basmalah Pictures, Images and Photos
07/30/26 - Our Islamic Story

Choose your Language

 Bekal bagi Para Da'i Mengapa seorang musafir selalu membawa bekal? Karena ia tahu bahwa perjalanan tidak selalu mudah. Di tengah jalan ...


 Bekal bagi Para Da'i

Mengapa seorang musafir selalu membawa bekal?

Karena ia tahu bahwa perjalanan tidak selalu mudah. Di tengah jalan bisa saja ia kehabisan tenaga, tersesat, menghadapi cuaca buruk, atau menemui berbagai rintangan yang menghalangi langkahnya. Bekal bukan sekadar pelengkap perjalanan, melainkan syarat agar ia mampu mencapai tujuan.

Jika demikian, bukankah perjalanan dakwah jauh lebih membutuhkan bekal?

Jalan dakwah bukan sekadar perjalanan fisik. Ia adalah perjalanan iman, kesabaran, pengorbanan, dan keteguhan hati. Di sepanjang jalan ini, seorang da'i akan berhadapan dengan ujian, godaan, penolakan, bahkan tekanan yang dapat melemahkan semangat atau menyesatkan langkahnya.

Karena itu, setiap aktivis dakwah membutuhkan bekal yang mampu menjaga istiqamah hingga akhir perjalanan.

Bekal yang Paling Utama

Lalu, apakah bekal terpenting itu?

Bukan harta.

Bukan kepandaian berbicara.

Bukan pula kedudukan atau banyaknya pengikut.

Bekal yang paling pertama dan paling utama adalah keimanan dan ketakwaan kepada Allah. Itulah bekal terbaik yang akan menghidupkan hati, menguatkan langkah, dan menjaga arah perjalanan.

Di samping itu, seorang da'i juga membutuhkan bekal pendukung, seperti sahabat-sahabat yang saleh, guru yang membimbing, lingkungan yang baik, pengalaman, serta nasihat yang terus mengingatkannya ketika lalai.

Semua itu menjadi penopang agar tekad tetap kokoh dan langkah tidak menyimpang.

Ketika Bekal Mulai Habis

Bayangkan sebuah kendaraan yang sedang menempuh perjalanan jauh.

Mesinnya masih utuh.

Rodanya masih sempurna.

Namun bahan bakarnya habis.

Apa yang terjadi?

Kendaraan itu berubah menjadi sekadar tumpukan besi yang tidak mampu bergerak sejengkal pun.

Demikian pula seorang aktivis dakwah.

Apabila bekal iman dan takwanya terus berkurang tanpa pernah diperbarui, maka semangatnya akan melemah. Gerakannya menjadi lamban, pikirannya kehilangan arah, dan jiwanya seakan kehilangan kehidupan.

Karena itulah Allah berfirman,

«"Dan apakah orang yang sudah mati kemudian Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya sehingga dia dapat berjalan di tengah manusia, sama seperti orang yang berada dalam kegelapan yang tidak dapat keluar darinya?" (QS. Al-An'am: 122)»

Begitu pula firman-Nya,

«"Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah seruan Allah dan Rasul apabila dia menyeru kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu." (QS. Al-Anfal: 24)»

Imanlah yang menghidupkan hati.

Iman Melahirkan Kekuatan

Apa yang lahir dari hati yang dipenuhi iman?

Darinya memancar keikhlasan, kejujuran, ketulusan, keberanian, dan keteguhan.

Iman memperkuat tekad, melemahkan godaan dunia, serta menjadikan berbagai rintangan tampak lebih ringan.

Bahkan, prestasi-prestasi besar dalam dakwah sering kali bukan lahir dari kemampuan manusia semata, melainkan dari hati yang dipenuhi iman kepada Allah.

Merasakan Kebersamaan Allah

Dalam perjalanan dakwah, apakah ada nikmat yang lebih besar daripada merasakan bahwa Allah selalu bersama kita?

Ketika seorang da'i menyadari bahwa setiap langkahnya berada dalam pengawasan dan pertolongan Allah, ia tidak akan mudah merasa sendiri.

Sebaliknya, siapa yang kehilangan pertolongan Allah, meskipun memiliki seluruh kekuatan dunia, pada hakikatnya telah kehilangan segalanya.

Karena itu Allah berfirman,

«"Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat ihsan." (QS. An-Nahl: 128)»

Dan firman-Nya,

«"Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang beriman." (QS. Al-Anfal: 19)»

Cahaya yang Menuntun Langkah

Perjalanan dakwah tidak selalu terang.

Kadang muncul persimpangan.

Kadang muncul keraguan.

Kadang muncul tipu daya yang sulit dibedakan dengan kebenaran.

Lalu, apa yang menerangi jalan itu?

Allah menyebutnya sebagai nur, cahaya yang diberikan kepada orang-orang yang beriman dan bertakwa.

Dengan cahaya itulah seorang mukmin mampu melihat jalan yang benar dan mengenali jebakan-jebakan setan.

Allah berfirman,

«"Allah menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan." (QS. Al-Hadid: 28)»

Dan,

«"Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa apabila mereka ditimpa godaan setan, mereka segera mengingat Allah, maka ketika itu juga mereka dapat melihat dengan jelas." (QS. Al-A'raf: 201)»

Izzah Seorang Mukmin

Bagaimana mungkin seorang da'i mampu mengubah masyarakat apabila dirinya sendiri merasa rendah dan minder?

Dakwah membutuhkan izzah, yaitu kemuliaan yang lahir dari keimanan.

Bukan kesombongan.

Bukan merasa lebih hebat dari orang lain.

Melainkan keyakinan bahwa kemuliaan sejati berasal dari Allah.

Karena itu Allah mengingatkan,

«"Janganlah kamu merasa lemah dan jangan bersedih hati, padahal kamulah yang paling tinggi jika kamu orang-orang yang beriman." (QS. Ali Imran: 139)»

Siap Berkorban

Dakwah selalu menuntut pengorbanan.

Tenaga.

Waktu.

Harta.

Pikiran.

Bahkan, dalam kondisi tertentu, jiwa.

Pertanyaannya, siapa yang mampu berkorban dengan ikhlas?

Hanya orang yang yakin bahwa apa yang ada di sisi Allah jauh lebih baik daripada apa yang ia tinggalkan di dunia.

Sabar Menghadapi Ujian

Adakah dakwah tanpa ujian?

Tidak pernah.

Para nabi mengalaminya.

Para sahabat mengalaminya.

Orang-orang saleh sepanjang sejarah pun mengalaminya.

Yang membedakan hanyalah bagaimana mereka menghadapinya.

Allah telah mengajarkan bahwa kesabaran hanya dapat dipertahankan oleh hati yang dipenuhi iman dan takwa.

Karena itu, ketika gangguan datang, seorang mukmin tidak bertanya, "Mengapa aku diuji?"

Ia justru bertanya, "Bagaimana aku dapat tetap setia kepada Allah dalam ujian ini?"

Keteguhan di Tengah Ancaman

Jalan dakwah juga dipenuhi intimidasi, ancaman, dan rasa takut.

Namun sejarah mencatat bahwa orang-orang beriman justru semakin kuat ketika ancaman itu datang.

Mereka berkata,

«"Hasbunallahu wa ni'mal wakil."
"Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Dia sebaik-baik Pelindung." (QS. Ali Imran: 173)»

Kalimat itu bukan sekadar ucapan.

Ia lahir dari hati yang telah dipenuhi keyakinan kepada Allah.

Ukhuwah sebagai Bekal Perjalanan

Bisakah seorang da'i berjalan sendirian sepanjang hidupnya?

Mungkin.

Tetapi ia tidak akan berjalan sejauh orang yang memiliki saudara-saudara seiman.

Karena itulah Islam membangun ukhuwah.

Ketika seseorang lemah, saudaranya menguatkan.

Ketika ia lupa, saudaranya mengingatkan.

Ketika ia futur, saudaranya membangkitkan kembali semangatnya.

Bukankah Rasulullah ï·º bersabda bahwa seseorang belum sempurna imannya sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri?

Ilmu yang Diberkahi

Dakwah juga membutuhkan ilmu.

Namun ilmu yang dibutuhkan bukan sekadar banyaknya bacaan atau luasnya hafalan.

Ilmu yang benar adalah ilmu yang disertai keikhlasan dan ketakwaan.

Karena Allah berfirman,

«"Bertakwalah kepada Allah, niscaya Allah akan mengajarimu." (QS. Al-Baqarah: 282)»

Semakin dekat seseorang kepada Allah, semakin Allah bukakan pemahaman baginya.

Menanti Pertolongan Allah

Pada akhirnya, keberhasilan dakwah tidak bergantung pada kemampuan manusia semata.

Ia bergantung kepada pertolongan Allah.

Bukankah Allah telah berjanji,

«"Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman." (QS. Ar-Rum: 47)»

Dan,

«"Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh bahwa Dia akan menjadikan mereka berkuasa di bumi." (QS. An-Nur: 55)»

Janji itu bukan sekadar harapan.

Ia adalah kepastian bagi orang-orang yang menjaga iman, amal saleh, dan istiqamah.

Menjaga Janji Hingga Akhir

Perjalanan dakwah bukan perlombaan yang dimenangkan oleh orang yang berlari paling cepat.

Ia dimenangkan oleh orang yang tetap setia hingga garis akhir.

Karena itu, seorang da'i harus menjaga janjinya kepada Allah, tidak mengkhianatinya, tidak mengubahnya, dan tidak berpaling darinya.

Allah memuji orang-orang yang tetap teguh memegang janjinya.

Penutup

Jika seorang musafir membutuhkan bekal untuk menempuh perjalanan dunia yang hanya beberapa hari, maka terlebih lagi seorang da'i membutuhkan bekal untuk menempuh perjalanan menuju ridha Allah yang berlangsung sepanjang hidupnya.

Bekal itu adalah iman dan takwa.

Bekal yang harus terus dijaga, dipelihara, diperbarui, dan ditambah setiap hari.

Sebab tanpa bekal itu, langkah dakwah akan melemah.

Namun dengan bekal itu, seorang da'i akan mampu terus berjalan, tetap istiqamah, dan berharap bertemu Allah dalam keadaan telah menunaikan amanah yang dipikulnya.

Maka pertanyaannya bukan lagi, "Sudahkah kita berada di jalan dakwah?"

Melainkan, "Sudahkah kita membawa bekal yang cukup untuk menyelesaikan perjalanan itu?"

Teori "Balapan" antara Islam dan Kristen di Nusantara Benarkah penyebaran Islam di Nusantara berlangsung tanpa tantangan? Ataukah ...


Teori "Balapan" antara Islam dan Kristen di Nusantara

Benarkah penyebaran Islam di Nusantara berlangsung tanpa tantangan?

Ataukah justru perkembangan Islam dipercepat oleh hadirnya kekuatan lain yang berusaha menghalanginya?

Pertanyaan-pertanyaan ini membawa kita kepada salah satu teori yang paling banyak diperdebatkan dalam historiografi Islam Nusantara, yaitu teori "balapan" (race theory) yang dikemukakan oleh Schrieke.

Schrieke berangkat dari sebuah pengamatan yang menarik. Menurutnya, penyebaran Islam di Nusantara tidak dapat dipahami secara utuh tanpa memperhitungkan kedatangan Portugis beserta semangat keagamaan yang mereka bawa. Bahkan ia menegaskan,

«"Tidak mungkin memahami penyebaran Islam di Nusantara jika orang tidak memperhitungkan permusuhan antara para pedagang Muslim dan bangsa Portugis."»

Pernyataan ini memunculkan sebuah pertanyaan penting.

Apakah benar ekspansi Portugis ke Asia hanyalah ekspansi ekonomi? Ataukah di baliknya terdapat semangat keagamaan yang merupakan kelanjutan dari Perang Salib?

---

Kritik terhadap Teori Schrieke

Tidak semua sarjana menerima pandangan tersebut.

Salah satu pengkritik paling keras adalah Syed Muhammad Naquib al-Attas.

Menurut Al-Attas, tidak tepat jika penyebaran Islam di Nusantara dipahami sebagai akibat dari persaingan dengan Kristen. Islam, menurutnya, telah hadir di Nusantara sejak abad pertama Hijriah (abad ke-7 M), jauh sebelum Portugis datang. Karena itu, ia menolak anggapan bahwa islamisasi merupakan respons terhadap misi Kristen.

Al-Attas juga berpendapat bahwa pada masa-masa awal, Kristen belum menjadi kekuatan yang cukup signifikan di Nusantara. Pengaruhnya baru tampak secara nyata pada abad ke-19. Oleh sebab itu, menurutnya, tidak tepat jika dinamika penyebaran Islam dipandang sebagai kelanjutan Perang Salib.

Sekilas, kritik ini tampak sangat kuat.

Namun, benarkah Al-Attas sedang membantah teori Schrieke secara utuh?

---

Apakah Terjadi Salah Pembacaan?

Di sinilah letak persoalannya.

Schrieke sebenarnya tidak mengatakan bahwa seluruh proses islamisasi sejak abad ke-7 dipicu oleh persaingan dengan Kristen.

Fokus utamanya justru berada pada abad ke-16, ketika Portugis mulai menguasai jalur perdagangan Asia Tenggara dan secara aktif membawa misi politik sekaligus agama.

Dengan kata lain, Schrieke berbicara tentang fase tertentu dalam sejarah Islam Nusantara, bukan keseluruhan proses islamisasi.

Karena itu, kritik Al-Attas sesungguhnya lebih tepat dipahami sebagai koreksi terhadap generalisasi teori Schrieke, bukan penolakan terhadap seluruh argumennya.

---

Kajian-Kajian Mutakhir

Perdebatan ternyata tidak berhenti di situ.

Sejumlah penelitian yang lebih baru justru menemukan bahwa sebagian pokok pikiran Schrieke memiliki dasar historis yang cukup kuat.

Salah satunya adalah penelitian Anthony Reid.

Reid melihat bahwa sejak pertengahan abad ke-15 hingga abad ke-17 terjadi polarisasi yang semakin tajam antara komunitas Muslim dan Kristen di Asia Tenggara.

Mengapa?

Karena kedua komunitas sama-sama berusaha memperoleh pemeluk baru.

Dengan kata lain, terjadi semacam "perlombaan" dakwah dan misi keagamaan.

Pada masa itu, banyak masyarakat di kota maupun desa memeluk Islam, kemudian mengidentifikasi dirinya sebagai bagian dari komunitas Islam internasional.

Menurut Reid, fenomena tersebut diperkuat oleh dua faktor utama.

Pertama, semakin intensifnya hubungan pelayaran antara Asia Tenggara dan kawasan Laut Merah.

Kedua, semakin kuatnya identitas dunia Islam (Dar al-Islam) yang berhadapan dengan wilayah-wilayah non-Islam (Dar al-Harb).

---

Seberapa Relevan Teori Schrieke?

Lalu, bagaimana seharusnya teori Schrieke diposisikan?

Barangkali tidak tepat jika teori itu diterima secara mutlak.

Namun, tidak pula bijaksana jika ditolak seluruhnya.

Beberapa sejarawan, seperti M. A. P. Meilink-Roelofsz, mengingatkan bahwa motif Perang Salib dalam ekspansi Portugis memang ada, tetapi tidak boleh dilebih-lebihkan. Faktor perdagangan, politik, dan perebutan jalur ekonomi tetap memainkan peranan yang sangat besar.

Karena itu, teori Schrieke akan jauh lebih kuat jika dipadukan dengan teori-teori lain mengenai perdagangan, jaringan ulama, mobilitas pelaut Muslim, dan dinamika politik kerajaan-kerajaan Nusantara.

Dengan pendekatan seperti inilah sejarah islamisasi maupun kristenisasi di Nusantara dapat dipahami secara lebih utuh.

Menariknya, gagasan tentang "balapan" dakwah ini bahkan masih terasa relevan hingga masa kini ketika dakwah Islam dan misi Kristen sama-sama berusaha menjangkau masyarakat melalui berbagai cara yang damai sesuai dengan konteks zamannya.

---

Mengapa Portugis Datang ke Nusantara?

Jika teori Schrieke diterima sebagian, muncul pertanyaan berikutnya.

Apa sebenarnya yang mendorong bangsa Portugis datang ke Asia?

Menurut Schrieke, ekspansi Portugis bukan sekadar pencarian rempah-rempah.

Di balik pelayaran panjang itu terdapat perpaduan antara ambisi politik, kepentingan ekonomi, semangat petualangan, dan dorongan keagamaan yang diwarisi dari pengalaman panjang Perang Salib.

Setelah berhasil mengusir kaum Muslim dari Semenanjung Iberia melalui Reconquista, Portugis melanjutkan ekspansinya dengan merebut Ceuta di pesisir Afrika Utara. Dari sana mereka bergerak menyusuri pantai barat Afrika, mengitari Tanjung Harapan di Afrika Selatan, hingga akhirnya mencapai India dan Kepulauan Melayu.

Bagi Schrieke, semangat Perang Salib masih hidup dalam ekspansi tersebut.

Ia bahkan menulis bahwa kenangan panjang peperangan melawan kaum Muslim di Semenanjung Iberia terus menjadi salah satu kekuatan pendorong kebijakan Portugis.

Namun, konflik itu tidak semata-mata didorong oleh agama.

Di baliknya terdapat kepentingan ekonomi yang sangat besar.

Setelah jatuhnya Konstantinopel dan berubahnya jalur perdagangan internasional, perdagangan rempah-rempah semakin banyak dikuasai para pedagang Muslim melalui Laut Merah, Mesir, Gujarat, hingga Asia Tenggara.

Para pedagang Muslim dari Arab, Persia, dan Gujarat menguasai banyak pelabuhan penting, termasuk Pasai dan Malaka. Pada abad ke-14 dan ke-15, jaringan perdagangan Samudra Hindia mencapai masa kejayaannya. Catatan perjalanan Ibnu Battutah, Abd al-Razzaq Samarqandi, Niccolò de' Conti, dan Stefano da Santo menggambarkan betapa luasnya jaringan perdagangan kaum Muslim pada masa itu.

Keadaan inilah yang kemudian mendorong Portugis masuk ke Samudra Hindia.

Bukan hanya untuk berdagang, tetapi juga untuk mematahkan dominasi perdagangan Muslim sekaligus membangun pengaruh politik dan keagamaan mereka sendiri.

Dengan demikian, jika konflik antara Islam dan Portugis memang terjadi, akar persoalannya bukan semata-mata persoalan teologi. Ia merupakan pertemuan antara agama, politik, ekonomi, dan perebutan jalur perdagangan dunia yang saling bertaut dalam panggung sejarah Nusantara.

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adam (5) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Al-Baqarah (1) Al-Qur'an (362) Al-Qur’an (55) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) An-Nadwi (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bahaya Kemunduran Umat Islam (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (53) Cerita kegagalan (1) cerpen Nabi (8) cerpen Nabi Musa (2) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) dakwah (10) Dakwah (6) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) english (6) English (6) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fiqh (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (7) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) hikmah (1) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) Islam (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) kecerdasan (20) Kecerdasan (331) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Hadist (4) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) kisah para nabi dan (2) kisah para nabi dan rasul (56) kisah para Nabi dan Rasul (1) Kisah para nabi dan rasul (107) Kisah Para Nabi dan Rasul (577) kisah para nabi dan rasul. Nabi Daud (1) kisah para nabi dan rasul. nabi Musa (2) Kisah Penguasa (1) Kisah ulama (1) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) nabi adam (1) Nabi Adam (75) nabi Adam. Adam (1) Nabi Ayub (1) Nabi Daud (3) Nabi Ibrahim (3) Nabi Isa (2) nabi Isa. nabi ismail (1) Nabi Ismail (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Khidir (1) Nabi Musa (29) Nabi Nuh (6) Nabi Sulaiman (2) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (15) Namrudz (2) Nasrulloh Baksolahar (1) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) nusantara (6) Nusantara (271) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (679) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rasulullah shalallahu alaihi wassalam (1) Rehat (493) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) Sahabat (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) Salimul Aqidah (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Serah Nabawiyah (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (307) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah penguasa (11) Sirah Penguasa (248) sirah Sahabat (2) Sirah Sahabat (171) Sirah Tabiin (43) Sirah ulama (36) Sirah Ulama (158) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tamim Ad Dari (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Wakaf (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)