Menggali Sejarah dari Al-Qur'an
JIKA berkenan dan tidak terlalu merepotkan, kiranya Anda meletakkan satu mushaf Al-Qur'an di hadapan Anda. Tidak menjadi soal ukuran mushaf atau penerbitnya. Bahkan, jika Anda mengambil Al-Qur'an terjemahan sekalipun—misalnya karena sedang dalam keadaan berhadats—hal itu pun tidak mengapa. Jika sudah, nanti kita akan kembali kepada mushaf atau Al-Qur'an terjemahan tersebut.
Sebagian besar kandungan Al-Qur'an bersinggungan dengan informasi sejarah, baik melalui kisah para nabi dan umat terdahulu, peristiwa masa lalu, maupun pelajaran yang dapat dipetik untuk memahami prinsip-prinsip sejarah. Bahkan, jika dilihat dari keseluruhan kandungannya, lembaran-lembaran mushaf Al-Qur'an yang memuat informasi sejarah lebih banyak daripada yang sama sekali tidak bersinggungan dengannya, baik secara eksplisit maupun melalui penjelasan dan tafsiran para ulama. Artinya, jika kita membuka mushaf Al-Qur'an secara acak, kemungkinan kita menemukan informasi sejarah lebih besar daripada sebaliknya.
Sekarang, bukalah mushaf atau Al-Qur'an terjemahan secara acak, lalu arahkan pandangan Anda kepada salah satu dari dua lembar yang terbuka. Anda dapat langsung mencobanya saat ini juga.
Saat menulis paragraf ini, Penulis memiliki sebuah mushaf dan Al-Qur'an terjemahan di atas meja. Baru saja Penulis membuka mushaf Al-Qur'an secara acak pada bagian awal, lalu pandangan Penulis tertuju kepada lembaran sebelah kiri. Ayat pertama yang terlihat adalah Surah Ali 'Imran ayat 93, yang berbunyi,
كُلُّ الطَّعَامِ كَانَ حِلًّا لِّبَنِي إِسْرَائِيلَ إِلَّا مَا حَرَّمَ إِسْرَائِيلُ عَلَىٰ نَفْسِهِ مِن قَبْلِ أَن تُنَزَّلَ التَّوْرَاةُ ۗ قُلْ فَأْتُوا بِالتَّوْرَاةِ فَاتْلُوهَا إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ
“Semua makanan halal bagi Bani Israil, kecuali makanan yang diharamkan oleh Israel (Yaqub) atas dirinya sebelum Taurat diturunkan. Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Bawalah Taurat lalu bacalah, jika kamu orang-orang yang benar.’” (Ali 'Imran: 93)
Tak pelak lagi, ayat di atas mengandung sejumlah informasi tentang masa lalu. Ayat tersebut menyebutkan bahwa seluruh makanan pada dasarnya halal bagi Bani Israil, kecuali makanan yang diharamkan oleh Israil (Nabi Yaqub) atas dirinya sendiri sebelum Taurat diturunkan. Pengharaman tersebut berlaku khusus bagi beliau sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah. Setelah masa Nabi Yaqub berlalu dan Taurat diturunkan kepada Nabi Musa, barulah terdapat sejumlah pengharaman makanan yang berkaitan dengan dosa dan kemaksiatan Bani Israil.
Bukankah uraian tersebut bersinggungan dengan kisah dan peristiwa umat terdahulu? Dengan demikian, bahkan satu ayat yang tampak berbicara tentang hukum makanan pun dapat membawa kita menelusuri informasi sejarah.
Penulis kemudian kembali membuka mushaf secara acak, kali ini pada bagian tengah. Pandangan Penulis jatuh pada lembaran sebelah kanan, tepatnya Surah Maryam. Pada ayat ke-77 disebutkan,
أَفَرَأَيْتَ الَّذِي كَفَرَ بِآيَاتِنَا وَقَالَ لَأُوتَيَنَّ مَالًا وَوَلَدًا
“Maka apakah kamu telah melihat orang yang kufur kepada ayat-ayat Kami dan mengatakan, ‘Pasti aku akan diberi harta dan anak.’” (Maryam: 77)
Sekilas, ayat ini tidak menyuguhkan informasi sejarah secara gamblang. Namun, apabila kita melihat salah satu uraian tafsir, ayat tersebut ditujukan kepada Al-'Ash bin Wa'il As-Sahmi. Ia mengingkari ayat-ayat Allah dan berdusta dengan mengatakan bahwa dirinya pasti akan diberi harta dan keturunan di akhirat kelak. Bukankah keterangan mengenai seorang tokoh tersebut juga merupakan bagian dari informasi sejarah?
Selain itu, Surah Maryam sendiri memuat kisah tentang salah satu wanita paling mulia, yaitu Maryam. Kisah, pada dasarnya, merupakan salah satu unsur penting dalam pengetahuan sejarah. Dengan demikian, ayat yang secara sekilas tidak tampak historis pun dapat membuka pintu menuju penelusuran sejarah melalui tafsir dan konteksnya.
Penulis kembali membuka mushaf Al-Qur'an secara acak, kali ini pada bagian akhir. Pandangan Penulis sampai pada lembaran sebelah kanan, yaitu Surah Al-Hasyr. Pada ayat pertama disebutkan,
سَبَّحَ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
“Apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Al-Hasyr: 1)
Lalu pada ayat kedua disebutkan,
هُوَ الَّذِي أَخْرَجَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ مِن دِيَارِهِمْ لِأَوَّلِ الْحَشْرِ ۚ مَا ظَنَنتُمْ أَن يَخْرُجُوا ۖ وَظَنُّوا أَنَّهُم مَّانِعَتُهُمْ حُصُونُهُم مِّنَ اللَّهِ فَأَتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ حَيْثُ لَمْ يَحْتَسِبُوا ۖ وَقَذَفَ فِي قُلُوبِهِمُ الرُّعْبَ ۚ يُخْرِبُونَ بُيُوتَهُم بِأَيْدِيهِمْ وَأَيْدِي الْمُؤْمِنِينَ فَاعْتَبِرُوا يَا أُولِي الْأَبْصَارِ
“Dialah yang mengeluarkan orang-orang yang kufur di antara Ahli Kitab dari kampung halaman mereka pada saat pengusiran yang pertama. Kamu tidak menyangka bahwa mereka akan keluar. Mereka pun yakin bahwa benteng-benteng mereka akan dapat menjaganya dari (azab) Allah. Maka, (azab) Allah datang kepada mereka dari arah yang tidak mereka sangka. Dia menanamkan rasa takut di dalam hati mereka sehingga mereka menghancurkan rumah-rumahnya dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang mukmin. Maka, ambillah pelajaran (dari kejadian itu), wahai orang-orang yang mempunyai penglihatan (mata hati).” (Al-Hasyr: 1–2)
Ayat kedua Surah Al-Hasyr di atas sudah tidak memerlukan penjelasan panjang untuk menunjukkan kandungan sejarahnya. Ayat tersebut bahkan merupakan bagian penting dari sirah Nabi yang membahas peristiwa pengusiran kaum Yahudi dari Madinah, khususnya Bani Nadhir. Di sini, Al-Qur'an bukan sekadar menyebut sebuah peristiwa masa lalu, tetapi juga mengarahkan manusia untuk mengambil pelajaran darinya: “Maka, ambillah pelajaran, wahai orang-orang yang mempunyai penglihatan.”
Dari beberapa contoh tersebut, terlihat bahwa hubungan Al-Qur'an dengan sejarah tidak hanya terdapat pada ayat-ayat yang secara langsung menceritakan kisah dan peristiwa masa lalu. Bahkan ayat-ayat yang secara lahiriah berbicara tentang hukum atau akidah pun terkadang memiliki relevansi sejarah.
Tentu saja ada ayat-ayat Al-Qur'an yang secara lahiriah tidak bersinggungan langsung dengan sejarah, seperti ayat-ayat tentang hukum waris, utang-piutang, talak, atau qishash. Namun demikian, ayat-ayat hukum tersebut pun terkadang memiliki relevansi sejarah. Hukum qishash, misalnya, merupakan salah satu syariat yang secara umum juga pernah berlaku pada umat terdahulu. Bani Israil diwajibkan qishash, sedangkan umat Nasrani diwajibkan memaafkan. Adapun umat Islam diberi pilihan antara qishash dan memaafkan. Dengan demikian, penyebutan qishash dalam Al-Qur'an juga dapat membuka pintu penelusuran sejarah, terutama dalam rangka melihat perbandingan syariat antarumat.
Demikian pula surah yang secara gamblang tidak mengandung informasi sejarah, seperti Surah Al-Ikhlas. Surah yang menegaskan aspek tauhid ini tetap memiliki relevansi sejarah melalui uraian para ulama tafsir. Sebagai contoh, dalam tafsir Ibnu Katsir disebutkan sejumlah pendapat mengenai sebab turunnya ayat pertama Surah Al-Ikhlas, “Katakanlah, Dialah Allah Yang Maha Esa.” Di antaranya dikaitkan dengan keyakinan orang-orang Yahudi, Nasrani, Majusi, dan kaum musyrik mengenai Tuhan dan sesembahan mereka.
Tidak sedikit cendekiawan Muslim belakangan juga mengaitkan Surah Al-Ikhlas dengan perkembangan perdebatan teologis dalam sejarah Kristen, termasuk Konsili Nicea pada tahun 325 M yang melahirkan rumusan mengenai hubungan antara Yesus dan Tuhan Bapa. Dengan demikian, bahkan surah yang sangat singkat dan secara langsung berbicara tentang tauhid pun dapat bersinggungan dengan sejarah melalui konteks turunnya ayat dan penjelasan para ulama.
Bahkan jika kita kembali ke awal mushaf, di sana terdapat Surah Al-Fatihah. Surah ini pun tidak secara gamblang menyajikan informasi sejarah. Namun, jika melihat uraian para ulama tafsir, ayat terakhirnya—tentang orang-orang yang dimurkai dan orang-orang yang tersesat—dikaitkan dengan umat-umat terdahulu, khususnya Yahudi dan Nasrani. Pengaitan tersebut, dari ranah tafsir, membawa kita kembali kepada sejarah umat-umat terdahulu sebelum Rasulullah saw. diutus sebagai nabi terakhir.
Apa yang menyebabkan suatu umat memperoleh kemurkaan? Apa yang menyebabkan umat lainnya tersesat? Bagaimana sikap mereka terhadap petunjuk Allah? Pertanyaan-pertanyaan tersebut pada akhirnya membawa kita kepada penelusuran sejarah. Sejarah tidak hanya berfungsi untuk mengetahui apa yang pernah terjadi, tetapi juga untuk memahami sebab-sebab yang mengantarkan suatu umat kepada kemuliaan atau kehinaan.
Terlebih lagi ketika kita membahas hadits Nabi. Sejatinya, ilmu hadits memiliki dimensi yang sangat kuat dalam verifikasi riwayat masa lalu. Para ulama hadits mengembangkan metode yang sistematis untuk mengumpulkan, mencatat, menghafal, memverifikasi, mengklasifikasi, membukukan, dan mengajarkan hadits-hadits Nabi.
Mereka juga meneliti rantai periwayatan hadits, baik dengan menyelidiki individu-individu yang terdapat dalam sanad maupun dengan mengkaji isi hadits atau matan. Mereka meneliti siapa yang meriwayatkan, kepada siapa ia meriwayatkan, apakah hubungan antarperawi memungkinkan, bagaimana kualitas masing-masing perawi, serta bagaimana kesesuaian matan dengan berbagai riwayat lainnya. Karena itu, ilmu hadits dapat dipandang sebagai salah satu tradisi verifikasi riwayat yang sangat berkembang dalam khazanah keilmuan Islam.
Selain tampak dalam Al-Qur'an dan hadits, kedudukan sejarah dalam Islam juga dapat dilihat dari karya-karya para ulama. Ibnu Jarir Ath-Thabari menyusun karya ensiklopedik berjilid-jilid tentang sejarah yang berjudul Tarikh Al-Umam wa Al-Muluk. Ibnu Katsir juga menyusun karya sejarah yang sangat luas berjudul Al-Bidayah wa An-Nihayah. Ibnu Khaldun merupakan sejarawan lainnya melalui karya monumentalnya, Al-'Ibar wa Diwan Al-Mubtada' wa Al-Khabar. Bagian pendahuluan atau Muqaddimah dari karya tersebut, jika diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan bahasa Indonesia, hampir mencapai seribu halaman.
Karya Ibnu Khaldun bahkan sering dibahas dalam kaitannya dengan perkembangan pemikiran tentang masyarakat dan metode penulisan sejarah. Belum lagi karya-karya berjilid-jilid dari Al-Mas'udi (Muruj Adz-Dzahab wa Ma'adin Al-Jawhar), Ibnul Atsir (Al-Kamil fi At-Tarikh), Al-Ya'qubi (Tarikh Al-Ya'qubi), dan para ulama lainnya.
Menarik untuk dicatat bahwa Ibnu Jarir Ath-Thabari dan Ibnu Katsir merupakan dua di antara ulama tafsir yang sangat berpengaruh dalam sejarah Islam. Keduanya bukan hanya dikenal melalui karya tafsir yang monumental, tetapi juga melalui karya sejarah yang fenomenal. Fakta ini memperlihatkan adanya keterkaitan erat antara Al-Qur'an, tafsir, hadits, dan sejarah dalam tradisi keilmuan Islam.
Seorang ulama tafsir dapat melahirkan karya besar di bidang sejarah. Demikian pula seorang ulama hadits dapat menghasilkan karya yang menjadi rujukan dalam penelusuran masa lalu. Hal ini menunjukkan bahwa sejarah bukan ilmu yang berada di luar bangunan keilmuan Islam, melainkan telah lama menjadi bagian dari tradisi intelektual umat Islam.
Karena sejarah memiliki kedudukan yang penting dalam Islam, sebagaimana tampak dalam Al-Qur'an, hadits Nabi, dan karya-karya para ulama, setiap Muslim semestinya memiliki kepekaan sejarah. Tidak setiap Muslim harus menjadi sejarawan dalam pengertian profesi, tetapi setiap Muslim perlu memahami bagaimana umat-umat terdahulu menjalani kehidupan, menghadapi ujian, memperoleh kemuliaan, atau mengalami kehinaan.
Sebaliknya, amnesia sejarah dapat menjadi sebab penyesalan di akhirat karena seseorang lalai mengambil pelajaran dari apa yang telah terjadi kepada umat-umat terdahulu. Bukankah di akhirat nanti manusia akan diperlihatkan apa yang telah dikerjakannya? Amal saleh maupun amal buruk yang dilakukan di dunia tidak berhenti pada masa lalu. Konsekuensinya dapat terus mengikuti manusia hingga kehidupan akhirat.
Dengan kata lain, masa lalu tidak pernah benar-benar usai. Peristiwa boleh berlalu, tokoh boleh meninggal, dan zaman boleh berganti, tetapi konsekuensi dari perbuatan tetap dapat berlanjut. Karena itu, mempelajari sejarah bukan sekadar menengok ke belakang. Sejarah juga merupakan upaya memahami sebab dan akibat, mengambil ibrah, serta membaca pola kehidupan manusia.
Buku yang ada di tangan Anda sekarang ini merupakan ikhtiar kedua tangan Penulis untuk meraup beberapa tetes dari samudera faedah Al-Qur'an yang luasnya tak bertepi. Al-Qur'an adalah petunjuk dan penjelas bagi manusia, serta menjadi sumber yang sangat kaya bagi berbagai cabang ilmu pengetahuan. Dalam konteks sejarah, Al-Qur'an menghadirkan sesuatu yang tidak dapat digantikan oleh sumber sejarah biasa: bukan sekadar informasi tentang apa yang terjadi, tetapi juga penjelasan tentang makna, sebab, akibat, dan pelajaran dari berbagai peristiwa.
Sejarawan atau penuntut ilmu sejarah yang mengabaikan kandungan Al-Qur'an sesungguhnya telah meninggalkan salah satu sumber penting dalam memahami manusia dan perjalanan peradaban. Sebaliknya, para ulama terdahulu yang menghabiskan usia dan tenaga untuk mempelajari Al-Qur'an telah melahirkan karya-karya yang tidak hanya menerangi kehidupan keagamaan, tetapi juga menjadi bagian dari khazanah sejarah intelektual umat manusia.
Rasulullah saw. bersabda,
إِنَّ اللَّهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ
“Sesungguhnya Allah meninggikan derajat suatu kaum dengan sebab berpegang teguh kepada Kitab ini (Al-Qur'an) dan merendahkan kaum lainnya dengan sebab menelantarkan Kitab ini.” (HR. Muslim)
Maka, menyelami kandungan sejarah dalam Al-Qur'an bukan hanya berarti menguak realitas masa lalu. Ia juga dapat menjadi jalan untuk memperoleh berbagai faedah dari interaksi dengan Al-Qur'an: ketenangan hati, pahala pada setiap huruf yang dibaca, penyembuhan penyakit hati dan badan, harapan untuk menjadi bagian dari keluarga Allah, perlindungan rumah dari gangguan setan, keberkahan waktu, serta ketajaman kepekaan spiritual dan intelektual.
Pada akhirnya, mempelajari sejarah melalui Al-Qur'an bukanlah sekadar kegiatan mengumpulkan cerita tentang orang-orang yang telah berlalu. Ia adalah usaha membaca perjalanan manusia dengan bimbingan wahyu: memahami apa yang terjadi, mengapa hal itu terjadi, apa akibatnya, dan pelajaran apa yang harus dibawa ke masa depan. Sebab, masa lalu yang dibaca dengan petunjuk Al-Qur'an tidak berhenti menjadi kenangan; ia berubah menjadi ibrah, bekal, dan peta untuk menapaki masa depan.
Link Kami
Beberapa Link Kami yang Aktif