basmalah Pictures, Images and Photos
Our Islamic Story

Pelajaran Kepemimpinan dan Kemanusiaan dari Pembebasan Al-Quds Sejarah sering ka...

Pelajaran Kepemimpinan dan Kemanusiaan dari Pembebasan Al-Quds

Sejarah sering kali menyajikan kontradiksi yang menggugah nalar militer dan filosofis kita. Bagaimana mungkin sebuah pasukan dengan 12 ribu prajurit terlatih mampu melumpuhkan kekuatan raksasa berjumlah 63 ribu orang?

Atau bagaimana seorang penguasa yang memegang kunci kedaulatan Timur justru memasuki kota taklukannya dengan debu di kaki, sembari menuntun unta untuk pembantunya?

Rahasia di balik kemenangan monumental di Palestina tidaklah terkunci pada akumulasi angka, melainkan pada kedalaman strategi, kemuliaan karakter, dan sebuah transformasi ruhaniah yang visioner.


Strategi "Rumput Terbakar" dan Psikologi Medan Perang

Pada 4 Juli 1187, di bawah terik matahari Galilea yang memanggang, Shalahuddin Al-Ayyubi menarik pasukan Salib ke dalam dekapan maut di lembah Hittin.

Shalahuddin memahami bahwa musuhnya bukan sekadar ksatria berbaju besi, melainkan jiwa-jiwa yang terobsesi pada Al-Quds sebagai situs "Makam Nabi Isa a.s." Obsesi inilah yang ia manfaatkan untuk menyeret mereka keluar dari zona nyaman menuju jebakan logistik yang jenius.

Kejeniusan strategi ini terletak pada penguasaan elemen alam. Shalahuddin memastikan pasukannya menguasai seluruh sumber air, meninggalkan musuh dalam kondisi dahaga yang mencekik.

Di tengah hawa panas, ia memerintahkan pembakaran rumput kering di sekitar medan perang. Aroma rumput terbakar dan kepulan asap yang menyesakkan dada menambah beban psikis pasukan lawan yang sudah kepayahan membawa zirah berat. 

Sementara itu, pemanah-pemanah jitu Muslim membayangi dari kejauhan, mengincar satu demi satu tentara yang terpisah dari barisannya. Kemenangan di Hittin adalah manifestasi dari penguasaan psikis dan logistik; sebuah bukti bahwa ketika pikiran lawan telah ditaklukkan oleh keletihan dan keputusasaan, pedang hanyalah penyelesai akhir.


Diplomasi Kerendahan Hati: Umar bin Khattab dan Kunci Yerusalem

Jauh sebelum Shalahuddin, Yerusalem telah menyaksikan sebuah paradoks kekuasaan pada tahun 638 M. Khalifah Umar bin Khattab memasuki kota suci ini bukan dengan kereta kencana, melainkan dengan penampilan yang membuat Uskup Sophronius tertegun.

Sang Khalifah tiba dengan pakaian bersahaja, bergantian menuntun unta dengan pembantunya—sebuah pemandangan yang meruntuhkan arogansi imperialisme masa itu.

Sikap Umar yang paling ikonik terjadi saat waktu shalat tiba ketika ia berada di dalam gereja. Meski Sophronius dengan tulus mempersilahkannya, Umar memilih untuk menolak dengan alasan yang sangat visioner:

"Umar menolak untuk shalat di dalam gereja semata-mata demi menjaga masa depan tempat ibadah tersebut, agar tidak ada umat Islam di masa depan yang mengklaim gereja itu sebagai masjid hanya karena pemimpin mereka pernah shalat di sana."

Tindakan ini menegaskan bahwa karakter pemimpin lebih menentukan keberhasilan diplomasi daripada sekadar kekuatan militer. Umar tidak datang untuk menghapus sejarah, melainkan untuk menjaga martabat kemanusiaan di atas fondasi keadilan.


Pakta Umar: Manifesto Kebebasan Beragama yang Visioner

Keberhasilan Islam di Al-Quds berakar pada "Pakta Umar", sebuah dokumen yang menjadi standar emas toleransi jauh sebelum konsep hak asasi manusia modern lahir.

Kebijakan ini bukan sekadar janji lisan, melainkan kerangka hukum pluralisme yang kemudian diteruskan secara konsisten oleh Shalahuddin Al-Ayyubi.

Beberapa poin krusial yang dijamin dalam pakta tersebut meliputi:

Jaminan Keamanan: Perlindungan mutlak atas jiwa, harta, dan gereja-gereja mereka.

Kebebasan Beribadah: Penduduk dibebaskan menjalankan agama sesuai keyakinan tanpa adanya paksaan untuk berpindah keyakinan (apostasi paksa).

Kebijakan visioner ini melampaui masanya, menciptakan stabilitas sosial di mana perbedaan keyakinan tidak lagi menjadi pemantik peperangan, melainkan harmoni dalam satu naungan hukum yang adil.


Menyucikan yang Ternoda: Lebih dari Sekadar Penaklukan Fisik

Bagi Umar dan Shalahuddin, pembebasan Al-Quds adalah restorasi kesucian, bukan ekspansi wilayah. Salah satu tindakan fisik yang paling bermakna adalah pembersihan area Masjid Al-Aqsa (Kuil Sulaiman).

Selama masa-masa sebelumnya, area suci ini sengaja dijadikan tempat pembuangan sampah untuk menghina kelompok tertentu.

Umar bin Khattab, dengan tangannya sendiri bersama para tentaranya, membersihkan sampah-sampah tersebut. Tindakan fisik ini adalah simbol dari pembersihan nilai-nilai kemanusiaan.

Kepemimpinan mereka hadir untuk memuliakan kembali nilai-nilai keadilan dan spiritualitas yang telah ternoda oleh kebencian. Restorasi ini adalah pesan bahwa keadilan sejati dimulai dari memanusiakan manusia dan menghormati hak-hak ketuhanan mereka.


Jihad sebagai Transformasi Mental dan Sosial

Kemenangan gemilang di Hittin dan Yerusalem tidaklah jatuh dari langit secara tiba-tiba. Ia adalah buah dari sebuah transformasi internal yang radikal.

Sejarah mencatat bahwa Rasulullah SAW menghabiskan 13 tahun di Makkah untuk melakukan pendidikan karakter dan akidah secara mendalam sebelum perintah berperang turun. Tanpa 13 tahun fondasi moral ini, kemenangan militer hanya akan menjadi penindasan baru.

Jihad dalam konteks ini adalah transformasi individu dari kondisi statis menjadi aktif, dan dari egoisme menuju pengorbanan. Sebagaimana ditegaskan dalam risalah suci:

"Wahai orang-orang yang beriman, ruku', sujud dan sembahlah Tuhanmu, lalu lakukanlah kebajikan, mudah-mudahan kamu memperoleh kemenangan. Dan berjihadlah kamu di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu..." (QS. Al-Hajj, 22:76-77).

Kemenangan dalam sejarah Palestina adalah hasil dari perubahan mentalitas umatnya—dari bangsa yang mungkin sebelumnya terlelap dalam materialisme menjadi umat yang mencintai kesyahidan dan nilai-nilai ukhrawi.

Perubahan internal inilah yang memungkinkan mereka memiliki daya tahan yang tak terpatahkan oleh jumlah angka.


Kemenangan sejarah di Al-Quds memberikan kita satu pelajaran besar: bahwa pembebasan sejati adalah kemenangan nilai atas kekuatan fisik semata.

Warisan dari masa kepemimpinan Umar hingga Shalahuddin menekankan bahwa kejayaan membutuhkan dua pilar utama: persiapan "kekuatan perlengkapan" yang mumpuni secara teknis dan ekonomi, serta "ketangguhan moral" yang berakar pada integritas ruhaniah.

Tanpa ketangguhan moral, strategi sehebat apa pun hanya akan melahirkan tirani.

Namun, dengan integrasi antara kecerdasan strategi dan kemuliaan karakter, sejarah telah membuktikan bahwa perubahan besar yang mustahil sekalipun dapat terwujud.

Jika sejarah membuktikan bahwa karakter dan strategi jauh lebih menentukan daripada sekadar angka, perubahan internal apa yang harus kita mulai hari ini?

Jihad: Cara Paling Tepat Membebaskan Palestina  Pertanyaan yang selalu dilontarkan oleh semua orang adalah: "Lalu bagaimana...


Jihad: Cara Paling Tepat Membebaskan Palestina 


Pertanyaan yang selalu dilontarkan oleh semua orang adalah:

"Lalu bagaimana caranya membebaskan Palestina?"

Dan jawabnya adalah: Cara satu-satunya adalah jihad.

Dan jihad yang dimaksudkan di sini bukanlah jihad yang bercorak nasionalis atau kebangsaan, melainkan jihad yang tiada bentuk lain selain yang pernah dikenal ummat kita yang berada di bawah sinar matahari ini, dan yang merupakan perjuangan yang memiliki risalah bagi kehidupan ummat manusia dan peran besar dalam sejarah mereka.

Ia adalah jihad fi sabilillah, suatu bentuk ibadah Islam yang suci yang tidak bisa diganti oleh puasa di siang hari dan shalat pada malamnya, sampai-sampai dalam sebuah hadits Nabi disebutkan bahwa,

"Berdiri anda dengan tegap dalam suatu barisan perang jauh lebih baik ketimbang shalat di rumah selama enam-puluh tahun."

Ia adalah jihad fi sabilillah yang merupakan kewajiban yang diperintahkan kepada ummat Islam sebagaimana perintah untuk shalat, ruku dan sujud. Allah berfirman:

"Wahai orang-orang yang beriman, ruku', sujud dan sembahlah Tuhanmu, lalu lakukanlah kebajikan, mudah-mudahan kamu memperoleh kemenangan. Dan berjihadlah kamu di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu..." (QS, al-Hajj, 22:76-77).

"Berangkatlah kamu, baik dalam keadaan ringan ataupun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui." (QS. at-Taubah, 9:41)

Ia adalah jihad fisabilillah yang dengan itu ummat Islam sebelum ini mampu meraih kemenangan melawan para penyembah berhala, orang-orang Majusi, Nashrani dan Yahudi, lalu sesudah itu berhasil pula meraih kemenangan melawan keganasan orang Tartar dan pasukan Salib.

Ia adalah jihad fi sabilillah yang dengan itu kita mampu memperoleh kemenangan demi kemenangan dalam Perang Badar, Perang Khaibar, Perang Yarmuk, Perang Cadisia, Perang Hiththin, Perang 'Ain Jalut, dan perang-perang lainnya yang membentang hingga ke Aljazair.

Ia adalah jihad fi sabilillah yang semangatnya mampu membuat kecil nyali kaum imperialis yang datang dari luar dan kesewenang-wenangan penguasa di dalam negeri, serta mampu mengatasi kemerosotan moral dan intelektual yang ditiupkan oleh angin puyuh peradaban materialis Barat dengan dukungan liberalisme dan sosialismenya.

Ia adalah jihad yang saat ini dan semenjak beberapa puluh tahun yang lalu telah menjadi kewajiban individual guna mengembalikan pemerintahan Islam di bumi kita dan mempersatukan ummat Islam di bawah kibaran panji al-Qur'an.

Ia adalah jihad yang kini telah diabaikan ummat Islam dan tidak pula disiapkan sarananya, sehingga mereka berhasil dilumatkan musuh di kandang mereka sendiri, lalu Allah pun menimpakan kehinaan kepada mereka sehingga musuh berhasil menancapkan kuku-kuku penjajahannya.

Dan hukum-hukum-nya yang berlaku pada masa lalu, tetap berjalan hingga masa kini, tanpa terkecuali terhadap orang-orang Yahudi, suatu bangsa yang terkenal paling penakut di dunia dan tidak patut dipandang sebelah mata itu.

Karena itu, sungguh benar firman Allah yang berbunyi:

"Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksa yang amat pedih dan diganti-Nya kamu dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat memberi kemudharatan kepada-Nya sedikit pun. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu" (QS, at-Taubah, 9:39)

Ia adalah jihad yang dikumandangkan oleh orang-orang Pakistan dalam perang mereka yang terakhir melawan India yang lebih besar pasukannya dan lebih lengkap persenjataannya, sehingga mereka mampu memperlihatkan sosok yang mengagumkan di mana putra-putra Pakistan menerjuni lautan maut dengan mata tidak berkedip, sampai-sampai terbetik berita bahwa karena keimanan mereka yang demikian tinggi, suatu ghairah yang mampu mengubah ummat dari kondisi yang statis menjadi aktif dan dinamis, dari egoisme menuju pengorbanan, dari ummat yang loyo dan lelap menjadi ummat yang cinta kesyahidan dan rela menyongsong maut di jalan Allah, dari ummat yang hanya bisa membunuh waktu dan dirinya sendiri menjadi ummat yang sanggup membunuh musuh-musuhnya, dan dari ummat yang cinta harta dan takut mati menjadi ummat yang rela mengorbankan nyawanya demi kehidupan yang kekal di akhirat.

Ummat yang hidup untuk berjihad, tidak bisa tidak, pasti mengalami perubahan dalam semua aspek kehidupannya: politik, ekonomi, pendidikan, etika dan moral, kesadaran dan perilaku, persepsi dan konsepsi, sistem dan organisasi, adat dan tradisi.

Semuanya itu harus mengalami perubahan agar bisa memenuhi tuntutan jihad dan risalahnya.

Karena adanya tujuan-tujuan tertentu, maka Rasulullah saw selama tiga belas tahun berdiam di Makkah dan di situ turun sebanyak sembilan puluh surat al-Qur'an yang missinya tak lain adalah untuk mendidik jama'ah muslimah dan secara radikal mengubah pola hidup mereka dari kejahiliyahan menuju Islam, baik itu kejahiliyahan dalam akidah, moral dan perilaku maupun kejahiliyahan dalam konsepsi, menuju akidah moral dan perilaku Islam.

Semuanya itu terjadi sebelum ayat-ayat yang berkenaan dengan perintah berperang dan seruan berjihad di jalan Allah.

Maka di saat turun firman Allah yang berbunyi,

"Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah di aniaya. Dan sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu" (QS, al-Hajj, 22:39)

Lalu berduyun-duyunlah prajurit-prajurit Allah dengan patuh menuju medan perang tanpa ada pikiran lain dalam hati mereka kecuali kemenangan atau surga.

Selain itu, jihad juga membutuhkan suatu titik-tolak untuk menuju satu bumi di mana berhala-berhala dihancurkan dan pengabdian semata-mata ditujukan kepada Allah SWT. 

Pada masa Rasulullah saw, kota Madinah merupakan bumi yang dijanjikan dan landasan yang telah dipersiapkan, yang dari situ bergerak kebenaran untuk melumat kebatilan, dan dari situ pula muncul sinar ketauhidan guna membebaskan ummat manusia dari perbudakan sesama manusianya dan mengibarkan panji Allah guna meng-ungguli panji-panji thaghut.

Bertolak dari sini maka kita wajib memiliki jangkauan pemikiran yang jauh guna mempersatukan ummat untuk berjihad dalam bentuknya yang baru sama sekali, yakni kekuatan dalam perlengkapan, baik senjata maupun ekonomi dan ketangguhan dalam nilai-nilai ruhaniah dan moral.


Mencari Tuhan di Labirin Akal: Bagaimana Pemikiran Barat Tersesat dalam Pencariannya Sendiri ...


Mencari Tuhan di Labirin Akal: Bagaimana Pemikiran Barat Tersesat dalam Pencariannya Sendiri



Sejarah intelektual Barat adalah sebuah epik pelarian yang dramatis sekaligus tragis. Ia bermula dari upaya masif untuk menjauh dari bayang-bayang Gereja—sebuah institusi yang pada masanya dianggap telah mencampuradukkan kebenaran ilahi dengan dogma manusiawi dan hasil konsili yang susul-menyusul.

Bagi para pemikir saat itu, percampuran antara otoritas ketuhanan dengan kepentingan kekuasaan adalah sesuatu yang "memuakkan." Namun, pelarian ini bukanlah perjalanan menuju pelabuhan kepastian; ia adalah awal dari pengembaraan di dalam labirin akal yang menyebabkan manusia mengalami vertigo intelektual.

Eropa, dalam usahanya menyelamatkan diri dari apa yang mereka sebut sebagai "teka-teki metafisik" agama, justru terperosok ke dalam serangkaian berhala baru. 

Mereka melarikan diri dari satu misteri menuju misteri lain yang lebih membingungkan. Alih-alih menemukan kebenaran hakiki, mereka justru menciptakan "tuhan-tuhan" baru dalam bentuk konsep filosofis yang abstrak, yang sering kali hanyalah rekaan pikiran tanpa pijakan pada realitas yang nyata.


Rasionalisme-Idealisme: Memahkotai Akal di Atas Takhta Kosong

Sebagai respons terhadap dominasi agama, lahirlah Rasionalisme-Idealisme yang dipelopori oleh tokoh-tokoh seperti Fichte dan Hegel.

Di sini, "Akal" diproklamasikan sebagai otoritas tertinggi, menggantikan posisi Tuhan tradisional. Namun, di balik proklamasi yang gagah ini, tersimpan kerapuhan yang nyata.

Meskipun memuja Akal, para filsuf ini sebenarnya tidak mampu mendefinisikan apa yang mereka sembah.

Di manakah Akal ini terletak? Bagaimana hukum-hukumnya bekerja secara pasti?

Apakah ia memiliki tabiat yang tetap atau sekadar kesan yang berubah-ubah? 

Pertanyaan-pertanyaan fundamental ini tetap menjadi teka-teki yang tak terjawab bahkan hingga abad kedua puluh.

Mereka memuja sebuah otoritas yang tidak mereka pahami karakteristiknya, menjadikan langkah ini sebagai upaya penyelamatan diri yang justru melahirkan ketidakpastian baru.


Perangkap "Aku" Milik Fichte: Realita dalam Pasungan Rekaan

J.G. Fichte membawa idealisme ini ke wilayah yang sangat ekstrem melalui konsep tripartite (Aku vs Bukan-Aku). Baginya, segalanya bermula dari "Aku". Ia menciptakan logika senam pikiran di mana dunia luar hanyalah proyeksi dari subjek.

"Apabila manusia berkonsep tentang dirinya, yaitu apabila 'aku' membuat konsep tentang 'aku', maka muncullah kesimpulan bahwa 'aku' adalah 'aku' dan yang 'bukan aku' adalah 'bukan aku'."

Fichte mengeklaim bahwa wujud "Bukan-Aku" sebenarnya terkandung di dalam wujud "Aku yang sejati." Dengan kata lain, segala sesuatu yang kita anggap sebagai alam semesta hanyalah "produk" atau "kerja si Aku." 

Secara kritis, kita harus bertanya: realitas apa yang membenarkan bahwa dunia luar tidak ada dan hanya merupakan rekaan pikiran? Ini adalah bentuk pengkultusan diri yang absurd; sebuah halusinasi filosofis yang tidak didukung oleh kehidupan manusia yang realistis.

Fichte tidak berinteraksi dengan realitas, ia hanya membangun menara gading dari opininya sendiri.

Dialektika Hegel: Menemukan "Tuhan" yang Terasing

Jika Fichte terjebak dalam diri sendiri, G.W.F. Hegel mencoba membawa konsep ketuhanan kembali melalui proses Thesis, Antithesis, dan Synthesis. Hegel menggambarkan adanya "Akal Mutlak" yang bersifat personal dan eternal, yang ada sebelum alam diciptakan.

Bagi Hegel, alam adalah "Antithesis"—sebuah bentuk keluarnya gagasan dari daerah asalnya yang murni menuju dunia yang terbagi-bagi dan berserakan

 Dalam pandangan ini, alam seolah-olah adalah "Tuhan yang sedang terasing" atau "Tuhan yang sedang dalam perjalanan pulang" menuju dirinya sendiri. 

Melalui proses dialektika, gagasan yang terikat di alam berusaha kembali mencapai kemanunggalan menjadi "Akal Murni." Di sini, Hegel mencoba mendukung gagasan ketuhanan, namun ironisnya, ia justru menjadikan proses berpikir manusia sebagai tuhan itu sendiri.

Tuhan bukan lagi Sang Pencipta yang melampaui ciptaan, melainkan sebuah proses dialektika pemikiran yang terus bergerak.


Ironi Positivisme: Menyembah "Tuhan" yang Musnah dan Menjelma

Ketika kaum positivis menolak "tuhan" versi Gereja dan "tuhan" versi akal, mereka justru jatuh menyembah Alam atau Materi. Namun, penyembahan ini penuh dengan inkonsistensi ilmiah dan logika yang rapuh:

Pencipta yang Tak Terdefinisi: Jika alam yang menciptakan akal, apakah alam memiliki kemauan bebas untuk memilih siapa yang diberi kecerdasan?

Diskriminasi Intelektual: Mengapa alam hanya melukiskan hakikat pada akal manusia?

Apakah alam juga melukiskan hakikat yang sama pada akal baghal (mule), keledai, beo, dan monyet?

Jika alam adalah sumbernya, mengapa ada perbedaan drastis antara akal seorang Auguste Comte dengan akal seekor binatang?

Paradoks Materi: Mereka menyembah materi sebagai sesuatu yang tetap, padahal materi senantiasa berubah: dari energi menjadi atom, dari atom menjadi massa, dan kembali lagi.

"Tuhan" mereka adalah tuhan yang musnah saat menjelma dan menjelma saat musnah—sebuah fondasi yang terlalu goyah untuk sebuah kebenaran.

Bagaimana mungkin alam dianggap sebagai pencipta akal, sementara hakikat alam itu sendiri hanya bisa tampak dan tertangkap melalui keberadaan akal manusia?

 Ini adalah lingkaran setan pemikiran yang tak berujung.


Reduksionisme Karl Marx: Mendekam dalam Kubangan Ekonomi

Puncak dari "penjara" pemikiran ini ada pada Karl Marx dan Friedrich Engels. Mereka melakukan reduksi yang sangat kerdil terhadap keagungan hidup manusia. Seluruh motivasi, sejarah, dan martabat manusia diciutkan hanya menjadi persoalan ekonomi dan alat produksi.

Muncul rasa "kejijikan" intelektual ketika kita melihat bagaimana keharmonisan alam semesta yang agung ini diabaikan begitu saja demi konsep yang mendekam dalam "kubangan ekonomi."

Bagi mereka, ekonomi dan alat produksi telah beralih fungsi menjadi "Sebab Pertama" (First Cause)—sebuah tuhan baru yang mengendalikan seluruh nafas kehidupan. Manusia tidak lagi dipandang sebagai makhluk mulia dengan potensi spiritual, melainkan sekadar sekrup kecil dalam mesin produksi yang dingin.


Sintesis: Kembali ke Cahaya Rabbani

Kekacauan pemikiran Barat ini adalah konsekuensi dari pelarian yang salah arah: lari dari penyimpangan Gereja menuju penyembahan akal yang liar. 

Kontras dengan krisis identitas tersebut, Islam menawarkan konsep Rabbani yang tetap terjaga kemurniannya. Islam tidak memusuhi akal, namun ia menempatkan akal pada posisi yang terhormat namun proporsional.

Dalam konsep Rabbani, akal bukanlah "Tuhan," melainkan sebuah alat kemuliaan untuk menjalankan mandat Kekhalifahan (Vicegerency).

Akal diberikan medan yang sangat luas untuk menyelidiki rahasia materi dan alam semesta, namun ia tetap bekerja dalam bingkai wahyu yang terjaga.

Dengan wahyu, akal tidak akan kehilangan arah atau terjebak dalam rekaan-rekaan yang absurd. Solusi bagi krisis pemikiran modern bukanlah dengan membuang akal, melainkan dengan menjaga kemandirian akal di bawah naungan cahaya wahyu ilahi.


Pertanyaan Renungan: Jika akal kita hanyalah produk dari alam yang buta dan materi yang selalu musnah-menjelma, sejauh mana kita bisa mempercayai kebenaran yang dihasilkan oleh akal itu sendiri?

Albert Einstein dan Tokoh Yahudi: Israel Menghancurkan Yahudi  Nama Albert Eins...


Albert Einstein dan Tokoh Yahudi: Israel Menghancurkan Yahudi 


Nama Albert Einstein hampir selalu menjadi personifikasi dari kebijaksanaan, kemanusiaan, dan perdamaian universal. Namun, sejarah sering kali menyapukan kuas yang terlalu lebar, menutupi sisi politik sang fisikawan yang paling provokatif: penolakannya yang keras terhadap fondasi ideologis pendirian negara Israel. Jauh sebelum bendera dikibarkan pada Mei 1948, sang pemikir terbesar abad ke-20 ini telah mengendus adanya aroma "bencana" yang tersembunyi di balik euforia nasionalisme. 

Baginya, sebuah entitas politik yang lahir dari rahim kekerasan bukanlah sebuah kemenangan sejarah, melainkan benih kehancuran moral yang fatal.


Ramalan "Bencana Nyata" Einstein (1948)

Tepat satu bulan sebelum proklamasi kemerdekaan Israel, pada 10 April 1948, Einstein mengirimkan sebuah korespondensi singkat namun mengguncang kepada Shepard Rifkin, Direktur Eksekutif American Friends of the Fighters for the Freedom of Israel.

Dalam surat yang hanya terdiri dari sekitar 50 kata tersebut, Einstein tidak basa-basi. Ia langsung menunjuk hidung pihak-pihak yang dianggapnya menyesatkan dan kriminal.

Einstein menegaskan bahwa ada dua poros yang akan bertanggung jawab atas malapetaka di Palestina: kebijakan Inggris dan "organisasi teroris" yang muncul dari internal barisan Yahudi sendiri.

"Ketika bencana nyata dan terakhir menimpa kita di Palestina, yang pertama bertanggung jawab atas hal itu adalah Inggris dan yang kedua bertanggung jawab untuk itu, organisasi teroris yang dibangun dari barisan kita sendiri."

Bagi Einstein, gerakan ini bukan sekadar strategi militer, melainkan sebuah penyimpangan yang akan membawa komunitas Yahudi menuju jurang kehancuran. 

Ketidaksukaannya begitu mendalam sehingga ia kemudian menolak tawaran menjadi Presiden Israel pada 1952, tetap teguh pada keyakinannya bahwa Israel terbentuk dari "laras senjata, dinamit, dan darah orang-orang Palestina."


Kritik Terhadap Fasisme dan "Partai Nazi" di Israel

Kegelisahan Einstein bukan sekadar luapan emosi pribadi, melainkan sebuah posisi politik yang kolektif.

Pada 4 Desember 1948, ia bersama 29 intelektual terkemuka Amerika Serikat menerbitkan surat terbuka di The New York Times dengan tajuk yang tajam: "New Palestine Party: Visit of Menachem Begin and Aims of Political Movement Discussed".

Surat ini ditulis sebagai protes atas kunjungan Menachem Begin ke Amerika Serikat. Einstein dan rekan-rekannya secara eksplisit menyamakan Partai Herut (Partai Kebebasan) yang dipimpin Begin dengan organisasi Nazi dan fasis. Mereka menyoroti bahwa organisasi, filosofi politik, dan daya tarik sosial partai tersebut adalah manifestasi terbaru dari fasisme yang justru baru saja dikalahkan dunia dalam Perang Dunia II.

Para tokoh ini memperingatkan bahwa dukungan AS terhadap gerakan ini hanya akan memperkeruh situasi, mengganggu eksistensi rakyat Palestina, dan pada akhirnya menodai martabat kemanusiaan itu sendiri.


"Dejudaisasi": Ketika Agama Menjadi Nasionalisme Buta

Puluhan tahun setelah peringatan Einstein, gema kegelisahan yang sama muncul dari koridor akademik Israel. 

Pada 8 Juni 1982, di tengah berkecamuknya invasi ke Lebanon, Profesor Benjamin Cohen dari Universitas Tel-Aviv menulis surat emosional kepada Profesor Vidal-Naquet yang kemudian dipublikasikan oleh harian Le Monde pada 19 Juni 1982.

Cohen mengecam penggunaan retorika "perdamaian" oleh pemerintah—khususnya Menachem Begin dan Ariel Sharon—sebagai justifikasi atas agresi militer yang barbar. Ia menyebut propaganda ini sebagai "kebohongan yang setara dengan Goebbels."

Di titik inilah, Cohen memperkenalkan konsep "dejudaisasi." Baginya, keberhasilan Zionisme dalam membangun kekuatan militer justru menjadi kegagalan spiritual yang tragis bagi identitas Yahudi.

"Sukses terbesar dari Zionisme hanya ini: 'dejudaisasi' orang-orang Yahudi... penghancuran final orang-orang Palestina sebagai bangsa dan penghancuran orang-orang Israel sebagai manusia."

Bagi Cohen, ketika kaum Yahudi yang secara historis merupakan "putra-putra Abraham" dan penyintas kekejaman justru berbalik menjadi pelaku kekejaman, mereka kehilangan esensi kemanusiaan mereka.

Ini adalah pertarungan antara "Keimanan Yahudi" yang berakar pada tradisi kenabian melawan "Nasionalisme Zionis" yang bersifat kesukuan dan eksklusif.


Mitos Superioritas dan "Kemabukan" Nasionalisme

Nasionalisme Zionis, menurut para pengamat kritis, telah terjebak dalam "kemabukan" kolektif yang serupa dengan gerakan nasionalisme radikal lainnya di dunia.

Klaim sebagai "Rakyat Tuhan" digunakan untuk melegitimasi penindasan, sebuah pola yang mirip dengan doktrin Gesta Dei per Francos di Prancis, semboyan Gott mit uns di Jerman, hingga rasisme sistematis apartheid di Afrika Selatan.

Eksklusivisme ini mencapai puncaknya dalam klaim-klaim intelektual yang berbahaya. Profesor André Neher, dalam bukunya L'Essence du Prophétisme, sempat terjebak dalam romantisme ini dengan menulis bahwa "Israel adalah poros, saraf, dan jantung dunia." 

Pernyataan semacam ini segera memicu kritik karena dianggap membangkitkan kembali "Mitos Arya" yang menjadi landasan ideologis Pan-Germanisme dan Hitlerisme.

Ketika sebuah bangsa merasa memiliki kedudukan metafisika yang lebih tinggi dari bangsa lain, ruang dialog tertutup rapat. 

Eksklusivisme rasial dan klaim persekutuan eksklusif dengan Tuhan membuat tokoh-tokoh seperti Menachem Begin tidak mungkin mendengar suara "liyan".

 Dalam paradigma ini, dialog dianggap sebagai kelemahan, dan perang menjadi satu-satunya instrumen yang tersisa.


Pola Penolakan terhadap Kebenaran: Belajar dari Abdullah bin Salam

Mengapa suara-suara jernih dari Einstein, Cohen, hingga Leibowitz sering kali dianggap sepi atau bahkan dikriminalisasi?

Hal ini tak lepas dari apa yang disebut sebagai "inkuisisi intelektual" yang dilancarkan oleh lobi-lobi politik untuk membungkam kritik internal. 

Pola sosiologis ini telah lama terekam dalam sejarah, salah satunya dalam kisah Abdullah bin Salam (Husein bin Salam), seorang ulama Yahudi terkemuka di Madinah.

Sebagaimana dicatat oleh Dr. Adian Husaini, Abdullah bin Salam awalnya dipuja oleh kaumnya sebagai orang yang paling alim dan mulia.

Namun, seketika setelah ia mengakui kebenaran di luar doktrin kelompoknya, pujian itu berubah menjadi caci maki. Ia dituduh sebagai "sejahat-jahatnya manusia" hanya karena ia memilih kesetiaan pada kebenaran universal di atas loyalitas kesukuan yang buta.

Sifat "degil"—susah menerima kebenaran meskipun bukti sudah terpampang nyata—menjadi penghalang bagi sebuah bangsa untuk berefleksi.

Kritik dari para intelektual Yahudi sendiri sering kali dianggap sebagai pengkhianatan terhadap "nasionalisme kesukuan," sehingga peringatan-peringatan moral yang mereka sampaikan sering kali hanya menjadi angin lalu di tengah kemabukan kekuasaan.


Peringatan yang disampaikan Albert Einstein, Benjamin Cohen, dan André Neher bukan lahir dari kebencian, melainkan dari cinta yang mendalam terhadap nilai-nilai moral yang menjadi akar identitas mereka.

Mereka khawatir bahwa pembangunan sebuah negara yang hanya mengandalkan superioritas rasial dan kekerasan militer akan berujung pada "bencana nyata"—sebuah kehancuran yang tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga kehancuran jiwa bangsa tersebut.

Apakah sebuah bangsa bisa bertahan lama jika ia didirikan di atas prinsip yang justru ditentang oleh para pemikir terbesarnya sendiri?

Perlawanan Petinggi Yahudi Terhadap Zionisme Israel Tidak jarang telontar peringatan setiap kali terjadi pelanggaran terhadap hu...


Perlawanan Petinggi Yahudi Terhadap Zionisme Israel

Tidak jarang telontar peringatan setiap kali terjadi pelanggaran terhadap hukum internasional oleh Israel.

Di sini hanya disebutkan dua contoh yang telah diteriaki dengan keras, sebagaimana yang direnungkan oleh jutaan orang Yahudi, tetapi tanpa kekuasaan untuk mengungkapkannya di depan umum akibat inkuisisi intelektual yang dilancarkan oleh lobi israelo-Zionis.

Pada saat dilangsungkan proses pengadilan terhadap Eichman pada tahun 1960 di Jerusalem, American Council for Judaism menyatakan,

"Dewan Judaisme Amerika telah mengirimkan surat kepada Christian Herter supaya menolak pemerintah Israel untuk berbicara atas nama seluruh orang Yahudi. Dewan menyatakan bahwa Judaisme adalah masalah keagamaan, bukan kewarganegaraan." (Le Monde, 21 Juni 1960)

Saat berlangsungnya invasi Israel ke Lebanon, Profesor Benjamin Cohen dari Universitas Tel-Aviv, pada tanggal 8 Juni 1982, menulis kepada Profesor Vidal-Naquet,

"Saya menulis surat untuk Anda sambil mendengarkan radio yang baru saja mengumumkan bahwa negara kita baru saja mencapai tujuan kita di Lebanon: menjamin 'perdamaian' terhadap penduduk Galilea. Kebohongan yang setara dengan Goebbels ini membuat saya gila. Jelas bahwa perang liar ini lebih barbar dari yang sebelumnya, tidak ada hubungannya sama sekali dengan serangan bom di London ataupun dengan keamanan di Galilea. Orang-orang Yahudi, putra Abraham. Orang-orang Yahudi sendiri yang merupakan korban dari banyak kekejaman, dapatkah mereka menjadi sekejam itu? Sukses terbesar dari Zionisme hanya ini: 'dejudaisasi' orang-orang Yahudi.

Kawanku, lakukan sesuatu untuk mencegah Begin dan Sharon supaya tidak mencapai tujuan ganda: penghancuran final (kata-kata yang sangat populer di sini saat ini) orang-orang Palestina sebagai bangsa dan penghancuran orang-orang Israel sebagai manusia." (Surat yang di-publikasikan dalam harian Le Monde, 19 Juni 1982, hlm. 2)

"Profesor Leibowitz menilai bahwa politik Israel di Lebanon termasuk Judeo-Nazi." (Yediot Aharonoth, 2 Juli 1982)

Itulah masalah yang timbul dari pertarungan antara keimanan Yahudi yang berdasarkan tradisi kenabian dan nasionalisme Zionis, yang didirikan atas dasar penolakan terhadap yang lain dan penyucian diri sendiri.

Semua nasionalisme membutuhkan penyucian terhadap tuntutan-tuntutannya: setelah terjadi dislokasi agama Kristen, setiap negara menganggap telah menerima warisan suci dan telah menerima pelantikan dari Tuhan.

Prancis adalah "Putri Sulung Gereja (Vatican)" yang dilengkapi dengan aksi Tuhan (Gesta Dei per Francos). Jerman berada "di atas semuanya" karena Tuhan bersamanya (Gott mit uns). Eva Peron memproklamirkan bahwa misi Argentina adalah membawa Tuhan ke bumi.

Pada tahun 1972, Perdana Menteri Afrika Selatan, Vorster, yang terkenal dengan rasisme liar "apartheid", pada gilirannya berkata, "Jangan kita lupa bahwa kita adalah rakyat Tuhan yang dibekali dengan satu misi...." Nasionalisme Zionis juga berbagi kemabukan ini dengan seluruh nasionalisme lainnya.

Orang yang cerdas sekalipun membiarkan dirinya tergoda oleh "kemabukan" ini.

Bahkan, orang yang seperti Profesor André Neher sekalipun, dalam bukunya yang indah, L'Essence du Prophétisme Esensi Kenabian', terbitan Calmann-Levi, 1992, hlm. 331, setelah menjelaskan dengan baik arti universal dari "Persekutuan":  Persekutuan Tuhan dengan manusia, ia, sampai menulis,

 "Israel adalah sebuah tanda luar biasa dari sejarah Ilahiah di dunia. Israel adalah poros, saraf, dan jantung dunia." (hlm. 311)

Pembicaraan yang demikian membangkitkan dengan marah "mitos Arya yang ideologinya adalah dasar dari Pan-Germanisme dan Hitlerisme. Dalam jalur ini, kita berada di antipoda dari ajaran nabi-nabi dan dari buku tulisan Martin Buber, Je et Tu 'Saya dan Kamu', yang mengesankan.

Eksklusivisme melarang dialog: kita tidak dapat "berdialog", baik dengan Hitler maupun Begin, karena superioritas rasial dan persekutuannya dengan Tuhan, tidak memungkinkan mereka mendengar orang lain.

Hal ini karena kami mempunyai kesadaran bahwa pada masa kini tidak ada pilihan lain kecuali dialog atau perang, dan bahwa dialog seperti apa yang telah kami ulang-ulangi, bahwa setiap orang memiliki kesadaran terhadap apa yang kurang pada keimanannya, dan setiap orang membutuhkan orang lain untuk melengkapi apa yang kosong dalam dirinya. Kekosongan ini merupakan kondisi yang melampaui segalanya dan dari segala nafsu yang cepat puas (yang merupakan nyawa dari segala keimanan hidup).

Antologi kami mengenai kejahatan yang dilakukan orang Zionis, terletak dalam perpanjangan usaha-usaha dari orang-orang Yahudi yang telah berupaya untuk membela satu Judaisme kenabian melawan satu Zionisme kesukuan.

Apa yang menjadi sumber energi antisemitisme bukan berasal dari kritik politik agresi, politik kebohongan, ataupun darah Zionisme Israel.

Akan tetapi dukungan tak bersyarat atas politik ini yang mengambil beberapa hal saja dari tradisi Judaisme berdasarkan interpretasi harfiah kitab suci, dalam rangka menjustifikasikan politik ini dan mengangkatnya di atas segala hukum inter nasional dengan cara mengkeramatkannya melalui mitos-mitos kemarin dan mari ini.

Perang Lebanon 1982: Lahirnya Perlawanan yang Lebih Kuat Terhadap Zionisme Israel  ...


Perang Lebanon 1982: Lahirnya Perlawanan yang Lebih Kuat Terhadap Zionisme Israel 

Pada 6 Juni 1982, Israel meluncurkan invasi militer masif ke Lebanon dengan kode puitis "Operasi Perdamaian untuk Galilea." Nama tersebut membawa janji pasifikasi yang menggiurkan bagi publik Israel yang lelah akan teror: sebuah intervensi singkat untuk mendorong mundur gerilyawan Palestina sejauh 40 kilometer demi menjamin "40 tahun perdamaian."

Namun operasi ini adalah studi kasus klasik tentang bagaimana sebuah fait accompli militer dapat menyeret sebuah negara ke dalam quagmire atau rawa politik yang tak berujung.

Diskrepansi antara retorika perdamaian dan realitas eskalasi ini segera terungkap. Apa yang dipromosikan sebagai operasi terbatas dengan cepat bermutasi menjadi invasi penuh yang mengepung Beirut, memicu konfrontasi udara terbesar di era jet, dan pada akhirnya mengubah peta konflik Timur Tengah selamanya.

Di balik narasi heroik dan debu pertempuran, tersimpan realitas-realitas tajam yang sering kali terabaikan oleh sejarah arus utama.


Tragedi Logika: Menghukum PLO atas Dosa Musuh Bebuyutannya

Setiap perang besar membutuhkan pretext atau alasan pembenaran. Dalam kasus ini, pemicunya adalah upaya pembunuhan Shlomo Argov, Duta Besar Israel untuk Inggris, di London.

Secara politik, pemerintah Menachem Begin segera menuding Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) sebagai dalang di balik serangan tersebut.

Namun, sejarah intelijen mengungkapkan sebuah ironi yang gelap: serangan itu dilakukan oleh kelompok Abu Nidal—faksi radikal yang merupakan musuh bebuyutan Yasser Arafat.

Faktanya, intelijen Inggris melaporkan bahwa para pemimpin PLO sendiri berada dalam "daftar target" Abu Nidal. Menyerang PLO atas tindakan Abu Nidal adalah sebuah paradoks logika yang disengaja. 

Menteri Pertahanan Ariel Sharon menggunakan insiden ini sebagai "percikan yang menyulut sumbu" untuk mengaktifkan rencana "Big Pines"—sebuah rencana invasi luas hingga jalan raya Beirut-Damaskus yang sebelumnya sempat ditolak oleh kabinet karena dianggap terlalu ambisius.

Sharon memanipulasi situasi sedemikian rupa sehingga operasi yang seolah-olah terbatas berkembang menjadi perang total untuk menghancurkan infrastruktur politik Palestina.

"Serangan itu hanyalah percikan yang menyulut sumbu." — Ariel Sharon


Superioritas Teknologi: Ketika Bekaa Mengguncang Tirai Besi

Di medan tempur, Perang Lebanon 1982 menjadi ajang unjuk gigi supremasi teknologi Barat yang secara tak terduga berkontribusi pada keruntuhan mental blok Soviet.

Melalui Operation Mole Cricket 19, Angkatan Udara Israel (IAF) melakukan penghancuran sistematis terhadap 29 baterai rudal SAM Suriah di Lembah Bekaa menggunakan teknik electronic warfare (perang elektronik) yang canggih untuk mengacaukan radar musuh.

Dunia menyaksikan pertempuran udara terbesar di era jet, melibatkan lebih dari 150 pesawat tempur. Hasilnya sangat timpang: IAF menjatuhkan antara 82 hingga 86 jet tempur Suriah tanpa kehilangan satu pun pesawat di udara.

Di darat, tank Merkava Israel memulai debutnya dengan klaim keunggulan atas T-72 buatan Soviet. Meski analis militer mencatat bahwa T-72 Suriah sempat memberikan perlawanan tangguh dan menghentikan laju Israel di Rashaya, kekalahan total teknologi pertahanan udara Soviet di Bekaa sangat mengguncang Moskow.

Mantan komandan IAF David Ivri mencatat bahwa dominasi teknologi ini menjadi faktor krusial yang mengubah pola pikir pemimpin Uni Soviet, mendorong kebijakan Glasnost, dan mempercepat berakhirnya Perang Dingin.


Bumerang Strategis: Vakum Kekuasaan dan Ekspor Revolusi Iran

Salah satu hukum besi geopolitik adalah bahwa intervensi militer sering kali menghasilkan konsekuensi yang tidak disengaja. Tujuan utama Israel adalah mengusir PLO dari Lebanon, dan secara taktis, mereka berhasil.

Namun, pengusiran Arafat ke Tunisia menciptakan kekosongan kekuasaan di wilayah Lebanon Selatan yang mayoritas penduduknya adalah Syiah.

Kekosongan ini segera diisi oleh kekuatan baru yang jauh lebih ideologis dan tangguh. Pada Juli 1982, Pasdaran (Garda Revolusi Iran) tiba di Lembah Bekaa untuk memberikan pelatihan gerilya, pendanaan, dan doktrin militer. Dari rahim pendudukan ini, lahirlah Hizbullah.

 Jika PLO adalah musuh nasionalis sekuler yang relatif bisa diprediksi, Hizbullah adalah entitas Islamis yang menggunakan taktik perang asimetris dan bom bunuh diri—seperti yang terlihat dalam kehancuran markas besar IDF di Tyre.

Invasi ini secara tidak sengaja justru mengimpor revolusi Iran ke depan pintu utara Israel, menciptakan musuh bebuyutan yang hingga kini tetap menjadi tantangan strategis terbesar mereka.


Retaknya Konsensus: Suara dari Pinggir Jurang Maut

Perang 1982 adalah titik balik di mana konsensus nasional Israel mengenai "perang demi keberlangsungan" mulai retak. 

Sejak awal, oposisi di Knesset telah memperingatkan bahaya dari ambisi Sharon. Anggota Knesset Meir Vilner dari partai Hadash menyatakan dengan pahit bahwa pemerintah sedang membawa Israel menuju "jurang maut" yang akan menimbulkan penyesalan bagi generasi mendatang.

Kekecewaan publik mencapai puncaknya setelah pembantaian warga sipil di kamp Sabra dan Shatila oleh milisi Phalangis Kristen di bawah pengawasan posisi-posisi tentara Israel. 

Tragedi ini memicu "Rally 400.000" di Tel Aviv, sebuah demonstrasi masif yang menuntut tanggung jawab moral. Investigasi oleh Komisi Kahan akhirnya menyimpulkan bahwa Ariel Sharon memikul "tanggung jawab pribadi" karena gagal mencegah pembantaian tersebut, yang berujung pada pengunduran dirinya sebagai Menteri Pertahanan.

Perang ini mengubah lanskap sosial Israel, menciptakan pembelahan tajam antara kelompok militeris dan gerakan perdamaian yang bertahan hingga dekade-dekade berikutnya.


Runtuhnya Arsitektur Politik: Akhir Ambisi Aliansi Maronit

Strategi jangka panjang Israel di Lebanon sangat bergantung pada satu sosok: Bachir Gemayel, pemimpin milisi Maronit yang pro-Israel.

Rencana besar Sharon adalah memasang Gemayel sebagai Presiden Lebanon untuk kemudian menandatangani perjanjian damai formal dan mengusir pengaruh Suriah. 

Namun, arsitektur politik yang dipaksakan melalui kekuatan senjata ini terbukti sangat rapuh.

Hanya beberapa hari setelah terpilih sebagai Presiden, Gemayel terbunuh dalam sebuah ledakan bom pada September 1982. Kematiannya menghancurkan seluruh rencana strategis Israel.

Meskipun Perjanjian 17 Mei 1983 sempat ditandatangani untuk mengakhiri status perang, dokumen tersebut akhirnya dibatalkan oleh pemerintah Lebanon di bawah tekanan berat dari Suriah.

Israel gagal menanamkan pemimpin boneka, dan Lebanon justru jatuh ke dalam pengaruh rezim Assad yang lebih dalam daripada sebelumnya.


Perang Lebanon 1982 berakhir dengan catatan korban yang mengerikan: 19.085 tewas dan lebih dari 30.000 luka-luka. Angka-angka ini menjadi saksi bisu atas kegagalan mengubah kemenangan taktis menjadi perdamaian strategis.

Operasi yang dijanjikan selesai dalam hitungan hari justru menyeret Israel dalam pendudukan selama 18 tahun, hingga penarikan terakhir pada tahun 2000.

Sejarah ini meninggalkan pertanyaan reflektif yang tetap relevan di era modern: Apakah keamanan sebuah bangsa benar-benar bisa dibeli dengan invasi ke kedaulatan tetangganya?

Dan ketika sebuah kekuatan militer mencoba mendikte realitas politik melalui senjata, apakah mereka sedang membangun perdamaian, atau justru sedang menanam benih-benih konflik yang lebih berdarah bagi generasi mendatang?

Palestina dan Berdirinya Kesultanan Cirebon dalam Babad Cirebon dan Purwaka Caruban Nagari ...


Palestina dan Berdirinya Kesultanan Cirebon dalam Babad Cirebon dan Purwaka Caruban Nagari


Hubungan mendalam antara Indonesia dan Palestina ternyata telah mengakar kuat dalam literatur sejarah tradisional nusantara jauh sebelum era modern. Melalui naskah kuno seperti Babad Cirebon dan Purwaka Caruban Nagari, terungkap silsilah Sunan Gunung Jati yang diyakini memiliki garis keturunan dari wilayah tersebut. 

Selain itu, Sunan Kudus secara simbolis menghadirkan nuansa Baitul Maqdis di Jawa Tengah dengan mendirikan Masjid Al-Aqsa dan mengganti nama wilayahnya menjadi Al-Quds. 

Berbagai catatan sejarah ini menunjukkan bahwa solidaritas bangsa Indonesia terhadap Palestina didasarkan pada ikatan emosional, spiritual, dan budaya yang sangat panjang. 

Cerita rakyat ini tidak hanya mempererat hubungan keagamaan, tetapi juga mengintegrasikan identitas Palestina ke dalam memori kolektif masyarakat lokal melalui akulturasi arsitektur dan sejarah kerajaan.


Hubungan emosional dan solidaritas bangsa Indonesia terhadap Palestina memiliki akar sejarah yang sangat dalam, bahkan jauh sebelum berdirinya negara Indonesia modern. 

Kedekatan ini terekam dalam berbagai literatur historiografi tradisional (seperti Babad, Hikayat, dan Sajarah) yang mengaitkan tokoh-tokoh penyebar Islam di Jawa (Walisongo) dengan tanah Palestina atau Baitul Maqdis. 

Hal ini terbukti melalui naskah kuno Cirebon yang menghubungkan silsilah Sunan Gunung Jati dengan wilayah "Filistin" (Palestina).

Hubungan emosional ini tampak semakin kuat di Jawa Tengah melalui Sunan Kudus (Ja'far Shadiq), yang secara sengaja menghadirkan "Yerusalem di Tanah Jawa dengan mengganti nama wilayah Tajug menjadi Kudus (Al-Quds), mendirikan Masjid Al-Aqsa, dan menamai bukit di sekitarnya sebagai Gunung Muria.

Melalui pendekatan akulturasi arsitektur yang sangat toleran, Sunan Kudus menjadikan simbol-simbol Palestina sebagai sarana dakwah yang damai dan meresap dalam ingatan bangsa.

Hari-hari ini, kita menyaksikan genosida yang terjadi di Palestina. Suara-suara solidaritas dan pembelaan menggaung dari segala penjuru dunia, tak terkecuali bangsa Indonesia. Tentu sebagian orang ada yang bertanya, sejak kapan bangsa yang terpisah ribuan kilometer, dapat merasakan sedekat ini? Jika menilik pada sejarah negeri ini, kedekatan masyarakat Kepulauan Melayu-Indonesia dengan Palestina dapat ditelusuri jauh sebelum hadirnya Indonesia.

Hal tersebut dapat ditelusuri dalam beberapa literatur sejarah tradisional yang menyebutkan negeri Palestina nun jauh di negeri Syam.

Kita dapat melihat kedekatan hubungan Indonesia dan Palestina masa silam dalam cerita-cerita rakyat yang meresap di hati sebagian besar masyarakat tradisional kita. Kedekatan tersebut bahkan mewujud dalan keindahan sebuah kota di pesisir Jawa Tengah bernama Kudus. Bagaiman ceritanya?

Catatan historiografi tradisional seperti Sajarah, Hikayat, atau Babad sudah menyebut istilah-istilah dan cerita tentang Palestina, Isra Mi'raj, dan Bani Israil bahkan negeri Syam.

Salah satunya terdapat dalam naskah "Purwaka Caruban Nagari", salah satu historiografi tradisional yang ditulis oleh Pangeran Arya Cirebon, putra kedua dari Sultan Sepuh Cirebon tahun 1720 berdasarkan beberapa naskah kuno tentang sejarah Cirebon.

Mengenai Purwaka Caruban Nagari, H.A. Dasuki (1978) dalam pengantarnya menyebut naskah ini sebagai salah satu naskah babad Cirebon yang paling tua usianya.

"Yang menarik dari naskah ini ialah cara penulisannya yang lebih objektif dibanding dengan naskah-naskah lainnya yang kadang-kadang penuh alegoris, sehingga naskah ini patut digolongkan dalam kategori babad- historiografis. "

Naskah ini bercerita tentang berdirinya Kesultanan Cirebon, dimulai dari masuk Islamnya putra seorang Ratu (raja) di Tatar Sunda yang bernama Prabu Siliwangi yang menikah dengan Nyai Subang Larang. 

Mereka memperoleh tiga putra, yaitu Raden Walangsungsang, adiknya Nhay Lara Santang dan yang bungsu adalah Raja Senggara. Raden Walangsungsang dan Nhay Lara Santang belajar agama Islam kepada Syaikh Datuk Kahfi di daerah Cirebon sekarang, dan diperintahkan untuk menunaikan rukun Islam ke-5 yaitu Haji ke Baitullah.

 "Hai anakku, cobalah kalian sempurnakan sarengat Islam, yaitu pergi haji ke Baitullah di negeri Mekah," pesan gurunya itu.

Di Makkah inilah, para penulis cerita Babad Tanah Sunda, Babad Cirebon maupun Purwaka Caruban Nagari atau Carita Purwaka Caruban Nagari (CPCN) mengisahkan pernikahan Nyai Lara Santhang dengan Sultan Mesir dan "Bani Israil" yang menguasai "Palestina" sehingga melahirkan putranya yang kelak dikenal dengan nama Syarif Hidayatullah alias Sunan Gunung Jati, salah satu Walisongo penyebar Islam di Tatar Sunda, pendiri Kerajaan Cirebon.

Dalam Purwaka Caruban Nagari yang diterjemahkan HA Dasuki (1978) dikisahkan:

"Nyi Lara Santang menikah dengan Maulana Sultan yang
dikenal dengan gelar Syarief Abdullah putra Nurul Aliss dari suku Bani Hasyim, keturunan nabi Ismail. Dahulu memerintah di kota Ismailiyah, juga memerintah Bani Israil di Palestina yang termasuk kekuasaannya. Daerat daerah itu semuanya takluk di bawah pemerintah negar Mesir. Kemudian Nhay Lara Santang diberi nama Syarife Mudaim sedang kakaknya diberi nama Haji Abdullah Iman Kemudian mereka kembali ke Mekah."

Dalam versi bahasa aslinya, bahasa Cirebon, tampak istilah 'Filistin muncul dalam naskah tua ini, yang diterjemahkan sebagai Palestina.

"Ing Waluhrama ika Talana Sultan Mahmud kang sinebut yugang Syarief Abdullah anak ira Nurul Aliem. Saking Hasyim wangsanira, witan ikang sakheng Bani Ismail ikakang rumuhun amagehi Ismailiyah kitha nira kang yugang amagehi Bani Israil kang haneng "Filistin" mandalanyı kawilang kakawasan nira."

Pangeran Sulaeman Sulendraningrat, Penanggung Jawab Sejarah Cirebon dan Staf Keprabonan Lemahwungkung Cirebon dalam Purwaka Caruban Nagari (1972) menuliskan cerita yang relatif sama, tetapi disebutkan nama Sultannya, yaitu Sultan Machmud.

"Di Mekah Nhay Lara Santang mendapat jodoh dengan Maulana Sultan Machmud alias Sjarif Abdullah, seorang putra dari Nurul Alim, dari bangsa Hasyim, berasal dari Bani Ismail yang pada masanya memerintah di ibu kota Ismailiyah (Mesir) pada memerintah Bani Isroil Palestina yang pada waktu itu berada dalam lingkungan kedaulatan Mesir."

Sedangkan dalam naskah Carita Purwaka Caruban Nagari (CPCN) yang diteliti oleh Atja (1986), kisah serupa dengan istilah Pilistin (Palestina).

Istilah seperti "Palestina" dan "Bani Israil" rupanya sudah melekat dalam cerita rakyat masyarakat Indonesia di masa silam, khususnya masyarakat Sunda.

Dalam Perjuangan Wali Sanga Babad Cirebon (Pasundan), H Mahmud Rais dan A. Sayidil Anam menulis kisah yang relatif mirip, hanya saja Sultan Mesir namanya menjadi Sultan Iskak-bahkan Syarif Hidayatullah sempat memerintah di negeri Bani Israil (Mesir dan Palestina).

"Syahdan di Negeri Bani Israil ada seorang Sultan namanya Sultan Iskak gelarnya Sultan HUT. Isterinya telah meninggal dunia sejak beberapa lama dan belum mendapatkan gantinya. Pada suatu malam kebetulan malam Jumat ketika beliau istikharah tiba-tiba ada suara tanpa rupa yang mengatakan," Hai Iskak, carilah jodohmu di Mekah yang berasal dari Jawa..."

"Syahdan Akhirnya Somadullah dengan Rara Santang telah tiba di Mekah pada malam Jumat tanggal 25 Rajab."

"...Sultan Iskak menyuruh Ki Penghulu Bani Israil, pernikahan terjadi di Negeri Bani Israil di Keraton Bani Israil'."

"Syarif Hidayatullah kembali ke negeri Bani Israil... Hal ini terdengar dari luar daerah bahwa di Kerajaan Bani Israil ada perubahan besar mengenai ketatanegaraan. Akhirnya, Bani Israil mendapat kemajuan yang luar biasa berkat pimpinan Syarif Hidayatullah seorang cakap dan bijaksana."

Dari kisah tersebut, tampak sang penulis naskah menuliskan bahwa pernikahan anak Prabu Siliwangi ini terjadi pada Bulan Rajab, bulan terjadinya peristiwa Isra Mi'raj dalam ajaran Islam, dan ditulis pelaksanaa pernikahannya di Negeri Bani Israil di Keraton Bani Israil. Tak hanya itu, Syarif Hidayatullah dikisahkan sempat memerintah Negeri Bani Israil (Mesir dan Palestina) dan memimpin dengan cakap dan bijaksana. Cerita semacam ini mengisyaratkan bahwa penulis naskah berusaha mengaitkan pendiri kerajaan Cirebon dengan kisah-kisah terkait Palestina.



Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adam (5) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Akhirat (8) Al-Baqarah (1) Al-Qur'an (362) Al-Qur’an (55) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) An-Nadwi (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bahaya Kemunduran Umat Islam (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (53) Cerita kegagalan (1) cerpen Nabi (8) cerpen Nabi Musa (2) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) dakwah (18) Dakwah (26) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) ekonomi (2) Ekonomi (24) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) english (6) English (6) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fiqh (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (7) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) hikmah (1) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum (2) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) Islam (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) kecerdasan (22) Kecerdasan (340) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Hadist (4) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) kisah para nabi dan (2) kisah para nabi dan rasul (60) kisah para Nabi dan Rasul (1) Kisah para nabi dan rasul (116) Kisah Para Nabi dan Rasul (577) kisah para nabi dan rasul. Nabi Daud (1) kisah para nabi dan rasul. nabi Musa (2) Kisah Penguasa (1) Kisah ulama (1) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) nabi adam (1) Nabi Adam (75) nabi Adam. Adam (1) Nabi Ayub (1) Nabi Daud (3) Nabi Ibrahim (3) Nabi Isa (2) nabi Isa. nabi ismail (1) Nabi Ismail (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Khidir (1) Nabi Musa (29) Nabi Nuh (6) Nabi Sulaiman (2) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (15) Namrudz (2) Nasrulloh Baksolahar (1) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) nusantara (11) Nusantara (307) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (739) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) politik (1) Politik (7) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rasulullah shalallahu alaihi wassalam (1) Rehat (493) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) Sahabat (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) Salimul Aqidah (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Serah Nabawiyah (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (334) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah penguasa (11) Sirah Penguasa (248) sirah Sahabat (2) Sirah Sahabat (173) Sirah Tabiin (43) Sirah ulama (36) Sirah Ulama (158) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tamim Ad Dari (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Wakaf (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)