Perselisihan Bani Israel
Di antara bentuk perselisihan dan pembangkangan Bani Israel adalah sikap keras kepala mereka dalam kisah sapi betina yang diperintahkan untuk disembelih. Perintah tersebut bertujuan untuk mengungkap pembunuhan yang mereka perselisihkan mengenai siapa pelakunya, sebagaimana dikisahkan dalam Surah Al-Baqarah ayat 67–73.
Bentuk pembangkangan lainnya tampak ketika Musa dan Harun memerintahkan mereka untuk memasuki tanah suci dan memerangi para tirani yang menguasainya. Mereka justru berkata,
فَاذْهَبْ أَنتَ وَرَبُّكَ فَقَاتِلَا إِنَّا هَاهُنَا قَاعِدُونَ
“Karena itu pergilah engkau bersama Tuhanmu dan berperanglah kamu berdua. Biarlah kami tetap (menanti) di sini saja.” (Al-Maa’idah: 24).
Allah Ta’ala telah mengungkapkan kisah tersebut dalam Surah Al-Maa’idah ayat 20–26.
Demikian pula ketika mereka berkata kepada Musa, “Wahai Musa! Kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan jelas.” (Al-Baqarah: 55). Akibatnya, halilintar menyambar mereka dalam keadaan mereka menyaksikannya.
Ketika Musa membawa lembaran-lembaran yang berisi Taurat kepada mereka, dia memerintahkan agar mereka menerimanya dengan sungguh-sungguh, kekuatan, dan tekad. Namun, mereka kembali menunjukkan sikap membangkang. Mereka seakan-akan hanya bersedia menerima perintah dan larangan yang mudah bagi mereka.
Allah Ta’ala berfirman,
“Dan (ingatlah) ketika Kami mengangkat gunung ke atas mereka, seakan-akan (gunung) itu naungan awan dan mereka yakin bahwa (gunung) itu akan jatuh menimpa mereka. (Dan Kami firmankan kepada mereka), ‘Peganglah dengan teguh apa yang telah Kami berikan kepadamu, serta ingatlah selalu (amalkanlah) apa yang tersebut di dalamnya agar kamu menjadi orang-orang bertakwa.’” (Al-A’raf: 171).30
Pelanggaran mereka juga terlihat dalam kisah hari Sabtu. Mereka melanggar ketentuan Allah Ta’ala dan melakukan rekayasa terhadap perintah-Nya. Karena pelanggaran tersebut, Allah mengubah mereka menjadi kera-kera yang hina.31
Ketika Allah menaklukkan tanah suci untuk mereka, mereka diperintahkan agar memasukinya dalam keadaan sujud dan tunduk. Mereka diperintahkan mengucapkan hiththah, yang berarti memohon agar kesalahan-kesalahan mereka diampuni karena sebelumnya mereka mengingkari perintah untuk memasuki tanah suci. Namun, mereka justru mengganti perintah tersebut dengan ucapan lain, yaitu habbah fi sya’rah (“biji di rambut”). Mereka pun memasuki negeri itu dengan cara yang menyimpang dari perintah yang diberikan kepada mereka.
Berbagai bentuk keburukan dan kejahatan lainnya kemudian terus bermunculan. Para pengganti datang di tengah-tengah mereka, tetapi berbagai penyimpangan dan kesalahan justru semakin besar. Di antara mereka muncul banyak tirani, bahkan mereka membunuh para nabi. Urusan mereka menjadi kacau sehingga Allah menguasakan kepada mereka para raja tirani yang menzalimi dan menumpahkan darah mereka.33
Perselisihan tentang Isa bin Maryam
Perselisihan Bani Israel kemudian mencapai bentuk yang lebih besar ketika Isa bin Maryam datang. Mereka berselisih mengenai dirinya dengan perselisihan yang sangat dahsyat. Allah Ta’ala mengemukakan kisah tersebut di banyak tempat dalam Al-Qur’an. Di antaranya Allah berfirman,
ذَلِكَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ قَوْلَ الْحَقِّ الَّذِي فِيهِ يَمْتَرُونَ مَا كَانَ لِلَّهِ أَن يَتَّخِذَ مِن وَلَدٍ سُبْحَانَهُ وَإِذَا قَضَىٰ أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُن فَيَكُونُ وَإِنَّ اللَّهَ رَبِّي وَرَبُّكُمْ فَاعْبُدُوهُ هَٰذَا صِرَاطٌ مُّسْتَقِيمٌ فَاخْتَلَفَ الْأَحْزَابُ مِن بَيْنِهِمْ فَوَيْلٌ لِّلَّذِينَ كَفَرُوا مِن مَّشْهَدِ يَوْمٍ عَظِيمٍ
“Itulah Isa putra Maryam, (yang mengatakan) perkataan yang benar, yang mereka ragukan kebenarannya. Tidak patut bagi Allah mempunyai anak, Mahasuci Dia. Apabila Dia hendak menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya, ‘Jadilah!’ Maka jadilah sesuatu itu. (Isa berkata), ‘Dan sesungguhnya Allah itu Tuhanku dan Tuhanmu, maka sembahlah Dia. Ini adalah jalan yang lurus.’ Maka, berselisihlah golongan-golongan (yang ada) di antara mereka. Maka celakalah orang-orang kafir pada waktu menyaksikan hari yang agung!” (Maryam: 34–37).
Perselisihan tersebut melahirkan berbagai pandangan yang saling bertentangan. Ada orang Yahudi yang menuduh Isa dengan tuduhan keji dan terus-menerus berada dalam kekufuran dan kedurhakaan. Sebagian lainnya menerimanya dengan keyakinan yang menyimpang dengan mengatakan bahwa Isa adalah Allah. Sebagian lagi mengatakan bahwa Isa adalah putra Allah.
Adapun orang-orang beriman meyakini bahwa Isa adalah hamba Allah dan Rasul-Nya, putra hamba-Nya, kalimat-Nya yang disampaikan kepada Maryam, serta ruh dari-Nya. Merekalah orang-orang yang selamat dan mendapatkan pahala.34
Dari sini tampak perbedaan mendasar antara kebenaran dan kebatilan. Kebatilan memiliki banyak cabang, melahirkan perselisihan, dan dipenuhi kontradiksi. Sebaliknya, kebenaran memiliki kesatuan dan tidak saling bertentangan. Allah Ta’ala berfirman,
“Sekiranya (Al-Qur’an) itu bukan dari Allah, pastilah mereka menemukan banyak hal yang bertentangan di dalamnya.” (An-Nisaa’: 82).
Ayat ini menunjukkan bahwa kebenaran memiliki kesatuan dan keselarasan, sedangkan kebatilan cenderung melahirkan perselisihan dan keguncangan.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Sesungguhnya perkataan orang-orang Nashrani mengandung perselisihan di antara mereka yang tidak bisa diverifikasi. Sesungguhnya perkataan mereka bukan diambil dari Kitab yang diturunkan, bukan pula dari Nabi yang diutus, dan tidak juga sesuai dengan akal orang-orang berakal.”35
Perselisihan mereka juga terjadi setelah Allah mengangkat Isa kepada-Nya, ketika orang-orang Yahudi melakukan tipu daya dan berambisi membunuhnya. Mereka kemudian terpecah menjadi tiga kelompok.
Satu kelompok mengatakan bahwa Allah bersama mereka sesuai dengan kehendak-Nya, lalu Isa naik ke langit. Kelompok lain mengatakan bahwa Isa adalah putra Allah yang bersama mereka sesuai dengan kehendak-Nya, kemudian Allah mengangkatnya kepada-Nya. Adapun kelompok ketiga mengatakan bahwa Isa adalah hamba Allah dan Rasul-Nya yang berada di tengah-tengah mereka sesuai dengan kehendak Allah, lalu Allah mengangkatnya kepada-Nya. Kelompok ketiga inilah yang berada di atas Islam.
Dua kelompok kafir kemudian saling membantu menghadapi kelompok yang beriman. Dengan demikian, ajaran Islam yang dibawa Isa terhapus dari tengah-tengah mereka hingga Allah mengutus Muhammad ﷺ.
Ibnu Abbas berkata, “Itulah firman Allah Ta’ala, ‘Lalu Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, sehingga mereka menjadi orang-orang yang menang.’” (Ash-Shaff: 14).36
Sikap berlebih-lebihan terhadap Al-Masih kemudian melahirkan berbagai bentuk penyimpangan. Dari pihak Yahudi, sikap permusuhan dan kedengkian mendorong mereka memfitnah Isa dan berusaha membunuhnya. Dari pihak Nashrani, kebodohan dan sikap berlebih-lebihan mendorong mereka kepada keyakinan tentang trinitas, salib, dan penuhanan terhadap Al-Masih, serta berbagai keyakinan batil lainnya.
Kenabian di kalangan Bani Israel berakhir dengan diangkatnya Al-Masih ke langit. Isa merupakan nabi terakhir dari kalangan Bani Israel dan termasuk nabi yang paling dekat dengan Nabi Muhammad ﷺ. Isa juga telah menyampaikan kabar gembira tentang kedatangan beliau kepada Bani Israel.
Setelah itu, cahaya kerasulan di tengah manusia semakin meredup hingga yang tersisa hanyalah sebagian kecil dari Ahli Kitab. Keadaan manusia pada masa itu sesuai dengan sabda Nabi Muhammad ﷺ,
إِنَّ اللَّهَ نَظَرَ إِلَى أَهْلِ الْأَرْضِ فَمَقَتَهُمْ عَرَبَهُمْ وَعَجَمَهُمْ إِلَّا بَقَايَا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَقَالَ إِنَّمَا بَعَثْتُكَ لِأَبْتَلِيَكَ وَأَبْتَلِيَ بِكَ
“Sesungguhnya Allah memandang kepada penghuni bumi lalu membenci mereka, baik Arab maupun non-Arab, kecuali sisa-sisa dari Ahli Kitab. Kemudian Dia berfirman, ‘Sesungguhnya Aku mengutusmu untuk mengujimu dan menjadikan ujian denganmu.’”37
Perselisihan yang Melahirkan Perubahan Keyakinan
Sekitar tiga ratus tahun setelah Al-Masih, muncul bencana besar dan malapetaka dahsyat di tengah mereka akibat perselisihan mengenai Al-Masih. Perselisihan tersebut berkembang menjadi perdebatan yang panjang dan tidak terkendali.
Constantine kemudian mengumpulkan para uskup dan pemuka agama di kota Nicea untuk melakukan perdebatan. Setelah berlangsung perdebatan, mereka berpegang kepada pendapat yang memperoleh dukungan mayoritas, yaitu 318 orang. Pendapat yang berbeda kemudian disanggah dan ditolak, sementara gereja-gereja didirikan untuk mengikuti keputusan tersebut.
Selanjutnya mereka menetapkan berbagai syariat, undang-undang, dan hukum yang dianggap bertentangan dengan Taurat. Mereka juga menyusun akidah yang kemudian dihafalkan oleh anak-anak, perempuan, dan laki-laki mereka serta menamakannya amanah. Padahal, menurut penulis, itulah bentuk kekafiran dan pengkhianatan yang terbesar.38
Dua Akar Utama Perselisihan
Dari pemaparan tersebut tampak bahwa perselisihan merupakan bagian dari ujian kehidupan manusia. Allah Ta’ala berfirman,
“Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentu Dia jadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih (pendapat), kecuali orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka.” (Hud: 118–119).
Dengan demikian, perbedaan menjadi bagian dari medan ujian. Allah juga berfirman,
“Yaitu agar orang yang binasa itu binasa dengan bukti yang nyata dan agar orang yang hidup itu hidup dengan bukti yang nyata.” (Al-Anfal: 42).
Namun, tidak semua perselisihan memiliki sebab yang sama. Jika ditelusuri lebih jauh, sebab-sebab perselisihan pada akhirnya bermuara kepada dua akar utama.
Pertama, buruknya tujuan dan keinginan.
Qabil dengki kepada Habil. Saudara-saudara Yusuf dengki kepada Yusuf. Orang-orang Yahudi mendengki kepada Isa. Demikian pula orang-orang yang menentang Nabi Muhammad ﷺ melakukan penentangan karena kedengkian dan kesewenang-wenangan.
Kedengkian dan kezaliman tersebut pada akhirnya kembali kepada akar kejahatan yang pertama, yaitu Iblis yang dengki kepada Adam karena karunia yang Allah berikan kepadanya.
Perselisihan yang lahir dari buruknya tujuan bukan disebabkan oleh ketidaktahuan terhadap kebenaran. Seseorang dapat mengetahui kebenaran, tetapi menolaknya karena hawa nafsu, kedengkian, kepentingan, atau kesewenang-wenangan. Karena itu, penyimpangan yang lahir dari pengetahuan tetapi disertai tujuan yang buruk akan mengantarkan kepada kemurkaan Allah.
Kedua, tersembunyinya atau tidak sampainya ilmu.
Perselisihan orang-orang Nashrani juga berkaitan dengan kebodohan. Mereka berselisih karena tidak memiliki landasan ilmu yang benar, baik dalam penukilan maupun dalam penggunaan dalil akal.
Ilmu dapat berupa penukilan yang benar dari orang yang jujur dan terpercaya, atau pendapat yang dibangun berdasarkan dalil yang dapat diketahui kebenarannya. Adapun selain itu, bisa jadi merupakan sesuatu yang palsu dan harus ditolak, atau sesuatu yang belum diketahui status kebenarannya.39
Dengan demikian, setiap penyimpangan dari kebenaran karena seseorang telah mengetahui kebenaran tetapi menolaknya, pada dasarnya berpangkal pada buruknya tujuan dan menyebabkan kemurkaan. Sebaliknya, penyimpangan yang terjadi karena ketidaktahuan berpangkal pada kebodohan dan menyebabkan kesesatan.
Jalan yang Lurus: Ilmu dan Amal
Dua keadaan tersebut telah dirangkum Allah Ta’ala dalam Surah Al-Fatihah, yaitu jalan orang-orang yang dimurkai dan jalan orang-orang yang sesat. Karena itu, seorang mukmin harus berhati-hati agar tidak terjatuh ke dalam salah satu dari kedua jalan tersebut.
Allah Ta’ala berfirman,
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ
“Tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat.” (Al-Fatihah: 6–7).
Nabi Muhammad ﷺ bersabda,
الْيَهُودَ مَغْضُوبٌ عَلَيْهِمْ، وَإِنَّ النَّصَارَى ضُلَّالٌ
“Orang Yahudi adalah orang-orang yang dimurkai, sedangkan orang-orang Nashrani adalah orang-orang yang sesat.”40
Hal itu karena orang-orang Yahudi mengetahui kebenaran tetapi menolaknya dan tidak mengamalkannya. Karena itu, mereka pantas mendapatkan kemurkaan. Adapun orang-orang Nashrani banyak melakukan penyimpangan karena kebodohan, sehingga mereka disebut sebagai orang-orang yang sesat. Namun, keduanya tetap sama-sama berada dalam penyimpangan: yang satu mengetahui tetapi tidak mengikuti kebenaran, sedangkan yang lain tidak memiliki ilmu yang benar.
Karena itu, jalan orang-orang beriman yang mendapatkan nikmat adalah jalan yang menghimpun ilmu terhadap kebenaran dan amal atas kebenaran tersebut. Ilmu tanpa amal dapat menyeret seseorang kepada kemurkaan, sedangkan amal tanpa ilmu dapat menjerumuskannya ke dalam kesesatan. Jalan yang lurus adalah jalan yang menggabungkan keduanya.
Link Kami
Beberapa Link Kami yang Aktif