Masyarakat Jakarta di Era Pajajaran
Menjelang abad ke-16, kawasan yang kelak dikenal sebagai Jakarta telah berkembang menjadi salah satu pusat perdagangan penting di pesisir utara Jawa. Berdasarkan data arkeologis, sumber historis, dan berita para pelancong asing, Kalapa pada masa Kerajaan Sunda Pajajaran telah tumbuh sebagai kota pelabuhan yang ramai dan memiliki jaringan perdagangan regional maupun internasional.
Salah satu sumber terpenting mengenai kehidupan Kalapa adalah catatan Tome Pires, seorang penulis dan pejabat Portugis yang melakukan perjalanan di Asia pada 1512–1515. Dari catatannya diketahui bahwa Kerajaan Sunda memiliki sejumlah kota pelabuhan di sepanjang pesisir utara Jawa Barat, yaitu Banten, Pontang, Cigeude, Tangerang, Kalapa, dan Cimanuk. Sebelum kedatangan Tome Pires, Cirebon juga termasuk dalam jaringan pelabuhan Kerajaan Sunda (Armando Cortesao, 1944/1967: 166, 183).
Meskipun pusat Kerajaan Sunda Pajajaran berada di pedalaman, khususnya di Pakuan, kerajaan tersebut memiliki hubungan yang erat dengan kota-kota pelabuhan di pesisir. Dalam konteks ini, Kerajaan Sunda dapat dilihat sebagai sebuah kekuatan politik yang memiliki karakter negara-kota (city-state), karena kegiatan ekonomi dan perdagangannya bertumpu pada hubungan antara pusat kekuasaan di pedalaman dengan kota-kota pelabuhan di pesisir (Peter J.M. Nas, 1986: 18–36; Uka Tjandrasasmita, 1998).
Di antara kota-kota pelabuhan tersebut, Kalapa menempati posisi yang sangat penting.
Kalapa dan Jaringan Sungai
Keistimewaan Kalapa tidak dapat dipisahkan dari kondisi geografisnya. Kota ini berada di kawasan pesisir yang terhubung langsung dengan daerah pedalaman melalui jaringan sungai.
Sungai Ciliwung memiliki peranan penting karena menghubungkan kawasan Bogor dan daerah pedalaman dengan pusat kegiatan di Kalapa. Melalui sungai tersebut, berbagai hasil bumi dari pedalaman dapat dibawa menuju pantai. Sungai Cisadane juga memiliki fungsi serupa. Sungai ini menghubungkan daerah pedalaman Bogor dengan kawasan Tangerang, yang selanjutnya memiliki hubungan dengan jaringan perdagangan menuju Kalapa.
Demikian pula dengan Sungai Citarum. Sungai tersebut menjadi salah satu jalur yang memungkinkan hasil produksi dari wilayah pedalaman dibawa menuju daerah muara dan selanjutnya diteruskan ke kawasan pesisir.
Dengan demikian, Kalapa tidak berdiri sendiri sebagai kota pelabuhan. Ia merupakan bagian dari suatu sistem ruang yang menghubungkan pedalaman, sungai, pelabuhan, dan jalur perdagangan laut. Sungai menjadi semacam urat nadi yang mengalirkan hasil produksi masyarakat pedalaman menuju pasar dan pelabuhan.
Posisi tersebut pula yang menjadikan Kalapa memiliki keunggulan dibandingkan wilayah pesisir lainnya. Barang-barang dari pedalaman dapat dikumpulkan melalui jalur air sebelum diperdagangkan ke wilayah lain di Nusantara maupun ke jaringan perdagangan internasional.
Komoditas Perdagangan Kalapa
Menurut Tome Pires, berbagai komoditas hasil bumi dari wilayah Kerajaan Sunda diperdagangkan melalui pelabuhan-pelabuhan pesisir. Kalapa menjadi salah satu tempat utama dalam kegiatan tersebut.
Barang-barang yang diekspor antara lain lada, beras, asam, sayur-sayuran, daging, ternak, dan buah-buahan. Hewan ternak yang diperdagangkan meliputi sapi, kambing, babi, dan domba. Komoditas tersebut berasal terutama dari wilayah pedalaman dan merupakan hasil kegiatan para petani serta peternak.
Sebagian komoditas kemudian dikirim ke Malaka, Maladewa, dan berbagai wilayah lainnya. Hubungan perdagangan juga berlangsung dengan kerajaan-kerajaan lain di Nusantara.
Gambaran mengenai kehidupan ekonomi masyarakat Sunda tersebut juga dapat dilengkapi melalui naskah Sanghyang Siksakandang Karesian, yang diperkirakan berasal dari sekitar tahun 1518 M (Atja dan Saleh Danasasmita, 1981). Naskah tersebut memberikan gambaran mengenai berbagai jenis pekerjaan dan aktivitas ekonomi masyarakat pada masa Kerajaan Sunda.
Dari sini terlihat bahwa perdagangan Kalapa pada dasarnya bertumpu pada hubungan yang saling melengkapi antara kota dan desa. Pelabuhan membutuhkan hasil bumi dari pedalaman, sementara masyarakat pedalaman membutuhkan pelabuhan untuk menyalurkan hasil produksinya ke pasar yang lebih luas.
Barang Impor dan Masyarakat Multikultural
Kalapa tidak hanya menjadi tempat untuk mengirim hasil bumi keluar dari wilayah Sunda. Pelabuhan ini juga menjadi pintu masuk berbagai barang yang dibutuhkan masyarakat.
Barang-barang impor yang disebut dalam sumber antara lain belacu, pakaian dari Cambay dan Keling, serta keramik. Masuknya barang-barang tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan masyarakat Kalapa tidak hanya dipenuhi oleh produksi lokal. Pelabuhan menjadi tempat bertemunya berbagai produk dari kawasan yang jauh dengan kebutuhan masyarakat setempat.
Aktivitas perdagangan tersebut kemudian menarik kedatangan berbagai kelompok masyarakat. Pedagang dari India, Tiongkok, Melayu, Maluku, dan berbagai daerah lain di kepulauan Indonesia datang dan berinteraksi di Kalapa.
Dengan demikian, sejak sebelum kedatangan bangsa Eropa, Kalapa telah memiliki karakter masyarakat pelabuhan yang terbuka terhadap perjumpaan antarkelompok. Perdagangan tidak hanya memindahkan barang, tetapi juga mempertemukan manusia, bahasa, kebiasaan, teknologi, dan kebudayaan yang berbeda.
Dari Barter hingga Mata Uang
Perdagangan di Kalapa tampaknya juga telah mengenal penggunaan alat pembayaran selain sistem barter. Tome Pires menyebut penggunaan cash, yaitu mata uang kecil dari Tiongkok yang memiliki lubang di tengahnya. Ratusan keping mata uang tersebut dapat diikat dengan benang sehingga membentuk satuan tertentu, sebagaimana mata uang yang disebut ceiti.
Menurut catatan Tome Pires, 1.000 cash memiliki nilai yang setara dengan 25 calais mata uang Malaka. Selain itu, terdapat pula mata uang lokal yang disebut tumdaya, terbuat dari emas dengan berat delapan mate. Nilainya disebut setara dengan 12.000 cash atau sembilan crusado Portugis (Armando Cortesao, 1944: 181).
Informasi tersebut memperlihatkan bahwa kegiatan ekonomi Kalapa telah terhubung dengan sistem pertukaran yang lebih luas. Kehadiran berbagai jenis mata uang menunjukkan bahwa perdagangan tidak hanya berlangsung secara lokal, tetapi juga berhubungan dengan jaringan ekonomi antarkawasan.
Kota Pelabuhan dan Struktur Pemerintahan
Ramainya kegiatan perdagangan tentu membutuhkan pengaturan. Pelabuhan yang didatangi pedagang dari berbagai wilayah memerlukan keamanan, tata niaga, serta hubungan yang jelas antara pedagang dan penguasa.
Tome Pires menyebut adanya pejabat yang memimpin kota pelabuhan. Ia menggunakan istilah paybu atau prabu, serta pate atau adipati. Di tingkat kerajaan terdapat pula jabatan seperti raja, wakilnya, Sanghyang, Prabu Anom, dan Mangkubumi.
Tome Pires menyamakan kedudukan Mangkubumi dengan jabatan bendahara yang dikenal di Malaka. Dalam struktur pemerintahan Malaka, bendahara memiliki peran penting dalam menghubungkan para pedagang asing dengan raja atau sultan (Leirissa, 1973: 20).
Keterangan tersebut menunjukkan bahwa Kalapa bukan sekadar tempat kapal berlabuh. Sebagai kota pelabuhan yang penting, ia membutuhkan struktur kekuasaan yang mampu mengatur aktivitas perdagangan dan hubungan dengan pihak luar.
Gambaran yang lebih jelas mengenai struktur pemerintahan muncul dalam berita De Barros mengenai hubungan antara Portugis di Malaka dengan Kerajaan Sunda pada 21 Agustus 1522.
Pada waktu itu, Henrique Leme mewakili Jorge d'Albuquerque dalam perundingan dengan Ratu Samiam atau Ratu Sanghyang, penguasa Kerajaan Sunda. Sang raja didampingi oleh beberapa pejabat, antara lain Mandar Tadam atau Mantri Dalem, Tumango Sangue de Pate atau Tumenggung Sang Adipati, serta Bengar Xabandar atau Syahbandar.
Keterangan mengenai Ratu Samiam tersebut dapat dihubungkan dengan Carita Parahyangan, yang menyebutnya sebagai Ratu Surawisesa. Sebelum menjadi penguasa Pakuan, ia merupakan putra mahkota yang pernah ditempatkan sebagai penguasa Kota Pelabuhan Kalapa.
Perannya bahkan tidak hanya terbatas pada pengelolaan Kalapa. Pada tahun 1512, ketika masih menjadi putra mahkota, ia pernah diutus oleh ayahnya, Sang Ratu Jaya Dewata, untuk pergi ke Malaka dan meminta bantuan kepada Alfonso d'Albuquerque (Bambang Soemadio, 1984: 373–374; Atja, 1968).
Keterangan tersebut memperlihatkan betapa pentingnya Kalapa dalam struktur politik Kerajaan Sunda. Penguasaan terhadap kota pelabuhan bukan hanya persoalan ekonomi, tetapi juga bagian dari strategi politik kerajaan dalam menghadapi perubahan kekuatan regional.
Penduduk dan Kehidupan Sehari-hari
Jumlah penduduk Kalapa pada awal abad ke-16 tidak dapat diketahui secara pasti. De Barros memperkirakan jumlah penduduk seluruh Kerajaan Sunda sekitar 100.000 orang, sedangkan lima kota pelabuhan memiliki jumlah penduduk sekitar 50.000 orang (Leirissa, 1973: 21; Uka Tjandrasasmita, 1997/1998: 25).
Karena Kalapa disebut sebagai pelabuhan terpenting dan terbesar, muncul perkiraan bahwa penduduk kota ini mungkin mencapai sekitar 15.000 orang. Angka tersebut tentu merupakan perkiraan dan belum dapat dianggap sebagai sensus penduduk.
Sebagai kota pelabuhan, sebagian penduduk Kalapa kemungkinan besar terlibat dalam perdagangan dan berbagai pekerjaan yang berkaitan dengan aktivitas pelabuhan. Di sisi lain, masyarakat pedalaman memiliki mata pencaharian yang berbeda.
Naskah Sanghyang Siksakandang Karesian memberikan gambaran mengenai masyarakat yang bekerja sebagai petani, peternak, pencari ikan, dan berbagai pekerjaan lainnya. Pertanian di wilayah Kerajaan Sunda pada umumnya masih menggunakan sistem huma atau ladang.
Hubungan antara pedalaman dan pelabuhan karena itu bersifat saling melengkapi. Petani, peternak, dan pencari ikan menghasilkan barang yang dibutuhkan kota, sementara kota pelabuhan menyediakan akses menuju pasar dan jaringan perdagangan yang lebih luas.
Kehidupan Budaya dan Keagamaan
Kehidupan Kalapa tidak hanya ditandai oleh perdagangan. Kota ini juga berkembang sebagai ruang perjumpaan budaya.
Naskah Sanghyang Siksakandang Karesian memberikan gambaran mengenai berbagai bentuk kesenian yang telah dikenal masyarakat Sunda. Di antaranya terdapat tukang banyol, tukang ngamen, gamelan, wayang, penyanyi, dan berbagai bentuk kesenian lainnya.
Kehidupan keagamaan masyarakat juga memperlihatkan keragaman. Berdasarkan sumber-sumber yang tersedia, agama Hindu memiliki pengaruh yang kuat dalam lingkungan Kerajaan Sunda Pajajaran. Di samping itu terdapat unsur Buddha serta unsur kepercayaan lokal yang kemudian dikenal dalam kaitannya dengan Sunda Wiwitan, dengan berbagai corak kepercayaan terhadap kekuatan alam dan dunia spiritual.
Informasi mengenai kehidupan keagamaan tersebut tidak hanya diperoleh dari naskah-naskah Sunda kuno. Prasasti Batu Tulis di Bogor, lempengan tembaga dari Kebantenan, serta berita asing juga memberikan informasi mengenai kehidupan keagamaan masyarakat Kerajaan Sunda (Hasan Djafar, 1993: 197–199, 202–206).
Karena Kalapa merupakan kota pelabuhan yang ramai, kehidupan keagamaannya juga berada dalam lingkungan masyarakat yang beragam. Pedagang dari berbagai daerah membawa tradisi dan keyakinannya masing-masing. Pelabuhan dengan demikian menjadi ruang perjumpaan bukan hanya bagi barang dan manusia, tetapi juga bagi berbagai unsur kebudayaan.
Kalapa Menjelang Perubahan Politik
Memasuki dekade kedua abad ke-16, situasi politik di sekitar Kerajaan Sunda mulai berubah. Salah satu faktor penting adalah semakin kuatnya pengaruh Kesultanan Demak di Jawa.
Cirebon, yang sebelumnya berada dalam lingkungan politik Kerajaan Sunda, mulai masuk ke dalam orbit politik Jawa. Ketika Tome Pires berada di kawasan tersebut sekitar 1513, perubahan hubungan politik itu telah mulai terlihat. Pengaruh Demak terhadap Cirebon kemudian membawa konsekuensi terhadap hubungan politik Kerajaan Sunda dengan wilayah-wilayah di sekitarnya.
Perubahan tersebut semakin terasa karena hubungan Kerajaan Sunda dengan Portugis di Malaka juga berkembang. Kalapa menjadi bagian penting dalam hubungan tersebut. Bagi Kerajaan Sunda, hubungan dengan Portugis dapat dilihat sebagai bagian dari upaya menghadapi perubahan keseimbangan kekuatan di kawasan. Sebaliknya, bagi Portugis, Kalapa merupakan pelabuhan yang memiliki nilai strategis dalam jaringan perdagangan Asia Tenggara.
Menjelang 1527, ketegangan politik semakin meningkat. Cirebon telah mempersiapkan kekuatan untuk menyerang Kalapa, sementara hubungan antara Kalapa dan Portugis semakin erat.
Dengan demikian, menjelang 1527, Kalapa berada di tengah perubahan besar. Kota ini sebelumnya tumbuh karena perdagangan, keterhubungan sungai, hasil bumi pedalaman, dan jaringan pelayaran internasional. Namun, justru posisi strategis tersebut membuatnya menjadi ruang perebutan pengaruh politik.
Perubahan itu kemudian membawa Kalapa memasuki babak sejarah baru. Kota pelabuhan yang selama berabad-abad berkembang dalam lingkungan Kerajaan Sunda tersebut segera berhadapan dengan kekuatan politik Islam dari Jawa dan Cirebon serta kepentingan Portugis dari Malaka. Tahun 1527 menjadi salah satu titik balik penting dalam sejarah Kalapa, ketika kota pelabuhan tersebut memasuki fase baru yang kelak mengantarkannya menuju Jayakarta dan kemudian Batavia.
Link Kami
Beberapa Link Kami yang Aktif