufi Iran al-Hallaj. Ketiga, penggunaan istilah bahasa Iran dalam sistem mengeja huruf Arab untuk tanda bunyi harakat dalam pengajian Al-Quran tingkat awal.

Kesamaan terakhir adalah nisan pada makam Malik Saleh dan Malik Ibrahim dipesan dari Gujarat dan terdapat pengakuan umat Islam terhadap madzhab Syafi'i di daerah Malabar.

Walaupun begitu, hingga saat ini belum ada fakta mana teori masuknya Islam ke Indonesia yang paling kuat atau yang paling benar.


(pay/erd)

Proses Islamisasi di Indonesia Melalui 5 Saluran https://www.google.com/amp/s/m.kumparan.com/amp/berita-hari-ini/proses-islamisa...

Proses Islamisasi di Indonesia Melalui 5 Saluran


https://www.google.com/amp/s/m.kumparan.com/amp/berita-hari-ini/proses-islamisasi-di-indonesia-melalui-5-saluran-1ul5bzFkxME


Proses Islamisasi yang terjadi di Indonesia terjadi secara bertahap dan berlangsung selama berabad-abad. Ini disebabkan karena mengubah pola pikir dan kebiasaan masyarakat sulit dilakukan. Apalagi sebelum Islam berkembang, pengaruh Hindu, Budha, dan kepercayaan lokal telah mengakar dengan kuat.

Penyebaran agama Islam di Nusantara dilakukan dengan cara yang damai. Islam berangsur-angsur diterima karena memanfaatkan dakwah yang bersifat adaptif terhadap karakteristik masyarakat lokal.

Agar lebih memahaminya, berikut adalah proses Islamisasi Indonesia secara umum:

Islam Disebarkan Melalui Perdagangan

Mengutip dari buku Arkeologi Islam Nusantara karya Tjandrasasmita, pembawa agama Islam pada masa-masa permulaan adalah golongan pedagang. Jadi mereka sebenarnya menjadikan faktor ekonomi sebagai pendorong utama untuk berkunjung ke Indonesia.

Momen ini diperkirakan terjadi sebelum abad ke-13 M. Sekitar abad 7-16 M, kepulauan Nusantara merupakan kawasan perdagangan Internasional yang ramai dikunjungi pedagang dari berbagai bangsa, termasuk Arab, Persia dan Gujarat.

Pendapat serupa dikemukakan oleh Hasan Mu’arif Ambary yang membagi fase Islamisasi Indonesia menjadi tiga, yaitu fase kehadiran para pedagang Muslim, fase terbentuknya kerajaan Islam, dan fase pelembagaan Islam.

Islamisasi Melalui Perkawinan

Saluran Islamisasi melalui perkawinan terjadi antara pedagang atau saudagar Islam dengan wanita pribumi. Melalui perkawinan inilah terlahir seorang Muslim. Alhasil, komunitas Islam makin luas.

Mengutip dari jurnal Kajian Proses Islamisasi di Indonesia tulisan Latifa Dalimunthe, jalur perkawinan lebih menguntungkan apabila terjadi antara saudagar muslim dengan anak bangsawan atau anak raja karena mereka kemudian turut mempercepat proses Islamisasi.

Contohnya adalah perkawinan Raja Brawijaya dengan puteri Campa yang melahirkan Raden Patah (Raja pertama Demak).

Saluran Pendidikan

Islamisasi juga dilakukan melalui pendidikan. Ini tidak dapat dilepaskan dari peran para pengembara sufi dan tokoh agama. Penyebaran Islam melalui pendidikan awalnya terjadi di lingkungan keluarga, kemudian berkembang di surau, masjid, pesantren, dan akhirnya masuk di rumah para bangsawan.

Di Pulau Jawa, penyebaran Islam melalui pendidikan dilakukan oleh Wali Songo. Mereka mendirikan pesantren untuk mendidik santri tentang agama Islam. Diharapkan, setelah selesai menuntut ilmu para santri dapat pulang ke kampung halaman untuk berdakwah menyebarkan Islam.

Islamisasi Melalui Tasawuf
Tasawuf merupakan ajaran ketuhanan yang berfokus pada pembersihan diri. Para ahli tasawuf juga memiliki ilmu menyembuhkan penyakit dan pengetahuan soal magis.

Menurut Tjandrasasmita, ahli tasawuf hidup dalam kesederhanaan, selalu berusaha menghayati kehidupan masyarakat, dan hidup bersama di tengah-tengah masyarakat.

Dengan tasawuf, bentuk Islam yang diajarkan ke penduduk pribumi mempunyai kesamaan dengan kepercayaan mereka yang sebelumnya menganut agama Hindu. Dengan demikian agama baru ini mudah dimengerti dan diterima.

Islamisasi Melalui Kesenian

Kesenian juga menjadi media dakwah Islam. Para penyebar agama Islam tidak mengubah kebudayaan yang telah ada, namun memanfaatkan kebudayaan tersebut sebagai sarana untuk menyebarkan agama.

Sunan Bonang merupakan sosok di balik tembang "Tombo Ati”. Selain itu, Sunan Bonang juga seorang dalang. Beliau menggubah lakon dan memasukkan tafsir-tafsir khas Islam dalam cerita.

Sunan Kalijaga menggunakan seni ukir, wayang, gamelan, serta seni suara suluk sebagai media dakwah. Beliau juga merupakan tokoh pencipta baju takwa, perayaan sekatenan, layang kalimasada, dan lakon wayang Petruk Jadi Raja.

Seni tersebut membuat banyak orang tertarik, bahkan berhasil membuat sebagian adipati di Jawa memeluk Islam melalui Sunan Kalijaga.

(ERA)

Fase-Fase Islamisasi Nusantara "Fase islamisasi diawali adanya kontak pedagang dari Arab dengan komunitas Nusantara." ...

Fase-Fase Islamisasi Nusantara

"Fase islamisasi diawali adanya kontak pedagang dari Arab dengan komunitas Nusantara."

https://www.google.com/amp/s/m.republika.co.id/amp/q57edr366

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Berdasarkan data arkelogi dan sejarah, penyebaran dan sosialisasi Islam di Nusantara dapat dijelaskan dalam beberapa fase pertumbuhan dan perkembangan. Secara kronologi, berikut penjelasan mengenai fase-fasenya.

Dalam buku Jejak Arkeologis dan Historis Islam di Indonesia karya Hasan Muarif Ambary dijelaskan, fase pertama yakni adanya kontak komunitas Nusantara dengan para pedagang dan musafir dari Arab, Persia, Turki, Suriah, India, Pegu, Cina, dan bangsa-bangsa lainnya. Fase ini berlangsung pada awal abad Masehi hingga abad ke-3 sampai ke-9 Masehi.

Fase kedua, akibat adanya perdagangan ini, para pedagang asing yang memeluk agama Islam mengadakan kontak dan bergaul dengan masyarakat lokal Nusantara. Fase ini berlangsung antara abad 9 hingga 11 Masehi.

Fase ketiga, ialah tumbuhnya permukiman Muslim di Nusantara baik yang berada di wilayah pesisir maupun yang berada di pedalaman. Fase ini berlangsung antara abad 11 hingga 13 Masehi. Adapun bukti-bukti tersebut ditemukan di pesisir Sumatra, Jawa Timur, Ternate, dan Tidore.

Sedangkan fase keempat, adalah fase tumbuhnya pusat-pusat kekuatan politik dan kesultanan Islam di Nusantara. Fase ini terjadi pada abad 13 hingga 16 Masehi. Kerajaan bercorak Islam yang tumbuh dan berkembang di sekitar fase ini mulai mengadakan hubungan dengan tradisi besar Eropa.

Hal ini dimotivasi adanya kepentingan perdagangan, tepatnya pencarian sumber-sumber penghasil rempah. Sebagai catatan, Islam dapat berkembang pesat di pesisir Jawa pada abad 15 dan 16 Masehi berkat peranan para Wali Songo.

Mengenal Allah, Mengenal Diri Diriwayatkan, Nabi Dawud as. diberi wahyu Allah Ta'ala, "Hai Dawud! Kenalilah Aku, dan ke...

Mengenal Allah, Mengenal Diri

Diriwayatkan, Nabi Dawud as. diberi wahyu Allah Ta'ala, "Hai Dawud! Kenalilah Aku, dan kenalilah dirimu!" Lalu Dawud as. bertafakur, hingga berkata, "Oh Tuhanku, aku telah mengenal-Mu, melalui Maha Tunggal-Mu, Maha Kuasa, Maha Baqa-Mu, dan aku mengenal diriku dengan segala kelemahan dan fana-ku."

Allah Ta'ala berfirman: "Sekarang engkau telah ma'rifat kepadaku." Dalam hadits disebutkan, "Bila kalian mengenal Allah dengan ma'rifat yang benar, niscaya engkau akan diberi pengetahuan yang membuat dirimu tidak pernah bodoh selamanya, dan bukit-bukit pun senantiasa mengamini doa-doamu."

Imam Ja'far ash-Shodiq ra. berkata, "Seseorang tidak meraih ma'rifat yang hakiki sepanjang ia masih memandang selain Dia."

"Ma'rifat itu adalah terbangnya qalbu ke kemah-kemah kemesraan dan cinta. Hentakan perjalanan menembus hijab Keagungan dan Qudrat-Nya."

Inilah perilaku orang yang kedua telinganya tuli dari segala kebatilan, dan kedua matanya buta dari memandang segala syahwat kesenangan, dan lisannya bisu dari berucap segala yang kotor.

Abu Yazid al-Bisthami ditanya, "Apakah anda melihat makhluk?"
"Bersama Allah Ta'ala aku melihat mereka." Jawabnya.

Muhamamd bin Wasi' ra. ditanya, "Apakah kamu sudah kenal Tuhanmu?" la diam sejenak, lalu berkata, "Siapa yang mengenal Allah Ta'ala sedikit bicaranya, panjang berfikirnya, fana dari rupa amaliyahnya, la berdzikir dalam kesinambungan pada-Nya, dalam segala kondisi senantiasa mendekat pada-Nya, dan putus dari segala kondisi ruhani untuk menuju Sang Pemilik Anugerah Ruhani. Karena siapa yang mengenal Allah Swt. lisannya kelu, akalnya cerdas. 

Sebagian Sufi menegaskan, ma'rifat ada dua bagian: Pertama: Mengenal bahwa semua nikmat itu dari Allah Swt. sebagaimana firmanNya: "Apa pun nikmat yang datang padamu, semuanya dari Allah." Hingga sang 'arif hanya teguh bersyukur, lalu nikmat itu semakin tambah dari Allah Swt. "Jika kalian bersyukur niscaya Aku tambah nikmat padamu," " dalam firmanNya.

Kedua: Memandang Sang Pemberi Nikmat tanpa melihat nikmatNya, hingga rindunya bertambah kepada Sang Pemberi Nikmat, hingga ia teguh dengan rindu dan cintanya, itulah firman Allah Ta'ala:
"Wahai Nabi cukuplah bagimu, Allah..."
"Bila mereka berpaling, maka katakanlah: Cukuplah bagiku, Allah."

Sumber : 
Menjelang Ma'rifat, Syeikh Ahmad Ar-Rifa'y

Hanya Allah Dalam hadits Nabi Saw. disebutkan,  "Allah Ta'ala menciptakan makhluk-Nya dalam kegelapan, lalu Allah meman...

Hanya Allah


Dalam hadits Nabi Saw. disebutkan, 
"Allah Ta'ala menciptakan makhluk-Nya dalam kegelapan, lalu Allah memantulkan dari Cahaya-Nya. Siapa yang mendapatkan dari Cahaya itu saat ini, ia mendapatkan hidayah, dan siapa yang salah terhadap cahaya-Nya maka ia akan sesat."

Itulah cahaya yang keluar dari keagungan anugerah yang memantul di hati, lalu menerangi nurani, hingga menembus hijab Jabarit, dan di alam Jabarut tak ada lagi hijab dengan Allah Ta'ala, begitu juga di alam Malakut, sampai sang hamba dalam kinerja dan ucapannya, gerak dan hasratnya, hidup dan matinya, telah menuju pada cahaya itu. "Allah-lah yang memberi cahaya langit dan bumi... Dengan cahaya-Nya itu memberi hidayah kepada yang dikehendakiNya."

Yahya bin Muad berkata, "Ma'rifat itu:
• Kedekatan qalbu pada Yang Maha Dekat.
• Untaian Ruh pada Sang Kekasih
• Menyendiri dari segalanya bersama Sang Diraja Yang Mengijabah.

Dzun Nuun berkata, Ma'rifat itu:
• Pensunyian rahasia batin dan segala hasrat
• Meninggalkan adab kebisaaan,
• Penentraman qalbu kepada Allah Ta'ala tanpa bergantung selain-Nya.

Tak seorang pun bisa mengungkapkan tentang ma'rifat Billah Ta'ala. Karena ma'rifat itu datang dari-Nya, begitu jelas, dan kepada-Nya kembali.

Orang-orang 'arif jiwanya fana di bawah keabadian-Nya dan Kuasa-Nya dari segala daya dan upaya. Anda melihat mereka itu senantiasa abadi dalam Daya-Nya dan Kekuatan-Nya, dan mereka terhanguskan dari eksistensi dan ikhtiar mereka di bawah kebesaran Uluhiyah-Nya. Mereka hanya mengikuti Sang Diraja bukan kekuasan mereka. Rasa butuhnya mereka hanya pada-Nya, rasa cukup mereka hanya pada-Nya, kemuliaan mereka hanya bersama-Nya, rasa hina mereka hanya bagi-Nya.

Sumber : 
Menjelang Ma'rifat, Syeikh Ahmad Ar-Rifa'y

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Al-Qur'an (196) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (49) Cerita kegagalan (1) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (6) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) Kecerdasan (220) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) Kisah Para Nabi dan Rasul (205) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) Nabi Adam (1) Nabi Ibrahim (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Musa (1) Nabi Nuh (3) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (1) Namrudz (2) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) Nusantara (210) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (154) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rehat (424) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (144) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah Penguasa (192) Sirah Sahabat (114) Sirah Tabiin (42) Sirah Ulama (90) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)