Antara Perselisihan, Persekutuan, dan Perubahan Zaman Antara Yahudi, dan Nasrani Jika kita menelusuri sejarah hubungan antara komunitas Yah...
Antara Perselisihan, Persekutuan, dan Perubahan Zaman Antara Yahudi, Nasrani dan Islam
Menyembah Patung Anak Sapi Setelah keluar dari Mesir dan diselamatkan Allah dari kezaliman F...
Menyembah Patung Anak Sapi
Al-Qur'an: Merubah Dari Jahiliah Menuju Cahaya Islam Apa yang se...
Al-Qur'an: Merubah Dari Jahiliah Menuju Cahaya Islam
Bersinarnya Mentari Risalah Surah Al-'Alaq Pernahka...
Merekahnya Fajar dan Bersinarnya Mentari Risalah Surah Al-'Alaq
Bersinarnya Mentari Risalah Surah Al-'Alaq
Pernahkah kita berhenti sejenak untuk merenungkan bagaimana sejarah terbesar umat manusia dimulai?
Bukan dengan dentuman perang. Bukan dengan penobatan seorang raja. Bukan pula dengan lahirnya sebuah imperium.
Semua bermula dari sebuah gua sunyi di puncak Hira. Dari seorang manusia yang sedang menyendiri mencari kebenaran. Dari satu kata yang kemudian mengubah arah sejarah:
"Iqra'... Bacalah!"
Para ulama sepakat bahwa lima ayat pertama Surah Al-'Alaq merupakan wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ. Riwayat-riwayat yang menyatakan surah lain sebagai wahyu pertama dinilai tidak memiliki kekuatan yang sebanding dengan riwayat yang sahih dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim.
Aisyah ra. mengisahkan bahwa sebelum turunnya wahyu, Rasulullah ﷺ sering memperoleh mimpi-mimpi yang benar. Apa yang beliau lihat dalam tidur selalu menjadi kenyataan seterang cahaya fajar. Setelah itu Allah menumbuhkan kecintaan dalam hati beliau untuk berkhalwat di Gua Hira. Di sanalah beliau beribadah dan bertafakur selama beberapa malam, hingga suatu hari datanglah saat yang telah ditentukan Allah.
Malaikat Jibril datang menghampiri beliau seraya berkata,
"Iqra'!"
Beliau menjawab,
"Aku tidak dapat membaca."
Jibril memeluk beliau hingga terasa sesak, kemudian melepaskannya. Perintah itu diulang tiga kali, hingga akhirnya Jibril membacakan firman Allah:
"Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia. Yang mengajarkan dengan pena. Mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya." (QS. Al-'Alaq: 1–5)
Setelah peristiwa itu Rasulullah ﷺ pulang dalam keadaan tubuhnya menggigil.
Beliau berkata kepada Khadijah,
"Selimuti aku... selimuti aku."
Betapa manusiawinya peristiwa itu.
Seorang nabi yang dipilih Allah tetap merasakan takut, gemetar, dan cemas menghadapi pengalaman yang belum pernah dialaminya. Namun di saat genting itulah tampil sosok Khadijah dengan keteguhan iman dan kejernihan hati.
Ia tidak mempertanyakan pengalaman suaminya. Ia tidak meragukannya.
Sebaliknya, ia berkata dengan penuh keyakinan,
"Demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu selama-lamanya. Engkau menyambung silaturahim, selalu berkata benar, membantu orang yang kesusahan, memuliakan tamu, dan menolong orang yang tertimpa musibah."
Lalu Khadijah membawa Rasulullah ﷺ menemui Waraqah bin Naufal. Setelah mendengar kisah beliau, Waraqah berkata,
"Itulah Namus (Jibril) yang dahulu datang kepada Musa. Andai aku masih hidup ketika kaummu mengusirmu, pasti aku akan membelamu."
Rasulullah ﷺ pun bertanya dengan heran,
"Apakah mereka akan mengusirku?"
Jawaban Waraqah menjadi sebuah nubuwah,
"Tidak ada seorang pun yang membawa risalah seperti yang engkau bawa melainkan pasti akan dimusuhi."
Namun, apakah sesungguhnya makna terbesar dari peristiwa itu?
Apakah ia hanya kisah turunnya wahyu pertama?
Ataukah ia merupakan titik balik terbesar dalam sejarah umat manusia?
Sayyid Qutb mengajak kita berhenti sejenak. Jangan membaca kisah ini sekadar sebagai bagian dari sirah yang berulang kali kita dengar. Sebab, menurut beliau, inilah salah satu peristiwa terbesar yang pernah terjadi di muka bumi.
Mengapa?
Karena pada saat itulah Allah Yang Mahatinggi berkenan berbicara kepada manusia.
Bayangkan sejenak.
Pencipta seluruh galaksi... Penguasa langit dan bumi... Rabb Yang Mahaagung...
memilih seorang manusia di sebuah gua kecil yang nyaris tak dikenal untuk menerima kalam-Nya.
Bukankah itu kemuliaan yang tak terbayangkan?
Peristiwa ini menunjukkan betapa luas kasih sayang Allah.
Bukan karena manusia layak menerimanya.
Bukan pula karena manusia mampu membalasnya.
Melainkan semata-mata karena Allah Maha Pengasih dan Maha Pemurah.
Di sisi lain, peristiwa ini juga menunjukkan betapa tingginya kedudukan manusia di hadapan Allah ketika ia menerima petunjuk-Nya.
Manusia bukan lagi berjalan hanya dengan akal dan hawa nafsunya.
Kini ia dibimbing langsung oleh wahyu.
Sejak saat itu, ukuran benar dan salah tidak lagi ditentukan oleh kekuatan, tradisi, atau kepentingan manusia.
Ia ditentukan oleh petunjuk dari langit.
Bayangkan bagaimana rasanya hidup pada masa turunnya wahyu.
Setiap persoalan yang muncul menunggu jawaban dari langit.
Setiap kegelisahan mendapatkan bimbingan ilahi.
Setiap langkah diarahkan oleh Allah melalui Rasul-Nya.
Selama dua puluh tiga tahun, bumi seolah terus berhubungan dengan langit.
Itulah masa yang tak pernah terulang.
Ketika Rasulullah ﷺ wafat, para sahabat tidak hanya kehilangan seorang pemimpin.
Mereka kehilangan sesuatu yang jauh lebih besar.
Hubungan langsung antara langit dan bumi telah berakhir.
Karena itulah Ummu Aiman menangis.
Ketika Abu Bakar dan Umar bertanya mengapa ia menangis, ia menjawab,
"Aku tahu apa yang ada di sisi Allah lebih baik bagi Rasulullah. Tetapi aku menangis karena wahyu telah terputus dari langit."
Mendengar itu, Abu Bakar dan Umar pun ikut menangis.
Tangisan itu bukan sekadar karena wafatnya Nabi.
Tangisan itu adalah kerinduan kepada masa ketika Allah terus membimbing umat ini melalui wahyu yang turun dari langit.
Namun jejak peristiwa itu tidak pernah berhenti.
Pengaruhnya terus hidup hingga hari ini.
Manusia dilahirkan kembali oleh Al-Qur'an.
Peradaban dibangun kembali di atas wahyu.
Sejarah berubah arah.
Manusia tidak lagi menjadikan bumi sebagai sumber nilai tertinggi, melainkan menjadikan langit sebagai pedoman kehidupannya.
Karena itu, turunnya wahyu pertama bukan hanya awal kenabian Muhammad ﷺ.
Ia adalah kelahiran baru bagi kemanusiaan.
Lalu bagaimana dengan Rasulullah ﷺ sendiri?
Apakah setelah menerima wahyu beliau dapat beristirahat?
Tidak.
Sejak saat itu beliau bangkit memikul amanah yang paling berat dalam sejarah manusia.
Beliau tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri.
Seluruh hidupnya diabdikan bagi dakwah.
Beliau menghadapi pertarungan melawan kebodohan, kemusyrikan, kezaliman, hawa nafsu, dan tipu daya setan.
Beliau membina jiwa para sahabat.
Beliau menghadapi penentangan Quraisy.
Beliau memimpin peperangan.
Beliau membangun masyarakat.
Beliau menegakkan peradaban.
Semua itu berlangsung lebih dari dua puluh tahun tanpa jeda.
Di tengah beratnya perjuangan itu, Allah menguatkan beliau melalui qiyamul-lail, tilawah Al-Qur'an, dzikir, kesabaran, dan ketergantungan penuh kepada Rabb semesta alam, sebagaimana ditegaskan dalam awal Surah Al-Muzzammil.
Di sanalah tampak bahwa kekuatan dakwah bukan hanya lahir dari strategi dan perjuangan di siang hari, tetapi juga dari munajat panjang pada malam hari.
Maka ketika kita membaca kata pertama yang turun dari langit,
"Iqra'..."
sesungguhnya kita sedang menyaksikan merekahnya fajar bagi seluruh umat manusia.
Fajar yang mengakhiri kegelapan jahiliah.
Fajar yang menyalakan mentari risalah.
Fajar yang hingga hari ini masih memancarkan cahaya bagi siapa pun yang bersedia membuka hati, membaca ayat-ayat Allah, dan menjadikan wahyu sebagai penuntun hidupnya.
Mengapa Tepi Barat Perlahan Menghilang? Di Balik Strategi Aneksasi Israel yang Jarang Terungkap ...
Mengapa Tepi Barat Perlahan Menghilang? Di Balik Strategi Aneksasi Israel yang Jarang Terungkap
Kebangkitan Neosufisme Bagaimana mungkin tasawuf, yang pada mulanya sering dipan...
Kebangkitan Neosufisme
Agama Bani Israil: Dari Tauhid Menuju Penyimpangan Akidah ...
Agama Bani Israil: Dari Tauhid Menuju Penyimpangan Akidah
Paling Banyak Dibaca
-
Bukan Muslim, Tapi Rakyatnya Minta Dinaungi Kekhalifahan Islam
-
Risalah Al-Matsurat Hasan Al Banna dan Syeikh Hasan Asy-Syadzali
-
Kisah Generasi Salaf yang Isi Hari-Harinya dengan Bertani
-
Saad bin Abi Waqqash, Aktor Interaksi Awal Islam dan Tiongkok
-
Kilas Balik Sejarah, Bisakah Palestina Dihapus dari Peta Dunia?
-
Pengaruh Islam dalam Penamaan Pulau di Nusantara
-
Manuskrip Nusantara Beraksara Arab Melayu di Eropa, Bukti Tingginya Peradaban Islam dan Kemakmurannya
Cari Artikel Ketik Lalu Enter
Artikel Lainnya
- ► 2021 (1014)
- ► 2022 (604)
- ► 2023 (330)
- ► 2024 (825)
- ► 2025 (821)
Link Kami
Beberapa Link Kami yang Aktif