basmalah Pictures, Images and Photos
08/10/26 - Our Islamic Story

Choose your Language

Ketika Fitrah Rusak oleh Penindasan: Bani Israel dan Tuntutan untuk Melihat Allah Mengapa seseorang yang telah menyaksikan begitu banyak tan...

Ketika Fitrah Rusak oleh Penindasan: Bani Israel dan Tuntutan untuk Melihat Allah

Mengapa seseorang yang telah menyaksikan begitu banyak tanda kebesaran Allah masih meminta bukti yang lebih nyata?

Mengapa berbagai mukjizat, pertolongan, ampunan, dan nikmat yang telah diterimanya belum juga cukup untuk membuat hatinya tunduk?

Pertanyaan-pertanyaan semacam ini membawa kita kepada salah satu episode penting dalam perjalanan Bani Israel bersama Nabi Musa a.s.

Al-Qur'an menggambarkan bagaimana sebagian dari mereka tidak mau beriman kepada Musa sebelum melihat Allah secara terang-terangan. Mereka meminta sesuatu yang berada di luar batas kemampuan manusia untuk menyaksikannya.

Allah SWT berfirman:

«“Dan (ingatlah) ketika kamu berkata, ‘Wahai Musa! Kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan jelas.’ Maka petir menyambar kamu, sedang kamu menyaksikan. Kemudian Kami membangkitkan kamu setelah kamu mati agar kamu bersyukur. Dan Kami menaungi kamu dengan awan dan Kami menurunkan kepadamu manna dan salwa. Makanlah dari makanan yang baik-baik yang telah Kami berikan kepadamu. Dan tidaklah mereka menzalimi Kami, tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri.”
(QS. Al-Baqarah: 55–57)»

Apa yang sebenarnya terjadi?

Mengapa setelah menyaksikan berbagai tanda kekuasaan Allah, mereka masih menuntut bukti dengan cara seperti itu?

Di sinilah kita perlu melihat persoalan ini bukan hanya sebagai kisah tentang sebuah permintaan, tetapi sebagai gambaran tentang kondisi jiwa manusia ketika fitrahnya telah lama dibentuk oleh penindasan, materialisme, dan ketergantungan kepada sesuatu yang dapat ditangkap oleh pancaindra.

---

Ketika Sesuatu Harus Selalu Terlihat untuk Dipercaya

Bayangkan seseorang yang telah hidup begitu lama dalam lingkungan yang hanya mengakui sesuatu jika dapat dilihat, disentuh, dan diukur.

Bagaimana cara berpikir seperti itu memengaruhi jiwanya?

Ia akan sulit mempercayai sesuatu yang berada di luar jangkauan pancaindra.

Ia membutuhkan bukti yang kasatmata.

Ia meminta tanda yang dapat disentuh.

Ia ingin melihat terlebih dahulu sebelum bersedia percaya.

Dalam konteks inilah permintaan sebagian Bani Israel kepada Nabi Musa menjadi sangat penting untuk direnungkan.

Mereka berkata:

«“Kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan jelas.”»

Bukankah kalimat ini menunjukkan persoalan yang lebih dalam daripada sekadar permintaan bukti?

Seolah-olah mereka berkata:

“Kami tidak cukup hanya dengan penjelasan.”

“Kami tidak cukup dengan mukjizat yang telah kami lihat.”

“Kami tidak cukup dengan pengalaman pertolongan Allah.”

“Kami harus melihat dengan mata kepala sendiri.”

Di sinilah tampak bagaimana cara berpikir materialistik dapat memengaruhi hubungan manusia dengan perkara gaib.

Bukan berarti penggunaan akal dan pancaindra itu salah.

Tidak.

Islam justru mengajarkan manusia untuk menggunakan akal, mengamati alam, dan mengambil pelajaran dari berbagai tanda kekuasaan Allah.

Masalahnya muncul ketika manusia menjadikan pancaindra sebagai satu-satunya ukuran kebenaran, lalu menolak segala sesuatu yang berada di luar jangkauannya.

Padahal, apakah segala sesuatu yang benar harus selalu dapat dilihat?

Bukankah akal, ruh, cinta, kesadaran, dan banyak realitas lainnya tidak dapat disamakan dengan benda yang dapat disentuh?

Lebih-lebih lagi perkara Allah dan alam gaib tidak dapat diukur dengan standar material semata.

---

Apakah Mereka Benar-Benar Tidak Tahu?

Namun, ada pertanyaan lain yang lebih tajam:

Apakah mereka benar-benar tidak mengetahui?

Ataukah mereka sebenarnya mengetahui, tetapi sengaja mengajukan tuntutan yang sulit untuk memenuhi?

Kita tidak boleh gegabah menyederhanakan keadaan hati seseorang. Tetapi dari rangkaian sikap mereka dalam Al-Qur'an, tampak adanya kecenderungan untuk banyak membantah, meminta bukti, dan menunda ketaatan.

Maka, tuntutan tersebut dapat dibaca sebagai sebuah persoalan kejiwaan:

ketika seseorang tidak ingin tunduk, ia dapat terus-menerus menemukan alasan untuk menunda ketundukan.

Hari ini ia meminta satu bukti.

Setelah bukti diberikan, ia meminta bukti berikutnya.

Mukjizat telah datang, tetapi hati belum tunduk.

Nikmat telah diberikan, tetapi syukur belum tumbuh.

Kesempatan telah diberikan, tetapi ketaatan masih ditunda.

Bukankah ini juga menjadi peringatan bagi kita?

Jangan-jangan persoalannya bukan kekurangan bukti.

Jangan-jangan persoalannya adalah hati yang tidak mau tunduk kepada konsekuensi dari bukti tersebut.

---

Dari Kehinaan Menuju Mentalitas Budak

Lalu, mengapa kondisi kejiwaan semacam itu dapat terbentuk?

Di sinilah pengalaman panjang mereka di bawah kekuasaan Fir'aun menjadi penting.

Mereka telah mengalami penindasan yang panjang.

Mereka hidup di bawah kekuasaan penguasa yang zalim.

Mereka mengalami penghinaan, tekanan, dan berbagai bentuk pemaksaan.

Apa yang terjadi pada sebuah masyarakat jika pengalaman seperti itu berlangsung sangat lama?

Penindasan tidak hanya melukai tubuh.

Ia juga dapat melukai cara manusia memandang dirinya sendiri.

Kehinaan yang berlangsung terus-menerus dapat merusak rasa percaya diri, mengikis keberanian, dan membentuk pola hubungan yang tidak sehat dengan kekuasaan.

Seseorang dapat terbiasa tunduk ketika diancam.

Tetapi ketika ancaman itu hilang, ia justru dapat berubah menjadi keras kepala.

Ketika memperoleh sedikit kekuatan, ia dapat berubah menjadi sombong.

Seolah-olah dalam dirinya terbentuk pola:

takut ketika lemah, membangkang ketika aman, dan sombong ketika kuat.

Inilah salah satu pelajaran penting yang dapat kita renungkan dari kisah Bani Israel.

Penindasan yang panjang bukan hanya menghasilkan korban.

Jika tidak dipulihkan, ia dapat meninggalkan warisan psikologis dan sosial yang memengaruhi generasi berikutnya.

Karena itu, membebaskan suatu bangsa dari tirani tidak cukup hanya dengan membebaskan wilayahnya.

Yang lebih sulit adalah membebaskan jiwanya.

Membebaskan cara berpikirnya.

Membebaskan keberaniannya.

Membangun kembali kehormatannya.

Mengajarinya untuk hidup sebagai manusia merdeka yang bertanggung jawab, bukan sebagai manusia yang hanya bergerak ketika diperintah atau diancam.

---

Ketika Penindasan Mengubah Cara Manusia Merespons Kekuasaan

Bukankah ini sebuah pelajaran yang sangat relevan?

Seseorang yang terlalu lama hidup di bawah penguasa zalim dapat mengalami kerusakan dalam hubungan dengan kekuasaan.

Ketika penguasa mengancam, ia tunduk.

Ketika penguasa pergi, ia belum tentu otomatis menjadi manusia yang matang.

Bahkan, ia dapat membawa mentalitas lama ke dalam kehidupan barunya.

Karena itu, pembebasan sejati membutuhkan lebih dari sekadar pergantian penguasa.

Yang harus dibangun kembali adalah manusia.

Manusia yang berani.

Manusia yang bertanggung jawab.

Manusia yang memiliki prinsip.

Manusia yang mampu taat kepada Allah tanpa harus terlebih dahulu dipaksa oleh ancaman manusia.

Di sinilah tauhid memiliki fungsi pembebasan yang sangat besar.

Jika seseorang benar-benar menyadari bahwa hanya Allah yang memiliki kekuasaan mutlak, maka ia tidak akan menjadikan manusia sebagai pusat ketakutannya.

Ia tidak tunduk kepada manusia secara mutlak.

Ia tidak menjadikan penguasa sebagai sumber keselamatan.

Ia tidak menggantungkan kehormatannya kepada kekuasaan dunia.

Ia tunduk kepada Allah, tetapi justru karena itu ia memiliki keberanian untuk tidak menjadi budak manusia.

---

Mereka Meminta Melihat Allah, Lalu Petir Menyambar

Ketika tuntutan itu mencapai batasnya, Allah memberikan balasan yang sangat keras.

«“Maka petir menyambar kamu, sedang kamu menyaksikan.”»

Mereka meminta untuk melihat Allah secara terang-terangan.

Namun, mereka justru berhadapan dengan salah satu tanda kekuasaan Allah yang dahsyat.

Ini menjadi pelajaran penting:

Manusia tidak boleh menentukan sendiri bagaimana Allah harus membuktikan kekuasaan-Nya.

Allah tidak berada di bawah standar pembuktian yang dibuat manusia.

Manusia adalah makhluk.

Allah adalah Rabb.

Manusia memiliki keterbatasan.

Allah Mahasempurna.

Karena itu, iman bukanlah tuntutan agar manusia melihat seluruh realitas gaib dengan matanya.

Iman justru berarti mempercayai apa yang diberitakan Allah melalui wahyu yang benar, sambil menggunakan akal secara proporsional.

---

Tetapi Hukuman Bukan Akhir dari Segalanya

Namun, apakah Allah membinasakan mereka dan mengakhiri semuanya?

Tidak.

Di sinilah kita menemukan sisi lain yang sangat menggetarkan.

Allah berfirman:

«“Kemudian Kami membangkitkan kamu setelah kamu mati agar kamu bersyukur.”
(QS. Al-Baqarah: 56)»

Mereka dihukum.

Tetapi mereka diberi kesempatan hidup kembali.

Mengapa?

Agar mereka bersyukur.

Ini menunjukkan bahwa hukuman Allah tidak selalu berarti berakhirnya kesempatan.

Terkadang, hukuman menjadi peringatan.

Terkadang, manusia dipertemukan dengan akibat perbuatannya agar ia sadar.

Terkadang, setelah mengalami guncangan hebat, manusia justru diberi kesempatan untuk kembali.

Maka pertanyaannya:

Apa yang kita lakukan setelah Allah memberi kita kesempatan kedua?

Apakah kita berubah?

Ataukah kita kembali kepada kebiasaan lama?

---

Nikmat yang Datang Setelah Hukuman

Belum selesai.

Setelah itu, Allah mengingatkan mereka kembali dengan berbagai nikmat:

«“Dan Kami menaungi kamu dengan awan...”»

Bayangkan perjalanan mereka di padang pasir.

Panas.

Kering.

Keras.

Tidak mudah.

Namun Allah memberikan perlindungan.

Awan menaungi mereka dari panas yang menyengat.

Kemudian Allah memberikan makanan:

«“Dan Kami menurunkan kepadamu manna dan salwa.”»

Manna dan salwa menjadi bagian dari rezeki yang Allah berikan kepada mereka.

Mereka tidak dibiarkan menghadapi perjalanan itu sendirian.

Mereka diberi perlindungan.

Mereka diberi makanan.

Mereka diberi kesempatan.

Mereka diberi kehidupan.

Lalu, apa yang seharusnya muncul dari semua itu?

Satu kata:

syukur.

Allah bahkan berfirman:

«“Makanlah dari makanan yang baik-baik yang telah Kami berikan kepadamu.”»

Perhatikan kata-katanya:

“Yang telah Kami berikan kepadamu.”

Artinya, manusia menikmati rezeki, tetapi jangan sampai lupa kepada Sang Pemberi rezeki.

Manusia menikmati perlindungan, tetapi jangan sampai lupa kepada Sang Pelindung.

Manusia menikmati kehidupan, tetapi jangan sampai lupa kepada Sang Pemberi kehidupan.

---

Setelah Begitu Banyak Nikmat, Apakah Mereka Bersyukur?

Sekarang mari kita berhenti sejenak.

Bayangkan jika kita berada di posisi mereka.

Kita telah diselamatkan.

Kita telah dibebaskan dari penindasan.

Kita telah menyaksikan berbagai tanda kekuasaan Allah.

Kita telah memperoleh perlindungan.

Kita telah mendapatkan makanan.

Kita bahkan telah diberi kesempatan hidup setelah mengalami hukuman.

Apakah semua itu cukup untuk membuat kita bersyukur?

Seharusnya iya.

Namun, Al-Qur'an menutup rangkaian ayat ini dengan pernyataan yang sangat tajam:

«“Dan tidaklah mereka menzalimi Kami, tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri.”
(QS. Al-Baqarah: 57)»

Mengapa Allah menegaskan hal ini?

Karena kemaksiatan manusia tidak mengurangi kekuasaan Allah sedikit pun.

Kekufuran manusia tidak merugikan Allah.

Pembangkangan manusia tidak mengurangi kerajaan-Nya.

Yang dirugikan adalah manusia itu sendiri.

Allah tidak membutuhkan syukur manusia.

Manusialah yang membutuhkan syukur.

Allah tidak membutuhkan ketaatan manusia.

Manusialah yang membutuhkan ketaatan.

Allah tidak membutuhkan iman manusia.

Manusialah yang membutuhkan iman untuk keselamatan dirinya.

Maka ketika seseorang kufur setelah menerima nikmat, sesungguhnya ia tidak sedang menghukum Allah.

Ia sedang menghukum dirinya sendiri.

---

Jangan Sampai Nikmat Hanya Mengubah Kenyamanan, Bukan Hati

Di sinilah kisah tersebut menjadi sangat dekat dengan kehidupan kita.

Berapa banyak nikmat yang telah kita terima?

Kesehatan.

Keluarga.

Ilmu.

Pekerjaan.

Makanan.

Tempat tinggal.

Keamanan.

Kesempatan hidup.

Bahkan kesempatan untuk membaca Al-Qur'an dan mengenal Allah.

Lalu, apakah semua itu membuat kita semakin bersyukur?

Ataukah nikmat hanya membuat kita semakin nyaman?

Ini pertanyaan yang perlu kita ajukan kepada diri sendiri.

Sebab, masalah manusia terkadang bukan karena kekurangan nikmat.

Justru karena terlalu banyak nikmat tetapi terlalu sedikit kesadaran.

Ketika mendapatkan kesulitan, kita meminta pertolongan Allah.

Ketika pertolongan datang, kita kembali lupa.

Ketika terdesak, kita berdoa.

Ketika keadaan membaik, kita kembali sibuk dengan dunia.

Bukankah pola seperti ini sangat mirip dengan penyakit jiwa yang sedang dibongkar oleh kisah tersebut?

---

Dari Bani Israel kepada Diri Kita

Karena itu, kisah ini tidak seharusnya membuat kita sibuk menunjuk:

“Lihatlah betapa keras kepala Bani Israel!”

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

“Jangan-jangan ada bagian dari sikap mereka yang hidup dalam diri kita?”

Ketika Allah memberikan petunjuk, apakah kita langsung tunduk?

Ataukah kita meminta bukti tambahan karena sebenarnya kita belum siap menjalankan konsekuensinya?

Ketika mendapatkan nikmat, apakah kita bersyukur?

Ataukah kita justru menganggapnya sebagai sesuatu yang memang sudah seharusnya kita terima?

Ketika mengalami kesulitan, apakah kita bersabar?

Ataukah kita baru mau taat ketika berada dalam tekanan?

Dan ketika memperoleh kekuatan, apakah kita semakin rendah hati?

Ataukah justru menjadi sombong?

Inilah pertanyaan yang jauh lebih penting daripada sekadar memahami kisah sejarah.

---

Fitrah yang Harus Dipulihkan

Kisah ini juga mengajarkan bahwa kerusakan manusia tidak selalu tampak dalam bentuk kejahatan yang besar.

Kadang-kadang ia bermula dari cara berpikir.

Dari kebiasaan mempertanyakan kebenaran bukan untuk mencari petunjuk, tetapi untuk menghindari ketaatan.

Dari kecenderungan hanya mempercayai sesuatu yang dapat dilihat.

Dari kebiasaan membantah.

Dari ketergantungan kepada ancaman.

Dari hilangnya rasa syukur.

Dari kesombongan ketika memperoleh kekuatan.

Semua itu perlahan-lahan dapat mengeraskan hati.

Karena itu, pembinaan manusia tidak cukup dengan memberikan pengetahuan.

Yang harus dibangun adalah fitrah yang sehat.

Fitrah yang mengenal Rabb-nya.

Fitrah yang mampu menerima kebenaran.

Fitrah yang bersyukur ketika diberi nikmat.

Fitrah yang bersabar ketika diuji.

Fitrah yang tidak menjadi budak manusia.

Dan yang paling penting, fitrah yang mampu berkata:

“Aku beriman kepada Allah meskipun tidak semua perkara gaib dapat kulihat dengan mataku.”

---

Nikmat atau Ujian?

Pada akhirnya, kisah ini membawa kita kepada sebuah pertanyaan yang lebih dalam:

Apakah nikmat selalu berarti Allah sedang memuliakan kita?

Belum tentu.

Nikmat juga bisa menjadi ujian.

Demikian pula hukuman tidak selalu berarti akhir dari segalanya.

Ia dapat menjadi peringatan agar manusia kembali.

Bani Israel diberi hukuman.

Kemudian diberi kehidupan.

Diberi perlindungan.

Diberi makanan.

Diberi kesempatan.

Namun semua itu tetap menjadi ujian:

Apakah mereka akan bersyukur?

Demikian pula kehidupan kita.

Kesehatan adalah ujian.

Kekayaan adalah ujian.

Jabatan adalah ujian.

Ilmu adalah ujian.

Kekuasaan adalah ujian.

Bahkan kesulitan pun adalah ujian.

Pertanyaannya bukan hanya:

“Apa yang Allah berikan kepada kita?”

Tetapi:

“Apa yang kita lakukan terhadap apa yang Allah berikan?”

---

Jangan Menunggu Azab untuk Belajar Bersyukur

Maka, pelajaran terakhir dari ayat ini sangat sederhana tetapi mendalam:

Jangan menunggu kehilangan untuk menyadari nikmat.

Jangan menunggu sakit untuk menghargai kesehatan.

Jangan menunggu kehilangan kebebasan untuk menghargai kemerdekaan.

Jangan menunggu rezeki menyempit untuk menghargai kelapangan.

Jangan menunggu hati mengeras untuk kembali kepada Al-Qur'an.

Dan jangan menunggu datangnya hukuman untuk belajar bersyukur.

Sebab Allah telah memberikan terlalu banyak tanda.

Terlalu banyak nikmat.

Terlalu banyak kesempatan.

Terlalu banyak jalan untuk kembali.

Maka, ketika kita belum mampu melihat seluruh perkara gaib dengan mata, jangan menjadikan keterbatasan penglihatan sebagai alasan untuk menolak kebenaran.

Gunakan akal.

Gunakan hati.

Renungkan wahyu.

Perhatikan tanda-tanda kekuasaan Allah.

Lalu tundukkan diri.

Sebab pada akhirnya, persoalan iman bukan sekadar:

“Apakah aku sudah melihat?”

Tetapi:

“Apakah setelah melihat tanda-tanda-Nya, aku bersedia tunduk?”

Dan jangan lupa penutup ayat itu:

«“Dan tidaklah mereka menzalimi Kami, tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri.”»

Sebuah peringatan yang sangat jelas:

Allah tidak kehilangan apa pun ketika manusia membangkang. Manusialah yang kehilangan ketika ia berpaling dari Allah.

Al-Qur'anul Karim Bersama Orang-Orang Musyrik: Antara Panggilan Fitrah dan Pembangkangan Pengingkar Pernahkah kita bertanya, mengapa se...


Al-Qur'anul Karim Bersama Orang-Orang Musyrik: Antara Panggilan Fitrah dan Pembangkangan Pengingkar

Pernahkah kita bertanya, mengapa seseorang bisa mendengar kebenaran dengan telinganya, tetapi menolaknya dengan hatinya?

Mengapa seseorang dapat memahami keindahan sebuah pesan, merasakan kekuatan pengaruhnya, bahkan diam-diam kembali mendengarkannya, tetapi pada saat yang sama justru berusaha keras menjauh darinya?

Inilah salah satu gambaran yang sangat kuat tentang hubungan Al-Qur'an dengan orang-orang musyrik Quraisy.

Mereka bukan orang-orang yang sama sekali tidak pernah mendengar Al-Qur'an.

Mereka mendengarnya.

Mereka memahami bahasanya.

Mereka merasakan kekuatan susunan katanya.

Mereka menangkap pesan-pesannya.

Bahkan, sebagian dari mereka tidak mampu menahan diri untuk kembali mendengarkannya secara diam-diam.

Namun, mengapa mereka tetap menolak?

Di sinilah kita menemukan sebuah pertarungan yang sangat dalam: pertarungan antara fitrah yang tertarik kepada kebenaran dan kesombongan yang menolak untuk tunduk kepadanya.

Al-Qur'an menyebutkan:

“Dan apabila engkau membaca Al-Qur'an, Kami menjadikan antara engkau dan orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat itu sebuah penghalang yang tersembunyi. Dan Kami jadikan pada hati mereka penutup untuk dapat memahami, lalu pada telinga mereka sebuah penghalang. Dan jika engkau menyebut Rabb-mu di dalam Al-Qur'an, mereka akan membalikkan punggungnya untuk pergi menjauh. Kami lebih mengetahui apa yang mereka dengarkan; ketika mereka mendengarkan kepadamu, ternyata mereka berbisik di antara mereka; saat orang-orang zalim itu mengatakan: ‘Tidaklah kalian mengikuti selain seorang pria yang tersihir.’ Lihatlah bagaimana mereka memberikan permisalan terhadapmu, maka mereka pun sesat hingga tidak mampu menemukan jalan (untuk menjatuhkanmu).”
(QS. Al-Isra': 45–48)

Ayat-ayat ini menggambarkan bukan sekadar penolakan terhadap sebuah bacaan, tetapi proses psikologis dan spiritual ketika manusia berhadapan dengan kebenaran yang mengusik kepentingannya.


Ketika Fitrah Mendengar, tetapi Kesombongan Menolak

Apa yang terjadi ketika Al-Qur'an dibacakan kepada mereka?

Ternyata, hati mereka tidak sepenuhnya kebal.

Ada sesuatu yang menyentuh.

Ada sesuatu yang menggerakkan.

Ada sesuatu yang membuat mereka kembali mendengarkan.

Namun, setiap kali hati mereka mulai tertarik, mereka segera berusaha menariknya kembali.

Seakan-akan terjadi dialog di dalam diri mereka:

“Dengarkanlah.”

Fitrah berkata demikian.

Tetapi kesombongan menjawab:

“Jangan tunduk!”

Fitrah menarik mereka mendekat.

Kepentingan duniawi mendorong mereka menjauh.

Hati mereka mengenali sesuatu, tetapi ego mereka menolak konsekuensinya.

Maka persoalannya bukan semata-mata karena mereka tidak memahami Al-Qur'an.

Persoalannya adalah mereka tidak mau menerima apa yang akan terjadi jika mereka mengakui kebenarannya.

Bukankah ini jauh lebih berbahaya?

Seseorang bisa saja memahami kebenaran, tetapi tetap menolaknya karena kebenaran tersebut menuntut perubahan dalam hidupnya.

Dan inilah yang terjadi pada sebagian pembesar Quraisy.


Hijab yang Tidak Terlihat

Al-Qur'an kemudian menggambarkan adanya hijab, sebuah penghalang antara Rasulullah saw. dan orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat.

Menariknya, hijab itu disebut sebagai sesuatu yang tersembunyi.

Mengapa?

Karena ia bukan tembok yang dapat dilihat oleh mata.

Bukan pintu yang dapat disentuh.

Bukan jarak geografis yang memisahkan.

Ia adalah penghalang yang bekerja pada hati dan jiwa.

Mereka mendengar, tetapi tidak mengambil manfaat.

Mereka melihat, tetapi tidak mengambil pelajaran.

Mereka memahami kata-katanya, tetapi tidak mau tunduk kepada maknanya.

Bukankah ini sebuah kondisi yang sangat mengkhawatirkan?

Seseorang dapat berada sangat dekat dengan sumber petunjuk, tetapi tetap jauh dari hidayah.

Ia dapat mendengar ayat-ayat Allah, tetapi hatinya justru semakin keras.

Ia dapat mengetahui kebenaran, tetapi pengetahuannya tidak mengantarkannya kepada ketundukan.

Karena itu, persoalan hidayah bukan hanya persoalan seberapa banyak seseorang mendengar, tetapi juga seberapa jujur ia bersedia menerima apa yang telah didengarnya.


Mengapa Mereka Justru Kembali Mendengarkan?

Ada satu hal yang menarik.

Jika mereka benar-benar tidak tertarik kepada Al-Qur'an, mengapa mereka harus bersusah payah menghalangi orang lain untuk mendengarkannya?

Mengapa mereka berusaha membuat keributan ketika Al-Qur'an dibacakan?

Mengapa mereka saling memperingatkan?

Mengapa mereka bahkan harus membuat kesepakatan untuk tidak mendengarkannya?

Dan yang lebih menarik lagi:

Mengapa mereka kembali mendengarkannya secara diam-diam?

Di sinilah terlihat betapa kuatnya pengaruh Al-Qur'an terhadap jiwa mereka.

Mereka berusaha melawan sesuatu yang sebenarnya telah menyentuh mereka.

Seolah-olah mereka berkata kepada diri sendiri:

“Jangan dengarkan lagi!”

Tetapi hati mereka justru berkata:

“Dengarkan sekali lagi.”

Mereka pergi.

Kemudian kembali.

Mereka berjanji untuk tidak mendengarkan.

Kemudian diam-diam mendengarkan lagi.

Mereka berusaha menjauh.

Tetapi daya tarik Al-Qur'an membuat mereka kembali.

Mengapa?

Karena Al-Qur'an tidak sekadar menyampaikan informasi.

Ia mengguncang fondasi keyakinan.

Ia mengetuk hati.

Ia menantang akal.

Ia membongkar kepalsuan.

Dan yang paling mengancam mereka: ia membawa kalimat tauhid.


Mengapa Tauhid Menjadi Ancaman bagi Para Pembesar Quraisy?

Di sinilah persoalan menjadi lebih jelas.

Apa sebenarnya yang paling mengancam mereka dari Al-Qur'an?

Apakah sekadar keindahan bahasanya?

Apakah hanya karena ajaran moralnya?

Ataukah karena Al-Qur'an membawa sebuah prinsip yang jauh lebih fundamental:

“Laa ilaaha illallah.”

Tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah.

Kalimat ini tampak sederhana.

Namun, bagi struktur masyarakat Quraisy saat itu, ia memiliki konsekuensi yang sangat besar.

Tauhid tidak hanya menghancurkan berhala-berhala yang berdiri di sekitar Ka'bah.

Tauhid juga menghancurkan berhala-berhala yang berdiri di dalam struktur sosial dan politik masyarakat.

Jika hanya Allah yang disembah, lalu dari mana legitimasi kesucian berhala mereka?

Jika hanya Allah yang menjadi sumber ketaatan tertinggi, lalu apa dasar keistimewaan para pembesar?

Jika semua manusia sama-sama hamba Allah, lalu atas dasar apa seseorang merasa memiliki kedudukan mutlak atas orang lain?

Di sinilah kita memahami mengapa sebagian pembesar Quraisy begitu keras menolak dakwah Rasulullah saw.

Persoalannya bukan karena mereka tidak mampu memahami pesan tersebut.

Justru sebagian dari mereka sangat memahami.

Mereka adalah orang-orang yang menguasai bahasa Arab.

Mereka mengetahui keindahan bahasa.

Mereka memahami kekuatan retorika.

Mereka mengenali karakter Muhammad saw.

Namun, menerima kebenaran berarti menerima konsekuensi.

Dan konsekuensi itulah yang tidak mereka inginkan.


Fitrah Mengajak Tunduk, Kesombongan Memerintahkan Melawan

Maka, apa yang sebenarnya sedang terjadi dalam diri mereka?

Fitrah mendorong mereka untuk mendekat, tetapi kesombongan mencegah mereka untuk tunduk.

Hati mereka merasakan sesuatu.

Akal mereka melihat sesuatu.

Tetapi kepentingan mereka mengatakan sesuatu yang berbeda.

Di sinilah manusia dapat mengalami konflik paling berat: ketika ia mengetahui kebenaran, tetapi kebenaran itu mengancam kepentingannya.

Karena itu, masalah terbesar bukan selalu ketidaktahuan.

Kadang-kadang masalah terbesar adalah kesombongan.

Seseorang bisa saja mengetahui bahwa sebuah jalan benar, tetapi tidak mau menempuhnya karena ia tidak ingin kehilangan status.

Ia bisa mengetahui bahwa sebuah keyakinan salah, tetapi tetap mempertahankannya karena keyakinan itu telah menjadi bagian dari identitas sosialnya.

Ia bisa merasakan kebenaran, tetapi menolaknya karena kebenaran tersebut menuntutnya untuk mengakui bahwa selama ini dirinya keliru.

Dan pengakuan semacam itu sangat berat bagi jiwa yang dikuasai kesombongan.


Ketika Kebenaran Harus Dicarikan Alasan untuk Ditolak

Lalu apa yang mereka lakukan ketika tidak mampu membantah pengaruh Al-Qur'an?

Mereka menyerang pembawanya.

Allah SWT berfirman:

“Yaitu ketika orang zalim itu berkata, ‘Kamu hanyalah mengikuti seorang laki-laki yang kena sihir.’”
(QS. Al-Isra': 47)

Perhatikan cara mereka membangun tuduhan.

Mereka tidak mengatakan:

“Kami tidak memahami apa yang Muhammad sampaikan.”

Mereka juga tidak mengatakan:

“Kami tidak merasakan pengaruh Al-Qur'an.”

Sebaliknya, mereka mencari penjelasan yang dapat membenarkan penolakan mereka:

“Muhammad terkena sihir.”

Mengapa?

Karena ketika seseorang tidak mampu membantah pesan, ia sering kali mencoba meruntuhkan kredibilitas pembawa pesan.

Jika pembawa pesan dapat dicap sebagai orang yang terkena sihir, maka masyarakat diharapkan tidak perlu lagi mendengarkan apa yang dibawanya.

Inilah pola lama dalam menghadapi kebenaran:

Jika tidak mampu membantah pesannya, serang pembawanya.


Tuduhan Mereka Justru Mengungkap Keterpengaruhan Mereka

Namun, ada paradoks yang menarik.

Ketika mereka mengatakan Muhammad adalah orang yang terkena sihir, secara tidak langsung mereka sedang mengakui bahwa ada sesuatu yang luar biasa dalam apa yang dibawanya.

Mengapa mereka membutuhkan istilah “sihir”?

Karena mereka merasakan pengaruh yang tidak biasa.

Mereka merasakan bahwa Al-Qur'an bukan seperti perkataan manusia biasa.

Mereka merasakan kekuatan bahasa dan pengaruhnya terhadap jiwa.

Mereka melihat bagaimana orang yang mendengarnya dapat berubah.

Mereka sendiri merasakan keguncangan tersebut.

Tetapi karena mereka tidak mau menerima kesimpulan yang benar, mereka mencari penjelasan alternatif:

“Ini sihir.”

Padahal, jika mereka bersikap adil terhadap dirinya sendiri, mereka seharusnya bertanya:

“Mengapa perkataan ini begitu kuat memengaruhi kami?”

“Mengapa kami tidak mampu menandinginya?”

“Mengapa hati kami terusik ketika mendengarnya?”

“Mengapa kami harus berulang kali memperingatkan diri sendiri agar tidak mendengarkannya?”

Pertanyaan-pertanyaan tersebut seharusnya membawa mereka kepada pencarian yang jujur.

Namun, kesombongan membuat mereka memilih jalan yang berbeda.


Ketika Pembelaan Diri Justru Membuat Semakin Tersesat

Allah SWT kemudian berfirman:

“Lihatlah bagaimana mereka membuat perumpamaan untukmu (Muhammad); karena itu mereka menjadi sesat dan tidak dapat lagi menemukan jalan (yang benar).”
(QS. Al-Isra': 48)

Perhatikan ujung dari seluruh proses tersebut.

Mereka berusaha membuat berbagai tuduhan.

Mereka menciptakan berbagai perumpamaan.

Mereka mencari berbagai alasan.

Namun, apakah mereka berhasil menemukan jalan keluar?

Tidak.

“Maka mereka menjadi sesat dan tidak dapat lagi menemukan jalan.”

Mengapa?

Karena mereka tidak sedang mencari kebenaran.

Mereka sedang mencari pembenaran atas penolakan mereka.

Ini perbedaan yang sangat penting.

Orang yang mencari kebenaran akan bertanya:

“Apakah saya benar?”

Sedangkan orang yang mencari pembenaran akan bertanya:

“Bagaimana saya bisa membuktikan bahwa saya benar?”

Yang pertama membuka pintu hidayah.

Yang kedua dapat menutup pintu tersebut.


Ketika Fitrah Dikalahkan oleh Kepentingan

Kisah orang-orang musyrik Quraisy bersama Al-Qur'an akhirnya bukan hanya kisah tentang masa lalu.

Ia adalah cermin bagi manusia sepanjang zaman.

Sebab, bukankah setiap manusia memiliki fitrah?

Dan bukankah setiap manusia juga memiliki kepentingan, ego, kesombongan, dan kecenderungan untuk mempertahankan apa yang telah diyakininya?

Maka pertanyaan terbesarnya bukan hanya:

“Apakah kita sudah mendengar Al-Qur'an?”

Kita mungkin sudah sering mendengarnya.

Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah:

“Apa yang terjadi pada hati kita setelah mendengarnya?”

Apakah hati menjadi lebih tunduk?

Ataukah kita justru sibuk mencari alasan untuk menghindarinya?

Apakah Al-Qur'an mengoreksi diri kita?

Ataukah kita justru menggunakan berbagai argumen untuk membela diri?

Apakah kita membaca Al-Qur'an untuk mencari petunjuk?

Ataukah kita membacanya hanya untuk mencari pembenaran terhadap apa yang sudah kita putuskan?

Inilah refleksi yang seharusnya muncul dari kisah tersebut.


Al-Qur'an Tidak Selalu Ditolak karena Tidak Dipahami

Ada sebuah pelajaran yang sangat mendalam di sini:

Kebenaran tidak selalu ditolak karena manusia tidak memahaminya.

Kadang-kadang kebenaran ditolak justru karena terlalu jelas untuk diabaikan, tetapi terlalu berat untuk diterima.

Al-Qur'an menyentuh fitrah.

Tetapi ketika fitrah itu bertabrakan dengan kepentingan, manusia memiliki pilihan.

Ia dapat merendahkan egonya dan mengikuti kebenaran.

Atau ia dapat mempertahankan egonya dengan mencari berbagai alasan untuk menolak kebenaran.

Para pembesar Quraisy memilih jalan kedua.

Mereka mendengar Al-Qur'an.

Mereka terpengaruh.

Mereka kembali mendengarkannya.

Mereka merasakan kekuatannya.

Namun, ketika tauhid mengancam kedudukan, tradisi, dan kepentingan mereka, mereka memilih membangun penghalang di dalam diri sendiri.

Maka lahirlah hijab.

Bukan karena Al-Qur'an kehilangan cahaya.

Tetapi karena mereka memilih menutup diri dari cahaya tersebut.


Pelajaran Terakhir: Jangan Sampai Kita Mengulanginya

Karena itu, kisah ini seharusnya tidak berhenti pada kekaguman terhadap bagaimana orang-orang Quraisy dahulu menolak Al-Qur'an.

Kisah ini justru harus mengembalikan kita kepada diri sendiri.

Bagaimana sikap kita ketika Al-Qur'an bertentangan dengan keinginan kita?

Ketika Al-Qur'an meminta kita meninggalkan sesuatu yang kita cintai, apakah kita tunduk?

Ketika Al-Qur'an mengoreksi cara berpikir kita, apakah kita bersedia berubah?

Ketika Al-Qur'an menuntut kita mengakui kesalahan, apakah kita mampu merendahkan diri?

Ketika Al-Qur'an berbicara tentang kewajiban yang tidak sesuai dengan kepentingan kita, apakah kita menerimanya atau mencari alasan untuk menghindarinya?

Jangan sampai kita hanya berbeda dengan orang-orang musyrik Quraisy dalam bentuk dan zaman, tetapi memiliki penyakit yang sama dalam hati:

mendengar kebenaran, merasakan kebenaran, tetapi menolak tunduk kepada kebenaran.

Sebab, persoalan terbesar bukan apakah Al-Qur'an mampu menyentuh hati.

Al-Qur'an telah dan akan selalu memiliki kekuatan untuk menyentuh hati yang hidup.

Persoalannya adalah:

Apakah setelah hati kita tersentuh, kita bersedia tunduk?

Di situlah letak perbedaannya.

Fitrah dapat menunjukkan jalan.

Al-Qur'an memberikan petunjuk.

Akal dapat memahami.

Namun, manusia tetap harus memilih:

tunduk atau membangkang, menerima atau menolak, mendekat atau berpaling.

Dan ketika seseorang terus-menerus memilih berpaling, jangan heran jika suatu hari hijab itu semakin tebal—bukan karena cahaya Al-Qur'an semakin redup, tetapi karena hati sendiri semakin jauh dari cahaya tersebut.

Zionis Israel: Paradoks Kekuatan yang Kesepian Di panggung geopolitik Timur Tengah, kita menyaksikan sebuah anomali strategis ya...

Zionis Israel: Paradoks Kekuatan yang Kesepian

Di panggung geopolitik Timur Tengah, kita menyaksikan sebuah anomali strategis yang tajam. Di satu sisi, Israel berdiri sebagai raksasa militer dengan supremasi teknologi yang tak tertandingi dan dukungan tanpa syarat dari kekuatan super dunia.

Namun, di sisi lain, negara ini tetap menjadi entitas yang terasing secara organik—sebuah benteng tinggi di tengah lautan permusuhan yang gagal menerjemahkan kekuatan kasarnya menjadi otoritas regional yang diakui.

Inilah "paradoks kekuatan yang kesepian." Meskipun Israel mampu memenangkan hampir setiap konfrontasi kinetik dan melumpuhkan lawan-lawannya secara teknis, ia tetap gagal dalam misi yang lebih fundamental: meraih legitimasi untuk memimpin.

Kekuatan militernya yang luar biasa justru menjadi bukti keterasingannya; sebuah instrumen yang mampu menghancurkan ancaman, namun tidak berdaya untuk membangun stabilitas yang berkelanjutan. Mengapa negara paling perkasa di kawasan ini tetap gagal menjadi pemimpin regional yang sesungguhnya?


Dominasi vs. Hegemoni: Jurang Antara Paksaan dan Persetujuan

Dalam studi strategis, kita harus membedakan secara klinis antara Dominasi dan Hegemoni. Dominasi berakar pada kekuatan koersif—kemampuan untuk memaksakan kehendak melalui intimidasi atau kekerasan fisik. 

Namun, sebagaimana yang dipahami dalam kerangka pemikiran Gramscian, kepemimpinan sejati atau hegemoni membutuhkan consent (persetujuan) dan legitimasi moral.

Israel mungkin memiliki kapasitas untuk mendominasi melalui "moncong senjata", tetapi ia kekurangan kapasitas untuk menginspirasi atau memimpin melalui konsensus. Dominasi tanpa hegemoni hanyalah menciptakan stabilitas semu yang melelahkan. Tanpa adanya pengakuan dari yang dipimpin, status tersebut akan selalu bersifat transaksional, rapuh, dan menuntut biaya pertahanan yang membengkak secara eksponensial. 

Singkatnya, dominasi adalah tentang perintah, sedangkan kepemimpinan adalah tentang otoritas moral yang diterima secara sukarela.


Batas Akhir dari Kekuatan Militer

Israel sering kali terjebak dalam delusi bahwa supremasi taktis adalah solusi bagi masalah eksistensialnya. Namun, seorang analis senior harus berani menyatakan bahwa supremasi taktis Israel hanyalah obat penenang bagi penyakit strategis yang kronis.

"Pedang yang tajam" mungkin efektif untuk memotong ancaman jangka pendek, namun ia tidak bisa digunakan sebagai alat untuk membangun jembatan diplomatik yang langgeng.

Ketergantungan yang berlebihan pada kekuatan militer menciptakan kebuntuan permanen. Militer dapat menghancurkan bunker, tetapi ia tidak mampu menghancurkan narasi perlawanan yang lahir dari rasa ketidakadilan. Sebagaimana ditegaskan dalam realitas lapangan:

"Israel can win every war, but it cannot win the peace."

Kutipan ini menggarisbawahi kegagalan sistemik Israel: kemenangan di medan tempur tidak pernah bertransformasi menjadi keamanan politik karena ia tidak memiliki visi perdamaian yang bisa diterima oleh kawasan secara kolektif.


Ilusi Normalisasi dan Rejeksi "Jalanan Arab"

Kesepakatan seperti Abraham Accords sering kali dicitrakan sebagai terobosan menuju integrasi. Namun, ini adalah normalisasi yang dangkal karena hanya menyentuh lapisan elit autokratis dan mengabaikan aspirasi akar rumput.

Ada "plafon kaca" yang tidak bisa ditembus oleh transaksi keamanan semata: penolakan masyarakat Arab secara luas.

Legitimasi regional tidak bisa dibeli melalui barter teknologi intelijen atau kerja sama ekonomi tingkat tinggi. Selama kesepakatan tersebut tidak menyentuh nurani kolektif rakyat di kawasan—yang masih melihat Israel sebagai entitas kolonial—maka normalisasi tersebut akan tetap bersifat transaksional dan rentan runtuh begitu konstelasi politik domestik di negara-negara Arab berubah. 

Kepemimpinan membutuhkan lebih dari sekadar tanda tangan di atas kertas; ia membutuhkan penerimaan sosial.


Isu Palestina sebagai "Ujian Asam" Kepemimpinan

Masalah Palestina tetap menjadi penghalang eksistensial bagi ambisi kepemimpinan Israel. Ini bukan sekadar konflik teritorial, melainkan "ujian asam" (acid test) bagi moralitas politik Israel di mata dunia internasional dan regional.

Pergeseran internal Israel ke arah politik sayap kanan ekstrem dan kebijakan pendudukan yang kian represif semakin menutup pintu bagi pengakuan regional.

Bagaimana mungkin sebuah negara memimpin tatanan regional yang stabil jika ia terus mempraktikkan kebijakan yang dipandang oleh tetangganya sebagai bentuk penindasan yang sistematis?

Di mata publik regional, kebijakan internal Israel merusak citranya sebagai mitra strategis yang stabil. Selama isu Palestina tidak diselesaikan dengan adil, Israel akan tetap dipandang sebagai "anomali" yang mengganggu stabilitas, bukan sebagai jangkar perdamaian.


Ketergantungan pada AS: Status "Orang Luar" yang Permanen

Ketergantungan mutlak pada payung keamanan Amerika Serikat justru menegaskan bahwa Israel belum mampu berdiri secara mandiri dalam tatanan sosial kawasannya. 

Seorang pemimpin regional sejati haruslah aktor yang kekuasaannya berakar dari dalam geografi politiknya sendiri, bukan aktor yang eksistensinya dipasok secara artifisial oleh kekuatan luar samudra.

Dukungan tanpa batas dari Washington memungkinkan Israel untuk terus mengabaikan kebutuhan akan legitimasi regional. Namun, ini adalah pedang bermata dua: ia memperkuat status Israel sebagai "Garrison State" (Negara Garnisun) yang dipandang sebagai kepanjangan tangan kepentingan Barat. 

Selama Israel tidak bisa meraih kepercayaan tetangganya tanpa perlindungan aktor eksternal, ia akan selalu dianggap sebagai orang asing di rumahnya sendiri.


Masa Depan yang Terfragmentasi

Mendominasi tanpa memimpin adalah resep menuju kelelahan strategis yang abadi. Masa depan yang terfragmentasi menunggu jika Israel terus memilih menjadi hegemon yang ditakuti daripada mitra yang dihormati.

Risiko terbesar bagi sebuah negara yang terjebak dalam "Dilema Besi" adalah kelelahan moral dan sosial; tidak ada bangsa yang bisa selamanya berada dalam mode siaga tempur tanpa mengorbankan jiwanya sendiri.

Pelajaran pahit bagi kekuasaan adalah bahwa ia hanya benar-benar efektif ketika ia tidak perlu lagi dibuktikan melalui kekerasan.

Dominasi adalah beban berat yang dipikul sendiri dengan rasa cemas, sementara kepemimpinan adalah otoritas yang didukung oleh kepercayaan kolektif.

Tauhid Rububiyyah bagi Penggiat Ekonomi Islam Apa yang membuat seorang penggiat ekonomi Islam mampu bertahan ketika perjuanganny...

Tauhid Rububiyyah bagi Penggiat Ekonomi Islam

Apa yang membuat seorang penggiat ekonomi Islam mampu bertahan ketika perjuangannya menghadapi tekanan, godaan materi, keterbatasan sumber daya, bahkan ketika hasil yang diharapkan belum juga terlihat?

Apakah semata-mata karena ilmu ekonomi yang dimilikinya?

Apakah karena kecakapannya mengelola lembaga?

Apakah karena besarnya modal, luasnya jaringan, atau kuatnya dukungan masyarakat?

Semua itu penting. Tetapi ada sesuatu yang jauh lebih mendasar: tauhid.

Sebab, tanpa tauhid yang kokoh, perjuangan ekonomi Islam sangat mudah berubah menjadi perjuangan mempertahankan kepentingan diri, mengejar jabatan, memburu keuntungan, atau sekadar membangun eksistensi kelompok.

Di sinilah pentingnya memahami tauhid rububiyyah.

Tauhid rububiyyah adalah mengesakan Allah SWT dalam segala perbuatan-Nya. Tauhid ini berkaitan dengan akidah seseorang, terutama keyakinan bahwa hanya Allah SWT yang menciptakan, memberi rezeki, dan mengatur seluruh alam semesta.¹

Jika keyakinan tersebut benar-benar hidup dalam hati seorang penggiat ekonomi Islam, maka ia tidak hanya memengaruhi cara pandangnya terhadap Allah, tetapi juga mengubah cara pandangnya terhadap dirinya sendiri, perjuangannya, rezekinya, dan hasil pekerjaannya.

Setidaknya ada tiga konsekuensi besar dari tauhid rububiyyah bagi seorang penggiat ekonomi Islam: meyakini Allah sebagai Pencipta, meyakini Allah sebagai Pemberi Rezeki, dan meyakini Allah sebagai Pengatur seluruh urusan.

---

1. Jika Allah adalah Pencipta, Mengapa Kita Harus Merasa Paling Dibutuhkan?

Mari kita mulai dari pertanyaan yang paling mendasar:

Siapakah yang menciptakan kita?

Allah SWT.

Lalu, siapakah yang menciptakan seluruh manusia yang terlibat dalam perjuangan ekonomi Islam?

Allah SWT.

Siapakah yang menciptakan ilmu, kemampuan berpikir, kesehatan, kesempatan, jaringan, modal, dan berbagai sarana yang kita gunakan untuk berjuang?

Allah SWT.

Allah berfirman:

«“Allah Pencipta segala sesuatu dan Dia Maha Pemelihara atas segala sesuatu.”
(QS. Az-Zumar: 62)»

Ayat ini seharusnya melahirkan sebuah kesadaran mendalam: Allah tidak membutuhkan makhluk, tetapi seluruh makhluk sangat membutuhkan Allah.

Kekuasaan Allah tidak bertambah karena seluruh makhluk menyembah-Nya. Sebaliknya, kekuasaan-Nya juga tidak berkurang apabila seluruh makhluk mendurhakai-Nya.

Dalam hadis qudsi Allah SWT berfirman:

«يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوا ضَرِّي فَتَضُرُّونِي وَلَنْ تَبْلُغُوا نَفْعِي فَتَنْفَعُونِي...»

“Wahai hamba-Ku, sesungguhnya kalian tidak akan pernah mampu memberikan mudarat kepada-Ku sehingga kalian dapat membahayakan-Ku, dan kalian tidak akan pernah mampu memberikan manfaat kepada-Ku sehingga kalian dapat memberi manfaat kepada-Ku.”

Allah kemudian menjelaskan bahwa seandainya seluruh manusia dan jin berada dalam keadaan paling bertakwa, hal itu tidak menambah kekuasaan-Nya sedikit pun. Sebaliknya, jika seluruh manusia dan jin berada dalam keadaan paling durhaka, hal itu juga tidak mengurangi kekuasaan-Nya sedikit pun.

(HR. Muslim)²

Lalu, apa hubungannya dengan penggiat ekonomi Islam?

Hubungannya sangat erat.

Keyakinan bahwa Allah adalah Pencipta seharusnya menghancurkan satu penyakit yang kadang tidak disadari: merasa diri paling dibutuhkan.

Seorang penggiat ekonomi Islam jangan sampai berpikir:

“Kalau saya tidak ada, siapa yang akan mengembangkan ekonomi Islam?”

Atau:

“Kalau saya meninggalkan perjuangan ini, ekonomi Islam akan mengalami kemunduran.”

Bukankah sebelum kita terlibat, Allah telah memiliki hamba-hamba lain yang berjuang?

Dan setelah kita tidak lagi terlibat, bukankah Allah juga mampu menghadirkan orang-orang lain?

Maka, siapa sebenarnya yang membutuhkan siapa?

Bukan ekonomi Islam yang membutuhkan kita. Kitalah yang membutuhkan kesempatan untuk berkhidmat melalui ekonomi Islam.

Kesadaran ini akan melahirkan sikap yang jauh lebih sehat: syukur, bukan kesombongan; tawaduk, bukan klaim kepemilikan.

Ketika Allah memberikan kesempatan untuk berkontribusi, seorang penggiat ekonomi Islam seharusnya berkata:

“Ya Allah, saya bersyukur Engkau memilih saya untuk ikut mengambil bagian dalam perjuangan ini.”

Bukan:

“Perjuangan ini membutuhkan saya.”

Perbedaannya tampak kecil, tetapi dampaknya sangat besar.

Kalimat pertama melahirkan syukur.

Kalimat kedua berpotensi melahirkan ujub.

Karena itu, seorang penggiat ekonomi Islam harus yakin bahwa apabila dirinya tidak lagi mampu melanjutkan perjuangan, Allah tetap mampu menghadirkan orang lain yang lebih baik.

Bahkan, sangat mudah bagi Allah untuk memenangkan agama-Nya melalui siapa pun yang Dia kehendaki.

Allah SWT berfirman:

«“Untuk setiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Kalau Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap karunia yang telah diberikan-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan...”
(QS. Al-Ma'idah: 48)»

Perhatikan ungkapannya: “berlomba-lombalah berbuat kebajikan.”

Bukan berlomba menjadi orang yang paling terkenal.

Bukan berlomba mendapatkan pengakuan.

Bukan pula berlomba mengklaim bahwa keberhasilan perjuangan merupakan hasil dirinya.

Tugas kita adalah berlomba dalam kebaikan.

Adapun siapa yang Allah pilih untuk menjadi sebab kemenangan, itu adalah urusan-Nya.

---

2. Jika Allah adalah Pemberi Rezeki, Mengapa Harus Takut Mempertahankan Prinsip?

Sekarang mari kita masuk kepada persoalan yang sering menjadi ujian paling nyata dalam kehidupan seorang penggiat ekonomi Islam:

rezeki.

Seberapa kuat seseorang mempertahankan prinsip ketika prinsip itu berhadapan dengan kepentingan ekonomi?

Ketika pilihan syariah memberikan keuntungan yang lebih kecil, sedangkan pilihan konvensional menawarkan pendapatan yang lebih besar, apa yang akan dipilih?

Ketika mempertahankan prinsip berarti harus kehilangan jabatan, apakah kita masih mampu bertahan?

Ketika bekerja di sektor ekonomi Islam ternyata belum memberikan penghasilan sebesar sektor lain, apakah kita akan berkata:

“Saya harus keluar. Saya membutuhkan penghasilan yang lebih besar.”

Di sinilah tauhid rububiyyah kembali diuji.

Seorang Muslim harus meyakini bahwa Allah adalah satu-satunya Pemberi Rezeki.

Allah SWT berfirman:

«“Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya...”
(QS. Hud: 6)»

Rasulullah saw. juga menjelaskan bahwa ketika manusia masih berada dalam kandungan, malaikat diperintahkan untuk menuliskan rezekinya, ajalnya, amalnya, serta nasibnya.
(HR. al-Bukhari dan Muslim)³

Jika demikian, apakah berarti manusia tidak perlu bekerja?

Tentu tidak.

Justru manusia diperintahkan untuk berikhtiar.

Tetapi ada perbedaan yang sangat mendasar antara mencari rezeki dan menganggap sumber rezeki adalah pekerjaan atau institusi.

Pekerjaan hanyalah sebab.

Perusahaan hanyalah sebab.

Jabatan hanyalah sebab.

Klien hanyalah sebab.

Pasar hanyalah sebab.

Sedangkan Ar-Razzaq adalah Allah.

Karena itu, seorang penggiat ekonomi Islam tidak boleh berpandangan bahwa memperjuangkan ekonomi Islam akan otomatis mengurangi rezekinya.

Lebih berbahaya lagi jika ia meninggalkan prinsip ekonomi Islam hanya karena institusi konvensional menawarkan pendapatan yang lebih menggiurkan.

Pertanyaannya bukan:

“Di mana saya akan mendapatkan uang lebih banyak?”

Pertanyaan yang lebih mendasar adalah:

“Dari jalan mana Allah menghendaki saya mencari rezeki?”

Sebab, bagi seorang mukmin, jumlah rezeki bukan satu-satunya persoalan. Kehalalan dan keberkahannya juga merupakan persoalan.

---

Ketika Tawaran Dunia Datang

Dalam sejarah dakwah Rasulullah saw., kita menemukan pelajaran yang sangat kuat.

Utbah bin Rabi'ah datang membawa berbagai tawaran dari Quraisy agar Rasulullah saw. menghentikan dakwahnya. Di antara tawaran itu adalah harta yang melimpah sehingga beliau dapat menjadi orang terkaya di kalangan Quraisy. Beliau juga ditawari kedudukan dan kemuliaan sehingga masyarakat Quraisy akan melibatkan beliau dalam berbagai urusan penting.⁴

Bayangkan.

Yang ditawarkan bukan sesuatu yang kecil.

Harta.

Kekuasaan.

Kedudukan.

Pengaruh.

Pengakuan.

Bukankah semuanya tampak menggiurkan?

Namun, apakah Rasulullah saw. menukar prinsip dengan semua itu?

Tidak.

Di sinilah seorang penggiat ekonomi Islam perlu bertanya kepada dirinya sendiri:

“Apa yang sebenarnya saya perjuangkan?”

Jika jawabannya adalah Allah, maka dunia tidak boleh menjadi alasan untuk meninggalkan prinsip.

Jika jawabannya adalah dakwah, maka keuntungan tidak boleh menjadi satu-satunya ukuran.

Jika jawabannya adalah tegaknya nilai Islam dalam kehidupan ekonomi, maka kita harus siap menghadapi masa-masa ketika jalan itu tidak selalu mudah.

Allah SWT berfirman:

«“Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.”
(QS. Muhammad: 7)»

Menolong agama Allah bukan berarti Allah membutuhkan pertolongan manusia.

Allah Mahakaya dan Mahakuasa.

Maksudnya adalah manusia diberi kesempatan untuk menjadi bagian dari perjuangan menegakkan kebenaran.

Dan kesempatan itulah yang seharusnya disyukuri.

---

3. Jika Allah Mengatur Segala Urusan, Mengapa Kita Harus Putus Asa?

Sekarang kita sampai pada persoalan ketiga:

hasil perjuangan.

Seorang penggiat ekonomi Islam mungkin sudah bekerja keras.

Ia melakukan penelitian.

Ia membangun lembaga.

Ia mengembangkan produk.

Ia memberikan edukasi.

Ia berdakwah.

Ia membangun jaringan.

Ia mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, bahkan hartanya.

Namun, setelah bertahun-tahun, hasil yang diharapkan belum juga terlihat.

Masyarakat belum banyak berubah.

Lembaga belum berkembang.

Produk belum diterima pasar.

Ekonomi Islam belum menjadi sistem dominan.

Lalu muncul pertanyaan:

“Apakah perjuangan saya sia-sia?”

Jawabannya:

Tidak.

Mengapa?

Karena seorang penggiat ekonomi Islam tidak diberi kewajiban untuk mengendalikan hasil.

Ia hanya diperintahkan untuk berusaha sebaik mungkin.

Allah SWT berfirman:

«“Dia mengatur segala urusan dari langit ke bumi...”
(QS. As-Sajdah: 5)»

Allah adalah pengatur segala sesuatu.

Maka, kita harus mengetahui batas antara wilayah ikhtiar manusia dan wilayah ketetapan Allah.

Kita mengajak, tetapi Allah yang memberikan hidayah.

Kita mendidik, tetapi Allah yang membukakan hati.

Kita membangun lembaga, tetapi Allah yang menentukan pertumbuhannya.

Kita menciptakan produk, tetapi Allah yang menentukan apakah produk itu diterima pasar.

Kita menanam, tetapi Allah yang menentukan kapan buahnya muncul.

Allah SWT berfirman:

«“Sungguh, engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki...”
(QS. Al-Qashash: 56)»

Jika Rasulullah saw. saja tidak memiliki kewenangan untuk memberikan hidayah kepada orang yang beliau cintai, bagaimana mungkin seorang penggiat ekonomi Islam merasa bahwa dirinya dapat memastikan perubahan masyarakat?

Kita hanya bisa menyampaikan, mengajak, mendidik, dan berusaha.

Allah SWT berfirman:

«“Maka jika mereka berpaling, maka ketahuilah kewajiban yang dibebankan atasmu (Muhammad) hanyalah menyampaikan (amanah Allah) dengan terang.”
(QS. An-Nahl: 82)»

Maka jangan mengukur perjuangan hanya dengan hasil yang tampak.

Sebab, hasil adalah wilayah Allah, sedangkan ikhtiar adalah wilayah tanggung jawab manusia.

---

4. Kalau Hasilnya di Tangan Allah, Apakah Kita Boleh Berhenti?

Tidak.

Justru di sinilah letak paradoksnya.

Karena hasil berada di tangan Allah, kita harus terus berusaha.

Jangan berkata:

«“Kalau Allah yang menentukan hasil, untuk apa saya bekerja?”»

Pernyataan tersebut keliru.

Bukankah Allah juga yang menentukan rezeki, tetapi kita tetap diperintahkan bekerja?

Bukankah Allah yang menentukan kesembuhan, tetapi kita tetap diperintahkan berobat?

Bukankah Allah yang menentukan kemenangan, tetapi manusia tetap diperintahkan mempersiapkan kekuatan?

Demikian pula dalam dakwah ekonomi Islam.

Tawakal tidak berarti berhenti berusaha.

Tawakal berarti berusaha sekuat tenaga sambil menyadari bahwa hasil akhirnya bukan milik kita.

Karena itu, seorang penggiat ekonomi Islam tidak boleh menyerah hanya karena perjuangannya belum membuahkan hasil.

Pahala perjuangan tidak semata-mata ditentukan oleh hasil akhir, tetapi juga oleh keikhlasan, kesungguhan, pengorbanan, dan keteguhan dalam menjalankan amanah.

Dalam kaidah fikih disebutkan:

Al-ajru bi qadril masyaqqah, yakni pahala berkaitan dengan kadar kesulitan yang dihadapi dalam menjalankan ketaatan.

Tentu, kesulitan bukan sesuatu yang sengaja dicari. Namun, ketika seseorang tetap berada di jalan kebaikan meskipun menghadapi kesulitan, kesungguhan dan pengorbanannya memiliki nilai di sisi Allah.

---

5. Belajar dari Keteguhan Rasulullah saw.

Lalu, dari siapa kita belajar tentang keteguhan tersebut?

Tentu dari Rasulullah saw.

Beliau berdakwah ketika keadaan tidak mudah.

Beliau menghadapi tekanan.

Beliau menghadapi penghinaan.

Para sahabat beliau mengalami penyiksaan.

Bahkan beliau sendiri menghadapi berbagai ancaman terhadap keselamatan hidupnya.

Namun, apakah semua tekanan itu membuat beliau meninggalkan dakwah?

Tidak.

Ketika Abu Thalib mendapat tekanan dari Quraisy agar menghentikan dakwah keponakannya, Muhammad saw., Rasulullah menunjukkan keteguhan yang luar biasa. Dalam riwayat sirah yang masyhur, beliau berkata:

«يَا عَمُ لَوْ وُضِعَتِ الشَّمْسُ فِي يَمِينِي وَالْقَمَرُ فِي يَسَارِي مَا تَرَكْتُ هَذَا الْأَمْرَ حَتَّى يُظْهِرَهُ اللَّهُ تَعَالَى أَوْ أَهْلِكَ فِي طَلَبِهِ»

“Wahai Pamanku! Andaikan matahari diletakkan di tangan kananku dan rembulan diletakkan di tangan kiriku, niscaya aku tidak akan meninggalkan urusan dakwah ini sampai Allah memenangkan urusan ini atau aku binasa dalam menjalankannya.”⁵

Inilah keteguhan.

Bukan keteguhan karena merasa diri pasti menang.

Bukan pula keteguhan karena mengetahui kapan kemenangan akan datang.

Tetapi keteguhan karena yakin kepada Allah dan tetap menjalankan amanah.

---

Tauhid Rububiyyah: Dari Keyakinan Menjadi Keteguhan

Pada akhirnya, apa yang sebenarnya ingin dibentuk oleh tauhid rububiyyah dalam diri seorang penggiat ekonomi Islam?

Bukan sekadar pengetahuan bahwa Allah adalah Pencipta.

Bukan sekadar hafalan bahwa Allah adalah Ar-Razzaq.

Bukan sekadar pengakuan bahwa Allah mengatur alam semesta.

Tauhid harus mengubah cara seseorang menjalani perjuangan.

Jika ia yakin Allah adalah Pencipta, ia tidak akan merasa dirinya pusat perjuangan.

Jika ia yakin Allah adalah Pemberi Rezeki, ia tidak akan mudah menjual prinsip demi keuntungan.

Jika ia yakin Allah adalah Pengatur segala urusan, ia tidak akan putus asa ketika hasil belum sesuai harapan.

Maka lahirlah tiga sikap besar:

Pertama, rendah hati ketika berhasil.

Sebab ia sadar bahwa keberhasilannya tidak pernah berdiri sendiri. Ada pertolongan Allah, ada manusia yang membantu, ada kesempatan yang Allah berikan, dan ada berbagai sebab yang tidak mungkin ia ciptakan sendiri.

Kedua, teguh ketika menghadapi godaan.

Sebab ia yakin bahwa rezeki tidak pernah tertukar. Ia tidak perlu mengorbankan prinsip demi mengejar sesuatu yang sebenarnya telah berada dalam ketetapan Allah.

Ketiga, sabar ketika hasil belum terlihat.

Sebab ia memahami bahwa kewajibannya adalah berikhtiar, sedangkan hasil akhirnya berada dalam kekuasaan Allah.

Maka, seorang penggiat ekonomi Islam tidak seharusnya berkata:

«“Ekonomi Islam akan berhasil karena saya.”»

Tetapi hendaknya berkata:

«“Saya bersyukur karena Allah memberi saya kesempatan untuk ikut memperjuangkannya. Saya akan bekerja sekuat tenaga, tetapi saya tidak akan menyandarkan keberhasilan kepada diri saya sendiri. Saya serahkan hasil akhirnya kepada Allah.”»

Inilah buah tauhid rububiyyah.

Kita bekerja, tetapi tidak menyembah pekerjaan.

Kita mencari rezeki, tetapi tidak menggantungkan hati kepada pekerjaan.

Kita membangun lembaga, tetapi tidak merasa menjadi pemilik perjuangan.

Kita mengejar keberhasilan, tetapi tidak menyamakan keberhasilan dengan nilai diri.

Dan yang paling penting:

Kita berjuang sekuat tenaga, tetapi hati tetap bergantung hanya kepada Allah SWT.


Sumber:
Abdul Wahid al-Faizin, Tafsir Ekonomi Kontemporer, GIP,  2018

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adam (5) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Al-Baqarah (1) Al-Qur'an (362) Al-Qur’an (55) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) An-Nadwi (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bahaya Kemunduran Umat Islam (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (53) Cerita kegagalan (1) cerpen Nabi (8) cerpen Nabi Musa (2) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) dakwah (13) Dakwah (10) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) Ekonomi (2) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) english (6) English (6) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fiqh (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (7) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) hikmah (1) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) Islam (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) kecerdasan (20) Kecerdasan (331) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Hadist (4) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) kisah para nabi dan (2) kisah para nabi dan rasul (58) kisah para Nabi dan Rasul (1) Kisah para nabi dan rasul (110) Kisah Para Nabi dan Rasul (577) kisah para nabi dan rasul. Nabi Daud (1) kisah para nabi dan rasul. nabi Musa (2) Kisah Penguasa (1) Kisah ulama (1) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) nabi adam (1) Nabi Adam (75) nabi Adam. Adam (1) Nabi Ayub (1) Nabi Daud (3) Nabi Ibrahim (3) Nabi Isa (2) nabi Isa. nabi ismail (1) Nabi Ismail (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Khidir (1) Nabi Musa (29) Nabi Nuh (6) Nabi Sulaiman (2) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (15) Namrudz (2) Nasrulloh Baksolahar (1) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) nusantara (7) Nusantara (289) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (703) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rasulullah shalallahu alaihi wassalam (1) Rehat (493) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) Sahabat (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) Salimul Aqidah (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Serah Nabawiyah (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (318) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah penguasa (11) Sirah Penguasa (248) sirah Sahabat (2) Sirah Sahabat (173) Sirah Tabiin (43) Sirah ulama (36) Sirah Ulama (158) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tamim Ad Dari (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Wakaf (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)