basmalah Pictures, Images and Photos
10/09/22 - Our Islamic Story

Choose your Language

Mewujudkan Kemukjizatan Oleh: Nasrulloh Baksolahar (Channel Yotube Dengerin Hati) Terlalu lama di medan kata-kata, kapan menuju ...

Mewujudkan Kemukjizatan

Oleh: Nasrulloh Baksolahar
(Channel Yotube Dengerin Hati)

Terlalu lama di medan kata-kata, kapan menuju medan amal? Terlalu lama di medan penentuan strategi dan methodelogi, kapan menuju medan penerapan dan realisasi? Terlalu lama dihabiskan waktu hanya sebagai tukang pidato dan ahli bicara, padahal zaman menuntut untuk segera mempersembahkan amal nyata yang profesional dan produktif.

Dunia kini tengah berlomba untuk membangun unsur-unsur kekuatan dan mematangkan persiapan, sementara kita masih berada di dunia kata-kata dan mimpi. Perdebatan terus menghiasi seperti benang kusut yang tak bisa diurai. Setiap orang dan kelompok bangga dengan pendapatnya sendiri.

Di era Rasulullah saw, siapakah yang paling banyak berdebat? Para munafikin. Sangat sholeh di depan Rasulullah saw, namun lari kebelakang, mundur, banyak alasan bila lantunan jihad dan amal dikumandangkan. Di era Ali bin Abi Thalib, siapakah yang paling banyak bicara dan mengecam? Saat jihad dikumandangkan justru memusuhi Ali bin Abi Thalib.

Bila Islam itu bukan politik? Bila Islam itu bukan sosial? Bila Islam itu bukan ekonomi? Bila Islam itu bukan peradaban? Lantas apa itu Islam? Apakah hanya rakaat kosong tanpa kehadiran hati? Apakah hanya lafadz-lafadz dzikir? Hanya sebatas spiritualitas keagamaan saja?

Daya jangkau Islam itu universal, daya jangkau dan daya sentuhnya mencakup seluruh aspek kehidupan manusia, baik bagi mereka yang sedang bangkit, yang telah mapan, yang baru tumbuh, maupun yang sudah maju. Bila salah satu aspek kehidupan disentuh dan konsisten dengan nilai Islam maka kemukjizatannya akan bermunculan kembali.

Kemukjizatan Islam akan kembali ke tengah kehidupan manusia, bila ruang geraknya tidak dipersempit di ranah ibadah formal semata. Sentuhan Allah, kebersamaan Allah, pertolongan Allah, kemudahan dari Allah dan keberkahan kehidupan hanya terwujud dengan menerapkan sistem Allah dalam realita kehidupan ini.

Soedirman Mengajar dari Kisah Pewayangan   Jendral Soedirman. wikipedia.org TEMPO.CO, Jakarta -- Soedirman, Panglima Besar TNI i...


Soedirman Mengajar dari Kisah Pewayangan  


Jendral Soedirman. wikipedia.org
TEMPO.CO, Jakarta -- Soedirman, Panglima Besar TNI itu adalah seorang pengajar. Sebagai pendidik, ia tak hanya sekedar memandu murid dari depan kelas. Dia juga menggunakan aneka metode yang membuat murid tertarik belajar. Berikut adalah nukilan kisahnya mengajar seperti yang dimuat dalam Majalah Tempo, Senin, 12 November 2012.

Lulus dari Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) Parama Wiworotomo, lembaga setingkat SMP, pada 1934, Soedirman sempat melanjutkan pendidikan di Hollandsche Indische Kweekschool (HIK) alias Sekolah Guru Bantu di Solo, Jawa Tengah.

Soedirman tak tamat HIK. Dia kembali ke Cilacap setahun kemudian. Soedirman lantas bertemu R. Mohammad Kholil, tokoh Muhammadiyah Cilacap. Berkat guru pribadinya itu, dia diangkat menjadi guru sekolah dasar di Hollandsch-Inlandsche School (HIS) Muhammadiyah Cilacap.

Bangunan HIS Muhammadiyah, tempat Soedirman dulu mengajar, kini tak berbekas. Sejak 1993, bangunan tua di tepi Jalan Jenderal Soedirman, Cilacap, itu dirobohkan. Sebagai gantinya, tepat di lokasi tersebut berdiri Taman Kanak-kanak Aisyiah 1.

Sekolah usia dini yang terdiri dari dua kelas dan satu ruang guru tersebut bersembunyi di balik Gedung Dakwah Soedirman, bangunan dua lantai markas Pengurus Daerah Muhammadiyah Cilacap. “Ini untuk mengenang sekaligus tak mengubah fungsi lokasi tersebut sebagai tempat pendidikan,” kata Arif Romadlon, Ketua Pengurus Daerah Muhammadiyah Cilacap, Ahad lalu.

Sardiman, dosen sejarah Universitas Negeri Yogyakarta, dalam bukunya Guru Bangsa: Sebuah Biografi Jenderal Soedirman (2008), menuturkan bahwa Soedirman berhasil menarik perhatian murid-muridnya saat mengajar.

Marsidik, salah satu murid HIS Muhammadiyah yang diwawancarai Sardiman pada 1997, menuturkan cara mengajar Soedirman tak monoton, terkadang sambil bercanda dan acap diselingi pesan agama dan nasionalisme. “Soedirman juga sering mengambil kisah-kisah pewayangan,” kata Sardiman kepada Tempo pada Ahad lalu.

TIM TEMPO

Kisah Kiai Busyro Syuhada, Jawara Asal Banjarnegara Guru Silat Jenderal Soedirman Rabu, 26 Mei 2021 21:25 WIB Editor: Adi Suhend...


Kisah Kiai Busyro Syuhada, Jawara Asal Banjarnegara Guru Silat Jenderal Soedirman




Rabu, 26 Mei 2021 21:25 WIB
Editor: Adi Suhendi
TRIBUNNEWS.COM, BANJARNEGARA - Pusara di sebuah lahan sempit yang berada di belakang masjid Desa Binorong, Kecamatan Bawang, Banjarnegara, Jawa Tengah menyimpan sebuah cerita sejarah.

Di tempat tersebut, diketahui Kiai Busyro Syuhada, pendekar silat yang melegenda dimakamkan.

Tak ada beda makam tokoh tersebut dengan makam lain di sekitarnya.

Hanya batu nisan tua yang menancap di pusaranya.


Tidak ada bangunan atau pagar yang menandai kekeramatannya.

Rumput liar tumbuh subur menutupi permukaan lahan.

Meski namanya kurang populer, Mbah Busyro nyatanya telah melahirkan banyak tokoh pendekar, di antaranya pahlawan nasional Panglima Besar Jenderal Soedirman.

Bukan hanya memiliki kemampuan militer dan taktik perang, Soedirman rupanya juga membekali dirinya dengan ilmu bela diri dan spiritual.

Untuk urusan itu, Jenderal Soedirman harus mengakui kehebatan Busyro Syuhada, jawara silat di zaman kolonial.

Hingga ia memutuskan pergi ke Banjarnegara untuk menemui sang jawara.

Jenderal Soedirman mendaftar sebagai murid di padepokan yang diasuh kiai Busyro.

Bangunan padepokan yang berada di sisi jalan nasional itu kini sudah tak berbekas.

Baca juga: Mentan SYL di Indonesia Food Summit 2021: Pertanian Adalah Tanggung Jawab Bersama

Lahan padepokan telah disulap menjadi Rumah Sakit Islam (RSI) Bawang, Banjarnegara.


Di padepokan itu, Soedirman bersama santri lainnya dari berbagai daerah digembleng dengan ilmu bela diri dan spiritual.

Tetapi Fuad tak mengetahui persis materi spesifik yang diajarkan kakeknya kepada Jenderal Soedirman.

“Yang diajarkan silat dan ilmu rohani,” kata Fuad, cucu KH Busyro Syuhada, Selasa (25/5/2021)


Jenderal Soedirman tak lama menimba ilmu di padepokan, hanya 21 hari.

Tetapi di waktu yang singkat itu, Soedirman benar-benar total belajar.


Keseriusannya ia buktikan dengan menetap atau tinggal di langgar padepokan.

Sehingga, ia bisa maksimal menyerap ilmu dari sang guru.

Sayang Fuad tak mengetahui cerita lebih lengkap perihal hubungan guru-murid Kiai Busyro dengan Jenderal Soedirman.

Hanya yang ia tahu, setelah berguru ke Mbah Busyro, Soedirman sempat berceramah pada acara gerakan kepanduan Hizbul Wathan di dataran tinggi Dieng, Kecamatan Batur, Banjarnegara.

“Habis di Banjar, dia diundang untuk ceramah Hizbul Wathan di Batur,” katanya


Guru Jenderal Soedirman ini jelas bukan orang sembarangan.
Busyro Syuhada adalah jawara silat yang kesohor di zamannya.

Ia memenangi banyak pertarungan dan sayembara di berbagai daerah.

Di antara pertarungan yang membuatnya kondang adalah ketika melawan seorang warga Belanda.


Pria Belanda itu mulanya sempat sesumbar.

Fuad menceritakan, ia menantang orang Indonesia yang paling kuat untuk melawannya.


Tantangan itu sampai ke telinga Busyro.

Ia menyambut tantangan orang asing itu.

Duel keduanya pun dimulai.

Mereka berusaha saling melumpuhkan.


Pria asing itu tentu bukan lawan sembarangan.

Ia sempat berhasil mengempit anggota tubuh Busyro.

Tetapi Busyro tak gampang ditaklukkan.

Ia balik menyerang.

Dalam kondisi terjepit, Busyro mengeluarkan jurus tendangan.
Pria asing itu terkena tendangan maut Busyro di selangkangan.

Tubuh pria bule itu seketika roboh. Ia takluk di tangan Busyro. Busyro berhasil memenangkan pertarungan mematikan itu. Sang jawara kembali berjaya di arena pertarungan.

"Setiap ada sayembara pendekar silat, dia selalu menang," katanya.

Penulis: khoirul muzaki

Mengenal Kiainya Tentara Indonesia & Guru Jenderal Sudirman REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Muhyiddin Di balik sosok hebat, pasti ada...


Mengenal Kiainya Tentara Indonesia & Guru Jenderal Sudirman



REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Muhyiddin

Di balik sosok hebat, pasti ada seorang guru yang mendoakan dan membimbing. Termasuk Jenderal Besar Sudirman. Keteguhan hati dan keberanian sang jenderal melawan penjajah Belanda diwariskan dari salah satu gurunya, KH Bey Arifin, ulama asal Sumatra Barat.

Mungkin tak banyak yang tahu siapa KH Bey Arifin. Padahal, sepak terjangnya di berbagai organisasi ulama, akademisi, hingga dunia militer membawanya mengenal banyak tokoh di Indonesia.

KH Bey Arifin menjadi juru dakwah dan imam tentara selama bertahun-tahun. Ia pun menjalin persahabatan dengan banyak tokoh militer Tanah Air, termasuk Panglima Besar Jenderal Sudirman.

Sosok yang akrab disapa Pak Dirman itu menganggap Kiai Bey Arifin sebagai salah seorang gurunya. Dalam buku biografi Bey Arifin, Jenderal Sudirman menyumbangkan tulisan berjudul Ustadz H Bey Arifin sebagai Perwira Rohani dalam Kesatuanku dan Juga Sebagai Guruku.

Selain dekat dengan kalangan tentara, Kiai Bey Arifin tentunya juga akrab dengan para ulama. Apalagi, ia pernah menjabat sebagai ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Cabang Jawa Timur. Lelaki kelahiran Sumatra Barat itu juga aktif dalam pergerakan politik kebangsaan, misalnya, melalui Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi). Di Konstituante, ia duduk sebagai anggota mewakili partai tersebut.

Dalam catatan sejarah, KH Bey Arifin juga pernah belajar bersama-sama dengan Ketua Umum MUI per tama Indonesia, yaitu Buya Hamka. Ia dan Buya Hamka pernah ikut dalam forum diskusi besar kalangan alim ulama di Masjid Batu Merah, Ambon, Maluku, tepatnya pada mo men Hari Kebangkitan Nasional. Dalam buku Masjid-Masjid Bersejarah di Indonesia dijelaskan, Masjid Batu Merah tak cukup lapang untuk menampung para peserta forum. Maka, pada 1924 masjid itu pun direnovasi.

Cendekiawan Muslim Prof Deliar Noer pernah mengadakan penelitian tentang gerakan-gerakan Islam di Indonesia pada 1955. Saat melakukan penelitian itu, ia menumpang di rumah Kiai Bey Arifin yang berada di kompleks perumahan dinas militer, Jalan Perwira, Surabaya.

Deliar Noer pun mengenang masa-masa dirinya menumpang di rumah sang kiai. Selama sebulan, ia mengaku mendapatkan kesan yang mendalam tentang sosok Kiai Bey Arifin dan keluarganya. Menurut dia, cita-cita Kiai Bey Arifin untuk menjadi seorang mubaligh saat itu sudah terpenuhi.

Kalau dilihat secara lahir dan mengenal kemauan keras Bey Arifin dari dekat, tampaknya hanya Allah yang akan menghentikannya dalam berdakwah, ujar Deliar Noer, seperti dikutip dalam publikasi Kinantan edisi Agustus 1995.

Kiai Bey lahir pada 26 September 1917 di Desa Parak Laweh, Kecamatan Tilatang, Agam, Sumatra Barat. Ayahnya bergelar Datuk Laut Basa bernama Muhammad Arif, ibundanya bernama Siti Zulaikha.



Dalam buku Perjalanan Panjang Seorang Dai KH Bey Arifin tulisan Totok Djuroto, dirawikan, ayahnya Bey Arifin hanya seorang petani. Akan tetapi, kerja kerasnya berbuah manis. Bey Arifin dapat masuk sekolah umum tingkat dasar (Folkschool).

Di kelas, ia fokus belajar, terutama mengingat perjuangan ayahnya dalam mencari nafkah. Tiga tahun kemudian, ia lulus dengan hasil yang memuaskan.

Karena masih haus ilmu pengetahuan, ia pun melanjutkan pendidikan ke Vervolgschool. Saat duduk di kelas empat, ia juga belajar agama di Ibtidaiyah Diniyahscholl, Simpang Empat. Sekolah Islam itu terletak tidak jauh dari desanya. Pada 1931, ia berhasil menyelesaikan studinya di Vervolgschool.

Sekitar tujuh tahun kemudian, Bey Arifin meneruskan pendidikan di Islamic College Kota Padang. Waktu itu, ia sudah terbiasa dalam kegiatan dakwah Islam. Kemampuan berceramah pun dikuasainya, terutama sejak usia 17 tahun.

Ia sering berpidato atas nama Himpunan Pemuda Islam Indonesia (HPII) di berbagai forum. Di antaranya adalah pengajian umum yang disebut sebagai Openbare Vergadering.

Di atas podium, ia kerap menyingkat namanya menjadi BJ dan menambahkan nama belakang ayahnya. Lengkapnya menjadi BJ Arifin. Namun, pada 1934 seorang sahabatnya, Tamarajaya, menyarankan agar penanda BJ diganti menjadi Bey karena lebih mudah dilafalkan. Sejak saat itu, namanya pun lebih dikenal sebagai Bey Arifin atau Ifin.

Mengikuti tradisi Minangkabau, Bey Arifin pun merantau pada 1939. Dalam buku Nasionalisme Indonesia di Kalimantan Selatan, Wajidi menjelaskan, Bey saat itu menumpang kapal Slout van Dieman. Ia berangkat bersama temannya, Maisyir Thaib, ke Banjarmasin.

Saat itu, Bey Arifin sudah menapaki usia 22 tahun. Begitu tiba di Banjarmasin, mereka lantas menuju daerah Rantau. Di sana, Bey mengajar pada Noormal School Islam, yaitu sekolah yang mendidik para calon guru.

Bey Arifin merasakan zaman pendudukan Jepang. Mulanya, Dai Nippon datang membawa janji-janji pembebasan kepada rakyat Indonesia. Namun, belakangan propaganda itu tak lagi mempan dalam memikat massa.

Apalagi, Jepang sering berlaku kejam terhadap penduduk setempat. Secercah harapan muncul ketika para pemuda pergerakan mengetahui kabar kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II.

Bey Arifin pada Agustus 1945 masih berada di Kalimantan. Seperti halnya jutaan rakyat Indonesia, ia pun larut dalam syukur dan gembira usai menerima berita Proklamasi RI.

Berikutnya, ia mendapati informasi, tentara Sekutu mulai memasuki wilayah Tanah Air. Bahkan, Belanda dipastikan turut membonceng balatentara pemenang Perang Dunia II itu dengan niatan ingin kembali menjajah Indonesia.

Pada September 1945, Bey Arifin dan keluarganya menumpang sebuah perahu Madura untuk meninggalkan Kalimantan. Ia menuju Surabaya, Jawa Timur. Di kota itu, suasana sudah menegangkan. Kaum Republik sudah siap tempur melawan tentara Sekutu, utamanya Inggris.


Bey Arifin pun terlibat langsung dalam Perang 10 November di Surabaya. Ia bergabung dengan Laskar Hizbullah. Sesudah pertempuran yang kelak diperingati sebagai Hari Pahlawan itu, ia pun hijrah ke Madiun untuk jangka waktu tertentu. Usai masa revolusi, ia kembali lagi ke Surabaya dan bekerja sebagai guru agama pada Yayasan Pendidikan al-Irsyad.

Waktu itu, Bey Arifin memboyong seluruh anggota keluarganya ke Surabaya. Dengan bantuan dari pihak al-Irsyad, kepindahan Bey dari Madiun ke Surabaya dilakukan dengan menggunakan pesawat terbang. Sebab, jalur darat waktu itu kurang kondusif.

Dalam era Orde Lama, kariernya sebagai juru dakwah semakin mulus. KH Bey Arifin tidak hanya mengajar di sekolah dan berdakwah di kalangan sipil. Ia pun aktif menjadi penceramah di kalangan tentara. Bahkan, ia pernah menjadi imam tentara di Kodam Brawijaya dan turut mengisi Pusat Rohani Islam Angkatan Darat ABRI (kini Tentara Nasional Indonesia/TNI).

Di atas podium, Kiai Bey Arifin tak selalu menggunakan gaya bahasa formal. Ia juga tak jarang membumbui ceramahnya dengan berbagai anekdot lucu. Karena itu, menurut Totok Juroto, sosok ulama ini sangat disenangi oleh semua tentara, baik dari lapisan prajurit bawahan maupun perwira.

Bahkan, rohaniawan yang mengurusi agama Kristen Protestan juga nyaman berinteraksi dengan Kiai Bey Arifin yang notabene Muslim. Hal ini membuktikan, dalam memberi pengajian seorang juru dakwah penting pula melontarkan guyonan. Mengutip nasihat almarhum KH Maimoen Zubair (Mbah Moen), Kiai yang tidak bisa guyon saat mengaji kitab itu kurang lengkap ilmunya.

Kemampuan humor yang dimiliki KH Bey Arifin menjadi penting agar pesan-pesan agama bisa membekas dalam pikiran jamaahnya. Melalui anekdot, ia dapat lebih mudah menyampaikan makna tekstual yang mungkin terbilang berat kepada para pendengarnya.

Sejak menjadi imam tentara, ia merilis sejumlah karya. Di antaranya adalah Hidup Sesudah Mati (1969), Mengenal Tuhan (1963) dan Samudera al-Fatihah (1966). Saat berumur 72 tahun, Kiai Bey Arifin tercatat sudah menghasilkan sekitar 47 buku. Seluruhnya membahas tentang agama Islam, termasuk dari segi filsafat.

KH Bey Arifin berpulang ke rahmatullah pada 30 April 1995 dalam usia 77 tahun. Selama hidupnya, sang kiai tampaknya benar-benar terpengaruh hadis sahih yang diriwayatkan Imam Bukhari. Sabda Nabi SAW, Sampaikan dariku walau hanya satu ayat. Itulah yang diamalkan Kiai Bey Arifin hingga akhir hayatnya. ed: hasanul rizqa

Mengenal Kiai Subchi, Guru Jenderal Sudirman Jurnalis - Ayu Dita Rahmadhani     Kemerdekaan rakyat Indonesia didapat dari perjua...


Mengenal Kiai Subchi, Guru Jenderal Sudirman
Jurnalis - Ayu Dita Rahmadhani

   
Kemerdekaan rakyat Indonesia didapat dari perjuangan semua golongan rakyat. Termasuk perjuangan kaum santri dan barisan kiai yang berjuang keras untuk menyelamatkan negeri.

 
Jenderal Soedirman

Namun kisah perjuangan para kiai dan santri mulai tenggelam dari narasi sejarah Indonesia. Perjuangan mereka sering tak terlihat dalam buku-buku teks pelajaran sejarah di Indonesia.

Seperti dilansir NU Online, salah satunya pejuang Muslim yang ikut membela Tanah Air adalah Kiai Subchi Parakan. Ia dikenal dengan Kiai Bambu Runcing.

Kiai Subchi merupakan seorang ulama besar yang berasal dari Parakan, Temanggung, Jawa Tengah. Lahir pada tahun 1850, Subchi, atau sering disebut dengan Subeki, merupakan putra sulung Kiai Harun Rasyid yang merupakan penghulu masjid di kawasan tersebut.

Kiai Subchi dikenal sebagai ulama dan pejuang yang membakar semangat para pemuda untuk bertempur melawan penjajah. Pada masa revolusi, beliau meminta pemuda-pemuda untuk mengumpulkan bambu yang ujungnya dibuat runcing, kemudian diberi asma' dan doa khusus.

Dengan bekal bambu runcing, pemuda-pemuda Tanah Air berani berjuang di garda depan bertarung dengan melawan kolonial Belanda. Bambu runcing inilah yang kemudian menjadi simbol perjuangan bangsa Indonesia untuk mengusir penjajah Belanda.

Melansir dari akun Instagram @ulama.nusantara, Kamis (8/8/2019), Kiai Subchi dikenal sebagai seorang yang murah hati dan suka membantu warga sekitar yang kekurangan. Beliau dikenal sebagai orang yang dermawan dan suka bersedekah.

Kiai Subchi sering membagikan hasil pertanian, maupun menyumbangkan lahan kepada warga yang tidak memilikinya. Inilah kebaikan hati Kiai Subchi, hingga disegani warga dan memiliki kharisma yang sangat kuat.

Ketika barisan Kiai mendirikan Nahdlatul Ulama pada 1926, Kiai Subchi turut serta dengan mendirikan NU Temanggung. Beliau kemudian menjadi Rais Syuriah NU Temanggung. Kiai Subchi juga sangat mendukung anak-anak muda untuk berkiprah dalam organisasi.

Kiai Subchi juga dikenal sebagai sosok sederhana, zuhud dan sangat tawadhuk. Ketika banyak pemuda pejuang yang sowan untuk minta doa dan asma', Kiai Subchi justru menangis tersedu-sedu.

Dalam memoarnya 'Berangkat dari Pesantren', Kiai Saifuddin Zuhri (1919-1986) menceritakan bahwa KH Wahid Hasyim, KH. Zainul Arifin, dan KH Masjkur pernah mengunjungi Kiai Subchi. Dalam pertemuan tersebut, Kiai Subchi menangis karena banyak yang meminta doanya. Padahal ia merasa tidak layak dengan maqam tersebut.

Kiai Saifuddin Zuhri juga menuliskan bahwa, Kiai Subchi menjadi rujukan laskar-laskar yang berjuang di garda depan revolusi kemerdekaan. Berbondong-bondong barisan-barisan laskar dan TKR menuju Parakan, hanya untuk meminta doanya agar mereka mampu berperang melawan penjajah.

Bahkan Jenderal Sudirman berkunjung ke kediaman Kiai Subchi untuk meminta doa dan bantuan darinya. Beliau sowan ke kediaman Kiai Subchi.

Jenderal Sudirman sering berperang dalam keadaan suci. Beliau juga mengamalkan doa dari Kiai Subchi yang merupakan teladannya. Dari kisah ini dapat diketahui kalau Jenderal Sudirman merupakan santri Kiai Subchi.

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Al-Qur'an (196) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (49) Cerita kegagalan (1) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (6) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) Kecerdasan (220) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) Kisah Para Nabi dan Rasul (205) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) Nabi Adam (1) Nabi Ibrahim (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Musa (1) Nabi Nuh (3) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (1) Namrudz (2) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) Nusantara (210) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (154) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rehat (424) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (144) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah Penguasa (192) Sirah Sahabat (114) Sirah Tabiin (42) Sirah Ulama (90) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)