basmalah Pictures, Images and Photos
Our Islamic Story

Choose your Language

Sekelumit Ilmu Makrifat Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Di Al-Qur'an, sering kali saat menceritakan alam semesta dan makhluk-Nya...

Sekelumit Ilmu Makrifat

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Di Al-Qur'an, sering kali saat menceritakan alam semesta dan makhluk-Nya, Allah memulai dengan bahwa Allah yang menciptakan, Allah yang menundukkan, Allah yang menurunkan, Allah yang menancapkan, Allah yang memperjalankan, Allah yang menghidupkan dan masih banyak lagi. Setelah tuntas pemaparannya, Allah menutupnya dengan Asmaulhusna-Nya. Sangat menarik, inilah inti ilmu Marifat.

Nabi Yusuf mengkisah kembali perjalanan hidupnya pada orang tua dan saudaranya, "Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebagian kekuasaan dan mengajarkan kepadaku sebagian takwil mimpi. Wahai Tuhan, Pencipta langit dan bumi. Engkaulah Pelindungku di dunia dan akhirat." Inilah kepahaman akan ilmu marifat.

Perjalanan masa kecil Nabi Musa merupakan kehendak-Nya, " Dan sungguh, Kami telah memberi nikmat kepadamu pada kesempatan lain. Yaitu, saat Kami mengilhamkan kepada ibu mu sesuatu yang diilhamkan. Yaitu, letakan dia (Musa) di dalam peti, kemudian hanyutkanlah dia ke sungai (Nil)." Semua yang terjadi atas kehendak Allah. Inilah salah satu sisi ilmu Marifat.

Nabi Yusuf langsung memahami ilmu makrifat dari perjalanan hidupnya. Sedangkan Nabi Musa dijelaskan terlebih dahulu ilmu tersebut sebelum dia mendapatkan tugas menghadapi Firaun. Bahkan Allah menegaskan kepada Nabi Musa bahwa Allah Maha Melihat dan Mendengar, Maha Mengawasi selama menjalani tugas menghadapi Firaun.

Di alam semesta dan dirinya, dipenuhi dengan Asmaulhusna-Nya, diliputi dengan tanda-tanda kebesaran dan keagungan-Nya. Menyaksikan kehendak-Nya. Menyaksikan sujud, tasbih dan dzikirnya alam semesta. Itulah kesaksian yang dipahami dari ilmu Makrifat.

Dari alam semesta, menyaksikan ilmu-Nya, kemuliaan-nya, kesempurnaan-Nya, Kesucian-Nya, Keagungan-Nya, Kekuasaan-Nya, Keperkasaan-Nya.  Menyaksikan Rabbulalamin-Nya Allah. Menyaksikan kehadiran Allah dalam setiap sudut dan ruang di alam semesta.

Inti ilmu Marifat ada di surat Al-Fatihah. Inti ilmu Marifat ada pada dzikir Tauhid, Subhanallah, Alhamdulillah, dan Allahu Akbar. Cara mulai meraih ilmu Marifat dengan cara mensucikan dirinya, agar hatinya jernih melihat dan merasakan kehadiran Allah dalam setiap yang direkam oleh panca indra. Dan, dibukakan ilmu Marifat bila mau mengemban peran kenabian.

Logika Putra Nabi Nuh Menyelamatkan Diri Ke Gunung  Oleh: Nasrulloh Baksolahar Saat badai menerjang yang bersamaan dengan banjir...

Logika Putra Nabi Nuh Menyelamatkan Diri Ke Gunung 

Oleh: Nasrulloh Baksolahar


Saat badai menerjang yang bersamaan dengan banjir besar, mana yang lebih aman di lautan atau di daratan? Di atas kapal atau di atas gunung? Putranya Nabi Nuh sangat benar, yang paling aman itu di daratan. Lebih aman itu di puncak gunung yang kokoh. Namun, mengapa Nabi Nuh jutru menyeru putranya agar ke kapal?

Pasukan dan pembesar Firaun sangat benar. Di posisi mana yang paling aman, bersama Firaun atau Nabi Musa? Tentu saja bersama Firaun. Sebab, Firaun memiliki kekuasaan, kekayaan dan teknologi yang tak tertandingi. Oleh sebab itu, mereka mendukung Firaun. Namun mengapa perspektif ini tidak berlaku bagi ahli sihir yang telah melihat kebenaran?

Dalam Al-Qur'an banyak kisah tentang manusia di lautan yang berada atas kapal. Saat di kapal, mereka menyeru Allah dengan sepenuh hati. Mereka memurnikan ketaatannya. Namun saat tiba di daratan, mereka tidak berterimakasih karena merasa aman di daratan. Mereka pun durhaka kembali. Apakah di daratan aman?

Al-Qur'an menjelaskan bahwa daratan pun bisa dijungkirbalikkan. Angin kencang yang memuat kerikil-kerikil kecil bisa menghancurkan apa pun yang ada di permukaan tanah. Jadi adakah tempat yang aman?

Sejatinya manusia itu selalu berada di dalam genggaman Allah, di setiap saat dan dimana pun ia berada. Manusia dalam genggaman Allah ketika ia berada di tengah lautan, sebagimana ia juga berada di dalam genggaman Allah ketika ia berada di atas daratan. Jadi tak ada tempat yang aman dari ancaman azab Allah.

Salah satu sifat kelalaian dan kecerobohan manusia adalah merasa aman dari murka dan siksaan-Nya di saat berpaling dan kafir kepada Allah. Ia hanya menghadap Allah ketika situasi sulit dan bahaya, tapi kemudian melupakan-Nya ketika merasa selamat darinya. Seakan-akan kesulitan tersebut sebagai bahaya terakhir yang ditimpakan Allah kepadanya, dan tidak akan ada bahaya lainnya lagi.

Tidak ada keamanan bersama kezaliman, kedurhakaan, kerusakan, kemaksiatan dan kekafiran. Bangunan apapun yang di dalamnya ada pembangkangan kepada Allah, maka akan seperti jaring laba-laba. Jadi, keamanan itu hanya ada dalam ketaatan dan pengabdian kepada Allah.

Haji Puncak Penghambaan Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Haji adalah puncak perannya sebagai hamba Allah. Datang dari penjuru negri, ...

Haji Puncak Penghambaan

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Haji adalah puncak perannya sebagai hamba Allah. Datang dari penjuru negri,  menyiapkan perbekalan dengan meninggalkan seluruh yang dicintai, orang tua, keluarga, kerabat dan tanah air. Datang ke Baitullah hanya untuk menyambut seruan-Nya.

Jihad adalah puncak perannya sebagai khalifah di muka bumi. Mengerahkan seluruh potensi dan sumber daya dengan kesungguhan dan keseriusan untuk mewujudkan kehendak-kehendak Allah yang tertuang di Al-Qur'an.

Puncak Haji adalah Mengagungkan Allah. Mentauhidkan Allah. Meng-illah-kan Allah. Allah sebagai tempat bergantung. Menyambut seruan Allah. Segera berlari kepada Allah dalam segala hal, termasuk pernak pernik kehidupan.

Haji telah menggelora semangat jihad di tanah Nusantara. Mendeklarasikan merdeka atau mati. Melawan semua yang memasung kebebasannya sebagai manusia yang telah dimerdekakan Allah dari semua belenggu kesyirikan, ketakutan, hawa nafsu dan bisikan syetan.

Haji sebuah deklarasi kepada alam semesta dan manusia akan kebebasan dan kemerdekaan hati, jiwa, akal dan jasad dari semua belenggu. Deklarasi pembebasan dari semua orientasi kekayaan, kekuasaan dan kesenangan. Semua orientasi dirubah haluannya hanya menuju satu titik, hanya Allah.

Allah telah menjadi tuan rumahnya. Allah telah menjamunya dengan hidangan keteguhan iman dan ketauhidan. Allah telah menerimanya dengan duduk bersama-Nya. Apakah terasa pesan-Nya? Apakah terasa kehangatan sambutan-Nya?

Apakah jamuan di rumah-Nya masih terasa energinya? Apakah kenikmatan hidangan-Nya masih terus diingat sepanjang hidupnya? Apakah pesan-Nya akan menjadi arah hidup dan perjuangannya setelah sampai di negrinya? Allah telah mengundang manusia, pasti ada titipan, pesan, bingkisan, hadiah dan kata sambutan yang disampaikan-Nya agar menjadi kenangan, pedoman hidup dan program perjuangan setelah keluar dari rumah-Nya.

Takwil Mimpi Ibnu Sirin Yang Merubah Hidup Pemuda Abu Hanifah Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Ibnu Sirin seorang Tabiin yang dianuge...

Takwil Mimpi Ibnu Sirin Yang Merubah Hidup Pemuda Abu Hanifah

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Ibnu Sirin seorang Tabiin yang dianugerahi ilmu menakwilkan mimpi. Ilmu ini diperoleh sejak dia bertemu dengan Nabi Yusuf dalam mimpinya. Nabi Yusuf berkata, "Bukalah mulut mu!" Ibnu Sirin pun membuka mulutnya. Nabi Yusuf meletakkan lidahnya di mulut Ibnu Sirin. Saat ia terbangun dari tidurnya, seketika itu pula dia pandai menakwilkan mimpi.

Ketika dimintai pendapat sebuah mimpi, ia menjelaskan berdasarkan ilham. Dikisahkan, ada dua orang yang bermimpi sama. Yaitu, diazankan. Kedua orang itu mengadukan mimpinya pada Ibnu Sirin. Yang satu dijawab, "Suatu hari kau akan di mencuri, kemudian tangan mu dipotong." Yang Kedua, "Kau akan melaksanakan haji ke Baitullah."

Mengapa mimpinya sama tetapi tafsirnya berbeda? Ibnu Sirin berkata, "Pada pemuda yang pertama, ayat yang muncul dalam benaknya surat Yusuf ayat 70. Pemuda kedua, ayat yang muncul surat Al-Hajj ayat 27." Jadi tafsir mimpi tidak bisa diperoleh dari buku atau teori, tidak dari pikiran dan ilmu. Bahkan dari buku Ibnu Sirin sekalipun.Tetapi dari hati nuraninya hingga Allah menganugerahkan ilmu tersebut.

Suatu hari pemuda Abu Hanifah pergi menemui Ibnu Sirin. Abu Hanifah bertanya, "Aku bermimpi yang membuatku sangat kaget." Pada saat kesedihannya memuncak lantaran mimpi tersebut, Ibnu Surin bertanya, "Apa mimpimu?" Abu Hanifah menjawab.

"Aku bermimpi pergi ke makam Rasulullah saw. Kemudian aku ke dalamnya. Aku melihat Rasulullah saw berbentuk tulang-tulang yang berserakan, kemudian aku mengumpulkannya."

Ibnu Sirin menjawab, "Kau akan menghimpun sunahnya." Ini takwil berdasarkan ilham dari Allah kepadanya. Dalam kisah lain, sejak Abu Hanifah bertemu dengan ulama yang menjelaskan potensi dirinya, dia merubah hidupnya dari sibuk berdagang menjadi fokus menghadiri majelis ilmu.

Mengapa takwil Ibnu Sirin selalu tepat sebab ia berada pada pintu, "Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami." Al-Kahfi ayat 65.

Sumber:
Memahami Marifat, Fauzi Muhammad Abu Said, Qalam

Fokus Saja Mengabdi Kepada Allah Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Bila kezaliman akan dicabut hingga ke akar-akarnya oleh Allah. Bila...

Fokus Saja Mengabdi Kepada Allah

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Bila kezaliman akan dicabut hingga ke akar-akarnya oleh Allah. Bila pelakunya tidak ditolong dan diberi petunjuk oleh Allah. Bila pelakunya akan diazab,  mengapa harus takut dengan kezaliman yang ditopang oleh militer, kekuasaan, kekayaan dan pendukungnya yang banyak dan militan?

Bila semua tipu daya dan rencana kejahatan akan kembali kepada yang merencanakan dan pelakunya, mengapa harus khawatir dengan segala operasi intelejen, operasi kontra, operasi pengejaran, operasi penghancuran, operasi penyusupan dan segala operasi lainnya? Tentram dan teruslah beristiqamah.

Bila selain Allah tidak bisa menimpakan keburukan. Tidak bisa menciptakan kemaslahatan. Tak bisa menggariskan jalan hidup. Mengapa harus takut menghadapi kekuatan paling bengis sekalipun? Mereka seperti mayat yang tak bisa melakukan apapun meski kekuatan dan pendukungnya sangat banyak dan besar.

Bila hak-hak tak bisa dirampas. Bila rezeki tak bisa dirampas dan dialihkan kepada siapapun. Bila keluarga dan keturunan sudah ditetapkan rezeki dan jalan hidupnya, apa lagi yang harus dikhawatirkan di kehidupan ini?

Bila akhir seluruh peristiwa adalah kebaikan. Bila Allah Maha Rahman dan Rahim pada hamba-Nya. Apa lagi yang perlu dikhawatirkan?  Bersabarlah terhadap seluruh ketetapan-Nya. Teguhlah dalam mengabdi kepada Allah.

Teruslah berbuat kebajikan. Bersabar dan bertakwalah. Bertawakallah. Jadikan Allah sebagai penolong dan pelindung. Mengapa segala hal berubah menjadi kebaikan pada akhirnya.

Bila doa pasti dikabulkan Allah. Bila permohonan dan rintihan didengarkan Allah. Apalagi yang perlu dikhawatirkan? Jadi fokus hidup hanya tinggal mengabdi kepada-Nya. Hanya itu saja.

Membedah Jalan Yang Lurus Jalan yang lurus, siapakah yang diberi petunjuk dan kemana arahnya? Jalan yang lurus dalam Al-Qur'...

Membedah Jalan Yang Lurus


Jalan yang lurus, siapakah yang diberi petunjuk dan kemana arahnya? Jalan yang lurus dalam Al-Qur'an bagi seluruh bangsa, semua generasi, tanpa sekat waktu dan geografis. Mencakup semua aspek yang pernah ada pada sistem dan ideologi, merambah setiap kebaikan yang pernah dicapai oleh umat manusia.

Al-Qur'an memberikan petunjuk jalan lurus pada tataran ego dan hati nurani melalui aqidah yang jelas, mudah, tak rumit, tak sulit untuk dipahami. Aqidah yang membebaskan penyakit waham, ilusi, khayalan dan kurafat. Memberikan kemerdekaan untuk berkarya dan membangun. Menggabungkan hukum alam dan fitrah manusia secara harmonis dan proporsional.

Jalan yang lurus, mesinergikan dengan kokoh, tak terputus antara lahir dan batin, perasaan dan perilaku, aqidah dan amal. Sehingga, pandangannya ke alam samawi namun kakinya tetap tegak di bumi. Karyanya menjadi ibadah, jika arah niatnya kepada Allah, walaupun pekerjaannya berupa kesenangan dan berisi kenikmatan hidup duniawi.

Jalan yang lurus Dalam beribadah dengan menyeimbangkan tugas yang dibebankan dengan kemampuan diri, sehingga tidak membosankan, memberatkan dan putus asa dalam menjalankannya. Juga, tidak mempermudah dan memperingankan sehingga jatuh pada kemalasan dan berbuat seenaknya. Tidak melampaui batas keseimbangan dan kemampuan manusia.

Jalan yang lurus dalam hubungannya dengan manusia, berkelompok, berorganisasi dan bernegara. Dalam membangun sistem ekonomi, hukum, sosial, kekuasaan, dengan tidak terhanyut oleh hawa nafsu. Tidak melenceng pada suka dan tidak suka. Tidak dibelokkan oleh berbagai kepentingan dan ambisi pribadi. Tetapi fokus merealisasikan tujuan- tujuan yang tetapkan dalam Al-Qur'an.

Jalan yang lurus dalam mengayomi semua agama yang ada di muka bumi, dengan membangun hubungan antara agama, memuliakan dan menjaga tempat-tempat suci sehingga hidup bersama secara damai dan saling menghargai.

Yang tidak menempuh jalan yang lurus akan terbawa oleh ambisi dan hawa nafsu yang punya ceroboh dan bodoh. Tak tahu yang benar, bermanfaat, dan yang membahayakan. Manusia seringkali bersikap emosional, tak mampu menahan dorongan nafsunya sekalipun berakibat buruk pada dirinya.

Sumber:
Sayid Qutb, Tafsir Fizilali Qur'an Jilid 7, GIP

Dalam Penciptaan Matahari dan Bulan Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Allah menciptakan bulan, matahari dan bintang. Untuk apa? Ada ya...

Dalam Penciptaan Matahari dan Bulan

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Allah menciptakan bulan, matahari dan bintang. Untuk apa? Ada yang memanfaatkan panas matahari untuk energi. Cahaya bulan untuk mencari ikan-ikan di lautan. Bintang-bintang untuk riset angkasa raya. Ini hanya sebagian kecil dari tujuan penciptaannya. Apakah tujuan utamanya?

Di Al-Qur'an, setiap berbicara angkasa raya, terutama bulan dan matahari sering kali dikaitkan dengan perhitungan bilangan tahun dan perhitungan waktu. Umur dan waktu, itulah titik tekannya. Kesadaran akan waktu, itulah tujuan utamanya. Mengapa?

Bukankah waktu tak bisa ditukar dengan kekayaan? Bukankah waktu tak bisa diulang? Bukankah waktu itu tak bisa diperpanjang dan diperpendek? Bukankah waktu tak bisa dikompromikan?

Setiap ibadah dikaitkan dengan waktu. Melakukan shalat, puasa, zakat dan haji, dikaitkan dengan waktu. Kehidupan di dunia dibatasi oleh waktu. Saat menanam tumbuhan dan panen pun dibatasi oleh waktu. Iklim dan musim dikaitkan dengan waktu. Seperti Nabi Yusuf yang paham akan perguliran musim hujan dan kemarau.

Kerentaan tubuh. Memutihnya rambut. Keriputnya kulit. Lapuknya bangunan kayu. Semuanya dikaitkan dengan waktu. Makanan dan minuman, peralatan dan teknologi pun ada batas akhir penggunaannya. Peluang dan ancaman pun dikaitkan dengan waktu.

Kejayaan dan kehancuran kerajaan, negara, kekuasaan, jabatan, suku bangsa dan peradaban juga ada waktunya. Kesadaran akan waktu berarti kesadaran akan kehidupan. Kesadaran bahwa semuanya berakhir. Setelah sadar waktu,  muncul kesadaran pertanggungjawaban akan waktu.

Kesadaran pertanggungjawaban waktu dijelaskan  dalam surat Al-Isra ayat 13-14, "Dan setiap manusia telah Kami kalungkan catatan amal perbuatannya di lehernya. Dan pada hari kiamat, Kami keluarkan baginya sebuah kitab dalam keadaan terbuka. Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada hari ini sebagai penghitungan atas dirimu."

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Al-Qur'an (203) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (50) Cerita kegagalan (1) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (6) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) Kecerdasan (222) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) Kisah Para Nabi dan Rasul (222) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) Nabi Adam (1) Nabi Ibrahim (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Musa (1) Nabi Nuh (3) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (1) Namrudz (2) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) Nusantara (210) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (173) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rehat (429) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (144) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah Penguasa (194) Sirah Sahabat (114) Sirah Tabiin (42) Sirah Ulama (91) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)