Mari Mengambil Bekal dari Al-Qur'an Dari manakah seorang dai memperoleh bekal untuk menempuh jalan dakwah? Apakah cukup dengan ilmu, pen...
Mari Mengambil Bekal dari Al-Qur'an
Ketika Semangat Pembaruan Melahirkan Persoalan Baru Bagaimana seharusnya seorang pemikir menghadapi penyimpangan zamannya? Haruskah ia melaw...
Ketika Semangat Pembaruan Melahirkan Persoalan Baru
Mengapa Manusia Membutuhkan Akidah? "Maka apakah orang yang berjalan terjungkal di atas mukanya itu lebih mendapat petunjuk, ataukah...
Mengapa Manusia Membutuhkan Akidah?
Mengapa Manusia Membutuhkan Akidah?
"Maka apakah orang yang berjalan terjungkal di atas mukanya itu lebih mendapat petunjuk, ataukah orang yang berjalan tegap di atas jalan yang lurus?"
(QS. Al-Mulk [67]: 22)
Mengapa Islam hadir ke tengah sejarah manusia?
Apakah sekadar untuk menambah satu agama di antara agama-agama yang telah ada? Ataukah ia datang membawa sesuatu yang jauh lebih mendasar?
Bayangkan keadaan dunia ketika Islam pertama kali hadir.
Di berbagai penjuru bumi, manusia hidup di tengah tumpang tindih keyakinan. Kebenaran bercampur dengan kebatilan, wahyu bercampur dengan mitos, agama bercampur dengan khurafat, dan filsafat bercampur dengan berbagai spekulasi. Pemikiran, tradisi, adat, bahkan sistem kehidupan saling bertabrakan tanpa pijakan yang pasti.
Di tengah kerancuan seperti itu, hati manusia kehilangan arah. Mereka meraba-raba dalam kegelapan, mencari kepastian tetapi hanya menemukan dugaan demi dugaan.
Lalu, apa akibatnya?
Ketika keyakinan menjadi kabur, kehidupan pun kehilangan keseimbangan. Kezaliman, kerusakan, kehinaan, dan penderitaan menjadi bagian dari realitas manusia. Kehidupan tidak lagi berjalan sesuai martabat yang Allah anugerahkan kepada manusia.
Mengapa semua itu bisa terjadi?
Karena kerancuan dalam akidah tidak pernah berhenti pada wilayah keyakinan. Ia selalu menjalar ke seluruh aspek kehidupan.
Ketika manusia tidak lagi mengenal siapa Tuhannya, ia pun kehilangan pemahaman tentang dirinya sendiri. Ia tidak lagi mengetahui untuk apa ia diciptakan, bagaimana seharusnya ia hidup, apa tujuan keberadaannya, dan bagaimana hubungan yang benar antara dirinya, alam semesta, dan Sang Pencipta.
Bukankah semua pertanyaan besar itu menentukan arah kehidupan manusia?
Selama hati belum memperoleh kepastian tentang Tuhan, manusia tidak akan pernah benar-benar mantap memahami alam semesta, dirinya sendiri, maupun tujuan hidupnya. Tanpa keyakinan yang benar, kehidupan akan terus diliputi kegelisahan, sekalipun ilmu pengetahuan dan kemajuan materi berkembang pesat.
Sebagian pemikir Barat beranggapan bahwa kekacauan seperti itu hanyalah ciri masyarakat pada Abad Pertengahan yang didominasi pemikiran keagamaan.
Benarkah demikian?
Tulisan ini memandang bahwa penyebabnya jauh lebih mendasar. Ada dua hakikat yang selalu melekat pada kehidupan manusia, kapan pun dan di mana pun ia hidup.
Pertama, manusia secara fitrah membutuhkan akidah.
Mengapa?
Karena manusia tidak mungkin hidup sebagai makhluk yang merasa terlempar sendirian di tengah alam semesta yang begitu luas. Ia membutuhkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan paling mendasar: dari mana ia berasal, mengapa ia ada, kepada siapa ia bergantung, dan ke mana akhirnya ia akan kembali.
Akidah menjawab seluruh pertanyaan itu.
Akidah memberikan makna terhadap alam semesta sekaligus menjelaskan kedudukan manusia di dalamnya. Karena itulah kebutuhan terhadap akidah bukanlah hasil budaya tertentu ataupun produk suatu zaman. Ia merupakan kebutuhan fitrah yang senantiasa melekat pada manusia.
Jika fitrah ini tidak dipenuhi dengan kebenaran, apa yang akan terjadi?
Manusia akan mencari jawaban sendiri. Namun, jawaban itu sering kali lahir dari dugaan, mitos, hawa nafsu, atau spekulasi. Di sinilah kebingungan dan kesesatan mulai tumbuh.
Kedua, sistem kehidupan selalu lahir dari akidah yang dianut.
Adakah sistem sosial yang benar-benar netral?
Sulit dibayangkan demikian.
Setiap sistem kehidupan berangkat dari cara pandang tertentu tentang manusia, alam semesta, tujuan hidup, dan sumber nilai. Dengan kata lain, sistem sosial merupakan pancaran dari konsep akidah yang mendasarinya.
Karena itu, apabila fondasi akidahnya keliru, sistem yang dibangun di atasnya pun akan mengalami penyimpangan. Mungkin sistem itu tampak berhasil untuk sementara waktu, tetapi pada akhirnya ia akan berbenturan dengan fitrah manusia sendiri dan melahirkan berbagai bentuk kerusakan.
Inilah hukum yang berlaku sepanjang sejarah.
Karena itulah para rasul diutus.
Sejak Nabi Nuh hingga Nabi Isa, mereka datang membawa misi yang sama: memperkenalkan manusia kepada Allah dengan benar, menjelaskan kedudukan manusia di alam semesta, serta menunjukkan tujuan hidup yang sesungguhnya.
Namun, mengapa penyimpangan terus berulang?
Karena sepanjang sejarah, berbagai kepentingan politik, hawa nafsu, kekuasaan, dan kelemahan manusia berkali-kali menutupi cahaya wahyu. Sedikit demi sedikit, ajaran para nabi dicampuri penafsiran manusia, kepentingan duniawi, mitos, dan tradisi yang menyimpang. Akibatnya, kebenaran kembali tertutup oleh kabut yang tebal.
Bukankah kondisi seperti ini memerlukan petunjuk yang baru dan lebih sempurna?
Di sinilah Islam hadir.
Risalah yang dibawa Nabi Muhammad ï·º datang bukan sekadar memperbaiki sebagian penyimpangan, melainkan membersihkan seluruh kabut yang menyelimuti akidah manusia. Islam mengembalikan konsep ketuhanan kepada kemurniannya, meluruskan pandangan tentang manusia dan alam semesta, serta meletakkan kembali kehidupan di atas fondasi yang kokoh.
Sebagaimana firman Allah:
"Orang-orang kafir dari Ahli Kitab dan orang-orang musyrik tidak akan meninggalkan (agama mereka) sampai datang kepada mereka bukti yang nyata, yaitu seorang rasul dari Allah yang membacakan lembaran-lembaran yang disucikan."
(QS. Al-Bayyinah [98]: 1–2)
Lalu, mengapa penting memahami semua latar belakang ini?
Karena seseorang tidak akan benar-benar menyadari besarnya nikmat risalah Islam sebelum ia mengetahui betapa dalamnya kegelapan yang pernah menyelimuti manusia.
Semakin jelas terlihat tumpukan kerancuan akidah, filsafat, mitos, tradisi, dan berbagai penyimpangan yang pernah memenuhi sejarah manusia, semakin tampak pula keagungan Islam sebagai risalah yang datang untuk mengembalikan manusia kepada kebenaran yang murni.
Oleh sebab itu, pembahasan ini tidak bertujuan menguraikan satu per satu seluruh penyimpangan yang pernah muncul dalam sejarah manusia. Tujuan utamanya adalah menghadirkan konsep Islam itu sendiri sebagaimana dipaparkan Al-Qur'an: utuh, jernih, seimbang, dan menjadi cahaya yang membimbing manusia keluar dari kerancuan menuju keyakinan.
Menempatkan Akal pada Posisinya? Masih ada alasan lain mengapa pembahasan ini tidak dimulai dari kritik terhadap berbagai penyimpangan yang ...
Menempatkan Akal pada Posisinya?
Mengapa Konsep Islam Tidak Tepat Dijelaskan dengan Pola Filsafat? Mengapa ketika menjelaskan konsep-konsep Islam kita tidak menggunakan pola...
Mengapa Konsep Islam Tidak Tepat Dijelaskan dengan Pola Filsafat?
Paling Banyak Dibaca
-
Bukan Muslim, Tapi Rakyatnya Minta Dinaungi Kekhalifahan Islam
-
Risalah Al-Matsurat Hasan Al Banna dan Syeikh Hasan Asy-Syadzali
-
Kisah Generasi Salaf yang Isi Hari-Harinya dengan Bertani
-
Saad bin Abi Waqqash, Aktor Interaksi Awal Islam dan Tiongkok
-
Kilas Balik Sejarah, Bisakah Palestina Dihapus dari Peta Dunia?
-
Pengaruh Islam dalam Penamaan Pulau di Nusantara
-
Manuskrip Nusantara Beraksara Arab Melayu di Eropa, Bukti Tingginya Peradaban Islam dan Kemakmurannya
Cari Artikel Ketik Lalu Enter
Artikel Lainnya
- ► 2021 (1014)
- ► 2022 (604)
- ► 2023 (330)
- ► 2024 (825)
- ► 2025 (821)
Link Kami
Beberapa Link Kami yang Aktif