Apakah diturunkannya Nabi Adam `alaihissalam ke bumi merupakan hukuman semata?
Ataukah justru awal dimulainya misi besar manusia sebagai khalifah di muka bumi?
Al-Qur'an mengajak kita melihat peristiwa ini bukan sekadar sebagai kisah tentang keluarnya Adam dari surga, tetapi sebagai dimulainya sejarah panjang umat manusia.
Allah berfirman:
«"Kami berfirman, 'Turunlah kamu! Sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi serta kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan.'"
(QS. Al-Baqarah: 36)»
Sejak saat itulah medan perjuangan berpindah.
Jika sebelumnya godaan setan terjadi di surga, kini peperangan itu berlangsung di bumi, tempat manusia menjalankan tugas sebagai khalifah hingga akhir zaman.
Manusia Bisa Tergelincir, tetapi Pintu Tobat Selalu Terbuka
Apakah kesalahan Adam menjadi akhir dari segalanya?
Tidak.
Yang membedakan Adam dari Iblis bukanlah ada atau tidaknya kesalahan, melainkan bagaimana mereka menyikapi kesalahan itu.
Adam segera menyadari kekeliruannya. Ia kembali kepada Allah dengan penuh penyesalan. Allah pun membimbingnya dengan kalimat-kalimat tobat.
Allah berfirman:
«"Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, lalu Allah menerima tobatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang."
(QS. Al-Baqarah: 37)»
Inilah salah satu pelajaran terbesar dalam kehidupan.
Manusia bukan makhluk yang tidak pernah salah.
Manusia terbaik adalah mereka yang segera kembali kepada Allah ketika tergelincir.
Rahmat Allah selalu lebih dahulu menyambut hamba yang mau kembali kepada-Nya.
Misi Manusia Dimulai di Bumi
Sesudah tobat Adam diterima, Allah kembali berfirman:
«قُلْنَا اهْبِطُوا مِنْهَا جَمِيعًا ۖ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنْ تَبِعَ هُدَايَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
"Kami berfirman, 'Turunlah kamu semua dari surga! Lalu jika benar-benar datang petunjuk-Ku kepadamu, maka siapa saja yang mengikuti petunjuk-Ku, tidak ada rasa takut atas mereka dan mereka tidak pula bersedih hati.'"
(QS. Al-Baqarah: 38)»
Ayat ini bukan sekadar perintah turun ke bumi.
Ayat ini merupakan piagam kehidupan seluruh umat manusia.
Sejak hari itu Allah menetapkan bahwa kehidupan manusia akan selalu berada di antara dua jalan.
Jalan pertama adalah mengikuti petunjuk Allah.
Jalan kedua adalah mengikuti bisikan hawa nafsu dan godaan setan.
Pilihan itulah yang menentukan masa depan setiap manusia.
Apa Jaminan bagi Orang yang Mengikuti Petunjuk Allah?
Allah memberikan kabar yang sangat menenangkan.
Mereka yang mengikuti petunjuk-Nya akan memperoleh dua anugerah besar.
Pertama, tidak ada rasa takut terhadap masa depan.
Kedua, tidak ada penyesalan yang menghancurkan hati terhadap masa lalu.
Mengapa demikian?
Karena orang beriman memahami bahwa seluruh hidup berada dalam ketentuan Allah.
Ketika menghadapi musibah, ia bersabar.
Ketika memperoleh nikmat, ia bersyukur.
Ketika kehilangan sesuatu yang dicintainya, ia yakin bahwa Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik apabila hal itu membawa kebaikan baginya.
Keimanan melahirkan ketenangan yang tidak bergantung pada keadaan dunia.
Mengapa Allah Melarang Sebagian Kenikmatan?
Bukankah semua manusia menyukai kenikmatan?
Benar.
Namun tidak semua kenikmatan membawa kebaikan.
Karena itulah Allah mengharamkan sebagian makanan, minuman, maupun perbuatan tertentu.
Larangan tersebut bukan untuk menyulitkan manusia, melainkan untuk melindungi mereka dari kerusakan yang mungkin tidak selalu tampak oleh pandangan manusia.
Orang yang memahami hikmah syariat akan menjauhi perkara haram sebagaimana seseorang menjauhi penyakit yang membahayakan dirinya.
Lebih dari itu, seorang mukmin menyadari bahwa setiap dosa meninggalkan noda pada hati, sedangkan setiap ketaatan membersihkan dan memuliakannya.
Bagaimana Nasib Orang yang Menolak Petunjuk?
Setelah menjelaskan jalan keselamatan, Allah menjelaskan pula jalan kebinasaan.
Allah berfirman:
«"Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itulah penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya."
(QS. Al-Baqarah: 39)»
Mengapa mereka mendapat balasan demikian?
Karena mereka bukan sekadar tidak mengetahui kebenaran.
Mereka menolak, mengingkari, bahkan mendustakan petunjuk yang telah datang kepada mereka.
Al-Qur'an menjelaskan bahwa bentuk kekafiran tidak selalu lahir karena ketidaktahuan.
Sering kali penyebabnya adalah kesombongan yang membuat seseorang enggan tunduk kepada kebenaran.
Sebagaimana firman Allah:
«"...Sebenarnya mereka bukan mendustakan engkau, tetapi orang-orang zalim itulah yang mengingkari ayat-ayat Allah."
(QS. Al-An'am: 33)»
Sejak Hari Itu, Peperangan Tidak Pernah Berakhir
Peristiwa turunnya Adam ke bumi bukanlah penutup kisah.
Justru di sanalah sejarah manusia dimulai.
Peperangan antara petunjuk Allah dan godaan setan berlangsung terus dari generasi ke generasi.
Namun Allah tidak membiarkan manusia berjuang sendirian.
Dia mengutus para nabi, menurunkan kitab-kitab-Nya, dan memberikan petunjuk yang jelas.
Karena itu, setiap manusia telah mengetahui jalan menuju kemenangan.
Jika ia mengikuti petunjuk Allah, hidupnya akan dipenuhi ketenangan, harapan, dan keselamatan.
Sebaliknya, jika ia memilih berpaling dari petunjuk tersebut, maka akibatnya pun kembali kepada dirinya sendiri.
Dengan demikian, kisah Nabi Adam bukan sekadar kisah manusia pertama. Ia adalah cermin perjalanan setiap manusia. Kita semua pernah tergelincir, tetapi pintu tobat tetap terbuka. Kita semua hidup di medan perjuangan yang sama, dan kemenangan hanya akan diraih oleh mereka yang berpegang teguh kepada petunjuk Allah.
Link Kami
Beberapa Link Kami yang Aktif