Menilai Kembali Apa yang Dianggap Berharga
Mengapa manusia begitu mudah terpikat oleh dunia? Mengapa harta, keluarga, kedudukan, dan berbagai kenikmatan sering menjadi ukuran keberhasilan hidup?
Surah Āli 'Imrān ayat 14–17 mengajak manusia berdialog dengan dirinya sendiri. Setelah pada ayat-ayat sebelumnya Allah membuktikan bahwa harta dan kekuatan tidak mampu menyelamatkan orang-orang kafir dari kehancuran, kini Al-Qur'an mengungkap akar persoalannya: cara pandang manusia terhadap kehidupan dunia.
Dunia Memang Indah, tetapi Apakah Ia Tujuan?
Allah berfirman:
«"Dijadikan indah bagi manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, berupa perempuan, anak-anak, harta yang bertumpuk dari emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, sedangkan di sisi Allah tempat kembali yang terbaik." (Āli 'Imrān: 14)»
Ayat ini tidak mengatakan bahwa mencintai dunia adalah dosa. Justru Allah menegaskan bahwa kecintaan itu memang merupakan fitrah manusia. Manusia memang mencintai keluarga, harta, keindahan, dan berbagai fasilitas kehidupan.
Lalu di mana letak persoalannya?
Persoalannya bukan pada apa yang dicintai, tetapi bagaimana manusia memandangnya. Ketika dunia berubah dari sarana menjadi tujuan, ketika harta menjadi ukuran kemuliaan, atau ketika keluarga menjadi alasan meninggalkan ketaatan kepada Allah, saat itulah manusia mulai kehilangan arah.
Enam Perhiasan yang Menguji Manusia
Ayat ini menyebut enam bentuk perhiasan dunia yang paling kuat menarik hati manusia.
Pertama, pasangan hidup.
Allah menjadikan pasangan sebagai tempat ketenangan, kasih sayang, dan cinta. Karena itu mencintai pasangan merupakan fitrah. Namun cinta yang melampaui batas dapat menggeser keadilan, tanggung jawab, bahkan ketaatan kepada Allah.
Kedua, anak-anak.
Anak adalah penerus keturunan sekaligus perhiasan kehidupan. Namun Al-Qur'an juga mengingatkan bahwa anak dapat menjadi ujian apabila kecintaan kepada mereka membuat seseorang mengabaikan nilai-nilai iman dan kebenaran.
Ketiga, harta.
Harta memberikan rasa aman, kekuasaan, dan kemampuan memenuhi berbagai keinginan. Karena itulah manusia sering tidak pernah merasa cukup. Rasulullah SAW menggambarkan bahwa seandainya manusia memiliki satu lembah emas, ia akan menginginkan lembah berikutnya. Nafsu memiliki hampir tidak mengenal batas.
Keempat, kendaraan terbaik, yang pada masa turunnya Al-Qur'an dilambangkan dengan kuda pilihan. Ia melambangkan prestise, kekuatan, dan kemewahan.
Kelima, hewan ternak, sebagai simbol kekayaan produktif dan sumber penghidupan.
Keenam, sawah dan ladang, lambang kemakmuran, investasi, dan keberlanjutan kehidupan.
Semuanya adalah nikmat Allah. Tidak satu pun diharamkan. Namun semuanya juga merupakan ujian: apakah manusia menjadikannya sebagai jalan menuju Allah atau justru menjadikannya penghalang menuju-Nya.
Pertanyaan yang Mengubah Cara Pandang
Setelah menyebut seluruh daya tarik dunia, Allah tidak langsung melarangnya. Sebaliknya, Allah mengajukan sebuah pertanyaan yang menggugah kesadaran.
«"Katakanlah, maukah aku beritakan kepadamu sesuatu yang lebih baik daripada semua itu?" (Āli 'Imrān: 15)»
Pertanyaan ini mengajak manusia berhenti sejenak.
Apakah benar dunia adalah puncak yang harus dikejar?
Apakah tidak ada sesuatu yang lebih bernilai?
Al-Qur'an menjawab bahwa bagi orang-orang bertakwa tersedia sesuatu yang jauh lebih baik daripada seluruh gemerlap dunia.
Cara Pandang Orang Bertakwa
Jika manusia pada umumnya berhenti pada keindahan dunia, orang bertakwa memandang lebih jauh daripada itu.
Mereka melihat bahwa seluruh kenikmatan dunia bersifat sementara, sedangkan yang berada di sisi Allah bersifat kekal.
Karena itu Allah menjanjikan tiga bentuk kenikmatan yang jauh melampaui kenikmatan dunia.
Pertama, surga yang penuh kenikmatan dan kekal selamanya.
Kedua, pasangan yang disucikan dari segala kekurangan.
Ketiga—dan inilah puncaknya—keridaan Allah.
Dalam hadis sahih, setelah penghuni surga memperoleh seluruh kenikmatan, Allah bertanya apakah mereka telah merasa puas. Ketika mereka menjawab bahwa tidak ada lagi nikmat yang lebih besar, Allah berfirman bahwa Dia akan memberikan sesuatu yang lebih agung lagi, yaitu keridaan-Nya yang tidak akan pernah dicabut selama-lamanya.
Dengan demikian, puncak kebahagiaan menurut Al-Qur'an bukanlah memiliki dunia ataupun bahkan menikmati surga, melainkan memperoleh keridaan Allah.
Siapakah Orang Bertakwa Itu?
Ayat berikutnya tidak hanya menyebut balasan mereka, tetapi juga memperkenalkan karakter mereka.
Mereka bukan orang yang mengaku beriman hanya dengan lisan.
Mereka berkata,
«"Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman. Maka ampunilah dosa-dosa kami dan peliharalah kami dari azab neraka." (Āli 'Imrān: 16)»
Iman mereka melahirkan kerendahan hati. Mereka tidak merasa suci, tetapi terus memohon ampun kepada Allah.
Kemudian Al-Qur'an menggambarkan lima karakter yang membentuk kepribadian mereka.
Mereka sabar menghadapi ujian.
Mereka jujur dalam iman, perkataan, dan niat.
Mereka taat kepada Allah dengan penuh ketundukan.
Mereka gemar berinfak, menjadikan harta sebagai sarana ibadah, bukan tujuan hidup.
Dan mereka beristigfar pada waktu sahur, saat kebanyakan manusia masih terlelap, mereka memilih berdiri di hadapan Allah dengan hati yang paling jernih.
Penutup: Dua Cara Pandang, Dua Tujuan Hidup
Surah Āli 'Imrān ayat 14–17 memperlihatkan bahwa perbedaan terbesar antara manusia bukan terletak pada banyak atau sedikitnya harta yang dimiliki, melainkan pada cara memandang kehidupan.
Sebagian manusia menjadikan dunia sebagai tujuan akhir. Seluruh tenaga, pikiran, dan cita-citanya berhenti pada apa yang tampak oleh mata.
Sebaliknya, orang bertakwa memandang dunia sebagai amanah dan ladang amal. Mereka menikmati nikmat Allah tanpa diperbudak olehnya. Mereka memiliki harta, tetapi tidak diperbudak harta. Mereka mencintai keluarga, tetapi tidak meletakkannya di atas kecintaan kepada Allah.
Karena itu, pertanyaan Al-Qur'an tetap relevan bagi setiap zaman:
"Maukah Aku beritakan kepadamu sesuatu yang lebih baik daripada semua itu?"
Pertanyaan itu bukan sekadar ditujukan kepada kaum musyrik atau Ahli Kitab pada masa Nabi, tetapi kepada setiap manusia yang sedang menentukan apa yang paling layak menjadi tujuan hidupnya.
Link Kami
Beberapa Link Kami yang Aktif