basmalah Pictures, Images and Photos
10/19/21 - Our Islamic Story

Choose your Language

Menjelajah Gua Tsur di Musim Haji 1900 M Gua Tsur hingga detik ini masih dapat disaksikan. Masih ada dan dapat dilihat mata sehi...

Menjelajah Gua Tsur di Musim Haji 1900 M

Gua Tsur hingga detik ini masih dapat disaksikan. Masih ada dan dapat dilihat mata sehingga apabila kita dapat ziarah ke sana, akan tergambar dalam ingatan kita kedahsyatan Hijrah saat itu, seakan-akan baru terjadi kemarin, maka akan bertambahlah cinta kita kepada Rasulullah saw kalau kita kuat mendaki Gunung Tsur hingga ke guanya.

Jauh kaki gunung itu dari Masjidil Haram adalah 5,5 mil. Sebelum kendaraan bermotor ada, termasuk sukar mencapainya. Dahulu dengan  baik kuda memakan waktu ke kaki bukitnya saja kira-kira 2 jam. Sekarang beberapa menit saja. Tetapi mendaki ke atasnya membutuhkan kekuatan nafas.

Dahulu tempat itu dibiarkan saja tak terurus. Tetapi orang-orang Haji yang yakin mencoba juga untuk mendakinya.

Pada tahun 1318 Hijriah atau 1900 Masehi, Amirul Haji dari Mesir, yaitu Ibrahim Rifat Pasya telah mencoba mendakinya, tetapi memakai kawal tentara Mesir beberapa kompi, karena waktu itu gangguan Badui terlalu banyak.

Pada waktu itu kalau mendaki tidak memakai rombongan, bisa mati dibunuh Badui dan dirampas barang-barang yang dibawa. Tetapi di zaman sekarang, asal badan kuat dan nafas tidak sesak, orang sudah mudah mendaki dan memasuki gua yang bersejarah itu.

Pintu gua ada dua, di sebelah timur dan barat. Masuk dari sebelah barat dengan merangkak, dan dari timur lebih lapang. Pintu sebelah barat itulah yang dimasuki Rasulullah saw dengan merangkak, dan disanalah laba-laba membuat sarang, sesudah Rasulullah saw masuk.

Sayangnya, sekarang sudah dihancurkan dengan dinamit, supaya orang-orang mudah memasukinya, tetapi nilai sejarahnya menjadi kurang karena itu.

Bila kita lihat bebas tempat itu, pahamlah kita bahwa dengan cara yang amat sukar Rasulullah saw dapat masuk ke dalamnya. Besar kemungkinan bahwa tempat itu sudah diteliti terlebih dahulu oleh beliau atau oleh suruhan beliau sebelum beliau bersembunyi ke sana.

Sumber:
Tafsir Al Azhar jilid 4, Buya Hamka, GIP

Manajemen Berkecamuknya Hati Oleh: Nasrulloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Amati kebun. Apa pun dapat hidup, tumbuh...

Manajemen Berkecamuknya Hati

Oleh: Nasrulloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)

Amati kebun. Apa pun dapat hidup, tumbuh dan berbuah. Yang merusak maupun yang bermanfaat. Hewan yang berbisa maupun ternak. Bila dibiarkan, apa yang terjadi? Yang bermanfaat bisa mati, kurus dan tak produktif. Kebun pun gersang dipenuhi rumput dan ilalang. Andai dihuni hewan berbisa, justru mencelakakan pemiliknya sendiri. Itulah kebun yang tak pernah dikelola.

Petani harus paham yang ditanam dan dipelihara. Mencabuti akar gulma pada saat yang tepat. Hingga tahu cara agar gulma tak bisa tumbuh. Olah tanah. Tanam tumpang sari yang menjadi musuh alami gulma tersebut. Inilah seni mengelola kebun. Bagaimana dengan hati?

Hati terus berkecamuk tak pernah berhenti. Seperti beragam tanaman yang tumbuh di kebun. Hati berbolak balik hingga sulit dikendalikan. Bisikan fujur (keburukan) dan takwa (kebaikan) terus bersaing agar menjadi besar, hingga saling mematikan. Pikiran positif dan negatif terus bergesekan. Suaranya membisingkan angkasa hati hingga membingungkan dan menggalaukan. Itulah centang merentangnya suasana hati.

Hanya bisikan takwa yang harus didengar. Hanya gaung takbir yang boleh membahana. Hanya pandangan positif yang terus menyelimuti. Hanya niat besar dan mulia yang dikuatkan. Hanya keyakinan boleh menghujam. Itulah tanaman dan suara yang harus ditanam dan dipelihara di kebun hati.

Bila paham yang harus ditanam, secara otomatis paham pula gulmanya. Mudah pula mengidentifikasikan bisikan yang harus diredam dan dimatikan volume suaranya. Paham pula bagaimana olahan tanah dan pupuk nya. Paham pula tumpang sari yang dapat menyuburkan tanaman dan membunuh gulmanya. Inilah langkah awal mengelola kebun hati.

Setiap hari kebun harus dibersihkan  dan dirawat. Tak boleh dibiarkan terbengkalai. Tunas gulma harus segera dicabut akarnya. Tumbuhan yang kekurangan nutrisi harus segera dipupuk. Hati pun tak boleh dibiarkan tanpa perhatian dan perawatan. Setiap tunas penyakit hati yang baru tumbuh, segera dicabut akarnya. Beri energi pada obat hati agar terus tumbuh dan tak pernah layu.

Hati medan jihad terberat. Karena gulma dan hamanya terus tumbuh, berkembang biak dan mendatanginya. Tak boleh lengah sedikit pun. Harus terus waspada tanpa henti. Bila terus fokus pada pengelolaan hati, maka manajemen kehidupan dan kesuksesan akan terbentuk dengan sendirinya.

Sumber Kebijaksanaan  Dalam sebuah hadist disebutkan, "Siapa yang ingin ilmu oleh Allah tanpa belajar, mendapatkan petunjuk...

Sumber Kebijaksanaan 

Dalam sebuah hadist disebutkan, "Siapa yang ingin ilmu oleh Allah tanpa belajar, mendapatkan petunjuk tanpa hidayah, maka zuhudlah dari dunia."

Setiap hikmah ada ahli dan zamannya, dan zaman itu telah berlalu dengan sejumlah besar ahlinya, sedangkan yang tersisa kini hanyalah musibah. Maka kami kepada Allah, dan kami kepadaNya kembali.

Carilah lampu-lampu kalam kaum 'arifin sebelum mereka wafat, suatu nikmat yang kalian rasakan kemuliaannya, keutamaannya yang paripurna dan Luqman dipilih oleh Allah dengan hikmah, karena kemuliaan hikmahnya. Hikmah itu shiddiqun, kebanggaan muttaqun, firadus para 'arifin, warisan para nabi dan Mursalun. Burulah sebelum sirna.

Dian-dian cahaya manusia di setiap bumi Merekalah Ulama generasi mulia Ilmunya memancarkan cahaya di setiap lembah Bagai purnama yang membias tanpa awan.

Sumber :
Menjelang Ma'rifat, Syeikh Ahmad Ar-Rifa'y

Visi Orang-orang Shaleh  Abu Said al-Balkhi ditanya: "Kenapa ucapan orang pendahulu (salaf) lebih utama dibanding orang akh...


Visi Orang-orang Shaleh 

Abu Said al-Balkhi ditanya: "Kenapa ucapan orang pendahulu (salaf) lebih utama dibanding orang akhir (khalaf)?" "Karena kehendak mereka adalah memuliakan Islam, menyelamatkan jiwa, kasih sayang pada sesama saudara dan ridho kepada Ar-Rahman..." jawabnya.

"Sedangkan kehendak kita adalah memanjakan hawa nafsu, mencari pujian orang dan mencari kenikmatan dunia." tambahnya lagi.

Seorang hamba manakala taat pada Tuhannya Allah memberinya rizki seteguk air dari sumber ma'rifat, lalu ia mengucapkan dengan lisannya.

Namun jika ia meninggalkan taatnya, ia tidak akan merusak taat itu, namun tetap tersimpan di hatinya, dan tidak mengucapkannya dengan lisannya, agar ia tetap dalam sesalnya dan menjadi cobaan dengan berbagai ujian. Tiada dua orang beriman yang bertemu, yang keduanya berdzikir kepada Allah, melainkan Allah menambah cahaya ma'rifatullah pada kedua hatinya, sebelum keduanya berpisah. Sesungguhnya Allah memunculkan ahli ma'rifat di atas puncak gelombang lautan intuisi qalbu dan memuliakan mereka di atas perbendaharaan rahasia serta rahasia pengetahuan yang tak terhingga jumlahnya, tidak pernah putus uraiannya, tidak pernah ditemukan ujung dalaninya, tidak sirna keajaibannya, hingga mereka menyelami cahaya ma'rifat, dalam kedalaman isyarat yang terpendam, dalam makna-maknanya yang tersembunyi, hingga keluar dengan keajaiban satriguna dan kelembutan bekal-bekal melimpahnya, hakikat-hakikat dan isyaratnya, yang membakar qalbu para pecinta, memesrakan ruh para penempuh. Itulah cahaya dari cahaya hidayah, dimana seorang hamba meraih petunjuk dari kebajikan ri'ayah (penjagaan jiwa) jika meraih Taufiq dan 'inayah.

Yahya bin Mu'adz RA berkata, "Aku bertemu kaum 'arifin yang dilimpahi hikmah, aku temukan mayoritas mereka tidak memiliki apa-apa, malah mereka dibiayai yang lain."

Laits al-Mishry RA punya saudara yang ada di Iskandariyah, ketika ia datang, saudaranya menjawab, "Aku sedang menghadap Allah." "Mana faedah dari penghadapanmu pada Tuhanmu?" Saudaranya diam, Lalu Laits mengatakan, "Sang hamba jika menghadap pada Allah dengan keselarasan yang benar, Allah memberikan faedah-faedah yang tak pernah terlintas di hati manusia.

Yahya bin Mu'adz, manakala bicara suatu hari, tiba-tiba ada orang yang berteriak keras di sembari merobek-robek bajunya. "Hai! Apa yang kamu katakan?!
"Kalam ahli ma'rifat, ketika muncul dari sumber rahasia kemanunggalan, ia menggali hati orang yang dibakar rindu dan cinta dengan apinya, lantas sifat-sifat manusiawi sirna."

Karena itu kalimat orang yang bertaqwa itu posisinya mendekati wahyu. Suatu ketika ada kata-kata terucap dari mereka, lalu ditanya, "Apa yang membuatmu bicara seperti ini?"

"Hatiku mengatakan demikian, bermula dari fikiranku, dari rahasia jiwaku, dari Tuhanku..." katanya.

Sandaran hikmah adalah wujudnya hikmah, yaitu barang berharga yang hilang dari penempuh, ketika ditemukan ia ambil. Ia tak peduli darimana pun wadahnya, dari mana pun diucapkannya, dari hati mana dinukil atau dari dinding mana terukir atau dari kafir mana di dengar.


Sumber :
Menjelang Ma'rifat, Syeikh Ahmad Ar-Rifa'y

Malunya Kaum 'Arifin Rasulullah SAW bersabda: الحياء من الايمان » "Malu itu sebagian dari iman." (Hr. Muslim) MALU...

Malunya Kaum 'Arifin

Rasulullah SAW bersabda:

الحياء من الايمان »

"Malu itu sebagian dari iman." (Hr. Muslim)

MALU yang yang biasanya terekspresi pada wajah manusia merupakan gambaran tentang malu yang ada dalam hati manusia, yaitu malu karena sesuatu dari Allah Ta'ala.

Sehingga malu terekspresikan dari Malu Wajah dan Malu Qalbu, merupakan bagian dari iman kepada Allah Ta'ala, dimana kaum 'arifin menjadikannya sebagai orientasi atas kelemahan dan cacat rahasia hatinya di hadapan Allah Ta'ala.

Karena itulah, qalbu kaum 'arifin merupakan perbendaharaan Allah Ta'ala di muka bumi. Di dalam qalbu itu ada titipan rahasiaNya, kelembutan hikmahNya, kelembutan cintaNya, cahaya-cahaya ilmuNya dan amanah kema'rifatanNya.

Wacana kaum 'arifin senantiasa muncul dari musyahadah qalbunya, aksentuasi dari pengetahuan rahasia, dan penjelasan mengenai amaliyah batin, berupa penjelasan mengenai pemisahan perkara dengan wushul, penjelasan faktor-faktor yang menganggu hubungan dengan Allah Ta'ala, dan faktor faktor yang yang mendorong menuju Allah Ta'ala.

Faktor pendorong pada kepentingan makhluk (selain Allahi adalah: Dunia, Nafsu dan Makhluk itu sendiri. Sedangkan faktor yang mendorong kita menuju Allah Ta'ala adalah: Akal, Yaqin, dan Ma'rifat, sebagaimana disebutkan dalam hadits: "Siapa yang mengenal dirinya maka ia mengenal Tuhannya." Yakni siapa yang mengenal apa yang mesti dilakukan untuk dirinya, ia mengenal apa yang harus dilaksanakan untuk Tuhannya.

Ungkapan para 'arifin, berkisar pada lima arah:

1. Bihi (bersama Allah)
2. Lahu (bagi Allah)
3. Minhu (dari Allah)
4. Ilaihi (menuju Allah) 
5. 'Alaihi (bersandar pada Allah).

Dalam ucapan mereka tidak ada kata seperti: Aku, sesungguhnya diriku, kami, bagiku dan denganku... Karena kata kata mereka bersifat manunggal (fardaniyah), Geraknya adalah serba bergantung padaNya (Shomadaniyah), Akhlaq mereka senantiasa merupakan manifestasi Robbaniyah, Kehendak mereka adalah kemanunggalan (Wahdaniyyah), Isyarat mereka tidak akan dikenal kecuali oleh orang yang hatinya membara kepadaNya, yang didalamnya ada rahasia-rahasia tersembunyi, mutiara-mutiara suci, pancaran-pancaran cahaya, lautan kasih, kunci-kunci keghaiban rahasia, wadah kerinduan dan taman kemesraan.

Yahya bin Mu'adz RA mengatakan: Hati itu seperti periuk, wadah ciduknya adalah lisan. Setiap lisan senantiasa menciduk apa yang ada di periuk hatinya."

Abu Bakr al-Wasithy RA ditanya tentang pendapatnya seputar ucapan ahli ma'rifat. Ia menjawab, "Gambaran tentang ma'rifat seperti cahaya dalam lampu dan lampu itu digantung di dalam rumah, sepanjang lampu itu ada dalam rumah, sepanjang itu pula terang. Ketika pintu rumah dibuka, maka cahaya lampu itu akan menerangi halaman." Kalau kaum 'arifin senantiasa memancarkan cahaya kepada ahli cahaya, hingga air mata mereka meleleh dan lisannya berdzikir.

Allah Ta'ala berfirman:

ه وإذا سمعوا ما أنزل إلى الرسول تـرى أعينهم تفيض من الدمع مما عرفوا من الحق، يقولون ربنا آمنا فاكتبنا مع الشاهدين »

"Bila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul, kamu melihat air mata mereka meleleh, karena ma'rifat mereka terhadap Allah, mereka mengatakan, "Oh Tuhan kami, kami beriman dan catatlah kami bersama orang-orang yang menyaksikan(Mu)." (QS. Al-Maidah 83).

Metafor jiwa kaum 'arif seperti rumah, hatinya seperti lampu, minyaknya adalah rasa yaqin, airnya dari kejujuran hati, pintalannya dari ikhlas, kacanya dari kebeningan dan kerelaan hati, dan gantungannya dari akal. Khauf itu adalah api dalam cahaya. Sedangkan Raja (harapan) adalah cahaya dalam api. Ma'rifat seperti cahaya dalam cahaya. Lampu itu digantung dipintu lobang, jika seorang arif membuka mulutnya, muncul hikmah dari dalam hatinya, mengalirlah cahaya hati lewat mulutnya, lalu cahaya itu membisa kepada mereka yang siap disemai cahaya, lalu cahaya saling bergantungan dengan cahaya.

Ada sebagian ucapan lebih dahsyat dibanding cahaya matahari, dan sebagian lebih gulita dibanding gelapnya malam. Kalam ahli ma'rifat senantiasa adalah perbendaharaan Tuhan Yang Maha Suci, dimana sumber-sumbernya adalah qalbu kaum 'arifin, dimana Allah memerintahkan agar menginfaqkan cahaya itu kepada yang lain yang berhak menerimanya, dalam firmanNya:

و ادع إلى سبيل ربك بالحكمة والموعظة الحسنة وجادلهم بالتي هي أحسن، إن ربك هو أعلم بمن ضل عن سبيله وهو أعلم بالمهتدين» .

"Ajaklah mereka ke Jalan Tuhanmu dan dengan hikmah dan nasehat yang bagus berilah argumentasi dengan argument yang lebih bagus. Sesungguhnya Tuhanmu Dia lebih Tahu pada orang yang tersesat dari jalannya, dan ia Maha Tahu pada orang yang diberi hidayah." (Qs. An-Nahl 125).

Sebagian 'arifin ditanya,
"Manakah cahaya yang lebih hebat ketimbang matahari?" "Ma'rifat," jawabnya. 
"Apa yang lebih berguna dibanding air?"
"Ucapan ahli ma'rifat." katanya. "Apa yang lebih harum aromanya ketimbang minyak kesturi?"
"Waktunya orang 'arif."
"Apa pekerjaan orang 'arifin?"
"Memandang pekerjaan Rububiyah dan panji-panji kelembutan qudrah." jawabnya.


Sumber :
Menjelang Ma'rifat, Syeikh Ahmad Ar-Rifa'y

Syeikh Abdul Qadir Jaelani: Mencontoh yang Telah Menuju Jalan Allah  (Pengajian Jum'at pagi, 7 Jumadil Akhir 545 H, di Madra...

Syeikh Abdul Qadir Jaelani: Mencontoh yang Telah Menuju Jalan Allah 

(Pengajian Jum'at pagi, 7 Jumadil Akhir 545 H, di Madrasah)

Datanglah pada para syekh dan belajarlah dari mereka cara melangkah di jalan yang berujung pada al-Haqq Azza wa Jalla, sebab jalan tersebut pernah mereka tempuh dan lalui.

Tanyakanlah pada mereka ihwal petaka-petaka hawa nafsu dan tabiat, sebab mereka telah merasakan (pahitnya) petaka-petaka, dan mengetahui bencana-bencana serta kegilaannya. Mereka pernah terlibat di dalamnya beberapa waktu, dan satu demi satu berhasil diatasinya, hingga mereka mampu mengalahkan dan menguasai (diri) mereka.

Jangan terlena dengan hembusan-hembusan (bujuk rayu) setan dalam dirimu, dan jangan kalah oleh panah-panah nafsu. Sebab, ia (nafsu) melemparimu dengan panah setan, dan memang setan tidak dapat menguasaimu kecuali dengan sarana nafsu.

Setan jin tidak akan dapat menguasai dirimu, kecuali lewat media setan manusia, yaitu nafsu dan kolega kalega yang buruk. Memohonlah pada Allah Azza wa Jalla dan mintalah tolong pada-Nya dalam menghadapi musuh-musuh ini, niscaya Dia akan menolongmu.

Jika engkau telah menemukan-Nya, lalu engkau lihat pula apa yang ada di sisi-Nya dan engkau pun dianugerahi-Nya hal tersebut, maka pulanglah kembali pada keluargamu dan khalayak manusia, serta gandenglah mereka menuju-Nya.

 Katakan pada mereka, "Bawalah keluargamu semuanya kepadaku," sebagaimana Nabi Yusuf As. ketika mendapatkan anugerah kepemilikan dan kerajaan, maka ia pun berkata pada keluarganya : 

"Dan bawalah keluargamu semuanya kepadaku?" (QS. 12:93).

Orang yang tertolak (al-mahrum) adalah orang yang menolak al-Haqq 'Azza wa Jalla dan kehilangan kedekatan bersama-Nya di dunia dan akhirat. Allah Azza wa Jalla berfirman dalam beberapa kitab-Nya:

"Hai anak Adam! Jika Aku melewatkanmu, maka akan lepas pula (dari)mu segala sesuatu". 

Bagaimana al-Haqq Azza wa Jalla tidak melewatkanmu jika engkau berpaling dari Nya, dan dari kaum Mukmin serta hamba-hamba-Nya yang saleh, bahkan malah menyakiti mereka dengan ucapan dan tindakanmu, serta menentang mereka secara lahir dan batin. Nabi Muhammad Saw, bersabda:

"Menyakiti orang Mukmin lima belas kali lebih besar (dosanya) di sisi Allah daripada merobohkan Ka'bah dan Baitul Makmur.

Dengarkan, hai orang yang selalu menyakiti kaum fuqara' Allah, padahal mereka adalah orang-orang yang beriman pada-Nya, saleh demi-Nya, arif mengenal-Nya, dan berpasrah diri pada-Nya. 

Celakalah kaul Sebentar lagi, engkau akan menjadi mayat pucat yang dikeluarkan dari rumahmu, dan kekayaan yang engkau bangga-banggakan akan terbakar ludes tanpa bisa memberimu kemanfaatan apa-apa dan tidak pula mampu melindungimu.

Sumber :
Bekal-Bekal Menjadi Kekasih Allah, Syekh Abdul Qadir Al-Jailani

Syeikh Abdul Qadir Jaelani: Hakikat Dusta Bagi Sufi (Pengajian Jum'at pagi, 7 Jumadil Akhir 545 H, di Madrasah) Jadilah oran...

Syeikh Abdul Qadir Jaelani: Hakikat Dusta Bagi Sufi

(Pengajian Jum'at pagi, 7 Jumadil Akhir 545 H, di Madrasah)

Jadilah orang yang berakal dan jangan berdusta. Engkau berkata, "Aku takut kepada Allah Azza wa Jalla, namun (mengapa) kau takut juga pada selain-Nya. Janganlah takut pada siapa pun, baik jin, manusia, maupun malaikat.

Jangan takut pula pada apa pun, baik hewan yang berbicara maupun yang diam. Jangan takut dengan penderitaan dunia, dan jangan takut pula dengan siksa akhirat, akan tetapi takutlah pada Sang Pemberi azab siksaan.

Seorang yang berakal tidak akan takut celaan orang di sisi Allah 'Azza wa Jalla. la bisu dari bicara selain Allah 'Azza wa Jalla. Baginya, seluruh manusia lemah, sakit, dan fakir. Orang seperti dialah yang disebut ulama yang bermanfaat ilmunya, ulama yang mendalami syara' dan hakikat Islam. Mereka adalah tabib-tabib agama yang (bisa) merakit kembali keretakannya.

Hai orang yang retak agamanya! Datanglah pada mereka hingga mereka bisa merakit kembali keretakannya. Yang menurunkan penyakit adalah juga yang menurunkan obat. Tentu saja, ia pula yang lebih mengerti tentang kemaslahatan daripada selainnya.

Jangan kecam Allah 'Azza wa Jalla dalam segala tindakan-Nya (fi'l). Nafsu dirimulah yang harus lebih dikecam dan dicela daripada selainnya. Katakan kepada nafsu, bahwa anugerah diperuntukkan bagi yang menaati dan tongkat (pukulan) diperuntukkan bagi yang mendurhakai (maksiat). Jika Allah menghendaki kebaikan pada seorang hamba, maka Dia akan merampasnya (ikhtiar dan duniawinya), jika memang ia bersabar (menghadapinya), maka Dia akan mengangkat (derajat)nya, membaguskan (taraf kehidupannya), memberinya (anugerah), dan membuatnya kaya. 

Ya Allah, kami memohon kepada-Mu kedekatan dengan-Mu tanpa cobaan petaka. Kasihilah kami dalam qadha dan qadar-Mu. Lindungilah kami dari kejahatan orang-orang jahat dan tipu daya kaum durjana. Jagalah kami sebagaimana yang Engkau kehendaki. Kami memohon kepada-Mu ampunan dan kesehatan dalam (menjalani) agama, dunia, dan akhirat, dan kami memohon kepada-Mu taufiq untuk (melaksanakan) amal-amal kesalehan serta keikhlasan dalam beramal. Amin!

Seorang laki-laki bertamu pada Abu Yazid al-Bisthami, kemudian lama menengok ke kanan dan kiri. Abu Yazid pun menegurnya, "Ada apa gerangan? la menjawab, "Aku ingin (mencari) tempat bersih untuk melaksanakan shalat. Abu Yazid langsung menukas, "Bersihkan hatimu dulu dan barulah shalat sebagaimana kehendakmu. 

Memang, riya' hanya bisa dideteksi oleh orang-orang yang ikhlas, sebab dulu mereka pernah terjebak di dalamnya hingga akhirnya selamat dan lolos darinya. Riya' adalah rintangan di tengah jalan kaum (sufi) yang mau tidak mau harus mereka seberangi. Riya', ujub, dan kemunafikan termasuk anak-anak panah setan yang dilemparkan ke dalam hati.

Sumber :
Bekal-Bekal Menjadi Kekasih Allah, Syekh Abdul Qadir Al-Jailani

Mengenal Hikayat Cerita Islam Asli Nusantara https://www.google.com/amp/s/m.republika.co.id/amp/nzjqc76 Indonesia memiliki sejar...

Mengenal Hikayat Cerita Islam Asli Nusantara

https://www.google.com/amp/s/m.republika.co.id/amp/nzjqc76


Indonesia memiliki sejarah perkembangan yang cukup dalam. Salah satu pendapat menyebutkan jika Islam sudah masuk nusantara sejak abad VII. Islam yang diterima dengan sangat baik hingga menjadi agama  mayoritas di negeri ini juga bersentuhan dengan adat dan budaya lokal.

Kekayaan tradisi Islam di nusantara pun beragam. Karya seni memang jamak digunakan sebagai sarana untuk menyebarluaskan Islam. Salah satu peninggalan budaya asli dari nusantara yang memiliki corak Islam  adalah hikayat.

Hikayat sendiri berasal dari bahasa Arab, al-Hikayah, yang bermakna cerita. Hikayat secara umum memiliki makna karya sastra lama Indonesia yang bercorak Islam, yang terkadang mengandung unsur fiksi ataupun tidak, kadang gabungan keduanya.

Hikayat bisa berupa hasil interpretasi, pemikiran, imajinasi, maupun pengalaman dari penulisnya. Tak jarang, hikayat diadaptasi dari cerita luar negeri yang berkembang.

Hikayat dituturkan oleh tukang cerita secara lisan dan diwariskan secara turun-temurun. Bahkan, kadang hingga lintas generasi. Beberapa hikayat yang ditulis pun sejatinya untuk dibacakan kepada khalayak.  Cara penyampaian cerita ini memiliki penggemar tersendiri. Maka, tak jarang, hikayat sering dijadikan media untuk menyebarkan pemikiran dan dakwah Islam selain sebagai sarana hiburan.

Sebagai media yang disajikan secara bertutur dan diturunkan ke beberapa generasi, hikayat menjadi sulit dibuktikan orisinalitasnya. Tak jarang, demi membuat pendengar menjadi tertarik, kisah hikayat ditambahi unsur dan cerita baru yang berbeda dengan cerita aslinya.

Saat Islam mulai berkembang di nusantara, hikayat ditulis menggunakan aksara Arab Melayu. Penyalinan pun juga tidak memperhatikan segi keaslian cerita. Beberapa terjadi kesalahan tulis maupun penambahan atau pengurangan cerita. Keterbatasan manuskrip membuat naskah-naskah hikayat yang masih utuh sulit didapati. Beberapa naskah tersebut tersimpan di Perpustakaan Nasional dan Universitas Leiden, Belanda.

Dari segi isi, hikayat bisa dibagi menjadi lima macam. Pertama, hikayat pahlawan Islam; kedua, cerita para nabi; ketiga, cerita tentang sahabat nabi; keempat, kisah tentang Nabi Muhammad SAW serta keluarganya; dan kelima, hikayat tentang kejadian di Indonesia.

Wilayah Indonesia yang sangat luas, dan penyebaran Islam yang masuk hingga ke daerah, membuat kisah dalam hikayat pun beragam. Setiap daerah memiliki hikayat sesuai dengan wilayah setempat. Termasuk, sesuai dengan zaman saat dituturkan, dan tujuannya.

Hikayat juga bisa digunakan sebagai sarana untuk membangkitkan semangat keagamaan untuk mendorong umat membela Islam dan mengusir penjajah.

Beberapa contoh hikayat yang ada di Indonesia, misalnya, Hikayat Mukjizat Baginda Rasul Tatkala Bulan Dibelah Dua, Hikayat Iblis dan Muhammad, Hikayat Rasulullah Bercukur, Hikayat Kelahiran Nabi, Hikayat  Nabi Musa, Hikayat Nabi Sulaiman dan beberapa hikayat nabi lainnya.

Ada pula hikayat yang menceritakan sahabat Nabi SAW, seperti Hikayat Amir Hamzah, Hikayat Zulkarnain dan Hikayat Muhammad Ali Hanafiyah. Sebagai sebuah cerita yang juga mengandung hiburan, beberapa hikayat dikemas dengan cerita yang jenaka, seperti Hikayat Umar Umayah dan Hikayat Abu Nawas.

Sebagai kekayaan budaya Indonesia, hikayat juga mengisahkan tentang daerah-daerah di Indonesia. Seperti, Hikayat Negeri Riau, Hikayat Aceh, Hikayat Raja-Raja Pasai dan Hikayat Perang Sabil.

Selain produk asli nusantara, beberapa hikayat juga dipengaruhi dari cerita luar yang diadaptasi. Cerita dari India paling banyak memengaruhi kisah-kisah hikayat di Tanah Air. Seperti, Hikayat Bayan Budiman, Hikayat Bakhtiar, serta Hikayat Kalilah dan Daminah 

Buya Hamka: Membentuk Pribadi Hebat Membangun kepribadian hebat; Ibarat menggarap sebuah bangunan, salah satu bagian penting ada...

Buya Hamka: Membentuk Pribadi Hebat

Membangun kepribadian hebat; Ibarat menggarap sebuah bangunan, salah satu bagian penting adalah kualitas batu bata yang digunakan. Batu bata berkualitas bagus akan membuat kuat bangunan yang didirikan. Begitulah satu persatu pribadi individu , seperti batu bata. Pribadi yang kuat akan mampu menguatkan diri dan memberikan pengaruh positif terhadap orang lain serta lingkungan sekitarnya. Dan lebih jauh lagi  kepada agama, bangsa dan negaranya.
            Pada pengantar buku ini dikatakan bahwa  setiap hari kita tidak akan lepas membicarakan tentang orang-orang baik yang terkenal maupun tidak, yang luar biasa atau hanya biasa saja. Kita akan mengatakan kemuliaan ataupun kekurangannya. Pertanyaannya adalah mengapa timbul keistimewaan pada beberapa orang/golongan? Mengapa ada yang terkeal ada juga yang tidak? Ternyata, orang yang luar biasa dalam sejarah adalah orang yang menciptakan pekerjaaan yang besar-besar, baik yang sangat mulia ataupun pekerjaan besar yang sangat hina.
            Buku ini terdiri dari 10 bab dan setiap bagian dari bab bab tersebut memuat pelajaran dan hikmah yang luar biasa:
            Bagian pertama buku ini membahas tentang " Pribadi". Nilai seseorang adalah pribadinya. Orang yang berilmu sekalipun walaupun sangat ahli dalam satu bidang  belum tentu  berharga apabila pribadinya tidak kuat, terutama budi dan akhlak. Pribadi seseorang dapat diketahui setelah melihat perjalanan hidup dan rekam jejak usahanya. Tinggi rendahnya pribadi seseorang adalah karena usaha hidup, cara berfikir, tepatnya perhitungan, jauhnya memandang dan kuatnya semangat diri. maka :
“berbahagialah orang yang mementingkan memerhatikan cela diri sendiri sehingga tidak sempat memerhatikan cela orang lain” (HR. Al-Bazzar)
“Pribadi yang besarlah yang menimbulkan kebangsaan dan keteguhan bangsalah yang memupuk pribadi” (Buya Hamka).
            Pada bagian kedua, penulis mengupas tentang "yang memunculkan pribadi". Beberapa hal yang memunculkan pribadi diantaranya ialah daya tarik, kecerdasan, menimbang rasa (empati), berani, bijaksana, berpandangan baik, tahu diri, kesehatan tubuh, bijak dalam berbicara,  juga percaya kepada diri sendiri.
            Bagian ketiga ialah tentang "Hubungan antara jasmani dan rohani". Pada bagian ini dipaparkan bahwa otak adalah pemimpin tertinggi yang memegang kekuasaan kerajaan diri. Di sana terpegang pikiran, perasaan dan iradah (kemauan). Agar hubungan seluruh tubuh dengan otak berlangsung cepat, harus ada penguat hubungan. Tenaga penghubung yang kuat itu adalah darah.
“Jika tidak ada tiga perkara, rusak dan binasalah dunia ini. Jika tidak ada syahwat, putuslah keturunan. Jika tidak ada keinginan mencari nafkah, rusak dan binasalah penghidupan. Jika tidak ada keinginan terkemuka, habislah ilmu pengetahuan (khalif al Ma’mun)
            Bagian keempat yaitu "Pribadi bangsa". Pribadi yang membuat sejarah dalam suatu bangsa ada dua macam, yaitu pribadi pemikir dan pribadi pekerja artinya ada yang meneorikan dan ada yang mempraktekkan. Manakah yang lebih utama? Tentu saja Keduanya  utama dan mulia. Dalam suatu bangsa, ilmu pengetahuan menjadi kekuatan besar dan kekuatan pengetahuan harus dialirkan ke pekerjaan. Ilmu pengetahuan bukan lagi alat si pandai menekan si bodoh dan bukan pula alat penjajahan. Ia berguna untuk mempertahankan susunan masyarakatnya yang telah lapuk dan buruk.  Kita semua ingin untung, ingin sukses, ingin jaya. Namun apalah artinya keuntungan materi jika ilmu tidak dapat memimpin kita menuju keuntungan kebatinan dan kejiwaan. Kita harus menang, tetapi dimanakah letak kemenangan itu? Ya, dibalik perjuangan dan kepayahan. Pribadi laksana mobil, dia tidak dapat berjalan jika  mesin-mesinnya tidak bagus.
            Bagian kelima:“yang menguatkan pribadi”. Sangat pentig untuk kita ketahui bahwabeberapa hal penting yang bisa menguatkan pribadi antaranya adalah memiliki tujuan, keinginan bekerja, rasa kewajiban, pengaruh agama dan iman, serta pengaruh shalat dan ibadah.
            Kemudian bagian keenam  membahas tentang "Pikiran dan rasa seni". Cara berfikir yang teratur adalah tenaga penarik yang utama pada manusia. Kata kata yang keluar dari lidah merupakan dorongan dari jalan fikiran. Perkataan dan perbuatan adalah bukti beres atau tidaknya berfikir seseorang.
         Fikiran dan perasaan  haruslah sejalan,  mendirikan dengan benar: bukan memaksa, sendi sendi kebesaran jiwa  haruslah  kita miliki dalam mengarungi hidup ini seperti tidak gelisah, rela menerima hidup dan berusaha,  serta  bermuka  jernih.
            Selanjutnya bagian ketujuh: “Yang melemahkan pribadi”. Pribadi yang kita miliki ada kalanya bisa melemah dan akhirnya rapuh.  Sebabnya bisa bermacam-macam.  Menurut Buya Hamka beberapa hal yang turut melemahkan pribadi yaitu menjadi bayang-bayang orang lain, Ikatan adat lama pusaka usang , budak buku, tidak tentu arah,  menjadi benalu,  inilah hal hal yang  menyebabkan pribadi menjadi lemah.
            Bagian kedelapan yaitu “kesempurnaan pribadi”. Selain hal yang melemahkan,  ada banyak pula hal lain yang bisa menguatkan dan menyempurnakan pribadi seseorang. Ialah pandangan hidup, berterus terang, bertanggung  jawab, sabar, kemauan yang keras, keikhlasan, bersemangat dan berperasaan halus. Ketika hal in dimiliki pribadi maka kebaikan kebaikan lah yang akan didapatinya.
            Bagian kesembilan " kebesaran pribadi". Jasa dan perbuatan besar yang pernah dilalui dalam hidup, sejarah kegemilangan yang dimiliki menyebabkan orang menjadi kagum terhadap suatu pribadi. 
 “dia sekali kali tidak takut dan cemas, tidak ragu ragu dalam persoalan yang sulit bagi orang lain, itulah orang besar”.
            Pribadi yang besar tidak berbeda dari manusia biasa. Orang yang hidup dekat mereka akan dapat melihat sisi kelemahan dan kekurangannya. Karena itu, yang membuat orang lain tunduk kepadanya bukanlah dia ataupun orang lain.  Orang tunduk padanya karena naluri.  Hal hal seperti itu hanya ditemukan dalam diri orang yang berani.
            Meskipun kita bukan seorang pahlawan di medan perang,  walaupun di leher dan bahu kita tidak ada tanda tanda ketentaraan, kita juga dapat disegani orang lain bahkan ditakuti,  asal  dalam hidup kita ada sifat berani untuk melakukan perjuangan melebihi kesanggupan orang lain sehingga orang lain menjadi kagum dan hormat.
Bagian terakhir : “pengaruh  keadaan atas pribadi bangsa Indonesia”. Jiwa Indonesia, yang tenang sampai dicapai sebagai bangsa yang paling patuh di dunia dengan tiba-tiba berubah dan perubahan itu sangat hebat. Bangsa yang awalnya belum mengenal arti perang dan tidak pernah terlibat dalam peperangan tiba-tiba diguncang dan disuruh mengubah hidupnya.  Oleh sebab itu pribadinya pun terguncang lalu berubah. Penjajahan kemudian memberikan pengaruh terhadap mental dan pribadi bangsa ini. Namun setelah itu perjuangan terus dikobarkan dengan nyawa sebagai taruhan.  Cukup lama bangsa ini berjuang mendapatkan kembali harga martabat serta harga dirinya.  Hingga akhirnya segala bentuk penjajahan dihapuskan.  Setelah itu bangsa baru tumbuh dan negara baru telah lahir sebab pribadi bangsa itu telah menjadi baru.

Tak Ada Yang Bebas Lepas di Alam Semesta Oleh: Nasrulloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Semua ada ukurannya. Semua a...

Tak Ada Yang Bebas Lepas di Alam Semesta

Oleh: Nasrulloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)


Semua ada ukurannya. Semua ada timbangannya. Tidak ada yang bebas lepas di alam semesta. Ukuran itu menciptakan keseimbangan, keterkaitan dan ketentraman.

Silahkan makan dan minum semaunya dan sepuasnya. Tubuh akan merespon dengan rasa kenyang, lemas dan ngantuk. Itulah cara tubuh melindungi diri

Tugas jantung, hati, ginjal, otak dan organ tubuh lainya melayani banyak hal. Bila kekenyangan, fokusnya hanya ke perut saja. Ini yang membuat organ lain rusak.

Lapar itu ada batasnya, bila mencapai batas kelaparan, maka tubuh pun berreaksi dengan rasa lapar, tubuh yang lemas dan kesakitan. Itu Cara tubuh melindungi dirinya.

Saat sakit, tubuh panas dan tidak nafsu makan? Agar semua organ tidak fokus ke perut tetapi menciptakan antibodi ke bagian yang diserang penyakit

Kekayaan untuk kepentingan diri sendiri yang melampaui batas, tidak akan menciptakan bahagia dan tentram. Seperti tubuh yang sakit karena kekenyangan.

Kekayaan yang membahagiakan itu ada takarannya. Bila mencapai batas tertentu harus berzakat, sedekah dan infaq. Bila tidak, ada penyakitnya

Kekuasaan yang membahagiakan itu ada batasannya. Bila melampaui batasnya akan muncul takut kehilangan kekuasaan, kezaliman, kediktatoran.

Di alam semesta ada ekosistem yang mengatur keseimbangan agar tidak melampaui batas dan kekurangan. Agar semua berjalan sesuai ukurannya.

Kehidupan manusia harus ada ekosistemnya agar hidup dalam takarannya. Yang mengacaukan ekosistem hidup manusia adalah ego dan hawa nafsunya.

Sehebat apa pun akal, ilmu dan kekuatan manusia, takkan bisa memahami struktur ekosistem pada diri dan kehidupannya untuk menciptakan takarannya

Karakter manusia dalam Al-Qur'an disebutkan lebih banyak yang "melampaui batas", melampaui ukuran dan batasannya. Itulah sebab kekacauan hidup

Kehancuran manusia dan alam semesta, karena manusia bertindak dengan mengacuhkan takaran yang sudah ditetapkan Allah. Bertindak sesuai egonya.

Tak harus berotak encer dan bergelar akademik yang mumpuni untuk memahami takaran hidup dan alam semesta. Cukup mengikuti syariat Islam.

Syariat Allah adalah kemudahan super praktis dan aplikatif dalam menjalani hidup agar sesuai takaran kehidupan

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Al-Qur'an (130) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (48) Cerita kegagalan (1) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (6) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) Kecerdasan (219) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) Kisah Para Nabi dan Rasul (164) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) Nabi Adam (1) Nabi Ibrahim (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Musa (1) Nabi Nuh (3) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (1) Namrudz (2) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) Nusantara (208) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (102) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rehat (375) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (131) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah Penguasa (178) Sirah Sahabat (110) Sirah Tabiin (42) Sirah Ulama (67) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)