basmalah Pictures, Images and Photos
Our Islamic Story

Postingan Popular Pekan ini

Mimpi 'Bait Ketiga' dan Penghancuran Al-Aqsa oleh Zionis Israel  Di labirin gang-gan...


Mimpi 'Bait Ketiga' dan Penghancuran Al-Aqsa oleh Zionis Israel 

Di labirin gang-gang sempit Kota Tua Yerusalem, aroma dupa dan kekhusyukan doa sering kali bersinggungan secara tajam dengan derap sepatu bot militer. Menjelang perayaan Paskah Yahudi pada April 2024, keheningan ritual keagamaan tersebut pecah oleh gema politik yang provokatif.

Isu pembangunan "Bait Ketiga" atau Third Temple, yang selama dekade terakhir dianggap sebagai aspirasi marginal kelompok ultra-nasionalis, mendadak melompat ke panggung utama narasi internasional.

Fenomena ini bukan sekadar diskusi teologis tentang mesianisme, melainkan sebuah sinyal pergeseran seismik dalam lanskap geopolitik Timur Tengah yang menempatkan kompleks Masjid Al-Aqsa dalam risiko eksistensial di tengah ketegangan yang terus memuncak.


Ambisi Politik di Balik Seruan Ritual

Apa yang dulunya hanya dibisikkan di kalangan ekstremis kini disuarakan dengan lantang dari kursi parlemen. Yitzhak Pindrus, anggota Knesset dari Partai Persatuan Torah Yudaisme, secara terbuka menyatakan harapannya untuk mengubah fungsi kompleks tersebut tepat sebelum perayaan Paskah pada April 2024.

"I sangat berharap bahwa semua orang Yahudi harus datang pada hari Senin minggu depan untuk mempersembahkan kurban Paskah mereka di Yerusalem. Kami berharap Bait Suci Ketiga akan segera dibangun di sana, dan kami dapat makan di sana dari kurban Paskah," ujar Pindrus dalam sebuah wawancara televisi.

Pernyataan ini mencerminkan tren yang mengkhawatirkan: masuknya agenda radikal ke dalam arus utama politik Israel. Strategi ini bukan tanpa tujuan; narasi mengenai penghancuran status quo Al-Aqsa kini digunakan sebagai alat konsolidasi suara kanan-jauh dan nasionalis-konservatif menjelang pemilu yang dijadwalkan pada 27 Oktober. 

Apa yang dulu dianggap sebagai retorika pinggiran kini menjadi instrumen kampanye arus utama untuk memenangkan hati pemilih yang semakin bergeser ke arah konservatisme radikal.


Mengenal Konsep 'Bait Ketiga': Antara Teologi dan Eskatologi

Secara historis dan keagamaan, "Bait Ketiga"—juga dikenal sebagai Bait Suci Yehezkiel—adalah konsep yang sangat sakral sekaligus kontroversial dalam Yudaisme:

Era Mesianik: Dalam tradisi Yahudi, pembangunan Bait Ketiga diyakini sebagai pemenuhan nubuat akhir zaman yang akan terjadi pada masa kedatangan Mesias sebagai "wakil Tuhan".

Warisan Sejarah: Situs ini diyakini sebagai lokasi berdirinya Bait Pertama (Bait Salomo) yang dihancurkan Babilonia pada 586 SM, dan Bait Kedua yang dihancurkan Romawi pada 70 M.

Namun, terdapat ketegangan internal yang mendalam; banyak pemimpin agama Yahudi terkemuka justru menganggap pembangunan Bait Suci sebelum syarat-syarat mesianik terpenuhi sebagai sebuah "dosa". 

Kontrasnya, kelompok mesianik modern mencoba memaksakan pemenuhan nubuat ini melalui langkah-langkah politik dan arsitektural aktif.

Pergeseran dari penantian akan "intervensi ilahi" menjadi "intervensi legislatif" inilah yang menciptakan guncangan pada stabilitas kawasan saat ini.


Pergeseran Status Quo: Peran Itamar Ben-Gvir

Salah satu arsitek utama perombakan identitas ini adalah Menteri Keamanan Nasional, Itamar Ben-Gvir. Secara sistematis, ia berupaya merobek tatanan "Status Quo" yang telah berlaku selama puluhan tahun.

Secara tradisional, berdasarkan Perjanjian Damai Wadi Araba tahun 1994, kendali atas Al-Aqsa berada di bawah yurisdiksi Yordania dengan aturan bahwa hanya umat Islam yang boleh beribadah di sana.

Namun, Ben-Gvir secara provokatif menyatakan pada tahun 2024 bahwa "mereka pada akhirnya akan membangun sebuah sinagoge di area tempat Al-Aqsa berdiri." Langkah ini dipertegas dengan rencana kerja tahunan kementeriannya yang ingin memberikan "hak ibadah" bagi umat Yahudi di kompleks tersebut.

Perubahan semantik dari "Al-Haram asy-Syarif" menjadi "Temple Mount" dalam narasi resmi pejabat tinggi bukan sekadar soal nama, melainkan langkah sistematis untuk menghapus identitas Islam dan menegaskan kedaulatan Yahudi yang eksklusif atas situs suci tersebut.


Taktik 'Hollow Out' dan Tekanan Terhadap Penjaga Al-Aqsa

Upaya mengubah realitas di lapangan juga dilakukan melalui metode-metode sistematis yang dijalankan oleh kelompok ekstremis seperti Elad (Ir David), Ateret Cohanim, dan gerakan yang didirikan mendiang Gershon Salomon, Temple Mount Faithful. Taktik ini bertujuan melemahkan Al-Aqsa secara fisik maupun sosial:

Penggalian Arkeologi: Melakukan penggalian di bawah kompleks dengan tujuan "melubangi" (hollowing out) fondasi bangunan agar runtuh dengan sendirinya tanpa perlu serangan militer langsung.

Intimidasi Penjaga: Polisi dan militer sering kali menutup mata saat kelompok ekstremis melakukan ritual di dalam kompleks, namun di saat yang sama menangkap relawan Muslim dan imam masjid dengan dalih yang dibuat-buat untuk membatasi fungsi kepemimpinan mereka.

Memutus Ikatan Emosional: Menggunakan pengaruh politik untuk membatasi akses warga Muslim, sebuah upaya untuk membuat situs tersebut terasa "tak bertuan" dan perlahan memutus memori kolektif umat terhadap kiblat pertama mereka.

Ini adalah serangan terhadap memori sejarah dan eksistensi budaya yang mencoba membawa Yerusalem ke titik yang tak bisa kembali (point of no return).


Respons Dunia Islam dan Dampak Global

Reaksi terhadap ancaman ini melampaui batas geografis Palestina. Sejarah mencatat bahwa berdirinya Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) pada tahun 1969 justru dipicu oleh kemarahan dunia internasional atas upaya pembakaran Masjid Al-Aqsa oleh seorang ekstremis.

Turki dan negara-negara anggota OKI secara konsisten menegaskan bahwa Al-Aqsa adalah "kehormatan seluruh dunia Islam". Gangguan terhadap situs ini bukan sekadar isu kedaulatan tanah lokal, melainkan "titik saraf" spiritual global. Jika simbol suci ini terus dijadikan komoditas politik untuk memenangkan pemilu, ia akan memicu ketidakstabilan regional yang tak terkendali. 

Al-Aqsa adalah garis merah yang jika dilanggar, akan menggetarkan seluruh dunia Islam.

Yerusalem hari ini berdiri di persimpangan jalan yang sangat rapuh. Masa depan stabilitas di kawasan ini tidak hanya bergantung pada diplomasi di atas kertas, tetapi pada penghormatan yang tulus terhadap situs-situs suci lintas agama.

Ketika mimpi teologis dipaksakan menjadi realitas fisik melalui paksaan politik dan narasi radikal, yang tersisa bukanlah keselamatan, melainkan api konflik yang berkepanjangan.

Tentang Diturunkannya Wahyu Al-Qur’an Tentang diturunkannya wahyu Al-Qur’an dapa...

Tentang Diturunkannya Wahyu Al-Qur’an
Tentang diturunkannya wahyu Al-Qur’an dapat dilihat, antara lain, dalam ayat 185 surah Al-Baqarah:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْءَانُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتِ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ ....

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil)....”

Hal ini juga ditegaskan dalam firman Allah:

إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

“Sesungguhnya telah Kami menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan.”

Dalam rentang waktu dua puluh tiga tahun, Al-Qur’an diturunkan secara bertahap sesuai dengan tuntutan situasi dan kondisi yang dihadapi. Ibnu Abbas (w. 68 H), salah seorang ilmuwan terkemuka di kalangan sahabat Rasulullah, menjelaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan ke langit dunia, yaitu Baitul ‘Izzah, dalam satu malam. Setelah itu, Al-Qur’an diturunkan ke bumi secara bertahap sesuai dengan kebutuhan.

Proses Penerimaan Wahyu

Penerimaan wahyu Al-Qur’an merupakan perkara yang berada di luar jangkauan penalaran akal manusia. Selama empat belas abad, tidak ada seorang rasul yang muncul setelah Nabi Muhammad saw. Karena itu, dalam memahami fenomena wahyu, kita semata-mata merujuk kepada laporan autentik dari Nabi Muhammad saw. dan orang-orang terpercaya yang menyaksikan kehidupan beliau. Riwayat-riwayat tersebut dapat menjadi gambaran mengenai apa yang dialami para nabi sebelumnya ketika menerima komunikasi dari Allah.

Al-Harits bin Hisyam pernah bertanya kepada Rasulullah saw., “Wahai Rasulullah, bagaimana wahyu itu sampai kepadamu?”

Beliau menjawab, “Kadang-kadang seperti bunyi lonceng, dan itu merupakan sesuatu yang paling dahsyat yang sampai kepadaku. Kemudian suara itu lenyap dan aku dapat mengulangi apa yang dikatakannya. Kadang-kadang malaikat hadir dalam bentuk seorang manusia, lalu berbicara kepadaku dan aku dapat memahami apa yang dikatakannya.”

Aisyah r.a. menuturkan, “Sungguh, aku pernah melihat Nabi ketika wahyu turun kepada beliau. Pada hari yang sangat dingin, beliau merasa kepanasan sebelum wahyu itu selesai, dan dahinya penuh dengan keringat.”20

Ya‘la pernah bercerita kepada Umar tentang keinginannya melihat Nabi Muhammad saw. ketika menerima wahyu. Pada suatu kesempatan, Umar memanggilnya. Ia kemudian menyaksikan Nabi Muhammad saw. dalam keadaan wajah memerah dan bernapas dengan berat. Setelah itu, keadaan beliau kembali seperti semula.21

Zaid bin Tsabit menjelaskan bahwa Ibnu Ummi Maktum pernah mendatangi Nabi Muhammad saw. ketika beliau sedang mendiktekan ayat:

لَا يَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

“Tidaklah sama orang-orang mukmin yang duduk (tidak turut berperang)...”

Ketika mendengar ayat tersebut, Ibnu Ummi Maktum berkata, “Wahai Nabi Allah, apakah berarti saya mesti ikut ke medan perang?” Ia adalah seorang yang buta.

Kemudian Allah mewahyukan tambahan ayat tersebut kepada Nabi Muhammad saw. Zaid bin Tsabit mengatakan bahwa ketika wahyu turun, kaki Nabi berada di atas kakinya. Ia merasakan begitu beratnya tekanan tersebut hingga khawatir kakinya akan terasa seperti patah.23

Riwayat-riwayat tersebut menunjukkan bahwa penerimaan wahyu memberikan perubahan fisik dan psikologis yang nyata pada diri Nabi Muhammad saw. Namun, perubahan tersebut hanya terjadi selama proses penerimaan wahyu. Setelah wahyu selesai, beliau kembali seperti biasa dalam berbicara dan menjalankan kehidupan sehari-hari.

Selain itu, Nabi Muhammad saw. tidak mengetahui kapan dan di mana wahyu akan turun. Hal ini tampak dalam berbagai peristiwa yang terjadi selama masa kenabian beliau. Dua peristiwa berikut dapat menjadi contoh.

Pertama, dalam peristiwa tuduhan keji terhadap Aisyah r.a. Sekelompok orang menyebarkan berita bohong dan menuduh Aisyah melakukan perbuatan tidak terpuji dengan seorang sahabat. Nabi Muhammad saw. tidak segera menerima wahyu mengenai persoalan tersebut. Beliau bahkan mengalami penderitaan selama kurang lebih satu bulan akibat berita bohong yang menimpa keluarganya, sebelum Allah menurunkan penjelasan mengenai kesucian Aisyah.

Allah berfirman:

وَلَوْلَا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ قُلْتُم مَّا يَكُونُ لَنَا أَن نَّتَكَلَّمَ بِهَذَا سُبْحَانَكَ هَذَا بُهْتَانٌ عَظِيمٌ

“Dan mengapa kamu tidak berkata, di waktu mendengar berita bohong itu, ‘Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita mengatakan ini. Mahasuci Engkau (Ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar.’”24

Kedua, peristiwa Ibnu Ummi Maktum. Ketika Nabi Muhammad saw. sedang mendiktekan ayat tentang orang-orang yang berjihad dan orang-orang yang tidak turut berjihad, Ibnu Ummi Maktum menyampaikan keberatannya karena kondisi kebutaannya. Pada saat itu, wahyu turun secara langsung dengan memberikan pengecualian bagi orang-orang yang memiliki uzur:

لَّا يَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ غَيْرُ أُوْلِي الضَّرَرِ وَالْمُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ .....

“Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak turut berperang) yang tidak mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya....”25

Perbandingan kedua peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa wahyu tidak turun berdasarkan kehendak pribadi Nabi Muhammad saw. Dalam satu persoalan, wahyu datang setelah beliau menunggu cukup lama. Dalam persoalan lain, wahyu turun secara spontan sebagai jawaban atas suatu keadaan yang sedang berlangsung.

Permulaan Wahyu dan Mukjizat Al-Qur’an

Peranan Nabi Muhammad saw. sebagai pembawa risalah dipersiapkan secara bertahap. Masa sebelum turunnya wahyu merupakan masa yang penuh dengan perenungan terhadap berbagai kejadian dan keadaan masyarakat di sekitarnya. Masa tersebut turut mempersiapkan kematangan jiwa beliau untuk menerima tugas kenabian. Jibril kemudian hadir dan berulang kali memperkenalkan dirinya kepada Nabi Muhammad saw.

Peristiwa yang paling menentukan terjadi ketika Nabi Muhammad saw. berada di Gua Hira. Jibril datang kepadanya dan meminta beliau membaca. Nabi Muhammad saw. menjawab bahwa beliau tidak dapat membaca. Permintaan itu diulang hingga tiga kali. Dalam keadaan bingung dan ketakutan, Nabi Muhammad saw. kemudian menerima wahyu pertama:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ ۝ خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ ۝ اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ ۝ الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ ۝ عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajar manusia apa yang tidak diketahuinya.”

Peristiwa tersebut merupakan sesuatu yang sama sekali tidak pernah terlintas dalam pikiran Nabi Muhammad saw. Sebagai manusia yang hidup di tengah masyarakat Arab, beliau tentu mengenal susunan bahasa, syair, dan prosa yang berkembang pada zamannya. Namun, ayat-ayat yang beliau terima memiliki susunan dan karakter yang berbeda dari seluruh bentuk bahasa yang pernah beliau kenal.

Setelah menerima wahyu pertama, Nabi Muhammad saw. kembali dalam keadaan gemetar. Beliau kemudian menemui Khadijah r.a. dan meminta agar dirinya ditenangkan serta dikembalikan ketenteraman jiwanya. Peristiwa tersebut menunjukkan betapa berat pengalaman pertama menerima wahyu.

Di sinilah tampak salah satu sisi penting dari mukjizat Al-Qur’an. Mukjizat Nabi Musa a.s., misalnya, berupa tanda-tanda yang dapat dilihat secara langsung: cahaya yang memancar dari tangan dan tongkat yang berubah menjadi ular sebagai bukti kenabiannya. Nabi-nabi lainnya juga diberi mukjizat sesuai dengan keadaan mereka.

Adapun Nabi Muhammad saw. menerima mukjizat terbesar dalam bentuk Al-Qur’an. Ketika berada di sebuah gua di tengah gunung, seorang malaikat datang kepada seorang nabi yang ummi dan memerintahkannya untuk membaca. Mukjizat itu bukan berupa ular raksasa, benda yang berubah bentuk, kemampuan menyembuhkan penyakit, atau menghidupkan orang yang telah mati. Mukjizat itu berupa wahyu: rangkaian kata dan makna yang tidak pernah dikenal sebelumnya dan tidak tertandingi oleh kemampuan manusia.

Dengan demikian, sejak awal kenabian, Al-Qur’an telah hadir bukan hanya sebagai wahyu yang harus disampaikan, tetapi juga sebagai mukjizat yang menjadi bukti kerasulan Nabi Muhammad saw.

Ekspedisi Tiongkok ke Nusantara Ekspedisi Tiongkok yang dipimpin oleh Laksamana ...


Ekspedisi Tiongkok ke Nusantara

Ekspedisi Tiongkok yang dipimpin oleh Laksamana Cheng Ho berlangsung pada masa pemerintahan Dinasti Ming di bawah Kaisar Cheng-Tsu (1403–1424), setelah pendahulunya, Hwui-Ti, terusir dari takhta. Karena itu, salah satu tujuan ekspedisi Cheng Ho adalah mempertahankan hubungan dengan kerajaan-kerajaan di wilayah Laut Selatan dan Laut Barat yang sebelumnya mengakui kekaisaran Tiongkok melalui pengiriman upeti dan utusan ke Tiongkok.

Beberapa ekspedisi Cheng Ho diberitakan secara lebih lengkap dalam laporan Ma Huan, Ying-Yai Sheng-Lan, yang kemudian diterjemahkan dan diterbitkan oleh J. V. G. Mills (1970). Mills membicarakan kehidupan Cheng Ho, garis besar tujuh ekspedisinya, tempat-tempat yang disinggahi, rute pelayaran, kapal-kapal, serta para pegawainya. Ia juga menguraikan kehidupan Ma Huan dan bukunya dengan menggunakan berbagai sumber sezaman lainnya.

Adapun informasi mengenai kedatangan Laksamana Cheng Ho ke Palembang terutama didasarkan pada laporan Ma Huan, Hikayat Dinasti Ming, dan sumber Ying-Yai Sheng-Lan.

Cheng Ho dan Latar Belakangnya

Nama asli Cheng Ho adalah Ma Ho. Ia berasal dari keluarga yang tinggal di daerah K-Un, di ujung barat daya Danau Tien-Chih, Provinsi Yunnan. Nama keluarganya, Ma, serta tambahan gelar Haji menunjukkan bahwa ia seorang Muslim yang pernah menjalankan ibadah haji ke Mekkah.

Cheng Ho dilahirkan sekitar tahun 1371. Ia merupakan anak kedua dalam keluarganya yang juga memiliki empat orang putri. Dalam perjalanan hidupnya, ia kemudian menunjukkan kemampuan yang menonjol. Pada usia sekitar dua puluh tahun, ia menjadi pegawai pada Putra Mahkota Yen, Chu Ti, putra keempat Kaisar Hung Wu. Chu Ti menguasai wilayah yang luas di Timur Laut dan pada tahun 1403 kemudian naik takhta sebagai Kaisar Cheng-Tsu.

Ma Ho merupakan orang yang berpendidikan. Selain memperoleh pengetahuan umum, ia juga mempelajari seni perang. Kemampuan tersebut digunakannya ketika turut serta dalam penumpasan pemberontakan di Yunnan. Pada tahun 1404, ia mendapat perhatian Kaisar yang kemudian memberikan kepadanya julukan Cheng. Sejak saat itu, kariernya semakin meningkat hingga ia diangkat sebagai laksamana besar dan pengawas para laksamana (Mills, 1970).

Kehebatan Cheng Ho dalam menjalankan tugas membuat Kaisar Cheng-Tsu atau Yung Lo menunjuknya untuk memimpin armada dalam serangkaian ekspedisi ke wilayah Laut Barat. Secara keseluruhan, Cheng Ho memimpin tujuh ekspedisi besar antara tahun 1405 dan 1433.

Ekspedisi Pertama: 1405–1407

Ekspedisi pertama dimulai pada 11 Juli 1405 dan berlangsung hingga 1407. Dalam pelayaran ini, Cheng Ho didampingi sejumlah pejabat dan awak armada, antara lain Ching Huang. Salah satu wilayah yang dikunjungi adalah San-Fo-Tsi, yang diidentifikasikan sebagai Sriwijaya atau Palembang.

Dalam perjalanan pulang dari ekspedisi pertama, armada Cheng Ho berhasil menangkap pemimpin perompak Chen Tsu I. Dalam peristiwa tersebut, sekitar lima ribu orang pasukannya terbunuh dan tujuh belas kapal berhasil dirampas. Chen Tsu I kemudian dibawa dan diserahkan kepada Kaisar di Nanking.

Penumpasan terhadap para perompak tersebut menyebabkan perjalanan pulang armada mengalami keterlambatan sekitar tiga bulan. Armada itu baru tiba di ibu kota Nanking pada 2 Oktober 1407.

Ekspedisi Kedua dan Ketiga

Pada ekspedisi kedua, yang berlangsung pada 1407–1409, Cheng Ho didampingi oleh dua laksamana lainnya, yaitu Wang Ching Hung dan Hu Hsien. Dalam daftar negeri yang dikunjungi pada ekspedisi ini, Palembang tidak disebutkan.

Demikian pula dalam ekspedisi ketiga, yang berlangsung pada 1409–1411, tidak terdapat keterangan bahwa Cheng Ho mengunjungi Palembang.

Palembang kembali disebut dalam ekspedisi keempat.

Ekspedisi Keempat: 1413–1415

Pada ekspedisi keempat, yang berlangsung pada 1413–1415, Cheng Ho kembali mengunjungi Palembang. Setelah mengunjungi Campa, Kelantan, Pahang, dan Jawa, armada tersebut menuju San-Fo-Tsi atau Palembang. Dari Palembang, perjalanan dilanjutkan ke Malaka, Aru, Samudera, Lambri, Ceylon, Kayal, Kepulauan Maladewa, Cochin, Calicut, hingga Hormuz.

Ekspedisi keempat memiliki arti penting karena pada saat inilah Ma Huan untuk pertama kalinya ikut serta dalam pelayaran Cheng Ho. Ia bertugas sebagai juru bicara, penerjemah, sekaligus pembuat laporan. Ma Huan sendiri merupakan seorang Muslim yang menguasai bahasa Arab.

Ekspedisi Kelima dan Keenam

Pada ekspedisi kelima, yang berlangsung pada 1417–1419, Cheng Ho kembali mengunjungi Palembang bersama Ma Huan. Setelah singgah di Campa, Pahang, dan Jawa, armada melanjutkan perjalanan ke Palembang dan wilayah-wilayah lainnya.

Berbeda dengan ekspedisi sebelumnya, pada ekspedisi keenam yang berlangsung pada 1421–1422, Cheng Ho tidak mengunjungi Palembang. Ma Huan kembali turut serta dalam ekspedisi tersebut sebagai juru bicara.

Ekspedisi Ketujuh: 1431–1433

Ekspedisi ketujuh berlangsung pada 1431–1433. Berita mengenai ekspedisi ini dilengkapi oleh sumber Hsia Hsi yang ditulis oleh Chu Yun Ming, termasuk buku Chien Wen Chi. Ekspedisi ini merupakan salah satu ekspedisi terbesar Cheng Ho. Jumlah orang yang terlibat, dengan berbagai tugas dan pekerjaan, mencapai sekitar 27.550 orang, sedangkan armadanya terdiri atas lebih dari seratus kapal besar.

Dalam ekspedisi tersebut, Cheng Ho tidak hanya didampingi oleh Ma Huan, tetapi juga oleh Fei Hsin dan Kung Chen. Palembang kembali menjadi salah satu tempat yang disinggahi armada Cheng Ho.

Menariknya, dalam ekspedisi ketujuh ini Ma Huan tidak hanya mencatat perjalanan yang dilakukannya, tetapi juga memberikan keterangan mengenai Mekkah. Dalam daftar tempat yang dikunjungi Cheng Ho, pelabuhan lama Palembang disebut dengan nama Chiu-Chiang (Mills, 1970).

Berbagai Nama Palembang dalam Sumber Tiongkok

Palembang muncul dengan beberapa nama dalam sumber-sumber Tiongkok. Selain Chiu-Chiang, kota ini disebut San-Bo-Tsai dalam Hikayat Dinasti Sung (960–1279), serta Ku-Kang dalam Hikayat Dinasti Ming dan Ying-Yai Sheng-Lan. Cheng Ho sendiri terkadang disebut Laksamana Sam Pau atau Sam Po, terutama dalam bahasa Tionghoa Fukien (Groeneveldt, 1960: 41; Kong Yuan Zhi, 1993: 24).

Keterangan mengenai hubungan Cheng Ho dengan Palembang juga berkaitan dengan kondisi politik kawasan tersebut. Jika pada tahun 1405 Palembang telah berada di bawah pengaruh kekuasaan Jawa, khususnya Majapahit, kedudukan tersebut kemudian dijelaskan lebih lanjut dalam berita Ying-Yai Sheng-Lan (Mills, 1970: 98).

Berdasarkan sumber-sumber Tionghoa tersebut, terutama Ying-Yai Sheng-Lan karya Ma Huan, dapat diketahui bahwa dari tujuh ekspedisi Cheng Ho, Palembang dikunjungi sebanyak empat kali, yaitu pada ekspedisi pertama, keempat, kelima, dan ketujuh.

Palembang sebagai Kota Kosmopolitan

Berita tentang Palembang dalam sumber-sumber Tiongkok sebenarnya memiliki konteks yang lebih panjang. Sejak abad ke-7 M, sumber asing telah memberikan keterangan mengenai Sriwijaya. I-Tsing, misalnya, menyebut Shih-Li-Fo-Shih, yang kemudian diidentifikasikan dengan Sriwijaya dalam berbagai prasasti abad ke-7 M.

Dalam sumber-sumber Tiongkok berikutnya, Palembang muncul dengan berbagai nama, antara lain San-Bo-Tsai dan Ku-Kang. Keterangan-keterangan tersebut menunjukkan bahwa Palembang telah lama menjadi bagian dari jaringan hubungan antara Nusantara dan Tiongkok. Hubungan itu tidak hanya berlangsung dalam bidang perdagangan, tetapi juga mencakup hubungan politik, diplomatik, dan persahabatan.

Orang-orang Tionghoa yang datang ke Palembang antara lain berasal dari Kuang Tung, Chuang Chou, dan wilayah daratan Tiongkok Selatan. Beberapa daerah tersebut merupakan wilayah yang sebagian penduduknya telah memeluk Islam. Hal ini terutama relevan jika dikaitkan dengan Yunnan, daerah asal Cheng Ho dan Ma Huan, yang pada masa itu telah memiliki komunitas Muslim yang cukup kuat.

Atas dasar itu, terdapat kemungkinan bahwa sebagian orang Tionghoa yang datang dan kemudian bermukim di Palembang merupakan bagian dari komunitas Tionghoa-Muslim.

Dugaan tersebut dapat dibandingkan dengan keberadaan komunitas Tionghoa-Muslim di pesisir utara Jawa Timur, seperti Tuban, Sedayu, dan Gresik, yang juga dikunjungi oleh Cheng Ho dan diberitakan oleh Ma Huan dalam Ying-Yai Sheng-Lan (Mills, 1970: 92–93).

Demikian pula terdapat keterangan mengenai pemukiman komunitas Muslim di Semarang dan Cirebon yang dikaitkan dengan sumber-sumber dari Kelenteng Sam-Po-Kong Semarang dan Talang di Cirebon. Keterangan mengenai komunitas tersebut, sebagaimana dibahas oleh Kong Yuan Zhi (1993: 43–61), tidak secara resmi dimasukkan ke dalam laporan Ma Huan, Ying-Yai Sheng-Lan. Salah satu kemungkinan penjelasannya adalah bahwa keberadaan komunitas tersebut tidak berkaitan langsung dengan kunjungan resmi yang menjadi fokus laporan untuk Kaisar Tiongkok.

Jaringan Muslim di Palembang

Selain kemungkinan adanya komunitas Tionghoa-Muslim, Palembang juga memiliki hubungan dengan orang-orang Muslim dari Arab dan wilayah-wilayah lain di Timur Tengah. Sumber-sumber Tiongkok menyebut kedatangan orang-orang dari negeri-negeri Islam, termasuk dari Arab dan Persia, yang dikenal dengan sebutan Ta-Shih dan Po-Sse.

Dengan demikian, Palembang tidak hanya dapat dilihat sebagai tempat persinggahan dalam jaringan pelayaran Cheng Ho. Kota ini juga merupakan salah satu titik penting dalam jaringan perdagangan dan pergaulan antarmasyarakat di Asia. Orang-orang Tionghoa, termasuk sebagian yang beragama Islam, serta para pedagang dan utusan dari Arab dan Persia telah berhubungan dengan Palembang dan kawasan Kadatuan Sriwijaya.

Gambaran tersebut memperlihatkan bahwa Palembang sejak masa Sriwijaya telah berada dalam jaringan kosmopolitan yang menghubungkan Nusantara dengan Tiongkok, dunia Islam, dan berbagai kawasan perdagangan Asia lainnya.

Perselisihan Bani Israel Di antara bentuk perselisihan dan pembangkangan Bani Is...

Perselisihan Bani Israel

Di antara bentuk perselisihan dan pembangkangan Bani Israel adalah sikap keras kepala mereka dalam kisah sapi betina yang diperintahkan untuk disembelih. Perintah tersebut bertujuan untuk mengungkap pembunuhan yang mereka perselisihkan mengenai siapa pelakunya, sebagaimana dikisahkan dalam Surah Al-Baqarah ayat 67–73.

Bentuk pembangkangan lainnya tampak ketika Musa dan Harun memerintahkan mereka untuk memasuki tanah suci dan memerangi para tirani yang menguasainya. Mereka justru berkata,

فَاذْهَبْ أَنتَ وَرَبُّكَ فَقَاتِلَا إِنَّا هَاهُنَا قَاعِدُونَ

“Karena itu pergilah engkau bersama Tuhanmu dan berperanglah kamu berdua. Biarlah kami tetap (menanti) di sini saja.” (Al-Maa’idah: 24).

Allah Ta’ala telah mengungkapkan kisah tersebut dalam Surah Al-Maa’idah ayat 20–26.

Demikian pula ketika mereka berkata kepada Musa, “Wahai Musa! Kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan jelas.” (Al-Baqarah: 55). Akibatnya, halilintar menyambar mereka dalam keadaan mereka menyaksikannya.

Ketika Musa membawa lembaran-lembaran yang berisi Taurat kepada mereka, dia memerintahkan agar mereka menerimanya dengan sungguh-sungguh, kekuatan, dan tekad. Namun, mereka kembali menunjukkan sikap membangkang. Mereka seakan-akan hanya bersedia menerima perintah dan larangan yang mudah bagi mereka.

Allah Ta’ala berfirman,

“Dan (ingatlah) ketika Kami mengangkat gunung ke atas mereka, seakan-akan (gunung) itu naungan awan dan mereka yakin bahwa (gunung) itu akan jatuh menimpa mereka. (Dan Kami firmankan kepada mereka), ‘Peganglah dengan teguh apa yang telah Kami berikan kepadamu, serta ingatlah selalu (amalkanlah) apa yang tersebut di dalamnya agar kamu menjadi orang-orang bertakwa.’” (Al-A’raf: 171).30

Pelanggaran mereka juga terlihat dalam kisah hari Sabtu. Mereka melanggar ketentuan Allah Ta’ala dan melakukan rekayasa terhadap perintah-Nya. Karena pelanggaran tersebut, Allah mengubah mereka menjadi kera-kera yang hina.31

Ketika Allah menaklukkan tanah suci untuk mereka, mereka diperintahkan agar memasukinya dalam keadaan sujud dan tunduk. Mereka diperintahkan mengucapkan hiththah, yang berarti memohon agar kesalahan-kesalahan mereka diampuni karena sebelumnya mereka mengingkari perintah untuk memasuki tanah suci. Namun, mereka justru mengganti perintah tersebut dengan ucapan lain, yaitu habbah fi sya’rah (“biji di rambut”). Mereka pun memasuki negeri itu dengan cara yang menyimpang dari perintah yang diberikan kepada mereka.

Berbagai bentuk keburukan dan kejahatan lainnya kemudian terus bermunculan. Para pengganti datang di tengah-tengah mereka, tetapi berbagai penyimpangan dan kesalahan justru semakin besar. Di antara mereka muncul banyak tirani, bahkan mereka membunuh para nabi. Urusan mereka menjadi kacau sehingga Allah menguasakan kepada mereka para raja tirani yang menzalimi dan menumpahkan darah mereka.33

Perselisihan tentang Isa bin Maryam

Perselisihan Bani Israel kemudian mencapai bentuk yang lebih besar ketika Isa bin Maryam datang. Mereka berselisih mengenai dirinya dengan perselisihan yang sangat dahsyat. Allah Ta’ala mengemukakan kisah tersebut di banyak tempat dalam Al-Qur’an. Di antaranya Allah berfirman,

ذَلِكَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ قَوْلَ الْحَقِّ الَّذِي فِيهِ يَمْتَرُونَ ۝ مَا كَانَ لِلَّهِ أَن يَتَّخِذَ مِن وَلَدٍ سُبْحَانَهُ وَإِذَا قَضَىٰ أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُن فَيَكُونُ ۝ وَإِنَّ اللَّهَ رَبِّي وَرَبُّكُمْ فَاعْبُدُوهُ هَٰذَا صِرَاطٌ مُّسْتَقِيمٌ ۝ فَاخْتَلَفَ الْأَحْزَابُ مِن بَيْنِهِمْ فَوَيْلٌ لِّلَّذِينَ كَفَرُوا مِن مَّشْهَدِ يَوْمٍ عَظِيمٍ

“Itulah Isa putra Maryam, (yang mengatakan) perkataan yang benar, yang mereka ragukan kebenarannya. Tidak patut bagi Allah mempunyai anak, Mahasuci Dia. Apabila Dia hendak menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya, ‘Jadilah!’ Maka jadilah sesuatu itu. (Isa berkata), ‘Dan sesungguhnya Allah itu Tuhanku dan Tuhanmu, maka sembahlah Dia. Ini adalah jalan yang lurus.’ Maka, berselisihlah golongan-golongan (yang ada) di antara mereka. Maka celakalah orang-orang kafir pada waktu menyaksikan hari yang agung!” (Maryam: 34–37).

Perselisihan tersebut melahirkan berbagai pandangan yang saling bertentangan. Ada orang Yahudi yang menuduh Isa dengan tuduhan keji dan terus-menerus berada dalam kekufuran dan kedurhakaan. Sebagian lainnya menerimanya dengan keyakinan yang menyimpang dengan mengatakan bahwa Isa adalah Allah. Sebagian lagi mengatakan bahwa Isa adalah putra Allah.

Adapun orang-orang beriman meyakini bahwa Isa adalah hamba Allah dan Rasul-Nya, putra hamba-Nya, kalimat-Nya yang disampaikan kepada Maryam, serta ruh dari-Nya. Merekalah orang-orang yang selamat dan mendapatkan pahala.34

Dari sini tampak perbedaan mendasar antara kebenaran dan kebatilan. Kebatilan memiliki banyak cabang, melahirkan perselisihan, dan dipenuhi kontradiksi. Sebaliknya, kebenaran memiliki kesatuan dan tidak saling bertentangan. Allah Ta’ala berfirman,

“Sekiranya (Al-Qur’an) itu bukan dari Allah, pastilah mereka menemukan banyak hal yang bertentangan di dalamnya.” (An-Nisaa’: 82).

Ayat ini menunjukkan bahwa kebenaran memiliki kesatuan dan keselarasan, sedangkan kebatilan cenderung melahirkan perselisihan dan keguncangan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Sesungguhnya perkataan orang-orang Nashrani mengandung perselisihan di antara mereka yang tidak bisa diverifikasi. Sesungguhnya perkataan mereka bukan diambil dari Kitab yang diturunkan, bukan pula dari Nabi yang diutus, dan tidak juga sesuai dengan akal orang-orang berakal.”35

Perselisihan mereka juga terjadi setelah Allah mengangkat Isa kepada-Nya, ketika orang-orang Yahudi melakukan tipu daya dan berambisi membunuhnya. Mereka kemudian terpecah menjadi tiga kelompok.

Satu kelompok mengatakan bahwa Allah bersama mereka sesuai dengan kehendak-Nya, lalu Isa naik ke langit. Kelompok lain mengatakan bahwa Isa adalah putra Allah yang bersama mereka sesuai dengan kehendak-Nya, kemudian Allah mengangkatnya kepada-Nya. Adapun kelompok ketiga mengatakan bahwa Isa adalah hamba Allah dan Rasul-Nya yang berada di tengah-tengah mereka sesuai dengan kehendak Allah, lalu Allah mengangkatnya kepada-Nya. Kelompok ketiga inilah yang berada di atas Islam.

Dua kelompok kafir kemudian saling membantu menghadapi kelompok yang beriman. Dengan demikian, ajaran Islam yang dibawa Isa terhapus dari tengah-tengah mereka hingga Allah mengutus Muhammad ﷺ.

Ibnu Abbas berkata, “Itulah firman Allah Ta’ala, ‘Lalu Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, sehingga mereka menjadi orang-orang yang menang.’” (Ash-Shaff: 14).36

Sikap berlebih-lebihan terhadap Al-Masih kemudian melahirkan berbagai bentuk penyimpangan. Dari pihak Yahudi, sikap permusuhan dan kedengkian mendorong mereka memfitnah Isa dan berusaha membunuhnya. Dari pihak Nashrani, kebodohan dan sikap berlebih-lebihan mendorong mereka kepada keyakinan tentang trinitas, salib, dan penuhanan terhadap Al-Masih, serta berbagai keyakinan batil lainnya.

Kenabian di kalangan Bani Israel berakhir dengan diangkatnya Al-Masih ke langit. Isa merupakan nabi terakhir dari kalangan Bani Israel dan termasuk nabi yang paling dekat dengan Nabi Muhammad ﷺ. Isa juga telah menyampaikan kabar gembira tentang kedatangan beliau kepada Bani Israel.

Setelah itu, cahaya kerasulan di tengah manusia semakin meredup hingga yang tersisa hanyalah sebagian kecil dari Ahli Kitab. Keadaan manusia pada masa itu sesuai dengan sabda Nabi Muhammad ﷺ,

إِنَّ اللَّهَ نَظَرَ إِلَى أَهْلِ الْأَرْضِ فَمَقَتَهُمْ عَرَبَهُمْ وَعَجَمَهُمْ إِلَّا بَقَايَا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَقَالَ إِنَّمَا بَعَثْتُكَ لِأَبْتَلِيَكَ وَأَبْتَلِيَ بِكَ

“Sesungguhnya Allah memandang kepada penghuni bumi lalu membenci mereka, baik Arab maupun non-Arab, kecuali sisa-sisa dari Ahli Kitab. Kemudian Dia berfirman, ‘Sesungguhnya Aku mengutusmu untuk mengujimu dan menjadikan ujian denganmu.’”37

Perselisihan yang Melahirkan Perubahan Keyakinan

Sekitar tiga ratus tahun setelah Al-Masih, muncul bencana besar dan malapetaka dahsyat di tengah mereka akibat perselisihan mengenai Al-Masih. Perselisihan tersebut berkembang menjadi perdebatan yang panjang dan tidak terkendali.

Constantine kemudian mengumpulkan para uskup dan pemuka agama di kota Nicea untuk melakukan perdebatan. Setelah berlangsung perdebatan, mereka berpegang kepada pendapat yang memperoleh dukungan mayoritas, yaitu 318 orang. Pendapat yang berbeda kemudian disanggah dan ditolak, sementara gereja-gereja didirikan untuk mengikuti keputusan tersebut.

Selanjutnya mereka menetapkan berbagai syariat, undang-undang, dan hukum yang dianggap bertentangan dengan Taurat. Mereka juga menyusun akidah yang kemudian dihafalkan oleh anak-anak, perempuan, dan laki-laki mereka serta menamakannya amanah. Padahal, menurut penulis, itulah bentuk kekafiran dan pengkhianatan yang terbesar.38

Dua Akar Utama Perselisihan

Dari pemaparan tersebut tampak bahwa perselisihan merupakan bagian dari ujian kehidupan manusia. Allah Ta’ala berfirman,

“Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentu Dia jadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih (pendapat), kecuali orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka.” (Hud: 118–119).

Dengan demikian, perbedaan menjadi bagian dari medan ujian. Allah juga berfirman,

“Yaitu agar orang yang binasa itu binasa dengan bukti yang nyata dan agar orang yang hidup itu hidup dengan bukti yang nyata.” (Al-Anfal: 42).

Namun, tidak semua perselisihan memiliki sebab yang sama. Jika ditelusuri lebih jauh, sebab-sebab perselisihan pada akhirnya bermuara kepada dua akar utama.

Pertama, buruknya tujuan dan keinginan.

Qabil dengki kepada Habil. Saudara-saudara Yusuf dengki kepada Yusuf. Orang-orang Yahudi mendengki kepada Isa. Demikian pula orang-orang yang menentang Nabi Muhammad ﷺ melakukan penentangan karena kedengkian dan kesewenang-wenangan.

Kedengkian dan kezaliman tersebut pada akhirnya kembali kepada akar kejahatan yang pertama, yaitu Iblis yang dengki kepada Adam karena karunia yang Allah berikan kepadanya.

Perselisihan yang lahir dari buruknya tujuan bukan disebabkan oleh ketidaktahuan terhadap kebenaran. Seseorang dapat mengetahui kebenaran, tetapi menolaknya karena hawa nafsu, kedengkian, kepentingan, atau kesewenang-wenangan. Karena itu, penyimpangan yang lahir dari pengetahuan tetapi disertai tujuan yang buruk akan mengantarkan kepada kemurkaan Allah.

Kedua, tersembunyinya atau tidak sampainya ilmu.

Perselisihan orang-orang Nashrani juga berkaitan dengan kebodohan. Mereka berselisih karena tidak memiliki landasan ilmu yang benar, baik dalam penukilan maupun dalam penggunaan dalil akal.

Ilmu dapat berupa penukilan yang benar dari orang yang jujur dan terpercaya, atau pendapat yang dibangun berdasarkan dalil yang dapat diketahui kebenarannya. Adapun selain itu, bisa jadi merupakan sesuatu yang palsu dan harus ditolak, atau sesuatu yang belum diketahui status kebenarannya.39

Dengan demikian, setiap penyimpangan dari kebenaran karena seseorang telah mengetahui kebenaran tetapi menolaknya, pada dasarnya berpangkal pada buruknya tujuan dan menyebabkan kemurkaan. Sebaliknya, penyimpangan yang terjadi karena ketidaktahuan berpangkal pada kebodohan dan menyebabkan kesesatan.

Jalan yang Lurus: Ilmu dan Amal

Dua keadaan tersebut telah dirangkum Allah Ta’ala dalam Surah Al-Fatihah, yaitu jalan orang-orang yang dimurkai dan jalan orang-orang yang sesat. Karena itu, seorang mukmin harus berhati-hati agar tidak terjatuh ke dalam salah satu dari kedua jalan tersebut.

Allah Ta’ala berfirman,

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ ۝ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

“Tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat.” (Al-Fatihah: 6–7).

Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

الْيَهُودَ مَغْضُوبٌ عَلَيْهِمْ، وَإِنَّ النَّصَارَى ضُلَّالٌ

“Orang Yahudi adalah orang-orang yang dimurkai, sedangkan orang-orang Nashrani adalah orang-orang yang sesat.”40

Hal itu karena orang-orang Yahudi mengetahui kebenaran tetapi menolaknya dan tidak mengamalkannya. Karena itu, mereka pantas mendapatkan kemurkaan. Adapun orang-orang Nashrani banyak melakukan penyimpangan karena kebodohan, sehingga mereka disebut sebagai orang-orang yang sesat. Namun, keduanya tetap sama-sama berada dalam penyimpangan: yang satu mengetahui tetapi tidak mengikuti kebenaran, sedangkan yang lain tidak memiliki ilmu yang benar.

Karena itu, jalan orang-orang beriman yang mendapatkan nikmat adalah jalan yang menghimpun ilmu terhadap kebenaran dan amal atas kebenaran tersebut. Ilmu tanpa amal dapat menyeret seseorang kepada kemurkaan, sedangkan amal tanpa ilmu dapat menjerumuskannya ke dalam kesesatan. Jalan yang lurus adalah jalan yang menggabungkan keduanya.

Kritik Ulama Nusantara atas Revolusi Sekuler Turki di Era Mustafa Kemal  ...

Kritik Ulama Nusantara atas Revolusi Sekuler Turki di Era Mustafa Kemal 


Sejarah tidak pernah benar-benar mati; ia hanya mengendap di bawah lapisan narasi baru yang sering kali dipaksakan. Di awal abad ke-20, dunia menyaksikan salah satu eksperimen sosial paling berani sekaligus traumatis: transformasi Turki dari episentrum kekhalifahan Islam menjadi laboratorium sekularisme absolut.

Mustafa Kemal Ataturk, sang arsitek peradaban baru ini, memandang masa lalu sebagai beban reaksioner yang harus dihancurkan demi masa depan yang berkiblat ke Barat.

Namun, di balik gedung-gedung bergaya Eropa dan topi-topi laken yang baru, tersimpan luka mendalam dari sebuah bangsa yang jembatan tradisinya diputus secara paksa. Sebagai peninjau budaya, kita harus bertanya: berapakah harga sesungguhnya dari sebuah "modernisasi"?


Desakralisasi yang Dingin: Mushaf Al-Qur'an sebagai Kantong Kertas

Ada sebuah kesunyian yang mencekam dalam sejarah literasi spiritual Turki antara tahun 1935 hingga 1950. Selama lima belas tahun, mesin cetak di seluruh negeri berhenti memproduksi mushaf Al-Qur'an. 

Namun, yang lebih mengejutkan bukan sekadar penghentian tersebut, melainkan bagaimana sisa-sisa fisik dari kitab suci diperlakukan.

Di Istanbul, sisa-sisa lembaran mushaf dari era Utsmaniyah di percetakan Utsman Bey dijual secara massal kepada seorang pedagang Yahudi. 

Lembaran-lembaran yang berisi wahyu ilahi itu kemudian berakhir di pasar-pasar, ditekuk dan direkatkan menjadi kantong kertas pembungkus barang belanjaan. Ketika umat Islam yang terluka melayangkan protes, mereka membentur tembok hukum yang asing:

"Jaksa penuntut umum menyatakan bahwa hukum Turki tidak menghukum tindakan semacam itu."

Inilah wajah sekularisme absolut di masa itu; sebuah kondisi di mana sesuatu yang suci kehilangan perlindungan hukumnya karena negara menganggapnya tak lebih dari sekadar kertas bekas.


Generasi yang Hilang: Antara Statistik dan Tragedi di Prancis

Penghapusan "Pengetahuan Agama" dari kurikulum sekolah pada tahun 1933 bukan sekadar kebijakan administratif, melainkan upaya pemutusan saraf identitas. Statistik berbicara dengan nada yang mengerikan: antara tahun 1926 hingga 1940, di seluruh wilayah Republik, hanya ada 287 orang yang berhasil lulus dari kursus hafalan Al-Qur'an.

Negara sedang memanen sebuah generasi yang secara teknis modern, namun buta secara spiritual.

Kerapuhan ini mewujud dalam sebuah kisah pilu di Paris pada dekade 1930-an. Seorang mahasiswa Turki peraih beasiswa master meninggal dunia akibat kecelakaan. Di tengah kedukaan, rekan-rekan sesama mahasiswa Turki yang mendampinginya tertegun di depan jenazah; tidak satu pun dari mereka tahu cara memandikan, mengkafani, apalagi menyalatkan rekan mereka.

Ironisnya, mereka terpaksa meminta bantuan seorang pendeta Armenia—mantan warga Utsmaniyah yang masih menyimpan memori tentang tradisi—untuk memakamkan sang mahasiswa sesuai tata cara Kristen.

Bahkan, bagi mereka yang mencoba menjaga api tradisi, tangan besi negara selalu mengintai.

Emin, putra dari penyair nasional besar Mehmet Akif Ersoy, harus merasakan dinginnya sel penjara militer pada tahun 1930-an hanya karena ia berani mengajarkan tafsir Al-Qur'an di lingkungan militer.


Kematian Fikih dan Deklarasi "Ayat yang Tak Lagi Berlaku"

Eksperimen sekularisme ini mencapai puncaknya di koridor akademik yang steril. Saat meresmikan Fakultas Teologi di Ankara pada tahun 1949, Perdana Menteri Şemsettin Günaltay mengambil langkah radikal dengan menghapus mata kuliah Fikih Islam dari kurikulum. 

Logika yang mendasarinya bukan lagi sekadar pemisahan agama dan negara, melainkan sebuah deklarasi "kadaluwarsa" terhadap wahyu.

Sebagaimana dicatat oleh Falih Rıfkı Atay, sang Perdana Menteri menyatakan dengan penuh keyakinan:

"Aku sengaja tidak memasukkan mata kuliah Islam dan Fikih ke dalam fakultas ini. Sebab, Fikih didasarkan pada ayat-ayat Al-Qur'an yang mengatur hubungan duniawi, dan seluruh ayat tersebut kini sudah tidak lagi berlaku di Turki."


Standarisasi Identitas: Kekerasan di Balik Estetika Barat

Westernisasi di Turki tidak terjadi melalui persuasi, melainkan melalui dekrit dan eksekusi. Ataturk percaya bahwa bangsa yang berpegang pada tradisi "usang" tidak akan mampu mempertahankan wujudnya di dunia modern. 

Segala hal yang dianggap "reaksioner" harus dihancurkan demi peradaban Barat.

1924: Penutupan seluruh madrasah melalui UU Penyatuan Pendidikan.

1925: Pelarangan topi Terbus dan kewajiban mengenakan topi serta pakaian Barat.

1928: Penghapusan bahasa Arab dan Persia dari kurikulum, serta penggantian alfabet Arab ke Latin.

1930-1933: Penghapusan total pendidikan agama di seluruh sekolah.

Kebijakan ini ditegakkan dengan otoriterisme yang berdarah. Pada 13 Juli 1926, 15 orang digantung di muka umum sebagai peringatan. Puncaknya pada tahun 1930, sebanyak 800 orang anti-Kemalis ditangkap dan dihukum mati.

Revolusi ini bukanlah sekadar perubahan gaya busana, melainkan operasi bedah identitas yang dilakukan tanpa bius.


Kritik A. Hassan: Agama sebagai "Perabot" dan Logika Penindasan

Dari kejauhan, ulama besar Indonesia, A. Hassan, mengamati kehancuran tradisi ini dengan tajam. Ia melihat pemujaan terhadap Ataturk di tanah air sebagai sebuah kekeliruan teologis.

Hassan tidak segan menyebut Ataturk sebagai sosok "pemabok" dan "hobi dansa" yang gaya hidupnya kontras dengan nilai spiritual umat yang dipimpinnya.

Namun, kritik intelektual Hassan yang paling mendalam adalah mengenai konsep "perabot". Menurutnya, jika sebuah negara menjadikan agama hanya sebagai alat kepentingan, maka yang salah adalah penguasanya, bukan agamanya.

Ia menolak logika bahwa agama harus dipisahkan dari negara hanya karena potensi penyalahgunaan oleh penguasa zalim. Bagi Hassan, hukum buatan manusia justru memberikan ruang yang lebih luas bagi tiran untuk menindas:

"Tidakkah pembaca perhatikan, berapa banyak raja-raja, orang-orang zalim dan orang-orang tangan besi menggunakan hukum negara bikinan manusia untuk memeras, menindas, dan menganiaya rakyat? Lihatlah Perancis sebelum revolusi besar, lihatlah Rusia sebelum dan sesudah komunis... betapa mudah mereka itu membuat hukum yang sewaktu-waktu diperlukan untuk menindas rakyat!"

Hassan menyimpulkan bahwa Eropa memisahkan gereja dan negara karena Kristen memang tidak memiliki konsep pemerintahan yang komprehensif sejak zaman Nabi Isa, sementara Islam memiliki fondasi tersebut.

Baginya, apa yang terjadi di Turki bukan sekadar modernisasi, melainkan reduksi agama menjadi sekadar "perabot" yang bisa dibuang kapan saja.

Eksperimen Turki meninggalkan sebuah parut besar dalam sejarah peradaban Islam. Ia adalah pengingat bahwa kemajuan material yang dicapai dengan cara mencabut akar spiritual akan menciptakan sebuah bangsa yang limbung di tengah arus zaman.

Ketika jembatan tradisi itu patah, yang tersisa hanyalah kekosongan identitas yang harus dibayar mahal oleh generasi-generasi setelahnya.

Kini, di tengah dunia yang terus berubah, kita dipaksa untuk kembali merenungkan sebuah pertanyaan yang menghantui: Dapatkah sebuah bangsa benar-benar disebut "maju" jika ia membangun masa depannya di atas puing-puing jati diri spiritual yang ia hancurkan sendiri?

Islamisasi Persoalan Palestina Di antara hal yang mesti dilakukan da...

Islamisasi Persoalan Palestina
Di antara hal yang mesti dilakukan dalam rangka pembinaan intelektual ini adalah mengaitkan persoalan Palestina dengan akarnya yang asli, yakni Islam, lalu mengalihkannya dari sekadar persoalan kebangsaan yang sempit menjadi persoalan yang lebih luas.

Barangkali di antara para cerdik pandai kita ada yang menganggap bahwa islamisasi persoalan Palestina ini akan terlalu riskan bagi persoalan yang kita hadapi. Hal itu disebabkan karena dunia sekarang ini sudah demikian risi manakala agama disebut-sebut dalam persoalan politik. Mereka pasti akan menuduh kita sebagai bangsa reaksioner dan terbelakang. Karena itu, mereka mengharapkan agar persoalan Palestina kita tempatkan semata-mata sebagai persoalan bangsa Arab.

Celakanya, orang-orang yang berpandangan demikian justru adalah orang-orang yang mengatakan bahwa orang-orang Israel telah menempatkan persoalan mereka di atas asas keagamaan, atau setidak-tidaknya menempatkan aspek keagamaan tersebut sebagai pertimbangan utama yang dengan rajin mereka propagandakan ke luar negeri dan ditanamkan secara kuat di dalam negeri mereka sendiri.

Dalam memoir-nya, halaman 17, Weizman mengatakan:

«"Ketika saya menghadap Lord Balfour, Menteri Luar Negeri Inggris, ia segera mengemukakan pertanyaan kepada saya: 'Mengapa Anda tidak bisa menerima bila harus mendirikan negara nasional di Uganda?' Maka saya pun menjawab: 'Kalau dikatakan bahwa Zionis itu adalah gerakan politik kebangsaan, maka hal itu memang benar. Akan tetapi, aspek keagamaan yang ada di dalamnya tak mungkin diabaikan begitu saja. Saya yakin seyakin-yakinnya bahwa apabila kita mengabaikan aspek spiritual ini, niscaya kita tidak mungkin dapat merealisasikan impian politik nasional kita itu.'"»

Itu dikatakan sendiri oleh Weizman tanpa ada seorang pun yang menuduhnya sebagai reaksioner.

Kita sudah berpengalaman lebih dari dua puluh tahun meneriakkan kepada dunia bahwa Palestina itu adalah negeri orang-orang Arab yang dirampok oleh imperialis, yang kemudian diserahkan kepada Zionis. Nah, apakah teriakan-teriakan kita itu bermanfaat? Apakah ada yang mendengarkannya atau tersentuh hatinya untuk mendukung kita?

Sama sekali tidak!

Rahasia dari semuanya itu adalah apa yang dikatakan oleh Sayyid Abdullah al-Tall berikut ini:

«"Imperialisme Barat akan selamanya menertawakan kita sepanjang kita mencoba menyelesaikan persoalan Palestina atas dasar bahwa ia merupakan negeri bangsa Arab yang dirampok oleh imperialisme dan Zionisme. Hal itu disebabkan karena logika kita itu tidak masuk di akal bangsa Amerika yang merupakan pakar paling ulung dalam mendukung imperialisme di dunia ini, dan yang membiayai seluruh hidupnya dengan cara merampok kekayaan bangsa lain. Argumentasi kita yang seperti itu tak mungkin pula bisa diterima oleh bangsa Eropa yang hidup selamanya menghidupi dirinya dengan memeras keringat bangsa lain dan ikut bergabung dengan Amerika dalam gerakan-gerakan imperialismenya.»

«Bangsa Eropa dan Amerika tidak pernah menganggap sebagai suatu kejahatan perampokan-perampokan yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi yang beradab itu (!!) terhadap negara-negara Arab yang primitif, dan mereka pun tidak memandang jahat manakala orang-orang Yahudi itu menumpas orang-orang Palestina sebagaimana halnya dengan bangsa Amerika yang menumpas orang Indian kulit merah.»

«Dan begitu kita mengubah strategi menghadapi pertempuran di Palestina dan menyatakan bahwa Palestina itu tidak saja merupakan negeri bangsa Arab, melainkan milik seluruh 700 juta kaum Muslimin yang berani menebusnya dengan tetesan darah mereka yang penghabisan, karena Palestina itu memang merupakan tanah suci bagi mereka, yang keterikatan mereka dengan negeri ini terbentuk karena ikatan keagamaan dan kesejarahan yang jauh lebih kuat tinimbang ikatan yang diciptakan oleh orang-orang Yahudi melalui dana besar mereka di Palestina, maka saat itu kita pun menjadi kuat dan kendali kekuasaan pasti berada di tangan kita."14)»

Akan tetapi, hal itu menuntut kepada kita untuk menyatakan islamisasi persoalan Palestina dan tidak sekadar islamisasi peradabannya saja. Sebelum kita melakukan islamisasi persoalan kita, tidak bisa tidak kita mesti menyatakan dan memberlakukan islamisasi masyarakat, pemerintahan, dan konsepnya. Kita tidak cukup hanya merombak nasionalisme, sosialisme, atau liberalisme menjadi sistem yang islami.

Selain itu, kita pun tidak bisa tidak harus mengumandangkan seruan dan bekerja keras guna merealisasikan alternatif pemecahan yang islami di masyarakat, sebagai ganti dari solusi sosialisme atau konsep-konsep dan ajaran-ajaran lain sebelumnya.

Tanpa semuanya itu, kita tidak mungkin memperoleh "orang-orang Islam" yang mampu memenangkan perang Palestina, yang dalam pandangan Islam merupakan persoalan mereka. Sebab, ajaran Islam memang menempatkan setiap jengkal tanahnya sebagai tanah air bagi setiap Muslim yang harus ia tebus dengan jiwa dan raganya.

Sampai di sini menjadi jelaslah kepada kita sejauh mana ikatan antara persoalan Palestina dengan persoalan Islam itu sendiri. Persoalan Palestina tidak terpisahkan dari persoalan Islam yang besar, dengan dasar bahwa Islam itu merupakan konsep, akidah, dan manhaj hidup yang mengikat masyarakat serta petunjuk Allah.

Kalaulah tidak karena lemahnya syariat yang menetapkan hukum masyarakat melalui keislaman yang dimiliki oleh para pemeluknya, baik dalam kehidupan sehari-hari mereka maupun dalam pemerintahan mereka yang lebih bercorak sekular, niscaya Zionisme Israel tidak mungkin dapat menemukan tanah di jantung negeri-negeri Islam ini.

Begitu suatu persoalan tentang Islam harus diselesaikan, maka hal itu berarti menyangkut pula persoalan Palestina dan hal-hal lain yang berkaitan dengan itu.

Dan di saat Islam telah menyebarkan akidahnya, syariahnya, akhlak dan konsep-konsepnya, etika dan tradisinya, lalu semuanya terjasadkan dalam diri masyarakat—betapapun sedikit dan kecilnya ia—yang dengan itu terbentuklah satu pemerintahan yang diikat dengan nama Allah, maka pada waktu itu orang-orang Israel pasti tidak akan mampu bertahan lama.

Karena itu, manakala putra-putra Palestina, putra-putra Arab, dan seluruh kaum Muslimin ini bekerja keras untuk membebaskan Palestina dan mengusir musuh-musuh Allah dan musuh-musuh mereka sendiri dari tanah air mereka, maka hendaknya terlebih dahulu mereka membebaskan diri mereka dari penghambaan terhadap sesama manusia dan dari mengambil petunjuk selain petunjuk yang diberikan-Nya. Kemudian, hendaknya mereka sungguh-sungguh kembali kepada Islam.

Inilah jalan yang paling bisa menjamin—sekalipun ia teramat berat untuk dilalui—terbebasnya Palestina.

Sebaliknya, sepanjang persoalan Islam itu sendiri tidak mungkin sejalan dengan pola pikir mereka, dan tidak pula mereka anggap sebagai kewajiban yang mengharuskan mereka menaruh perhatian dan berjihad; sepanjang akidah itu mereka anggap lebih rendah daripada tanah yang mereka pijak, dan syariat Allah lebih ringan ketimbang debu yang beterbangan di kaki mereka, maka sungguh akan jauh—jauh sekali, sejauh panggang dari api—datangnya pertolongan Allah yang dijanjikan-Nya kepada orang-orang yang beriman.

Herzl mengatakan di depan Konferensi Zionis Pertama yang dihadiri oleh tokoh-tokoh mereka:

«"Kembali kita ke Zion ini haruslah didahului dengan kembali kita kepada Yudaisme."»

Dan kalau kaum mukminin boleh mengambil hikmah dari ucapan musuh-musuhnya, maka kita wajib menyerukan kepada umat kita:

«"Kembali kita ke Palestina haruslah didahului dengan kembali kita kepada Islam!"»

Dari Bayang-bayang 9/11 ke Panggung Kekuasaan: Revolusi Sunyi Politik Muslim di Amerika ...


Dari Bayang-bayang 9/11 ke Panggung Kekuasaan: Revolusi Sunyi Politik Muslim di Amerika



Selama dua puluh lima tahun terakhir, komunitas Muslim di Amerika Serikat seolah hidup dalam jeda panjang di bawah mikroskop kecurigaan. Sejak tragedi 11 September, narasi tentang mereka didominasi oleh pengalaman traumatis: pengawasan ketat di bandara, pemantauan masjid oleh agen federal, dan stigma sebagai ancaman keamanan.

Namun, di musim panas tahun 2026, sebuah transformasi besar mencapai puncaknya. Komunitas yang selama ini dipaksa "menundukkan kepala" kini mulai mendongak dan melangkah mantap menuju kotak suara.

Kita sedang menyaksikan sebuah revolusi sunyi, di mana generasi baru Muslim Amerika mulai keluar dari bayang-bayang diskriminasi masa lalu untuk menempati kursi-kursi kekuasaan di jantung pemerintahan adikuasa.


Dearborn: Ibu Kota Arab di Amerika dan Sang Pionir Abdullah Hammoud


Transformasi ini tidak terjadi secara mendadak, melainkan menemukan batu pijakannya di Dearborn, Michigan. Wilayah yang telah lama dijuluki sebagai "Ibu Kota Arab di Amerika" ini memiliki konsentrasi penduduk keturunan Arab tertinggi di negeri ini, yakni sekitar 40.000 jiwa.

Sejarah mencatat bahwa embrio kebangkitan ini dimulai pada November 2021, saat Abdullah Hammoud terpilih sebagai Wali Kota Muslim pertama di kota tersebut.

Terpilihnya Hammoud di usia 31 tahun bukan sekadar kemenangan elektoral lokal, melainkan simbol kuat dari keinginan warga akan perubahan dan kepemimpinan yang berani.

Sebagai pionir, Hammoud berhasil menyatukan kota melalui narasi inovasi yang inklusif di tengah tantangan pemulihan pascapandemi. Dalam pidato kemenangannya, ia menegaskan sebuah pesan yang kemudian bergema ke seluruh penjuru negeri:

“Warga Dearborn berbicara dengan keras. Mereka menginginkan perubahan dan kepemimpinan yang berani untuk mengatasi tantangan yang kita hadapi.”

Kemenangan Hammoud di tahun 2021 menjadi peletak dasar yang memungkinkan gelombang politik Muslim di tahun 2026 bergerak lebih jauh, melampaui batas-batas kota dan menuju panggung nasional.


Dua Kandidat, Satu Misi: Perlawanan Adam Hamawy dan Abdul El-Sayed


Gema dari Dearborn merambat ke tingkat nasional melalui dua sosok intelektual yang lahir di Mesir namun berakar kuat di tanah Amerika.

Keduanya membawa perspektif kemanusiaan yang unik—sebuah "etiket medis"—ke dalam panggung politik yang sering kali terasa dingin dan transaksional.

Adam Hamawy: Seorang ahli bedah tempur purnawirawan Angkatan Darat AS yang pernah bertugas di Irak. Namanya dikenal secara nasional sebagai pahlawan yang menyelamatkan nyawa Senator Tammy Duckworth di medan perang. 

Namun, politik Amerika sering kali ironis; meski menyandang gelar pahlawan perang dan baru saja kembali dari misi sukarelawan medis di Gaza pada 2024, Hamawy tetap menghadapi serangan rasial. Lawan politiknya mencoba membangkitkan stigma lama dengan melabelinya sebagai "ekstremis radikal" hanya karena sejarah kesaksian medisnya di masa lalu.

Abdul El-Sayed: Seorang dokter, cendekiawan Rhodes, dan mantan direktur kesehatan di Detroit.

El-Sayed mencatatkan sejarah dengan memenangkan nominasi Senat Demokrat di Michigan. Ia secara konsisten menyuarakan kritik tajam terhadap bantuan militer AS ke Israel, memandangnya bukan sekadar debat geopolitik, melainkan krisis kesehatan publik yang menyangkut nyawa manusia.

Bagi Hamawy dan El-Sayed, kebijakan luar negeri adalah persoalan etika profesi kedokteran: untuk menyelamatkan nyawa, seseorang harus berani menghentikan sumber luka.


Melawan Dominasi Finansial: Lahirnya Infrastruktur Politik Baru

Selama dekade sebelumnya, banyak kandidat Muslim tumbang karena keterbatasan dana dan serangan masif dari kelompok lobi seperti AIPAC. 

Namun, tahun 2026 menjadi titik balik berkat berdirinya American Priorities, sebuah Super PAC pro-Palestina yang dipimpin oleh Hannah Fertig. Kelompok ini menargetkan pengeluaran sebesar $10 juta untuk melindungi kandidat progresif.

Skala perlawanan ini terasa heroik jika kita melihat angka di lapangan. Di Michigan, kelompok lobi pro-Israel menggelontorkan dana fantastis sebesar $30 juta hanya untuk menjatuhkan Abdul El-Sayed. Namun, dukungan finansial dari tokoh-tokoh teknologi dan pebisnis Muslim AS yang kini telah mapan secara ekonomi menjadi penyeimbang.

El-Sayed berhasil menang dengan selisih tipis 1%, sebuah kemenangan yang membuktikan bahwa idealisme kini memiliki benteng finansial yang cukup kuat untuk melawan dominasi lobi tradisional.


"Mungkin Mereka Melihat Kita Sekarang": Dampak Emosional Representasi

Di balik angka statistik dan strategi politik, terdapat denyut kemanusiaan yang mendalam. Mariam Fouad, seorang pensiunan guru dan relawan aktif di masjid, merasakan perubahan ini sebagai validasi identitas bagi putranya, Mina.

 Ia masih mengingat jelas kepedihan saat Mina, yang baru berusia 14 tahun pasca-tragedi 9/11, pulang dari bandara Newark dengan wajah layu dan bertanya, "Mama, apakah mereka pikir aku teroris?"

Dua dekade kemudian, saat kemenangan politik diraih di tahun 2026, Mina menelepon ibunya dengan nada suara yang berbeda:

"Mama, mungkin mereka melihat kita sekarang... anak-anak saya bisa melihat surat suara dan melihat seseorang yang memiliki nama kami, wajah kami, kisah kami."

Bagi Mariam dan ribuan keluarga lainnya, representasi ini adalah pengakuan bahwa mereka bukan lagi orang asing di tanah air mereka sendiri.

Fakta di Balik Pertumbuhan: Akar yang Menghujam Dalam

Kebangkitan politik ini didorong oleh pertumbuhan sosiologis Islam yang signifikan di Amerika Serikat. Islam kini telah menetapkan posisinya sebagai agama terbesar ketiga di negeri ini.

Menariknya, pertumbuhan ini bukan sekadar fenomena imigrasi; sekitar 50% dari 7 juta Muslim di AS lahir di dalam negeri.

Transformasi fisik tempat ibadah juga menceritakan kisah adaptasi yang luar biasa. Banyak masjid yang kini berdiri merupakan hasil alih fungsi kreatif dari bekas teater, stasiun pemadam kebakaran, hingga gudang. California menjadi pusat pertumbuhan terbesar dengan catatan 227 unit masjid sejak awal milenium.

Selain itu, Islam tumbuh pesat di penjara-penjara AS, di mana sekitar 80% mualafnya adalah keturunan Afrika. Keterkaitan antara populasi mualaf keturunan Afrika ini dengan narasi keadilan sosial menjadi fondasi kuat bagi platform politik yang dibawa oleh para kandidat Muslim saat ini.


Fenomena yang kita saksikan saat ini adalah wujud nyata dari dinamika sejarah yang unik. Mengamati kebangkitan ini, kita seolah melihat "kekuasaan Musa di jantung kerajaan Firaun."

Dari pusat kekuasaan adikuasa yang kebijakan luar negerinya sering kali kontroversial bagi dunia Islam, justru muncul suara-suara internal yang menuntut keadilan bagi kemanusiaan universal.

Kemenangan-kemenangan di tahun 2026 ini membawa kita pada sebuah pertanyaan reflektif: Apakah ini merupakan awal dari perubahan permanen arah kebijakan luar negeri Amerika Serikat, ataukah sekadar anomali sejarah? Satu pelajaran berharga yang bisa dipetik adalah bahwa partisipasi aktif dan keberanian untuk berhenti "menundukkan kepala" telah mampu mengubah stigma menjadi kekuatan politik yang nyata.

Masa depan politik Amerika kini tidak lagi bisa ditulis tanpa menyertakan suara dari komunitas yang telah lama berada di tepian narasi, namun kini berdiri tegak di pusat panggung kekuasaan.

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adam (5) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Akhirat (8) Al-Baqarah (1) Al-Qur'an (362) Al-Qur’an (59) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) An-Nadwi (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bahaya Kemunduran Umat Islam (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (53) Cerita kegagalan (1) cerpen Nabi (8) cerpen Nabi Musa (2) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) dakwah (18) Dakwah (32) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) ekonomi (3) Ekonomi (29) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) english (6) English (6) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fiqh (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (7) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) hikmah (1) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum (2) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) ikhtilaf (1) Ikhtilaf (2) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) Islam (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) kecerdasan (22) Kecerdasan (341) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Hadist (4) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) kisah para nabi dan (2) kisah para nabi dan rasul (61) kisah para Nabi dan Rasul (1) Kisah para nabi dan rasul (118) Kisah Para Nabi dan Rasul (577) kisah para nabi dan rasul. Nabi Daud (1) kisah para nabi dan rasul. nabi Musa (2) Kisah Penguasa (1) Kisah ulama (1) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) nabi adam (1) Nabi Adam (75) nabi Adam. Adam (1) Nabi Ayub (1) Nabi Daud (3) Nabi Ibrahim (3) Nabi Isa (2) nabi Isa. nabi ismail (1) Nabi Ismail (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Khidir (1) Nabi Musa (29) Nabi Nuh (6) Nabi Sulaiman (2) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (15) Namrudz (2) Nasrulloh Baksolahar (1) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) nusantara (11) Nusantara (315) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (757) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) politik (1) Politik (11) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rasulullah shalallahu alaihi wassalam (1) Rehat (493) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) Sahabat (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) Salimul Aqidah (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Serah Nabawiyah (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (338) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah penguasa (11) Sirah Penguasa (248) sirah Sahabat (2) Sirah Sahabat (173) Sirah Tabiin (43) Sirah ulama (36) Sirah Ulama (158) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tamim Ad Dari (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Wakaf (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)