basmalah Pictures, Images and Photos
Our Islamic Story

Choose your Language

Kalah Perang Enam Hari 1967: Yang Lebih Berbahaya daripada Kekalahan Itu Sendiri Mana yang Lebih Berbahaya: Kekalahan atau Cara Kita Memaham...


Kalah Perang Enam Hari 1967: Yang Lebih Berbahaya daripada Kekalahan Itu Sendiri


Mana yang Lebih Berbahaya: Kekalahan atau Cara Kita Memahaminya?

Mengapa sebuah bangsa kalah?

Apakah semata-mata karena strategi yang keliru?

Karena persenjataannya kalah canggih?

Karena ada pengkhianatan?

Atau justru karena sebab yang jauh lebih dalam daripada semua itu?

Seusai Perang Juni 1967, Dunia Islam dipenuhi berbagai analisis. Ada yang menyalahkan strategi militer. Ada yang menunjuk keterbelakangan ilmu pengetahuan. Ada pula yang bahkan menjadikan agama sebagai kambing hitam.

Namun, benarkah agama penyebab kekalahan itu?

Seorang penulis Muslim terkemuka justru mengingatkan bahwa cara memahami kekalahan bisa lebih berbahaya daripada kekalahan itu sendiri.

Mengapa?

Karena penyakit yang salah didiagnosis tidak akan pernah sembuh. Bahkan ia akan terus berkembang hingga menghancurkan tubuh yang mengidapnya.

Jika penyebab sesungguhnya tidak pernah dicari, maka yang terjadi bukan sekadar kekalahan, melainkan kematian sebuah peradaban.

Karena itu, pertanyaan terpenting bukanlah, "Mengapa kita kalah?" melainkan, "Apa akar yang melahirkan kekalahan itu?"

---

Apa Akar Kekalahan Itu?

Jika bukan semata-mata strategi...

Jika bukan hanya pengkhianatan...

Jika bukan sekadar keterbelakangan teknologi...

Lalu apa penyebab utamanya?

Menurut penulis, seluruh sebab itu hanyalah cabang. Akar utamanya jauh lebih mendasar.

Umat Islam telah melupakan jati dirinya.

Mereka kehilangan kepribadian karena kehilangan hubungan dengan Allah, kehilangan manhaj-Nya, dan kehilangan ruh yang selama ini menghidupkan peradaban.

Sebagaimana tubuh tanpa ruh hanyalah jasad yang tak bernyawa, demikian pula sebuah umat.

Sebuah umat mungkin memiliki jumlah besar, wilayah luas, bahkan kekuatan material yang mengagumkan. Namun apabila ruhnya padam, ia hanya menjadi kumpulan manusia tanpa daya hidup.

Apakah ruh umat Islam itu?

Bukan nasionalisme.

Bukan ras.

Bukan bahasa.

Melainkan iman.

Ketika iman melemah, umat berubah dari api yang menyala menjadi abu yang mudah diterbangkan angin.

Karena itu, menurut penulis, kekalahan tahun 1967 bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Ia merupakan buah dari proses panjang yang telah dimulai jauh sebelumnya, sebagaimana kekalahan tahun 1948, bahkan sebagaimana kemunduran panjang yang pernah dialami Andalusia dan Palestina.

---

Islam yang Dimaksud Bukan Sekadar Ritual

Ketika penulis mengatakan umat kosong dari Islam, ia tidak sedang berbicara tentang hilangnya simbol-simbol agama.

Islam yang dimaksud adalah Islam sebagai satu kesatuan utuh.

Islam yang mencakup akidah.

Ibadah.

Syariat.

Akhlak.

Ilmu pengetahuan.

Sistem kehidupan.

Motivasi perjuangan.

Dan seluruh nilai yang membentuk sebuah peradaban.

Islam tidak dipandang sebagai bagian kecil dari kehidupan, melainkan fondasi yang menyatukan seluruh aspek kehidupan.

---

Apa Akibat Ketika Ruh Itu Hilang?

Menurut penulis, dampaknya muncul dalam banyak bentuk.

1. Hilangnya Semangat Berkorban

Ketika iman melemah, yang tumbuh bukan keberanian, melainkan al-wahan.

Rasulullah ï·º telah memperingatkan penyakit ini.

Para sahabat pernah bertanya mengapa suatu saat umat akan menjadi rebutan berbagai bangsa.

Apakah karena jumlah mereka sedikit?

Beliau menjawab bahwa jumlah mereka justru banyak, tetapi seperti buih di atas arus.

Lalu beliau menjelaskan penyakit itu:

Cinta dunia dan takut mati.

Dalam pandangan penulis, penyakit inilah yang tidak bisa disembuhkan hanya dengan senjata modern, latihan militer, atau strategi perang.

---

2. Putusnya Persaudaraan Dunia Islam

Akibat berikutnya adalah terlepasnya hubungan umat Islam Arab dengan saudara-saudaranya di berbagai negeri.

Ketika nasionalisme sekuler dijadikan identitas utama, ikatan akidah semakin melemah.

Akibatnya, solidaritas dunia Islam ikut terkikis.

Padahal dahulu, persaudaraan iman merupakan sumber kekuatan yang melampaui batas negara dan bangsa.

---

3. Perpecahan di Dunia Arab

Ketika Al-Qur'an tidak lagi menjadi rujukan bersama, setiap kelompok mencari kiblatnya sendiri.

Ada yang condong ke Barat.

Ada yang condong ke Timur.

Ada yang mengikuti Washington.

Ada yang mengikuti Moskow.

Ada yang mengikuti ideologi lain.

Akibatnya, bangsa Arab tidak lagi dipersatukan oleh satu manhaj, tetapi tercerai-berai oleh berbagai ideologi.

Penulis mengingatkan firman Allah agar mengikuti satu jalan yang lurus dan tidak mengikuti jalan-jalan lain yang menyebabkan perpecahan.

---

4. Jarak antara Penguasa dan Rakyat

Menurut penulis, kekosongan nilai Islam juga menciptakan jurang antara pemerintah dan masyarakat.

Penguasa sibuk mempertahankan kekuasaan.

Sementara rakyat sibuk mencari keamanan dan penghidupan.

Kepercayaan pun memudar.

Bahkan ketika perang datang, sebagian rakyat tidak lagi yakin bahwa para pemimpin benar-benar berjuang demi kepentingan umat.

---

5. Perpecahan Sosial

Perpecahan tidak berhenti pada tingkat negara.

Ia masuk ke dalam masyarakat.

Masuk ke dalam keluarga.

Ayah berbeda kubu dengan anak.

Saudara saling bermusuhan.

Ideologi menjadi identitas yang lebih kuat daripada persaudaraan.

Padahal Islam pernah mempersatukan mereka seperti satu bangunan yang saling menguatkan.

---

6. Kemerosotan Moral

Menurut penulis, hilangnya ruh Islam juga melahirkan perubahan standar nilai.

Kesucian dianggap keterbelakangan.

Kesederhanaan dianggap kuno.

Sebaliknya, budaya hedonisme, pornografi, hiburan yang membangkitkan syahwat, dan gaya hidup bebas dipandang sebagai simbol kemajuan.

Dalam suasana seperti itulah, masyarakat kehilangan fondasi moralnya.

---

7. Perang Tanpa Kesadaran Spiritual

Inilah puncak kritik penulis.

Menurutnya, umat memasuki perang dengan mengandalkan manusia, senjata, dan kekuatan politik, tetapi melupakan Allah.

Pidato-pidato dipenuhi nama tokoh.

Media dipenuhi slogan.

Artis dan selebritas dijadikan penyemangat.

Namun nama Allah hampir tidak terdengar.

Padahal Al-Qur'an telah memberikan syarat kemenangan:

- teguh menghadapi musuh,
- banyak mengingat Allah,
- taat kepada Allah dan Rasul,
- tidak saling berselisih,
- bersabar.

Pertanyaan yang diajukan penulis sangat menggugah:

Apakah syarat-syarat itu telah dipenuhi?

Jawabannya, menurutnya, adalah belum.

Karena itu, kekalahan bukanlah sesuatu yang mengejutkan.

Ia merupakan konsekuensi dari sebab-sebab yang telah lama ditanam.

---

Setelah Kalah, Mengapa Baru Mengingat Allah?

Penulis kemudian mengajukan kritik yang tajam.

Mengapa ketika kemenangan seolah sudah di depan mata, Allah hampir tidak disebut?

Namun setelah kalah, tiba-tiba muncul pertanyaan:

"Di mana Allah?"

Bukankah pertanyaan itu justru menunjukkan bahwa sebelumnya manusia lebih percaya kepada kekuatan selain Allah?

Jika menang, mungkin kemenangan akan dikaitkan dengan senjata, strategi, atau dukungan negara besar.

Tetapi ketika kalah, agama justru dipersalahkan.

Menurut penulis, cara berpikir seperti inilah yang lebih berbahaya daripada kekalahan itu sendiri.

---

"Islam Tidak Pernah Kalah"

Beberapa waktu setelah perang, penulis berkunjung ke Turki.

Di sana muncul pertanyaan yang sangat menyentuh.

"Bagaimana mungkin Islam kalah menghadapi Yahudi?"

Jawabannya singkat tetapi tajam.

"Islam tidak kalah."

Islam, menurutnya, bahkan tidak pernah benar-benar memasuki peperangan itu.

Yang berperang adalah bangsa Arab dengan identitas politik dan ideologi zamannya, bukan dengan karakter generasi mukmin sebagaimana para sahabat.

Andaikan mereka memasuki medan perang dengan ruh yang pernah dimiliki oleh Khalid bin Walid, Abu Ubaidah, dan Sa'd bin Abi Waqqash, maka—menurut keyakinan penulis—jalannya sejarah akan berbeda.

---

Penutup: Kemenangan Tidak Lahir di Medan Perang

Pesan utama tulisan ini bukanlah menolak pentingnya strategi, teknologi, organisasi, atau kekuatan militer.

Semua itu tetap bagian dari sunnatullah.

Namun, penulis mengingatkan bahwa kemenangan tidak hanya dibangun di garis depan pertempuran.

Ia dibangun jauh sebelumnya.

Di ruang pendidikan.

Di dalam keluarga.

Di masjid.

Di sekolah.

Di pemerintahan.

Di akhlak masyarakat.

Dan terutama, di dalam hati manusia.

Karena perang hanyalah saat memanen.

Adapun benih kemenangan atau kekalahan telah ditanam jauh sebelum dentuman pertama terdengar.


Kalah dalam Perang Enam Hari 1967: Benarkah Agama Penyebabnya? Di antara berbaga...

Kalah dalam Perang Enam Hari 1967: Benarkah Agama Penyebabnya?


Di antara berbagai penjelasan yang muncul setelah kekalahan tahun 1967, barangkali tidak ada yang lebih mengundang perdebatan daripada pendapat yang menyatakan:

"Penyebab kekalahan itu adalah agama."

Benarkah demikian?

Apakah agama memang menjadi penghalang kemajuan?

Apakah keyakinan kepada Tuhan membuat sebuah bangsa tidak mampu memenangkan peperangan?

Ataukah persoalannya justru terletak pada cara manusia memahami dan mengamalkan agamanya?

Sebuah Pandangan yang Mengundang Perdebatan

Pandangan tersebut pernah dikemukakan oleh sastrawan Michael Na'imah dalam sebuah wawancara yang dimuat Majalah Al-Adab di Beirut setelah kekalahan Perang Juni 1967.

Ketika ditanya tentang pelajaran terbesar yang harus dipetik bangsa Arab dari kekalahan itu, ia menjawab kurang lebih demikian:

"Dunia tidak diatur oleh agama. Agama berada di langit, sedangkan urusan kehidupan berada di bumi."

Ia kemudian melanjutkan dengan gagasan yang lebih tegas.

Jika hak suatu bangsa hanya dapat dipertahankan dengan kekuatan militer, jika kekuatan militer hanya dapat dibangun dengan ilmu pengetahuan dan kekayaan, maka—menurutnya—bangsa Arab seharusnya "mengabdi" kepada ilmu dan harta, bukan kepada agama.

Pernyataan itu terdengar provokatif.

Namun benarkah demikian?

Agama atau Cara Beragama?

Pandangan tersebut tampaknya berangkat dari sebuah asumsi bahwa masyarakat Muslim kalah karena terlalu sibuk dengan urusan ibadah dan mengabaikan urusan dunia.

Tetapi, benarkah keadaan ketika itu seperti itu?

Apakah negara-negara Arab yang berperang pada tahun 1967 adalah negara-negara teokratis yang menjadikan agama sebagai pusat kebijakan?

Justru kenyataannya berbeda.

Sebagian besar negara yang terlibat dalam perang saat itu menganut sistem negara modern yang bersifat sekuler.

Militer mereka dibangun dengan doktrin modern.

Persenjataan mereka berasal dari teknologi mutakhir.

Perencanaan perang mereka mengikuti pendekatan militer kontemporer.

Bahkan, di sejumlah tempat, kehidupan keagamaan justru dipinggirkan dari ruang publik.

Kalau demikian, bagaimana mungkin agama dijadikan penyebab utama kekalahan?

Kalaupun ada yang patut dikritik, barangkali bukan agama itu sendiri, melainkan bentuk keberagamaan yang kehilangan semangat perubahan, kerja keras, dan tanggung jawab.

Itu adalah persoalan yang berbeda.

Kritik dari Dalam Dunia Sastra

Penyair lain, Nazar al-Qabbani, juga menulis puisi terkenal Hawamisy 'ala Daftar an-Naksah sebagai respons terhadap kekalahan tersebut.

Dalam puisinya, ia mengkritik berbagai kelemahan masyarakat Arab.

Ia mempertanyakan hilangnya daya juang, matinya kepekaan moral, dan pudarnya keberanian.

Melalui ungkapan-ungkapannya yang tajam, ia seakan bertanya:

Apakah kita masih layak menyebut diri sebagai umat terbaik?

Pertanyaan itu sesungguhnya mengingatkan kita kepada firman Allah:

«"Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, karena kamu menyuruh kepada yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah."»

Ayat ini tidak menjanjikan keunggulan hanya karena identitas.

Keutamaan itu terkait dengan syarat-syarat tertentu.

Selama amar makruf, nahi mungkar, dan keimanan tetap hidup, kemuliaan itu tetap terjaga.

Tetapi apabila syarat-syarat itu ditinggalkan, maka gelar tersebut kehilangan maknanya.

Ketika Agama Hanya Menjadi Ritual

Dalam kritiknya, Nazar al-Qabbani juga menyindir bentuk keberagamaan yang hanya berhenti pada simbol-simbol.

Ia menggambarkan masyarakat yang sibuk berdebat, menulis syair, dan melantunkan doa kemenangan, tetapi lalai membangun kekuatan nyata.

Kritik seperti ini layak direnungkan.

Sebab Islam memang tidak mengajarkan keberagamaan yang pasif.

Namun di sisi lain, kritik terhadap praktik keberagamaan tidak otomatis berarti bahwa agama itu sendiri menjadi penyebab kekalahan.

Keduanya adalah hal yang berbeda.

Benarkah Agama Memimpin Medan Perang Saat Itu?

Faktanya, menjelang Perang Juni 1967, agama justru tidak menjadi kekuatan utama yang menggerakkan kebijakan negara.

Bahkan di beberapa tempat, unsur-unsur keagamaan dijauhkan dari urusan militer dan pemerintahan.

Yang lebih sering terdengar adalah slogan-slogan ideologi, nasionalisme, dan sosialisme.

Dalam salah satu media resmi bahkan pernah dimuat gagasan yang menyerukan lahirnya manusia Arab baru yang melepaskan diri dari agama dan nilai-nilai masa lalu.

Di tengah suasana seperti itulah muncul keyakinan bahwa kemajuan hanya dapat dicapai dengan meninggalkan agama.

Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa yang dipersalahkan bukan lagi cara beragama, melainkan agama itu sendiri.

Sebuah Pengalaman di Lapangan

Penulis bahkan mengisahkan sebuah pengalaman yang disaksikannya sendiri.

Ketika sejumlah sukarelawan sedang dipersiapkan untuk berangkat ke medan perang, seorang ulama mengingatkan mereka agar bertakwa kepada Allah dan berpegang teguh kepada agama-Nya.

Harapannya sederhana.

Semoga Allah memberikan pertolongan.

Namun sebagian pemuda yang telah terpengaruh oleh kultus terhadap tokoh politik tertentu segera menyahut:

"Kami tidak mempunyai agama selain senjata."

Ungkapan itu menunjukkan suasana batin yang berkembang ketika itu.

Agama bukan dijadikan sumber kekuatan.

Sebaliknya, ia justru dipandang sebagai penghalang.

Kalau demikian, bagaimana mungkin agama masih dituduh sebagai penyebab kekalahan?

Apa yang Sebenarnya Diajarkan Islam?

Pertanyaan berikutnya menjadi sangat penting.

Agama yang manakah yang sebenarnya dipersalahkan?

Kalau yang dimaksud adalah Islam, maka tuduhan tersebut sulit dipertahankan.

Sebab Al-Qur'an justru memerintahkan umatnya agar mempersiapkan seluruh kekuatan yang mampu mereka bangun.

Allah memerintahkan kaum beriman untuk selalu bersiap siaga.

Allah memperingatkan agar mereka tidak lengah terhadap senjata dan perlengkapan.

Allah memerintahkan mereka maju dengan teratur dan penuh kesiapsiagaan.

Adakah ajaran itu mengarah kepada kemalasan?

Tentu tidak.

Sunnah Nabi: Iman dan Ikhtiar Berjalan Bersama

Demikian pula Rasulullah ï·º.

Beliau mendorong umatnya menguasai keterampilan militer.

Beliau memuji orang yang membuat senjata.

Beliau memuji orang yang menggunakannya.

Beliau menganjurkan memanah, berenang, dan berbagai kemampuan yang memperkuat kesiapan umat.

Beliau bahkan mengingatkan bahwa meninggalkan keterampilan yang telah dipelajari merupakan sikap yang tercela.

Islam juga menjadikan jihad sebagai bagian dari tanggung jawab seorang Muslim, bukan sekadar slogan, tetapi kesiapan berkorban demi mempertahankan kebenaran.

Tawakal Bukan Berarti Pasrah

Lebih jauh lagi, Islam tidak pernah mengajarkan fatalisme.

Keimanan kepada takdir bukan alasan untuk meninggalkan sebab-sebab.

Ketika Rasulullah ï·º ditanya tentang usaha manusia dalam menghadapi takdir, beliau menjelaskan bahwa ikhtiar juga merupakan bagian dari takdir Allah.

Karena itu beliau menegur orang yang membiarkan untanya tanpa diikat dengan alasan bertawakal.

Sabda beliau sangat terkenal:

"Ikatlah untamu, kemudian bertawakallah kepada Allah."

Di situlah keseimbangan Islam.

Usaha dilakukan semaksimal mungkin.

Tawakal datang setelah ikhtiar dijalankan.

Pelajaran yang Perlu Diambil

Karena itu, sulit menerima anggapan bahwa agama merupakan penyebab kekalahan tahun 1967.

Yang mungkin menjadi persoalan adalah ketika agama dipahami secara keliru, direduksi menjadi sekadar ritual, atau bahkan disingkirkan sama sekali dari pembentukan karakter, etos kerja, disiplin, dan tanggung jawab.

Islam yang diajarkan Al-Qur'an dan dicontohkan Rasulullah ï·º justru memadukan iman, ilmu, ikhtiar, kesiapsiagaan, dan tanggung jawab.

Agama seperti itulah yang membentuk generasi-generasi awal Islam.

Dan agama seperti itu pula mustahil menjadi penyebab sebuah kekalahan.

Jika kekalahan terjadi, maka yang perlu dikoreksi bukanlah ajaran agamanya, melainkan sejauh mana umat benar-benar menghayati dan mengamalkan ajaran tersebut dalam kehidupan dan perjuangan mereka.

Kalah dalam Perang Enam Hari 1967: Benarkah Karena Ketertinggalan Peradaban? ...


Kalah dalam Perang Enam Hari 1967: Benarkah Karena Ketertinggalan Peradaban?

Ada lagi penjelasan yang cukup populer setelah kekalahan tahun 1967.

Menurut pandangan ini, penyebab utama kekalahan adalah ketertinggalan bangsa Arab dalam bidang peradaban, ilmu pengetahuan, dan teknologi.

Logikanya sederhana.

Apabila bangsa yang lebih maju secara teknologi berhadapan dengan bangsa yang lebih tertinggal, maka kemenangan hampir pasti berada di pihak yang lebih maju.

Benarkah sesederhana itu?

Apakah sejarah memang selalu berjalan menurut rumus tersebut?

Teknologi Memang Penting, Tetapi...

Pandangan seperti ini dikemukakan oleh sejumlah cendekiawan, baik dari dunia Arab maupun dari kalangan negara-negara maju.

Namun sebagian pemikir Muslim mengingatkan agar kesimpulan tersebut tidak diterima begitu saja.

Di antara mereka, Muhammad Jalal Kisyk menilai bahwa bahaya terbesar dari penjelasan semacam ini bukan terletak pada pengakuan akan pentingnya ilmu pengetahuan, melainkan pada kecenderungannya mengalihkan perhatian dari persoalan yang lebih mendasar, yaitu persoalan akidah, karakter, dan kualitas manusia.

Haruskah kita memilih antara iman atau teknologi?

Tentu tidak.

Islam tidak pernah mengajarkan pertentangan antara keduanya.

Tidak ada bangsa yang ingin hidup tertinggal.

Tidak ada masyarakat yang sengaja menolak kemajuan.

Setiap bangsa yang menyadari pentingnya ilmu pengetahuan pasti akan berusaha menguasainya.

Al-Qur'an sendiri memerintahkan kaum beriman untuk mempersiapkan kekuatan semaksimal mungkin.

Karena itu, perlengkapan perang, teknologi, dan penguasaan ilmu pengetahuan merupakan bagian penting dari ikhtiar.

Tidak ada perbedaan pendapat mengenai hal tersebut.

Lalu, Mengapa Kita Masih Berdebat?

Kalau semua sepakat bahwa ilmu pengetahuan penting, mengapa penjelasan itu masih terasa belum memadai?

Karena pertanyaannya bukan lagi:

"Apakah teknologi itu penting?"

Melainkan:

"Mengapa kita tertinggal dalam teknologi?"

Apa yang menyebabkan kita terlambat memasuki era modern?

Mengapa selama bertahun-tahun energi bangsa justru habis pada perdebatan-perdebatan yang tidak menyentuh akar persoalan?

Apakah modernitas hanya dipahami sebatas perubahan gaya hidup?

Apakah kemajuan hanya diukur dari perubahan sosial tertentu, sementara penguasaan ilmu, riset, dan inovasi justru diabaikan?

Kalau demikian, bukankah persoalan sebenarnya jauh lebih dalam daripada sekadar kalah perang?

Pelajaran dari Sejarah Islam

Muhammad Jalal Kisyk kemudian mengajukan pertanyaan yang menggugah.

Bagaimana mungkin kita melupakan sejarah kita sendiri?

Ketika kaum Muslimin generasi pertama keluar dari Jazirah Arab, mereka bukanlah bangsa yang unggul dalam teknologi.

Mereka bukan bangsa yang memiliki industri persenjataan paling maju.

Mereka juga bukan pewaris peradaban besar seperti Persia ataupun Romawi.

Bahkan kehidupan mereka sangat sederhana.

Mereka pernah mengira angka seribu adalah bilangan terbesar yang mungkin ada.

Mereka pernah tidak dapat membedakan kapur dengan garam.

Mereka bahkan belum mengenal berbagai jenis pakaian yang lazim dipakai bangsa-bangsa besar ketika itu.

Namun pertanyaannya ialah:

Apakah semua keterbatasan itu menghalangi mereka meraih kemenangan?

Ternyata tidak.

Mereka justru berhasil mengalahkan dua imperium terbesar pada zamannya.

Mereka memasuki wilayah Persia.

Mereka mengguncang kekaisaran Romawi.

Mereka membangun sebuah peradaban yang kelak membentang dari Laut Tengah hingga Asia Tengah.

Kalau demikian, apakah kemenangan mereka lahir karena keunggulan teknologi?

Ataukah ada faktor lain yang lebih mendasar?

Ketika Gajah Menjadi "Senjata Rahasia"

Sejarah bahkan mencatat sebuah kisah yang menarik.

Ketika berhadapan dengan pasukan Persia, sebagian kaum Muslimin untuk pertama kalinya melihat gajah perang.

Bagi mereka, pemandangan itu begitu asing.

Sebagian bahkan mengira gajah adalah senjata buatan Persia, bukan makhluk ciptaan Allah.

Mereka belum pernah menyaksikan binatang sebesar itu digunakan di medan perang.

Namun apakah ketidaktahuan tersebut membuat mereka kehilangan keberanian?

Tidak.

Mereka tidak membiarkan rasa asing berubah menjadi rasa takut.

Sa'd bin Abi Waqqash mencari informasi kepada orang-orang Persia yang telah memeluk Islam.

Ia bertanya bagaimana menghadapi gajah-gajah itu.

Jawabannya sederhana.

Lumpuhkan penglihatannya.

Kemudian Al-Qa'qa' dan Ashim memimpin serangan.

Mereka mengepung gajah utama, mencari celah, lalu secara serempak menghujamkan tombak ke kedua matanya hingga gajah itu roboh.

Setelah gajah utama tumbang, formasi pasukan Persia pun menjadi kacau.

Apa Pelajaran dari Kisah Itu?

Apakah kisah tersebut hendak mengajarkan bahwa teknologi tidak penting?

Sama sekali tidak.

Yang ingin ditunjukkan justru sebaliknya.

Teknologi memang memiliki peranan.

Tetapi teknologi tidak pernah berdiri sendiri.

Di balik peralatan perang tetap ada manusia yang menggunakannya.

Di balik senjata tetap ada keberanian.

Di balik strategi tetap ada kepemimpinan.

Di balik kemenangan tetap ada disiplin, keyakinan, dan kesiapan berkorban.

Karena itu, sejarah Islam memperlihatkan bahwa kemenangan tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan alat, tetapi juga oleh kualitas orang yang memegang alat tersebut.

Pelajaran untuk Kekalahan 1967

Lalu bagaimana kita memahami kekalahan tahun 1967?

Apakah semata-mata karena Israel lebih maju dalam teknologi?

Ataukah ketertinggalan teknologi hanyalah salah satu gejala dari persoalan yang lebih mendasar?

Barangkali persoalan yang sesungguhnya bukan sekadar kurangnya senjata, melainkan kurangnya manusia yang mampu membangun ilmu, menjaga amanah, memimpin dengan benar, dan memanfaatkan teknologi secara optimal.

Sebab teknologi dapat dibeli.

Persenjataan dapat diimpor.

Namun karakter, integritas, disiplin, kepemimpinan, dan kekuatan moral tidak dapat dibeli dari bangsa mana pun.

Di situlah letak pelajaran terbesar.

Peradaban tidak hanya dibangun oleh mesin-mesin yang canggih.

Peradaban dibangun oleh manusia yang mampu memadukan ilmu, akhlak, tanggung jawab, dan keyakinan dalam setiap langkahnya.

Kalah dalam Perang Enam Hari 1967: Benarkah Karena Pengkhianatan? Ada pula penjelasan lain y...

Kalah dalam Perang Enam Hari 1967: Benarkah Karena Pengkhianatan?



Ada pula penjelasan lain yang sering dikemukakan untuk menjawab pertanyaan tentang kekalahan tahun 1967.

Jawabannya singkat.

"Semua ini terjadi karena pengkhianatan."

Benarkah demikian?

Apakah sebuah bangsa dapat runtuh hanya karena dikhianati oleh segelintir orang?

Ataukah pengkhianatan hanyalah salah satu gejala dari persoalan yang jauh lebih dalam?

Memang, kemungkinan adanya pengkhianatan tidak dapat begitu saja disangkal.

Sejarah setiap bangsa memperlihatkan bahwa selalu ada orang yang rela menjual negeri, kehormatan, bahkan bangsanya sendiri demi kepentingan pribadi, kelompok, atau kekuasaan.

Orang yang kehilangan iman akan mudah kehilangan amanah.

Orang yang terbiasa mengkhianati Allah dan Rasul-Nya tidak akan merasa berat mengkhianati tanah airnya sendiri.

Karena itu, kemungkinan adanya individu-individu yang berkhianat tetap harus diakui.

Namun pertanyaannya adalah:

Apakah pengkhianatan segelintir orang cukup menjelaskan kehancuran seluruh bangsa?

Seberapa Jauh Pengkhianatan Menjelaskan Kekalahan?

Mari kita berpikir lebih jernih.

Kalau benar ada sebagian pemimpin yang berkhianat, mengapa dampaknya begitu menyeluruh?

Mengapa hampir seluruh sistem pertahanan ikut runtuh?

Mengapa para komandan di berbagai lini mengalami kegagalan pada waktu yang hampir bersamaan?

Mengapa kekalahan menjalar ke seluruh medan perang?

Bukankah pengkhianatan pada umumnya dilakukan oleh individu atau kelompok kecil?

Bukankah sangat sulit membayangkan seluruh bangsa melakukan pengkhianatan secara serempak?

Terlebih lagi, dalam masyarakat Muslim, pengkhianatan terhadap agama dan bangsa bukanlah sesuatu yang mudah diterima. Kalau pun ada, jumlahnya tentu terbatas pada individu-individu yang telah melepaskan nilai-nilai yang mereka yakini.

Karena itu, jika memang terdapat pengkhianatan, kemungkinan besar ia hanya menjelaskan sebagian peristiwa.

Ia tidak cukup menjelaskan keseluruhan kehancuran.

Mengapa Penjelasan Ini Begitu Populer?

Lalu mengapa tuduhan pengkhianatan begitu mudah diterima?

Barangkali karena penjelasan ini terasa sederhana.

Ia menyediakan seorang "tersangka" yang dapat disalahkan.

Dengan menunjuk beberapa orang sebagai pengkhianat, perhatian masyarakat pun dialihkan dari persoalan yang lebih mendasar.

Sistem tidak lagi dipertanyakan.

Cara memimpin tidak lagi dievaluasi.

Budaya politik tidak lagi dikritisi.

Yang dipersoalkan hanyalah siapa yang mengkhianati.

Padahal, jika akar persoalan sebenarnya berada pada sistem yang rusak, maka mengganti beberapa orang saja tidak akan mengubah keadaan.

Wajah pemerintahan mungkin berubah.

Nama para pemimpin mungkin berganti.

Namun apabila cara berpikir, budaya kekuasaan, dan mekanisme yang melahirkan kegagalan tetap dipertahankan, maka hasil akhirnya pun tidak banyak berbeda.

Apa Hakikat Sebuah Pengkhianatan?

Sebuah pertanyaan penting perlu diajukan.

Kapan sebuah tindakan layak disebut sebagai pengkhianatan yang menjadi penyebab utama kehancuran bangsa?

Pengkhianatan memang dapat menjadi faktor penentu apabila sebuah negara sebenarnya telah memiliki sistem yang sehat, pemerintahan yang baik, dan kepemimpinan yang bertanggung jawab.

Dalam keadaan seperti itu, kerusakan memang bisa berasal dari pengkhianatan segelintir orang.

Namun bagaimana jika sistemnya sendiri telah dipenuhi berbagai kelemahan?

Bagaimana jika kesalahan telah berlangsung lama?

Bagaimana jika budaya yang berkembang justru membuka ruang bagi lahirnya pengkhianatan?

Dalam keadaan seperti itu, pengkhianatan bukan lagi sebab pertama.

Ia justru menjadi buah dari kerusakan yang telah lebih dahulu mengakar.

Bahaya Mengkultuskan Pemimpin

Ada bentuk pengkhianatan lain yang sering luput disadari.

Bukan pengkhianatan kepada musuh.

Melainkan pengkhianatan terhadap akal sehat.

Hal itu terjadi ketika seorang pemimpin ditempatkan di atas kritik.

Ia dianggap selalu benar.

Ia dipandang tidak mungkin keliru.

Setiap keberhasilan dinisbatkan kepadanya.

Setiap kegagalan selalu dibebankan kepada orang lain.

Dalam budaya seperti itu, pemimpin berubah menjadi sosok yang seolah-olah tidak pernah salah.

Ia dipuja layaknya pahlawan tanpa cela.

Selama kemenangan datang, semua pujian diarahkan kepadanya.

Namun ketika kekalahan terjadi, kesalahan segera dicari pada bawahan, rakyat, bahkan pada pengkhianatan orang lain.

Seolah-olah sang pemimpin kehilangan "keris pusaka" yang selama ini dianggap sebagai sumber seluruh kehebatannya.

Padahal, tidak ada manusia yang kebal dari kekeliruan.

Tidak ada kepemimpinan yang boleh diletakkan di atas evaluasi.

Bangsa yang menggantungkan nasibnya kepada kultus individu sedang membuka pintu bagi lahirnya kesalahan yang tidak lagi berani dikoreksi.

Dan ketika kesalahan tidak boleh dikoreksi, kekalahan sering kali hanya tinggal menunggu waktu.

Kalah dalam Perang Enam Hari 1967: Benarkah Sekadar Kekeliruan Strategi Apabila ...


Kalah dalam Perang Enam Hari 1967: Benarkah Sekadar Kekeliruan Strategi


Apabila kekalahan itu memang merupakan kenyataan yang tidak dapat disangkal—betapapun pahit untuk diterima—maka pertanyaan berikutnya tidak dapat dihindari.

Apa sebenarnya penyebab kekalahan itu?

Apakah benar semata-mata karena campur tangan kekuatan asing sebagaimana berbagai tuduhan yang beredar? Ataukah penyebabnya justru berada di dalam tubuh kita sendiri?

Bukankah selama hampir dua puluh tahun kita telah mempersiapkan diri? Bukankah persenjataan dibeli dari berbagai negara? Bukankah jumlah tentara terus bertambah? Mengapa semua itu ternyata tidak mampu mencegah kehancuran yang terjadi hanya dalam hitungan hari?

Di sinilah sebagian penulis dan cendekiawan mencoba melihat persoalan dari sudut yang berbeda.

Mereka tidak sekadar menghitung jumlah tank, pesawat, atau rudal. Mereka berusaha memahami hukum sebab-akibat (Sunnatullah) yang bekerja dalam sejarah. Mereka membandingkan kekuatan bangsa-bangsa bukan hanya dari sisi material, tetapi juga kualitas manusianya; bukan hanya dari teknologi, tetapi juga moralitasnya; bukan hanya dari slogan-slogan, melainkan dari amal nyata.

Dari kajian seperti itulah muncul sebuah kesimpulan:

Kekalahan tahun 1967 disebabkan oleh kekeliruan strategi militer.

Benarkah Hanya Kesalahan Strategi?

Menurut pandangan ini, kehancuran besar itu bermula dari kesalahan membaca situasi.

Musuh diperkirakan akan menyerang dari arah timur atau utara.

Ternyata serangan justru datang dari arah yang tidak diperkirakan.

Akibatnya sangat fatal.

Dalam waktu sekitar tiga jam, sebagian besar kekuatan udara hancur. Pangkalan-pangkalan dibombardir. Sekitar delapan puluh persen kekuatan utama Mesir lumpuh. Radar, tank, meriam, dan berbagai persenjataan strategis jatuh ke tangan lawan.

Tidak berhenti sampai di situ.

Gaza, Semenanjung Sinai, Tepi Barat, dan Dataran Tinggi Golan jatuh dalam waktu kurang dari satu minggu.

Jalan menuju Kairo, Damaskus, dan kota-kota penting lainnya terbuka lebar.

Bahkan para pemimpin sendiri mengakui bahwa seandainya serangan diteruskan, hampir tidak ada kekuatan yang mampu menghalanginya.

Lalu muncul kesimpulan:

"Semua ini akibat kesalahan strategi."

Tetapi benarkah penjelasannya sesederhana itu?

Pertanyaan yang Lebih Mendasar

Mengapa kita begitu yakin musuh belum akan menyerang?

Mengapa kita begitu yakin mereka hanya akan datang dari arah tertentu?

Bukankah dalam peperangan justru ketidakpastian adalah sesuatu yang pasti?

Mengapa kemungkinan terburuk tidak dipersiapkan?

Mengapa kewaspadaan tidak dijadikan keadaan yang terus-menerus?

Al-Qur'an sendiri telah mengingatkan:

"Orang-orang kafir ingin supaya kamu lengah terhadap senjatamu dan harta bendamu, lalu mereka menyerbu kamu sekaligus." (QS. An-Nisa' [4]: 102)

Ayat ini tidak hanya berbicara tentang peperangan pada masa Rasulullah ï·º.

Ia mengajarkan prinsip kewaspadaan yang berlaku sepanjang zaman.

Musuh tidak selalu datang setelah memberi tahu.

Musuh tidak selalu menyerang dari arah yang kita duga.

Musuh justru menunggu saat ketika kita merasa aman.

Pelajaran dari Sirah Nabi

Seandainya para pemimpin benar-benar mempelajari sejarah perjuangan Rasulullah ï·º, mereka akan menemukan pola yang berbeda.

Dalam Perang Tabuk, ketika Rasulullah mengetahui adanya ancaman, beliau tidak menunggu musuh memasuki Madinah. Beliau mengambil inisiatif bergerak lebih dahulu.

Demikian pula ketika menghadapi Hawazin sebelum Perang Hunain. Ancaman yang diketahui segera direspons dengan kesiapsiagaan, bukan dengan menunggu.

Pelajarannya jelas.

Kesiapsiagaan merupakan bagian dari strategi.

Menunggu bukan selalu berarti bijaksana.

Karena itu Al-Qur'an memerintahkan kaum beriman agar selalu bersiap menghadapi berbagai kemungkinan.

Apa yang Sebenarnya Dapat Kita Nilai?

Sebagian orang mungkin berkata, "Kita bukan ahli militer."

Benar.

Kita tidak mengetahui berapa jumlah pesawat yang seharusnya tetap mengudara.

Kita tidak memahami bagaimana penyebaran pasukan ideal dilakukan.

Kita pun mungkin tidak pernah membaca teori perang modern ataupun pengalaman para jenderal besar.

Karena itu, penilaian teknis memang menjadi wilayah para profesional.

Namun ada satu hal yang dapat dipahami siapa pun.

Dalam profesi yang mempertaruhkan keselamatan sebuah bangsa, kelengahan tidak pernah dapat dibenarkan.

Kesiapsiagaan bukan pilihan.

Ia adalah kewajiban.

Apakah Strategi Menjelaskan Segalanya?

Namun setelah direnungkan lebih jauh, muncul pertanyaan lain yang jauh lebih mendasar.

Apakah kehancuran sebesar itu mungkin hanya disebabkan oleh satu kesalahan strategi?

Apakah sebuah negara dapat runtuh hanya karena salah membaca arah serangan?

Sulit menerima penjelasan sesederhana itu.

Apa yang terjadi bukan sekadar kekalahan dalam sebuah pertempuran.

Yang terjadi adalah keruntuhan menyeluruh.

Bahkan dalam berbagai perang besar di Eropa, negara-negara kecil yang berada di bawah pendudukan Nazi masih mampu memberikan perlawanan yang lebih panjang.

Sementara di sini, kehancuran terjadi begitu cepat, padahal sebelumnya justru pihak kitalah yang lebih dahulu mengumumkan kesiapan menghadapi perang.

Karena itu, kesalahan strategi tampaknya bukan akar persoalan.

Ia hanyalah gejala.

Dari Mana Lahir Kesalahan Strategi?

Setiap strategi lahir dari manusia.

Jika strateginya keliru, bukankah yang harus diperiksa adalah kualitas manusianya?

Di sinilah persoalan mulai bergeser.

Kesalahan strategi bukanlah sebab pertama.

Ia adalah akibat.

Akibat dari kepemimpinan yang dikuasai ego.

Akibat dari penyalahgunaan kekuasaan.

Akibat dari kelalaian moral.

Akibat dari hawa nafsu yang mengalahkan rasa tanggung jawab.

Sebuah ilustrasi sering dikemukakan.

Pada malam menjelang pecahnya perang, seorang panglima angkatan udara justru dikabarkan berada di tempat perjudian.

Benar atau tidaknya kisah tersebut, pertanyaan moralnya tetap relevan.

Apa yang seharusnya dilakukan seorang pemimpin ketika negaranya berada di ambang peperangan?

Berjaga?

Mengevaluasi kesiapan pasukan?

Atau justru larut dalam hiburan?

Kalau benar terjadi kelalaian seperti itu, masih pantaskah ia disebut sekadar kesalahan penilaian?

Ataukah itu sudah merupakan pengkhianatan terhadap amanah?

Siapa yang Bertanggung Jawab?

Di sinilah persoalan menjadi semakin rumit.

Kalau kesalahan strategi hanyalah akibat, siapakah penyebab sesungguhnya?

Siapa yang harus bertanggung jawab atas puluhan ribu korban?

Siapa yang bertanggung jawab atas hilangnya wilayah?

Siapa yang bertanggung jawab atas jutaan rakyat yang kehilangan masa depan?

Dalam syariat Islam, seseorang yang tidak sengaja menyebabkan kematian tetap memikul tanggung jawab hukum.

Lalu bagaimana dengan keputusan-keputusan yang mengakibatkan kehancuran sebuah bangsa?

Siapa yang harus dimintai pertanggungjawaban?

Dan siapakah yang berwenang mengadilinya?

Berlindung di Balik Perang Uhud?

Sebagian orang kemudian berkata,

"Bukankah Rasulullah ï·º juga pernah mengalami kekalahan dalam Perang Uhud?"

Benar.

Namun, apakah kisah Uhud hanya berhenti pada kenyataan bahwa kaum Muslim pernah kalah?

Ataukah justru pelajaran terbesarnya terletak pada keberanian melakukan introspeksi?

Al-Qur'an tidak menimpakan kesalahan kepada keadaan.

Tidak pula menyalahkan musuh.

Allah berfirman:

"Katakanlah, 'Musibah itu datang dari dirimu sendiri.'" (QS. Ali 'Imran [3]: 165)

Kalau benar Perang Uhud dijadikan pelajaran, maka yang semestinya diteladani bukan sekadar pengakuan bahwa kekalahan pernah terjadi.

Yang harus diteladani adalah keberanian mengoreksi diri.

Respons Setelah Kekalahan

Lihatlah apa yang dilakukan para sahabat setelah Uhud.

Mereka tidak larut dalam penyesalan.

Mereka tidak mencari kambing hitam.

Mereka tidak tenggelam dalam saling menyalahkan.

Padahal luka-luka mereka belum mengering.

Namun ketika panggilan jihad kembali datang, mereka segera bangkit memenuhi seruan Rasulullah ï·º.

Tentang mereka Allah berfirman:

"Yaitu orang-orang yang memenuhi seruan Allah dan Rasul setelah mereka mendapat luka... Mereka berkata, 'Cukuplah Allah menjadi Penolong kami, dan Dia adalah sebaik-baik Pelindung.'" (QS. Ali 'Imran [3]: 172–173)

Inilah pelajaran terbesar dari Uhud.

Kekalahan bukan alasan untuk berhenti.

Kekalahan adalah kesempatan untuk memperbaiki diri.

Dan sebelum memperbaiki strategi, sebuah bangsa harus terlebih dahulu memperbaiki manusia yang menyusun strategi itu.



Arab Kalah Perang Enam Hari 1967: Introspeksi Internal  Bagaimanakah seharusnya ...

Arab Kalah Perang Enam Hari 1967: Introspeksi Internal 



Bagaimanakah seharusnya kita bersikap setelah bencana besar 5 Juni 1967? Sebuah peristiwa yang oleh banyak orang disebut sebagai bencana kedua—bahkan ketiga—dalam rentang waktu kurang dari dua puluh tahun, sejak tragedi 1948 hingga kekalahan tahun 1967.

Apa yang harus kita lakukan ketika harapan-harapan besar runtuh? Ketika mimpi-mimpi yang selama ini dibangun seakan lenyap diterpa angin? Ketika tokoh-tokoh yang dahulu dielu-elukan sebagai penyelamat ternyata tidak mampu memberikan pertolongan pada saat yang paling dibutuhkan?

Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mengingatkan:

«"Maka sembahan-sembahan yang mereka seru selain Allah itu tidak dapat menolong mereka sedikit pun ketika azab Tuhanmu datang. Bahkan sembahan-sembahan itu tidak menambah apa pun kepada mereka selain kebinasaan." (QS. Hud [11]: 101)»

Pertanyaan-pertanyaan seperti itulah yang mengguncang hati setiap orang yang peduli. Bagaimana kita membersihkan kehinaan yang menimpa? Bagaimana membebaskan negeri yang dirampas? Bagaimana mengusir para penjajah dan mengembalikan hak kepada pemiliknya yang sah?

Sebelum mencari jalan keluar, ada dua hal yang semestinya tidak lagi menjadi perdebatan.

Pertama, kita harus berani berpikir.

Bangsa yang sedang menghadapi musibah tetapi enggan melakukan introspeksi hanya akan mengulangi kegagalan yang sama. Peristiwa besar akan terus berlalu, sementara mereka tetap terlelap dalam kelengahan.

Karena itu, pengalaman pahit harus diubah menjadi pelajaran. Kekalahan tidak boleh sekadar dikenang, tetapi harus dipahami.

Allah berfirman:

«"Maka apakah mereka tidak berjalan di bumi, sehingga mereka mempunyai hati yang dengannya mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengannya mereka dapat mendengar? Sesungguhnya yang buta itu bukanlah mata, tetapi yang buta ialah hati yang berada di dalam dada." (QS. Al-Hajj [22]: 46)»

Ayat ini bukan sekadar mengajak manusia berkelana dari satu negeri ke negeri lain. Lebih dari itu, ia mengajarkan agar manusia belajar dari kenyataan yang sedang mereka alami.

Kita tidak perlu mencari pelajaran ke tempat yang jauh. Kita sendiri sedang hidup di tengah pelajaran itu. Kita sendiri sedang mengalaminya.

Bukankah Al-Qur'an berulang kali memerintahkan manusia untuk berpikir, merenung, dan menggunakan akalnya?

Bukankah Islam menjadikan berpikir sebagai bagian dari ibadah?

Bahkan dalam khazanah para ulama terdapat ungkapan bahwa berpikir sesaat dengan benar lebih bernilai daripada ibadah yang panjang tanpa pemahaman.

Karena itu, sikap berpangku tangan bukanlah pilihan. Yang harus dilakukan ialah berpikir secara jernih, mendalam, dan jujur.

René Descartes pernah berkata, Cogito, ergo sum—"Aku berpikir, maka aku ada."

Jangan sampai ada yang mencemooh kita dengan mengatakan, "Kalian tidak pernah benar-benar ada, karena kalian tidak pernah mau berpikir."

Lalu, apa pertanyaan pertama yang harus diajukan?

Pertanyaan itu sederhana, tetapi sangat menentukan:

Mengapa kita kalah?

Sebab, orang yang tidak mengetahui penyebab kekalahannya tidak akan pernah mengetahui jalan menuju kemenangan.

Pembahasan ini tidak dimaksudkan untuk mengulas kembali kekalahan negara-negara Arab pada tahun 1948. Banyak orang telah berpendapat bahwa salah satu penyebab utamanya ialah dominasi semangat nasionalisme sempit yang justru menjadi alat penghancur bagi mereka sendiri.

Yang ingin dikaji di sini adalah pertanyaan lain.

Mengapa, setelah tujuh belas tahun berlalu, setelah berbagai negara Arab merdeka berdiri, setelah jumlah tentara bertambah dan persenjataan semakin modern, kekalahan justru kembali terulang pada Perang Juni 1967?

Berbagai Penjelasan tentang Sebab Kekalahan

Sesudah perang usai, bermunculan berbagai komentar untuk menjelaskan penyebab kekalahan tersebut.

Sebagian lahir dari kejujuran.

Sebagian lagi hanya menjadi alasan untuk menghindari tanggung jawab.

Ada yang membuat orang menangis.

Ada pula yang justru mengundang senyum getir.

"Kita Tidak Kalah"

Barangkali inilah pernyataan yang paling mengherankan.

Sebagian pejabat yang bertanggung jawab justru mengatakan:

"Kita tidak kalah."

Menurut mereka, sasaran utama Israel bukanlah merebut wilayah, melainkan menjatuhkan pemerintahan revolusioner. Selama pemerintahan itu tetap berdiri, maka Israel dianggap gagal, meskipun wilayah yang luas telah jatuh ke tangan musuh.

Logika seperti ini menimbulkan pertanyaan besar.

Benarkah kehilangan tanah air bukan persoalan penting?

Bukankah inti persoalan Palestina sejak awal adalah perampasan tanah?

Bukankah berdirinya negara Zionis Israel sendiri berawal dari penguasaan wilayah yang sebelumnya dihuni bangsa Palestina?

Kalau demikian, bagaimana mungkin hilangnya wilayah dianggap bukan kekalahan?

Lebih mengherankan lagi, apakah benar Israel begitu terobsesi menjatuhkan para pemimpin revolusioner sehingga tujuan utamanya bukan lagi merebut wilayah?

Sejarah justru memperlihatkan hal yang berbeda.

Perhatian sebagian rezim lebih banyak diarahkan kepada persaingan politik internal daripada menghadapi musuh di perbatasan.

Energi mereka habis untuk membungkam lawan politik.

Partai lebih diutamakan daripada rakyat.

Ideologi ditempatkan di atas agama.

Lawan politik dianggap lebih berbahaya daripada Israel.

Tidak mengherankan apabila muncul komentar sinis:

"Mereka sebenarnya tidak sedang berperang, bahkan tidak pernah benar-benar berniat berperang."

Pertanyaan pun layak diajukan.

Mengapa pemerintahan yang dicap "reaksioner" justru lebih banyak menjadi sasaran permusuhan dibanding penjajah yang menduduki Palestina?

Apakah ancaman terbesar sebenarnya datang dari Israel, atau justru dari sesama bangsa Arab yang berbeda orientasi politik?

Mencari Kambing Hitam

Penjelasan lain yang juga sering dikemukakan adalah tuduhan bahwa kekalahan terjadi akibat campur tangan langsung Amerika Serikat.

Benarkah demikian?

Kalaupun benar ada dukungan kekuatan besar kepada Israel, apakah itu otomatis menghapus tanggung jawab para pemimpin sendiri?

Tentu tidak.

Sebab kenyataan di medan perang tetap tidak berubah.

Yang kalah tetap kalah.

Yang kehilangan wilayah tetap kehilangan wilayah.

Yang harus mempertanggungjawabkan kebijakan tetaplah para pemimpin yang memegang kendali.

Selama bertahun-tahun rakyat telah mendengar pidato-pidato yang penuh keyakinan. Mereka dijanjikan kemenangan. Mereka diyakinkan bahwa Israel akan diberi pelajaran.

Namun ketika kenyataan berbicara sebaliknya, berbagai alasan pun bermunculan.

Alih-alih melakukan evaluasi yang jujur, sebagian memilih mencari kambing hitam.

Padahal, sebuah bangsa tidak akan bangkit hanya dengan menyalahkan pihak lain.

Kebangkitan selalu dimulai dari keberanian mengakui kelemahan sendiri, kemudian memperbaikinya dengan kejujuran, ilmu, dan tindakan nyata.

Jaringan Ulama: Apa yang Membuatnya Bertahan dan Berkembang? Setelah mengenal para tokoh utama dalam jar...


Jaringan Ulama: Apa yang Membuatnya Bertahan dan Berkembang?

Setelah mengenal para tokoh utama dalam jaringan ulama abad ke-17, muncul pertanyaan yang menarik untuk direnungkan: apa sebenarnya yang membuat jaringan ini mampu bertahan, berkembang, bahkan melintasi batas wilayah, mazhab, dan generasi?

Jawabannya tidak terletak pada sebuah lembaga yang kaku atau organisasi yang tersusun secara hierarkis. Justru kekuatan jaringan ini lahir dari hubungan keilmuan, spiritual, dan kemanusiaan yang terjalin secara alami. Inilah karakter dasar jaringan ulama yang menjadikannya begitu kokoh sepanjang sejarah.

Jaringan yang Terus Meluas

Jaringan ulama abad ke-17 bukanlah sesuatu yang muncul secara tiba-tiba. Ia merupakan kelanjutan dari mata rantai keilmuan generasi sebelumnya. Para ulama besar abad ke-17 menerima warisan ilmu dari guru-guru terdahulu, kemudian mengembangkannya kepada generasi sesudahnya.

Namun, dibandingkan periode sebelumnya, jaringan ini berkembang jauh lebih luas dan kompleks. Hubungan antartokoh tidak lagi bersifat sederhana, melainkan saling bertaut melalui berbagai jalur: sanad hadis, silsilah tarekat, hubungan guru-murid, hingga kolaborasi intelektual lintas wilayah.

Sekalipun sumber-sumber sejarah menyisakan sejumlah persoalan historiografis, benang merah hubungan tersebut tetap dapat ditelusuri hingga masa kini. Dari sini tampak jelas bahwa para ulama dari kawasan Samudra Hindia, termasuk Nusantara, bukan sekadar peserta dalam jaringan itu, tetapi juga menjadi bagian penting yang ikut membentuk dan mengembangkannya.

Ikatan yang Dibangun oleh Ilmu

Lalu, di mana sebenarnya jaringan itu dibangun?

Bukan di istana atau pusat kekuasaan, melainkan di ruang-ruang ilmu: masjid, madrasah, ribath, dan majelis pengajian.

Di tempat-tempat itulah lahir hubungan guru dan murid, hubungan antarguru, bahkan persahabatan di antara sesama penuntut ilmu. Hubungan-hubungan tersebut berkembang secara alami tanpa struktur organisasi yang formal.

Justru karena tidak dibatasi oleh birokrasi, jaringan ini menjadi sangat dinamis. Para ulama bebas berpindah dari satu kota ke kota lain, dari satu guru ke guru lainnya. Mobilitas inilah yang membuat jaringan ulama mampu melampaui batas negara, etnis, maupun mazhab.

Mengapa Ikatan Itu Tetap Bertahan?

Pertanyaan berikutnya, mengapa hubungan mereka tidak terputus ketika para murid kembali ke negeri masing-masing?

Jawabannya adalah karena hubungan mereka tidak berhenti pada proses belajar.

Para ulama tetap saling berkirim pertanyaan, meminta fatwa, berdiskusi, serta saling memberikan bimbingan ketika menghadapi persoalan di daerah asalnya. Guru tetap menjadi tempat meminta nasihat, sementara sesama murid tetap menjalin komunikasi sebagai rekan seperjuangan dalam membangun umat.

Dengan demikian, jaringan ulama bukan hanya jaringan ilmu, tetapi juga jaringan kepercayaan, persaudaraan, dan tanggung jawab bersama terhadap kemajuan umat Islam.

Dua Pilar yang Mengikat Jaringan

Jika ditelusuri lebih jauh, terdapat dua unsur utama yang menjadi perekat jaringan ulama.

Yang pertama adalah sanad hadis.

Sanad bukan sekadar daftar nama periwayat, melainkan bukti kesinambungan ilmu dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Melalui sanad, para ulama Mesir, Afrika Utara, Haramain, India, hingga Nusantara tersambung dalam satu mata rantai keilmuan.

Tradisi inilah yang menghidupkan kembali kedudukan Makkah dan Madinah sebagai pusat studi hadis dunia Islam.

Pilar kedua adalah silsilah tarekat.

Dalam tradisi tasawuf, hubungan murid dan mursyid dibangun di atas kepercayaan, adab, dan pembinaan ruhani. Karena itu, ikatan yang lahir bukan sekadar hubungan akademik, tetapi juga hubungan spiritual yang sangat kuat.

Sebagaimana dikemukakan oleh John O. Voll, hubungan seperti ini memberikan kohesi yang jauh lebih erat dibandingkan hubungan formal semata.

Pertemuan Syariat dan Tasawuf

Menariknya, berkembangnya tradisi tasawuf di Haramain turut mempererat hubungan para ulama.

Para ulama dari kawasan Samudra Hindia membawa tradisi tarekat, terutama Syathariyyah dan Naqsyabandiyyah, ke pusat-pusat keilmuan Islam. Kehadiran mereka memperkaya kehidupan intelektual Haramain.

Namun, apakah tarekat itu tetap sama seperti di tempat asalnya?

Ternyata tidak.

Ketika berkembang di Makkah dan Madinah yang merupakan pusat studi hadis dan fikih, tarekat-tarekat tersebut mengalami proses penyempurnaan. Orientasi spiritualnya tetap dipertahankan, tetapi semakin kuat dipadukan dengan syariat.

Dengan kata lain, tasawuf tidak dipisahkan dari hukum Islam, melainkan berjalan berdampingan dengannya.

Berbeda, tetapi Tetap Bersatu

Hal lain yang menarik adalah kenyataan bahwa para ulama dalam jaringan ini tidak semuanya berasal dari latar belakang yang sama.

Mereka datang dari berbagai bangsa, bahasa, dan tradisi keilmuan.

Ada yang bermazhab Hanafi, ada pula yang Syafi'i, Maliki, ataupun Hanbali.

Ada yang lebih dahulu menempuh jalan Syathariyyah, sementara yang lain bergabung dengan Naqsyabandiyyah atau tarekat lainnya.

Apakah perbedaan itu menjadi penghalang?

Justru sebaliknya.

Perbedaan tersebut tidak menghalangi kerja sama ilmiah. Mereka tetap saling belajar, saling menghormati, bahkan saling memberikan ijazah keilmuan.

Yang mempersatukan mereka bukan keseragaman identitas, melainkan tujuan yang sama: menghidupkan kembali ajaran Islam berdasarkan Al-Qur'an, Sunnah, dan tradisi keilmuan yang bersambung.

Pelajaran dari Jaringan Ulama

Jaringan ulama abad ke-17 menunjukkan bahwa peradaban Islam tidak dibangun oleh individu yang bekerja sendiri-sendiri.

Ia lahir dari kolaborasi lintas generasi, lintas wilayah, dan lintas mazhab.

Ilmu diwariskan melalui sanad, akhlak dipelihara melalui persahabatan, dan spiritualitas dijaga melalui bimbingan para guru.

Inilah sebabnya jaringan ulama mampu bertahan selama berabad-abad. Bukan karena kekuatan politik atau organisasi yang besar, melainkan karena mereka membangun ikatan yang berpusat pada ilmu, adab, dan keikhlasan dalam melayani umat.



Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adam (5) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Al-Baqarah (1) Al-Qur'an (362) Al-Qur’an (55) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) An-Nadwi (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bahaya Kemunduran Umat Islam (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (53) Cerita kegagalan (1) cerpen Nabi (8) cerpen Nabi Musa (2) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) dakwah (10) Dakwah (7) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) english (6) English (6) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fiqh (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (7) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) hikmah (1) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) Islam (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) kecerdasan (20) Kecerdasan (331) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Hadist (4) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) kisah para nabi dan (2) kisah para nabi dan rasul (56) kisah para Nabi dan Rasul (1) Kisah para nabi dan rasul (107) Kisah Para Nabi dan Rasul (577) kisah para nabi dan rasul. Nabi Daud (1) kisah para nabi dan rasul. nabi Musa (2) Kisah Penguasa (1) Kisah ulama (1) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) nabi adam (1) Nabi Adam (75) nabi Adam. Adam (1) Nabi Ayub (1) Nabi Daud (3) Nabi Ibrahim (3) Nabi Isa (2) nabi Isa. nabi ismail (1) Nabi Ismail (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Khidir (1) Nabi Musa (29) Nabi Nuh (6) Nabi Sulaiman (2) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (15) Namrudz (2) Nasrulloh Baksolahar (1) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) nusantara (6) Nusantara (282) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (686) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rasulullah shalallahu alaihi wassalam (1) Rehat (493) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) Sahabat (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) Salimul Aqidah (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Serah Nabawiyah (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (308) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah penguasa (11) Sirah Penguasa (248) sirah Sahabat (2) Sirah Sahabat (171) Sirah Tabiin (43) Sirah ulama (36) Sirah Ulama (158) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tamim Ad Dari (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Wakaf (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)