Bagaimana Al-Qur’an Meyakinkan Manusia tentang Akhirat
Kebangkitan dan kehidupan akhirat adalah sesuatu yang belum kita saksikan, tetapi Al-Qur’an menegaskan bahwa ia pasti terjadi. Pertanyaannya kemudian: Bagaimana sesuatu yang belum terjadi dapat diyakini dengan begitu kuat?
Al-Qur’an tidak sekadar meminta manusia percaya tanpa berpikir. Ia justru mengajak manusia memperhatikan berbagai tanda yang sudah ada di hadapannya. Manusia diajak menggunakan akal: melihat bagaimana Allah menciptakan manusia, menghidupkan bumi yang tandus, serta menciptakan langit dan bumi yang begitu luas. Dari apa yang telah terjadi, manusia dibimbing untuk memahami bahwa kebangkitan bukanlah sesuatu yang mustahil.
Ketika Tulang Belulang Dijadikan Alasan untuk Meragukan Kebangkitan
Pada suatu hari, setelah Rasulullah ï·º menjelaskan kepada manusia bahwa orang-orang yang telah mati akan dibangkitkan kembali, sebagian orang Quraisy mengejek dan menertawakan beliau.
Di antara mereka terdapat orang-orang yang bukan sekadar tidak percaya, tetapi ingin menjadikan persoalan kebangkitan sebagai senjata untuk menjatuhkan Rasulullah ï·º.
Mereka mengambil tulang-belulang manusia dari kuburan. Tulang itu kemudian diremukkan hingga menjadi debu, lalu dibawa kepada Rasulullah ï·º.
Dengan penuh tantangan mereka berkata,
“Siapakah yang mampu menghidupkan kembali tulang-belulang yang telah hancur dan lapuk ini?”
Pertanyaan itu sebenarnya mengandung sebuah asumsi: sesuatu yang telah hancur pasti tidak mungkin dikembalikan.
Namun, benarkah demikian?
Allah kemudian menurunkan jawaban yang mengarahkan manusia kembali kepada asal penciptaannya.
“Siapa yang Menciptakan Pertama Kali?”
Allah berfirman dalam Surah Yasin ayat 77–81:
«“Tidakkah manusia memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setetes mani, ternyata dia menjadi pembantah yang nyata.”»
Manusia membawa perumpamaan berupa tulang-belulang yang telah hancur, tetapi ia melupakan bagaimana dirinya dahulu diciptakan.
Kemudian Allah menjawab:
«“Katakanlah, yang akan menghidupkannya ialah Dia yang menciptakannya pertama kali. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk.”»
Di sinilah Al-Qur’an mengubah arah pertanyaan.
Manusia bertanya:
“Bagaimana mungkin tulang yang telah hancur dapat hidup kembali?”
Al-Qur’an mengajak manusia bertanya lebih mendasar:
“Bukankah sesuatu yang jauh lebih menakjubkan sudah pernah terjadi—yaitu ketika manusia belum ada sama sekali, kemudian Allah menciptakannya?”
Jika penciptaan pertama dapat dilakukan, mengapa penciptaan kembali dianggap mustahil?
Dari Pohon Hijau Menjadi Api
Al-Qur’an kemudian mengingatkan manusia kepada tanda lain yang dekat dengan kehidupan mereka.
Allah menyebutkan bahwa dari pohon yang hijau, manusia dapat memperoleh api.
Sesuatu yang tampaknya berbeda dapat menjadi bagian dari proses yang berada dalam kekuasaan Allah.
Kemudian Allah bertanya:
«“Bukankah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi mampu menciptakan kembali yang serupa dengan mereka?”»
Jawabannya jelas:
Allah Mahakuasa dan Maha Mengetahui.
Maka persoalannya bukan apakah manusia mampu membayangkan proses kebangkitan. Persoalannya adalah apakah manusia mengakui kekuasaan Allah yang telah menciptakan segala sesuatu sejak awal.
Al-Qur’an Mengajak Manusia Melihat Dirinya Sendiri
Argumen yang sama kembali dijelaskan dalam Surah Al-Hajj.
Allah mengajak manusia memperhatikan perjalanan penciptaannya:
dari tanah, kemudian setetes mani, kemudian segumpal darah, kemudian segumpal daging; setelah itu manusia dilahirkan sebagai bayi, tumbuh menjadi kuat, kemudian sebagian meninggal dalam usia muda dan sebagian lainnya mencapai usia lanjut hingga kembali lemah dan pikun.
Perhatikanlah perjalanan itu.
Bukankah manusia sendiri merupakan rangkaian perubahan yang luar biasa?
Dahulu tidak ada.
Kemudian ada.
Dahulu lemah.
Kemudian tumbuh kuat.
Setelah itu kembali lemah.
Bukankah semua itu berlangsung di hadapan mata manusia?
Bumi yang Mati Kembali Hidup
Kemudian Al-Qur’an mengarahkan pandangan manusia kepada bumi.
Tanah yang kering dan tandus tampak seperti tidak memiliki kehidupan. Tetapi ketika hujan turun, tanah itu menjadi basah dan subur. Tumbuhlah berbagai macam tanaman yang indah.
Dari tanah yang tampak mati, kehidupan kembali muncul.
Lalu Al-Qur’an mengajak kita merenung:
Jika Allah mampu menghidupkan bumi yang tandus dengan air hujan, apakah menghidupkan manusia setelah kematian merupakan sesuatu yang mustahil bagi-Nya?
Allah menegaskan bahwa semua itu menjadi bukti bahwa Dia adalah Yang Mahabenar, bahwa Dia mampu menghidupkan orang-orang yang telah mati, dan bahwa hari kiamat pasti datang.
Dari Penciptaan Pertama Menuju Kebangkitan
Perhatikan alur berpikir Al-Qur’an.
Allah tidak meminta manusia menerima kebangkitan hanya dengan menutup mata dan mengabaikan kenyataan.
Sebaliknya, manusia diajak melihat:
Siapa yang menciptakan manusia pertama kali?
Siapa yang menciptakan langit dan bumi?
Siapa yang menumbuhkan kehidupan dari tanah yang tandus?
Siapa yang menciptakan manusia dari sesuatu yang sangat kecil hingga menjadi makhluk yang sempurna?
Jika semua itu berada dalam kekuasaan Allah, maka kebangkitan bukanlah sesuatu yang berada di luar kemampuan-Nya.
Justru yang aneh adalah ketika manusia mengakui penciptaan pertama, tetapi menolak kemungkinan penciptaan kembali.
Mengapa Manusia Masih Ragu?
Di sinilah persoalannya menjadi lebih dalam.
Sering kali manusia bukan kekurangan bukti, tetapi kurang mau merenungkannya.
Ia melihat kelahiran, pertumbuhan, kematian, pergantian siang dan malam, hujan yang menghidupkan bumi, serta alam semesta yang begitu luas. Namun semua itu berlalu di depan matanya tanpa menggerakkan kesadarannya.
Karena itu, Al-Qur’an berkali-kali mengajak manusia berpikir, memperhatikan, dan mengambil pelajaran.
Iman kepada akhirat bukan berarti meninggalkan akal. Justru Al-Qur’an menggunakan akal manusia untuk mengantarkannya kepada keyakinan.
Perumpamaan Padang Rumput
Bayangkan ada sekelompok kambing yang ditempatkan di sebuah padang rumput yang dikelilingi tembok tinggi.
Di dalam pagar itu mereka makan, minum, berkembang biak, dan bermain. Mereka menganggap itulah seluruh dunia karena hanya itulah yang mereka kenal.
Mereka tidak mengetahui bahwa di balik tembok terdapat dunia yang jauh lebih luas.
Begitulah gambaran manusia yang hanya mengenal kehidupan dunia dan menolak kehidupan akhirat.
Ia mengira bahwa apa yang dapat dilihat, disentuh, dan dinikmati sekarang adalah seluruh realitas kehidupan.
Padahal, keterbatasan penglihatan bukan berarti keterbatasan realitas.
Tidak melihat sesuatu bukan berarti sesuatu itu tidak ada.
Akhirnya, Apa yang Ingin Al-Qur’an Ajarkan?
Al-Qur’an mengajak manusia berpindah dari keraguan menuju keyakinan melalui perenungan terhadap ciptaan Allah.
Penciptaan pertama adalah bukti.
Kehidupan manusia adalah bukti.
Bumi yang kembali subur setelah mati adalah bukti.
Langit dan bumi adalah bukti.
Semua itu mengarahkan manusia kepada satu kesimpulan:
«Allah yang menciptakan untuk pertama kali pasti mampu membangkitkan kembali.»
Maka pertanyaan yang seharusnya kita ajukan bukan lagi:
“Benarkah akhirat akan terjadi?”
Tetapi:
“Jika akhirat benar-benar pasti, sudahkah hidup saya dipersiapkan untuk menghadapinya?”
Sebab kehidupan dunia adalah ruang sementara yang sedang kita jalani, sedangkan akhirat adalah kehidupan yang akan kita masuki.
Wahai manusia, jangan biarkan keterbatasan pandanganmu membuatmu mengingkari luasnya kehidupan yang telah Allah janjikan. Percayalah kepada kebangkitan, renungkan tanda-tandanya, dan persiapkanlah diri untuk kehidupan setelah kematian.
Link Kami
Beberapa Link Kami yang Aktif