basmalah Pictures, Images and Photos
Our Islamic Story: Hasan Al Banna

Choose your Language

Tampilkan postingan dengan label Hasan Al Banna. Tampilkan semua postingan

Risalah Al-Matsurat Hasan Al Banna dan Syeikh Hasan Asy-Syadzali Oleh: Nasrulloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Seja...

Risalah Al-Matsurat Hasan Al Banna dan Syeikh Hasan Asy-Syadzali

Oleh: Nasrulloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)

Sejarawan Muslim Dr Muhammad Ash Shalabi mengabadikan berbagai dzikir dan munajat Syeikh Hasan Asy-Syadzali dalam bukunya yang diterjemahkan dan diterbitkan oleh Pustaka Al-Kautsar yang berjudul "Bangkit dan runtuhnya daulah Ayyubiyah." Salah satu yang dibahas adalah Wirid Hizib Nasr dan Bahr.

Saya pernah bertemu dengan beberapa ustadz dari berbagai pondok pesantren. Ternyata para Kiyai banyak yang mengijazahkan hizib ini kepada murid-muridnya. Terutama di masa-masa genting dan penting.

Saya juga membaca di buku sejarah, ternyata ketika Belanda membonceng tentara sekutu untuk menjajah Indonesia, para kiyai mengajarkan Hizib ini kepada masyarakat. Ingat ketika KH Hasyim Ashari menyerukan jihad total saat Surabaya diserbu pada 10 Nopember? Hizib ini pun diajarkan.

Imam Hasan Al Banna, pendiri gerakan Ikhwanul Muslimin, dalam Risalah Pergerakannya pun menuliskan munajat dan wirid dari Syeikh Hasan Asy-Syadzali untuk menjadi panduan para kadernya. Panduan dalam bermunajat dan berdzikir. Semua ini dihimpun dalam Risalah Al Matsurat yang menjadi bagian dari Pemikirannya yang dihimpun dalam Risalah Pergerakannya.

Hasan Al Banna dalam Risalah Pergerakannya mengatakan bahwa gerakan dakwah haruslah menjadi penyambung generasi terdahulu. Bukan menghancurkan apa yang sudah dibangun oleh para pendahulunya.

Dalam Sirah Nabawiyah, Rasulullah saw menebarkan debu ke muka kafir Quraisy sehingga mereka tidak melihat Rasulullah saw dalam peristiwa Hijrah, Perang Badar dan Hunain. Bisa jadi ini yang mengilhamkan Syeikh Hasan Asy-Syadzali untuk mewiridkan Hizib Bahr yang membutakan mata musuh?

Para Sahabat mengisahkan ketika kaum Muslimin terjebit di Perang Hunain, Rasulullah saw menebarkan debu yang membuat kondisi menjadi terbalik. Rasulullah saw pun bermunajat sangat luar biasa saat perang Badar.

Seorang Ulama Salaf, Muhammad bin Wasi, saat berperang bermunajat kepada Allah. Yang oleh para panglima dikatakannya, doanya lebih baik dari seribu pedang. Saat penaklukan Konstatinopel, Syeikh Aaq Syamsudin, bermunajat kepada Allah. Sehingga dilihat oleh Muhammad al Fatih muka sang syeikh mengeluarkan cahaya dan air matanya berlinang deras.

Memadukan ikhtiar dan doa merupakan sebuah prinsip pergerakan. Maka ambillah doa dan wirid yang matsur. 

Hasan Al Banna, Tarekat Syadziiliyah dan Qadiriyah Oleh: Nasrulloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Hasan Al Banna dan...

Hasan Al Banna, Tarekat Syadziiliyah dan Qadiriyah

Oleh: Nasrulloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)

Hasan Al Banna dan Syeikh Abdul Hasan Asy-Syadzili, Dua sosok yang lahir terbentang sangat jauh. Hasan Al Banna dan Syekh Abdul Qadir Jailani dua sosok yang lahir terbentang lebih jauh lagi. Syekh Abdul Hasan Asy-Syadzili kelak dikenal sebagai pendiri Tarekat  Syadzili. Syeikh Abdul Qadir Jailani kelak dikenal sebagai walinya para Wali dan pendiri Tarekat Qadiriyah. Hasan Al Banna dikenal sebagai ulama pergerakan dunia di abad modern ini yang mendirikan Ikhwanul Muslimin. Darimana keterhubungan ketiga tokoh ini ?

Menurut Prof Dr Ali Muhammad Ash Shalabi, Syekh Abdul Qadir Jailani merupakan ulama pertama yang mengubah gerakan tasawuf yang personal menjadi terorganisir. Ciri utamanya, pengajaran dan pendidikan jiwa yang terorganisir dan rapi. Pengkaderan di bidang agama, ilmu pengetahuan dan sosial. Dari Tarekat Qadiriyah inilah muncul prajurit, panglima dan pejabat negara yang menahan gempuran Eropa pada perang salib. Yang membangun bani Zanky menjadi negara yang rapi, adil dan sejahtera.

Hasan Al Banna sepertinya mendapatkan ilham dari cara Syekh Abdul Qadir Jailani mengelola dakwah. Dari gerakan dakwah personal menjadi gerakan terorganisir pasca runtuhnya Kekhalifahan Turki Utsmani oleh Mustafa Kemal. Bila membedah struktur jaringan Tarekat seperti Qadiriyah, Syadziliyah dan Naqsambandiyah saat ini dengan Ikhwanul Muslimin terdapat kemiripan. Termasuk metodelogi pensucian jiwanya melalui dzikir pagi dan petang.

Saya sering berbincang-bincang dengan orang yang aktif di tarekat Qadiriyah dan Syadziliyah, keteguhan untuk hidup berjamaah sangatlah kuat. Ketaatan pada Mursyid sangatkah luar biasa. Ada semacam sertifikasi dalam mendawamkan dzikir-dzikir tertentu. Ada jenjang-jenjang tertentu dalam strukturnya. Bila saya membaca buku tentang tarbiyah Ikhwanul Muslimin, ini pun ditemukan. Apakah Hasan Al Banna terilhami dalam pengajaran dan pengorganisasiannya?

Prinsip Hasan Al Banna dan Abu Hasan asy-Syadzii pendiri Tarekat Syadziiliyah terdapat kesamaan pandang antara mengarang kitab dengan mengkader umat. Yaitu mementingkan membentuk orang daripada menulis banyak kitab. Lebih penting membentuk kepribadian muslim daripada mengarang berlembar buku.

Dr Abdul Halim Mahmud, Syekh Al Azhar di tahun 1978, mengabadikan prinsip hidup pendiri Tarekat Syadziliyah yang lebih memilih mendidik beberapa orang daripada menulis sebuah karya. Suatu hari Syekh Syadzili ditanya, "Mengapa engkau tidak menulis sebuah karya yang diperuntukkan sebagai petunjuk menuju Allah dan ilmunya tarekat?" "Kitabku adalah murid-muridku," Begitu sang Syekh menjawab.

Hasan Al Banna pun, kehidupannya lebih banyak berkecimpung dalam pengkaderan dan membangun organisasi daripada menulis kitab. Beberapa kitab yang disematkan kepadanya, bukanlah hasil tulisannya tetapi ceramahnya yang ditulis oleh murid-muridnya. Ini seperti yang dilakukan oleh Imam Ahmad bin Hambal yang tidak pernah menuliskan kitab. Berkat kreatifitas murid-muridnya yang menuliskan ceramah sang Imam Ahmad-lah yang akhirnya Umat Islam bisa mengambil petunjuk dan keberkahan dari karya-karyanya.

Jejak-jejak para ulama akan selalu menjadi petunjuk jalan bagi ulama dan umat sesudahnya. Mengambil pelajaran karya ulama terdahulu akan menjadi cara mudah mendapatkan solusi di era sekarang. Seperti Dale Carnengie katakan dalam bukunya Leadership Mastery bahwa masa lalu harus menjadi sumber daya atau aset di era sekarang.  Itulah keterhubungan ke tiga tokoh tersebut.

Salah satu yang tercatat dalam kisah awal hidupnya Hasan Al Banna, sebelumnya dia cukup aktif dalam berbagai tarekat. Inspirasi ke dua tarekat ini dibawa untuk membangun Ikhwanul Muslimin?

Risalah Al-Matsurat Hasan Al Banna dan Syeikh Hasan Asy-Syadzali Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Sejarawan Muslim Dr Muhammad Ash Sh...

Risalah Al-Matsurat Hasan Al Banna dan Syeikh Hasan Asy-Syadzali

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 

Sejarawan Muslim Dr Muhammad Ash Shalabi mengabadikan berbagai dzikir dan munajat Syeikh Hasan Asy-Syadzali dalam bukunya yang diterjemahkan dan diterbitkan oleh Pustaka Al-Kautsar yang berjudul "Bangkit dan runtuhnya daulah Ayyubiyah." Salah satu yang dibahas adalah Wirid Hizib Nasr dan Bahr.

Saya pernah bertemu dengan beberapa ustadz dari berbagai pondok pesantren. Ternyata para Kiyai banyak yang mengijazahkan hizib ini kepada murid-muridnya. Terutama di masa-masa genting dan penting.

Saya juga membaca di buku sejarah, ternyata ketika Belanda membonceng tentara sekutu untuk menjajah Indonesia, para kiyai mengajarkan Hizib ini kepada masyarakat. Ingat ketika KH Hasyim Ashari menyerukan jihad total saat Surabaya diserbu pada 10 Nopember? Hizib ini pun diajarkan.

Imam Hasan Al Banna, pendiri gerakan Ikhwanul Muslimin, dalam Risalah Pergerakannya pun menuliskan munajat dan wirid dari Syeikh Hasan Asy-Syadzali untuk menjadi panduan para kadernya. Panduan dalam bermunajat dan berdzikir. Semua ini dihimpun dalam Risalah Al Matsurat yang menjadi bagian dari Pemikirannya yang dihimpun dalam Risalah Pergerakannya.

Hasan Al Banna dalam Risalah Pergerakannya mengatakan bahwa gerakan dakwah haruslah menjadi penyambung generasi terdahulu. Bukan menghancurkan apa yang sudah dibangun oleh para pendahulunya.

Dalam Sirah Nabawiyah, Rasulullah saw menebarkan debu ke muka kafir Quraisy sehingga mereka tidak melihat Rasulullah saw dalam peristiwa Hijrah, Perang Badar dan Hunain. Bisa jadi ini yang mengilhamkan Syeikh Hasan Asy-Syadzali untuk mewiridkan Hizib Bahr yang membutakan mata musuh?

Para Sahabat mengisahkan ketika kaum Muslimin terjebit di Perang Hunain, Rasulullah saw menebarkan debu yang membuat kondisi menjadi terbalik. Rasulullah saw pun bermunajat sangat luar biasa saat perang Badar.

Seorang Ulama Salaf, Muhammad bin Wasi, saat berperang bermunajat kepada Allah. Yang oleh para panglima dikatakannya, doanya lebih baik dari seribu pedang. Saat penaklukan Konstatinopel, Syeikh Aaq Syamsudin, bermunajat kepada Allah. Sehingga dilihat oleh Muhammad al Fatih muka sang syeikh mengeluarkan cahaya dan air matanya berlinang deras.

Memadukan ikhtiar dan doa merupakan sebuah prinsip pergerakan. Maka ambillah doa dan wirid yang matsur. 

Paradigma Tasawufnya Hasan al Banna Oleh: Nasruloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Tasawufnya Hasan al Banna sang pen...

Paradigma Tasawufnya Hasan al Banna

Oleh: Nasruloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)

Tasawufnya Hasan al Banna sang pendiri Ikhwanul Muslimin. Mungkin sangat sedikit yang mau mengkaji dan memahaminya. Menurut Said Hawa dalam kitabnya Fi Afaqit Ta'lim mengatakan bahwa Hasan Al Banna mengambil Tasawuf lalu membersihkannya. Said Hawa pun melanjutkan, "Apabila seorang sufi tidak melihat jalan tasawuf menuju Allah dalam Jamaah Ikhwanul Muslimin (IM), maka mereka akan memandang sesuatu yang menyimpan tentang IM."

Dalam Muktamar ke lima Ikhwanul Muslimin (IM) pada akhir Desember 1938 M hingga awal Januari 1939 M, Hasan Al Banna menjelaskan secara komprehensif gambaran gerakan IM yaitu mencakup Dakwah Salafiah, Tariqah Sunniyah, Haqiqah Shufiyah, Hai'ah Siyasiyah, Jama'ah Riyadhiyah, Rabithah Ilmiyah Tsaqafiyah, Syirkah Iqtishadiyah dan Fikrah Ijtima'iyah. Dari gambaran tersebut, ada 3 hal yang berkaitan dengan Tasawuf, apa itu?

Tariqah Sunniyah, Haqiqah Shufiyah dan Jama'ah Riyadhiyah. Inilah tiga gambaran pemikiran IM yang berkaitan dengan Tasawuf. Tariqah Sunniyah berarti membawa jiwa untuk mengamalkan sunah yang suci dalam segala hal, khususnya dalam masalah aqidah dan ibadah selama ada kemampuan.

Semua ulama tasawuf seperti Junaid Al Baghdadi, Imam Al Ghazali dan Syeikh Abdul Qadir Jailani menjelaskan bahwa tasawuf tidak boleh bertentangan dengan syariat. Bila ingin menempuh jalan tasawuf maka harus memahami syariat terlebih dahulu. Inilah jalan yang benar. Imam Junaid Al Baghdadi melarang mereka yang tak paham syariat menempuh jalan Tasawuf karena bisa terjadi penyimpangan. Inilah yang dimaksud Thariqah Sunniyah yang dijelaskan Hasan Al Banna.

Oleh karena itulah ulama Tasawuf membangun perjalanan para Sufi dengan tiga tingkatan berjenjang agar tidak menyimpang yaitu Syariat, Hakikat dan Marifat. Ketiga tangga ini tidak boleh dilompati tetapi sesuatu yang runut menanjak. Syariat sebagai landasan dan penempaan untuk mendapatkan derajat Hakikat dan Marifat. Disinilah konsep Jama'ah Riyadhiyah dalam IM ditempuh untuk mendapatkan tingkat Hakikat dan Marifat, bukan sekedar melatih raga agar kuat, tetapi mendisiplinkan diri dalam mempraktekkan ibadah dengan disiplin dan istiqamah sepanjang hayat.

Riyadhah atau pelatihan kedisiplinan ibadah harian dan raga diwujudkan dalam risalah Hasan Al Banna yang diberi nama Kewajiban muslim yang dirangkum dalam 38 pelatihan harian dari Shalat di awal waktu, membaca Al Quran, menjaga wudhu hingga pengelolaan waktu. Tidak itu saja, Hasan Al Banna juga membimbing wirid harian yang bernama Al Matsurat dan wirid Al-Qur'an berupa ayat-ayat pilihan. Jalan ini mendidik untuk beristiqamah. Jadi penempaan jalan Tasawuf cukup kental di IM untuk meraih derajat Haqiqah Shufiyah.

Haqiqah Shufiyah menurut Hasan Al Banna adalah memahami bahwa asas kebaikan adalah kesucian jiwa, kejernihan hati, kontinuitas amal, berpaling dari ketergantungan kepada makhluk, cinta karena Allah, dan keterikatan kepada kebaikan. Inilah titik sentral kebaikan manusia. Inilah inti dari Tasawuf mendidik hati hingga akhirnya mengenal Allah. Mendidik dan mengenal diri hingga akhirnya mengenal Allah.

Mengapa hati menjadi sentral, menurut Imam Al Ghazali dalam Ihya Ulumudin, kapasitas  seseorang ada yang dapat diraih dengan Ilham dan belajar. Allah mengajarkan itu semua bila hati manusia jernih hatinya. Menurut Ibnu Qayyim, Ilmu itu cahaya maka hati yang bercahaya yang akan dicurahkan ilmu dan kepahaman oleh Allah. Disinilah tingkatan Marifat akan diperoleh.

Bagaimana bermarifat yang benar? Hasan Al Banna pun memberikan bimbingan yang jelas dalam risalahnya yang berjudul Aqidah dalam Majmuatur Rasailnya. Dari prinsip memahami Dzat Allah, peran akal, pembahasan Asmaulhusna dan sifat 20 yang dikembangkan oleh Abu Hasan Al Ashari dan Imam Al Ghazali untuk membantu umat mengenal Allah.

Bagaimana hati yang hidup menurut Hasan Al Banna? Dalam kitab Haditsuts Tsulatsa karangan Ahmad Isa Asyrur menjelaskan, definisi hati yang hidup menurut Hasan Al Banna  adalah hati yang sensitif, dinamis,  terbuka, selalu terhubung dan diawasi Allah. Apakah tingkatan ini sudah selesai? Sekadar bermarifat ?

Bila tingkatan Syariat, Hakikat dan Marifat sudah ditempuh dan ditempa, maka kekuatan ini harus membangun karakter yaitu  al-Fahmu (Pemahaman), Ikhlas, Amal, Jihad, Tadhiyah (Pengorbanan), Taat, Tsabat (Teguh Pendirian), Tajarrud (Totalitas), Ukhuwah (Persaudaraan) dan Tsiqah (Percaya). Dari 10 sifat ini daya gunakan untuk membangun peradaban manusia. Itulah perjalanan Tasawuf Hasan Al Banna. Tidak hanya bernikmat bersama Allah daja, tetapi juga didayagunakan untuk membangun peradaban.

Karamah Para Guru Hasan Al Banna Oleh: Nasrulloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Hasan Al Banna memiliki empat guru y...

Karamah Para Guru Hasan Al Banna

Oleh: Nasrulloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)


Hasan Al Banna memiliki empat guru yang langsung menempanya. Yaitu, Syekh Ahmad As-Sa'ati, Syekh Muhammad Zuhran, Syeikh Muhammad Abu Syausyah dan ustadz Abdul Fattah Abu 'Allam. Syekh  Ahmad As-Sa'ati adalah sang ayahnya. Beliau seorang ahli ilmu yang berpegang teguh pada Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah saw. Sang ayah, tekun mempelajari fiqh, tauhid dan nahwu. Di rumahnya terdapat perpustakaan pribadi yang sangat besar. Dia juga mengarang dan mensyarah beberapa kitab. Inilah penempaan luar biasa dari rumahnya.

Guru keduanya adalah Syekh Muhammad Zuhran. Hasan Al Banna mengatakan, "Sejak saat itu aku mulai mengenal pengaruh yang ditimbulkan oleh hubungan ruhani yang bersifat mutualistik dan sikap tenggang rasa antara murid dan guru. Kami sangat mencintai Guru, walaupun sang guru membebani pekerjaan yang menguras habis tenaga. Dari hubungan ruhani ini, memunculkan kecintaan untuk belajar dan membaca."

Hasan Al Banna melanjutkan, "Syekh Zuhran sering mengajakku ke perpustakaan, membuka banyak buku. Dia memintaku membacakan untuknya untuk masalah-masalah yang sedang dicarinya. Bahkan aku juga kerap kali diajak ikut menghadiri forum-forum ilmiah, berkumpul bersama ilmuwan dan kaum pemikir yang sedang mendiskusikan suatu tema tertentu, sedangkan aku mendengarkan." Darinya, Hasan Al Banna belajar rajutan cinta antara guru-murid dan murid yang lainnya. Inilah cara mendidik yang efektif dan efisien meskipun sang guru tidak pernah belajar dedaktif metodik maupun kaidah psikologi.

Syekh Muhammad Abu Syausyah, dialah guru yang banyak menempa pendidikan ruhani Hasan Al Banna. Pengalaman paling berkesan, saat sang syekh mengajak ke kuburan. Kemudian menuju pusaran yang terbuka. Para muridnya diminta masuk ke liang kubur dan berbaring sejenak membayangkan perjalanan kematian. Kegelapan kubur, situasinya yang angker membuat para murid menangis.

Sang syeikh banyak menempa soal pendidikan dan pembentukan kader dakwah. Hasan Al Banna berkata, "Syekh Abu Syausyah tidak rela para muridnya berselisih karena persoalan khilafiyah. Ia tidak berkenan mendengar saling menuduh kafir, munafik, zindiq atau misionaris kepada sesama muslim. Bila terdengar hal itu, sang syeikh berkata, 'Tahan, jangan ucapkan kata-kata itu. Lakukan intropeksi. Sedangkan dihadapan manusia, ucapankan kata-kata yang menyentuh hati. Lakukan perbuatan yang menggugah mereka untuk mentaati Allah. Mereka hanya tidak jelas menangkap ajaran agama."

Ustadz Abu Fattah sering memberikan wasiat untuk melakukan kajian mendalam dan tiada henti memikirkan rahasia perundangan Islam dan sejarah perkembangannya, juga sejarah perkembangan mazhab dan terbentuknya kelompok (firqah) dan kelompok kecil (tha'ifah)  sehingga kebenaran dapat terungkap. Begitulah sejumlah guru Hasan Al Banna, pendiri Ikhwanul Muslimin, yang disebutkan oleh Dr Anwar Jundi dalam bukunya Biografi Hasan Al Banna.

Hasan Al Banna melihat karamah para gurunya. Apa karamah sang gurunya? Hasan Al Banna berkata, "Karamah gurunya terlihat dari aspek amaliahnya. Karamah terbesar yang dianugerahkan Allah kepadanya adalah taufik menyebarluaskan dakwah Islam berdasarkan kaidah-kaidah yang benar, dan kecemburuan yang besar terhadap hal-hal yang dilarang Allah, juga amar makruf nahi mungkar." Itulah kekaguman Hasan Al Banna kepada guru-gurunya.

Kerinduan Bertemu Rasulullah saw dan Sahabatnya Oleh: Nasrulloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Para Sahabat, menjela...

Kerinduan Bertemu Rasulullah saw dan Sahabatnya

Oleh: Nasrulloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)


Para Sahabat, menjelang akhir hayatnya merindukan bertemu dengan Rasulullah saw, Abu Bakar dan Umar bin Khatab. Kerinduan ini sangat jelas saat Utsman bin Affan menjelang wafatnya, saat beliau dikepung di rumahnya oleh para demonstran. Apa yang dikatakan Utsman bin Affan? Banyak kisah yang ditulis oleh Khalid Muhamad Khalid dalam bukunya 60 Sahabat Rasulullah saw yang merindukan Rasulullah saw, Abu Bakar dan Umar bin Khatab menjelaskan kewafatan mereka.

Di malam hari sebelum terbunuhnya Utsman bin Affan, dia bertemu dengan Rasulullah saw, Abu Bakar dan Umar bin Khatab di dalam mimpinya.  Rasulullah saw dan kedua sahabatnya mengajaknya buka puasa bersama di surga. Ketika tubuh Utsman bin Affan lemah karena darah yang terus mengucur karena dibunuh oleh seorang demonstran yang menyusup ke dalam rumahnya. Para Sahabat Utsman, memintanya untuk berbuka puasa untuk memulihkan kondisinya. Namun Utsman bin Affan menolaknya karena dia sudah berjanji berbuka puasa bersama Rasulullah saw, Abu Bakar dan Umar bin Khatab di surga. Akhirnya, Utsman bin Affan pun wafat sebagai seorang syahid.

Seorang ulama bermimpi saat kematian Imam Bukhari. Sang ulama bertemu dengan Rasulullah saw, Abu Bakar, Umar bin Khatab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib dalam mimpinya. Sang ulama bertanya pada Rasulullah saw, "Apa yang sedang ditunggu?" Rasulullah saw menyebutkan sebuah nama. Nama tersebut adalah nama panggilan untuk Imam Bukhari. Setelah bangun, sang ulama mendengar kabar bahwa Imam Bukhari telah wafat di hari tersebut.

Kerinduan surga orang-orang yang terpilih bukan tentang kenikmatan surga. Tetapi, bertemu dengan mereka yang dicintainya. Rasulullah saw bersabda bahwa di akhirat nanti seseorang akan dikumpulkan bersama orang yang dicintainya. Energi cinta, itulah energi yang menyatukan dunia akhirat. Cinta tak mengenal batas waktu dan tempat. Dia menembus batas zaman,  juga menyambung jiwa  dunia dan akhirat.

Said Ramadhan Al-Buthi, penulis Sirah Nabawiyah, mengungkapkan kenangannya bersama Imam Hasan Al-Banna tentang misi kematian yang dirindukannya. Hasan Al Banna berkata, "Kami menginginkan surga, bukan karena kebaikan dan buah-buahan yang tersedia, melainkan karena ingin berjumpa dengan Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali dan para Sahabat terkemuka serta mereka yang mati sebagai syuhada." Mencintai orang yang sholeh adalah anugerah. Seperti itu pula doa yang dipanjatkan Abdullah bin Umar. Kerinduan surga Hasan Al Banna karena ingin bertemu dengan mereka yang dicintainya ternyata terwujud. Ini ditandai dengan sebuah peristiwa yang sang spesial bagi seorang yang shaleh.


Di malam terakhir sebelum kematiannya, Imam Hasan Al Banna mengungkapkan mimpinya pada salah seorang anggota keluarganya. Sang imam bertemu dengan Ali Bin Abi Thalib. Imam Ali berkata, "Wahai Hasan, urusanmu sudah selesai. Engkau telah menyampaikan risalahmu. Allah menerimamu dan apa yang engkau perbuat." Lalu Hasan Al Banna mentakwilkan mimpinya, "Sesungguhnya, bermimpi melihat Imam Ali ketika tidur berarti mati sebagai Syuhada." 

Setelah mimpi semalam pada tanggal 12 Februari 1949, Hasan Al Banna dibunuh di depan kantor pusat Ikhwanul Muslimin. 6 peluru bersarang di tubuhnya. Walaupun dalam keadaan terluka parah, beliau masih mampu mengejar sang pembunuh dan mengingat nomor polisi kendaraan yang membunuhnya. Saat kematiannya, yang boleh mengurusi jenazahnya hanya ayahnya sendiri dan saudara perempuannya. Seluruh akses ke rumah dan pemakamannya diblokade total. Orang yang mau bertajizah, mendoakan dan mengirim surat Al-Fatihah untuk beliau dijebloskan ke penjara.

Ada pesan yang ditujukan kepada para penerusnya, "Wahai ikhwan sekalian, aku sama sekali tidak mengkhawatirkan kalian, meskipun seluruh kekuatan dunia bersatu padu, sebab kalian dengan ijin Allah pasti lebih kuat dari mereka. Tetapi, yang aku takutkan dari kalian adalah aku takut kalian melupakan Allah sehingga mengandalkan diri sendiri dan atau melupakan persaudaraan sehingga memperparah penderitaan." Ini pesan yang amat sentral dalam gerakan dakwah.

Ada firasat masa depan Hasan Al Banna yang saat ini terbukti. Pada tahun 1946, Robert Jackson penulis Amerika pernah mewawancarainya. Ditengah kehancuran kekhalifahan Turki Utsmani oleh Mustafa Kamal , Imam Hasan Al Banna berkata, "Contohnya Turki, aku sangat yakin Turki akan kembali kepada Islam. Dan, aksioma-aksioma kembalinya Turki kepada Islam itu sudah tampak sejak mulai sekarang." Akhirnya terbukti, sang penulis menyaksikan sendiri kekalahan partai Musthafa Kamal pada Mei 1950. Sekarang bagaimana kondisi Turki? 

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Al-Qur'an (193) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (49) Cerita kegagalan (1) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (6) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) Kecerdasan (220) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) Kisah Para Nabi dan Rasul (205) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) Nabi Adam (1) Nabi Ibrahim (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Musa (1) Nabi Nuh (3) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (1) Namrudz (2) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) Nusantara (210) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (151) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rehat (422) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (144) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah Penguasa (190) Sirah Sahabat (114) Sirah Tabiin (42) Sirah Ulama (90) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)