Ketika Fitrah Rusak oleh Penindasan: Bani Israel dan Tuntutan untuk Melihat Allah Mengapa seseorang yang telah menyaksikan begitu banyak tan...
Ketika Fitrah Rusak oleh Penindasan: Bani Israel dan Tuntutan untuk Melihat Allah
Al-Qur'anul Karim Bersama Orang-Orang Musyrik: Antara Panggilan Fitrah dan Pembangkangan Pengingkar Pernahkah kita bertanya, mengapa se...
Al-Qur'anul Karim Bersama Orang-Orang Musyrik: Antara Panggilan Fitrah dan Pembangkangan Pengingkar
Al-Qur'anul Karim Bersama Orang-Orang Musyrik: Antara Panggilan Fitrah dan Pembangkangan Pengingkar
Pernahkah kita bertanya, mengapa seseorang bisa mendengar kebenaran dengan telinganya, tetapi menolaknya dengan hatinya?
Mengapa seseorang dapat memahami keindahan sebuah pesan, merasakan kekuatan pengaruhnya, bahkan diam-diam kembali mendengarkannya, tetapi pada saat yang sama justru berusaha keras menjauh darinya?
Inilah salah satu gambaran yang sangat kuat tentang hubungan Al-Qur'an dengan orang-orang musyrik Quraisy.
Mereka bukan orang-orang yang sama sekali tidak pernah mendengar Al-Qur'an.
Mereka mendengarnya.
Mereka memahami bahasanya.
Mereka merasakan kekuatan susunan katanya.
Mereka menangkap pesan-pesannya.
Bahkan, sebagian dari mereka tidak mampu menahan diri untuk kembali mendengarkannya secara diam-diam.
Namun, mengapa mereka tetap menolak?
Di sinilah kita menemukan sebuah pertarungan yang sangat dalam: pertarungan antara fitrah yang tertarik kepada kebenaran dan kesombongan yang menolak untuk tunduk kepadanya.
Al-Qur'an menyebutkan:
“Dan apabila engkau membaca Al-Qur'an, Kami menjadikan antara engkau dan orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat itu sebuah penghalang yang tersembunyi. Dan Kami jadikan pada hati mereka penutup untuk dapat memahami, lalu pada telinga mereka sebuah penghalang. Dan jika engkau menyebut Rabb-mu di dalam Al-Qur'an, mereka akan membalikkan punggungnya untuk pergi menjauh. Kami lebih mengetahui apa yang mereka dengarkan; ketika mereka mendengarkan kepadamu, ternyata mereka berbisik di antara mereka; saat orang-orang zalim itu mengatakan: ‘Tidaklah kalian mengikuti selain seorang pria yang tersihir.’ Lihatlah bagaimana mereka memberikan permisalan terhadapmu, maka mereka pun sesat hingga tidak mampu menemukan jalan (untuk menjatuhkanmu).”
(QS. Al-Isra': 45–48)
Ayat-ayat ini menggambarkan bukan sekadar penolakan terhadap sebuah bacaan, tetapi proses psikologis dan spiritual ketika manusia berhadapan dengan kebenaran yang mengusik kepentingannya.
Ketika Fitrah Mendengar, tetapi Kesombongan Menolak
Apa yang terjadi ketika Al-Qur'an dibacakan kepada mereka?
Ternyata, hati mereka tidak sepenuhnya kebal.
Ada sesuatu yang menyentuh.
Ada sesuatu yang menggerakkan.
Ada sesuatu yang membuat mereka kembali mendengarkan.
Namun, setiap kali hati mereka mulai tertarik, mereka segera berusaha menariknya kembali.
Seakan-akan terjadi dialog di dalam diri mereka:
“Dengarkanlah.”
Fitrah berkata demikian.
Tetapi kesombongan menjawab:
“Jangan tunduk!”
Fitrah menarik mereka mendekat.
Kepentingan duniawi mendorong mereka menjauh.
Hati mereka mengenali sesuatu, tetapi ego mereka menolak konsekuensinya.
Maka persoalannya bukan semata-mata karena mereka tidak memahami Al-Qur'an.
Persoalannya adalah mereka tidak mau menerima apa yang akan terjadi jika mereka mengakui kebenarannya.
Bukankah ini jauh lebih berbahaya?
Seseorang bisa saja memahami kebenaran, tetapi tetap menolaknya karena kebenaran tersebut menuntut perubahan dalam hidupnya.
Dan inilah yang terjadi pada sebagian pembesar Quraisy.
Hijab yang Tidak Terlihat
Al-Qur'an kemudian menggambarkan adanya hijab, sebuah penghalang antara Rasulullah saw. dan orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat.
Menariknya, hijab itu disebut sebagai sesuatu yang tersembunyi.
Mengapa?
Karena ia bukan tembok yang dapat dilihat oleh mata.
Bukan pintu yang dapat disentuh.
Bukan jarak geografis yang memisahkan.
Ia adalah penghalang yang bekerja pada hati dan jiwa.
Mereka mendengar, tetapi tidak mengambil manfaat.
Mereka melihat, tetapi tidak mengambil pelajaran.
Mereka memahami kata-katanya, tetapi tidak mau tunduk kepada maknanya.
Bukankah ini sebuah kondisi yang sangat mengkhawatirkan?
Seseorang dapat berada sangat dekat dengan sumber petunjuk, tetapi tetap jauh dari hidayah.
Ia dapat mendengar ayat-ayat Allah, tetapi hatinya justru semakin keras.
Ia dapat mengetahui kebenaran, tetapi pengetahuannya tidak mengantarkannya kepada ketundukan.
Karena itu, persoalan hidayah bukan hanya persoalan seberapa banyak seseorang mendengar, tetapi juga seberapa jujur ia bersedia menerima apa yang telah didengarnya.
Mengapa Mereka Justru Kembali Mendengarkan?
Ada satu hal yang menarik.
Jika mereka benar-benar tidak tertarik kepada Al-Qur'an, mengapa mereka harus bersusah payah menghalangi orang lain untuk mendengarkannya?
Mengapa mereka berusaha membuat keributan ketika Al-Qur'an dibacakan?
Mengapa mereka saling memperingatkan?
Mengapa mereka bahkan harus membuat kesepakatan untuk tidak mendengarkannya?
Dan yang lebih menarik lagi:
Mengapa mereka kembali mendengarkannya secara diam-diam?
Di sinilah terlihat betapa kuatnya pengaruh Al-Qur'an terhadap jiwa mereka.
Mereka berusaha melawan sesuatu yang sebenarnya telah menyentuh mereka.
Seolah-olah mereka berkata kepada diri sendiri:
“Jangan dengarkan lagi!”
Tetapi hati mereka justru berkata:
“Dengarkan sekali lagi.”
Mereka pergi.
Kemudian kembali.
Mereka berjanji untuk tidak mendengarkan.
Kemudian diam-diam mendengarkan lagi.
Mereka berusaha menjauh.
Tetapi daya tarik Al-Qur'an membuat mereka kembali.
Mengapa?
Karena Al-Qur'an tidak sekadar menyampaikan informasi.
Ia mengguncang fondasi keyakinan.
Ia mengetuk hati.
Ia menantang akal.
Ia membongkar kepalsuan.
Dan yang paling mengancam mereka: ia membawa kalimat tauhid.
Mengapa Tauhid Menjadi Ancaman bagi Para Pembesar Quraisy?
Di sinilah persoalan menjadi lebih jelas.
Apa sebenarnya yang paling mengancam mereka dari Al-Qur'an?
Apakah sekadar keindahan bahasanya?
Apakah hanya karena ajaran moralnya?
Ataukah karena Al-Qur'an membawa sebuah prinsip yang jauh lebih fundamental:
“Laa ilaaha illallah.”
Tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah.
Kalimat ini tampak sederhana.
Namun, bagi struktur masyarakat Quraisy saat itu, ia memiliki konsekuensi yang sangat besar.
Tauhid tidak hanya menghancurkan berhala-berhala yang berdiri di sekitar Ka'bah.
Tauhid juga menghancurkan berhala-berhala yang berdiri di dalam struktur sosial dan politik masyarakat.
Jika hanya Allah yang disembah, lalu dari mana legitimasi kesucian berhala mereka?
Jika hanya Allah yang menjadi sumber ketaatan tertinggi, lalu apa dasar keistimewaan para pembesar?
Jika semua manusia sama-sama hamba Allah, lalu atas dasar apa seseorang merasa memiliki kedudukan mutlak atas orang lain?
Di sinilah kita memahami mengapa sebagian pembesar Quraisy begitu keras menolak dakwah Rasulullah saw.
Persoalannya bukan karena mereka tidak mampu memahami pesan tersebut.
Justru sebagian dari mereka sangat memahami.
Mereka adalah orang-orang yang menguasai bahasa Arab.
Mereka mengetahui keindahan bahasa.
Mereka memahami kekuatan retorika.
Mereka mengenali karakter Muhammad saw.
Namun, menerima kebenaran berarti menerima konsekuensi.
Dan konsekuensi itulah yang tidak mereka inginkan.
Fitrah Mengajak Tunduk, Kesombongan Memerintahkan Melawan
Maka, apa yang sebenarnya sedang terjadi dalam diri mereka?
Fitrah mendorong mereka untuk mendekat, tetapi kesombongan mencegah mereka untuk tunduk.
Hati mereka merasakan sesuatu.
Akal mereka melihat sesuatu.
Tetapi kepentingan mereka mengatakan sesuatu yang berbeda.
Di sinilah manusia dapat mengalami konflik paling berat: ketika ia mengetahui kebenaran, tetapi kebenaran itu mengancam kepentingannya.
Karena itu, masalah terbesar bukan selalu ketidaktahuan.
Kadang-kadang masalah terbesar adalah kesombongan.
Seseorang bisa saja mengetahui bahwa sebuah jalan benar, tetapi tidak mau menempuhnya karena ia tidak ingin kehilangan status.
Ia bisa mengetahui bahwa sebuah keyakinan salah, tetapi tetap mempertahankannya karena keyakinan itu telah menjadi bagian dari identitas sosialnya.
Ia bisa merasakan kebenaran, tetapi menolaknya karena kebenaran tersebut menuntutnya untuk mengakui bahwa selama ini dirinya keliru.
Dan pengakuan semacam itu sangat berat bagi jiwa yang dikuasai kesombongan.
Ketika Kebenaran Harus Dicarikan Alasan untuk Ditolak
Lalu apa yang mereka lakukan ketika tidak mampu membantah pengaruh Al-Qur'an?
Mereka menyerang pembawanya.
Allah SWT berfirman:
“Yaitu ketika orang zalim itu berkata, ‘Kamu hanyalah mengikuti seorang laki-laki yang kena sihir.’”
(QS. Al-Isra': 47)
Perhatikan cara mereka membangun tuduhan.
Mereka tidak mengatakan:
“Kami tidak memahami apa yang Muhammad sampaikan.”
Mereka juga tidak mengatakan:
“Kami tidak merasakan pengaruh Al-Qur'an.”
Sebaliknya, mereka mencari penjelasan yang dapat membenarkan penolakan mereka:
“Muhammad terkena sihir.”
Mengapa?
Karena ketika seseorang tidak mampu membantah pesan, ia sering kali mencoba meruntuhkan kredibilitas pembawa pesan.
Jika pembawa pesan dapat dicap sebagai orang yang terkena sihir, maka masyarakat diharapkan tidak perlu lagi mendengarkan apa yang dibawanya.
Inilah pola lama dalam menghadapi kebenaran:
Jika tidak mampu membantah pesannya, serang pembawanya.
Tuduhan Mereka Justru Mengungkap Keterpengaruhan Mereka
Namun, ada paradoks yang menarik.
Ketika mereka mengatakan Muhammad adalah orang yang terkena sihir, secara tidak langsung mereka sedang mengakui bahwa ada sesuatu yang luar biasa dalam apa yang dibawanya.
Mengapa mereka membutuhkan istilah “sihir”?
Karena mereka merasakan pengaruh yang tidak biasa.
Mereka merasakan bahwa Al-Qur'an bukan seperti perkataan manusia biasa.
Mereka merasakan kekuatan bahasa dan pengaruhnya terhadap jiwa.
Mereka melihat bagaimana orang yang mendengarnya dapat berubah.
Mereka sendiri merasakan keguncangan tersebut.
Tetapi karena mereka tidak mau menerima kesimpulan yang benar, mereka mencari penjelasan alternatif:
“Ini sihir.”
Padahal, jika mereka bersikap adil terhadap dirinya sendiri, mereka seharusnya bertanya:
“Mengapa perkataan ini begitu kuat memengaruhi kami?”
“Mengapa kami tidak mampu menandinginya?”
“Mengapa hati kami terusik ketika mendengarnya?”
“Mengapa kami harus berulang kali memperingatkan diri sendiri agar tidak mendengarkannya?”
Pertanyaan-pertanyaan tersebut seharusnya membawa mereka kepada pencarian yang jujur.
Namun, kesombongan membuat mereka memilih jalan yang berbeda.
Ketika Pembelaan Diri Justru Membuat Semakin Tersesat
Allah SWT kemudian berfirman:
“Lihatlah bagaimana mereka membuat perumpamaan untukmu (Muhammad); karena itu mereka menjadi sesat dan tidak dapat lagi menemukan jalan (yang benar).”
(QS. Al-Isra': 48)
Perhatikan ujung dari seluruh proses tersebut.
Mereka berusaha membuat berbagai tuduhan.
Mereka menciptakan berbagai perumpamaan.
Mereka mencari berbagai alasan.
Namun, apakah mereka berhasil menemukan jalan keluar?
Tidak.
“Maka mereka menjadi sesat dan tidak dapat lagi menemukan jalan.”
Mengapa?
Karena mereka tidak sedang mencari kebenaran.
Mereka sedang mencari pembenaran atas penolakan mereka.
Ini perbedaan yang sangat penting.
Orang yang mencari kebenaran akan bertanya:
“Apakah saya benar?”
Sedangkan orang yang mencari pembenaran akan bertanya:
“Bagaimana saya bisa membuktikan bahwa saya benar?”
Yang pertama membuka pintu hidayah.
Yang kedua dapat menutup pintu tersebut.
Ketika Fitrah Dikalahkan oleh Kepentingan
Kisah orang-orang musyrik Quraisy bersama Al-Qur'an akhirnya bukan hanya kisah tentang masa lalu.
Ia adalah cermin bagi manusia sepanjang zaman.
Sebab, bukankah setiap manusia memiliki fitrah?
Dan bukankah setiap manusia juga memiliki kepentingan, ego, kesombongan, dan kecenderungan untuk mempertahankan apa yang telah diyakininya?
Maka pertanyaan terbesarnya bukan hanya:
“Apakah kita sudah mendengar Al-Qur'an?”
Kita mungkin sudah sering mendengarnya.
Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah:
“Apa yang terjadi pada hati kita setelah mendengarnya?”
Apakah hati menjadi lebih tunduk?
Ataukah kita justru sibuk mencari alasan untuk menghindarinya?
Apakah Al-Qur'an mengoreksi diri kita?
Ataukah kita justru menggunakan berbagai argumen untuk membela diri?
Apakah kita membaca Al-Qur'an untuk mencari petunjuk?
Ataukah kita membacanya hanya untuk mencari pembenaran terhadap apa yang sudah kita putuskan?
Inilah refleksi yang seharusnya muncul dari kisah tersebut.
Al-Qur'an Tidak Selalu Ditolak karena Tidak Dipahami
Ada sebuah pelajaran yang sangat mendalam di sini:
Kebenaran tidak selalu ditolak karena manusia tidak memahaminya.
Kadang-kadang kebenaran ditolak justru karena terlalu jelas untuk diabaikan, tetapi terlalu berat untuk diterima.
Al-Qur'an menyentuh fitrah.
Tetapi ketika fitrah itu bertabrakan dengan kepentingan, manusia memiliki pilihan.
Ia dapat merendahkan egonya dan mengikuti kebenaran.
Atau ia dapat mempertahankan egonya dengan mencari berbagai alasan untuk menolak kebenaran.
Para pembesar Quraisy memilih jalan kedua.
Mereka mendengar Al-Qur'an.
Mereka terpengaruh.
Mereka kembali mendengarkannya.
Mereka merasakan kekuatannya.
Namun, ketika tauhid mengancam kedudukan, tradisi, dan kepentingan mereka, mereka memilih membangun penghalang di dalam diri sendiri.
Maka lahirlah hijab.
Bukan karena Al-Qur'an kehilangan cahaya.
Tetapi karena mereka memilih menutup diri dari cahaya tersebut.
Pelajaran Terakhir: Jangan Sampai Kita Mengulanginya
Karena itu, kisah ini seharusnya tidak berhenti pada kekaguman terhadap bagaimana orang-orang Quraisy dahulu menolak Al-Qur'an.
Kisah ini justru harus mengembalikan kita kepada diri sendiri.
Bagaimana sikap kita ketika Al-Qur'an bertentangan dengan keinginan kita?
Ketika Al-Qur'an meminta kita meninggalkan sesuatu yang kita cintai, apakah kita tunduk?
Ketika Al-Qur'an mengoreksi cara berpikir kita, apakah kita bersedia berubah?
Ketika Al-Qur'an menuntut kita mengakui kesalahan, apakah kita mampu merendahkan diri?
Ketika Al-Qur'an berbicara tentang kewajiban yang tidak sesuai dengan kepentingan kita, apakah kita menerimanya atau mencari alasan untuk menghindarinya?
Jangan sampai kita hanya berbeda dengan orang-orang musyrik Quraisy dalam bentuk dan zaman, tetapi memiliki penyakit yang sama dalam hati:
mendengar kebenaran, merasakan kebenaran, tetapi menolak tunduk kepada kebenaran.
Sebab, persoalan terbesar bukan apakah Al-Qur'an mampu menyentuh hati.
Al-Qur'an telah dan akan selalu memiliki kekuatan untuk menyentuh hati yang hidup.
Persoalannya adalah:
Apakah setelah hati kita tersentuh, kita bersedia tunduk?
Di situlah letak perbedaannya.
Fitrah dapat menunjukkan jalan.
Al-Qur'an memberikan petunjuk.
Akal dapat memahami.
Namun, manusia tetap harus memilih:
tunduk atau membangkang, menerima atau menolak, mendekat atau berpaling.
Dan ketika seseorang terus-menerus memilih berpaling, jangan heran jika suatu hari hijab itu semakin tebal—bukan karena cahaya Al-Qur'an semakin redup, tetapi karena hati sendiri semakin jauh dari cahaya tersebut.
Zionis Israel: Paradoks Kekuatan yang Kesepian Di panggung geopolitik Timur Tengah, kita menyaksikan sebuah anomali strategis ya...
Zionis Israel: Paradoks Kekuatan yang Kesepian
Tauhid Rububiyyah bagi Penggiat Ekonomi Islam Apa yang membuat seorang penggiat ekonomi Islam mampu bertahan ketika perjuanganny...
Tauhid Rububiyyah bagi Penggiat Ekonomi Islam
Paling Banyak Dibaca
-
Bukan Muslim, Tapi Rakyatnya Minta Dinaungi Kekhalifahan Islam
-
Risalah Al-Matsurat Hasan Al Banna dan Syeikh Hasan Asy-Syadzali
-
Kisah Generasi Salaf yang Isi Hari-Harinya dengan Bertani
-
Saad bin Abi Waqqash, Aktor Interaksi Awal Islam dan Tiongkok
-
Kilas Balik Sejarah, Bisakah Palestina Dihapus dari Peta Dunia?
-
Pengaruh Islam dalam Penamaan Pulau di Nusantara
-
Manuskrip Nusantara Beraksara Arab Melayu di Eropa, Bukti Tingginya Peradaban Islam dan Kemakmurannya
Cari Artikel Ketik Lalu Enter
Artikel Lainnya
- ► 2021 (1014)
- ► 2022 (604)
- ► 2023 (330)
- ► 2024 (825)
- ► 2025 (821)
Link Kami
Beberapa Link Kami yang Aktif