basmalah Pictures, Images and Photos
Our Islamic Story: kecerdasan

Postingan Popular Pekan ini

Tampilkan postingan dengan label kecerdasan. Tampilkan semua postingan

GUNA AKAL Akallah alat untuk berpikir, dialah hulu hikmah Lantaran akal datangnya taklif perintah agama. Di dalam agama barulah ...

GUNA AKAL

Akallah alat untuk berpikir, dialah hulu hikmah Lantaran akal datangnya taklif perintah agama. Di dalam agama barulah sah perintah dipikulkan bila seorang telah mempunyai akal. 

Tidaklah terpikul agama oleh orang yang gila atau anak-anak yang belum berakal. Untuk mencapai bahagia dunia dan agama, ialah dengan melalui jembatan akal. Dengan akal meningkat tangga mengenal Tuhan dan dengan akal diatur rahasia pendirian alam. 

Diberikan-Nya kepada hamba-Nya seorang satu. Kalau mereka pandai menggunakan, bergunalah mereka di waktu hidup sampaikan mati. Dengan akal membongkar rahasia yang tersembunyi. Dengan akal terbuka hijab yang tertutup.

Maka datanglah seorang laki-laki dari suku Bani Majasyi menghadap Rasulullah Saw. lalu dia berkata, "Ya Rasulullah, bukanlah hamba ini seorang yang terutama di dalam kaumku?" Rasulullah Saw. menjawab,

إِنْ كَانَ لَكَ عَقْلٌ فَلَكَ فَضْلٌ وَإِنْ كَانَ لَكَ خُلْقٌ فَلَكَ مُرُوعَةٌ وَإِنْ كَانَ لَكَ مَالٌ فَلَكَ حَسَبٌ وَإِنْ كَانَ لَكَ تَقَى فَلَكَ دِينٌ

"Jikalau ada engkau berakal maka utamalah engkau, jika ada engkau bersopan maka budimanlah engkau, jika ada engkau berharta maka bergengsilah engkau, dan jika ada engkau taqwa maka beragamalah engkau".

Kata Rawi, "Pernahlah Jibril datang kepada Nabi Adam. lalu disuruh pilih di antara tiga perkara! Lalu Adam bertanya, 

"Manakah yang tiga perkara itu?"

Jibril menjawab, "Pertama, akal; kedua, malu; ketiga, agama". 

Lalu Nabi Adam memilih akal. 

Maka berkatalah Jibril kepada malu dan agama, "Pulanglah engkau keduanya, karena telah dipilihnya akal".

Keduanya menjawab, "Disuruh pulang atau tidak, kalau akal telah dipilihnya, tidaklah dapat kami berdua meninggalkannya, sebab kami berdua ini adalah pengiring akal."

Menurut riwayat Anas pernah dipuji-puji orang seorang sahabat dekat Rasulullah, dipuji ibadahnya, dipuji perangainya, dipuji keimanannya, adabnya dan sopannya.

Tetapi Rasulullah Saw. tiada memperdulikan puji-pujian itu, hanya beliau tanya, 

"Bagaimanakah akalnya?" 

Mereka balik tanya, "Bagaimana ya Rasulullah? Kami sebut segala macam kelebihannya, tetapi Rasulullah tanyai juga akalnya."

Maka sabda beliau,

إِنَّ الْأَحْمَقَ الْعَابِدَ يُصِيبُ بِجَهْلِهِ أَعْظَمُ مِنْ فُجُوْرِ الْفَاجِرِ وَإِنَّمَا يَرْتَفِعُ النَّاسُ فِي دَرَجَاتِ الْزُلْفَى مِنْ رَبِّهِمْ عَلَى قَدْرِ عُقُوْلِهِمْ

"Sesungguhnya orang yang ahmak (bodoh) tetapi rajin beribadah telah tertimpa bahaya lantaran bodohnya, lebih besar dari ada bahaya yang menimpa lantaran kejahatan orang yang durjana. Yang mengangkat manusia kepada derajat dekat kepada Tuhan ialah menurut kadar akal mereka jua."

Maka pada diri manusia itu terdapatlah 3 kekuatan, kekuatan akal, kekuatan marah, dan kekuatan syahwat.

1. Kekuatan akal membawa orang kepada hakikat, menjauhkan diri pada yang batil, tunduk kepada hukum, menerima perintah dan menjauhi larangan. Tampak olehnya yang baik lalu diikutinya. Kelihatan olehnya yang buruk, lalu dijauhinya.

2. Kekuatan marah, itulah yang menyuruh menangkis dan bertahan, mengajak mencapai kekuasaan dan kemenangan, dan kadang-kadang menyuruh bangga, sombong, dan takabur.

3. Kekuatan syahwat, yang mengajak melepaskan kehendak hati, mencapai kelezatan, menyuruh lalai, menyuruh lengah, sehingga lupa memikirkan akibat.

Dr. M. Amir, ahli ilmu jiwa yang terkenal berkata dalam salah satu ceramahnya, "Bahwasanya perasaan (syahwat dan kemaharan, atau hawa nafsu) adalah laksana kuda yang berlari. Dan akal laksana kusir yang memegang kekangnya".

Seni Mengenal Diri dan Menjaga Kekayaan Batin dalam Sandiwara Kehidupan Dalam bentang kosmos yang luas, manusia berdiri di amban...

Seni Mengenal Diri dan Menjaga Kekayaan Batin dalam Sandiwara Kehidupan


Dalam bentang kosmos yang luas, manusia berdiri di ambang yang ganjil: sebuah persimpangan antara naluri kehewanan dan cahaya ketuhanan.

Secara biologis, kita berbagi ruang dengan makhluk lain yang mengejar "kelezatan perasaan kasar"—sebuah dorongan instingtual untuk memuaskan lapar, haus, dan syahwat tanpa pertimbangan. Namun, Tuhan menyelipkan akal sebagai pembeda yang absolut.

Ketegangan ini adalah drama tertua dalam sejarah peradaban. Akal bukan sekadar mesin logika yang dingin, melainkan seorang penjaga gerbang yang setia. Ia adalah penguasa yang memberikan restu sebelum langkah kaki diayunkan.

Di sinilah letak kemuliaan kita; saat hewan terbelenggu oleh instingnya, manusia memiliki kemerdekaan untuk menimbang, menahan diri, dan bertanya pada batinnya: "Apakah tindakan ini akan mengangkat atau justru menjatuhkan martabatku?"


Akal Sebagai Benteng Martabat dan "Hijab Malu"

Akal berfungsi sebagai filter moral yang menjaga integritas individu dari tarikan nafsu yang tuli. Ketika mata menangkap keindahan harta milik orang lain atau keelokan rupa yang menggoda, akal akan segera bekerja membentengi diri.

Ia melarang pengambilan hak yang bukan miliknya dan mencegah tindakan yang mampu meruntuhkan kehormatan.

Dalam tradisi pemikiran kita, akal melahirkan apa yang disebut sebagai hijab malu. Rasa malu bukanlah tanda kelemahan atau ketidakberdayaan, melainkan selubung pelindung yang membuktikan eksistensi akal yang sehat.

"Meskipun suatu perkara dipandangnya lezat untuk badannya, belum tentu dia mau mengerjakannya kalau belum mendapat persetujuan dari akalnya."

Manusia yang menuju kesempurnaan—sang insan kamil—adalah mereka yang mampu membedakan mana yang patut dimuliakan dan mana yang pantas dihinakan. Bagi mereka, aktivitas jasmani seperti makan hanyalah sarana untuk melengkapi hidup, bukan tujuan untuk memuaskan nafsu belaka.


Menemukan "Pakaian" yang Pas dalam Lakon Hidup

Dunia ini tak ubahnya sebuah panggung sandiwara besar di mana setiap jiwa memegang lakonnya sendiri. Akal memerintahkan kita untuk "mengukur bayang-bayang diri"—sebuah upaya jujur untuk mengenali ukuran batin kita sebelum memilih peran. 

Tantangan terbesar hari ini bukanlah ketiadaan peluang, melainkan godaan untuk memakai "pakaian" atau peran yang sebenarnya tidak pas di tubuh kita.

Setiap bidang kehidupan memiliki "pahlawannya" masing-masing:

Dalam roda ekonomi dan perniagaan, terdapat para ahlinya.

Di menara gading intelektualitas dan kesucian agama, berdirilah para ulama sebagai penjaga api hikmah.

Di dunia estetika, seniman mengolah rasa menjadi rupa.

Di lapangan perjuangan, ada pahlawan dengan pedang panjangnya, sementara di lapangan kertas, terdapat para panglima yang mengayunkan "pedang kecil" bernama pena.

Bahaya muncul ketika anak muda, karena dorongan darah yang panas atau sekadar gengsi sosial, memaksakan diri menjadi "pegawai yang makan gaji" atau wartawan, padahal fitrahnya mungkin lebih cocok menjadi petani yang mengolah tanah. 

Bahkan, sering kali terjadi ketegangan batin ketika seorang ayah memaksakan kehendaknya kepada sang anak tanpa menimbang kesanggupan unik si anak. Memilih peran hanya karena meniru orang lain adalah bentuk pengkhianatan terhadap akal merdeka.


Kekayaan Batin, Satu-satunya Milik yang Takkan Pergi

Kita sering terjebak mengejar "barang pinjaman" yang dianggap sebagai puncak kesuksesan. Pangkat, mahkota, kehormatan jabatan, hingga tumpukan harta adalah entitas fana yang datang dan pergi silih berganti.

Tidak ada tangan manusia yang cukup kuat untuk "menangkap kaki" keberuntungan materi agar menetap selamanya.

Namun, ada sebuah hukum pertumbuhan yang indah dalam akal manusia, ibarat jambu cangkokan. Sebagaimana ranting mewarisi dahan, anak memang mewarisi asal-usul ayahnya, tetapi melalui kekuatan akal, buah yang dihasilkan dari "jambu cangkokan" bisa terasa lebih sedap dari pohon asalnya. 

Ini adalah bukti bahwa melalui investasi pada kekayaan batin, kita bisa melampaui garis keturunan dan keadaan lahiriah.

Kekayaan batin inilah satu-satunya milik yang tidak akan pernah meninggalkan kita, yang meliputi:

Ilmu dan Hikmah: Cahaya pengetahuan dan kebijaksanaan dalam memandang setiap peristiwa.

Budi: Keluhuran karakter yang menjadi identitas sejati.

Bahasa: Kedalaman rasa yang terekspresikan melalui tutur yang jujur.

Insaf dan Sadar: Kejujuran nurani untuk selalu kembali pada kebenaran.


Memahami Kegagalan Sebagai Bagian dari Kemanusiaan

Menjadi manusia yang berakal tidak berarti kita menjadi malaikat yang suci dari noda. Karena kita masih memiliki unsur nafsu, maka keteledoran, kesilapan, dan kegagalan adalah bumbu yang niscaya dalam sandiwara kehidupan.

Kita tidak boleh memaksa diri melampaui batas kesanggupan manusiawi atau memamerkan kemampuan yang sebenarnya tidak kita miliki.

Keunikan manusia terletak pada daya lentingnya. Dalam perjuangan hidup, kita mungkin jatuh, namun akal memberikan kekuatan untuk tegak kembali. 

Kejatuhan pertama bukanlah akhir, melainkan pelajaran untuk menempuh kesulitan kedua. Perjuangan untuk bangkit—jatuh, tegak, lalu jatuh dan tegak lagi—adalah drama heroisme yang hanya dimiliki oleh manusia, bukan oleh binatang.



Menjadi Golongan Ketiga yang Merdeka

Pada akhirnya, kita dipanggil untuk menjadi "golongan ketiga"—sebuah kelompok yang tidak tergesa-gesa oleh arus zaman atau silau oleh kemewahan orang lain.

Mereka adalah individu yang mempelajari setiap pekerjaan sebelum menempuhnya dan menimbang setiap langkah dengan kemerdekaan akal.

Golongan ini adalah mereka yang berani berkata "tidak" pada pakaian yang indah namun sesak, dan memilih memakai "pakaian" yang sesuai dengan ukuran tubuhnya sendiri. 

Menjadi merdeka berarti memiliki keberanian untuk jujur pada diri sendiri dan tidak lagi meminjam logat atau gaya hidup orang lain hanya demi bermegah-megah.

Sudahkah pilihan-pilihan hidup kita hari ini lahir dari pertimbangan akal yang merdeka, atau sekadar pinjaman dari keinginan orang lain?

Peran Pesepak Bola Muslim dalam Debat Identitas Eropa pada Piala Dunia 2026 Apak...

Peran Pesepak Bola Muslim dalam Debat Identitas Eropa pada Piala Dunia 2026



Apakah seseorang harus meninggalkan agamanya agar dapat diterima sebagai warga negara yang "sepenuhnya Eropa"?

Ataukah seseorang justru dapat menjadi Muslim yang taat sekaligus patriot bagi negaranya?

Pertanyaan inilah yang kembali mengemuka sepanjang Piala Dunia 2026.

Turnamen ini ternyata bukan sekadar kompetisi sepak bola. Ia telah berubah menjadi panggung besar tempat identitas, agama, nasionalisme, dan politik saling berhadapan. Di lapangan hijau, para pemain berlomba mencetak gol. Namun di luar lapangan, masyarakat Eropa sedang memperdebatkan sesuatu yang jauh lebih mendasar: apakah Islam masih akan terus diposisikan sebagai identitas "asing", atau sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari wajah Eropa modern?

Menariknya, jawaban itu justru diberikan bukan oleh para politisi atau akademisi, melainkan oleh para pesepak bola Muslim.

Ketika Sujud Menjadi Pernyataan Identitas

Sujud syukur setelah mencetak gol bukanlah hal baru dalam sepak bola dunia.

Namun pada Piala Dunia 2026, sujud tidak lagi dipandang sekadar ekspresi religius.

Ia berubah menjadi simbol identitas.

Ketika Lamine Yamal melakukan sujud syukur setelah mencetak gol perdananya di Piala Dunia dan secara terbuka menegaskan identitasnya sebagai Muslim, sebagian besar publik melihatnya sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan.

Namun sebagian kelompok justru melihatnya sebagai persoalan politik.

Dalam sebuah laga di Barcelona melawan Mesir, sebagian pendukung bahkan meneriakkan yel-yel rasis,

«"Siapa yang tidak melompat adalah Muslim."»

Mengapa sebuah sujud dapat memicu kontroversi?

Bukankah sujud hanyalah bentuk ibadah?

Pertanyaan itu memperlihatkan bahwa persoalannya bukan lagi tentang olahraga.

Yang sedang diperdebatkan adalah siapa yang dianggap layak mewakili identitas Eropa.

Ketika Simbol Agama Dianggap Ancaman

Fenomena serupa dialami Antonio Rüdiger.

Saat menyambut Ramadan, ia mengunggah foto dengan telunjuk mengarah ke atas—gestur tauhid yang lazim digunakan umat Islam.

Namun gestur tersebut dituduh sebagai simbol dukungan terhadap kelompok ekstremis oleh mantan editor Bild, Julian Reichelt.

Padahal jutaan Muslim di seluruh dunia menggunakan simbol yang sama dalam konteks ibadah sehari-hari.

Mengapa simbol keagamaan rutin harus dipersepsikan sebagai ancaman keamanan?

Kasus Rüdiger menunjukkan bagaimana ekspresi keagamaan dapat mengalami "sekuritisasi", yakni proses ketika praktik agama yang normal diperlakukan seolah-olah merupakan ancaman politik atau keamanan.

Loyalitas yang Selalu Dipertanyakan

Kisah Yasin Ayari memperlihatkan bentuk lain dari persoalan tersebut.

Setelah mencetak gol ke gawang Tunisia, ia melakukan sujud syukur, kemudian mengangkat kedua tangannya sebagai bentuk penghormatan kepada tanah kelahiran orang tuanya.

Reaksi yang muncul justru mengejutkan.

Pemimpin partai sayap kanan Swedia, Jimmie Åkesson, mempertanyakan identitas kebangsaan Ayari.

Seolah-olah menghormati akar keluarga berarti tidak setia kepada negara tempat ia lahir dan dibesarkan.

Benarkah loyalitas hanya boleh memiliki satu warna?

Bukankah jutaan warga Eropa memiliki latar belakang budaya yang beragam tanpa kehilangan kewarganegaraannya?

Meruntuhkan Dikotomi "Eropa versus Islam"

Kasus-kasus tersebut menunjukkan adanya pola yang sama.

Setiap ekspresi keislaman sebagian atlet segera dipindahkan dari ruang agama menuju ruang politik.

Dalam ilmu sosial, proses ini dikenal sebagai othering—upaya menempatkan kelompok tertentu sebagai "orang lain" meskipun secara hukum, sosial, dan budaya mereka telah menjadi bagian utuh dari masyarakat.

Ironisnya, narasi bahwa Eropa identik dengan Kekristenan sementara Islam dianggap agama asing juga mengandung kontradiksi historis.

Baik Islam maupun Kristen sama-sama lahir di kawasan Timur Tengah.

Artinya, pemisahan tegas antara "Eropa-Kristen" dan "Islam-Asing" bukanlah fakta sejarah, melainkan konstruksi politik yang terus dipelihara oleh sebagian kelompok eksklusivis.

Ketika Lapangan Hijau Membuktikan Integrasi

Sepak bola memiliki karakter yang unik.

Di lapangan, seseorang tidak dipilih karena agama, warna kulit, ataupun asal-usul keluarganya.

Ia dipilih karena kualitasnya.

Karena itu, sepak bola menjadi salah satu ruang meritokrasi paling kuat di dunia modern.

Di sinilah para pemain Muslim menunjukkan bahwa iman mereka sama sekali tidak mengurangi loyalitas kepada negara.

Sebaliknya, keyakinan justru menjadi sumber disiplin, integritas, dan motivasi untuk memberikan yang terbaik bagi bangsa yang mereka bela.

Kontrak Sosial Baru

Hal tersebut tergambar jelas dalam pernyataan Azouz Ayari, ayah Yasin Ayari.

Menurutnya, anak-anaknya adalah bagian dari Swedia.

Mereka tumbuh di sana.

Bersekolah di sana.

Memiliki teman di sana.

Negara itulah yang memberikan pendidikan, perlindungan, dan kesempatan.

Karena itu, membela tim nasional Swedia merupakan bentuk rasa terima kasih kepada negara yang telah memberi ruang bagi keluarganya.

Inilah wajah baru integrasi.

Integrasi bukan lagi berarti menghapus identitas agama.

Integrasi berarti memberikan kontribusi maksimal tanpa harus kehilangan keyakinan.

Islam Tidak Lagi Hanya Warisan Diaspora

Fenomena menarik lainnya adalah meningkatnya jumlah pemain Eropa yang memeluk Islam.

Mereka bukan berasal dari keluarga Muslim.

Mereka memilih Islam melalui perjalanan hidupnya sendiri.

Di antara para pionir terdapat Clarence Seedorf, Frédéric Kanouté, dan Paul Pogba.

Gelombang baru kemudian muncul melalui nama-nama seperti Djed Spence, Jamiro Monteiro, Logan Costa, dan Steven Moreira.

Kisah Steven Moreira sangat menarik.

Ia mengaku mulai tertarik kepada Islam setelah melihat keteladanan rekan-rekannya.

Ia menyaksikan bagaimana salat lima waktu, puasa Ramadan, dan kedisiplinan ibadah membentuk karakter yang lebih baik.

Baginya, Islam bukan sekadar doktrin.

Islam adalah pengalaman hidup.

Harmoni yang Terlihat di Cape Verde

Tim nasional Cape Verde menjadi contoh menarik bagaimana keberagaman agama justru memperkuat persatuan.

Negara ini mayoritas Katolik.

Namun beberapa pemainnya beragama Islam.

Tidak ada konflik.

Selama pemusatan latihan disediakan makanan halal.

Seluruh pemain saling menghormati praktik ibadah masing-masing.

Bahkan sujud syukur bersama menjadi simbol rasa syukur kolektif, bukan pemisah identitas.

Bukankah inilah bentuk integrasi yang sesungguhnya?

Piala Dunia sebagai Cermin Eropa Masa Depan

Piala Dunia 2026 menunjukkan bahwa perdebatan mengenai identitas Eropa belum selesai.

Namun lapangan hijau telah memberikan pelajaran penting.

Islam dan kewarganegaraan bukanlah dua identitas yang saling meniadakan.

Seorang pemain dapat menjadi Muslim yang taat sekaligus patriot bagi negaranya.

Sujud syukur tidak mengurangi nasionalisme.

Puasa Ramadan tidak mengurangi profesionalisme.

Kalimat tauhid tidak menghapus kecintaan kepada tanah air.

Justru nilai-nilai keimanan itulah yang mendorong banyak atlet untuk bermain dengan disiplin, integritas, dan rasa tanggung jawab yang lebih besar.

Karena itu, ukuran keberhasilan integrasi pada masa depan bukan lagi sejauh mana seseorang meninggalkan identitas agamanya.

Melainkan sejauh mana negara mampu memberikan ruang bagi seluruh warganya untuk menjadi diri mereka sendiri sekaligus memberikan kontribusi terbaik bagi bangsa.

Piala Dunia 2026 telah memperlihatkan kenyataan tersebut.

Masa depan Eropa tampaknya tidak akan dibangun oleh masyarakat yang seragam.

Ia akan dibangun oleh warga negara yang mampu berdiri teguh pada iman mereka, sekaligus bangga mengenakan lambang negaranya di dada.

Dan mungkin, di situlah letak ironi terbesar yang gagal dipahami oleh sebagian kelompok eksklusivis.

Semakin mereka berusaha memisahkan Islam dari Eropa, semakin banyak panggung dunia yang menunjukkan bahwa Islam telah menjadi bagian dari jalinan sosial, budaya, dan identitas Eropa itu sendiri.

Tahapan Sebelum Menghukum Anak Mengapa orang tua tidak seharusnya langsung menghukum anak ketika ia melakukan kesalahan? Mengapa...

Tahapan Sebelum Menghukum Anak


Mengapa orang tua tidak seharusnya langsung menghukum anak ketika ia melakukan kesalahan?

Mengapa hukuman sering kali tidak mengubah perilaku anak, bahkan justru membuatnya semakin membangkang?

Al-Qur'an memperlihatkan bahwa Allah SWT tidak serta-merta menghukum manusia ketika mereka berbuat salah. Sebelum hukuman dijatuhkan, Allah terlebih dahulu memberikan penjelasan, mengutus para rasul, membuka pintu taubat, serta memberikan tenggang waktu untuk berubah.

Prinsip ini dapat menjadi inspirasi dalam pola asuh. Hukuman bukanlah langkah pertama dalam mendidik anak, melainkan pilihan terakhir setelah berbagai upaya pendidikan dilakukan.

1. Jelaskan Kebenaran Berulang-Ulang dengan Cara yang Mudah Dipahami

Tahap pertama bukanlah hukuman, tetapi pendidikan.

Sebelum menuntut anak menaati aturan, orang tua perlu memastikan bahwa anak memahami mengapa suatu perilaku itu benar atau salah.

Setiap usia membutuhkan cara penjelasan yang berbeda. Anak belajar melalui cerita, perumpamaan, teladan, dan pengalaman sehari-hari. Karena itu, jangan berasumsi anak sudah mengerti hanya karena aturan pernah disampaikan sekali.

Anak yang memahami alasan di balik sebuah aturan akan lebih mudah menaatinya dibandingkan anak yang hanya takut pada hukuman.

2. Dampingi Anak sebagai Pembimbing, Bukan Hakim

Sebagaimana para nabi diutus sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, orang tua pun hadir sebagai pendidik, bukan sekadar penghukum.

Berikan apresiasi ketika anak berbuat baik. Bangun hubungan yang hangat sehingga nasihat lebih mudah diterima.

Ketika anak melakukan kesalahan, tegurlah dengan kasih sayang, bukan dengan kemarahan yang meluap. Tujuan teguran adalah mengarahkan, bukan merendahkan.

Anak lebih mudah berubah ketika ia merasa dibimbing daripada dihakimi.

3. Cari Tahu Penyebab Kesalahan Anak

Tidak semua pelanggaran lahir dari pembangkangan.

Ada anak yang berbuat salah karena belum memahami aturan. Ada yang sedang lelah, lapar, kecewa, cemburu, atau sedang mencari perhatian.

Sebelum menjatuhkan hukuman, orang tua perlu bertanya:

"Mengapa kamu melakukan itu?"

Dengan memahami akar masalah, orang tua dapat memberikan solusi yang tepat. Hukuman yang diberikan tanpa memahami penyebab sering kali hanya menyelesaikan masalah di permukaan.

4. Berikan Kesempatan untuk Memperbaiki Kesalahan

Allah tidak menyegerakan hukuman kepada manusia, tetapi memberi waktu agar mereka bertobat.

Demikian pula dalam mendidik anak.

Setelah diberi penjelasan dan peringatan, berilah kesempatan kepada anak untuk memperbaiki kesalahannya.

Jika ia mengotori lantai, ajarkan ia membersihkannya.

Jika ia menyakiti temannya, bimbing ia meminta maaf.

Jika ia melanggar kesepakatan, beri kesempatan untuk menepati kembali janjinya.

Kesempatan memperbaiki diri mengajarkan tanggung jawab jauh lebih baik daripada hukuman yang tergesa-gesa.

5. Berikan Konsekuensi yang Adil Ketika Kesalahan Menjadi Kebiasaan

Hukuman baru menjadi pilihan ketika pelanggaran dilakukan berulang-ulang dengan sadar, setelah penjelasan, bimbingan, dan kesempatan memperbaiki diri telah diberikan.

Hukuman dalam pendidikan seharusnya berupa konsekuensi yang logis, adil, dan mendidik, bukan pelampiasan emosi.

Tujuannya bukan membuat anak menderita, tetapi membantu anak memahami bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi.

Karena itu, orang tua hendaknya menghukum dalam keadaan tenang, bukan ketika sedang dikuasai amarah.

Pola Asuh yang Mendidik

Pola yang diajarkan Al-Qur'an memperlihatkan bahwa kasih sayang selalu mendahului hukuman.

Demikian pula dalam keluarga.

Urutannya adalah:

1. Menjelaskan aturan dengan penuh kesabaran.
2. Membimbing dan memberi teladan.
3. Memahami penyebab kesalahan anak.
4. Memberikan kesempatan untuk memperbaiki diri.
5. Menjatuhkan konsekuensi yang adil bila pelanggaran terus diulangi.

Hukuman yang datang terlalu cepat sering kali hanya melahirkan rasa takut.

Sebaliknya, hukuman yang didahului pendidikan, kasih sayang, dan kesempatan untuk berubah akan melahirkan kesadaran, tanggung jawab, serta karakter yang kuat.

Seorang anak yang dibesarkan dengan pola seperti ini bukan hanya belajar menaati aturan ketika diawasi, tetapi juga belajar mengendalikan dirinya ketika tidak ada seorang pun yang melihatnya.

Lebih Menyukai Menjadi Storyteller Abu Idris al-Khawlani—yang bernama lengkap A’idzu billah bin Abdullah—adalah seorang ulama ta...


Lebih Menyukai Menjadi Storyteller

Abu Idris al-Khawlani—yang bernama lengkap A’idzu billah bin Abdullah—adalah seorang ulama tabi’in terkemuka di wilayah Syam. Ia dikenal sebagai ahli fikih, qadhi (hakim), sekaligus perawi hadis yang terpercaya.

Ia lahir pada tahun Fathu Makkah, ia berguru kepada para sahabat besar seperti Abu Dzar al-Ghifari, Hudzaifah bin al-Yaman, dan Abu Darda. Riwayatnya pun tercatat dalam kitab-kitab hadis utama seperti Shahih Bukhari dan Muslim.

Salah satu sisi menarik dari kepribadiannya adalah kecintaannya pada penyampaian kisah—sebuah metode dakwah yang hidup dan menggerakkan hati.

Dikisahkan oleh ayahnya Khalid bin Yazid bin Abdul Malik, “Kami pernah duduk bersama Abu Idris al-Khawlani, lalu ia mulai bercerita kepada kami.”

Pada suatu majelis, ia mengisahkan berbagai peperangan yang terjadi pada masa Nabi Muhammad. Ceritanya mengalir rinci dan penuh penghayatan. Hingga salah seorang yang hadir bertanya, “Apakah engkau ikut dalam peperangan itu?”

Abu Idris menjawab singkat, “Tidak.”

Namun orang itu terkejut dan berkata, “Aku ikut langsung dalam peperangan itu bersama Rasulullah, tetapi engkau lebih hafal dan lebih rinci dalam menceritakannya daripada aku sendiri.”

Kisah ini menunjukkan bahwa kekuatan Abu Idris bukan pada pengalaman langsung, tetapi pada kedalaman ilmu dan kemampuannya menghidupkan sejarah melalui tutur kata.

Dalam riwayat lain, Abdul Malik bin Marwan pernah mencopot Abu Idris dari perannya sebagai penyampai kisah dan mengangkatnya menjadi hakim. Namun keputusan itu justru membuatnya gelisah. Ia berkata, “Apakah kalian tega menjauhkan diriku dari sesuatu yang aku cintai, lalu menempatkanku pada sesuatu yang tidak aku sukai?”

Pernyataan ini menyingkap sisi batin seorang ulama: bahwa baginya, menyampaikan ilmu dengan cara bercerita bukan sekadar aktivitas, tetapi panggilan jiwa.

Menurut Al-Walid bin Muslim, Abu Idris adalah sosok pencerita masa lalu yang memiliki kedudukan tinggi dalam ilmu dan amal. Ia tidak sekadar meriwayatkan, tetapi menghidupkan kembali makna sejarah dalam hati para pendengarnya.

Dari sini tampak bahwa storytelling bukan sekadar seni berbicara, tetapi metode pendidikan—yang mampu mengikat ilmu, emosi, dan keteladanan dalam satu rangkaian yang utuh.

Sumber:
Adz-Dzahabi, Siyar A'lam An-Nubala, Pustaka Azzam, 2008

Agar Shalatnya Seperti Shalat Para Nabi dan Sahabat  Tsabit berkata, “Para nabi dan rasul, apabila ditimpa suatu masalah, mereka...

Agar Shalatnya Seperti Shalat Para Nabi dan Sahabat 


Tsabit berkata, “Para nabi dan rasul, apabila ditimpa suatu masalah, mereka segera mendirikan shalat.”

Pernyataan ini bukan sekadar kisah, tetapi pola yang berulang dalam sejarah kenabian: shalat menjadi tempat kembali, sumber ketenangan, sekaligus pintu pertolongan.

Di masa Nabi Musa, ketika kekejaman Firaun mencapai puncaknya, Allah tidak langsung memerintahkan perlawanan terbuka. Sebaliknya, Allah memerintahkan Bani Israil agar menjadikan rumah-rumah mereka sebagai tempat shalat. Dari ruang-ruang sunyi itulah kekuatan ruhani dibangun—hingga akhirnya datang pertolongan Allah yang menenggelamkan Firaun.

Namun, pertanyaan muncul pada masa kini:
mengapa shalat yang kita kerjakan tidak selalu menghadirkan jalan keluar seperti itu?

Ibnu Mas‘ud pernah memberikan kunci jawabannya. Ia berkata,
“Amal kalian lebih banyak daripada para sahabat, tetapi mereka lebih baik daripada kalian. Sebab mereka lebih zuhud terhadap dunia dan lebih mencintai akhirat.”

Bahkan pada generasi setelahnya—para tabi’in—terdapat orang-orang yang ibadahnya lebih banyak: shalat malamnya lebih panjang, puasanya lebih sering. Namun tetap saja, derajat mereka tidak melampaui para sahabat. Mengapa? Karena para sahabat memiliki sesuatu yang lebih dalam: kezuhudan, keyakinan yang kokoh, dan tawakal yang total kepada Allah.

Di sinilah letak perbedaannya.

Shalatnya mungkin sama.
Gerakannya sama.
Bacaannya sama.

Namun hati yang berdiri di dalamnya berbeda.

Maka, persoalannya bukan pada shalat itu sendiri, tetapi pada keadaan jiwa yang menghidupkannya. Ketika shalat kehilangan ruhnya, ia menjadi rutinitas. Tetapi ketika hati hadir dengan iman, yakin, dan tawakal, shalat kembali menjadi jalan—sebagaimana jalan yang ditempuh para nabi.


Sumber:
Ali Muhammad Ash-Shallabi, Biografi Hasan bin Ali, Ummul Qura, 2017

Aduan Istri-Istri Sahabat yang “Dijauhi” di Malam Hari Beberapa istri sahabat pernah mengadukan kondisi rumah tangga mereka kepa...

Aduan Istri-Istri Sahabat yang “Dijauhi” di Malam Hari


Beberapa istri sahabat pernah mengadukan kondisi rumah tangga mereka kepada Rasulullah ﷺ. Aduan itu bukan tentang kemiskinan atau kekerasan, melainkan karena mereka tidak pernah “didatangi” oleh suami di malam hari.

Salah satu kisah datang dari istri Utsman bin Mazh’un. Ia mendatangi istri-istri Nabi ﷺ dalam keadaan murung dan berpenampilan tidak terurus. Mereka bertanya, “Ada apa denganmu? Bukankah suamimu termasuk orang yang berada?”

Ia menjawab, “Jika malam, ia selalu shalat. Jika siang, ia berpuasa.”
Maksudnya, Utsman bin Mazh’un tenggelam dalam ibadah hingga mengabaikan kebutuhan istrinya.

Mendengar hal itu, Rasulullah ﷺ mendatangi dan menasihati Utsman bin Mazh’un, “Apakah engkau tidak meneladaniku?”

Setelah itu, istri-istri Nabi ﷺ menemui istri Utsman dengan membawa wewangian, seakan memberi isyarat bahwa malam itu suaminya akan kembali memperhatikannya.

Kisah serupa terjadi pada Abu Darda yang dipersaudarakan dengan Salman Al-Farisi. Suatu hari, Salman mengunjungi rumah Abu Darda dan melihat istrinya berpakaian lusuh. Ia bertanya, “Ada apa denganmu?”

Istri Abu Darda menjawab, “Saudaramu itu tidak lagi membutuhkan dunia. Malamnya beribadah, siangnya berpuasa.”

Salman pun menginap di rumah itu. Ketika Abu Darda hendak shalat malam di awal waktu, Salman menahannya dan menasihatinya,
“Sesungguhnya tubuhmu memiliki hak atasmu, dan keluargamu juga memiliki hak atasmu. Maka tunaikanlah setiap hak tersebut. Datangilah Istrimu."

Ia pun menyarankan agar Abu Darda beristirahat terlebih dahulu dan bangun menjelang Subuh. Peristiwa ini kemudian disampaikan kepada Rasulullah ﷺ, dan beliau membenarkan nasihat Salman.

Kisah lain datang dari Abdullah bin Amr bin Ash. Ia baru menikah, namun istrinya tampak murung. Setelah ditelusuri, ternyata ia belum pernah mendatangi istrinya karena terlalu sibuk dengan shalat malam dan puasa di siang hari.

Hal ini sampai kepada Rasulullah ﷺ. Beliau pun memanggil Abdullah bin Amr dan menasihatinya,
“Aku berpuasa dan berbuka, aku shalat dan tidur, dan aku juga mendatangi istriku. Barang siapa tidak menyukai sunnahku, maka ia bukan dari golonganku.”

Dari rangkaian kisah ini terlihat jelas bahwa kehidupan rumah tangga, termasuk hubungan suami istri, adalah bagian dari sunnah yang diajarkan Rasulullah ﷺ. Ibadah tidak dimaksudkan untuk mengabaikan hak-hak pasangan, tetapi untuk menyeimbangkan antara hak Allah dan hak manusia.

Dengan demikian, kesempurnaan ibadah bukan terletak pada banyaknya amal semata, tetapi pada keseimbangan dalam menjalani seluruh aspek kehidupan sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ.

Sumber:
Adz-Dzahabi, Siyar A'lam An-Nubala, Pustaka Azzam, 2011

Spirit Pendidikan Islam dalam Skala Individu Islam meletakkan fondasi pendidikan individu dimulai dari pengokohan aqidah, kemudi...

Spirit Pendidikan Islam dalam Skala Individu

Islam meletakkan fondasi pendidikan individu dimulai dari pengokohan aqidah, kemudian diikuti oleh pembentukan sistem hidup dan amal. Aqidah yang kuat melahirkan kesadaran, dorongan batin, serta keyakinan yang menjadi sumber gerak seluruh perilaku manusia.

Dari fondasi ini, diharapkan lahir pribadi-pribadi yang memiliki motivasi kuat dan semangat yang menyala. Hatinya hidup, perasaannya peka, akalnya tajam dan luas, serta jiwanya ambisius dalam arti positif—yakni selalu terdorong untuk mencapai teladan dan tujuan-tujuan mulia yang dihadapinya.

Melalui proses penempaan diri secara Islami, seseorang akan tumbuh menjadi pribadi yang kokoh dan tegas dalam menjalani kehidupan. Ia berani bersikap, bertanggung jawab atas setiap tindakan, serta mampu membedakan antara kebaikan dan kemungkaran. Hatinya menjadi kompas yang membimbingnya dalam menunaikan kewajiban, baik terhadap dirinya sendiri maupun terhadap masyarakat.

Selain itu, ia memiliki kecerdasan dan pengalaman dalam menghadapi kompleksitas kehidupan. Ia gemar berpikir, mampu memahami berbagai relasi yang ada, serta terus mencari kebenaran. Ia juga memahami berbagai jalan untuk meraih keberhasilan dunia dan akhirat, serta memiliki dahaga yang besar terhadap ilmu—karena Al-Qur’an mencela kebodohan dan orang-orang yang enggan belajar.

Dalam aspek spiritual, ia bertawakal kepada Allah tanpa meninggalkan usaha. Dalam aspek sosial, ia kuat namun tetap dermawan, tidak tunduk pada kezaliman, serta tidak meninggalkan kewajiban meskipun berada dalam tekanan tanggung jawab yang besar. Ia juga memahami konsep jihad secara utuh: berjihad melawan hawa nafsu, menuntut ilmu, mencari nafkah, serta membela agama dan tanah air—karena setiap bentuk jihad adalah bagian dari ibadah.

Lebih jauh, penempaan diri secara Islami akan melahirkan akhlak yang mulia. Ia menjadi pribadi yang sabar, berani, adil, berilmu, dan santun. Ketika berkuasa, ia mengasihi; ketika melihat kebutuhan, ia membantu. Ia memuliakan orang tua, menjaga silaturahmi, menepati janji, bersikap toleran, rendah hati, serta berani mencegah kemungkaran.

Sekilas, gambaran ini mungkin tampak ideal dan sulit diwujudkan. Namun sejatinya, semua itu menjadi mungkin ketika Islam dijadikan dasar utama dalam pendidikan diri. Inilah hakikat tugas tarbiyah Islamiyah: membentuk individu muslim yang utuh—kuat dalam aqidah, lurus dalam amal, dan mulia dalam akhlak.

Sumber:
Ali Muhammad Jarisyah, Syarah 5 Syiar Tarbiyah, Era Intermedia, 2021

Definisi Nikmat yang Salah? Setiap kebaikan, kelezatan, dan kebahagiaan, bahkan segala sesuatu yang dicari, diinginkan, dan diut...

Definisi Nikmat yang Salah?

Setiap kebaikan, kelezatan, dan kebahagiaan, bahkan segala sesuatu yang dicari, diinginkan, dan diutamakan manusia, sering disebut sebagai nikmat. Namun, bagaimana pandangan Imam Al-Ghazali tentang hal ini?

Menurut Imam Al-Ghazali, hakikat kenikmatan sejati adalah kebahagiaan akhirat. Karena itu, menamai selainnya sebagai nikmat hakiki merupakan kekeliruan, atau paling jauh hanya dapat dipahami sebagai kiasan.

Kebahagiaan duniawi yang tidak membantu seseorang menuju kebahagiaan akhirat sejatinya bukanlah nikmat yang sesungguhnya. Sebab, nikmat yang hakiki adalah segala sesuatu yang menjadi sebab seseorang sampai kepada kebahagiaan akhirat atau menolongnya menuju ke sana, baik secara langsung maupun melalui beberapa perantara.

Dengan demikian, ukuran sebuah nikmat bukan terletak pada seberapa besar kesenangan yang dirasakan di dunia, melainkan pada sejauh mana hal itu mengantarkan manusia kepada keselamatan dan kebahagiaan abadi di akhirat.

Sumber;
Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin, Republika Penerbit, 2016

Wirid Pembebas Masalah  Abu Al-Hasan bin Abu Al-Laits membaca beberapa kitab, akhirnya ditemukan keterangan, "Jika engkau d...

Wirid Pembebas Masalah 

Abu Al-Hasan bin Abu Al-Laits membaca beberapa kitab, akhirnya ditemukan keterangan,

"Jika engkau dilanda permasalahan yang membuatmu takut, maka bangunlah di waktu malam, bersucilah. Lalu bacalah surat Wasysyamsyi wa dhuhaha dan Wallaili idza yaghsya sebanyak tujuh kali hingga akhir surat."

Setelah itu berdoalah,

"Ya Allah, berilah solusi dan jalan keluar untuk masalahku ini."

Saat Abu Hasan bin Abu Laits di penjara, dia membaca wirid ini. Tiba-tiba ada orang yang tidak dikenal yang membebaskannya.

Dalam kisah lain, Unais terkena penyakit yang tidak ada obatnya. Lalu dia mendapatkan informasi tentang wirid ini. Lalu dia rutinkan membacanya. Tiba-tiba, ada orang yang datang untuk mengobatinya dan sembuh.

Syeikh Nawawi al-Bantani dalam kitab Maraqi Al-Ubudiyah juga membahas wirid ini yang manfaatnya akan dianugerahkan kecerdasan dan dilindungi dari keburukan.

Sumber:
At-Tanukhi, Setelah Kesulitan ada kemudahan, Pustaka Al-Kautsar, 2013

Pertarungan Doa dan Musibah  Saat bersanding dengan musibah, doa memiliki tiga kondisi: 1. Doa lebih kuat daripada musibah Maka ...

Pertarungan Doa dan Musibah 

Saat bersanding dengan musibah, doa memiliki tiga kondisi:

1. Doa lebih kuat daripada musibah
Maka dari itu, doa mampu mencegah terjadinya musibah 

2. Doa lebih lemah dari musibah 
Akibatnya, ia terkalahkan sehingga musibah pun menimpa orang bersangkutan. Tetapi, doa bisa meringankan musibah tersebut meski hanya sedikit.

3. Satu sama lain saling menyerang dan saling menghilangkan

Rasulullah saw bersabda,

"Sikap waspada tidak mampu menolak takdir. Doa itu memberikan manfaat kepada hal-hal yang telah terjadi dan belum terjadi. Pada saat musibah itu turun, doa segera menghadapinya. Keduanya saling bertarung hingga tiba hari Kiamat."

Sumber:
Ibnu Qayyim, Ad-Daa' Wa Ad-Dawaa', Pustaka Imam Syafi‘i, 2026

Kiai Wahid Hasyim di Kursus Perang Asia Timur Raya Kiai Wahid Hasyim berkisah saat  para ulama diharuskan ikut pelatihan perang ...

Kiai Wahid Hasyim di Kursus Perang Asia Timur Raya

Kiai Wahid Hasyim berkisah saat  para ulama diharuskan ikut pelatihan perang Asia Timur Raya yang dilaksanakan oleh penjajah Jepang. Saat itu, Jepang di puncak kemegahan dan kesombongan.

Salah satu sesi pelatihan adalah ceramah. Saat ceramah, opsir-opsir Jepang berdiri melingkari peserta dengan pedang samurainya. Saat itu, ayahnya Buya Hamka yang akan memberikan ceramah. 

Kiai Wahid Hasyim menanti apa yang akan dikatakannya dalam kondisi hidup dan iman dalam tekanan. Lalu, ayahnya Buya Hamka berdiri, berhenti sejenak, lalu beliau mengucapkan ayat,

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: 


لَا يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فِى الْبِلَادِۗ

Jangan sekali-kali kamu teperdaya oleh bolak-balik perjalanan orang-orang yang kufur di seluruh negeri.
(Āli ‘Imrān [3]:196)

مَتَاعٌ قَلِيْلٌ  ۗ ثُمَّ مَأْوٰىهُمْ جَهَنَّمُ ۗوَبِئْسَ الْمِهَادُ

(Semua itu hanyalah) kesenangan sementara, kemudian tempat kembali mereka ialah (neraka) Jahanam. Itulah seburuk-buruk tempat tinggal.
(Āli ‘Imrān [3]:197)

Semua peserta yang mendengarkan ayat tersebut menangis. Semuanya terpaku mendengarkan ayat tersebut. Hatinya tergugah, apa pun keadaannya, kekuatan jiwa masih ada. Mereka tidak terpesona dan tidak silau oleh kekuasaan orang kafir yang sedang dapat angin.

Iman mereka meyakini bahwa semuanya tidak akan lama. Yang menang dan kekal hanya kebenaran jua.

Sumber:
Buya Hamka, Tafsir Al-Azhar, GIP,   2021

Jangan Condong kepada Selain Allah  Ali bin Sahl as-Ashbihani berkata bahwa jangan condong kepada selain Allah. Sebab, Allah aka...

Jangan Condong kepada Selain Allah 

Ali bin Sahl as-Ashbihani berkata bahwa jangan condong kepada selain Allah. Sebab, Allah akan menyusahkan dan membinasakannya.

Jika condong pada pekerjaan, maka Allah akan menjadikan pekerjaan itu tak berguna.

Jika condong kepada makrifat, niscaya Allah samarkan makrifat itu.

Jika condong pada bisikan hati, Allah akan perdaya secara perlahan dari dalam.

Jika condong pada pengetahuan, Allah akan buat bimbang bersamanya.

Jika condong kepada makhluk, Allah akan kuasakan urusannya kepada mereka.

Maka ridhailah Allah sebagai Rabb, maka akan diridhai sebagai seorang hamba Allah.

Sumber:
Ibnu Qayyim, Fawaidul Fawaid, Pustaka Imam Syafii, 2024

Tugas Kekhalifahan, Apakah Maknanya? Manusia seringkali tidak paham makna alasan manusia diberi tugas kekhalifahan. Padahal ini ...

Tugas Kekhalifahan, Apakah Maknanya?

Manusia seringkali tidak paham makna alasan manusia diberi tugas kekhalifahan. Padahal ini bertanda bahwa manusia memiliki potensi yang luar biasa.

Rasulullah saw pernah berkisah saat awal penciptaan bumi. Dimana setelah bumi diciptakan, bumi pun berguncang seperti ombak. Kemudian Allah menciptakan gunung yang ditempatkan di bumi. Maka bumi pun diam. Malaikat sangat takjub terhadap penciptaan gunung.

Lalu Malaikat bertanya, "Ya Allah, apakah ada yang lebih hebat dari gunung?"

Allah menjawab, "Ada, yaitu besi."

Lalu Malaikat bertanya, "Ya Allah, apakah ada yang lebih hebat dari besi?"

Allah menjawab, "Ada, yaitu api."

Lalu Malaikat bertanya, "Ya Allah, apakah ada yang lebih hebat dari api?"

Allah menjawab, "Ada, yaitu air."

Lalu Malaikat bertanya, "Ya Allah, apakah ada yang lebih hebat dari air?"

Allah menjawab, "Ada, yaitu angin."

Lalu Malaikat bertanya, "Ya Allah, apakah ada yang lebih hebat dari angin?"

Allah menjawab, "Ada, yaitu angin."

Lalu Malaikat bertanya, "Ya Allah, apakah ada yang lebih hebat dari angin?"

Allah menjawab, "Ada, yaitu manusia."

Lalu Malaikat bertanya, "Ya Allah, apakah ada yang lebih hebat dari manusia?"

Allah menjawab, "Ada, yaitu manusia yang bersedekah dengan tangan kanannya dengan Menyembunyikan dari tangan kirinya." (HR Ahmad)


Sumber:
Sayyid M. Nuh, Penyebab Gagalnya Dakwah, GIP, 1998

Malu Kepada Allah  Junaid Al-Baghdadi berkata bahwa malu kepada Allah itu muncul karena merasakan kenikmatan yang diberikan Alla...


Malu Kepada Allah 

Junaid Al-Baghdadi berkata bahwa malu kepada Allah itu muncul karena merasakan kenikmatan yang diberikan Allah, namun pada sisi lain, menyadari kelalaian dirinya kepada Allah.

Menurut Ibnu Qayyim kata al-Haya'u bermakna malu berasal dari kata al-Hayah yang berarti kehidupan. Artinya, sejauh mana hati itu hidup, sejauh itu pula malu kepada Allah itu hidup. 

Efek dari malu kepada Allah, menurut Ibnu Allan adalah mendorong seseorang untuk meninggalkan segala keburukan, baik perkataan maupun perbuatan, serta sikap yang dapat mencegah dirinya dari kelalaian dalam melaksanakan hak orang lain.

Sumber:
Mahmud Misri, Ensiklopedi Akhlak Rasulullah, Pustaka Al-Kautsar, 2019l

Perintah dan Larangan Allah  Melaksanakan Perintah Allah: Terasa berat, tapi lebih bermanfaat bagi hamba Tidak suka, tapi mendap...

Perintah dan Larangan Allah 

Melaksanakan Perintah Allah:
Terasa berat, tapi lebih bermanfaat bagi hamba
Tidak suka, tapi mendapatkan kebaikan,  kebahagiaan, kenikmatan dan kegembiraan 

Melanggar larangan:
Disukai dan disenangi hawa nafsu, akibatnya kesedihan, kepedihan, keburukan dan musibah 

Akal sehat mengajarkan:
Sabar menghadapi sedikit penderitaaan demi kenikmatan dan kebaikan yang lebih besar.
Menjauhi sedikit kenikmatan demi menghindari penderitaaan yang besar dan keburukan yang berkepanjangan.

Orang yang memiliki hikmah:
Larangan Allah seperti makanan lezat, namun penuh racun
Perintah Allah seperti obat yang pahit tapi menyehatkan 


Sumber:
Ibnu Qayyim, Fawaidul Fawaid, Pustaka Imam Syafii, 2026

Jalan Para Pencari Kebenaran  Orang yang mencari jalan menuju Allah dan negri akhirat- bahkan yang ingin menjadi pakar dalam sem...

Jalan Para Pencari Kebenaran 

Orang yang mencari jalan menuju Allah dan negri akhirat- bahkan yang ingin menjadi pakar dalam semua ilmu, ahli dalam profesi atau menjadi pemimpin- harus bersikap berani dan kestaria, serta harus mengendalikan angan-angannya.

Ia tidak boleh terperdaya oleh daya khayalnya dan mengabaikan segala hal yang bukan tujuan hidupnya. 

Ia harus menyukai segala hal yang membawa kepada tujuannya, mengetahui cara bagaimana sampai pada tujuannya, dan memahami jalur pintas untuk meraih tujuannya.

Pencari kebenaran harus selalu bersemangat dan berhati teguh, serta tidak menyimpang dari tujuannya hanya karena celaan dan kritikan orang lain.

Ia harus lebih banyak diam serta berfikir, tidak terlena atau menyimpang hanya karena merasakan manisnya pujian atau pedihnya kecaman, mempersiapkan yang dibutuhkan dan yang menjadi penunjang tujuannya, serta tidak cemas terhadap berbagai rintangan yang menghadang.

Slogan yang menjadi ciri khasnya adalah kesabaran, bahkan istirahatnya adalah kerja keras. Ia menyukai akhlak mulia, disiplin waktu, wapada dalam pergaulan, mawas diri terhadap harap dan cemas, bersikeras memberikan hasil istimewa atau manfaat bagi sesama, tidak menggunakan inderanya untuk hal yang sia-sia, tidak membiarkan bisikan hatinya tentang alam semesta bebas lepas tanpa kendali.

Sungguh, pangkal kekuatan semua itu adalah meninggalkan kebiasaan buruk dan mengabaikan rintangan yang menghadang. 

Sumber;
Ibnu Qayyim, Fawaidul Fawaid, Pustaka Imam Syafii, 2024

Pernahkah Berhenti Sejenak, Lalu Memandang Diri Sendiri? Memandang kedua mata yang masih mampu melihat. Memandang kedua telinga ...

Pernahkah Berhenti Sejenak, Lalu Memandang Diri Sendiri?

Memandang kedua mata yang masih mampu melihat. Memandang kedua telinga yang masih mampu mendengar. Menggerakkan jemari yang masih patuh mengikuti kehendak. Menarik napas yang keluar-masuk tanpa pernah kita perintahkan.

Bukankah semua itu adalah nikmat?

Sering kali kita sibuk menghitung apa yang belum kita miliki, sampai lupa menghitung apa yang sudah Allah limpahkan kepada kita. Padahal sejak ujung rambut hingga telapak kaki, hidup kita diselimuti oleh karunia-Nya.

Allah berfirman:

«"Dia telah menganugerahkan kepadamu segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu benar-benar sangat zalim lagi sangat kufur."

(QS. Ibrahim: 34)»

Ayat ini mengajak kita merenung bahwa tidak semua nikmat datang setelah kita meminta. Banyak karunia yang Allah berikan bahkan sebelum kita menyadari bahwa kita membutuhkannya.

Siapakah yang meminta agar jantungnya terus berdetak saat tidur?

Siapakah yang setiap pagi memohon agar matahari kembali terbit?

Siapakah yang setiap saat meminta udara agar tetap tersedia untuk dihirup?

Namun semuanya tetap diberikan.

Allah mengetahui kebutuhan kita bahkan sebelum kita menyadarinya. Ada nikmat yang datang tanpa diminta. Ada nikmat yang harus diupayakan dengan kerja keras dan doa. Semuanya adalah bentuk kasih sayang-Nya kepada manusia.

Karena itulah para ulama mengatakan bahwa menghitung nikmat Allah adalah pekerjaan yang mustahil diselesaikan.

Semakin dihitung, semakin bertambah.

Semakin direnungkan, semakin tampak bahwa hidup ini dipenuhi oleh pemberian-Nya.

Lalu mengapa kita masih merasa miskin?

Mengapa kita masih merasa kekurangan?

Barangkali karena mata kita terlalu lama memandang apa yang hilang, sehingga lupa melihat apa yang masih ada.

Padahal kesehatan badan masih menyertai. Udara masih dapat dihirup. Air masih dapat diminum. Makanan masih dapat disantap. Rumah masih menjadi tempat berteduh. Negeri masih memberikan rasa aman.

Bukankah itu semua kekayaan?

Allah kembali mengingatkan:

«"Tidakkah kamu memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah telah menundukkan apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi untukmu. Dia menyempurnakan nikmat-nikmat-Nya yang lahir dan batin untukmu."

(QS. Luqman: 20)»

Perhatikanlah langit.

Matahari yang terbit setiap pagi. Hujan yang turun menyuburkan bumi. Bulan dan bintang yang menerangi malam. Tumbuhan yang tumbuh menjadi makanan. Air yang mengalir menjadi sumber kehidupan.

Semuanya bekerja untuk manusia.

Seolah-olah alam semesta sedang melayani kehidupan yang Allah titipkan kepada kita.

Lalu Allah menyebut nikmat yang lahir dan nikmat yang batin.

Nikmat lahir adalah yang mudah terlihat: kesehatan, keluarga, harta, pakaian, makanan, tempat tinggal, dan keamanan.

Sedangkan nikmat batin adalah yang jauh lebih berharga: akal yang jernih, hati yang tenang, ilmu yang bermanfaat, serta hidayah untuk mengenal dan menyembah Allah.

Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa ketika beliau bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang nikmat lahir dan batin, beliau menjelaskan bahwa nikmat lahir adalah akhlak yang baik, sedangkan nikmat batin adalah hidayah Islam.

Maka renungkanlah.

Jika seseorang memiliki seluruh dunia tetapi tidak mengenal Tuhannya, apakah ia benar-benar kaya?

Sebaliknya, jika seseorang hidup sederhana namun memiliki iman yang menerangi hatinya, bukankah ia telah memiliki nikmat yang sangat besar?

Kemudian cobalah melihat lebih dekat kepada diri sendiri.

Kita memiliki dua mata.

Satu lidah.

Dua bibir.

Dua tangan.

Dua kaki.

Semuanya bekerja dengan begitu sempurna hingga kita menganggapnya biasa.

Padahal tidak sedikit orang yang harus berjuang untuk mendapatkan apa yang kita nikmati setiap hari.

Apakah berjalan dengan dua kaki adalah hal yang sepele?

Apakah berdiri tegak tanpa bantuan orang lain adalah sesuatu yang biasa?

Apakah tidur nyenyak sepanjang malam adalah nikmat yang kecil?

Cobalah ingat mereka yang tidak bisa tidur karena rasa sakit.

Ingat mereka yang hanya bisa memandang dunia dari balik ranjang rumah sakit.

Ingat mereka yang tidak lagi mampu menikmati makanan dan minuman sebagaimana kita menikmatinya.

Saat itulah kita akan menyadari bahwa nikmat yang paling besar sering kali adalah nikmat yang paling jarang kita syukuri.

Maukah kita menukar kedua mata dengan emas sebesar gunung?

Maukah kita menukar pendengaran dengan perak memenuhi lembah?

Maukah kita menjual kedua tangan demi sebuah istana?

Tidak.

Karena sesungguhnya nilai nikmat yang Allah berikan jauh melampaui harga dunia.

Namun anehnya, kita sering menangisi kehilangan sedikit harta, sementara masih memiliki tubuh yang sehat, keluarga yang menemani, dan kesempatan untuk beribadah.

Kita sering memikirkan apa yang tidak ada, hingga lupa mensyukuri apa yang telah ada.

Padahal Allah telah mengingatkan:

«"Dan pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?"

(QS. Adz-Dzariyat: 21)»

Lihatlah dirimu.

Lihatlah keluargamu.

Lihatlah rumahmu.

Lihatlah pekerjaanmu.

Lihatlah setiap kemudahan yang masih mengelilingimu.

Di sana terdapat tanda-tanda kebesaran Allah yang sering luput dari perhatian.

Jangan sampai kita termasuk orang-orang yang mengenal nikmat tetapi mengingkarinya.

Allah berfirman:

«"Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkarinya."

(QS. An-Nahl: 83)»

Mereka tahu dari mana nikmat itu berasal, tetapi tidak bersyukur kepada Pemberinya.

Mereka menikmati karunia, namun melupakan Sang Pemberi Karunia.

Karena itu, sebelum mengeluhkan apa yang belum kita miliki, berhentilah sejenak.

Hitunglah nikmat yang masih ada.

Hitunglah mata yang masih melihat.

Hitunglah telinga yang masih mendengar.

Hitunglah hati yang masih beriman.

Hitunglah kesempatan untuk sujud dan berdoa.

Niscaya kita akan menemukan bahwa kehidupan ini jauh lebih kaya daripada yang selama ini kita kira.

Maka pikirkanlah.

Renungkanlah.

Lalu bersyukurlah.

Sebab siapa yang mengenali nikmat Allah, ia akan menemukan ketenangan. Dan siapa yang mensyukuri nikmat-Nya, ia akan melihat bahwa rahmat Allah telah mengelilinginya sejak ujung rambut hingga bawah kedua telapak kakinya.

Sumber:
Aidh al-Qarni, La-Tahzan, Qisthi Press, 2005

Kesempurnaan Wara' Menurut Ibnu Taimiyah kesempurnaan Wara' itu: 1. Memilih yang lebih baik dari dua kebaikan  2. Mening...

Kesempurnaan Wara'

Menurut Ibnu Taimiyah kesempurnaan Wara' itu:

1. Memilih yang lebih baik dari dua kebaikan 

2. Meninggalkan yang lebih buruk dari dua keburukan 

Karena agama bertujuan untuk menciptakan kemaslahatan dan menyempurnakannya, serta menghilangkan dan mengurangi kerusakan.

Objek Wara' adalah semua perkara yang diharamkan dan dimakruhkan.

Sumber;
Mahmud Al-Mishri, Ensiklopedi Akhlak Rasulullah, Pustaka Al-Kautsar, 2019

Perkara yang Paling Sulit  Perkara yang paling sulit adalah: 1. Melihat kebesaran dan fakta yang menunjukkan pengetahuan tentang...

Perkara yang Paling Sulit 

Perkara yang paling sulit adalah:

1. Melihat kebesaran dan fakta yang menunjukkan pengetahuan tentang Allah.

Ini terjadi karena jiwa sudah terkalahkan dengan indera-indera kasar. Namun mudah bagi yang menggunakan akalnya.

2. Menaklukkan hawa nafsu, menekan syahwat dan menaklukkan kecenderungan yang mengebu-gebu.

Namun ini mudah bagi yang cerdas yang menatap ganjaran Allah dengan mata hati.

Sumber:
Ibnu Jauzy, Shaidul Khathir, Maghfirah Pustaka, 2007

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adam (5) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Akhirat (8) Al-Baqarah (1) Al-Qur'an (362) Al-Qur’an (64) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) An-Nadwi (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bahaya Kemunduran Umat Islam (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (53) Cerita kegagalan (1) cerpen Nabi (8) cerpen Nabi Musa (2) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) dakwah (19) Dakwah (35) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) ekonomi (3) Ekonomi (31) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) english (6) English (6) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fiqh (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (7) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) hikmah (1) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum (3) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) ikhtilaf (1) Ikhtilaf (3) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) Islam (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) kecerdasan (22) Kecerdasan (342) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Hadist (4) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) kisah para nabi dan (2) kisah para nabi dan rasul (61) kisah para Nabi dan Rasul (1) Kisah para nabi dan rasul (120) Kisah Para Nabi dan Rasul (577) kisah para nabi dan rasul. Nabi Daud (1) kisah para nabi dan rasul. nabi Musa (2) Kisah Penguasa (1) Kisah ulama (1) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) nabi adam (1) Nabi Adam (75) nabi Adam. Adam (1) Nabi Ayub (1) Nabi Daud (3) Nabi Ibrahim (3) Nabi Isa (2) nabi Isa. nabi ismail (1) Nabi Ismail (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Khidir (1) Nabi Musa (29) Nabi Nuh (6) Nabi Sulaiman (2) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (15) Namrudz (2) Nasrulloh Baksolahar (1) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) nusantara (11) Nusantara (319) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (763) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) politik (2) Politik (16) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rasulullah shalallahu alaihi wassalam (1) Rehat (493) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) Sahabat (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) Salimul Aqidah (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Serah Nabawiyah (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (338) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah penguasa (11) Sirah Penguasa (250) sirah Sahabat (2) Sirah Sahabat (173) Sirah Tabiin (43) Sirah ulama (36) Sirah Ulama (158) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tamim Ad Dari (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Wakaf (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)