basmalah Pictures, Images and Photos
Our Islamic Story

Choose your Language

Kisah 9 Orang yang Tipu Daya Jahatnya Digagalkan Allah di Era Nabi Saleh Jejak Sebuah Konspirasi di Negeri Samud Di balik megahn...


Kisah 9 Orang yang Tipu Daya Jahatnya Digagalkan Allah di Era Nabi Saleh


Jejak Sebuah Konspirasi di Negeri Samud

Di balik megahnya kota Al-Hijr, Al-Qur'an mengungkap keberadaan sebuah kelompok kecil yang memiliki pengaruh sangat besar terhadap arah sebuah bangsa.

Jumlah mereka hanya sembilan orang.

Namun, mereka menjadi pusat kerusakan yang menyeret seluruh kaum Samud menuju kehancuran.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

«"Di kota itu ada sembilan orang laki-laki yang berbuat kerusakan di bumi dan tidak melakukan perbaikan."
(QS. An-Naml [27]: 48)»

Menurut Tafsir Tahlili Kementerian Agama, kesembilan orang tersebut berasal dari kalangan bangsawan yang berkuasa. Kejahatan mereka memperoleh perlindungan dari keluarga dan elite pemerintahan. Karena itu, hampir tidak ada seorang pun yang mampu menghentikan tindakan mereka. Mereka menjadi sumber kerusakan yang memengaruhi seluruh masyarakat.

Dakwah yang Membelah Masyarakat

Sebelum konspirasi itu muncul, Nabi Saleh diutus kepada kaumnya dengan satu seruan yang sangat sederhana: menyembah Allah semata.

Allah berfirman:

«"Sungguh, Kami telah mengutus kepada kaum Samud saudara mereka, Saleh, yang menyeru, 'Sembahlah Allah.' Tiba-tiba mereka menjadi dua golongan yang saling berselisih."
(QS. An-Naml [27]: 45)»

Risalah tauhid ternyata tidak diterima secara seragam.

Sebagian menerima.

Sebagian menolak.

Perbedaan itu berkembang menjadi pertentangan yang semakin tajam.

Di tengah penolakan tersebut, Nabi Saleh tetap mengajak kaumnya kembali kepada rahmat Allah.

«"Wahai kaumku, mengapa kamu meminta disegerakan keburukan sebelum kebaikan? Mengapa kamu tidak memohon ampun kepada Allah agar kamu dirahmati?"
(QS. An-Naml [27]: 46)»

Namun, seruan itu justru dibalas dengan tuduhan.

Kaum Samud menyalahkan Nabi Saleh dan para pengikutnya sebagai penyebab kesialan yang menimpa negeri mereka.

Nabi Saleh menjawab:

«"Nasibmu berada di sisi Allah. Sebenarnya kamu adalah kaum yang sedang diuji."
(QS. An-Naml [27]: 47)»

Al-Qur'an mengajarkan bahwa ketika suatu masyarakat menolak melakukan introspeksi, mereka sering mencari kambing hitam untuk menjelaskan musibah yang mereka alami.

Dari Penolakan Menuju Konspirasi

Penolakan terhadap dakwah Nabi Saleh mencapai puncaknya setelah mukjizat unta betina Allah dibunuh.

Nabi Saleh memperingatkan bahwa azab Allah akan datang.

Peringatan itu tidak melahirkan penyesalan.

Sebaliknya, sembilan tokoh berpengaruh itu mengadakan sebuah pertemuan rahasia.

Mereka menyusun rencana yang jauh lebih berbahaya daripada sebelumnya.

Targetnya bukan lagi sekadar menolak dakwah.

Mereka ingin menghabisi Nabi Saleh beserta keluarganya.

Allah mengabadikan isi konspirasi itu:

«"Mereka berkata, 'Bersumpahlah dengan nama Allah bahwa kita akan menyerang Saleh beserta keluarganya pada malam hari. Setelah itu kita akan berkata kepada ahli warisnya bahwa kita tidak mengetahui peristiwa tersebut dan sesungguhnya kita adalah orang-orang yang benar.'"
(QS. An-Naml [27]: 49)»

Rencana itu memperlihatkan beberapa lapisan kejahatan sekaligus.

Mereka menyusun pembunuhan secara terencana.

Mereka memilih waktu malam agar tidak diketahui.

Mereka telah menyiapkan alibi sebelum kejahatan dilakukan.

Bahkan mereka menggunakan sumpah atas nama Allah untuk menguatkan kebohongan yang akan mereka sebarkan.

Ketika Makar Berhadapan dengan Ketetapan Allah

Konspirasi itu tampak sangat rapi.

Semua langkah telah diperhitungkan.

Namun, para pelaku melupakan satu hal.

Mereka hanya menghitung kemampuan manusia, tetapi mengabaikan kekuasaan Allah.

Allah berfirman:

«"Mereka membuat tipu daya dan Kami pun menyusun ketetapan-Ku, sedangkan mereka tidak menyadarinya."
(QS. An-Naml [27]: 50)»

Menurut Tafsir Tahlili, mereka berangkat untuk melaksanakan pembunuhan terhadap Nabi Saleh sebelum hari ketiga yang dijanjikan.

Namun, sebelum rencana itu terlaksana, Allah menggagalkan seluruh konspirasi tersebut. Sebagian riwayat menyebutkan bahwa mereka ditimpa batu besar sebelum mencapai tempat Nabi Saleh, sementara kaum yang tetap mendustakan rasul kemudian dibinasakan dengan azab yang dahsyat.

Dengan demikian, makar mereka berakhir sebelum sempat mencapai sasaran.

Kota yang Berubah Menjadi Saksi Sejarah

Al-Qur'an kemudian mengajak manusia melihat akhir dari konspirasi itu.

«"Maka perhatikanlah bagaimana akibat tipu daya mereka. Kami membinasakan mereka dan seluruh kaumnya."
(QS. An-Naml [27]: 51)»

Bekas kehancuran itu bahkan dijadikan pelajaran bagi generasi setelahnya.

«"Itulah rumah-rumah mereka yang kosong akibat kezaliman mereka. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda bagi kaum yang mengetahui."
(QS. An-Naml [27]: 52)»

Rumah-rumah yang dahulu menjadi lambang kemakmuran berubah menjadi bangunan tanpa penghuni.

Kekuatan politik lenyap.

Pengaruh sosial hilang.

Yang tersisa hanyalah jejak sejarah tentang akibat kezaliman.

Siapa yang Diselamatkan?

Di tengah kehancuran itu, Allah memberikan pengecualian.

«"Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa."
(QS. An-Naml [27]: 53)»

Keselamatan tidak ditentukan oleh status sosial, kekayaan, ataupun kedekatan dengan elite.

Yang menjadi pembeda adalah iman dan ketakwaan.

Nabi Saleh dan orang-orang yang beriman diselamatkan dari azab yang menimpa kaumnya.

Pelajaran dari Negeri Samud

Kisah sembilan tokoh Samud bukan sekadar catatan sejarah tentang sekelompok pelaku kejahatan.

Al-Qur'an memperlihatkan bagaimana kerusakan sebuah masyarakat dapat bermula dari segelintir orang yang memiliki pengaruh besar, memperoleh perlindungan kekuasaan, dan menggunakan kedudukannya untuk menormalisasi kezaliman.

Namun kisah ini juga menegaskan bahwa sebesar apa pun konspirasi manusia, semuanya tetap berada di bawah ketetapan Allah.

Manusia dapat menyusun rencana.

Manusia dapat membangun jaringan.

Manusia dapat menutupi kejahatan dengan berbagai cara.

Tetapi ketika sebuah makar berhadapan dengan kehendak Allah, maka rencana yang paling matang sekalipun dapat runtuh dalam sekejap.

Itulah sunnatullah yang diabadikan Al-Qur'an: tipu daya manusia memiliki batas, sedangkan kekuasaan Allah tidak berbatas.


Menangkal Berita Hoaks dari Istana Fir'aun Ketika Kekuasaan Mengendalikan Informasi Setiap rezim membutuhkan legitimasi untu...

Menangkal Berita Hoaks dari Istana Fir'aun


Ketika Kekuasaan Mengendalikan Informasi

Setiap rezim membutuhkan legitimasi untuk mempertahankan kekuasaannya. Sebagian memperolehnya melalui keadilan, tetapi sebagian lain membangunnya melalui penguasaan informasi.

Al-Qur'an memperlihatkan bagaimana Fir'aun tidak hanya mengandalkan istana, pasukan, Haman, dan Qarun. Ia juga membangun kekuasaan melalui narasi yang mampu memengaruhi cara rakyat memandang kenyataan.

Ketika Nabi Musa datang membawa risalah tauhid, Fir'aun tidak terlebih dahulu menjawabnya dengan hujah. Ia membangun opini.

Dakwah Nabi Musa diubah menjadi ancaman bagi Mesir.

Menciptakan Musuh Bersama

Isi dakwah Nabi Musa sesungguhnya sederhana.

Beliau mengajak Fir'aun dan rakyat Mesir menyembah Allah semata serta menuntut agar Bani Israil dibebaskan dari penindasan dan diizinkan meninggalkan Mesir.

Namun, pesan itu diputarbalikkan.

Fir'aun membangun narasi bahwa Musa dan Harun datang untuk mengusir penduduk Mesir dari negeri mereka serta menghancurkan tatanan yang selama ini mereka yakini.

Allah mengabadikan narasi tersebut:

«"Mereka berkata, 'Kedua orang ini benar-benar dua orang pesihir yang hendak mengusirmu dari negerimu dengan sihir mereka dan melenyapkan adat kebiasaanmu yang utama.'"
(QS. Thaha [20]: 63)»

Dengan cara itu, Fir'aun menciptakan satu musuh bersama.

Ketika masyarakat diyakinkan bahwa ada ancaman besar di depan mereka, perhatian terhadap kezaliman penguasa pun beralih kepada rasa takut terhadap musuh yang diciptakan.

Ketika Hoaks Menjangkau Kaum Intelektual

Narasi yang dibangun istana tidak hanya ditujukan kepada masyarakat umum.

Fir'aun mengumpulkan para ahli sihir terbaik Mesir. Mereka dijanjikan hadiah besar dan kedudukan yang dekat dengan istana apabila berhasil mengalahkan Nabi Musa.

Dengan demikian, propaganda memperoleh dukungan dari kelompok yang dipandang memiliki keahlian dan otoritas.

Bagi masyarakat, dukungan para ahli sihir itu semakin menguatkan keyakinan bahwa tuduhan terhadap Musa memang benar.

Namun, keadaan berubah ketika mereka menyaksikan langsung mukjizat Nabi Musa.

Para ahli sihir yang semula datang untuk membela Fir'aun justru menjadi saksi pertama yang mengakui kebenaran risalah Musa.

Membalikkan Penyebab dan Akibat

Strategi propaganda Fir'aun terus berlanjut ketika Allah menurunkan berbagai peringatan kepada Mesir berupa musim paceklik, banjir, belalang, kutu, katak, dan air yang berubah menjadi darah.

Setiap kali azab datang, Fir'aun meminta Nabi Musa berdoa agar bencana diangkat.

Allah berfirman:

«"Ketika azab itu menimpa mereka, mereka berkata, 'Wahai Musa, mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami sesuai dengan janji-Nya kepadamu. Jika engkau dapat menghilangkan azab itu dari kami, niscaya kami akan beriman kepadamu dan akan kami lepaskan Bani Israil bersamamu.'"
(QS. Al-A'raf [7]: 134)»

Namun setelah azab diangkat, janji itu diingkari.

Dalam logika propaganda, penyebab dan akibat dibalik.

Mukjizat yang menjadi bukti pertolongan Allah justru dijadikan alasan untuk menyalahkan Nabi Musa.

Bagaimana Nabi Musa Menjawab?

Al-Qur'an tidak menunjukkan bahwa Nabi Musa membalas propaganda dengan propaganda.

Beliau menjawabnya dengan hujah, mukjizat, kesabaran, dan keteguhan menjalankan perintah Allah.

Di tengah tekanan yang semakin berat, Allah memberikan petunjuk yang tampak sederhana tetapi sangat strategis.

«"Dan Kami wahyukan kepada Musa dan saudaranya, 'Ambillah beberapa rumah di Mesir untuk tempat tinggal bagi kaummu, jadikanlah rumah-rumahmu itu sebagai tempat ibadah, laksanakanlah salat, dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman.'"
(QS. Yunus [10]: 87)»

Perintah ini menunjukkan bahwa menghadapi tekanan bukan hanya dengan konfrontasi terbuka.

Keimanan juga diperkuat melalui pembinaan komunitas.

Rumah-rumah dijadikan pusat ibadah, pendidikan, dan penguatan spiritual.

Di sanalah identitas orang-orang beriman dipelihara ketika propaganda terus diproduksi oleh istana.

Mengapa Propaganda Fir'aun Akhirnya Gagal?

Fir'aun memiliki kekuasaan, harta, aparat, dan kemampuan membentuk opini.

Namun ia tidak memiliki kebenaran.

Sebaliknya, Nabi Musa tidak menguasai istana maupun media kekuasaan, tetapi membawa wahyu dari Allah.

Ketika para ahli sihir menyaksikan mukjizat Musa, propaganda yang selama ini mereka dengar runtuh oleh kenyataan yang mereka lihat sendiri.

Hujah mengalahkan fitnah.

Fakta mengalahkan tuduhan.

Kebenaran mengalahkan propaganda.

Pelajaran Al-Qur'an

Kisah Fir'aun menunjukkan bahwa berita bohong dapat menjadi alat untuk mempertahankan kekuasaan.

Ia dapat membentuk rasa takut, menciptakan musuh bersama, bahkan memengaruhi kelompok terpelajar.

Namun Al-Qur'an juga menunjukkan cara menghadapinya.

Bukan dengan memproduksi kebohongan tandingan, melainkan dengan memperkuat keimanan, membangun komunitas yang kokoh, menyampaikan hujah secara konsisten, dan menjaga integritas.

Karena pada akhirnya, sebagaimana ditegaskan Allah:

«"Sebenarnya Kami melontarkan yang hak kepada yang batil, lalu yang hak itu menghancurkannya, maka seketika itu yang batil lenyap."
(QS. Al-Anbiya' [21]: 18)»

Sejarah Fir'aun menjadi pengingat bahwa propaganda dapat bertahan selama masih dipercaya. Namun ketika kebenaran tampak nyata, seluruh bangunan kebohongan itu akan runtuh oleh dirinya sendiri.

Lidah Nabi Harun dan Hancurnya Narasi Fir'aun Ketika Propaganda Menjadi Pilar Kekuasaan Setiap kekuasaan yang zalim tidak ha...



Lidah Nabi Harun dan Hancurnya Narasi Fir'aun


Ketika Propaganda Menjadi Pilar Kekuasaan

Setiap kekuasaan yang zalim tidak hanya bertumpu pada kekuatan senjata. Ia juga membutuhkan narasi yang mampu membenarkan kezalimannya di hadapan rakyat.

Demikian pula Fir'aun.

Selama ini perhatian sering tertuju kepada Haman sebagai pelaksana pembangunan dan kebijakan negara, Qarun sebagai simbol kekuatan ekonomi, serta bala tentara Mesir sebagai alat pemaksa. Namun, ada satu kekuatan lain yang tidak kalah menentukan: kemampuan Fir'aun membangun opini publik.

Ia mampu meyakinkan rakyat bahwa dirinya adalah tuhan yang wajib ditaati. Ia berhasil membungkus penindasan sebagai upaya menjaga ketertiban. Bahkan, ia menampilkan dirinya sebagai pihak yang terancam, padahal seluruh instrumen kekuasaan berada di tangannya.

Di sinilah propaganda menjadi salah satu pilar utama kekuasaan Fir'aun.

Membalikkan Fakta Menjadi Kebohongan

Ketika Nabi Musa datang membawa mukjizat dari Allah, Fir'aun tidak membantahnya dengan hujah. Ia memilih membangun narasi tandingan.

Allah berfirman:

«"Ketika Musa mendatangi mereka dengan membawa mukjizat-mukjizat Kami yang nyata, mereka berkata, 'Ini hanyalah sihir yang dibuat-buat, dan kami tidak pernah mendengar ajaran seperti ini dari nenek moyang kami dahulu.'"
(QS. Al-Qashash [28]: 36)»

Mukjizat disebut sebagai sihir.

Kebenaran disebut sebagai kebohongan.

Tauhid disebut sebagai ajaran asing.

Padahal, sejarah Mesir sendiri mengenal Nabi Yusuf 'alaihissalam yang jauh sebelumnya telah mengajarkan tauhid dan mengabdikan hidupnya demi keselamatan negeri itu.

Fir'aun berusaha menghapus ingatan kolektif rakyat agar mereka hanya mengenal satu "kebenaran", yaitu narasi yang dibangun istana.

Menuduh Korban Sebagai Ancaman

Narasi Fir'aun tidak berhenti pada penolakan terhadap risalah Nabi Musa.

Ia juga membangun ketakutan di tengah masyarakat.

Dalam berbagai ayat Al-Qur'an, Fir'aun menuduh Musa hendak mengubah agama masyarakat dan mengacaukan negeri. Dengan cara itu, korban penindasan justru diposisikan sebagai ancaman bagi negara.

Padahal, selama bertahun-tahun Bani Israil hidup sebagai kaum yang diperbudak. Anak-anak laki-laki mereka dibunuh, sementara perempuan-perempuan mereka dibiarkan hidup untuk melayani kepentingan rezim.

Realitas diputarbalikkan.

Pelaku tampil sebagai pelindung.

Korban diposisikan sebagai sumber kerusuhan.

Mengapa Musa Memohon Kehadiran Harun?

Nabi Musa memahami bahwa menghadapi propaganda yang terorganisasi tidak cukup hanya dengan membawa mukjizat.

Kebenaran juga harus disampaikan dengan bahasa yang mampu dipahami masyarakat.

Karena itulah Musa berdoa kepada Allah:

«"Adapun saudaraku Harun, dia lebih fasih lidahnya daripadaku. Maka utuslah dia bersamaku sebagai pembantuku untuk membenarkan perkataanku. Sesungguhnya aku khawatir mereka akan mendustakanku."
(QS. Al-Qashash [28]: 34)»

Permintaan ini menunjukkan kerendahan hati Nabi Musa.

Beliau tidak merasa harus menguasai seluruh peran.

Beliau menyadari bahwa setiap perjuangan memerlukan pembagian tugas sesuai keahlian masing-masing.

Musa membawa mukjizat.

Harun menguatkan penyampaian risalah.

Harun: Penjaga Hujah Kebenaran

Allah mengabulkan permohonan Nabi Musa.

«"Kami akan menguatkanmu dengan saudaramu dan Kami akan memberikan kepadamu berdua hujah. Maka mereka tidak akan dapat mencapaimu. Dengan membawa ayat-ayat Kami, kamu berdua dan orang-orang yang mengikutimu akan menjadi pemenang."
(QS. Al-Qashash [28]: 35)»

Ayat ini menunjukkan bahwa kemenangan dakwah bukan hanya ditopang oleh mukjizat, tetapi juga oleh hujah yang disampaikan dengan jelas.

Dalam berbagai kitab tafsir dijelaskan bahwa kefasihan Nabi Harun bukan sekadar kepiawaian berbicara. Ia merupakan kemampuan menjelaskan kebenaran secara jernih sehingga kebohongan kehilangan pijakannya.

Ketika Fir'aun membangun kebingungan, Harun menghadirkan kejelasan.

Ketika propaganda menutupi fakta, Harun menguatkan hujah Nabi Musa.

Perang Narasi dalam Sejarah

Kisah Nabi Musa memperlihatkan bahwa pertarungan antara kebenaran dan kebatilan tidak selalu dimulai di medan perang.

Sering kali, ia dimulai dari perebutan cara masyarakat memahami kenyataan.

Fir'aun berusaha menguasai persepsi rakyat.

Musa dan Harun mengembalikannya kepada kebenaran yang datang dari Allah.

Karena itu, Al-Qur'an tidak hanya menceritakan mukjizat tongkat, laut yang terbelah, atau tenggelamnya Fir'aun. Al-Qur'an juga mengabadikan bagaimana kebohongan dibangun, bagaimana propaganda dijalankan, dan bagaimana hujah mampu meruntuhkannya.

Pelajaran bagi Dakwah

Kisah ini memberikan pelajaran bahwa dakwah memerlukan keberanian sekaligus kemampuan komunikasi.

Kebenaran memang memiliki kekuatan pada dirinya sendiri. Namun, ia tetap memerlukan penyampaian yang jelas agar tidak tenggelam oleh derasnya propaganda.

Musa tidak menganggap kefasihan sebagai kelemahan yang harus disembunyikan.

Sebaliknya, beliau menjadikannya alasan untuk melibatkan Harun dalam perjuangan.

Dakwah akhirnya menjadi kerja bersama, bukan kerja seorang diri.

Penutup

Lidah Nabi Harun bukanlah senjata untuk memenangkan perdebatan, melainkan sarana untuk menegakkan hujah.

Fir'aun memiliki istana, tentara, harta, dan propaganda.

Musa dan Harun hanya membawa wahyu, mukjizat, dan kebenaran.

Namun sejarah membuktikan bahwa kekuasaan yang dibangun di atas propaganda dapat bertahan untuk sementara waktu, sedangkan kebenaran yang ditegakkan dengan hujah akan tetap hidup melampaui runtuhnya sebuah kerajaan.

Itulah sebabnya Al-Qur'an mengabadikan kisah Musa dan Harun, bukan sebagai catatan masa lalu semata, tetapi sebagai pelajaran bahwa propaganda dapat memengaruhi manusia, sedangkan hujah yang bersumber dari Allah pada akhirnya akan menyingkap kebenaran.



IDF Tersingkirkan dari Hiruk Narasi Politik Kekuasaan Saat Tentara IDF bertempur di banyak front demi kelanggengan politik pengu...


IDF Tersingkirkan dari Hiruk Narasi Politik Kekuasaan


Saat Tentara IDF bertempur di banyak front demi kelanggengan politik penguasa. Saat warga Zionis Israel menginginkan gencatan senjata untuk menyelamatkan para sandera. Konflik diantaranya penguasa justru sangat tajam.

Saat 600 para perwira IDF mengundurkan diri karena kelelahan berperang dan terhimpit dengan kesulitan ekonomi. Saat ratusan ribu warganya terkena penyakit gangguan mental karena perang di banyak front. Bagaimana hiruk-pikuk kekuasaannya?

Ini seperti kisah Thalut. Saat baru akan memulai berperang. Para pembesar Bani Israel justru ribut tentang siapakah yang layak menjadi raja?

Media-media Zionis Israel mencatat beragam konflik-konflik internal di ranah kekuasaannya:

1. Netanyahu dengan Jaksa Agung

Jaksa Agung Gali Baharav-Miara mengatakan kepada Perdana Menteri Benjamin Netanyahu pada hari Senin bahwa pilihannya untuk penjabat komisaris layanan sipil tidak memenuhi kriteria untuk jabatan tersebut dan akibatnya ada hambatan hukum untuk melakukan pengangkatan tersebut.

Ini adalah tindakan terbaru dari serangkaian tindakan yang diambil oleh jaksa agung terhadap pemerintah saat ini, yang membangkitkan kemarahan sebagian besar kabinet, dan mendorong upaya para menteri pemerintah untuk menggulingkannya.


2. Kepolisian dengan Mentri Keuangan 

Mentri keuangan bermaksud memotong anggaran 2025 untuk kepolisian. Kebijakan ini ditentang oleh mitra koalisnya, Ben Gvir, sang Mentri Keamanan. Hal ini ditentang juga oleh Kepolisian penjajah Zionis Israel dengan mengeluarkan pernyataan yang menyerang Kementerian Keuangan karena diduga merugikan penegakan hukum secara umum dan unit antiterorisme kepolisian Yamam secara khusus.

"Dalam keputusan sepihak Kementerian Keuangan, diputuskan untuk membekukan anggaran yang ditujukan untuk membangun gedung bagi Yamam, yang para pejuangnya bekerja tanpa lelah demi keamanan Negara Israel dan warganya," pernyataan itu menuduh, menyebut keputusan itu tidak dapat dibenarkan.


3. Kabinet Ultra-Ortodoks dengan Mahkamah Agung

Dalam putusan penting pada bulan Juni, Mahkamah Agung memutuskan dengan suara bulat bahwa pemerintah harus memasukkan siswa yeshiva ultra-Ortodoks ke dalam militer karena tidak ada lagi kerangka hukum untuk melanjutkan praktik yang telah berlangsung puluhan tahun yang memberi mereka pengecualian menyeluruh dari dinas militer.

Partai-partai ultra-Ortodoks menuntut undang-undang yang kontroversial yang secara umum mempertahankan pengecualian besar-besaran dari IDF atau dinas nasional lainnya bagi pria ultra-Ortodoks. Netanyahu, yang mayoritas pemerintahannya bergantung pada dukungan UTJ dan partai ultra-Ortodoks kedua, Shas, telah berusaha memenuhi tuntutan mereka, dalam menghadapi pertentangan politik dan publik yang sengit, terutama mengingat beban yang belum pernah terjadi sebelumnya pada IDF, terutama termasuk para prajurit cadangan, lebih dari 14 bulan dalam perang multi-front.


4. Pajak dinaikkan

Anggaran negara 2025, yang saat ini sedang dibahas di Knesset , mencakup paket kenaikan pajak dan pemotongan belanja senilai hampir NIS 40 miliar untuk mencoba mengendalikan defisit anggaran yang sekarang mencapai 8,5 persen dari PDB. Berdasarkan anggaran baru, warga Israel dijadwalkan membayar lebih banyak pajak sambil menerima lebih sedikit layanan publik dan pemerintah. Ini termasuk peningkatan kontribusi Asuransi Nasional, yang membebani rumah tangga rata-rata hingga NIS 2.000 ($544) setahun


5. Bonus besar kepada para birokrat papan atas


Kabinet menyetujui bonus pensiun hari Minggu hingga seperempat juta shekel ($68.000) untuk direktur jenderal kementerian, wakilnya, dan direktur senior lainnya.

Bonus juga akan diberikan hingga 300 pegawai negeri senior tambahan, yang akan membebani kas negara jutaan dolar dalam pengeluaran ekstra setiap tahunnya, menurut laporan media Ibrani.

Langkah ini dilakukan pada saat pemerintah sedang mengencangkan ikat pinggang di tempat lain, untuk membiayai perang di Gaza dan Lebanon.


Hiruk pikuk ini tentu saja sangat mempengaruhi mental bertempurnya tentara IDF. Untuk apa berperang? Itulah yang tak dimiliki jawabannya. Wajar saja, bila rekrutment tentara IDF yang baru sangat sulit. Wajar saja, bila mereka yang beristirahat dari perang, tidak mau kembali berperang. Seperti dalam kisah Thalut, banyak pasukannya yang melarikan diri dari perang.


Badai Al-Aqsa dan Pasca Kekalahan Penyihir Fir'aun  Kembalinya Nabi Musa 'alaihissalam ke Mesir merupakan peristiwa yang...


Badai Al-Aqsa dan Pasca Kekalahan Penyihir Fir'aun 


Kembalinya Nabi Musa 'alaihissalam ke Mesir merupakan peristiwa yang mengguncang pusat kekuasaan Fir'aun. Selama bertahun-tahun, Musa menghilang setelah meninggalkan Mesir. Berbagai upaya pencarian tidak membuahkan hasil. Istana mengira ancaman itu telah berakhir.

Namun, dugaan itu keliru.

Musa justru kembali dengan langkah yang tidak terduga. Ia tidak datang untuk menyerahkan diri, bukan pula meminta pengampunan kepada penguasa Mesir. Ia datang membawa risalah tauhid: mengajak Fir'aun meninggalkan pengakuan ketuhanan selain Allah.

Bagi rezim Fir'aun, seruan itu bukan sekadar dakwah. Ia dipandang sebagai ancaman langsung terhadap fondasi legitimasi kekuasaan.

Strategi Fir'aun: Mengalahkan Sebelum Menangkap

Fir'aun memahami bahwa menangkap Musa tanpa alasan yang dapat diterima masyarakat berpotensi menimbulkan gejolak.

Karena itu, ia memilih strategi lain.

Seluruh ahli sihir terbaik Mesir dikumpulkan. Arena pertarungan diselenggarakan pada hari raya ketika masyarakat berkumpul dalam jumlah besar. Tujuannya bukan sekadar mengalahkan Musa, tetapi mempermalukannya di hadapan publik sehingga penangkapan bahkan pembunuhannya memperoleh legitimasi politik.

Namun, rencana itu justru berbalik arah.

Mukjizat yang dibawa Nabi Musa membuat para ahli sihir menyadari bahwa yang mereka hadapi bukanlah sihir, melainkan kebenaran dari Allah. Mereka bersujud dan beriman.

Kemenangan yang diharapkan Fir'aun berubah menjadi kekalahan moral yang disaksikan rakyatnya sendiri.

Allah berfirman:

«"Lalu para pesihir itu tersungkur bersujud. Mereka berkata, 'Kami beriman kepada Tuhan semesta alam, Tuhan Musa dan Harun.'"
(QS. Asy-Syu'ara' [26]: 46–48)»

Dari Kekalahan Moral Menuju Politik Pemusnahan

Ketika legitimasi runtuh, Fir'aun mengubah strategi.

Bukan lagi memenangkan opini publik, tetapi menghancurkan lawan dengan kekuatan negara.

Allah menggambarkan perubahan strategi itu:

«"Ketika Musa datang kepada mereka membawa kebenaran dari Kami, mereka berkata, 'Bunuhlah anak-anak laki-laki orang-orang yang beriman bersamanya dan biarkan perempuan-perempuan mereka hidup.' Tetapi tipu daya orang-orang kafir itu hanyalah sia-sia."
(QS. Gafir [40]: 25)»

Fir'aun bahkan berkata:

«"Biarkan aku membunuh Musa dan biarlah dia memohon kepada Tuhannya. Sesungguhnya aku khawatir dia akan mengubah agamamu atau menimbulkan kerusakan di bumi."
(QS. Gafir [40]: 26)»

Narasi "demi keamanan" digunakan untuk membenarkan tindakan represif terhadap mereka yang dianggap mengancam kekuasaan.

Sebuah Refleksi atas Peristiwa Kontemporer

Sebagian pengamat melihat pola yang mengingatkan pada kisah tersebut dalam konflik kontemporer di Gaza.

Sebelum peristiwa Badai Al-Aqsa pada Oktober 2023, wilayah Gaza berada di bawah blokade yang panjang. Berbagai operasi militer dilakukan secara berkala, sementara akses keluar-masuk wilayah, bantuan kemanusiaan, dan berbagai kebutuhan dasar berada dalam pembatasan yang ketat.

Kemudian terjadi serangan Badai Al-Aqsa yang mengejutkan banyak pihak. Peristiwa itu memunculkan pertanyaan besar mengenai efektivitas sistem intelijen dan pertahanan Israel yang selama ini dikenal sangat kuat.

Dalam sudut pandang ini, sebagian orang melihat adanya kemiripan pola dengan kisah Fir'aun: ketika rasa superioritas sebuah kekuasaan mengalami guncangan akibat peristiwa yang tidak diperkirakan.

Analogi tersebut merupakan refleksi sejarah, bukan penyamaan langsung antara tokoh Al-Qur'an dengan tokoh atau negara tertentu.

Ketika Kemenangan Berubah Menjadi Pembalasan

Dalam kisah Nabi Musa, kegagalan mempermalukan lawan di hadapan publik diikuti eskalasi tindakan represif.

Demikian pula, setelah Badai Al-Aqsa, dunia menyaksikan operasi militer berskala besar di Gaza yang menimbulkan korban kemanusiaan yang sangat besar. Berbagai lembaga internasional, organisasi kemanusiaan, dan negara-negara di dunia menyampaikan keprihatinan atas dampak perang terhadap warga sipil.

Di tengah situasi tersebut, muncul pula suara-suara kemanusiaan dari berbagai belahan dunia.

Salah satunya adalah Toshiyuki Mimaki, penyintas bom atom Hiroshima yang diberitakan menyatakan bahwa penderitaan yang dialami warga Gaza sangat menyentuh nuraninya. Pernyataan itu menjadi simbol bahwa empati terhadap korban konflik dapat melampaui batas negara, agama, maupun pengalaman sejarah.

Keteguhan Iman di Tengah Ancaman

Kisah Fir'aun juga mengajarkan bahwa kemenangan sejati bukan hanya kemenangan fisik.

Para ahli sihir yang telah beriman diancam akan dipotong tangan dan kaki mereka secara bersilang, bahkan disalib.

Namun mereka menjawab dengan penuh keyakinan:

«"Maka putuskanlah apa yang hendak engkau putuskan. Sesungguhnya engkau hanya dapat memutuskan kehidupan dunia ini."
(QS. Ta-Ha [20]: 72)»

Keimanan membuat rasa takut kepada manusia berubah menjadi rasa tunduk kepada Allah semata.

Di Tepi Laut Merah

Puncak kisah Nabi Musa terjadi ketika Bani Israil terjepit di depan Laut Merah sementara pasukan Fir'aun mengejar dari belakang.

Secara militer, jalan keluar tampak tertutup.

Pengikut Musa berkata:

«"Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul."
(QS. Asy-Syu'ara' [26]: 61)»

Namun Musa menjawab:

«"Sekali-kali tidak. Sesungguhnya Tuhanku bersamaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku."
(QS. Asy-Syu'ara' [26]: 62)»

Tidak lama kemudian Allah membelah laut, menyelamatkan Musa dan pengikutnya, serta menenggelamkan Fir'aun beserta bala tentaranya.

Pelajaran Sejarah

Al-Qur'an menghadirkan kisah Fir'aun bukan semata sebagai catatan masa lalu, tetapi sebagai pelajaran bagi setiap generasi.

Ia mengingatkan bahwa kekuasaan yang bertumpu pada kesombongan, penindasan, dan keyakinan bahwa dirinya tidak dapat dikalahkan pada akhirnya berada dalam kekuasaan Allah.

Bagaimana setiap konflik kontemporer akan berakhir adalah perkara yang berada dalam ilmu dan ketetapan Allah.

Namun kisah Nabi Musa mengajarkan satu prinsip yang abadi: kemenangan tidak semata-mata ditentukan oleh besarnya kekuatan material, melainkan oleh kehendak Allah, sedangkan kezaliman tidak akan berlangsung tanpa pertanggungjawaban di hadapan-Nya.

«"Musa berkata, 'Sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhanku dan Tuhanmu dari setiap orang yang menyombongkan diri yang tidak beriman kepada hari Perhitungan.'"
(QS. Gafir [40]: 27)

Menimbang Koalisi atau Oposisi Kekuasaan? Apakah memilih berkoalisi atau menjadi oposisi merupakan persoalan halal dan haram? Ap...


Menimbang Koalisi atau Oposisi Kekuasaan?


Apakah memilih berkoalisi atau menjadi oposisi merupakan persoalan halal dan haram? Apakah pilihan politik itu sendiri menentukan surga atau neraka? Apakah setiap orang yang berada di dalam kekuasaan otomatis menjadi pendukung kezaliman?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut terus muncul setiap kali terjadi pergantian pemerintahan. Perdebatan sering berubah menjadi saling menghakimi. Mereka yang bergabung dengan pemerintah dituduh menjual idealisme, sedangkan mereka yang memilih oposisi dicap pembangkang. Padahal, Al-Qur'an menghadirkan gambaran yang jauh lebih kompleks.

Dalam perspektif Islam, persoalan koalisi dan oposisi pada dasarnya berada dalam ranah ijtihad siyasah (kebijakan politik), bukan persoalan akidah. Yang menjadi ukuran bukanlah posisi seseorang terhadap penguasa, melainkan apakah keberadaannya memperbesar kemaslahatan atau justru memperkuat kezaliman.

Batasnya ditegaskan Allah dalam firman-Nya:

«"Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan." (QS. Al-Ma'idah: 2)»

Ayat ini menjadi parameter utama. Berkoalisi dapat bernilai ibadah apabila digunakan untuk menghadirkan keadilan. Sebaliknya, oposisi pun dapat menjadi tercela apabila hanya bertujuan menjatuhkan lawan demi ambisi kekuasaan.

Ketika Orang Beriman Berada di Dalam Sistem

Al-Qur'an menghadirkan sejumlah tokoh yang justru menjadi agen perubahan dari dalam struktur kekuasaan.

Yang paling dikenal adalah Nabi Yusuf 'alaihissalam. Beliau menerima amanah mengelola perbendaharaan Mesir di bawah pemerintahan yang bukan pemerintahan Islam. Jabatan itu bukan tujuan, melainkan sarana menyelamatkan masyarakat dari bencana kelaparan.

Al-Qur'an juga mengabadikan kisah seorang mukmin dari keluarga Fir'aun yang menyembunyikan keimanannya. Ketika Fir'aun hendak membunuh Nabi Musa, orang beriman itu menggunakan pengaruhnya untuk membela kebenaran dan memperlambat kezaliman.

Demikian pula seorang laki-laki yang berlari dari ujung kota untuk memperingatkan Musa agar segera meninggalkan Mesir karena rencana pembunuhan telah disusun. Ada pula istri Fir'aun yang tetap menjaga keimanan di tengah istana paling zalim dalam sejarah.

Pertanyaan menarik pun muncul. Mengapa Allah tidak mencela keberadaan mereka di lingkungan kekuasaan Fir'aun?

Mengapa mereka tidak diposisikan sebagaimana istri Nabi Nuh dan istri Nabi Luth yang justru dihukum karena berpihak kepada kekafiran?

Jawabannya tampak jelas. Mereka berada di dalam sistem bukan untuk menopang kezaliman, tetapi untuk membatasi, menghambat, dan mengurangi dampaknya. Mereka tidak larut dalam kebatilan, tetapi memanfaatkan ruang yang tersedia demi membela kebenaran.

Ketika Oposisi Menjadi Jalan Kebenaran

Di sisi lain, sejarah Islam juga menunjukkan bahwa ada saat ketika sikap oposisi menjadi pilihan yang benar.

Imam Ahmad bin Hanbal menolak mengikuti doktrin penguasa dalam peristiwa Khalqul Qur'an. Beliau rela dipenjara dan disiksa demi mempertahankan akidah. Dalam kondisi seperti ini, kompromi bukan lagi ijtihad, melainkan pengkhianatan terhadap prinsip.

Karena itu, Islam tidak mengajarkan satu model hubungan dengan kekuasaan. Ada masa ketika masuk ke dalam sistem menjadi strategi terbaik, dan ada masa ketika berdiri di luar menjadi kewajiban moral.

Pelajaran dari Umar bin Abdul Aziz

Sejarah Dinasti Umayyah juga memberikan pelajaran penting.

Sebelum menjadi khalifah, Umar bin Abdul Aziz berada di lingkungan pemerintahan yang pada masa tertentu menggunakan tangan Al-Hajjaj ats-Tsaqafi untuk menumpas berbagai pemberontakan. Salah satu korbannya adalah Sa'id bin Jubair, seorang ulama besar yang gugur setelah mempertahankan prinsipnya.

Umar bin Abdul Aziz tidak mampu menghentikan seluruh kebijakan keras tersebut. Namun, beliau tidak berhenti memberi nasihat kepada penguasa. Ketika akhirnya memegang tampuk pemerintahan, beliau melakukan reformasi besar yang mengubah wajah kekhalifahan.

Keberadaannya di dalam sistem menjadi jalan lahirnya perubahan yang sebelumnya mustahil dilakukan dari luar.

Strategi Shalahuddin Al-Ayyubi

Contoh lain tampak pada perjalanan Shalahuddin Al-Ayyubi.

Atas arahan Nuruddin Zanki, ia memasuki struktur pemerintahan Dinasti Fatimiyah yang ketika itu bermazhab Syiah Ismailiyah. Tujuannya bukan memperkuat ideologi Fatimiyah, melainkan membangun persatuan umat Islam menghadapi Perang Salib.

Melalui legitimasi politik yang dimilikinya, Shalahuddin berhasil mengakhiri kekuasaan Fatimiyah, mempersatukan Mesir dan Syam, kemudian membebaskan Al-Quds.

Seandainya ia hanya berdiri sebagai oposisi di luar sistem, sejarah mungkin akan berjalan berbeda.

Masalahnya Bukan Posisi, tetapi Orientasi

Karena itu, pertanyaan yang seharusnya diajukan bukanlah:

"Apakah ia berkoalisi atau beroposisi?"

Melainkan:

- Apakah ia membela keadilan?
- Apakah ia mempersempit ruang gerak kezaliman?
- Apakah ia tetap menjaga integritas ketika berada di dalam kekuasaan?
- Apakah kritiknya lahir demi perbaikan, bukan sekadar perebutan kekuasaan?

Selama orientasinya adalah ishlah (perbaikan), baik koalisi maupun oposisi sama-sama merupakan medan ijtihad.

Namun ketika seseorang justru menjadi alat pelanggeng kezaliman, membenarkan kebatilan, atau menggadaikan prinsip demi jabatan dan kepentingan dunia, maka persoalannya bukan lagi soal koalisi atau oposisi, melainkan soal keberpihakan kepada kebenaran.

Penutup

Islam tidak mengajarkan fanatisme terhadap posisi politik. Al-Qur'an justru memperlihatkan beragam strategi perjuangan.

Ada Nabi Yusuf yang memperbaiki negeri dari dalam pemerintahan.

Ada mukmin keluarga Fir'aun yang melawan kezaliman dari dalam istana.

Ada Asiyah yang mempertahankan iman di tengah pusat kekuasaan.

Ada Imam Ahmad yang memilih berhadapan langsung dengan penguasa.

Semuanya menempuh jalan yang berbeda, tetapi tujuan mereka sama: menegakkan kebenaran dan meminimalkan kerusakan.

Pada akhirnya, yang akan dihisab oleh Allah bukanlah apakah seseorang berada di barisan koalisi atau oposisi, melainkan apakah keberadaannya menjadi penolong kebenaran atau justru penopang kezaliman.

Kebencian Yahudi terhadap Bangsa Arab di Madinah dan di Palestina Saat Ini Yahudi Zionis Israel terus merampas, mengusir, dan me...

Kebencian Yahudi terhadap Bangsa Arab di Madinah dan di Palestina Saat Ini


Yahudi Zionis Israel terus merampas, mengusir, dan membunuh kaum Muslimin di Palestina. Bahkan, kebijakan-kebijakan yang dilegalkan untuk mengeksekusi mati tahanan dari bangsa Arab menunjukkan eskalasi kekerasan, dari sekadar “memotong rumput” menjadi “membalikkan tanah”—yakni menghancurkan bukan hanya kekuatan, tetapi juga akar kehidupan, termasuk warga sipil dan anak-anak.

Namun, apakah pola ini baru terjadi hari ini?

Sejarah menunjukkan bahwa sebelum kedatangan Nabi ﷺ di Madinah, kelompok Yahudi telah memainkan peran dalam memicu konflik antara kabilah Arab, khususnya Aus dan Khazraj. Strategi adu domba ini terus dilakukan untuk melemahkan kekuatan internal masyarakat Arab Madinah.

Tokoh seperti As’ad bin Zurarah merasakan kegelisahan yang mendalam. Ia menyaksikan bagaimana konflik yang terus dipanaskan telah mengorbankan banyak pemimpin besar Arab. Di balik itu, terdapat agenda yang lebih besar: melemahkan, lalu menguasai.

Bahkan, terdapat ancaman yang sering mereka lontarkan kepada bangsa Arab Madinah: 

“Waktu Nabi yang akan diutus telah semakin dekat. Kami akan membunuh kalian bersamanya sebagaimana kaum ‘Ad dan Iram.”

Namun, rencana itu tidak berjalan sesuai harapan. Bangsa Arab Madinah justru lebih dahulu menyambut Nabi ﷺ, dan ternyata Nabi terakhir bukan berasal dari kalangan Yahudi.

Sejak saat itu, kebencian semakin memuncak. Terlebih ketika Islam tumbuh dan menguat.

Fenomena ini telah digambarkan dalam Al-Qur’an, khususnya dalam Surah Al-Fatḥ ayat 29, yang memisalkan pertumbuhan kaum Muslimin seperti tanaman:

“…seperti benih yang mengeluarkan tunasnya, lalu tunas itu menguat, kemudian menjadi besar dan tegak di atas batangnya; tanaman itu menyenangkan hati penanamnya, tetapi membuat marah orang-orang kafir…” (QS. Al-Fatḥ: 29)

Pertumbuhan ini—dari lemah menjadi kuat, dari sedikit menjadi banyak—justru menjadi sebab timbulnya kemarahan dan kebencian pihak yang memusuhi.

Ibnu Mas‘ud menafsirkan ayat ini dengan mengatakan:

 “Semoga Allah membuat marah orang-orang kafir dengan Nabi dan para sahabatnya.”

Imam Malik juga menegaskan:

 “Barangsiapa di dalam hatinya terdapat kebencian terhadap salah satu sahabat Nabi, maka ia termasuk dalam ancaman ayat ini.”

Dengan demikian, kebencian yang tampak hari ini bukanlah fenomena yang berdiri sendiri. Ia memiliki akar historis dan pola yang berulang: ketika umat lemah, mereka diadu domba; ketika umat bangkit, mereka dimusuhi secara terbuka.

Al-Qur’an juga menegaskan bahwa akan selalu ada generasi yang menggantikan dan melanjutkan perjuangan:

 “Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Dia mencintai mereka dan mereka mencintai-Nya; mereka lemah lembut terhadap orang beriman dan keras terhadap orang kafir…” (QS. Al-Mā’idah: 54)

Di sisi lain, Rasulullah ﷺ menggambarkan ikatan kaum mukminin sebagai satu tubuh:

 “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam kasih sayang dan kepedulian mereka seperti satu tubuh; jika satu bagian sakit, seluruh tubuh merasakan demam dan tidak bisa tidur.” (HR. Muslim dan Ahmad)

Kesimpulannya, eskalasi kebencian dan kekerasan yang terjadi hari ini tidak bisa dilepaskan dari dua hal: faktor sejarah dan reaksi terhadap pertumbuhan kekuatan umat. Sebagaimana benih yang tumbuh menjadi pohon yang kokoh, kekuatan itu justru memancing kemarahan pihak yang merasa terancam.

Namun di balik itu, Al-Qur’an juga menegaskan satu hal: pertumbuhan yang benar, yang berakar pada iman dan amal saleh, pada akhirnya akan berujung pada janji—ampunan, pahala dan kemenangan yang besar dari Allah.


Sumber:
Hamid Az-Zaini, The Untold Stories Sahabat Nabi, GIP, 2025

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Al-Baqarah (1) Al-Qur'an (362) Al-Qur’an (31) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) An-Nadwi (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bahaya Kemunduran Umat Islam (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (53) Cerita kegagalan (1) cerpen Nabi (8) cerpen Nabi Musa (2) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) dakwah (8) Dakwah (2) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) english (6) English (6) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fiqh (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (7) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) hikmah (1) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) Islam (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) kecerdasan (18) Kecerdasan (311) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Hadist (4) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) kisah para nabi dan (2) kisah para nabi dan rasul (44) kisah para Nabi dan Rasul (1) Kisah para nabi dan rasul (69) Kisah Para Nabi dan Rasul (577) kisah para nabi dan rasul. Nabi Daud (1) kisah para nabi dan rasul. nabi Musa (2) Kisah Penguasa (1) Kisah ulama (1) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) Nabi Adam (71) Nabi Ayub (1) Nabi Daud (3) Nabi Ibrahim (3) Nabi Isa (2) nabi Isa. nabi ismail (1) Nabi Ismail (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Khidir (1) Nabi Musa (29) Nabi Nuh (6) Nabi Sulaiman (2) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (15) Namrudz (2) Nasrulloh Baksolahar (1) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) nusantara (5) Nusantara (265) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (652) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rasulullah shalallahu alaihi wassalam (1) Rehat (493) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) Sahabat (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) Salimul Aqidah (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Serah Nabawiyah (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (290) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah penguasa (11) Sirah Penguasa (245) sirah Sahabat (2) Sirah Sahabat (169) Sirah Tabiin (43) Sirah ulama (26) Sirah Ulama (158) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tamim Ad Dari (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Wakaf (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)