Kesalahan Penulisan Sejarah Islam: Bagaimana Memperbaikinya?
Bagaimana seharusnya sejarah ditulis?
Apakah sejarah hanya sekadar mencatat siapa yang menang, siapa yang kalah, siapa yang berkuasa, dan siapa yang terguling? Ataukah sejarah seharusnya menjelaskan mengapa suatu peradaban bangkit dan mengapa akhirnya runtuh?
Di sinilah letak perbedaan mendasar antara pandangan Islam dan banyak penulisan sejarah modern.
Sejarah Tidak Pernah Netral dari Cara Pandang
Setiap sejarah ditulis berdasarkan cara pandang tertentu. Tidak ada penulisan sejarah yang benar-benar bebas nilai.
Jika ukuran keberhasilan sebuah peradaban hanyalah kekuatan militer, kekayaan ekonomi, atau luas wilayah kekuasaan, maka itulah wajah sejarah yang akan lahir.
Namun Islam menawarkan ukuran yang berbeda.
Al-Qur'an mengajarkan bahwa keberhasilan manusia diukur dari sejauh mana ia menjalankan tujuan penciptaannya: mengesakan Allah, beribadah kepada-Nya, menegakkan syariat-Nya, serta memakmurkan bumi sesuai manhaj rabbani.
Karena itu, sejarah umat manusia—termasuk sejarah Islam—perlu dibaca dengan paradigma yang dibangun oleh Al-Qur'an dan Sunnah.
Mengapa Sejarah Islam Perlu Ditulis Ulang?
Apakah karena para sejarawan muslim dahulu keliru?
Tidak.
Justru mereka telah menunjukkan amanah ilmiah yang luar biasa.
Para ulama sejarah seperti Imam ath-Thabari menghimpun hampir seluruh riwayat yang sampai kepada mereka, baik yang kuat maupun yang lemah, baik yang saling menguatkan maupun yang saling bertentangan.
Mengapa demikian?
Karena mereka merasa tidak berhak menyembunyikan informasi yang telah sampai kepada mereka.
Mereka menyerahkan tugas penyaringan kepada generasi setelahnya.
Imam ath-Thabari sendiri telah mengingatkan dalam mukadimah kitabnya bahwa apabila ditemukan riwayat yang tidak benar, maka riwayat itu bukan berasal darinya. Ia hanya menyampaikan sebagaimana riwayat itu sampai kepadanya.
Metode ini sangat berharga bagi para peneliti.
Namun bagi pembaca umum, metode tersebut sering kali menimbulkan persoalan.
Berbagai riwayat yang bertumpuk tanpa analisis membuat pembaca sulit membedakan mana yang kuat dan mana yang lemah, mana fakta yang kokoh dan mana informasi yang masih diperselisihkan.
Di sinilah diperlukan penulisan ulang, bukan untuk mengganti fakta, melainkan menyaring, menguji, menyusun, dan menjelaskan sehingga pembaca memperoleh gambaran sejarah yang utuh.
Tantangan Datang dari Penulisan Modern
Ironisnya, ketika sebagian karya klasik menyulitkan pembaca karena terlalu banyak riwayat, sebagian karya modern justru menghadirkan persoalan yang berbeda.
Bahasanya lebih menarik.
Susunannya lebih sistematis.
Kesimpulannya tampak lebih jelas.
Namun di balik itu, sebagian karya modern dibangun di atas paradigma orientalisme yang memandang Islam dari luar kerangka Islam sendiri.
Akibatnya, fakta-fakta sejarah sering dipilih secara selektif.
Riwayat-riwayat lemah dijadikan dasar.
Sementara riwayat-riwayat yang lebih kuat diabaikan.
Tidak jarang sebuah teks dipotong, dipindahkan konteksnya, atau ditafsirkan sedemikian rupa hingga menghasilkan kesimpulan yang sama sekali berbeda dari maksud aslinya.
Al-Qur'an telah mengingatkan kecenderungan seperti ini,
«"Wahai Ahli Kitab, mengapa kamu mencampuradukkan yang hak dengan yang batil dan menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahuinya?" (QS. Ali 'Imran: 71)»
Peringatan ini mengajarkan agar seorang muslim bersikap kritis terhadap setiap informasi, siapa pun penulisnya.
Menulis Ulang Bukan Berarti Memoles Sejarah
Apakah menulis ulang sejarah berarti menghapus kesalahan para penguasa muslim?
Sama sekali tidak.
Islam tidak mengajarkan memanipulasi sejarah.
Sejarawan muslim tidak boleh menyembunyikan penyimpangan, sebagaimana ia juga tidak boleh melebih-lebihkan keburukan.
Allah berfirman,
«"Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah sekalipun terhadap dirimu sendiri..." (QS. An-Nisa': 135)»
Dan juga,
«"Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa." (QS. Al-Ma'idah: 8)»
Karena itu, sejarah adalah amanah.
Ia bukan alat propaganda.
Ia bukan pula sarana membangun kebanggaan semu.
Tetapi juga bukan alat untuk membangun kebencian terhadap umat sendiri.
Kesalahan yang Sering Terjadi
Lalu di manakah letak kesalahan terbesar penulisan sejarah Islam modern?
Bukan pada fakta-faktanya.
Melainkan pada cara memilih fakta.
Bayangkan sebuah lembar kain putih yang hanya memiliki satu noda hitam.
Lalu seseorang menutupi seluruh bagian putihnya dan hanya memperlihatkan noda hitam itu.
Apakah ia berbohong?
Belum tentu.
Namun apakah ia telah menyampaikan gambaran yang benar?
Juga belum tentu.
Demikian pula sejarah Islam.
Jika seluruh pembahasan hanya dipenuhi perebutan kekuasaan, pembunuhan politik, konflik dinasti, dan pertikaian mazhab, sementara perkembangan ilmu pengetahuan, peradaban, pendidikan, ekonomi, akhlak, dakwah, dan kontribusi umat terhadap dunia diabaikan, maka pembaca akan memperoleh gambaran yang timpang.
Yang tersisa hanyalah sejarah konflik.
Padahal sejarah Islam jauh lebih luas daripada sejarah politik.
Bahaya Pembabakan Berdasarkan Dinasti
Persoalan lain muncul ketika sejarah Islam dipotong-potong berdasarkan pergantian dinasti.
Seolah-olah sejarah Islam hanyalah sejarah Bani Umayyah.
Lalu berganti menjadi sejarah Abbasiyah.
Kemudian Mamluk.
Lalu Utsmaniyah.
Padahal sejarah Islam bukanlah sejarah keluarga-keluarga penguasa.
Sejarah Islam adalah sejarah umat.
Dinasti hanya salah satu bagian dari perjalanan umat.
Yang menjadi tokoh utama bukan para raja, tetapi risalah Islam yang terus dibawa oleh umat dari generasi ke generasi.
Ukuran Naik Turunnya Sejarah Islam
Lalu apa ukuran kemajuan sejarah Islam?
Apakah luas wilayah kekuasaan?
Apakah besarnya tentara?
Apakah melimpahnya kekayaan negara?
Al-Qur'an memberikan ukuran yang berbeda.
Allah berfirman,
«"Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia; menyuruh kepada yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah." (QS. Ali 'Imran: 110)»
Keunggulan umat ini bukan karena ras, bangsa, atau dinasti.
Keunggulannya lahir dari risalah yang dipikulnya.
Karena itu, kejayaan umat terjadi ketika risalah dijalankan.
Sebaliknya, kemunduran dimulai ketika risalah ditinggalkan.
Inilah kunci membaca sejarah Islam.
Bukan sekadar melihat pergantian penguasa, tetapi melihat sejauh mana umat tetap berpegang kepada wahyu.
Cahaya Sejarah Berasal dari Akidah
Mengapa ada masa-masa sejarah Islam yang begitu gemilang?
Mengapa ada pula masa-masa yang gelap?
Jawabannya bukan semata-mata politik.
Bukan pula semata ekonomi.
Sumber cahaya sejarah Islam adalah akidah.
Semakin kuat umat berpegang kepada tauhid dan tuntutan risalah, semakin terang cahaya peradabannya.
Semakin jauh mereka dari Allah, semakin redup pula cahaya itu.
Akidah menjadi ruh yang menghidupkan seluruh aspek kehidupan: ilmu, politik, ekonomi, militer, maupun peradaban.
Sunnatullah dalam Sejarah
Apakah Islam mengabaikan faktor-faktor duniawi?
Tidak.
Al-Qur'an justru memerintahkan persiapan kekuatan.
"Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi..." (QS. Al-Anfal: 60)
Namun Islam mengajarkan bahwa sebab-sebab material bukan satu-satunya penentu.
Kemenangan Badar menunjukkan bahwa pertolongan Allah mampu melampaui keterbatasan materi.
Sebaliknya, Perang Hunain mengajarkan bahwa banyaknya jumlah pasukan tidak cukup ketika hati mulai bergantung kepada kekuatan dirinya sendiri.
Artinya, sejarah Islam selalu berjalan di atas sunnatullah: ikhtiar yang maksimal dipadukan dengan tawakal yang benar.
Memahami Kemunduran Umat
Lalu apa penyebab utama kemunduran umat Islam?
Apakah semata-mata karena lemahnya teknologi?
Karena ekonomi?
Karena militer?
Semua itu hanyalah gejala.
Penyakit utamanya adalah menjauhnya umat dari Allah dan dari risalah yang diembannya.
Ketika hubungan dengan Allah melemah, seluruh bangunan peradaban ikut melemah.
Sebaliknya, ketika hubungan itu diperbaiki, lahirlah kembali energi untuk membangun ilmu, ekonomi, politik, dan seluruh aspek kehidupan.
Karena itu Allah berfirman,
«"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri." (QS. Ar-Ra'd: 11)»
Penutup
Menulis ulang sejarah Islam bukan berarti mengubah fakta, apalagi menciptakan kisah-kisah baru yang tidak pernah terjadi.
Yang diperlukan adalah mengembalikan sejarah kepada perspektif Al-Qur'an dan Sunnah; menyaring riwayat dengan metodologi ilmiah yang jujur; meletakkan setiap peristiwa dalam proporsi yang adil; serta menjadikan risalah Islam sebagai benang merah yang menjelaskan naik dan turunnya perjalanan umat.
Dengan cara itulah sejarah tidak hanya menjadi catatan masa lalu, tetapi juga menjadi cermin untuk memahami masa kini dan petunjuk untuk membangun masa depan.
Sumber;
Muhammad Qutb, Perlukan Menulis Ulang Sejarah Islam?, GIP, 1995, Hal. 15-33
Link Kami
Beberapa Link Kami yang Aktif