basmalah Pictures, Images and Photos
08/04/26 - Our Islamic Story

Choose your Language

Mari Mengambil Bekal dari Al-Qur'an Dari manakah seorang dai memperoleh bekal untuk menempuh jalan dakwah? Apakah cukup dengan ilmu, pen...

Mari Mengambil Bekal dari Al-Qur'an

Dari manakah seorang dai memperoleh bekal untuk menempuh jalan dakwah?

Apakah cukup dengan ilmu, pengalaman, atau banyaknya aktivitas?

Semakin lama merenungkan pertanyaan ini, semakin saya merasa bahwa diri ini belum pantas berbicara tentang bekal keimanan, ketakwaan, hidayah, dan cahaya. Sebab, bekal seperti itu tidak semata-mata lahir dari pengalaman atau pengetahuan manusia. Bekal itu merupakan karunia dari Allah, Dzat Yang Maha Pemberi.

Allah berfirman,

«"Allah menentukan rahmat-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah mempunyai karunia yang besar."
(QS. Ali 'Imran: 74)»

Keimanan adalah anugerah-Nya. Hidayah adalah pemberian-Nya. Cahaya dan rahmat juga berasal dari-Nya. Karena itu, selama Allah terus melimpahkan karunia-Nya, tidak ada alasan bagi seorang hamba untuk berputus asa.

Allah juga mengingatkan,

«"Mereka merasa telah memberi nikmat kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah, 'Janganlah kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan keislamanmu. Sebenarnya Allah-lah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjuki kamu kepada keimanan, jika kamu orang-orang yang benar.'"
(QS. Al-Hujurat: 17)»

Demikian pula firman-Nya,

«"Apa saja rahmat yang Allah anugerahkan kepada manusia, maka tidak ada seorang pun yang dapat menahannya. Dan apa saja yang Dia tahan, maka tidak ada seorang pun yang mampu melepaskannya sesudah itu. Dialah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana."
(QS. Fathir: 2)»

Bukankah seluruh kebaikan bersumber dari Allah?

Namun, dengan kasih sayang-Nya, Allah tidak hanya memberikan karunia, tetapi juga menunjukkan jalan-jalan untuk meraihnya. Dia mengajarkan sebab-sebab yang dapat ditempuh agar seorang hamba memperoleh bekal dari-Nya.

Lalu, apakah sebab yang paling utama?

Yang paling utama bukanlah banyaknya amal, melainkan keadaan hati ketika menghadap Allah. Seorang hamba berdiri di hadapan Rabbnya dengan penuh ketundukan, memohon pertolongan, mengakui kelemahannya, berharap rahmat-Nya, takut kepada-Nya, dan menyerahkan seluruh urusannya kepada-Nya.

Di situlah letak pangkal segala bekal.

Semakin tulus ketundukan seorang hamba, semakin besar pula karunia yang Allah limpahkan kepadanya. Adapun berbagai amal dan sarana lainnya hanyalah jalan yang mengantarkan kepada karunia tersebut.

Karena itulah saya merasa takut ketika hendak menulis tentang masalah ini. Saya khawatir mengarahkan orang lain pada sesuatu yang diri saya sendiri masih sangat membutuhkan bimbingan di dalamnya.

Namun, di sisi lain, saya juga merasakan betapa pentingnya bekal ini bagi setiap orang yang berjalan di jalan dakwah. Oleh sebab itu, dengan memohon pertolongan Allah, saya memberanikan diri menuliskan beberapa renungan yang mudah-mudahan dapat menjadi panduan bagi diri sendiri maupun bagi siapa saja yang menempuh jalan ini.

Bekal Itu Harus Terus Diperbarui

Apakah bekal iman akan tetap kuat dengan sendirinya?

Tentu tidak.

Sebagaimana bekal perjalanan dapat berkurang bahkan habis, demikian pula bekal keimanan. Ia dapat bertambah, dapat melemah, bahkan dapat hilang apabila tidak dijaga.

Karena itu, setiap Muslim harus terus memperbarui, menambah, dan memelihara bekalnya. Kabar baiknya, Allah telah memudahkan berbagai sebab untuk melakukannya pada setiap waktu.

Al-Qur'an: Mata Air Bekal yang Tidak Pernah Kering

Lalu, apakah sumber bekal yang paling utama?

Jawabannya adalah Al-Qur'an.

Kitab Allah merupakan sumber bekal yang paling agung, paling mudah dijangkau, dan paling banyak melimpahkan keberkahan. Ia bagaikan mata air yang tidak pernah kering. Siapa pun yang datang kepadanya dengan hati yang terbuka akan selalu memperoleh bekal baru.

Bahkan, Al-Qur'an tidak hanya menjadi sumber bekal, tetapi juga mengajarkan bagaimana memanfaatkan berbagai sarana lain untuk semakin mendekat kepada Allah.

Di dalamnya terdapat cahaya, petunjuk, rahmat, nasihat, dan peringatan.

Al-Qur'an mengajarkan bahwa membacanya merupakan salah satu sarana terbesar untuk memperkuat iman dan takwa. Ia menanamkan tauhid yang melahirkan ketenteraman dan rasa aman dalam jiwa. Ia mengajak manusia memperbanyak ibadah yang terus memperbarui ketakwaan.

Lebih dari itu, Al-Qur'an mengarahkan manusia untuk merenungkan ciptaan-ciptaan Allah. Dari perenungan itu lahirlah pengenalan kepada sifat-sifat-Nya. Semakin seseorang mengenal Allah, semakin tumbuh rasa pengagungan, pemuliaan, dan penyucian kepada-Nya. Bukankah itulah bekal iman yang paling berharga?

Di dalam Al-Qur'an juga terdapat kisah para nabi dan umat-umat terdahulu. Kisah-kisah itu bukan sekadar cerita sejarah, melainkan pelajaran yang menambah pengalaman, kebijaksanaan, dan keteguhan bagi setiap penempuh jalan dakwah.

Al-Qur'an pun memerintahkan kita untuk menaati dan meneladani Rasulullah ï·º, sebaik-baik pembimbing dalam perjalanan menuju Allah.

Selain itu, Al-Qur'an dipenuhi ajakan kepada segala bentuk kebajikan, larangan dari berbagai kemungkaran, peringatan tentang hari kebangkitan, hisab, dan pembalasan, serta kabar gembira tentang surga dan peringatan tentang neraka.

Karena itu, dapat dikatakan bahwa seluruh kebutuhan manusia untuk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat terdapat di dalam Al-Qur'an. Ia menjaga manusia dari kesengsaraan, membangun akidah yang kokoh, serta menumbuhkan seluruh potensi kebaikan dalam dirinya.

Allah berfirman,

«"Sesungguhnya Al-Qur'an ini memberi petunjuk kepada jalan yang paling lurus."
(QS. Al-Isra': 9)»

«"Al-Qur'an ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk, dan rahmat bagi orang-orang yang meyakini."
(QS. Al-Jatsiyah: 20)»

«"(Al-Qur'an) ini adalah penerangan bagi manusia, petunjuk, dan pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa."
(QS. Ali 'Imran: 138)»

«"Dan Kami turunkan dari Al-Qur'an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman."
(QS. Al-Isra': 82)»

«"Wahai manusia, sungguh telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada di dalam dada, petunjuk, dan rahmat bagi orang-orang yang beriman."
(QS. Yunus: 57)»

«"Sungguh telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan Kitab yang menerangkan. Dengan Kitab itulah Allah memberi petunjuk kepada orang-orang yang mengikuti keridaan-Nya ke jalan keselamatan, mengeluarkan mereka dari berbagai kegelapan menuju cahaya dengan izin-Nya, serta menunjukkan mereka ke jalan yang lurus."
(QS. Al-Ma'idah: 15–16)»

Maka, jika bekal perjalanan menuju Allah harus terus diperbarui, mengapa mencari sumber yang lain, sementara Allah telah menyediakan Al-Qur'an sebagai mata air yang tidak pernah kering? Siapa yang menjadikan Al-Qur'an sebagai sahabat perjalanannya, niscaya ia akan selalu menemukan cahaya ketika jalan mulai gelap, kekuatan ketika hati mulai lemah, dan harapan ketika langkah terasa berat.

Ketika Semangat Pembaruan Melahirkan Persoalan Baru Bagaimana seharusnya seorang pemikir menghadapi penyimpangan zamannya? Haruskah ia melaw...


Ketika Semangat Pembaruan Melahirkan Persoalan Baru

Bagaimana seharusnya seorang pemikir menghadapi penyimpangan zamannya?

Haruskah ia melawannya dengan menggunakan kerangka berpikir yang justru lahir dari peradaban yang sedang dikritiknya?

Pertanyaan inilah yang muncul ketika kita menelaah pemikiran Muhammad Iqbal.

Iqbal hidup di tengah dua arus besar yang sama-sama memengaruhi zamannya.

Di dunia Timur, ia menyaksikan umat Islam terjebak dalam pemikiran yang, menurutnya, kehilangan semangat hidup. Gagasan tentang peleburan diri membuat manusia seolah kehilangan kepribadiannya, sementara pandangan yang terlalu pasif menjadikan manusia tampak tidak memiliki peran nyata dalam membangun kehidupan di bumi.

Bukankah Islam justru mengajarkan manusia untuk menjadi khalifah yang aktif, bertanggung jawab, dan berkarya?

Di sisi lain, Iqbal juga berhadapan dengan dunia Barat yang sedang dikuasai positivisme dan empirisme. Aliran-aliran ini menganggap pengalaman indrawi sebagai ukuran utama pengetahuan. Pada saat yang sama, ia menghadapi gagasan Friedrich Nietzsche yang mengumumkan "kematian Tuhan" dan mengagungkan lahirnya manusia super. Dalam pandangan penulis, gagasan tersebut merupakan bentuk penyimpangan pemikiran yang jauh dari petunjuk wahyu.

Menghadapi dua arus itu, apa yang ingin dilakukan Iqbal?

Ia ingin menghidupkan kembali manusia Muslim. Ia menolak sikap pasif, fatalistis, dan pandangan yang menghilangkan tanggung jawab manusia. Ia ingin menegaskan bahwa manusia memiliki kepribadian, kehendak, dan peranan yang nyata dalam kehidupan.

Tujuan ini tentu sangat mulia.

Namun, muncul pertanyaan berikutnya.

Apakah semangat memperkuat peran manusia kemudian mendorongnya melampaui batas-batas konsep Islam sendiri?

Menurut penulis, di sinilah persoalannya.

Dalam upaya menegaskan kelangsungan dan keutuhan kepribadian manusia, Iqbal sampai menakwilkan sejumlah nash Al-Qur'an dengan cara yang dianggap tidak sejalan dengan makna lahiriahnya maupun dengan keseluruhan konsep Islam. Ia berpendapat bahwa pengalaman pertumbuhan manusia tetap berlangsung setelah kematian, bahkan sesudah kehidupan surga dan neraka.

Padahal, bukankah konsep Islam menjelaskan bahwa dunia adalah tempat ujian dan amal, sedangkan akhirat merupakan tempat hisab dan pembalasan?

Sesudah keputusan Allah ditetapkan, tidak ada lagi kesempatan untuk memulai amal baru sebagaimana ketika manusia hidup di dunia.

Mengapa Iqbal sampai pada kesimpulan tersebut?

Penulis melihat bahwa hal itu lahir dari keinginannya yang sangat besar untuk menegaskan keberlangsungan eksistensi manusia, atau apa yang disebutnya sebagai ego atau "aku", istilah yang dipengaruhi oleh filsafat Hegel.

Persoalan serupa juga tampak dalam penggunaan istilah "pengalaman".

Dalam tradisi filsafat Barat, pengalaman (experience) umumnya dibatasi pada pengalaman empiris yang dapat ditangkap oleh pancaindra. Bahkan, istilah itu sejak awal digunakan untuk menolak sumber pengetahuan yang tidak bersandar pada pengamatan indrawi.

Namun, Iqbal memperluas makna istilah tersebut hingga mencakup pengalaman spiritual seorang mukmin.

Apakah perluasan makna itu sepenuhnya berhasil?

Menurut penulis, justru di sinilah muncul kesulitan. Ketika istilah yang lahir dari tradisi intelektual Barat dipaksa memuat pengalaman ruhani yang menjadi ciri khas Islam, makna aslinya menjadi kabur. Akibatnya, lahirlah penjelasan yang dipandang kontroversial dan kurang mencerminkan karakter asli konsep Islam.

Padahal, sebagai seorang penyair, Iqbal dikenal memiliki daya ungkap yang sangat hidup, dinamis, dan menginspirasi.

Karena itu, kritik terhadap sebagian gagasannya tidak berarti mengabaikan jasa besarnya.

Penulis justru memberikan penghargaan yang tinggi kepada Muhammad Abduh, para muridnya, maupun Muhammad Iqbal. Mereka telah menghidupkan kembali semangat berpikir umat Islam pada masa kemunduran. Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada mereka.

Lalu, apa pelajaran yang dapat diambil?

Bahwa semangat meluruskan satu penyimpangan terkadang dapat melahirkan penyimpangan baru apabila tidak selalu berpijak pada konsep Islam secara utuh.

Oleh sebab itu, metode yang dianggap lebih tepat adalah memulai dari hakikat konsep Islam itu sendiri. Konsep tersebut dipahami secara menyeluruh, seimbang, dan harmonis sesuai wataknya sendiri, bukan dibentuk oleh kerangka berpikir yang berasal dari luar dirinya.

Pada akhirnya, buku ini bukanlah sebuah karya filsafat, bukan pula risalah teologi spekulatif ataupun metafisika.

Lalu, apakah tujuan utamanya?

Tujuannya adalah berbicara kepada realitas kehidupan.

Islam datang untuk membebaskan manusia dari kebingungan yang menguasai cara berpikir dan cara hidup mereka. Ia datang untuk mengeluarkan manusia dari kerancuan menuju keyakinan, dari kekacauan menuju keteraturan, serta dari sistem buatan manusia menuju sistem yang bersumber dari petunjuk Allah.

Namun, tidakkah keadaan manusia hari ini kembali memperlihatkan gejala yang sama?

Kebingungan pemikiran, pertentangan nilai, dan krisis arah hidup kembali menjadi wajah peradaban modern. Bahkan, umat Islam yang dahulu memimpin manusia dengan petunjuk wahyu kini justru banyak mengikuti arah peradaban yang sedang diliputi berbagai bentuk kebingungan itu.

Karena itulah, kebutuhan terhadap penjelasan yang utuh mengenai konsep Islam menjadi semakin mendesak.

Buku ini merupakan ikhtiar untuk menjelaskan karakteristik-konsep Islam beserta fondasi-fondasinya. Dari konsep inilah lahir sistem kehidupan, pandangan tentang ilmu, aktivitas berpikir, seni, dan seluruh aspek kehidupan yang dikehendaki Allah.

Setiap pembahasan tentang pemikiran maupun sistem Islam semestinya berangkat dari fondasi ini.

Sebab, kebutuhan terhadap konsep Islam yang jernih bukan hanya kebutuhan intelektual. Ia adalah kebutuhan akal dan hati, kebutuhan kehidupan nyata, serta kebutuhan umat Islam dan seluruh umat manusia.

Bagian ini menjadi langkah awal untuk memahami karakteristik konsep Islam. Pembahasan berikutnya akan menguraikan sendi-sendi yang menjadi fondasinya.

Semoga Allah senantiasa melimpahkan taufik, petunjuk, dan pertolongan-Nya.

 Mengapa Manusia Membutuhkan Akidah? "Maka apakah orang yang berjalan terjungkal di atas mukanya itu lebih mendapat petunjuk, ataukah...

 Mengapa Manusia Membutuhkan Akidah?

"Maka apakah orang yang berjalan terjungkal di atas mukanya itu lebih mendapat petunjuk, ataukah orang yang berjalan tegap di atas jalan yang lurus?"
(QS. Al-Mulk [67]: 22)

Mengapa Islam hadir ke tengah sejarah manusia?

Apakah sekadar untuk menambah satu agama di antara agama-agama yang telah ada? Ataukah ia datang membawa sesuatu yang jauh lebih mendasar?

Bayangkan keadaan dunia ketika Islam pertama kali hadir.

Di berbagai penjuru bumi, manusia hidup di tengah tumpang tindih keyakinan. Kebenaran bercampur dengan kebatilan, wahyu bercampur dengan mitos, agama bercampur dengan khurafat, dan filsafat bercampur dengan berbagai spekulasi. Pemikiran, tradisi, adat, bahkan sistem kehidupan saling bertabrakan tanpa pijakan yang pasti.

Di tengah kerancuan seperti itu, hati manusia kehilangan arah. Mereka meraba-raba dalam kegelapan, mencari kepastian tetapi hanya menemukan dugaan demi dugaan.

Lalu, apa akibatnya?

Ketika keyakinan menjadi kabur, kehidupan pun kehilangan keseimbangan. Kezaliman, kerusakan, kehinaan, dan penderitaan menjadi bagian dari realitas manusia. Kehidupan tidak lagi berjalan sesuai martabat yang Allah anugerahkan kepada manusia.

Mengapa semua itu bisa terjadi?

Karena kerancuan dalam akidah tidak pernah berhenti pada wilayah keyakinan. Ia selalu menjalar ke seluruh aspek kehidupan.

Ketika manusia tidak lagi mengenal siapa Tuhannya, ia pun kehilangan pemahaman tentang dirinya sendiri. Ia tidak lagi mengetahui untuk apa ia diciptakan, bagaimana seharusnya ia hidup, apa tujuan keberadaannya, dan bagaimana hubungan yang benar antara dirinya, alam semesta, dan Sang Pencipta.

Bukankah semua pertanyaan besar itu menentukan arah kehidupan manusia?

Selama hati belum memperoleh kepastian tentang Tuhan, manusia tidak akan pernah benar-benar mantap memahami alam semesta, dirinya sendiri, maupun tujuan hidupnya. Tanpa keyakinan yang benar, kehidupan akan terus diliputi kegelisahan, sekalipun ilmu pengetahuan dan kemajuan materi berkembang pesat.

Sebagian pemikir Barat beranggapan bahwa kekacauan seperti itu hanyalah ciri masyarakat pada Abad Pertengahan yang didominasi pemikiran keagamaan.

Benarkah demikian?

Tulisan ini memandang bahwa penyebabnya jauh lebih mendasar. Ada dua hakikat yang selalu melekat pada kehidupan manusia, kapan pun dan di mana pun ia hidup.

Pertama, manusia secara fitrah membutuhkan akidah.

Mengapa?

Karena manusia tidak mungkin hidup sebagai makhluk yang merasa terlempar sendirian di tengah alam semesta yang begitu luas. Ia membutuhkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan paling mendasar: dari mana ia berasal, mengapa ia ada, kepada siapa ia bergantung, dan ke mana akhirnya ia akan kembali.

Akidah menjawab seluruh pertanyaan itu.

Akidah memberikan makna terhadap alam semesta sekaligus menjelaskan kedudukan manusia di dalamnya. Karena itulah kebutuhan terhadap akidah bukanlah hasil budaya tertentu ataupun produk suatu zaman. Ia merupakan kebutuhan fitrah yang senantiasa melekat pada manusia.

Jika fitrah ini tidak dipenuhi dengan kebenaran, apa yang akan terjadi?

Manusia akan mencari jawaban sendiri. Namun, jawaban itu sering kali lahir dari dugaan, mitos, hawa nafsu, atau spekulasi. Di sinilah kebingungan dan kesesatan mulai tumbuh.

Kedua, sistem kehidupan selalu lahir dari akidah yang dianut.

Adakah sistem sosial yang benar-benar netral?

Sulit dibayangkan demikian.

Setiap sistem kehidupan berangkat dari cara pandang tertentu tentang manusia, alam semesta, tujuan hidup, dan sumber nilai. Dengan kata lain, sistem sosial merupakan pancaran dari konsep akidah yang mendasarinya.

Karena itu, apabila fondasi akidahnya keliru, sistem yang dibangun di atasnya pun akan mengalami penyimpangan. Mungkin sistem itu tampak berhasil untuk sementara waktu, tetapi pada akhirnya ia akan berbenturan dengan fitrah manusia sendiri dan melahirkan berbagai bentuk kerusakan.

Inilah hukum yang berlaku sepanjang sejarah.

Karena itulah para rasul diutus.

Sejak Nabi Nuh hingga Nabi Isa, mereka datang membawa misi yang sama: memperkenalkan manusia kepada Allah dengan benar, menjelaskan kedudukan manusia di alam semesta, serta menunjukkan tujuan hidup yang sesungguhnya.

Namun, mengapa penyimpangan terus berulang?

Karena sepanjang sejarah, berbagai kepentingan politik, hawa nafsu, kekuasaan, dan kelemahan manusia berkali-kali menutupi cahaya wahyu. Sedikit demi sedikit, ajaran para nabi dicampuri penafsiran manusia, kepentingan duniawi, mitos, dan tradisi yang menyimpang. Akibatnya, kebenaran kembali tertutup oleh kabut yang tebal.

Bukankah kondisi seperti ini memerlukan petunjuk yang baru dan lebih sempurna?

Di sinilah Islam hadir.

Risalah yang dibawa Nabi Muhammad ï·º datang bukan sekadar memperbaiki sebagian penyimpangan, melainkan membersihkan seluruh kabut yang menyelimuti akidah manusia. Islam mengembalikan konsep ketuhanan kepada kemurniannya, meluruskan pandangan tentang manusia dan alam semesta, serta meletakkan kembali kehidupan di atas fondasi yang kokoh.

Sebagaimana firman Allah:

"Orang-orang kafir dari Ahli Kitab dan orang-orang musyrik tidak akan meninggalkan (agama mereka) sampai datang kepada mereka bukti yang nyata, yaitu seorang rasul dari Allah yang membacakan lembaran-lembaran yang disucikan."
(QS. Al-Bayyinah [98]: 1–2)

Lalu, mengapa penting memahami semua latar belakang ini?

Karena seseorang tidak akan benar-benar menyadari besarnya nikmat risalah Islam sebelum ia mengetahui betapa dalamnya kegelapan yang pernah menyelimuti manusia.

Semakin jelas terlihat tumpukan kerancuan akidah, filsafat, mitos, tradisi, dan berbagai penyimpangan yang pernah memenuhi sejarah manusia, semakin tampak pula keagungan Islam sebagai risalah yang datang untuk mengembalikan manusia kepada kebenaran yang murni.

Oleh sebab itu, pembahasan ini tidak bertujuan menguraikan satu per satu seluruh penyimpangan yang pernah muncul dalam sejarah manusia. Tujuan utamanya adalah menghadirkan konsep Islam itu sendiri sebagaimana dipaparkan Al-Qur'an: utuh, jernih, seimbang, dan menjadi cahaya yang membimbing manusia keluar dari kerancuan menuju keyakinan.



Menempatkan Akal pada Posisinya? Masih ada alasan lain mengapa pembahasan ini tidak dimulai dari kritik terhadap berbagai penyimpangan yang ...

Menempatkan Akal pada Posisinya?

Masih ada alasan lain mengapa pembahasan ini tidak dimulai dari kritik terhadap berbagai penyimpangan yang terjadi dalam pemikiran Islam.

Mengapa?

Karena apabila seluruh perhatian diarahkan kepada satu penyimpangan tertentu, lambat laun penyimpangan itulah yang justru menjadi pusat pembahasan. Seluruh tenaga akhirnya dihabiskan untuk membantahnya, sementara hakikat konsep Islam itu sendiri justru terlupakan.

Bukankah yang lebih penting adalah mengenal kebenaran sebelum membantah kesalahan?

Oleh sebab itu, pembahasan ini berusaha terlebih dahulu menampilkan konsep Islam sebagaimana dibawa oleh Al-Qur'an secara utuh, menyeluruh, seimbang, dan harmonis. Keharmonisannya bagaikan keteraturan alam semesta dan keserasian fitrah manusia. Jika fondasi ini telah kokoh, berbagai penyimpangan akan lebih mudah dikenali tanpa harus menjadi titik tolak pembahasan.

Mengapa pendekatan ini dipilih?

Karena sejarah menunjukkan bahwa terlalu sibuk membantah satu penyimpangan sering kali melahirkan penyimpangan baru. Semangat meluruskan kesalahan lama justru dapat menggeser keseimbangan ajaran Islam ke arah yang berlawanan. Akibatnya, penyimpangan hanya berganti bentuk, bukan benar-benar hilang.

Bukankah penyimpangan tetaplah penyimpangan, ke mana pun arahnya?

Fenomena seperti ini dapat ditemukan dalam berbagai karya yang ditulis untuk membela Islam dari serangan orientalis, kaum ateis, maupun kritik-kritik yang muncul pada masa tertentu. Niat para penulisnya tentu baik, tetapi semangat apologetik terkadang membuat sebagian konsep Islam dijelaskan secara tidak utuh.

Salah satu contohnya adalah tuduhan bahwa Islam merupakan "agama pedang" yang disebarkan melalui kekerasan.

Bagaimana sebagian kaum Muslim menjawab tuduhan itu?

Sebagian berusaha membela Islam dengan mempersempit makna jihad. Jihad kemudian dipahami hampir semata-mata sebagai pembelaan diri dalam arti yang sangat terbatas. Berbagai dimensi jihad yang diajarkan Islam pun cenderung diabaikan karena dianggap akan memperkuat tuduhan lawan.

Padahal, apakah memang demikian konsep jihad dalam Islam?

Islam memang tidak membenarkan pemaksaan akidah. Al-Qur'an dengan tegas menyatakan bahwa tidak ada paksaan dalam memeluk agama. Namun, pada saat yang sama, Islam juga mengajarkan pentingnya menegakkan tatanan kehidupan yang adil sehingga manusia dapat menjalankan keyakinannya secara bebas dan aman.

Menegakkan sistem yang menjamin keadilan, keamanan, kebebasan berdakwah, dan kebebasan beragama tentu memerlukan kekuasaan yang adil, hukum yang benar, serta kemampuan melindungi masyarakat dari pihak-pihak yang ingin menghancurkan kebebasan tersebut. Dalam kerangka inilah jihad memiliki kedudukan yang lebih luas daripada sekadar pembelaan diri dalam pengertian yang sempit.

Di sinilah tampak bahayanya semangat membela diri yang berlebihan. Karena ingin menolak satu tuduhan, sebagian orang justru mengurangi keluasan makna salah satu ajaran Islam sendiri.

Contoh lain dapat ditemukan pada sebagian gagasan pembaruan pemikiran Islam, khususnya yang dikembangkan oleh Syaikh Muhammad Abduh dan, dalam sisi tertentu, oleh Muhammad Iqbal.

Mengapa hal ini terjadi?

Karena setiap pemikir hidup dalam konteks zamannya.

Muhammad Abduh menghadapi masyarakat Muslim yang mengalami kebekuan berpikir. Pintu ijtihad dianggap tertutup, akal kurang dihargai, tradisi taklid begitu kuat, sementara berbagai bentuk khurafat berkembang luas. Pada saat yang sama, Eropa sedang mengalami kebangkitan ilmu pengetahuan dan rasionalisme yang menempatkan akal hampir sebagai otoritas tertinggi. Serangan orientalis terhadap Islam pun semakin gencar.

Dalam situasi seperti itu, Muhammad Abduh berusaha menghidupkan kembali peranan akal, memberantas taklid, dan menunjukkan bahwa Islam bukan agama yang mematikan kreativitas manusia.

Tujuan itu sangat mulia.

Namun, muncul pertanyaan penting.

Apakah dalam melawan sikap yang meremehkan akal, kedudukan akal kemudian ditempatkan terlalu tinggi?

Dalam beberapa pandangannya, akal tidak lagi diposisikan sekadar sebagai sarana memahami wahyu, tetapi seolah-olah menjadi pasangan yang sejajar dengannya. Bahkan muncul kecenderungan bahwa apabila terjadi pertentangan antara pemahaman akal dan makna lahiriah nash, maka nash perlu ditakwil agar sesuai dengan akal.

Di sinilah letak persoalannya.

Benarkah akal manusia memiliki kemampuan yang mutlak?

Bukankah akal selalu dipengaruhi oleh ruang, waktu, pengalaman, hawa nafsu, serta keterbatasan manusia sendiri? Tidak ada "akal universal" yang benar-benar bebas dari seluruh keterbatasan tersebut. Yang ada hanyalah akal saya, akal Anda, dan akal setiap manusia dengan segala kelebihan serta kekurangannya.

Karena itu, apabila setiap nash harus disesuaikan dengan berbagai pemahaman akal yang berbeda-beda, bukankah hasil akhirnya adalah kekacauan penafsiran?

Muhammad Abduh pernah menyatakan dalam Risalah at-Tauhid bahwa wahyu merupakan rahmat Allah dan akal juga merupakan rahmat Allah; karena itu keduanya tidak mungkin saling bertentangan.

Pernyataan ini pada dasarnya benar.

Namun, apakah benar keduanya berada pada kedudukan yang sama?

Di sinilah diperlukan pembedaan yang jelas. Wahyu dan akal memang saling selaras, tetapi wahyu tetap menjadi rujukan utama, sedangkan akal berfungsi memahami, menghayati, serta mengambil pelajaran darinya. Akal tidak diciptakan untuk mengadili wahyu, melainkan untuk menerima petunjuk wahyu sesuai batas kemampuannya.

Ketika hubungan ini dibalik, berbagai persoalan mulai muncul. Kecenderungan tersebut dapat ditemukan dalam beberapa karya tafsir yang dipengaruhi pendekatan rasional, seperti sebagian penafsiran Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, maupun Al-Maraghi, yang dalam sejumlah pembahasannya menekankan perlunya mentakwil nash agar sesuai dengan penalaran akal.

Di sinilah tampak bagaimana keinginan meluruskan satu penyimpangan dapat melahirkan penyimpangan lain.

Lalu, bagaimana seharusnya hubungan akal dan wahyu ditempatkan?

Akal memiliki kedudukan yang sangat mulia dalam Islam. Ia merupakan sarana memahami ayat-ayat Allah, menggali hikmah, dan berijtihad dalam wilayah yang memang terbuka bagi ijtihad. Akan tetapi, ketika wahyu telah memberikan ketetapan yang jelas, maka wahyulah yang menjadi keputusan terakhir.

Menerima otoritas wahyu sama sekali bukan berarti mematikan akal. Justru akal bekerja secara maksimal untuk memahami wahyu, lalu bersikap tunduk pada perkara-perkara yang memang berada di luar jangkauannya.

Dengan menempatkan masing-masing pada kedudukannya, keseimbangan tetap terjaga. Akal tidak diremehkan, tetapi juga tidak diangkat melebihi batasnya. Wahyu tetap menjadi cahaya penuntun, sedangkan akal menjadi alat yang menerangi jalan manusia dalam memahami cahaya tersebut.

Inilah metode yang hendak ditempuh dalam pembahasan ini: membangun konsep Islam dari fondasinya yang utuh, bukan dari bayang-bayang penyimpangan yang silih berganti.

Mengapa Konsep Islam Tidak Tepat Dijelaskan dengan Pola Filsafat? Mengapa ketika menjelaskan konsep-konsep Islam kita tidak menggunakan pola...

Mengapa Konsep Islam Tidak Tepat Dijelaskan dengan Pola Filsafat?

Mengapa ketika menjelaskan konsep-konsep Islam kita tidak menggunakan pola filsafat?

Jawabannya sederhana, tetapi mendasar. Sebab, cara menyampaikan sebuah gagasan tidak pernah benar-benar netral. Bentuk penyampaian dapat memengaruhi isi yang disampaikan. Bahkan, sebuah konsep dapat kehilangan watak aslinya ketika dipaksa masuk ke dalam kerangka yang lahir dari tradisi pemikiran yang berbeda.

Karena itulah, konsep-konsep Islam tidak semestinya dijelaskan dengan pola filsafat. Siapa pun yang menghayati hakikat konsep-konsep Islam sebagaimana dipaparkan dalam Al-Qur'an akan menyadari bahwa keduanya berangkat dari cara pandang yang tidak sama.

Dalam konteks ini, kita juga tidak sependapat dengan upaya Muhammad Iqbal yang berusaha menuangkan konsep-konsep Islam ke dalam kerangka filsafat yang dipinjam dari Hegel—tokoh rasionalisme-idealisme—dan Auguste Comte—pelopor positivisme. Bukan karena keduanya tidak memiliki nilai intelektual, melainkan karena kerangka berpikir mereka tidak lahir dari sumber dan watak yang sama dengan akidah Islam.

Lalu, apa sebenarnya perbedaan yang paling mendasar?

Akidah Islam berbicara kepada manusia secara utuh. Ia tidak hanya menyentuh akal, tetapi juga hati, jiwa, fitrah, perasaan, dan seluruh potensi kemanusiaan. Di dalamnya terdapat irama, sentuhan, inspirasi, serta daya hidup yang membangkitkan manusia. Tidak semua makna akidah dapat diringkus oleh rangkaian definisi atau rumusan bahasa.

Sebaliknya, filsafat cenderung berusaha membatasi hakikat ke dalam konsep-konsep dan ungkapan yang presisi. Padahal, hakikat-hakikat yang dibicarakan akidah jauh lebih luas daripada kemampuan bahasa untuk mengungkapkannya dan lebih besar daripada jangkauan akal manusia untuk menguasainya sepenuhnya.

Bukankah di sinilah letak persoalannya?

Ketika sesuatu yang melampaui batas nalar dipaksa masuk ke dalam batas-batas definisi filosofis, yang terjadi justru penyempitan makna. Akibatnya, pembahasan menjadi rumit, kering, dan kehilangan daya sentuhnya.

Karena itu, sepanjang sejarah manusia, filsafat tidak pernah memberikan pengaruh yang sebanding dengan akidah dalam menggerakkan kehidupan. Akidah mampu mengubah manusia, membangun peradaban, menggerakkan pengorbanan, dan memberi harapan, bahkan ketika manusia berada dalam kesesatan zaman dan gelapnya jalan kehidupan.

Maka, bukankah akidah seharusnya dijelaskan dengan caranya sendiri?

Akidah harus disampaikan dengan teknik yang sesuai dengan wataknya. Memaksanya menggunakan teknik filsafat justru berisiko memadamkan daya hidup, inspirasi, dan pengaruhnya. Yang tersisa hanyalah pembahasan intelektual yang menyentuh akal, sementara dimensi-dimensi lain dalam diri manusia tidak lagi tersentuh.

Itulah sebabnya berbagai upaya menjelaskan akidah melalui pola yang asing bagi wataknya sering kali melahirkan keruwetan, kekurangan, bahkan penyimpangan. Bukan karena akidahnya yang bermasalah, melainkan karena wadah yang digunakan tidak mampu memuat keluasan hakikatnya.

Dari sinilah muncul sebuah kesimpulan.

Kita tidak memerlukan apa yang disebut sebagai "filsafat Islam" jika yang dimaksud adalah menjadikan filsafat sebagai kerangka utama dalam menjelaskan ajaran Islam. Kita juga tidak memandang perlu menjadikannya sebagai pola baku dalam pemikiran Islam.

Sikap ini sama sekali tidak mengurangi kemuliaan Islam ataupun menghambat perkembangan pemikiran Islam. Sebaliknya, justru dengan mempertahankan cara penjelasannya sendiri, Islam akan tetap tampil dalam keaslian, kemurnian, dan keistimewaannya sebagaimana diturunkan dalam Al-Qur'an.

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adam (5) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Al-Baqarah (1) Al-Qur'an (362) Al-Qur’an (55) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) An-Nadwi (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bahaya Kemunduran Umat Islam (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (53) Cerita kegagalan (1) cerpen Nabi (8) cerpen Nabi Musa (2) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) dakwah (12) Dakwah (10) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) english (6) English (6) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fiqh (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (7) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) hikmah (1) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) Islam (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) kecerdasan (20) Kecerdasan (331) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Hadist (4) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) kisah para nabi dan (2) kisah para nabi dan rasul (56) kisah para Nabi dan Rasul (1) Kisah para nabi dan rasul (107) Kisah Para Nabi dan Rasul (577) kisah para nabi dan rasul. Nabi Daud (1) kisah para nabi dan rasul. nabi Musa (2) Kisah Penguasa (1) Kisah ulama (1) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) nabi adam (1) Nabi Adam (75) nabi Adam. Adam (1) Nabi Ayub (1) Nabi Daud (3) Nabi Ibrahim (3) Nabi Isa (2) nabi Isa. nabi ismail (1) Nabi Ismail (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Khidir (1) Nabi Musa (29) Nabi Nuh (6) Nabi Sulaiman (2) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (15) Namrudz (2) Nasrulloh Baksolahar (1) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) nusantara (7) Nusantara (282) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (695) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rasulullah shalallahu alaihi wassalam (1) Rehat (493) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) Sahabat (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) Salimul Aqidah (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Serah Nabawiyah (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (309) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah penguasa (11) Sirah Penguasa (248) sirah Sahabat (2) Sirah Sahabat (171) Sirah Tabiin (43) Sirah ulama (36) Sirah Ulama (158) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tamim Ad Dari (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Wakaf (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)