basmalah Pictures, Images and Photos
Our Islamic Story

Albert Einstein dan Tokoh Yahudi: Israel Menghancurkan Yahudi  Nama Albert Eins...


Albert Einstein dan Tokoh Yahudi: Israel Menghancurkan Yahudi 


Nama Albert Einstein hampir selalu menjadi personifikasi dari kebijaksanaan, kemanusiaan, dan perdamaian universal. Namun, sejarah sering kali menyapukan kuas yang terlalu lebar, menutupi sisi politik sang fisikawan yang paling provokatif: penolakannya yang keras terhadap fondasi ideologis pendirian negara Israel. Jauh sebelum bendera dikibarkan pada Mei 1948, sang pemikir terbesar abad ke-20 ini telah mengendus adanya aroma "bencana" yang tersembunyi di balik euforia nasionalisme. 

Baginya, sebuah entitas politik yang lahir dari rahim kekerasan bukanlah sebuah kemenangan sejarah, melainkan benih kehancuran moral yang fatal.


Ramalan "Bencana Nyata" Einstein (1948)

Tepat satu bulan sebelum proklamasi kemerdekaan Israel, pada 10 April 1948, Einstein mengirimkan sebuah korespondensi singkat namun mengguncang kepada Shepard Rifkin, Direktur Eksekutif American Friends of the Fighters for the Freedom of Israel.

Dalam surat yang hanya terdiri dari sekitar 50 kata tersebut, Einstein tidak basa-basi. Ia langsung menunjuk hidung pihak-pihak yang dianggapnya menyesatkan dan kriminal.

Einstein menegaskan bahwa ada dua poros yang akan bertanggung jawab atas malapetaka di Palestina: kebijakan Inggris dan "organisasi teroris" yang muncul dari internal barisan Yahudi sendiri.

"Ketika bencana nyata dan terakhir menimpa kita di Palestina, yang pertama bertanggung jawab atas hal itu adalah Inggris dan yang kedua bertanggung jawab untuk itu, organisasi teroris yang dibangun dari barisan kita sendiri."

Bagi Einstein, gerakan ini bukan sekadar strategi militer, melainkan sebuah penyimpangan yang akan membawa komunitas Yahudi menuju jurang kehancuran. 

Ketidaksukaannya begitu mendalam sehingga ia kemudian menolak tawaran menjadi Presiden Israel pada 1952, tetap teguh pada keyakinannya bahwa Israel terbentuk dari "laras senjata, dinamit, dan darah orang-orang Palestina."


Kritik Terhadap Fasisme dan "Partai Nazi" di Israel

Kegelisahan Einstein bukan sekadar luapan emosi pribadi, melainkan sebuah posisi politik yang kolektif.

Pada 4 Desember 1948, ia bersama 29 intelektual terkemuka Amerika Serikat menerbitkan surat terbuka di The New York Times dengan tajuk yang tajam: "New Palestine Party: Visit of Menachem Begin and Aims of Political Movement Discussed".

Surat ini ditulis sebagai protes atas kunjungan Menachem Begin ke Amerika Serikat. Einstein dan rekan-rekannya secara eksplisit menyamakan Partai Herut (Partai Kebebasan) yang dipimpin Begin dengan organisasi Nazi dan fasis. Mereka menyoroti bahwa organisasi, filosofi politik, dan daya tarik sosial partai tersebut adalah manifestasi terbaru dari fasisme yang justru baru saja dikalahkan dunia dalam Perang Dunia II.

Para tokoh ini memperingatkan bahwa dukungan AS terhadap gerakan ini hanya akan memperkeruh situasi, mengganggu eksistensi rakyat Palestina, dan pada akhirnya menodai martabat kemanusiaan itu sendiri.


"Dejudaisasi": Ketika Agama Menjadi Nasionalisme Buta

Puluhan tahun setelah peringatan Einstein, gema kegelisahan yang sama muncul dari koridor akademik Israel. 

Pada 8 Juni 1982, di tengah berkecamuknya invasi ke Lebanon, Profesor Benjamin Cohen dari Universitas Tel-Aviv menulis surat emosional kepada Profesor Vidal-Naquet yang kemudian dipublikasikan oleh harian Le Monde pada 19 Juni 1982.

Cohen mengecam penggunaan retorika "perdamaian" oleh pemerintah—khususnya Menachem Begin dan Ariel Sharon—sebagai justifikasi atas agresi militer yang barbar. Ia menyebut propaganda ini sebagai "kebohongan yang setara dengan Goebbels."

Di titik inilah, Cohen memperkenalkan konsep "dejudaisasi." Baginya, keberhasilan Zionisme dalam membangun kekuatan militer justru menjadi kegagalan spiritual yang tragis bagi identitas Yahudi.

"Sukses terbesar dari Zionisme hanya ini: 'dejudaisasi' orang-orang Yahudi... penghancuran final orang-orang Palestina sebagai bangsa dan penghancuran orang-orang Israel sebagai manusia."

Bagi Cohen, ketika kaum Yahudi yang secara historis merupakan "putra-putra Abraham" dan penyintas kekejaman justru berbalik menjadi pelaku kekejaman, mereka kehilangan esensi kemanusiaan mereka.

Ini adalah pertarungan antara "Keimanan Yahudi" yang berakar pada tradisi kenabian melawan "Nasionalisme Zionis" yang bersifat kesukuan dan eksklusif.


Mitos Superioritas dan "Kemabukan" Nasionalisme

Nasionalisme Zionis, menurut para pengamat kritis, telah terjebak dalam "kemabukan" kolektif yang serupa dengan gerakan nasionalisme radikal lainnya di dunia.

Klaim sebagai "Rakyat Tuhan" digunakan untuk melegitimasi penindasan, sebuah pola yang mirip dengan doktrin Gesta Dei per Francos di Prancis, semboyan Gott mit uns di Jerman, hingga rasisme sistematis apartheid di Afrika Selatan.

Eksklusivisme ini mencapai puncaknya dalam klaim-klaim intelektual yang berbahaya. Profesor André Neher, dalam bukunya L'Essence du Prophétisme, sempat terjebak dalam romantisme ini dengan menulis bahwa "Israel adalah poros, saraf, dan jantung dunia." 

Pernyataan semacam ini segera memicu kritik karena dianggap membangkitkan kembali "Mitos Arya" yang menjadi landasan ideologis Pan-Germanisme dan Hitlerisme.

Ketika sebuah bangsa merasa memiliki kedudukan metafisika yang lebih tinggi dari bangsa lain, ruang dialog tertutup rapat. 

Eksklusivisme rasial dan klaim persekutuan eksklusif dengan Tuhan membuat tokoh-tokoh seperti Menachem Begin tidak mungkin mendengar suara "liyan".

 Dalam paradigma ini, dialog dianggap sebagai kelemahan, dan perang menjadi satu-satunya instrumen yang tersisa.


Pola Penolakan terhadap Kebenaran: Belajar dari Abdullah bin Salam

Mengapa suara-suara jernih dari Einstein, Cohen, hingga Leibowitz sering kali dianggap sepi atau bahkan dikriminalisasi?

Hal ini tak lepas dari apa yang disebut sebagai "inkuisisi intelektual" yang dilancarkan oleh lobi-lobi politik untuk membungkam kritik internal. 

Pola sosiologis ini telah lama terekam dalam sejarah, salah satunya dalam kisah Abdullah bin Salam (Husein bin Salam), seorang ulama Yahudi terkemuka di Madinah.

Sebagaimana dicatat oleh Dr. Adian Husaini, Abdullah bin Salam awalnya dipuja oleh kaumnya sebagai orang yang paling alim dan mulia.

Namun, seketika setelah ia mengakui kebenaran di luar doktrin kelompoknya, pujian itu berubah menjadi caci maki. Ia dituduh sebagai "sejahat-jahatnya manusia" hanya karena ia memilih kesetiaan pada kebenaran universal di atas loyalitas kesukuan yang buta.

Sifat "degil"—susah menerima kebenaran meskipun bukti sudah terpampang nyata—menjadi penghalang bagi sebuah bangsa untuk berefleksi.

Kritik dari para intelektual Yahudi sendiri sering kali dianggap sebagai pengkhianatan terhadap "nasionalisme kesukuan," sehingga peringatan-peringatan moral yang mereka sampaikan sering kali hanya menjadi angin lalu di tengah kemabukan kekuasaan.


Peringatan yang disampaikan Albert Einstein, Benjamin Cohen, dan André Neher bukan lahir dari kebencian, melainkan dari cinta yang mendalam terhadap nilai-nilai moral yang menjadi akar identitas mereka.

Mereka khawatir bahwa pembangunan sebuah negara yang hanya mengandalkan superioritas rasial dan kekerasan militer akan berujung pada "bencana nyata"—sebuah kehancuran yang tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga kehancuran jiwa bangsa tersebut.

Apakah sebuah bangsa bisa bertahan lama jika ia didirikan di atas prinsip yang justru ditentang oleh para pemikir terbesarnya sendiri?

Perlawanan Petinggi Yahudi Terhadap Zionisme Israel Tidak jarang telontar peringatan setiap kali terjadi pelanggaran...


Perlawanan Petinggi Yahudi Terhadap Zionisme Israel


Tidak jarang telontar peringatan setiap kali terjadi pelanggaran terhadap hukum internasional oleh Israel.

Di sini hanya disebutkan dua contoh yang telah diteriaki dengan keras, sebagaimana yang direnungkan oleh jutaan orang Yahudi, tetapi tanpa kekuasaan untuk mengungkapkannya di depan umum akibat inkuisisi intelektual yang dilancarkan oleh lobi israelo-Zionis.

Pada saat dilangsungkan proses pengadilan terhadap Eichman pada tahun 1960 di Jerusalem, American Council for Judaism menyatakan,

"Dewan Judaisme Amerika telah mengirimkan surat kepada Christian Herter supaya menolak pemerintah Israel untuk berbicara atas nama seluruh orang Yahudi. Dewan menyatakan bahwa Judaisme adalah masalah keagamaan, bukan kewarganegaraan." (Le Monde, 21 Juni 1960)

Saat berlangsungnya invasi Israel ke Lebanon, Profesor Benjamin Cohen dari Universitas Tel-Aviv, pada tanggal 8 Juni 1982, menulis kepada Profesor Vidal-Naquet,

"Saya menulis surat untuk Anda sambil mendengarkan radio yang baru saja mengumumkan bahwa negara kita baru saja mencapai tujuan kita di Lebanon: menjamin 'perdamaian' terhadap penduduk Galilea. Kebohongan yang setara dengan Goebbels ini membuat saya gila. Jelas bahwa perang liar ini lebih barbar dari yang sebelumnya, tidak ada hubungannya sama sekali dengan serangan bom di London ataupun dengan keamanan di Galilea. Orang-orang Yahudi, putra Abraham. Orang-orang Yahudi sendiri yang merupakan korban dari banyak kekejaman, dapatkah mereka menjadi sekejam itu? Sukses terbesar dari Zionisme hanya ini: 'dejudaisasi' orang-orang Yahudi.

Kawanku, lakukan sesuatu untuk mencegah Begin dan Sharon supaya tidak mencapai tujuan ganda: penghancuran final (kata-kata yang sangat populer di sini saat ini) orang-orang Palestina sebagai bangsa dan penghancuran orang-orang Israel sebagai manusia." (Surat yang di-publikasikan dalam harian Le Monde, 19 Juni 1982, hlm. 2)

"Profesor Leibowitz menilai bahwa politik Israel di Lebanon termasuk Judeo-Nazi." (Yediot Aharonoth, 2 Juli 1982)

Itulah masalah yang timbul dari pertarungan antara keimanan Yahudi yang berdasarkan tradisi kenabian dan nasionalisme Zionis, yang didirikan atas dasar penolakan terhadap yang lain dan penyucian diri sendiri.

Semua nasionalisme membutuhkan penyucian terhadap tuntutan-tuntutannya: setelah terjadi dislokasi agama Kristen, setiap negara menganggap telah menerima warisan suci dan telah menerima pelantikan dari Tuhan.

Prancis adalah "Putri Sulung Gereja (Vatican)" yang dilengkapi dengan aksi Tuhan (Gesta Dei per Francos). Jerman berada "di atas semuanya" karena Tuhan bersamanya (Gott mit uns). Eva Peron memproklamirkan bahwa misi Argentina adalah membawa Tuhan ke bumi.

Pada tahun 1972, Perdana Menteri Afrika Selatan, Vorster, yang terkenal dengan rasisme liar "apartheid", pada gilirannya berkata, "Jangan kita lupa bahwa kita adalah rakyat Tuhan yang dibekali dengan satu misi...." Nasionalisme Zionis juga berbagi kemabukan ini dengan seluruh nasionalisme lainnya.

Orang yang cerdas sekalipun membiarkan dirinya tergoda oleh "kemabukan" ini.

Bahkan, orang yang seperti Profesor André Neher sekalipun, dalam bukunya yang indah, L'Essence du Prophétisme Esensi Kenabian', terbitan Calmann-Levi, 1992, hlm. 331, setelah menjelaskan dengan baik arti universal dari "Persekutuan":  Persekutuan Tuhan dengan manusia, ia, sampai menulis,

 "Israel adalah sebuah tanda luar biasa dari sejarah Ilahiah di dunia. Israel adalah poros, saraf, dan jantung dunia." (hlm. 311)

Pembicaraan yang demikian membangkitkan dengan marah "mitos Arya yang ideologinya adalah dasar dari Pan-Germanisme dan Hitlerisme. Dalam jalur ini, kita berada di antipoda dari ajaran nabi-nabi dan dari buku tulisan Martin Buber, Je et Tu 'Saya dan Kamu', yang mengesankan.

Eksklusivisme melarang dialog: kita tidak dapat "berdialog", baik dengan Hitler maupun Begin, karena superioritas rasial dan persekutuannya dengan Tuhan, tidak memungkinkan mereka mendengar orang lain.

Hal ini karena kami mempunyai kesadaran bahwa pada masa kini tidak ada pilihan lain kecuali dialog atau perang, dan bahwa dialog seperti apa yang telah kami ulang-ulangi, bahwa setiap orang memiliki kesadaran terhadap apa yang kurang pada keimanannya, dan setiap orang membutuhkan orang lain untuk melengkapi apa yang kosong dalam dirinya. Kekosongan ini merupakan kondisi yang melampaui segalanya dan dari segala nafsu yang cepat puas (yang merupakan nyawa dari segala keimanan hidup).

Antologi kami mengenai kejahatan yang dilakukan orang Zionis, terletak dalam perpanjangan usaha-usaha dari orang-orang Yahudi yang telah berupaya untuk membela satu Judaisme kenabian melawan satu Zionisme kesukuan.

Apa yang menjadi sumber energi antisemitisme bukan berasal dari kritik politik agresi, politik kebohongan, ataupun darah Zionisme Israel.

Akan tetapi dukungan tak bersyarat atas politik ini yang mengambil beberapa hal saja dari tradisi Judaisme berdasarkan interpretasi harfiah kitab suci, dalam rangka menjustifikasikan politik ini dan mengangkatnya di atas segala hukum inter nasional dengan cara mengkeramatkannya melalui mitos-mitos kemarin dan mari ini.

Perang Lebanon 1982: Lahirnya Perlawanan yang Lebih Kuat Terhadap Zionisme Israel  ...


Perang Lebanon 1982: Lahirnya Perlawanan yang Lebih Kuat Terhadap Zionisme Israel 

Pada 6 Juni 1982, Israel meluncurkan invasi militer masif ke Lebanon dengan kode puitis "Operasi Perdamaian untuk Galilea." Nama tersebut membawa janji pasifikasi yang menggiurkan bagi publik Israel yang lelah akan teror: sebuah intervensi singkat untuk mendorong mundur gerilyawan Palestina sejauh 40 kilometer demi menjamin "40 tahun perdamaian."

Namun operasi ini adalah studi kasus klasik tentang bagaimana sebuah fait accompli militer dapat menyeret sebuah negara ke dalam quagmire atau rawa politik yang tak berujung.

Diskrepansi antara retorika perdamaian dan realitas eskalasi ini segera terungkap. Apa yang dipromosikan sebagai operasi terbatas dengan cepat bermutasi menjadi invasi penuh yang mengepung Beirut, memicu konfrontasi udara terbesar di era jet, dan pada akhirnya mengubah peta konflik Timur Tengah selamanya.

Di balik narasi heroik dan debu pertempuran, tersimpan realitas-realitas tajam yang sering kali terabaikan oleh sejarah arus utama.


Tragedi Logika: Menghukum PLO atas Dosa Musuh Bebuyutannya

Setiap perang besar membutuhkan pretext atau alasan pembenaran. Dalam kasus ini, pemicunya adalah upaya pembunuhan Shlomo Argov, Duta Besar Israel untuk Inggris, di London.

Secara politik, pemerintah Menachem Begin segera menuding Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) sebagai dalang di balik serangan tersebut.

Namun, sejarah intelijen mengungkapkan sebuah ironi yang gelap: serangan itu dilakukan oleh kelompok Abu Nidal—faksi radikal yang merupakan musuh bebuyutan Yasser Arafat.

Faktanya, intelijen Inggris melaporkan bahwa para pemimpin PLO sendiri berada dalam "daftar target" Abu Nidal. Menyerang PLO atas tindakan Abu Nidal adalah sebuah paradoks logika yang disengaja. 

Menteri Pertahanan Ariel Sharon menggunakan insiden ini sebagai "percikan yang menyulut sumbu" untuk mengaktifkan rencana "Big Pines"—sebuah rencana invasi luas hingga jalan raya Beirut-Damaskus yang sebelumnya sempat ditolak oleh kabinet karena dianggap terlalu ambisius.

Sharon memanipulasi situasi sedemikian rupa sehingga operasi yang seolah-olah terbatas berkembang menjadi perang total untuk menghancurkan infrastruktur politik Palestina.

"Serangan itu hanyalah percikan yang menyulut sumbu." — Ariel Sharon


Superioritas Teknologi: Ketika Bekaa Mengguncang Tirai Besi

Di medan tempur, Perang Lebanon 1982 menjadi ajang unjuk gigi supremasi teknologi Barat yang secara tak terduga berkontribusi pada keruntuhan mental blok Soviet.

Melalui Operation Mole Cricket 19, Angkatan Udara Israel (IAF) melakukan penghancuran sistematis terhadap 29 baterai rudal SAM Suriah di Lembah Bekaa menggunakan teknik electronic warfare (perang elektronik) yang canggih untuk mengacaukan radar musuh.

Dunia menyaksikan pertempuran udara terbesar di era jet, melibatkan lebih dari 150 pesawat tempur. Hasilnya sangat timpang: IAF menjatuhkan antara 82 hingga 86 jet tempur Suriah tanpa kehilangan satu pun pesawat di udara.

Di darat, tank Merkava Israel memulai debutnya dengan klaim keunggulan atas T-72 buatan Soviet. Meski analis militer mencatat bahwa T-72 Suriah sempat memberikan perlawanan tangguh dan menghentikan laju Israel di Rashaya, kekalahan total teknologi pertahanan udara Soviet di Bekaa sangat mengguncang Moskow.

Mantan komandan IAF David Ivri mencatat bahwa dominasi teknologi ini menjadi faktor krusial yang mengubah pola pikir pemimpin Uni Soviet, mendorong kebijakan Glasnost, dan mempercepat berakhirnya Perang Dingin.


Bumerang Strategis: Vakum Kekuasaan dan Ekspor Revolusi Iran

Salah satu hukum besi geopolitik adalah bahwa intervensi militer sering kali menghasilkan konsekuensi yang tidak disengaja. Tujuan utama Israel adalah mengusir PLO dari Lebanon, dan secara taktis, mereka berhasil.

Namun, pengusiran Arafat ke Tunisia menciptakan kekosongan kekuasaan di wilayah Lebanon Selatan yang mayoritas penduduknya adalah Syiah.

Kekosongan ini segera diisi oleh kekuatan baru yang jauh lebih ideologis dan tangguh. Pada Juli 1982, Pasdaran (Garda Revolusi Iran) tiba di Lembah Bekaa untuk memberikan pelatihan gerilya, pendanaan, dan doktrin militer. Dari rahim pendudukan ini, lahirlah Hizbullah.

 Jika PLO adalah musuh nasionalis sekuler yang relatif bisa diprediksi, Hizbullah adalah entitas Islamis yang menggunakan taktik perang asimetris dan bom bunuh diri—seperti yang terlihat dalam kehancuran markas besar IDF di Tyre.

Invasi ini secara tidak sengaja justru mengimpor revolusi Iran ke depan pintu utara Israel, menciptakan musuh bebuyutan yang hingga kini tetap menjadi tantangan strategis terbesar mereka.


Retaknya Konsensus: Suara dari Pinggir Jurang Maut

Perang 1982 adalah titik balik di mana konsensus nasional Israel mengenai "perang demi keberlangsungan" mulai retak. 

Sejak awal, oposisi di Knesset telah memperingatkan bahaya dari ambisi Sharon. Anggota Knesset Meir Vilner dari partai Hadash menyatakan dengan pahit bahwa pemerintah sedang membawa Israel menuju "jurang maut" yang akan menimbulkan penyesalan bagi generasi mendatang.

Kekecewaan publik mencapai puncaknya setelah pembantaian warga sipil di kamp Sabra dan Shatila oleh milisi Phalangis Kristen di bawah pengawasan posisi-posisi tentara Israel. 

Tragedi ini memicu "Rally 400.000" di Tel Aviv, sebuah demonstrasi masif yang menuntut tanggung jawab moral. Investigasi oleh Komisi Kahan akhirnya menyimpulkan bahwa Ariel Sharon memikul "tanggung jawab pribadi" karena gagal mencegah pembantaian tersebut, yang berujung pada pengunduran dirinya sebagai Menteri Pertahanan.

Perang ini mengubah lanskap sosial Israel, menciptakan pembelahan tajam antara kelompok militeris dan gerakan perdamaian yang bertahan hingga dekade-dekade berikutnya.


Runtuhnya Arsitektur Politik: Akhir Ambisi Aliansi Maronit

Strategi jangka panjang Israel di Lebanon sangat bergantung pada satu sosok: Bachir Gemayel, pemimpin milisi Maronit yang pro-Israel.

Rencana besar Sharon adalah memasang Gemayel sebagai Presiden Lebanon untuk kemudian menandatangani perjanjian damai formal dan mengusir pengaruh Suriah. 

Namun, arsitektur politik yang dipaksakan melalui kekuatan senjata ini terbukti sangat rapuh.

Hanya beberapa hari setelah terpilih sebagai Presiden, Gemayel terbunuh dalam sebuah ledakan bom pada September 1982. Kematiannya menghancurkan seluruh rencana strategis Israel.

Meskipun Perjanjian 17 Mei 1983 sempat ditandatangani untuk mengakhiri status perang, dokumen tersebut akhirnya dibatalkan oleh pemerintah Lebanon di bawah tekanan berat dari Suriah.

Israel gagal menanamkan pemimpin boneka, dan Lebanon justru jatuh ke dalam pengaruh rezim Assad yang lebih dalam daripada sebelumnya.


Perang Lebanon 1982 berakhir dengan catatan korban yang mengerikan: 19.085 tewas dan lebih dari 30.000 luka-luka. Angka-angka ini menjadi saksi bisu atas kegagalan mengubah kemenangan taktis menjadi perdamaian strategis.

Operasi yang dijanjikan selesai dalam hitungan hari justru menyeret Israel dalam pendudukan selama 18 tahun, hingga penarikan terakhir pada tahun 2000.

Sejarah ini meninggalkan pertanyaan reflektif yang tetap relevan di era modern: Apakah keamanan sebuah bangsa benar-benar bisa dibeli dengan invasi ke kedaulatan tetangganya?

Dan ketika sebuah kekuatan militer mencoba mendikte realitas politik melalui senjata, apakah mereka sedang membangun perdamaian, atau justru sedang menanam benih-benih konflik yang lebih berdarah bagi generasi mendatang?

Palestina dan Berdirinya Kesultanan Cirebon dalam Babad Cirebon dan Purwaka Caruban Nagari ...


Palestina dan Berdirinya Kesultanan Cirebon dalam Babad Cirebon dan Purwaka Caruban Nagari


Hubungan mendalam antara Indonesia dan Palestina ternyata telah mengakar kuat dalam literatur sejarah tradisional nusantara jauh sebelum era modern. Melalui naskah kuno seperti Babad Cirebon dan Purwaka Caruban Nagari, terungkap silsilah Sunan Gunung Jati yang diyakini memiliki garis keturunan dari wilayah tersebut. 

Selain itu, Sunan Kudus secara simbolis menghadirkan nuansa Baitul Maqdis di Jawa Tengah dengan mendirikan Masjid Al-Aqsa dan mengganti nama wilayahnya menjadi Al-Quds. 

Berbagai catatan sejarah ini menunjukkan bahwa solidaritas bangsa Indonesia terhadap Palestina didasarkan pada ikatan emosional, spiritual, dan budaya yang sangat panjang. 

Cerita rakyat ini tidak hanya mempererat hubungan keagamaan, tetapi juga mengintegrasikan identitas Palestina ke dalam memori kolektif masyarakat lokal melalui akulturasi arsitektur dan sejarah kerajaan.


Hubungan emosional dan solidaritas bangsa Indonesia terhadap Palestina memiliki akar sejarah yang sangat dalam, bahkan jauh sebelum berdirinya negara Indonesia modern. 

Kedekatan ini terekam dalam berbagai literatur historiografi tradisional (seperti Babad, Hikayat, dan Sajarah) yang mengaitkan tokoh-tokoh penyebar Islam di Jawa (Walisongo) dengan tanah Palestina atau Baitul Maqdis. 

Hal ini terbukti melalui naskah kuno Cirebon yang menghubungkan silsilah Sunan Gunung Jati dengan wilayah "Filistin" (Palestina).

Hubungan emosional ini tampak semakin kuat di Jawa Tengah melalui Sunan Kudus (Ja'far Shadiq), yang secara sengaja menghadirkan "Yerusalem di Tanah Jawa dengan mengganti nama wilayah Tajug menjadi Kudus (Al-Quds), mendirikan Masjid Al-Aqsa, dan menamai bukit di sekitarnya sebagai Gunung Muria.

Melalui pendekatan akulturasi arsitektur yang sangat toleran, Sunan Kudus menjadikan simbol-simbol Palestina sebagai sarana dakwah yang damai dan meresap dalam ingatan bangsa.

Hari-hari ini, kita menyaksikan genosida yang terjadi di Palestina. Suara-suara solidaritas dan pembelaan menggaung dari segala penjuru dunia, tak terkecuali bangsa Indonesia. Tentu sebagian orang ada yang bertanya, sejak kapan bangsa yang terpisah ribuan kilometer, dapat merasakan sedekat ini? Jika menilik pada sejarah negeri ini, kedekatan masyarakat Kepulauan Melayu-Indonesia dengan Palestina dapat ditelusuri jauh sebelum hadirnya Indonesia.

Hal tersebut dapat ditelusuri dalam beberapa literatur sejarah tradisional yang menyebutkan negeri Palestina nun jauh di negeri Syam.

Kita dapat melihat kedekatan hubungan Indonesia dan Palestina masa silam dalam cerita-cerita rakyat yang meresap di hati sebagian besar masyarakat tradisional kita. Kedekatan tersebut bahkan mewujud dalan keindahan sebuah kota di pesisir Jawa Tengah bernama Kudus. Bagaiman ceritanya?

Catatan historiografi tradisional seperti Sajarah, Hikayat, atau Babad sudah menyebut istilah-istilah dan cerita tentang Palestina, Isra Mi'raj, dan Bani Israil bahkan negeri Syam.

Salah satunya terdapat dalam naskah "Purwaka Caruban Nagari", salah satu historiografi tradisional yang ditulis oleh Pangeran Arya Cirebon, putra kedua dari Sultan Sepuh Cirebon tahun 1720 berdasarkan beberapa naskah kuno tentang sejarah Cirebon.

Mengenai Purwaka Caruban Nagari, H.A. Dasuki (1978) dalam pengantarnya menyebut naskah ini sebagai salah satu naskah babad Cirebon yang paling tua usianya.

"Yang menarik dari naskah ini ialah cara penulisannya yang lebih objektif dibanding dengan naskah-naskah lainnya yang kadang-kadang penuh alegoris, sehingga naskah ini patut digolongkan dalam kategori babad- historiografis. "

Naskah ini bercerita tentang berdirinya Kesultanan Cirebon, dimulai dari masuk Islamnya putra seorang Ratu (raja) di Tatar Sunda yang bernama Prabu Siliwangi yang menikah dengan Nyai Subang Larang. 

Mereka memperoleh tiga putra, yaitu Raden Walangsungsang, adiknya Nhay Lara Santang dan yang bungsu adalah Raja Senggara. Raden Walangsungsang dan Nhay Lara Santang belajar agama Islam kepada Syaikh Datuk Kahfi di daerah Cirebon sekarang, dan diperintahkan untuk menunaikan rukun Islam ke-5 yaitu Haji ke Baitullah.

 "Hai anakku, cobalah kalian sempurnakan sarengat Islam, yaitu pergi haji ke Baitullah di negeri Mekah," pesan gurunya itu.

Di Makkah inilah, para penulis cerita Babad Tanah Sunda, Babad Cirebon maupun Purwaka Caruban Nagari atau Carita Purwaka Caruban Nagari (CPCN) mengisahkan pernikahan Nyai Lara Santhang dengan Sultan Mesir dan "Bani Israil" yang menguasai "Palestina" sehingga melahirkan putranya yang kelak dikenal dengan nama Syarif Hidayatullah alias Sunan Gunung Jati, salah satu Walisongo penyebar Islam di Tatar Sunda, pendiri Kerajaan Cirebon.

Dalam Purwaka Caruban Nagari yang diterjemahkan HA Dasuki (1978) dikisahkan:

"Nyi Lara Santang menikah dengan Maulana Sultan yang
dikenal dengan gelar Syarief Abdullah putra Nurul Aliss dari suku Bani Hasyim, keturunan nabi Ismail. Dahulu memerintah di kota Ismailiyah, juga memerintah Bani Israil di Palestina yang termasuk kekuasaannya. Daerat daerah itu semuanya takluk di bawah pemerintah negar Mesir. Kemudian Nhay Lara Santang diberi nama Syarife Mudaim sedang kakaknya diberi nama Haji Abdullah Iman Kemudian mereka kembali ke Mekah."

Dalam versi bahasa aslinya, bahasa Cirebon, tampak istilah 'Filistin muncul dalam naskah tua ini, yang diterjemahkan sebagai Palestina.

"Ing Waluhrama ika Talana Sultan Mahmud kang sinebut yugang Syarief Abdullah anak ira Nurul Aliem. Saking Hasyim wangsanira, witan ikang sakheng Bani Ismail ikakang rumuhun amagehi Ismailiyah kitha nira kang yugang amagehi Bani Israil kang haneng "Filistin" mandalanyı kawilang kakawasan nira."

Pangeran Sulaeman Sulendraningrat, Penanggung Jawab Sejarah Cirebon dan Staf Keprabonan Lemahwungkung Cirebon dalam Purwaka Caruban Nagari (1972) menuliskan cerita yang relatif sama, tetapi disebutkan nama Sultannya, yaitu Sultan Machmud.

"Di Mekah Nhay Lara Santang mendapat jodoh dengan Maulana Sultan Machmud alias Sjarif Abdullah, seorang putra dari Nurul Alim, dari bangsa Hasyim, berasal dari Bani Ismail yang pada masanya memerintah di ibu kota Ismailiyah (Mesir) pada memerintah Bani Isroil Palestina yang pada waktu itu berada dalam lingkungan kedaulatan Mesir."

Sedangkan dalam naskah Carita Purwaka Caruban Nagari (CPCN) yang diteliti oleh Atja (1986), kisah serupa dengan istilah Pilistin (Palestina).

Istilah seperti "Palestina" dan "Bani Israil" rupanya sudah melekat dalam cerita rakyat masyarakat Indonesia di masa silam, khususnya masyarakat Sunda.

Dalam Perjuangan Wali Sanga Babad Cirebon (Pasundan), H Mahmud Rais dan A. Sayidil Anam menulis kisah yang relatif mirip, hanya saja Sultan Mesir namanya menjadi Sultan Iskak-bahkan Syarif Hidayatullah sempat memerintah di negeri Bani Israil (Mesir dan Palestina).

"Syahdan di Negeri Bani Israil ada seorang Sultan namanya Sultan Iskak gelarnya Sultan HUT. Isterinya telah meninggal dunia sejak beberapa lama dan belum mendapatkan gantinya. Pada suatu malam kebetulan malam Jumat ketika beliau istikharah tiba-tiba ada suara tanpa rupa yang mengatakan," Hai Iskak, carilah jodohmu di Mekah yang berasal dari Jawa..."

"Syahdan Akhirnya Somadullah dengan Rara Santang telah tiba di Mekah pada malam Jumat tanggal 25 Rajab."

"...Sultan Iskak menyuruh Ki Penghulu Bani Israil, pernikahan terjadi di Negeri Bani Israil di Keraton Bani Israil'."

"Syarif Hidayatullah kembali ke negeri Bani Israil... Hal ini terdengar dari luar daerah bahwa di Kerajaan Bani Israil ada perubahan besar mengenai ketatanegaraan. Akhirnya, Bani Israil mendapat kemajuan yang luar biasa berkat pimpinan Syarif Hidayatullah seorang cakap dan bijaksana."

Dari kisah tersebut, tampak sang penulis naskah menuliskan bahwa pernikahan anak Prabu Siliwangi ini terjadi pada Bulan Rajab, bulan terjadinya peristiwa Isra Mi'raj dalam ajaran Islam, dan ditulis pelaksanaa pernikahannya di Negeri Bani Israil di Keraton Bani Israil. Tak hanya itu, Syarif Hidayatullah dikisahkan sempat memerintah Negeri Bani Israil (Mesir dan Palestina) dan memimpin dengan cakap dan bijaksana. Cerita semacam ini mengisyaratkan bahwa penulis naskah berusaha mengaitkan pendiri kerajaan Cirebon dengan kisah-kisah terkait Palestina.



Memorisida Palestina: Pembantaian Ingatan Tentang Palestina dari Sejarah  Di had...

Memorisida Palestina: Pembantaian Ingatan Tentang Palestina dari Sejarah 


Di hadapan majelis MirYam Institute di kota New York pada tanggal 13 Januari 2026, mantan Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo, menyatakan, "We need to make sure that the story is told properly so that when the history books write this, they don't write about the victims of Gaza".

 "Kita perlu memastikan bahwa cerita tentang Gaza-ini dituturkan dengan pantas sehingga ketika buku sejarah menulisnya, mereka tidak menulis tentang korban-korban di Gaza."

Di tengah gemuruh aplaus audiens zionis tersebut, Pompeo menambahkan bahwa mereka harus memastikan bahwa sejarah harus dipastikan untuk menegaskan bahwa Israel-lah korbannya.

Pada tahun 2026, Mike Pompeo mungkin sudah bukan pejabat AS lagi karena hubungannya yang retak dengan Donald Trump pada periode pertama. Namun, ia mengungkapkan fitur penting dari proyek zionisme sejak awal berdirinya: memorisida. Pembantaian terhadap kenangan.

Sebagai sebuah proyek settler colonial (kolonialisme pendudukan), dan penghapusan (erasure). Ini adalah jenis penjajahan yang berpusat pada proyek zionisme berdiri di atas dua pilar ganda: eksploitasi (exploitation) menjadikan wilayah tersebut sebagai tempat tinggal permanen dan pada kehadiran populasi pemukim yang datang dari luar wilayah yang bertekad saat bersamaan tetap dapat menikmati standar hidup dan keistimewaan politik dari wilayah metropolis (wilayah asal penjajah) ("those colonial processes organised around the presence of a settler population intent on making a territory their permanent home while continuing to enjoy metropolitan living standards and political privileges").

Berbeda dengan jenis kolonialisme biasanya yang hanya bertujuan untuk menyedot kekayaan alam, settler colonialism menghendaki perampasan tanah dan penghapusan penduduk asli untuk digantikan dengan penduduk penjajah.

Patrick Wolfe, intelektual yang mempelajari ragam penjajahan, menyebutkan settler colonialism sebagai "sebuah proyek yang luas, berpusat pada tanah, yang mengoordinasikan berbagai agen dari pusat metropolitan ke wilayah pendudukan, dengan tujuan untuk menghilangkan penduduk asli" ("an inclusive, land-centred project that coordinates a comprehensive range of agencies, from the metropolitan centre to the frontier encampment, with a view to eliminating Indigenous societies").

Penghilangan (erasure) di sini tidak hanya berupa penghilangan yang bersifat material melalui genosida dan apartheid yang dilangsungkan sejak berlakunya Mandat Inggris atas Palestina setelah konferensi San Remo pada tahun 1920.

Jika kita mencermati beragam kekerasan yang dilakukan oleh Israel sebelum Nakba 1948, sesudah Nakba, hingga pasca 7 Oktober 2023, kita selalu menyaksikan fitur yang sama bahwa kekerasan itu tidak hanya ditujukan untuk menghilangkan orang-orang Palestina dari tanahnya, tetapi juga menghilangkan kenangan dan sejarah terhadap Palestina dan orang orangnya.

Kita tentu masih ingat bagaimana entitas zionis membunuh para pekerja medis dan wartawan, lalu membuat kebohongan sejarah tentang mereka dengan menyematkan identitas-identitas palsu yang kemudian terbukti bohong. Kita juga masih ingat bagaimana mereka mengubur relawan medis, sebagian hidup-hidup, bersama dengan ambulansnya. 

Ini bukan hanya penghilangan bukti, tapi upaya mematikan kenangan terhadap para korban. Ini merupakan fitur yang tidak pernah hilang dari perkembangan zionisme.

Setelah Nakba menghancurkan lebih dari 500 kota dan desa pemukiman orang Palestina, zionis melakukan beragam inisiatif untuk membuat orang lupa bahwa kota-kota dan desa-desa yang berusia ratusan atau bahkan ribuan tahun tersebut pernah ada.

Yang terlalu besar diganti namanya. Yang lain dikubur dengan dibangunkan taman hiburan, tempat wisata, museum perdamaian, atau hutan lindung. Di atas Tantura, yang pembantaiannya terekam dalam film dokumenter berjudul sama, didirikan sebuah kawasan wisata di mana para pendatang dari Eropa kemudian melepas penat dari kehidupan sehari-hari mereka.

Desa Imwas, yang dirampas Israel setelah Perang 1967, dihancurkan dan kemudian di atasnya dibangun hutan cagar alam dengan dana dari Jewish National Fund. Kini, kita tidak dapat menemukan desa tersebut karena ia telah menjadi bagian dari Canada Park.

Desa Lubya telah menjadi bagian dari South Africa Forest. Lebih dari 86 desa kini telah ditelan oleh hutan-hutan cagar alam buatan, yang menghadirkan pohon-pohon dari Eropa seperti pinus dan cemara yang sebenarnya tidak cocok dengan habitat Mediterania (menggantikan zaitun yang keras kepala membuktikan bahwa orang-orang Palestina adalah pemilik sah negeri tersebut).

Penghilangan kenangan sejarah adalah bagian tidak terpisahkan dari upaya penjajah untuk melanggengkan penjajahan. Jika kenangan akan bangsa Palestina hilang, maka mereka akan dengan mudah menyesakkan kebohongan "land without people for people without land."

 Tanpa kenangan asli yang bertahan, mereka akan dengan lancar menyodorkan mitos bahwa para penjajah itu telah membuat gurun pasir menjadi subur, membawa rahmat bagi sekalian alam.

Yang harus kita sadari: korban dari memorisida tersebut bukan hanya orang-orang Palestina. Kita juga. Seruan untuk mengubah kurikulum gambaran nyata bahwa kenangan-kenangan tentang Palestina di hati kita pendidikan Indonesia supaya lebih bersahabat dengan zionisme adalah adalah sasaran berikutnya dari mesin angkara murka zionisme.

Zionisme melalui normalisasi dengan negara dengan populasi muslim terbesar di yang tengah terkucil harus bertahan dengan mendapatkan legitimasi dunia. Untuk itu, akan ada beragam upaya untuk memanipulasi kenangan kita tentang Palestina dan hubungan Indonesia-Palestina.


Mengapa Keadilan Butuh Institusi? Menelisik Akar Syariat di Balik Meja Hijau Dalam setiap lembar sejarah manusia, potensi untuk ...

Mengapa Keadilan Butuh Institusi? Menelisik Akar Syariat di Balik Meja Hijau


Dalam setiap lembar sejarah manusia, potensi untuk berselisih adalah sebuah keniscayaan yang inheren dalam fitrah kita. Perbedaan kepentingan, benturan hak, hingga gesekan ego sering kali memicu konflik yang, jika dibiarkan tanpa arah, akan meruntuhkan fondasi tatanan sosial.

 Di sinilah kita menyadari bahwa "keadilan" bukan sekadar utopia atau konsep abstrak yang diperdebatkan di ruang-ruang diskusi, melainkan kebutuhan eksistensial untuk menjaga denyut nadi peradaban.

Islam memandang keadilan sebagai sesuatu yang sistematis. Ia tidak dibiarkan menggantung di awan-awan pemikiran, melainkan dibumikan melalui institusi peradilan (qadha).

Pertanyaannya kemudian, bagaimana syariat meletakkan peran hakim dan pengadilan bukan hanya sebagai lembaga penghukum, melainkan sebagai pilar penjaga martabat manusia?


Mandat Langit: Keadilan Bukan Pilihan, Tapi Perintah

Eksistensi institusi peradilan dalam Islam memiliki legitimasi yang kokoh, berakar langsung pada perintah Ilahi. Tugas mengadili adalah instruksi langsung dari Sang Mahahakim untuk memutus perkara berdasarkan hukum Allah dan prinsip keseimbangan (al-qisth). 

Dalam Surat Al-Maa’idah ayat 49, ditegaskan bahwa memutus perkara harus berlandaskan wahyu, bukan sekadar mengikuti arus keinginan atau tendensi pribadi pihak-pihak yang bertikai.

Lebih jauh lagi, Al-Qur'an memberikan rambu-rambu etis yang sangat tajam dalam Surat An-Nisaa' ayat 105. Di sana ditekankan bahwa salah satu tujuan diturunkannya hukum adalah agar pemberi keputusan tidak menjadi pembela bagi mereka yang berkhianat atau zalim.

Institusi hukum hadir untuk memastikan bahwa negara dan perangkatnya tidak secara tidak sengaja menjadi pelindung bagi kebatilan.

"Apabila engkau menetapkan hukum di antara manusia, hendaknya engkau menetapkannya dengan adil." (QS. An-Nisaa': 58)


Etika Mendengar: Rahasia Ali bin Abi Thalib dalam Memutus Perkara

Integritas sebuah putusan sangat bergantung pada proses pencarian kebenaran yang jujur. Hal ini tercermin indah dalam kisah Ali bin Abi Thalib r.a. saat diutus oleh Rasulullah saw. untuk menjadi qadhi di Yaman. 

Sebagai sosok yang masih muda, Ali sempat merasa ragu akan kapasitasnya dalam menimbang rumitnya persoalan manusia.

Namun, Rasulullah saw. memberikan penguatan spiritual sekaligus panduan metodologis yang sangat krusial:

"Sesungguhnya, Allah akan memberi petunjuk dalam kalbumu dan akan mengukuhkan lisanmu. Jika dua orang berseteru telah duduk di hadapanmu, jangan memutuskan sampai engkau mendengar dari yang lain sebagaimana engkau mendengar dari yang pertama."

Kebijakan ini adalah bentuk pengakuan Islam terhadap keterbatasan manusia. Secara institusional, ini berfungsi sebagai pengaman agar para praktisi hukum tidak lumpuh oleh rasa takut akan dosa saat menghadapi kasus-kasus pelik. 

Selama profesionalitas dan kesungguhan (ijtihad) dikedepankan, ruang bagi keterbatasan manusia tetap dihargai.


Metodologi Berpikir: Hirarki Hukum ala Mu’adz bin Jabal

Agar hukum tidak menjadi liar dan subjektif, diperlukan sebuah kerangka kerja yang sistematis. Dialog antara Rasulullah saw. dan Mu'adz bin Jabal r.a. sebelum keberangkatannya ke Yaman adalah prototipe dari metodologi hukum modern. 

Mu'adz menunjukkan struktur berpikir yang tertib: dimulai dari Al-Qur'an sebagai rujukan utama, beralih ke Sunnah jika tidak ditemukan secara spesifik, dan terakhir adalah penggunaan akal budi atau ijtihad.

Satu poin krusial dari sikap Mu'adz adalah komitmennya untuk melakukan ijtihad tanpa "mengurangi" atau mengkhianati esensi dari sumber-sumber sebelumnya.

"Aku akan berijtihad dengan pendapatku, tetapi tidak mengurangi (ini semua)." (Mu'adz bin Jabal)

Pendekatan ini memastikan bahwa hukum tetap memiliki akar tradisi yang kuat pada wahyu, namun tetap memiliki daya hidup untuk menjawab tantangan zaman yang kian dinamis.


Logika di Balik Konsensus: Mengapa Pengadilan Adalah Keniscayaan Sosial

Secara rasional, pengadilan bukan sekadar pilihan administratif, melainkan kebutuhan dasar kehidupan sosial. Fitrah manusia yang memiliki nafsu dan kecenderungan untuk zalim membuat persengketaan menjadi sesuatu yang tak terhindarkan.

Tanpa adanya hakim yang memiliki otoritas untuk memisahkan antara yang teraniaya dan yang menganiaya, masyarakat akan terperosok ke dalam kekacauan.

Secara praktis dan administratif, seorang pemimpin tertinggi atau kepala negara tidak mungkin sanggup memutus setiap perselisihan rakyatnya secara sendirian. Oleh karena itu, pendelegasian wewenang melalui pengangkatan hakim-hakim adalah kebutuhan logis demi efektivitas tata kelola masyarakat.

Inilah yang mendasari kesepakatan bulat (ijma) umat Islam sejak masa Sahabat hingga hari ini: bahwa tanpa struktur peradilan yang jelas, keadilan hanya akan menjadi mimpi yang layu sebelum berkembang.


Pada akhirnya, menghormati institusi hukum dan menerima keputusannya bukan sekadar soal kepatuhan warga negara terhadap aturan formal. Islam meletakkannya sebagai bagian dari integritas iman. 

Sebagaimana diingatkan dalam Surat An-Nisaa' ayat 65, kesempurnaan iman seseorang diuji dari sejauh mana ia rela dan lapang dada menerima keputusan hukum tanpa ada rasa keberatan di dalam hati.

Keadilan di meja hijau adalah soal mengembalikan hak kepada pemiliknya dan memberikan ketenangan bagi jiwa yang menuntut kebenaran.

Di tengah dunia yang kian kompleks dan penuh ketidakpastian, sejauh mana kita telah menyiapkan diri untuk menjadi pribadi yang adil, setidaknya bagi lingkungan terkecil kita?

HIDUP DAN MATI Ketahuilah bahwa MATI itu tidak lain hanyalah terjadinya perpisahan antara roh dan jasad. Jasad yang terdiri dari...

HIDUP DAN MATI

Ketahuilah bahwa MATI itu tidak lain hanyalah terjadinya perpisahan antara roh dan jasad.

Jasad yang terdiri dari tulang, daging, darah, urat-urat, kulit bulu dan kuku setelah ditinggalkan oleh roh, tidak lama kemudian akan menjadi rusak dan hancur, menjadi tanah dan dikuburkan, menjadi air bila dibuang ke laut, atau menjadi udara bila dilempar-kan ke udara, karena asalnya memang dari tanah, dari air dan udara.

Adapun roh asalnya bukan dari tanah, air atau udara, bukan benda tetapi suatu unsur yang gaib yang diciptakan Allah, dan hanya Allah saja yang mengetahui akan rahasianya. Janganlah kita manusia biasa, para Nabi dan Rasul pun tidak mengetahui dan tidak diberi tahu oleh Allah akarr hakikat dan rahasianya.

Firman Allah dalam Al-Qur'an surah Al Isra' ayat 85:

"Dan mereka akan bertanya kepadamu (Muhammad) tentang roh, katakanlah: Roh itu urusan Tuhan-Ku, dan kamu tidaklah diberi pengetahuan kecuali sedikit."

Akal manusia sekalipun bagaimana juga hebatnya, tidaklah dapat mengetahui akan rahasia roh itu. Ilmu pengetahuan manusia bagaimanapun juga tingginya dianggap oleh Allah masih sedikit, sehingga tidaklah mungkin akal dapat mengetahui akan hakikat dan rahasia roh itu.

Tetapi di dalam Al-Qur'an tidak kurang dari 900 ayat yang membicarakan tentang roh. Bukan membicarakan tentang hakikat dan rahasianya, tetapi membicarakan tentang sifat-sifatnya roh itu, yaitu bahwa roh itu adalah satu unsur rohaniah yang hidup sendiri (sumber hidup) yang mempunyai kesadaran dan pengertian, yang mempunyai kekuatan dan perasaan, keinginan-keinginan dan kebutuhan-kebutuhan, yang kekal abadi tak dapat rusak atau musnah menjadi tidak ada, . atau tetap dengan segenap kesadaran, pengertian dan perasaan sekalipun sudah bercerai dengan tubuh, tetap merasakan kebahagiaan dan kegembiraan, mengalami kesedihan dan kesengsaraan, menurut amal dan perbuatan yang pernah dilakukannya selama hidupnya di dunia ini.

DUA PERKARA yang pasti ditempuh atau dialami oleh setiap manusia. Kedua perkara itu yang pertama ialah MATI, sedang yang kedua ialah bahwa sesudah mati itu akan HIDUP kembali di alam Barzah atau alam Akhirat.

Selain kedua perkara ini, belum tentu akan ditempuh atau dialami oleh seseorang manusia. Sekalipun sudah sedia uang dan tiket K.A., belum tentu dia berangkat ke Jakarta. Sekalipun sudah tersedia makanan dan minuman, belum tentu dia akan makan atau minum akan makanan dan minuman yang tersedia itu.

Selain mati dan hidup kembali, tidak ada yang pasti. Bahwa setiap orang akan mati itu adalah suatu yang sudah pasti yang tak dapat diragukan atau dibahas lagi.

MATI adalah satu perkataan yang paling ditakuti oleh hampir setiap manusia. Setiap manusia, juga binatang-binatang takut mati, kecuali beberapa manusia yang sudah putus asa dalam penghidup-an ini, yang ingin lekas mati.

Pantas sekali kalau manusia takut mati, sebab mati berarti berpisah dengan segala yang ia miliki atau senangi, berpisah dengan bapak atau ibu, berpisah dengan harta benda dan pangkat, berpisah dengan dunia dan šegaļa isinya.

Berpisah sebentar saja dengan anak atau isteri, orang dapat mengalirkan air mata kesedihan, apalagi berpisah buat selamanya.

Semua orang takut mati, tetapi ada yang takutnya bersangatan sekali, ada pula yang takutnya sedangan saja, dan ada pula yang takutnya itu sedikit saja, bahkan ada yang tak takut sama sekali, malah berani atau ingin mati.

Seorang yang yakin dan percaya bahwa roh manusia itu akan hidup terus, kekal dan abadi dengan segala kadaran dan pengertian sebagai yang telah kita bicarakan sebelum ini, maka ketakutannya akan mati akan berkurang. Berkurang sedikit atau banyak, tergantung dengan sedikit banyaknya kepercayaan atau keyakinan sendiri.

Tetapi bagi orang yang tak ada keyakinan dan kepercayaan bahwa roh itu akan hidup terus, maka bagi orang ini mati adalah suatu yang tak dapat dibayangkan hebat dan menakutkan sekali. Orang ini akan mengalami kegoncangan hebat dalam batinnya bila menghadapi sedikit bahaya dalam hidupnya. Misalnya bila dia jatuh sakit atau terjadi kekacauan atau kerusuhan dalam masyarakat.

Orang yang tak punya kepercayaan dan keyakinan ini, tak mungkin dapat merasakan ketenangan dalam hidupnya, sekalipun dia sehat atau kaya raya, sekalipun dia kuat dan mempunyai kedudukan.

Tanpa keyakinan dan kepercayaan, jiwa menjadi ringan, gampang digoyangkan oleh sedikit angin saja. Tetapi jiwa orang yang berisi kepercayaan dan keyakinan, adalah jiwa yang berat, tak gampang digoyangkan oleh kejadian-kejadian kecil.

Sebab itu beruntung sekali orang yang mempunyai kepercayaan dan keyakinan itu, dan merugi sekali orang yang hidupnya tanpa kepercayaan dan tanpa keyakinan.

Setelah mengetahui akan rahasia roh dan tubuh manusia sebagai yang diterangkan sebelum ini, dapatlah diketahui bahwa mati itu tidak lain hanyalah terjadinya perpisahan antara roh dan jasad.

Ketahuilah, bahwa unsur roh adalah unsur samawi, unsur yang tinggi, asalnya dari atas (langit), sedang jasad (tubuh) adalah unsur ardhy, yang rendah, yang berasal dari tanah (bumi). 

Alam roh adalah alam rohani, yang hidup sendiri bukan karena dihidupkan, tidak membutuhkan makan dan minum, tidak membutuhkan pakaian dan tempat.

Adapun jasad karena unsunya rendah, hidupnya karena dihidupkan, geraknya karena ada yang menggerakkan. Untuk hidup dan geraknya ini, jasad atau tubuh membutuhkan makan dan minum, membutuhkan pakaian dan tempat untuk menjaga dan mempertahankan wujud atau adanya.

Karena manusia terdiri dari roh dan jasad, maka semua kebu tuhan manusia terhadap benda-benda dunia ini adalah karena untuk memenuhi kebutuhan jasad semua.

Karena kebutuhan-kebutuhan jasad yang banyak ini, maka selama roh berada dalam jasad, maka roh turut berpengaruh oleh kebutuhan-kebutuhan jasmanı manusia.

Bukan saja turut berpengaruh, malah turut repot memenuhi kebutuhan dan tuntutan-tuntutan jasmani; Roh turut memikirkan, berusaha, memeras kemampuan-kemampuannya yang bernama pengertian dan kęsadaran (akal) untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan atau tuntutan-tuntutan jasmani mencari makanan dan minuman, harta benda, kedudukan-kedudukan dan pangkat dan lain-lain.

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adam (5) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Akhirat (8) Al-Baqarah (1) Al-Qur'an (362) Al-Qur’an (55) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) An-Nadwi (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bahaya Kemunduran Umat Islam (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (53) Cerita kegagalan (1) cerpen Nabi (8) cerpen Nabi Musa (2) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) dakwah (18) Dakwah (25) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) ekonomi (2) Ekonomi (24) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) english (6) English (6) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fiqh (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (7) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) hikmah (1) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum (2) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) Islam (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) kecerdasan (22) Kecerdasan (340) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Hadist (4) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) kisah para nabi dan (2) kisah para nabi dan rasul (60) kisah para Nabi dan Rasul (1) Kisah para nabi dan rasul (116) Kisah Para Nabi dan Rasul (577) kisah para nabi dan rasul. Nabi Daud (1) kisah para nabi dan rasul. nabi Musa (2) Kisah Penguasa (1) Kisah ulama (1) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) nabi adam (1) Nabi Adam (75) nabi Adam. Adam (1) Nabi Ayub (1) Nabi Daud (3) Nabi Ibrahim (3) Nabi Isa (2) nabi Isa. nabi ismail (1) Nabi Ismail (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Khidir (1) Nabi Musa (29) Nabi Nuh (6) Nabi Sulaiman (2) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (15) Namrudz (2) Nasrulloh Baksolahar (1) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) nusantara (11) Nusantara (307) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (737) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) politik (1) Politik (7) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rasulullah shalallahu alaihi wassalam (1) Rehat (493) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) Sahabat (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) Salimul Aqidah (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Serah Nabawiyah (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (334) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah penguasa (11) Sirah Penguasa (248) sirah Sahabat (2) Sirah Sahabat (173) Sirah Tabiin (43) Sirah ulama (36) Sirah Ulama (158) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tamim Ad Dari (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Wakaf (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)