basmalah Pictures, Images and Photos
Our Islamic Story

Implementasi Tauhid Uluhiyyah bagi Penggiat Ekonomi Islam Apa yang seharusnya menjadi langka...

Implementasi Tauhid Uluhiyyah bagi Penggiat Ekonomi Islam


Apa yang seharusnya menjadi langkah pertama seorang penggiat ekonomi Islam?

Apakah memperbanyak seminar?

Apakah menguasai teori ekonomi?

Apakah memahami sistem keuangan syariah?

Apakah mendirikan lembaga ekonomi Islam?

Semua itu penting. Namun ada sesuatu yang lebih mendasar: memperbaiki hubungan dengan Allah SWT.

Sebab ekonomi Islam bukan sekadar sebuah disiplin ilmu, sistem transaksi, atau alternatif dari ekonomi konvensional. Ia merupakan bagian dari ajaran Islam. Karena itu, orang yang mengemban dakwah ekonomi Islam tidak cukup hanya memahami konsepnya. Ia juga harus berusaha menjadi pribadi yang tunduk kepada Allah, karena dari sinilah implementasi tauhid uluhiyyah dimulai.


---

1. Dari Tauhid Menuju Pengabdian

Pada prinsipnya, tauhid uluhiyyah berarti mengesakan Allah SWT dalam seluruh amal ibadah yang telah Dia wajibkan kepada manusia. Dengan kata lain, hanya Allah yang menjadi tujuan ibadah dan penghambaan.

Konsekuensinya sangat luas.

Jika Allah satu-satunya yang kita sembah, kepada siapa kita berdoa?

Kepada Allah.

Jika hanya Allah yang menjadi tempat bergantung, kepada siapa kita meminta pertolongan?

Kepada Allah.

Jika hanya Allah yang menjadi tujuan penghambaan, kepada siapa rasa takut yang paling tinggi harus diarahkan?

Kepada Allah.

Dan jika kita telah berusaha sekuat tenaga, kepada siapa kita menyerahkan hasil akhirnya?

Kepada Allah.

Al-Qur'an merangkumnya dengan sangat indah:

> “Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.”
(Q.s. al-Fâtihah [1]: 5)



Ayat ini seakan mengajukan dua pertanyaan kepada setiap penggiat ekonomi Islam:

Untuk siapa kita bekerja?

Dan:

Kepada siapa kita meminta pertolongan?

Jawabannya harus sama: Allah SWT.

Allah juga berfirman:

> “Dan Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu....’”
(Q.s. al-Mu'min [40]: 60)



Allah berfirman:

> “...karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu orang-orang beriman.”
(Q.s. Âli 'Imrân [3]: 175)



Dan:

> “...Dan bertawakallah kamu hanya kepada Allah, jika kamu orang-orang beriman.”
(Q.s. al-Mâ'idah [5]: 23)



Maka tauhid uluhiyyah bukan sekadar konsep yang disimpan di dalam buku akidah. Ia harus turun menjadi cara hidup, cara bekerja, cara berdakwah, dan cara mengambil keputusan.


---

2. Sebelum Mendakwahkan Ekonomi Islam, Benahilah Diri

Di sinilah pertanyaan berikutnya muncul:

Bagaimana mungkin seseorang mengajak manusia menjalankan ajaran Islam dalam bidang ekonomi, tetapi dirinya sendiri belum sungguh-sungguh berusaha menjalankan Islam dalam kehidupan pribadinya?

Bukan berarti seorang dai harus menjadi manusia tanpa dosa sebelum berdakwah. Tidak demikian.

Namun ada perbedaan antara orang yang berjuang memperbaiki dirinya sambil mengajak orang lain kepada kebaikan dengan orang yang menjadikan dakwah sebagai identitas, sementara dirinya tidak peduli terhadap tuntutan agama.

Allah SWT berfirman:

> “Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan kebajikan dan berkata, ‘Sungguh, aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri)’?”
(Q.s. Fushshilat [41]: 33)



Perhatikan susunan ayat tersebut.

Menyeru kepada Allah.

Lalu:

mengerjakan kebajikan.

Kemudian:

menyatakan dirinya sebagai seorang Muslim yang berserah diri.

Dakwah dan amal saleh berjalan beriringan.

Karena itu, bagi penggiat ekonomi Islam, dakwah tidak seharusnya berhenti pada kemampuan menjelaskan akad, mengkritik riba, membahas zakat, mengembangkan industri halal, atau mempromosikan lembaga keuangan syariah.

Pertanyaan yang lebih mendasar adalah:

Bagaimana shalatnya?

Bagaimana kejujurannya?

Bagaimana amanahnya?

Bagaimana hubungannya dengan Allah ketika tidak ada seorang pun yang melihat?

Sebab masyarakat tidak hanya membutuhkan orang yang pandai berbicara tentang ekonomi Islam.

Masyarakat membutuhkan orang yang memperlihatkan nilai Islam melalui kehidupannya.


---

3. Kader Ekonomi Islam Tidak Cukup Hanya Menguasai Ilmu Ekonomi

Dari sini muncul konsekuensi penting dalam proses kaderisasi.

Apakah kader ekonomi Islam cukup dibekali pengetahuan tentang ekonomi Islam?

Tentu tidak.

Ia perlu memahami ilmu ekonomi, keuangan, bisnis, kebijakan publik, kelembagaan, dan berbagai persoalan kontemporer. Tetapi semua itu perlu berdiri di atas fondasi keislaman yang kokoh.

Ia juga perlu dibekali pengetahuan tentang:

akidah;

ibadah;

akhlak;

fikih muamalah;

adab berdakwah;

keikhlasan;

amanah;

tanggung jawab;

serta kesadaran bahwa seluruh aktivitasnya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.


Dengan demikian, kader ekonomi Islam tidak hanya menjadi orang yang mampu menjelaskan ekonomi Islam, tetapi juga menjadi orang yang berusaha menghidupkan nilai-nilai Islam dalam dirinya.

Bukankah akan menjadi kontradiksi jika seseorang berbicara tentang keadilan ekonomi, tetapi ia sendiri tidak adil?

Berbicara tentang amanah, tetapi tidak amanah?

Berbicara tentang larangan mengambil harta secara batil, tetapi mencari keuntungan dengan cara-cara yang batil?

Berbicara tentang keberkahan, tetapi menjadikan materi sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan?

Di sinilah tauhid uluhiyyah menjadi fondasi moral bagi penggiat ekonomi Islam.


---

4. Keikhlasan: Untuk Siapa Ekonomi Islam Diperjuangkan?

Setelah ibadah, ada persoalan lain yang tidak kalah penting:

Niat.

Seseorang dapat melakukan aktivitas yang sama dengan orang lain, tetapi nilai keduanya di hadapan Allah bisa sangat berbeda.

Mengapa?

Karena niatnya berbeda.

Tauhid uluhiyyah menuntut agar ibadah dilakukan ikhlas hanya karena Allah SWT.

Allah berfirman:

> “Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah, dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).”
(Q.s. al-Bayyinah [98]: 5)



Rasulullah SAW juga bersabda:

> “Sesungguhnya amal itu bergantung pada niatnya, dan sesungguhnya balasan yang akan diperoleh seseorang dari amalnya juga sesuai dengan niatnya.”
(Muttafaq 'alaih)



Maka seorang penggiat ekonomi Islam perlu terus bertanya kepada dirinya:

Mengapa saya melakukan semua ini?

Apakah karena Allah?

Ataukah karena ingin dikenal sebagai tokoh ekonomi Islam?

Karena ingin memperoleh jabatan?

Karena ingin mendapatkan pekerjaan?

Karena ingin memperoleh keuntungan?

Karena ingin mendapatkan pengaruh?

Atau karena ingin memperoleh keridhaan Allah melalui perjuangan membangun kehidupan ekonomi yang sesuai dengan nilai-nilai Islam?

Pertanyaan ini sederhana.

Tetapi jawabannya dapat menentukan arah seluruh perjalanan seseorang.


---

5. Ketika Dakwah Berubah Menjadi Kendaraan Duniawi

Di sinilah kita perlu melakukan muhasabah yang lebih tajam.

Tidak salah seseorang memperoleh pekerjaan melalui keahliannya di bidang ekonomi Islam.

Tidak salah seseorang mendapatkan penghasilan karena bekerja di lembaga keuangan syariah.

Tidak salah seseorang memperoleh jabatan karena kompetensinya.

Yang menjadi persoalan adalah ketika tujuan duniawi tersebut mengambil alih posisi yang seharusnya ditempati oleh Allah.

Misalnya, seseorang mulai aktif dalam gerakan ekonomi Islam karena melihatnya sebagai peluang karier.

Ia mengikuti berbagai kegiatan.

Ia membangun jaringan.

Ia aktif dalam seminar.

Ia berbicara tentang ekonomi syariah.

Ia membangun citra sebagai aktivis ekonomi Islam.

Tetapi bagaimana jika suatu hari ia tidak mendapatkan posisi yang diinginkannya?

Bagaimana jika lembaga syariah yang diharapkannya tidak menerima dirinya?

Bagaimana jika perjuangannya tidak menghasilkan keuntungan materi?

Apakah ia tetap berjuang?

Ataukah ia meninggalkan semuanya?

Pertanyaan inilah yang menguji keikhlasan.

Sebab orang yang bekerja karena Allah tidak menjadikan hasil duniawi sebagai satu-satunya alasan untuk terus berjalan.

Ia boleh kecewa.

Ia boleh sedih.

Ia boleh melakukan evaluasi.

Tetapi orientasi akhirnya tetap kepada Allah.


---

6. Jangan Sampai Ekonomi Islam Hanya Menjadi Kendaraan Karier

Karena itu, sangat disayangkan apabila ekonomi Islam hanya dijadikan kendaraan untuk mencapai kepentingan pribadi.

Jika seseorang masuk ke dalam gerakan ekonomi Islam hanya karena melihat peluang pekerjaan, jabatan, popularitas, atau keuntungan, maka ketika kepentingan tersebut hilang, komitmennya pun dapat ikut hilang.

Lebih berbahaya lagi jika ia kemudian menjadikan kekecewaan pribadinya sebagai alasan untuk menyerang ekonomi Islam.

Di sinilah seorang penggiat ekonomi Islam perlu membedakan antara:

memanfaatkan ilmu ekonomi Islam untuk mencari rezeki yang halal

dan

memanfaatkan perjuangan ekonomi Islam hanya untuk kepentingan diri sendiri.

Keduanya tidak sama.

Yang pertama dapat menjadi amal.

Yang kedua berpotensi merusak perjuangan.

Maka masalahnya bukan pada memperoleh keuntungan.

Masalahnya adalah:

Siapa yang menjadi tujuan tertinggi dari perjuangan tersebut?


---

7. Amal Kecil Bisa Menjadi Besar karena Niat

Para ulama salaf memberikan ungkapan yang sangat dalam:

> رُبَّ عَÙ…َÙ„ٍ صَغِيرٍ تُعَظِّÙ…ُÙ‡ُ النِّÙŠَّØ©ُ، Ùˆَرُبَّ عَÙ…َÙ„ٍ Ùƒَبِيرٍ تُصَغِّرُÙ‡ُ النِّÙŠَّØ©ُ



> “Betapa banyak amal kecil menjadi besar karena niatnya, dan betapa banyak amal besar menjadi kecil karena niatnya.”



Maka jangan meremehkan pekerjaan sederhana dalam perjuangan ekonomi Islam.

Mengajar seseorang tentang transaksi yang halal.

Membantu pedagang memahami akad.

Membuat sistem pembukuan yang jujur.

Mengembangkan usaha yang amanah.

Membantu masyarakat memahami zakat.

Mendorong praktik bisnis yang adil.

Meneliti persoalan ekonomi dengan sungguh-sungguh.

Semua itu mungkin terlihat kecil di mata manusia.

Tetapi jika dilakukan dengan ilmu, ikhlas, dan benar, ia dapat menjadi besar di sisi Allah.

Sebaliknya, sebuah proyek ekonomi Islam yang besar, seminar yang megah, jabatan yang tinggi, atau lembaga yang terkenal tidak otomatis menjadi besar di sisi Allah jika niatnya rusak.

Besarnya aktivitas tidak selalu menunjukkan besarnya nilai amal.


---

8. Ukuran Keberhasilan: Ridha Allah

Karena itu, penggiat ekonomi Islam perlu mengubah pertanyaan tentang keberhasilan.

Bukan hanya:

Berapa besar lembaga yang berhasil kita bangun?

Tetapi:

Seberapa jujur lembaga itu?

Bukan hanya:

Berapa banyak orang yang mengikuti program kita?

Tetapi:

Apakah program itu mendekatkan mereka kepada Allah?

Bukan hanya:

Berapa besar keuntungan yang diperoleh?

Tetapi:

Apakah keuntungan itu halal dan membawa keberkahan?

Bukan hanya:

Seberapa terkenal nama kita?

Tetapi:

Apakah Allah menerima amal kita?

Inilah pergeseran cara pandang yang lahir dari tauhid uluhiyyah.

Ekonomi tidak lagi semata-mata dipandang sebagai aktivitas mencari keuntungan.

Ia menjadi bagian dari pengabdian kepada Allah.

Bisnis menjadi ibadah ketika dijalankan dengan cara yang benar.

Profesi menjadi ibadah ketika dilakukan dengan amanah.

Riset menjadi ibadah ketika ditujukan untuk kemaslahatan.

Dakwah ekonomi menjadi ibadah ketika dilakukan dengan ikhlas.


---

9. Dari Tauhid Lahir Integritas

Pada akhirnya, implementasi tauhid uluhiyyah bagi penggiat ekonomi Islam harus terlihat dalam perilaku.

Ia melahirkan pribadi yang:

ikhlas ketika dipuji maupun tidak dipuji;

jujur ketika diawasi maupun tidak diawasi;

amanah ketika memperoleh keuntungan maupun ketika mengalami kerugian;

tetap berpegang pada prinsip ketika memperoleh jabatan maupun ketika tidak memperoleh jabatan;

tetap membela kebenaran ketika mendapatkan keuntungan maupun ketika kepentingan pribadinya harus dikorbankan.

Mengapa?

Karena ia sadar bahwa manusia mungkin tidak melihatnya.

Pasar mungkin tidak melihatnya.

Atasan mungkin tidak melihatnya.

Masyarakat mungkin tidak melihatnya.

Tetapi Allah melihat semuanya.

Inilah ruh tauhid uluhiyyah dalam kehidupan ekonomi.


---

10. Dakwah Ekonomi Islam Dimulai dari Diri Sendiri

Maka perjalanan seorang penggiat ekonomi Islam dapat dirumuskan dalam satu alur:

Perbaiki akidah.

Lalu:

perbaiki ibadah.

Kemudian:

luruskan niat.

Setelah itu:

kuatkan ilmu.

Lalu:

praktikkan nilai Islam dalam kehidupan ekonomi.

Barulah:

ajak orang lain kepada kebaikan.

Dengan demikian, dakwah ekonomi Islam tidak hanya menghasilkan orang yang pandai berbicara tentang sistem ekonomi Islam, tetapi menghasilkan manusia yang menjadi teladan dari nilai-nilai yang ia dakwahkan.

Bukankah itu yang sebenarnya kita butuhkan?

Bukan hanya ekonomi Islam yang tertulis dalam buku, tetapi ekonomi Islam yang hidup dalam perilaku manusia.

Bukan hanya lembaga yang memakai label syariah, tetapi manusia yang takut kepada Allah.

Bukan hanya transaksi yang menggunakan istilah Arab, tetapi transaksi yang benar-benar dibangun di atas kejujuran, keadilan, amanah, dan tanggung jawab.

Dan bukan hanya gerakan ekonomi Islam yang besar secara organisasi, tetapi gerakan yang ikhlas mencari ridha Allah.


---

Penutup: Siapa yang Sebenarnya Kita Perjuangkan?

Pada akhirnya, tauhid uluhiyyah mengembalikan kita kepada satu pertanyaan yang sangat sederhana:

Untuk siapa semua ini kita lakukan?

Jika jawabannya adalah manusia, kita akan mudah kecewa ketika manusia tidak menghargai.

Jika jawabannya adalah jabatan, kita akan berhenti ketika jabatan hilang.

Jika jawabannya adalah keuntungan, kita akan berpaling ketika keuntungan tidak lagi tersedia.

Jika jawabannya adalah popularitas, kita akan berhenti ketika tidak lagi dikenal.

Tetapi jika jawabannya:

“Untuk Allah.”

Maka orientasi kita menjadi berbeda.

Kita bekerja karena Allah.

Kita belajar karena Allah.

Kita berdakwah karena Allah.

Kita membangun ekonomi yang adil karena Allah.

Kita mencari rezeki yang halal karena Allah.

Kita menerima keberhasilan dengan syukur.

Kita menghadapi kegagalan dengan sabar.

Dan kita menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah.

Sebab itulah hakikat tauhid uluhiyyah:

> “Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.”
(Q.s. al-Fâtihah [1]: 5)



Maka sebelum bertanya, “Bagaimana kita membangun ekonomi Islam?” barangkali kita perlu bertanya lebih dahulu: “Sudahkah kita menjadi hamba Allah yang sedang membangun ekonomi Islam?”

Di situlah perjuangan ekonomi Islam menemukan ruhnya.

Kisah Nabi Nuh: Aqidah Islam dalam Pembentukan Umat ...

Kisah Nabi Nuh: Aqidah Islam dalam Pembentukan Umat


Sekarang, marilah kita berhenti sejenak di hadapan kisah Nabi Nuh alaihis-salâm. Bukan sekadar untuk mengenang sebuah peristiwa sejarah, melainkan untuk membaca sebuah rambu jalan yang sangat terang tentang hakikat akidah Islam dan garis pergerakannya.

Mengapa kisah Nuh dan putranya begitu penting?

Karena di sini kita menemukan sebuah pertanyaan mendasar: Apa sebenarnya yang mengikat manusia dalam sebuah umat? Apakah darah? Nasab? Keluarga? Tanah air? Bangsa? Ataukah sesuatu yang lebih tinggi dari semua itu?

Al-Qur'an membawa kita langsung kepada jawabannya.

> “Dan diwahyukan kepada Nuh, bahwasanya sekali-kali tidak akan beriman di antara kaummu, kecuali orang yang telah beriman (saja). Karena itu janganlah kamu bersedih hati tentang apa yang selalu mereka kerjakan. Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim itu. Sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan.”
(Q.s. Hûd [11]: 36–37)



Kemudian datanglah saat yang telah dijanjikan:

> “Hingga apabila perintah Kami datang dan dapur telah memancarkan air, Kami berfirman: ‘Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing binatang sepasang (jantan dan betina), dan keluargamu kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan terhadapnya dan (muatkan pula) orang-orang yang beriman.’ Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit.”
(Q.s. Hûd [11]: 40)



Lalu terjadi sebuah adegan yang mengguncang hati.

Bahtera telah berlayar. Gelombang menjulang seperti gunung. Di tengah kedahsyatan banjir itu, Nuh masih memandang seorang anaknya yang berada jauh dari bahtera.

> “Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir!”



Namun anak itu menjawab:

> “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah.”



Nuh berkata:

> “Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang.”



Tetapi gelombang memisahkan keduanya.

Anak itu pun termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.

(Q.s. Hûd [11]: 42–43)

Ketika nasab berhadapan dengan akidah

Bayangkanlah keadaan Nuh alaihis-salâm.

Ia seorang nabi. Anak itu adalah anak kandungnya. Ada hubungan darah di antara keduanya. Ada ikatan keluarga. Tetapi apakah hubungan darah itu dengan sendirinya cukup untuk menyelamatkan?

Tidak.

Nuh kemudian berseru kepada Tuhannya:

> “Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itu benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya.”



Allah menjawab:

> “Hai Nuh, sesungguhnya ia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatannya) perbuatan yang tidak baik.”



(Q.s. Hûd [11]: 45–46)

Di sinilah kita berhenti sejenak.

Bagaimana mungkin seorang anak bukan termasuk keluarga ayahnya, padahal secara biologis ia adalah anaknya?

Jawabannya terletak pada konteks ayat: yang dimaksud bukanlah penyangkalan hubungan nasab, tetapi bahwa ia bukan termasuk keluarga Nuh yang dijanjikan keselamatan karena iman.

Ikatan iman telah terputus.

Maka Allah mengingatkan Nuh agar tidak meminta sesuatu yang tidak diketahuinya hakikatnya.

Inilah rambu jalan yang sangat jelas: Islam tidak meniadakan hubungan darah, tetapi Islam tidak menjadikan hubungan darah sebagai ikatan tertinggi yang menentukan keselamatan dan loyalitas keimanan.


---

Ikatan apakah yang menyatukan umat Islam?

Sesungguhnya ikatan yang menyatukan orang-orang dalam agama ini adalah ikatan yang khas.

Ia bukan sekadar ikatan biologis. Ia bukan pula sekadar ikatan geografis. Ia adalah ikatan akidah.

Maka ikatan Islam bukan semata-mata:

darah dan nasab;

tanah air dan bangsa;

kaum dan marga;

warna kulit dan bahasa;

ras dan suku;

profesi dan status sosial.


Semua ikatan tersebut memiliki tempatnya masing-masing dalam kehidupan manusia. Tetapi semuanya bersifat terbatas dan dapat terputus.

Seorang ayah dapat berbeda keyakinan dengan anaknya.

Seorang saudara dapat berbeda jalan hidup dengan saudaranya.

Seseorang dapat meninggalkan tanah kelahirannya.

Sebuah bangsa dapat berubah.

Sebuah kerajaan dapat runtuh.

Sebuah bahasa dapat berkembang.

Tetapi apakah ikatan akidah juga demikian?

Di sinilah Islam memberikan perspektif yang berbeda.

Yang menyatukan umat bukan semata-mata dari mana seseorang berasal, melainkan kepada siapa ia tunduk dan apa yang ia imani.


---

Rambu yang sama dalam kisah Ibrahim

Al-Qur'an tidak hanya memberikan pelajaran ini melalui kisah Nuh.

Ia juga memperlihatkannya melalui kisah Ibrahim alaihis-salâm.

Ibrahim berhadapan dengan ayahnya sendiri.

Ia berkata:

> “Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikit pun?”



Ibrahim terus menasihatinya dengan kelembutan:

> “Wahai bapakku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus.”



Namun sang ayah menolak, bahkan mengancam Ibrahim.

Akhirnya Ibrahim berkata:

> “Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memintakan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku.”



(Q.s. Maryam [19]: 41–50)

Perhatikanlah.

Ibrahim tetap menghormati ayahnya sebagai ayah, tetapi ia tidak mengikuti ayahnya dalam kesyirikan.

Hubungan keluarga tetap ada. Tetapi hubungan akidah tidak boleh dikorbankan demi hubungan keluarga.


---

Bahkan keturunan tidak otomatis menjamin kedudukan di sisi Allah

Hal yang sama tampak dalam kisah Ibrahim dengan keturunannya.

Ketika Allah berfirman:

> “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia.”



Ibrahim bertanya:

> “Dan dari keturunanku?”



Allah menjawab:

> “Janji-Ku tidak mengenai orang-orang yang zalim.”



(Q.s. al-Baqarah [2]: 124)

Seolah-olah ada satu prinsip yang terus diulang oleh Al-Qur'an:

Kemuliaan tidak diwariskan secara otomatis melalui darah.

Nabi tidak dapat menjadikan anaknya beriman hanya karena ia seorang nabi.

Orang saleh tidak dapat memberikan kesalehannya kepada anaknya hanya karena hubungan darah.

Keturunan seorang nabi tetap harus memilih jalan kebenaran.


---

Suami dan istri pun tidak otomatis menjadi satu umat

Lalu bagaimana dengan hubungan yang bahkan lebih dekat daripada hubungan nasab?

Suami dan istri.

Al-Qur'an kembali memberikan perumpamaan.

Allah menjadikan istri Nuh dan istri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya hidup di bawah perlindungan dua hamba Allah yang saleh, tetapi keduanya tidak beriman.

> “Lalu kedua istri itu berkhianat kepada suaminya (masing-masing), maka suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikit pun dari (siksa) Allah.”
(Q.s. at-Tahrîm [66]: 10)



Sebaliknya, Allah menjadikan istri Fir'aun sebagai perumpamaan bagi orang-orang beriman.

Ia hidup di dalam rumah seorang penguasa yang zalim, tetapi hatinya beriman kepada Allah.

> “Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga, dan selamatkanlah aku dari Fir'aun dan perbuatannya...”
(Q.s. at-Tahrîm [66]: 11)



Lihatlah paradoksnya.

Istri Nuh hidup bersama seorang nabi, tetapi tidak beriman.

Istri Fir'aun hidup bersama seorang tiran, tetapi beriman.

Maka apa yang menentukan kedudukan seseorang di hadapan Allah?

Bukan semata-mata siapa keluarganya, melainkan apa yang ia pilih untuk diyakini dan dijalani.


---

Ketika seseorang harus memilih antara iman dan lingkungan

Al-Qur'an juga memberikan contoh tentang Ibrahim dan orang-orang beriman bersamanya.

Mereka berhadapan dengan kaum, keluarga, negeri, tradisi, dan lingkungan yang mempertahankan kesyirikan.

Mereka menyatakan:

> “Sesungguhnya kami berlepas diri darimu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah...”



(Q.s. al-Mumtahanah [60]: 4)

Demikian pula kisah para pemuda Ashhabul Kahfi.

Mereka hidup di tengah masyarakat yang menyekutukan Allah. Mereka tidak memiliki kekuatan politik yang besar. Mereka tidak memiliki pasukan. Mereka hanya memiliki iman.

Mereka berkata:

> “Tuhan kami adalah Tuhan seluruh langit dan bumi, kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia...”



Ketika lingkungan mereka mengancam akidah mereka, mereka memilih meninggalkan lingkungan tersebut dan berlindung di dalam gua.

(Q.s. al-Kahfi [18]: 9–16)

Bukankah kisah ini kembali mengarahkan kita kepada pertanyaan yang sama?

Apa yang harus kita pertahankan ketika semua ikatan di sekeliling kita menuntut kita untuk mengorbankan iman?

Al-Qur'an memberikan jawabannya melalui kisah-kisah tersebut:

Akidah tidak boleh menjadi korban dari ikatan yang lebih rendah.


---

Ikatan akidah dan kehidupan masyarakat

Dari berbagai kisah tersebut terbentuklah sebuah prinsip tentang masyarakat Islam.

Masyarakat Islam tidak dibangun hanya atas darah.

Tidak dibangun hanya atas tanah.

Tidak dibangun hanya atas ras.

Tidak dibangun hanya atas bahasa.

Tidak dibangun hanya atas kepentingan ekonomi.

Dan tidak dibangun hanya atas status sosial.

Landasan utamanya adalah akidah.

Al-Qur'an menegaskan:

> “Kamu tidak akan mendapati kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak, atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka.”
(Q.s. al-Mujadilah [58]: 22)



Namun prinsip ini jangan dipahami sebagai perintah untuk menghapus kasih sayang keluarga atau hubungan sosial dengan manusia yang berbeda keyakinan. Al-Qur'an sendiri memberikan aturan yang rinci tentang hubungan sosial, keadilan, dan perlakuan terhadap pihak lain.

Yang ditekankan di sini adalah sesuatu yang lebih mendasar:

Jangan sampai loyalitas iman dikalahkan oleh ikatan yang bertentangan dengannya.


---

Akidah: ikatan yang lahir dari pilihan

Mengapa akidah menjadi penting?

Karena akidah berkaitan dengan sesuatu yang sangat khas pada manusia: akal, hati, pilihan, dan kehendak.

Manusia tidak memilih siapa ayahnya.

Ia tidak memilih di mana ia dilahirkan.

Ia tidak memilih warna kulitnya.

Ia tidak memilih suku tempat ia dilahirkan.

Ia tidak memilih bahasa ibunya.

Ia tidak memilih nasabnya.

Semua itu telah ditentukan sebelum ia hadir ke dunia.

Tetapi manusia diberi kemampuan untuk memilih sikap terhadap kebenaran.

Ia diberi akal untuk memahami.

Ia diberi hati untuk meyakini.

Ia diberi kehendak untuk memilih.

Karena itu, akidah memiliki kedudukan yang sangat mendalam dalam pembentukan masyarakat manusia.

Manusia tidak dimuliakan karena darahnya, tetapi karena pilihan moral dan ketundukannya kepada kebenaran.


---

Masyarakat Islam bersifat universal

Jika akidah menjadi dasar persatuan, maka pintu masyarakat tidak dibatasi oleh ras, warna kulit, bahasa, atau bangsa.

Seorang Arab dapat berdiri bersama seorang Persia.

Seorang Romawi dapat berdiri bersama seorang Habasyah.

Seorang dari Timur dapat berdiri bersama seorang dari Barat.

Yang mengikat mereka bukan kesamaan darah.

Bukan pula kesamaan bahasa.

Melainkan kesamaan iman.

Inilah salah satu karakter universal Islam.

Namun justru karena prinsip ini memiliki kekuatan yang besar, ia selalu menghadapi tantangan.

Ketika manusia disatukan oleh akidah, masyarakat menjadi lebih sulit dipecah berdasarkan darah, ras, bahasa, dan wilayah.

Karena itu, sepanjang sejarah, berbagai bentuk fanatisme dapat menjadi alat untuk memecah persatuan manusia:

rasisme, tribalisme, fanatisme kesukuan, chauvinisme, dan berbagai bentuk fanatisme kebangsaan.

Ketika sebuah identitas duniawi diangkat menjadi sesuatu yang dikultuskan, ia dapat berubah menjadi semacam berhala sosial.

Dulu berhala dibuat dari batu.

Hari ini berhala dapat berupa gagasan.

Dulu manusia membungkuk di hadapan patung.

Kini manusia dapat membungkuk di hadapan ideologi, ras, bangsa, kelompok, atau kepentingan ketika semuanya ditempatkan di atas kebenaran dan ketundukan kepada Allah.


---

Berhala tidak selalu berbentuk patung

Di sinilah renungan itu menjadi lebih dalam.

Apakah paganisme hanya berarti menyembah patung?

Tidak selalu.

Paganisme dapat muncul dalam bentuk yang jauh lebih halus.

Sebuah bangsa dapat dikultuskan.

Sebuah ras dapat dikultuskan.

Sebuah kelompok dapat dikultuskan.

Sebuah ideologi dapat dikultuskan.

Bahkan kepentingan kelompok dapat dikultuskan.

Pertanyaannya bukan sekadar:

“Apakah kita menyembah patung?”

Tetapi:

“Apakah ada sesuatu selain Allah yang kita tempatkan sebagai ukuran tertinggi kebenaran, loyalitas, dan pengabdian?”

Islam datang untuk membebaskan manusia dari seluruh bentuk penghambaan kepada selain Allah.

Bukan sekadar memindahkan manusia dari berhala batu kepada berhala yang lebih modern.

Karena itu, tauhid bukan hanya membebaskan manusia dari banyak tuhan.

Tauhid juga membebaskan manusia dari pengultusan makhluk.


---

Siapakah umat kita?

Ketika Allah menjelaskan umat manusia yang disatukan oleh iman, Dia berfirman:

> “Sesungguhnya umatmu ini adalah umat yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku.”
(Q.s. al-Anbiyâ’ [21]: 92)



Perhatikan baik-baik.

Allah tidak mengatakan:

“Umatmu adalah orang-orang Arab.”

Tidak pula:

“Umatmu adalah orang-orang Persia.”

Bukan pula:

“Umatmu adalah orang-orang Romawi.”

Dan bukan pula:

“Umatmu adalah orang-orang Habasyah.”

Mengapa?

Karena umat Islam melampaui batas-batas geografis dan biologis tersebut.

Di dalamnya ada Arab dan non-Arab.

Ada Persia.

Ada Romawi.

Ada Habasyah.

Ada berbagai bangsa dan bahasa.

Yang menyatukan mereka adalah iman kepada Allah.

Maka Salman al-Farisi tidak menjadi mulia karena darah Persia-nya.

Shuhaib ar-Rumi tidak menjadi mulia karena bangsa Romawi-nya.

Bilal tidak menjadi mulia karena Habasyah-nya.

Mereka menjadi mulia karena iman.

Demikian pula umat Islam tidak ditentukan oleh satu ras, satu bangsa, atau satu wilayah.

Umat adalah ikatan iman yang melampaui batas-batas darah dan tanah.


---

Sebuah pertanyaan untuk kita

Namun di sinilah kita perlu berhenti dan bertanya kepada diri sendiri:

Jika akidah benar-benar merupakan ikatan utama kita, mengapa kita begitu mudah terpecah oleh ikatan-ikatan yang lebih rendah?

Mengapa perbedaan suku dapat membuat kita saling merendahkan?

Mengapa perbedaan bangsa dapat melahirkan kebencian?

Mengapa perbedaan kelompok dapat mengalahkan persaudaraan iman?

Mengapa kepentingan golongan terkadang lebih kuat daripada kebenaran?

Bukankah ini menunjukkan bahwa manusia dapat mengganti satu berhala dengan berhala yang lain?

Dahulu ia menyembah batu.

Kemudian ia menyembah ras.

Kemudian bangsa.

Kemudian kelompok.

Kemudian ideologi.

Padahal tauhid mengajarkan satu hal yang sangat sederhana sekaligus sangat berat:

Hanya Allah yang boleh menjadi pusat pengultusan.

Hanya Dia yang menjadi tujuan tertinggi.

Hanya kepada-Nya ketundukan mutlak diberikan.

Dan karena itu, manusia tidak boleh menjadikan makhluk sebagai tandingan dalam pengabdian yang hanya layak diberikan kepada Allah.


---

Penutup: Rambu di persimpangan jalan

Demikianlah salah satu pelajaran besar dari kisah Nuh alaihis-salâm.

Kita mungkin memiliki banyak ikatan:

ikatan keluarga,
ikatan tanah air,
ikatan bangsa,
ikatan bahasa,
ikatan suku,
ikatan profesi,
ikatan sejarah,
dan ikatan kepentingan.

Semua itu memiliki tempatnya.

Tetapi bagi seorang Muslim, ada satu ikatan yang harus berada di atas semuanya:

ikatan akidah.

Karena itulah anak Nuh tidak diselamatkan hanya karena ia anak seorang nabi.

Istri Nuh tidak diselamatkan hanya karena ia istri seorang nabi.

Istri Fir'aun justru dimuliakan meskipun ia hidup di rumah seorang tiran.

Ibrahim tidak mengikuti ayahnya dalam kesyirikan.

Para pemuda Ashhabul Kahfi meninggalkan lingkungan mereka demi mempertahankan iman.

Dan umat para nabi sepanjang sejarah dipersatukan bukan oleh darah, bangsa, atau bahasa, melainkan oleh ketundukan kepada Allah.

Inilah rambu yang sangat terang di persimpangan jalan:

Manusia boleh berbeda dalam darah, tetapi tidak boleh berbeda dalam sumber penghambaan kepada Allah.

Manusia boleh berbeda bangsa, tetapi kebenaran tidak memiliki bangsa.

Manusia boleh berbeda bahasa, tetapi Tuhan mereka satu.

Manusia boleh berbeda tempat kelahiran, tetapi kiblat pengabdian mereka satu.

Dan akhirnya, kita sampai pada satu kesimpulan:

> “Sesungguhnya umatmu ini adalah umat yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku.”
(Q.s. al-Anbiyâ’ [21]: 92)



Itulah umat yang diperkenalkan Allah kepada kita.

Bukan umat yang dibangun oleh kesamaan darah.

Bukan umat yang dibatasi oleh warna kulit.

Bukan umat yang dikurung oleh batas geografis.

Melainkan umat yang dipersatukan oleh tauhid, iman, dan ketundukan kepada Allah.

Cukup sampai di sini kita merenungkan inspirasi dari kisah Nuh alaihis-salâm tentang salah satu masalah paling mendasar dalam agama ini: siapa yang sesungguhnya menjadi keluarga kita, dan atas ikatan apakah masyarakat kita harus dibangun?

Imperialisme Kuno Katolik dan Imperialisme Modern Protestan Bagaimana kita memahami sejarah imperialisme...

Imperialisme Kuno Katolik dan Imperialisme Modern Protestan


Bagaimana kita memahami sejarah imperialisme Barat di Nusantara?

Apakah kedatangan bangsa-bangsa Eropa semata-mata merupakan bagian dari perkembangan perdagangan dan pelayaran dunia? Ataukah di balik ekspedisi mereka terdapat kepentingan ekonomi, agama, politik, dan perebutan kekuasaan global?

Jika perjalanan sejarah imperialisme Barat ditelusuri secara lebih panjang, tampak adanya dua fase besar yang perlu dibedakan: imperialisme kuno yang berkembang dalam lingkungan politik Katolik Eropa dan imperialisme modern yang kemudian tumbuh bersama perkembangan negara-negara Protestan serta kapitalisme industri.

Namun, pembagian ini perlu dipahami sebagai kerangka historis, bukan sebagai penyederhanaan bahwa seluruh Katolik atau seluruh Protestan memiliki sikap politik yang sama. Yang hendak dilihat adalah perubahan struktur kekuasaan, kepentingan ekonomi, dan ideologi yang menyertai ekspansi Barat.

Dua Wajah Imperialisme Barat

Pertama, imperialisme kuno, yang dalam kerangka tulisan ini ditempatkan sejak akhir abad ke-15 hingga abad ke-19. Salah satu tonggak pentingnya adalah Perjanjian Tordesillas pada 1494, yang melibatkan Spanyol dan Portugal di bawah legitimasi Paus Alexander VI.

Semangat ekspansi pada masa ini sering diringkas melalui tiga kepentingan yang populer disebut 3G: Gold, Gospel, dan Glory.

Gold menggambarkan pencarian kekayaan dan sumber daya.

Gospel menggambarkan misi penyebaran agama Kristen.

Glory menggambarkan ambisi kejayaan politik dan kebesaran kerajaan.

Ketiganya dalam praktik sejarah tidak selalu berdiri sendiri. Kepentingan ekonomi, agama, dan politik sering bertemu dalam satu ekspedisi.

Kemudian muncul fase kedua, yaitu imperialisme modern, yang berkembang terutama sejak akhir abad ke-19 seiring menguatnya kapitalisme industri, nasionalisme Eropa, dan negara-negara imperialis baru.

Tahun 1870 menjadi salah satu titik penting dalam perubahan konstelasi politik Eropa karena Negara Gereja kehilangan wilayahnya dalam proses unifikasi Italia.

Pada fase imperialisme modern, kepentingan ekonomi tampil semakin sistematis. Wilayah jajahan tidak hanya dipandang sebagai wilayah yang harus ditaklukkan, tetapi juga sebagai sumber bahan mentah (raw materials) dan pasar bagi produk industri negara penjajah.

Pertanyaannya kemudian: Apa yang berubah?

Jika imperialisme awal mengejar rempah-rempah, kejayaan, dan penyebaran agama, imperialisme modern semakin terikat pada kebutuhan industri: bahan mentah, pasar, investasi, tenaga kerja, dan penguasaan jalur perdagangan.

Dengan demikian, imperialisme bukan hanya persoalan siapa menguasai siapa. Ia juga merupakan persoalan siapa menguasai sumber daya, jalur perdagangan, dan pasar dunia.

Nusantara: Negeri yang Diperebutkan

Mengapa Nusantara menjadi begitu penting bagi imperialisme Barat?

Jawabannya antara lain karena letak geografis dan kekayaan alamnya.

Sebelum invasi bangsa-bangsa Eropa, Nusantara merupakan salah satu kawasan produsen rempah-rempah terpenting dunia. Hasil bumi dan pertambangan tidak hanya memenuhi kebutuhan masyarakat setempat, tetapi juga diperdagangkan melalui jaringan perdagangan internasional.

Secara geografis Nusantara terdiri atas banyak pulau. Apakah keterpisahan geografis tersebut membuatnya terpecah?

Tidak.

Laut justru menghubungkan pulau-pulau tersebut.

Laut menjadi jalan raya Nusantara.

Melalui laut, rempah-rempah bergerak dari satu pelabuhan ke pelabuhan lain. Pedagang bergerak bersama barang dagangan. Gagasan, agama, bahasa, dan kebudayaan juga ikut bergerak.

Karena itu, kemampuan menguasai laut berarti kemampuan menguasai urat nadi kehidupan ekonomi Nusantara.

Dan umat Islam telah lama memiliki pengalaman dalam bidang tersebut.

Islam dan Kekuatan Maritim

Ketika imperialisme Barat datang, masyarakat Muslim telah tersebar di berbagai wilayah Nusantara. Mereka tidak hanya hidup di pedalaman, tetapi juga menguasai sejumlah kota pelabuhan dan jalur perdagangan.

Kesultanan-kesultanan Islam tumbuh di sepanjang jaringan maritim tersebut.

Namun di sinilah muncul persoalan besar.

Apakah penguasaan perdagangan otomatis berarti penguasaan militer?

Ternyata tidak.

Masyarakat Muslim Nusantara memiliki tradisi pelayaran dan perdagangan yang kuat, tetapi tidak seluruh kesultanan memiliki armada perang dan teknologi persenjataan yang mampu menandingi armada Eropa.

Bangsa-bangsa Eropa datang dengan kapal-kapal perang, persenjataan berat, modal besar, dan pengalaman peperangan antarkerajaan di Eropa.

Dengan demikian, tantangannya bukan lagi sekadar persaingan dagang.

Ia berubah menjadi perebutan kendali atas laut.

Dari Portugis dan Spanyol ke Belanda

Kesultanan-kesultanan Nusantara sebenarnya telah menghadapi tantangan imperialisme sejak kedatangan Portugis dan Spanyol pada abad ke-16.

Tetapi tantangan tersebut belum selesai ketika muncul kekuatan-kekuatan baru dari Eropa Utara.

Belanda kemudian hadir dengan kekuatan ekonomi dan militer yang semakin terorganisasi. Inggris juga berkembang menjadi kekuatan maritim global. Dalam perkembangan berikutnya, Amerika Serikat muncul sebagai salah satu kekuatan imperialis modern.

Dengan demikian, masyarakat Muslim Nusantara menghadapi gelombang imperialisme yang datang secara bertahap.

Satu tantangan belum selesai, tantangan berikutnya telah datang.

Dalam konteks Indonesia, kolonialisme Belanda kemudian berkembang menjadi sistem penguasaan ekonomi dan politik yang semakin terstruktur.

Salah satu instrumennya adalah sistem Tanam Paksa yang diperkenalkan pada 1830. Sistem tersebut membebani masyarakat pedesaan dan menjadi bagian penting dari eksploitasi ekonomi kolonial.

Di sinilah kita dapat melihat perubahan karakter imperialisme.

Penjajahan tidak lagi sekadar merebut pelabuhan atau komoditas tertentu.

Ia berkembang menjadi sistem ekonomi kolonial yang mengatur tanah, produksi, tenaga kerja, pajak, perdagangan, dan distribusi hasil bumi.

Mengapa Ulama dan Santri Melawan?

Jika demikian, mengapa dalam berbagai episode sejarah muncul perlawanan yang dipimpin atau didukung ulama, santri, dan masyarakat Muslim?

Jawabannya tidak cukup jika hanya dikatakan bahwa mereka sedang mempertahankan agama.

Yang dipertahankan sering kali jauh lebih luas: agama, tanah, kehidupan ekonomi, kehormatan masyarakat, dan kebebasan politik.

Bagi banyak masyarakat Muslim, penjajahan bukan hanya persoalan pergantian penguasa.

Penjajahan berarti hilangnya kemampuan menentukan nasib sendiri.

Ketika tanah dikuasai, hasil bumi dikendalikan, perdagangan dibatasi, dan kehidupan keagamaan diawasi, maka persoalan ekonomi, politik, dan agama bertemu dalam satu pengalaman yang sama: hilangnya kemerdekaan.

Karena itu, tidak mengherankan apabila ulama dan santri berada di berbagai garis depan perlawanan terhadap kolonialisme.

Imperialisme dan Penguasaan Laut

Mengapa bangsa-bangsa Eropa dapat berkembang menjadi kekuatan imperial yang begitu besar?

Salah satu jawabannya adalah sea power, kekuatan maritim.

Armada perang memungkinkan sebuah negara bergerak jauh dari wilayah asalnya. Kapal membawa tentara, senjata, logistik, dan barang dagangan sekaligus.

Siapa yang menguasai pelabuhan, selat, dan jalur pelayaran, memiliki kemampuan untuk mengendalikan perdagangan.

Karena itu, penguasaan jalur laut antara Timur Tengah, India, Nusantara, dan Tiongkok menjadi sangat strategis.

Bangsa-bangsa Eropa berusaha menguasai titik-titik penting di sepanjang jalur tersebut. Tujuannya bukan hanya menguasai wilayah, tetapi juga memotong atau mengendalikan jaringan perdagangan yang sebelumnya menghubungkan pusat-pusat ekonomi Asia.

Di sinilah letak salah satu pelajaran sejarah yang penting:

Kekuatan ekonomi tanpa perlindungan maritim dapat menjadi rentan.

Nusantara memiliki rempah-rempah.

Nusantara memiliki pelaut.

Nusantara memiliki pelabuhan.

Nusantara memiliki jaringan perdagangan.

Tetapi siapa yang menguasai laut secara militer?

Pertanyaan inilah yang menjadi salah satu kunci untuk memahami mengapa bangsa Eropa mampu mengubah posisi mereka dari pendatang menjadi penguasa.

Laut dalam Perspektif Islam

Persoalan maritim juga mengingatkan kita kepada perhatian Islam terhadap laut.

Al-Qur'an berulang kali menyebut laut sebagai salah satu tanda kekuasaan Allah sekaligus sebagai sarana kehidupan manusia. Laut menjadi jalan pelayaran, sumber rezeki, dan ruang perjumpaan antarmanusia.

Karena itu, penguasaan maritim tidak semestinya dipandang sebagai persoalan teknis semata.

Ia berkaitan dengan ekonomi, keamanan, perdagangan, dan kedaulatan.

Jika sebuah bangsa kehilangan kemampuan mengendalikan jalur lautnya sendiri, bukankah sebagian dari kedaulatannya juga ikut hilang?

Pertanyaan tersebut relevan bagi sejarah Nusantara.

Sebab wilayah kepulauan yang tidak memiliki kemampuan menjaga lautnya akan mudah dimasuki kekuatan asing.

Apakah Nasionalisme Baru Lahir pada Abad ke-20?

Di sinilah muncul sebuah pertanyaan penting.

Apakah kesadaran kebangsaan Indonesia benar-benar baru muncul pada awal abad ke-20?

Dalam narasi sejarah konvensional, kebangkitan nasional sering dikaitkan dengan lahirnya organisasi-organisasi modern pada awal abad ke-20.

Namun, jika sejarah perlawanan terhadap imperialisme dilihat lebih panjang, bukankah terdapat bentuk kesadaran kolektif yang jauh lebih awal?

Ketika Portugis menyerang pusat-pusat perdagangan dan kesultanan Muslim pada abad ke-16, masyarakat melakukan perlawanan.

Ketika VOC memperluas monopoli perdagangan, muncul pula perlawanan.

Ketika kolonialisme Belanda memperluas kontrol politik dan ekonomi, ulama, santri, bangsawan, petani, dan masyarakat lokal kembali melakukan perlawanan.

Mereka memang belum menggunakan istilah “nasionalisme” sebagaimana dipahami pada abad ke-20.

Tetapi apakah ketiadaan istilah tersebut berarti tidak adanya kesadaran mempertahankan tanah air?

Belum tentu.

Kesadaran kolektif dapat lahir dalam bahasa agama, kesultanan, komunitas, atau identitas lokal sebelum kemudian berkembang menjadi nasionalisme modern.

Karena itu, Islam dalam sejarah Nusantara dapat dipandang sebagai salah satu sumber penting pembentukan kesadaran anti-imperialisme.

Bukan berarti nasionalisme Indonesia hanya lahir dari Islam.

Tetapi sulit pula mengabaikan kontribusi jaringan ulama, pesantren, kesultanan, dan komunitas Muslim dalam membangun kesadaran melawan penjajahan.

Islam, Tanah Air, dan Kemerdekaan

Mengapa perlawanan tersebut begitu kuat?

Karena bagi masyarakat Muslim, penjajahan menyentuh beberapa dimensi sekaligus.

Tanah air harus dipertahankan.

Masyarakat harus dilindungi.

Kehidupan ekonomi harus dibebaskan dari eksploitasi.

Dan agama harus memiliki ruang untuk hidup tanpa tekanan kekuasaan asing.

Dengan demikian, cinta tanah air, pembelaan terhadap masyarakat, kebebasan ekonomi, dan kemerdekaan beragama dapat bertemu dalam pengalaman perjuangan melawan imperialisme.

Ketika imperialisme datang, persoalannya bukan lagi sekadar:

“Siapa yang menjadi penguasa?”

Tetapi:

“Siapa yang berhak menentukan masa depan negeri ini?”

Pertanyaan inilah yang membuat perlawanan terhadap imperialisme memiliki dimensi politik yang sangat kuat.

Apakah Penjajahan Mengubah Hubungan Antaragama?

Ada pula persoalan lain yang perlu dikaji secara kritis.

Sebelum kolonialisme Eropa berkembang, bagaimana sebenarnya hubungan antarkelompok agama di Nusantara?

Kehidupan Nusantara tentu tidak pernah sepenuhnya bebas dari konflik. Persaingan politik, perang antarkerajaan, dan pertentangan sosial telah ada jauh sebelum kedatangan bangsa Eropa.

Namun, kedatangan kekuatan kolonial memperkenalkan bentuk baru hubungan antara agama dan kekuasaan.

Dalam konteks inilah muncul pertanyaan:

Apakah kolonialisme hanya menguasai wilayah, atau juga ikut mengubah cara masyarakat memandang identitas agama dan politik?

Pertanyaan ini penting karena kolonialisme sering bekerja bukan hanya melalui kekuatan militer, tetapi juga melalui administrasi, pendidikan, klasifikasi sosial, hukum, dan politik identitas.

Karena itu, hubungan antara kolonialisme dan perubahan kehidupan antaragama perlu diteliti berdasarkan bukti sejarah yang spesifik, bukan hanya melalui generalisasi.

Katolik, Protestan, dan Imperialisme: Perlu Kehati-hatian

Pada titik ini kita perlu berhati-hati.

Sejarah imperialisme Barat tidak dapat disederhanakan menjadi:

Katolik berarti imperialisme kuno, sedangkan Protestan berarti imperialisme modern.

Realitas sejarah jauh lebih kompleks.

Negara-negara Katolik dan Protestan sama-sama pernah menjalankan ekspansi kolonial. Spanyol dan Portugal merupakan kekuatan kolonial Katolik, tetapi Inggris dan Belanda yang Protestan juga membangun imperium yang sangat luas. Bahkan perkembangan imperialisme modern melibatkan banyak faktor lain: revolusi industri, kapitalisme, nasionalisme, teknologi militer, perkembangan navigasi, kebutuhan bahan mentah, dan persaingan antarnegara.

Karena itu, yang lebih tepat adalah melihat adanya perubahan corak imperialisme daripada membuat garis pemisah mutlak berdasarkan denominasi agama.

Namun demikian, latar belakang konflik keagamaan Eropa tetap penting.

Eropa pernah mengalami konflik panjang antara kekuatan Katolik dan kelompok-kelompok Protestan, termasuk perkembangan Calvinisme. Konflik tersebut membentuk dinamika politik Eropa dan ikut memengaruhi perkembangan negara-negara modern.

Dari sinilah ekspansi Eropa keluar menuju dunia luar.

Tetapi apakah ekspansi tersebut semata-mata perang agama?

Tidak.

Di dalamnya terdapat agama, tetapi juga terdapat kepentingan ekonomi dan politik.

Karena itu, sejarah imperialisme harus dibaca sebagai pertemuan antara ideologi, agama, kekuasaan, teknologi, dan kepentingan ekonomi.

Dari Kesadaran Lokal Menuju Kesadaran Nasional

Jika seluruh perjalanan ini direnungkan, ada satu hal yang menarik.

Kesadaran melawan imperialisme tidak tiba-tiba muncul pada abad ke-20.

Ia memiliki akar yang panjang.

Perlawanan terhadap Portugis.

Perlawanan terhadap VOC.

Perlawanan terhadap monopoli perdagangan.

Perlawanan terhadap intervensi politik kolonial.

Perlawanan ulama dan santri.

Perlawanan petani.

Perlawanan kesultanan.

Semua itu merupakan bagian dari pengalaman panjang masyarakat Nusantara dalam menghadapi kekuatan asing.

Bentuknya memang berbeda-beda.

Bahasanya juga berbeda.

Ada yang berbicara dalam bahasa agama.

Ada yang menggunakan loyalitas kepada kesultanan.

Ada yang mempertahankan tanah dan kehidupan ekonomi.

Ada yang mengangkat senjata.

Tetapi di balik keragaman itu terdapat satu kesadaran yang sama:

keinginan untuk menentukan nasib sendiri.

Penutup: Membaca Ulang Sejarah Imperialisme

Maka, ketika kita membaca sejarah imperialisme Barat di Nusantara, kita tidak cukup hanya menghafal tahun kedatangan Portugis, Spanyol, Belanda, atau Inggris.

Kita perlu bertanya lebih dalam:

Mengapa mereka datang?

Apa yang mereka cari?

Mengapa Nusantara begitu penting bagi mereka?

Mengapa laut menjadi arena utama perebutan kekuasaan?

Mengapa ulama dan santri berada di banyak pusat perlawanan?

Dan yang tidak kalah penting:

Bagaimana pengalaman panjang menghadapi imperialisme membentuk kesadaran tentang kemerdekaan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut membawa kita kepada kesimpulan bahwa sejarah imperialisme bukan sekadar sejarah kedatangan bangsa asing.

Ia adalah sejarah tentang perebutan ruang, sumber daya, jalur perdagangan, kekuasaan, identitas, dan hak menentukan masa depan sendiri.

Nusantara memiliki kekayaan.

Nusantara memiliki pelabuhan.

Nusantara memiliki jaringan perdagangan.

Nusantara memiliki masyarakat Muslim yang tersebar luas.

Tetapi pengalaman sejarah menunjukkan bahwa kekayaan tanpa kekuatan politik dan maritim dapat mengundang kekuatan lain untuk mengambil alih kendali.

Karena itu, pelajaran terbesar dari sejarah imperialisme bukanlah sekadar siapa yang pernah menjajah dan siapa yang pernah dijajah.

Pelajarannya adalah:

sebuah bangsa harus mampu mengenali nilai strategis tanah airnya, menjaga kedaulatan ekonominya, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, serta membangun kekuatan maritim dan politik yang mampu melindungi kemerdekaannya.

Sebab kemerdekaan tidak cukup hanya dicintai.

Kemerdekaan harus dipahami, dijaga, dan diperjuangkan.

Kedatangan Islam di Nusantara dari Bukti Arkeologi  Membicarakan ked...

Kedatangan Islam di Nusantara dari Bukti Arkeologi 



Membicarakan kedatangan Islam ke Nusantara berarti memasuki wilayah sejarah yang penuh jejak, tetapi sekaligus penuh celah. Data historis dan arkeologis yang tersedia masih terbatas, tidak lengkap, bahkan kadang-kadang membuka ruang bagi penafsiran yang berbeda.

Lalu, bagaimana kita harus membaca sejarah ketika sebagian besar rekamannya telah hilang?

Di sinilah pernyataan Louis Gottschalk menjadi penting. Menurutnya, sejarah sebagai ilmu selalu dibatasi oleh keterbatasan rekaman. Objek yang dipelajari tidak pernah hadir secara utuh karena sebagian rekaman telah hilang, berubah, atau tidak pernah dicatat sama sekali (Louis Gottschalk, 1975: 29–30).

David Hackett Fischer juga mengingatkan bahwa sejarawan pada dasarnya hanya dapat berharap mengetahui sesuatu tentang sesuatu. Setiap pernyataan historis yang benar merupakan jawaban atas pertanyaan tertentu yang diajukan sejarawan, bukan jawaban atas seluruh pertanyaan tentang segala sesuatu (David Hackett Fischer, 1970: 5).

Karena itu, pertanyaan kita bukan semata-mata: “Kapan Islam datang ke Nusantara?”

Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: “Bagaimana proses Islamisasi itu berlangsung?”

Sebab kedatangan Islam dan Islamisasi bukanlah dua hal yang identik. Kedatangan dapat menunjuk pada hadirnya individu atau kelompok Muslim di suatu wilayah. Islamisasi, sebaliknya, merupakan proses yang jauh lebih panjang: terbentuknya komunitas Muslim, berkembangnya jaringan perdagangan, munculnya ulama dan mubalig, penerimaan Islam oleh elite politik, berdirinya kerajaan Islam, serta perubahan sosial dan kebudayaan yang berlangsung secara bertahap.

Dengan perspektif ini, tanggal kedatangan Islam bukan lagi satu-satunya persoalan. Yang jauh lebih menarik adalah bagaimana sebuah agama yang mula-mula hadir melalui hubungan antarmanusia kemudian berkembang menjadi kekuatan sosial, intelektual, ekonomi, dan politik di dunia Melayu-Nusantara.

Dua Arus Besar Teori Kedatangan Islam

Tidak ada kesepakatan di antara para sejarawan mengenai kapan sebenarnya Islam mulai datang dan menyebar di dunia Melayu.

Secara garis besar, teori-teori tersebut dapat dikelompokkan ke dalam dua kategori.

Kelompok pertama berpendapat bahwa Islam telah hadir sejak abad pertama Hijriah atau sekitar abad ke-7 M. Teori ini dikemukakan antara lain oleh W.P. Groeneveldt, T.W. Arnold, Syed Naguib al-Attas, George Fadlo Hourani, J.C. van Leur, Hamka, Uka Tjandrasasmita, dan sejumlah sejarawan lainnya.

Kelompok kedua berpendapat bahwa kedatangan Islam baru dimulai sekitar abad ke-13 M. Pandangan ini dikaitkan dengan C. Snouck Hurgronje, J.P. Moquette, R.A. Kern, Haji Agus Salim, dan lainnya.

Perbedaan tersebut sebenarnya mengajarkan sesuatu yang penting: sejarah bukan hanya persoalan menemukan tanggal, tetapi juga persoalan menilai bukti.

Jejak Abad ke-7 dan ke-8 M

Teori pertama antara lain bertumpu pada catatan Tiongkok dari Dinasti Tang. Salah satu catatan menyebutkan adanya orang-orang Ta-shih yang membatalkan niat menyerang Kerajaan Ho-ling di bawah pemerintahan Ratu Sima pada sekitar 674 M (Groeneveldt, 1960: 14; George Fadlo Hourani, 1951: 62).

Groeneveldt mengidentifikasi Ta-shih sebagai orang-orang Arab yang menetap di pantai barat Sumatera (Groeneveldt, 1960: 14). Istilah tersebut juga muncul dalam catatan yang lebih kemudian, termasuk catatan Jepang mengenai perjalanan biarawan Kanshin pada 748 M. Ia menyebut Ta-shih-Kuo dan perahu-perahu Po-sse di Khanfu atau Kanton.

Rita Rose Di Meglio berpendapat bahwa Po-sse mungkin berkaitan dengan kelompok keturunan Melayu, sedangkan Ta-shih menunjuk kepada orang Arab dan Persia. Pada masa abad ke-7 dan ke-8 M, menurutnya, belum terdapat bukti kuat mengenai keberadaan kelompok Muslim lain, seperti Muslim India, di kawasan tersebut (Rita Rose Di Meglio, 1970: 108, 109, 115).

Tetapi di manakah sebenarnya Ta-shih itu?

Di sinilah persoalan menjadi menarik. Lokasinya masih diperdebatkan. Groeneveldt menghubungkannya dengan pantai barat Sumatera, sementara Syed Naguib al-Attas dan Uka Tjandrasasmita pernah mengemukakan kemungkinan lokasi lain, seperti Palembang atau Kuala Brang di Semenanjung Malaya.

Perbedaan lokasi ini tidak serta-merta membatalkan seluruh teori. Justru ia menunjukkan bahwa kita perlu berhati-hati dalam menarik kesimpulan dari sumber-sumber lama.

Yang paling aman untuk dikatakan adalah bahwa pada abad ke-7 dan ke-8 M terdapat kemungkinan kuat adanya kontak antara pedagang atau komunitas Muslim—baik Arab maupun Persia, dan mungkin juga kelompok lainnya—dengan wilayah-wilayah di sekitar Selat Malaka.

Jika demikian, mungkinkah Islam telah hadir sebelum munculnya kerajaan Islam?

Sangat mungkin.

Dan di sinilah kita perlu membedakan antara kehadiran Islam dan berdirinya kekuasaan Islam.

Sebuah komunitas Muslim tidak harus menunggu berdirinya kerajaan Islam untuk hadir. Pedagang dapat datang lebih dahulu. Mereka dapat menetap. Mereka menikah dengan penduduk setempat. Mereka membangun komunitas. Mereka berinteraksi dengan masyarakat lokal. Dari hubungan sosial semacam itulah proses Islamisasi dapat berlangsung perlahan.

Perdagangan: Jalan yang Menghubungkan Dunia

Mengapa Islam dapat hadir begitu awal di kawasan Nusantara?

Salah satu jawabannya terletak pada perdagangan laut.

Hubungan dagang antara Asia Barat, Asia Selatan, Asia Tenggara, dan Asia Timur berkembang pesat seiring menguatnya tiga kekuatan besar: Kekhalifahan Umayah di Asia Barat, Dinasti Tang di Asia Timur, dan Sriwijaya di Asia Tenggara (George Fadlo Hourani, 1951: 62; Uka Tjandrasasmita, 1976: 84).

Bayangkan jalur perdagangan tersebut.

Dari Arabia dan Persia, kapal bergerak menuju India. Dari India mereka melanjutkan perjalanan menuju Semenanjung Malaya dan Sumatera. Sebagian bergerak ke Jawa, Champa, dan kemudian menuju Tiongkok.

Jalur perdagangan bukan sekadar jalur barang.

Ia juga menjadi jalur manusia.

Dan ketika manusia bergerak, yang ikut bergerak bukan hanya komoditas, tetapi juga bahasa, pengetahuan, budaya, keyakinan, dan jaringan sosial.

Dengan demikian, laut yang tampak sebagai pemisah justru menjadi jembatan peradaban.

Dari Pelabuhan ke Komunitas Muslim

Ibnu Khurdadhbih dalam Kitab Akhbar menyebut Kalah Bar, yang mungkin merujuk kepada Kedah, sebagai salah satu pelabuhan yang dikunjungi pedagang Muslim dalam perjalanan menuju Tiongkok pada abad ke-9 M.

Menurut Wolters, Ligor dan Kedah telah digunakan pedagang Arab sebagai pusat perdagangan (John K. Whitmore, 1977: 139–153; O.W. Wolters, 1970).

Rute tersebut kemudian menghubungkan Kedah dengan Sumatera, Jawa, Champa, Indocina, hingga Kanton.

Khurdadhbih bahkan menggambarkan perjalanan laut tersebut secara cukup rinci. Dari Masqat menuju Kulam Mali membutuhkan sekitar 29–30 hari. Dari Kulam menuju Kalah Bar sekitar satu bulan. Dari Kalah Bar menuju Sanf Fulaw satu bulan lagi, kemudian dari Sanf Fulaw menuju Khanfu atau Kanton sekitar satu bulan. Keseluruhan perjalanan, termasuk transit, dapat mencapai sekitar 120 hari (George Fadlo Hourani, 1951: 71–74).

Apa yang dapat kita lihat dari informasi tersebut?

Bahwa Nusantara tidak berdiri di pinggir dunia.

Ia justru berada di salah satu simpul jaringan perdagangan internasional.

Dan jika pedagang Muslim secara rutin melewati jalur tersebut, maka kontak dengan masyarakat lokal hampir tidak mungkin dihindari.

Barus: Jejak yang Mengubah Perspektif

Salah satu temuan yang penting adalah batu nisan di Barus, pantai barat Sumatera.

Pada tahun 1978, peneliti Pusat Riset Arkeologi Nasional menemukan sejumlah batu nisan di situs Tuanku Batu Badan. Salah satu yang paling menarik adalah batu nisan seorang perempuan bernama Tuhar Amsuri yang meninggal pada 19 Safar 602 H.

Temuan tersebut sebenarnya telah dilaporkan lebih dahulu oleh D.W.N. de Boer dan J.L. Plas kepada Museum Batavia pada 1929, meskipun pembacaan mereka terhadap inskripsi tersebut berbeda.

Jika pembacaan 602 H tersebut benar, maka makam itu bertanggal sekitar 1205 M. Ia lebih tua daripada makam Sultan Malik as-Salih yang bertanggal 696 H atau 1297 M.

Apa artinya?

Setidaknya, temuan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Muslim telah hadir di Barus sebelum berdirinya Samudera Pasai.

Dengan demikian, Samudera Pasai tidak harus dipahami sebagai tempat pertama Islam hadir di Sumatera. Ia lebih tepat dipahami sebagai salah satu titik penting ketika komunitas Muslim yang sebelumnya telah berkembang kemudian memperoleh bentuk politik kerajaan.

Ini merupakan perbedaan yang sangat penting.

Islamisasi tidak dimulai ketika kerajaan Islam berdiri. Kerajaan Islam justru dapat menjadi salah satu hasil dari proses Islamisasi yang telah berlangsung sebelumnya.

Jawa dan Batu Nisan Leran

Jejak yang serupa ditemukan di pantai utara Jawa.

Di Leran, Gresik, ditemukan batu nisan bertuliskan nama Fatimah binti Maimun bin Abdullah. Batu tersebut menggunakan aksara kufi dan mencantumkan tahun wafat yang dibaca sebagai 495 H atau 1102 M. Namun terdapat pembacaan lain yang mengusulkan tahun 475 H atau 1082 M (J.P. Moquette, 1921: 391–399; Paul Ravaisse, 1925: 668–703).

Apa pun perbedaan pembacaan tersebut, batu nisan ini merupakan bukti arkeologis yang sangat penting.

Ia menunjukkan bahwa pada sekitar abad ke-11 M telah terdapat komunitas Muslim di pantai utara Jawa.

Bukankah ini menarik?

Sebelum Islam menjadi kekuatan politik besar di Jawa, jejak masyarakat Muslim ternyata telah muncul terlebih dahulu.

Islam datang sebagai komunitas sebelum tampil sebagai kekuasaan.

Samudera Pasai dan Perubahan Peta Politik

Jika Islam telah hadir lebih awal, mengapa Samudera Pasai baru muncul sebagai kerajaan Muslim pada abad ke-13?

Di sinilah faktor politik dan ekonomi mulai memainkan peran penting.

Samudera Pasai berada di kawasan yang sangat strategis, dekat jalur perdagangan Selat Malaka. Pada saat yang sama, Sriwijaya mulai mengalami kelemahan sejak abad ke-12 dan ke-13.

Catatan Ling-Wai-Tai-Ta yang ditulis Chou-Chu-Fei pada 1178 M memberikan gambaran mengenai kondisi kawasan tersebut.

Tekanan politik juga meningkat, terutama dari Jawa. Singasari mengirimkan Ekspedisi Pamalayu pada 1275 ke Sumatera.

Ketika Sriwijaya melemah, kemampuan kerajaan tersebut untuk mengendalikan jalur perdagangan internasional di sekitar Selat Malaka ikut melemah.

Dalam kondisi seperti itu, muncul ruang baru.

Dan sejarah sering kali menunjukkan bahwa ketika sebuah pusat kekuasaan melemah, pusat baru dapat tumbuh di tempat yang memiliki posisi strategis.

Samudera Pasai muncul dalam konteks semacam itu.

Karena itu, berdirinya Samudera Pasai tidak seharusnya dibaca semata-mata sebagai “awal Islam” di Sumatera. Ia lebih tepat dipahami sebagai fase baru dalam proses Islamisasi, ketika jaringan perdagangan dan komunitas Muslim mulai bertransformasi menjadi kekuatan politik.

Dari Samudera Pasai ke Malaka

Peran Samudera Pasai kemudian semakin luas.

Hubungan perdagangan membuat pengaruh Islam bergerak dari satu pelabuhan ke pelabuhan lainnya. Jalurnya tidak selalu berupa penaklukan. Sering kali ia bergerak melalui perdagangan, perkawinan, pendidikan, dakwah, dan hubungan politik.

Malaka menjadi contoh penting.

Parameswara, menurut Tome Pires, memeluk Islam setelah menikah dengan putri Pasai dan kemudian menggunakan gelar Sultan Megat Iskandar Shah sekitar 1413 M.

Sejak itu Malaka berkembang menjadi pusat kerajaan Islam sekaligus pusat penyebaran Islam ke berbagai wilayah dunia Melayu, terutama pada masa Sultan Muzaffar Shah dan Sultan Mansur Shah.

Hubungan Samudera Pasai dan Malaka dapat dilihat pula melalui kemiripan tipologi batu nisan dan penggunaan koin emas atau dirham.

Apa yang sebenarnya sedang kita lihat?

Bukan sekadar perpindahan agama.

Kita sedang melihat terbentuknya jaringan peradaban Islam.

Samudera Pasai, Malaka, Jawa, Patani, Semenanjung Malaya, hingga wilayah lainnya terhubung oleh jaringan perdagangan dan keilmuan yang memungkinkan gagasan Islam bergerak melampaui batas kerajaan.

Patani: Islam Bergerak Melalui Jaringan

Hikayat Patani menyebut seorang tokoh dari Pasai bernama Syekh Said sebagai salah satu pelopor Islamisasi Patani.

Menurut riwayat tersebut, Raja Patani, Paya Tu Nagpu, disembuhkan oleh Syekh Said dan kemudian memeluk Islam dengan nama Sultan Ismail Shah Zillullah Filalam.

Pada masa Sultan Muzaffar Shah, datang pula seorang mubalig bernama Syekh Saifuddin yang mendirikan masjid dan memperkuat kehidupan masyarakat Muslim di Patani (A. Teeuw & D.K. Wyatt, 1970: 71–78).

Data arkeologis mengenai makam-makam kuno di Patani juga memperlihatkan adanya jaringan tokoh Muslim yang kemudian dikenang dalam tradisi lokal.

Dengan demikian, Samudera Pasai tampaknya bukan hanya sebuah kerajaan.

Ia merupakan salah satu simpul jaringan Islamisasi.

Dari simpul-simpul semacam inilah Islam bergerak ke wilayah lain.

Trengganu: Ketika Islam Menjadi Bahasa Hukum

Jejak lain yang sangat penting adalah Batu Bersurat Trengganu.

Prasasti ini ditulis dalam bahasa Melayu menggunakan aksara Jawi dan bertanggal 702 H atau sekitar 1303 M.

Ia penting bukan hanya karena usianya, tetapi karena isi dan bentuknya menunjukkan bahwa Islam telah mulai memasuki ruang sosial dan hukum masyarakat Melayu.

Di sinilah kita melihat perubahan penting.

Islam tidak lagi hanya hadir sebagai keyakinan pribadi para pedagang.

Ia mulai tampil sebagai bahasa hukum, norma sosial, dan identitas politik.

Perubahan semacam inilah yang menjadi salah satu indikator penting dalam proses Islamisasi.

Brunei: Apakah Islam Baru Datang pada Abad ke-16?

Brunei memberikan persoalan yang tidak kalah menarik.

Teori lama menghubungkan Islamisasi Brunei dengan India, Sumatera Utara, dan Malaka sejak awal abad ke-16. Barbara Watson dan Leonard Y. Andaya bahkan berpendapat bahwa Brunei mengalami persinggungan dengan pedagang Muslim sejak lama, tetapi penguasa Brunei baru mengadopsi Islam sekitar 1514–1521.

Namun, apakah benar demikian?

Data historis dan arkeologis memberikan kemungkinan yang lebih tua.

Tradisi Selasilah atau Tersilah Brunei menyebut Alak ber Tata atau Aluk Batatar sebagai penguasa awal Brunei yang kemudian dikenal sebagai Sultan Muhammad.

Tradisi lain menghubungkannya dengan Johor dan Malaka pada abad ke-15.

Yang lebih menarik adalah bukti arkeologis berupa batu nisan Sultan Abdul Majid bin Muhammad Shah al-Sultan yang bertanggal 440 H atau sekitar 1048 M di Bandar Seri Begawan.

Jika pembacaan dan identifikasi tersebut dapat dipertanggungjawabkan, maka ia membuka pertanyaan besar:

Mungkinkah komunitas Muslim telah hadir di Brunei jauh sebelum Islam menjadi agama resmi kerajaan?

Pertanyaan itu tentu masih membutuhkan penelitian lebih lanjut. Tetapi justru di sinilah arkeologi memainkan peran penting: ia memaksa kita untuk menguji kembali narasi sejarah yang telah lama dianggap mapan.

Sulu dan Filipina Selatan

Jaringan Islamisasi juga bergerak menuju Sulu, Mindanao, Maguindanao, dan Buayan.

Tradisi lokal menyebut tokoh-tokoh seperti Sayid Abu Bakar dan Syarif Muhammad Kabungsuwan sebagai pelopor Islamisasi di kawasan tersebut.

Dalam Tarsilah Sultan-Sultan Sulu yang diterbitkan Saluby pada 1907, disebutkan rangkaian penguasa Sulu mulai dari Abu Bakar atau Sultan Syarif hingga Muhammad Alimuddin II.

Cesar Adib Majul menggunakan Tarsilah tersebut untuk merekonstruksi sejarah awal Islam di Filipina Selatan.

Tradisi tersebut juga menyebut Karim al-Makhdum, yang diperkirakan tiba di Sulu sekitar akhir abad ke-14 M. Batu nisan di Bud Dato dekat Jolo yang bertanggal 710 H atau 1310 M juga menjadi salah satu bukti arkeologis yang menarik untuk dikaji dalam konteks ini.

Kemudian muncul kelompok yang dikenal sebagai Makhdum, yang dalam beberapa riwayat dikaitkan dengan para sufi dan pendakwah yang bergerak dari Iran dan India menuju Asia Tenggara setelah kehancuran Baghdad oleh Mongol pada 1258 M (Cesar Adib Majul, 1987: 22).

Sekali lagi, kita melihat pola yang sama.

Islam bergerak melalui jaringan manusia.

Pedagang, ulama, sufi, penguasa, keluarga, dan komunitas diaspora menjadi bagian dari proses tersebut.

Islamisasi: Bukan Sebuah Peristiwa Tunggal

Jika seluruh jejak tersebut kita susun kembali, kita menemukan sebuah pola yang lebih kompleks daripada sekadar pertanyaan “Islam datang pada abad berapa?”

Islamisasi Nusantara tampaknya merupakan proses yang panjang, bertahap, dan tidak seragam.

Ada pedagang yang datang lebih dahulu.

Ada komunitas Muslim yang kemudian menetap.

Ada perkawinan dengan penduduk lokal.

Ada ulama dan mubalig yang memperluas dakwah.

Ada pelabuhan yang berubah menjadi pusat perdagangan Muslim.

Ada penguasa yang kemudian memeluk Islam.

Ada kerajaan yang tumbuh dan menjadikan Islam sebagai identitas politik.

Ada pula jaringan antarkerajaan yang membuat Islam semakin luas.

Dengan demikian, kedatangan Islam tidak sama dengan Islamisasi, dan Islamisasi tidak sama dengan berdirinya kerajaan Islam.

Ketiganya merupakan tahapan yang saling berkaitan, tetapi tidak identik.

Barangkali inilah sebabnya perdebatan tentang “teori Arab”, “teori India”, atau “teori lainnya” tidak cukup jika hanya digunakan untuk menentukan satu titik asal.

Islamisasi Nusantara mungkin justru merupakan hasil dari pertemuan berbagai jaringan: Arab, Persia, India, Asia Tenggara, dan Tiongkok.

Dari Mana Islam Datang?

Pertanyaan ini tetap penting.

Tetapi mungkin kita perlu mengubah cara bertanyanya.

Bukan hanya:

“Dari mana Islam datang ke Nusantara?”

Melainkan:

“Melalui jaringan apa Islam sampai ke Nusantara?”

Bukan hanya:

“Kapan Islam datang?”

Tetapi:

“Kapan kehadiran Muslim berubah menjadi komunitas, lalu menjadi masyarakat, dan akhirnya menjadi kekuatan politik?”

Dan bukan hanya:

“Siapa yang pertama membawa Islam?”

Tetapi:

“Siapa yang membuat Islam bertahan, berkembang, dan berakar di tengah masyarakat Nusantara?”

Pertanyaan-pertanyaan tersebut membuat sejarah Islam Nusantara menjadi jauh lebih hidup.

Sebab Islamisasi bukanlah sebuah kapal yang tiba pada satu hari tertentu lalu seluruh Nusantara tiba-tiba menjadi Muslim.

Ia lebih menyerupai gelombang.

Datang dari berbagai arah.

Berulang kali.

Menyentuh pelabuhan demi pelabuhan.

Membentuk komunitas demi komunitas.

Kemudian perlahan memasuki ruang keluarga, pasar, masjid, istana, hukum, pendidikan, bahasa, dan kebudayaan.

Penutup: Membaca Sejarah dengan Rendah Hati

Pada akhirnya, keterbatasan data sejarah seharusnya tidak membuat kita berhenti meneliti. Sebaliknya, keterbatasan tersebut mengajarkan kita untuk lebih rendah hati dalam menyimpulkan masa lalu.

Kita tidak memiliki seluruh rekaman.

Kita hanya memiliki serpihan.

Batu nisan.

Prasasti.

Catatan perjalanan.

Berita dari Tiongkok.

Catatan pedagang.

Tradisi lokal.

Naskah kerajaan.

Dan jejak-jejak arkeologis yang kadang baru ditemukan berabad-abad kemudian.

Dari serpihan-serpihan itulah sejarah disusun.

Karena itu, kesimpulan tentang kedatangan Islam di Nusantara tidak seharusnya dipaksakan menjadi satu tanggal tunggal.

Yang lebih penting adalah memahami prosesnya.

Islam tampaknya telah hadir melalui jaringan perdagangan internasional sejak berabad-abad sebelum munculnya kerajaan-kerajaan Islam. Kehadiran itu kemudian berkembang menjadi komunitas Muslim di berbagai pelabuhan. Dari komunitas tersebut lahir pusat-pusat Islam baru, seperti Samudera Pasai. Dari sana jaringan Islam meluas ke Malaka, Patani, Jawa, Brunei, Sulu, dan berbagai wilayah lainnya.

Dengan kata lain, Islamisasi Nusantara bukanlah satu peristiwa, melainkan sebuah proses peradaban.

Ia tidak berjalan dalam satu garis lurus.

Ia bergerak melalui laut, pasar, keluarga, masjid, pesantren, istana, dan jaringan ulama.

Dan mungkin justru di situlah letak keunikan sejarah Islam di Nusantara: sebuah agama yang datang melalui jaringan kosmopolitan, tetapi kemudian tumbuh menjadi bagian dari identitas lokal.

Maka tugas kita bukan sekadar mencari siapa yang paling dahulu datang.

Tugas kita adalah memahami bagaimana sebuah perjumpaan berubah menjadi proses, bagaimana proses berubah menjadi komunitas, bagaimana komunitas berubah menjadi peradaban, dan bagaimana peradaban itu kemudian membentuk wajah Islam Nusantara.

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adam (5) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Al-Baqarah (1) Al-Qur'an (362) Al-Qur’an (55) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) An-Nadwi (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bahaya Kemunduran Umat Islam (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (53) Cerita kegagalan (1) cerpen Nabi (8) cerpen Nabi Musa (2) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) dakwah (13) Dakwah (16) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) Ekonomi (5) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) english (6) English (6) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fiqh (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (7) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) hikmah (1) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) Islam (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) kecerdasan (20) Kecerdasan (331) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Hadist (4) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) kisah para nabi dan (2) kisah para nabi dan rasul (58) kisah para Nabi dan Rasul (1) Kisah para nabi dan rasul (111) Kisah Para Nabi dan Rasul (577) kisah para nabi dan rasul. Nabi Daud (1) kisah para nabi dan rasul. nabi Musa (2) Kisah Penguasa (1) Kisah ulama (1) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) nabi adam (1) Nabi Adam (75) nabi Adam. Adam (1) Nabi Ayub (1) Nabi Daud (3) Nabi Ibrahim (3) Nabi Isa (2) nabi Isa. nabi ismail (1) Nabi Ismail (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Khidir (1) Nabi Musa (29) Nabi Nuh (6) Nabi Sulaiman (2) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (15) Namrudz (2) Nasrulloh Baksolahar (1) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) nusantara (7) Nusantara (292) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (707) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rasulullah shalallahu alaihi wassalam (1) Rehat (493) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) Sahabat (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) Salimul Aqidah (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Serah Nabawiyah (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (319) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah penguasa (11) Sirah Penguasa (248) sirah Sahabat (2) Sirah Sahabat (173) Sirah Tabiin (43) Sirah ulama (36) Sirah Ulama (158) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tamim Ad Dari (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Wakaf (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)