basmalah Pictures, Images and Photos
Our Islamic Story: Sirah Penguasa

Choose your Language

Tampilkan postingan dengan label Sirah Penguasa. Tampilkan semua postingan

Ratu Antokia, Agen Rahasia Shalahuddin Al-Ayyubi di Tubuh Tentara Salib Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Gerakan intelejen dalam sebu...

Ratu Antokia, Agen Rahasia Shalahuddin Al-Ayyubi di Tubuh Tentara Salib

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Gerakan intelejen dalam sebuah pertempuran merupakan sesuatu yang sangat strategis dalam meraih kemenangan militer. Di perang Salib, Shalahuddin Al-Ayubi membangun agen mata-mata yang handal, tidak saja dari Muslimin tetapi juga dari para Tentara Salib sendiri.

Agen rahasia Shalahuddin Al-Ayubi yang berasal dari tentara salib, tidak saja dari tentara biasa, tetapi ada juga yang berasal kalangan dekat atau ring satu para penguasa kerajaan yang didirikan oleh tentara salib pada Perang Salib I setelah menguasai Baitul Maqdis Palestina. Mengapa musuh bisa menjadi kawan?

Keberhasilan Shalahuddin Al-Ayubi memenangkan Perang Hitthin, yang menyebabkan Baitul Maqdis bisa direbut kembali, salah satunya buah operasi intelejen. Dimana Shalahuddin Al-Ayubi mengadakan kontak rahasia dengan istri penguasa Antokia, raja Bohemond III. Dia menginformasikan tentang langkah-langkah militer tentara salib dan agenda perangnya.

Ibnu Atsir berkata, "Ratu Antokia berkirim surat kepada Shalahuddin Al-Ayubi, memberikan petunjuk dan memberikan informasi yang susah ditembus oleh Shalahuddin." Ibnu Syamah berkata, "Ratu Antokia merupakan loyalis Shalahuddin, ia menjadi mata Shalahuddin untuk melihat musuh, menunjuki, menasehati dan membongkar rahasia tentara salibis."

Keterkaitan Shalahuddin dengan Ratu Antokia ini, menyebabkan lahirnya sebuah roman di Prancis pada abad ke-14 M menyebutkan, Saladin pernah jatuh cinta dengan Lady Sibylla, istri Pangeran Antiokhia Bohemond III. Padahal, tidak ada bukti Shalahuddin pernah benar-benar bertemu wanita ini walaupun setidaknya ada kontak secara tidak langsung.

Mengapa sang Ratu Antokia rela membantu Shalahuddin? Akhlak pasukan Muslimin dalam menepati perjanjian dengan kerajaan Antokia. Dalam buku Sejarah Eropa: Dari Eropa Kuno Hingga Eropa Modern, pada 1151 M Nurudin Zanki, sang guru Shalahuddin, berhasil menaklukan kota Edessa. Penguasa Edessa dan Antokia berhasil disandera. Akhirnya, mereka dibebaskan setelah memberikan tebusan. 

Dalam buku The Crusades through Arab Eyes, Amin Maalouf, menjelaskan, Shalahuddin menaruh hormat kepada lawan sekalipun. Pernah suatu ketika, dalam masa damai, sejumlah bangsawan Kristen dari Antokia mendatanginya untuk meminta kembali daerah yang direbut Muslimin empat tahun sebelumnya. Permintaan itu kemudian dikabulkan Shalahuddin.

Akhlak yang luar biasanya inilah yang membuat Ratu Antokia tertarik menjadi bagian kemenangan Muslimin pada perang Hitthin. 

Mimpi dan Firasat Kelahiran Shalahuddin Al-Ayubi  Di sebuah kota tua, di antara Baghdad-Irak dan Mosul-Syam, terdapat sebuah ben...

Mimpi dan Firasat Kelahiran Shalahuddin Al-Ayubi 


Di sebuah kota tua, di antara Baghdad-Irak dan Mosul-Syam, terdapat sebuah benteng  yang terletak di atas batu karang besar. Benteng ini berada di ujung kota yang menghadap ke sungai Dajlah atau Tigris. Benteng ini bernama Benteng Tikrit.

Benteng Tikrit dibangun oleh bangsa Persia sejak zaman dulu untuk menyimpan kekayaan, sekaligus sebagai menara pengintai musuh. Benteng ini berhasil direbut oleh kaum Muslimin pada tahun ke-6 Hijriyah di masa Khalifah Umar bin Khatab.

Saat itu Bani Seljuk sedang berkuasa, dengan sultannya Muhammad Malik Sah. Benteng Tikrit berada di wilayah kekuasaan Bani Seljuk di bawah provinsi Baghdad. Saat itu, kaum Muslimin mengalami kondisi yang kritis. Para penguasanya saling bertikai memperebutkan kekuasaan. Sedangkan Masjidil Aqsha di Palestina di kuasai Tentara Salib, gabungan penguasa Eropa.

Dalam suasana kritis tersebut, di tahun 532 Hijriyah (1137 M), di Benteng Tikrit, ada seorang wanita muda sedang mengandung. Saat gadis, dia berdoa kepada Allah, agar dari rahimnya lahir pembebas Palestina. Sang suaminya, saat perjaka, juga berdoa agar keturunannya menjadi sosok pembebas Palestina. Akhirnya, Allah menjodohkannya.

Pada suatu malam, wanita yang hamil tersebut bermimpi, ada sosok yang mendatangi dalam mimpinya. Sosok itu berkata, "Di dalam perutmu ini ada salah satu pedang Allah." Wanita tersebut terbangun. Memikirkan makna mimpi tersebut tentang jabang bayinya yang dijuluki pedang Allah.

Hari berbahagia pun tiba. Sang bayi pun lahir. Namun apa yang terjadi? Beberapa hari setelah kelahiranya, ada perintah dari penguasa Baghdad untuk segera meninggalkan benteng sesegera mungkin. Bila tidak, seluruh anggota keluarga tersebut bisa dibunuh oleh komandan benteng.

Hanya berbekal ala kadarnya, mereka mengendap secara rahasia keluar benteng di malam hari. Namun tangisan sang bayi sangat kencang sehingga sangat membahayakan bila diketahui oleh komandan benteng. Sang ayah bermaksud membunuh bayi tersebut. Namun dicegah oleh pengikutnya.

Sang pengikut berkata, "Apa dosa sang bayi? Bukankah yang terjadi pada kita merupakan ketentuan dari Allah? Siapa tahu kelak, bayi ini justru yang akan menjadi penguasa yang disegani dan memiliki kedudukan terhormat. Semoga Allah menjadikan untuknya suatu kedudukan."

Ayah bayi tersebut tersadar, dia tidak jadi membunuh bayi tersebut. Kelak bayi tersebut benar-benar menjadi pedang Allah, sang Pembebas Baitul Maqdis, yang bernama Shalahuddin Al-Ayubi. Mimpi sang ibu dan firasat pengikut ayahnya menjadi kenyataan.

Sumber:
Prof Dr Ali Muhammad Shalabi, Shalahuddin Al-Ayubi, Pustaka Al-Kautsar

Penyebab Muslimin Berjihad Bersama Shalahuddin Al-Ayubi Karakter Shalahuddin Al-Ayubi membuat banyak orang menjadi bagiannya. Be...

Penyebab Muslimin Berjihad Bersama Shalahuddin Al-Ayubi


Karakter Shalahuddin Al-Ayubi membuat banyak orang menjadi bagiannya. Berhimpun bersamanya. Sebab, Shalahuddin sangat dermawan dalam urusan harta. Dia memberikan banyak hadiah dan hibah kepada pengikutnya, delegasi yang datang, orang-orang yang mau tunduk kepadanya.

Dia bersikap toleran kepada seluruh rakyatnya dengan memaafkan hutang-hutang pajak, menghapuskan berbagai pungutan dan pemerasan, selain retribusi yang sah menurut syariat. Tujuannya, menarik hati semua orang ke barisannya dan membungkam para musuhnya.

Saat terjadi pertempuran dengan penguasa dan pasukan muslim yang tidak mendukung gerakan front Islam melawan tentara salib, ia tidak mengijinkan untuk mengejarnya, tidak membunuh mereka yang terluka, tidak menjadikannya sebagai tawanan. Terkadang toleran kepada musuhnya, semoga kelak menjadi sekutu.

Shalahuddin memiliki keimanan yang mendalam. Tidak hanya tekun beribadah, tetapi juga sangat bersemangat dalam jihad. Ia meyakini bahwa jihad merupakan kewajiban baginya dan bagi yang lainnya, sehingga dia berusaha membawa mereka terlibat dalam jihad.

Shalahuddin membiarkan para pejabat, komandan, orang terdekat, serta kawannya untuk menduduki jabatan mereka. Dia tidak berambisi pada jabatan tersebut karena yang dibutuhkan adalah kekuatan militer untuk tujuan tertinggi.

Dihadapan gurunya, Shalahuddin menampakkan dirinya sosok yang kuat yang memiliki mentalitas tangguh untuk mewujudkan prinsip-prinsip yang dijalankan gurunya, Nurudin Zanky dan Imaduddin Zanki.

Shalahuddin memposisikan khalifah Abbasiyah sebagai sumber otoritas spiritual yang sah bagi Muslimin. Secara berkala mengirimkan surat ke khalifah untuk menginformasikan beragam situasi. Ini penegasan bahwa kekuatan Muslimin hanya akan terbentuk atas dasar keakraban, komitmen untuk melindungi agama, aqidah dan menolak para aggresor.

Shalahuddin mengabaikan ragam penyakit yang deritanya. Fokusnya, hanya berjihad, sehingga membuatnya lupa akan ragam rasa sakit dan melupakan semua derita fisik.

Sumber:
Prof Dr Ali Muhammad Shalabi, Shalahuddin Al-Ayubi, Pustaka Al-Kautsar

Strategi Shalahuddin Al-Ayubi Menyatukan Kekuatan Muslimin Bani Seljuk berseteru. Anak dan kerabat berperang di antara mereka se...

Strategi Shalahuddin Al-Ayubi Menyatukan Kekuatan Muslimin


Bani Seljuk berseteru. Anak dan kerabat berperang di antara mereka sendiri. Akhirnya, Bani Seljuk terpecah di Timur dan Barat. Setelah itu, mereka bertempur lagi, sehingga masing-masing hanya menguasai kota. Setelah itu mereka bertempur kembali antar kota hingga meminta bantuan kepada Pasukan Salib. Oleh sebab itu, pasukan Salib dengan mudah menguasai kekuasaan mereka. Hingga, Baitul Maqdis dikuasainya.

Banyak ulama dan panglima perang yang mencoba membangkitkan semangat jihad melawan pasukan Salib. Namun, ditubuh muslimin hanya berperang hanya untuk merebut kekuasaan dan kekayaan saja. Hingga lahir Shalahuddin Al-Ayubi yang menggelorakan jihad bersama gurunya Nurudin Zanky. Selama 12 tahun, Shalahuddin menyatukan front Islam di Mesir dan Syam. Bagaimana caranya?

Dengan sangat terpaksa, Shalahuddin berperang dengan sesama penguasa Muslimin yang orientasinya hanya kekuasaan dan kekayaan hingga mereka terkalahkan. Mereka disadarkan untuk bersatu menggelora jihad melawan tentara Salib. Selain perang, apalagi yang dilakukannya?

Penguasa dan prajurit yang menyerah tanpa melalui peperangan diberikan jaminan keamanan. Syaratnya, harus bersatu melawan musuh dari luar.

Menyebarkan selebaran melalui lontaran anak panah ke dalam benteng yang enggan menyerah. Isi selebarannya, himbauan kepada warga benteng agar menyerah. Ini dilakukan untuk menciptakan ketegangan psikologis di barisan lawan.

Bagi kota yang memiliki pertahankan kokoh. Shalahuddin bertekad tinggal menetap di dekat  kota itu. Ini efektif untuk membuat yang tinggal di dalam benteng tertekan lalu meminta jaminan keamanan. Sebab, kekuatan Shalahuddin cukup besar untuk bisa menguasai benteng kota tersebut.

Shalahuddin juga rela memberikan banyak uang dan hadiah kepada pejabat di benteng, agar mereka membukakan pintu benteng demi menghindari peperangan.

Shalahuddin juga menggunakan jalur-jalur politik, dengan menjalin persekutuan dengan sebagian pejabat musuh, untuk melemahkan kekuatan mereka dan mempercepat penyerahan.

Sumber:
Prof Dr Ali Muhammad Shalabi, Shalahuddin Al-Ayubi, Pustaka Al-Kautsar

Hasilnya Melimpah Karena Tidak Zalim Suatu hari seorang raja mengunjungi wilayah kekuasaannya. Dia melihat seseorang sedang meme...

Hasilnya Melimpah Karena Tidak Zalim


Suatu hari seorang raja mengunjungi wilayah kekuasaannya. Dia melihat seseorang sedang memeras susu seekor sapi, namun hasilnya sama dengan susu tiga puluh ekor sapi. Raja takjub dan berniat besok akan mengambil sapi itu.

Esoknya, raja memerah sapi itu, tapi hasilnya hanya setengah dari sebelumnya. Raja berkata, "Kenapa air susunya berkurang, bukankah sapi ini engkau gembalakan di tempat biasa?"

Pemilik sapi itu menjawab, "Benar, Tapi, paduka telah berniat zalim." Sang raja tertegun. Apa yang diucapkan sang pemilik sapi memang sangat benar. Hati yang zalim membuat keberkahan dicabut. 

Masih ingat kisah Rasulullah saw saat masih kecil, ketika menggembala kambing di Bani Saad? Mengapa kambing yang Rasulullah saw gembalakan pulang dengan kenyang? Padahal para pengembala juga mengikuti tempat pengembalaan Rasulullah saw?

Mengapa susu yang keluar dari kambing yang digembalakan Rasulullah saw menghasilkan susu yang berlimpah dibandingkan kambing para pengembala lainnya? Padahal tempat pengembalaannya sama?

Dalam kisah lain, sekelompok kijang mendekati Nabi Adam. Nabi Adam mendoakan dan mengusap punggung sang kijang. Aroma misik pun keluar dari punggung mereka. Binatang yang lain pun, ingin seperti kijang. Mereka menemui Nabi Adam, Nabi Adam pun mendoakan dan mengusap punggung mereka. Namun tidak mengeluarkan aroma misik.

Mereka menemui kijang, lalu berkata, "Kami telah melakukan apa yang kalian lakukan, tetapi kami tidak mendapatkan apa yang kalian dapatkan?" Sang kijang berkata, "Kami mengunjungi beliau karena Allah, sedangkan kalian mengunjunginya demi aroma misik."

Sumber:
Abdurrahman Asy-Syafi'i, A'malul Kubra, Sahara Publishers

Delimanya Manis dan Segar Karena  Niatnya Benar  Suatu hari seorang gubernur bernama Syarwan pergi berburu. Di perjalanan, dia m...

Delimanya Manis dan Segar Karena  Niatnya Benar 


Suatu hari seorang gubernur bernama Syarwan pergi berburu. Di perjalanan, dia merasa haus, lalu dia melihat kebun yang ditunggui seorang anak.

Dia meminta air, tapi anak itu berkata, "Kami tidak punya air." Dia berkata, "Tolong berikan saya buah delima." Anak itu memberinya dan dia langsung memakannya.

Gubernur merasa buah delima itu sangat lezat, sehingga terbetik niat di hatinya untuk mengambil kebun itu. Dia meminta buah delima lagi, tapi rasanya kecut.

Dia bertanya, "Bukankah buah ini dari pohon tadi?" Anak itu menjawab, "Ya." Sang gubernur bertanya lagi, "Lalu kenapa rasanya berubah?"

Anak itu berkata, "Barangkali karena niat paduka telah berubah." Gubernur mengurungkan niatnya untuk mengambil kebun tersebut, lalu berkata, "Berikan satu lagi untukku." Ternyata, rasanya lebih lezat dibandingkan yang pertama.

Gubernur bertanya, "Kenapa rasanya berubah lagi?" Anak itu menjawab, "Karena niat paduka telah berubah lagi." Manis dan kecutnya buah delima tergantung dari niat-niat sang gubernur.

Alam merespon setiap niat. Niat yang baik, Alam pun akan memberikan kebaikan. Niat yang jahat, Alam pun akan memberikan yang buruk. Memperbaiki alam semesta dengan memperbaiki niat-niat yang terbesit di dalam dada manusia.

Sumber:
Abdurrahman Asy-Syafi'i, A'malul Kubra, Sahara Publishers

Ilmu Penegak Kebenaran? Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Yang literatur dan referensi bacaan tentang demokrasi dan pemerintah sangat ...

Ilmu Penegak Kebenaran?

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Yang literatur dan referensi bacaan tentang demokrasi dan pemerintah sangat banyak, mengapa justru menjadi bagian indikasi kecurangan Pilpres 2024? Padahal di dua Pilpres sebelumnya, mereka yang menggugat kecurangan Pilpres. Ada juga pakar hukum tata negara yang jadi bagian indikasi kecurangan Pilpres kali ini. Apakah kepakaran telah mati?

Apakah ilmu tidak bisa menjadi pembimbing jalan hidup? Apakah ilmu tidak membuat seseorang menjadi pembela dan penegak kebenaran? Apakah ilmu tidak bisa menjinakan hawa nafsu dan membersihkan hati? Apakah ini yang disebut Imam Al Ghazali sebagai ulama suu?

Di kitab Ihya Ulumudin, lebih banyak membedah sarana pembersihan hati, penyakit hati dan sikap hati terhadap ritual ibadah. Mengapa tidak mengikuti methodelogi para Imam Mazhab Fiqh sebelumnya? Ilmu pun harus memiliki jiwa dan rasa. Ilmu pun harus diarahkan. Sebab, sangat banyak orientasi puncak ilmu adalah dunia.

Ilmu tidak bisa menjadi satu-satunya alat untuk melihat dan menegakkan kebenaran. Sebab, masih ada syahwat dan bisikan syetan. Seperti Nabi Adam, beliau telah diajarkan ilmu oleh Allah yang melampaui para malaikat. Namun jatuh oleh hawa nafsunya yang ingin hidup abadi. Dalam setiap keinginan selalu ada tipuan dan bisikan hawa nafsu dan syetan.

Bukankah banyak yang mengetahui rambu lalu lintas tetapi melabraknya? Bukankah banyak pembuat dan penegak rambu lalu lintas, justru yang melanggarnya? Jadi bukan semata-mata ilmu yang bisa menegakkan kebenaran. Hati yang bersih yang membimbing pada kebenaran.

Kiprah politik untuk mengungkap apa yang ada di hati. Kiprah bisnis untuk mengungkap apa yang ada di hati. Semua kiprah kehidupan untuk mengungkapkan apa yang ada di relung hati. Al-Qur'an menjelaskan bahwa wajah dan suara menjadi sarana membongkar apa yang ada di hati. Hati tak bisa disembunyikan.

Berkiprahlah di semua bidang kehidupan. Bukan untuk meraih sesuatu, tetapi untuk intropeksi berbolakbaliknya hati. Untuk membongkar semua bisikan hawa nafsu dan tipu daya syetan. Apakah diikuti? Apakah lebih memilih kehendak Allah dan Rasul-Nya?

Kekuasaan Tanpa Etika Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Apa ciri kelemahan? Menerima kezaliman. Seperti Bani Israel yang menolak kehad...

Kekuasaan Tanpa Etika

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Apa ciri kelemahan? Menerima kezaliman. Seperti Bani Israel yang menolak kehadiran Nabi Musa untuk membebaskannya dari Firaun.  Pada sisi lain, sang penguasa menjadikan perbudakan, kemiskinan, ketakutan, kekejaman dan kelaparan menjadi senjata untuk mengokohkan kekuasaannya atas anak bangsa yang lemah. Yaitu, mereka  yang hanya memikirkan perut, kemaluan dan kesenangan saja, walaupun kemerdekaan dan harga dirinya diamputasi.

Kezaliman tidak akan bisa membangun bangsa. Tidak akan mau membangun negri. Tak peduli dengan rakyatnya. Rakyatnya harus terus dibodohkan dan dimiskinkan. Sebab, kebodohan dan kemiskinanlah yang membuat kekuasaannya bertahan. Kesenjangan terus diciptakan. Dinasti dan oligarki kekuasaan politik dan ekonomi terus diabadikan dalam bentuk feodalisme.

Ekonomi dan kekuasaan hanya bergulir dan mengalir di tangan tertentu saja. Organisasi dan lembaga dibentuk hanya agar ekonomi dan kekuasaan bergulir dalam jaringan yang berhubungan dengannya saja, seperti jaring laba-laba. Banyak wajah, namun sebenarnya sama.

Memperhatikan rakyat hanya saat pilpres, pemilu dan pilkada dengan membagi-bagi bantuan gratis yang jumlahnya puluhan trilyun. Setelah menang, akan memeras rakyat dengan ribuan trilyun sampai tak terhingga melalui menaikkan pajak, mencabut subsidi, dan membuat perundangan yang menguntungkan lingkaran kekuasaannya sendiri.  Uang rakyat yang dikumpulkan dibagi-bagikan atas nama sumbangan penguasa. Anggaran negara menjadi seperti dompetnya sendiri. Sumberdaya alam seperti harta warisan bagi kelompoknya sendiri.

Kekuasaan tanpa etika akan terjatuh di lubang yang sama, siapapun sosok penguasanya. Apapun sistem pemerintahan dan cara pemilihannya. Sebab, semua model pemerintah bisa direkayasa sesuai kehendak penguasa.  Para diktator dan koruptor tidak hanya lahir dari kudeta, tetapi juga dari proses demokrasi.

Etika itu tidak bersumber dari hukum. Etika itu tidak bersumber dari logika dan ilmu pengetahuan. Etika itu dari hati. Etika itu bersumber dari langit. Etika bersumber dari rukun iman, Islam dan ihsan. Inilah etika yang komprehensif itu bersumber dari Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah saw.

Tak ada yang bisa tegak tanpa Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah saw, sebab apa yang dibangun oleh manusia semuanya bisa diselewengkan dan pemutarbalikan. Yang dirancang oleh manusia bisa direkayasa dan dimanipulasi sesuai kehendaknya sendiri. Yang dirancang manusia ada sisi kegelapan dan kesalahan yang bersumber dari hakekat manusia itu sendiri.

Bernegara Sesuai Selera Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Manusia selalu berputar di poros yang sama. Manusia selalu melakukan hal yan...

Bernegara Sesuai Selera

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 

Manusia selalu berputar di poros yang sama. Manusia selalu melakukan hal yang sama walaupun para pendahulunya sudah hancur dengan cara yang dilakukannya. Apakah ingatan manusia itu pendek? Atau tak memiliki ingatan sejarah? Atau ingatan sejarahnya terkalahkan dengan kerakusannya?

Anggaran, fasilitas dan aparatur negara dikerahkan massif untuk mendukung. Abdi negara sudah tak ada lagi. Yang ada mengabdi pada kekuasaan. Bagaimana dengan polisi dan tentara? Bila panglima tertingginya sudah berpihak, bisakah yang dibawahnya netral? Bagaimana dengan penyelenggara pemilu? Semua mekanisme pemilu yang adil akan rusak dengan tampilnya presiden yang secara terbuka membela pasangan tertentu.

Memanggil para calon presiden ke istana, mengambil muka terlihat netralitas. Namun beberapa hari kemudian, mengerahkan para kepala desa, marathon mengunjungi kepala desa dan membagikan bansos. Untuk mendukung calon tertentu. Anggaran negara untuk memenangkan kepentingannya.

Memanggil para calon presiden ke istana, mengambil muka terlihat netralitas. Namun beberapa hari kemudian, mengerahkan para kepala desa, marathon mengunjungi kepala desa dan membagikan bansos. Untuk mendukung calon tertentu. Anggaran negara untuk memenangkan kepentingannya.

Pemilihan presiden 2024, merupakan Pilpres terparah sepanjang sejarah. Bukan lagi hanya kecurangan yang terstruktur, sistematis dan massif tetapi merusak tatanan dan pakem yang sebelumnya dijaga dan dihormati. Kelak, bisakah pilpres menjadi mekanisme pergantian kekuasaan terlegitimasi? Sejak awal, Pilpres 2024 memang sudah cacat moral dengan rekayasa hukum.

Apakah proses yang rusak akan melahirkan pemimpin yang hebat? Bisakah pemimpin yang adil lahir mekanisme yang rusak? Bukankah ada prinsip bahwa proses tak pernah berdusta? Proses itu menentukan hasil. Proses yang rusak akan menghasilkan kepemimpinan yang rusak. Akankah terjadi di Pilpres 2024?

Semoga jiwa perubahan tetap hidup, tak silau dengan gelontoran dana dan bagi-bagi jatah kekuasaan. Semoga arus perubahan terus bergelora dan menggema memasuki relung jiwa anak bangsa. Semoga Allah menolong untuk kebaikan bangsa ini.

Model Kampanye Desak Anies, Bisakah Sesukses Mushab bin Umair di Madinah?  Oleh: Nasrulloh Baksolahar Capres nomor urut 01, Anie...

Model Kampanye Desak Anies, Bisakah Sesukses Mushab bin Umair di Madinah? 

Oleh: Nasrulloh Baksolahar


Capres nomor urut 01, Anies Rasyid Baswedan, blusukan ke Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Brondong, Lamongan, Jatim, Jumat (29/12) pagi. Di tengah-tengah Anies berbicara, salah seorang nelayan teriak ke arahnya “Prabowo, Prabowo!" Terpicu teriakan satu nelayan itu, nelayan lain pun ikut menyahut. “Prabowo, Prabowo!”

Mendengar hal tersebut, "Panjenengan [Anda] bebas nanti mau milih 1 boleh, 2 boleh, 3 boleh, ya," kata Anies.  "Tapi satu hal yang pasti, saya datang untuk berdialog dan kita siap untuk mendengarkan supaya kebijakan yang dibuat bukan kebijakan dari awang-awang, tapi kebijakan dari problematika yang ada di lapangan. Betul?" ujar Anies disambut teriakan 'betul'.

Di Mataram, NTB, wisatawan bule bertanya soal gagasan Anies tentang pengembangan parawisata Indonesia selain terfokus di Bali. Di Jakarta, para anak muda langsung bertanya tentang SKB 2 Menteri tentang pendirian rumah ibadah, soal komunitas LGBT, soal ganja untuk kebutuhan medis, dan bagaimana Anies menyusun kabinet saat berkuasa nanti. Di Lampung, saat acara Desak Anies, seorang penanya yang berkaos capres lain pun ikut bertanya. Siapapun boleh bertanya di acara Desak Anies.

Konsep kampanye Desak Anies sangat inklusif. Pesertanya tidak eksklusif hanya pendukung dan simpatisan. Semua orang boleh ikut bergabung, bisa dan bebas mengajukan pertanyaan terbuka apapun. Tidak ada yang membatasi apalagi didesain, semuanya natural, autentik bukan lipstik. 

Menurut Ahmad Punto, Dewan Redaksi Media Grup, model kampanye seperti ini beresiko tinggi. Kandidat siap dikuliti. Siap didesak, dicecar dengan pertanyaan apa saja. Salah jawab sedikit saja, boleh jadi akan berbalik menjadi serangan dan sasaran tembak oleh lawan politiknya. Bila kandidat tidak memiliki bekal pemikiran dan gagasan yang kuat dengan ragam pertanyaan, publik serta merta bakal mempermalukannya.

Gaya kampanye Desak Anies, merupakan fenomena baru dalam kancah demokrasi di Indonesia. Kampanye yang menggelorakan dialogis yang substansial dan mencerdaskan. Kampanye yang menguji kapasitas, pemikiran, gagasan, visi-misi dan rekam jejak, bukan sekedar orasi, pertanyaan seperti cerdas cermat yang normatif dan joget-joget sambil bagi-bagi fulus. Bagaimana responden publik dengan model kampanye Desak Anies?

Berdasarkan riset Ismail Fahmi pendiri Drone Emprit, setelah debat capres, kepopuleran kampanye Desak Anies di pemberitaan online mulai mengalahkan Gemoy yang merupakan ciri khas Prabowo. Di Twitter atau platform X, Desak Anies pun mengalahkan Gemoy. Namun di Facebook dan Tik Tok, Gemoy masih belum terkalahkan oleh Desak Anies. Di sejumlah daerah, antusiasme peserta sungguh luar biasa, hingga melebihi kapasitas tempat yang ada.

Model kampanye seperti ini mengingatkan pada kisah Mushab bin Umair, saat menjadi duta Rasulullah saw di Madinah. Ketika itu ada tokoh Madinah, mengusirnya dengan berkata, "Apa maksud kalian datang ke kampung kami ini, apakah hendak membodohi rakyat kecil kami? Tinggalkan segera tempat ini, jika tak ingin segera nyawa kalian melayang!"

Mush'ab pun mengeluarkan kalimat halus, "Kenapa anda tidak duduk dan mendengarkan dulu? Seandainya anda menyukai nanti, anda dapat menerimanya. Sebaliknya jika tidak, kami akan menghentikan apa yang tidak anda sukai itu!" Yang diminta Mushab hanya bersedia mendengar dan bukan lainnya. Jika ia menyetujui, ia  bisa membiarkan Mush'ab, dan jika tidak, maka Mush'ab berjanji akan meninggalkannya. 

Mushab bin Umair membiarkan pendudukan Madinah bertanya tentang apa saja yang menjadikan uneg-uneg dan yang ingin diketahuinya. Setelah itu membiarkan mereka menimbang dan menilainya. Dakwah model seperti ini menyentuh nurani, akal dan menyedot perhatian yang luar biasa. Sehingga Madinah menjadi tempat yang kondusif bagi dakwah Rasulullah saw. Apakah ini akan berulang pada Anies Baswedan?

Menang Setelah Kalah dengan Memahami Psikologi Militer Oleh: Nasrulloh Baksolahar  "Jangan pedulikan aku, tetaplah di posis...

Menang Setelah Kalah dengan Memahami Psikologi Militer


Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


"Jangan pedulikan aku, tetaplah di posisimu!" Itu pesan komandan infantri muslim, Mas'ud bin Haritsah, yang terluka saat perang Buwaib 13 Hijrah di era Umar bin Khatab saat berperang melawan Persia di Iraq. Dia pun melanjutkan, "Angkatlah bendera kalian, Allah akan mengangkat derajat kalian. Jangan kalian memperdulikan kematianku."

Sang panglima perang Muslimin, Mutsanna bin Haritsah, melihat syahidnya saudaranya, Mas'ud bin Haritsah, dia pun berkata, "Wahai Muslimin, jangan kalian memperdulikan kematian saudaraku. Sesungguhnya kematian orang yang terbaik di antara kalian adalah dengan cara seperti ini."

Mutsanna bin Haritsah, panglima perang Buwaib, mengirimkan utusan kepada setiap pasukan Muslimin dengan pesan, "Kalian akan mendapatkan kemenangan seperti orang-orang sebelum kalian. Tolonglah agama Allah, niscaya Allah akan menolong kalian sampai musuh dapat dikalahkan."

Pertempuran Buwaib merupakan pertempuran yang penuh dengan beban psikologis yang sangat berat. Sebab di pertempuran sebelumnya, yaitu Jisr Abu Ubaid, kaum Muslimin mengalami kekalahan dari pasukan Persia. Pasukan Muslimin yang masih ada berjumlah 5.000 orang. Yang syahid 4.000 orang. Yang tersisa 3.000 orang. 2.000-nya diperintahkan kembali ke Madinah.

Mundurnya 5.000 pasukan Muslimin di perang Jisr Abu Ubaid bukanlah lari dari perang tetapi mengatur kembali posisi untuk membuat strategi baru. Pasukan Persia yang dipimpin oleh Bahma Jadzawih mencoba menyerang pasukan Muslimin yang masih tersisa, namun tidak berhasil karena kecerdikan Mutsanna bin Haritsah.

Di pertempuran Buwaib, kaum Muslimin dalam kondisi tertekan karena kekalahan di pertempuran sebelumnya. Namun pada sisi lain, pasukan Persia dalam kondisi yang sangat optimis karena menang di pertempuran sebelumnya. Saat pertempuran Buwaib dimulai, pasukan Persia langsung merangsek menyerbu pasukan Muslimin dengan menyeberangi sungai.

Di perang Buwaib, Ada pasukan Muslimin yang merasa bersalah karena lari dari pertempuran Jisr Abu Ubaid, dia akan bertempur mati-matian dengan mengabaikan strategi. Maka Mustanna bin Haritsah menegurnya dengan berkata, "Jangan kamu berbuat demikian, tetaplah kamu berada di posisimu. Jika temanmu datang, maka bantulah dia dan jangan kamu sengaja mencari kematian. Tetaplah kamu berada di posisimu."

Saat kaum Muslimin digempur habis-habisan, jalannya pertempuran semakin ruwet.  Mutsanna bin Haritsah berkata kepada pasukannya, "Wahai pasukanku, kalian telah mengalami kekalahan, tetapi kalian harus bertahan dan tunduk dengan diam-diam."  Itulah cara membangun psikologis kemenangan setelah didera kekalahan di pertempuran sebelumnya.

Mutsanna bin Haritsah dicatat dalam sejarah sebagai panglima yang ahli dalam ilmu psikologi militer. Bagaimana meraih kemenangan setelah mengalami kekalahan serius di perang Jisr Abu Ubaid.

Reformasi Rantai Suplai Pertanian di Era Umar bin Abdul Aziz  Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Cawapres Anies Baswedan dalam acara Ko...

Reformasi Rantai Suplai Pertanian di Era Umar bin Abdul Aziz 


Oleh: Nasrulloh Baksolahar 

Cawapres Anies Baswedan dalam acara Konferensi Orang Muda Pulihkan Indonesia yang diselenggarakan oleh Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) di Jakarta  pada 25 Nopember 2023, mengungkapkan gagasannya tentang program contract farming.  Contract farming adalah sebuah kesepakatan kerjasama antara petani dan perusahaan pengolahan hasil.

Dengan program ini diharapkan petani yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia mendapatkan kesempatan agar produk mereka  bisa dipasarkan di pasar produk pertanian Tanah Air. Program ini juga mengintensifkan lahan petani rakyat. Petani bakal dijadikan mitra dan terlibat dan mendapatkan fasilitas program pertanian. Mendorong kepastian penyerapan hasil tani lokal oleh BUMN/BUMN di kota-kota besar dengan skema kontrak kerja.

Di era Umar bin Abdul Aziz, salah satu terobosan program pertanian  yang dilakukan adalah memotong rantai suplai produk pertanian. Saat itu terjadi praktek percaloan atau perantara dalam penjualan produk pertanian di kota Basrah. Para perantara ini melakukan praktek menetapkan harga yang sangat rendah saat membeli dari petani, namun tidak dibayar secara tunai.

Pada sisi lain, perantara ini menjual produk pertanian ke konsumen akhir dengan harga yang sangat tinggi, menerima pembayaran secara tunai dan membebankan jasa perantara  juga kepada petani.  Petani yang sudah letih bercocok tanam hanya menerima harga  rendah dengan pembayaran tempo (hutang) dan menanggung biaya tambahan.. Sedangkan perantara mendapatkan margin keuntungan tinggi dari penjualan dan jasa,  juga perputaran uang yang cepat.

Praktek ini mendorong petani kurang bergairah untuk mengolah tanahnya. Ada juga yang sampai meninggalkan ladang mereka begitu saja tanpa ditanami. Akibatnya, tanah pertanian lama kelamaan menjadi rusak, tidak subur, dan banyak lahan yang menganggur. Bila ini dibiarkan, maka ketahanan pangan terganggu.

Untuk memecahkan persoalan ini, Umar bin Abdul Aziz mengutus Basyar bin Shafwan dan Abdullah bin Ajlan untuk memastikan persoalan ini dan jika benar maka mereka diperintahkan untuk mengembalikan harga seperti yang dikehendaki para petani dan disepakati oleh pembeli. Dan menghapus biaya jasa perantara antara petani dan pembeli. Dengan kebijakan ini, satu rantai suplai diputus oleh Umar bin Abdul Aziz.

Persoalan krusial di tingkat petani saat ini dari sisi pasca panen adalah kepastian permintaan dan harga. Saat panen, dalih dari para perantara atau tengkulak, harga anjlok dengan alasan kelebihan stock dan rendahnya permintaan. Namun apakah dinamikanya seperti itu? Tak ada yang tahu. Dengan contract farming diharapkan persoalan produk pertanian bisa terserap dengan harga yang pasti. Dan, hilangnya perantara karena langsung dijual ke pihak yang sudah menandatangani kontrak pembelian tersebut.

Andai Gugatan Batas Usia Cawapres disidangkan di Era Ali bin Abi Thalib  Oleh: Nasrulloh Baksolahar Gugatan batas usia Cawapres ...

Andai Gugatan Batas Usia Cawapres disidangkan di Era Ali bin Abi Thalib 

Oleh: Nasrulloh Baksolahar

Gugatan batas usia Cawapres yang sebelumnya selalu ditolak, tiba-tiba gugatan perkara nomor 90/PUU-XXI/2023 yang baru masuk di 13 September 2023, langsung diterima. Adanya  perlibatan Ketua MK, Paman dari Cawapres, yang sejak awal berkomitmen untuk tidak terlibat dalam mengambil keputusan, karena ada konflik kepentingan, tapi untuk putusan ini dia melibatkan diri. Apakah keputusan MK ini sah?

Mari membuka berkas perkara yang pernah terjadi di era Ali bin Abi Thalib. Apakah peristiwa hukum masa lalu ini bisa menjadi yurisprudensi untuk menilai sah atau tidak sahnya keputusan MK menerima gugatan batas usia Cawapres di era sekarang? Andai pun tidak, semoga  bisa menjadi rujukan dalam menilai kadar kualitas penegakan  hukum di negri ini.

Tatkala khalifah Ali bin Abi Thalib menuju Shiffin, dia kehilangan baju besinya. Tatkala dia pulang dari peperangan menuju Kufah, baju besi milik Ali ditemukan oleh seorang Yahudi. Ali berkata kepada Yahudi, "Baju besi itu adalah baju besiku, dan saya tidak pernah menjual dan tidak pernah menghibahkannya kepada siapa pun."

Yahudi itu berkata, "Dia adalah baju besiku, dan sekarang ada di tanganku! Mari kita menuju hakim." Mereka berdua menuju hakim yang bernama Syuraih. Hakim yang terkenal keadilan, kejujuran dan kebersihannya yang diangkat sebagai hakim sejak era Umar bin Khatab.

Syuraih berkata, Wahai Amirul Mukminin katakan apa yang akan kamu adukan!" Ali berkata, "Ya, baju besi yang ada di tangan Yahudi itu adalah baju besiku, saya belum pernah menjualnya dan tidak pula menghibahkan kepada seseorang." Lalu aoa yang akan kamu katakan wahai Yahudi?" Yahudi itu berkata, "Baju besi itu adalah baju besiku dan dia ada ditanganku."

Syuraih berkata, "Apakah kau memiliki bukti wahai Amirul Mukminin?" Ali berkata, "Ya, Qanbar (budaknya) dan al Hasan (putranya) akan memberikan kesaksian bahwa itu adalah baju besiku." Kata Ali. Seorang budak tidak boleh menjadi saksi. Berarti saksi yang tersisa tinggal putranya Hasan. Bagaimana pendapat Syuraih tentang saksi yang merupakan putranya Ali sebagai pihak yang menggugat?

Syuraih berkata, "Kesaksian seorang anak untuk orang tuanya tidak sah secara hukum." Ali melanjutkan, "Apakah seorang penduduk surga tidak boleh menyatakan kesaksian? Saya mendengar dari Rasulullah saw, "Al-Hasan dan Al-Husein adalah penghulu pemuda-pemuda di Surga." Namun Hakim Syuraih tetap menolak Hasan menjadi saksi karena beliau putra dari pihak yang menggugat, Ali bin Abi Thalib. Kasus ini pun dimenangkan oleh Yahudi.

Bila Hasan, putra dari Ali, tidak bisa dijadikan saksi dalam persidangan gugatan Ali terhadap Yahudi. Bagaimana bila sang paman menjadi hakim, yang kemenangan dan kekalahan keputusan dalam gengamannya, pada gugatan yang memiliki kepentingan bagi keponakannya? Andai perkara gugatan batas umur Cawapres dibawa ke era Ali bin Abi Thalib apa keputusannya dari logika ini?

Agar Tak Tertipu Oleh Pencitraan Calon Penguasa Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Bacalah yang tak terlihat. Jangan membaca yang terli...

Agar Tak Tertipu Oleh Pencitraan Calon Penguasa

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Bacalah yang tak terlihat. Jangan membaca yang terlihat. Pahami aura wajahnya. Jangan hanya tindak tanduknya. Wajah itu cerminan hati. Hati penipu terlihat dari wajahnya. Yang diselimuti hawa nafsu tak bisa memahami ini. Yang tamak dan serakah tak bisa memahami ini. Bukankah di akhirat kelak, yang membedakan umat Nabi Muhammad dengan nabi lainnya dari cahaya wajahnya? Bukankah ahli sujud terlihat dari aura wajahnya?

Di era Umar bin Abdul Aziz, Yazid bin Abdul Malik dikenal sebagai sosok yang disukai oleh kalangan Quraisy karena bagusnya akhlak dan sikap rendah hatinya. Masyarakat yakin dia akan mengikuti jejak langkah Umar bin Abdul Aziz. Namun Umar sendiri memiliki firasat lain yang dituangkan dalam surat wasiatnya kepada Yazid bin Abdul Malik tentang perjalanan kekuasaannya. Hati yang jernih dianugerahi kemampuan membaca masa depan dan merekam masa lalu.

Isi surat wasiatnya sebelum Yazid diangkat sebagai khalifah, "Saya wasiatkan kepadamu, hendaknya bertakwa kepada Allah. Perhatikan rakyatmu, perhatian rakyatmu karena sesungguhnya engkau tidak lama di dunia setelah kematianku. Engkau akan meninggalkan kekayaan dan kekuasaan bagi orang yang sama sekali tidak akan memujimu. Itulah firasat Umar tentangnya. Bagaimana pasca wafatnya Umar bin Abdul Aziz?

Di awal pemerintahannya, dia berkata kepada seluruh jaringan eksekutif di bawahnya, "Berjalanlah kalian sebagaimana apa yang dilakukan oleh Umar bin Abdul Aziz." Tragedi kekuasaannya mulai terjadi sejak datangnya empat puluh orang terkemuka memberikan kesaksian kepada Yazid bin Abdul Malik bahwa khalifah tidak akan diminta pertanggungjawaban dan tidak pula mendapatkan sanksi. Bukankah ini terjadi di era sekarang, saat pemerintah mengeluarkan aturan tentang dana Covid-19?

Yazid bin Muawiyah mengikuti kebijakan Umar bin Abdul Aziz hanya berumur 40 hari saja. Sejak itu kezaliman dalam mengelola kekuasaannya mulai merebak. Salah satu contohnya, saat dia menawarkan pengembalian permata kepada Fatimah, istrinya almarhum Umar bin Abdul Aziz,  yang oleh Umar telah dikembalikan ke kas negara. Fatimah tetap menolak, di saat hidup suaminya, permata itu telah dikembalikan ke kas negar. Setelah wafatnya pun permata itu tetap di kas negara untuk dikelola bagi kesejahteraan rakyat.

Para pendukung Yazid bin Abdul Malik yang dahulunya menentang kebijakan Umar bin Abdul Aziz, sekarang mulai mengakui kepiawaian Umar dalam mengelola kekuasaan setelah merasakan penyimpangan kekuasaan Yazid bin Abdul Malik. Sekarang,  pendukung Yazid bin Abdul Malik mulai menentangnya. Di sejumlah daerah muncul perlawanan. Walaupun akhirnya dapat ditumpas oleh Yazid.

Mengapa Umar bin Abdul Aziz tetap menyerahkan kekuasaan pada Yazid bin Abdul Malik? Padahal firasatnya menahami karakter asli Yazid bin Abdul Malik? Sebab, diangkatnya Umar bin Abdul Aziz menjadi khalifah merupakan wasiat dari khalifah sebelumnya, Sulaiman bin Abdul Malik. Wasiatnya, setelah Umar bin Abdul Aziz, kekuasaan diserahkan ke Yazid bin Abdul Malik. Umar tetap teguh menjaga konstitusi yang ada.

Dari perspektif lain, para ulama membahas, bila Umar tidak menyerahkan kekuasaannya ke  Yazid bin Abdul Malik, akan terjadi pertumpahan darah karena perlawanan dari Yazid dan pendukungnya. Berhati-hatilah dengan kamuflase mereka yang akan naik ke kursi kekuasaan. Gunakan kejernihan hati untuk melihat aura wajahnya. Gunakan hati untuk membongkar topeng pencitraan dan kebohongan janji politiknya.

Reformasi Pengelolaan Anggaran  Umar bin Abdul Aziz  Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Umar  bin Abdul Aziz memiliki tanah di Fadak da...

Reformasi Pengelolaan Anggaran  Umar bin Abdul Aziz 

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 



Umar  bin Abdul Aziz memiliki tanah di Fadak dari kakeknya Marwan. Dahulu tanah ini milik Rasulullah saw. Panennya digunakan untuk pembiayaan urusan kenegaraan dan membantu urusan kaum muslimin. Tanah ini tidak diwariskan kepada putrinya, Fatimah. Namun, diserahkan sebagai kekayaan negara sebagai pemasukan ke kas negara. Saat Umar bin Abdul Aziz diangkat sebagai khalifah, tanah Fadak pemberian dari kakeknya tersebut diserahkan kembali ke negara.  Panennya tidak lagi mengalir ke keluarga Marwan tetapi menjadi penerimaan negara  Bagaimana penguasa saat ini? Merubah kekayaan milik rakyat menjadi milik penguasa dan kroninya.

Saat Umar bin Abdul Aziz baru saja dilantik menjadi khalifah. Setelah masyarakat berbaiat di masjid. Umar bin Abdul Aziz keluar dengan berjalan kaki. Baru keluar dari halaman masjid, pasukan dan pelayan khalifah menyiapkan seluruh keperluannya termasuk kereta kuda. Umar bin Abdul Aziz menolak fasilitas tersebut. Fasilitas tersebut diperintahkan untuk dijual dan hasilnya disetorkan ke kas negara. Umar bin Abdul Aziz lebih memilih mengendarai kudanya sendiri. Bagaimana penguasa dan pejabat sekarang? Menguras kas negara untuk fasilitas diri dan kroninya.

Sang istri memiliki permata pemberian ayahnya, khalifah sebelumnya. Setelah diselidiki ternyata berasal dari kas negara. Umar bin Abdul Aziz segera memerintahkan untuk dikembalikan ke kas negara. Bila istrinya tidak mau, maka akan diceraikan oleh Umar bin Abdul Aziz. Bagaimana penguasa dan pejabat sekarang? Mengambil anggaran untuk kehidupan glamour para istrinya.

Suatu hari kerabatnya dari bani Marwan berkumpul di rumahnya. Mereka mengatakan bahwa khalifah terdahulu selalu memberikan banyak uang dari kas negara karena kemuliaan keturunan dan kedekatan kekerabatan. Umar bin Abdul Aziz menolaknya karena khawatir mendapatkan azab Allah di akhirat kelak. Bagaimana fenomena penguasa dan pejabat sekarang? Menghamburkan anggaran untuk orang terdekatnya.

Suatu hari, pelayan Umar bin Abdul Aziz memberikan apel kepadanya. Umar bin Abdul Aziz sangat tahu bahwa di rumahnya tidak ada persediaan apel. Lalu ditelusuri asal kabel tersebut. Ternyata hadiah dari hadiah sepupunya. Umar bin Abdul Aziz tidak jadi memakannya. Sebab, hadiah di era tersebut sudah digunakan sarana menyuapan. Di era sekarang, sering ditemukan kekayaan penguasa dengan dari alasan hibah.

Kebijakan Umar bin Abdul Aziz sangat sederhana, bagaimana merubah komposisi anggaran rutin operasional kekuasaan menjadi untuk rakyat? Sekarang 60-70 persen pengeluaran untuk operasional kekuasaan. Hanya 30-40 persen untuk rakyatnya. Bila dibalik komposisi ini, betapa sejahtera rakyatnya!

Kebijakan Umar bin Abdul Aziz sangat sederhana. Bagaimana penerimaan yang menyebar di kantong penguasa dan pejabat, masuk ke kas negara? Ingat kasus 300 trilyun uang yang beredar di pejabat Kemenkeu selama 2009-2023? Berapa banyak pungutan gelap dan resmi yang tak disetorkan ke negara?

Kebijakan Umar bin Abdul Aziz sangat sederhana hanya memangkas pemborosan dan pengeluaran yang tidak tepat dar anggaran negara. Saat ini, kebocoran anggaran di Indonesia mencapai 40% bila ditambahkan yang tak tepat sasaran dan peruntukannya, semakin besar jumlahnya. Kemana anggaran saat ini sebenarnya mengalir?.

Dengan kebijakan yang sederhana ini, hanya dalam 2 tahun 5 bulan, Umar bin Abdul Aziz bisa merubah rakyatnya menjadi tak ada yang mustahiq. Adakah penguasa di luar Islam yang bisa meraih capaian fantastis ini? Sepertinya mendidik para penguasa dan pejabat negara harus dimulai dengan kisah-kisah Khalifahatur Rasyidin yang menyentuh hati dan nuraninya.

Menangkal Para Pembisik di Akhir Kekuasaan Oleh: Nasrulloh Baksolahar Di akhir masa jabatan kekuasaan, apa saja yang dirasakan d...

Menangkal Para Pembisik di Akhir Kekuasaan

Oleh: Nasrulloh Baksolahar


Di akhir masa jabatan kekuasaan, apa saja yang dirasakan dan ditakuti? Perhatikan fenomena sakratul maut. Syetan mendekati dengan memasukan segala was-was ketakutan dan kekhawatiran. Salah satunya tentang kekurangan harta dan masa depan  keturunannya. Banyak kasus korupsi dan perbuatan yang melampaui kewenangannya yang menimpa penguasa dan pejabat di akhir masa jabatannya. Apakah ujian ini hanya menimpa orang tertentu saja?

Umar bin Abdul Aziz, khalifah yang disetarakan dengan Khalifatur Rasyidin, juga merasakan dan mengalami ujian dan godaan di akhir kekuasaannya. Bagaimana  cara dia menangkal godaannya? Bagaimana cara mematahkan argumentasi para pembisik lingkaran terdekatnya yang mencoba mempengaruhi dan menjerumuskannya?

Umar bin Abdul Aziz memiliki putra yang bernama Abdul Malik. Dia membantu, memotivasi dan mengingatkan sang Ayah. Saat sang Ayah beristirahat karena kelelahan bekerja dan pekerjaan akan diselesaikan esok hari, dia berkata, "Apakah ayah yakin besok masih hidup?" Saat sang Ayah terlihat "lambat" dalam menegakkan Sunah Rasulullah saw, dia mengingatkannya. Umar bin Abdul Aziz sering memuji putranya tersebut. Apakah sang putra akan menjadi penerusnya kelak?

Saat putranya, Abdul Malik, wafat, Umar bin Abdul Aziz ditanya oleh sahabatnya, "Apakah jika dia hidup, kau akan mewasiatkannya agar dia menjadi penggantimu?" Umar berkata, "Tidak!" Sahabatnya berkata, "Lalu mengapa kau sering memujinya?" Umar menjawab, "Sebab saya khawatir jika saya mengangkatnya (sebagai khalifah), maka dia akan dihormati sebagaimana ayahnya dihormati." Umar bin Abdul Aziz tidak tergoda mengangkat anaknya menjadi khalifah penggantinya walau dia memiliki 14 anak.

Saat Umar bin Abdul Aziz terbaring sakit, datanglah orang terdekatnya, Maslamah bin Abdul Malik, dengan berkata, "Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya engkau meninggalkan anak-anakmu yang akan menjadi tanggungan orang lain. Tinggalkan pesan! Apakah yang harus aku lakukan terhadap mereka (dari Kas Negara). Aku akan melakukan sesuatu atas namamu. Engkau sama sekali tidak meninggalkan harta untuk mereka. Engkau tak memberikan mereka apa-apa?"

Umar menjawab, "Wahai Maslamah, anak-anakku memiliki Allah yang telah menurunkan al-Kitab. Dia-lah yang mengurus orang-orang shaleh. Anak-anakku ada dalam dua kemungkinan: taat kepada Allah sehingga Allah tidak akan menyia-nyiakan mereka, atau bermaksiat. Karena itu, aku tidak mau membantu mereka melakukan maksiat dengan memberinya harta."

Dalam riwayat lain, Maslamah membawa uang seribu dinar (dari Kas Negara) dihadapan Umar bin Abdul Aziz, agar dia mewasiatkannya untuk diberikan kepada anak-anaknya, namun Umar  menolaknya dan memerintahkannya untuk dikembalikannya. Umar tidak ingin menjadikan anak-anaknya menjadi orang kaya dari yang tidak halal, namun setelah itu dimasukkan ke api neraka.

Berdasarkan riwayat, warisan yang diberikan Umar bin Abdul Aziz untuk anak-anaknya, per anak hanya 19 dirham. Sedangkan warisan yang diterima anak-anak khalifah Hisyam bin Abdul Malik, setiap anaknya mendapatkan 1.000.000 dirham. Umar bin Abdul Aziz telah lulus menghadapi ujian-ujian yang dihadapi oleh setiap para penguasa di penghujung kekuasaannya.

Cawe-Cawe Sang Khalifah Agar Tidak Terjadi Politik Dinasti di Akhir Kekuasaannya Oleh: Nasrulloh Baksolahar Dalam setiap momentu...

Cawe-Cawe Sang Khalifah Agar Tidak Terjadi Politik Dinasti di Akhir Kekuasaannya

Oleh: Nasrulloh Baksolahar


Dalam setiap momentum ada titik kritisnya, salah satunya di akhir kekuasaannya. Cinta kepada anak dan kerabat bagian ujian kepemimpinan. Kekhawatiran akan masa depan keturunannya merupakan godaan yang terus menghantui para penguasa hingga akhir zaman. Bukankah kualitas seseorang di akhir usianya, husnul khatimahkah? Maka kualitas kepemimpinan diliat dari bagaimana suksesi kekuasaannya.

Khalifah Umar bin Khatab terbaring sakit di pembaringannya. Ada yang harus dituntaskan sebelum wafatnya. Siapakah penggantinya? Agar urusan kaum Muslimin tetap terlayani, aman dan tentram. Tidak boleh satu hari pun tanpa seorang pemimpin. Sebab, akan menimbulkan kekacauan. Umar bin Khatab memanggil putranya, Ibnu Umar, soal suksesi kekuasaan. Apakah akan diserahkan kepada anak atau kerabatnya?

Umar bin Khatab menetapkan kriteria calon pengantinya. Pertama, Assabiquna Awalun, generasi pertama yang memeluk Islam. Kedua, mereka yang dijamin masuk surga oleh Rasulullah saw. Berarti, putranya tersisih dari kriteria ini. Cawe-cawe sang khalifah dalam suksesi kepemimpinan bukan untuk menggolkan putranya sebagai penggantinya. Justru, menyisihkannya dari kursi kekuasaan.

10 orang yang dijamin masuk surga oleh Rasulullah saw yang masih hidup saat khalifah Umar bin Khatab masih hidup adalah Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, Saad bin Abu Waqqash, Zubair bin Awwam, Thalhah bin Ubaidillah dan Said bin Zaid. Namun Umar bin Khatab mencoret Said bin Zaid dari nominasi calon penggantinya karena Said bin Zaid masih saudara ipar Umar bin Khatab dan dari kabilah yang sama dengan Umar bin Khatab. Jadi calon khalifah hanya 6 orang.

Khalifah Umar bin Khatab berusaha menjauhkan putra dan kerabatnya dari kekuasaan, padahal dari keluarganya ada yang ahli memegang kekuasaan. Ia menjauhkan putranya, Ibnu Umar dan kerabatnya, Said bin Zaid dari daftar calon khalifah.

Secara khusus, khalifah Umar bin Khatab memanggil putranya yaitu "hanya menghadiri" majelis musyawarah pemilihan khalifah, namun "tidak boleh ikut musyawarah tersebut". Perannya hanya menjadi hakim dari 6 orang peserta musyawarah tersebut, bila terbentuk 2 kelompok dengan suara yang imbang.

Dari 2 kelompok tersebut, Ibnu Umar diperbolehkan menetapkan satu kelompok sebagai calon kuat khalifah. Kelompok yang ditunjukkan tersebut yang memilih siapa yang layak menjadi khalifah. Bila masih deadlock juga, maka pilihlah kelompok yang ada Abdurrahman bin Auf.

Suksesi kepemimpinan harus mulus tanpa gejolak. Sedikit gejolak akan terjadi perebutan, pertikaian, polarisasi dalam masyarakat hingga perebutan kekuasaan yang berdarah-darah. Namun Umar bin Khatab melampaui itu semua dengan mencegah praktik politik dinasti di akhir era kekuasaannya juga.

Mengukur Nilai Manusia Oleh: Nasrulloh Baksolahar Hidup itu hanya untuk menunaikan hak Allah dan hak seluruh makhluk-Nya. Hidup ...

Mengukur Nilai Manusia

Oleh: Nasrulloh Baksolahar


Hidup itu hanya untuk menunaikan hak Allah dan hak seluruh makhluk-Nya. Hidup itu hanya untuk menjalankan peran sebagai Hamba Allah dan khalifah di muka bumi. Hanya itu saja. Sesederhana itu. Persoalannya manusia terjebak dengan hiasan dan saling berbangga.

Manusia yang mulia adalah yang bertakwa. Yang mulia adalah yang mulia di sisi Allah bukan di sisi manusia. Namun hakikat kemuliaan sudah dijungkirbalikkan oleh persepsi manusia yang bodoh. Manusia berlomba membangun kemuliaan menurut persepsinya sendiri. Yang terjadi hanya kerusakan dan kehancuran.

Karakter dunia itu, apa yang dibanggakan akan hancur dan usang. Semakin dibanggakan semakin menyibukkan dan melelahkan. Ambisi tak terbendung. Saling berkonfrontasi untuk memenangkannya. Bila berhasil memenangkannya, hanya bersifat sementara dan berdarah-darah. Semuanya terus bergulir tak ada yang abadi.

Namrudz sudah pergi. Firaun sudah pergi. Yunani sudah pupus. Romawi dan Persia sudah tak ada lagi. Banyak kerajaan yang telah hilang dari peta dunia. Banyak negara yang sudah terhapus hilang. Britania raya, Spanyol, Portugis, Perancis dan  Italia telah menjadi negara kecil padahal sebelumnya sebagai  penjajah dengan wilayah kekuasaan yang luas.

Romawi dan Persia ditopang oleh wilayah kekuasaan yang luas, kekayaan yang melimpah, militer dengan jumlah prajurit yang besar dan modern. Terakhir Inggris raya sang penguasa lautan. Sebentar lagi menyusul Amerika akan hilang pula. Sehebat dan sekuat apa pun, hukum perputaran dan peralihan akan terus berlaku.

Mengapa manusia menggenggam sesuatu yang pasti hilang? Mengapa manusia mempertahankan sesuatu yang tidak bisa dipertahankan? Masa tua pasti datang. Kematian pasti datang. Era kelemahan dan kehancuran pasti datang, tak ada yang bisa menahan dan menundanya. Mengapa manusia berjibaku di wilayah ini?

Berjibakulah dalam menunaikan peran sebagai Hamba Allah dan khalifah di muka bumi ini. Berjibakulah menunaikan hak Allah dan seluruh makhluk-Nya. Eksistensi manusia diukur pada penunaian peran ini. Inilah nilai manusia yang sebenarnya.

Teruslah Berdoa Oleh: Nasrulloh Baksolahar (Channel Yotube Dengerin Hati) Kaisar Romawi dan Persia tidak akan ada lagi di muka b...

Teruslah Berdoa

Oleh: Nasrulloh Baksolahar
(Channel Yotube Dengerin Hati)


Kaisar Romawi dan Persia tidak akan ada lagi di muka bumi. Itulah sabda Rasulullah saw. Di era Khalifatur Rasyidin para Sahabat berjihad dengan bermodalkan keyakinan pada hadist ini. Semuanya terwujud di era Umar bin Khatab. Utsman bin Affan bersiap mempersiapkan mewujudkan sabda Rasulullah saw berikutnya yaitu pembebasan Konstantinopel.

Utsman bin Affan dan Muawiyah bin Abu Sofyan membangun angkatan laut. Mulai membebaskan pulau-pulau dan negri-negri yang mengarah ke Konstantinopel. Abu Ayub Al-Anshori terus berdoa menjadi bagian jamaah sebaik-baiknya pemimpin dan pasukan. Dia berpesan agar dimakamkan di sekitar benteng.

Semua khalifah dan panglima perang Muslimin terus berdoa dan berjihad menjadi bagian yang membebaskan Konstantinopel. Walaupun baru terwujud setelah 800 tahun kemudian. Apakah doa-doanya sia-sia?

Para ulama bahu membahu membebaskan Nusantara dari penjajahan Portugis, Spanyol, Belanda dan Inggris. Mereka terus berdoa dan berjihad. Kemerdekaan baru terwujud di 1945. Apakah doanya sia-sia?

Terus memunajatkan doa itu untuk menguji keyakinan pada Allah. Yakinkah dengan "Kun Fayakun" Nya Allah? Yakinkah dengan Maha Kuasa-Nya? Maha Mendengar dan Berkehendak-Nya? Berputus asakah dari rahmat-Nya?

Di Akhirat nanti, mereka yang doanya tidak terkabul justru lebih bahagia dari yang doanya terkabul. Balasan Allah terhadap yang tidak dikabulkannya doa di dunia justru lebih besar; membuat iri mereka yang dikabulkan doanya di dunia.  Yang terrealisasi doanya terkabul justru berkata, "Mengapa doanya terwujud di dunia?"

Teruslah berdoa. Berdoalah dengan memanjatkan sesuatu yang tidak mungkin dicapai menurut ukuran manusia. Bukan untuk berkhayal tetapi untuk menguji diri, apakah yakin dengan "Kun Fayakun" Nya Allah? Bukankah Allah yang memasukkan siang ke dalam malam? Memasukkan malam ke dalam siang? Bukankah Allah yang menundukkan alam semesta bagi manusia? Bukankah Allah itu pemilik, raja dan yang menggenggam alam semesta?

Awal solusi itu dari berdoa, bukan berfikir, ilmu, teknologi dan ikhtiar. Saat pemuda Musa dikejar oleh Firaun dengan dalih membunuh pemuda Mesir, yang dilakukan oleh Musa ada berdoa terlebih dahulu. Saat Nabi Ibrahim dibakar, yang dilakukan berdoa terlebih dahulu. Saat Nabi Yunus di perut ikan paus yang dilakukan berdoa terlebih dahulu.

Indikator Peta Kezaliman Oleh: Nasrulloh Baksolahar (Channel Yotube Dengerin Hati) Bagaimana cara mendapatkan uang,  maka sepert...


Indikator Peta Kezaliman

Oleh: Nasrulloh Baksolahar
(Channel Yotube Dengerin Hati)


Bagaimana cara mendapatkan uang,  maka seperti itu pula cara menghabiskannya. Uang yang haram melahirkan gaya hidup mewah, menghamburkan, menyia-nyiakan, mubazir, dan memamerkan. Allah akan menampakkannya. Mereka tak bisa menyembunyikannya.

Hati yang dengki akan ditampakkan dari raut wajah dam cara bicaranya. Hati yang kotor akan diperlihatkan dari prilaku dan akhlaknya. Semuanya akan ditampakkan dengan sangat jelas. Harta yang haram akan ditampakkan dari cara menggunakannya.

Memamerkan kekayaan tak bisa dicegah dan dilarang. Sebab, itulah hukuman bagi kekayaan yang diperoleh dari yang haram. Perhatikan Qarun yang memamerkan kemewahannya. Perhatikan para pembesar yang menentang para Nabi dan Rasul yang memamerkan kekayaannya.

Perhatikan bagaimana prilaku raja dan pejabat yang zalim? Perhatikan prilaku raja dan pejabat yang adil? Yang zalim selalu memamerkan kekayaannya. Hidup dalam kemewahannya. Yang adil, hidup dalam kesederhanaan bahkan hingga kekurangan. Begitu mudah memotret karakter kepemimpinan,  caranya apakah menonjolkan kemewahan kekayaannya?

Kezaliman penguasa terlihat jelas dari jurang kesenjangan kekayaan pejabat negara dengan potret kemiskinan rakyatnya. Semakin jauh kesenjangannya, berarti semakin zalim penguasanya.

Dimana perputaran uang terbanyak? Bila perputaran uang tertumpu di kalangan terbatas di kalangan para pejabat dan penguasa. Bila uang semakin banyak ditimbun  bertanda sebuah kezaliman merajalela.

Peta ketidakadilan. Peta kezaliman. Peta keharaman kekayaan sangat jelas. Kekayaan memiliki karakter. Karakternya mempengaruhi karakter pemiliknya. Bagaimana kekayaan itu diperoleh, akan mempengaruhi karakter pemiliknya.

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Al-Qur'an (203) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (50) Cerita kegagalan (1) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (6) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) Kecerdasan (222) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) Kisah Para Nabi dan Rasul (222) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) Nabi Adam (1) Nabi Ibrahim (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Musa (1) Nabi Nuh (3) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (1) Namrudz (2) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) Nusantara (210) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (173) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rehat (429) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (144) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah Penguasa (194) Sirah Sahabat (114) Sirah Tabiin (42) Sirah Ulama (91) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)