Yang Pertama Membangun Ka'bah
Sesungguhnya, Baitul Haram adalah rumah pertama yang dibangun untuk tempat beribadah manusia kepada Allah di muka bumi. Namun, siapakah yang pertama kali membangunnya? Apakah Nabi Ibrahim, sebagaimana yang selama ini dikenal, ataukah telah ada bangunan sebelumnya?
Al-Qur'an menegaskan:
"Sesungguhnya rumah yang pertama kali dibangun untuk (tempat beribadah) manusia adalah Baitullah yang di Bakkah (Makkah), yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam." (Ali 'Imran: 96)
Ayat ini menunjukkan kedudukan Baitullah sebagai tempat ibadah pertama bagi manusia. Bukan sekadar bangunan untuk melaksanakan ritual, melainkan pusat penghambaan kepada Allah, tempat manusia melakukan tawaf, salat, dan i'tikaf.
Ibnu Katsir menjelaskan:
"Allah memberitahukan bahwa rumah yang pertama kali dibangun untuk manusia, yakni untuk tempat ibadah dan manasik mereka, tempat mereka melakukan tawaf, salat, dan iktikaf, adalah Baitul Haram."
Dengan demikian, sejarah Baitullah tidak semata-mata dimulai dari pembangunan yang dilakukan Nabi Ibrahim bersama Nabi Ismail. Ada petunjuk dalam sejumlah riwayat bahwa keberadaan dan pemilihan tempat Baitullah telah mendahului masa keduanya, bahkan berkaitan dengan permulaan sejarah manusia di bumi.
Sebelum Nabi Ibrahim, Siapa yang Membangunnya?
Ketika Allah berfirman tentang Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail:
"Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail." (Al-Baqarah: 127)
Ibnu Abbas menjelaskan bahwa Nabi Ibrahim membangun Baitullah di atas pondasi yang telah ada sebelumnya. Dalam riwayat yang dinukil, pondasi tersebut telah ada sejak dua ribu tahun sebelum penciptaan bumi. Kemudian, bumi dibentangkan dari bawahnya.
Mujahid juga berkata:
"Allah menciptakan tempat Baitullah ini sebelum menciptakan apa pun di bumi dengan jarak waktu dua ribu tahun. Sementara pondasi Baitullah berada di bawah bumi lapis ketujuh."
Keterangan-keterangan tersebut memberikan gambaran bahwa tempat Baitullah bukanlah tempat yang baru dipilih ketika Nabi Ibrahim datang ke Makkah. Tempat itu telah memiliki kedudukan khusus dalam ketetapan Allah.
Namun, siapakah yang pertama kali mendirikan bangunannya?
Al-Qurthubi menyebutkan adanya beberapa pendapat. Ada yang mengatakan bahwa para malaikatlah yang pertama kali membangunnya. Ada pula yang berpendapat bahwa Allah memerintahkan Nabi Adam untuk membangun sebuah rumah di bumi setelah diturunkan ke sana, kemudian melakukan tawaf sebagaimana para malaikat mengelilingi Arsy di langit.
Menurut pendapat ini, Nabi Adam adalah manusia pertama yang membangun Baitullah. Setelah itu, bangunannya diteruskan atau diperbarui oleh generasi berikutnya hingga akhirnya Nabi Ibrahim membangunnya kembali.
Al-Qurthubi mengingatkan bahwa pendapat-pendapat tersebut memiliki kemungkinan masing-masing dan tidak semuanya terlepas dari perbedaan kekuatan riwayat. Karena itu, diperlukan dalil yang sahih untuk memastikan siapa yang pertama kali mendirikan bangunannya.
Ali bin Abi Thalib juga dinukil pernah berkata:
"Allah telah memerintahkan para malaikat membangun Baitullah di bumi dan agar mereka tawaf mengelilinginya. Ini terjadi sebelum diciptakannya Nabi Adam. Lantas Nabi Adam membangunnya dan tawaf mengelilinginya. Kemudian dilanjutkan para nabi sesudah Nabi Adam. Lalu Nabi Ibrahim menyempurnakan bangunannya."
Berbagai keterangan tersebut memperlihatkan satu hal penting: pembangunan Baitullah oleh Nabi Ibrahim bukan berarti tempat itu baru pertama kali dikenal sebagai tempat ibadah. Ada sejarah yang lebih panjang di baliknya.
Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha: Dua Pusat Ibadah Pertama
Salah satu petunjuk penting mengenai sejarah awal Baitullah terdapat dalam hadis sahih yang diriwayatkan Imam Muslim dari Abu Dzarr.
Ia bertanya kepada Rasulullah saw.,
"Masjid apakah yang pertama kali dibangun di bumi?"
Beliau menjawab,
"Masjidil Haram."
Aku bertanya lagi,
"Lalu masjid apa?"
Beliau menjawab,
"Masjidil Aqsha."
Aku bertanya,
"Berapa jarak waktu antara keduanya?"
Beliau menjawab,
"Empat puluh tahun."
Hadis ini memberikan informasi penting mengenai urutan pembangunan dua tempat ibadah yang memiliki kedudukan istimewa dalam sejarah manusia.
Masjidil Haram merupakan yang pertama, kemudian Masjidil Aqsha dibangun empat puluh tahun sesudahnya.
Sementara itu, pembangunan Baitul Maqdis yang dikaitkan dengan Nabi Sulaiman terjadi jauh setelah masa Nabi Ibrahim. Nabi Sulaiman sendiri merupakan keturunan Nabi Ya'qub melalui Nabi Ishaq, dan hidup beberapa generasi setelah Nabi Ibrahim.
Karena itu, para ulama menjelaskan bahwa pembangunan yang dilakukan Nabi Ibrahim dan Nabi Sulaiman bukanlah pembangunan pertama atas kedua tempat tersebut, melainkan pembangunan kembali atau penyempurnaan bangunan yang telah ada sebelumnya.
Jika Nabi Adam merupakan orang pertama yang membangun Baitullah, sebagaimana salah satu pendapat yang dinukil para ulama, maka sangat mungkin pula generasi sesudahnya turut membangun tempat ibadah lainnya.
Namun, mengenai siapa yang pertama kali mendirikan masing-masing bangunan, terdapat sejumlah pendapat yang tidak semuanya dapat dipastikan. Allah lebih mengetahui hakikat sejarahnya.
Baitullah Telah Dipilih Sejak Awal Penciptaan
Ada petunjuk lain yang memperkuat kedudukan Makkah sebagai tanah suci sejak masa yang sangat awal.
Pada hari penaklukan Makkah, Rasulullah saw. bersabda:
"Sesungguhnya negeri ini adalah negeri haram. Allah telah mengharamkannya ketika menciptakan langit dan bumi. Maka negeri ini tetap menjadi tanah haram karena diharamkan Allah hingga Hari Kiamat."
Hadis ini menunjukkan bahwa kesucian Makkah bukanlah ketetapan yang baru muncul pada masa Nabi Ibrahim ataupun Nabi Muhammad. Allah telah menetapkannya sejak penciptaan langit dan bumi.
Hal ini juga berkaitan dengan doa Nabi Ibrahim ketika menempatkan sebagian keturunannya di lembah Makkah:
"Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati." (Ibrahim: 37)
Penyebutan Baitullah dalam doa tersebut menunjukkan bahwa Nabi Ibrahim datang ke sebuah tempat yang telah memiliki kedudukan khusus di sisi Allah.
Al-Qurthubi juga mengaitkan ayat ini dengan keterangan tentang keberadaan Baitullah sebelum peristiwa banjir besar.
Dengan demikian, dapat dipahami bahwa Baitullah memiliki sejarah yang jauh melampaui masa pembangunan kembali oleh Nabi Ibrahim. Tempatnya telah dipilih Allah, kesuciannya telah ditetapkan, dan keberadaannya berkaitan dengan sejarah tauhid sejak awal kehidupan manusia.
Baitullah: Warisan Tauhid Para Nabi
Jika kita menelusuri sejarah para nabi, akan terlihat bahwa pusat kehidupan mereka tidak selalu berada di satu tempat.
Kaum Nabi Hud menetap di Ahqaf. Kaum Nabi Shalih berada di Hijr. Nabi Syu'aib berdakwah di Madyan. Demikian pula para nabi lainnya yang diutus kepada umat dan wilayah masing-masing.
Sementara itu, Baitullah tetap memiliki kedudukan khusus sebagai pusat ibadah kepada Allah.
Seiring perjalanan zaman, bangunan Baitullah mengalami perubahan. Sebagian riwayat menyebutkan bahwa bangunannya pernah ditinggikan atau mengalami kerusakan akibat banjir besar, sehingga yang tersisa hanyalah pondasinya. Setelah itu, Nabi Ibrahim bersama Nabi Ismail kembali meninggikan dasar-dasarnya dan membangun Baitullah.
Peristiwa tersebut bukan sekadar pembangunan fisik. Ada kesinambungan misi tauhid yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Nabi Ibrahim tidak sedang membangun tempat ibadah yang sama sekali baru. Ia sedang menghidupkan kembali sebuah pusat penghambaan kepada Allah yang telah memiliki sejarah panjang dalam kehidupan manusia.
Kemudian, dari keluarga yang memiliki hubungan erat dengan Baitullah, Allah mengutus Nabi Muhammad saw. Beliau membawa risalah terakhir sebagai petunjuk bagi seluruh manusia.
Di sinilah kita dapat memahami hubungan antara Baitullah, Nabi Ibrahim, dan Nabi Muhammad. Ketiganya berada dalam satu rangkaian sejarah tauhid yang sama.
Baitullah bukan sekadar peninggalan sejarah Nabi Ibrahim. Ia merupakan warisan tauhid para nabi, sekaligus simbol penghambaan manusia kepada Allah.
Umat Muhammad pun memiliki tanggung jawab untuk meneruskan warisan tersebut. Bukan dengan mengklaim kemuliaan tempatnya semata, melainkan dengan menghidupkan kembali nilai tauhid yang menjadi tujuan pembangunannya.
Baitullah dan Amanah Umat Muhammad
Allah menjadikan umat Islam sebagai umat pertengahan dan umat pilihan yang mengemban amanah kesaksian atas manusia.
Allah berfirman:
"Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu." (Al-Baqarah: 143)
Ayat ini memberikan tanggung jawab besar kepada umat Islam. Mereka bukan hanya umat yang mewarisi tempat suci, tetapi juga umat yang harus membuktikan kebenaran ajaran tauhid melalui kehidupan dan perbuatannya.
Baitullah menjadi simbol kesatuan akidah dan arah penghambaan. Seluruh umat Islam menghadap ke satu kiblat, meskipun berasal dari bangsa, bahasa, budaya, dan wilayah yang berbeda.
Warisan Baitullah bukanlah sekadar bangunan yang harus dijaga secara fisik. Yang lebih penting adalah menjaga tujuan dibangunnya rumah tersebut: agar manusia beribadah hanya kepada Allah.
Karena itu, ketika seorang muslim datang ke Makkah, sesungguhnya ia sedang mendatangi tempat yang menyimpan jejak panjang perjuangan tauhid. Ia tidak hanya mengunjungi sebuah bangunan bersejarah, tetapi juga memasuki ruang yang menghubungkan dirinya dengan perjalanan para nabi.
Haji: Menghidupkan Kembali Warisan Para Nabi
Haji merupakan salah satu rukun Islam yang menghubungkan umat Muhammad dengan jejak pengabdian Nabi Ibrahim dan para nabi sebelumnya.
Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyeru manusia agar melaksanakan haji.
"Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebagian daripadanya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir." (Al-Hajj: 27–28)
Seruan Nabi Ibrahim itu terus bergema hingga hari ini. Manusia datang dari berbagai penjuru dunia, menempuh perjalanan panjang, meninggalkan keluarga, pekerjaan, harta, dan kenyamanan hidup untuk memenuhi panggilan Allah.
Di Baitullah, perbedaan bangsa dan kedudukan sosial seharusnya tidak lagi menjadi ukuran kemuliaan. Semua manusia berdiri sebagai hamba Allah. Yang membedakan mereka hanyalah ketakwaan, kualitas amal, dan ketulusan penghambaan kepada-Nya.
Ibadah haji juga menghimpun berbagai bentuk pengabdian. Di dalamnya terdapat salat, sedekah, zikir, doa, kesabaran, keikhlasan, pengorbanan, dan ketaatan. Ada tawaf mengelilingi Ka'bah, sa'i mengikuti jejak Hajar, serta wukuf di Arafah sebagai momentum penghambaan dan pengakuan atas kelemahan diri di hadapan Allah.
Tidak mengherankan jika haji menjadi muktamar umat Islam seluruh dunia. Umat dari berbagai negeri berkumpul di satu tempat, menghadap kepada satu Tuhan, mengikuti satu manasik, dan memenuhi satu seruan.
Puncak pertemuan itu terjadi di Arafah. Rasulullah saw. memberitakan bahwa Allah membanggakan hamba-hamba-Nya yang berkumpul di sana di hadapan para malaikat.
Namun, kemuliaan haji tidak berhenti pada keberhasilan seseorang tiba di Makkah, mengenakan pakaian ihram, atau menyelesaikan rangkaian manasik. Yang lebih penting adalah perubahan yang dibawa pulang setelah seluruh rangkaian ibadah selesai.
Apakah tauhidnya semakin kuat? Apakah penghambaan kepada Allah semakin tulus? Apakah kesabarannya semakin baik? Apakah kepeduliannya kepada sesama semakin besar?
Haji mabrur bukan hanya tentang perjalanan menuju Baitullah, melainkan juga tentang perjalanan pulang menuju kehidupan yang lebih diridhai Allah.
Rasulullah saw. menjelaskan bahwa haji mabrur tidak memiliki balasan selain surga.
Maka, ketika berdiri di hadapan Ka'bah, sepatutnya kita mengingat bahwa rumah ini bukan sekadar bangunan yang dibangun dan diperbarui oleh para nabi. Ia adalah warisan tauhid yang menghubungkan seluruh perjalanan kenabian.
Kita datang bukan hanya untuk menyaksikan Ka'bah, tetapi untuk memperbarui janji penghambaan kepada Allah.
Kita datang bukan hanya mengikuti jejak Nabi Ibrahim, tetapi juga meneruskan misi tauhid yang diwariskan para nabi.
Sebab, yang harus kembali tegak di sekitar Baitullah bukan hanya bangunannya, melainkan juga kehidupan manusia yang menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan penghambaan.
Sumber:
Ali Muhammad Ash-Shalabi, Adam, Pustaka Al-Kautsar, 2022, Hal 729-733
Link Kami
Beberapa Link Kami yang Aktif