Mengapa seorang musafir selalu membawa bekal?
Karena ia tahu bahwa perjalanan tidak selalu mudah. Di tengah jalan bisa saja ia kehabisan tenaga, tersesat, menghadapi cuaca buruk, atau menemui berbagai rintangan yang menghalangi langkahnya. Bekal bukan sekadar pelengkap perjalanan, melainkan syarat agar ia mampu mencapai tujuan.
Jika demikian, bukankah perjalanan dakwah jauh lebih membutuhkan bekal?
Jalan dakwah bukan sekadar perjalanan fisik. Ia adalah perjalanan iman, kesabaran, pengorbanan, dan keteguhan hati. Di sepanjang jalan ini, seorang da'i akan berhadapan dengan ujian, godaan, penolakan, bahkan tekanan yang dapat melemahkan semangat atau menyesatkan langkahnya.
Karena itu, setiap aktivis dakwah membutuhkan bekal yang mampu menjaga istiqamah hingga akhir perjalanan.
Bekal yang Paling Utama
Lalu, apakah bekal terpenting itu?
Bukan harta.
Bukan kepandaian berbicara.
Bukan pula kedudukan atau banyaknya pengikut.
Bekal yang paling pertama dan paling utama adalah keimanan dan ketakwaan kepada Allah. Itulah bekal terbaik yang akan menghidupkan hati, menguatkan langkah, dan menjaga arah perjalanan.
Di samping itu, seorang da'i juga membutuhkan bekal pendukung, seperti sahabat-sahabat yang saleh, guru yang membimbing, lingkungan yang baik, pengalaman, serta nasihat yang terus mengingatkannya ketika lalai.
Semua itu menjadi penopang agar tekad tetap kokoh dan langkah tidak menyimpang.
Ketika Bekal Mulai Habis
Bayangkan sebuah kendaraan yang sedang menempuh perjalanan jauh.
Mesinnya masih utuh.
Rodanya masih sempurna.
Namun bahan bakarnya habis.
Apa yang terjadi?
Kendaraan itu berubah menjadi sekadar tumpukan besi yang tidak mampu bergerak sejengkal pun.
Demikian pula seorang aktivis dakwah.
Apabila bekal iman dan takwanya terus berkurang tanpa pernah diperbarui, maka semangatnya akan melemah. Gerakannya menjadi lamban, pikirannya kehilangan arah, dan jiwanya seakan kehilangan kehidupan.
Karena itulah Allah berfirman,
«"Dan apakah orang yang sudah mati kemudian Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya sehingga dia dapat berjalan di tengah manusia, sama seperti orang yang berada dalam kegelapan yang tidak dapat keluar darinya?" (QS. Al-An'am: 122)»
Begitu pula firman-Nya,
«"Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah seruan Allah dan Rasul apabila dia menyeru kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu." (QS. Al-Anfal: 24)»
Imanlah yang menghidupkan hati.
Iman Melahirkan Kekuatan
Apa yang lahir dari hati yang dipenuhi iman?
Darinya memancar keikhlasan, kejujuran, ketulusan, keberanian, dan keteguhan.
Iman memperkuat tekad, melemahkan godaan dunia, serta menjadikan berbagai rintangan tampak lebih ringan.
Bahkan, prestasi-prestasi besar dalam dakwah sering kali bukan lahir dari kemampuan manusia semata, melainkan dari hati yang dipenuhi iman kepada Allah.
Merasakan Kebersamaan Allah
Dalam perjalanan dakwah, apakah ada nikmat yang lebih besar daripada merasakan bahwa Allah selalu bersama kita?
Ketika seorang da'i menyadari bahwa setiap langkahnya berada dalam pengawasan dan pertolongan Allah, ia tidak akan mudah merasa sendiri.
Sebaliknya, siapa yang kehilangan pertolongan Allah, meskipun memiliki seluruh kekuatan dunia, pada hakikatnya telah kehilangan segalanya.
Karena itu Allah berfirman,
«"Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat ihsan." (QS. An-Nahl: 128)»
Dan firman-Nya,
«"Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang beriman." (QS. Al-Anfal: 19)»
Cahaya yang Menuntun Langkah
Perjalanan dakwah tidak selalu terang.
Kadang muncul persimpangan.
Kadang muncul keraguan.
Kadang muncul tipu daya yang sulit dibedakan dengan kebenaran.
Lalu, apa yang menerangi jalan itu?
Allah menyebutnya sebagai nur, cahaya yang diberikan kepada orang-orang yang beriman dan bertakwa.
Dengan cahaya itulah seorang mukmin mampu melihat jalan yang benar dan mengenali jebakan-jebakan setan.
Allah berfirman,
«"Allah menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan." (QS. Al-Hadid: 28)»
Dan,
«"Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa apabila mereka ditimpa godaan setan, mereka segera mengingat Allah, maka ketika itu juga mereka dapat melihat dengan jelas." (QS. Al-A'raf: 201)»
Izzah Seorang Mukmin
Bagaimana mungkin seorang da'i mampu mengubah masyarakat apabila dirinya sendiri merasa rendah dan minder?
Dakwah membutuhkan izzah, yaitu kemuliaan yang lahir dari keimanan.
Bukan kesombongan.
Bukan merasa lebih hebat dari orang lain.
Melainkan keyakinan bahwa kemuliaan sejati berasal dari Allah.
Karena itu Allah mengingatkan,
«"Janganlah kamu merasa lemah dan jangan bersedih hati, padahal kamulah yang paling tinggi jika kamu orang-orang yang beriman." (QS. Ali Imran: 139)»
Siap Berkorban
Dakwah selalu menuntut pengorbanan.
Tenaga.
Waktu.
Harta.
Pikiran.
Bahkan, dalam kondisi tertentu, jiwa.
Pertanyaannya, siapa yang mampu berkorban dengan ikhlas?
Hanya orang yang yakin bahwa apa yang ada di sisi Allah jauh lebih baik daripada apa yang ia tinggalkan di dunia.
Sabar Menghadapi Ujian
Adakah dakwah tanpa ujian?
Tidak pernah.
Para nabi mengalaminya.
Para sahabat mengalaminya.
Orang-orang saleh sepanjang sejarah pun mengalaminya.
Yang membedakan hanyalah bagaimana mereka menghadapinya.
Allah telah mengajarkan bahwa kesabaran hanya dapat dipertahankan oleh hati yang dipenuhi iman dan takwa.
Karena itu, ketika gangguan datang, seorang mukmin tidak bertanya, "Mengapa aku diuji?"
Ia justru bertanya, "Bagaimana aku dapat tetap setia kepada Allah dalam ujian ini?"
Keteguhan di Tengah Ancaman
Jalan dakwah juga dipenuhi intimidasi, ancaman, dan rasa takut.
Namun sejarah mencatat bahwa orang-orang beriman justru semakin kuat ketika ancaman itu datang.
Mereka berkata,
«"Hasbunallahu wa ni'mal wakil."
"Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Dia sebaik-baik Pelindung." (QS. Ali Imran: 173)»
Kalimat itu bukan sekadar ucapan.
Ia lahir dari hati yang telah dipenuhi keyakinan kepada Allah.
Ukhuwah sebagai Bekal Perjalanan
Bisakah seorang da'i berjalan sendirian sepanjang hidupnya?
Mungkin.
Tetapi ia tidak akan berjalan sejauh orang yang memiliki saudara-saudara seiman.
Karena itulah Islam membangun ukhuwah.
Ketika seseorang lemah, saudaranya menguatkan.
Ketika ia lupa, saudaranya mengingatkan.
Ketika ia futur, saudaranya membangkitkan kembali semangatnya.
Bukankah Rasulullah ï·º bersabda bahwa seseorang belum sempurna imannya sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri?
Ilmu yang Diberkahi
Dakwah juga membutuhkan ilmu.
Namun ilmu yang dibutuhkan bukan sekadar banyaknya bacaan atau luasnya hafalan.
Ilmu yang benar adalah ilmu yang disertai keikhlasan dan ketakwaan.
Karena Allah berfirman,
«"Bertakwalah kepada Allah, niscaya Allah akan mengajarimu." (QS. Al-Baqarah: 282)»
Semakin dekat seseorang kepada Allah, semakin Allah bukakan pemahaman baginya.
Menanti Pertolongan Allah
Pada akhirnya, keberhasilan dakwah tidak bergantung pada kemampuan manusia semata.
Ia bergantung kepada pertolongan Allah.
Bukankah Allah telah berjanji,
«"Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman." (QS. Ar-Rum: 47)»
Dan,
«"Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh bahwa Dia akan menjadikan mereka berkuasa di bumi." (QS. An-Nur: 55)»
Janji itu bukan sekadar harapan.
Ia adalah kepastian bagi orang-orang yang menjaga iman, amal saleh, dan istiqamah.
Menjaga Janji Hingga Akhir
Perjalanan dakwah bukan perlombaan yang dimenangkan oleh orang yang berlari paling cepat.
Ia dimenangkan oleh orang yang tetap setia hingga garis akhir.
Karena itu, seorang da'i harus menjaga janjinya kepada Allah, tidak mengkhianatinya, tidak mengubahnya, dan tidak berpaling darinya.
Allah memuji orang-orang yang tetap teguh memegang janjinya.
Penutup
Jika seorang musafir membutuhkan bekal untuk menempuh perjalanan dunia yang hanya beberapa hari, maka terlebih lagi seorang da'i membutuhkan bekal untuk menempuh perjalanan menuju ridha Allah yang berlangsung sepanjang hidupnya.
Bekal itu adalah iman dan takwa.
Bekal yang harus terus dijaga, dipelihara, diperbarui, dan ditambah setiap hari.
Sebab tanpa bekal itu, langkah dakwah akan melemah.
Namun dengan bekal itu, seorang da'i akan mampu terus berjalan, tetap istiqamah, dan berharap bertemu Allah dalam keadaan telah menunaikan amanah yang dipikulnya.
Maka pertanyaannya bukan lagi, "Sudahkah kita berada di jalan dakwah?"
Melainkan, "Sudahkah kita membawa bekal yang cukup untuk menyelesaikan perjalanan itu?"
Link Kami
Beberapa Link Kami yang Aktif