Antara Perselisihan, Persekutuan, dan Perubahan Zaman Antara Yahudi, dan Nasrani
Jika kita menelusuri sejarah hubungan antara komunitas Yahudi dan Kristen, kita menemukan sebuah kenyataan yang tidak sederhana.
Apakah keduanya selalu bersahabat?
Tidak.
Dalam perjalanan sejarah, pernah terjadi perselisihan teologis, konflik politik, persaingan kekuasaan, bahkan pertentangan terbuka di antara berbagai kelompok yang mengaku sebagai Yahudi maupun Kristen. Al-Qur’an sendiri menggambarkan adanya perselisihan di antara mereka.
Allah berfirman:
«وَقَالَتِ الْيَهُودُ لَيْسَتِ النَّصَارَىٰ عَلَىٰ شَيْءٍ وَقَالَتِ النَّصَارَىٰ لَيْسَتِ الْيَهُودُ عَلَىٰ شَيْءٍ وَهُمْ يَتْلُونَ الْكِتَابَ
“Orang-orang Yahudi berkata, ‘Orang-orang Nasrani itu tidak mempunyai suatu pegangan,’ dan orang-orang Nasrani berkata, ‘Orang-orang Yahudi tidak mempunyai suatu pegangan,’ padahal mereka sama-sama membaca Kitab.”
(Al-Baqarah: 113)»
Bukankah ayat ini menunjukkan adanya pertentangan yang sangat tajam?
Masing-masing kelompok menolak klaim keagamaan kelompok yang lain, padahal keduanya sama-sama mengaku berpegang kepada kitab.
Namun di sinilah kita perlu berhenti sejenak.
Apakah setiap ayat Al-Qur’an yang menyebut Yahudi dan Nasrani sedang berbicara tentang seluruh individu Yahudi dan Nasrani sepanjang sejarah?
Tentu tidak sesederhana itu.
Al-Qur’an berbicara tentang kelompok, sikap, karakter, perbuatan, dan konteks tertentu. Karena itu, kita perlu membaca setiap ayat dalam konteksnya agar tidak mengubah kritik terhadap suatu sikap menjadi generalisasi terhadap seluruh manusia.
Lalu Bagaimana dengan Al-Ma’idah?
Pertanyaan menjadi semakin menarik ketika kita membaca ayat-ayat dalam Surah Al-Ma’idah.
Allah berfirman:
«“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai awliya; sebagian mereka adalah awliya bagi sebagian yang lain. Barang siapa di antara kamu menjadikan mereka sebagai awliya, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka...”
(Al-Ma’idah: 51)»
Kemudian ayat-ayat berikutnya menggambarkan sikap sebagian orang munafik yang berusaha mendekati mereka karena takut tertimpa bencana:
«“Maka kamu akan melihat orang-orang yang dalam hatinya ada penyakit berlomba-lomba mendekati mereka...”
(Al-Ma’idah: 52)»
Lalu rangkaian ayat tersebut berlanjut hingga menegaskan:
«“Sesungguhnya penolongmu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman...”
(Al-Ma’idah: 55)»
Dan ditutup dengan:
«“Barang siapa menjadikan Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman sebagai walinya, maka sesungguhnya golongan Allah itulah yang menang.”
(Al-Ma’idah: 56)»
Maka muncul sebuah pertanyaan penting:
Mengapa Al-Qur’an menyebut Yahudi dan Nasrani secara bersamaan sebagai kelompok yang memiliki hubungan wilayah satu sama lain?
Apakah ini berarti mereka yang sebelumnya sering berselisih tiba-tiba menjadi sahabat?
Ataukah ayat tersebut sedang mengungkapkan sesuatu yang lebih dalam tentang perubahan konfigurasi sosial dan politik?
Antara Perselisihan dan Kepentingan Bersama
Sejarah manusia memberikan sebuah pelajaran menarik:
Kelompok yang berbeda dalam keyakinan tidak selalu selamanya bermusuhan dalam seluruh urusan.
Mereka dapat berselisih dalam satu perkara, tetapi bekerja sama dalam perkara yang lain.
Bukankah demikian tabiat kehidupan manusia?
Dua kelompok dapat berbeda dalam agama, filsafat, atau pandangan hidup, tetapi pada suatu keadaan tertentu dapat menemukan kepentingan bersama.
Karena itu, perselisihan teologis antara Yahudi dan Nasrani tidak otomatis meniadakan kemungkinan munculnya kerja sama sosial, politik, atau kepentingan tertentu pada masa yang berbeda.
Di sinilah kita dapat memahami mengapa Al-Qur’an menggunakan istilah awliya, sebuah istilah yang memiliki cakupan makna lebih luas daripada sekadar “teman”.
Ia dapat berkaitan dengan kedekatan, loyalitas, perlindungan, keberpihakan, atau hubungan kekuasaan—bergantung pada konteks penggunaannya.
Maka persoalan yang dibahas ayat bukan sekadar:
“Bolehkah seorang Muslim berteman dengan orang Yahudi atau Nasrani?”
Pertanyaannya jauh lebih serius:
“Kepada siapa seorang mukmin memberikan loyalitas utama, keberpihakan, dan ikatan yang menentukan arah hidupnya?”
Dan jawabannya ditegaskan oleh Al-Qur’an:
«اللَّهُ وَلِيُّكُمْ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا
“Sesungguhnya penolongmu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman.”
(Al-Ma’idah: 55)»
Dengan demikian, ayat tersebut tidak boleh dipersempit menjadi larangan berbuat baik kepada seluruh orang Yahudi atau Nasrani. Al-Qur’an sendiri membedakan antara berbagai kelompok dan keadaan.
Yang menjadi perhatian utama adalah loyalitas yang menggeser loyalitas kepada Allah, Rasul-Nya, dan prinsip iman.
Bagaimana dengan Realitas Sejarah Nabi?
Sekarang mari kita kembali kepada sejarah Nabi Muhammad ﷺ.
Apakah Nabi memperlakukan semua orang Yahudi dan Nasrani sebagai satu kelompok yang sama?
Tidak.
Hubungan Nabi ﷺ dengan berbagai komunitas di sekitarnya sangat beragam. Ada perjanjian, hubungan sosial, perdagangan, dialog, konflik, dan peperangan—semuanya bergantung pada sikap serta tindakan pihak yang bersangkutan.
Di Madinah, misalnya, terdapat komunitas Yahudi yang memiliki hubungan politik dengan masyarakat Muslim. Ketika terjadi pelanggaran perjanjian dan konflik, persoalannya berkembang menjadi persoalan politik dan keamanan.
Demikian pula hubungan dengan kekuatan Kristen di wilayah Syam. Pertemuan dengan kekuatan Bizantium dan sekutu-sekutunya kemudian membawa kaum Muslimin kepada konflik militer, salah satunya dalam ekspedisi Mu’tah.
Apa pelajarannya?
Hubungan antaragama tidak dapat dibaca hanya dengan satu warna.
Ada wilayah keyakinan.
Ada wilayah sosial.
Ada wilayah politik.
Ada wilayah perjanjian.
Dan ada wilayah konflik.
Mencampurkan semuanya ke dalam satu kategori justru membuat kita kehilangan ketelitian dalam membaca sejarah.
Apakah Al-Qur’an Sedang Berbicara tentang Masa Depan?
Di sinilah gagasan yang hendak dibangun oleh tulisan ini menjadi menarik.
Apakah Al-Ma’idah 51–56 hanya menggambarkan situasi lokal pada masa turunnya ayat?
Ataukah ia juga memberikan prinsip yang dapat berlaku ketika konfigurasi politik berubah pada masa-masa berikutnya?
Sejarah memperlihatkan bahwa hubungan antarbangsa dan antarkelompok terus berubah.
Musuh dapat menjadi sekutu.
Sekutu dapat berubah menjadi pesaing.
Kelompok yang berbeda keyakinan dapat menemukan kepentingan bersama.
Karena itu, seorang Muslim tidak boleh membangun pembacaan sejarah hanya berdasarkan asumsi bahwa hubungan antaragama akan selalu berada dalam pola yang sama.
Zaman berubah. Konfigurasi kekuasaan berubah. Kepentingan berubah. Tetapi prinsip iman tetap.
Inilah yang membuat Al-Qur’an selalu relevan.
Ia tidak hanya mengajarkan kita bagaimana membaca sebuah peristiwa, tetapi juga bagaimana membaca perubahan di balik peristiwa.
Dari Kekalahan Romawi Menuju Perubahan Dunia
Tidak lama setelah itu, Al-Qur’an juga berbicara tentang perubahan besar dalam peta kekuasaan dunia.
Allah berfirman:
«غُلِبَتِ الرُّومُ فِي أَدْنَى الْأَرْضِ وَهُم مِّن بَعْدِ غَلَبِهِمْ سَيَغْلِبُونَ فِي بِضْعِ سِنِينَ
“Telah dikalahkan bangsa Romawi, di negeri yang terdekat; dan mereka setelah kekalahannya itu akan menang dalam beberapa tahun.”
(Ar-Rum: 2–4)»
Perhatikan bagaimana Al-Qur’an mengajarkan kita melihat sejarah.
Sebuah kekuatan besar dapat kalah.
Tetapi kekalahan tidak selalu berarti akhir.
Sebuah bangsa dapat jatuh.
Namun beberapa tahun kemudian ia dapat bangkit kembali.
Maka sejarah bukanlah garis lurus.
Ia bergerak.
Kekuasaan berganti.
Konfigurasi politik berubah.
Dan manusia sering kali salah membaca masa depan karena mengira keadaan hari ini akan berlangsung selamanya.
Janji Allah dan Kebangkitan Kaum Beriman
Setelah itu, Al-Qur’an memberikan janji kepada orang-orang beriman yang beramal saleh:
«“Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa...”
(An-Nur: 55)»
Tetapi perhatikan syaratnya.
Janji itu tidak diberikan kepada sebuah umat hanya karena mereka mengaku Muslim.
Ada iman.
Ada amal saleh.
Ada tauhid.
Dan ada penghambaan kepada Allah tanpa mempersekutukan-Nya.
Jadi, persoalannya bukan sekadar:
“Siapa yang berkuasa?”
Pertanyaan yang lebih mendasar adalah:
“Manusia seperti apa yang layak memikul amanah kekuasaan?”
Sebab kekuasaan tanpa iman dapat berubah menjadi kesombongan.
Kemenangan tanpa ketaatan dapat berubah menjadi istidraj.
Dan kejayaan tanpa syukur dapat menjadi jalan menuju kehancuran.
Sejarah yang Mengajarkan Pergantian Kekuasaan
Kemudian sejarah memperlihatkan perubahan besar.
Romawi berhasil bangkit menghadapi Persia sebagaimana diberitakan Al-Qur’an. Pada masa-masa berikutnya, kaum Muslimin juga berkembang menjadi kekuatan besar dan membangun peradaban yang luas.
Maka apa yang dapat kita pelajari?
Bukan sekadar bahwa satu bangsa mengalahkan bangsa lain.
Lebih jauh daripada itu.
Kita belajar bahwa kekuasaan dunia tidak pernah bersifat abadi.
Hari ini sebuah imperium berdiri.
Besok ia melemah.
Hari ini sebuah bangsa berada di puncak.
Besok bangsa lain menggantikannya.
Yang tetap adalah Allah.
«وَلِلَّهِ الْأَمْرُ مِن قَبْلُ وَمِنۢ بَعْدُ
“Milik Allah segala urusan sebelum dan sesudahnya.”
(Ar-Rum: 4)»
Bukankah ini inti pelajaran dari seluruh rangkaian ayat tersebut?
Jangan membaca sejarah hanya dengan mata yang melihat siapa menang dan siapa kalah.
Bacalah sejarah dengan mata iman.
Tanyakan:
Mengapa Allah membalikkan keadaan?
Mengapa sebuah kekuatan bangkit setelah mengalami kekalahan?
Mengapa sebuah umat memperoleh kekuasaan setelah sebelumnya tertindas?
Dan mengapa sebuah umat kehilangan kekuasaan setelah sebelumnya berada di puncak?
Di balik seluruh pergantian itu ada sunnatullah.
Loyalitas yang Tidak Boleh Bergeser
Pada akhirnya, pembahasan tentang hubungan Yahudi dan Nasrani membawa kita kembali kepada persoalan yang jauh lebih mendasar: loyalitas seorang mukmin.
Seorang Muslim boleh hidup berdampingan dengan manusia yang berbeda agama. Ia dituntut berlaku adil, memenuhi perjanjian, berbuat baik kepada mereka yang tidak memeranginya, dan menjaga akhlak.
Namun ketika menyangkut arah akidah, prinsip, dan loyalitas yang menentukan identitas umat, Al-Qur’an memberikan batas yang jelas.
Karena itu pertanyaan terpenting bukan:
“Siapa yang menjadi teman kita?”
Melainkan:
“Siapa yang menjadi pusat loyalitas hati kita?”
Jika pusatnya Allah, manusia dapat menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan arah.
Jika pusatnya kepentingan dunia, maka perubahan peta politik sedikit saja dapat membuatnya berubah pendirian.
Inilah pelajaran besar dari ayat-ayat tersebut:
Sejarah boleh berubah, aliansi boleh berubah, kekuasaan boleh berpindah, dan hubungan antarkelompok boleh mengalami pasang surut. Tetapi seorang mukmin tidak boleh kehilangan kompasnya.
Kompas itu adalah tauhid.
Dan ketika tauhid tetap tegak, perubahan zaman tidak akan membuat kita kehilangan jalan.
Link Kami
Beberapa Link Kami yang Aktif