basmalah Pictures, Images and Photos
Our Islamic Story

Choose your Language

Shalahuddin Al-Ayubi: Dari Pemuda Lembut Menjadi Pembebas Baitul Maqdis Banyak sejarawan enggan menuliskan sepertiga awal kehidu...

Shalahuddin Al-Ayubi: Dari Pemuda Lembut Menjadi Pembebas Baitul Maqdis

Banyak sejarawan enggan menuliskan sepertiga awal kehidupan Shalahuddin Al-Ayubi secara rinci, karena khawatir bagian itu akan “menodai” gambaran besarnya sebagai seorang pembebas agung.

Dalam catatan Baha ad-Din ibn Shaddad, masa remaja Yusuf—nama kecil Shalahuddin—jauh dari bayangan seorang panglima. Ia membenci pertempuran, ngeri membayangkan darah, dan bergidik melihat luka. Bahkan jeritan kesakitan pun tak sanggup ia dengar.

Kesehariannya lebih dekat dengan kelembutan: ia mencintai kuda-kuda anggun, gemar bermain bola, dan menikmati waktu bertamasya. Jiwanya melankolis, sensitif, mudah menangis karena hal-hal sepele, serta kerap dilanda sakit.

Namun, perjalanan hidupnya tidak berhenti pada fase itu.

Yusuf kemudian tumbuh menjadi sosok pemberani, adil, dan visioner—pemimpin yang kelak membebaskan Baitul Maqdis dari tangan Tentara Salib. Perubahan drastis ini menjadikan namanya dikenal dunia sebagai Shalahuddin Al-Ayubi.

Apa yang mengubahnya?

Menurut Majid Irsan al-Kilani, Islam memiliki kekuatan untuk mentransformasi manusia secara mendasar. Nilai-nilai ilahiyah mampu menyusun ulang komposisi jiwa: seorang yang lemah dapat menjadi kuat, yang takut menjadi berani, dan yang tampak biasa dapat menjelma luar biasa. Masa lalu bukanlah akhir, melainkan titik awal bagi kemungkinan yang lebih besar di masa depan.

Transformasi Yusuf tidak terjadi secara tiba-tiba. Ia ditempa melalui bimbingan dan lingkungan yang kuat, khususnya di bawah asuhan Nur ad-Din Zangi dan pamannya, Asad ad-Din Shirkuh.

Dari tangan merekalah, seorang pemuda yang lembut dibentuk menjadi pemimpin yang tegas—dari jiwa yang rapuh menjadi fondasi bagi lahirnya seorang pembebas.

Sumber: 
Salim A Fillah, Jalan Cinta Para Pejuang, Pro U Media, 2009

Wanita Cantik di Shaff Wanita Saat Shalat di Era Rasulullah ﷺ yang Menjadi Sebab Turunnya Ayat Abdullah bin Abbas meriwayatkan k...

Wanita Cantik di Shaff Wanita Saat Shalat di Era Rasulullah ﷺ yang Menjadi Sebab Turunnya Ayat



Abdullah bin Abbas meriwayatkan kisah tentang seorang wanita yang sangat cantik yang shalat berjamaah di shaff wanita di belakang Rasulullah ﷺ. Ia berkata, “Demi Allah, aku belum pernah melihat wanita secantik dia.” Peristiwa ini kemudian berkaitan dengan turunnya ayat dalam Al-Qur'an, tepatnya surah Al-Hijr ayat 24, yang menegaskan bahwa Allah mengetahui siapa yang berada di depan dan siapa yang di belakang.

Dalam riwayat At-Tirmidzi dan Al-Hakim an-Nishapuri, dijelaskan bahwa sebagian sahabat berusaha menjaga kekhusyukan dengan maju ke shaf terdepan agar tidak melihat wanita tersebut. Namun, sebagian lainnya justru mundur ke belakang dengan harapan dapat melihatnya saat rukuk.

Ayat ini turun sebagai teguran halus, bukan sekadar terhadap posisi shaf, tetapi terhadap niat yang tersembunyi di dalam hati. Allah mengetahui tujuan mereka yang maju karena ingin menjaga diri, dan juga mengetahui mereka yang mundur karena dorongan hawa nafsu.

Peristiwa ini menunjukkan sisi manusiawi para sahabat. Ada yang berjuang menahan pandangan, ada pula yang masih diuji oleh keinginan. Namun, pesan utama ayat ini melampaui konteks tersebut: Allah Maha Mengetahui segala yang tampak dan tersembunyi, baik di masa lalu, kini, maupun yang akan datang.

Sumber:
Salim A Fillah, Jalan Cinta Para Pejuang, Pro U Media, 2009
Qur'an Kemenag, Tafsir Tahlili

Budak yang Dinikahkan dengan Putri Majikannya Suatu hari, seorang majikan datang ke kebunnya yang dijaga oleh seorang budak bern...

Budak yang Dinikahkan dengan Putri Majikannya

Suatu hari, seorang majikan datang ke kebunnya yang dijaga oleh seorang budak bernama Mubarak. Ia meminta buah delima yang manis. Namun, setiap delima yang diberikan ternyata terasa asam.

Sang majikan heran, lalu bertanya mengapa demikian. Mubarak menjawab dengan jujur bahwa ia tidak mengetahui mana yang manis dan mana yang asam, karena selama ini ia tidak pernah mencicipi buah tersebut. Tugasnya hanyalah menjaga kebun, bukan mengambil atau merasakan hasilnya.

Kejujuran ini membuat sang majikan sangat terkesan. Di saat yang sama, ia sedang menghadapi persoalan: banyak pemuda melamar putrinya, tetapi ia ragu menentukan pilihan. Ia pun meminta pendapat Mubarak tentang siapa yang paling pantas menikahi putrinya.

Mubarak menjawab, “Orang jahiliah menikahkan berdasarkan keturunan, orang Yahudi berdasarkan harta, dan orang Nasrani berdasarkan kecantikan. Adapun seorang mukmin, hendaknya menikahkan karena agama.”

Jawaban yang jernih dan penuh hikmah itu menggugah hati sang majikan. Ia pun menikahkan putrinya dengan Mubarak. Dari pernikahan itu lahirlah Abdullah ibn al-Mubarak, yang kelak dikenal sebagai ulama besar, mujahid, dan dermawan.

Sumber
Salim A Fillah, Jalan Cinta Para Pejuang, Pro U Media, 2009

Agar Manusia Menjadi Pantulan Sifat-Sifat Allah Menurut Jalaluddin Rumi, manusia adalah cermin bagi sifat-sifat Allah. Ia merupa...

Agar Manusia Menjadi Pantulan Sifat-Sifat Allah

Menurut Jalaluddin Rumi, manusia adalah cermin bagi sifat-sifat Allah. Ia merupakan pantulan yang jujur, tempat tampaknya tanda-tanda kekuasaan dan keindahan Ilahi.

Segala kesempurnaan yang terlihat pada diri manusia sejatinya bukan miliknya, melainkan pantulan dari sifat-sifat Allah. Rumi mengibaratkannya seperti cahaya bulan yang memantul indah di atas permukaan sungai yang jernih. Keindahan itu bukan berasal dari air, tetapi dari cahaya yang dipantulkannya.

Demikian pula manusia. Ia bagaikan air bening yang memantulkan ilmu, keadilan, dan kelembutan Allah. Ketika hati bersih, pantulan itu tampak jelas—seperti bintang kejora yang berkilau di permukaan air yang tenang.

Namun, tidak semua manusia mampu menjadi cermin yang jernih. Pantulan itu hanya hadir pada hati yang bersih dan terjaga. Jika hati keruh oleh hawa nafsu dan kegelapan batin, maka cahaya Ilahi tidak lagi tampak dengan sempurna.

Karena itu, kunci agar manusia menjadi pantulan sifat-sifat Allah adalah menjaga kejernihan hati. Hati yang bening akan memantulkan keindahan Ilahi secara utuh, sebagaimana air jernih di setiap cekungan bumi yang mampu menangkap dan memantulkan cahaya langit.

Sumber
Abdul Hasan An-Nadwi, Jalaluddin Rumi Sufi Penyair Besar, Pustaka Firdaus, 2015

Rahasia Awet Muda Menurut Jalaluddin Rumi Keinginan untuk tetap muda dan kuat adalah hal yang lumrah. Banyak orang berusaha menj...

Rahasia Awet Muda Menurut Jalaluddin Rumi

Keinginan untuk tetap muda dan kuat adalah hal yang lumrah. Banyak orang berusaha menjaga kesehatan fisik agar tetap bugar. Namun, sering kali usaha itu tidak sepenuhnya membuahkan hasil. Mengapa demikian?

Menurut Rumi, kunci utama bukan semata pada tubuh, melainkan pada hati. Jika hati dipelihara dengan baik, maka semangat akan tetap muda, tubuh terasa segar, mata bercahaya, dan ingatan tetap tajam. Dari dalam diri itulah terpancar gairah hidup dan kebahagiaan yang sejati.

Sebaliknya, ketika hati diabaikan—dipenuhi kegelisahan, iri, atau keletihan batin—maka kondisi itu perlahan memengaruhi tubuh. Wajah kehilangan cahaya, semangat meredup, dan kehidupan terasa berat.

Karena itu, Rumi menekankan pentingnya merawat hati. Hati yang bersih dan terjaga akan memancarkan cahaya pada wajah, menghadirkan ketenangan dalam jiwa, serta menjaga vitalitas hidup. Ia akan tetap segar, laksana anggur yang ranum atau bunga mawar yang terus mekar dan harum.

Dengan demikian, awet muda bukan sekadar urusan fisik, tetapi terutama tentang bagaimana seseorang menjaga kebeningan dan kehidupan hatinya.

Sumber:
Abdul Hasan An-Nadwi, Jalaluddin Rumi Sufi Penyair Besar, Pustaka Firdaus, 2015

Darahnya Tercampuri dengan Darah Rasulullah saw Malik bin Sinan, ayah dari Abu Said Al-Khudri menyambut seruan jihad di perang U...

Darahnya Tercampuri dengan Darah Rasulullah saw


Malik bin Sinan, ayah dari Abu Said Al-Khudri menyambut seruan jihad di perang Uhud. Saat hendak berangkat dia berkata,

"Wahai Rasulullah saw, demi Allah, kita berada di dua kebaikan. Jika Allah menganugerahkan kemenangan kepada kita, itulah yang kita inginkan. Allah akan menghinakan mereka dihadapan kita sehingga ini menjadi kemenangan seperti kemenangan Badar, sehingga yang tersisa dari mereka adalah orang-orang yang melarikan diri.:

Malik bin Sinan melanjutkan,

"Namun, jika Allah menganugerahkan kita kesyahidan, demi Allah wahai Rasulullah saw, aku tidak peduli yang mana dari keduanya yang Allah anugerahkan karena keduanya membawa kebaikan."

Ketika pertempuran berkecamuk, wajah Rasulullah saw terluka. Malik bin Sinan mendekati Nabi saw dan menjilat darah dari luka wajah Rasulullah saw. Malik menghisap darah tersebut dan menelannya, maka dikatakan kepadanya,

"Apakah engkau meminum darah itu?"

"Ya, aku meminum darah Rasulullah saw" Jawab Malik bin Sinan

"Barangsiapa yang ingin melihat seseorang yang darahnya bercampur dengan darahku, hendaknya ia melihat Malik bin Sinan." Sabda Rasulullah saw 

Dalam riwayat lain, Rasulullah saw bersabda,

"Darahku bercampur dengan darahnya, maka ia tidak akan tersentuh api neraka."

Malik bin Sinan terus maju bertempur dengan gigih hingga Allah menganugerahkan kesyahidan yang didambakan.

Sumber:
Hamid Az-Zaini, The Untold Stories Sahabat Nabi, GIP, 2025

Menilai Kembali Apa yang Dianggap Berharga Mengapa manusia begitu mudah terpikat oleh dunia? Mengapa harta, keluarga, kedudukan,...

Menilai Kembali Apa yang Dianggap Berharga

Mengapa manusia begitu mudah terpikat oleh dunia? Mengapa harta, keluarga, kedudukan, dan berbagai kenikmatan sering menjadi ukuran keberhasilan hidup?

Surah Āli 'Imrān ayat 14–17 mengajak manusia berdialog dengan dirinya sendiri. Setelah pada ayat-ayat sebelumnya Allah membuktikan bahwa harta dan kekuatan tidak mampu menyelamatkan orang-orang kafir dari kehancuran, kini Al-Qur'an mengungkap akar persoalannya: cara pandang manusia terhadap kehidupan dunia.

Dunia Memang Indah, tetapi Apakah Ia Tujuan?

Allah berfirman:

«"Dijadikan indah bagi manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, berupa perempuan, anak-anak, harta yang bertumpuk dari emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, sedangkan di sisi Allah tempat kembali yang terbaik." (Āli 'Imrān: 14)»

Ayat ini tidak mengatakan bahwa mencintai dunia adalah dosa. Justru Allah menegaskan bahwa kecintaan itu memang merupakan fitrah manusia. Manusia memang mencintai keluarga, harta, keindahan, dan berbagai fasilitas kehidupan.

Lalu di mana letak persoalannya?

Persoalannya bukan pada apa yang dicintai, tetapi bagaimana manusia memandangnya. Ketika dunia berubah dari sarana menjadi tujuan, ketika harta menjadi ukuran kemuliaan, atau ketika keluarga menjadi alasan meninggalkan ketaatan kepada Allah, saat itulah manusia mulai kehilangan arah.

Enam Perhiasan yang Menguji Manusia

Ayat ini menyebut enam bentuk perhiasan dunia yang paling kuat menarik hati manusia.

Pertama, pasangan hidup.

Allah menjadikan pasangan sebagai tempat ketenangan, kasih sayang, dan cinta. Karena itu mencintai pasangan merupakan fitrah. Namun cinta yang melampaui batas dapat menggeser keadilan, tanggung jawab, bahkan ketaatan kepada Allah.

Kedua, anak-anak.

Anak adalah penerus keturunan sekaligus perhiasan kehidupan. Namun Al-Qur'an juga mengingatkan bahwa anak dapat menjadi ujian apabila kecintaan kepada mereka membuat seseorang mengabaikan nilai-nilai iman dan kebenaran.

Ketiga, harta.

Harta memberikan rasa aman, kekuasaan, dan kemampuan memenuhi berbagai keinginan. Karena itulah manusia sering tidak pernah merasa cukup. Rasulullah SAW menggambarkan bahwa seandainya manusia memiliki satu lembah emas, ia akan menginginkan lembah berikutnya. Nafsu memiliki hampir tidak mengenal batas.

Keempat, kendaraan terbaik, yang pada masa turunnya Al-Qur'an dilambangkan dengan kuda pilihan. Ia melambangkan prestise, kekuatan, dan kemewahan.

Kelima, hewan ternak, sebagai simbol kekayaan produktif dan sumber penghidupan.

Keenam, sawah dan ladang, lambang kemakmuran, investasi, dan keberlanjutan kehidupan.

Semuanya adalah nikmat Allah. Tidak satu pun diharamkan. Namun semuanya juga merupakan ujian: apakah manusia menjadikannya sebagai jalan menuju Allah atau justru menjadikannya penghalang menuju-Nya.

Pertanyaan yang Mengubah Cara Pandang

Setelah menyebut seluruh daya tarik dunia, Allah tidak langsung melarangnya. Sebaliknya, Allah mengajukan sebuah pertanyaan yang menggugah kesadaran.

«"Katakanlah, maukah aku beritakan kepadamu sesuatu yang lebih baik daripada semua itu?" (Āli 'Imrān: 15)»

Pertanyaan ini mengajak manusia berhenti sejenak.

Apakah benar dunia adalah puncak yang harus dikejar?

Apakah tidak ada sesuatu yang lebih bernilai?

Al-Qur'an menjawab bahwa bagi orang-orang bertakwa tersedia sesuatu yang jauh lebih baik daripada seluruh gemerlap dunia.

Cara Pandang Orang Bertakwa

Jika manusia pada umumnya berhenti pada keindahan dunia, orang bertakwa memandang lebih jauh daripada itu.

Mereka melihat bahwa seluruh kenikmatan dunia bersifat sementara, sedangkan yang berada di sisi Allah bersifat kekal.

Karena itu Allah menjanjikan tiga bentuk kenikmatan yang jauh melampaui kenikmatan dunia.

Pertama, surga yang penuh kenikmatan dan kekal selamanya.

Kedua, pasangan yang disucikan dari segala kekurangan.

Ketiga—dan inilah puncaknya—keridaan Allah.

Dalam hadis sahih, setelah penghuni surga memperoleh seluruh kenikmatan, Allah bertanya apakah mereka telah merasa puas. Ketika mereka menjawab bahwa tidak ada lagi nikmat yang lebih besar, Allah berfirman bahwa Dia akan memberikan sesuatu yang lebih agung lagi, yaitu keridaan-Nya yang tidak akan pernah dicabut selama-lamanya.

Dengan demikian, puncak kebahagiaan menurut Al-Qur'an bukanlah memiliki dunia ataupun bahkan menikmati surga, melainkan memperoleh keridaan Allah.

Siapakah Orang Bertakwa Itu?

Ayat berikutnya tidak hanya menyebut balasan mereka, tetapi juga memperkenalkan karakter mereka.

Mereka bukan orang yang mengaku beriman hanya dengan lisan.

Mereka berkata,

«"Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman. Maka ampunilah dosa-dosa kami dan peliharalah kami dari azab neraka." (Āli 'Imrān: 16)»

Iman mereka melahirkan kerendahan hati. Mereka tidak merasa suci, tetapi terus memohon ampun kepada Allah.

Kemudian Al-Qur'an menggambarkan lima karakter yang membentuk kepribadian mereka.

Mereka sabar menghadapi ujian.

Mereka jujur dalam iman, perkataan, dan niat.

Mereka taat kepada Allah dengan penuh ketundukan.

Mereka gemar berinfak, menjadikan harta sebagai sarana ibadah, bukan tujuan hidup.

Dan mereka beristigfar pada waktu sahur, saat kebanyakan manusia masih terlelap, mereka memilih berdiri di hadapan Allah dengan hati yang paling jernih.

Penutup: Dua Cara Pandang, Dua Tujuan Hidup

Surah Āli 'Imrān ayat 14–17 memperlihatkan bahwa perbedaan terbesar antara manusia bukan terletak pada banyak atau sedikitnya harta yang dimiliki, melainkan pada cara memandang kehidupan.

Sebagian manusia menjadikan dunia sebagai tujuan akhir. Seluruh tenaga, pikiran, dan cita-citanya berhenti pada apa yang tampak oleh mata.

Sebaliknya, orang bertakwa memandang dunia sebagai amanah dan ladang amal. Mereka menikmati nikmat Allah tanpa diperbudak olehnya. Mereka memiliki harta, tetapi tidak diperbudak harta. Mereka mencintai keluarga, tetapi tidak meletakkannya di atas kecintaan kepada Allah.

Karena itu, pertanyaan Al-Qur'an tetap relevan bagi setiap zaman:

"Maukah Aku beritakan kepadamu sesuatu yang lebih baik daripada semua itu?"

Pertanyaan itu bukan sekadar ditujukan kepada kaum musyrik atau Ahli Kitab pada masa Nabi, tetapi kepada setiap manusia yang sedang menentukan apa yang paling layak menjadi tujuan hidupnya.

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Al-Baqarah (1) Al-Qur'an (362) Al-Qur’an (24) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) An-Nadwi (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bahaya Kemunduran Umat Islam (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (53) Cerita kegagalan (1) cerpen Nabi (8) cerpen Nabi Musa (2) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) dakwah (8) Dakwah (2) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) english (6) English (6) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fiqh (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (7) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) hikmah (1) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) Islam (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) kecerdasan (15) Kecerdasan (298) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Hadist (4) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) kisah para nabi dan (2) kisah para nabi dan rasul (42) kisah para Nabi dan Rasul (1) Kisah para nabi dan rasul (53) Kisah Para Nabi dan Rasul (577) kisah para nabi dan rasul. Nabi Daud (1) kisah para nabi dan rasul. nabi Musa (2) Kisah Penguasa (1) Kisah ulama (1) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) Nabi Adam (71) Nabi Ayub (1) Nabi Daud (3) Nabi Ibrahim (3) Nabi Isa (2) nabi Isa. nabi ismail (1) Nabi Ismail (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Khidir (1) Nabi Musa (29) Nabi Nuh (6) Nabi Sulaiman (2) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (15) Namrudz (2) Nasrulloh Baksolahar (1) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) nusantara (4) Nusantara (259) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (650) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rasulullah shalallahu alaihi wassalam (1) Rehat (493) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) Sahabat (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) Salimul Aqidah (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Serah Nabawiyah (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (280) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah penguasa (11) Sirah Penguasa (243) sirah Sahabat (2) Sirah Sahabat (166) Sirah Tabiin (43) Sirah ulama (26) Sirah Ulama (157) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tamim Ad Dari (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Wakaf (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)