Allah berfirman:
مَا أَنتَ بِنِعْمَةِ رَبِّكَ بِمَجْنُونٍ
"Tidaklah engkau—dengan nikmat Tuhanmu—seorang yang gila."
(QS. Al-Qalam: 2)
Perhatikanlah bagaimana satu ayat yang pendek ini mengandung penetapan sekaligus penafian yang begitu kuat.
Allah menetapkan nikmat-Nya kepada Nabi Muhammad ﷺ. Bahkan nikmat itu dinisbatkan langsung kepada-Nya: “Rabbuka—Tuhanmu.” Sebuah ungkapan yang menghadirkan kedekatan, pemeliharaan, kasih sayang, dan pemuliaan.
Namun pada saat yang sama, Allah menafikan tuduhan mereka bahwa Rasulullah ﷺ adalah orang gila.
Seolah-olah ayat ini berkata:
Bagaimana mungkin seorang yang berada dalam pemeliharaan Rabb-nya, yang dipilih dan dimuliakan-Nya, disebut sebagai orang yang kehilangan akal?
Di sinilah kita mulai tertegun.
Bagaimana Mereka Bisa Menuduhnya Gila?
Siapa sebenarnya Muhammad di tengah kaumnya sebelum kenabian?
Bukankah mereka mengenalnya sebagai orang yang jernih akalnya?
Bukankah ketika terjadi perselisihan di antara kabilah-kabilah Quraisy tentang siapa yang berhak meletakkan Hajar Aswad, mereka menerima Muhammad sebagai hakim? Bahkan ketika itu beliau belum menjadi nabi.
Bukankah mereka sendiri yang memberinya gelar Al-Amin, orang yang terpercaya?
Dan bukankah kepercayaan itu tetap mereka berikan bahkan setelah mereka memusuhi dakwahnya?
Mereka pernah menitipkan harta kepada beliau. Bahkan ketika Rasulullah ﷺ berhijrah meninggalkan Makkah, masih ada barang-barang titipan mereka yang harus dikembalikan.
Di sinilah letak paradoksnya.
Orang yang kemarin mereka percaya sebagai Al-Amin, hari ini mereka tuduh sebagai pendusta.
Orang yang kemarin mereka jadikan rujukan ketika terjadi perselisihan, hari ini mereka tuduh kehilangan akal.
Mengapa?
Karena persoalannya bukan lagi tentang apakah Muhammad ﷺ dapat dipercaya atau tidak. Mereka sebenarnya mengetahui jawabannya.
Persoalannya adalah kedengkian yang membuat seseorang menolak kebenaran meskipun ia mengenal kebenaran itu.
Hal ini semakin jelas dalam dialog Abu Sufyan dengan Heraklius. Ketika Heraklius bertanya apakah mereka pernah mengenal Muhammad sebagai seorang pendusta sebelum kenabiannya, Abu Sufyan—yang ketika itu masih menjadi musuh beliau—menjawab bahwa mereka tidak pernah mengenalnya berdusta.
Heraklius kemudian menyimpulkan bahwa seseorang yang tidak pernah berdusta kepada manusia tidak mungkin dengan mudah berdusta atas nama Allah.
Maka pertanyaannya kembali kepada kita:
Jika mereka telah mengetahui kejujurannya, mengapa mereka tetap menuduhnya berdusta?
Karena kadang-kadang masalah terbesar manusia bukanlah kekurangan bukti.
Masalahnya adalah hati yang tidak mau tunduk kepada kebenaran.
Kedengkian dapat membuat mata melihat tetapi tidak mau mengakui. Telinga mendengar tetapi tidak mau menerima. Akal mengetahui tetapi hawa nafsu menolak.
Itulah sebabnya Allah tidak membiarkan tuduhan tersebut tanpa jawaban.
«مَا أَنتَ بِنِعْمَةِ رَبِّكَ بِمَجْنُونٍ»
"Tidaklah engkau—dengan nikmat Tuhanmu—seorang yang gila."
Betapa lembut jawaban ini.
Allah tidak sekadar membantah tuduhan mereka. Allah sekaligus memeluk Rasul-Nya dengan penyandaran kepada Rabb-nya.
"Tuhanmu."
Ada kasih sayang di sana.
Ada pemuliaan.
Ada ketenangan.
Seakan-akan di tengah badai tuduhan manusia, Allah berkata kepada Nabi-Nya:
Jangan biarkan ucapan mereka menentukan siapa dirimu. Aku mengetahui siapa dirimu. Aku mengetahui apa yang Aku berikan kepadamu.
Setelah Bantahan, Datang Penghiburan
Kemudian Allah berfirman:
وَإِنَّ لَكَ لَأَجْرًا غَيْرَ مَمْنُونٍ
"Dan sungguh, bagi kamu pahala yang tidak putus-putusnya."
(QS. Al-Qalam: 3)
Perhatikan urutannya.
Pertama, Allah membantah tuduhan.
Kemudian Allah menghibur.
Lalu Allah menjanjikan pahala yang tidak terputus.
Seolah-olah Allah mengajarkan kepada Rasulullah ﷺ bahwa nilai sebuah perjuangan tidak ditentukan oleh suara orang-orang yang menolaknya.
Jika manusia mencela, Allah memuliakan.
Jika manusia menolak, Allah menerima.
Jika manusia menyakiti, Allah menjanjikan pahala.
Jika manusia menutup pintu, Allah membuka cakrawala yang jauh lebih luas.
Lalu datanglah puncak pemuliaan itu:
وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
"Dan sesungguhnya engkau benar-benar berada di atas akhlak yang agung."
(QS. Al-Qalam: 4)
Ayat ini bukan sekadar pujian.
Ini adalah persaksian Allah terhadap Rasul-Nya.
Siapa yang memberikan persaksian?
Bukan manusia.
Bukan para sahabat.
Bukan para pengikut.
Tetapi Rabb seluruh alam.
Dan kepada siapa persaksian itu diberikan?
Kepada Muhammad ﷺ.
Tentang apa persaksian itu?
Tentang akhlaknya.
Mengapa Akhlak Mendapat Kedudukan Setinggi Itu?
Kita mungkin bertanya:
Mengapa ketika membela Rasulullah ﷺ dari tuduhan gila, Allah justru menonjolkan akhlaknya?
Mengapa bukan kekuatan?
Mengapa bukan kecerdasan?
Mengapa bukan keberanian?
Mengapa bukan kemampuan memimpin?
Mengapa Allah memilih mengatakan:
“Sesungguhnya engkau benar-benar berada di atas akhlak yang agung”?
Karena akhlak bukan aksesori dalam risalah.
Akhlak adalah salah satu substansi utama risalah itu sendiri.
Rasulullah ﷺ bukan hanya menyampaikan Islam dengan lisannya.
Beliau adalah Islam yang berjalan di muka bumi dalam bentuk manusia.
Risalah itu berbicara tentang kejujuran, dan beliau adalah Al-Amin.
Risalah itu berbicara tentang kasih sayang, dan beliau adalah rahmat.
Risalah itu berbicara tentang keadilan, dan beliau menegakkan keadilan.
Risalah itu memerintahkan amanah, dan beliau menjadi teladan amanah.
Risalah itu melarang kezaliman, penipuan, kecurangan, dan pengkhianatan, dan kehidupan beliau menjadi gambaran nyata dari semua prinsip tersebut.
Karena itu, memahami Islam tanpa memahami akhlak Rasulullah ﷺ akan membuat kita kehilangan salah satu dimensi terpenting dari risalah.
Keagungan Pujian dan Keagungan Jiwa yang Menerimanya
Namun ada satu hal lain yang lebih menakjubkan.
Bayangkan seseorang dipuji oleh orang biasa.
Bukankah terkadang pujian itu saja sudah membuat kita berubah?
Seseorang dipuji karena kecerdasannya. Dadanya bisa membesar.
Dipujilah keberaniannya. Ia bisa menjadi bangga.
Dipujilah kepemimpinannya. Ia bisa mulai merasa lebih tinggi daripada orang lain.
Para sahabat pun memahami bagaimana dahsyatnya pengaruh pujian manusia. Ketika Rasulullah ﷺ memuji seseorang, pujian itu dapat mengguncang jiwa orang yang menerimanya.
Tetapi sekarang bayangkan:
Yang memuji Muhammad ﷺ adalah Allah.
Dan Muhammad ﷺ mengetahui siapa yang sedang memujinya.
Ia mengetahui keagungan Sang Pemberi pujian.
Ia mengetahui keluasan ilmu-Nya.
Ia mengetahui bahwa pujian itu datang dari Rabb seluruh alam.
Namun apa yang terjadi?
Apakah beliau menjadi sombong?
Apakah beliau merasa lebih tinggi daripada manusia?
Apakah beliau menjadi angkuh?
Tidak.
Beliau tetap menjadi hamba Allah.
Tetap tunduk.
Tetap tenang.
Tetap rendah hati.
Tetap melanjutkan perjalanan risalah.
Di sinilah kita menemukan keagungan yang lain:
Bukan hanya keagungan akhlak Rasulullah ﷺ, tetapi juga keagungan jiwa yang mampu menerima pujian Allah tanpa berubah menjadi sombong.
Dan lebih menakjubkan lagi, jiwa yang sama juga mampu menerima teguran Allah.
Ketika Allah menegur beliau atas beberapa tindakan, Rasulullah ﷺ tidak menyembunyikan teguran itu dari umatnya.
Beliau menyampaikan pujian sebagaimana beliau menyampaikan teguran.
Tidak ada upaya menghapus bagian yang menguntungkan dan menyembunyikan bagian yang berat.
Mengapa?
Karena beliau adalah nabi yang mulia, hamba yang taat, dan penyampai risalah yang terpercaya.
Pujian tidak membuatnya keluar dari kehambaan.
Teguran tidak membuatnya keluar dari kenabian.
Dalam kedua keadaan itu, beliau tetap tenang, jujur, dan tunduk kepada Rabb-nya.
Muhammad ﷺ sebagai Gambaran Hidup Risalah
Di sinilah hubungan antara hakikat Muhammad dan hakikat risalah menjadi semakin jelas.
Risalah ini memiliki kesempurnaan, keindahan, keagungan, universalitas, kejujuran, dan kebenaran.
Maka siapa yang layak mengembannya?
Allah sendiri yang mengetahui.
“Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan risalah-Nya.”
Muhammad ﷺ bukan sekadar orang yang menyampaikan risalah tersebut.
Beliau adalah gambaran hidup dari risalah itu.
Risalah menjadi terlihat dalam kehidupannya.
Al-Qur'an menjadi akhlak yang berjalan.
Ajaran menjadi perilaku.
Wahyu menjadi tindakan.
Nilai menjadi realitas.
Karena itu, perjalanan sirah bukan sekadar kumpulan peristiwa sejarah.
Sirah adalah ruang tempat kita melihat bagaimana risalah berubah menjadi kehidupan.
Kita melihat bagaimana seorang manusia menghadapi penghinaan tanpa kehilangan kemuliaan.
Bagaimana menghadapi kekuasaan tanpa menjadi angkuh.
Bagaimana menghadapi kekalahan tanpa kehilangan harapan.
Bagaimana menghadapi kemenangan tanpa mabuk kemenangan.
Bagaimana menghadapi pujian tanpa kesombongan.
Bagaimana menerima teguran tanpa pembelaan diri.
Bagaimana memimpin tanpa kehilangan sifat sebagai hamba.
Bukankah di situlah salah satu rahasia terbesar keagungan Muhammad ﷺ?
Cahaya Risalah dalam Perjalanan Sirah
Jika kita membaca sirah dari awal sampai akhir, kita akan menemukan bahwa akhlak bukanlah unsur sampingan.
Ia hadir dalam seluruh perjalanan.
Di Makkah, ketika beliau disakiti, beliau tetap menjaga dirinya dari kebencian yang melampaui batas.
Di tengah tekanan, beliau tetap menyampaikan kebenaran.
Ketika memiliki kesempatan untuk membalas, beliau menunjukkan keluasan jiwa.
Ketika berada dalam posisi kuat, beliau tidak menjadikan kekuasaan sebagai alasan untuk menanggalkan akhlak.
Ketika memimpin masyarakat, beliau tetap hidup sebagai seorang hamba.
Karena itu, sirah sebenarnya memperlihatkan sebuah hukum penting:
Semakin besar risalah yang dibawa, semakin besar pula tuntutan akhlak pada pembawanya.
Islam tidak hanya membangun manusia yang benar keyakinannya.
Islam membangun manusia yang benar jiwanya, perkataannya, perilakunya, hubungannya dengan manusia, dan hubungannya dengan Allah.
Maka akidah yang benar melahirkan kejujuran.
Ibadah yang benar melahirkan ketundukan.
Ilmu yang benar melahirkan kerendahan hati.
Kekuasaan yang benar melahirkan keadilan.
Kekayaan yang benar melahirkan kemurahan hati.
Dan iman yang benar melahirkan akhlak yang mulia.
Akhlak sebagai Jantung Peradaban Islam
Ketika kita mencermati ajaran Islam secara keseluruhan, kita akan menemukan betapa kuatnya unsur akhlak di dalamnya.
Islam menyeru kepada kesucian.
Kebersihan.
Kejujuran.
Amanah.
Keadilan.
Kasih sayang.
Kebajikan.
Menepati janji.
Menjaga kehormatan manusia.
Menyatukan perkataan dengan perbuatan.
Menyelaraskan tindakan dengan niat dan hati.
Sebaliknya, Islam melarang kezaliman, penipuan, kecurangan, pengkhianatan, memakan harta orang lain secara batil, merusak kehormatan manusia, dan menyebarkan kekejian.
Bahkan hukum-hukum yang mengatur kehidupan manusia pada akhirnya tidak berdiri tanpa tujuan moral.
Ia menjaga manusia.
Menjaga kehormatan.
Menjaga harta.
Menjaga hubungan sosial.
Menjaga keadilan.
Menjaga kebersihan jiwa.
Dengan demikian, akhlak tidak hanya berada di ruang pribadi.
Ia bergerak dari jiwa menuju keluarga, dari keluarga menuju masyarakat, dari masyarakat menuju negara, bahkan menuju hubungan antarmanusia secara luas.
Di sinilah kita memahami mengapa Allah memulai pujian kepada Rasulullah ﷺ dengan sebuah kalimat yang begitu agung:
وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
"Dan sesungguhnya engkau benar-benar berada di atas akhlak yang agung."
Seakan-akan ayat itu mengajak kita melihat sirah dari sebuah perspektif yang lebih dalam:
Jika ingin memahami Muhammad ﷺ, lihatlah akhlaknya.
Jika ingin memahami risalahnya, lihatlah akhlaknya.
Jika ingin memahami pengaruh risalah itu terhadap perjalanan sejarah, lihatlah bagaimana akhlak tersebut membentuk manusia, keluarga, masyarakat, dan peradaban.
Dan jika kita ingin mengetahui apakah cahaya risalah itu benar-benar telah menyentuh diri kita, pertanyaannya pun akhirnya kembali kepada sesuatu yang sangat sederhana:
Sudahkah cahaya itu tampak dalam akhlak kita?
Sebab risalah yang hanya memenuhi pikiran tetapi tidak memperbaiki akhlak, belum sepenuhnya menampakkan cahayanya.
Ilmu yang bertambah tetapi kesombongan juga bertambah, perlu dipertanyakan.
Ibadah yang bertambah tetapi kezaliman tidak berkurang, perlu direnungkan.
Dakwah yang semakin luas tetapi kasih sayang semakin sempit, perlu dievaluasi.
Karena Muhammad ﷺ telah menunjukkan kepada kita bahwa ketinggian hubungan dengan Allah tidak menjauhkan manusia dari kemuliaan akhlak kepada manusia. Justru semakin dekat seseorang kepada Allah, semestinya semakin indah akhlaknya.
Itulah cahaya risalah.
Ia turun dari langit melalui wahyu, masuk ke dalam hati Rasulullah ﷺ, menjelma menjadi akhlak, kemudian bergerak melalui sirah untuk menerangi kehidupan manusia.
Dan karena itulah, ketika Allah berkata:
“Sesungguhnya engkau benar-benar berada di atas akhlak yang agung,”
kita tidak sedang membaca sekadar pujian kepada seorang manusia.
Kita sedang menyaksikan persaksian Rabb semesta alam terhadap manusia yang menjadi teladan hidup bagi sebuah risalah universal.
Dan mungkin di sinilah salah satu cara terbaik untuk membaca sirah:
bukan hanya bertanya, “Apa yang terjadi kepada Muhammad ﷺ?”
Tetapi juga bertanya:
“Akhlak apa yang sedang Allah ajarkan kepada kita melalui apa yang terjadi kepada Muhammad ﷺ?”
Sebab sirah bukan hanya perjalanan seorang Nabi.
Sirah adalah perjalanan cahaya risalah ketika ia hadir dalam kehidupan seorang manusia, lalu mengubah manusia-manusia lain, membentuk masyarakat, dan akhirnya mengubah arah sejarah.
0 komentar: