Karakteristik Ajaran Islam
«“Shibghah Allah. Dan siapakah yang lebih baik shibghahnya daripada Allah?”
(QS. Al-Baqarah [2]: 138)»
1. Jika Islam Adalah “Shibghah”, Apa yang Membuatnya Berbeda?
Apa yang sesungguhnya membedakan Islam dari konsep-konsep kehidupan lainnya?
Apakah hanya seperangkat ritual?
Apakah hanya kumpulan hukum?
Ataukah Islam memiliki suatu karakter dasar yang memberikan warna tersendiri kepada seluruh ajaran, nilai, hukum, dan pandangan hidupnya?
Di sinilah konsep shibghah Allah menjadi penting.
Shibghah berarti celupan atau warna. Ia menggambarkan bagaimana seseorang menerima warna tertentu sehingga warna tersebut memengaruhi seluruh penampilan dan identitasnya.
Demikian pula Islam.
Islam bukan sekadar sesuatu yang ditempelkan pada kehidupan manusia. Islam memberikan warna kepada cara manusia berpikir, merasa, memilih, bertindak, membangun keluarga, mengelola ekonomi, menyusun masyarakat, dan memandang kehidupan.
Namun dari seluruh karakteristik Islam yang begitu banyak, apakah ada satu karakter utama yang menjadi sumber semuanya?
Ada.
Karakteristik itu adalah kerabbaniannya.
Islam adalah konsep yang rabbani—bersumber dari Allah, Tuhan yang menciptakan manusia sekaligus mengetahui hakikat manusia.
Maka Islam datang bukan sebagai hasil eksperimen manusia, bukan sebagai produk suatu zaman, dan bukan sebagai sistem yang harus terus-menerus diperbaiki karena keterbatasan pengetahuan penciptanya.
Manusialah yang harus membentuk dirinya dengan Islam.
Bukan Islam yang harus dibentuk mengikuti selera manusia.
---
2. Siapa yang Harus Berkembang: Islam atau Manusia?
Di sini terdapat sebuah pertanyaan penting.
Jika manusia terus berkembang, apakah ajaran Islam juga harus terus berubah?
Jawabannya perlu dibedakan dengan cermat.
Dalam pandangan ini, esensi konsep Islam tidak berkembang, tetapi manusialah yang berkembang dalam kerangka Islam.
Mengapa?
Karena sumber Islam dan sumber penciptaan manusia adalah sama: Allah.
Allah yang menciptakan manusia mengetahui tabiat manusia.
Allah mengetahui kebutuhan manusia.
Allah mengetahui kelemahan manusia.
Allah mengetahui perubahan zaman.
Allah juga mengetahui perkembangan kehidupan manusia dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Karena itu, Islam memberikan prinsip-prinsip yang tetap, sementara manusia terus berkembang di dalam ruang yang diberikan oleh prinsip-prinsip tersebut.
Bayangkan sebuah kapal yang terus bergerak.
Apakah kapal tidak membutuhkan arah hanya karena ia bergerak?
Justru karena ia bergerak, ia membutuhkan arah.
Demikian pula kehidupan manusia.
Perubahan tidak berarti kehilangan prinsip.
Kemajuan tidak berarti membuang pedoman.
Perkembangan tidak berarti meniadakan batas.
Manusia boleh berkembang dalam ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, budaya, dan berbagai bentuk kehidupan. Tetapi perkembangan itu tetap membutuhkan orientasi agar tidak berubah menjadi kekacauan.
---
3. Mengapa Sistem Buatan Manusia Terus Berubah?
Sekarang bandingkan dengan konsep-konsep yang sepenuhnya dibuat manusia.
Mengapa sistem manusia sering membutuhkan perubahan?
Karena manusia memiliki keterbatasan.
Manusia hanya melihat sebagian realitas.
Manusia memiliki pengetahuan yang terbatas.
Manusia dipengaruhi pengalaman, lingkungan, kepentingan, tradisi, emosi, dan hawa nafsu.
Sebuah sistem yang dirancang manusia mungkin sangat baik dalam menjawab persoalan pada suatu tempat dan zaman. Tetapi ketika kondisi berubah, sistem tersebut mungkin tidak lagi mampu menjawab persoalan baru.
Akibatnya, ia perlu direvisi.
Kadang-kadang diperbaiki.
Kadang-kadang dirombak.
Bahkan dalam kondisi tertentu, harus diganti secara total.
Mengapa?
Karena manusia yang membuatnya tidak memiliki pengetahuan yang sempurna tentang masa depan.
Di sinilah konsep rabbani berbeda.
Allah tidak memiliki keterbatasan seperti manusia.
Dia tidak belajar setelah sebelumnya tidak mengetahui.
Dia tidak memilih karena tekanan kepentingan.
Dia tidak dipengaruhi hawa nafsu.
Dia mengetahui manusia secara sempurna karena Dialah Pencipta manusia.
Maka, menurut kerangka pemikiran ini, prinsip-prinsip dasar Islam tidak membutuhkan perubahan mengikuti setiap perubahan zaman.
Justru manusialah yang harus menemukan cara menerapkan prinsip yang tetap itu dalam kondisi yang terus berubah.
---
4. Bergerak, tetapi Tidak Kehilangan Orbit
Ada sebuah analogi yang sangat menarik.
Gerak merupakan salah satu hukum alam.
Planet bergerak.
Bintang bergerak.
Benda-benda langit bergerak dalam orbitnya.
Tetapi apakah gerakan itu bebas tanpa aturan?
Tidak.
Justru keteraturan gerak itulah yang memungkinkan alam semesta tetap berlangsung.
Bayangkan sebuah planet keluar dari orbitnya.
Apa yang terjadi?
Keteraturan berubah menjadi kekacauan.
Begitu pula kehidupan manusia.
Manusia harus bergerak.
Manusia harus berkembang.
Manusia harus maju.
Tetapi gerak tidak sama dengan kebebasan tanpa batas.
Manusia membutuhkan orbit moral.
Ia membutuhkan poros.
Ia membutuhkan batas.
Di sinilah konsep rabbani berfungsi.
Islam bukan tembok yang menghalangi kehidupan manusia untuk bergerak. Islam adalah orbit yang menjaga gerakan manusia agar tidak berubah menjadi kehancuran.
Maka prinsip Islam dapat dibayangkan sebagai poros yang tetap, sementara kehidupan manusia terus bergerak mengelilinginya.
Prinsipnya tetap.
Konteksnya berubah.
Tantangannya berubah.
Teknologinya berubah.
Manusianya berkembang.
Tetapi orientasi dasarnya tidak kehilangan arah.
---
5. Islam Tidak Membutuhkan “Tambalan” dari Luar
Jika Islam berasal dari Allah, lalu apakah Islam membutuhkan sistem lain untuk menyempurnakannya?
Dalam kerangka pemikiran ini, jawabannya adalah tidak.
Islam merupakan konsep yang sempurna dan integral.
Ia tidak membutuhkan tambahan dari luar agar menjadi lengkap.
Justru Islam datang kepada manusia untuk membentuk, meluruskan, mengembangkan, dan mengarahkan manusia.
Islam tidak datang untuk mematikan potensi manusia.
Sebaliknya, Islam datang untuk membangkitkannya.
Akal tidak dimatikan.
Hati tidak diabaikan.
Potensi manusia tidak disia-siakan.
Kreativitas tidak dihentikan.
Semua potensi itu diarahkan agar bekerja secara positif dan konstruktif.
Pertanyaannya bukan:
“Apakah manusia bebas?”
Tetapi:
“Untuk apa kebebasan itu digunakan?”
Bukan:
“Apakah manusia boleh berkembang?”
Tetapi:
“Ke arah mana perkembangan itu dibawa?”
Bukan:
“Apakah manusia boleh menggunakan akalnya?”
Tetapi:
“Apakah akal itu digunakan untuk menemukan kebenaran atau justru membenarkan hawa nafsu?”
Dengan demikian, Islam tidak memusuhi kemajuan.
Islam menghendaki kemajuan yang memiliki arah.
---
6. Islam sebagai Konsep yang Mandiri
Karena itu, konsep Islam memiliki kemandirian.
Ia mempunyai sumber nilai sendiri.
Ia mempunyai ukuran sendiri.
Ia mempunyai prinsip sendiri.
Ia mempunyai tujuan sendiri.
Ia tidak harus meminjam identitas dari konsep lain agar menjadi sah.
Di sinilah pentingnya memahami Islam sebagai sistem yang memiliki kepribadian dan karakter khas.
Jika Islam memiliki sumber nilai yang berbeda, apakah tepat apabila seluruh ukuran kebenarannya harus ditentukan oleh ukuran yang berasal dari luar Islam?
Jika Islam memiliki cara pandang sendiri terhadap manusia, Tuhan, kehidupan, masyarakat, dan tujuan hidup, apakah tepat jika ia hanya dianggap benar setelah mendapatkan legitimasi dari suatu ideologi lain?
Pertanyaan ini membawa kita kepada persoalan metodologi.
Bagaimana seharusnya kita mengkaji Islam?
---
7. Jangan Mengukur Islam dengan Timbangan yang Bukan Miliknya
Ada kesalahan metodologis yang perlu dihindari:
mengambil begitu saja ukuran yang lahir dari konsep lain lalu menggunakannya untuk menilai Islam.
Mengapa hal ini bermasalah?
Karena setiap konsep memiliki asumsi dasarnya sendiri.
Jika sebuah sistem memandang manusia semata-mata sebagai makhluk material, tentu ia akan memiliki ukuran kesejahteraan yang berbeda dengan Islam yang memandang manusia sebagai makhluk material sekaligus spiritual.
Jika sebuah sistem memandang kebebasan sebagai kebebasan tanpa batas, tentu definisi kebebasannya berbeda dengan Islam yang menghubungkan kebebasan dengan tanggung jawab kepada Allah.
Jika sebuah sistem memandang keberhasilan hanya dari pertumbuhan materi, tentu ukuran keberhasilannya berbeda dengan Islam yang memasukkan dimensi moral dan akhirat.
Maka kita harus berhati-hati.
Jangan mengambil kesimpulan tentang Islam dengan menggunakan asumsi dasar yang justru bertentangan dengan Islam.
Ini bukan berarti Islam menolak semua pengetahuan dari luar.
Bukan.
Manusia tetap dapat belajar dari pengalaman manusia lain, ilmu pengetahuan, teknologi, sejarah, dan berbagai temuan yang bermanfaat.
Namun ada perbedaan antara mengambil pengetahuan dan menyerahkan sumber nilai.
Pengetahuan empiris dapat dipelajari dari mana saja.
Tetapi ukuran halal-haram, benar-salah secara wahyu, dan orientasi akhir kehidupan tidak diserahkan kepada sistem yang berdiri di luar wahyu.
---
8. Kepada Siapa Nilai Harus Dikembalikan?
Jika terjadi perselisihan tentang suatu persoalan, apa rujukannya?
Al-Qur'an memberikan prinsip:
«“Kemudian jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul, jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama bagimu dan lebih baik akibatnya.”
(QS. An-Nisa' [4]: 59)»
Ayat ini memberikan sebuah metodologi.
Ketika manusia berbeda pendapat, ia tidak hanya mencari pendapat yang paling populer.
Tidak pula semata-mata mencari pendapat yang paling menguntungkan.
Ia mengembalikan persoalan kepada Allah dan Rasul-Nya.
Dengan demikian, Al-Qur'an dan Sunnah bukan sekadar sumber informasi keagamaan.
Keduanya menjadi rujukan nilai dan orientasi kehidupan.
Dari sinilah akal dan hati seorang Muslim dibentuk.
Dari sinilah ukuran benar dan salah diarahkan.
Dari sinilah perilaku memperoleh orientasi.
---
9. Islam sebagai “Shibghah”
Pada akhirnya, kita kembali kepada firman Allah:
«“Shibghah Allah. Dan siapakah yang lebih baik shibghahnya daripada Allah?”
(QS. Al-Baqarah [2]: 138)»
Apa makna terdalamnya bagi kehidupan?
Islam bukan sekadar sesuatu yang diketahui.
Islam harus menjadi sesuatu yang mewarnai.
Mewarnai cara berpikir.
Mewarnai cara merasa.
Mewarnai cara bekerja.
Mewarnai cara menggunakan kekayaan.
Mewarnai cara memimpin.
Mewarnai cara memperlakukan manusia.
Mewarnai cara menghadapi perubahan.
Dan bahkan mewarnai cara seseorang memahami keberhasilan dan kegagalan.
Seseorang mungkin menguasai banyak teori Islam, tetapi apakah Islam telah menjadi shibghah dalam hidupnya?
Seseorang mungkin mampu berbicara tentang tauhid, tetapi apakah tauhid telah menentukan cara ia mengambil keputusan?
Seseorang mungkin memahami syariat, tetapi apakah syariat telah membentuk perilakunya?
Di sinilah perbedaan antara mengetahui Islam dan menjadi manusia yang dibentuk oleh Islam.
---
10. Prinsip Tetap, Kehidupan Bergerak
Dari seluruh pembahasan ini, kita dapat menarik satu prinsip besar:
Islam tidak harus berubah setiap kali dunia berubah. Manusialah yang harus belajar menerapkan prinsip Islam dalam dunia yang terus berubah.
Teknologi berubah.
Ekonomi berubah.
Politik berubah.
Budaya berubah.
Pola komunikasi berubah.
Bentuk pekerjaan berubah.
Tantangan manusia berubah.
Namun manusia tetap membutuhkan keadilan.
Tetap membutuhkan kejujuran.
Tetap membutuhkan amanah.
Tetap membutuhkan keluarga.
Tetap membutuhkan tanggung jawab.
Tetap membutuhkan makna.
Dan tetap membutuhkan hubungan dengan Penciptanya.
Karena itu, prinsip yang bersumber dari Allah menjadi poros, sementara kreativitas manusia menjadi gerak.
Tanpa prinsip, gerak menjadi liar.
Tanpa gerak, prinsip hanya menjadi gagasan yang tidak diwujudkan.
Maka kehidupan Islam membutuhkan keduanya:
keteguhan pada prinsip dan keluwesan dalam penerapan.
---
Penutup: Siapa yang Sebenarnya Harus Berubah?
Pada akhirnya, pertanyaan ini layak kita renungkan:
Apakah Islam harus mengikuti setiap perubahan manusia?
Ataukah manusia yang harus belajar menemukan bentuk terbaik kehidupannya dalam bimbingan Islam?
Jika Islam adalah shibghah Allah, maka jawabannya menjadi jelas.
Islam bukan warna yang berubah mengikuti manusia.
Manusialah yang seharusnya dicelupkan ke dalam warna Islam.
Islam datang bukan karena manusia telah sempurna.
Islam datang justru untuk membentuk manusia.
Bukan untuk mematikan gerak kehidupan, tetapi untuk memberinya arah.
Bukan untuk menghambat kemajuan, tetapi untuk menjaganya agar tidak kehilangan tujuan.
Bukan untuk menggantikan akal, tetapi untuk membimbing akal.
Bukan untuk menghapus kebebasan, tetapi untuk mengajarkan manusia menggunakan kebebasan dengan tanggung jawab.
Dan bukan untuk menjadikan manusia berhenti berkembang, tetapi agar setiap perkembangan tetap berada dalam orbit kebenaran.
Manusia bergerak. Dunia berubah. Peradaban berkembang.
Tetapi selama manusia tetap membutuhkan arah, selama itu pula ia membutuhkan petunjuk dari Allah.
Itulah makna terdalam dari shibghah Allah:
bukan sekadar memiliki identitas Islam, tetapi membiarkan Islam memberi warna kepada seluruh kehidupan.
Link Kami
Beberapa Link Kami yang Aktif