basmalah Pictures, Images and Photos
09/08/26 - Our Islamic Story

Postingan Popular Pekan ini

Mengapa Gaya Hidup Islam Adalah Jawaban Atas Lelahnya Materialisme Modern ...


Mengapa Gaya Hidup Islam Adalah Jawaban Atas Lelahnya Materialisme Modern

Dalam riuhnya peradaban modern, kita sering kali terjebak dalam perlombaan yang tidak memiliki garis finis. Dunia materialistik hari ini memiliki kegemaran khusus: menciptakan kebutuhan-kebutuhan baru yang terus berlipat ganda. 

Kesejahteraan kini nyaris hanya diukur dari seberapa banyak jenis kebutuhan yang mampu kita penuhi demi memuaskan ego lahiriah.

Fenomena ini telah menghancurkan "kesederhanaan manis" yang pernah dimiliki manusia. Kebutuhan fisik kita bukan lagi sekadar urusan biologis, melainkan telah didominasi oleh faktor psikologis seperti cita rasa seni yang berlebihan, keangkuhan, hingga dorongan untuk pamer. 

Akibatnya, muncul kelelahan psikologis; sebuah perasaan tidak puas dan kecewa yang terus menerus karena nafsu mengejar tingkatan konsumsi yang lebih tinggi. Di sinilah Islam hadir bukan untuk mengekang, melainkan untuk membebaskan energi manusia dari beban material yang semu demi mengejar cita-cita spiritual yang lebih tinggi.


Revolusi Perspektif: Distribusi Dulu, Produksi Kemudian

Ada satu perbedaan radikal antara ekonomi Islam dengan ekonomi pasar atau ekonomi komando. Jika sistem lain sibuk bertanya "apa yang harus diproduksi", Islam memulai dengan pertanyaan yang jauh lebih humanis: "Untuk siapakah barang dan jasa dihasilkan?"

Dalam perspektif ini, distribusi bukan sekadar dampak akhir dari produksi, melainkan mesin penggerak utama (engine) bagi seluruh kegiatan ekonomi. Dengan menaruh persoalan distribusi—terutama keprihatinan terhadap kaum miskin—sebagai inti kegiatan, maka proses konsumsi dan produksi menjadi satu kesatuan yang terpadu.

Inilah revolusi cara pandang: saat kebutuhan dasar orang lain menjadi prioritas, perbaikan kehidupan material dan spiritual dapat berjalan secara simultan.


5 Pilar Konsumsi yang Menjaga Tubuh dan Jiwa

Dalam kacamata minimalisme Islam, konsumsi adalah sebuah filter, bukan sekadar pemuas keinginan. Berikut adalah lima pilar yang menjaga keseimbangan hidup:

Prinsip Keadilan: Berkaitan dengan kewajiban mencari rezeki secara halal dan tidak melanggar hukum.

"Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi...." (Q.S. Al-Baqarah 2:168)

Prinsip Kebersihan: Barang yang dikonsumsi haruslah baik, bermanfaat, dan tidak kotor sehingga merusak selera.

Prinsip Kesederhanaan: Inti dari pilar ini adalah kontrol diri. Kita dilarang berlebihan, namun juga dilarang bersikap kikir atau memantangkan apa yang telah Allah halalkan. Ini adalah tentang konsumsi yang penuh kesadaran.

Prinsip Kemurahan Hati: Menyadari bahwa rezeki adalah penyediaan dari Tuhan. Allah memberikan kelonggaran bahkan dalam larangan-Nya demi kelangsungan hidup manusia.

"....tetapi barang siapa dalam keadaan terpaksa (memakannya), sedang ia tidak menginginkannya dan tidak pula melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya...." (Q.S. Al-Baqarah 2:173)

Prinsip Moralitas: Konsumsi bertujuan untuk peningkatan nilai spiritual. Dimulai dengan menyebut nama Allah sebagai bentuk kesadaran akan kehadiran Ilahi dalam setiap aktivitas fisik kita.


Higienitas: Lebih dari Sekadar Aturan Makanan

Kebersihan dalam Islam adalah setengah dari iman. Ia bukan sekadar urusan teknis medis, melainkan bentuk penjagaan menyeluruh karena apa yang berbahaya bagi tubuh, secara inheren berbahaya pula bagi jiwa dan moral manusia.

Rasulullah SAW memberikan instruksi mendetail yang sangat praktis:

Keberkahan melalui Kebersihan: Salman meriwayatkan bahwa mencuci tangan sebelum dan sesudah makan adalah jalan datangnya keberkahan (HR. Tarmidzi & Mishkat).

Penjagaan Konsumsi: Larangan meniup minuman ke dalam gelas (HR. Bukhari dari Abu Tadah) serta perintah untuk menutup wadah makanan dan minuman, bahkan sebelum tidur (HR. Bukhari dari Jabir).

Aturan ini menunjukkan bahwa agama sangat mementingkan perlindungan fisik sebagai fondasi kesehatan jiwa. Sebuah gelas yang tertutup adalah simbol dari pikiran yang terjaga.


Paradoks Barang Mewah: Mengapa Melarang Saja Tidak Cukup?

Dalam struktur ekonomi kapitalis saat ini, terdapat sebuah paradoks mengenai barang mewah yang memiliki "kesahihan nisbi" (validitas relatif). Secara filosofis, pemborosan adalah masalah serius:

"Hukum Islam menganggap setiap pemakaian kekayaan yang sesungguhnya tidak diperlukan sebagai bentuk pemborosan. Dalam pandangannya, pemborosan adalah suatu bentuk penyakit jiwa." — D. de Santillana, The Legacy of Islam.

Namun, melarang barang mewah secara tiba-tiba tanpa mengubah struktur pembagian kekayaan dapat menimbulkan bencana pengangguran massal. Karena daya beli terkonsentrasi di tangan segelintir orang kaya, permintaan mereka menjadi motor penggerak lapangan kerja bagi si miskin. Solusi Islam bukanlah pelarangan kaku yang picik, melainkan transformasi lingkungan sosial agar memiliki tanggung jawab moral yang dalam.

Jika kekayaan didistribusikan secara merata, faktor produksi akan otomatis beralih dari industri kemewahan yang sia-sia menuju produksi barang-barang yang berguna bagi masyarakat luas.


Moderasi Sebagai Bentuk Altruisme

Sikap moderat dalam Islam bukanlah tentang memilih kemiskinan, melainkan sebuah konsep dinamis untuk membebaskan energi.

Dengan mengurangi kebutuhan fisiologis buatan—seperti nafsu untuk pamer dan gengsi—seorang Muslim sebenarnya sedang mempraktikkan altruisme.

Kesederhanaan adalah upaya untuk berhenti menghabiskan seluruh energi kita hanya untuk urusan perut dan status sosial. 

Ketika tuntutan lahiriah ini mengecil, energi manusia akan mengalir deras menuju pengembangan batiniah dan pelayanan terhadap sesama. Inilah esensi dari gaya hidup minimalis yang berakar pada teologi.


Gaya hidup Islam menawarkan obat bagi kelelahan psikologis manusia modern. Ia mengembalikan "kesederhanaan manis" dengan cara mengendalikan nafsu konsumsi agar kita tidak menjadi budak dari benda-benda yang kita miliki.

Dengan menerapkan prinsip-prinsip ini, kita sedang membangun harmoni antara pemenuhan material dan kemajuan spiritual.

Dua Sosok yang Disebut Rasulullah 'Ibu Setelah Ibuku' Bayangkan seorang anak yatim p...

Dua Sosok yang Disebut Rasulullah 'Ibu Setelah Ibuku'

Bayangkan seorang anak yatim piatu di tengah kerasnya hamparan padang pasir Arabia. Tanpa dekapan hangat ayah dan ibu kandung, secara fitrah ia adalah sosok paling rentan di dunia.

Namun, dalam skenario Allah, Muhammad bin Abdullah tidak pernah benar-benar dibiarkan sendiri. Di balik keteguhan sang nabi yang kelak mengguncang peradaban, terdapat jalinan cinta dari perempuan-perempuan luar biasa yang menyediakan bahu dan rumah bagi jiwanya.

Bagi Rasulullah, kasih sayang tidak melulu soal ikatan biologis. Beliau mengajarkan dunia sebuah hakikat humanisme yang dalam: bahwa ibu bisa lahir dari ketulusan, bukan sekadar rahim. 

Ada dua sosok yang secara khusus disebutnya sebagai "Ibu setelah ibuku," sebuah gelar yang melampaui segala status sosial dan menjadi bukti bagaimana sang Nabi memuliakan mereka yang menjaganya di masa sulit.


Ummu Aiman: Barakah dari Habasyah yang Melampaui Kasta

Lahir di tanah Al-Habasyah (Ethiopia), perempuan ini bernama Barakah. Ia mengawali kehadirannya di keluarga Nabi sebagai pelayan Abdul Muthallib, yang kemudian diwariskan kepada Abdullah hingga akhirnya menjadi pengasuh setia sang yatim Muhammad. Statusnya sebagai mantan budak berkulit hitam sama sekali tidak mengurangi kemuliaan kedudukannya di mata Rasulullah.

Beliau justru menghancurkan sekat-sekat rasial dan hierarki sosial dengan menempatkan Barakah—yang kemudian dikenal sebagai Ummu Aiman—sebagai inti dari keluarganya.

Bentuk cinta Nabi kepada Barakah terlihat dari bagaimana beliau membangun masa depan pengasuhnya ini. Beliau memerdekakannya, menikahkannya dengan Zaid bin Haritsah (lelaki yang sangat dicintai Nabi), dan dari rahim Ummu Aiman pulalah lahir Usamah bin Zaid, panglima muda kesayangan beliau. 

Kedekatan ini menjadikan Ummu Aiman sebagai matriark dalam rumah tangga kenabian. Sebagaimana sabda Rasulullah yang abadi:

"Barangsiapa merasa senang menikah dengan seorang perempuan penghuni surga, maka hendaklah menikah dengan Ummu Aiman."


Ketegasan Sang Ibu: Diplomasi Pohon Kurma

Sebuah fragmen naratif yang sangat manusiawi terekam dalam hadits Anas bin Malik, menggambarkan betapa Ummu Aiman merasa memiliki "hak" emosional atas diri Rasulullah. 

Suatu ketika, setelah penaklukan Khaibar, terjadi perselisihan mengenai kepemilikan pohon kurma. Anas meminta kembali pohon yang pernah diberikan ibunya kepada Nabi, yang saat itu telah diserahkan Nabi kepada Ummu Aiman.

Alih-alih diam, Ummu Aiman menunjukkan pembelaan yang berapi-api layaknya seorang ibu yang melindungi hak anaknya. Ia melingkarkan pakaiannya ke leher Anas bin Malik—sebuah gestur perlindungan sekaligus ketegasan—seraya bersumpah demi Allah bahwa pohon itu tidak boleh diambil. Menariknya, Rasulullah tidak menegur kekerasan hati pengasuhnya itu. 

Beliau justru tersenyum dan memilih jalur diplomasi kasih sayang: mengganti pohon tersebut sepuluh kali lipat untuk Anas demi menjaga kehormatan dan perasaan Ummu Aiman. 

Bagi Nabi, kebahagiaan perempuan yang telah menyuapinya di masa kecil lebih berharga daripada sekadar urusan materi.


Fathimah binti Asad: Pengorbanan yang Menembus Lapar

Setelah kematian kakeknya, Muhammad tinggal bersama pamannya, Abu Thalib. Di sinilah muncul sosok Fathimah binti Asad.

Dalam kondisi ekonomi keluarga yang sering kali terjepit, Fathimah memberikan standar baru tentang pengorbanan. Ia bukan hanya sekadar "istri paman," melainkan benteng bagi sang Nabi di masa pertumbuhan.

Fathimah adalah perempuan yang rela menahan lapar agar Muhammad kecil bisa kenyang. Ia rela mengenakan pakaian yang sudah usang dan seadanya demi memastikan sang keponakan berpakaian layak. Pengabdian yang tulus dan mengutamakan orang lain di atas diri sendiri (isthar) ini terukir begitu dalam di relung hati Rasulullah.

Saat maut menjemput Fathimah, dunia seolah runtuh bagi beliau. Beliau duduk di dekat kepalanya dan berbisik dengan nada emosional:

"Semoga Allah senantiasa melimpahkan kasih sayangnya kepadamu wahai Bunda, kamu adalah ibu setelah ibuku, kamu lapar demi membuatku kenyang, kamu telanjang demi pakaianku, kamu menahan dirimu untuk menikmati kesenangan demi memberi makan kepadaku, dan kamu menghendaki semua itu demi Allah dan alam akhirat."


Tangan Sang Nabi yang Berlumur Tanah: Penghormatan Terakhir

Mungkin tidak ada pemakaman yang lebih mengharukan dalam sejarah selain pemakaman Fathimah binti Asad. Rasulullah melakukan tindakan yang tak terbayangkan: beliau menanggalkan baju kemejanya sendiri untuk dijadikan kain kafan bagi sang bunda, seolah ingin memberikan perlindungan fisik terakhirnya.

Namun, puncaknya adalah ketika galian liang lahat mencapai dasarnya.

Rasulullah, pemimpin besar umat itu, turun langsung ke dalam lubang. Beliau menggali tanah dengan tangannya sendiri, memindahkan butiran bumi dengan jemari yang biasa menerima wahyu, demi memastikan tempat peristirahatannya sempurna. 

Beliau kemudian membaringkan tubuhnya sendiri di dalam liang lahat tersebut sebelum jenazah Fathimah diletakkan—sebuah simbol doa agar kubur menjadi tempat yang lapang dan hangat. Sambil membaringkan jenazahnya, beliau memanjatkan doa yang menggetarkan:

"Allah Yang Menghidupkan dan Mematikan, Dialah Dzat yang Maha Hidup dan tidak mati, ampunilah ibuku Fathimah binti Asad dan ajarkanlah hujjahnya, lapangkanlah pintu masuknya demi nabi-Mu dan para nabi sesudahku. Karena sesungguhnya Dzat Yang Maha Penyayang dari para penyayang."


Kisah Ummu Aiman dan Fathimah binti Asad bukanlah sekadar catatan sejarah yang kering. Ini adalah sebuah cermin besar bagi kita tentang etika balas budi dan cara memuliakan sesama manusia.

Rasulullah mengajarkan bahwa karunia terbesar dalam hidup bukan hanya berupa kesuksesan, melainkan kehadiran orang-orang tulus yang membersamai kita saat kita belum menjadi siapa-siapa.

Memuliakan pengasuh, pembantu, atau mereka yang berkorban untuk kita adalah inti dari ajaran moral yang dipraktikkan sang Nabi. Kini, tanyakanlah pada nurani kita: Siapakah sosok 'Ummu Aiman' atau 'Fathimah binti Asad' yang telah menjaga kita hingga hari ini?

Sudahkah kita membasuh hati mereka dengan kemuliaan yang setimpal, ataukah kita telah melupakan debu yang menempel di tangan mereka saat mereka sibuk merawat masa depan kita?

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adam (5) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Akhirat (8) Al-Baqarah (1) Al-Qur'an (362) Al-Qur’an (57) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) An-Nadwi (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bahaya Kemunduran Umat Islam (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (53) Cerita kegagalan (1) cerpen Nabi (8) cerpen Nabi Musa (2) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) dakwah (18) Dakwah (29) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) ekonomi (3) Ekonomi (27) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) english (6) English (6) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fiqh (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (7) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) hikmah (1) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum (2) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) Islam (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) kecerdasan (22) Kecerdasan (342) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Hadist (4) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) kisah para nabi dan (2) kisah para nabi dan rasul (60) kisah para Nabi dan Rasul (1) Kisah para nabi dan rasul (118) Kisah Para Nabi dan Rasul (577) kisah para nabi dan rasul. Nabi Daud (1) kisah para nabi dan rasul. nabi Musa (2) Kisah Penguasa (1) Kisah ulama (1) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) nabi adam (1) Nabi Adam (75) nabi Adam. Adam (1) Nabi Ayub (1) Nabi Daud (3) Nabi Ibrahim (3) Nabi Isa (2) nabi Isa. nabi ismail (1) Nabi Ismail (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Khidir (1) Nabi Musa (29) Nabi Nuh (6) Nabi Sulaiman (2) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (15) Namrudz (2) Nasrulloh Baksolahar (1) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) nusantara (11) Nusantara (311) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (746) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) politik (1) Politik (8) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rasulullah shalallahu alaihi wassalam (1) Rehat (493) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) Sahabat (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) Salimul Aqidah (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Serah Nabawiyah (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (336) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah penguasa (11) Sirah Penguasa (248) sirah Sahabat (2) Sirah Sahabat (173) Sirah Tabiin (43) Sirah ulama (36) Sirah Ulama (158) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tamim Ad Dari (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Wakaf (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)