basmalah Pictures, Images and Photos
12/19/21 - Our Islamic Story

Choose your Language

Rambu-Rambu Perbedaan Oleh: Nasruloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Penyatuan hati, pemikiran lalu penyatuan gerakan...

Rambu-Rambu Perbedaan

Oleh: Nasruloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)

Penyatuan hati, pemikiran lalu penyatuan gerakan. Alangkah sulitnya. Apakah manusia memang kodratnya berpecah-belah untuk menunjukkan keakuan? Menunjuk kehebatan diri? Menunjukkan pengaruh? Menunjukkan kekuasaan?

Bagaimana melihat perpecahan atau keragaman? Apakah melalui perdebatan, perang urat syaraf, perang tulisan yang menyudutkan dan perang komentar di medsos dan media mainstream? Apakah melalui pembentukan gerakan baru? Apakah semua itu hanya sebuah keragaman namun persepsi kita menanggapinya sebuah perpecahan atau perpecahan sesungguhnya?

Apakah gerakan yang baru merupakan sebuah ijtihad untuk menutupi peran kosong yang belum dimasuki oleh umat? Atau sebuah persaingan yang menggairahkan? Apakah sebuah dinamika baru untuk menghadapi tantangan baru?

Para Imam Mazhab hadir untuk menyelesaikan beragam kesulitan umat agar mudah, tidak membebankan dan menyulitkan, sesuai dengan eranya, dan solutif sesuai tempat dan waktunya, namun sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya. Ketika kesulitan dan tantangan baru bermunculan, maka harus dijawab dan pecahkan. Namun mengapa pengikutnya justru saling berargumentasi bahwa pemikiran mereka yang terbaik dengan tidak melihat beragam kondisi dan kasusnya?

Para Sufi, ahli Tasawuf, melihat ruang kosong dari pemikiran imam Mazhab fiqh yang solusinya hanya dari aspek hukum formalitas, namun tak menyentuh aspek kejiwaan. Ibadah hanya memenuhi aspek hukum sahnya formalitas gerakan dan aturan tetapi tidak menyentuh aspek hati dan kejiwaan. Ibadah menjadi gerakan fisik tanpa jiwa. Tasawuf membongkar pemahaman, ibadah itu bukan hanya raga tetapi juga jiwa. Ini sebuah penekanan baru, bukan sesuatu yang baru. Karena ibadah Rasulullah dan para Sahabat merupakan perpaduan ibadah yang memenuhi aspek formalitasnya dan juga hatinya.

Penyatuan raga dan jiwa dalam beribadah dan memecahkan masalah. Namun mengapa kedua pengikutnya saling beradu argumentasi bahwa mereka yang terbaik dan paling mengikuti aturan Allah dan Rasul-Nya? Hanya melihat dirinya. Hanya melihat pemikirannya. Tidak melihat helikopter view itulah titik masalahnya.

Apakah setiap perbedaan harus membentuk organisasi dan gerakan baru? Apakah organisasi baru untuk menterjemahkan visi dan baru sehingga menjadi batu bata yang akan menyempurnakan gerakan umat Islam secara keumatan? Itulah yang perlu dipertanyakan dalam memandang sebuah organisasi dan gerakan yang baru. Seperti hadirnya para Imam Mazhab dan para Sufi?

Apabila organisasi baru hanya sebuah jawaban atas sebuah tindakan organisasi, bukankah imam Hasan Al Banna dalam kitabnya Majmu Arrasail telah mengajarkan Ta'aruf, Tafahum dan Tafakul untuk menyatukan hati yang mudah terusik? Untuk mengusir hawa nafsu yang terus membisik? Pondasi kebersatuan sudah dibuat, namun mengapa perpecahan lebih mudah nikimati dari pada persatuan? Padahal banyak dalil Allah dan Rasul-Nya yang menekankan persatuan dan kerusakan sebuah perpecahan?  Atau karena semua itu menandakan  kodrat manusia, sehingga Allah dan Rasul-Nya mewanti-wanti soal persatuan dan perpecahan?

Apabila perpecahan itu dari aspek pemikiran, bukankah Imam Hasan Al Banna dalam kitabnya Majmu Arrasail sudah mengajarkan prinsip 20 puluh (Ushul Isrin) untuk menyatukan kebersatuan dalam sisi pemikirannya? Dr Yusuf Qhardawi bahkan menulis buku tentang penyatuan gerakan Islam dengan membedah prinsip 20 ini. Ketika perpecahan hati telah ada obatnya. Ketika perpecahan pemikiran sudah ada tuntunan bagaimana cara menyatukannya. Jadi apalagi yang menyebabkan perpecahan?

Bagaimana interaksi jiwa dengan jiwa?  Bagaimana interaksi dengan beragam pemikiran? Bagaimana berinteraksi dengan perjuangan? Bagaimana berinteraksi internal dengan beragam jenjang level kepemimpinan? Bagaimana berinteraksi dengan Islam? Semua ada dalam rukun baiat yang rumuskan oleh imam Hasan Al Banna dalam kitabnya Majmu Arrasail.  Lalu apalagi yang bisa memecahkan? Ulama spesialis pergerakan Islam sudah memberikan rambu-rambunya. Lalu mengapa masih terjadi perpecahan?

Menurut Sayid Qutb, yang menyebabkan perpecahan itu bukan perbedaan, tetapi hawa nafsunya? Namun mengapa hawa nafsu terus bercokol di tengah didikan  yang terus berjalan? Perlu ada istighfar dan taubat terkonsolidasi secara gerakan agar Allah menyelamatkannya.

Berkah Mindset Ketidaktahuan Oleh: Nasruloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Kapan nutrisi terserap sempurna oleh tubu...

Berkah Mindset Ketidaktahuan

Oleh: Nasruloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)

Kapan nutrisi terserap sempurna oleh tubuh? Pada saat lapar. Kapan air terserap sempurna oleh tanah? Saat kemarau panjang. Bisakah diri berkarakter lapar dan haus sebelum  mendengarkan ilmu?

Para Sahabat Rasulullah saw ketika  ditanya sesuatu oleh Rasulullah saw selalu berkata, "Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui."  Inilah penomena penyiapan diri sebelum menerima sesuatu.

Imam Ahmad ketika ditanyakan sesuatu sering berkata, "Saya tidak tahu." Imam Hasan Al Bashri ketika ditanyakan sesuatu menimbang diri terlebih dahulu, apakah sudah dikerjakan dan diamalkan? Bila belum dia akan diam tidak menjawab. Bila sudah, barulah menjawab.

Merasakan dan memandang orang lain lebih tahu dari kita. Itulah seni menyerap ilmu yang sempurna. Ibnu Abbas bertanya kepada seorang Tabiin tentang sebuah kisah. Sang Tabiin dengan rasa malu berkata, "Bagaimana mungkin aku menjawab padahal Sahabat Rasulullah saw masih hidup?" Namun Ibnu Abbas terus meminta jawabannya. Sang Samudera ilmu masih bertanya?

Seorang pemimpin justru yang seharusnya paling banyak mendengarkan dan bertanya. Prinsip ketidaktahuan yang mendorong pendayagunakan pengetahuan dan informasi dari timnya. Menangkap informasi yang utuh sebelum memutuskan. Pemimpin yang merasa serba tahu justru yang mendangkalkan ketajaman dan ketepatan keputusannya.

Rasulullah saw bertanya dan menerima masukan tentang strategi perang Badar dan Khandaq. Bermusyawarah menyelesaikan urusan tahanan perang Badar. Walau sebenarnya beliau tahu apa yang akan terjadi dengan ijin Allah. Keberkahan kepemimpinan justru ada pada mekanisme musyawarah, bukan pada kepintaran dan kejeniusan pemimpin.

Menyiapkan mindset ketidaktahuan, mendorong bertanya dan mendengarkan. Itulah cara membuka cakrawala pemikiran yang lebih luas dan tajam.




Menikmati Misi Yang Gagal Oleh: Nasruloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Apakah hidup selalu seperti kisah para super...

Menikmati Misi Yang Gagal

Oleh: Nasruloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)

Apakah hidup selalu seperti kisah para superhero? Apakah selalu seperti filem Mission Impossible? Tak harus dan tak bisa. Kegagalan adalah sebuah perjalanan yang terus melekat dan tetap ada. Biarkan menjadi khazanah perjalanan hidup.

Hidup ada yang bisa kendalikan. Maka perbuatlah dengan kebaikan yang maksimal. Namun ada yang tak bisa dikendalikan, apakah bisa dirubah menjadi sesuatu yang bisa dikendalikan? Bila tidak, nikmati saja takdir-Nya.

Nabi Nuh berdakwah siang dan malam. Namun kaumnya memicingkan mata, menutup telingga,  menentang hingga menentangnya. Apakah gelar Ulul Azmi karena ketahanan berdakwah di tengah kegagalan, atau kesuksesan menyelamatkan umat dengan perahunya?

Nabi Yunus meninggalkan umatnya yang terus menolak dakwahnya. Berlari, lalu mengarungi lautan dengan kapal. Hingga takdir membawanya ke kegelapan perut ikan Paus, kedalaman lautan dan malam. Ketika terlempar kembali kedaratan, umatnya telah beriman. Berjuang adalah kewajiban. Kegagalan, salah satu konsekwensi dari perjuangan. Kesuksesan adalah anugerah dari Allah setelah melihat kelelahan, kepedihan, pengerahan potensi dan jibakunya kita.

Rasulullah saw gagal berhijrah ke Thaif. Padahal sebelumnya sukses membawa sahabatnya berhijrah ke Habasyah? Ditengah tubuh yang letih, memar dan berdarah akibat dikejar dan lempari batu. Rasulullah  saw kembali ke Mekkah. Hingga sahabatnya berkata, "Apakah kita akan kembali setelah diusir?" Rasulullah saw menjawab, "Ya, karena Allah akan tidak akan meninggalkan hamba-Nya."

Rasulullah saw kembali ke titik awal perjuangan, walau sebelumnya sudah mencoba membuat sebuah lompatan besar ke Thaif, namun gagal. Kegagalan hari ini bukan bertanda kegagalan hari esok dan selamanya. Kegagalan hari ini bisa jadi sebuah persiapan menciptakan kesuksesan baru.

Kegagalan bisa jadi karena momentumnya belum tepat. Bisa jadi bidangnya tidak tepat. Bisa jadi tidak ada kesesuaian antara potensinya dengan profesi yang digeluti. Berapa banyak yang gagal menjadi karyawan namun sukses menjadi pengusaha? Bill Gates dan Steven Job gagal menjadi mahasiswa universitas yang super brilian, namun sukses memimpin perusahaan yang sangat inovatif.

Jadi apa yang bisa kita lakukan dari sebuah misi yang gagal. Lakukan lagi dengan cara yang berbeda, bidang yang berbeda, profesi yang berbeda. Hingga Allah melihat bahwa kita sudah layak untuk meraih keberhasilan.

Sukses, Pelajari Masa Lalu Oleh: Nasruloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Yang gagal itu yang berhenti melangkah. Yan...

Sukses, Pelajari Masa Lalu

Oleh: Nasruloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)

Yang gagal itu yang berhenti melangkah. Yang sukses itu, terus berjalan di tengah kegagalan. Melangkah membuat jauh perjalanan untuk mendekati tempat tujuan. Begitulah cerita mereka yang sukses.

Bagaimana agar bisa terus melangkah? Butuh keteguhan. Bagaimana menciptakan keteguhan? Seringlah membaca kisah hidup orang sukses. Seringlah menikmati jalan hidup kesuksesan yang telah tercipta di masa lalu.

Kisah para Nabi dan Rasul dihadirkan dalam al Qur'an untuk meneguhkan hati, mendidik, menunjukkan kebenaran dan peringatan. Itulah peran sebuah kisah. Itulah peran sebuah sejarah dalam membangun jiwa manusia.

Sejarah adalah pengulangan peristiwa, pengulangan kisah kesuksesan dan kegagalan, pengulangan solusi, strategi dan aksi yang pernah dilakukan. Inilah metodelogi mencontek  dari masa lalu. Tak harus jadi orang pintar untuk sukses, cukup membaca peristiwa dan kisah masa lalu saja. Cukup kan!

Membaca kisah. Membaca bagaimana mereka berfikir, melangkah, mencari solusi. Mengapa harus memeras otak sendiri? Terlalu melelahkan jiwa bila harus membabat atau memulai jalan yang baru. Ikuti saja jalan yang sudah ada dengan rajin membaca kisah dan sejarah orang sukses.

Membaca kisah dan sejarah, mengikuti apa yang sudah dilakukan berarti melanjutkan kisah kesuksesan yang telah ada. Lebih mudah melanjutkan atau memulai baru? Potensi kegagalannya lebih besar memulai yang baru atau yang melanjutkan saja? Tak harus membangun pondasi yang baru untuk sukses. Belajar dari masa lalu, berarti meminimalkan resiko kegagalan dan meningkatkan potensi kesuksesan. Hanya mencontek saja bukan?

Mengapa kita selalu gagal? Karena selalu melakukan aksi kegagalan yang sebelumnya sudah dilakukan di masa lalu. Mengapa berhasil? Karena selalu melakukan aksi yang telah menimbulkan kesuksesan di masa lalu. Imam Malik pernah berkata bahwa tidak ada cara untuk membangkitkan umat Islam kembali kecuali dengan cara seperti generasi awal Islam membangun peradabannya. Itulah keterkaitan masa lalu tentang masa kini.

Peradaban manusia telah teramat panjang dan lama, seharusnya sudah memiliki khazanah kisah sukses luar biasa seperti samudera di lautan. Tinggal mengambilnya saja. Namun mengapa kualitas kesuksesannya tidak semakin lebih baik? Mengapa jeda kegagalannya selalu lama dan melelahkan? Membuat sumber daya terkuras habis terlebih dahulu. Mengapa kesalahan masa lalu terulang kembali di masa kini?

Mungkin kita tak merekam perjalanan sejarah. Mungkin tak pernah mau membuka kembali sejarah. Mungkin keilmuan kita merasa telah melampaui apa yang sudah dicapai oleh generasi sebelumnya. Atau memang kita yang bodoh, sehingga tak tahu bagaimana berinteraksi dengan sejarah masa lalu?

Memenangkan Petarungan Jiwa Oleh: Nasruloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Petarungan terberat yang tak pernah berhen...

Memenangkan Petarungan Jiwa

Oleh: Nasruloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)

Petarungan terberat yang tak pernah berhenti, itulah petarungan jiwa. Medan pertarungan jiwa selalu hadir hingga kematian tiba. Pertarungan terus bergolak mewarnai helaan nafas kita.

Firaun tak bisa menaklukkan kesombongan atas kekuasaannya. Qarun dan Hamman, tak bisa menaklukkan kesombongan atas kekayaan dan ilmu pengetahuan. Padahalmereka mampu menaklukan rakyat Mesir dan pasukannya?

Kadang ibadah yang tekun ribuan tahun tak bisa memenangkan pergolakan ini. Seperti Syetan yang beribadah ribuan tahun, namun akhirnya menentang kenyataan untuk mau bersujud pada Adam. Lalu bagaimana memenangkan pertarungan dalam jiwa?

Menaklukkan diri sebenarnya hanya sebuah proses melihat substansi  diri saja. Membangun kesadaran tentang siapa diri ini? Memahami diri sebagai hamba Allah, itulah kuncinya.

Menaklukkan diri sebenarnya sebuah proses membangun kesadaran tujuan dan hakikat hidup. Apa yang diembankan dari kehidupan ini? Apa yang diamanatkan? Itulah intinya. Membangun dua kesadaran ini sangat sulit karena harus melawan ego diri, keakuan, dan kebanggaan diri.

Dalam keagungan diri harus menundukan hati? Satu sisi, manusia itu makhluk sempurna yang diberikan kemerdekaan diri, namun pada sisi lain harus menundukan diri pada Sang Pencipta? Pada satu sisi Allah sudah menundukkan alam semesta  untuk manusia, pada sisi lain Allah memerintahkan untuk mengelola hidup sesuai dengan petunjuk-Nya?
Inilah petarungan untuk menguji jiwa.

Memahami diri dan amanah kehidupan. Itulah kuncinya.

Karir Kantor, Bukan Utama Lagi Oleh: Nasruloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Selama berkeliling daerah, ada fenomena...

Karir Kantor, Bukan Utama Lagi

Oleh: Nasruloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)

Selama berkeliling daerah, ada fenomena baru yang terbaca. Dahulu, karyawan hidup-mati untuk perusahaan, itulah karakter generasi pembangun. Namun bagaimana sekarang? Ada kecendrungan karir kantor tidak lagi yang utama. Mulai ada penyisihan waktu untuk dirinya sendiri.

Mereka menikmati apa pun pekerjaan yang sekarang ada, sesuai hak dan kewajibannya. Di luar jam kantor, mereka memiliki bisnis. Umumnya bisnis kuliner. Mereka enggan dipindahkan, bukan karena posisinya tidak menarik,  tetapi karena khawatir menganggu aktifitasnya di luar.

Ada juga secara level jabatan di bawah. Bergelut di ruang-ruang berdebu. Namun saat mau dipindahkan ke ruang kantor yang berAC, duduk manis di depan komputer, mereka tidak mau. Lebih memilih diposisinya sekarang.

Namun jangan tanya aktifitasnya diluar. Penghasilannya melebihi dari gaji kantornya. Sebulan sekali jalan ke luar negri menjadi tour guide. Bahasa inggrisnya, cukup fasih melebihi mereka yang memiliki posisi yang lebih tinggi. Fenomena apa ini?

Ada juga yang setiap liburan berprofesi sebagai Event Organizer Wedding, menjadi Master Of Ceremony dan Trainer. Bahkan memiliki sertifikat Trainer. Namun di kantor posisinya biasa saja. Mereka tidak memperdulikan keterkaitan antara posisi dengan gaji kantornya. Tetapi lebih mempertimbangkan berapa total uang yang diterima dari berbagai aktifitas sebagai karyawan perusahaan dan di luar kantor.

Di kantornya hanya input data. Namun aktifitasnya di luar mendesain logo, brand, melukis untuk souvenir moment tertentu dan komik. Bukankah ini bertolak belakang? Jadi Apa yang harus dilakukan oleh perusahaan dengan fenomena gaya hidup ini?

Hobi Menanam Jadi Bisnis Oleh: Nasruloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Bertemu seorang teman. Ingin berwirausaha. Sa...

Hobi Menanam Jadi Bisnis

Oleh: Nasruloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)

Bertemu seorang teman. Ingin berwirausaha. Saat ini masih bekerja. Hobinya menanam tumbuhan. Bagaimana caranya? Cukup lama kami berbincang bagaimana menciptakan bisnis menanam pohon. Dia meminta saran, bagaimana caranya? Bekerja tetapi bisa membangun bisnis menanam pohon?

Saran saya, agar sukses menanam pohon di ribuan hektar harus dimulai dengan kesuksesan menanam satu pohon terlebih dahulu. Perkarangan rumah di komplek yang hanya berukuran 2-3 meter harus dijadikan laboratorium dan riset. Walau menanam di 2-3 meter persegi, peralatan riset dan teknologinya harus seolah-olah sudah memiliki hektaran tanah. Sukses menanam ribuan pohon dimulai dari sukses menanam satu pohon.

Ukur kondisi mineral dan hara tanah di perkarangan rumah. Cara pohon yang cocok dengan kondisi tanah tersebut. Beli semua peralatan untuk mengetahui hal ini. Pelajari bibit dan karakternya, mana yang unggul dan yang bukan. Pelajari hama, iklim, pupuknya. Pelajari teknologi pasca panennya. Sukses satu pohon, tambah menjadi 2-3 pohon. Lalu coba dengan satu baris, lalu dua baris dan seterusnya. Bila sudah sukses dibeberapa baris pohon, barulah mencoba di tanah yang luasnya puluhan meter. Sambil bekerja bisa menjadi penelitian pohon.

Bila sudah sukses, barulah menanam lebih besar dan banyak lagi. Hubungan panen dengan kebutuhan cashflow. Alhamdulillah ternyata teman saya cukup puas. Dia sudah merasa memiliki titik terang untuk memulai mencoba merancang bisnisnya dari hobinya menanam pohon.

Memulai Bisnis itu banyak caranya. Mulailah dari yang kita bisa dulu dan merasa sreg dulu. Karena cara bisnis itu sebanyak cara berfikir, sebanyak prilaku manusia, sebanyak kemampuan manusia. Sukses banyak Cara, sebanyak apa yang dipikirkan manusia walau harus paham prinsipnya.

Bisnis itu harus terus melangkah. Jangan pernah berhenti melangkah. Hingga tak ada lagi ide untuk melangkah. Bisnis itu terus bangkit dan terus berusaha bangkit, hingga tak ada lagi energi untuk bangkit. Bila sudah tidak ada lagi Ide, bila sudah tidak ada lagi energi, bila sudah tidak ada lagi harapan, bila sudah tidak ada lagi langkah, ketika sudah tidak ada lagi yang bisa diharapkan kecuali Allah. Disitulah tanda bahwa kita sudah mengerahkan seluruh kapasitas diri kita.

Memulai bisnis hanya soal berfikir besar, fokus pada yang kecil, teruslah melangkah tanpa henti. Sebenarnya lebih susah sekolah dan kuliah daripada berbisnis.

Fisik Petarung, Buah Keimanan Oleh: Nasruloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Ketika seekor unta mengamuk di Madinah. ...

Fisik Petarung, Buah Keimanan

Oleh: Nasruloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)

Ketika seekor unta mengamuk di Madinah. Ketika sekor singa mengaung memasuki Madinah, tak seorang pun yang berani yang mendekat. Di tangan Rasulullah saw, semua bisa ditaklukan.

Ketika ada batu besar yang tak bisa dibelah dan diangkat. Rasulullah saw yang telah berhari-hari tidak makan dalam kelaparan mampu mengangkat batu tersebut sendirian. Ketika ada pegulat paling kuat di Makkah, yang bisa menaklukan hanya Rasulullah saw. Kekuatan fisik adalah bagian dari karakter Rasulullah saw. Kekuatan fisik juga dibutuhkan dalam sebuah kepemimpinan.

Ketika perang berkecamuk, maka yang paling dekat dengan musuh adalah Rasulullah saw. Semua sahabat berlindung di belakang Rasulullah saw. Dalam setiap peperangan, siapakah yang paling diincar? Tentu pemimpinnya. Ketika Rasulullah saw dikepung di setiap peperangan yang diikutinya, apakah ada yang bisa menaklukannya? Di perang Uhud, Rasulullah pipinya terkena senjata musuh. Itulah kondisi terparah yang pernah dialaminya.

Siapa yang mampu membobol benteng terkokoh di jazirah Arab? Benteng terkokoh adalah benteng Khaibar. Yang membobolnya, Ali bin Abi Thalib dengan tangannya sendiri. Ketika selesai perang, ternyata pintu benteng Khaibar harus diangkat oleh 40 orang. Betapa kuatnya fisik Ali bin Abi Thalib?

Umar Bin Khatab menantang seluruh pemuka kaum Quraisy yang ingin menghalanginya berhijrah ke Madinah. Menantang bertarung bagi yang berani. Sebuah tantangan yang menggetarkan nyali penduduk Mekkah. Inilah Jiwa petarung Umar Bin Khatab 

Dalam semua peperangan yang dilakukan oleh kaum muslimin, adakah peperangan satu lawan satu. Umumnya satu orang muslim harus melawan 3 sampai 10 orang musuh. Lihatlah perang Badar, Uhud, Mu'tah dan sebagainya. Lihatlah peperangan di era Khalifatur Rasyidin, Bani Umayah, Bani Abbasiiyah, Saljuk, Malmuk, hingga Turki Utsmani, apakah kaum muslimin menghadapi musuh yang seimbang? Semua berat sebelah, mengapa bisa menang? Salah satunya kekuatan fisik yang prima.

Imam Ibnu Taimiyah menjadi pemimpin pasukan menghadapi bangsa Mongol. Abdullah Ibnu Mubarak, seorang Sufi, menghadapi satu regu pasukan Romawi seorang diri. Pasukan Romawi pun kocar-kacir. Muhammad bin Wasi, Sufi yang malamnya selalu menangis di mihrabnya, tampil sendiri menghadapi petarung dari Romawi yang paling gagah dan kuat di sebuah peperangan. Keimanan menciptakan kesadaran akan kekuatan fisik.

Muhammad Hanafiah putra Ali bin Abi Thalib, di era Muawiyah, mampu mengangkat orang Romawi yang paling tegap, paling berat dan paling kuat yang dikirim oleh Kaisar Romawi untuk adu tanding. Padahal orang Romawi tersebut tidak bisa mengangkat tubuh Muhammad Hanafiah yang berbadan kecil. Kekuatan fisik adalah bagian penempaan keimanan.

Ada kisah empat orang pemuda muslim, yang mampu menghancurkan beberapa kompi tentara Romawi hanya dengan berempat orang saja. Hingga akhirnya Kaisar Romawi harus menurun pasukan elit untuk mengalahkannya. Kisah ini diabadikan oleh Imam Ibnul Jauzy.

Sejarah Islam tidak saja berbicara tentang keilmuan dan akhlak tetapi juga kekuatan fisik petarung yang bersiap mengarungi terpaan berbagai medan kehidupan.

Bertauhid, Menggengam Kehidupan Oleh: Nasruloh Baksolahar (ChannelYoutube Dengerin Hati) Sumber semua ilmu adalah Tauhid. Yakin ...

Bertauhid, Menggengam Kehidupan

Oleh: Nasruloh Baksolahar
(ChannelYoutube Dengerin Hati)

Sumber semua ilmu adalah Tauhid. Yakin kepada Allah. Iman kepada Allah. Sumber kebahagiaan adalah Tauhid. Sumber kekayaan adalah Tauhid. Bila tauhid sudah terpatri, seluruh kehidupan sudah ada dalam genggaman.

Belajarlah, tekunilah, pahamilah  pengetahuan yang sudah disusun oleh para Ilmuwan terdahulu. Namun bagaimana menciptakan ilmu baru, Allahlah yang akan mengilhamkannya. Bertauhid, bertafakur, membuat ujicoba, sebuah rangkaian menemukan wawasan yang belum tergali oleh siapapun. Tauhid mendorong bertafakur. Tafakur alam mendorong lahirnya sains dan teknologi. Tafakur diri mendorong lahirnya ilmu kejiwaan dan kedokteran. Tafakur masyarakat mendorong lahirnya ilmu sosial. Bila kita belum mampu mengarah seperti itu, ada apa dengan bertauhidnya kita? Mengapa tidak menjadi seorang ilmuwan?

Mengapa manusia mudah bersedih dan tidak bahagia? Keinginannya banyak, kebutuhannya tak terkira. Salah satu terusik, terguncanglah jiwanya. Andai orientasinya satu hanya Allah. Apakah ada yang bisa mengusik satu orientasi terbesarnya? Andai hidup ini tidak memberikan kebahagiaan, telisiklah apa yang ada di hati. Buanglah selain Allah dalam hati kita. Maka tidak ada lagi yang bisa mengguncangkan jiwa. Ilmu bahagia tentang siapa yang bersemayam didalam hati, bukan apa yang telah dimiliki. Andai belum bahagia, ada yang salah dengan tauhid kita.

Kekayaan tak perlu dikejar dan diburu seperti mengejar harta karun. Kekayaan harus diciptakan. Kekayaan yang harus menghampiri kita. Ciptakan agar uang dan sumber daya yang masuk ke kantong kita sendiri. Apa yang membuat kekayaan bergerak ke arah kita? Pahami karakter kekayaan. Pahami kemana arah kekayaan bergerak. Cukup menciptakan  sumber yang membuat kekayaan bergerak ke arah kita. Hanya dengan cara ini, saat tidur pun kekayaan akan datang sendiri ke kantong kita.

Kemana arah gerak kekayaan? Bergerak pada mereka yang menciptakan solusi dan kemudahan hidup. Bergerak kepada mereka yang berkarakter. Bergerak kepada mereka yang memiliki kompetensi dan kapasitas diri. Bergerak pada mereka yang penuh antusias. Bagaimana menciptakan pribadi seperti itu? Bertauhidlah, seluruh kepribadian seperti itu terbentuk dari iman kepada Allah. Melayani, memberi, bersemangat memberikan manfaat kepada manusia hanya milik mereka yang bertauhid. Memberikan manfaat menciptakan pengaruh dan kharisma. Memberikan manfaat membuat orang mau membayar atas manfaat yang diciptakannya.

Kekayaan tidak bergerak kepada orang yang pintar. Kekayaan tidak bergerak kepada orang yang sudah memiliki kekayaan. Kekayaan bergerak ke arah mereka yang bisa menciptakan kemanfaatan sesuai zamanya. Yang bersemangat memberikan kemanfaatan seharusnya mereka yang beriman karena mengharapkan ridha Allah. Andai hingga hari ini belum kaya, apa yang salah dari tauhid kita?

Saat meninggal Abdurrahman bin Auf mewariskan uang sebesar 250 milyar kepada satu istrinya. Padahal istrinya ada empat. Belum harta kekayaan berupa aset tak bergerak. Memberikan hadiah kepada ahli Badar sebesar 1 milyar per orang, padahal berapa jumlah yang ikut Perang Badar? Padahal Abdurahman bin Auf adalah orang yang dijamin masuk surga. Rasulullah saw memberikan hadiah kepada pemuka Quraisy yang baru masuk Islam dengan ribuan binatang ternak. Berapa kekayaan Rasulullah saw? Bertauhid menciptakan kekayaan.

Dengan bertauhid, urusan akan dimudahkan, diberikan jalan keluar yang tak terduga, dibukakan keberkahan dari langit dan bumi. Andai belum merasakan hal tersebut, adakah yang salah dari bertauhidnya kita? Bertauhid yang benar akan menggenggam kehidupan.

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Al-Qur'an (197) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (49) Cerita kegagalan (1) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (6) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) Kecerdasan (220) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) Kisah Para Nabi dan Rasul (205) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) Nabi Adam (1) Nabi Ibrahim (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Musa (1) Nabi Nuh (3) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (1) Namrudz (2) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) Nusantara (210) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (154) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rehat (424) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (144) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah Penguasa (193) Sirah Sahabat (114) Sirah Tabiin (42) Sirah Ulama (90) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)