Kalah Perang Enam Hari 1967: Yang Lebih Berbahaya daripada Kekalahan Itu Sendiri Mana yang Lebih Berbahaya: Kekalahan atau Cara Kita Memaham...
Kalah Perang Enam Hari 1967: Yang Lebih Berbahaya daripada Kekalahan Itu Sendiri
Kalah dalam Perang Enam Hari 1967: Benarkah Agama Penyebabnya? Di antara berbaga...
Kalah dalam Perang Enam Hari 1967: Benarkah Agama Penyebabnya?
Kalah dalam Perang Enam Hari 1967: Benarkah Karena Ketertinggalan Peradaban? ...
Kalah dalam Perang Enam Hari 1967: Benarkah Karena Ketertinggalan Peradaban?
Kalah dalam Perang Enam Hari 1967: Benarkah Karena Pengkhianatan? Ada pula penjelasan lain y...
Kalah dalam Perang Enam Hari 1967: Benarkah Karena Pengkhianatan?
Kalah dalam Perang Enam Hari 1967: Benarkah Sekadar Kekeliruan Strategi Apabila ...
Kalah dalam Perang Enam Hari 1967: Benarkah Sekadar Kekeliruan Strategi?
Kalah dalam Perang Enam Hari 1967: Benarkah Sekadar Kekeliruan Strategi
Apabila kekalahan itu memang merupakan kenyataan yang tidak dapat disangkal—betapapun pahit untuk diterima—maka pertanyaan berikutnya tidak dapat dihindari.
Apa sebenarnya penyebab kekalahan itu?
Apakah benar semata-mata karena campur tangan kekuatan asing sebagaimana berbagai tuduhan yang beredar? Ataukah penyebabnya justru berada di dalam tubuh kita sendiri?
Bukankah selama hampir dua puluh tahun kita telah mempersiapkan diri? Bukankah persenjataan dibeli dari berbagai negara? Bukankah jumlah tentara terus bertambah? Mengapa semua itu ternyata tidak mampu mencegah kehancuran yang terjadi hanya dalam hitungan hari?
Di sinilah sebagian penulis dan cendekiawan mencoba melihat persoalan dari sudut yang berbeda.
Mereka tidak sekadar menghitung jumlah tank, pesawat, atau rudal. Mereka berusaha memahami hukum sebab-akibat (Sunnatullah) yang bekerja dalam sejarah. Mereka membandingkan kekuatan bangsa-bangsa bukan hanya dari sisi material, tetapi juga kualitas manusianya; bukan hanya dari teknologi, tetapi juga moralitasnya; bukan hanya dari slogan-slogan, melainkan dari amal nyata.
Dari kajian seperti itulah muncul sebuah kesimpulan:
Kekalahan tahun 1967 disebabkan oleh kekeliruan strategi militer.
Benarkah Hanya Kesalahan Strategi?
Menurut pandangan ini, kehancuran besar itu bermula dari kesalahan membaca situasi.
Musuh diperkirakan akan menyerang dari arah timur atau utara.
Ternyata serangan justru datang dari arah yang tidak diperkirakan.
Akibatnya sangat fatal.
Dalam waktu sekitar tiga jam, sebagian besar kekuatan udara hancur. Pangkalan-pangkalan dibombardir. Sekitar delapan puluh persen kekuatan utama Mesir lumpuh. Radar, tank, meriam, dan berbagai persenjataan strategis jatuh ke tangan lawan.
Tidak berhenti sampai di situ.
Gaza, Semenanjung Sinai, Tepi Barat, dan Dataran Tinggi Golan jatuh dalam waktu kurang dari satu minggu.
Jalan menuju Kairo, Damaskus, dan kota-kota penting lainnya terbuka lebar.
Bahkan para pemimpin sendiri mengakui bahwa seandainya serangan diteruskan, hampir tidak ada kekuatan yang mampu menghalanginya.
Lalu muncul kesimpulan:
"Semua ini akibat kesalahan strategi."
Tetapi benarkah penjelasannya sesederhana itu?
Pertanyaan yang Lebih Mendasar
Mengapa kita begitu yakin musuh belum akan menyerang?
Mengapa kita begitu yakin mereka hanya akan datang dari arah tertentu?
Bukankah dalam peperangan justru ketidakpastian adalah sesuatu yang pasti?
Mengapa kemungkinan terburuk tidak dipersiapkan?
Mengapa kewaspadaan tidak dijadikan keadaan yang terus-menerus?
Al-Qur'an sendiri telah mengingatkan:
"Orang-orang kafir ingin supaya kamu lengah terhadap senjatamu dan harta bendamu, lalu mereka menyerbu kamu sekaligus." (QS. An-Nisa' [4]: 102)
Ayat ini tidak hanya berbicara tentang peperangan pada masa Rasulullah ï·º.
Ia mengajarkan prinsip kewaspadaan yang berlaku sepanjang zaman.
Musuh tidak selalu datang setelah memberi tahu.
Musuh tidak selalu menyerang dari arah yang kita duga.
Musuh justru menunggu saat ketika kita merasa aman.
Pelajaran dari Sirah Nabi
Seandainya para pemimpin benar-benar mempelajari sejarah perjuangan Rasulullah ï·º, mereka akan menemukan pola yang berbeda.
Dalam Perang Tabuk, ketika Rasulullah mengetahui adanya ancaman, beliau tidak menunggu musuh memasuki Madinah. Beliau mengambil inisiatif bergerak lebih dahulu.
Demikian pula ketika menghadapi Hawazin sebelum Perang Hunain. Ancaman yang diketahui segera direspons dengan kesiapsiagaan, bukan dengan menunggu.
Pelajarannya jelas.
Kesiapsiagaan merupakan bagian dari strategi.
Menunggu bukan selalu berarti bijaksana.
Karena itu Al-Qur'an memerintahkan kaum beriman agar selalu bersiap menghadapi berbagai kemungkinan.
Apa yang Sebenarnya Dapat Kita Nilai?
Sebagian orang mungkin berkata, "Kita bukan ahli militer."
Benar.
Kita tidak mengetahui berapa jumlah pesawat yang seharusnya tetap mengudara.
Kita tidak memahami bagaimana penyebaran pasukan ideal dilakukan.
Kita pun mungkin tidak pernah membaca teori perang modern ataupun pengalaman para jenderal besar.
Karena itu, penilaian teknis memang menjadi wilayah para profesional.
Namun ada satu hal yang dapat dipahami siapa pun.
Dalam profesi yang mempertaruhkan keselamatan sebuah bangsa, kelengahan tidak pernah dapat dibenarkan.
Kesiapsiagaan bukan pilihan.
Ia adalah kewajiban.
Apakah Strategi Menjelaskan Segalanya?
Namun setelah direnungkan lebih jauh, muncul pertanyaan lain yang jauh lebih mendasar.
Apakah kehancuran sebesar itu mungkin hanya disebabkan oleh satu kesalahan strategi?
Apakah sebuah negara dapat runtuh hanya karena salah membaca arah serangan?
Sulit menerima penjelasan sesederhana itu.
Apa yang terjadi bukan sekadar kekalahan dalam sebuah pertempuran.
Yang terjadi adalah keruntuhan menyeluruh.
Bahkan dalam berbagai perang besar di Eropa, negara-negara kecil yang berada di bawah pendudukan Nazi masih mampu memberikan perlawanan yang lebih panjang.
Sementara di sini, kehancuran terjadi begitu cepat, padahal sebelumnya justru pihak kitalah yang lebih dahulu mengumumkan kesiapan menghadapi perang.
Karena itu, kesalahan strategi tampaknya bukan akar persoalan.
Ia hanyalah gejala.
Dari Mana Lahir Kesalahan Strategi?
Setiap strategi lahir dari manusia.
Jika strateginya keliru, bukankah yang harus diperiksa adalah kualitas manusianya?
Di sinilah persoalan mulai bergeser.
Kesalahan strategi bukanlah sebab pertama.
Ia adalah akibat.
Akibat dari kepemimpinan yang dikuasai ego.
Akibat dari penyalahgunaan kekuasaan.
Akibat dari kelalaian moral.
Akibat dari hawa nafsu yang mengalahkan rasa tanggung jawab.
Sebuah ilustrasi sering dikemukakan.
Pada malam menjelang pecahnya perang, seorang panglima angkatan udara justru dikabarkan berada di tempat perjudian.
Benar atau tidaknya kisah tersebut, pertanyaan moralnya tetap relevan.
Apa yang seharusnya dilakukan seorang pemimpin ketika negaranya berada di ambang peperangan?
Berjaga?
Mengevaluasi kesiapan pasukan?
Atau justru larut dalam hiburan?
Kalau benar terjadi kelalaian seperti itu, masih pantaskah ia disebut sekadar kesalahan penilaian?
Ataukah itu sudah merupakan pengkhianatan terhadap amanah?
Siapa yang Bertanggung Jawab?
Di sinilah persoalan menjadi semakin rumit.
Kalau kesalahan strategi hanyalah akibat, siapakah penyebab sesungguhnya?
Siapa yang harus bertanggung jawab atas puluhan ribu korban?
Siapa yang bertanggung jawab atas hilangnya wilayah?
Siapa yang bertanggung jawab atas jutaan rakyat yang kehilangan masa depan?
Dalam syariat Islam, seseorang yang tidak sengaja menyebabkan kematian tetap memikul tanggung jawab hukum.
Lalu bagaimana dengan keputusan-keputusan yang mengakibatkan kehancuran sebuah bangsa?
Siapa yang harus dimintai pertanggungjawaban?
Dan siapakah yang berwenang mengadilinya?
Berlindung di Balik Perang Uhud?
Sebagian orang kemudian berkata,
"Bukankah Rasulullah ï·º juga pernah mengalami kekalahan dalam Perang Uhud?"
Benar.
Namun, apakah kisah Uhud hanya berhenti pada kenyataan bahwa kaum Muslim pernah kalah?
Ataukah justru pelajaran terbesarnya terletak pada keberanian melakukan introspeksi?
Al-Qur'an tidak menimpakan kesalahan kepada keadaan.
Tidak pula menyalahkan musuh.
Allah berfirman:
"Katakanlah, 'Musibah itu datang dari dirimu sendiri.'" (QS. Ali 'Imran [3]: 165)
Kalau benar Perang Uhud dijadikan pelajaran, maka yang semestinya diteladani bukan sekadar pengakuan bahwa kekalahan pernah terjadi.
Yang harus diteladani adalah keberanian mengoreksi diri.
Respons Setelah Kekalahan
Lihatlah apa yang dilakukan para sahabat setelah Uhud.
Mereka tidak larut dalam penyesalan.
Mereka tidak mencari kambing hitam.
Mereka tidak tenggelam dalam saling menyalahkan.
Padahal luka-luka mereka belum mengering.
Namun ketika panggilan jihad kembali datang, mereka segera bangkit memenuhi seruan Rasulullah ï·º.
Tentang mereka Allah berfirman:
"Yaitu orang-orang yang memenuhi seruan Allah dan Rasul setelah mereka mendapat luka... Mereka berkata, 'Cukuplah Allah menjadi Penolong kami, dan Dia adalah sebaik-baik Pelindung.'" (QS. Ali 'Imran [3]: 172–173)
Inilah pelajaran terbesar dari Uhud.
Kekalahan bukan alasan untuk berhenti.
Kekalahan adalah kesempatan untuk memperbaiki diri.
Dan sebelum memperbaiki strategi, sebuah bangsa harus terlebih dahulu memperbaiki manusia yang menyusun strategi itu.
Arab Kalah Perang Enam Hari 1967: Introspeksi Internal Bagaimanakah seharusnya ...
Arab Kalah Perang Enam Hari 1967: Pertikaian Internal dalam Negri
Jaringan Ulama: Apa yang Membuatnya Bertahan dan Berkembang? Setelah mengenal para tokoh utama dalam jar...
Jaringan Ulama: Apa yang Membuatnya Bertahan dan Berkembang?
Paling Banyak Dibaca
-
Bukan Muslim, Tapi Rakyatnya Minta Dinaungi Kekhalifahan Islam
-
Risalah Al-Matsurat Hasan Al Banna dan Syeikh Hasan Asy-Syadzali
-
Kisah Generasi Salaf yang Isi Hari-Harinya dengan Bertani
-
Saad bin Abi Waqqash, Aktor Interaksi Awal Islam dan Tiongkok
-
Kilas Balik Sejarah, Bisakah Palestina Dihapus dari Peta Dunia?
-
Pengaruh Islam dalam Penamaan Pulau di Nusantara
-
Manuskrip Nusantara Beraksara Arab Melayu di Eropa, Bukti Tingginya Peradaban Islam dan Kemakmurannya
Cari Artikel Ketik Lalu Enter
Artikel Lainnya
- ► 2021 (1014)
- ► 2022 (604)
- ► 2023 (330)
- ► 2024 (825)
- ► 2025 (821)
-
▼
2026
(571)
-
▼
Agustus
(13)
-
▼
02 Agu
(6)
- Arab Kalah Perang Enam Hari 1967: Pertikaian Inter...
- Kalah dalam Perang Enam Hari 1967: Benarkah Sekada...
- Kalah dalam Perang Enam Hari 1967: Benarkah Karena...
- Kalah dalam Perang Enam Hari 1967: Benarkah Karena...
- Kalah dalam Perang Enam Hari 1967: Benarkah Agama ...
- Kalah Perang Enam Hari 1967: Yang Lebih Berbahaya ...
-
▼
02 Agu
(6)
-
▼
Agustus
(13)
Link Kami
Beberapa Link Kami yang Aktif