basmalah Pictures, Images and Photos
08/29/26 - Our Islamic Story

Menelusuri Jejak Pengkhianatan Yahudi di Madinah Lembar-...

Menelusuri Jejak Pengkhianatan Yahudi di Madinah

Lembar-lembar sejarah membukakan kita pada sebuah ironi yang sunyi: bagaimana sebuah tatanan yang dibangun di atas fondasi inklusivitas bisa runtuh oleh kalkulasi oportunisme yang dingin.

Di awal berdirinya Daulah Islamiyah di Madinah, Rasulullah SAW merajut sebuah visi harmoni yang melampaui sekat tribalisme. Di sana, kaum Muslimin hidup berdampingan dengan tiga kabilah besar Yahudi—Bani Qainuqa', Bani Nadhir, dan Bani Quraizhah—sementara di ufuk utara, Khaibar berdiri tegak sebagai episentrum kekuatan dengan benteng-benteng yang kokoh. 

Namun, Piagam Madinah yang luhur itu nyatanya berdiri di atas tanah yang rapuh, di mana janji setia sering kali hanyalah selimut bagi belati yang sedang diasah.

Dalam kacamata strategi intelijen masa lalu, pengkhianatan ini bukanlah sekadar deviasi moral, melainkan sebuah pola yang kita kenali sebagai "asymmetric strategy."

Yahudi memiliki tabiat pragmatis yang sistematis: menepati janji saat posisi tawar melemah, namun segera memutus ikatan begitu melihat celah untuk menghancurkan.

Bagi Yahudi, sebuah pakta perdamaian bukanlah tujuan akhir dari stabilitas geopolitik, melainkan sebuah tactical pause atau jeda taktis untuk menunggu lawan berada di titik paling rentan.

Inilah yang menjadi "budaya pemenangan" yang kontras dengan prinsip muru'ah atau kehormatan ksatria yang dipegang teguh oleh kaum Muslimin.

Yahudi Bani Qainuqa' menjadi fragmen pertama yang menunjukkan bagaimana kesombongan mampu melumpuhkan logika militer. 

Sebagai kabilah terkuat di dalam kota, mereka menguasai sendi-sendi vital Madinah melalui industri persenjataan; para pengrajin emas dan pandai besi mereka bukan sekadar perajin, melainkan "industri pertahanan" yang menyokong 700 prajurit terlatih. 

Pasca-kemenangan Muslim di Perang Badar, alih-alih mengambil pelajaran dari runtuhnya wibawa Quraisy, mereka justru merespon seruan damai Rasulullah SAW dengan provokasi militer yang pongah:

"Wahai Muhammad, janganlah tertipu dengan dirimu sendiri lantaran menang melawan orang-orang Quraisy. Mereka adalah orang-orang yang dungu, yang tidak mengerti tentang peperangan. Kalau engkau memerangi kami, niscaya engkau akan tahu bahwa engkau belum pernah menemui orang sehebat kami." (HR. Abu Dawud)

Gesekan ini akhirnya mencapai titik didih di sebuah pasar, ketika kehormatan seorang wanita Muslimah disingkap secara paksa oleh oknum Yahudi. Insiden pengeroyokan yang menewaskan seorang pria Muslim setelah membela wanita tersebut menjadi garis merah bagi stabilitas negara.

Di sinilah Rasulullah SAW menetapkan sebuah standar baru bagi keamanan nasional: bahwa kedaulatan sebuah bangsa diukur dari rasa aman individu yang paling rentan di dalamnya.

Mobilisasi pasukan untuk membela kehormatan satu jiwa menunjukkan bahwa harga diri sebuah peradaban tidak dapat ditawar oleh kekuatan ekonomi maupun militer lawan.

Jika Bani Qainuqa' berkhianat lewat kesombongan terbuka, Bani Nadhir memilih jalan yang lebih gelap di balik topeng diplomasi.

Pengkhianatan ini terjadi dalam suasana yang seharusnya suci secara hukum: saat Rasulullah SAW datang untuk membicarakan kontribusi pembayaran diya (tebusan darah), sebuah kewajiban hukum yang disepakati bersama. 

Namun, di balik keramahtamahan semu itu, Amr bin Jahsy telah bersiap di atas atap dengan batu penggilingan untuk meremukkan kepala sang Nabi. Intervensi wahyu menggagalkan rencana fatal ini, mengungkap bahwa pengkhianatan paling berbahaya sering kali terjadi di meja jamuan diplomasi.

Konsekuensinya mutlak: ultimatum sepuluh hari untuk meninggalkan Madinah, sebuah penegasan bahwa kedaulatan tidak memberi ruang bagi para perancang pembunuhan di balik layar.

Puncak dari rangkaian makar ini terwujud dalam aliansi gelap di Perang Khandaq. Khaibar, sebuah oasis subur yang rimbun dengan pohon kurma namun dipagari 8-10 benteng kokoh, menjadi motor penggerak utama.

Dengan kekuatan 10.000 pasukan, tokoh-tokoh mereka memprovokasi seluruh kabilah Arab untuk mengepung Madinah. Bani Quraizhah, kabilah terakhir yang tersisa di dalam kota, awalnya ragu karena merasa terjepit. Namun, melalui tekanan psikologis dan janji perlindungan dari Khaibar, mereka akhirnya melakukan perjudian fatal dengan menikam dari dalam saat Madinah sedang terkepung parit.

Ketika para sahabat mencoba mengonfirmasi komitmen mereka, jawaban yang muncul adalah sebuah penolakan total:

"Siapa itu Rasul Allah? Tidak ada perjanjian antara kami dan Muhammad dan juga tidak ada ikatan apa-apa."

Simfoni pengkhianatan ini kian sempurna dengan kehadiran kaum Munafik yang dipimpin Abdullah bin Ubai. Mereka adalah jembatan tak kasat mata yang menjaga citra pihak luar di dalam tubuh umat. Pola "persaudaraan" ini digambarkan dengan presisi dalam Al-Hasyr ayat 11, di mana kaum Munafik menjanjikan dukungan setia kepada sekutu-sekutu mereka yang kafir.

Fenomena ini memiliki resonansi yang kuat dengan era modern; keberadaan agen-agen yang menjaga kepentingan asing melalui narasi media dan organisasi, sembari perlahan menggerogoti stabilitas dari dalam negeri sendiri.

Sejarah ini memberikan kita sebuah visi strategis mengenai arti kedaulatan yang sesungguhnya. Rasulullah SAW menunjukkan bahwa ketegasan militer hanya akan efektif jika didahului oleh kemandirian yang matang.

Beliau memutus ketergantungan ekonomi dengan membangun pasar sendiri dan mengamankan sumber daya air melalui wakaf strategis Sumur Ruma. Tanpa kedaulatan ekonomi, sebuah bangsa hanyalah sandera bagi kepentingan pihak lain.

Pada akhirnya, kita belajar bahwa bagi mereka yang mengutamakan oportunisme di atas kehormatan, janji perdamaian sering kali hanya dianggap sebagai catatan kertas tanpa arti yang menunggu saat yang tepat untuk dibakar.

Di tengah dunia yang penuh dengan aliansi cair saat ini, mampukah kita mengenali mana komitmen yang tulus dan mana yang sekadar strategi menunggu waktu untuk menikam?

Pelajaran dari Madinah tetap relevan: perdamaian yang sejati hanya bisa tegak di atas kewaspadaan yang tajam dan kekuatan yang mandiri.

PENGETAHUAN TENTANG AKHIRAT Segala macam pengetahuan, pengetahuan apa saja adalah penting, berguna, dan mulia. Tidak ada pengeta...


PENGETAHUAN TENTANG AKHIRAT

Segala macam pengetahuan, pengetahuan apa saja adalah penting, berguna, dan mulia. Tidak ada pengetahuan yang tidak penting atau kurang penting, yang berguna atau yang kurang berguna.

Alangkah pentingnya ilmu kesehatan, ilmu kedokteran. Dengan ilmu kesehatan dan pengobatan dari dokter, orang dapat hidup sehat dan kuat, kuat jasmani dan kuat rokhani, sehingga dapat merasakan kebahagiaan dan kegembiraan dalam hidupnya. Alangkah sengsaranya manusia yang hidupnya sakit-sakitan, sekalipun dia kaya raya atau mempunyai pangkat yang tinggi.

Mahkota termahal di dunia ini ialah kesehatan, demikian artinya salah satu sabda Rasulullah s.a.w.

Demikian pentingnya ilmu kesehatan dan pengobatan, dan tak kurang dari itu pentingnya ilmu yang lain-lain, seperti ilmu hukum, ilmu teknik, ilmu ekonomi dan lain-lain.

Tetapi yang paling menonjol pentingnya ialah ilmu atau pengetahuan tentang kehidupan yang kekal dan abadi, yaitu kehidupan di akhirat nanti.

Dikatakan menonjol, karena kehidupan di akhirat jauh lebih besar, lebih luas dan lebih lama daripada kehidupan di dunia ini, satu penghidupan di dunia ini, satu penghidupan yang tak berakhir, tidak berkesudahan, tetapi harus terus menerus tak ada ujung atau akhirnya.

Perbandingan kehidupan di dunia ini dengan penghidupan di akhirat nanti sebagai yang telah disabdakan oleh Rasulullah s.a.w. adalah ibarat seorang yang pergi ke laut, lalu memasukkan salah satu jarinya ke dalam laut, lalu mengangkatkan jari itu ke atas. Air yang melekat pada jarinya itulah kehidupan dunia, sedang air yang masih tertinggal di dalam samudera luas itulah ke hidupan akhirat itu.

Ilmu kesehatan, pengobatan, ekonomi, hukum, teknik dan lain-lain ilmu pengetahuan, hanya mengantar manusia mencapai kebahagiaan dan kegembiraan hidup dunia yang fana. Sedang pengetahuan tentang akhirat mengantar manusia untuk mencapai kebahagiaan dan kesenangan hidup di akhirat yang kekal dan abadi.

Ilmu pengetahuan akhirat adalah inti atau puncak dari seluruh ilmu pengatahuan. Orang atau sarjana-sarjana yang telah mendapat titel kesarjanaan dalam ilmu pengetahuan yang lain, tetapi belum yakin dan belum mengetahui tentang kehidupan di akhirat, berarti belum sampai di top atau di puncak ilmu pengetahuannya.

Pengetahuan tentang akhirat lain dari pengatahuan-pengetahuan lainnya. Pengetahuan biasa boleh dikatakan seluruhnya mengenai hal-hal yang sudah terjadi, sebab itu mempunyai fakta-fakta yang dapat ditangkap oleh panca indera manusia. Tetapi pengetahuan tentang akhirat adalah pengetahuan tentang suatu yang belum terjadi, tentang suatu yang akan terjadi kelak dikemudian hari. Tidak ada fakta-faktanya, tidak dapat dibawa kedalam laboratorium.

Pengetahuan tentang akhirat 100% berdasarkan Kitab-kitab Suci yang diturunkan kepada Rasul-rasul-Nya, yang kita dapat mempercayainya berdasarkan fakta-fakta yang sudah terjadi di alam ini.

Sebab itu tidak semua orang dapat mempercayai dan meyakinkannya. Ada orang yang mempercayai dan meyakinkannya, dan ada pula orang yang tidak dapat mempercayai dan meya-kinkannya.

Ilmu tentang akhirat adalah ilmu yang tidak ada sangkut-pautnya dengan harta, benda, makan, minum, pangkat dan lainnya. Karena kesuciannya, maka pengetahuan tentang akhirat tidak dapat dicapai oleh Setan dan Iblis.

Pengetahuan tentang akhirat tertutup bagi Setan dan Iblis. Juga tertutup bagi manusia-manusia yang masih dipengaruhi oleh Setan dan Iblis, manusia-manusia yang bergelimang dengan kesalahan dan dosa-dosa, manusia yang masih dikuasainya oleh hawa nafsu terhadap harta, benda dan pangkat.

Hanya orang-orang yang bersih dan selalu mensucikan diri dapat mencapai ilmu pengetahuan dan keyakinan terhadap kehi-dupan akhirat ini. Yaitu orang-orang yang terpilih, manusia-manusia pilihan, yaitu para Nabi-nabi dan Rasul-rasul, para Wali-wali Allah dan pengikut-pengikut mereka.

Allah memberikan ucapan selamat terhadap manusia-manusia terpilih yang dapat meyakinkan akan kehidupan di akhirat nanti.

"Katakanlah: Segala puji bagi Allah, dan selamat sejahteralah atas hamba-hamba-Nya yang terpilih itu. Apakah Allah yang lebih baik ataukah Tuhan-Tuhan palsu yang mereka sekutukan itu?"

Manusia yang terpilih yang mendapatkan rakhmat dan karunia Allah untuk dapat meyakinkan dan mempercayai kehidupan di akhirat lebih yakin akan adanya kehidupan akhirat itu daripada tertib atau munculnya matahari dipagi besok.

Manusia yang mengingkari kehidupan akhirat mengira bahwa hukum yang berlaku pada manusia sesudah mati adalah sama dengan hukum yang berlaku pada tumbuh-tumbuhan dan binatang-binatang.

Mereka lihat tumbuh-tumbuhan itu bertumbuh nya berdaun berkembang dan berbuah, lama-lama menjadi tua meninggi dan membesar dengan batang, dahan dan ranting-ranting dan rontok, lalu mati dan lapuk, lalu tumbuh lagi yang lain.

Begitu juga binatang-binatang lahir menyusu menjadi semakin besar lalu beranak dan berkembang biak. Maka yang tua mati dan hancur menjadi tanah, lalu digantikan oleh anak turunannya.

Manusia mereka anggap sama dengan tumbuh-tumbuhan dan binatang-binatang itu, sesudah mati hancur menjadi tanah lalu lahir manusia-manusia baru, yang sudah mati menjadi tidak ada.

Mereka tidak tahu amat besar perbedaan antara manusia dan tumbuh-tumbuhan dan binatang-binatang itu, dengan beratus-ratus perbedaan.

Mengapa ada persamaan antara manusia dan tumbuh-tumbuh an dan binatang-binatang dalam jasad atau tumbuhnya, tetapi terdapat perbedaan yang besar dan banyak sekali dalam roh atau jiwanya?

Tangga pertama untuk dapat meyakinkan kehidupan di akhirat ialah mempelajari lebih dalam tentang tubuh dan roh manusia.

Manusia yang tak mengetahui atau buta sama sekali tentang hakekat roh atau jiwanya sendiri, tidak mengetahui perbedaan antara jasad dan roh, maka perhatian dalam hidupnya tertuju hanya kepada jasad atau tubuhnya saja.

Yang mereka pentingkan hanya kelezatan dan kesenangan hidup dunia. Mereka bercita-cita akan hidup kekal dan selama-lamanya di dunia ini, lupa akan hari pembalasan dan hakekat kehidupan akhirat.

Tetapi bila manusia sudah mempelajari akan hakikat diri manusia dan jiwanya, maka manusia itu akan memikirkan dan memperhatikan soal-soal roh dan jiwa ini lebih dari soal-soal jasad dan tubuhnya. 

Mereka akan lebih banyak memikirkan soal-soal yang bertalian dengan mati dan soal-soal yang akan terjadi sesudah mati. Mereka lalu bersiap dan bersedia segala keperluan untuk menghadapi kehidupan akhirat itu selama mereka masih hidup di dunia ini. 

Mereka akan mempergunakan setiap kesempatan dalam hidup ini untuk melakukan sebanyak mungkin kebaikan dan kebajikan, bertaubat dan minta ampun. Mereka akan jauhi segala perbuatan-perbuatan jahat, kemungkaran dan maksiyat.

Jelas sekali perbedaan antara orang-orang yang meyakinkan akan akhirat dan orang-orang yang mengingkarinya. Yang yakin akan akhirat berlomba-lomba berbuat kebajikan, sedang yang mengingkarinya berlomba-lomba berbuat jahat dan bersenang-senang.

Orang-orang yang yakin akan akhirat dan berlomba-lomba berbuat kebajikan dan menjauhi segala kejahatan dan kemungkaran. Hilanglah bagi mereka ketakutan terhadap mati, timbul keinginan untuk bertemu dengan Allah.

Beginilah sifat-sifatnya orang-orang suci, para Nabi dan Rasul, para Wali dan Shalihin.

Bila kepada mereka ditentukan umur yang pendek, mereka redha, tetapi bila diberi umur yang panjang, umur yang panjang itu mereka pergunakan untuk melakukan kebajikan sebanyak-banyaknya.

Alangkah indahnya dunia ini, bila semua manusia berlomba-lomba melakukan kebajikan, menjauhi segala kejahatan dan kemungkaran.


TANDA ORANG BERAKAL Orang yang berakal, luas pandangannya kepada sesuatu yang menyakiti atau yang menyenangkan. Pandai memilih p...

TANDA ORANG BERAKAL


Orang yang berakal, luas pandangannya kepada sesuatu yang menyakiti atau yang menyenangkan.

Pandai memilih perkara yang memberi manfaat dan menjauhi yang akan menyakiti.

Dia memilih mana yang lebih kekal walaupun sulit jalannya daripada yang mudah didapat padahal rapuh. Sebab itu mereka pandang keutamaan akhirat, lebih daripada keutamaan dunia. 

Lebih mereka utamakan kegembiraan kesopanan daripada kegembiraan hawa nafsu.

Mereka menimbang biarlah susah menempuh suatu perkara yang sulit asal akibatnya baik, daripada perkara yang mudah tetapi akibatnya buruk.

Mereka tetap mengharap dan tetap takut. Tetapi tidaklah ketakutannya itu pada perkara yang bukan bukan, tidak pula harapannya itu kepada hal yang tidak-tidak.

Pandangannya luas, ditimbangnya sebelum dikerjakannya. Sebab mengharap keutamaan dengan tidak mempergunakan pemandangan adalah pekerjaan sia-sia.

Orang berakal selalu menaksir harga dirinya, menaksir harga diri ialah dengan menilik hari-hari yang telah dilalui, adakah dipergunakan kepada perbuatan-perbuatan yang berguna, dan hari yang masih tinggal ke manakah pula digunakan.

Karena murah atau mahal harga diri, baik waktu hidup, apa lagi setelah mati, ialah menurut jasa yang telah diperbuat pada setiap hari yang dilalui itu.

Dia sadar bahwa hari yang telah habis terbelanjakan untuk yang tidak perlu, tidaklah akan dapat ditebus lagi. Oleh sebab itu dilihatnya tahun berganti, bulan bersilih, dan hari berlalu. 

Dihitungnya baik-baik ke manakah dia telah pergi, apakah bekas kerjanya buat kemaslahatan dirinya sekurang-kurangnya, atay kemaslahatan kepada masyarakatnya.

Yang kedua, orang berakal itu selalu berbantah dengan dirinya. Kalau diri itu bermaksud menempuh yang jahat, dihukumnya bahwa kejahatan itu berbahaya, merugikan, dan mencelakakan.

Dan kalau diri itu ada mengingat-ingat yang baik, dihukumkan bahwa kebaikan itu menguntungkan, membawa kemenangan, dan memberi laba. 

Lantaran hukuman yang demikian, mudahlah diri mengingat yang baik-baik itu dan buah hasilnya, sehinggah mudah menunjukkannya ke sana.

Dan bila akan menghadapi kejahatan itu mudah pula dia mengingat bahaya dan celakanya, gemetar badannya, dan timbul takutnya akan melampaui batas itu.

Orang yang berakal selalu mengingat kekurangannya, kalau perlu dituliskannya di dalam suatu buku peringatan sehari-hari.

Baik kekurangan pada agama, atau pada akhlak dan kesopanan. Peringatan diulang-ulangnya dan buku itu kerapkali dilihatnya untuk direnungi dan diiktiarkan mengangsur-angsur mengubah segala kekurangan itu. Baik dalam berhari, atau berbulan, atau bermusim sekalipun.

Kalau perlu bila telah dapat satu macam sifat kekurangan itu diubahi, didorongnya dari notes peringatan tadi dengan tinta merah. Setelah dicoreng, digembirakannya hatinya, sebab telah menang di dalam suatu perjuangan yang amat hebat 

Dan dipandangnya pula dengan hati iba dan sedih segala sis sisa yang masih ketinggalan. Dan dia tidak berhenti berusaha

Dilihatnya kebaikan budi pekerti orang lain. Dipujinya di dalam hati dan ditimbulkannya cita-cita hendak meniru, serayu diangsurnya pula meneladani dari selangkah ke selangkah.

Kalau hendak mencari teman, handai tolan, dan sahabat, orang yang berakal memilih orang yang mempunyai kelebihan baik dalam perkara agama atau ilmu atau budi kesopanan. Yang berlebih dari kita supaya dapat kita tiru teladan.

Atau dicarinya teman yang sama tingkatnya supaya saling menguatkan. Karena budi pekerti yang baik dan adat yang terpuji tidaklah subur tumbuhnya di dalam diri kalau tidak bertolong-tolongan menggembirakan dengan teman.

Tidak ada karib atau kerabat yang lebih setia daripada seorang teman yang menyokong dan membantu membesarkan hati dan memberanikan kita di dalam menempuh suatu perbuatan baik.

Hati kita yang tadinya kurang kuat menjadi kuat dan bertambah kuat karena digosok kawan. Budiman mengeluarkan pepatah bahwasanya berkawan dengan orang yang tidak berilmu, tapi hidup dalam kalangan orang-orang yang berilmu, lebih baik daripada berkawan dengan orang yang berilmu tetapi hidup di dalam kalangan orang yang bodoh-bodoh.

Orang yang berakal tidak berdukacita lantaran ada cita-citanya di dunia yang tidak sampai atau nikmat yang meninggalkannya. Diterimanya apa yang terjadi atas dirinya dengan tidak merasa kecewa dan tidak putus-putusnya berusaha.

Jika rugi tidaklah cemas, dan jika berlaba tidaklah bangga. Karena cemas merendahkan hikmah dan bangga menghilangkan timbangan.

Orang yang berakal enggan menjauhi orang yang berakal pula, karena tanpa teman yang berakal, akan lemahlah dia, dan dengan bersama akan dapat dia membandingkan di mana kekurangannya dan di mana kelebihannya.

Biar lengah dari yang lain, tetapi tidak lalai dia menjaga yang Empat saat yang selalu diawasi oleh orang yang berakal empat saat itu.

1. Saat untuk menyembahkan hajatnya kepada Tuhannya

2. Saat untuk menilik dirinya sendiri.

3. Saat untuk membukakan rahasia diri kepada sahabatnya yang setia, menyatakan aib-aib dan celama supaya dapat dinasihati dan ditunjukkan oleh teman setia itu secara terus terang.

4. Saat dia bersunyi-sunyi diri, duduk bersoal jawab dengan dirinya, menanyakan mana yang halal dan mana yang indah, mana yang jahat dan mana yang baik.

Maka saat yang keempat ini adalah saat yang paling penting di antara keempat saat itu. Karena jiwa dan hati mesti satu saat wajib diistirahatkan.

Orang yang berakal hanyalah merindui tiga perkara:

Pertama, menyediakan bekal untuk hari kemudian.

Kedua, mencari kelezatan buat jiwa.

Ketiga, menyelidiki arti hidup.

Orang yang berakal tahu membedakan manusia, sebab iru dia tidak canggung bergaul dengan siapapun.

Manusia dibaginya dua. Pertama orang yang awam (orang kebanyakan). Perkataannya di sana dijaganya, tiap-tiap kalimat yang keluar dari mulutnya dibatasinya. Karena hanya jauhari jua yang mengenal menikam!

Kedua ialah orang yang khawas (orang-orang utama). Di sanalah dia merasa lezatnya ilmu. Kepada yang lebih dari dia, dia belajar. Kepada yang sama dengan dia, dia membanding. Tempo tidak ada yang terbuang.

Dalam 1.000 manusia, 999 termasuk golongan pertama. Hanya seorang yang termasuk golongan kedua.

Dari seorang yang di dalam 1.000 itu lah dapat dicari pendapat yang jitu, persahabat yang setia, nasihat yang jujur, keteguhan dan persaudaraan, itulah rahasia kata hikmah,

"Kawan tertawa amat banyak, kawan menangis sedikit sekali".

Orang yang berakal memandang besar segala kesalahan itu. Walaupun bagaimana kecilnya di mata orang lain. Dia tidak mau memandang kecil suatu kesalahan.

Karena bila kita memandang kecil suatu kesalahan, yang kedua, ketiga, dan seterusnya, kita tidak merasa bahwa kesalahan itu besar, atau tak dapat membedakan lagi mana yang kecil dan mana yang besar. "Sehari selembar benang, lama-lama menjadi sehelai kain". 

Tak ubahnya membiarkan kesalahan yang kecil itu dengan hikayat seorang nakoda kapal yang membiarkan sehelai papan yang dimakan rayap termasuk di dalam dinding kapal. Padahal dari sebab tercampur papan itulah yang kelak menyebabkan kapal karam.

Memang dari perkara-perkara yang kecil itu jualah biasanya timbul bahaya yang besar. Orang yang mati dibunuh nyamuk tiap-tiap tahun lebih banyak dari pada orang yang mati dibunuh singa.

Penyakit yang berbahaya ialah dari pada bakteri yang kecil-kecil. Banjir besar datang dari kumpulan setitik-setitik air hujan.

Orang yang berakal sadar bahwa di antara akal dan nafsu, atau di antara pikiran dan hawa tidak ada persetujuan.

Kehendak nafsu biasanya manis pangkal dan hambar ujungnya, dan kehendak akal pahit pangkal tetapi manis ujungnya. Sebab itu mereka lebih suka berpahit-pahit dahulu, bermanis-manis kemudian!

Jika dia menghadapi suatu pekerjaan ragu-ragu atau jalan bersimpang yang belum dapat ditentukan, ditanyailah hatinya, mana yang lebih cocok. Dan, nafsunya itulah yang dijauhinya (Perbedaan hawa dan akal kita terangkan lebih luas kelak!)

Setengah dari tanda-tanda orang yang berakal, bukanlah lantaran sucinya dari dosa. Bagaimana akan suci bersih gelanggang pertempuran hawa nafsu dan akal?

Yang terdapat di sana ialah perjuangan! Dan tidak ditempuhnya suatu kesalahan dengan sengaja, atau diulangnya suatu kesalahan dua kali.

Dia cukupkan apa yang ada, tidak mengharap kekayaan orang lain. Tidak dia meminta kepada orang yang ditakuti tidak mengabulkan permintaannya. 

Tidak dia suka berjanji dengan orang yang pemungkir. Tiada dia mengharap dari orang yang tidak dapat diharap!

Orang yang berakal tidaklah berduka hati. Karena kedukaan itu tiada ada faedahnya. Banyak duka mengaburkan akal.

Tidak dia bersedih, karena kesedihan tidaklah memperbaiki perkara yang telah terlanjur. Dan, banyak sedih mengurangi akal. 

Orang yang berakal menyediakan obat sebelum sakit, menyediakan payung sebelum hujan. Tetapi kalau penyakit datang juga, padahal obat telah sedia, dan bajunya kena hujan juga, padahal payung telah di tangan, tidaklah dia kecewa, tetapi dia sabar dan rela dan dicarinya usaha untuk mengatasi.

Orang yang berakal tidak ada tempat dia takut selain Tuhannya. Kalau timbul takutnya dengan tiba-tiba, diselidikinya apa sebab dia takut. Dari salah, atau hanya dari rendah himmahnya?

Orang berakal tidaklah menjawab sebelum ditanya. Tidak pula menjawab pertanyaan lebih dari mesti, supaya jangan dikatakan orang: tidak pandai memegang rahasia, tidak berpenaruhan, thufaili. 

Tidak pula suka menghinakan orang, karena orang yang menghinakan raja-raja rusaklah dunianya. Orang yang suka menghinakan orang alim rusaklah agamanya, dan orang yang menghinakan kawan-kawan rusaklah muruahnya.

Orang yang berakal tidaklah tersembunyi bagian cela dirinya, karena orang yang lupa memandang aib dirinya sendiri, akan lupalah kepada kebaikan orang lain.

Maka lupa akan aib diri itu adalah bencana hidup yang sebesar-besarnya. Sebab kalau tidak tahu atau lengah dari aib diri kita sendiri, tidaklah timbul usaha untuk membongkar uratnya.

Bertambah lama dia bertambah tumbuh di dalam jiwa, maka meranalah jiwa; laksana limau yang dikalahkan benalu.

Orang berakal pergi ke medan perang membawa senjata. Berbantah dan bertukar pikiran dengan cukup alasan. Berlawan dengan kekuatan. Karena dengan akallah tercapai hidup, dengan budi teranglah hati, dengan pikiran tercapai maksud, dengan ilmu ditaklukkan dunia.

Orang berakal pandai membandingkan yang belum ada dengan yang telah ada, yang belum didengar dengan yang sudah didengar. Umurnya yang tinggal dibandingkannya dengan yang telah pergi. Yang belum tercapai dengan yang telah tercapai.

Segala pekerjaan tidaklah diukurnya dengan uang atau emas bertahil. Sebab harta datang dan pergi, mendahului kita, atau didahului. Tetapi akal tetap dan bekasnya kekal, walaupun badan tubuh masuk ke liang lahat.

Orang berakal hidup untuk masyarakatnya, bukan buat dirinya sendiri.

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adam (5) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Akhirat (5) Al-Baqarah (1) Al-Qur'an (362) Al-Qur’an (55) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) An-Nadwi (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bahaya Kemunduran Umat Islam (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (53) Cerita kegagalan (1) cerpen Nabi (8) cerpen Nabi Musa (2) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) dakwah (18) Dakwah (23) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) ekonomi (2) Ekonomi (21) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) english (6) English (6) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fiqh (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (7) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) hikmah (1) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) Islam (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) kecerdasan (21) Kecerdasan (338) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Hadist (4) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) kisah para nabi dan (2) kisah para nabi dan rasul (59) kisah para Nabi dan Rasul (1) Kisah para nabi dan rasul (115) Kisah Para Nabi dan Rasul (577) kisah para nabi dan rasul. Nabi Daud (1) kisah para nabi dan rasul. nabi Musa (2) Kisah Penguasa (1) Kisah ulama (1) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) nabi adam (1) Nabi Adam (75) nabi Adam. Adam (1) Nabi Ayub (1) Nabi Daud (3) Nabi Ibrahim (3) Nabi Isa (2) nabi Isa. nabi ismail (1) Nabi Ismail (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Khidir (1) Nabi Musa (29) Nabi Nuh (6) Nabi Sulaiman (2) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (15) Namrudz (2) Nasrulloh Baksolahar (1) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) nusantara (11) Nusantara (304) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (729) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) politik (1) Politik (5) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rasulullah shalallahu alaihi wassalam (1) Rehat (493) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) Sahabat (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) Salimul Aqidah (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Serah Nabawiyah (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (330) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah penguasa (11) Sirah Penguasa (248) sirah Sahabat (2) Sirah Sahabat (173) Sirah Tabiin (43) Sirah ulama (36) Sirah Ulama (158) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tamim Ad Dari (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Wakaf (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)