basmalah Pictures, Images and Photos
Our Islamic Story

Choose your Language

Pengaruh Perang Gaza bagi Kegagalan Geopolitik Israel Tak Ada Waktu untuk Pecundang Ketika Donald Trump dan Benjamin Netanyahu...



Pengaruh Perang Gaza bagi Kegagalan Geopolitik Israel
Tak Ada Waktu untuk Pecundang

Ketika Donald Trump dan Benjamin Netanyahu melancarkan agresi militer terhadap Iran, keyakinan yang dibangun di awal tampak sederhana: perang cepat, kemenangan tegas, dan pemulihan daya gentar Israel. Netanyahu bahkan diyakini meyakinkan Washington bahwa operasi ini akan menata ulang Timur Tengah dan mengembalikan dominasi strategis Israel.

Namun, seperti yang sering terjadi dalam sejarah, perang tidak berjalan sesuai rencana para perancangnya.

Sejak lama, sebagian kalangan strategis Israel menganut konsep “penghancuran kreatif”—sebuah pendekatan yang bertujuan melemahkan negara-negara regional agar kawasan terfragmentasi dan mudah dikendalikan. Gagasan ini pernah dirumuskan dalam dokumen A Clean Break (1996), yang mendorong pelemahan negara seperti Irak dan Suriah.

Dalam beberapa dekade, strategi ini tampak berhasil. Invasi Amerika ke Irak tahun 2003 menggulingkan Saddam Hussein dan menghancurkan struktur militer negara tersebut. Suriah kemudian terjerumus dalam perang panjang, sementara Libya runtuh pasca intervensi NATO. Negara-negara Arab yang dulunya kuat berubah menjadi rapuh atau terpecah.

Bagi Israel, ini adalah keuntungan strategis. Tanpa lawan regional yang solid, ruang diplomasi terbuka. Hal ini terlihat dalam Kesepakatan Abraham 2020 yang menormalisasi hubungan Israel dengan sejumlah negara Arab.

Namun, perang Gaza mengubah seluruh lanskap ini.

Alih-alih memperkuat posisi Israel, perang di Gaza justru membuka kerentanan mendalam. Kekuatan militer yang besar tidak mampu menghasilkan kemenangan politik yang menentukan. Perlawanan Palestina tetap bertahan, menunjukkan bahwa dominasi militer tidak otomatis berarti kontrol strategis.

Dampaknya meluas jauh melampaui medan tempur. Dunia menyaksikan gelombang solidaritas global terhadap Palestina. Citra internasional Israel mengalami penurunan drastis. Narasi lama sebagai “negara demokrasi yang terkepung” semakin terkikis, digantikan oleh tuduhan penindasan sistematis.

Dalam geopolitik modern, legitimasi adalah bagian dari kekuatan. Ketika legitimasi runtuh, kekuatan militer kehilangan daya tahannya.

Di tengah kondisi ini, perang terhadap Iran menjadi pertaruhan terakhir Netanyahu. Jika berhasil, ia dapat memulihkan dominasi regional. Namun jika gagal, konsekuensinya sangat besar: melemahnya daya gentar Israel dan meningkatnya tekanan internasional.

Masalahnya, tanda-tanda awal menunjukkan bahwa perang tidak berjalan sesuai harapan. Sistem pertahanan menghadapi tekanan, sementara kemampuan militer Iran dan sekutunya jauh lebih kompleks dari yang diperkirakan. Konflik yang dirancang cepat mulai berubah menjadi perang berkepanjangan.

Bagi Amerika Serikat, situasi ini juga paradoks. Trump yang dahulu mengkritik “perang tanpa akhir” kini justru membawa negaranya ke dalam konflik baru. Padahal dunia telah berubah: Cina bangkit sebagai kekuatan ekonomi global, dan Rusia terus memperluas pengaruhnya. Dominasi tunggal Amerika tidak lagi seperti dua dekade lalu.

Dalam konteks ini, perang bukan lagi alat dominasi yang efektif, tetapi justru dapat mempercepat penurunan pengaruh.

Retorika keras dari para pemimpin pun semakin menunjukkan kegelisahan. Dalam banyak kasus sejarah, kemarahan politik bukan tanda kekuatan, melainkan gejala ketidakpastian.

Pada akhirnya, perang Gaza telah menjadi titik balik penting. Ia tidak hanya mengguncang strategi Israel, tetapi juga membuka batas-batas kekuatan militer dalam menghadapi realitas politik dan moral global.

Sejarah mengajarkan satu hal yang konsisten: perang yang dibangun di atas ilusi kemenangan cepat sering kali berakhir sebagai beban panjang yang menghancurkan pelakunya sendiri. Dan dalam perubahan besar yang sedang berlangsung, Israel dan sekutunya mungkin sedang menghadapi kenyataan pahit itu—bahwa kekuatan tanpa legitimasi tidak akan mampu bertahan lama.

Adakah Bangsa yang Kuat Bila Terus Bertempur? Belajar dari Perang Paregreg Majapahit Rencana mobilisasi besar-besaran pasukan ca...

Adakah Bangsa yang Kuat Bila Terus Bertempur? Belajar dari Perang Paregreg Majapahit

Rencana mobilisasi besar-besaran pasukan cadangan di Lebanon oleh Israel kembali memunculkan pertanyaan klasik dalam sejarah politik dan militer: apakah sebuah bangsa dapat tetap kuat jika hidup dalam perang tanpa henti?

Laporan media Israel menyebutkan bahwa pemerintah sedang mempertimbangkan mobilisasi sekitar 450.000 tentara cadangan, jauh di atas batas sebelumnya yang sekitar 260.000 personel. Langkah tersebut dikaitkan dengan meningkatnya ketegangan di perbatasan dengan Lebanon serta kemungkinan operasi darat terhadap kelompok bersenjata di wilayah itu, terutama Hezbollah.

Jika rencana ini disetujui, mobilisasi tersebut akan menjadi salah satu pengerahan cadangan terbesar dalam sejarah militer Israel. Hal ini menunjukkan bahwa konflik yang berlangsung di kawasan tersebut berpotensi semakin meluas dan berkepanjangan.

Namun sejarah menunjukkan bahwa perang yang berlangsung terus-menerus jarang menjadi fondasi kekuatan jangka panjang sebuah bangsa. Bahkan kekuatan besar sekalipun sering melemah ketika energi nasionalnya terlalu lama terserap oleh konflik.

Contoh modern dapat dilihat pada pengalaman Amerika Serikat dalam perang panjang di Irak dan Afghanistan. Setelah peristiwa Serangan 11 September 2001, Washington melancarkan invasi militer yang kemudian berubah menjadi konflik panjang selama dua dekade.

Perang tersebut memang menjatuhkan rezim Saddam Hussein di Irak dan menggulingkan pemerintahan Taliban di Afghanistan pada fase awalnya. Namun konflik yang berkepanjangan justru menelan biaya sangat besar bagi Amerika. Sejumlah penelitian ekonomi memperkirakan biaya perang mencapai triliunan dolar, mencakup operasi militer, logistik, rekonstruksi, dan perawatan veteran.

Ironisnya, setelah dua puluh tahun perang di Afghanistan, Amerika akhirnya menarik pasukannya pada 2021, dan Taliban kembali berkuasa. Banyak analis menilai pengalaman ini sebagai contoh bagaimana perang yang panjang dapat menguras kekuatan ekonomi dan politik bahkan bagi negara adidaya.

Di saat yang sama, dunia juga menyaksikan kebangkitan ekonomi dan teknologi Cina. Sementara Amerika menghabiskan sumber daya besar dalam konflik luar negeri, Cina justru memfokuskan diri pada pembangunan industri, teknologi, dan perdagangan global. Akibatnya, persaingan global antara kedua negara semakin terlihat dalam bidang ekonomi dan teknologi.

Pelajaran serupa sebenarnya sudah tercatat jauh sebelumnya dalam sejarah Nusantara melalui peristiwa Perang Paregreg. Konflik ini terjadi pada akhir abad ke-14 di dalam kerajaan besar Majapahit, ketika dua pusat kekuasaan saling bertempur: kubu barat yang dipimpin oleh Wikramawardhana dan kubu timur yang dipimpin oleh Bhre Wirabhumi.

Perang saudara tersebut berlangsung selama beberapa tahun dan menguras kekuatan kerajaan yang sebelumnya sangat kuat di Asia Tenggara. Perdagangan terganggu, stabilitas politik runtuh, dan wilayah-wilayah taklukan mulai melepaskan diri. Banyak sejarawan melihat Perang Paregreg sebagai titik awal melemahnya Majapahit hingga akhirnya kerajaan besar itu perlahan runtuh.

Sejarah Majapahit memberikan pelajaran penting: kekuatan besar dapat hancur bukan karena satu kekalahan besar, tetapi karena konflik yang terus menguras energinya dari dalam.

Dalam perspektif ini, pertanyaan tentang kekuatan bangsa tidak hanya berkaitan dengan kemampuan militer, tetapi juga dengan kemampuan menjaga stabilitas jangka panjang. Mobilisasi pasukan yang besar mungkin menunjukkan kesiapan bertempur, tetapi perang yang berkepanjangan sering kali membawa konsekuensi yang jauh lebih kompleks: ekonomi melemah, masyarakat terpolarisasi, dan sumber daya nasional terkuras.

Karena itu, sejarah—baik dari pengalaman negara modern maupun kerajaan masa lalu—sering mengajarkan satu hal yang sama: bangsa yang terus hidup dalam perang tanpa henti jarang mampu mempertahankan kejayaannya dalam jangka panjang.

Menaklukkan dengan Minyak di Kuba: Adakah Preseden dalam Sejarah Islam? Krisis energi yang melanda Kuba kembali memperlihatkan b...

Menaklukkan dengan Minyak di Kuba: Adakah Preseden dalam Sejarah Islam?

Krisis energi yang melanda Kuba kembali memperlihatkan bagaimana energi dapat menjadi instrumen tekanan geopolitik. Ketika jaringan listrik nasional negara kepulauan itu runtuh di tengah pembatasan pasokan bahan bakar, jutaan warga mengalami pemadaman listrik besar-besaran. Otoritas perusahaan listrik negara, Union Nacional Electrica de Cuba (UNE), menyatakan bahwa keruntuhan sistem listrik membuat hampir seluruh wilayah Kuba tanpa aliran listrik dan memerlukan upaya besar untuk memulihkannya.

Situasi tersebut tidak dapat dilepaskan dari hubungan tegang antara Amerika Serikat dan Kuba yang telah berlangsung lebih dari setengah abad. Sejak masa Fidel Castro, Washington menerapkan embargo ekonomi yang luas terhadap Havana. Kebijakan ini diperketat kembali pada masa pemerintahan Donald Trump, termasuk pembatasan akses Kuba terhadap pasokan minyak dan energi. Langkah tersebut dimaksudkan untuk menekan perekonomian negara itu dan mendorong perubahan politik di Havana.

Beberapa laporan media internasional seperti Al Jazeera dan Reuters mencatat bahwa pembatasan energi memperburuk kondisi ekonomi Kuba yang sudah rapuh. Ketika pasokan bahan bakar berkurang, pembangkit listrik tidak mampu beroperasi secara stabil. Akibatnya, pemadaman listrik meluas di berbagai kota. Ketegangan sosial pun meningkat. Dalam beberapa insiden, pengunjuk rasa dilaporkan membakar kantor partai komunis lokal di kota Moron, sementara aparat keamanan menahan sejumlah orang yang dituduh melakukan vandalisme.

Lembaga internasional seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa juga pernah menyoroti dampak kemanusiaan dari embargo yang panjang terhadap Kuba. Beberapa pejabat PBB menyebut bahwa pembatasan ekonomi yang ketat dapat mendorong negara tersebut menuju krisis kemanusiaan, terutama ketika pasokan energi, pangan, dan obat-obatan ikut terpengaruh.

Fenomena ini menunjukkan satu bentuk perang modern yang sering disebut perang ekonomi. Dalam perang jenis ini, negara tidak perlu mengirim pasukan atau melancarkan serangan militer langsung. Tekanan terhadap energi, perdagangan, dan sistem keuangan dapat melemahkan negara lawan secara perlahan.

Namun ketika kita menoleh ke dalam sejarah Islam, pendekatan seperti itu justru jarang ditemukan. Dalam banyak peristiwa, Nabi Muhammad ï·º justru menunjukkan sikap yang sangat berbeda terhadap musuhnya.

Ketika kota Mekah mengalami paceklik dan kesulitan pangan, Rasulullah ï·º yang saat itu memimpin komunitas Muslim di Madinah tidak memanfaatkan situasi tersebut untuk menekan atau melemahkan lawannya. Sebaliknya, beliau justru mengirim bantuan kepada penduduk Mekah, meskipun banyak di antara mereka sebelumnya memusuhi dan memerangi kaum Muslimin.

Kisah ini diriwayatkan dalam sejumlah literatur sirah seperti karya Ibnu Hisyam dalam Sirah Nabawiyah serta dalam catatan sejarah klasik seperti Tarikh karya At-Tabari. Dalam riwayat tersebut disebutkan bahwa Rasulullah ï·º memerintahkan pengiriman bahan makanan kepada masyarakat Mekah yang sedang mengalami kesulitan.

Peristiwa ini memberikan pelajaran penting dalam etika kekuasaan dalam Islam. Bahkan terhadap musuh yang pernah mengusir, memerangi, dan memblokade kaum Muslimin, Rasulullah ï·º tetap menunjukkan prinsip kemanusiaan dan belas kasih.

Di sinilah terlihat perbedaan mendasar antara dua paradigma kekuasaan. Dalam politik modern, energi dan ekonomi sering dijadikan alat tekanan untuk memaksa perubahan politik di negara lain. Sementara dalam teladan Nabi Muhammad ï·º, kekuatan justru diiringi dengan rahmat dan kepedulian terhadap kemanusiaan.

Sejarah dengan demikian tidak hanya berbicara tentang siapa yang kuat dan siapa yang lemah. Ia juga mengajarkan bagaimana kekuatan itu digunakan: apakah untuk menekan dan melemahkan, atau untuk menolong bahkan kepada mereka yang pernah menjadi lawan.

Serangan Amerika terhadap Irak dan Afghanistan: Menguntungkan Amerika? Hikmah Surat Al-Anfal  ayat 36 Ketika Amerika Serikat mel...


Serangan Amerika terhadap Irak dan Afghanistan: Menguntungkan Amerika? Hikmah Surat Al-Anfal  ayat 36


Ketika Amerika Serikat melancarkan invasi ke Afghanistan pada 2001 dan ke Irak pada 2003, dunia melihatnya sebagai demonstrasi kekuatan militer terbesar abad modern. Operasi tersebut dilandasi oleh berbagai alasan: perang melawan terorisme setelah Serangan 11 September 2001, dugaan senjata pemusnah massal di Irak, serta ambisi menata ulang geopolitik Timur Tengah. Namun setelah dua dekade berlalu, muncul pertanyaan yang semakin sering diajukan para analis: apakah perang itu benar-benar menguntungkan Amerika?

Dari sisi militer, Amerika memang berhasil menjatuhkan dua rezim dengan cepat. Rezim Saddam Hussein di Irak runtuh hanya dalam hitungan minggu, sementara pemerintahan Taliban di Afghanistan juga tumbang pada fase awal perang. Pada tahap ini, kekuatan militer Amerika tampak tak tertandingi. Tetapi sejarah tidak berhenti pada kemenangan awal.

Setelah invasi, kedua negara justru berubah menjadi medan konflik berkepanjangan. Di Irak, perang memicu kekacauan politik, konflik sektarian, serta munculnya kelompok-kelompok militan baru. Di Afghanistan, perang yang dimaksudkan untuk menghancurkan Taliban berubah menjadi konflik terpanjang dalam sejarah militer Amerika. Ironisnya, setelah dua puluh tahun operasi militer dan biaya yang sangat besar, Taliban kembali berkuasa pada 2021 setelah penarikan pasukan Amerika.

Dari sisi ekonomi, biaya perang ini sangat besar. Banyak penelitian menunjukkan bahwa total biaya perang di Irak dan Afghanistan mencapai triliunan dolar. Dana tersebut mencakup operasi militer, logistik, rekonstruksi, serta perawatan veteran perang. Bagi sebagian perusahaan kontraktor militer dan industri senjata, perang ini memang menghasilkan keuntungan besar. Namun bagi negara secara keseluruhan, perang tersebut menjadi beban finansial yang sangat berat.

Dampak strategisnya juga tidak selalu sesuai dengan tujuan awal Washington. Invasi ke Irak justru membuka ruang bagi meningkatnya pengaruh Iran di kawasan. Sementara perang panjang di Afghanistan memperlihatkan keterbatasan kekuatan militer dalam menghadapi konflik gerilya dan perlawanan ideologis.

Banyak analis geopolitik menyimpulkan bahwa perang tersebut bukan hanya mengubah wajah Timur Tengah, tetapi juga melemahkan posisi moral dan strategis Amerika di mata dunia. Ketika perang berlangsung lama tanpa kemenangan yang jelas, legitimasi global Amerika pun ikut tergerus.

Fenomena ini sebenarnya mengingatkan pada sebuah prinsip yang telah lama ditegaskan dalam Al-Qur’an: bahwa makar dan rencana orang-orang yang menentang kebenaran sering kali berbalik menghancurkan diri mereka sendiri. Allah berfirman:

"Sesungguhnya orang-orang kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Mereka akan terus menafkahkannya, kemudian itu akan menjadi penyesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan."
(QS. Al-Anfal: 36)

Ayat ini menggambarkan sebuah hukum sejarah: kekuatan yang dibangun untuk menindas atau menguasai secara zalim sering kali berujung pada kerugian bagi pelakunya sendiri. Upaya yang tampak kuat di awal dapat berubah menjadi sumber kelelahan, kerugian, dan penyesalan di akhir.

Dua puluh tahun perang di Irak dan Afghanistan memberikan gambaran nyata tentang hukum sejarah tersebut. Kemenangan militer yang cepat tidak selalu berarti kemenangan strategis. Biaya perang yang sangat besar, instabilitas kawasan, serta perubahan keseimbangan kekuatan regional menunjukkan bahwa dampak perang jauh lebih kompleks daripada sekadar kemenangan di medan tempur.

Pada akhirnya, sejarah sering memperlihatkan satu pelajaran penting: kekuatan yang digunakan tanpa keadilan sering kali membawa konsekuensi yang tidak pernah diperhitungkan sebelumnya. Dan dalam banyak kasus, konsekuensi itu justru menjadi beban bagi pihak yang memulainya.

Israel Akan Hancur oleh Perang yang Diciptakannya Sendiri Dalam sejarah geopolitik, tidak sedikit negara yang runtuh bukan karen...


Israel Akan Hancur oleh Perang yang Diciptakannya Sendiri


Dalam sejarah geopolitik, tidak sedikit negara yang runtuh bukan karena musuhnya terlalu kuat, tetapi karena perang yang mereka ciptakan sendiri menjadi terlalu banyak. Dalam beberapa tahun terakhir, Israel tampak bergerak ke arah itu: membuka terlalu banyak front sekaligus di Timur Tengah.

Serangan terhadap Iran, operasi militer berulang di Gaza dan Tepi Barat, konflik dengan Lebanon, hingga ketegangan dengan Suriah membentuk satu pola: perang yang tidak pernah benar-benar berhenti.

Perang Melawan Iran: Membuka Seluruh Front Timur Tengah

Ketika Israel dan Amerika Serikat meluncurkan serangan besar terhadap Iran pada Februari 2026, konflik langsung melebar ke seluruh kawasan. Iran membalas dengan ratusan rudal dan drone ke wilayah Israel dan pangkalan Amerika di kawasan. 

Namun yang lebih penting adalah jaringan sekutu Iran di kawasan—yang sering disebut sebagai Axis of Resistance. Kelompok-kelompok yang didukung Iran di Irak, Lebanon, dan Yaman mulai mengancam akan memperluas konflik. 

Milisi Syiah di Irak bahkan mengancam menyerang pangkalan Amerika, sementara kelompok Houthi di Yaman juga memperingatkan akan melakukan serangan terhadap kepentingan Barat. 

Artinya, menyerang Iran tidak hanya berarti perang dengan satu negara. Ia berpotensi membuka konflik simultan di banyak medan: Teluk Persia, Irak, Lebanon, Laut Merah, hingga wilayah Israel sendiri.

Lebanon: Menghidupkan Kembali Semangat Perlawanan

Front paling berbahaya bagi Israel selama ini adalah Lebanon.

Ketika Israel menyerang target Iran, kelompok Hezbollah di Lebanon mulai meluncurkan roket dan drone ke wilayah Israel sebagai balasan atas serangan tersebut. 

Setiap eskalasi di Lebanon selalu membawa risiko perang regional. Lebanon memiliki sejarah panjang perlawanan terhadap invasi Israel sejak perang 1982 hingga konflik 2006. Serangan Israel sering kali tidak memadamkan perlawanan—justru menghidupkannya kembali.

Bagi banyak warga Lebanon, konflik dengan Israel tidak sekadar pertarungan militer, tetapi soal identitas nasional dan kedaulatan.

Gaza dan Tepi Barat: Pabrik Perlawanan Baru

Di wilayah Palestina, perang yang terus berlangsung juga menciptakan dinamika serupa.

Setiap operasi militer di Gaza dan Tepi Barat menimbulkan korban sipil, kehancuran infrastruktur, dan trauma kolektif. Dalam banyak konflik asimetris, kondisi seperti ini sering menjadi bahan bakar bagi lahirnya generasi perlawanan baru.

Banyak analis keamanan Barat sendiri mengakui bahwa operasi militer jangka panjang jarang menghilangkan gerakan perlawanan. Yang sering terjadi justru regenerasi—tokoh lama gugur, tokoh baru muncul.

Dengan kata lain, perang yang dimaksudkan untuk menghancurkan perlawanan kadang justru memperpanjangnya.

Suriah: Mengingatkan Tetangga Akan Ancaman Ekspansi

Di utara, Suriah juga menjadi medan konflik yang terus berulang. Israel secara berkala melakukan serangan udara di wilayah Suriah, termasuk di Damaskus dan kawasan militer lainnya. 

Pada saat yang sama, Israel terus mempertahankan kontrol atas Dataran Tinggi Golan, wilayah Suriah yang dianeksasi sejak 1981. Pemerintah Israel bahkan berencana memperluas permukiman di wilayah tersebut. 

Bagi Suriah dan banyak negara Arab, situasi ini memperkuat persepsi bahwa Israel adalah tetangga yang siap memperluas wilayahnya jika kesempatan muncul.

Negara yang Terus Berperang

Pertanyaan yang kemudian muncul sederhana namun fundamental:

Apakah negara yang terus-menerus hidup dalam perang dapat menjadi negara yang benar-benar stabil dan maju?

Sejarah menunjukkan bahwa perang panjang sering menguras ekonomi, memecah masyarakat, dan menempatkan negara dalam kondisi darurat permanen.

Hari ini, Israel mungkin masih memiliki keunggulan militer dan teknologi. Namun ketika konflik dibuka di banyak front sekaligus—Iran, Lebanon, Gaza, Suriah, dan jaringan milisi regional—perang tidak lagi menjadi operasi militer terbatas. Ia berubah menjadi perang ketahanan.

Dan dalam perang ketahanan, kemenangan tidak selalu ditentukan oleh siapa yang paling kuat, tetapi oleh siapa yang mampu bertahan paling lama.

Pada Akhirnya, Netanyahu Akan Berperang Sendirian Seperti Yahudi Madinah Perang antara Amerika Serikat–Israel melawan Iran tidak...


Pada Akhirnya, Netanyahu Akan Berperang Sendirian Seperti Yahudi Madinah


Perang antara Amerika Serikat–Israel melawan Iran tidak terjadi secara kebetulan. Ia bukan kecelakaan sejarah, melainkan hasil dari empat pendorong utama: retorika politik, kesalahan perhitungan strategis, kesombongan kepemimpinan, dan perbedaan waktu strategis antara dua sekutu yang tampak sejalan. Kombinasi keempat faktor ini membentuk perang yang sejak awal telah membawa benih kegagalan.

1. Retorika: Perang yang Diciptakan oleh Narasi

Perang modern sering kali tidak dimulai dengan deklarasi resmi, tetapi dengan narasi yang diproduksi terus-menerus. Dalam kasus ini, retorika politik menjadi alat utama. Selama berbulan-bulan, Iran digambarkan sebagai ancaman eksistensial yang hampir memiliki senjata nuklir.

Publik Amerika dan Israel diarahkan pada pilihan yang tampak sederhana: menyerang sekarang atau menghadapi kehancuran di masa depan. Pernyataan bahwa Iran “hanya satu minggu lagi” dari kemampuan nuklir militer menjadi alat mobilisasi psikologis.

Donald Trump bahkan menggambarkan perang sebagai operasi cepat dan mudah. Dalam berbagai pernyataan publik, ia menyebut kemenangan telah diraih bahkan sebelum perang benar-benar selesai. Narasi kemenangan cepat ini bukanlah laporan intelijen, melainkan pertunjukan politik.

Dalam politik modern, citra sering kali menggantikan realitas. Publik tidak selalu diberi informasi yang utuh; mereka lebih sering diberi cerita yang dirancang untuk membangun dukungan.

2. Kesalahan Perhitungan: Ilusi Perang Singkat

Sejarah mengenal istilah kemenangan Pyrrhic—kemenangan yang begitu mahal sehingga hampir sama dengan kekalahan. Semangat peringatan ini tampak membayangi perang terhadap Iran.

Trump dan Netanyahu mempresentasikan operasi militer sebagai serangan singkat yang akan melumpuhkan kepemimpinan Iran, menghancurkan kemampuan militernya, dan memicu pemberontakan rakyat Iran terhadap pemerintahnya.

Namun asumsi tersebut terbukti rapuh. Iran tahun 2026 bukanlah Irak tahun 2003. Negara itu memiliki jaringan militer regional, kemampuan rudal, serta strategi perang asimetris yang telah dikembangkan selama puluhan tahun.

Banyak analis militer sebenarnya telah memperingatkan risiko konflik berkepanjangan. Tetapi dalam banyak kasus, pertimbangan profesional sering kali kalah oleh kebutuhan politik. Ketika keputusan strategis dibuat demi kepentingan citra kepemimpinan, kesalahan perhitungan menjadi hampir tak terhindarkan.

3. Kesombongan: Bahaya Hubris Kekuasaan

Bangsa Yunani kuno memiliki istilah hubris, yaitu kesombongan berlebihan yang sering membawa kehancuran. Dalam banyak perang sepanjang sejarah, kesombongan para pemimpin sering menjadi faktor penentu.

Baik Trump maupun Netanyahu dikenal memiliki kepercayaan diri yang sangat tinggi terhadap kemampuan mereka sendiri. Keduanya sering menggambarkan diri sebagai pemimpin yang mampu melihat strategi besar yang tidak dipahami oleh orang lain.

Hubungan pribadi mereka memperkuat dinamika ini. Netanyahu memahami bagaimana memuji dan mendorong ego politik Trump. Sebaliknya, Trump menikmati citra sebagai pemimpin yang mampu mengambil keputusan besar.

Situasi domestik juga menambah tekanan. Netanyahu menghadapi berbagai persoalan hukum dan politik di dalam negeri. Dalam sejarah, perang sering menjadi alat untuk mengalihkan perhatian publik dan membangun kembali legitimasi politik.

Namun strategi seperti ini selalu membawa risiko besar: perang yang dimulai sebagai alat politik dapat berubah menjadi krisis yang tak terkendali.

4. Dua Jam yang Berbeda: Konflik Waktu Strategis

Faktor paling penting mungkin justru perbedaan cara kedua pemimpin memandang waktu.

Bagi Trump, kebijakan luar negeri sering diperlakukan seperti perlombaan sprint: cepat, dramatis, dan menghasilkan deklarasi kemenangan. Pemilih Amerika yang lelah dengan perang panjang cenderung menyukai hasil yang cepat.

Sebaliknya, Netanyahu melihat konflik dengan Iran sebagai proyek strategis jangka panjang—bahkan obsesi politik yang telah ia bangun selama puluhan tahun. Ia memahami bahwa Israel tidak dapat menghadapi Iran sendirian, sehingga keterlibatan militer Amerika menjadi kebutuhan vital.

Masalahnya, kedua strategi ini tidak berjalan pada jam yang sama. Jika Amerika menginginkan kemenangan cepat dan kemudian menarik diri, Israel berpotensi menghadapi perang gesekan yang panjang tanpa dukungan penuh sekutunya.

Pelajaran Sejarah

Dalam sejarah Timur Tengah, situasi semacam ini bukan hal baru. Sekutu besar sering datang dengan janji dukungan penuh, tetapi ketika kepentingan domestik berubah, mereka dapat pergi dengan cepat.

Jika itu terjadi, Israel mungkin akan menghadapi konflik regional sendirian—sebuah situasi yang secara ironis mengingatkan pada pengalaman komunitas Yahudi di Madinah pada masa awal Islam. Ketika aliansi politik runtuh, mereka kehilangan dukungan dan akhirnya harus menghadapi konsekuensi dari konflik yang mereka dorong sendiri.

Seperti pepatah Persia kuno: pedang mungkin tajam, tetapi waktu jauh lebih tajam. Dalam perang yang panjang, bukan retorika yang menentukan hasil akhir, melainkan daya tahan strategi. Dan di medan inilah sejarah sering memberikan kejutan yang tidak diharapkan oleh para pemimpinnya.

Apakah Israel Menjadi Beban Strategis bagi Amerika Serikat? Dunia saat ini bergerak menuju era multipolar , sebuah fase ketika ...



Apakah Israel Menjadi Beban Strategis bagi Amerika Serikat?

Dunia saat ini bergerak menuju era multipolar, sebuah fase ketika dominasi tunggal Amerika Serikat mulai bergeser menuju distribusi kekuatan global yang lebih luas. Kebangkitan ekonomi dan teknologi Tiongkok, ketegasan militer Rusia dalam perang Ukraina, serta ekspansi blok BRICS menandai perubahan besar dalam struktur kekuasaan internasional.

Di tengah transformasi ini, Washington berusaha mempertahankan supremasinya melalui berbagai kebijakan agresif—mulai dari tarif ekonomi, tekanan terhadap sekutu, hingga keterlibatan militer di berbagai kawasan. Namun pertanyaan strategis muncul: apakah keterikatan Amerika dengan Israel justru menjadi beban dalam persaingan global tersebut?

Perang Iran dan Agenda Israel

Konflik terbaru dengan Iran memperlihatkan dinamika yang menarik. Banyak analis melihat bahwa perang ini pada dasarnya diprakarsai oleh pemerintah Benjamin Netanyahu, yang melihat momentum geopolitik setelah perang Gaza dan melemahnya Hezbollah di Lebanon. Tujuan strategis Israel adalah menetralkan Iran sebagai kekuatan regional sekaligus membentuk kembali lanskap Timur Tengah.

Namun bagi Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump, perang ini tidak memiliki legitimasi domestik yang kuat. Survei publik menunjukkan mayoritas warga Amerika menolak keterlibatan militer baru di Timur Tengah tanpa persetujuan Kongres. Bahkan sebagian pendukung gerakan “Make America Great Again” mempertanyakan manfaat strategis konflik ini, mengingat janji Trump untuk menghindari perang baru.

Menguras Fokus Strategis Amerika

Sejak pemerintahan Barack Obama, Washington sebenarnya telah merancang strategi “Pivot to Asia”—yaitu mengalihkan fokus militer dan diplomatik dari Timur Tengah ke kawasan Indo-Pasifik untuk menghadapi kebangkitan Tiongkok. Namun konflik berulang di Timur Tengah, khususnya yang terkait dengan keamanan Israel, terus menarik kembali perhatian dan sumber daya Amerika.

Akibatnya, fokus strategis yang seharusnya diarahkan untuk menghadapi pesaing utama seperti China dan Russia justru tersedot oleh konflik regional yang berkepanjangan.

Risiko Perubahan Rezim Iran

Salah satu tujuan yang sering dikemukakan dalam perang ini adalah menggulingkan rezim Iran. Namun berbagai lembaga pemikir Amerika memperingatkan bahwa skenario tersebut sangat berbahaya.

Lembaga seperti Brookings Institution, Council on Foreign Relations, dan RAND Corporation menilai bahwa runtuhnya pemerintahan Iran tanpa transisi politik yang jelas berpotensi menciptakan kekacauan regional. Ketidakstabilan tersebut dapat memicu konflik lintas batas, separatisme, gangguan perdagangan energi, serta ancaman keamanan yang lebih luas bagi kepentingan Amerika sendiri.

Strategi Eskalasi Iran

Sementara itu, Iran memilih strategi “eskalasi horizontal”, yaitu memperluas konflik secara geografis untuk meningkatkan biaya politik dan ekonomi bagi lawan. Target potensial mencakup pangkalan militer Amerika di negara-negara Teluk.

Strategi ini menimbulkan dilema baru bagi sekutu Washington di kawasan. Negara-negara Teluk yang selama ini menjadi tuan rumah pangkalan militer Amerika mulai mempertimbangkan diversifikasi sistem keamanan mereka agar tidak terseret ke dalam konflik besar.

Keraguan Sekutu Barat

Keraguan juga muncul di kalangan sekutu Barat. Inggris membatasi keterlibatannya dalam konflik, sementara negara-negara Eropa lain memilih peran defensif atau bahkan menolak berpartisipasi. Penolakan publik di berbagai negara Eropa menunjukkan meningkatnya jarak antara kepentingan strategis Amerika dan opini masyarakat sekutunya.

Pada saat yang sama, krisis energi akibat perang Ukraina membuat Eropa semakin sensitif terhadap potensi konflik baru di Timur Tengah.

Beban Strategis yang Semakin Nyata

Dalam konteks perubahan geopolitik global, perlindungan tanpa syarat terhadap Israel mulai dipandang oleh sebagian analis sebagai beban strategis bagi Amerika Serikat. Konflik yang dipicu oleh dinamika regional Israel berisiko menguras sumber daya militer, melemahkan hubungan dengan sekutu, serta mengalihkan fokus Washington dari persaingan utama dengan kekuatan besar lainnya.

Pertanyaannya kini bukan hanya apakah Amerika mampu mempertahankan hegemoni globalnya, tetapi juga apakah hubungan strategisnya dengan Israel justru mempercepat erosi kekuatan tersebut.


Sumber:

https://www.middleeastmonitor.com/20260312-is-israel-becoming-a-strategic-liability-for-the-us/

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Al-Baqarah (1) Al-Qur'an (361) Al-Qur’an (6) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (53) Cerita kegagalan (1) cerpen Nabi (8) cerpen Nabi Musa (2) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) dakwah (8) Dakwah (2) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fiqh (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (7) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) Islam (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) kecerdasan (2) Kecerdasan (263) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Hadist (4) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) kisah para nabi dan (2) kisah para nabi dan rasul (1) Kisah para nabi dan rasul (2) Kisah Para Nabi dan Rasul (577) kisah para nabi dan rasul. Nabi Daud (1) kisah para nabi dan rasul. nabi Musa (2) Kisah Penguasa (1) Kisah ulama (1) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) Nabi Adam (71) Nabi Ayub (1) Nabi Daud (3) Nabi Ibrahim (3) Nabi Isa (2) nabi Isa. nabi ismail (1) Nabi Ismail (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Khidir (1) Nabi Musa (29) Nabi Nuh (6) Nabi Sulaiman (2) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (15) Namrudz (2) Nasrulloh Baksolahar (1) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) nusantara (3) Nusantara (249) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (578) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rasulullah shalallahu alaihi wassalam (1) Rehat (493) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) Sahabat (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) Salimul Aqidah (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Serah Nabawiyah (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (263) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah penguasa (6) Sirah Penguasa (243) sirah Sahabat (2) Sirah Sahabat (160) Sirah Tabiin (43) Sirah ulama (21) Sirah Ulama (157) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tamim Ad Dari (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Wakaf (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)