«“Katakanlah: Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus.”
(QS. Al-An‘am [6]: 161)»
Apa yang menjadikan konsep Islam berbeda dari berbagai konsep pemikiran manusia tentang kehidupan?
Apakah sekadar karena Islam memiliki seperangkat keyakinan dan aturan? Ataukah ada sesuatu yang lebih mendasar, yang menjadi sumber bagi seluruh karakteristik Islam?
Jawabannya terletak pada satu karakteristik utama: kerabbanian.
Kerabbanian berarti bahwa konsep Islam bersumber dari Allah SWT. Ia bukan hasil perenungan manusia tentang hakikat Tuhan, alam, manusia, dan hubungan di antara ketiganya. Ia juga bukan hasil khayalan, perasaan, prasangka, atau pengalaman manusia yang kemudian diangkat menjadi keyakinan.
Konsep Islam adalah konsep akidah yang diwahyukan oleh Allah dan bersumber dari-Nya.
Di sinilah letak perbedaan yang sangat mendasar.
Konsep yang Bersumber dari Allah
Manusia sepanjang sejarah selalu berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan besar:
Siapakah Tuhan?
Dari mana alam berasal?
Untuk apa manusia hidup?
Apa hubungan manusia dengan Penciptanya?
Bagaimana seharusnya manusia menjalani kehidupannya?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut melahirkan berbagai filsafat, kepercayaan, dan sistem pemikiran. Sebagian lahir dari kemampuan intelektual manusia, sebagian dari perasaan dan khayalan, dan sebagian lainnya berkembang dari tradisi keagamaan yang telah mengalami perubahan sepanjang sejarah.
Namun Islam menawarkan sesuatu yang berbeda.
Islam tidak meminta manusia membangun konsep tentang Tuhan hanya berdasarkan keterbatasan akalnya. Islam menerima penjelasan tentang Tuhan, manusia, alam, kehidupan, dan tujuan penciptaan berdasarkan wahyu yang datang dari Sang Pencipta sendiri.
Bukankah Sang Pencipta lebih mengetahui ciptaan-Nya daripada ciptaan itu sendiri?
Karena itu, sumber ilahi menjadi karakteristik pertama dan paling mendasar dari konsep Islam.
Ia adalah konsep rabbani.
Keaslian yang Dijaga
Di sinilah muncul persoalan penting.
Bagaimana dengan agama-agama samawi yang datang sebelum Islam?
Konsep-konsep akidah yang dibawa para nabi terdahulu pada asalnya juga bersumber dari Allah. Namun dalam perjalanan sejarah, sebagian ajaran tersebut mengalami berbagai perubahan, penafsiran, tambahan, dan campur tangan manusia.
Dengan demikian, persoalannya bukan pada sumber wahyu yang pertama kali diturunkan, melainkan pada proses yang terjadi setelahnya.
Sedangkan Islam memiliki kedudukan yang berbeda. Al-Qur'an sebagai sumber utama konsep Islam dijaga keasliannya.
Allah menegaskan:
«“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.”
(QS. Al-Hijr [15]: 9)»
Apa arti jaminan tersebut?
Artinya, konsep dasar Islam tidak diserahkan kepada manusia untuk dibentuk kembali sesuai dengan perubahan selera, hawa nafsu, atau keterbatasan pengetahuan manusia.
Inilah yang memberikan kepada konsep Islam nilai yang unik: sumbernya ilahi dan pokok ajarannya terjaga.
Konsep Filsafat dan Konsep Keyakinan
Lalu, apa perbedaan antara konsep filsafat dan konsep keyakinan?
Konsep filsafat pada dasarnya tumbuh dalam pikiran manusia. Ia merupakan hasil usaha intelektual manusia untuk memahami wujud, kehidupan, manusia, dan hubungan manusia dengan realitas.
Akal melakukan pengamatan.
Akal menyusun argumentasi.
Akal membangun teori.
Akal kemudian menghasilkan suatu konsep tentang kehidupan.
Namun konsep filsafat tetap berangkat dari kemampuan manusia yang terbatas.
Berbeda dengan konsep keyakinan.
Konsep keyakinan tidak hanya hidup dalam pikiran. Ia masuk ke dalam hati nurani, berinteraksi dengan perasaan, membentuk sikap, dan akhirnya memengaruhi seluruh kehidupan.
Karena itu, keyakinan bukan sekadar teori tentang kehidupan.
Ia adalah hubungan hidup antara manusia dengan wujud dan, lebih khusus lagi, hubungan manusia dengan Pencipta wujud.
Namun Islam memiliki perbedaan yang lebih mendasar lagi.
Jika konsep keyakinan pada umumnya dapat lahir dari pengalaman atau pemikiran manusia, konsep Islam tidak demikian.
Konsep Islam datang dari Allah.
Manusia Tidak Menciptakan Konsep Islam
Jika konsep Islam berasal dari Allah, lalu apa peran manusia?
Manusia tidak menciptakannya.
Manusia menerimanya, memahaminya, mengimaninya, menyesuaikan kehidupannya dengannya, dan menerapkan tuntutannya.
Demikian pula para Rasul.
Rasulullah SAW tidak menciptakan konsep Islam berdasarkan pemikirannya sendiri. Beliau menerima wahyu, kemudian menyampaikannya kepada manusia dengan penuh amanah.
Para Rasul adalah penerima dan penyampai wahyu, bukan pencipta wahyu.
Al-Qur'an menjelaskan:
«“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al-Qur'an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidak mengetahui apakah Al-Kitab (Al-Qur'an) itu dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al-Qur'an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengannya siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami.”
(QS. Asy-Syura [42]: 52)»
Ayat ini menunjukkan bahwa petunjuk bukan hasil penemuan manusia semata.
Allah yang memberikan wahyu.
Allah yang menjadikan wahyu sebagai cahaya.
Dan Allah pula yang memberikan petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki.
Adapun Rasulullah SAW menyampaikan jalan tersebut kepada manusia.
Karena itu, Al-Qur'an melanjutkan:
«“Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus, yaitu jalan Allah yang kepunyaan-Nya segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi.”
(QS. Asy-Syura [42]: 52–53)»
Rasul Tidak Berbicara atas Hawa Nafsu
Kerabbanian konsep Islam juga menjelaskan kedudukan Rasulullah SAW sebagai penyampai wahyu.
Allah berfirman:
«“Demi bintang ketika terbenam. Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru. Dan tidaklah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan.”
(QS. An-Najm [53]: 1–4)»
Perhatikan penegasan tersebut.
Tidak sesat.
Tidak keliru.
Tidak mengikuti hawa nafsu dalam menyampaikan wahyu.
Mengapa?
Karena yang disampaikan adalah wahyu dari Allah.
Bahkan Al-Qur'an memberikan peringatan yang sangat tegas:
«“Dan seandainya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya. Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya.”
(QS. Al-Haqqah [69]: 44–46)»
Pesan ini sangat jelas: wahyu tidak boleh dicampuradukkan dengan kehendak manusia.
Karena itu Allah juga memerintahkan:
«“Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu.”
(QS. Al-Ma'idah [5]: 67)»
Tugas Rasul adalah menyampaikan amanah wahyu.
Bukan mengubahnya.
Bukan menambahinya.
Bukan menguranginya.
Bukan pula menjadikannya sebagai produk pemikiran pribadi.
Memberi Petunjuk dan Membuka Hati
Namun ada satu persoalan lagi.
Jika Rasul telah menyampaikan kebenaran, apakah semua orang otomatis akan menerimanya?
Tidak.
Mengapa?
Karena menyampaikan petunjuk berbeda dengan memberikan hidayah ke dalam hati.
Allah berfirman kepada Rasulullah SAW:
«“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya.”
(QS. Al-Qashash [28]: 56)»
Rasul menyampaikan.
Manusia mendengar.
Akal mempertimbangkan.
Hati merespons.
Tetapi terbukanya hati kepada hidayah berada dalam kehendak Allah.
Allah juga berfirman:
«“Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Dia menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah dia sedang mendaki ke langit.”
(QS. Al-An'am [6]: 125)»
Dengan demikian, terdapat perbedaan antara menunjukkan jalan dan membukakan hati untuk menerima jalan tersebut.
Rasulullah SAW menunjukkan jalan.
Allah memberikan hidayah.
Mengapa Kerabbanian Menjadi Keunggulan Konsep Islam?
Sekarang kita dapat melihat mengapa kerabbanian menjadi karakteristik paling mendasar dari konsep Islam.
Jika suatu konsep sepenuhnya merupakan produk manusia, maka ia akan membawa keterbatasan manusia.
Manusia memiliki pengetahuan yang terbatas.
Manusia memiliki pengalaman yang terbatas.
Manusia memiliki kecenderungan dan kepentingan.
Manusia dapat keliru.
Manusia dapat dipengaruhi hawa nafsu.
Karena itu, konsep yang seluruhnya dibangun oleh manusia tidak mungkin terlepas dari keterbatasan manusia.
Lalu bagaimana jika konsep tersebut berasal dari Allah, Zat Yang Mahamengetahui manusia, kehidupan, alam, dan seluruh tujuan penciptaan?
Di sinilah letak keunggulan konsep Islam.
Ia tidak dibangun di atas kebodohan.
Ia tidak bersumber dari keterbatasan manusia.
Ia tidak tunduk kepada hawa nafsu manusia.
Ia datang dari Zat Yang menciptakan manusia dan paling mengetahui apa yang dibutuhkan manusia.
Wahyu dan Fitrah Manusia
Namun apakah konsep yang datang dari Allah itu bertentangan dengan manusia?
Justru sebaliknya.
Karena Allah adalah Pencipta manusia, wahyu-Nya sesuai dengan fitrah manusia.
Bukankah Pencipta lebih mengetahui struktur ciptaan-Nya?
Allah mengetahui kebutuhan jasmani manusia.
Allah mengetahui kebutuhan akal manusia.
Allah mengetahui kebutuhan ruhani manusia.
Allah mengetahui kelemahan dan kekuatan manusia.
Allah mengetahui kecenderungan manusia kepada kebaikan maupun potensi penyimpangannya.
Karena itu, konsep Islam tidak hanya memberikan jawaban untuk pikiran.
Ia juga memberikan arah bagi hati.
Ia tidak hanya berbicara tentang keyakinan.
Ia mengatur kehidupan.
Ia tidak hanya menjelaskan hubungan manusia dengan Allah.
Ia juga mengatur hubungan manusia dengan dirinya sendiri, sesama manusia, alam, masyarakat, dan seluruh kehidupan.
Maka konsep Islam bukan sekadar konsep untuk direnungkan.
Ia adalah konsep untuk diimani, dihayati, dan diwujudkan dalam kehidupan.
Dari Akidah Menuju Sistem Kehidupan
Jika demikian, apa konsekuensinya?
Konsep rabbani tidak berhenti pada keyakinan dalam hati. Karena sumbernya berasal dari Allah dan ditujukan untuk kehidupan manusia, ia menjadi dasar bagi pembentukan sistem kehidupan.
Akidah melahirkan pandangan hidup.
Pandangan hidup membentuk nilai.
Nilai membentuk perilaku.
Perilaku yang teratur melahirkan kehidupan sosial.
Dengan demikian, kerabbanian bukan sekadar label teologis. Ia merupakan sumber bagi seluruh bangunan Islam.
Dari sinilah kita memahami mengapa Islam mampu menjadi sumber dan tumpuan bagi sistem kehidupan yang menyeluruh.
Ia berangkat dari sumber yang sempurna.
Ia berbicara kepada manusia secara utuh.
Ia sesuai dengan fitrah.
Dan ia memberikan petunjuk bagi berbagai sisi kehidupan.
Maka pertanyaan akhirnya bukan sekadar:
“Dari mana konsep Islam berasal?”
Pertanyaan yang lebih dalam adalah:
“Jika konsep ini benar-benar datang dari Allah, bagaimana mungkin manusia yang telah menerimanya kemudian memilih untuk menjalani kehidupan seolah-olah ia adalah penciptanya sendiri?”
Di situlah kerabbanian menuntut konsekuensi.
Jika Allah adalah sumber petunjuk, maka manusia adalah penerima petunjuk.
Jika Allah adalah Pencipta manusia, maka Dia paling mengetahui jalan yang harus ditempuh manusia.
Dan jika jalan itu telah ditunjukkan melalui wahyu, tugas manusia bukan menciptakan jalan baru, melainkan menerima, memahami, menghayati, dan berjalan di atas jalan yang lurus tersebut.
«“Katakanlah: Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus.”
(QS. Al-An‘am [6]: 161)»
Itulah inti kerabbanian: konsep Islam datang dari Allah, dijaga dalam sumbernya, disampaikan melalui Rasul-Nya, diterima oleh hati yang memperoleh hidayah, dan diwujudkan dalam kehidupan manusia.
Link Kami
Beberapa Link Kami yang Aktif