basmalah Pictures, Images and Photos
07/17/21 - Our Islamic Story

Choose your Language

Maulana Ishaq, Ahli Epidemiologinya Walisanga Oleh: Nasrulloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Tim Walisanga memiliki ...

Maulana Ishaq, Ahli Epidemiologinya Walisanga

Oleh: Nasrulloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)

Tim Walisanga memiliki keahlian yang mencengangkan, dari ahli irigasi, industri kreatif hingga tata negara. Maulana Ishaq memiliki keahlian unik sebagai dokter dan ahli epidemiologi. Saat Blambangan diserang wabah, Sunan Ampel memerintahkannya untuk menghentikan wabah tersebut.

Entah apa penyakit yang sedang melanda Kadipaten Blambangan. Namun dalam beberapa prasasti dan naskah Kuna telah disebutkan  bahwa pada masa lampau, penyakit atau wikara di Jawa antara lain adalah, bubuhen/wudunen, buletin/katarak, humbelen/flu, buduk/lepra/kusta, uleren/cacingan, beser, mengi/asma, Lampung/penyakit kulit, tidur/koma, dan sebagainya.

Wabah penyakit yang menyerang warga Blambangan telah berbulan-bulan lamanya. Penyakit tersebut telah banyak menyebabkan orang meninggal dunia, hampir setiap hari ada orang yang meninggal, penyakit tersebut dikenal sebagi penyakit yang ganas, sampai-sampai jika seseorang terkena penyakit ini pada pagi hari, maka malam akan meninggal, begitu sebaliknya.

Syekh Maulana Ishaq melakukan riset dengan berkeliling ke desa-desa dan memperhatikan keadaan lingkungan dan kebiasaan masyarakat. Dia paham bahwa masyarakat Blambangan masih kurang memperhatikan kebersihan diri dan lingkungan sehingga di daerah mereka dapat muncul wabah penyakit semacam itu.

Masyarakat Jawa pada waktu itu masih banyak yang mengkonsumsi kalong (kaluwang), kera (wrai), dan lain-lain. Bahkan orang Jawa juga mengkonsumsi cacing, katak, dan tikus yang menurut Negarakertagama, binatang-binatang itu adalah pantangan yang apabila dikonsumsi hanya akan menyebabkan kehinaan.

Selain daripada itu, memang binatang-binatang tersebut adalah pembawa bakteri atau virus yang diantaranya mungkin menjadi sebab penyakit meningitis, penyakit yang penderitanya bisa tak sadarkan diri dalam waktu yang lama seperti gejala yang ditampakkan pada putri  adipat Blambangan.

Setelah memperhatikan keadaan Blambangan, Syaikh Maulana Ishaq paham bahwa masyarakat masih kurang memperhatikan kebersihan diri dan lingkungan sehingga muncul wabah penyakit semacam itu.

Syaikh Maulana Ishaq menyampaikan pada Adipati Blambangan, bahwa Islam yang dia anut sangat memperhatikan kebersihan. Sebelum beribadah diharuskan mensucikan diri dengan air. Membasuh wajah, tangan, dan kaki. Setidaknya itu dilakukan lima kali dalam sehari. Selain itu, setiap hari seluruh rakyat Blambangan akan semakin sehat jika dihimbau untuk rutin mandi, untuk menjaga kesucian diri agar terus bersih dan sehat.

Wabah penyakit juga melanda istana, puteri raja sendiri yang bernama Dewi Sekardadu sakit parah. Syekh Maulana Ishaq bersedia mengobatinya dengan syarat, Prabu Menak Sembuyu memperbolehkan dakwah Islam di Blambangan. Prabu pun menyetujuinya, Maulana Ishaq mengobati Dewi Sekardadu. Sang dewi pun sembuh.

Namun sang Prabu mengingkari janjinya. Maulana Ishaq diusir dari Kerajaan Blambangan. Beliau pun  pindah ke Pasai. Sejak kepergiannya, wabah penyakit pun kembali menerjang Blambangan.

Padahal selama di Blambangan, masyarakat begitu tertarik dengan keberadaannya. Akhlaknya mulia, badannya yang selalu bersih dan harum, dekat dengan masyarakat bawah dan tidak membeda-bedakan status sosial, serta masyarakat yang datang berobat tidak pernah dimintai upah, bahkan malah terlihat sering diberikan bekal untuk perjalanan pulang.


Sumber:
1. https://www.google.com/amp/s/daerah.sindonews.com/beritaamp/1197615/29/kisah-karomah-syekh-maulana-ishaq
2. https://islamtoday.id/ulas-nusa/20200121103724-5871/dakwah-ayahanda-sunan-giri-syaikh-maulana-ishaq/
3.
https://www.viva.co.id/amp/berita/nasional/619245-seri-walisanga-kisah-desa-yang-dikutuk-wabah-penyakit?page=all&utm_medium=all-page
4.
https://belambangan.com/artikel/detail/syekh-maulana-ishaq-dan-wabah-di-blambangan

Revolusi di Tengah Wabah Oleh: Nasrulloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Berita kematian, membuat depresi atau rileks...

Revolusi di Tengah Wabah

Oleh: Nasrulloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)


Berita kematian, membuat depresi atau rileks? Mencekam atau tentram? Bertaubat dan mengharapkan rahmat Allah atau stress?

Pasukan mukminin mencari syahid. Bukankah kematian di saat wabah juga kesyahidan?

Syahid berperang setelah menggunakan senjata, perisai, baju besi dan strategi. Menghadapi wabah dengan sarana yang bisa menyelamatkannya.

Yahudi dan Nasrani menganggap jadi manusia pilihan Allah. Lalu Al-Qur'an menantangnya agar meminta kematian sekarang. Mereka ketakutan. Itulah kita hari ini.

Wabah saran meraih kesyahidan. Seperti para Sahabat yang berlomba menuju medan perang karena rindu kesyahidan.

Bila wabah menimbulkan ketakutan, seperti Yahudi dan Munafikin yang ketakutan dan lari saat menghadapi pertempuran.

Saat wabah melanda, bersyukur. Allah telah memberikan waktu untuk bertaubat dan mengharap rahmat-Nya.

Saat wabah melanda, Muadz bin Jabal mengatakan inilah jalan para Nabi dan orang pilihan. Bila kematian terasa dekat, itulah penyelamatan  Allah dari kelalaian.

Wabah melanda untuk menyembuhkan penyakit kronis Muslimin yaitu Cinta Dunia dan Takut Mati.

Wabah melanda untuk mengobati penyakit hati, hawa nafsu dan meluruskan tujuan hidup muslimin.

Wabah ini seperti madrasah Ramadhan. Yang membersihkan penyakit aqidah dan jiwa. Setelah itu, kebangkitan baru.

Andai tidak ada letusan Krakatau. Tak ada perlawanan rakyat Banten terhadap Belanda di 1880 M. Wabah merevolusi untuk amar makruf nahi munkar.

Yang paling banyak selamat dari wabah seharusnya muslimin. Seperti dalam semua peperangan. Yang paling banyak tumbang adalah Kafirin.

Kerinduan akan pertemuan dengan Allah dan Rasulullah saw menciptakan ketentraman dan menjauhkannya dari wabah, bukan obat-obatan.

Bila pun wafat, karena Allah dan Rasulullah saw rindu bertemu dengannya, seperti kematian Utsman bin Affan. Bukan karena kurangnya fasilitas kesehatan.

Dizalimi Penguasa, Begini Cara Revolusinya (Dikutip dari Buku Islam, Revolusi dan Ideologi karangan Buya Hamka) Selalu berulang,...

Dizalimi Penguasa, Begini Cara Revolusinya

(Dikutip dari Buku Islam, Revolusi dan Ideologi karangan Buya Hamka)

Selalu berulang, golongan yang diberi Allah kelebihan dibandingkan  saudaranya sesama manusia memegang kekuasaan di dalam negrinya. Setelah telapaknya teguh dalam memegang kekuasaan itu, dia melakukan kezaliman dan kesewenang-wenangan di atas bumi Allah. Dia menghimpit, menindas sesama manusia, dan menumpahkan darah. Kemudian, berusahalah golongan yang tertindas melepaskan diri dari himpitan itu.

Usaha melepaskan diri kadang-kadang memakan tempo yang lama, berpuluh-puluh tahun. Mulanya, penindasan itu diterima saja dengan sabar oleh penduduk, dipandang sebagai sebuah takdir atau adzab Allah yang tidak dapat dielakan. Sebab penindasan itu tiada tertahan lagi, timbullah manusia berani yang menyatakan pikirannya, lalu mencela tiap-tiap perbuatan yang tiada adil atau hendak meminta perubahan baru.

Karena itu, sangatlah murka pihak penguasa kepadanya. Dia dituduh hendak mengembangkan kekuasaan, hendak mengacau aturan yang telah lazim, dan hendak  mengubah adat lama pusaka usang. Bukan saja pihak penguasa yang marah kepadanya, rakyat yang  hendak dilepaskan dari belenggu, menuduhnya pula sebagai pengacau atau pengganggu keamanan. 

Kadang-kadang pengubah itu dibunuh oleh bangsanya sendiri atau lari dari tempat tinggalnya karena tiada tahan cela dan maki. Kadang-kadang pula difitnahkan "perkakas bangsa asing", menerima uang suap, bahkan teman-temannya sendiri pun menuduhnya pengecut jika dia bersikap kendor, atau diktator jika dia keras, atau disuruh mundur jika dilihat kekuatan lawan.

Akan tetapi, pikiran yang telah dikeluarkan oleh orang pertama itu tidak dapat ditahan lagi. Di dalam masyarakat mulai tumbuh, kian lama kian subur walaupun bagaimana pun halangan menghambatnya. Pekerjaan orang pertama belumlah sempurna, nanti akan datang pula orang kedua menambah dan memupuk pikiran itu. Mulai goyang batu sendi susunan lama. Datang pula orang ketiga, keempat, kelima, dan seterusnya, tambah menambah sehingga akhirnya menjadi pendirian yang teguh di dalam masyarakat. Akhirnya tibalah aksi serentak.

Tak ubahnya denga air mengalir dari puncak bukit, lalu terhambat pada suatu tempat oleh suatu empangan. Mana air yang dahulu datang, berhenti dahulu di depan empangan itu, menunggu temannya dan mengumpulkan kekuatan serentak. Setelah genap bilangan, ditekannyalah bersama-sama empangan itu, yang di depan mendesak empangan, yang dibelakang tak mau mundur lagi, terus pula mendesak kepada temannya yang di depan.

Dengan demikian, di dalam sorak-sorai yang gegap gempita, empangan tadi jatuh hancur, atau tersingkir ke tepi, atau terbawa arus. Pagi hari besoknya kelihatanlah yang lama telah rompak, banyak batang dan pohon tumbang. Kadangkala ada orang yang turut hanyut, tidak bersua bangkainya lagi. Mulai hari besoknya lagi, dimulailah menyusun dan membangun yang baru. Usaha melepaskan diri sampai berhasil menumbangkan satu kekuasaan yang menindas, dinamakan revolusi.


Belanda, Tak Pernah Totalitas Menjajah Nusantara? Oleh: Nasrulloh Baksolahar Indonesia dijajah selama 350 tahun, benarkah? Wilay...

Belanda, Tak Pernah Totalitas Menjajah Nusantara?
Oleh: Nasrulloh Baksolahar


Indonesia dijajah selama 350 tahun, benarkah? Wilayah Nusantara sangat luas menyebar. Apakah Belanda mampu menaklukkannya secara serentak? Setiap daerah terdapat kesultanan, apakah mereka berdiam diri? Padahal ruh jihad dan perang sabil terus bergelora di hati setiap anak bangsa. Bisa jadi Belanda hanya bisa menguasai perkotaan saja tetapi belum mampu menembus pedesaan yang terpencil.

Kesultanan Mataram terpecah menjadi dua karena kekalahannya dengan Belanda, yaitu Surakarta dan Jogyakarta, dengan perjanjian Giyanti pada tahun 1755. Apakah dianggap sudah terjajah? Buktinya para keturunan sultan, bangsawan dan rakyat mampu mengobarkan perang Jawa selama 5 tahun 1825-1830. Ini bertanda bahwa Belanda belum mampu mengontrol Jawa secara keseluruhan.

Batavia berdiri pada 12 Maret 1619 setelah kesultanan Banten  yang dipimpin oleh Sultan Ageng Tritayasa dikalahkan. Namun pada tahun 1888, rakyat Banten melakukan perlawanan kepada Belanda. Para pemimpinnya adalah jebolan Haji dari Mekkah yang dididik langsung oleh Syeikh Nawawi Al Bantani di Mekkah. Syeikh Yusuf Al Makasari terus mengobarkan semangat kemerdekaan dari pengasingannya dengan menemui jamaah haji dari Nusantara. Syekh Yusuf merupakan mufti kesultanan Banten. Budak terjajah sebenarnya tidak pernah ada.

Bagaimana dengan Bali-Lombok? Belanda baru bisa memenangkan pertempuran di tahun 1894. Sumatera Barat, Sumatera Utara dan Riau baru dikuasai setelah Belanda memenangkan perang Padri 1803-1838. Belanda baru bisa mengalahkan kesultanan Aceh pada tahun 1904. Namun perlawanan rakyat Aceh secara sporadis terus bergema hingga tahun 1942.

Di Kalimantan Selatan dan Tengah, Kesultanan Banjar terus melakukan perlawanan yang luar biasa. Pangeran Antasari menjadi salah satu pemimpin perlawanan. Peperangan ini disebut Perang Banjar yang berlangsung dari 1859-1905. Kesultanan yang paling terakhir dikuasai Belanda adalah Kesultanan Jambi. Kesultanan Jambi melawan Belanda dipimpin oleh Sultan Thaha Syaifuddin yang mengobarkan perang Raja Batu yang berakhir 1925. Menurut ahli sejarah, Jambi merupakan daerah yang paling pendek dijajah Belanda.

Darimana mengukur lamanya penjajahan Belanda di Indonesia? Mungkin 350 tahun dihitung sejak kedatangan Belanda ke Sunda Kelapa atau berdirinya Batavia pada 12 Maret 1619 sebagai kantor VOC? Bila dihitung perlawanan kesultanan Islam terakhir di Indonesia yaitu Kesultanan Jambi, maka totalitas penguasaan Belanda terhadap Nusantara pada tahun 1925. Bila dihitung hengkangnya Belanda pada tahun 1942 oleh Jepang. Berarti penjajahan Belanda terhadap Nusantara hanya 17 tahun saja?

Seorang ustadz menyebut bahwa Nusantara sangat unik. Suku Indian habis di Amerika. Suku Aborigin habis di Australia. Di sejumlah negara di benua Afrika terjadi perbudakan dan peralihan agama secara massif. Bahasa resminya pun ada yang berubah. Namun di Nusantara tidak ada perubahan sedikitpun. Inilah modal besar untuk maju.

Walapun kesulitannya kalah pada 1904, hanya Aceh yang rakyatnya terus melakukan perlawanan hingga hengkangnya Belanda dari Nusantara karena kalah oleh Jepang. Atau jadi Belanda belum totalitas menjajah Nusantara? 

Memutus Nusantara Dengan Mekkah dan Kairo (3 habis) Oleh: Nasrulloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Aceh dan Demak ad...

Memutus Nusantara Dengan Mekkah dan Kairo (3 habis)

Oleh: Nasrulloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)


Aceh dan Demak ada keunikannya. Aceh terfokus kerjasama Nusantara dengan dunia Internasional. Demak terfokus islamisasi internal Nusantara.

Aceh menjalin kerjasama dengan Turki Utsmani dan Makkah untuk mengamankan jalur pelayaran Nusantara-Timur Tengah.

Turki Utsmani mengirim tim dakwah Walisanga untuk Islamisasi Nusantara dengan pusatnya di Jawa hingga berdirinya Demak.

Kehadiran Aceh dan Demak. Pembagian peran Aceh dan Demak di Nusantara. Suatu kebetulan? Atau didesain?

Gagal kuasai perdagangan dunia timur melalui Malaka. Portugis menjadi bajak laut di Samudera Hindia. Kapal niaga dan jamaah haji Nusantara  dirampok.

Aceh membuat solusinya. Kapal-kapal Aceh jadi berbendera Turki Utsmani dan kerjasama militer dalam pelatihan dan peralatan tempur.

Demak bersolusi. Melalui kiprah Sunan Giri, terbentuk jaringan keilmuan, perdagangan dan kekuasaan di Nusantara. Merintis di abad 15, berbuah di abad 17-18.

Saat Portugis datang ke Sunda Kelapa, sudah ada kesultanan Cirebon. Saat Belanda tiba, sudah ada kesultanan Mataram dan Banten. Ini buah dari Demak.

Saat penjajah ingin menguasai Nusantara, di semua pusat perdagangan, telah terbentuk pusat ilmu dan kekuasaan. Inilah buah dari jatuhnya Malaka.

Untuk menguasai Nusantara, penjajah butuh waktu 350 tahun. Adakah bangsa sehebat Nusantara?

Penjajah tak bisa memotong jalur Nusantara-Makkah-Kairo, karena hati umat Islam selalu mencintainya. Inilah kekuatan Nusantara yang sesungguhnya.

Semua obsesi penjajahan dan kezaliman di dunia ini, akhirnya harus berhadapan dengan umat Islam. Itulah takdir yang tersurat di Lauhul Mahfudz.

Memutus Nusantara Dengan Makkah dan Kairo (Bagian 2) Oleh: Nasrulloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Malaka secara ge...

Memutus Nusantara Dengan Makkah dan Kairo
(Bagian 2)

Oleh: Nasrulloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)


Malaka secara geografis sangat strategis menjadi pusat perdagangan, pelabuhan dan berkumpulnya banyak saudagar dan ulama dari belahan Timur dunia.

Menguasai Malaka berarti menguasai dunia timur? Itu yang dipikirkan Portugis. Padahal Saudagarnya tidak  diikatan oleh orientasi perdagangan, tetapi aqidah.

Portugis menjajah  Malaka, transaksi perdagangannya dan cukainya langsung anjlok. Tak ada yang mau berdagang dengan Portugis. Saudagarnya pindah ke Pasai.

Tiba-tiba Pasai menjadi sangat ramai sekali. Portugis segera menjajah Pasai. Saat Pasai dijajah, Pasai pun menjadi sepi kembali. Saudagarnya pindah ke Aceh.

Ikatan Aqidah membentuk pusat perdagangan, keilmuan dan kekuasaan. Bukan soal untung rugi. Karena bisnis realisasi dari aqidah.

Strategi berubah, dahulu saudagar, ulama dan murid berkumpul di Malaka atau Pasai. Sekarang menyebar ke seluruh pelabuhan. Nusantara makin berkembang pesat.

Tersebar pusat  perdagangan, keilmuan dan kekuasaan baru diseluruh Nusantara. Portugis gigit jari. Disangka yang meramaikan Malaka soal uang padahal aqidah.

Portugis pun menjadi  bajak laut di Samudera Hindia. Merampas kapal-kapal yang berasal dari Nusantara yang menuju ke Timur Tengah dan Mesir.

Jamaah Haji pun tidak berhenti di Pasai dan Malaka, dari Aceh langsung ke Srilanka- Makkah. Portugis gagal memutus Nusantara dengan Makkah dan Kairo.

Apa penyebab Demak dan Aceh  menyerang Portugis di Malaka? Padahal bukan daerah kekuasaannya. Inilah ikatan kebangsaan yang berlandaskan aqidah.

Inilah revolusi wawasan kebangsaan yang terjadi pada kerajaan di Nusantara sejak kehadiran Islam. Dari ikatan daerah kekuasaan kepada aqidah.

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Al-Qur'an (184) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (48) Cerita kegagalan (1) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (6) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) Kecerdasan (219) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) Kisah Para Nabi dan Rasul (198) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) Nabi Adam (1) Nabi Ibrahim (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Musa (1) Nabi Nuh (3) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (1) Namrudz (2) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) Nusantara (209) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (136) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rehat (403) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (142) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah Penguasa (189) Sirah Sahabat (113) Sirah Tabiin (42) Sirah Ulama (88) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)