basmalah Pictures, Images and Photos
08/27/26 - Our Islamic Story

Bagaimana Al-Qur’an Meyakinkan Manusia tentang Akhirat Kebangkitan dan kehidupan akhirat adalah sesuatu yang belum kita saksikan...

Bagaimana Al-Qur’an Meyakinkan Manusia tentang Akhirat

Kebangkitan dan kehidupan akhirat adalah sesuatu yang belum kita saksikan, tetapi Al-Qur’an menegaskan bahwa ia pasti terjadi. Pertanyaannya kemudian: Bagaimana sesuatu yang belum terjadi dapat diyakini dengan begitu kuat?

Al-Qur’an tidak sekadar meminta manusia percaya tanpa berpikir. Ia justru mengajak manusia memperhatikan berbagai tanda yang sudah ada di hadapannya. Manusia diajak menggunakan akal: melihat bagaimana Allah menciptakan manusia, menghidupkan bumi yang tandus, serta menciptakan langit dan bumi yang begitu luas. Dari apa yang telah terjadi, manusia dibimbing untuk memahami bahwa kebangkitan bukanlah sesuatu yang mustahil.

Ketika Tulang Belulang Dijadikan Alasan untuk Meragukan Kebangkitan

Pada suatu hari, setelah Rasulullah ï·º menjelaskan kepada manusia bahwa orang-orang yang telah mati akan dibangkitkan kembali, sebagian orang Quraisy mengejek dan menertawakan beliau.

Di antara mereka terdapat orang-orang yang bukan sekadar tidak percaya, tetapi ingin menjadikan persoalan kebangkitan sebagai senjata untuk menjatuhkan Rasulullah ï·º.

Mereka mengambil tulang-belulang manusia dari kuburan. Tulang itu kemudian diremukkan hingga menjadi debu, lalu dibawa kepada Rasulullah ï·º.

Dengan penuh tantangan mereka berkata,

“Siapakah yang mampu menghidupkan kembali tulang-belulang yang telah hancur dan lapuk ini?”

Pertanyaan itu sebenarnya mengandung sebuah asumsi: sesuatu yang telah hancur pasti tidak mungkin dikembalikan.

Namun, benarkah demikian?

Allah kemudian menurunkan jawaban yang mengarahkan manusia kembali kepada asal penciptaannya.

“Siapa yang Menciptakan Pertama Kali?”

Allah berfirman dalam Surah Yasin ayat 77–81:

«“Tidakkah manusia memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setetes mani, ternyata dia menjadi pembantah yang nyata.”»

Manusia membawa perumpamaan berupa tulang-belulang yang telah hancur, tetapi ia melupakan bagaimana dirinya dahulu diciptakan.

Kemudian Allah menjawab:

«“Katakanlah, yang akan menghidupkannya ialah Dia yang menciptakannya pertama kali. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk.”»

Di sinilah Al-Qur’an mengubah arah pertanyaan.

Manusia bertanya:

“Bagaimana mungkin tulang yang telah hancur dapat hidup kembali?”

Al-Qur’an mengajak manusia bertanya lebih mendasar:

“Bukankah sesuatu yang jauh lebih menakjubkan sudah pernah terjadi—yaitu ketika manusia belum ada sama sekali, kemudian Allah menciptakannya?”

Jika penciptaan pertama dapat dilakukan, mengapa penciptaan kembali dianggap mustahil?

Dari Pohon Hijau Menjadi Api

Al-Qur’an kemudian mengingatkan manusia kepada tanda lain yang dekat dengan kehidupan mereka.

Allah menyebutkan bahwa dari pohon yang hijau, manusia dapat memperoleh api.

Sesuatu yang tampaknya berbeda dapat menjadi bagian dari proses yang berada dalam kekuasaan Allah.

Kemudian Allah bertanya:

«“Bukankah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi mampu menciptakan kembali yang serupa dengan mereka?”»

Jawabannya jelas:

Allah Mahakuasa dan Maha Mengetahui.

Maka persoalannya bukan apakah manusia mampu membayangkan proses kebangkitan. Persoalannya adalah apakah manusia mengakui kekuasaan Allah yang telah menciptakan segala sesuatu sejak awal.

Al-Qur’an Mengajak Manusia Melihat Dirinya Sendiri

Argumen yang sama kembali dijelaskan dalam Surah Al-Hajj.

Allah mengajak manusia memperhatikan perjalanan penciptaannya:

dari tanah, kemudian setetes mani, kemudian segumpal darah, kemudian segumpal daging; setelah itu manusia dilahirkan sebagai bayi, tumbuh menjadi kuat, kemudian sebagian meninggal dalam usia muda dan sebagian lainnya mencapai usia lanjut hingga kembali lemah dan pikun.

Perhatikanlah perjalanan itu.

Bukankah manusia sendiri merupakan rangkaian perubahan yang luar biasa?

Dahulu tidak ada.

Kemudian ada.

Dahulu lemah.

Kemudian tumbuh kuat.

Setelah itu kembali lemah.

Bukankah semua itu berlangsung di hadapan mata manusia?

Bumi yang Mati Kembali Hidup

Kemudian Al-Qur’an mengarahkan pandangan manusia kepada bumi.

Tanah yang kering dan tandus tampak seperti tidak memiliki kehidupan. Tetapi ketika hujan turun, tanah itu menjadi basah dan subur. Tumbuhlah berbagai macam tanaman yang indah.

Dari tanah yang tampak mati, kehidupan kembali muncul.

Lalu Al-Qur’an mengajak kita merenung:

Jika Allah mampu menghidupkan bumi yang tandus dengan air hujan, apakah menghidupkan manusia setelah kematian merupakan sesuatu yang mustahil bagi-Nya?

Allah menegaskan bahwa semua itu menjadi bukti bahwa Dia adalah Yang Mahabenar, bahwa Dia mampu menghidupkan orang-orang yang telah mati, dan bahwa hari kiamat pasti datang.

Dari Penciptaan Pertama Menuju Kebangkitan

Perhatikan alur berpikir Al-Qur’an.

Allah tidak meminta manusia menerima kebangkitan hanya dengan menutup mata dan mengabaikan kenyataan.

Sebaliknya, manusia diajak melihat:

Siapa yang menciptakan manusia pertama kali?

Siapa yang menciptakan langit dan bumi?

Siapa yang menumbuhkan kehidupan dari tanah yang tandus?

Siapa yang menciptakan manusia dari sesuatu yang sangat kecil hingga menjadi makhluk yang sempurna?

Jika semua itu berada dalam kekuasaan Allah, maka kebangkitan bukanlah sesuatu yang berada di luar kemampuan-Nya.

Justru yang aneh adalah ketika manusia mengakui penciptaan pertama, tetapi menolak kemungkinan penciptaan kembali.

Mengapa Manusia Masih Ragu?

Di sinilah persoalannya menjadi lebih dalam.

Sering kali manusia bukan kekurangan bukti, tetapi kurang mau merenungkannya.

Ia melihat kelahiran, pertumbuhan, kematian, pergantian siang dan malam, hujan yang menghidupkan bumi, serta alam semesta yang begitu luas. Namun semua itu berlalu di depan matanya tanpa menggerakkan kesadarannya.

Karena itu, Al-Qur’an berkali-kali mengajak manusia berpikir, memperhatikan, dan mengambil pelajaran.

Iman kepada akhirat bukan berarti meninggalkan akal. Justru Al-Qur’an menggunakan akal manusia untuk mengantarkannya kepada keyakinan.

Perumpamaan Padang Rumput

Bayangkan ada sekelompok kambing yang ditempatkan di sebuah padang rumput yang dikelilingi tembok tinggi.

Di dalam pagar itu mereka makan, minum, berkembang biak, dan bermain. Mereka menganggap itulah seluruh dunia karena hanya itulah yang mereka kenal.

Mereka tidak mengetahui bahwa di balik tembok terdapat dunia yang jauh lebih luas.

Begitulah gambaran manusia yang hanya mengenal kehidupan dunia dan menolak kehidupan akhirat.

Ia mengira bahwa apa yang dapat dilihat, disentuh, dan dinikmati sekarang adalah seluruh realitas kehidupan.

Padahal, keterbatasan penglihatan bukan berarti keterbatasan realitas.

Tidak melihat sesuatu bukan berarti sesuatu itu tidak ada.

Akhirnya, Apa yang Ingin Al-Qur’an Ajarkan?

Al-Qur’an mengajak manusia berpindah dari keraguan menuju keyakinan melalui perenungan terhadap ciptaan Allah.

Penciptaan pertama adalah bukti.

Kehidupan manusia adalah bukti.

Bumi yang kembali subur setelah mati adalah bukti.

Langit dan bumi adalah bukti.

Semua itu mengarahkan manusia kepada satu kesimpulan:

«Allah yang menciptakan untuk pertama kali pasti mampu membangkitkan kembali.»

Maka pertanyaan yang seharusnya kita ajukan bukan lagi:

“Benarkah akhirat akan terjadi?”

Tetapi:

“Jika akhirat benar-benar pasti, sudahkah hidup saya dipersiapkan untuk menghadapinya?”

Sebab kehidupan dunia adalah ruang sementara yang sedang kita jalani, sedangkan akhirat adalah kehidupan yang akan kita masuki.

Wahai manusia, jangan biarkan keterbatasan pandanganmu membuatmu mengingkari luasnya kehidupan yang telah Allah janjikan. Percayalah kepada kebangkitan, renungkan tanda-tandanya, dan persiapkanlah diri untuk kehidupan setelah kematian.

Timbangan Orang Berakal Pada zaman dahulu kala, hiduplah seorang hukama yang terkenal tinggi peradabannya, luas akal budinya, da...

Timbangan Orang Berakal

Pada zaman dahulu kala, hiduplah seorang hukama yang terkenal tinggi peradabannya, luas akal budinya, dan dalam hikmahnya. Namanya masyhur ke berbagai negeri. Berita tentang keluasan ilmu dan ketajaman pikirannya akhirnya sampai kepada seorang raja yang dikenal bijaksana.

Raja itu senang bergaul dengan orang-orang berakal dan berbudi. Baginya, kekuasaan tidak cukup hanya ditopang oleh banyaknya harta dan kuatnya pasukan. Seorang raja membutuhkan nasihat orang-orang yang mampu melihat sesuatu melampaui kepentingan sesaat.

Maka dipanggillah hukama tersebut menghadap ke istana.

Setelah sang budiman berada di hadapannya, raja berkata,

Raja:
"Wahai budiman yang masyhur karena pikiranmu yang tinggi, akalmu yang cerdas, ilmu yang luas, dan pengalaman yang panjang. Engkau dikenal sebagai orang yang mampu menimbang mudarat dan manfaat, serta berpikir sebelum bertindak.

Namun ada satu hal yang mengherankan hatiku. Mengapa dengan segala ilmu dan akal yang engkau miliki, engkau justru memilih memencilkan diri di tempat yang sunyi? Mengapa engkau menjauh dari kami dan tidak menikmati kemuliaan yang dapat kami berikan?

Tidakkah engkau mengetahui bahwa kami mencintai ahli ilmu dan merindukan orang-orang berakal? Kami ingin mengambil hasil pikiranmu dan memetik buah hikmahmu."

Hukama itu diam sejenak. Kemudian ia menjawab dengan tenang,

Hukama:
"Jika maksud pertanyaan Baginda adalah hendak mengetahui mengapa saya memilih hidup jauh dari istana, maka sesungguhnya jawabannya tidaklah sulit bagi orang yang sempurna akalnya.

Orang yang benar-benar berakal akan mengetahui bahwa tidak selalu ada manfaat dalam mendekat kepada seorang raja.

Tetapi jika pertanyaan Baginda dimaksudkan untuk membuka hikmah yang tersembunyi dalam sanubari saya—agar buah pikiran itu keluar dari lidah, lalu Baginda memilihnya satu demi satu, menyusunnya menjadi kalung yang menghiasi keputusan-keputusan Baginda, atau menjadikannya perisai untuk menangkis panah kejahatan—maka saya akan menjawab dengan terus terang."

Raja tersenyum. Ia semakin tertarik.

Raja:
"Kalau demikian, tampaknya tujuan kita sama. Aku ingin mendengar kebenaran, bukan pujian. Katakanlah terus terang, mengapa selama ini engkau enggan mendekati kami? Setelah itu, sertakanlah hikmah yang lahir dari pertimbangan akalmu."

Hukama itu kemudian berkata,

Hukama:
"Baginda telah membuka pintu istana bagi manusia. Baginda menyediakan tempat bagi orang-orang yang ingin mendekat. Bahkan kepada saya sendiri, Baginda telah memberikan kesempatan dan penghormatan.

Saya mengetahui semua itu. Saya tidak mengingkari kemurahan Baginda.

Namun justru karena saya menggunakan akal untuk menimbangnya, saya memilih untuk tetap berada di tempat saya sekarang.

Saya telah menimbang: mana yang lebih membuat hati tenteram dan jiwa selamat.

Dan menurut pertimbangan saya, menjauh dari pangkat tinggi serta tidak mengejar kemuliaan istana membuat hidup saya lebih sentosa."

Raja menyimak dengan sungguh-sungguh.

Hukama:
"Di tempat saya sekarang, saya tidak perlu mencurigai orang lain. Saya tidak perlu membenci siapa pun. Saya juga tidak terlalu khawatir akan disakiti oleh orang lain.

Sebab, Baginda, di tempat-tempat yang dipenuhi perebutan pangkat dan harta, manusia sering kali tidak lagi bertarung dengan akalnya, tetapi dengan hawa nafsunya.

Yang seorang ingin lebih tinggi daripada yang lain. Yang lain ingin lebih kaya daripada saudaranya. Dari sana lahirlah iri hati, dengki, persaingan, dan tipu daya.

Ketika manusia terlalu tamak terhadap kedudukan, akalnya dapat menjadi gelap.

Ketika hasad menguasai hati, hikmah dapat menghilang.

Ketika seseorang terlalu ingin menyenangkan hati penguasa, ia tidak lagi berani menyampaikan kebenaran."

Raja mulai memahami arah pembicaraan itu.

Hukama:
"Orang-orang yang ingin dekat dengan raja sering kali hanya memperlihatkan apa yang menyenangkan hati Baginda. Yang buruk disembunyikan. Yang benar dipoles. Yang salah ditutupi.

Lama-kelamaan, seorang raja dapat dindingi dari kenyataan.

Matanya tidak lagi melihat keadaan rakyat sebagaimana adanya. Telinganya tidak lagi mendengar suara kebenaran. Di sekelilingnya hanya terdengar kata-kata yang menyenangkan.

Dan ketika keadaan seperti itu berlangsung lama, orang-orang yang ikhlas justru menjadi asing di istana.

Sebab orang yang ikhlas biasanya tidak pandai mengambil muka. Ia lebih suka mengatakan apa yang benar daripada apa yang disukai."

Hukama itu berhenti sejenak, kemudian melanjutkan,

Hukama:
"Baginda, jika seorang raja benar-benar bijaksana dan menyadari kecurangan para penjilat, tentu ia akan menyingkirkan mereka. Ia akan membersihkan istananya dari orang-orang yang merusak keadilan.

Tetapi bagaimana jika seorang raja hanya menjadi raja karena pangkat dan keturunan, sementara hati dan budinya lemah?

Jika raja seperti itu mudah percaya kepada fitnah dan rayuan orang yang pandai mengambil muka, maka orang-orang yang jujur akan tersingkir.

Akhirnya, istana kehilangan orang-orang yang ikhlas dan justru dipenuhi orang-orang yang menjadi beban bagi kerajaan.

Jika keadaan itu terus berlangsung, ketika kerajaan menghadapi bahaya, siapakah yang akan mempertahankannya?

Para penjilat?

Mereka mungkin pandai mencari muka ketika keadaan aman. Tetapi belum tentu mereka sanggup berdiri ketika kerajaan berada dalam bahaya."

Raja terdiam.

Kini ia tidak lagi mendengar sekadar alasan seorang hukama yang memilih hidup menyendiri. Ia sedang mendengar sebuah cermin yang diarahkan kepada dirinya sendiri.

Hukama:
"Itulah sebabnya saya memilih menjauh.

Bukan karena saya membenci Baginda.

Bukan pula karena saya meremehkan kemuliaan yang Baginda tawarkan.

Saya menjauh karena saya takut kehilangan ketenteraman jiwa. Saya takut, jika terlalu dekat dengan pangkat dan harta, saya justru kehilangan sesuatu yang lebih berharga: akal yang jernih, hati yang bersih, dan kebebasan untuk mengatakan kebenaran.

Sebab orang yang telah terlalu banyak menerima pemberian sering kali mulai takut kehilangan pemberian itu.

Dari sanalah kebenaran dapat dikorbankan."

Kemudian hukama itu menutup nasihatnya dengan sebuah peringatan:

Hukama:
"Tamak akan harta adalah pintu kebinasaan jiwa.

Tamak akan kedudukan menyuburkan tipu daya.

Dan terlalu mengejar kemuliaan dunia dapat membuat manusia menanggalkan budi bahasa serta kehilangan kemerdekaan hatinya.

Karena itu, Baginda, saya memilih hidup sederhana.

Saya tidak ingin memiliki terlalu banyak sehingga harus kehilangan ketenangan.

Saya tidak ingin terlalu dekat sehingga tidak lagi bebas berkata benar.

Bagi saya, itulah salah satu timbangan orang berakal: bukan bertanya, 'Berapa banyak yang dapat saya peroleh?', tetapi bertanya, 'Apa yang akan hilang dari diri saya jika saya memperoleh semua itu?'"

Di situlah letak hikmah yang sebenarnya.

Orang berakal tidak selalu memilih jalan yang paling tinggi kedudukannya. Ia memilih jalan yang paling selamat bagi akalnya, paling bersih bagi hatinya, dan paling jauh dari sesuatu yang dapat menundukkan dirinya kepada hawa nafsu.

Sebab kekayaan dapat diperoleh kembali, pangkat dapat digantikan, dan kemuliaan dunia dapat hilang dalam sekejap.

Tetapi ketika hati telah rusak oleh ketamakan, ketika akal telah dikalahkan oleh kepentingan, dan ketika lidah telah kehilangan keberanian untuk mengatakan kebenaran, jauh lebih sulit untuk mengembalikannya.

Itulah timbangan orang berakal: mampu membedakan antara sesuatu yang tampak sebagai kemuliaan dengan sesuatu yang benar-benar membawa keselamatan.

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adam (5) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Akhirat (3) Al-Baqarah (1) Al-Qur'an (362) Al-Qur’an (55) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) An-Nadwi (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bahaya Kemunduran Umat Islam (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (53) Cerita kegagalan (1) cerpen Nabi (8) cerpen Nabi Musa (2) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) dakwah (17) Dakwah (23) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) ekonomi (2) Ekonomi (19) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) english (6) English (6) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fiqh (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (7) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) hikmah (1) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) Islam (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) kecerdasan (21) Kecerdasan (336) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Hadist (4) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) kisah para nabi dan (2) kisah para nabi dan rasul (59) kisah para Nabi dan Rasul (1) Kisah para nabi dan rasul (114) Kisah Para Nabi dan Rasul (577) kisah para nabi dan rasul. Nabi Daud (1) kisah para nabi dan rasul. nabi Musa (2) Kisah Penguasa (1) Kisah ulama (1) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) nabi adam (1) Nabi Adam (75) nabi Adam. Adam (1) Nabi Ayub (1) Nabi Daud (3) Nabi Ibrahim (3) Nabi Isa (2) nabi Isa. nabi ismail (1) Nabi Ismail (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Khidir (1) Nabi Musa (29) Nabi Nuh (6) Nabi Sulaiman (2) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (15) Namrudz (2) Nasrulloh Baksolahar (1) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) nusantara (10) Nusantara (303) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (728) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) politik (1) Politik (3) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rasulullah shalallahu alaihi wassalam (1) Rehat (493) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) Sahabat (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) Salimul Aqidah (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Serah Nabawiyah (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (327) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah penguasa (11) Sirah Penguasa (248) sirah Sahabat (2) Sirah Sahabat (173) Sirah Tabiin (43) Sirah ulama (36) Sirah Ulama (158) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tamim Ad Dari (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Wakaf (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)