basmalah Pictures, Images and Photos
Our Islamic Story: Kecerdasan

Postingan Popular Pekan ini

Tampilkan postingan dengan label Kecerdasan. Tampilkan semua postingan

Tujuan Akal yang Paling Mulia adalah Mengenal Allah Prof. Huizinga, seorang Filosof bangsa Belanda yang disalinkan oleh Dr. M. A...

Tujuan Akal yang Paling Mulia adalah Mengenal Allah



Prof. Huizinga, seorang Filosof bangsa Belanda yang disalinkan oleh Dr. M. Amir di dalam pidatonya di "Taman Kemajuan" di Medan pada malam tanggal 13/14 Februari 1940,

"Tiap-tiap peradaban hendaklah mengacu kepada tiga perkara: 

Pertama, dapat mempersatukan di antara benda yang lahir dengan jiwa.

Kedua, hendaklah mempunyai tujuan yang mulia, yaitu akhirat. 

Ketiga, hendaklah mengalahkan alam. Suatu peradaban yang tidak menuju ke akhirat, lebih baik dimusnahkan saja".

Kita dahulukan ini karena kita setuju dengan kehendak agama Islam. Benar, agama Islam agama yang mengagungkan akal, melebihkan dan meletakannya paling atas, tetapi kalau akal itu tidak mempunyai tujuan yang sejati betapa jadinya?

Apa guna ilmu banyak, akal cerdas, kalau sekiranya ujung perhentian tidak tiba pada ingat akan Tuhan?

Di dalam pelajaran Agama Islam, mempergunakan akal, menaklukkan alam, menyelidiki segala perkara, bukanlah tujuannya untuk perkara itu saja, tetapi supaya ingat di balik perkara yang terlihat itu ada kuasa yang gaib.

Di balik hidup yang sekarang ada lagi suatu kehidupan yang lebih kekal. Di dalam Al-Qur'an tujuan itu dinyatakan, yaitu, "Percaya pada Allah dan dengan hari Kemudian".

Tujuan akal yang paling mulia, tujuan akal yang sejati, tujuan perjuangan kita di dalam hidup ini ialah ma'rifatullah, kenal pada Tuhan, mengerjakan perintah-Nya dengan taat, menahan diri dari memaksiati-Nya.

Oleh Rasulullah telah ditegaskan perjuangan akal itu demikian,

الْعَقْلُ ثَلَاثَةُ أَجْزَاءٍ : جُزْءٌ مَعْرِفَةُ اللَّهِ وَجُزْءٌ طَاعَةُ اللَّهِ وَجُزْءٌ الصَّبْرُ عَنْ مَعْصِيَةِ الله

"Akal itu terbagi kepada tiga bahagian, sebahagian untuk mengenal Allah, sebahagian untuk taat kepada Allah, dan sebahagian lagi untuk sabar (dapat menahan hati) dari pada maksiat pada Allah".

Dan sabda beliau pula,

الْإِيْمَانُ عُرْيَانٌ وَلِبَاسُهُ التَّقْوَى وَزِينَتُهُ الْحَيَاءُ وَمَالُهُ الْعِفَّةُ وَتَرَتُهُ العِلْمُ

"Iman itu masih bertelanjang, pakaiannya ialah taqwa, perhiasannya ialah malu, hartanya ialah 'iffah), buahnya ialah Elmu".

Maka pusat atau sentral daripada ma'rifat Allah itu ialah di alam diri sendiri. Yaitu perasaan kelemahan diri di hadapan matu kekuasaan gaib yang mengatur dan mentadbirkan alam ini, bahwa saya ini merupakan satu di antara makhluk (yang dijadikan) oleh Khaliq (yang menjadikan). 

Menurut penyelidikan ahli filsafat, sebelum ada agama apa pun, tegasnya sebelum sampai suatu seruan kepada diri orang berakal, telah timbul kata-kata di dalam jiwanya sendiri, bahwa memang ada Khaliq yang Mahakuasa yang menjadikan alam ini.

Melihat kebesaran alam timbullah perasaan bahwa ada yang lebih besar dari padanya. Perasaan itulah yang bernama: Fitrah

Tetapi kalau ilmu belum ada, fitrah suci yang baru tumbuh itu, lantaran pengaruh lingkungan, dapat juga tersasar kepada yang lain. Tak ubahnya fitrah itu dengan kaca plat gambar yang masih bersih, tetapi menjadi kotor setelah disinggung dan bercampur dengan yang lain-lain.

Orang-orang biadab yang masih belum tinggi pengetahuannya dan belum sampai kepadanya seruan agama yang dibawa oleh nabi-nabi, takluk kepada hukum kekuasaan Yang Mahakuasa itu sekadar kecerdasan akalnya pula. "Sebab kalau ilmu dan pengalaman belum ada, tentu obat dipenuhi oleh khayal".

Itulah sebab di antara mereka ada yang menyembah kayu besar karena terpengaruh oleh suasana seram di bawah kayu besar itu; ada yang menyembah matahari karena terpengaruh oleh cahayanya; atau yang menyembah bulan, karena terpengaruh oleh lemah lembutnya, dan lain-lain. 

Kedatangan agama adalah menuntun dan membawa akal tadi ke seberang jauh, terlepas dari pada barang lahir yang asalnya "Adam", artinya tidak ada, kemudian ada dan akhirnya akan lenyap pula.

Tarikh agama hanya sekali jalan, wujudnya hanya satu, dan datangnya dari tempat yang satu. Pertalian yang teguh di antara Yang Mahakuasa, yang Menciptakan alam seluruhnya, dengan alam itu sendiri, menghendaki tuntutan yang pasti di dalam peri kehidupan. 

Jika sekiranya bintang-bintang dan seluruh planet yang memenuhi angkasa ini melalui satu garis yang telah ditentukan, yang bernama "garis kekuatan tarik menarik"; jika hukum kehidupan di alam, mempunyai aturan "kekal yang kuat, hilang yang lemah" sehingga tiap-tiap pergantian dan perputaran alam menghendaki penduduk yang baru, dan penduduk dunia 10.000 tahun yang lalu berlainan halnya dengan penduduk dunia di zaman ini, karena telah berlainan pula hawa udara dunia; jika bentuk orangnya yang tinggal di kutub berlainan dengan yang tinggal di khatulistiwa, yang semuanya itu menjalani aturannya, maka sudah nyata bahwa segala agama yang diturunkan Allah sejak manusia cerdas, yaitu 8.000 tahun yang lalu itu, melalui aturannya pula.

Itulah maka di dalam Islam ada iktikad bahwa agama hanya satu, yaitu agama "menyerahkan diri kepada Allah dan mengakui kebesaran-Nya, Allah yang kekal dan tiada akan lenyap, Allah yang tunggal dan tiada berserikat". Sifat agama itu telah tersimpul di dalam namanya di bahasa Arab yaitu: ISLAM.


Pada abad kedua puluh ini bertemulah kembali tujuan ilmu yang diusahakan oleh orang Barat dengan yang dikehendaki Islam. Yaitu d...


Pada abad kedua puluh ini bertemulah kembali tujuan ilmu yang diusahakan oleh orang Barat dengan yang dikehendaki Islam. Yaitu disuruh orang memajukan ilmu yang berhubung dengan maslahat kemanusiaan dan mempertinggi derajatnya.

Hendaklah ilmu itu sama maju dengan kemanusiaan. Jangan ilmu maju, kemanusiaan mundur. Adapun ilmu yang merusak yang diukur dengan nafsu, ilmu yang tiada berperasaan, yang merugikan, yang menimbulkan saling membunuh dan saling membenci, tidak-lah dikehendaki oleh Islam dan tidak pula dikehendaki oleh akal budi yang waras.

Ilmu bukanlah agak agak, kira-kira, dan turut-turutan. Ilmu yang demikian tidak ada harganya di dalam Islam.

Demikian juga syara' mengajak dan memperingatkan supaya segala masalah ilmu itu dipahamkan, tidak semata-mata dihafal.

Nabi bersabda,

كُونُوا لِلْعِلْمِ رُعَاةً وَلَا تَكُوْنُوْا لَهُ رُوَاةً

"Hendaklah kamu menjadi pemahamkan ilmu, jangan hanya jadi perawi ilmu".

Artinya jangan hanya pandai mengabarkan, menceritakan, mempidatokan, padahal tiada paham apa maksudnya.

Laksana seorang muballigh yang naik mimbar menyeru orang banyak dan memperingatkan hendaklah mereka datang ke dunia ini sebagai orang yang berdagang atau sebagai orang yang singgah, jangan dipandang dunia itu tempat yang akan dihuni selama-lamanya.

Yang diterangkannya itu ialah ilmu yang dihafalnya dari pada hadis. Kelak setelah dia turun dari mimbar itu, ditanyai orang apakah maksud hidup dan apa arti hidup, dia tidak dapat memberikan jawaban yang memuaskan, sebab perhatiannya tidak sampai ke sana, walaupun isi pidatonya tadi itulah yang mesti dijawabkannya.

Apa sebabnya? lalah karena pidatonya itu barang yang dihafalnya, bukan barang yang dipahamkannya!

Suatu ilmu tidaklah lekat di dalam hati dan jiwa, tidaklah akan terpasang kepada diri kalau tidak diamalkan, dibiasakan, dan dicobakan. Dengan percobaan dan pembiasaan itu dia bertambah teguh, tetap, dan kekal, membawa terbuka pula beberapa ilmu yang lain yang lebih dalam, lebih lezat, dan lebih menarik hati.

Seorang tukang batu yang telah bekerja selama 20 tahun dengan sungguh-sungguh, lebih dipercayai daripada seorang anak sekolah teknik yang baru pulang membawa diploma. 

Sebab ijazah seorang yang telah bekerja 20 tahun itu ialah bekas-bekas tangannya, bukan segulung kertas! Benarlah kata Nabi,

مَنْ عَمِلَ بِمَا عَلِمَ أَوْرَثَهُ اللَّهُ عِلْمَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

"Siapa saja yang mengamalkan perkara yang diketahuinya akan diwariskan Allah kepadanya pengetahuan pada perkara perkara yang belum diketahuinya".

Ali bin Abi Thalib berkata, "Segala keranjang penuh lantaran diisi, cuma keranjang ilmu yang bila diisi meminta tambah".

Yang dibenci oleh Syara' ialah ulama canggung, yang setengah matang. Sebagai seorang yang bukan apoteker mencoba mencampur obat, disangkanya akan jadi obat, kiranya jadi racun. Ulama begini bernama "Ulama 'us su".

Yaitu yang menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal. Atau diambilnya ilmu untuk menjadi jerat, sehingga orang yang termasuk ke dalam tiada harapan akan ke luar lagi. Atau digunakannya ilmu untuk memutus-mutus tali kasih sayang, atau diambilnya ilmu menjadi kuda-kuda pencapai kemegahan dan mencari nama. Ilmu begini, lantaran terletak pada batin yang rusak, tentulah akan menghasilkan kerusakan pula. Oleh sebab itu maka sebelum suatu ilmu dituntut, janganlah dilupakan ke mana tujuannya.

Ilmu dan Akal Agama Islam amat menghormati akal. Karena tidak akan tercapai ilmu kalau tidak ada akal. Sebab itu Islam adalah ag...

Ilmu dan Akal

Agama Islam amat menghormati akal. Karena tidak akan tercapai ilmu kalau tidak ada akal. Sebab itu Islam adalah agama ilmu dan akal.

Sebelum Islam mengajak pemeluknya mencapai segala keperluan yang berhubungan dengan dunia, lebih dahulu diajak supaya mempergunakan segenap upaya bagi membersihkan akal; dalam paham, jitu pikiran, dan jauh pandangan.

Diketahui laba rugi suatu pekerjaan sebelum masuk kepadanya, ditelungkup ditelentangkan. Berjalan menghadap surut, berkata sepatah dipikirkan. Berlayar menghadang pulau, berjalan menghadang batas. Kaki teracung inai obatnya, mulut terlanjur emas dendanya. 

Sehingga segala pekerjaan yang dikerjakan membuahkan kebenaran, keadilan, berfaedah, dan timbul rasa wajib. Disuruh mereka menyelidiki suatu dari segi mudaratnya sebelum manfaatnya, didahulukan menolak kerusakan sebelum mengharap maslahat. Disuruh menyelidiki dan menilik alam dengan penuh pengalaman.

Dari sana kelak masuklah dia dari pintu yang kedua, yaitu mulai membersihkan iktikad, memperkuat ibadah, memperluas budi pekerti, lalu mengatur pergaulan hidup sesama manusia dan penghidupan, memajukan perniagaan dan perusahaan .

Maka tatkala Kitab Suci Al-Qur'an mengajak manusia larangannya, dia masuk lebih dahulu dari pintu akal. Kalau kepada Islam dan mengikut suruhannya serta menghentikan mereka itu berpikir, mempergunakan akalnya yang suci terdapat bantahan dan keingkaran, disuruh terlebih dahulu bersih. 

Perkataan-perkataan yang penting ditutup dengan penghargaan akal, sebagai firman-Nya:

"Demikianlah Kami uraikan beberapa tanda-tanda bagi kaum yang mempergunakan akalnya".

"Ambillah ibarat olehmu orang yang jauh pandangannya".

"Bahwa perkara yang demikian itu menjadi ibarat bagi orang orang yang berpandangan jauh".

"Yang akan ingat hanyalah orang-orang yang mempunyai perhatian dalam".

Yang berpandangan, yang berhati jantung, yang cukup timbangan ialah orang yang berakal.

Apakah mereka tidak berakal? Lebih dari sepuluh kali terdapat di dalam Al-Qur'an. Isinya ialah membangkitkan hati buat menimbang, memikirkan, merenungkan.

Dan oleh Hadis dikuatkan pula:

مَاتَمَّ دِينُ إِنْسَانٍ قَطُّ حَتَّى يُتِمَّ عَقْلُهُ

"Tiadalah sempurna agama manusia selama-lamanya, sebelum sempurna akalnya",

دِينُ الْمَرْءِ عَقْلُهُ وَمَنْ لَا عَقْلَ لَهُ لَادِيْنَ لَهُ

"Agama manusia ialah akalnya, dan siapa yang tiada berakal, tiadalah agama baginya".


Islam melarang keras orang meminum khamar, tuak, borgot, jenever, sopi, brendi, tegasnya segala minuman yang memabukkan, karena bila telah mabuk, akal pun hilang, padahal akal itulah kelebihan manusia dari binatang! Tuhan tak mau manusia jadi binatang.

Sebab banyak benar beban yang dipikulkan Tuhan kepadanya, yang semuanya itu bergantung kepada sempurna akalnya. Kalau dia telah berubah jadi binatang, tentu beban itu tidak dapat dipikulnya lagi.

Setelah itu dipuji, disanjung, dan diagungkan pula. martabat ilmu, lebih dari yang lain. Sebab ilmu itulah anak kunci rahasia alam, rahasia makhluk, dan makhluk itulah anak kunci mencari Khaliq, "Adalah akan sama orang yang berpengetahuan dengan orang yang tiada berpengetahuan?"

Ketika Nabi Saw. mula-mula diangkat menjadi Rasul, seketika itu beliau mula-mula dituruni wahyu, perkara ilmu itulah yang mula-mula dibuka. Disuruh dia membaca suatu bacaan dengan nama Tuhan yang menjadikan manusia dari pada air yang pekat, dan Tuhan mengajarkan ilmu dengan Qalam, atau pena, sehingga diketahui oleh manusia perkara-perkara yang selama ini tiada diketahuinya.

Ilmu itu dituliskan dengan qalam, pena. Sebab itu adalah qalam barang yang amat mulia dalam masyarakat manusia. Qalam sendiri itu telah diberi kehormatan oleh Tuhan, dengan ayat yang mula-mula turun itu, "Yang memberi pengetahuan dengan qalam".

Dan dengan ayat lain, "Demi qalam dan perkara yang mereka lukiskan".

Di dalam Al-Qur'an selain dari kata Allah, adalah kalimat "ilm" itu, yang teramat banyak terdapat. Cobalah lihat buktinya di dalam kitab "Fathur Rahman" yang dipergunakan orang untuk mencari ayat-ayat Al-Qur'an. 

Sebab itu Islam adalahagama yang selalu memuliakan ilmu. Nabi Muhammad Saw. datang ke dunia membawa Al-Qur'an dan menyerukan ilmu, apa pun jua macamnya. Ilmu lahir atau ilmu batin. Ilmu alam atau ilmu manusia. Tegasnya bukanlah semata ilmu agama saja, tetapi termasuk ilmu dunia.

Bahkan boleh dikatakan segala ilmu itu ialah agama, Sebab membebaskan manusia dari kejahilan, adalah tujuan Islam.

Sudah nyata Islam yang diajarkan Nabi Saw. menganjurkan pokok pelajaran perhubungan dengan Allah dan masyarakat. Nabi tidak mengajarkan kimia. Ilmu kedokteran pada waktu itu ilmu yang setinggi-tingginya barulah sehingga madu lebah. Orang belum pandai meneropong bintang-bintang belum tahu ukuran bumi, sebab Al-Qur'an tidak mengajarkan itu dan Nabi Muhammad Saw. tidak pula mengajar ilmu yang demikian. 

Meski demikian, Al-Qur'an senantiasa membuka pintu akal buat menyelidikinya. Oleh sebab itu, tidaklah heran kalau beberapa abad setelah beliau wafat, dunia Islam telah menjadi negeri yang sekaya-kayanya dengan segala macam ilmu. 

Filsafat mereka ambil dari bangsa Yunani dan Rum. Hikmah dari Persia. Kedokteran dari Hindustan, seni dari Tiongkok. Dari segenap pengambilan itu dapatlah mereka menciptakan satu filsafat, hikmah, kedokteran, dan seni sendiri yang telah berbentuk Islam, sehingga berlakulah di dalam teori dan di dalam praktek apa yang dikehendaki tentang ilmu oleh Al-Qur'an itu.

Maka tetaplah Islam agama ilmu karena sendinya ialah Tauhid. Einstein, sarjana agung abad kedua puluh itu, dalam penyelidikan ilmiahnya sampai kepada kesimpulan bahwasannya ilmu pengetahuan sejati menyampaikan manusia kepada iman yang sejati.

TANDA ORANG BERAKAL Orang yang berakal, luas pandangannya kepada sesuatu yang menyakiti atau yang menyenangkan. Pand...

TANDA ORANG BERAKAL


Orang yang berakal, luas pandangannya kepada sesuatu yang menyakiti atau yang menyenangkan.

Pandai memilih perkara yang memberi manfaat dan menjauhi yang akan menyakiti.

Dia memilih mana yang lebih kekal walaupun sulit jalannya daripada yang mudah didapat padahal rapuh. Sebab itu mereka pandang keutamaan akhirat, lebih daripada keutamaan dunia. 

Lebih mereka utamakan kegembiraan kesopanan daripada kegembiraan hawa nafsu.

Mereka menimbang biarlah susah menempuh suatu perkara yang sulit asal akibatnya baik, daripada perkara yang mudah tetapi akibatnya buruk.

Mereka tetap mengharap dan tetap takut. Tetapi tidaklah ketakutannya itu pada perkara yang bukan bukan, tidak pula harapannya itu kepada hal yang tidak-tidak.

Pandangannya luas, ditimbangnya sebelum dikerjakannya. Sebab mengharap keutamaan dengan tidak mempergunakan pemandangan adalah pekerjaan sia-sia.

Orang berakal selalu menaksir harga dirinya, menaksir harga diri ialah dengan menilik hari-hari yang telah dilalui, adakah dipergunakan kepada perbuatan-perbuatan yang berguna, dan hari yang masih tinggal ke manakah pula digunakan.

Karena murah atau mahal harga diri, baik waktu hidup, apa lagi setelah mati, ialah menurut jasa yang telah diperbuat pada setiap hari yang dilalui itu.

Dia sadar bahwa hari yang telah habis terbelanjakan untuk yang tidak perlu, tidaklah akan dapat ditebus lagi. Oleh sebab itu dilihatnya tahun berganti, bulan bersilih, dan hari berlalu. 

Dihitungnya baik-baik ke manakah dia telah pergi, apakah bekas kerjanya buat kemaslahatan dirinya sekurang-kurangnya, atay kemaslahatan kepada masyarakatnya.

Yang kedua, orang berakal itu selalu berbantah dengan dirinya. Kalau diri itu bermaksud menempuh yang jahat, dihukumnya bahwa kejahatan itu berbahaya, merugikan, dan mencelakakan.

Dan kalau diri itu ada mengingat-ingat yang baik, dihukumkan bahwa kebaikan itu menguntungkan, membawa kemenangan, dan memberi laba. 

Lantaran hukuman yang demikian, mudahlah diri mengingat yang baik-baik itu dan buah hasilnya, sehinggah mudah menunjukkannya ke sana.

Dan bila akan menghadapi kejahatan itu mudah pula dia mengingat bahaya dan celakanya, gemetar badannya, dan timbul takutnya akan melampaui batas itu.

Orang yang berakal selalu mengingat kekurangannya, kalau perlu dituliskannya di dalam suatu buku peringatan sehari-hari.

Baik kekurangan pada agama, atau pada akhlak dan kesopanan. Peringatan diulang-ulangnya dan buku itu kerapkali dilihatnya untuk direnungi dan diiktiarkan mengangsur-angsur mengubah segala kekurangan itu. Baik dalam berhari, atau berbulan, atau bermusim sekalipun.

Kalau perlu bila telah dapat satu macam sifat kekurangan itu diubahi, didorongnya dari notes peringatan tadi dengan tinta merah. Setelah dicoreng, digembirakannya hatinya, sebab telah menang di dalam suatu perjuangan yang amat hebat 

Dan dipandangnya pula dengan hati iba dan sedih segala sis sisa yang masih ketinggalan. Dan dia tidak berhenti berusaha

Dilihatnya kebaikan budi pekerti orang lain. Dipujinya di dalam hati dan ditimbulkannya cita-cita hendak meniru, serayu diangsurnya pula meneladani dari selangkah ke selangkah.

Kalau hendak mencari teman, handai tolan, dan sahabat, orang yang berakal memilih orang yang mempunyai kelebihan baik dalam perkara agama atau ilmu atau budi kesopanan. Yang berlebih dari kita supaya dapat kita tiru teladan.

Atau dicarinya teman yang sama tingkatnya supaya saling menguatkan. Karena budi pekerti yang baik dan adat yang terpuji tidaklah subur tumbuhnya di dalam diri kalau tidak bertolong-tolongan menggembirakan dengan teman.

Tidak ada karib atau kerabat yang lebih setia daripada seorang teman yang menyokong dan membantu membesarkan hati dan memberanikan kita di dalam menempuh suatu perbuatan baik.

Hati kita yang tadinya kurang kuat menjadi kuat dan bertambah kuat karena digosok kawan. Budiman mengeluarkan pepatah bahwasanya berkawan dengan orang yang tidak berilmu, tapi hidup dalam kalangan orang-orang yang berilmu, lebih baik daripada berkawan dengan orang yang berilmu tetapi hidup di dalam kalangan orang yang bodoh-bodoh.

Orang yang berakal tidak berdukacita lantaran ada cita-citanya di dunia yang tidak sampai atau nikmat yang meninggalkannya. Diterimanya apa yang terjadi atas dirinya dengan tidak merasa kecewa dan tidak putus-putusnya berusaha.

Jika rugi tidaklah cemas, dan jika berlaba tidaklah bangga. Karena cemas merendahkan hikmah dan bangga menghilangkan timbangan.

Orang yang berakal enggan menjauhi orang yang berakal pula, karena tanpa teman yang berakal, akan lemahlah dia, dan dengan bersama akan dapat dia membandingkan di mana kekurangannya dan di mana kelebihannya.

Biar lengah dari yang lain, tetapi tidak lalai dia menjaga yang Empat saat yang selalu diawasi oleh orang yang berakal empat saat itu.

1. Saat untuk menyembahkan hajatnya kepada Tuhannya

2. Saat untuk menilik dirinya sendiri.

3. Saat untuk membukakan rahasia diri kepada sahabatnya yang setia, menyatakan aib-aib dan celama supaya dapat dinasihati dan ditunjukkan oleh teman setia itu secara terus terang.

4. Saat dia bersunyi-sunyi diri, duduk bersoal jawab dengan dirinya, menanyakan mana yang halal dan mana yang indah, mana yang jahat dan mana yang baik.

Maka saat yang keempat ini adalah saat yang paling penting di antara keempat saat itu. Karena jiwa dan hati mesti satu saat wajib diistirahatkan.

Orang yang berakal hanyalah merindui tiga perkara:

Pertama, menyediakan bekal untuk hari kemudian.

Kedua, mencari kelezatan buat jiwa.

Ketiga, menyelidiki arti hidup.

Orang yang berakal tahu membedakan manusia, sebab iru dia tidak canggung bergaul dengan siapapun.

Manusia dibaginya dua. Pertama orang yang awam (orang kebanyakan). Perkataannya di sana dijaganya, tiap-tiap kalimat yang keluar dari mulutnya dibatasinya. Karena hanya jauhari jua yang mengenal menikam!

Kedua ialah orang yang khawas (orang-orang utama). Di sanalah dia merasa lezatnya ilmu. Kepada yang lebih dari dia, dia belajar. Kepada yang sama dengan dia, dia membanding. Tempo tidak ada yang terbuang.

Dalam 1.000 manusia, 999 termasuk golongan pertama. Hanya seorang yang termasuk golongan kedua.

Dari seorang yang di dalam 1.000 itu lah dapat dicari pendapat yang jitu, persahabat yang setia, nasihat yang jujur, keteguhan dan persaudaraan, itulah rahasia kata hikmah,

"Kawan tertawa amat banyak, kawan menangis sedikit sekali".

Orang yang berakal memandang besar segala kesalahan itu. Walaupun bagaimana kecilnya di mata orang lain. Dia tidak mau memandang kecil suatu kesalahan.

Karena bila kita memandang kecil suatu kesalahan, yang kedua, ketiga, dan seterusnya, kita tidak merasa bahwa kesalahan itu besar, atau tak dapat membedakan lagi mana yang kecil dan mana yang besar. "Sehari selembar benang, lama-lama menjadi sehelai kain". 

Tak ubahnya membiarkan kesalahan yang kecil itu dengan hikayat seorang nakoda kapal yang membiarkan sehelai papan yang dimakan rayap termasuk di dalam dinding kapal. Padahal dari sebab tercampur papan itulah yang kelak menyebabkan kapal karam.

Memang dari perkara-perkara yang kecil itu jualah biasanya timbul bahaya yang besar. Orang yang mati dibunuh nyamuk tiap-tiap tahun lebih banyak dari pada orang yang mati dibunuh singa.

Penyakit yang berbahaya ialah dari pada bakteri yang kecil-kecil. Banjir besar datang dari kumpulan setitik-setitik air hujan.

Orang yang berakal sadar bahwa di antara akal dan nafsu, atau di antara pikiran dan hawa tidak ada persetujuan.

Kehendak nafsu biasanya manis pangkal dan hambar ujungnya, dan kehendak akal pahit pangkal tetapi manis ujungnya. Sebab itu mereka lebih suka berpahit-pahit dahulu, bermanis-manis kemudian!

Jika dia menghadapi suatu pekerjaan ragu-ragu atau jalan bersimpang yang belum dapat ditentukan, ditanyailah hatinya, mana yang lebih cocok. Dan, nafsunya itulah yang dijauhinya (Perbedaan hawa dan akal kita terangkan lebih luas kelak!)

Setengah dari tanda-tanda orang yang berakal, bukanlah lantaran sucinya dari dosa. Bagaimana akan suci bersih gelanggang pertempuran hawa nafsu dan akal?

Yang terdapat di sana ialah perjuangan! Dan tidak ditempuhnya suatu kesalahan dengan sengaja, atau diulangnya suatu kesalahan dua kali.

Dia cukupkan apa yang ada, tidak mengharap kekayaan orang lain. Tidak dia meminta kepada orang yang ditakuti tidak mengabulkan permintaannya. 

Tidak dia suka berjanji dengan orang yang pemungkir. Tiada dia mengharap dari orang yang tidak dapat diharap!

Orang yang berakal tidaklah berduka hati. Karena kedukaan itu tiada ada faedahnya. Banyak duka mengaburkan akal.

Tidak dia bersedih, karena kesedihan tidaklah memperbaiki perkara yang telah terlanjur. Dan, banyak sedih mengurangi akal. 

Orang yang berakal menyediakan obat sebelum sakit, menyediakan payung sebelum hujan. Tetapi kalau penyakit datang juga, padahal obat telah sedia, dan bajunya kena hujan juga, padahal payung telah di tangan, tidaklah dia kecewa, tetapi dia sabar dan rela dan dicarinya usaha untuk mengatasi.

Orang yang berakal tidak ada tempat dia takut selain Tuhannya. Kalau timbul takutnya dengan tiba-tiba, diselidikinya apa sebab dia takut. Dari salah, atau hanya dari rendah himmahnya?

Orang berakal tidaklah menjawab sebelum ditanya. Tidak pula menjawab pertanyaan lebih dari mesti, supaya jangan dikatakan orang: tidak pandai memegang rahasia, tidak berpenaruhan, thufaili. 

Tidak pula suka menghinakan orang, karena orang yang menghinakan raja-raja rusaklah dunianya. Orang yang suka menghinakan orang alim rusaklah agamanya, dan orang yang menghinakan kawan-kawan rusaklah muruahnya.

Orang yang berakal tidaklah tersembunyi bagian cela dirinya, karena orang yang lupa memandang aib dirinya sendiri, akan lupalah kepada kebaikan orang lain.

Maka lupa akan aib diri itu adalah bencana hidup yang sebesar-besarnya. Sebab kalau tidak tahu atau lengah dari aib diri kita sendiri, tidaklah timbul usaha untuk membongkar uratnya.

Bertambah lama dia bertambah tumbuh di dalam jiwa, maka meranalah jiwa; laksana limau yang dikalahkan benalu.

Orang berakal pergi ke medan perang membawa senjata. Berbantah dan bertukar pikiran dengan cukup alasan. Berlawan dengan kekuatan. Karena dengan akallah tercapai hidup, dengan budi teranglah hati, dengan pikiran tercapai maksud, dengan ilmu ditaklukkan dunia.

Orang berakal pandai membandingkan yang belum ada dengan yang telah ada, yang belum didengar dengan yang sudah didengar. Umurnya yang tinggal dibandingkannya dengan yang telah pergi. Yang belum tercapai dengan yang telah tercapai.

Segala pekerjaan tidaklah diukurnya dengan uang atau emas bertahil. Sebab harta datang dan pergi, mendahului kita, atau didahului. Tetapi akal tetap dan bekasnya kekal, walaupun badan tubuh masuk ke liang lahat.

Orang berakal hidup untuk masyarakatnya, bukan buat dirinya sendiri.

Sumber:
Buya Hamka, Falsafah Hidup

MEMPERHALUS AKAL Akal tidak boleh dicukupkan hanya dengan apa yang telah diketahui. Ia harus terus diasah, diperluas, dan diperh...

MEMPERHALUS AKAL

Akal tidak boleh dicukupkan hanya dengan apa yang telah diketahui. Ia harus terus diasah, diperluas, dan diperhalus. Orang belajar bukan semata-mata untuk menambah banyaknya ilmu, tetapi juga untuk memperbaiki timbangan akalnya: agar ia semakin cermat melihat hubungan antara sebab dan akibat, semakin tajam membaca tanda-tanda, serta semakin bijaksana mengambil kesimpulan.

Semakin halus akal seseorang, semakin tinggi pula martabatnya dalam pergaulan hidup. Ia tidak mudah tertipu oleh apa yang tampak di permukaan. Ia mampu membaca sesuatu melalui tanda-tandanya, menyelidiki bagian untuk memahami keseluruhan, dan mengambil pelajaran dari kejadian yang telah berlalu.

Para ahli akal membagi sebab-sebab kehalusan akal itu ke dalam tiga bentuk:

1. Kias, yaitu membandingkan sesuatu dengan pangkal atau sebabnya.
2. Menyelidiki sebagian untuk menghukum keseluruhannya, yaitu mengambil kesimpulan tentang sesuatu yang lebih luas berdasarkan tanda atau bagian yang dapat diketahui.
3. Menetapkan hukum pada suatu bagian karena terdapat sebab yang serupa pada bagian lain, yaitu melihat persamaan sebab untuk mengambil pelajaran dan kesimpulan.

Ketiga-tiganya pada hakikatnya mengajarkan satu hal: akal yang halus tidak berhenti pada apa yang terlihat, tetapi berusaha menemukan apa yang berada di baliknya.

1. KIAS: MEMBACA TANDA DARI BEKASNYA

Kias berarti perbandingan. Dalam kehidupan, sesuatu kadang-kadang tidak terlihat secara langsung, tetapi dapat diketahui melalui bekas atau tanda yang ditinggalkannya.

Pernah terjadi seorang raja sedang berada dalam perjalanan peperangan bersama para pengiringnya. Mereka berhenti di suatu tempat, sementara musuh diperkirakan masih jauh.

Tiba-tiba seorang pengiring berkata,

«"Tuanku, lebih baik kita berangkat sekarang juga. Musuh telah dekat."»

Raja bertanya,

«"Apa sebabnya? Tidak tampak tanda-tanda bahwa musuh akan datang."»

Pengiring itu menjawab bahwa mereka harus segera pergi. Raja pun memerintahkan pasukannya bersiap dan meninggalkan tempat itu.

Tidak lama kemudian, tampak dari kejauhan pasukan musuh mengejar.

Raja heran.

«"Bagaimana engkau mengetahui kedatangan musuh?"»

Pengiring itu menjawab bahwa ia melihat binatang-binatang liar berlari mendekati tempat mereka. Padahal, biasanya binatang-binatang itu akan menjauh apabila melihat manusia.

Dari perubahan perilaku binatang itulah ia mengambil kesimpulan: pasti ada sesuatu yang lebih menakutkan di belakangnya.

Dan benar. Yang membuat binatang-binatang itu ketakutan adalah pasukan musuh yang sedang mengejar.

Inilah kecerdasan membaca tanda. Orang yang tajam akalnya tidak selalu menunggu sesuatu tampak dengan jelas. Ia memperhatikan perubahan kecil, lalu menghubungkannya dengan kemungkinan sebab yang berada di belakangnya.

Melihat sesuatu dari ukuran dan keadaannya

Dalam hikayat orang tua terdapat pula sebuah perumpamaan tentang seekor singa yang mengajak seekor lembu berkunjung ke sarangnya. Singa itu mengatakan bahwa ia hendak menjamu tamunya dengan seekor kambing.

Ketika sampai di sarang, lembu melihat unggunan makanan yang disediakan singa sangat besar. Ukurannya tidak mungkin hanya untuk seekor kambing. Lebih cocok untuk seekor lembu.

Lembu pun segera mengundurkan diri.

Singa bertanya,

«"Mengapa engkau mengundurkan diri?"»

Lembu menjawab,

«"Saya melihat unggunan itu terlalu besar. Rupanya bukan kambing yang hendak tuan potong, melainkan sesuatu yang lebih besar daripada kambing."»

Lembu tidak perlu menunggu sampai dirinya menjadi korban. Ia membaca ketidaksesuaian antara janji dan tanda yang ada di hadapannya.

Kadang-kadang keselamatan seseorang bukan karena ia mengetahui segala sesuatu, melainkan karena ia cukup cerdas membaca tanda sebelum terlambat.

Mengetahui jumlah dari sebuah petunjuk

Menurut riwayat Ibnul Jauzi, menjelang Perang Badar pernah ditangkap dua orang: seorang Quraisy dan seorang budak milik 'Aqabah bin Abi Mu'ith. Orang Quraisy itu berhasil meloloskan diri, sedangkan budak tersebut tidak.

Ketika ditanya tentang jumlah pasukan Quraisy, ia tidak mau memberikan jawaban secara langsung. Ia hanya mengatakan bahwa jumlah mereka sangat banyak dan kuat.

Rasulullah ﷺ kemudian bertanya,

«"Berapa ekor unta yang mereka potong dalam sehari?"»

Ia menjawab,

«"Sepuluh ekor."»

Dari informasi yang tampaknya sederhana itu, Rasulullah ﷺ memperkirakan jumlah mereka sekitar seribu orang, karena seekor unta dapat mencukupi makanan sekitar seratus orang.

Sebuah informasi kecil dapat menjadi jendela untuk melihat sesuatu yang lebih besar.

Itulah salah satu ciri akal yang tajam: ia mampu menemukan informasi yang tersembunyi di balik sebuah fakta sederhana.

Membaca keganjilan

Ketika Ahmad bin Thulun menjadi raja di Mesir, ia pernah melihat seorang pemuda membawa sebuah peti. Pemuda itu tampak gemetar.

Raja memperhatikan keadaan tersebut. Kalau peti itu berat, seharusnya kepala atau tubuh pemuda itu lebih banyak tertekan oleh beratnya. Tetapi bukan itu yang terjadi.

Ketika sampai di hadapan orang banyak, kegemetaran pemuda itu bahkan semakin bertambah.

Ahmad bin Thulun merasa ada sesuatu yang tidak biasa. Ia memerintahkan agar pemuda itu ditangkap dan petinya dibuka.

Ternyata di dalamnya terdapat mayat seorang perempuan muda yang telah dibunuh.

Kegemetaran pemuda itu bukan semata-mata karena berat peti, melainkan karena beban rahasia yang ada di dalamnya.

Di sinilah kita belajar bahwa sesuatu yang ganjil sering kali menjadi petunjuk adanya sebab yang tersembunyi.

Orang yang memperhalus akalnya belajar bertanya:

Mengapa sesuatu terjadi tidak sebagaimana biasanya?

Sebab perubahan dari kebiasaan sering kali menunjukkan adanya sebab baru.

Ketika sesuatu tidak sesuai dengan kebiasaan

Al-Kisai, salah seorang qari yang terkenal, menjadi guru bagi anak-anak raja. Salah seorang muridnya ialah al-Amin, putra Harun ar-Rasyid.

Menurut kebiasaan, apabila murid salah membaca suatu ayat, al-Kisai mengetukkan tongkatnya ke lantai sebagai tanda agar bacaan itu diulangi.

Suatu hari, bacaan al-Amin sampai kepada ayat:

«يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُوْلُوْنَ مَا لَا تَفْعَلُوْنَ»

«"Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?"
(QS Ash-Shaff [61]: 2)»

Al-Kisai mengetukkan tongkatnya.

Al-Amin mengulangi bacaannya.

Setelah selesai, tongkat kembali diketukkan. Sampai tiga kali, tetapi al-Kisai tidak menunjukkan letak kesalahannya.

Al-Amin tidak berani bertanya karena menghormati gurunya.

Sesampainya di hadapan ayahnya, ia menceritakan kejadian tersebut. Lalu ia bertanya kepada Harun ar-Rasyid apakah sang ayah pernah membuat janji kepada gurunya yang belum ditepati.

Harun ar-Rasyid pun tersadar. Ia memang pernah berjanji memberikan suatu anugerah kepada al-Kisai, tetapi telah melupakannya.

Maka al-Kisai dipanggil dan diberikan anugerah sebagaimana mestinya.

Al-Amin telah belajar membaca tanda. Ketukan tongkat yang berulang bukan sekadar kesalahan membaca, tetapi mungkin menunjuk kepada kesalahan yang lebih dalam: mengatakan sesuatu yang belum dilakukan.

Keganjilan yang mengundang penyelidikan

Pernah pula seorang laki-laki memberitahu istrinya bahwa ia akan membawa tamu ke rumah pada keesokan hari.

Sang istri pun bersiap. Ia menumbuk tepung untuk membuat roti.

Namun ketika pagi tiba, tepung itu didapati telah dijilat anjing. Karena malu menyajikannya kepada tamu, ia membawa tepung tersebut ke pasar untuk ditukarkan dengan beras yang masih belum ditumbuk.

Seorang ahli akal yang melihat kejadian itu berkata kepada temannya:

«"Kalau tidak ada sesuatu sebab yang penting, tidaklah perempuan itu mau menukar tepung yang sudah halus dengan beras yang belum ditumbuk."»

Sekali lagi, yang diperhatikan bukan sekadar perbuatan, melainkan alasan mengapa seseorang melakukan sesuatu yang tidak lazim.

Begitu pula pepatah Melayu:

«"Kalau tidak ada berada, tidak tempua bersarang rendah."»

Burung tempua biasanya bersarang di tempat tinggi. Jika ia tiba-tiba memilih tempat yang rendah, tentu ada sebabnya: mungkin di atas ada bahaya, atau di bawah ada sesuatu yang sangat menguntungkan.

Perubahan perilaku adalah tanda. Dan tanda mengajak akal mencari sebab.

Karena itu, nenek moyang kita pun mengajarkan pentingnya memperhatikan bukti ketika hendak menilai suatu kesalahan:

«"Berjebak bak bakik, bersurih bak sipasin, berbau bak ambacang, tertangkap tangan, kecenderungan mata orang banyak."»

Semua itu menunjukkan bahwa kesalahan tidak selalu harus menunggu pengakuan. Kadang-kadang bekas perbuatan sudah berbicara lebih dahulu.

---

2. MENYELIDIKI SEBAGIAN UNTUK MEMAHAMI KESELURUHAN

Bentuk kedua kehalusan akal ialah kemampuan menyelidiki sebagian tanda untuk mendapatkan gambaran tentang keseluruhannya.

Kita tidak selalu dapat melihat seluruh keadaan secara langsung. Karena itu, akal bekerja dengan mengambil petunjuk yang tersedia, lalu menghubungkannya sehingga dapat diperoleh kesimpulan yang lebih luas.

Al-Asma'i meriwayatkan sebuah kisah dari Isa bin Umar tentang Abul Jahm Huzaifah.

Suatu ketika Abul Jahm datang menghadap Muawiyah yang sedang memerintah di Syam.

Ketika ia hendak pergi, Muawiyah berkata bahwa ia mengetahui kemuliaan Abul Jahm, kedudukannya, serta hubungan kerabatnya dengan Nabi ﷺ. Namun karena banyaknya beban pemerintahan, Muawiyah hanya dapat memberikan kepadanya seratus ribu dirham.

Abul Jahm menerimanya, tetapi di dalam hatinya ia merasa kurang puas.

Kemudian Muawiyah wafat dan digantikan oleh putranya, Yazid.

Abul Jahm kembali datang menghadap. Yazid mengatakan bahwa ia mengetahui kemuliaan dan kedudukan Abul Jahm, tetapi beban yang harus dipikulnya juga berat. Karena itu ia hanya memberikan lima puluh ribu dirham.

Abul Jahm kembali merasa kecewa.

Ia kemudian melihat kepada keadaan yang lebih luas. Muawiyah memberinya seratus ribu dirham. Yazid hanya lima puluh ribu. Dari sana ia mulai membentuk suatu penilaian tentang keadaan pemerintahan yang sedang berlangsung.

Ketika Abdullah bin Zubair menyatakan dirinya sebagai khalifah di Mekah, Abul Jahm pergi ke sana. Ia berharap menemukan kembali kemuliaan Quraisy.

Namun ketika bertemu Abdullah bin Zubair, ia hanya diberi seribu dirham.

Abul Jahm justru sangat gembira. Ia memuji Abdullah bin Zubair dengan pujian yang luar biasa.

Abdullah bin Zubair merasa heran. Mengapa orang yang dahulu menerima seratus ribu dirham dari Muawiyah tidak memuji seperti itu, sedangkan setelah menerima seribu dirham justru pujiannya begitu tinggi?

Abul Jahm menjawab dengan sindiran yang sangat tajam. Ia mengatakan bahwa setelah melihat pemberian Muawiyah, kemudian Yazid, dan terakhir Abdullah bin Zubair, ia sampai pada keyakinan bahwa jika Abdullah bin Zubair wafat, tidak ada lagi yang akan mengatur urusan orang banyak selain "babi-babi liar".

Jawaban itu pahit, tetapi di dalamnya terdapat cara berpikir yang khas: ia membaca keadaan pemerintahan melalui tanda-tanda yang ditemuinya pada orang-orang yang memegang kekuasaan.

Dari satu bagian, ia berusaha memahami keseluruhan.

Namun di sini kita juga perlu berhati-hati. Akal yang halus bukan berarti akal yang tergesa-gesa menghakimi. Kesimpulan harus dibangun dari tanda yang cukup, bukan dari prasangka.

Sebab, membaca tanda membutuhkan ketelitian; mengubah tanda menjadi kesimpulan membutuhkan kebijaksanaan.

---

3. MENETAPKAN HUKUM BERDASARKAN KESAMAAN SEBAB

Bentuk ketiga ialah menetapkan hukum pada suatu bagian karena terdapat sebab yang serupa dengan bagian yang lain.

Di sinilah pengalaman menjadi guru. Kita melihat suatu perilaku pada seseorang, kemudian kita bandingkan dengan perilaku serupa yang pernah kita lihat sebelumnya.

Pepatah orang budiman mengatakan:

«"Kalau ada orang yang suka membuka aib orang lain di hadapanmu, tandanya dia suka pula membuka aibmu di hadapan orang lain. Orang yang suka memaparkan kesalahan seseorang di hadapanmu, tandanya kesalahanmu akan dipaparkannya pula di hadapan orang lain."»

Mengapa demikian?

Karena sifat yang sama cenderung melahirkan perilaku yang sama.

Jika seseorang terbiasa menjadikan aib orang lain sebagai bahan pembicaraan, jangan terlalu cepat merasa aman hanya karena pada saat ini yang dibicarakannya bukan aib kita.

Bisa jadi hari ini ia membawa cerita tentang orang lain kepada kita. Besok ia membawa cerita tentang kita kepada orang lain.

Karena itu, akal yang halus bukan hanya bertanya:

"Apa yang sedang dilakukan orang ini?"

Tetapi juga:

"Jika sebabnya sama, apakah akibatnya kelak akan sama?"

Sayidina Ali karamallahu wajhahu mengajarkan:

«"Suatu perkara yang sulit hendaklah diambil i'tibar akhirnya daripada awalnya."»

Dalam pepatah Melayu dikatakan:

«"Kusut di ujung tali, tiliklah di pangkal tali."»

Jika kita ingin memahami kekusutan di ujung, lihatlah pangkalnya.

Sebab akhir merupakan buah dari awal.

Natijah adalah buah dari mukadimah. Kesimpulan adalah hasil dari premis.

Apa yang tampak pada akhir sering kali telah memiliki akar pada permulaan.

Karena itu, Sayidina Ali dalam suratnya kepada Haris al-Hamdani berpesan agar mengambil pelajaran dari dunia yang telah berlalu, menghubungkan ujung dengan pangkal, dan jangan menjadi orang yang tidak mempan menerima pengajaran kecuali setelah mendapatkan pukulan yang menyakitkan.

Betapa banyak manusia sebenarnya telah melihat tanda-tanda, tetapi tidak mengambil pelajaran sampai akibat buruk itu menimpa dirinya sendiri.

---

MELIHAT UJUNG DARI PANGKAL

Ada sebuah hikayat orang tua yang menggambarkan kecerdasan membaca ujung dari pangkal.

Pada suatu hari sang kancil berjalan melewati gua seekor singa tua yang sudah tidak kuat lagi mencari makanan.

Ketika melihat sang kancil, singa berkata dengan suara manis,

«"Silakan masuk ke teratak burukku, wahai Tuan Syekh Alim di rimba. Jangan segan-segan dan jangan malu."»

Sang kancil melihat ke arah mulut gua dengan sudut matanya.

Singa kembali membujuk,

«"Silakan masuk, jangan segan-segan, wahai Syekh!"»

Kancil menjawab dengan penuh hormat,

«"Terima kasih banyak-banyak. Segala titah patik junjung, daulat tuanku raja rimba. Harap diampun, tiadalah dapat patik masuk menjunjung duli. Patik akan segera pergi."»

Singa bertanya,

«"Apakah sebabnya demikian?"»

Kancil menjawab,

«"Sebab patik melihat di muka pintu istana terlalu banyak jejak orang-orang yang masuk ke dalam, tetapi tidak sebuah pun jejak yang menghadap ke luar. Selamat tinggal, tuanku."»

Kancil tidak masuk ke dalam gua karena ia tidak memerlukan bukti tambahan.

Ia melihat jejak.

Jejak itu menunjukkan apa yang telah terjadi sebelumnya. Tidak adanya jejak yang keluar memberikan petunjuk tentang apa yang mungkin terjadi kepada mereka yang masuk.

Kancil menyambungkan pangkal dengan ujung.

Ia tidak tertipu oleh kata-kata manis, karena ia lebih percaya kepada bukti yang ditinggalkan oleh kenyataan.

---

AKAL YANG HALUS TIDAK MUDAH TERTIPU

Dari seluruh kisah tersebut, kita dapat melihat bahwa memperhalus akal bukanlah sekadar menjadi pandai berbicara atau memiliki banyak pengetahuan.

Akal yang halus ialah akal yang mampu membaca tanda, menemukan sebab, membandingkan keadaan, menghubungkan pangkal dengan ujung, dan mengambil pelajaran sebelum akibat buruk datang.

Ada orang yang melihat, tetapi tidak memperhatikan.

Ada yang memperhatikan, tetapi tidak menghubungkan.

Ada yang menghubungkan, tetapi terburu-buru menyimpulkan.

Dan ada pula yang sudah mengetahui kesimpulan, tetapi tidak mengambil pelajaran darinya.

Karena itu, ilmu perlu berjalan bersama ketelitian dan kebijaksanaan.

Jangan hanya bertanya:

"Apa yang terjadi?"

Tetapi biasakan pula bertanya:

"Mengapa hal itu terjadi?"

"Tanda apa yang mendahuluinya?"

"Apa sebab yang berada di baliknya?"

"Jika sebab yang sama muncul lagi, mungkinkah akibatnya juga akan sama?"

Dan yang paling penting:

"Apa pelajaran yang harus saya ambil sebelum pengalaman itu menjadi pukulan bagi diri saya sendiri?"

Itulah salah satu jalan memperhalus akal.

Sebab kehidupan tidak selalu memberi kita kesempatan untuk melihat seluruh kenyataan. Kadang-kadang Allah hanya memperlihatkan sebagian tanda. Dari tanda itulah manusia dituntut menggunakan akalnya.

Orang yang bijaksana tidak menunggu semua pintu terbuka untuk mengetahui bahwa ada bahaya di dalam. Ia cukup membaca tanda-tanda yang telah tersedia.

Akal yang halus mampu melihat sesuatu yang belum tampak melalui sesuatu yang sudah tampak; mampu memahami keseluruhan melalui sebagian tanda; dan mampu membaca masa depan melalui pelajaran masa lalu.

Dengan demikian, ilmu tidak hanya membuat manusia lebih banyak tahu, tetapi juga membuatnya lebih tepat menimbang.

Dan pada akhirnya, kehalusan akal bukan diukur dari banyaknya kesimpulan yang dapat dibuat, melainkan dari ketepatan dalam mengambil kesimpulan dan kedalaman dalam mengambil i'tibar.

Timbangan Orang Berakal Pada zaman dahulu kala, hiduplah seorang hukama yang terkenal tinggi peradabannya, luas akal budinya, da...

Timbangan Orang Berakal

Pada zaman dahulu kala, hiduplah seorang hukama yang terkenal tinggi peradabannya, luas akal budinya, dan dalam hikmahnya. Namanya masyhur ke berbagai negeri. Berita tentang keluasan ilmu dan ketajaman pikirannya akhirnya sampai kepada seorang raja yang dikenal bijaksana.

Raja itu senang bergaul dengan orang-orang berakal dan berbudi. Baginya, kekuasaan tidak cukup hanya ditopang oleh banyaknya harta dan kuatnya pasukan. Seorang raja membutuhkan nasihat orang-orang yang mampu melihat sesuatu melampaui kepentingan sesaat.

Maka dipanggillah hukama tersebut menghadap ke istana.

Setelah sang budiman berada di hadapannya, raja berkata,

Raja:
"Wahai budiman yang masyhur karena pikiranmu yang tinggi, akalmu yang cerdas, ilmu yang luas, dan pengalaman yang panjang. Engkau dikenal sebagai orang yang mampu menimbang mudarat dan manfaat, serta berpikir sebelum bertindak.

Namun ada satu hal yang mengherankan hatiku. Mengapa dengan segala ilmu dan akal yang engkau miliki, engkau justru memilih memencilkan diri di tempat yang sunyi? Mengapa engkau menjauh dari kami dan tidak menikmati kemuliaan yang dapat kami berikan?

Tidakkah engkau mengetahui bahwa kami mencintai ahli ilmu dan merindukan orang-orang berakal? Kami ingin mengambil hasil pikiranmu dan memetik buah hikmahmu."

Hukama itu diam sejenak. Kemudian ia menjawab dengan tenang,

Hukama:
"Jika maksud pertanyaan Baginda adalah hendak mengetahui mengapa saya memilih hidup jauh dari istana, maka sesungguhnya jawabannya tidaklah sulit bagi orang yang sempurna akalnya.

Orang yang benar-benar berakal akan mengetahui bahwa tidak selalu ada manfaat dalam mendekat kepada seorang raja.

Tetapi jika pertanyaan Baginda dimaksudkan untuk membuka hikmah yang tersembunyi dalam sanubari saya—agar buah pikiran itu keluar dari lidah, lalu Baginda memilihnya satu demi satu, menyusunnya menjadi kalung yang menghiasi keputusan-keputusan Baginda, atau menjadikannya perisai untuk menangkis panah kejahatan—maka saya akan menjawab dengan terus terang."

Raja tersenyum. Ia semakin tertarik.

Raja:
"Kalau demikian, tampaknya tujuan kita sama. Aku ingin mendengar kebenaran, bukan pujian. Katakanlah terus terang, mengapa selama ini engkau enggan mendekati kami? Setelah itu, sertakanlah hikmah yang lahir dari pertimbangan akalmu."

Hukama itu kemudian berkata,

Hukama:
"Baginda telah membuka pintu istana bagi manusia. Baginda menyediakan tempat bagi orang-orang yang ingin mendekat. Bahkan kepada saya sendiri, Baginda telah memberikan kesempatan dan penghormatan.

Saya mengetahui semua itu. Saya tidak mengingkari kemurahan Baginda.

Namun justru karena saya menggunakan akal untuk menimbangnya, saya memilih untuk tetap berada di tempat saya sekarang.

Saya telah menimbang: mana yang lebih membuat hati tenteram dan jiwa selamat.

Dan menurut pertimbangan saya, menjauh dari pangkat tinggi serta tidak mengejar kemuliaan istana membuat hidup saya lebih sentosa."

Raja menyimak dengan sungguh-sungguh.

Hukama:
"Di tempat saya sekarang, saya tidak perlu mencurigai orang lain. Saya tidak perlu membenci siapa pun. Saya juga tidak terlalu khawatir akan disakiti oleh orang lain.

Sebab, Baginda, di tempat-tempat yang dipenuhi perebutan pangkat dan harta, manusia sering kali tidak lagi bertarung dengan akalnya, tetapi dengan hawa nafsunya.

Yang seorang ingin lebih tinggi daripada yang lain. Yang lain ingin lebih kaya daripada saudaranya. Dari sana lahirlah iri hati, dengki, persaingan, dan tipu daya.

Ketika manusia terlalu tamak terhadap kedudukan, akalnya dapat menjadi gelap.

Ketika hasad menguasai hati, hikmah dapat menghilang.

Ketika seseorang terlalu ingin menyenangkan hati penguasa, ia tidak lagi berani menyampaikan kebenaran."

Raja mulai memahami arah pembicaraan itu.

Hukama:
"Orang-orang yang ingin dekat dengan raja sering kali hanya memperlihatkan apa yang menyenangkan hati Baginda. Yang buruk disembunyikan. Yang benar dipoles. Yang salah ditutupi.

Lama-kelamaan, seorang raja dapat dindingi dari kenyataan.

Matanya tidak lagi melihat keadaan rakyat sebagaimana adanya. Telinganya tidak lagi mendengar suara kebenaran. Di sekelilingnya hanya terdengar kata-kata yang menyenangkan.

Dan ketika keadaan seperti itu berlangsung lama, orang-orang yang ikhlas justru menjadi asing di istana.

Sebab orang yang ikhlas biasanya tidak pandai mengambil muka. Ia lebih suka mengatakan apa yang benar daripada apa yang disukai."

Hukama itu berhenti sejenak, kemudian melanjutkan,

Hukama:
"Baginda, jika seorang raja benar-benar bijaksana dan menyadari kecurangan para penjilat, tentu ia akan menyingkirkan mereka. Ia akan membersihkan istananya dari orang-orang yang merusak keadilan.

Tetapi bagaimana jika seorang raja hanya menjadi raja karena pangkat dan keturunan, sementara hati dan budinya lemah?

Jika raja seperti itu mudah percaya kepada fitnah dan rayuan orang yang pandai mengambil muka, maka orang-orang yang jujur akan tersingkir.

Akhirnya, istana kehilangan orang-orang yang ikhlas dan justru dipenuhi orang-orang yang menjadi beban bagi kerajaan.

Jika keadaan itu terus berlangsung, ketika kerajaan menghadapi bahaya, siapakah yang akan mempertahankannya?

Para penjilat?

Mereka mungkin pandai mencari muka ketika keadaan aman. Tetapi belum tentu mereka sanggup berdiri ketika kerajaan berada dalam bahaya."

Raja terdiam.

Kini ia tidak lagi mendengar sekadar alasan seorang hukama yang memilih hidup menyendiri. Ia sedang mendengar sebuah cermin yang diarahkan kepada dirinya sendiri.

Hukama:
"Itulah sebabnya saya memilih menjauh.

Bukan karena saya membenci Baginda.

Bukan pula karena saya meremehkan kemuliaan yang Baginda tawarkan.

Saya menjauh karena saya takut kehilangan ketenteraman jiwa. Saya takut, jika terlalu dekat dengan pangkat dan harta, saya justru kehilangan sesuatu yang lebih berharga: akal yang jernih, hati yang bersih, dan kebebasan untuk mengatakan kebenaran.

Sebab orang yang telah terlalu banyak menerima pemberian sering kali mulai takut kehilangan pemberian itu.

Dari sanalah kebenaran dapat dikorbankan."

Kemudian hukama itu menutup nasihatnya dengan sebuah peringatan:

Hukama:
"Tamak akan harta adalah pintu kebinasaan jiwa.

Tamak akan kedudukan menyuburkan tipu daya.

Dan terlalu mengejar kemuliaan dunia dapat membuat manusia menanggalkan budi bahasa serta kehilangan kemerdekaan hatinya.

Karena itu, Baginda, saya memilih hidup sederhana.

Saya tidak ingin memiliki terlalu banyak sehingga harus kehilangan ketenangan.

Saya tidak ingin terlalu dekat sehingga tidak lagi bebas berkata benar.

Bagi saya, itulah salah satu timbangan orang berakal: bukan bertanya, 'Berapa banyak yang dapat saya peroleh?', tetapi bertanya, 'Apa yang akan hilang dari diri saya jika saya memperoleh semua itu?'"

Di situlah letak hikmah yang sebenarnya.

Orang berakal tidak selalu memilih jalan yang paling tinggi kedudukannya. Ia memilih jalan yang paling selamat bagi akalnya, paling bersih bagi hatinya, dan paling jauh dari sesuatu yang dapat menundukkan dirinya kepada hawa nafsu.

Sebab kekayaan dapat diperoleh kembali, pangkat dapat digantikan, dan kemuliaan dunia dapat hilang dalam sekejap.

Tetapi ketika hati telah rusak oleh ketamakan, ketika akal telah dikalahkan oleh kepentingan, dan ketika lidah telah kehilangan keberanian untuk mengatakan kebenaran, jauh lebih sulit untuk mengembalikannya.

Itulah timbangan orang berakal: mampu membedakan antara sesuatu yang tampak sebagai kemuliaan dengan sesuatu yang benar-benar membawa keselamatan.

Akal Budi Tidak Terletak pada Penampilan Banyak tanda yang dapat menjadi bukti tentang kualitas akal seseorang. Tanda-tanda itu ...

Akal Budi Tidak Terletak pada Penampilan

Banyak tanda yang dapat menjadi bukti tentang kualitas akal seseorang. Tanda-tanda itu sekilas mungkin menyerupai firasat, tetapi sesungguhnya lebih dapat dipertanggungjawabkan karena tampak melalui sikap, perkataan, dan perbuatannya.

Salah satu tanda orang yang berakal ialah kecenderungannya memilih akhlak yang mulia. Ia menjaga dirinya dari pekerjaan yang rendah menurut ukuran kehormatan dan kebijaksanaan. Bahkan ketika harus menahan lapar atau menerima ejekan, ia tetap enggan melakukan sesuatu yang dapat merendahkan martabatnya. Baginya, kehormatan diri lebih berharga daripada kesenangan sesaat.

Para hukama pernah ditanya, “Apakah bukti orang berakal?”

Jawabnya, “Perkataannya tidak banyak yang sia-sia.”

Lalu ditanyakan lagi, “Jika kita tidak mendengar perkataannya dan hanya mendengar namanya dari kejauhan, bagaimana kita dapat mengetahui kualitasnya?”

Jawabnya, “Dengan tiga perkara: mengenal utusannya, membaca tulisannya, dan melihat hadiahnya. Utusannya adalah bayang-bayang dirinya, suratnya menunjukkan susunan pikirannya, sedangkan hadiahnya menunjukkan timbangannya. Kurang atau lebihnya ketiga perkara itu dapat menjadi ukuran tentang orangnya.”

Ada hikmah yang sangat dalam di balik ungkapan tersebut. Seseorang tidak selalu harus berbicara langsung untuk memperlihatkan siapa dirinya. Cara ia mengutus orang lain, cara ia menulis, dan cara ia memberi sesuatu kepada orang lain dapat menjadi cermin dari akal, karakter, dan pertimbangannya.

Bahkan para hukama mengatakan, “Yang sebesar-besar aksi atas akal seseorang ialah caranya menghadapi orang lain.”

Memang, kehidupan sehari-hari menyediakan banyak sekali kesempatan untuk mengenali manusia. Kadang-kadang hanya dengan sekali pertemuan, kita sudah dapat menangkap sesuatu tentang watak seseorang. Bukan karena kita mengetahui seluruh dirinya, melainkan karena sikap kecil sering kali membuka jendela menuju kepribadian yang lebih dalam.

Namun, di sinilah kita perlu berhati-hati: jangan sampai kita mengukur manusia hanya dari apa yang tampak di luar.

Pakaian yang gagah bukan bukti keluasan ilmu. Sepatu yang bagus bukan tanda kebijaksanaan. Penampilan yang mewah tidak selalu menunjukkan kemuliaan jiwa. Ilmu tidak terletak pada pakaian, akal tidak terletak pada baju, dan kebijaksanaan tidak terletak pada sepatu.

Tidak setiap sesuatu yang tampak putih dapat disebut lilin.

Al-Asma’i pernah menceritakan pengalamannya ketika melihat seorang tua di Basrah. Pakaian orang itu sangat indah, sikapnya tangkas, dan pengiringnya banyak. Dari penampilannya, orang mungkin akan menyangka bahwa ia seorang yang penting dan berilmu. Al-Asma’i pun berniat menguji akalnya.

Ia bertanya, “Siapakah gelar tuan?”

Orang itu menjawab dengan menyebut rangkaian gelar yang panjang dan terdengar hebat. Mendengar jawabannya, Al-Asma’i tertawa. Ia segera mengetahui bahwa pakaian, sikap, dan banyaknya pengiring tidak mampu menyembunyikan keterbatasan akal seseorang.

Kisah semacam ini mengingatkan kita bahwa nama besar tidak otomatis melahirkan pribadi besar.

Ada orang yang diberi nama tokoh-tokoh besar, tetapi tidak mendapatkan pendidikan yang sepadan dengan nama tersebut. Ada pula yang sengaja memperpanjang namanya dengan gelar-gelar yang terdengar agung, seakan-akan kemuliaan dapat dibangun hanya dengan susunan kata.

Padahal, nama hanyalah panggilan. Yang memberikan nilai kepada sebuah nama adalah kehidupan orang yang menyandangnya.

Pernah pula diceritakan tentang seorang perempuan yang menamai anaknya “Mustafa Kemal” karena berharap anaknya kelak menjadi seperti tokoh besar Turki tersebut. Akan tetapi, anak itu tidak mendapatkan pendidikan yang memadai. Ia justru disuruh menggembalakan sapi.

Suatu hari, ketika sapi itu masuk ke ladang orang lain, sang ibu berteriak keras, “Mustafa Kemal! Mustafa Kemal!”

Orang-orang yang mendengarnya mungkin terkesan oleh nama besar itu. Namun, setelah dipanggil berulang-ulang, anak tersebut menjawab dengan suara keras, “Apa!”

Ibunya pun berkata, “Sapimu telah masuk ke ladang orang!”

Kisah tersebut memang mengandung humor, tetapi di balik kelucuannya terdapat pelajaran yang serius: nama tidak akan mengangkat seseorang apabila kehidupan yang dijalaninya tidak mencerminkan nilai yang terkandung dalam nama itu.

Karena itu, jangan berharap nama baik dengan sendirinya akan memperbaiki seseorang. Justru manusialah yang harus memperbaiki dirinya sehingga nama yang disandangnya menjadi baik karena perbuatannya.

Dengan kata lain, bukan nama yang memuliakan diri, melainkan dirilah yang memuliakan nama.

Hal yang sama berlaku pada pakaian dan penampilan.

Konon, pernah ada seseorang yang naik kereta api dari Padang menuju Padang Panjang dengan penampilan yang luar biasa gagah. Ia mengenakan dua dasi, gigi emas, jas wol, sepatu, bahkan jas hujan meskipun hari sedang panas. Di tangannya terdapat lampu senter, padahal matahari sedang terang.

Ia kemudian membaca surat kabar dengan penuh kesungguhan. Kacamata berbingkai emas telah bertengger di wajahnya. Namun, surat kabar yang dibacanya ternyata terbalik.

Kisah itu kembali mengingatkan kita bahwa penampilan dapat memberikan kesan, tetapi tidak dapat menjamin isi.

Ada pula cerita tentang seseorang yang datang ke kantor pos dengan penampilan yang tampak meyakinkan. Ia mengenakan sarung kain Bugis, membawa tongkat, memakai kacamata, dan menyelipkan dua pulpen, pensil, serta notes di sakunya. Ia hendak mengambil uang dari wesel.

Pegawai pos memintanya membubuhkan tanda tangan. Ia mencoba mengelak dengan mengatakan bahwa pulpennya kehabisan tinta dan pensilnya tumpul. Pegawai itu kemudian memberinya tinta.

Pada saat itulah terungkap bahwa orang tersebut ternyata tidak dapat menulis. Akhirnya, ia harus menggunakan cap jari sebagai tanda pengesahan.

Sekali lagi, penampilan yang meyakinkan ternyata tidak selalu berbanding lurus dengan kemampuan yang sesungguhnya.

Maka janganlah kita terlalu mudah terpesona oleh pakaian, gelar, nama, jabatan, atau kemewahan seseorang. Semua itu mungkin menjadi bagian dari kehidupan manusia, tetapi tidak cukup untuk menjadi ukuran kedalaman akal dan budi.

Sebaliknya, orang yang benar-benar berilmu kadang-kadang justru tidak memiliki banyak waktu untuk memikirkan mode. Orang yang sibuk membangun pemikiran mungkin tidak sempat memikirkan bagaimana rambutnya harus ditata. Orang yang sedang bekerja untuk sesuatu yang lebih besar mungkin tidak terlalu sibuk memastikan dirinya selalu tampak mengesankan di hadapan orang lain.

Pada akhirnya, yang paling penting bukanlah bagaimana seseorang terlihat, melainkan siapa dirinya ketika penampilan itu disingkirkan.

Akal terlihat dari cara berpikir.
Ilmu terlihat dari manfaatnya.
Akhlak terlihat dari cara memperlakukan orang lain.
Kematangan terlihat dari cara menghadapi keadaan.
Dan kemuliaan seseorang terlihat dari apa yang ia lakukan ketika tidak ada orang yang sedang memujinya.

Karena itu, jangan sibuk menghias nama tetapi lupa mendidik diri. Jangan sibuk memperindah penampilan tetapi melupakan akhlak. Jangan mengejar kesan sebagai orang berilmu sementara perkataan dan perbuatan justru menunjukkan sebaliknya.

Nama boleh besar, pakaian boleh indah, gelar boleh panjang, tetapi semua itu tidak akan mampu menggantikan akal dan akhlak.

Pada akhirnya, bukan penampilan yang menentukan nilai seseorang.

Dirilah yang harus dibentuk. Akal harus dipertajam. Ilmu harus diamalkan. Akhlak harus dimuliakan.

Sebab manusia tidak menjadi mulia karena nama yang diberikan kepadanya.

Justru dirinya sendirilah yang akan membuat namanya menjadi mulia.

Akal: Ikatan yang Menuntun Manusia Arti kata akal adalah ikatan. Pengertian ini sangat sesuai dengan fungsinya. Sebagaimana tali...

Akal: Ikatan yang Menuntun Manusia

Arti kata akal adalah ikatan. Pengertian ini sangat sesuai dengan fungsinya. Sebagaimana tali mengikat unta agar tidak berlari tanpa arah, akal mengikat manusia agar tidak lepas mengikuti hawa nafsunya. Dalam pepatah Melayu dikenal ungkapan: “Mengikat binatang dengan tali, mengikat manusia dengan akal.”

Akal, dengan demikian, bukan sekadar kemampuan berpikir. Ia adalah kekuatan batin yang membuat manusia mampu menahan diri, mempertimbangkan sesuatu, melihat akibat dari perbuatannya, lalu memilih jalan yang patut ditempuh.

Amin bin Abdul Kudus menjelaskan bahwa secara istilah, akal adalah pengetahuan tentang perkara-perkara yang mesti diketahui. Pengetahuan itu dapat diperoleh melalui dua jalan. Pertama, melalui pancaindra. Mata menangkap bentuk, warna, ukuran dan keadaan benda. Telinga mengenali suara, apakah merdu atau sumbang, dekat atau jauh. Lidah mengenali rasa asin, manis dan asam. Hidung mengenali harum dan busuk, sedangkan kulit merasakan kasar dan lembut.

Kedua, ada pengetahuan yang bermula dari dalam diri manusia. Misalnya, mengetahui bahwa sesuatu ada atau tidak ada; memahami bahwa gerak dan diam tidak mungkin berkumpul pada saat yang sama; atau mengetahui bahwa satu lebih sedikit daripada dua. Pengetahuan semacam ini merupakan perkara yang bersifat dharuri, yaitu pengetahuan dasar yang secara langsung dapat diketahui oleh manusia yang sehat akalnya.

Pengertian tersebut pada dasarnya tidak bertentangan dengan perkembangan ilmu pengetahuan modern. Akal terbentuk melalui pertemuan berbagai unsur dalam diri manusia: pancaindra, pikiran, kemauan, dan perasaan. Pancaindra menangkap kenyataan, pikiran mengolahnya, kemauan mendorong manusia untuk menyelidikinya, sedangkan perasaan memberikan warna terhadap apa yang dialaminya.

Karena itu, ada pula yang mendefinisikan akal sebagai kemampuan untuk memperoleh pertimbangan yang membuat manusia dapat mengatur pekerjaannya dengan baik serta memahami akibat, keuntungan, dan kerugiannya.

Namun, sampai di sini kita perlu berhenti sejenak. Apakah setiap orang yang mampu berpikir dan memperhitungkan keuntungan serta kerugian sudah dapat disebut sebagai orang yang berakal?

Belum tentu.

Dalam pengertian yang lebih dalam, orang berakal bukan hanya orang yang cerdas, melainkan orang yang arif dan bijaksana. Ia mampu menimbang sesuatu secara proporsional, memahami sebab dan akibat, serta belajar dari perjalanan hidup. Penderitaan dapat memutihkan rambutnya, tetapi pengalaman menjernihkan pikirannya. Apa yang dilihat dan didengarnya tidak berlalu begitu saja. Semuanya menjadi bahan yang memperkaya jiwa dan mempertajam pandangan.

Orang semacam itu belajar mengenali awal dan akhir suatu perkara, memahami sebab dan akibat, serta mampu mengambil pelajaran dari pengalaman. Karena itu, ia bukan sekadar memiliki kecerdasan, tetapi memiliki kebijaksanaan. Ia dapat menjadi teladan bagi orang-orang di sekitarnya karena dari kecerdikan akalnya, keluasan ilmunya, dan ketajaman pengalamannya lahir berbagai pertimbangan yang dapat dijadikan pedoman hidup.

Di sinilah akal memperoleh maknanya yang lebih tinggi.

Akal bukan hanya kemampuan mengetahui, tetapi kemampuan mengambil sikap yang benar berdasarkan apa yang diketahui.


Orang yang berakal, dalam pengertian ini, adalah orang yang memperoleh inayah dari Allah. Ia memiliki kekayaan batin yang tidak dapat diukur dengan harta. Seorang jutawan mungkin kaya karena banyak memiliki sesuatu di luar dirinya, tetapi orang yang diberi cahaya hidayah memiliki kekayaan yang memancar dari dalam dirinya.

Hatinya dipenuhi kebijaksanaan. Prasangkanya baik. Harapannya benar. Ia tidak berhenti pada apa yang tampak di permukaan, tetapi berusaha menembus sampai kepada hakikat. Orang lain mungkin hanya melihat kulit sebuah peristiwa, sedangkan ia berusaha memahami isinya. Karena itu, ia tidak mudah tergelincir dengan sengaja.

Menurut sebagian ahli ilmu jiwa, akal bukanlah satu sifat yang berdiri sendiri. Ia merupakan hasil kerja sama tiga unsur dalam diri manusia: pikiran, kemauan, dan perasaan—al-fikr, al-iradah, dan al-wijdan. Dalam ungkapan yang sederhana: rasa, periksa, dan karsa.

Pancaindra menjadi pintu pertama yang menangkap berbagai kenyataan. Apa yang ditangkap itu kemudian masuk ke dalam pikiran. Pikiran melahirkan dorongan untuk menyelidiki. Dari sana muncul pula perasaan—senang atau sedih, kagum atau takut, tenang atau gelisah. Ketiga unsur itu saling berinteraksi hingga lahirlah pengetahuan.

Bayangkan seseorang berjalan sendirian di sebuah tempat yang sunyi. Alam terbentang indah di hadapannya. Keindahan itu mungkin menimbulkan rasa haru dan takjub. Kesunyian mungkin menghadirkan rasa sepi. Dari perasaan tersebut muncul keinginan untuk mengetahui: mengapa alam ini begitu indah? Dari mana keindahan itu berasal? Bagaimana semua itu terjadi?

Pertanyaan-pertanyaan itu menggerakkan pikirannya.

Perasaan, kemauan, dan pikiran akhirnya bekerja bersama. Dari sinilah lahir makrifah, yaitu pengetahuan yang lebih mendalam.

Semakin panjang seseorang menjalani kehidupan, semakin banyak pula pengalaman yang semestinya memperluas pikirannya, memperteguh kemauannya, dan mengajarinya menggunakan akalnya dengan lebih matang.

Tidak semua manusia memiliki kekuatan yang sama pada ketiga unsur tersebut. Ada yang sangat halus perasaannya sehingga menjadi seniman besar. Namun, ketika menciptakan karya, ia tetap membutuhkan pikiran dan kemauan. Ada filosof yang sangat dalam pikirannya, tetapi gagasan-gagasannya tetap lahir melalui perasaan dan kehendaknya. Ada pula pemimpin atau panglima yang memiliki kemauan keras. Namun, kemauan itu sering kali bermula dari perasaan: kesedihan melihat penderitaan bangsanya atau kemarahan menyaksikan kezaliman. Setelah itu, pikirannya bekerja mencari jalan untuk mewujudkan kehendaknya.

Dengan demikian, karya manusia pada hakikatnya lahir dari perpaduan berbagai kekuatan batin.

Syair dan roman yang indah lahir dari rasa keindahan yang ditopang pikiran. Pemikiran filsafat yang mendalam lahir dari pikiran yang besar, tetapi tetap membutuhkan perasaan dan kemauan. Ilmu peperangan dan perjuangan lahir dari kemauan yang teguh, tetapi membutuhkan pikiran yang sehat dan perasaan yang menggerakkannya.

Karena itu, tidak tepat jika akal hanya dipersempit menjadi kemampuan berpikir secara logis.

Bahkan, sebagian ahli ilmu jiwa berpendapat bahwa pengetahuan datang lebih dahulu setelah berbagai kenyataan ditangkap oleh pancaindra. Namun, pengetahuan itu pun tidak serta-merta lahir hanya karena mata melihat atau telinga mendengar. Perhatian sangat menentukan.

Seseorang dapat berjalan di tengah keramaian dengan mata terbuka dan telinga mendengar berbagai suara, tetapi jika seluruh pikirannya sedang tertuju pada persoalan yang sangat berat, ia mungkin tidak menyadari ketika seseorang menegurnya. Ia mendengar suara itu, tetapi kesadarannya belum hadir di sana. Setelah berjalan beberapa langkah, barulah ia tersadar bahwa ada orang yang menyapanya.

Peristiwa sederhana ini menunjukkan bahwa melihat tidak selalu berarti mengetahui, dan mendengar tidak selalu berarti menyadari.

Ada sesuatu yang lebih dalam: perhatian, kesadaran, dan pikiran.

Di sanalah rahasia akal mulai tampak.

Akal bekerja ketika manusia tidak sekadar menerima apa yang masuk melalui pancaindra, tetapi menghadirkannya ke dalam kesadaran, memikirkannya, merasakannya, mempertimbangkannya, lalu mengambil sikap.

Maka, semakin sempurna akal seseorang, semestinya semakin dalam pula kemampuannya membaca kehidupan. Ia tidak hanya bertanya, “Apa yang terjadi?”, tetapi juga, “Mengapa ini terjadi? Apa maknanya? Apa akibatnya? Dan apa yang seharusnya kulakukan?”

Pada titik itulah akal menjadi lebih daripada kecerdasan.

Ia menjadi ikatan yang menjaga manusia agar tidak diperbudak oleh hawa nafsu, sekaligus cahaya yang menuntunnya mengenali jalan yang benar.

Sebab manusia tidak menjadi mulia hanya karena ia mampu mengetahui banyak hal. Ia menjadi mulia ketika pengetahuannya membuatnya mampu mengendalikan diri, memahami kehidupan, mengambil pelajaran, dan memilih kebenaran meskipun hawa nafsunya mengajaknya ke arah yang lain.

Itulah akal yang sesungguhnya: bukan sekadar mengetahui, melainkan mampu mengikat diri kepada kebenaran.

Mengatur Kerja Amat jarang orang benar-benar memikirkan pentingnya mengatur dan merencanakan pekerjaan yang akan dihadapinya. Ak...

Mengatur Kerja


Amat jarang orang benar-benar memikirkan pentingnya mengatur dan merencanakan pekerjaan yang akan dihadapinya. Akibatnya, pekerjaan sehari-hari sering berjalan tanpa arah: banyak yang dikerjakan, tetapi tidak sedikit yang terbengkalai. Bahkan orang yang cerdik dan berpengetahuan pun tidak selalu terbebas dari kelemahan ini.

Padahal, apabila seseorang membiasakan diri menyusun rancangan pekerjaan setiap hari, kemudian berusaha menjalankan keputusan yang telah dibuatnya sendiri, banyak kelemahan akan dapat dikurangi. Rencana membuat langkah menjadi lebih teratur. Ia menenangkan hati, mengurangi keraguan, dan memudahkan seseorang bergerak menuju apa yang disebut orang sebagai sukses.

Namun, mengatur pekerjaan bukan berarti memaksa diri mengerjakan segala sesuatu sekaligus. Rencana yang baik harus disesuaikan dengan keadaan tubuh, kemampuan, dan tabiat manusia. Janganlah pekerjaan melebihi kekuatan diri. Jangan pula kita memilih pekerjaan yang bertentangan dengan kewajiban atau memaksakan diri berada di tempat yang memang bukan medan perjuangan kita.

Karena itu, mengenal diri sendiri merupakan bagian penting dari mengatur kehidupan. Perhatikan keadaan diri, kecenderungan hati, kemampuan, dan budi pekerti. Ukurlah langkah dan kenalilah batas kemampuan. Orang yang ingin berhasil dalam pekerjaannya ialah orang yang mampu "mengukur bajunya sesuai dengan tubuhnya".

Seseorang yang memiliki kecenderungan menjadi wartawan, misalnya, belum tentu akan berhasil jika dipaksa menjadi tentara. Di medan perang mungkin ia tidak akan menjadi panglima, sebab medan perjuangannya memang bukan di sana. Tetapi apabila ia menjadi wartawan perang atau bekerja dalam bidang administrasi, kemampuan yang ada dalam dirinya justru dapat menemukan tempatnya.

Dari sini kita belajar bahwa tidak ada pekerjaan yang rendah dan hina. Yang membuat sebuah pekerjaan menjadi hina bukanlah pekerjaannya, melainkan perangai orang yang mengerjakannya. Pekerjaan yang sederhana dapat menjadi mulia apabila dilakukan dengan amanah, sungguh-sungguh, dan budi yang baik. Sebaliknya, pekerjaan yang dipandang tinggi dapat menjadi hina apabila dilakukan dengan kesombongan dan kezaliman.

Ada kalanya seseorang ditempatkan dalam sebuah lingkungan yang ternyata tidak sesuai dengan tabiat dan kemampuannya. Ia selalu berada di barisan belakang, sulit mengikuti disiplin, dan tidak mampu memberikan sumbangan terbaiknya. Keadaan seperti itu tidak selalu berarti bahwa ia tidak berguna. Bisa jadi ia hanya berada di tempat yang salah.

Jika seseorang kemudian menyadari bahwa dirinya lebih cocok berada di dunia kepengarangan, misalnya, lalu berpindah ke sana dan akhirnya menemukan keberhasilannya, masyarakat justru memperoleh keuntungan. Sebab, sebuah kekuatan yang semula tersembunyi akhirnya menemukan tempat untuk berkembang.

Maka, janganlah kita mengukur manusia hanya berdasarkan kedudukannya. Masyarakat akan menjadi lemah apabila semua orang dipaksa berjalan pada jalan yang sama. Setiap orang memiliki kecenderungan, kemampuan, dan medan pengabdian masing-masing. Yang penting bukan hanya apa pekerjaannya, tetapi bagaimana ia menjalankan pekerjaan tersebut.

Akan tetapi, manusia tetaplah manusia. Dalam perjalanan hidup, kita dapat salah dan khilaf. Tidak ada manusia yang sepanjang hidupnya tidak pernah tergelincir. Karena itu, yang penting bukan sekadar mengingat keberhasilan, tetapi juga mengingat tempat kita pernah jatuh.

Di mana langkah kita pernah tergelincir? Lubang apa yang pernah membuat kita jatuh? Mengapa kita sampai terperosok ke sana?

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu penting bagi orang yang ingin menggunakan akalnya dengan baik. Kesalahan seharusnya menjadi guru. Jika suatu jalan berkali-kali terbukti membawa kita kepada kegagalan, janganlah keras kepala terus berjalan di jalan yang sama. Beralihlah kepada medan perjuangan yang lain.

Sebagaimana pepatah mengatakan:

«"Tertumbuk biduk di belokkan, tertumbuk kata dipikiri."»

Hidup membutuhkan kemampuan untuk menyesuaikan langkah tanpa kehilangan tujuan.

Akal yang sehat juga mengajarkan manusia untuk mengetahui kewajibannya sesuai dengan tahap kehidupannya. Ketika masih kecil, hormatilah ayah dan ibu. Ketika berada di sekolah, hormatilah dan berkhidmatlah kepada guru. Ketika muda, hormatilah orang yang lebih tua dan dengarkanlah pengalaman mereka. Orang yang telah banyak mengalami penderitaan biasanya memiliki sesuatu yang tidak dapat diperoleh hanya dari buku.

Pada masa muda pula, seseorang perlu belajar menahan syahwat dan hawa nafsunya. Jangan sampai seluruh tenaga dihabiskan untuk kesenangan sesaat sehingga ketika usia bertambah, kekuatan telah lebih dahulu terkuras.

Warisan orang tua pun bukan hanya harta. Harta dapat habis, tetapi budi yang baik dapat terus hidup bahkan setelah seseorang meninggal. Teladan, akhlak, keberanian, kejujuran, dan kasih sayang yang diwariskan kepada anak sering kali jauh lebih berharga daripada kekayaan yang ditinggalkan.

Karena itu, orang tua pun perlu mengetahui tempat dan perannya. Ketika usia bertambah, kurangi pekerjaan yang berat. Berikan kesempatan kepada generasi muda untuk tumbuh. Awasi dari kejauhan, berikan nasihat, dan arahkan dengan bijaksana. Jangan menjadi batu penarung bagi pemuda hanya karena mereka tidak bertingkah seperti pemuda pada zaman kita dahulu.

Tua bukan berarti tidak berguna. Orang tua justru dapat menjadi tulang belakang bagi orang muda: memberikan pengalaman, menunjukkan arah, dan menjadi tempat bertanya ketika anak muda kehilangan pertimbangan.
Jangan pula mematikan gelora masa muda dengan tuntutan agar mereka segera menjadi seperti orang tua. Pemuda memang memiliki tenaga, keberanian, dan semangat untuk bergerak. Menghambat seluruh geraknya sama seperti mengikat kaki dan tangan seorang anak kecil agar tidak belajar bergerak.

Sebaliknya, orang tua juga harus mampu mengoreksi dirinya sendiri. Jangan sampai usia bertambah, tetapi kebijaksanaan tidak ikut bertambah. Ada orang yang semakin tua justru semakin kuat mempertahankan gengsi, merasa paling tahu, dan memandang rendah generasi yang lebih muda. Usia semestinya membuat seseorang semakin lapang memahami kehidupan, bukan semakin keras mempertahankan keakuan.

Karena itu, setiap manusia hendaknya tahu bagaimana "memakai pakaian masing-masing". Pemuda dengan semangat mudanya, orang tua dengan kebijaksanaannya, guru dengan ilmunya, pemimpin dengan tanggung jawabnya, dan masyarakat dengan hak serta kewajibannya.

Seorang hakim atau orang yang diberi kekuasaan hendaknya sadar bahwa kehormatan tidak datang semata-mata dari pangkat. Seseorang dihargai karena budi dan keadilannya. Celakalah orang yang disegani bukan karena kebijaksanaannya, melainkan karena kezalimannya.

Demikian pula orang yang hidup di rantau hendaknya mengetahui batas dirinya. Jangan mencampuri urusan orang di kampung tanpa alasan yang benar. Setiap orang memiliki wilayah kehidupan dan tanggung jawab masing-masing. Menghormati batas bukan berarti tidak peduli, melainkan memahami bahwa kehidupan bersama membutuhkan kedewasaan dalam menempatkan diri.

Inilah salah satu ciri kehidupan orang yang berakal: ia tegak pada garisnya sendiri, menjaga haknya, tetapi sekaligus menghormati hak orang lain. Ia tidak hidup dengan merampas ruang orang lain. Ia bersama-sama berkhidmat kepada peraturan, keadilan, dan kemaslahatan.

Cara kita memandang kesalahan pun perlu terus berkembang. Dahulu, kesalahan seseorang sering segera dinilai dari perkataan atau perbuatannya. Masyarakat cepat menjatuhkan hukuman berdasarkan apa yang tampak. Namun, kehidupan yang lebih matang mengajarkan kita untuk melihat lebih dalam: memahami akal, jiwa, keadaan, dan latar belakang seseorang.

Bukan berarti kesalahan harus dibiarkan. Tetapi sebelum menghakimi, gunakanlah akal. Pahami manusia secara utuh.

Pada akhirnya, mengatur kerja bukan hanya soal membuat jadwal atau menyusun daftar pekerjaan. Ia adalah bagian dari seni mengatur kehidupan.

Gerak-gerik hendaknya berada dalam kesopanan. Duduk dan berbicara hendaknya dalam adab. Pikirkan dahulu sebelum bertindak. Jangan hidup dengan dorongan yang tidak terkendali.

Sebab hidup manusia bukan sekadar soal bertahan hidup.

Babi di hutan hidup, tetapi ia hidup dengan memakan apa yang ada. Anjing di kampung juga hidup, tetapi hidup dari sisa. Kucing di rumah pun hidup, tetapi sering hanya menunggu makanan yang diberikan kepadanya.

Hidup manusia tidak boleh berhenti pada sekadar hidup.

Manusia diberi akal agar mampu memilih jalan. Diberi hati agar mampu memahami. Diberi budi agar mampu membedakan yang patut dan tidak patut. Diberi kehidupan agar dapat memberikan manfaat.

Maka, hidup yang baik ialah hidup yang teratur dalam pekerjaan, mengenal batas diri, mengetahui medan pengabdian, belajar dari kesalahan, menghormati setiap generasi, menjaga hak orang lain, serta menjadikan akal dan budi sebagai penuntun langkah.

Lezat akal, sempurna basa; mulia hati, lautan paham, penuh melaut kira-kira.

Begitulah hidup orang yang benar-benar menggunakan akalnya: tidak hidup sembarang hidup, tetapi hidup dengan pertimbangan, adab, tanggung jawab, dan manfaat.

Hidup Pernahkah kita bertanya, mengapa tidak pernah ada dua manusia yang benar-benar sama jalan kehidupannya? Bahkan dua...

Hidup
Pernahkah kita bertanya, mengapa tidak pernah ada dua manusia yang benar-benar sama jalan kehidupannya?

Bahkan dua orang yang lahir dari rahim yang sama pun tidak memiliki kekuatan tubuh, kecerdasan, pengalaman, keinginan, dan perjalanan hidup yang sepenuhnya sama. Setiap manusia memiliki kekuatannya sendiri. Sebagaimana wajah, suara, dan langkah kaki membedakan seseorang dari orang lain, demikian pula akal dan jalan hidupnya.

Bahkan perbedaan itu telah mulai tampak sejak manusia masih berada dalam rahim ibunya.

Setiap anak lahir membawa keunikan yang tidak sama dengan anak lainnya. Bentuk tubuhnya berbeda, demikian pula susunan otaknya. Di dalam otak terdapat jaringan sel yang sangat banyak dan sangat halus. Sel-sel itu saling berhubungan dan bekerja membentuk suatu sistem yang luar biasa rumit. Ada bagian yang menerima rangsangan dari telinga, mata, hidung, tangan, kaki, dan seluruh tubuh. Semuanya bermuara dalam suatu pusat pengaturan yang kita kenal sebagai otak.

Lalu kita bertanya: siapakah yang mengatur semua itu?

Kita bekerja sejak dilahirkan. Kita berpikir, mengingat, berkehendak, membayangkan, mencita-citakan sesuatu, dan mengambil keputusan. Semua pengalaman yang telah berlalu seakan-akan tidak benar-benar hilang. Sebagian tersimpan dalam perbendaharaan ingatan.

Karena itu, bukankah menakjubkan bahwa sesuatu yang pernah terjadi bertahun-tahun lalu masih dapat muncul kembali dalam ingatan kita hanya karena sebuah suara, aroma, wajah, atau tempat tertentu mengingatkannya?

Di situlah kita mulai menyadari betapa rumitnya kehidupan manusia.

Otak, Akal, dan Misteri Kehidupan

Para ahli kedokteran telah mempelajari otak manusia dengan berbagai alat dan metode. Mereka menemukan bahwa susunannya sangat rapi, sedangkan cara kerjanya amat kompleks. Semakin manusia mempelajarinya, semakin banyak pula rahasia yang terbuka.

Otak seorang anak berkembang seiring pertumbuhannya menuju dewasa. Kemampuan berpikir, mengingat, memahami, dan mengambil keputusan pun berkembang. Tetapi bagaimana jika perkembangan itu terganggu oleh penyakit atau cedera?

Ada seorang anak muda dalam keluarga kami yang berasal dari keturunan orang-orang yang dikenal memiliki kemampuan berpikir baik dan berbudi pekerti. Namun ia mengalami kesulitan dalam pelajaran yang membutuhkan kemampuan berhitung, menghafal, dan berpikir secara abstrak.

Ketika berumur sekitar empat tahun, ia pernah jatuh dan kepalanya terbentur. Bekas benturan itu bahkan masih terlihat ketika ia dewasa.

Ia dapat memahami sesuatu apabila diperlihatkan kepadanya, tetapi mengalami kesulitan ketika harus memikirkannya sendiri.

Bukankah pengalaman seperti ini mengajarkan kepada kita bahwa kesehatan tubuh dan kesehatan akal tidak dapat dipisahkan?

Jika bagian tertentu dari otak mengalami gangguan, kemampuan yang berkaitan dengannya pun dapat terganggu. Karena itu, menjaga kesehatan otak berarti juga menjaga salah satu perangkat penting yang memungkinkan manusia berpikir dan menjalani kehidupannya.

Namun di sini muncul pertanyaan yang lebih dalam:

Apakah manusia hanyalah otaknya?

Apakah Akal Hanya Hasil Kerja Otak?

Sebagian ahli yang memandang kehidupan terutama dari sisi material berusaha menjelaskan akal, kehendak, ingatan, dan berbagai gejala kejiwaan melalui kerja otak.

Menurut pandangan ini, otak merupakan pusat kehidupan mental manusia. Sebagaimana nyala api muncul dari lilin yang terbakar, demikianlah pikiran dan kesadaran dianggap muncul dari aktivitas otak.

Perumpamaan itu tampak sederhana.

Tetapi apakah benar sesederhana itu?

Di sinilah perbedaan pandangan mulai muncul.

Ada kalangan yang melihat otak sebagai zat jasmani yang menjadi alat bagi sesuatu yang lebih dalam, yaitu kekuatan batin atau roh. Menurut pandangan ini, otak bukanlah sumber terakhir kehidupan, melainkan perkakas yang digunakan oleh kekuatan yang lebih halus.

Bukankah kita sering mengenal sebuah alat melalui apa yang dihasilkannya, tetapi tidak berarti alat itu adalah sumber segala sesuatu yang dihasilkannya?

Sebuah gitar menghasilkan suara, tetapi gitar bukanlah musik itu sendiri. Musik lahir melalui permainan dan pengaturan yang menggunakan gitar sebagai alat.

Demikian pula manusia.

Tubuh adalah jasad. Otak adalah perangkat yang luar biasa rumit. Tetapi apakah seluruh hakikat manusia dapat direduksi menjadi tubuh dan otaknya?

Pertanyaan itu membawa kita kepada wilayah yang lebih dalam: roh.

Bagi kalangan yang memandang kehidupan dari sisi rohani, roh bukan sekadar produk dari tubuh. Roh dipandang sebagai sesuatu yang datang dari alam yang tidak sepenuhnya dapat dijangkau oleh pengamatan inderawi. Ia menyertai tubuh selama kehidupan berlangsung, kemudian berpisah ketika datang kematian.

Dengan demikian, terdapat dua cara pandang.

Yang pertama mendahulukan tubuh lalu menjelaskan kehidupan dari sana.

Yang kedua melihat tubuh sebagai tempat berlangsungnya kehidupan yang digerakkan oleh sesuatu yang lebih dalam.

Manakah yang sepenuhnya benar?

Mungkin di sinilah manusia harus belajar merendahkan diri di hadapan misteri kehidupan.

Kehidupan: Tenunan yang Tak Terputus

Kehidupan laksana tenunan yang terus bersambung menjadi kain.

Kita melihat satu bagian kecil dari tenunan itu dan menyebutnya sebagai kehidupan kita. Padahal sebelum kita lahir, telah ada kehidupan yang mendahului kita. Setelah kita mati, kehidupan makhluk lain tetap berjalan.

Dari mana pangkal tenunan itu?

Dan ke mana ujungnya?

Kita tidak mengetahui seluruhnya.

Kita hanya menyaksikan satu bagian kecil dari perjalanan yang sangat panjang.

Pada akhirnya, setiap manusia akan sampai pada satu titik yang disebut kematian.

Kematian tidak selalu datang seperti kilat yang menyambar. Dalam banyak keadaan, tubuh mengalami proses yang berlangsung bertahap. Fungsi-fungsi kehidupan melemah, organ-organ berhenti bekerja, dan akhirnya tubuh tidak lagi mampu mempertahankan kehidupannya.

Para ahli kedokteran bahkan menemukan bahwa berbagai bagian tubuh tidak selalu berhenti pada saat yang persis sama. Ada fungsi tertentu yang dapat bertahan sesaat setelah fungsi lainnya berhenti.

Semua itu semakin memperlihatkan kepada kita betapa rumitnya kehidupan.

Kematian bukan sekadar satu titik yang sederhana.

Ia adalah batas antara satu keadaan dengan keadaan yang lain.

Makanan, Udara, dan Kehidupan

Lalu apa yang membuat manusia tetap hidup?

Kita membutuhkan udara. Kita membutuhkan air. Kita membutuhkan makanan. Tubuh membutuhkan berbagai zat untuk mempertahankan kehidupannya.

Otak pun membutuhkan oksigen. Ketika pasokan oksigen terhenti, fungsi otak akan terganggu dan akhirnya berhenti.

Karena itu, tidak mengherankan jika kondisi tubuh sangat memengaruhi kemampuan berpikir.

Anak yang kekurangan gizi dapat mengalami gangguan pertumbuhan. Tubuh yang sakit dapat memengaruhi kejernihan pikiran. Kehidupan yang serba kekurangan dapat menghambat perkembangan manusia.

Maka tidak tepat jika kita memandang kecerdasan hanya sebagai sesuatu yang berdiri sendiri.

Di balik kemampuan berpikir terdapat tubuh yang harus dipelihara.

Namun sekali lagi, pertanyaan itu kembali:

Apakah tubuh yang sehat sudah cukup untuk menjelaskan seluruh hakikat manusia?

Jika makanan, air, dan oksigen dapat menjaga tubuh tetap hidup, dari mana asal kesadaran yang membuat manusia bertanya tentang kehidupan itu sendiri?

Dari mana datangnya keinginan untuk mencari kebenaran?

Dari mana muncul rasa cinta, takut, harapan, cita-cita, dan kesadaran tentang baik dan buruk?

Di sinilah ilmu pengetahuan berhadapan dengan pertanyaan yang lebih besar daripada sekadar tubuh.

Dari Sel Menjadi Manusia

Coba kita kembali kepada awal kehidupan manusia.

Sebelum menjadi manusia yang dapat berbicara, berjalan, berpikir, dan mencintai, manusia bermula dari sesuatu yang sangat kecil.

Sebuah pertemuan terjadi di dalam rahim.

Dari sana bermula proses yang panjang dan menakjubkan. Sel berkembang, membelah, dan membentuk jaringan. Jaringan membentuk organ. Organ menjadi bagian dari tubuh. Perlahan-lahan terbentuklah manusia.

Dari sesuatu yang begitu kecil, lahirlah makhluk yang begitu kompleks.

Allah berfirman:

«“Dialah yang telah membentukmu dalam rahim sebagaimana yang Dia kehendaki.”»

Maka renungkanlah.

Di dalam tubuh kita sendiri terdapat jutaan bahkan miliaran proses kehidupan yang berlangsung tanpa kita perintah secara sadar.

Kita tidak memerintahkan jantung untuk berdetak.

Kita tidak mengatur setiap tarikan napas.

Kita tidak memerintahkan sel untuk menjalankan tugasnya satu per satu.

Namun semuanya berlangsung.

Bukankah ini menunjukkan bahwa manusia bukanlah penguasa mutlak atas dirinya sendiri?

Manusia: Jutaan Kehidupan dalam Satu Kehidupan

Tubuh manusia sendiri merupakan suatu dunia yang sangat besar.

Di dalamnya terdapat begitu banyak sel. Sebagian tumbuh, sebagian bekerja, sebagian mengalami kerusakan, dan sebagian mati. Semua berlangsung dalam satu kesatuan yang kita sebut sebagai tubuh manusia.

Dengan demikian, dalam satu kehidupan terdapat berjuta-juta kehidupan.

Kita hidup, sementara di dalam diri kita berlangsung kehidupan yang jauh lebih kecil yang tidak pernah kita sadari.

Bahkan ketika kita melihat, mendengar, mencium, menyentuh, atau berjalan, ada proses-proses mikroskopis yang bekerja di balik semua itu.

Lalu tiba-tiba muncul sebuah kesadaran:

Bukankah manusia setiap hari mengalami kelahiran dan kematian dalam dirinya sendiri?

Ada sel yang lahir.

Ada sel yang mati.

Ada jaringan yang tumbuh.

Ada jaringan yang rusak.

Ada kekuatan yang bertambah.

Ada kekuatan yang berkurang.

Kita seakan-akan sedang menyaksikan gambaran kecil dari perjalanan hidup manusia secara keseluruhan.

Hari demi hari kita bertumbuh.

Hari demi hari pula kita bergerak menuju kematian.

Pintu yang Belum Terbuka Sepenuhnya

Ilmu pengetahuan terus berkembang. Manusia menemukan sel, memahami proses biologis, mempelajari otak, meneliti saraf, dan mencoba memahami bagaimana kehidupan berlangsung.

Tetapi setiap kali manusia menemukan satu jawaban, sering kali muncul pertanyaan baru.

Dahulu manusia mencari penjelasan tentang kehidupan melalui teori tertentu. Kemudian teori itu berkembang dan digantikan oleh teori yang lebih baru. Manusia menemukan berbagai mekanisme biologis, tetapi tetap menghadapi pertanyaan tentang asal-usul kehidupan dan hakikat kesadaran.

Kita menemukan prosesnya.

Tetapi apakah kita telah menemukan sumber terakhirnya?

Kita mengetahui bagaimana sebagian proses berlangsung.

Tetapi apakah kita telah mengetahui sepenuhnya mengapa kehidupan itu ada?

Di sinilah manusia seakan-akan berdiri di hadapan sebuah pintu yang setengah terbuka.

Kita dapat melihat sebagian dari apa yang ada di baliknya.

Tetapi kita belum mampu membuka seluruhnya.

Dan mungkin memang demikian kedudukan manusia.

Kita diberi akal untuk mencari, tetapi tidak diberi kemampuan untuk mengetahui segala sesuatu.

“Karena Tidak Mendapat, Maka Telah Mendapat”

Pada akhirnya kita sampai kepada sebuah kesadaran yang sederhana tetapi dalam.

Kita tidak mengetahui zat Tuhan dengan penglihatan kita.

Kita tidak dapat mengurung-Nya dalam laboratorium.

Kita tidak dapat membedah hakikat-Nya dengan mikroskop.

Namun apakah karena kita tidak melihat-Nya berarti Dia tidak ada?

Justru dari jejak-jejak ciptaan-Nya kita mengenal keberadaan-Nya.

Kita tidak melihat angin, tetapi kita melihat daun bergerak.

Kita tidak melihat gaya gravitasi, tetapi kita melihat benda jatuh.

Kita tidak melihat hakikat kehidupan secara langsung, tetapi kita melihat kehidupan bekerja dalam diri kita setiap detik.

Maka, ketika manusia telah sampai pada batas pengetahuannya, ia bukan sedang kehilangan jawaban.

Ia justru sedang menemukan batas dirinya sendiri.

“Sebab kita tidak mendapat, maka telah mendapatlah kita.”

Kita tidak mendapatkan hakikat Zat-Nya, tetapi kita mendapatkan kesadaran bahwa ada kekuasaan yang berada di luar kemampuan kita untuk menjangkaunya.

Ada Yang Mengatur.

Ada Yang Menghidupkan.

Ada Yang Menentukan.

Ada Yang Menyusun kehidupan dengan hikmah yang tidak seluruhnya mampu kita pahami.

Tenunan Takdir

Manusia bermula dari pertemuan dua unsur yang sangat kecil. Ia tumbuh di dalam rahim. Ia dilahirkan. Ia belajar berjalan. Ia belajar berbicara. Ia tumbuh, berpikir, mencintai, berjuang, berharap, mengalami kegagalan dan keberhasilan.

Kemudian ia menjadi tua.

Dan akhirnya ia mati.

Namun setiap manusia menempuh jalannya masing-masing.

Tidak ada dua kehidupan yang benar-benar identik.

Ada yang diberi kekuatan jasmani, tetapi sedikit kekayaan.

Ada yang diberi kecerdasan, tetapi diuji dengan penyakit.

Ada yang diberi harta, tetapi diuji dengan kehilangan.

Ada yang hidup sederhana, tetapi hatinya tenteram.

Ada yang berjalan panjang.

Ada yang berjalan singkat.

Ada yang diuji dengan kesulitan sejak kecil.

Ada yang baru mengenal kesulitan ketika dewasa.

Semua itu seperti benang-benang yang berbeda warna, berbeda panjang, dan berbeda bentuk, tetapi ditenun dalam satu kain kehidupan.

Kita hanya melihat satu helai.

Allah melihat seluruh tenunan.

Maka, ketika kita melihat kehidupan orang lain dan merasa jalan mereka lebih mudah daripada jalan kita, mungkin kita sedang membandingkan satu helai benang dengan seluruh kain yang hanya Allah ketahui bentuk akhirnya.

Dan ketika kita merasa hidup kita terlalu berat, mungkin kita lupa bahwa kita sedang berada di tengah tenunan yang belum selesai.

Kita belum melihat gambar keseluruhannya.

Kita belum mengetahui ke mana setiap peristiwa akan membawa kita.

Karena itu, bukankah yang paling pantas bagi manusia adalah menjalani bagian hidupnya dengan kesadaran bahwa ia bukan pemilik mutlak kehidupan?

Ia hanyalah seorang musafir.

Ia datang melalui jalan yang telah dibentangkan.

Ia berjalan dengan bekal yang diberikan.

Ia menggunakan akal yang dianugerahkan.

Ia menikmati kehidupan yang dihidupkan oleh-Nya.

Dan pada saat yang telah ditentukan, ia akan berhenti.

Itulah hidup: sebuah tenunan yang terus berjalan, dari sesuatu yang tidak kita ketahui pangkalnya menuju suatu akhir yang pasti, sementara di sepanjang jalan manusia diajak untuk membaca tanda-tanda kekuasaan Allah dalam dirinya sendiri.

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adam (5) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Akhirat (8) Al-Baqarah (1) Al-Qur'an (362) Al-Qur’an (58) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) An-Nadwi (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bahaya Kemunduran Umat Islam (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (53) Cerita kegagalan (1) cerpen Nabi (8) cerpen Nabi Musa (2) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) dakwah (18) Dakwah (31) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) ekonomi (3) Ekonomi (27) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) english (6) English (6) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fiqh (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (7) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) hikmah (1) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum (2) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) Ikhtilaf (2) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) Islam (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) kecerdasan (22) Kecerdasan (341) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Hadist (4) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) kisah para nabi dan (2) kisah para nabi dan rasul (61) kisah para Nabi dan Rasul (1) Kisah para nabi dan rasul (118) Kisah Para Nabi dan Rasul (577) kisah para nabi dan rasul. Nabi Daud (1) kisah para nabi dan rasul. nabi Musa (2) Kisah Penguasa (1) Kisah ulama (1) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) nabi adam (1) Nabi Adam (75) nabi Adam. Adam (1) Nabi Ayub (1) Nabi Daud (3) Nabi Ibrahim (3) Nabi Isa (2) nabi Isa. nabi ismail (1) Nabi Ismail (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Khidir (1) Nabi Musa (29) Nabi Nuh (6) Nabi Sulaiman (2) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (15) Namrudz (2) Nasrulloh Baksolahar (1) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) nusantara (11) Nusantara (313) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (750) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) politik (1) Politik (10) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rasulullah shalallahu alaihi wassalam (1) Rehat (493) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) Sahabat (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) Salimul Aqidah (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Serah Nabawiyah (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (336) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah penguasa (11) Sirah Penguasa (248) sirah Sahabat (2) Sirah Sahabat (173) Sirah Tabiin (43) Sirah ulama (36) Sirah Ulama (158) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tamim Ad Dari (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Wakaf (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)