Kesultanan Aceh dan Dinasti Turki Utsmaniyah: Ketika Solidaritas Islam Diuji oleh Realitas Politik Mengapa Kesultanan Aceh menjalin hubungan...
Kesultanan Aceh dan Dinasti Turki Utsmaniyah: Ketika Solidaritas Islam Diuji oleh Realitas Politik
Perebutan Nusantara Timur: Islam, Portugis dan Spanyol Apakah tujuan Portugis datang ke Nusantara semata-mata untuk membeli rempah-rempah?...
Perebutan Nusantara Timur: Islam, Portugis dan Spanyol
Perebutan Nusantara Timur: Islam, Portugis dan Spanyol
Apakah tujuan Portugis datang ke Nusantara semata-mata untuk membeli rempah-rempah?
Jika demikian, mengapa mereka membangun benteng, mencampuri pergantian penguasa, bahkan terlibat dalam peperangan berkepanjangan dengan kerajaan-kerajaan Islam?
Pertanyaan-pertanyaan ini membawa kita melihat bahwa sejarah Nusantara Timur bukan hanya kisah perdagangan, melainkan juga kisah persaingan politik, kekuasaan, dan penyebaran agama.
Di wilayah barat Nusantara, Portugis memang berhasil menguasai Malaka. Namun, keberhasilan itu tidak berlanjut sebagaimana yang mereka harapkan. Mereka hanya mampu menanamkan pengaruh Kristen secara terbatas di Malaka dan gagal menguasai perdagangan Asia secara menyeluruh. Serangan Kesultanan Aceh yang terus-menerus memaksa Portugis menghabiskan sebagian besar kekuatan militernya hanya untuk mempertahankan diri.
Ironisnya, tekanan Portugis justru mendorong dunia Islam melakukan konsolidasi yang semakin kuat. Ancaman dari luar mempererat hubungan antarkerajaan Islam dan memperkuat identitas keagamaan mereka.
Mengapa Maluku Menjadi Tujuan Berikutnya?
Setelah merebut Malaka pada 1511, Portugis segera mengirim ekspedisi yang dipimpin Fransisco Serrão menuju Maluku. Mengapa?
Jawabannya sederhana. Maluku merupakan pusat penghasil cengkeh dan pala, dua komoditas yang pada masa itu bernilai sangat tinggi di pasar dunia.
Nama "Maluku" sendiri diduga berasal dari istilah Arab Jazirat al-Muluk, yang berarti "Pulau Raja-Raja". Hal ini menunjukkan bahwa kawasan tersebut telah lama dikenal dalam jaringan perdagangan internasional sebelum kedatangan bangsa Eropa.
Namun, meskipun Portugis berhasil mencapai Ambon, Ternate, dan Tidore, mereka tidak pernah benar-benar menguasai perdagangan rempah-rempah secara penuh. Mereka terus terjebak dalam konflik, persekutuan, dan persaingan dengan kerajaan-kerajaan lokal sehingga kekuatan mereka terpecah.
Islam Lebih Dahulu Hadir
Benarkah Portugis datang ke wilayah yang belum mengenal Islam?
Berbagai penelitian justru menunjukkan sebaliknya.
Menurut Meilink-Roelofsz dan de Graaf, Islam telah hadir di Maluku sekitar 50–80 tahun sebelum kedatangan Portugis. Bahkan, terdapat indikasi bahwa pengaruh Islam telah dikenal lebih awal melalui jaringan para pedagang Muslim dari Arab, Persia, dan Nusantara.
Raja Ternate diyakini sebagai penguasa pertama di Maluku yang memeluk Islam. Dengan demikian, ketika Portugis tiba, mereka tidak memasuki ruang kosong, tetapi berhadapan dengan masyarakat yang sedang mengalami proses Islamisasi.
Dari Sekutu Menjadi Musuh
Pada awalnya hubungan Portugis dengan Kesultanan Ternate berjalan cukup baik.
Sultan Ternate berharap Portugis dapat menjadi mitra dagang sekaligus membantu menghadapi musuh-musuhnya. Karena itu, Portugis diizinkan membangun benteng pada tahun 1522.
Di sisi lain, Kesultanan Tidore memilih menjalin hubungan dengan Spanyol. Spanyol membeli rempah-rempah dengan harga lebih tinggi sekaligus memberikan dukungan politik yang meningkatkan wibawa Tidore.
Akibatnya, Maluku berubah menjadi arena persaingan yang melibatkan bukan hanya Ternate dan Tidore, tetapi juga Portugis dan Spanyol.
Persaingan antarsesama bangsa Eropa ini justru memperlihatkan kepada masyarakat lokal bahwa mereka pun saling berebut kepentingan. Citra moral Portugis dan Spanyol perlahan menurun di mata kerajaan-kerajaan Islam.
Melalui Perjanjian Zaragoza tahun 1529, Portugis dan Spanyol berusaha mengakhiri konflik mereka di Maluku. Namun, dalam praktiknya perselisihan tetap berlangsung selama bertahun-tahun.
Tragedi yang Mengubah Sejarah
Hubungan Portugis dengan Ternate akhirnya memburuk.
Puncaknya terjadi pada tahun 1570 ketika Sultan Khairun dibunuh oleh Portugis.
Apakah pembunuhan ini justru memperkuat posisi Portugis?
Yang terjadi justru sebaliknya.
Putra Sultan Khairun, Sultan Baabullah, berhasil menyatukan kekuatan-kekuatan Islam untuk mengusir Portugis dari Ternate. Kemenangan ini bukan hanya kemenangan militer, tetapi juga kemenangan politik yang mengangkat wibawa Ternate di seluruh kawasan Maluku.
Dalam beberapa tahun berikutnya, sebagian besar wilayah Maluku berada di bawah pengaruh Sultan Baabullah.
Islamisasi Semakin Menguat
Kemenangan Baabullah membawa dampak yang jauh melampaui medan perang.
Pengaruh Ternate meluas ke Ambon, Buton, Selayar, sebagian Sulawesi Timur dan Utara, bahkan hingga Mindanao Selatan.
Sebagai penguasa, Baabullah menjadikan Islam sebagai unsur penting dalam loyalitas politik. Sebagian pendukung Portugis yang memilih tetap berada di bawah kekuasaannya diwajibkan memeluk Islam sebagai bentuk kesetiaan kepada kesultanan.
Dalam catatan Anthony Reid, Portugis dan Spanyol bahkan menganggap Baabullah aktif mengirim para ulama dan dai ke berbagai wilayah seperti Brunei, Jawa, Aceh, dan Mindanao untuk memperkuat semangat perlawanan terhadap bangsa Eropa.
Terlepas dari bagaimana persepsi Portugis tersebut, fakta sejarah menunjukkan bahwa Islamisasi di kawasan timur memang berkembang semakin pesat setelah kemenangan Ternate.
Mengapa Kristenisasi Tidak Berkembang Pesat?
Sebaliknya, cita-cita Portugis untuk mengkristenkan Maluku tidak pernah tercapai sesuai harapan.
Jumlah penduduk yang dibaptis relatif sedikit.
Bahkan, misionaris terkenal seperti Francis Xavier yang datang ke Maluku pada 1546–1547 tidak mampu menghentikan pengaruh Islam yang telah mengakar.
Kegagalan itu dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain kuatnya jaringan Islam lokal, citra Portugis yang memburuk akibat konflik politik, praktik pemerintahan yang korup, serta tindakan sebagian pejabat Portugis yang justru merusak kepercayaan masyarakat.
Refleksi
Apakah persaingan di Maluku semata-mata merupakan perang agama?
Jawabannya tidak sesederhana itu.
Agama memang menjadi unsur penting dalam pembentukan identitas dan legitimasi politik. Namun, perdagangan rempah-rempah, perebutan jalur niaga, kepentingan ekonomi, serta ambisi kekuasaan sama besarnya dalam membentuk dinamika sejarah.
Karena itu, sejarah Maluku mengajarkan bahwa agama, politik, dan ekonomi sering kali berjalan beriringan. Memahami salah satunya tanpa melihat yang lain akan menghasilkan gambaran sejarah yang tidak utuh.
Inilah sebabnya banyak sejarawan memandang bahwa konflik Portugis dan kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara Timur merupakan perpaduan antara persaingan perdagangan, perebutan kekuasaan, dan kompetisi penyebaran agama yang saling memengaruhi sepanjang abad ke-16.
Nusantara Barat: Persaingan Agama, Perdagangan, dan Kekuasaan di Samudra Hindia ...
Nusantara Barat: Persaingan Agama, Perdagangan, dan Kekuasaan di Samudra Hindia
Ulama-Ulama yang Merintis Berdirinya Kesultanan Islam di Nusantara S...
Ulama-Ulama yang Merintis Berdirinya Kesultanan Islam di Nusantara
Perkembangan Imperialisme Barat: Ketika Penjelajahan Berubah Menjadi Penaklukan ...
Perkembangan Imperialisme Barat: Ketika Penjelajahan Berubah Menjadi Penaklukan
Surat Al-Fil: Siapa Sebenarnya Pelindung Baitullah? Mengapa Allah me...
Surat Al-Fil: Siapa Sebenarnya Pelindung Baitullah?
Bagaimana Seharusnya Kita Memahami Konsep Islam? Bagaimana mungkin kita memahami Islam dengan benar jika...
Bagaimana Seharusnya Kita Memahami Konsep Islam?
Paling Banyak Dibaca
-
Bukan Muslim, Tapi Rakyatnya Minta Dinaungi Kekhalifahan Islam
-
Risalah Al-Matsurat Hasan Al Banna dan Syeikh Hasan Asy-Syadzali
-
Kisah Generasi Salaf yang Isi Hari-Harinya dengan Bertani
-
Saad bin Abi Waqqash, Aktor Interaksi Awal Islam dan Tiongkok
-
Kilas Balik Sejarah, Bisakah Palestina Dihapus dari Peta Dunia?
-
Pengaruh Islam dalam Penamaan Pulau di Nusantara
-
Manuskrip Nusantara Beraksara Arab Melayu di Eropa, Bukti Tingginya Peradaban Islam dan Kemakmurannya
Cari Artikel Ketik Lalu Enter
Artikel Lainnya
- ► 2021 (1014)
- ► 2022 (604)
- ► 2023 (330)
- ► 2024 (825)
- ► 2025 (821)
Link Kami
Beberapa Link Kami yang Aktif