Apa yang seharusnya menjadi langkah pertama seorang penggiat ekonomi Islam?
Apakah memperbanyak seminar?
Apakah menguasai teori ekonomi?
Apakah memahami sistem keuangan syariah?
Apakah mendirikan lembaga ekonomi Islam?
Semua itu penting. Namun ada sesuatu yang lebih mendasar: memperbaiki hubungan dengan Allah SWT.
Sebab ekonomi Islam bukan sekadar sebuah disiplin ilmu, sistem transaksi, atau alternatif dari ekonomi konvensional. Ia merupakan bagian dari ajaran Islam. Karena itu, orang yang mengemban dakwah ekonomi Islam tidak cukup hanya memahami konsepnya. Ia juga harus berusaha menjadi pribadi yang tunduk kepada Allah, karena dari sinilah implementasi tauhid uluhiyyah dimulai.
---
1. Dari Tauhid Menuju Pengabdian
Pada prinsipnya, tauhid uluhiyyah berarti mengesakan Allah SWT dalam seluruh amal ibadah yang telah Dia wajibkan kepada manusia. Dengan kata lain, hanya Allah yang menjadi tujuan ibadah dan penghambaan.
Konsekuensinya sangat luas.
Jika Allah satu-satunya yang kita sembah, kepada siapa kita berdoa?
Kepada Allah.
Jika hanya Allah yang menjadi tempat bergantung, kepada siapa kita meminta pertolongan?
Kepada Allah.
Jika hanya Allah yang menjadi tujuan penghambaan, kepada siapa rasa takut yang paling tinggi harus diarahkan?
Kepada Allah.
Dan jika kita telah berusaha sekuat tenaga, kepada siapa kita menyerahkan hasil akhirnya?
Kepada Allah.
Al-Qur'an merangkumnya dengan sangat indah:
> “Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.”
(Q.s. al-Fâtihah [1]: 5)
Ayat ini seakan mengajukan dua pertanyaan kepada setiap penggiat ekonomi Islam:
Untuk siapa kita bekerja?
Dan:
Kepada siapa kita meminta pertolongan?
Jawabannya harus sama: Allah SWT.
Allah juga berfirman:
> “Dan Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu....’”
(Q.s. al-Mu'min [40]: 60)
Allah berfirman:
> “...karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu orang-orang beriman.”
(Q.s. Âli 'Imrân [3]: 175)
Dan:
> “...Dan bertawakallah kamu hanya kepada Allah, jika kamu orang-orang beriman.”
(Q.s. al-Mâ'idah [5]: 23)
Maka tauhid uluhiyyah bukan sekadar konsep yang disimpan di dalam buku akidah. Ia harus turun menjadi cara hidup, cara bekerja, cara berdakwah, dan cara mengambil keputusan.
---
2. Sebelum Mendakwahkan Ekonomi Islam, Benahilah Diri
Di sinilah pertanyaan berikutnya muncul:
Bagaimana mungkin seseorang mengajak manusia menjalankan ajaran Islam dalam bidang ekonomi, tetapi dirinya sendiri belum sungguh-sungguh berusaha menjalankan Islam dalam kehidupan pribadinya?
Bukan berarti seorang dai harus menjadi manusia tanpa dosa sebelum berdakwah. Tidak demikian.
Namun ada perbedaan antara orang yang berjuang memperbaiki dirinya sambil mengajak orang lain kepada kebaikan dengan orang yang menjadikan dakwah sebagai identitas, sementara dirinya tidak peduli terhadap tuntutan agama.
Allah SWT berfirman:
> “Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan kebajikan dan berkata, ‘Sungguh, aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri)’?”
(Q.s. Fushshilat [41]: 33)
Perhatikan susunan ayat tersebut.
Menyeru kepada Allah.
Lalu:
mengerjakan kebajikan.
Kemudian:
menyatakan dirinya sebagai seorang Muslim yang berserah diri.
Dakwah dan amal saleh berjalan beriringan.
Karena itu, bagi penggiat ekonomi Islam, dakwah tidak seharusnya berhenti pada kemampuan menjelaskan akad, mengkritik riba, membahas zakat, mengembangkan industri halal, atau mempromosikan lembaga keuangan syariah.
Pertanyaan yang lebih mendasar adalah:
Bagaimana shalatnya?
Bagaimana kejujurannya?
Bagaimana amanahnya?
Bagaimana hubungannya dengan Allah ketika tidak ada seorang pun yang melihat?
Sebab masyarakat tidak hanya membutuhkan orang yang pandai berbicara tentang ekonomi Islam.
Masyarakat membutuhkan orang yang memperlihatkan nilai Islam melalui kehidupannya.
---
3. Kader Ekonomi Islam Tidak Cukup Hanya Menguasai Ilmu Ekonomi
Dari sini muncul konsekuensi penting dalam proses kaderisasi.
Apakah kader ekonomi Islam cukup dibekali pengetahuan tentang ekonomi Islam?
Tentu tidak.
Ia perlu memahami ilmu ekonomi, keuangan, bisnis, kebijakan publik, kelembagaan, dan berbagai persoalan kontemporer. Tetapi semua itu perlu berdiri di atas fondasi keislaman yang kokoh.
Ia juga perlu dibekali pengetahuan tentang:
akidah;
ibadah;
akhlak;
fikih muamalah;
adab berdakwah;
keikhlasan;
amanah;
tanggung jawab;
serta kesadaran bahwa seluruh aktivitasnya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Dengan demikian, kader ekonomi Islam tidak hanya menjadi orang yang mampu menjelaskan ekonomi Islam, tetapi juga menjadi orang yang berusaha menghidupkan nilai-nilai Islam dalam dirinya.
Bukankah akan menjadi kontradiksi jika seseorang berbicara tentang keadilan ekonomi, tetapi ia sendiri tidak adil?
Berbicara tentang amanah, tetapi tidak amanah?
Berbicara tentang larangan mengambil harta secara batil, tetapi mencari keuntungan dengan cara-cara yang batil?
Berbicara tentang keberkahan, tetapi menjadikan materi sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan?
Di sinilah tauhid uluhiyyah menjadi fondasi moral bagi penggiat ekonomi Islam.
---
4. Keikhlasan: Untuk Siapa Ekonomi Islam Diperjuangkan?
Setelah ibadah, ada persoalan lain yang tidak kalah penting:
Niat.
Seseorang dapat melakukan aktivitas yang sama dengan orang lain, tetapi nilai keduanya di hadapan Allah bisa sangat berbeda.
Mengapa?
Karena niatnya berbeda.
Tauhid uluhiyyah menuntut agar ibadah dilakukan ikhlas hanya karena Allah SWT.
Allah berfirman:
> “Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah, dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).”
(Q.s. al-Bayyinah [98]: 5)
Rasulullah SAW juga bersabda:
> “Sesungguhnya amal itu bergantung pada niatnya, dan sesungguhnya balasan yang akan diperoleh seseorang dari amalnya juga sesuai dengan niatnya.”
(Muttafaq 'alaih)
Maka seorang penggiat ekonomi Islam perlu terus bertanya kepada dirinya:
Mengapa saya melakukan semua ini?
Apakah karena Allah?
Ataukah karena ingin dikenal sebagai tokoh ekonomi Islam?
Karena ingin memperoleh jabatan?
Karena ingin mendapatkan pekerjaan?
Karena ingin memperoleh keuntungan?
Karena ingin mendapatkan pengaruh?
Atau karena ingin memperoleh keridhaan Allah melalui perjuangan membangun kehidupan ekonomi yang sesuai dengan nilai-nilai Islam?
Pertanyaan ini sederhana.
Tetapi jawabannya dapat menentukan arah seluruh perjalanan seseorang.
---
5. Ketika Dakwah Berubah Menjadi Kendaraan Duniawi
Di sinilah kita perlu melakukan muhasabah yang lebih tajam.
Tidak salah seseorang memperoleh pekerjaan melalui keahliannya di bidang ekonomi Islam.
Tidak salah seseorang mendapatkan penghasilan karena bekerja di lembaga keuangan syariah.
Tidak salah seseorang memperoleh jabatan karena kompetensinya.
Yang menjadi persoalan adalah ketika tujuan duniawi tersebut mengambil alih posisi yang seharusnya ditempati oleh Allah.
Misalnya, seseorang mulai aktif dalam gerakan ekonomi Islam karena melihatnya sebagai peluang karier.
Ia mengikuti berbagai kegiatan.
Ia membangun jaringan.
Ia aktif dalam seminar.
Ia berbicara tentang ekonomi syariah.
Ia membangun citra sebagai aktivis ekonomi Islam.
Tetapi bagaimana jika suatu hari ia tidak mendapatkan posisi yang diinginkannya?
Bagaimana jika lembaga syariah yang diharapkannya tidak menerima dirinya?
Bagaimana jika perjuangannya tidak menghasilkan keuntungan materi?
Apakah ia tetap berjuang?
Ataukah ia meninggalkan semuanya?
Pertanyaan inilah yang menguji keikhlasan.
Sebab orang yang bekerja karena Allah tidak menjadikan hasil duniawi sebagai satu-satunya alasan untuk terus berjalan.
Ia boleh kecewa.
Ia boleh sedih.
Ia boleh melakukan evaluasi.
Tetapi orientasi akhirnya tetap kepada Allah.
---
6. Jangan Sampai Ekonomi Islam Hanya Menjadi Kendaraan Karier
Karena itu, sangat disayangkan apabila ekonomi Islam hanya dijadikan kendaraan untuk mencapai kepentingan pribadi.
Jika seseorang masuk ke dalam gerakan ekonomi Islam hanya karena melihat peluang pekerjaan, jabatan, popularitas, atau keuntungan, maka ketika kepentingan tersebut hilang, komitmennya pun dapat ikut hilang.
Lebih berbahaya lagi jika ia kemudian menjadikan kekecewaan pribadinya sebagai alasan untuk menyerang ekonomi Islam.
Di sinilah seorang penggiat ekonomi Islam perlu membedakan antara:
memanfaatkan ilmu ekonomi Islam untuk mencari rezeki yang halal
dan
memanfaatkan perjuangan ekonomi Islam hanya untuk kepentingan diri sendiri.
Keduanya tidak sama.
Yang pertama dapat menjadi amal.
Yang kedua berpotensi merusak perjuangan.
Maka masalahnya bukan pada memperoleh keuntungan.
Masalahnya adalah:
Siapa yang menjadi tujuan tertinggi dari perjuangan tersebut?
---
7. Amal Kecil Bisa Menjadi Besar karena Niat
Para ulama salaf memberikan ungkapan yang sangat dalam:
> رُبَّ عَÙ…َÙ„ٍ صَغِيرٍ تُعَظِّÙ…ُÙ‡ُ النِّÙŠَّØ©ُ، Ùˆَرُبَّ عَÙ…َÙ„ٍ Ùƒَبِيرٍ تُصَغِّرُÙ‡ُ النِّÙŠَّØ©ُ
> “Betapa banyak amal kecil menjadi besar karena niatnya, dan betapa banyak amal besar menjadi kecil karena niatnya.”
Maka jangan meremehkan pekerjaan sederhana dalam perjuangan ekonomi Islam.
Mengajar seseorang tentang transaksi yang halal.
Membantu pedagang memahami akad.
Membuat sistem pembukuan yang jujur.
Mengembangkan usaha yang amanah.
Membantu masyarakat memahami zakat.
Mendorong praktik bisnis yang adil.
Meneliti persoalan ekonomi dengan sungguh-sungguh.
Semua itu mungkin terlihat kecil di mata manusia.
Tetapi jika dilakukan dengan ilmu, ikhlas, dan benar, ia dapat menjadi besar di sisi Allah.
Sebaliknya, sebuah proyek ekonomi Islam yang besar, seminar yang megah, jabatan yang tinggi, atau lembaga yang terkenal tidak otomatis menjadi besar di sisi Allah jika niatnya rusak.
Besarnya aktivitas tidak selalu menunjukkan besarnya nilai amal.
---
8. Ukuran Keberhasilan: Ridha Allah
Karena itu, penggiat ekonomi Islam perlu mengubah pertanyaan tentang keberhasilan.
Bukan hanya:
Berapa besar lembaga yang berhasil kita bangun?
Tetapi:
Seberapa jujur lembaga itu?
Bukan hanya:
Berapa banyak orang yang mengikuti program kita?
Tetapi:
Apakah program itu mendekatkan mereka kepada Allah?
Bukan hanya:
Berapa besar keuntungan yang diperoleh?
Tetapi:
Apakah keuntungan itu halal dan membawa keberkahan?
Bukan hanya:
Seberapa terkenal nama kita?
Tetapi:
Apakah Allah menerima amal kita?
Inilah pergeseran cara pandang yang lahir dari tauhid uluhiyyah.
Ekonomi tidak lagi semata-mata dipandang sebagai aktivitas mencari keuntungan.
Ia menjadi bagian dari pengabdian kepada Allah.
Bisnis menjadi ibadah ketika dijalankan dengan cara yang benar.
Profesi menjadi ibadah ketika dilakukan dengan amanah.
Riset menjadi ibadah ketika ditujukan untuk kemaslahatan.
Dakwah ekonomi menjadi ibadah ketika dilakukan dengan ikhlas.
---
9. Dari Tauhid Lahir Integritas
Pada akhirnya, implementasi tauhid uluhiyyah bagi penggiat ekonomi Islam harus terlihat dalam perilaku.
Ia melahirkan pribadi yang:
ikhlas ketika dipuji maupun tidak dipuji;
jujur ketika diawasi maupun tidak diawasi;
amanah ketika memperoleh keuntungan maupun ketika mengalami kerugian;
tetap berpegang pada prinsip ketika memperoleh jabatan maupun ketika tidak memperoleh jabatan;
tetap membela kebenaran ketika mendapatkan keuntungan maupun ketika kepentingan pribadinya harus dikorbankan.
Mengapa?
Karena ia sadar bahwa manusia mungkin tidak melihatnya.
Pasar mungkin tidak melihatnya.
Atasan mungkin tidak melihatnya.
Masyarakat mungkin tidak melihatnya.
Tetapi Allah melihat semuanya.
Inilah ruh tauhid uluhiyyah dalam kehidupan ekonomi.
---
10. Dakwah Ekonomi Islam Dimulai dari Diri Sendiri
Maka perjalanan seorang penggiat ekonomi Islam dapat dirumuskan dalam satu alur:
Perbaiki akidah.
Lalu:
perbaiki ibadah.
Kemudian:
luruskan niat.
Setelah itu:
kuatkan ilmu.
Lalu:
praktikkan nilai Islam dalam kehidupan ekonomi.
Barulah:
ajak orang lain kepada kebaikan.
Dengan demikian, dakwah ekonomi Islam tidak hanya menghasilkan orang yang pandai berbicara tentang sistem ekonomi Islam, tetapi menghasilkan manusia yang menjadi teladan dari nilai-nilai yang ia dakwahkan.
Bukankah itu yang sebenarnya kita butuhkan?
Bukan hanya ekonomi Islam yang tertulis dalam buku, tetapi ekonomi Islam yang hidup dalam perilaku manusia.
Bukan hanya lembaga yang memakai label syariah, tetapi manusia yang takut kepada Allah.
Bukan hanya transaksi yang menggunakan istilah Arab, tetapi transaksi yang benar-benar dibangun di atas kejujuran, keadilan, amanah, dan tanggung jawab.
Dan bukan hanya gerakan ekonomi Islam yang besar secara organisasi, tetapi gerakan yang ikhlas mencari ridha Allah.
---
Penutup: Siapa yang Sebenarnya Kita Perjuangkan?
Pada akhirnya, tauhid uluhiyyah mengembalikan kita kepada satu pertanyaan yang sangat sederhana:
Untuk siapa semua ini kita lakukan?
Jika jawabannya adalah manusia, kita akan mudah kecewa ketika manusia tidak menghargai.
Jika jawabannya adalah jabatan, kita akan berhenti ketika jabatan hilang.
Jika jawabannya adalah keuntungan, kita akan berpaling ketika keuntungan tidak lagi tersedia.
Jika jawabannya adalah popularitas, kita akan berhenti ketika tidak lagi dikenal.
Tetapi jika jawabannya:
“Untuk Allah.”
Maka orientasi kita menjadi berbeda.
Kita bekerja karena Allah.
Kita belajar karena Allah.
Kita berdakwah karena Allah.
Kita membangun ekonomi yang adil karena Allah.
Kita mencari rezeki yang halal karena Allah.
Kita menerima keberhasilan dengan syukur.
Kita menghadapi kegagalan dengan sabar.
Dan kita menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah.
Sebab itulah hakikat tauhid uluhiyyah:
> “Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.”
(Q.s. al-Fâtihah [1]: 5)
Maka sebelum bertanya, “Bagaimana kita membangun ekonomi Islam?” barangkali kita perlu bertanya lebih dahulu: “Sudahkah kita menjadi hamba Allah yang sedang membangun ekonomi Islam?”
Di situlah perjuangan ekonomi Islam menemukan ruhnya.
Link Kami
Beberapa Link Kami yang Aktif