basmalah Pictures, Images and Photos
Oktober 2021 - Our Islamic Story

Choose your Language

Wasiat Sunan Ampel Kepada Raden Fatah Soal Majapahit  Benarkah yang menghancurkan Majapahit adalah Demak? Buya Hamka dalam bukun...

Wasiat Sunan Ampel Kepada Raden Fatah Soal Majapahit 


Benarkah yang menghancurkan Majapahit adalah Demak? Buya Hamka dalam bukunya Sejarah Umat Islam meluruskan kesalahan pahaman ini.

Saat Raden Fatah sudah besar, berangkatlah dia ke Jawa menemui   Bapaknya sang Maharaja Majapahit.  Tiba di Istana, sang Maharaja amat terkesan sebab wajahnya sangat serupa dengan ayahnya. Si Ayah memakai mahkota kebesaran Majapahit, seperti lambang kebesaran dewa-dewa, sedangkan si anak memakai pakaian biasa dengan muka jernih bekas wudhu.

Sang putra diangkatlah sebagai Pangeran Adipati Bintara dari kerajaan Majapahit dan diberi tanah di Demak. Bersama Walisanga  Raden Fatah membabat alas. Membangun masjid dengan sembilan tonggak, perlambang sembilan ulama yang memelopori Islam di tanah Jawa. Kian lama kian besar, sedangkan Majapahit terus merosot pamornya. Maka didirikanlah Kesultanan Demak.

Raden Fatah kerajaan Islam. Sedangkan Majapahit hindu. Bagaimana menyikapinya? Sunan Ampel memberikan nasihat agar berlaku sabar. Sebab selain kekerasan senjata ada lagi yang lebih tajam yaitu senjata bathin dengan memberikan pemahaman kepada rakyat atas kesucian Islam.

Sunan Ampel lebih memilih mengislamkan Majapahit dengan cara Sunan Kalijaga dengan memanfaatkan segala kepandaiannya memasukkan pengaruh dalam wayang yang sangat disukai rakyat Jawa. Selama ini wayang adalah seni keraton untuk mempertinggi martabat raja dan memperdalam kepercayaan pada rakyat bahwa raja memang dewa.

Saat Sunan Ampel akan wafat, dikumpulkan sekalian ulama dan hadir juga Raden Fatah tentang Majapahit agar semua dilakukan dengan sabar, jangan ada paksaan, dan jangan ada pertumpahan darah.

Tahun 1478 M, Majapahit diserang oleh kerajaan Kediri Hindu dengan rajanya Giriwardhana. Majapahit dikalahkan. Serangan ini merupakan balasan atas serangan Raden Wijaya, pendiri Majapahit, yang memanfaatkan tentara Mongol untuk menghancurkan Kediri yang saat itu dirajai oleh Djayakatwang tahun 1292 M.

Serangan Giriwardhana membuat Majapahit hancur. Setelah itu, Giriwardhana dibunuh oleh Prabu Udara, lalu kekuasaannya pun dirampas. Prabu Udara melihat Kesultanan Demak sebuah ancaman. Apalagi Raden Fatah merupakan keturunan yang sah dari Majapahit. Prabu Udara pun mengirimkan utusan ke Portugis di Malaka untuk bertemu dengan Alfonso Albuquerque. Penguasa Portugis ini diberikan banyak hadiah.

Melihat persengkongkolan ini, Raden Fatah pada 1517 M melakukan serangan besar-besaran ke Majapahit. Jatuhlah Majapahit. Setelah kemenangan ini, Raden Fatah membawa pusaka Majapahit seperti mahkota, lembing, keris, perisai, cap kerajaan dan barang lainnya ke Demak. Jadi serangan Demak ke Majapahit bukan untuk menyerang leluhurnya sendiri, tetapi memerangi kerajaan Kediri yang telah menghancurkan Majapahit. Juga menghancurkan persengkongkolan Prabu Udara dengan Portugis.

Seandainya Raden Fatah tidak menyerang Prabu Udara yang bercokol di Majapahit, bisa jadi Portugis sudah menjajah tanah Jawa sejak awal.

Sumber:
Sejarah Umat Islam, Buya Hamka, GIP
Api Sejarah Jilid 1, Ahmad Mansur Suryanegara, Surya Dinasti

Pengaruh Islam dalam Penamaan Pulau di Nusantara  Oleh: Nasrulloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Sumatera atau Sumat...

Pengaruh Islam dalam Penamaan Pulau di Nusantara 

Oleh: Nasrulloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)


Sumatera atau Sumatra memiliki sejarah penamaan yang panjang. Menurut Wikipedia, asal nama Sumatra berawal dari keberadaan Kerajaan Samudera Pasai di pesisir timur Aceh atau Lhokseumawe sekarang. Petualang dari Maroko, Ibnu Batutah menjadi orang pertama yang melafalkan kata Samudera menjadi Samatrah, dan kemudian Sumatra ketika berkunjung ke kerajaan ini pada 1345. Nama Sumatra kemudian tercantum dalam peta-peta abad ke-16 buatan Portugis.

Nama lain dari Sumatera adalah Andalas. Andalas oleh sejumlah riwayat diambil dari kata Andalusia yang artinya memiliki keindahan dan kesuburan, sama seperti Spanyol karena itu disebut Andalusia oleh khalifah Muawiyah bin Abu Sofyan. Walaupun sejumlah pihak pendapat ini lemah. Sedangkan danau Toba berasal dari  kata Thayyiba yang artinya indah dalam bahasa Arab.

Pendapat pertama mengenai asal-usul nama Maluku mengemukakan bahwa Kepulauan Maluku konon disebut sebagai Maloko oleh para pedagang Arab. Pendapat yang menyebar di masyarakat, tentang asal-usul Maluku, adalah nama Maluku yang berasal dari kata raja dalam bahasa Arab, yakni malik. Dimana muluk digunakan untuk bentuk jamak.

Para pedagang Arab menyebut daerah tempat empat kerajaan di bagian utara Kepulauan Maluku yang terdiri dari Jailolo, Ternate, Tidore, dan Bacan sebagai jazirat almuluk yang berarti kepulauan raja-raja.

Timbul pertanyaan, mengapa nama-nama pulau di Indonesia yang letaknya jauh dari Arab, menggunakan nama yang berasal dari Arab? Jawabannya, ini gambaran betapa besarnya pengaruh Islam terhadap penamaan peta dunia dan Nusantara di dalamnya.

Dengan kata lain, jauh sebelum Eropa pada abad ke 16 tampil sebagai penjajah, terlebih dahulu Islam melahirkan cendikiawan Muslim, termasuk pakar geografi dalam pembuatan Peta Bumi. Bukankah penunjuk jalan penjelajahan ke berbagai benua atas jasa dan peta yang dibuat cendikiawan muslim?

Dengan banyaknya nama wilayah berbahasa Arab dan banyaknya daerah hunian pengusaha muslim dari Banda Aceh hingga pulau Banda, sebagai bukti bahwa Nusantara sudah mengadakan kontak dengan Arabia. Namun dalam penulisan sejarah Indonesia pada masa penjajahan Belanda hanya sering disebut sebatas Timur Tengah dengan India dan Cina, tanpa menyebutkan Nusantara.


Sumber:
Api Sejarah Jilid 1, Ahmad Mansur Suryanegara, Surya Dinasti
https://id.quora.com/Mengapa-pulau-Sumatera-disebut-juga-dengan-pulau-Andalas
https://andalasmile.wordpress.com/andalas-sebuah-sejarah-yang-terlupakan/
https://id.m.wikipedia.org/wiki/Maluku#:~:text=Pendapat%20pertama%20mengenai%20asal-usul,dikenal%20oleh%20Portugis%20sebagai%20Moloquo.

Sang Wali Allah, Menemukan Kembali Hatinya sebab Nakalnya Anak Kecil Ada seorang sahabat Dzun Nun Al Misri yang mengalami ganggu...

Sang Wali Allah, Menemukan Kembali Hatinya sebab Nakalnya Anak Kecil


Ada seorang sahabat Dzun Nun Al Misri yang mengalami gangguan ingatan. Dia selalu berjalan dan berkeliling sambil berkata, "Ah, di mana hatiku? Di mana hatiku? Siapa yang menemukan hatiku?"

Anak-anak kecil pun suka menganggunya dan melemparinya. Pada suatu hari, dia masuk ke dalam salah satu jalan gang di Mesir untuk menghindari gangguan anak-anak kecil. Lalu, dia berhenti untuk beristirahat sejenak. Tiba-tiba, dia mendengar tangisan anak kecil yang sedang dimarahi dan dipukuli ibunya. Lalu, si ibu membawa keluar anaknya dari rumahnya, lalu menutup pintu rumah dan membiarkannya di luar.

Si anak pun menengok ke kanan dan ke kiri. Dia bingung tidak tahu harus ke mana dan harus pergi menemui siapa. Setelah agak tenang, dia berjalan kembali ke pintu rumah ibunya, lalu menyandarkan kepalanya di ambang pintu dan tertidur.

Setelah beberapa saat tertidur, dia kembali terbangun dan menangis lagi sambil merengek.

 "Ibu, siapa yang akan membukakan pintu untuk ku jika engkau menutupnya dan tidak membolehkan saya masuk?"

"Ibu, siapa yang akan mendekatkan diriku kepadamu jika engkau mengusirku dan menjauhkan diriku darimu?

"Ibu, siapa lagi yang akan menyayangiku setelah engkau marah padaku?"

Mendengar rengekan anaknya, sang ibu merasa kasihan kepadanya. Lalu, dia beranjak untuk melihatnya dari celah pintu. Dia melihat anaknya sedang menangis tersedu dalam kondisi berbaring du tanah.

Lantas, sang ibu membuka pintu. Meraih anaknya, lalu meletakkan di pengakuannya, memeluknya dan menciumnya seraya berkata.

"Sayangku, engkau sendiri yang telah membuat ibu memarahimu. Engkau sendiri yang menyebabkan dirimu mengalami hal itu. Seandainya engkau patuh, niscaya tidak akan mengalami hal ini."

Menyaksikan kejadian tersebut, sahabat Dzun Nun Al Misri merasa bersedih, lalu berdiri dan menjerit, seraya berkata, "Saya telah menemukan hatiku, saya telah menemukan kembali hatiku."

Ketika bertemu dengan Dzun Nun Al Misri, dia berkata, "Wahai Abu Faidh, saya telah menemukan kembali hatiku di dekat rumah fulanah." Setiap kali bersedih, dia selalu mengulang perkataan tersebut.

Sumber:
Kisah Orang Shaleh Penuh Hikmah, Imam Ibnul Jauzy, Al-Kautsar 

Sejarah Bani Israel dan Yahudi, Serta Persoalan Dunia Saat ini Oleh: Nasrulloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Mengap...

Sejarah Bani Israel dan Yahudi, Serta Persoalan Dunia Saat ini

Oleh: Nasrulloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)

Mengapa Al-Qur'an banyak mengkisahkan Nabi Musa dan Bani Israel? Juga menyebutkan Yahudi pada 1.400 tahun yang lalu?

Mengapa Al-Qur'an menyebutkan Bani Israel dan Yahudi secara terpisah? Apakah kaitan penyebutan 1400 tahun lalu dengan problematika dunia saat ini?

Mengapa seluruh para Nabi dan Rasul dari seluruh zaman dikumpulkan di masjid Al-Aqsa untuk shalat yang diimami oleh Nabi Muhammad saw saat Isra Miraj?

Penyebutan bani Israel dan Yahudi ternyata untuk menuntaskan kemelut dan kerusakan dunia saat ini, juga yang tak kunjung berakhir di Palestina

Penyebutan Bani Israel dan Yahudi untuk menunjukkan keduanya berbeda, walaupun Yahudi saat ini menyebutkan negaranya dengan nama Israel

Yahudi itu bukan Bani Israel dan Bani Israel itu bukan Yahudi. Itu sebagian pendapat ulama dan sejarawan

Bila semua bangsa dan agama merujuk pada sejarah yang tidak dimanipulasi, maka tidak muncul penjajahan Yahudi di Palestina yang direstui oleh dunia

Nabi Adam, Bangsa Kan'an, Nabi Ibrahim, dan Palestina Oleh: Nasrulloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Dalam hadis...

Nabi Adam, Bangsa Kan'an, Nabi Ibrahim, dan Palestina

Oleh: Nasrulloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)

Dalam hadist yang diriwayatkan dari Abu Dzar, ia berkata, "Ya Rasulullah, masjid apa yang pertama kali dibangun di muka bumi?" Beliau menjawab, "Masjid Al-Haram." Aku bertanya lagi, "Kemudian apa?" Beliau menjawab, "Masjid Al-Aqsha." Aku bertanya lagi, "Berapa jarak waktu keduanya?" Beliau menjawab, "Empat puluh tahun."

Masjid Al-Haram dibangun oleh Nabi Adam, lalu sesudah 40 tahun Nabi Adam membangun Masjid Al-Aqsha. Jadi keduanya, masjid pertama dan kedua sebagai tempat untuk beribadah kepada Allah.

Apa yang terjadi antara rentang waktu Nabi Adam dan Ibrahim? Allah mengutus Nabi Nuh. Nabi Nuh memiliki 3 putra, anak keturunannya dari Sam bin Nuh inilah yang kemudian membentuk bangsa  Kan'an yang mendiami negri Kan'an yang kemudian disebut sebagai Palestina.

Nabi Ibrahim keluar bersama kabilahnya dari kota Ur, di selatan Iraq karena sebab tertentu, dan mereka menuju Harran, bagian utara Suriah. Dari Harran, Nabi Ibrahim memimpin pengikutnya menuju selatan pada sekitar tahun 2000 SM, lalu di Tanah Kan'an,  yang saat itu sudah tinggal bangsa Kan'an. Yang sekarang disebut Palestina.

Sebelum Nabi Ibrahim ke Palestina, bangsa Kan'an, walaupun mereka membangun kota Baitul Maqdis atau Al-Quds, mereka tetap mengosongkan tempat untuk masjid Al-Aqsha tanpa bangunan, karena mereka mengetahui bahwa tempat itu disucikan. Maka, aktifitas Nabi Ibrahim selama di Palestina adalah membangun masjid Al-Aqsha kembali.

Kedatangan Nabi Ibrahim ke Palestina menjadi tonggak bersejarah bagi terbitnya cahaya tauhid di Palestina. Nabi Ibrahim hidup di zaman penguasa Al-Quds, Malki Shadiq, yang akrab dan bersahabat dengannya. Nabi Ibrahim tidak mendapatkan banyak rintangan dan halangan yang berat dari bangsa Kan'an. Dakwah Nabi Ibrahim cukup berat justru saat di daerah asalnya di Iraq karena dihalangi raja Namrudz.

Nabi Ibrahim tinggal di Palestina dengan tenang dan tentram dengan segala kebebasan, sehingga akhirnya ia dipanggil oleh Allah ke kota Mekkah untuk membangun kembali Masjidil Haram. Sejak itu Nabi Ibrahim sering bolak-balik antara Palestina dan Mekkah. Putranya yang hidup di Palestina adalah Nabi Ishaq yang kemudian melahirkan Nabi Yakub yang diklaim sebagai asal muasal Yahudi. Putranya yang hidup di Mekkah adalah Nabi Ismail yang dari keturunannya ini melahirkan Nabi Muhammad saw.

Sumber:
Siapa Orang Asli Palestina?, Zafarul Islam Khan, Alvabet
Sejarah dan Keutamaan Masjid Al-Aqsha, Mahdy Saied Rezk Kerisem, Al-Kautsar 
Palestina, Sejarah, Perkembangan dan Konspirasi, Muhsin Muhammad Shaleh, GIP

Bangsa Kan'an, Yunani, dan Munculnya Istilah Palestina Oleh: Nasrulloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Bangsa per...

Bangsa Kan'an, Yunani, dan Munculnya Istilah Palestina

Oleh: Nasrulloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)


Bangsa pertama yang ditemukan di Palestina adalah bangsa Arab Kan'an yang disandarkan pada Kan'an bin Sam bin Nuh. Mereka adalah penduduk asli Palestina, bukan datang dari tempat manapun dan tidak hijrah dari Jazirah Arab ke Palestina. Karena bangsa Arab mereka yang berada di Jazirah Arab, Yaman, Iraq, Palestina dan Syam.

Bangsa Kan'an tinggal di Palestina dalam sejarah, puluhan ribu tahun sebelum penulisan dan pembukuan sejarah yaitu pada zaman batu. Bangsa Kan'an merupakan kabilah besar yang menghimpun sejumlah cabang dan kabilah kecil seperti Palestina, Fenisia, Amalek, Akkadia dan Amori.  Setelah beberapa abad, maka datanglah kabilah Arab lainnya dari utara dan selatannya Jazirah Arab dan Iraq ke Palestina bersama kerabat mereka yang bersuku Kan'an.

Bangsa Kan'an telah membangun kota Jericho. Kota ini merupakan kota dunia dan sejarah yang tertua. Satu cabang dari bangsa Kan'an adalah suku Yebus yang pergi ke Baitul Maqdis sekitar 7500-6000 SM. Nama pertama yang disematkan kepada Palestina adalah negri Kan'an sesuai dengan semua sumber sejarah. Kemudian dinamai Palestina setelah beberapa waktu lamanya dengan dinisbatkan kepada kabilah Falasthu yang merupakan cabang dari bangsa Kan'an yang menempati barat Palestina di tepi laut. Mereka ahli berdagang dan industri.

Nama Palestina sudah dikenal sejak 1970 SM pada masa Firaun Mesir yang bernama Sisostores. Nabi  Ibrahim datang dari Iraq ke Palestina pada tahun 2000 SM. Ibrahim berpindah-pindah dari Palestina dan Mekkah.

---------------
Wilayah yang terletak di Barat Suriah dan timur Laut Tengah disebut banyak bangsa dengan nama yang berbeda-beda. Yang paling tua adalah Kharu untuk bagian selatan dan Retenu untuk bagian utara. Yang memberikan nama ini adalah bangsa Mesir Kuno. Wilayah ini juga disebut Kan'an berdasarkan surat-surat Amarna yang merujuk pada 15 abad SM. Nama Kan'an juga digunakan Taurat untuk menyebut daerah ini.

Sedangkan perubahan nama Kan'an menjadi Palestina diambil dari bagian nama suku bangsa Kan'an yang tinggal di daratan utara dan selatan dari Palestina. Kemungkinan pertama kali nama ini ditunjukkan dengan nama Plastu.  Raja Asyur Adadnirari IV menggunakan kata ini Plastu untuk menyebut pesisir Filistia yang dihuni oleh bangsa Filistin.

Nama Palestina mulai pertama kali terdokumentasikan  di dalam mata uang yang dicetak oleh Imperium Vespasian. Yaitu, setelah menaklukkan pemberontakan Yahudi atas Romawi pada 70 M. Ini penamaan resmi untuk pertama kalinya untuk Palestina.

Orang Yunani mulai menggunakan Palestina untuk menyebut bagian dalam negri tersebut, padahal sebelumnya kata ini hanya untuk menyebut bagian pesisirnya saja. Tidak mengherankan bila orang asing menggunakan nama pesisir untuk menyebut bagian dalam satu negri. Bahkan Herodotos bapak Sejarah  (484-425 SM) yang diikuti Ptolemaeus dan Plinius (23-79 M), menggunakan istilah Palestina untuk menyebutkan bagian pesisir dan bagian dalam negri tersebut hingga bagian gurun Arab. Pada hakikatnya, bangsa Yunanilah yang akhirnya memilih nama ini.

Sumber:
Siapa Orang Asli Palestina?, Zafarul Islam Khan, Alvabet
Sejarah dan Keutamaan Masjid Al-Aqsha, Mahdy Saied Rezk Kerisem, Al-Kautsar 


Yahudi Bukan Keturunan Ibrahim  Pengakuan mereka sebagai keturunan Ibrahim Alaihissalam, merupakan klaim yang batil, ditinjau da...

Yahudi Bukan Keturunan Ibrahim 


Pengakuan mereka sebagai keturunan Ibrahim Alaihissalam, merupakan klaim yang batil, ditinjau dari beberapa aspek berikut. 

1.Batilnya klaim mereka sebagai keturunan Bani Israil, secara jelas Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan di dalam Al-Qur’an. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

 أَمْ تَقُولُونَ إِنَّ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطَ كَانُوا هُودًا أَوْ نَصَارَىٰ ۗ قُلْ أَأَنْتُمْ أَعْلَمُ أَمِ اللَّهُ ۗ وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ كَتَمَ شَهَادَةً عِنْدَهُ مِنَ اللَّهِ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

 “Ataukah kamu (hai orang-orang Yahudi dan Nashrani) mengatakan bahwa Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, adalah penganut agama Yahudi atau Nashrani. Katakanlah : “Apakah kamu yang lebih mengetahui ataukah Allah, dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang menyembunyikan syahadah dari Allah yang ada padanya”, Dan Allah sekali-kali tiada lengah dari apa yang kamu kerjakan” [al-Baqarah/2:140]

2.Kitab suci mereka tidak lagi orsinil dan sudah terjadi perubahan. Mereka telah melakukan perbuatan tercela terhadap kitab-kitab yang diturunkan kepada para nabi Bani Israil, dengan melakukan tahrif (mengubah), memalsukan dan memanipulasi. Al-Qur’an telah mengabadikan perbuatan mereka tersebut. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

 فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِيثَاقَهُمْ لَعَنَّاهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوبَهُمْ قَاسِيَةً ۖ يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ

 “(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya. Kami kutuk mereka, dan kami jadikan hati mereka keras membantu. Mereka suka merobah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya …..”[al-Maidah/5 : 13]

 3. Klaim kepemilikan tanah yang penuh berkah ini oleh Yahudi, berkaitan dengan janji Allah kepada Ibrahim, hakikatnya janji tersebut telah diwujudkan yaitu saat pertama kali Ibrahim Alaihissalam menginjakkan kaki di wilayah suku Kan’an.

Sekilas, mengacu kepada kitab mereka yang kini disebut Kitab Perjanjian Lama, kita akan mengetahui, jika janji Allah tersebut menjadi hak Isma’il, nenek moyang bangsa Arab dan kaum Muslimin. Pada waktu itu Nabi Ibrahim Alaihissalam belum dikaruniai anak (Kejadian : 12/7).

Kemudian janji ini terulang kembali saat beliau kembali ke Mesir (Kejadian : 13/15). Janji ini pun terulang kembali bagi Ibrahim, tetapi beliau belum dikaruniai anak (15/18). Berikutnya, janji itu pun terulang lagi, saat Ibrahim dikaruniai anaknya, yaitu Ismail (Kejadian : 17/8). Sedangkan putra kedua Ibrahim Alaihissalam, yaitu Ishaq, pada saat janji itu ditetapkan ia belum dilahirkan.

4. Kalaupun mereka menyanggah, bahwa janji Allah tentang kepemilikan tanah Palestina merupakan warisan dan hunian abadi bagi mereka, yang menurut mereka didukung oleh Al-Qur’an –surat Al-Maidah/5 : 21 : “Hai kaumku, masuklah ke tanah suci yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari ke belakang (karena kamu takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi”. 

Maka jawabnya adalah : Ungkapan janji yang ada dalam ayat tersebut tidak berbentuk abadi, tetapi khusus bagi zaman yang mereka dijanjikan mendapatkannya, sebagai balasan atas sambutan mereka kepada perintah-perintah Allah dan kesabaran mereka. 

Sedangkan orang-orang Yahudi pada masa ini, mereka bukan Bani Israil –sebagaimana sudah dipaparkan-. Dan ayat ini tidak menyangkut yang bukan Bani Israil, meski kaum Yahudi pada saat ini mayoritas.

Sungguh, kebenaran dalam masalah ini yang menjadi pegangan jumhur ulama tafsir. Balasan keimanan dan keistimewaan yang mereka raih atas umat zaman mereka ini merupakan ketetapan Allah bagi hamba-hambaNya.

Allah berfirman. وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُورِ مِنْ بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الْأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ “Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai oleh hamba-hambaKu yang shalih”. [al-Anbiya/21 : 105]

Begitu juga setelah mereka menyimpang dari agama Allah dan melakukan kerusakan di bumi, maka Bani Israil tidak lagi memiliki hak dengan janji tersebut. Justru balasan bagi mereka, sebagaimana terkandung dalam ayat, yaitu mereka mendapat laknat, kemurkaan dan hukuman dari Allah. Mereka tercerai berai di bumi, dikuasai oleh orang-orang yang menimpakan siksaan kepada mereka sampai hari Kiamat, dirundung kehinaan dimanapun mereka berada. Ini semua sebagai hukuman atas kekufuran mereka terhadap ayat-ayat Allah. Sebuah fakta yang ironis. Ketika Allah memerintahkan Bani Israil untuk memasuki tanah yang dijanjikan, ternyata mereka enggan dan membangkang. Maka Allah menghalangi mereka darinya. Tatkala mereka menyambut perintah, maka Allah memberikannya kepada mereka. 

Oleh karena itu, Ibnu Katsir rahimahullah berkata : “Yang Allah janjikan kepada kalian melalui lisan ayah kalian, Israil ia mewariskannya kepada orang yang beriman dari kalian[13]” Berdasarkan ini, tanah tersebut milik mereka ketika mereka beriman. Tetapi, karena mereka kufur kepada Allah dan para Nabi-Nya, dan Allah telah menetapkan murka dan laknatNya kepada mereka, maka mereka sama sekali tidak mempunyai hak atas tanah suci itu.

5. Bisa juga dikatakan, janji itu sudah terwujud pada masa Nabi Musa, yaitu tatkala Bani Israil memasuki tanah suci dengan dipimpin oleh Nabi Yusya bin Nun, kemudian menempatinya pada masa Nabi Dawud dan Sulaiman. Sebuah masa ketika Allah menganugerahkan kepada mereka keutamaan atas manusia seluruhnya. Namun, ketika mereka kufur kepada Allah dan melakukan kerusakan di bumi, maka kemurkaan Allah pun berlaku pada mereka, dan terjadilah bencana menimpa mereka.

6. Janji Allah memiliki syarat, yaitu iman dan amalan shalih, sebagaimana juga termuat dalam Taurat. Sedangkan mereka telah berbuat kufur dan murtad, beribadah kepada selain Allah. Oleh karena itu, musibah, bencana dan kemurkaan dari Allah ditimpakan kepada mereka. Dan semua ini termuat dalam kitab-kitab suci mereka. Bahkan dalam kitab mereka, terdapat keterangan yang melarang memasuki Baitul Maqdis, lantaran kekufuran, kesesatan dan kemaksiatan mereka.

Dengan pengingkaran ini, maka janji tersebut tidak terwujudkan. Sebaiknya, siksa dan bencanalah yang mereka dapatkan. Bumi ini milik Allah, diwariskan kepada hamba-hambaNya yang menegakkan agama dan mengikuti ajaran-ajaranNya, bukan diwariskan kepada orang-orang yang melakukan kerusakan di bumi. 

Allah berfirman.
 قَالَ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِ اسْتَعِينُوا بِاللَّهِ وَاصْبِرُوا ۖ إِنَّ الْأَرْضَ لِلَّهِ يُورِثُهَا مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ ۖ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ 
“Musa berkata kepada kaumnya : “Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah. Sesungguhnya bumi (ini) kepunyaan Allah ; dipusakakanNya kepada siapa saja yang dikehendakiNya dari hamba-hambaNya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa” [al-A’raf /7: 128]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
 وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا ۚ وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ 
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhaiNya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahKu dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik” [an-Nur/24 : 55] 

Menjelaskan ayat ini Ibnu Katsir berkata : Ini janji dari Allah bagi RasulNya, akan menjadikan umatnya sebagai pewaris bumi. Maksudnya, tokoh-tokoh panutan dan penguasa mereka. Negeri-negeri menjadi baik dengan mereka, dan orang-orang tunduk kepada mereka… Allah Subhanahu wa Ta’la telah mewujudkannya walillahilhamdu walminnah.

Nabi tidaklah wafat, melainkan Allah telah membuka penaklukkan Mekah, Khaibar, seluruh Jazirah Arab, wilayah Yaman seluruhnya. Memberlakukan jizyah kepada Majusi dari daerah Hajr, dan sebagian wilayah Syam Kemudian, ketika beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, Abu Bakar mengirimkan pasukan Islam ke Persia di bawah komando Khalid bin Al-Walid dan berhasil menaklukkan sebagian wilayahnya. Juga mengirim pasukan lain pimpinan Abu Ubaidah menuju Syam. Allah juga memberikan karunia kepada kaum Muslimin. Yaitu mengilhamkan kepada Abu Bakar untuk memilih Umar Al-Faruq untuk menggantikan kedudukannya. Dan Umar pun melaksanakan amanah ini dengan sebaik-baiknya.

Pada masa kekuasannya, seluruh wilayah Syam berhasil dikuasai[14]. Kaum Muslimin, mereka itulah yang dimaksud dengan ayat-ayat tersebut. Bila membenarkan janji yang mereka ikat dengan Allah, kembali kepada Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya, berpegang teguh dengan Islam secara sempurna, baik individu, keluarga, masyarakat atau negara, maka sungguh janji Allah benar adanya. Dan siapakah yang berhak atas tanah yang penuh berkah itu? Tidak lain adalah kaum Muslimin.

https://almanhaj.or.id/8028-palestina-tanah-kaum-muslimin.html

Suasana Jiwa Alp Arslan Sebelum Kemenangan di Manzikert Oleh: Nasrulloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Saat Alp Arsl...

Suasana Jiwa Alp Arslan Sebelum Kemenangan di Manzikert

Oleh: Nasrulloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)


Saat Alp Arslan ragu saat harus menghadapi Kaisar Romanus dari Romawi di lembah Manzikert yang berkekuatan 200 ribu. Berdamaikah?

Niat berdamainya di tolak kaisar Romawi. Salah satu jalannya hanya melawan hingga titik darah penghabisan walaupun dengan kekuatan seadanya.

Dalam keraguan, gurunya Abu Nashr Muhammad mendekatinya. Ditanyakan, apa tujuan hidupnya? Ini pertanyaan mendasar yang memompa kekuatan.

Bila tujuan hidup hanya untuk mewujudkan obsesi diri, maka akan lemah dan mudah terperosok. Egonya yang mendominasi.

Sang guru berkata, "Sungguh anda berjihad untuk membela agama Allah. Dan Allah berjanji menolong agama-Nya dan memenangkan agama-Nya."

Mengapa muslimin selalu gagal di seluruh sektor kehidupan? Mengabaikan hal yang asasi dalam kehidupan mukmin. Yaitu, Allah. Berkarya untuk kebesaran diri

Saat Alp Arslan mampu menaklukkan Romawi, yang dikibarkan adalah panji " Tidak ada Tuhan selain Allah, Muhammad itu utusan Allah." Bukan kehebatan dirinya

Rahasia Nabi Sulaiman dan Zulkarnain menjadi raja agung karena berkata, "Seluruh keutamaan hanya dari Allah." Tidak seperti Qarun yang menyanjung dirinya

Saat pertempuran akan dimulai gurunya Alp Arslan berkata, "Semoga Allah memenangkan pasukan Islam dalam pertempuran ini dengan perantaraanmu."

Pidatonya, "Saya berjuang hanya untuk mengharapkan ridha Allah dengan penuh kesabaran. Bila menang, nikmat dari-Nya. Bila mati, sebagai syahid."

Bila karya terlepas dari jihad, maka tidak akan pernah dimenangkan oleh Allah. Itulah jalan kesuksesan muslimin dari sultan Alp Arslan Bani Saljuk

Buya Hamka: Para Pemegang Senjata Hendaknya yang Berideologi Allah tidak menyukai orang berkhianat, maka hendaklah orang yang be...

Buya Hamka: Para Pemegang Senjata Hendaknya yang Berideologi

Allah tidak menyukai orang berkhianat, maka hendaklah orang yang beriman menjaga kekuatan. Karena kalau pihak musuh memungkiri janji, kita hanya dapat menegurnya dengan kekuatan. Kalau kita lemah, maka tiap-tiap ada kesempatan niscaya mereka akan menginjak-injak janji mereka.

Berperang agar terhadap agama tidak ada fitnah lagi dan seluruh keagamaan sudah bulat menuju Allah. Bagaimana akan sanggup berperang kalau persiapan kekuatan tidak ada? Sebab itu Allah menegaskan supaya bersiap terus dengan segala alat senjata yang ada.

Di era Rasulullah saw, berperang dengan pedang dan tombak. Kian lama persenjataan kian maju, sampai kepada bedil dengan segala macam senjata, meriam dan akhirnya sampai ke peluru kendali dan nuklir. Ayat, " Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka apa yang kamu bisa." Menandakan terus bersiap siaga menuruti perkembangan persenjataan.

Di zaman Rasulullah saw, kuda sangatlah penting. Hingga sekarang belumlah mundur kepentingan kuda dalam perang. Disamping itu telah timbul kendaraan bermotor untuk perang, Panse Wagon, truk, tank, ditambah lagi kepentingan angkatan udara.

Angkatan perang dalam kesiapsiagaannya hendaklah senantiasa memelihara kudanya dan memautkannya dengan baik, artinya bila datang keadaan tiba-tiba hendaknya dapat siap menaikinya. Saat Umar bin Khatab membangun kota Kufah, dibuatlah tanah lapang di samping masjid sebagai tempat para pemuda melakukan latihan-latihan perang. Latihan memanah, melemparkan tombak, bermain pedang dan berkuda.

Ahli-ahli pertempuran selalu berkata, "The man behind the gun." Artinya, bukan senjata yang menentukan dan memutuskan, melainkan siapa yang berdiri di belakang senjata itu. Karena itu yang ditekankan ialah ketaatan kepada Allah dan Rasul. Jadi, kalau caranya sekarang, hendaklah pemegang-pemegang senjata itu orang yang berideologi. Yang sadar benar untuk apa senjata itu dipakai.

Dengan persiapan perang yang tangguh dan kuat itu akan berpikir musuh 1.000 kali sebelum memerangi kamu atau sebelum memungkiri janji. Orang munafik pun akan berpikir terlebih dahulu sebelum mereka berkhianat.

Terkadang bilamana musuh telah sangat membahayakan muslimin, berkehendak sangatlah dia pada perlengkapan senjata yang lebih banyak. Kadang perbelanjaan negara untuk bidang pertahanan sangatlah besar jika dibandingkan dengan perbelanjaan bidang lain. Kadang orang mengeluh lantaran ini.

Pajak negara terpaksa dinaikkan. Maka "Dan apa pun yang kamu belanjakan di jalan Allah, akan disempurnakan ganjarannya untuk kamu dan kamu tidaklah akan teraniaya." Merupakan peringatan bahwa pengorbanan untuk itu, apa pun yang dibelanjakan pastilah akan disempurnakan ganjarannya di sisi Allah. Masyarakat akan terjaga. Tidaklah kamu dapat diciderai oleh musuh dengan khianat dan curang sehingga kamu tidak binasa dan teraniaya.

Sumber:
Tafsir Al Azhar Jilid 4, Buya Hamka, GIP 

Buya Hamka: Membongkar Kemenangan dan Kekalahan Dalam Pertempuran  Ketaatan kepada Allah dan Rasul, yaitu tunduk, patuh dan disi...

Buya Hamka: Membongkar Kemenangan dan Kekalahan Dalam Pertempuran 

Ketaatan kepada Allah dan Rasul, yaitu tunduk, patuh dan disiplin yang keras terhadap pemimpin tertinggi pertempuran. Dalam perang Badar, Rasul sendiri yang memimpin. Taat kepada Rasul berarti taat kepada Allah.

Jangan berbantah-bantahan, jangan bertengkar, jangan bertindak sendiri-sendiri, sebab bagaimana pun banyak bilangan pasukan dan senjata, kalo komando tidak satu, tidaklah ada jaminan menang. Perbantahan yang timbul karena tidak ada ketaatan pasti membawa lemah dan hilangnya kekuatan.

Sabar dalam pertempuran adalah daya tahan ketika menyerang dan menangkis. Sudah menjadi adat dari pertempuran yaitu memukul atau dipukul, kena dan mengena, haruslah dihadapi dengan kuat dan sabar. Karena hitungan belumlah dijumlahkan di pertengahan permainan, melainkan di akhir.

Ibarat main sepakbola, sebelum peluit panjang berbunyi, jangan lekas gembira karena dapat memasukkan bola ke gawang lawan, dan jangan putus asa jika gawang sendiri kebobolan.

Jangan sombong. Kesombongan hanya timbul pada jiwa yang kosong tak beriman. Kesombongan hanya timbul karena terlalu mengandalkan banyaknya bilangan dan lengkapnya senjata. Mereka yang riya, menonjolkan diri, ingin dipuji sebagai pahlawan, karakter ini ada pada kaum Quraisy saat perang Badar. Tujuan perangnya, "Seraya  menghalangi dari jalan Allah."

Dengan ini tampaklah kesalahan mental pertempuran yaitu sombong, riya dan hendak menghalangi dari jalan Allah. Orang beriman dalam berperang tidak akan ada penyakit ini. Islam akan berkembang dan menghadapi beragam perjuangan, Islam tegak dan jaya, tetapi kaum beriman jangan lupa daratan.

Allah mengetahui seluruh gerak-gerik, tahu segi kekuatan dan kelemahan. Allah mengungkapkan sifat-sifat perjuangan orang yang tak beriman. Kaum Muslimin jangan sekali-kali meniru hal itu. Sebab hukum sebab akibat berlaku untuk seluruh manusia. Siapa yang sombong akan dihancurkan oleh kesombongannya sendiri. Siapa yang tidak taat pada komando tertinggi pasti kalah walaupun mengaku beriman.

Sebab lain kekalahan musyrikindalam perang Badar  adalah perdayaan Syetan yang masuk ke dalam hati mereka. Syetan menyanjung, memuji-muji perbuatan mereka memerangi Muslimin dan menanggapnya perbuatan benar. Berhala nenek moyang harus dipertahankan sekuat tenaga.

Syetan memuji musyrikin Quraisy bahwa mereka inti seluruh bangsa Arab, disegani oleh seluruh kabilah tidak akan pernah dikalahkan oleh siapa pun. Syetan pun menghasut akan menjamin, melindungi dan membantu dalam memerangi Muhammad. Namun saat pertempuran terjadi, syetan melarikan diri. Ini peringatan kepada Muslimin agar berhati-hati kalau terjadi keadaan gawat pertempuran agar jangan kemasukan pengaruh syetan. 

Sumber:
Tafsir Al Azhar Jilid 4, Buya Hamka, GIP

Buya Hamka: Fenomena Dzikir Bersuara Keras di Perang Kemerdekaan Kemenangan pasti didapat karena dua syarat. Yaitu, Jasad yang t...

Buya Hamka: Fenomena Dzikir Bersuara Keras di Perang Kemerdekaan

Kemenangan pasti didapat karena dua syarat. Yaitu, Jasad yang tak gentar dan teguh serta tetap hati dalam menghadapi musuh serta ruhani yang selalu ingat kepada Allah.

Ingatlah pangkal seruan, yaitu kepada orang beriman. Artinya, berperang bukan karena berperang tetapi ada yang diperjuangkan dan dipertahankan, yaitu iman!

Berdzikir berarti mengingat dan menyebut. Dzikir itu memang ada yang dijadikan semboyan perang dan sorakan kerasnya menaikan semangat dan mendatangkan gentar di hati musuh.

Seorang mantan serdadu Belanda yang pensiun di tahun 1937 menceritakan pengalamannya di Perang Aceh. Dia turut berpatroli sebagai Marsose. Dia menceritakan bahwa Mujahidin Aceh sebelum menyerang, mereka mengadakan ratib dengan berdzikir Laa Ilaha Illallah dengan suara bersemangat. Apabila ucapan itu telah terdengar, serdadu Belanda menjadi kecut karena mereka berjuang menjual jiwanya pada Allah.

Orang Aceh saat perang Aceh menamai dirinya sebagai Muslimin bukan Mujahidin. Karena menurut fatwa Ulama Aceh, yang benar-benar Islam sejati ialah yang pergi melawan Kompeni. "Janganlah kamu mati, melainkan dalam keadaan Muslimin." Kita juga teringat dzikir "Allahu Akbar"  ketika perang Kemerdekaan saat melawan Inggris di Surabaya tahun 1945.

Saat pemuda Islam di Jakarta membantu TNI menumpas kaum Komunis yang hendak menghancurkan NKRI, mereka menyerbu sebuah gedung kepunyaan komunis yang bernama Gedung Aliarcham di Pasar Minggu. Mereka bersuara bersama dan bersemangat menyerbu gedung dengan kalimat Allahu Akbar.

Mereka hantam dinding batu dengan tenaga badan bersama hingga hancur runtuh. Banyak anggota TNI yang turut hadir menjadi sangat heran melihat kekuatan yang timbul saat itu. Tidak memakai linggis dan alat-alat lain, hanya dengan kaki dan bahu-bahu mereka hancurkan dinding gedung dengan Allahu Akbar.

Tentara Jepang pernah menyerbu Indonesia memelihara sistem suara keras yang dihejan dari pusar untuk menimbulkan semangat. Betapa pun mereka menggunakan alat senjata modern, namun mereka tidak mengabaikan alat pusaka nenek moyangnya memakai suara keras saat menyerbu musuh.

Suku bangsa Indonesia yang terkenal memakai sistem suara keras dalam perang adalah bangsa Bugis dan Makasar. Suara perang mereka dinamai "Mangkauk".

Sumber:
Tafsir Al Azhar Jilid 4, Buya Hamka, GIP

Sekelumit Peran Umat Islam di era Airlangga, Sriwijaya dan Majapahit Oleh: Nasrulloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) ...

Sekelumit Peran Umat Islam di era Airlangga, Sriwijaya dan Majapahit

Oleh: Nasrulloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)


Saat Islam memasuki Nusantara,  pesisir setiap pulau jadi kota perdagangan dan pelabuhan. Kehidupan jadi penuh kegairahan.

Saat Islam memasuki Nusantara, kota di pesisir menjadi kesultanan yang ekonominya bergeliat dan makmur. Kehidupan tersistem dan terstruktur.

Mobilisasi kelas masyarakat menjadi terbuka. Siapapun bisa jadi sultan dan orang kaya. Sultan pun bisa jadi rakyat jelata. Inilah awal kegairahan.

Kota pesisir jadi pusat ilmu pengetahuan. Pesantren pun didirikan  berdampingan dengan Istana. Di setiap pusat perdagangan, ada pusat ilmu pengetahuan.

Maulana Malik Ibrahim datang untuk menuntaskan persoalan ekonomi dan sosial rakyat Majapahit yang hancur karena perang Paregreg

Maulana Ishaq hadir untuk menuntaskan persoalan kesehatan rakyat dan bangsawankerajaan Blambangan yang diserang wabah penyakit.

Sunan Qudus memperlambat kehancuran Majapahit dengan mengajarkan bangsawannya belajar ilmu tata negara.

Umat Islam di Sriwijaya membantu membangun kerjasama internasional dengan bangsa lain dengan menjadikan mereka sebagai duta Sriwijaya

Sejak Era raja Airlangga umat Islam telah menopang dan lebih menggairahkan  perekonomiannya dengan memadati kota pesisir di Jawa.

Umat Islam menopang Majapahit menciptakan angkatan laut yang kuat dengan teknologi perkapalan dan persenjataan.

Saat negara Eropa mulai menjajah Nusantara, Demak menghalau Portugis. Mataram dan Banten menghalau Belanda di Sunda Kelapa atau Jayakarta.

Saat Eropa ke Nusantara? Perdagangan dimonopoli. Ilmu Pengetahuan hanya untuk kalangan terbatas. Perkebunan rakyat dihancurkan

Mengapa sekarang lebih membanggakan Barat daripada Islam? Mari membuka lembaran sejarah Nusantara kembali.

Paus Eugene IV dan Kardinal Cesarini Membujuk Penghianatan Atas Perjanjian Damai Terhadap Sultan Murad Tahun 1444 Masehi Sultan ...

Paus Eugene IV dan Kardinal Cesarini Membujuk Penghianatan Atas Perjanjian Damai Terhadap Sultan Murad


Tahun 1444 Masehi Sultan Murad (ayah Muhammad Al Fatih) membuat perjanjian damai dengan Raja Ladeslase dari Hongaria (Maghyar) selama 10 tahun. Saat itu usia Muhammad Al Fatih baru 14 tahun. Setelah perjanjian ditandatangani sang Sultan ingin mengundurkan diri dari kerajaan karena sudah tua. Hendak pulang ke Asia Kecil dan mengikuti Thariqat Maulawiyah.

Kerjaannya pun diserahkan ke Muhammad Al Fatih. Menurut perhitungan sultan, dengan perjanjian damai 10 tahun, maka tidak akan ada lagi peperangan antara Turki Utsmani dengan kerajaan Eropa. Apalagi perikatan perjanjian disumpah dengan Al-Qur'an bagi sultan dan Injil bagi raja Ladeslase. Setelah 10 tahun putranya akan berumur 24 tahun sehingga sudah sanggup memimpin peperangan.

Akan tetapi pihak kerajaan Eropa, Kardinal Cesarini wakil Paus Eugene IV, mengetahui rencana peralihan kekuasaan di Turki Utsmani ini. Dipikirannya, inilah waktu paling tepat untuk menghancurkan Turki Utsmani dan menghapuskan pengaruh Islam. Tidak ada waktu setepat saat itu. Maka dibujuklah raja Ladeslase supaya menghianati perjanjian tersebut.

Kardinal Cesarini juga membujuk Paus untuk mendukung rencana ini. Paus justru bergembira menerima usulan ini. Dasarnya, raja Ladeslase tidak meminta pertimbangan Paus saat membuat perjanjian tersebut dibuat. Kemudian dikirimlah surat dari Paus untuk seluruh kerajaan di Eropa untuk menyokong raja Ladeslase untuk menyerang Turki Utsmani. 

Raja Ladeslase awalnya menolak usulan tersebut. Namun karena mendapatkan surat dari Paus bahwa dia akan diberi anugerah pengampunan dosa maka ikutlah dia. Kardinal Cesarini juga meyakinkan raja Ladeslase dengan mengangkat tangan ke dada dan bersembahyang bahwa tidak berdosa jika orang Kristen memungkiri janji dengan orang Islam. Maka disusunlah Angkatan Perang Salib yang besar untuk menghancurkan Turki Utsmani.

Informasi ini sampai ke Sultan Murad. Dia paham, anaknya Muhammad Al Fatih belum mampu menghadapi pertempuran besar ini. Sang Sultan pun meninggalkan tasawufnya sementara waktu. Bersegera ke Istana. Diperintahkan Muhammad Al Fatih berburu. Selama Al Fatih berburu, sang Sultan memimpin peperangan dan mengelola pemerintahan.

Sang Sultan memberikan hadiah kepada armada Genua agar keluar dari pihak Salib. Armada Genua justru dimanfaatkan untuk membawa pasukan Turki ke Eropa dengan imbalan satu dinar emas untuk satu pasukan. Akhirnya 40 000 pasukan Turki dibawa ke Eropa.

Pertempuran berkecamuk. Sultan Murad menghadapi raja Ladeslase. Walaupun sultan sudah tua namun kemahiran bertempurnya belum padam. Sultan berhasil menghujam kan tombaknya dengan tepat ke dada Ladeslase hingga tembus ke punggung. Sedangkan Kardinal Cesarini melarikan diri dari pertempuran tersebut.

Sumber:
Tafsir Al Azhar Jilid 4, Buya Hamka, GIP

Tiga Tenaga Medis di Era Rasulullah saw https://m.republika.co.id/berita/q7svtw430/tiga-tenaga-medis-di-zaman-nabi-muhammad Sepa...

Tiga Tenaga Medis di Era Rasulullah saw

https://m.republika.co.id/berita/q7svtw430/tiga-tenaga-medis-di-zaman-nabi-muhammad


Sepanjang sejarah dan bahkan sejak masa Nabi Muhammad, ada wanita muslim yang memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan kualitas kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat mereka. Mereka secara aktif berpartisipasi dalam manajemen, pendidikan, agama, kedokteran dan kesehatan karena mereka termotivasi oleh kepedulian mereka terhadap urusan rakyat.

Syariah (hukum Islam) menuntut umat Islam untuk memiliki perhatian besar bagi masyarakat di semua bidang kehidupan. Jadi, sepanjang sejarah Islam, pencarian ilmu pengetahuan dianggap sebagai bagian dari sebuah pengabdian.

Perempuan Islam pun hadir sebagai dokter dan memperlakukan sama antara perempuan dan laki-laki terutama di medan perang. Namun, pemisahan ketat antara laki-laki dan perempuan berarti bahwa perempuan memiliki sedikit atau tidak ada kontak dengan laki-laki di luar keluarga dekat mereka.

Jadi perawatan kesehatan wanita Muslim terutama ditangani oleh wanita lain, terutama karena secara sosial tidak pantas bagi seorang pria untuk memeriksa seorang wanita mengenai masalah kesehatannya.

Berikut ini adalah beberapa contoh dari beberapa wanita Muslim yang berkontribusi pada kemajuan kedokteran.

Perawat pertama Islam adalah Rufayda Binti Saad Al Aslamiyya. Tapi nama-nama perempuan lain tercatat sebagai perawat dan praktisi kedokteran pada awal kebangkitan Islam adalah Nusayba Binti Kaab Al-Mazeneya, salah satu wanita Muslim yang menyediakan layanan keperawatan untuk prajurit di pertempuran Uhud (625 H), Umm Sinan Al-Islami (dikenal juga sebagai Umm Imara), yang menjadi seorang Muslim dan meminta izin dari Nabi Muhammad untuk pergi keluar dengan para prajurit untuk merawat yang terluka dan menyediakan air, Umm Matawe 'Al-Aslamiyya, yang dengan sukarela menjadi perawat di tentara setelah terjadinya perang Khaybar, Umm Waraqa Bint Hareth, yang berpartisipasi dalam mengumpulkan Al-Quran dan memberikan layanan keperawatannya kepada para prajurit di perang Badar.

Kali ini dikisahkan, tiga tenaga medis wanita pada masa awal Islam:

Rufayda binti Sa'ad

Rufayda binti Sa'ad juga dikenal sebagai Rufayda al-Aslamiyyah, dianggap sebagai perawat pertama dalam sejarah Islam, hidup pada masa Nabi Muhammad. Dia merawat yang terluka dan sekarat dalam perang bersama Nabi Muhammad dalam pertempuran Badar pada 13 Maret 624 H.

Rufayda belajar sebagian besar pengetahuan medisnya dengan membantu ayahnya, Saad Al Aslamy, yang adalah seorang dokter. Rufayda mengabdikan dirinya untuk merawat orang-orang yang sakit kemudian dikenal sebagai ahli pengobatan.

Dia melatih keterampilannya di tenda rumah sakit darurat di berbagai pertempuran bersama Nabi. Nabi biasa memerintahkan agar semua korban dibawa ke tendanya sehingga dia dapat merawat mereka dengan keahlian medisnya.

Rufayda digambarkan sebagai perawat yang baik dan empati terhadap pasien. Dengan keterampilan klinisnya, ia melatih wanita lain untuk menjadi perawat dan bekerja di bidang perawatan kesehatan.

Dia juga bekerja sebagai pekerja sosial, membantu menyelesaikan masalah sosial yang terkait dengan penyakit. Selain itu, ia membantu anak-anak yang membutuhkan dan merawat anak yatim, disabilatas, dan orang-orang miskin.

Syifa binti Abdullah

Syifa binti Abdullah al Qurashiyah al Adawiyah merupakan seorang wanita yang namanya tercatat dalam sejarah Islam. Dia dikenal sebagai wanita yang bijak di masanya.

Syifa merupakan satu wanita yang pandai membaca dari banyaknya wanita yang masih buta huruf. Karena kepandaiannya dia dilibatkan dalam kegiatan administrasi publik dan dunia kedokteran.

Nama aslinya adalah Laila, Syifa sendiri berarti penyembuhan karena profesiya sebagai perawat. Salah satu metode pengobatannya yang terkenal adalah pengobatan dan pencegahan terhadap gigitan semut.

Nabi menyetujui metodenya dan meminta dia untuk melatih wanita muslim lainnya.

Nusayba binti Harits al-Ansari

Nusayba binti Harits al-Ansari, juga disebut Umm 'Atia, merawat korban di medan perang dan memberi mereka air, makanan dan pertolongan pertama. Selain itu, dia juga bisa melakukan sunat. 

Cara Umar bin Abdul Aziz dan Nurudin Zanky, Mengejar Ketertinggalan Oleh: Nasrulloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) M...

Cara Umar bin Abdul Aziz dan Nurudin Zanky, Mengejar Ketertinggalan

Oleh: Nasrulloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)


Mengejar ketertinggalan, bagaimana cara yang termudah dan tercepat di tengah hantaman badai?

Umar bin Abdul Aziz menghadapi persoalan besar di tengah carut marutnya kekhalifahan Bani Ummayah. Bagaimana solusinya?

Umar bin Abdul Aziz segera mengumpulkan sahabatnya, mencari dan mengumpulkan  surat-surat, keputusan dan kebijakan di era Umar bin Khatab. Lalu diterapkan.

Cinta seorang keturunan kepada leluhurnya, Umar bin Khatab. Itulah cara mendongkrak kinerja pemerintah sang cicit di era Bani Ummayah

Nurudin  Zanky, kekhalifahan Abbasiyah sedang melemah. Pasukan Salib, gabungan Eropa, bersatu meluluhlantah Baitul Maqdish. Apa yang dilakukannya?

Nurudin Zanky bersama Shalahuddin Al Ayubi, mengumpulkan kebijakan Umar bin Abdul Aziz dan Umar bin Khatab, lalu diterapkan. Inilah ungkapan cinta.

Cara termudah dan mempercepat menaikan derajat keilmuan dan karya dengan cara adalah dengan cinta. Cinta ciptaan lompatan.

Seorang Sahabat ingin disejajarkan dengan Rasulullah saw di surga. Tetapi tak memiliki kualitas seperti Rasulullah saw. Bagaimana caranya?

Umat akhir zaman tak bisa sejajar dengan kualitas para Sahabat. Namun bagaimana melampuinya dengan amal seadanya?

Cinta kepada Rasulullah saw dan cinta kepada Sahabat di tengah carut marutnya huru hara di akhir zaman. Itulah lompatan dari umat akhir zaman

Menggenggam bara api. Beristiqamah dengan sunah Rasulullah saw dan Sahabat dalam segala kondisi, itulah cara cepat sekualitas mereka.

Pohon Makrifat  Rasulullah SAW bersabda: ه آبي يوم القيامة باب الجنة فاستفتح، فيقول الخازن : من أنت ؟ فأقول : محمد، فيقول : بك أ...

Pohon Makrifat 

Rasulullah SAW bersabda:

ه آبي يوم القيامة باب الجنة فاستفتح، فيقول الخازن : من أنت ؟ فأقول : محمد، فيقول : بك أمرت أن لا أفتح لأحد قبلك »

"Aku datangi pintu syurga di hari kiamat, lalu aku dibukakan. Maka sang penjaga syurga bertanya, "Siapa anda?" Aku katakan, "Muhammad." Lalu dia berkata, "Demi dirimulah aku diperintahkan agar tidak membuka (pintu syurga) bagi siapa pun sebelum dirimu..." (Hr. Ahmad dan Muslim).

Ahlul Ilmi Billah (para Ulama Billah) telah mengetahui bahwa syurga adalah pintu kebajikan Ilahi yang abadi. Tidak akan dibuka kecuali dibuka oleh Kanjeng Nabi Muhammad SAW dan dialah sang pembuka bagi kebaikan dunia dan akhirat. Mengetahui akan perilakunya merupakan rahasia pengetahuan pada Allah Ta'ala. Siapa yang ingin dibukakan pintu-pintu kebaikan dunia dan akhirat, ia harus menggantung padanya. Karena disana tersembunyi rahasia ma'rifat.


Sumber :
Menjelang Ma'rifat, Syeikh Ahmad Ar-Rifa'y

Hamba-Hamba Utama Diriwayatkan  bahwa Nabi Musa AS bermunajat, "Ya Tuhan, manakah hamba-hamba paling banyak kebajikannya da...

Hamba-Hamba Utama

Diriwayatkan  bahwa Nabi Musa AS bermunajat, "Ya Tuhan, manakah hamba-hamba paling banyak kebajikannya dan paling tinggi derajatnya dihadapan Mu?" Allah menjawab, "Yang paling mengetahuiKu..."

Imam Ali bin Abi Thalib Karromallahu wajhah mengatakan, "Orang yang paling tahu kepada Allah, adalah yang paling dahsyat pengagungannya, karena menghormati Laa Ilaaha Illallah..."

Abu ad-Darda' RA menegaskan, "Siapa yang bertambah ilmunya tentang Allah, aka akan bertambah rasa malunya..."

Diriwayatkan bahwa Allah Ta'ala memberikan wahyu kepada Nabi Dawud AS "Wahai Dawud, engkau tahu ilmu yang bermanfaat?"

"Oh Tuhanku, apakah ilmu yang bermanfaat itu?" jawab Dawud.

"Hendaknya engkau mengenal Kebesaranku, Keagunganku, Ketak-tertandingiKu, dan Kesempurnaan KuasaKu atas segala sesuatu. Itulah yang membuatmu dekat padaku. Dan Aku tidak menyilaukan orang yang bertemu denganKu dengan kebodohan..." jawab Allah Ta'ala.

Muhammad bin al-Fadhl as-Samarqandy RA ditanya, "Apakah yang disebut mengetahui Allah itu?" "Hendaknya anda melihat bahwa ketentuanNya pada makhluk itu pasti, segala mudharat, manfaat, kemuliaan dan kehinaan itu dariNya. Dan anda melihat diri anda hanya untuk

Allah. Segala sesuatu ada di GenggamanNya. Jangan memilih pilihan dari dirimu, bukan pilihanNya, dan anda berbuat benar benar hanya bagi ikhlas Allah." Begitu beliau menjawab.

Hai anak-anakku sekalian, tekunlah dalam menggali ilmu rahasia. Anda harus membenci dunia, dan kenalilah kehormatan orang-orang saleh. Hukumi perkaramu untuk kematian.

Allah Ta'ala berfirman:

"Dan katakanlah, "Tuhanku, tambahilah diriku ilmu.." "Dan Allah memberikan ilmu padamu, pengetahuan yang belum pernah engkau tahu."

"Dan Kami telah memberikan pengajaran ilmu kepadanya dari Sisi Kami."

"Orang-orang yang berjuang tekun di dalam Kami, maka Kami bakal memberikan petunjuk jalan-jalan kami..."

Betapa banyak orang yang meriwayatkan hadits, tetapi dia bodoh terhadap Allah. Sesungguhnya ilmu ma'rifat itu merupakan anugerah Allah Ta'ala, diberikan olehNya kepada orang yang dipilih dari makhlukNya, dan dipilihnya untuk dekat denganNya.

Dalam hadits disebutkan, "Ilmu itu ada dua: Ilmu ucapan, yaitu argumentasi Allah atas hamba-hambaNya. Dan ilmu hati, yaitu ilmu yang tinggi, dimana seorang hamba Allah tidak pernah meraih rasa takut nan cinta pada Allah, kecuali dengan ilmu itu."

Beliau Nabi SAW juga bersabda:

"Yang paling dalam rasa takut dan cintanya kepada Allah adalah yang paling mengenal Allah."


Sumber :
Menjelang Ma'rifat, Syeikh Ahmad Ar-Rifa'y

Hakikat Ilmu Makrifat Ilmu Makrifat adalah ilmu tentang Allah Ta'ala. Yaitu Cahaya dari Cahaya-cahaya Yang Maha Agung, dan p...

Hakikat Ilmu Makrifat

Ilmu Makrifat adalah ilmu tentang Allah Ta'ala. Yaitu Cahaya dari Cahaya-cahaya Yang Maha Agung, dan perilaku dan berbagai perilaku utama.

Dengan pengetahuan ma'rifat itu Allah memuliakan hati para cendekiawan, kemudian Allah merias dengan keindahanNya yang bajik, dan keagunganNya. Dengan ma'rifat pula, Allah mengistimewakan ahli kewalian dan pecintaNya.

Dengan ma'rifat Allah memuliakannya di atas seluruh ilmu mana pun. Manusia, mayoritas alpa atas kemuliaan ma'rifat, bodoh atas kelembutan-kelembutan ma'rifat, lupa atas keagungan getarannya, apalagi mereka juga lupa atas makna makna terdalamnya, yang tak akan ditemui kecuali oleh orang yang memiliki hati yang berserasi denganNya.

Ilmu ma'rifat ini merupakan asas, dasar, dimana seluruh ilmu pengetahuan dibangun. Dengannya pula kebajikan dua rumah dunia dan akhirat tergapai, kemuliaan terengkuh. Dengan ilmu ma'rifat, aib-aib diri terkuak. Anugerah Ilahi dikenal, keagunganNya diketahui, begitu pula keparipurnaan KuasaNya.

Dengan ilmu ma'rifat itu, rahasia hamba terbang dengan sayap-sayap ma'rifat, dalam kelembutan sutera Qudrat, berjalan menuju pangkal kemuliaan. Berwisata di taman Al-Quds. Maka seluruh ilmu manakala tidak berpadu dengan ma'rifat tidak pernah sempurna. Dan amal perbuatan tidak akan rusak kecuali jika ilmu ma'rifat itu sirna. Tidak ada yang menghuni pengetahuan itu kecuali hati yang dipandang oleh Allah Ta'ala, dengan pandangan Kasih dan Sayang. Kemudian Allah meneteskan hujan penghayatan pemahaman yang dalam, lalu menabur aroma yaqin dan kecerdasan. Allah menjadikannya sebagai tempat akal dan firasat, menyucikannya dari kotoran kebodohan dan kealpaan, meneranginya dengan dian-dian ilmu dan hikmah, Allah Swt. berfirman:

و يرفع الله الذين آمنوا منكم والذين أوتوا العلم درجات >

"Allah meninggikan derajat orang-orang yang beriman dari kalian, dan orang-orang yang diberi ilmu (tentang Allah)."

Setiap 'arif pastilah takut penuh rasa cinta dan bertaqwa menurut kadar pengetahuannya pada Allah Ta'ala, karena firmanNya:

و إنما يخشى الله من عباده العلماء »

"Sesungguhnya yang takut penuh cinta pada Allah dari hamba-hambaNya adalah para Ulama (Billah),"

Dengan cahayaNya godaan syetan bisa dikenal, sekaligus bisa menjadi pertahanan atas tindak maksiat dan dosa, peringatan bagi bencana-bencana hasrat.

Allah Swt. berfirman:

"Bukankah orang yang dilapangkan dadanya oleh Allah bagi Islam adalah orang yang berada dalam pancaran cahaya Tuhannya?" 

ه ومن لم يجعل الله له نورا فما له من ثور »

"Siapa pun yang Allah tidak menjadikan baginya cahaya,

maka baginya tidak mendapatkan cahaya." Dalam hadits dijelaskan, "Sebagian ilmu ada yang seperti perbendaharaan terpendam, di mana tidak diketahui kecuali oleh ahlul ilmi (Ulama) Billah, dan tidak diingkari kecuali oleh

kalangan yang terkena tipudaya."

Ada seseorang datang kepada Nabi Saw. lalu bertanya, "Amal apakah paling utama?" Nabi Saw. menjawab, "Mengetahui Allah."


Sumber :
Menjelang Ma'rifat, Syeikh Ahmad Ar-Rifa'y

Derajat Ulama Sofyan At-Tsaury mengatakan, Ulama itu terbagi jadi tiga:  1. Orang alim yang tahu perkara Allah, tetapi tidak tah...

Derajat Ulama

Sofyan At-Tsaury mengatakan, Ulama itu terbagi jadi tiga: 

1. Orang alim yang tahu perkara Allah, tetapi tidak tahu Allah. Itulah alim yang dusta, yang tidak layak baginya kecuali neraka!

2. Orang alim yang mengenal Allah, tetapi tidak mengenal perkara Allah, itulah alim yang masih kurang.

3. Orang alim yang mengenal Allah, mengenal perkara Allah, itulah yang disebut Ulama sempurna. 

Sebagaian orang 'arif ditanya, "Apa jalan ma'rifat pada Allah itu?"
"Allah tidak dikenal dengan segala sesuatu. Tetapi segala sesuatu dikenal melalui Allah, sebagaimana Dzun Nuun al Mishry RA, mengatakan, Aku mengenal Allah melalui Allah, dan mengenal selain Allah melalui Cahaya Allah." Jawabnya.

Nabi Ibrahim AS bermunajat, "Ilahi, jika bukan karena Engkau, bagaimana aku mengenal siapa DiriMu..."

Hal senada juga disampaikan Rabi'ah al-Adawiyah, ketika bertanya kepada Dzun Nuun al-Mushry RA, "Bagaimana engkau kenal Allah?"

"Allah melimpahi rizki rasa malu padaku, dan memberikan pakaian muroqobah padaku. Ketika aku susah dengan musibah, aku mengingat kebesaran Allah, lalu aku sangat malu padaNya...", jawab Dzun Nuun.

Sumber :
Menjelang Ma'rifat, Syeikh Ahmad Ar-Rifa'y

Metafora Makrifat Metafora Makrifat itu seperti pohon yang memiliki enam cabang. Akarnya kokoh di bumi yaqin dan pembenaran, dan...



Metafora Makrifat

Metafora Makrifat itu seperti pohon yang memiliki enam cabang. Akarnya kokoh di bumi yaqin dan pembenaran, dan cabang-cabangnya tegak dengan iman dan tauhid. 

• Cabang pertama, Khauf (rasa takut) dan Raja' (harapan pada anugerah-rahmatNya) yang disertai dengan cabang perenungan.
• Cabang kedua, berlaku benar dan serasi dengan kehendak Allah, yang disertai dengan cabang Ikhlas.
• Cabang ketiga, Khasyyah (takut penuh cinta) dan menangis, yang disertai dengan cabang Taqwa.
• Cabang keempat, Qana'ah (menerima pemberian Allah) dan ridho, yang disertai cabang Tawakkal.
• Cabang kelima, Pengagungan dan rasa malu yang disertai dengan cabang ketentraman.
• Cabang keenam, Istiqomah dan berselaras dengan Allah yang disertai dengan cabang cinta dan kasih.

Setiap cabang dari masing-masing akan bercabang pula sampai tiada hingga dalam jumlah kebajikan, dalam tindakan benar dan perbuatan, kemesraan berdekat-dekat dengan Allah, kesunyian Qurbah, kebeningan waktu dan segala sepadan yang tak bisa disifati oleh siapa pun juga.

Di setiap cabang yang ada akan berbuah bermacam-macam, yang satu sama lainnya tidak sama, rasanya, yang di bawahnya ada cahaya-cahaya taufiqNya, yang mengalir dari sumber anugerah dan pertolonganNya. 
Dalam hal ini manusia berpaut paut dalam derajat dan berbeda-beda dalam kondisi ruhani, Di antara mereka :

1. Ada yang mengambil cabangnya saja, tapi alpa dari akarnya tertutup dari pohonnya dan tertirai dari rasa manis buahnya.
2. Ada yang hanya berpegang teguh pada cabangnya belaka.
3. Adapula yang berpegang pada akar aslinya, dan meraih semuanya (pohon, cabang dan buah) tanpa sedikit pun menoleh pada semuanya, tetapi hanya memandang yang memilikinya, Sang Penciptanya.

Siapa yang tak memiliki cahaya dalam lampu pertolongan Ilahi, walaupun telah mengumpulkan, mengkaji semua kitab dan hadits, kisah-kisah, maka tidak akan bertambah kecuali malah jauh dan lari dari Allah, sebagaimana keledai yang memikul buku-buku.

Ada seseorang yang datang kepada Imam Ali KarromAllahu Wajhah:

"Ajari aku tentang ilmu-ilmu rahasia..." pintanya.
"Apa yang kau perbuat perihal ilmu utama?" kata Sayyidina Ali.
 "Apakah pangkal utama ilmu?" orang itu balik bertanya.
"Ya.." jawabnya.
"Apakah kamu mengenal Tuhanmu?" Tanya beliau. 
"Apa yang sudah kau lakukan dalam menjalankan kewajibanNya?"
"Masya Allah..." jawab orang itu.
 "Berangkatlah dan teguhkan dengan itu (hak dan kewajiban),
jika kamu sudah kokoh benar, kamu baru datang kemari, kamu akan saya ajari ilmu-ilmu rahasia..." Jawab beliau.

Ada yang mengatakan, "Perbedaan antara ilmu ma'rifat dan ilmu lainnya adalah seperti perbedaan antara hidup dan mati".

Sumber :
Menjelang Ma'rifat, Syeikh Ahmad Ar-Rifa'y

Agar Hidup Bergerak Cepat dan Bebas Oleh: Nasrulloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Alam semesta bebas bergerak, kare...


Agar Hidup Bergerak Cepat dan Bebas

Oleh: Nasrulloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)

Alam semesta bebas bergerak, karena gerakannya mengikuti aturan. Planet di angkasa bebas berputar karena berputarnya selalu pada orbitnya.

Kereta bisa berlaju dengan sangat cepat, karena dia bergerak di atas relnya. Pesawat bergerak super cepat karena bergerak di dalam lintasannya.

Hidup dalam kebebasan justru menimbulkan kemacetan. Itulah sebab mengapa Allah menciptakan pedoman dan aturan hidup agar manusia bebas dan cepat bergerak

Manusia penuh keterbatasan, namun mengapa ingin hidup tanpa batasan hingga melampaui batas?

Makanan selalu nikmat karena setiap ragam racikan bumbunya ada takarannya masing-masing. Itulah sebab kenikmatan dan kelezatan makanan

Takaran unsur hara tertentu ciptakan kesuburan tanah. Pohon tertentu akan tumbuh di ketinggian tertentu. Mengapa manusia ingin hidup tanpa takaran Allah?

Secerdas apapun akalnya. Seluas apapun ilmunya. Setinggi apa pun gelarnya. Manusia akan jatuh pada mengurangi dan melebihi takaran dalam hidupnya.

Aturan Allah yang membuat hidup dalam takaran yang tepat. Bila ditinggalkan, hawa nafsulah yang merusak akal dan ilmunya sehingga merusak takaran hidupnya

Mengapa ada Rukun Iman, Islam dan Ihsan? Agar manusia selalu hidup dalam takarannya. Agar akal dan ilmu dalam takaran yang tepat.

Membatasi Diri Menciptakan Kebebasan Diri Oleh: Nasrulloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Dibatasi karena kebebasan. ...

Membatasi Diri Menciptakan Kebebasan Diri

Oleh: Nasrulloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)


Dibatasi karena kebebasan. Membatasi diri menciptakan kebebasan. Mana yang akan dipilih?

Berpuasalah, maka akan bebas mengkonsumsi ragam menu makan dan minum tanpa takut beragam penyakit

Disiplin keuangan pada sektor yang produktif, jangan berboros ria, maka menciptakan kebebasan finansial.

Tutup satu pintu, membuka pintu yang lainnya. Pilihlah pintu yang harus ditutup secara tepat agar membuka pintu kebebasan lainnya yang lebih luas dan maslahat.

Perhatikan ahli Badar, dengan keutamaan kepribadian dan amalnya, Allah membebaskan mereka untuk melakukan apa saja. Karena mereka memiliki pengendalian diri yang kuat.

Rasulullah saw mempercayakan Muadz bin Jabal jadi hakim di Yaman, sebab disiplin pada Al-Qur'an, Sunnah dan akal yang sehat dalam mengambil keputusan

Orang tua yang yakin anaknya berdisiplin pada kebenaran prinsip hidupnya akan memberikan kebebasan untuk pergi kemana saja yang disukainya.

Membatasi diri menciptakan kebebasan diri. Kebebasan diri menciptakan keterbatasan diri.

Mengapa syariat Allah terkesan banyak aturan? Dengan aturanlah manusia bebas berkiprah tanpa khawatir menciptakan kerusakan dan kezaliman.

Bukankah seks bebas, menciptakan ragam penyakit yang membuatnya tak bisa berhubungan seksual? Kebebasan menciptakan pengekangan

Bukankah bebas makan, menciptakan ragam penyakit yang membuatnya membatasi makanan? Kebebasan menciptakan keterbatasan

Proses Solusi yang Sejalan dengan Lauhul Mahfudz Oleh: Nasrulloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Apa penyebab suatu m...

Proses Solusi yang Sejalan dengan Lauhul Mahfudz

Oleh: Nasrulloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)

Apa penyebab suatu masyarakat ditimpa wabah penyakit dan bencana yang belum pernah terjadi sebelumnya?

Apa penyebab suatu negri dilanda kekeringan, kelaparan dan naiknya penguasa yang zalim?

Apa penyebab sebuah negri terhalang dari turunnya hujan?

Apa penyebab suatu negri dikuasai oleh musuh-musuhnya? Mengapa bermunculan penguasa yang perkataannya tak seorang pun berani membantahnya?

Apa penyebab sumber daya alam, kekayaan dan roda perekonomian suatu negri dirampas oleh musuh-musuhnya atau negara-negara asing?

Mengapa suatu negri banyak terpilihnya penguasa yang bodoh? Mengapa muncul penguasa yang sering berdusta namun dianggap jujur?

Mengapa penguasa yang tak amanah atau berkhianat namun dipercaya oleh masyarakat untuk menjadi pemimpin?

Bila ingin tahu penyebab dan solusi pemecahan seluruh persoalan tersebut, bukalah lembaran hadist Rasulullah saw tentang akhir zaman.

Butuh terobosan identifikasi persoalan dan solusi yang tak diambil dari akal dan disiplin  ilmu dari beragam lembaga pendidikan konvensional

Butuh terobosan identifikasi persoalan dan solusi yang tak diambil dari label gelar sarjana hingga profesor formal akademik.

Butuh identifikasi persoalan dan solusi yang diambil langsung dari jiwa spiritual yang terkoneksi dengan Allah Yang Maha Berilmu

Manusia bersolusi dengan logika dan strategi yang tak sejalan dengan goresan Lauhul Mahfudz. Itulah penyebab persoalan hidup dan bangsa tak pernah tuntas.

Yahudi Sekarang Bukan Keturunan Bani Israel  https://almanhaj.or.id/8028-palestina-tanah-kaum-muslimin.html Sebelum Bani Israil ...

Yahudi Sekarang Bukan Keturunan Bani Israel 

https://almanhaj.or.id/8028-palestina-tanah-kaum-muslimin.html

Sebelum Bani Israil masuk ke wilayah tersebut, tanah Palestina telah didiami dan dikuasai suku-suku Arab. Kabilah Finiqiyyin, menempati wilayah utara kurang lebih pada tahun 3000SM. Kabilah Kan’aniyyun, menempati bagian selatan dari tempat yang dihuni orang-orang Finiqiyyin. Mereka menempati wilayah tengah pada tahun 2500SM. Inilah suku-suku bangsa Arab yang berhijrah dari Jazirah Arabiyah.

Kemudian datang kelompok lain, kurang lebih pada tahu 1200SM, yang kemudian dikenal dengan Kabilah Falestin. Menempati wilayah antara Ghaza dan Yafa. Hingga akhirnya nama ini menjadi sebutan bagi seluruh wilayah tersebut dan ketiga suku ini terus mendiaminya.

Secara historis, telah jelas Bani Israil bukanlah bangsa yang pertama menempati Palestina. Daerah itu, sudah dihuni oleh suku-suku Arab sejak beribu-ribu tahun lamanya, sebelum kedatangan Bani Israil. Bahkan keberadaan suku Arab tersebut terus berlangsung sampai sekarang. Adapun Bani Israil, pertama kalia masuk Palestina, yaitu saat bersama Yusya bin Nun, setelah wafatnya Nabi Musa Alaihissalam. 

Sebelumnya mereka dalam kebingungan, terusir, tak memiliki tempat tinggal, karena melakukan pembangkangan terhadap perintah Allah Dikisahkan dalam Al-Qur’an.

 وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِ يَا قَوْمِ اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ جَعَلَ فِيكُمْ أَنْبِيَاءَ وَجَعَلَكُمْ مُلُوكًا وَآتَاكُمْ مَا لَمْ يُؤْتِ أَحَدًا مِنَ الْعَالَمِينَ﴿٢٠﴾يَا قَوْمِ ادْخُلُوا الْأَرْضَ الْمُقَدَّسَةَ الَّتِي كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَلَا تَرْتَدُّوا عَلَىٰ أَدْبَارِكُمْ فَتَنْقَلِبُوا خَاسِرِينَ 
“Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya :”Hai kaumku, ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia mengangkat nabi-nabi di antaramu, dan dijadikan-Nya kamu orang-orang merdeka, dan diberikan-Nya kepadamu apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorangpun diantara umat-umat yang lain. Hai kaumku, masuklah ke tanah suci yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari ke belakang (karena kamu takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi” [al-Maidah/5 : 20-21] 

Akan tetapi, mereka adalah bangsa pengecut yang dihinggapi rasa takut sikap pengecut ini terlihat jelas dari jawaban mereka terhadap ajakan Nabi Musa. Kelanjutan ayat di atas menyebutkan. 

قَالُوا يَا مُوسَىٰ إِنَّ فِيهَا قَوْمًا جَبَّارِينَ وَإِنَّا لَنْ نَدْخُلَهَا حَتَّىٰ يَخْرُجُوا مِنْهَا فَإِنْ يَخْرُجُوا مِنْهَا فَإِنَّا دَاخِلُونَ 
“Mereka berkata :”Hai Musa, sesungguhnya dalam negeri itu ada orang-orang yang gagah perkasa, sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka ke luar daripadanya. Jika mereka keluar daripadanya, pasti kami akan memasukinya”. 

قَالَ رَجُلَانِ مِنَ الَّذِينَ يَخَافُونَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمَا ادْخُلُوا عَلَيْهِمُ الْبَابَ فَإِذَا دَخَلْتُمُوهُ فَإِنَّكُمْ غَالِبُونَ ۚ وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

 “Berkatalah dua orang diantara
 orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi nikmat atas keduanya : “Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu, maka bila kamu memasukinya, nisacaya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman”. 

قَالُوا يَا مُوسَىٰ إِنَّا لَنْ نَدْخُلَهَا أَبَدًا مَا دَامُوا فِيهَا ۖ فَاذْهَبْ أَنْتَ وَرَبُّكَ فَقَاتِلَا إِنَّا هَاهُنَا قَاعِدُونَ

 “Mereka berkata : “Hai Musa, kami sekali-kali tidak akan memasukinyua selama-lamanya, selagi mereka ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Rabb-mu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja”.

 قَالَ رَبِّ إِنِّي لَا أَمْلِكُ إِلَّا نَفْسِي وَأَخِي ۖ فَافْرُقْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ الْقَوْمِ الْفَاسِقِينَ
 “Berkata Musa : “Ya Rabb-ku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku. Sebab itu, pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasik itu”.

 قَالَ فَإِنَّهَا مُحَرَّمَةٌ عَلَيْهِمْ ۛ أَرْبَعِينَ سَنَةً ۛ يَتِيهُونَ فِي الْأَرْضِ ۚ فَلَا تَأْسَ عَلَى الْقَوْمِ الْفَاسِقِينَ

 “Allah berfirman : “(Jika demikian), maka sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi. Maka janganlah kamu bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang fasik itu” [al-Maidah/5: 22-26] 

Dengan terusirnya dari tanah yang diberkahi ini, bagaimana mungkin mereka mengaku memiliki hak atas tanah ini? Sementara itu, pengembaraan ke berbagai penjuru bumi, karena terusir di mana-mana menimbulkan konsekwensi bagi mereka berinteraksi, dan beranak-pinak dengan bangsa lainnya. Sehingga terputuslah nasab mereka dengan nenek moyangnya. 

Jelaslah, generasi Yahudi pada masa sekarang ini bukan keturunan Bani Israil sebagaimana yang mereka katakan. Meski demikian, mereka berupaya keras menyebarluaskan klaim palsu ini, bahwa mereka keturunan orang-orang Bani Israil generasi pertama yang menghuni Palestina dahulu. 

Tujuan propaganda ini, agar kaum Nashara menilai mereka sebagai keturunan Nabi Ya’qub. Sehingga muncul opini, bahwa merekalah yang dimaksud oleh janji sebagaimana tersebut dalam Pejanjian Lama. Dengan ini mereka berharap Nashara merasa memiliki ikatan emosional, dan kemudian membela mereka. Sebab Nashara mengagungkan Taurat (Perjanjian Lama) dan menganggapnya sebagai wahyu dari Allah.

Akan tetapi, fakta menujukkan, jika klaim mereka adalah dusta. Mereka mengaku akar keturunannya masih murni, bersambung sampai ke Israil (Ya’qub). Padahal, mereka sendiri telah mengakui, banyak di antara orang-orang Yahudi yang menikahi wanita nonYahudi. Demikian juga, kaum wanitanya pun menikah dengan lelaki non Yahudi.

Sebagai contoh bukti lainnya, sebuah suku yang besar di Rusia , Khazar telah memeluk Yahudi pada abad ke-8 Masehi. Kerajaan ini begitu kuatnya. Kemudian mengalami kehancuran total setelah diserang Rusia. Sejak abad ke -13 Masehi, wilayah ini terhapus dari peta Eropa. Penduduknya bercerai berai di Eropa Barat dan Timur. Ini merupakan salah satu indikasi yang jelas, bahwa mereka tidak mempunyai ikatan dengan Ya’qub dan keturunannya. Kalaupun mereka tetap bersikeras mengaku sebagai keturunan Ya’qub, akan tetapi sebagai kaum Muslimin, kita tidak merubah sikap, selama mereka memusuhi kaum Muslimin. Sebab, nasab tidak ada artinya, bila masih berkutat dalam kekufuran[12]. 

Klaim Palsu Yahudi atas Palestina  https://almanhaj.or.id/8028-palestina-tanah-kaum-muslimin.html Merasa nenek moyangnya pernah ...

Klaim Palsu Yahudi atas Palestina 

https://almanhaj.or.id/8028-palestina-tanah-kaum-muslimin.html

Merasa nenek moyangnya pernah berdiam disana, menyebabkan kaum Yahudi membuat klaim jika mereka memiliki hak atas tanah Palestina. Alasan yang dikemukakan, karena mereka telah mendiaminya sejak Nabi Ibrahim dan berakhir ketika orang-orang Yahudi generasi akhir diusir dari Baitul Maqdis pada masa Romawi. 

Mereka pun mengklaim hak kepemilikan tersebut juga berdasarkan tinjauan agama. Yaitu mengacu kepada kitab suci mereka, bahwa Allah telah menjanjikan kepemilikan tanah Kan’an (Palestina) dan wilayah sekitarnya, dari sungai Nil di Mesir sampai sungai Eufrat di Irak. Janji tersebut disampaikan Allah kepada Ibrahim.

Begitulah bangsa Yahudi yang hidup pada masa sekarang mengklaim sebagai keturunan Ibrahim, bangsa terpilih. Sehingga merasa paling berhak dengan Palestina dan sekitarnya, yang disebut-sebut sebagai ardhul mi’ad (tanah yang dijanjikan). Karenanya, muncul upaya untuk menghimpun kaum Yahudi yang tersebar di berbagai wilayah, bertujuan mendirikan sebuah negara Israil Raya.

Napoleon Bonaparte, seorang raja Perancis telah memfasilitasi tujuan tersebut. Caranya, pada tahun 1799M, dia mengajak Yahudi dari Asia dan Afrika untuk bergabung dengan pasukannya. Namun akibat kekalahan dideritanya, menyebabkan rencana tersebut tidak terwujud.

 Wacana ini kembali muncul, dengan terbitnya buku Negara Yahudi, yang ditulis pemimpin mereka, Theodare Heartzel pada tahun 1896M. Orang-orang Yahudi melakukan kajian secara jeli tentang kondisi negara-negara penjajah. Hingga sampai pada kesimpulan, bahwa Inggris merupakan negara yang paling tepat untuk membantu merealisasikan rencana tersebut. 

Ringkasnya, setelah melalui lobi-lobi, maka pada tahun 1917M, Inggris yang menjajah kebanyakan negara Arab, memberikan tanah hunian bagi Yahudi di Palestina. Penguasa Inggris melindungi mereka dari kemarahan kaum Muslimin. Di sisi lain, penjajah Inggris bersikap sangat keras terhadap kaum Muslimin di sana.

Bilamana Keberadaan Bani Israel di Palestina? https://almanhaj.or.id/8028-palestina-tanah-kaum-muslimin.html Masa Nabi Ya’qub Da...

Bilamana Keberadaan Bani Israel di Palestina?

https://almanhaj.or.id/8028-palestina-tanah-kaum-muslimin.html

Masa Nabi Ya’qub Dan Nabi Yusuf Sejarah Yahudi bermula sejak Israil, yaitu Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim Al-Khalil, yang tumbuh di daerah Kan’an (Palestina) dengan dikarunia sejumlah 12 anak. Mereka itulah yang disebut asbath (suku) Bani Israil, dan hidup secara badawah (pedesaan).[2] Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala menempatkan Yusuf sebagai pejabat penting di Mesir, kemudian meminta kedua orang tua dan saudara-saudaranya untuk berpindah ke Mesir. Di Mesir, keluarga ini hidup di tengah masyarakat watsaniyyun (paganisme). Mereka hidup dengan kehidupan yang baik lagi nikmat di masa Yusuf.[3]

Setelah Nabi Yusuf wafat, seiring dengan perjalanan waktu dan pergantian penguasa, kondisi Bani Israil berubah total. Yang sebelumnya menyandang kehormatan dan kemuliaan, kemudian menjadi terhina, lantaran Fir’aun melakukan penindasan dan memperbudak mereka dalam jangka waktu yang amat lama, sampai Allah mengutus Nabi Musa Alaihissalam.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
 وَإِذْ نَجَّيْنَاكُمْ مِنْ آلِ فِرْعَوْنَ يَسُومُونَكُمْ سُوءَ الْعَذَابِ يُذَبِّحُونَ أَبْنَاءَكُمْ وَيَسْتَحْيُونَ نِسَاءَكُمْ ۚ وَفِي ذَٰلِكُمْ بَلَاءٌ مِنْ رَبِّكُمْ عَظِيمٌ “Dan (ingatlah) ketika Kami selamatkan kamu dari (Fir’aun) dan pengikut-pengikutnya, mereka menimpakan kepadamu siksaan yang seberat-beratnya, mereka menyembelih anak-anakmu yang laki-laki dan membiarkan hidup anak-anakmu yang perempuan. Dan pada yang demikian terdapat cobaan-cobaan yang besar dari Rabb-mu” [al-Baqarah/2 : 49] 

إِنَّ فِرْعَوْنَ عَلَا فِي الْأَرْضِ وَجَعَلَ أَهْلَهَا شِيَعًا يَسْتَضْعِفُ طَائِفَةً مِنْهُمْ يُذَبِّحُ أَبْنَاءَهُمْ وَيَسْتَحْيِي نِسَاءَهُمْ “Sesungguhnya Fir’aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah-belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka …” [al-Qashash/28 : 4]

Masa Nabi Musa Alaihissalam Allah mengutus Nabi Musa dan Harun kepada Fir’aun dan kaumnya, dengan dibekali mukjizat, untuk menyeru mereka agar beriman kepada Allah dan membebaskan Bani Israil dari siksaan. Namun Fir’aun dan kaumnya mendustakan mereka berdua, kufur kepada Allah. Karenanya, Allah menimpakan kepada mereka berbagai bencana, kekeringan, rusaknya pertanian, mengirim angin kencang, belalang dan lain-lain[4].

Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan Musa untuk lari bersama Bani Israil pada suatu malam dari negeri Mesir[5]. Fir’aun dan kaumnya pun mengejar. Tetapi Allah Subhanahu wa Ta’ala menenggelamkan Fir’aun beserta kaumnya, dan menyelematkan Musa dan kaumnya ke Negeri Saina, masuk dalam wilayah Palestina sekarang. Peristiwa itu terjadi pada hari Asyura.[6]

Orang-orang Yahudi menyebutkan, lama Bani Israil tinggal di Mesir 430 tahun. Jumlah mereka waktu itu sekitar 600 ribu orang lelaki. Mengenai besaran jumlah ini. Dr Su’ud bin Abdul Aziz Al-Khalaf berkata[7] : “Pengakuan ini sangat berlebihan. Karena berarti, bila ditambah dengan jumlah anak-anak dan kaum wanita, maka akan mencapai kisaran 2 juta-an jiwa. Tidak mungkin dapat dipercaya. Itu berarti jumlah mereka mengalami pertumbuhan 30 ribu kali. Sebab sewaktu Bani Israil masuk ke Mesir, berjumlah 70 jiwa. Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surat asy-Syu’ara/26 : 54. 

إِنَّ هَٰؤُلَاءِ لَشِرْذِمَةٌ قَلِيلُونَ 
“(Fir’aun berkata) ; ‘Sesungguhnya mereka (Bani Israil) benar-benar golongan yang kecil”

Jumlah 2 juta tidak bisa dikatakan kecil. Mustahil dalam satu malam terjadi eksodus dua juta jiwa. Kita tahu di dalamnya terdapat anak-anak dan kaum wanita serta orang-orang tua. Orang-orang yang bersama Nabi Musa, mereka adalah orang-orang dari Bani Israil yang mengalami penindasan dan kehinaan serta menuhankan manusia dalam jangka waktu yang lama. Aqidah mereka telah rusak, jiwanya membusuk, mentalnya melemah, dan muncul pada mereka tanda-tanda pengingkaran, kemalasan, pesimis, serta bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya[8] .

Meski Allah telah menunjukkan banyak mukjizat dan tanda-tanda kekuasaan-Nya melalui Nabi Musa, tetapi mereka tetap ingkar, sombong dan tetap kufur. Mereka justru meminta untuk dibuatkan berhala sebagai tuhan yang disembah. Hingga akhirnya, As-Samiri berhasil menghasut mereka untuk menyembah anak sapi, menolak memerangi kaum yang bengis (Jababirah). Maka, Allah menimpakan hukuman kepada mereka berupa tiih (berjalan berputar-putar tanpa arah karena kebingungan) dalam jangka waktu yang dikehendaki Allah. Pada rentang waktu ini, Musa wafat. Sementara Harun sudah meninggal terlebih dahulu.

Setelah usai ketetapan waktu yang Allah kehendaki untuk menghukum mereka dengan kebingungan tanpa mengetahui arah, Bani Israil berhasil menaklukan bumi yang suci di bawah pimpinan Nabi Yusya bin Nun Alaihissalam[9]. Para ahli, membagi perjalanan sejarah kota suci Palestina pasca penaklukan tersebut menjadi tiga periode. 

Pertama : Masa Qudhah, Yaitu masa penunjukkan hakim bagi setiap suku yang berjumlah dua belas, setelah masing-masing mendapatkan wilayah sesuai pembagian Nabi Yusya bin Nun. Masa ini, kurang lebih berlangsung selama 400 tahun lamanya[10]. 

Kedua : Dikenal dengan masa raja-raja. Diawali oleh Raja Thalut. Kondisi masyarakat mengalami masa keemasan saat dipegang oleh Nabi Daud dan Nabi Sulaiman. 

Ketiga : Periode yang disebut sebagai masa perpecahan internal, yaitu setelah Nabi Sulaiman wafat. Mereka terbelah menjadi dua kutub. Bagian selatan dengan ibukota Baitul Maqdis dan wilayah utara dengan ibukota Nablus. Dua wilayah ini, akhirnya dikuasai bangsa asing.

Wilayah selatan ditaklukan oleh bangsa Assiria dari Irak. Wilayah utara diserbu Mesir. Disusul kedatangan Nebukadnezar, yang mampu mengusir bangsa Mesir dari sana. Pergantian kekuasaan ini, akhirnya dipegang bangsa Romawi yang berhasil mengalahkan bangsa Yunani, penguasa sebelumnya. Pada masa kekuasaan Romawi inilah, Isa Al-Masih diutus oleh Allah.

Pada masa itu pula, musibah dahsyat dialami kaum Yahudi. Bangsa Romawi melakukan genocide (pemusnahan) secara keras etnis mereka, lantaran orang-orang Yahudi melakukan pemberontakan. Baitul Maqdis pun dihancurkan. Bangsa Yahudi tercerai-berai. Sebagian melarikan diri ke seluruh penjuru wilayah bumi. Demikianlah hukuman Allah dengan mendatangkan bangsa yang menindas mereka.

Siksaan dan kepedihan ditimpakan kepada mereka, atas kerusakan, tindak aniaya dan akibat akhlak mereka yang buruk[11]. Bangsa Romawi menguasai tanah Baitul Maqdis hingga beberapa lama, hingga kemudian pada abad pertama hijriyah, pada masa khalifah Umar Ibnu Khaththab Radhiyallahu ‘anhu, kaum Muslimin berhasil mengambil alih penguasaan tanah penuh berkah ini dari tangan bangsa Romawi yang memeluk agama Nashrani, meliputi Palestina, Syam dan daerah yang ada di dalamnya. Tepatnya pada pemerintahan Khalifah Umar Ibnul Khaththab Radhiyallahu ‘anhu, pada bulan Rajab tahun 16H, sehingga menjadi Darul Islam.

Penyerahan Baitul Maqdis ini terjadi, setelah pasukan Romawi disana dikepung oleh pasukan kaum Muslimin selama empat puluh hari di bawah komando Abu Ubaidah Ibnul Jarrah Radhiyallahu ‘anhu. Kemudian Khalifah Umar Ibnul Khaththab menetapkan orang-orang Yahudi tidak boleh tinggal di Baitul Maqdis. 

Siapa yang Lebih Dulu Tempati Yerusalem, Arab atau Yahudi?  https://www.google.com/amp/s/m.republika.co.id/amp/qtdplw320 Yerusal...

Siapa yang Lebih Dulu Tempati Yerusalem, Arab atau Yahudi? 

https://www.google.com/amp/s/m.republika.co.id/amp/qtdplw320

Yerusalem adalah salah satu kota terbesar di Palestina, baik dari segi luas wilayah maupun penduduknya. Dari segi agama dan nilai ekonomi, kota ini juga menempati posisi yang sangat penting.

Dalam bahasa Arab dikenal dengan nama Baytul Maqdis atau al- Quds al-Syarif dan dalam bahasa Yunani dinamakan Elia (Aelia), yang berarti rumah tuhan. Ketika Islam menguasai Yerusalem saat itu namanya Elia, dan tercantum dalam piagam jaminan keamanan bagi penduduk setempat yang dibuat Khalifah Umar (al-`Uhdah al-`Umariyyah). Sebutan Baytul Maqdis atau al-Quds sudah populer di kalangan para sahabat, seperti tercatat dalam beberapa hadits Nabi yang sahih.

Sejarah Kota Yerusalem bermula sejak lebih dari enam ribu tahun yang lalu. Wajar bila dikatakan sebagai salah satu kota tertua di dunia. Menurut sejarawan, yang membangun pertama kali adalah suku al-Yabus, salah satu suku dari kabilah Arab Kanan, pada sekitar 4.000 tahun Sebelum Masehi sehingga kota itu pada mulanya disebut Yabus. Sejak itu kabilah bangsa Arab, seperti Kanan dan Amoria (Aramin), berdatangan dan tinggal di situ, jauh sebelum kedatangan Bani Israel.

Fakta ini diakui Perjanjian Lama dalam Yosua: 12 yang menyatakan; “Inilah raja negeri yang dikalahkan oleh Yosua dan oleh orang Israel di sebelah barat Sungai Yordan ... yang di negeri orang Het, orang Amori, orang Kanaan, orang Feris, orang Hewi dan orang Yebus.” (Al-Kitab: hlm 249). Amori, Kanaan, dan Yebus adalah bangsa Arab yang telah tinggal di bumi Palestina sebelum bangsa Israel datang. 
 
Kedatangan bangsa Israel ke tanah Palestina bermula dari Nabi Yakub AS, yaitu pada sekitar abad ke-16 sebelum Masehi. Israel adalah gelar dari Nabi Yakub yang berarti ‘hamba Allah’. Yakub adalah putra Nabi Ishak dan cucu Nabi Ibrahim. Mereka tinggal di Hebron (Madînat al-Khalîl). Pada masa mudanya Nabi Yakub pernah berhijrah ke Irak, lalu kembali lagi ke Palestina dan menerima wahyu di tengah perjalanan.

Diperkirakan saat itu ia berusia 40 tahun. Bersama dua belas orang anaknya yang dikenal dengan Bani Israil, Nabi Yakub tinggal di Palestina. Setelah peristiwa yang dialami putra kesayangannya, Nabi Yusuf AS dan Bunyamin, Nabi Yakub hijrah ke Mesir pada 1656 (abad ke-17) sebelum Masehi. Mereka baru kembali lagi ke Palestina pada sekitar abad 13 Sebelum Masehi.

Dalam sejarah, setelah dibangun  kabilah Arab Yebus, Yerusalem tercatat pernah berada di bawah kekuasaan Fir'aun (abad 16-14 SM), Yahudi selama sekitar 73 tahun (977–586 SM), Babilonia (586–537 SM), Persia (537 – 333 SM), Yunani (333–63 SM), Romawi (63 SM–636 M), kekuasaan Islam I (636–1072 M) dipimpin Umar bin Khattab pada tahun ke-15 Hijriyah, Kristen (1099–1187 M), kekuasaan Islam II oleh Salahuddin al-Ayyubi (1187), kemudian Ottoman pada 1615 sampai jatuh ke tangan Inggris pada 1917, dan pada 1948 berdiri negara Israel.  

Sepanjang sejarah lebih dari enam ribu tahun, Yerusalem berada di bawah kekuasaan Yahudi hanya selama 73 tahun, yaitu setelah Nabi Daud (King David) menaklukkannya pada tahun 977 atau 1000 Sebelum Masehi. Daud berkuasa selama kurang lebih 33 tahun dan digantikan oleh putranya Nabi Sulaiman yang berkuasa selama 40 tahun. Pada masanya dibangun kuil (haykal) Sulaiman. Itulah puncak masa kejayaan Yahudi di Palestina. 
Setelah mereka tercerai berai sampai akhirnya pada 587 M, Raja Babilonia, Nebukhadnezar, berhasil menaklukkan Yerusalem (kerajaan Yahudza) dan menghancurkan kuil Sulaiman, serta menumpas habis bangsa Yahudi. Dengan demikian, wujud bangsa Yahudi di Palestina hanya berlangsung selama kurang lebih 415 tahun.
 
Berdasarkan fakta sejarah, kepemilikan bangsa Arab terhadap Palestina sudah berlangsung sejak 6.000 tahun lalu. Dibangun Arab Yabus empat ribu tahun sebelum Masehi, atau 2100 tahun sebelum datang Nabi Ibrahim, dan 2.700 tahun sebelum kedatangan Nabi Musa yang membawa ajaran Taurat yang menjadi sumber ajaran Yahudi. 


Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Al-Qur'an (184) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (48) Cerita kegagalan (1) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (6) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) Kecerdasan (219) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) Kisah Para Nabi dan Rasul (198) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) Nabi Adam (1) Nabi Ibrahim (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Musa (1) Nabi Nuh (3) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (1) Namrudz (2) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) Nusantara (209) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (136) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rehat (403) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (142) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah Penguasa (189) Sirah Sahabat (113) Sirah Tabiin (42) Sirah Ulama (88) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)