Lima Kesalahan Netanyahu: Dari Badai Al-Aqsa hingga Konflik Regional
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, kembali menjadi sorotan setelah mengalihkan tanggung jawab atas kegagalan strategi militernya kepada Mossad. Pola ini mencerminkan kecenderungan berulang: ketika strategi tidak berjalan sesuai rencana, kesalahan dialihkan kepada pihak lain.
Kesalahan pertama terlihat dalam peristiwa Serangan 7 Oktober 2023. Netanyahu sempat menyatakan bahwa dirinya tidak menerima peringatan intelijen terkait serangan tersebut. Pernyataan itu kemudian ditarik setelah memicu kontroversi. Meski sejumlah pejabat keamanan mengakui kegagalan, Netanyahu dinilai tidak sepenuhnya mengambil tanggung jawab.
Kesalahan kedua muncul dalam perang berkepanjangan di Gaza. Operasi militer besar tidak berhasil melumpuhkan perlawanan maupun melucuti kelompok bersenjata seperti Hamas. Di tengah eskalasi kehancuran, ia cenderung menghindari evaluasi terbuka dan menolak pembentukan komisi penyelidikan independen, sehingga memunculkan kritik terkait akuntabilitas.
Kesalahan ketiga terjadi dalam strategi menghadapi Iran. Netanyahu mendukung skenario yang diyakini dapat memicu pemberontakan internal dan menjatuhkan rezim. Rencana tersebut disusun bersama David Barnea dan turut dibahas dalam upaya meyakinkan Donald Trump. Namun, asumsi tersebut tidak terbukti. Tidak terjadi gelombang pemberontakan besar, dan ketika strategi gagal, Netanyahu kembali menyalahkan Mossad, meski ia sendiri merupakan penggerak utama kebijakan tersebut.
Kesalahan keempat berkaitan dengan dinamika konflik di Suriah, khususnya komunitas Druze di wilayah Suwayda. Bentrokan lokal antara milisi Druze dan suku Badui pada Juli 2025 berkembang menjadi konflik bersenjata yang lebih luas. Intervensi militer Israel, dengan dalih melindungi Druze, justru memperumit situasi dan meningkatkan ketegangan dengan pemerintah Suriah di bawah Bashar al-Assad. Situasi ini memunculkan spekulasi bahwa instabilitas lokal dapat dimanfaatkan untuk menekan pemerintahan Suriah, meski realitas di lapangan jauh lebih kompleks dan tidak sepenuhnya dapat dikendalikan dari luar.
Kesalahan kelima tampak dalam perhitungan terhadap kekuatan Hezbollah. Meskipun sejumlah operasi militer Israel dianggap berhasil secara taktis, termasuk serangan terhadap tokoh penting, hal itu tidak mampu menghancurkan struktur perlawanan Hizbullah. Kelompok ini tetap memiliki kapasitas militer dan dukungan yang signifikan di Lebanon.
Kondisi ini menimbulkan pertanyaan baru: apakah eskalasi lebih lanjut, seperti kemungkinan operasi darat ke Lebanon di tengah situasi gencatan senjata, justru akan menjadi kesalahan berikutnya? Pengalaman sebelumnya menunjukkan bahwa keberhasilan taktis tidak selalu berujung pada kemenangan strategis.
Secara keseluruhan, rangkaian peristiwa ini menunjukkan pola yang konsisten. Netanyahu berulang kali membangun kebijakan di atas asumsi yang rapuh—baik dalam menghadapi Hamas, Iran, Suriah, maupun Hizbullah. Ketika realitas tidak sesuai harapan, narasi segera dialihkan dan tanggung jawab dipindahkan.
Kini, dengan meningkatnya tekanan militer dan politik, Netanyahu menghadapi tantangan yang semakin kompleks, baik di tingkat regional maupun domestik. Jika pola ini terus berlanjut, maka kegagalan bukan lagi sekadar kemungkinan, melainkan konsekuensi dari strategi yang sejak awal tidak berpijak pada realitas yang utuh.
Link Kami
Beberapa Link Kami yang Aktif