basmalah Pictures, Images and Photos
Our Islamic Story: Majapahit

Choose your Language

Tampilkan postingan dengan label Majapahit. Tampilkan semua postingan

Mongol, Islam dan Majapahit Oleh: Nasrulloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Menurut Buya Hamka, Muslim memberikan kon...

Mongol, Islam dan Majapahit

Oleh: Nasrulloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)

Menurut Buya Hamka, Muslim memberikan kontribusi dalam pembentukan Majapahit. Daerah mayoritas muslim jadi pusat industri perkapalan dan perawatan.

Kontribusi awal muslim dalam membangun budaya di Majapahit baru sebatas pola kesehatan dan berpakaian.

Sebelum Majapahit berdiri, daerah pesisir utara Jawa sudah bermunculan pusat perdagangan Muslim. Sedangkan pusat Majapahit di pedalaman Jawa.

Tentara Mongol menyerbu Singasari 1292 M. Saat itu sudah banyak tentara Mongol yang muslim di era Kubilai khan.

Saat Mongol dikalahkan, banyak tentara muslim Mongol yang tidak kembali ke negaranya. Akhirnya mereka berkompromi dengan Raden Wijaya

Keahlian tentara Mongol, insinyur persenjataan dan ahli bangunan, serta ahli industry keramik, jadi sangat dibutuhkan oleh Majapahit yang baru berdiri.

Di era Hayam Wuruk sudah terdapat petinggi Majapahit yang muslim. Ini terrekam dari pemakaman raja-raja Majapahit.

Makam Troloyo bukti  kuburan petinggi muslim dari para anggota kerajaan yang wafat di zaman Hayam Wuruk, Wikramawardhana dan Ratu Suhita

Setelah wafatnya Hayam Wuruk, Sunan Gresik membangun pusat pertanian untuk menanggulangi kelaparan akibat perang Paregreg.

Saat perang bubat, versi kitab kidung sunda, rombongan Padjadjaran berkumpul di lapangan sudut Masjid Agung Majapahit.

Prasasti Hayam Wuruk tertulis, yang ikut mengelola pelabuhan sungai Majapahit, mereka yang beribadah “dasardha diwasa” alias ibadah lima waktu sehari, itulah muslimin.

Berdirinya Pasai bersamaan dengan Majapahit, membuktikan bahwa muslimin sudah mengakar kuat di Nusantara.

Sumber:
https://amp.kompas.com/nasional/read/2011/04/14/03505816/twitter-com?page=all#page2
https://amp.kompas.com/nasional/read/2012/09/04/22263214/~Oase~Resensi?page=all#page2
Sejarah Umat Islam karya Buya Hamka 

Pangeran Majapahit dan Padjajaran, yang Pertama Masuk Islam dan Naik Haji Kerajaan Hindu Padjadjaran berdiri sekitar tahun 1030 ...

Pangeran Majapahit
dan Padjajaran, yang Pertama Masuk Islam dan Naik Haji


Kerajaan Hindu Padjadjaran berdiri sekitar tahun 1030 M. 100 tahun kemudian, seorang Raja Padjadjaran memiliki 2 putra yaitu Prabu Munding Sari dan kakaknya. Sang kakak lebih memilih mengembara hingga ke Hindustan. Kerajaannya diserahkan ke adiknya, Munding Sari. Dalam pengembaraan ini, bertemulah sang kakak dengan saudagar bangsa Arab. Para saudagar memberikan penerangan tentang keindahan Islam.

Sang kakak tertarik. Dia pun pergi haji. Kejadian ini terjadi pada tahun 1195 Masehi. Sang kakak disebut sebagai Haji Purwa. Ia pun pulang kembali ke Nusantara, hendak mengajak seluruh keluarga kerajaan memeluk Islam agama yang dianutnya. Tetapi tidak mendapatkan sambutan yang baik. Sang Baginda pun meninggalkan kerajaan Padjadjaran dan menghilang ke tempat lain.

Berdasarkan catatan ini, pangeran Nusantara yang pertama pergi haji dan memeluk Islam adalah pangeran Padjadjaran. Kejadian ini jauh sebelum Singasari, Majapahit, kerajaan Islam Pasai berdiri, kedatangan para Walisanga dan Laksamana Cheng Ho. Kejadian ini terjadi di era kerajaan Kediri dan Jenggala.

Setelah pangeran Padjadjaran, siapakah yang berikutnya? Pangeran Arya Damar, adipati Majapahit di Palembang. Dia adalah putra dari Prabu Brawijaya raja Majapahit terakhir. Arya Damar masuk Islam setelah belajar dari Sunan Ampel. Bila Arya Damar berkunjung ke Majapahit, pulangnya singgah terlebih dahulu ke Ampel dan Giri untuk meneguk ilmu Islam dari gurunya.

Pangeran Jibun adalah anak dari Prabu Brawijaya raja Majapahit terakhir seperti Arya Damar. Saat ibunya sedang hamil, ibunya dikirim ke Palembang tinggal bersama Arya Damar. Sejak kecil pangeran Jibun dididik oleh sang kakak tiri, Arya Damar, dengan pendidikan Islam. Kelak pangeran Jibun diberi gelar Raden Patah, menjadi raja kerjaan Demak.

Kerajaan Hindu terakhir, setelah Majapahit, di Tanah Jawa adalah Kerajaan Balambangan di ujung Jawa Timur. Suatu hari, sang putri kerajaan sakit. Banyak tabib yang  mencoba mengobati tetapi gagal. Akhirnya raja Balambangan mengundang Maulana Ishak untuk mengobati. Sang raja berjanji menikahkan putrinya dengan sang Maulana dan sang raja masuk Islam. Setelah sembuh, sang putri Balambangan masuk Islam yang kemudian memiliki putra yang bernama Sunan Giri. Sedangkan sang raja menghianati janjinya sendiri.

(Diringkas dari Buku Sejarah Umat Islam karya Buya Hamka)

Islam dan Majapahit Oleh: Nasrulloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Islam hadir di Nusantara, Islam hadir di Jawa, se...


Islam dan Majapahit

Oleh: Nasrulloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)

Islam hadir di Nusantara, Islam hadir di Jawa, sebelum atau sesudah Majapahit? Menurut Sir Thomas Arnold, saudagar Arab sudah menguasai jalur perdagangan dari jazirah Arab hingga ke Tiongkok pada abad ke 7 Masehi atau pada awal kelahiran Islam. Jadi dapat dikatakan penyebaran Islam di dataran melayu sudah terjadi sejak Rasulullah saw diutus ke muka bumi. Dimana Rasulullah saw wafat pada 632 Masehi. Sedangkan Majapahit berdiri pada   1294 Masehi. Jadi Islam sudah hadir di Nusantara 600 tahun sebelum didirikannya Majapahit.

Berdasarkan catatan Tiongkok, pada tahun 674-675 Masehi, orang Arab sudah datang di tanah Jawa. Juga, telah membuat perkampungan di pantai Sumatera Barat pada 684 Masehi. Menurut Buya Hamka, yang datang ke Jawa saat itu adalah khalifah Muawiyah bin Abu Sofyan yang mendatangi Ratu Simo dari kerajaan Kalingga yang memerintahkan dengan adil, makmur, aman dan keras menjaga keamanan. Saat itu Muawiyah bin Abu Sofyan sedang meneliti potensi pengembangan armada Islam. Melihat keadilan dan kemakmuran kerajaan tersebut niat Abu Sofyan pun diurungkan.

Kerajaan Sriwijaya telah ada sebelum Majapahit. Bukti sejarah menunjukan telah ada Korespondensi dari Kerajaan Sriwijaya ke Kekhilafahan Bani Umayyah. Isi suratnya, "Dari Raja yang merupakan keturunan dari seribu raja, yang permaisurinya juga, adalah keturunan seribu raja, yang didalam kandangnya memiliki seribu gajah, dan yang memiliki wilayah dua sungai yang mengairi tanaman gaharu, yang terdapat tanaman herbal, pala, dan kamper yang keharumannya menyebar ke jarak dua belas mil. Untuk Raja Arab, yang tidak menyekutukan Allah dengan yang lainnya. Saya telah mengirimkan kepada Anda, hadiah, yang tidak banyak, tetapi (hanya) sebuah salam dan saya berharap bahwa Anda dapat mengirimkan kepada saya seseorang yang bisa mengajari saya Islam dan memerintahkan saya dalam Hukum Islam."

Sebelum kerajaan Majapahit berdiri pun sudah ada kesultanan Islam di Nusantara. Kesultaanan yang pertama adalah Kesultanan Peureulak / Perlak adalah kerajaan Islam di Indonesia yang berkuasa di sekitar wilayah Peureulak, Aceh Timur, Aceh sekarang disebut-sebut antara tahun 840 sampai dengan tahun 1292. Perlak atau Peureulak terkenal sebagai suatu daerah penghasil kayu perlak, jenis kayu yang sangat bagus untuk pembuatan kapal, dan karenanya daerah ini dikenal dengan nama Negeri Perlak.

Kesultanan Islam kedua sebelum berdirinya Majapahit adalah Samudera Pasai. Kerajaan ini didirikan oleh Marah Silu, yang bergelar Sultan Malik as-Saleh, sekitar tahun 1267. Keberadaan kerajaan ini juga tercantum dalam kitab Rihlah ila l-Masyriq (Pengembaraan ke Timur) karya Abu Abdullah ibn Batuthah (1304–1368), musafir Maroko yang singgah ke negeri ini pada tahun 1345. Menurut Buya Hamka, munculnya kesultanan Samudera Pasai karena dukungan dari Syarif Mekah.

Makam Fatimah binti Maimun bin Hibatullah di Gersik yang wafat pada 2 Desember 1082 M. Batu nisannya ditulis dalam bahasa Arab dengan huruf kaligrafi bergaya Kufi, serta merupakan nisan kubur Islam tertua yang ditemukan di Nusantara. Makam tersebut berlokasi di desa Leran, Kecamatan Manyar, sekitar 5 km arah utara kota Gresik, Jawa Timur. Temuan ini bertanda bahwa sebelum kemunculan Majapahit sudah banyak perkampungan muslim di Jawa bagian utara.

Menurut John Crawford, 1820 M dalam History of Indian Archipelago, "Saudagar Muslim tidak datang sebagai penakluk seperti yang dikerjakan oleh bangsa Spanyol pada abad 16M. Mereka tidak menggunakan pedang dalam dakwahnya. Juga tidak memiliki hak untuk melakukan penindasan terhadap rakyat bawahnya. Para Dai hanya sebagai Saudagar yang memanfaatkan kecerdasan dan peradaban mereka yang lebih tinggi untuk kepentingan dakwahnya. Harta perniagaannya lebih mereka utamakan sebagai modal dakwah dari pada untuk memperkaya diri." Karakter inilah yang menurut Buya Hamka, mereka dapat berbaik-baikan dalam kerajaan Hindu yakni Langkasuka, Sriwijaya, Janggala, Daha dan Singasari. Mereka dapat masuk ke Istana dan mendapatkan penghargaan hingga menjadi anggota perutusan.

Bagaimana pengaruh semua ini terhadap struktur masyarakat Majapahit? Menurut Ma Huan yang datang bersama Pangeran Ceng Ho ke Jawa, dalam bukunya Ying-yai heng-la yang disusun 1451 M, struktur masyarakat Majapahit terbagi 3 yaitu orang muslim dari Barat, orang Cina yang sebagian sudah masuk Islam dan orang Jawa yang masih menyembah berhala. Tidak hanya sampai disitu, para bangsawan Jawa di Istana Majapahit pun telah ada yang memeluk Islam 50 tahun sebelum kedatangan Ma Hua. Ini dibuktikan dengan batu nisa Trowulan dan Troloyo. Juga makam-makam orang Jawa Muslim di dekat situs Istana Hindu Majapahit.

Sebelum kehadiran Majapahit, masyarakat Nusantara sudah bersentuhan dengan Islam hampir 6 abad lamanya. Dibuktikan dengan hadirnya perkampungan muslim dipesisir Utara Jawa dan Sumatera, datangnya Muawiyah bin Abu Sofyan ke kerajaan Kalingga, surat menyurat antara khalifah bani Umayah dengan raja Sriwijaya, hadirnya kesultanan Perlak dan Samudera Pasai serta struktur masyarakat dan elit Majapahit yang telah memeluk Islam. Jadi wajar saja bila ada yang menyimpulkan bahwa Majapahit adalah kerajaan Islam? Namun sejarawan mengatakan bahwa Majapahit adalah kerajaan Hindu, namun elit dan masyarakatnya sudah ada yang muslim.

Pangeran Majapahit dan Padjajaran, yang Pertama Masuk Islam dan Naik Haji Kerajaan Hindu Padjadjaran berdiri sekitar tahun 1030 ...

Pangeran Majapahit
dan Padjajaran, yang Pertama Masuk Islam dan Naik Haji


Kerajaan Hindu Padjadjaran berdiri sekitar tahun 1030 M. 100 tahun kemudian, seorang Raja Padjadjaran memiliki 2 putra yaitu Prabu Munding Sari dan kakaknya. Sang kakak lebih memilih mengembara hingga ke Hindustan. Kerajaannya diserahkan ke adiknya, Munding Sari. Dalam pengembaraan ini, bertemulah sang kakak dengan saudagar bangsa Arab. Para saudagar memberikan penerangan tentang keindahan Islam.

Sang kakak tertarik. Dia pun pergi haji. Kejadian ini terjadi pada tahun 1195 Masehi. Sang kakak disebut sebagai Haji Purwa. Ia pun pulang kembali ke Nusantara, hendak mengajak seluruh keluarga kerajaan memeluk Islam agama yang dianutnya. Tetapi tidak mendapatkan sambutan yang baik. Sang Baginda pun meninggalkan kerajaan Padjadjaran dan menghilang ke tempat lain.

Berdasarkan catatan ini, pangeran Nusantara yang pertama pergi haji dan memeluk Islam adalah pangeran Padjadjaran. Kejadian ini jauh sebelum Singasari, Majapahit, kerajaan Islam Pasai berdiri, kedatangan para Walisanga dan Laksamana Cheng Ho. Kejadian ini terjadi di era kerajaan Kediri dan Jenggala.

Setelah pangeran Padjadjaran, siapakah yang berikutnya? Pangeran Arya Damar, adipati Majapahit di Palembang. Dia adalah putra dari Prabu Brawijaya raja Majapahit terakhir. Arya Damar masuk Islam setelah belajar dari Sunan Ampel. Bila Arya Damar berkunjung ke Majapahit, pulangnya singgah terlebih dahulu ke Ampel dan Giri untuk meneguk ilmu Islam dari gurunya.

Pangeran Jibun adalah anak dari Prabu Brawijaya raja Majapahit terakhir seperti Arya Damar. Saat ibunya sedang hamil, ibunya dikirim ke Palembang tinggal bersama Arya Damar. Sejak kecil pangeran Jibun dididik oleh sang kakak tiri, Arya Damar, dengan pendidikan Islam. Kelak pangeran Jibun diberi gelar Raden Patah, menjadi raja kerjaan Demak.

Kerajaan Hindu terakhir, setelah Majapahit, di Tanah Jawa adalah Kerajaan Balambangan di ujung Jawa Timur. Suatu hari, sang putri kerajaan sakit. Banyak tabib yang  mencoba mengobati tetapi gagal. Akhirnya raja Balambangan mengundang Maulana Ishak untuk mengobati. Sang raja berjanji menikahkan putrinya dengan sang Maulana dan sang raja masuk Islam. Setelah sembuh, sang putri Balambangan masuk Islam yang kemudian memiliki putra yang bernama Sunan Giri. Sedangkan sang raja menghianati janjinya sendiri.

(Diringkas dari Buku Sejarah Umat Islam karya Buya Hamka)

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Al-Qur'an (207) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (50) Cerita kegagalan (1) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (6) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) Kecerdasan (222) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) Kisah Para Nabi dan Rasul (244) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) Nabi Adam (8) Nabi Ibrahim (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Musa (1) Nabi Nuh (3) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (1) Namrudz (2) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) Nusantara (210) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (183) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rehat (431) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Serah Nabawiyah (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (155) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah Penguasa (194) Sirah Sahabat (114) Sirah Tabiin (42) Sirah Ulama (91) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)