basmalah Pictures, Images and Photos
08/12/21 - Our Islamic Story

Choose your Language

Hasan Al Banna, Tarekat Syadziiliyah dan Qadiriyah Oleh: Nasrulloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Hasan Al Banna dan...

Hasan Al Banna, Tarekat Syadziiliyah dan Qadiriyah

Oleh: Nasrulloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)

Hasan Al Banna dan Syeikh Abdul Hasan Asy-Syadzili, Dua sosok yang lahir terbentang sangat jauh. Hasan Al Banna dan Syekh Abdul Qadir Jailani dua sosok yang lahir terbentang lebih jauh lagi. Syekh Abdul Hasan Asy-Syadzili kelak dikenal sebagai pendiri Tarekat  Syadzili. Syeikh Abdul Qadir Jailani kelak dikenal sebagai walinya para Wali dan pendiri Tarekat Qadiriyah. Hasan Al Banna dikenal sebagai ulama pergerakan dunia di abad modern ini yang mendirikan Ikhwanul Muslimin. Darimana keterhubungan ketiga tokoh ini ?

Menurut Prof Dr Ali Muhammad Ash Shalabi, Syekh Abdul Qadir Jailani merupakan ulama pertama yang mengubah gerakan tasawuf yang personal menjadi terorganisir. Ciri utamanya, pengajaran dan pendidikan jiwa yang terorganisir dan rapi. Pengkaderan di bidang agama, ilmu pengetahuan dan sosial. Dari Tarekat Qadiriyah inilah muncul prajurit, panglima dan pejabat negara yang menahan gempuran Eropa pada perang salib. Yang membangun bani Zanky menjadi negara yang rapi, adil dan sejahtera.

Hasan Al Banna sepertinya mendapatkan ilham dari cara Syekh Abdul Qadir Jailani mengelola dakwah. Dari gerakan dakwah personal menjadi gerakan terorganisir pasca runtuhnya Kekhalifahan Turki Utsmani oleh Mustafa Kemal. Bila membedah struktur jaringan Tarekat seperti Qadiriyah, Syadziliyah dan Naqsambandiyah saat ini dengan Ikhwanul Muslimin terdapat kemiripan. Termasuk metodelogi pensucian jiwanya melalui dzikir pagi dan petang.

Saya sering berbincang-bincang dengan orang yang aktif di tarekat Qadiriyah dan Syadziliyah, keteguhan untuk hidup berjamaah sangatlah kuat. Ketaatan pada Mursyid sangatkah luar biasa. Ada semacam sertifikasi dalam mendawamkan dzikir-dzikir tertentu. Ada jenjang-jenjang tertentu dalam strukturnya. Bila saya membaca buku tentang tarbiyah Ikhwanul Muslimin, ini pun ditemukan. Apakah Hasan Al Banna terilhami dalam pengajaran dan pengorganisasiannya?

Prinsip Hasan Al Banna dan Abu Hasan asy-Syadzii pendiri Tarekat Syadziiliyah terdapat kesamaan pandang antara mengarang kitab dengan mengkader umat. Yaitu mementingkan membentuk orang daripada menulis banyak kitab. Lebih penting membentuk kepribadian muslim daripada mengarang berlembar buku.

Dr Abdul Halim Mahmud, Syekh Al Azhar di tahun 1978, mengabadikan prinsip hidup pendiri Tarekat Syadziliyah yang lebih memilih mendidik beberapa orang daripada menulis sebuah karya. Suatu hari Syekh Syadzili ditanya, "Mengapa engkau tidak menulis sebuah karya yang diperuntukkan sebagai petunjuk menuju Allah dan ilmunya tarekat?" "Kitabku adalah murid-muridku," Begitu sang Syekh menjawab.

Hasan Al Banna pun, kehidupannya lebih banyak berkecimpung dalam pengkaderan dan membangun organisasi daripada menulis kitab. Beberapa kitab yang disematkan kepadanya, bukanlah hasil tulisannya tetapi ceramahnya yang ditulis oleh murid-muridnya. Ini seperti yang dilakukan oleh Imam Ahmad bin Hambal yang tidak pernah menuliskan kitab. Berkat kreatifitas murid-muridnya yang menuliskan ceramah sang Imam Ahmad-lah yang akhirnya Umat Islam bisa mengambil petunjuk dan keberkahan dari karya-karyanya.

Jejak-jejak para ulama akan selalu menjadi petunjuk jalan bagi ulama dan umat sesudahnya. Mengambil pelajaran karya ulama terdahulu akan menjadi cara mudah mendapatkan solusi di era sekarang. Seperti Dale Carnengie katakan dalam bukunya Leadership Mastery bahwa masa lalu harus menjadi sumber daya atau aset di era sekarang.  Itulah keterhubungan ke tiga tokoh tersebut.

Salah satu yang tercatat dalam kisah awal hidupnya Hasan Al Banna, sebelumnya dia cukup aktif dalam berbagai tarekat. Inspirasi ke dua tarekat ini dibawa untuk membangun Ikhwanul Muslimin?

Risalah Al-Matsurat Hasan Al Banna dan Syeikh Hasan Asy-Syadzali Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Sejarawan Muslim Dr Muhammad Ash Sh...

Risalah Al-Matsurat Hasan Al Banna dan Syeikh Hasan Asy-Syadzali

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 

Sejarawan Muslim Dr Muhammad Ash Shalabi mengabadikan berbagai dzikir dan munajat Syeikh Hasan Asy-Syadzali dalam bukunya yang diterjemahkan dan diterbitkan oleh Pustaka Al-Kautsar yang berjudul "Bangkit dan runtuhnya daulah Ayyubiyah." Salah satu yang dibahas adalah Wirid Hizib Nasr dan Bahr.

Saya pernah bertemu dengan beberapa ustadz dari berbagai pondok pesantren. Ternyata para Kiyai banyak yang mengijazahkan hizib ini kepada murid-muridnya. Terutama di masa-masa genting dan penting.

Saya juga membaca di buku sejarah, ternyata ketika Belanda membonceng tentara sekutu untuk menjajah Indonesia, para kiyai mengajarkan Hizib ini kepada masyarakat. Ingat ketika KH Hasyim Ashari menyerukan jihad total saat Surabaya diserbu pada 10 Nopember? Hizib ini pun diajarkan.

Imam Hasan Al Banna, pendiri gerakan Ikhwanul Muslimin, dalam Risalah Pergerakannya pun menuliskan munajat dan wirid dari Syeikh Hasan Asy-Syadzali untuk menjadi panduan para kadernya. Panduan dalam bermunajat dan berdzikir. Semua ini dihimpun dalam Risalah Al Matsurat yang menjadi bagian dari Pemikirannya yang dihimpun dalam Risalah Pergerakannya.

Hasan Al Banna dalam Risalah Pergerakannya mengatakan bahwa gerakan dakwah haruslah menjadi penyambung generasi terdahulu. Bukan menghancurkan apa yang sudah dibangun oleh para pendahulunya.

Dalam Sirah Nabawiyah, Rasulullah saw menebarkan debu ke muka kafir Quraisy sehingga mereka tidak melihat Rasulullah saw dalam peristiwa Hijrah, Perang Badar dan Hunain. Bisa jadi ini yang mengilhamkan Syeikh Hasan Asy-Syadzali untuk mewiridkan Hizib Bahr yang membutakan mata musuh?

Para Sahabat mengisahkan ketika kaum Muslimin terjebit di Perang Hunain, Rasulullah saw menebarkan debu yang membuat kondisi menjadi terbalik. Rasulullah saw pun bermunajat sangat luar biasa saat perang Badar.

Seorang Ulama Salaf, Muhammad bin Wasi, saat berperang bermunajat kepada Allah. Yang oleh para panglima dikatakannya, doanya lebih baik dari seribu pedang. Saat penaklukan Konstatinopel, Syeikh Aaq Syamsudin, bermunajat kepada Allah. Sehingga dilihat oleh Muhammad al Fatih muka sang syeikh mengeluarkan cahaya dan air matanya berlinang deras.

Memadukan ikhtiar dan doa merupakan sebuah prinsip pergerakan. Maka ambillah doa dan wirid yang matsur. 

Paradigma Tasawufnya Hasan al Banna Oleh: Nasruloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Tasawufnya Hasan al Banna sang pen...

Paradigma Tasawufnya Hasan al Banna

Oleh: Nasruloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)

Tasawufnya Hasan al Banna sang pendiri Ikhwanul Muslimin. Mungkin sangat sedikit yang mau mengkaji dan memahaminya. Menurut Said Hawa dalam kitabnya Fi Afaqit Ta'lim mengatakan bahwa Hasan Al Banna mengambil Tasawuf lalu membersihkannya. Said Hawa pun melanjutkan, "Apabila seorang sufi tidak melihat jalan tasawuf menuju Allah dalam Jamaah Ikhwanul Muslimin (IM), maka mereka akan memandang sesuatu yang menyimpan tentang IM."

Dalam Muktamar ke lima Ikhwanul Muslimin (IM) pada akhir Desember 1938 M hingga awal Januari 1939 M, Hasan Al Banna menjelaskan secara komprehensif gambaran gerakan IM yaitu mencakup Dakwah Salafiah, Tariqah Sunniyah, Haqiqah Shufiyah, Hai'ah Siyasiyah, Jama'ah Riyadhiyah, Rabithah Ilmiyah Tsaqafiyah, Syirkah Iqtishadiyah dan Fikrah Ijtima'iyah. Dari gambaran tersebut, ada 3 hal yang berkaitan dengan Tasawuf, apa itu?

Tariqah Sunniyah, Haqiqah Shufiyah dan Jama'ah Riyadhiyah. Inilah tiga gambaran pemikiran IM yang berkaitan dengan Tasawuf. Tariqah Sunniyah berarti membawa jiwa untuk mengamalkan sunah yang suci dalam segala hal, khususnya dalam masalah aqidah dan ibadah selama ada kemampuan.

Semua ulama tasawuf seperti Junaid Al Baghdadi, Imam Al Ghazali dan Syeikh Abdul Qadir Jailani menjelaskan bahwa tasawuf tidak boleh bertentangan dengan syariat. Bila ingin menempuh jalan tasawuf maka harus memahami syariat terlebih dahulu. Inilah jalan yang benar. Imam Junaid Al Baghdadi melarang mereka yang tak paham syariat menempuh jalan Tasawuf karena bisa terjadi penyimpangan. Inilah yang dimaksud Thariqah Sunniyah yang dijelaskan Hasan Al Banna.

Oleh karena itulah ulama Tasawuf membangun perjalanan para Sufi dengan tiga tingkatan berjenjang agar tidak menyimpang yaitu Syariat, Hakikat dan Marifat. Ketiga tangga ini tidak boleh dilompati tetapi sesuatu yang runut menanjak. Syariat sebagai landasan dan penempaan untuk mendapatkan derajat Hakikat dan Marifat. Disinilah konsep Jama'ah Riyadhiyah dalam IM ditempuh untuk mendapatkan tingkat Hakikat dan Marifat, bukan sekedar melatih raga agar kuat, tetapi mendisiplinkan diri dalam mempraktekkan ibadah dengan disiplin dan istiqamah sepanjang hayat.

Riyadhah atau pelatihan kedisiplinan ibadah harian dan raga diwujudkan dalam risalah Hasan Al Banna yang diberi nama Kewajiban muslim yang dirangkum dalam 38 pelatihan harian dari Shalat di awal waktu, membaca Al Quran, menjaga wudhu hingga pengelolaan waktu. Tidak itu saja, Hasan Al Banna juga membimbing wirid harian yang bernama Al Matsurat dan wirid Al-Qur'an berupa ayat-ayat pilihan. Jalan ini mendidik untuk beristiqamah. Jadi penempaan jalan Tasawuf cukup kental di IM untuk meraih derajat Haqiqah Shufiyah.

Haqiqah Shufiyah menurut Hasan Al Banna adalah memahami bahwa asas kebaikan adalah kesucian jiwa, kejernihan hati, kontinuitas amal, berpaling dari ketergantungan kepada makhluk, cinta karena Allah, dan keterikatan kepada kebaikan. Inilah titik sentral kebaikan manusia. Inilah inti dari Tasawuf mendidik hati hingga akhirnya mengenal Allah. Mendidik dan mengenal diri hingga akhirnya mengenal Allah.

Mengapa hati menjadi sentral, menurut Imam Al Ghazali dalam Ihya Ulumudin, kapasitas  seseorang ada yang dapat diraih dengan Ilham dan belajar. Allah mengajarkan itu semua bila hati manusia jernih hatinya. Menurut Ibnu Qayyim, Ilmu itu cahaya maka hati yang bercahaya yang akan dicurahkan ilmu dan kepahaman oleh Allah. Disinilah tingkatan Marifat akan diperoleh.

Bagaimana bermarifat yang benar? Hasan Al Banna pun memberikan bimbingan yang jelas dalam risalahnya yang berjudul Aqidah dalam Majmuatur Rasailnya. Dari prinsip memahami Dzat Allah, peran akal, pembahasan Asmaulhusna dan sifat 20 yang dikembangkan oleh Abu Hasan Al Ashari dan Imam Al Ghazali untuk membantu umat mengenal Allah.

Bagaimana hati yang hidup menurut Hasan Al Banna? Dalam kitab Haditsuts Tsulatsa karangan Ahmad Isa Asyrur menjelaskan, definisi hati yang hidup menurut Hasan Al Banna  adalah hati yang sensitif, dinamis,  terbuka, selalu terhubung dan diawasi Allah. Apakah tingkatan ini sudah selesai? Sekadar bermarifat ?

Bila tingkatan Syariat, Hakikat dan Marifat sudah ditempuh dan ditempa, maka kekuatan ini harus membangun karakter yaitu  al-Fahmu (Pemahaman), Ikhlas, Amal, Jihad, Tadhiyah (Pengorbanan), Taat, Tsabat (Teguh Pendirian), Tajarrud (Totalitas), Ukhuwah (Persaudaraan) dan Tsiqah (Percaya). Dari 10 sifat ini daya gunakan untuk membangun peradaban manusia. Itulah perjalanan Tasawuf Hasan Al Banna. Tidak hanya bernikmat bersama Allah daja, tetapi juga didayagunakan untuk membangun peradaban.

Thariqah dan Kemerdekaan Indonesia  Oleh: Nasrulloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Thariqah apakah hanyalah sekumpul...

Thariqah dan Kemerdekaan Indonesia 

Oleh: Nasrulloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)


Thariqah apakah hanyalah sekumpul orang yang tekun dengan wiridan? Thariqah adalah gerakan pembangun spiritual, yang dimulai dari pemahaman terhadap Al-Qur'an dan As Sunnah, meraih marifatullah, marifatulinsan, marifat terhadap alam semesta hingga memahami semua hakikat yang ada. Dari sinilah gerakan dakwah dan peradaban di mulai. Thariqah pun memberikan sumbangsih besar bagi kemerdekaan Indonesia.

Saat Portugis dan Belanda baru memasuki Sunda Kelapa, siapakah yang melakukan gerakan perlawanan? Sultan Ageng Tritayasa dan Syekh Yusuf Al Makasari. Syekh Yusuf adalah Mursyid dari Thariqah Khalwatiyah. Syekh Yusuf juga memiliki murid para sultan di Hindustan. Saat Syekh Yusuf ditangkap, beliau memimpin perlawanan dari Cylon dengan mendidik para jamaah haji dan mengirim risalah-risalah kepada murid-muridnya di Nusantara

Setelah itu, Syekh Nawawi Al Bantani membawa Tariqah Qadiriyah Naqsabandiah ke bumi Banten. Akhirnya meletuslah gerakan perlawanan rakyat Banten terhadap Belanda. Karena terus dibatasi gerakannya, akhirnya Syekh Nawawi kembali ke Mekkah, mengajarkan Thariqah ini hingga sampai ke Syekh Al Khatib Sambasi, Kiyai Khalil Bangkalan hingga ke Abah Anom Pesantren Suralaya Tasikmalaya. Jiwa semua perjuangan adalah spiritualitas yang tinggi.

Perang Jawa, guru dari Pangeran Diponegoro juga para penganut Thariqah. Dipercaya berasal dari Thariqah Sanusiyah. Thariqah Sanusiiyah akhirnya berkembang menjadi Thariqah Idrisiyah. Perang Padri juga dipengaruhi oleh Thariqah Syatariyah. Semua perjuangan membutuhkan energi spiritual yang mampu menghancurkan semua ketakutan kelemahan dan keterbatasan. Modal itu semua berada pada spiritual yang menyala. Itulah awal dari semua perbaikan dan gerakan peradaban.

Hasan Al Banna dengan gerakan Ikhwanul Muslimin mengatakan bahwa gerakan ini bukan gerakan thariqah semata, namun tetap menerima thariqah yang berdasarkan Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah saw untuk membangun jiwa spiritual kadernya. Risalah Wirid Al Matsurat Kubra dan Surga, dan Risalah kewajiban seorang kader dakwah mengindikasikan adanya pengaruh gerakan Thariqah dalam tubuh Ikhwanul Muslimin. Bagaimana Thariqah bisa mempengaruhi gerakan ini?

Pemikir Mesir, Dr Anwar Jundi, dalam bukunya yang mengupas biografi Hasan Al Banna, mengatakan bahwa kekuatan Hasan Al Banna dalam menaklukkan hati manusia berasal dari jiwa spiritualitas yang sangat kuat. Kekuatan menggerakkan jutaan orang Mesir dalam menghadapi kolonial Inggris disebabkan oleh kekokohan spiritualitas. Ini semua hasil didikan orang tuanya yaitu Syekh Ahmad As-Sa'ati yang merupakan pemuka Thariqah Asy-Syadzaliyah. Orang tua Hasan Al Banna pun memiliki syarah atas beberapa wiridan Asy-Syadzaliah yang diberi nama Al-Wadhifah Az-Zaruqiyah.

Seorang penulis terkenal Amerika, Robert Jackson,  membedah keteguhan Hasan Al Banna dalam menghindari godaan dan bujuk rayu yang diarahkan para imperialisme dan kolonialisme kepadanya. Yaitu, nilai-nilai sufisme yang jernih dan kezuhudan yang alamiah. Ini terlihat dari kesederhanaan hidupnya. Bahkan rumahnya pun hanya disebuah jalan yang sempit.

Di masa lalu, Thariqah Qadiriyah telah mampu menjadi ruh perjuangan Shalahuddin Al Ayubi. Dimana para pengikutnya menjadi petinggi, panglima dan prajurit Shalahuddin Al Ayubi. Thariqah Syadziliyah bersama rakyat dan Sultan Mesir mampu mengalahkan serbuan tentara Salib yang membuat Kaisar Louis IX terkalahkan. Thariqah Sanusiyah yang merupakan turunan dari Syadziliyah mampu mengusir kolonialis Perancis dan Italia dari negri-negri Magrib. Itulah kekuatan spiritualitas yang membangkitkan perlawanan dalam keterbatasan.

Sekarang apakah kekuatan spiritualitas akan mampu mengalahkan semua Hegemoni  peradaban yang penuh kezaliman dalam semua sektor kehidupan? Biar sejarah yang membuktikan.

Karamah Para Guru Hasan Al Banna Oleh: Nasrulloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Hasan Al Banna memiliki empat guru y...

Karamah Para Guru Hasan Al Banna

Oleh: Nasrulloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)


Hasan Al Banna memiliki empat guru yang langsung menempanya. Yaitu, Syekh Ahmad As-Sa'ati, Syekh Muhammad Zuhran, Syeikh Muhammad Abu Syausyah dan ustadz Abdul Fattah Abu 'Allam. Syekh  Ahmad As-Sa'ati adalah sang ayahnya. Beliau seorang ahli ilmu yang berpegang teguh pada Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah saw. Sang ayah, tekun mempelajari fiqh, tauhid dan nahwu. Di rumahnya terdapat perpustakaan pribadi yang sangat besar. Dia juga mengarang dan mensyarah beberapa kitab. Inilah penempaan luar biasa dari rumahnya.

Guru keduanya adalah Syekh Muhammad Zuhran. Hasan Al Banna mengatakan, "Sejak saat itu aku mulai mengenal pengaruh yang ditimbulkan oleh hubungan ruhani yang bersifat mutualistik dan sikap tenggang rasa antara murid dan guru. Kami sangat mencintai Guru, walaupun sang guru membebani pekerjaan yang menguras habis tenaga. Dari hubungan ruhani ini, memunculkan kecintaan untuk belajar dan membaca."

Hasan Al Banna melanjutkan, "Syekh Zuhran sering mengajakku ke perpustakaan, membuka banyak buku. Dia memintaku membacakan untuknya untuk masalah-masalah yang sedang dicarinya. Bahkan aku juga kerap kali diajak ikut menghadiri forum-forum ilmiah, berkumpul bersama ilmuwan dan kaum pemikir yang sedang mendiskusikan suatu tema tertentu, sedangkan aku mendengarkan." Darinya, Hasan Al Banna belajar rajutan cinta antara guru-murid dan murid yang lainnya. Inilah cara mendidik yang efektif dan efisien meskipun sang guru tidak pernah belajar dedaktif metodik maupun kaidah psikologi.

Syekh Muhammad Abu Syausyah, dialah guru yang banyak menempa pendidikan ruhani Hasan Al Banna. Pengalaman paling berkesan, saat sang syekh mengajak ke kuburan. Kemudian menuju pusaran yang terbuka. Para muridnya diminta masuk ke liang kubur dan berbaring sejenak membayangkan perjalanan kematian. Kegelapan kubur, situasinya yang angker membuat para murid menangis.

Sang syeikh banyak menempa soal pendidikan dan pembentukan kader dakwah. Hasan Al Banna berkata, "Syekh Abu Syausyah tidak rela para muridnya berselisih karena persoalan khilafiyah. Ia tidak berkenan mendengar saling menuduh kafir, munafik, zindiq atau misionaris kepada sesama muslim. Bila terdengar hal itu, sang syeikh berkata, 'Tahan, jangan ucapkan kata-kata itu. Lakukan intropeksi. Sedangkan dihadapan manusia, ucapankan kata-kata yang menyentuh hati. Lakukan perbuatan yang menggugah mereka untuk mentaati Allah. Mereka hanya tidak jelas menangkap ajaran agama."

Ustadz Abu Fattah sering memberikan wasiat untuk melakukan kajian mendalam dan tiada henti memikirkan rahasia perundangan Islam dan sejarah perkembangannya, juga sejarah perkembangan mazhab dan terbentuknya kelompok (firqah) dan kelompok kecil (tha'ifah)  sehingga kebenaran dapat terungkap. Begitulah sejumlah guru Hasan Al Banna, pendiri Ikhwanul Muslimin, yang disebutkan oleh Dr Anwar Jundi dalam bukunya Biografi Hasan Al Banna.

Hasan Al Banna melihat karamah para gurunya. Apa karamah sang gurunya? Hasan Al Banna berkata, "Karamah gurunya terlihat dari aspek amaliahnya. Karamah terbesar yang dianugerahkan Allah kepadanya adalah taufik menyebarluaskan dakwah Islam berdasarkan kaidah-kaidah yang benar, dan kecemburuan yang besar terhadap hal-hal yang dilarang Allah, juga amar makruf nahi mungkar." Itulah kekaguman Hasan Al Banna kepada guru-gurunya.

Ikhwanul Muslimin Di Mata Buya Hamkar Oleh: Nasrulloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Apa yang terjadi di Mesir saat ...

Ikhwanul Muslimin Di Mata Buya Hamkar

Oleh: Nasrulloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)

Apa yang terjadi di Mesir saat itu? Krisis politik juga  karya Ali Abdurraziq yang berjudul Islam dan Pokok-Pokok Hukum. Isinya memuat sekulerisme. Padahal di Eropa hanya pemisahan negara dan gereja. Tetapi sang penulis memuat tentang pemisahan negara dan agama Islam. Mana yang lebih sadis?

Sang Syeikh menyimpulkan bahwa Islam semata-mata hanya agama. Tidak mengandung soal kenegaraan. Nabi Muhammad saw hanya Nabi tidak merangkap kepala satu negara. Jabatan khalifah tidak berasal dari perintah Al-Qur'an, hanya kenyataan sejarah. Oleh karena itu model kekuasaan harus berkiblat menuruti demokrasi barat, sosialisme atau komunis.

Saat itu kekhalifahan Turki Utsmani  hancur karena perang dunia pertama. Pemakzulan khalifah sangat mengguncangkan dunia Islam terutama ulama, pemuka dan ahli pikirnya. Mesir mengalami krisis pemikiran Islam dan politik juga. Bangsa Arab kocar-kacir karena tipuan Inggris. Barat sukses besar menghancurkan dunia Islam. Puncak kegundahan saat Jendral Perancis berkata di kuburan Saladin, "Wahai Saladin, ini saya telah datang kembali."

Kehadiran Hasan Al Banna bersama Ikhwanul Muslimin, menurut Buya Hamka, merupakan salah satu dari banyak langkah kongkrit ulama di berbagai belahan dunia Islam untuk pembaharuan serta kebangkitan sarjana islam dalam menghadapi serbuan ghazul fikri, sekulerisasi dan orientalisme.

Menurut Buya Hamka, sesudah perang dunia kedua, timbullah gerakan Ikhwanul Muslimin di Mesir, di negri Syeikh Ali Abdurraziq  sendiri. Pembunuhan atas diri Syekh Hasan Al Banna oleh kaki tangan Raja Faruq, dan perbuatan Gamal Abdul Naser yang menggantung mati murid-muridnya Hasan Al Banna, yaitu Abdul Qadir Audah, Sayid Qutb dan beberapa kawannya, bukanlah berarti bahwa gerakan itu salah, melainkan ditakuti kebangkitan itu walaupun oleh penguasa Islam sendiri.

Buya Hamka juga menyoroti kiprah beberapa tokoh Ikhwanul Muslimin lainnya yang terjun dalam dunia pemikiran dan budayawan dalam membela Islam dari serbuan penghancuran Barat yaitu Prof Mustafa Asibai dan Anwar Jundi. Munculnya banyak pribadi besar tersebut menjadikan cita-cita Islam dalam keseluruhan. Islam yang tidak terpisah antara agama dan negara. Islam yang meliputi segala kegiatan hidup, politik, ekonomi, sosial dan sebagainya.

Namun seluruh cita-cita besar itu meminta pengorbanan seperti yang dikehendaki sejarah. Ikhwanul Muslimin pun dibubarkan. Hasan Al Banna dibunuh di jalan raya. Semua itu alamat dari hebatnya cita-cita, seperti yang diucapkan oleh imam Al-Ghazali, "Bila besar dan mulia suatu cita-cita, sukarlah pula jalannya dan banyak pengorbanannya." Semakin hari semakin banyak yang berani dan malahan menyatakan diri mengikuti langkahnya.

*) Diambil dari Buku Studi Islam, Buya Hamka, GIP, Februari 2020.

Orang Tuaku, Guruku Oleh: Nasrulloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Seorang yang paling berilmu, bila disandingkan de...

Orang Tuaku, Guruku

Oleh: Nasrulloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)

Seorang yang paling berilmu, bila disandingkan dengan orang tuanya tetap kalah kemuliaannya. Seluruh kemuliaan seorang anak takkan bisa melampaui kemuliaan orang tuanya. Keilmuan, keshalehan dan ketakwaan seorang anak takkan bisa mengejar kedudukan orang tuanya. 

Imam Ibnu Qayim Al-Jauziyah menjadikan ayahnya sebagai gurunya. Imam Syafii dan Imam Ahmad bin Hambal menjadikan ibunya sebagai gurunya. Imam Al-Ghazali menjadikan pamannnya sebagai gurunya. Orang tua dan semua orang yang menggantikan fungsi orang tua dijadikan guru oleh orang-orang pilihan.

Tahun kesedihan Rasulullah saw adalah saat pamannya Abu Thalib wafat. Peristiwa yang paling menyedihkan bagi Rasulullah saw adalah saat pamannya Hamzah dan Jafar bin Abdul Muthalib gugur di medan jihad. Walaupun Abu Thalib masih musyrik namun beliau  sangat menghormati dan mentaatinya sejak Rasulullah saw masih kecil. Karena Abu Thaliblah pengganti orang tuanya.

Rasulullah saw biasa berziarah ke makam ibunya Siti Aminah. Nabi Ibrahim tetap menghormati bapaknya yang masih musyrik. Derajat kenabian Nabi Ibrahim. Kemuliaannya sebagai kekasih Allah tidak membuatnya merasa lebih mulia dari bapaknya yang masih musyrik. Karena keberadaan siapapun di muka bumi, sebab kehadiran orang tuanya.

Nabi Yusuf sang bendaharawan kerajaan Mesir, tetap menghormati bapaknya Nabi Yakub. Bapaknya yang buta, hanya rakyat jelata, hidup dalam kekurangan tetap dihormatinya. Dengan diam-diam melalui saudaranya, mengirimkan sesuatu untuk bapaknya, agar saudaranya tak mengetahui bahwa Yusuf masih hidup.

Semua Nabi sangat menghormati orang tuanya. Tak peduli apakah orang tuanya masih musyrik. Tak peduli apakah orang tuanya sudah wafat. Tak peduli tingginya derajat sang Nabi dan Rasul di sisi Allah dan manusia. Karena kedudukan orang tua tak ada yang bisa mengejarnya dan menandinginya.

Ibuku beristiqamah dengan puasa daud dan keyakinan akan doa-doanya. Nenekku beristiqamah dengan shalat tahajud dan kemandiriannya. Bapakku orang yang gemar bersedekah, optimis akan masa depan dan bergerak dalam kesunyian. Itulah pengajaran luar biasa dari orang tuaku.

Andai orang tua dianggap tak memiliki kelebihan sama sekali, bertanda jiwa belum sensitif, hati penuh ego, kepintaran tertutup hawa nafsu, ilmunya masih dangkal. Bisa jadi ini cipratan kesombongan dan keangkuhan diri.

Dikuasai Musuh, Hukuman Allah Oleh: Nasrulloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Kerusakan masyarakat umum menunjukkan k...

Dikuasai Musuh, Hukuman Allah

Oleh: Nasrulloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)


Kerusakan masyarakat umum menunjukkan kezaliman penguasa ( Kitab Al-Hikam)

Kerusakan kalangan khusus menujukan banyaknya Munafikin (Kitab Al-Hikam)

Sekarang, kerusakan merata di semua kalangan. Berarti Munafikin dan kezaliman sedang menikmati kekuasaan?

Bagaimana kondisi kalian, seperti itulah kalian dipimpin (Hadist)

Musibah apa pun yang menimpa kalian, sesungguhnya merupakan akibat perbuatan kalian.
(As Syura:30)

Saat masyarakat rusak dengan beragam penyimpangan, mereka akan dipimpin oleh orang yang juga rusak dan menyimpang.
(Kitab Al-Hikam)

Saat kalangan khusus melakukan penyimpangan maka Allah akan menjadikan mereka dikuasai oleh orang yang keluar dari agamanya. (Kitab Al-Hikam)

Penguasa yang zalim adalah hukuman bagi masyarakat yang telah menzalimi dirinya sendiri.

Penguasa yang zalim adalah hukuman bagi kalangan khusus yang diam terhadap kezaliman.

Kehadiran Fir'aun adalah hukuman bagi Bani Israil yang menyimpang dari agamanya.

Hadirnya Raja Ferdinand dan Ratu Isabell, adalah hukuman Allah atas penyimpangan umat Islam di Andalusia (Spanyol-Portugal)

Kehadiran tentara Salib dam Mongol adalah hukuman Allah terhadap penyimpangan umat Islam di era itu. Peringatan Al-Ghazali pun diabaikan.

Kemaksiatan dan penentangan umat Islam terhadap agamanya. Membuat umat ini dikuasai oleh mereka yang menzaliminya.

Mimpi Rasulullah saw dan Abu Bakar Oleh: Nasrulloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Sebelum Rasulullah saw mendapatkan...

Mimpi Rasulullah saw dan Abu Bakar

Oleh: Nasrulloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)

Sebelum Rasulullah saw mendapatkan wahyu. Beliau bermimpi yang menggerakkannya untuk melakukan perenungan. Setelah kematian Siti Khadijah, Rasulullah saw bermimpi bertemu malaikat Jibril. Dalam mimpi itu, malaikat Jibril menginformasikan calon istrinya, Siti Aisyah. Rasulullah saw belum mempercayainya, hingga malaikat Jibril mendatangi Rasulullah saw dalam mimpi selama 3 kali dengan pesan yang sama.

Rasulullah bermimpi bahwa Islam akan diterima di daerah yang penuh pohon kurmannya. Rasulullah saw menduga daerah Yaman, tenyata Madinah. Rasulullah saw bermimpi bertawaf di Kabah. Lalu Rasulullah saw pun menyiapkan diri dan mengajak para Sahabatnya untuk berhaji. Apa yang terjadi? Ternyata bukan di tahun itu. Yang terjadi Rasulullah saw mendapatkan kemenangan besar dari perjanjian Hudaibiyah.

Sebelum kelahiran Rasulullah saw, ada raja Yaman yang bermimpi aneh. Namun mimpinya tak diceritakan kepada orang. Sang raja hanya ingin mencari orang yang bisa menebak mimpinya. Bila tebakannya benar, barulah dipersilahkan untuk mentakwilkan mimpi tersebut. Ternyata hanya ada dua peramal yang bisa melakukannya. Keduanya mentakwilkan bahwa akan datang seorang Nabi yang umatnya akan memimpin dunia hingga alam semesta ini hancur.

Sebelum kehadiran Rasulullah saw, Abu Bakar bermimpi. Mengadukan mimpi itu pad juru ramal di Syam. Mimpinya, ada bulan purnama bersinar terang di langit Mekkah. Bulan itu hancur berkeping memasuki seluruh rumah di Mekkah. Lalu bulan itu menyatu menghampirinya. Sang peramal memerintahkan ke Abu Bakar agar segera kembali ke Mekkah, karena sang Nabi akan segera diutus.

Firaun bermimpi aneh. Diceritakan mimpi tersebut kepada juru dalamnya. Takwilnya, kekuasaan Firaun akan lenyap oleh seorang pemuda dari Bani Israel. Nabi Yusuf mampu mentakwilkan mimpi sang raja Mesir untuk menghadapi krisis ekonomi yang akan melanda Mesir.

Dari kalangan ulama Salaf, Ibnu Sirin memiliki kemampuan mentakwilkan mimpi. Dia dianugerahkan Allah memiliki kemampuan takwil mimpi yang benar. Karena itulah, salah satu kitabnya yang terkenal mengenai takwil mimpi. Bagaimana Rasulullah saw mengajarkan adab terhadap mimpi? 

Berwudhu, shalat dan berdoa sebelum tidur. Ceritakan mimpi yang baik. Rahasiakan mimpi yang buruk. Tetap berprasangka yang baik. Berdoa ketika bermimpi yang baik maupun yang buruk. Berludah ke sebelah kiri ketika bermimpi yang buruk. Semua urusan kembali kepada Allah. 

Pangeran Majapahit dan Padjajaran, yang Pertama Masuk Islam dan Naik Haji Kerajaan Hindu Padjadjaran berdiri sekitar tahun 1030 ...

Pangeran Majapahit
dan Padjajaran, yang Pertama Masuk Islam dan Naik Haji


Kerajaan Hindu Padjadjaran berdiri sekitar tahun 1030 M. 100 tahun kemudian, seorang Raja Padjadjaran memiliki 2 putra yaitu Prabu Munding Sari dan kakaknya. Sang kakak lebih memilih mengembara hingga ke Hindustan. Kerajaannya diserahkan ke adiknya, Munding Sari. Dalam pengembaraan ini, bertemulah sang kakak dengan saudagar bangsa Arab. Para saudagar memberikan penerangan tentang keindahan Islam.

Sang kakak tertarik. Dia pun pergi haji. Kejadian ini terjadi pada tahun 1195 Masehi. Sang kakak disebut sebagai Haji Purwa. Ia pun pulang kembali ke Nusantara, hendak mengajak seluruh keluarga kerajaan memeluk Islam agama yang dianutnya. Tetapi tidak mendapatkan sambutan yang baik. Sang Baginda pun meninggalkan kerajaan Padjadjaran dan menghilang ke tempat lain.

Berdasarkan catatan ini, pangeran Nusantara yang pertama pergi haji dan memeluk Islam adalah pangeran Padjadjaran. Kejadian ini jauh sebelum Singasari, Majapahit, kerajaan Islam Pasai berdiri, kedatangan para Walisanga dan Laksamana Cheng Ho. Kejadian ini terjadi di era kerajaan Kediri dan Jenggala.

Setelah pangeran Padjadjaran, siapakah yang berikutnya? Pangeran Arya Damar, adipati Majapahit di Palembang. Dia adalah putra dari Prabu Brawijaya raja Majapahit terakhir. Arya Damar masuk Islam setelah belajar dari Sunan Ampel. Bila Arya Damar berkunjung ke Majapahit, pulangnya singgah terlebih dahulu ke Ampel dan Giri untuk meneguk ilmu Islam dari gurunya.

Pangeran Jibun adalah anak dari Prabu Brawijaya raja Majapahit terakhir seperti Arya Damar. Saat ibunya sedang hamil, ibunya dikirim ke Palembang tinggal bersama Arya Damar. Sejak kecil pangeran Jibun dididik oleh sang kakak tiri, Arya Damar, dengan pendidikan Islam. Kelak pangeran Jibun diberi gelar Raden Patah, menjadi raja kerjaan Demak.

Kerajaan Hindu terakhir, setelah Majapahit, di Tanah Jawa adalah Kerajaan Balambangan di ujung Jawa Timur. Suatu hari, sang putri kerajaan sakit. Banyak tabib yang  mencoba mengobati tetapi gagal. Akhirnya raja Balambangan mengundang Maulana Ishak untuk mengobati. Sang raja berjanji menikahkan putrinya dengan sang Maulana dan sang raja masuk Islam. Setelah sembuh, sang putri Balambangan masuk Islam yang kemudian memiliki putra yang bernama Sunan Giri. Sedangkan sang raja menghianati janjinya sendiri.

(Diringkas dari Buku Sejarah Umat Islam karya Buya Hamka)

Sultan dan Penyebar Islam di Nusantara dari Juriyah Rasulullah saw Saat kekhalifahan Abbasiyah, Juriyah (keturunan) Rasulullah s...


Sultan dan Penyebar Islam di Nusantara dari Juriyah Rasulullah saw

Saat kekhalifahan Abbasiyah, Juriyah (keturunan) Rasulullah saw banyak yang berpindah ke Yaman. Yang lebih banyak berkembang dari garis keturunan Husain bin Ali. Di Yaman mereka membangun pemerintah. Yang tidak duduk di pemerintah menjadi ulama yang berpengaruh.

Dari Yaman, khususnya Hadramaut, inilah Juriyah Rasulullah saw menyebar ke Afrika dan ada yang ke Nusantara melalui Persia dan India. Bilamana telah sampai di Nusantara, mereka pun mendapat kedudukan penting, baik sebagai penyebar Islam, sultan maupun ulama berpengaruh. Kita harus adil bahwa keturunan Rasulullah saw telah banyak yang berjasa dalam sejarah Nusantara. 

Maulana Malik Ibrahim atau Maulana Maghribi, pelopor penyiaran Islam di Tanah Jawa yang berasal dari Persia dari keturunan Zainal Abidin dari jalur Husaini bin Ali. Tempat kedudukannya di Gresik. Ia mengajarkan Islam kepada muridnya di tempat itu. Murid-muridnya datang dari sejumlah daerah. 

Sunan Gunung Jati yang dari Pasai merupakan keturunan Rasulullah saw. Disebut namanya Syarif Hidayatullah, Fatahillah atau nama lain yang menunjukkan kedudukannya sebagai bangsawan Quraisy. Dia berhasil membangun kerajaan Banten, Cirebon, pendiri kota Jakarta dan pengusir penjajahan Portugis di Nusantara. Oleh karena itulah, bangsawan Banten dan Cirebon tidak ragu lagi mengakui dirinya Juriyah Rasulullah saw.

Dalam catatan raja-raja Maluku, yaitu Tidore, Bacan, Ternate dan Jailolo, mereka keempatnya adalah keturunan dari empat saudara, putra Imam Jalal Shadiq, keturunan Rasulullah saw. Raja-raja Brunei pun, hingga sekarang berpegangan bahwa nenek moyang mereka adalah bangsa Arab keturunan Rasulullah saw dari Thaif Mekah yang bernama Syarif Ali yang dinikahkan dengan putri kerajaan Brunei. Mengingat penerus Sultan Brunei sebelumnya tidak ada laki-laki lagi, maka diangkatlah Syarif Ali sebagai raja Brunei. Saat beliau wafat digantikan oleh putranya yang bernama Sultan Sulaiman.

Setelah raja-raja perempuan memerintahkan di Aceh empat kali, naiklah keluarga raja Aceh dari keturunan Sayid yaitu Sultan Badrul Alam Syarif Hasyim Jamaludin pada 1699 - 1702 M. Begitu pun dengan Sultan Siak, Sri Inderapura, dari jalur keluarga Ba'alawi Ibnu Syahab. Sultan di Pontianak ialah dari keturunan Ba'alawi Al-Qadri.

Saat terjadi perang Padri, Sa'id Sulaiman Al-Jufri pernah menjadi utusan Imam Bonjol ketika berunding dengan residen militer Belanda di Padang. Fakta sejarah menunjukkan bahwa Keturunan Syarif dari Mekkah, Sayid dari Hadramaut bahkan Sayidina Abu Bakar yang dari Malabar pun ikut andil bagi perkembangan Nusantara.

(Diringkas dari Buku Sejarah Umat Islam dan Di Tepi Sungai Dajlah karya Buya Hamka)


Raja Hindu Nusantara, Yang Bermimpi Rasulullah saw dan Bertemu Keturunannya Banyak kisah menarik di masyarakat tentang masuknya ...

Raja Hindu Nusantara, Yang Bermimpi Rasulullah saw dan Bertemu Keturunannya

Banyak kisah menarik di masyarakat tentang masuknya Islam di Nusantara. Ini diyakini sebagai kebenaran. Semua membuktikan bahwa penyebaran Islam sangat alamiah,  mengakar dan berkesan.

Raja Gowa yang belum beragama bermimpi bertemu Rasulullah saw di tepi pantai Makasar sebelum menyatakan keislamannya. Di Kutai Tenggarong dikisahkan seorang Sayid, keturunan Rasulullah saw, dari Demak mengendarai ikan Todak, lalu mengajak masyarakat memeluk Islam.

Di Aceh, sebelum  Pasai berdiri, seorang Permaisuri hendak pindah agama dari Hindu ke Islam. Saat akan menukar namanya dengan nama Islam, malamnya sang baginda bermimpi, besok akan tiba saat Ashar sebuah kapal dari Jedah, yang membawa seseorang yang membimbingnya ke dalam agama yang benar, dan akan menukar namanya dengan nama Nabi saw. Besoknya, datanglah yang ditunggu itu, yaitu Sayid Abdul Aziz dari Jeddah.

Dalam catatan sejarah raja Tidore yang belum beragama raja Cireli Lijatu memeluk agama Islam. Ditukar namanya menjadi sultan Jamaludin karena seruan syeikh dari Arab yang bernama Syeikh Mansur. Ini terjadi pada permulaan abad ke-16.

Sebab masuknya Islam ke Kalimantan, karena datangnya Syeikh dari Mekah yang bernama Syeikh Syamsuddin. Dia membawa hadiah Al-Qur'an dan cincin bermata akik Yamani. Baginda merasa mendapatkan kehormatan besar akan kedatangannya. Baginda dan rakyatnya pun memeluk Islam. Lalu, sang Baginda memakai gelar Sultan Muhammad Shafiuddin yang wafat pada 1677 M.

Di Nusa Tenggara, dahulu ada negri besar di antara Dompu dan Bima. Rajanya mengolok-olok seorang Sayid, keturunan Rasulullah saw, yang datang mengajarkan agama Islam. Dikecohnya sang Sayid sehingga termakan olehnya daging babi. Tidak berapa lama setelah sang Sayid meninggalkan tempat itu, meletuslah gunung Tambora dan habis musnahlah negeri itu tertimpa Lava.

Mana yang dongeng tetaplah dogeng, tetapi timbulnya dongeng karena adanya kenyataan, yang kelak mendorongnya menjadi dongeng. Semua membuktikan peranan orang Arab sangatlah besar. Snouck Hurgronje berusaha menghapusnya dengan membuat teori bahwa Islam di Nusantara dari India dan Persia.

Akhirnya, dia pun tidak bisa mengelak kenyataan ini bahwa pengaruh Arab atau Mekah atas kehidupan Islam di pulau-pulau Nusantara sangatlah kuat. Lebih kuat dari yang di Turki, Hindustan maupun Bukhara.

(Diringkas dari Buku Sejarah Umat Islam karya Buya Hamka)


Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Al-Qur'an (197) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (49) Cerita kegagalan (1) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (6) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) Kecerdasan (220) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) Kisah Para Nabi dan Rasul (205) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) Nabi Adam (1) Nabi Ibrahim (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Musa (1) Nabi Nuh (3) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (1) Namrudz (2) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) Nusantara (210) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (154) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rehat (424) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (144) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah Penguasa (193) Sirah Sahabat (114) Sirah Tabiin (42) Sirah Ulama (90) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)