basmalah Pictures, Images and Photos
Our Islamic Story: Kisah Para Nabi dan Rasul

Choose your Language

Tampilkan postingan dengan label Kisah Para Nabi dan Rasul. Tampilkan semua postingan

Kegagalan Ilmu dan Teknologi dalam Penyelesaian Masalah Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Kegagalan para pemikir dan ilmuwan dalam men...

Kegagalan Ilmu dan Teknologi dalam Penyelesaian Masalah

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Kegagalan para pemikir dan ilmuwan dalam menyelesaikan persoalan. Tak selamanya ilmu dan pengalaman bisa memecahkan persoalan. Raja Mesir di era Nabi Yusuf meminta pemecahan persoalan kepada para pemikir dan pembesar kerajaan tentang mimpinya, namun tak seorang pun yang tahu.

Para ahli Nujum tahu makna mimpi Firaun, namun tidak tahu apa sikap yang harus diambil dari mimpi tersebut. Tidak seperti Nabi Yusuf yang tahu makna mimpi tetapi juga paham bagaimana merealisasikan ke dunia nyata sehingga menjadi sebuah solusi bukan kezaliman yang didiamkan seperti prilaku para ahli nujum kepada Firaun.

Firaun memanggil seluruh ahli sihir untuk menghadapi kekuatan Nabi Musa. Firaun memanggil seluruh ilmuwan untuk memecahkan persoalan wabah yang menyerbu Mesir, namun  tak ada yang bisa memecahkan persoalan tersebut. Bukankah saat itu Mesir penggengam peradaban dunia?

Para pembesar kaum menyelesaikan persoalan kaum nya dengan kekayaan, kekuasaan dan banyaknya pengikut, namun tak bisa menyelesaikan persoalannya. Hanya melalui para Nabi dan Rasul persoalan bisa dipecahkan.

Kaum Aad menyelesaikan persoalannya dengan teknologi tinggi. Membuat bangunan di gunung berbatu yang tinggi agar tehindar dari bencana. Namun apa yang terjadi? Teknologi tak bisa menyelamatkan dari bencana.

Kekayaan, kekuasaan, banyaknya pengikut, ilmu dan teknologi memang bisa menyelesaikan persoalan, namun tak semua persoalan bisa tuntas diselesaikannya. Ruang lingkupnya sangat terbatas dibandingkan dengan kompleksitas persoalan manusia.

Semua urusan kembali kepada Allah. Sistem kehidupan di alam semesta hanya Allah yang mengetahui-Nya. Jadi cara termudah menyelesaikan persoalan adalah dengan mengikuti bimbingan Allah. Itu cara yang mudah dan efektif. Kelak, Allah akan menunjukkan sarana-saran penyelesaiannya.

Hadirnya Sosok Nabi Yusuf di Istana Mesir Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Di era Nabi Yusuf, sang raja bermimpi tujuh sapi gemuk dim...

Hadirnya Sosok Nabi Yusuf di Istana Mesir

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Di era Nabi Yusuf, sang raja bermimpi tujuh sapi gemuk dimakan oleh tujuh sapi kurus. Apa maknanya? Allah yang rahman dan rahim mengilhamkan beragam kejadian yang akan terjadi kepada para pemimpin, sebab di pundaknyalah urusan manusia berada.

Pemimpin yang adil dan yang menegakkan kebenaran senantiasa akan ditolong dalam menghadapi persoalannya. Liku-liku hidup Nabi Yusuf hingga sampai di Mesir dari Palestina merupakan "Tangan" Allah untuk memecahkan persoalan raja Mesir. Allah menghadirkan Nabi Yusuf ke istananya tanpa rekayasanya.

Solusi itu telah dipersiapkan Allah sebelum datangnya persoalan. Seperti Allah menghadirkan era kemakmuran selama 7 tahun sebelum datangnya era krisis yang menghancurkan sehingga hanya bisa menyimpan bibit untuk era berikutnya.

Seperti Allah yang telah menghadirkan Nabi Yusuf ke Istana sebelum krisis itu terjadi. Nabi Yusuf pun baru diketahui kemukjizatannya setelah sang raja menghadapi persoalan. Sebelumnya, Nabi Yusuf "disembunyikan" Allah di balik jeruji penjara. Bisakah diduga, yang mendatangkan solusi justru dari kegelapan penjara?

Solusi tidak hadir dari para pemikir, pembesar, penasihat dan ilmuwan kerajaan yang telah bergulat dengan asam garam persoalan negara dan rakyat. Tetapi dari sosok baru yang lahir dari penempaan dan bimbingan Allah. Ternyata  pengalaman bukan jaminan hadirnya solusi.

Solusi hadir dari kerendahan hati. Raja mengakui tak paham akan makna mimpinya. Para pemikir dan penasihat kerajaan mengakui tak tahu tafsir mimpi sang raja. Akhirnya ada pembantu raja yang menceritakan pengalaman di penjara saat bertemu dengan Nabi Yusuf.

Yang bisa memberikan solusi adalah mereka yang berkarakter terpercaya. Yang menjaga amanah dan bertanggungjawab. Karakter itu disebutkan oleh pembantu raja yang pernah dipenjara dan wanita yang pernah menggoda Nabi Yusuf. Sosok pemecah masalah ada di Nabi Yusuf.

Memilih Berkarya Dalam Kesunyian  Oleh: Nasrulloh Baksolahar Era huru hara sebuah episode dimana manusia banyak berbicara dan be...

Memilih Berkarya Dalam Kesunyian 

Oleh: Nasrulloh Baksolahar


Era huru hara sebuah episode dimana manusia banyak berbicara dan berdebat, kebanjiran data dan informasi tetapi bingung bersikap. Era huru hara sebuah masa dimana manusia terus berselisih yang berkepanjangan. Era ini sangat memprihatinkan sehingga Rasulullah saw berpesan akan tibanya era ini.

Di era huru-hara, biarkan mereka berseteru dan berselisih dalam ruang kehampaan. Dari ruang gagasan ke gagasan. Dari ruang opini ke opini. Dari ruang perdebatan ke perdebatan. Adakah yang bisa dibangun dari generasi yang hidup dalam suasana ini?

Di era ini, amal pun hanya jadi sarana popularitas. Tak ada amal untuk kemaslahatan. Membela kebenaran hanya di saat tak mendapatkan jabatan kekuasaan dan saat mencari simpati untuk berkuasa. Setelah berkuasa, menjadi bagian kemungkaran baru.

Di tengah hiruk pikuk kezaliman Firaun. Nabi Musa menyingkir dari Istana. Pengembaraannya berhenti di Madyan. Mengambil cangkul. Mengolah tanah. Menanam pohon dan berternak selama 10 tahun.

Di tengah hiruk pikuk Mesir, Irak dan Syam, Nabi Ibrahim membawa bayi Ismail ke Mekah yang sunyi. Membangun generasi baru yang dekat dengan Kabah. Di tengah hiruk pikuk persengkongkolan hukum, Nabi Yusuf memilih kesunyian di penjara.

Di era sekarang, apa yang dilakukan? Urus tanah dan ternak. Patahkan mata pedang. Seperti itu pesan Rasulullah saw. Kelola yang paling dekat dengan kehidupan  pribadi kita serta mengambil jarak dengan perdebatan dan perselisihan. Biarkan yang berilmu dan berhati bersih saja yang terjun dalam perdebatan dan perselisihan.

Beramal yang penuh kesunyian tanpa terendus oleh siapapun. Tiba-tiba, Nabi Musa datang sebagai Rasul. Nabi Yusuf menjadi penasihat raja. Nabi Ismail melahirkan penghulu para Nabi dan Rasul, yaitu Muhammad saw. Tekuni, geluti dan seriusi yang paling dekat dalam ruang kesunyian, kelak huru hara perselisihan akan terbungkam dengan karya-karya dari bilik kesunyian.

Cara Filosofis Menghadapi Tantangan  Oleh: Nasrulloh Baksolahar Ini era keributan. Ini era huru-hara. Ini era carut marut. Ini e...

Cara Filosofis Menghadapi Tantangan 

Oleh: Nasrulloh Baksolahar


Ini era keributan. Ini era huru-hara. Ini era carut marut. Ini era ketidakteraturan. Sangat sulit memprediksi sesuatu karena polanya kacau. Hingga iklim pun dikatakan iklim yang ekstrim. Kekacauan menimbulkan kebingungan dan akal tidak bisa digunakan optimal.

Di suasana yang ektrim, data masa lalu sudah tak terlalu bermanfaat. Karena polanya ekstrim, jadi tak bisa digunakan untuk memprediksi masa depan. Pelajaran masa lalu yang sifatnya taktis dan strategis menjadi kurang berguna. Yang dibutuhkan hanya tinggal masa lalu yang bersifat filosofis.

Kumpulan big data. Analisa big data. Padahal perangkat analisa sangat terbatas. Sekarang,  serbuan informasi pun tak berbatas. Menghasilkan banyak perspektif. Mana yang akan dipilih? Strategi apa yang dilakukan? Sudah saatnya beralih ke filosofis.

Kisah para nabi dan rasul, menghadirkan filosofis dalam menghadapi liku-liku kehidupan.  Nabi Shaleh menghadapi persoalan ekonomi dengan cara filosofis, tidak riba dan bertransaksi sesuai timbangan atau takaran. Nabi Yusuf menyelesaikan persoalan negara dengan konsep perbekalan menghadapi akhirat.

Nabi Sulaiman mengelola kekuasaan dengan konsep bersyukur. Nabi Musa menghadapi kezaliman Firaun dengan mengikuti apa yang diperintahkan Allah. Landasan filosofis membutuhkan karakter akhirat, bukan kecerdasan akal.

Konsep filosofis menyelesaikan liku-liku kehidupan dengan berbasis mengikuti alur takdir yang telah ditetapkan oleh sang Pencipta. Terus berbuat kebaikan, bersabar dan bertakwa. Itulah salah satu dasar filosofis.

Dengan berbasis filosofis, persoalan tuntas dengan sendirinya. Tanpa mengeluarkan energi besar untuk menyelesaikannya. Pertolongan datang dengan sendirinya, tanpa merengek meminta. Carut marut eksternal tak pernah dipersoalkan, fokusnya hanya teguh pada nilai filosofis.

Adab Belajar Dari Nabi Khaidir Oleh: Nasrulloh Baksolahar Cara mendapatkan ilmu Laduni? Bersabarlah. Ikuti saja liku-liku kehidu...

Adab Belajar Dari Nabi Khaidir

Oleh: Nasrulloh Baksolahar


Cara mendapatkan ilmu Laduni? Bersabarlah. Ikuti saja liku-liku kehidupan. Perhatikan, amati dan jalani. Memang rentang waktunya panjang. Namun ilmunya menjadi sangat mendalam. Dapat mengetahui peristiwa di balik peristiwa. Mengetahui peristiwa sebelum terjadi.

Sabar menjadi syarat bagi Nabi Musa untuk belajar kepada Nabi Khaidir. Dengan sabar, akan paham siklus detik, menit, jam, harian, bulanan, tahunan, 5 tahunan, 10 tahunan, 30 tahunan, 50, 80 dan 100 tahunan. Polanya dipahami untuk mendalami sebuah peristiwa.

Tak banyak bertanya, itulah syarat kedua yang disampaikan Nabi Khaidir kepada Nabi Musa. Ilmu Laduni butuh perhatian, pengamatan, berfikir hingga rasa yang mendalam. Ini tidak bisa didapatkan dari orang lain, walapun gurunya seorang Nabi. Ilmunya harus lahir dari hati dan jiwanya sendiri.

Ilmu Laduni berasal dari pergulatan hidup. Bukan dari kitab atau buku. Bukan dari wejangan dan nasihat. Tetapi dari goresan pena sendiri dari mengikuti perjalanan hidup. Seperti Nabi Musa yang mengikuti perjalanan gurunya.

Setiap perjalanan memberikan makna, rasa dan ilmu tersendiri bagi setiap yang menjalaninya. Mengapa berbeda? Karena setiap orang akan menjalani peran yang unik yang tak tergantikan dalam hidup ini. Medan perjuangan dan dakwahnya berbeda.

Yang dirasakan Nabi Musa dan Nabi Khaidir sangat berbeda dalam melihat peristiwa yang sama. Mengapa? Medan perjuangan keduanya berbeda. Nabi Musa harus menghadapi Firaun.  Sedangkan Nabi Khaidir menyapa manusia yang tersembunyi namun memiliki peran besar bagi kehidupan.

Semua liku-liku kehidupan adalah ilmu laduni. Semua yang bisa dilihat, didengar dan dirasakan adalah sumber filosofi dasar ilmu laduni. Terjun dalam kehidupan adalah tempat belajar ilmu dunia. Setiap orang akan menggoreskan ilmu tersebut pada hati dan jiwanya.

Sosok Berserah Diri Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Cita-cita Nabi Ibrahim dan Ismail adalah ingin menjadi hamba yang berserah diri....

Sosok Berserah Diri

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Cita-cita Nabi Ibrahim dan Ismail adalah ingin menjadi hamba yang berserah diri. Bila ingin sesuatu, hanya tinggal bermunajat. Bila mengalami kesulitan, ditolong dan dilindungi Allah. Bila pelik, diajarkan hikmah kebijaksanaan.

Allah pemilik alam semesta. Manusia tinggal meminta. Yang terjadi, mengikuti takdir Allah. Mengikuti keputusan dan kemauan-Nya. Manusia hanya tinggal menjalani syariat-Nya. Dan, mempelajari hukum-hukum takdir yang bisa dipahami oleh akal. Lalu berserah diri untuk mengikutinya.

Akal tak bisa menciptakan dan membuat sesuatu. Akal hanya bisa memahami sesuatu, lalu mengikutinya. Akal hanya bisa memahami syariat-Nya dan sunatullah, lalu mencontek dan mentaati-Nya.

Mengapa Nabi Daud dan Sulaiman diberi kekuasaan dan kekuasaan? Mengapa Zulkarnaen dianugerahkan kekuasaan? Kuncinya hanya berserah diri. Mengikuti syariat-Nya.

Umar bin Abdul Aziz melakukan reformasi Bani Ummayah seperti yang dilakukan oleh leluhurnya, Umar Bin Khatab. Kuncinya, konsisten dengan Al-Qur'an dan Sunah Rasulullah saw. Hanya itu saja. Salah satu ikhtiarnya, membukukan hadist-hadist Rasulullah saw oleh Imam Az Zuhri.

Yang berserah diri akan menjadi sosok yang paling berakal dan berilmu, karena mengikuti tata kelola takdir alam semesta. Yang berserah diri akan menjadi sosok yang paling berkuasa mengikuti kepemimpinan para Nabi dan Rasul. Yang berserah diri akan menjadi yang berharta, karena mengikuti tata kelola ekonomi sesuai kehendak Allah.

Ikhtiar itu bagian berserah diri. Manajemen dan leadership adalah bagian dari berserah diri. Karena kita mengikuti takdir-takdir keberhasilan dan kemenangan yang telah ditetapkan oleh Allah.

Potret Keteguhan Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Keteguhan, itulah salah satu tema besar surat Al-Imran. Keteguhan sebagai penutup s...

Potret Keteguhan

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Keteguhan, itulah salah satu tema besar surat Al-Imran. Keteguhan sebagai penutup surat Al-Imran. Apakah perjuangan akan membuahkan hasil tanpa keteguhan? Keteguhan membuat semua rencana jahat, tipu daya, kemungkaran dan kezaliman tak akan mendatangkan kemudharatan apa pun.

Bila langkah telah dimulai, jangan pernah berbalik ke belakang. Ketika pedang sudah terhunus, jangan pernah disarungkan kembali. Seperti Rasulullah saw yang tak mau menyarungkan pedangnya, saat keputusan perang Uhud sudah diambil. Seperti seorang sahabat yang menunaikan hak pedang yang sudah diberikan Rasulullah saw kepadanya.

Keteguhan hanya harus berakhir pada satu titik, hidup mulia atau mati syahid. Tak ada lagi kata lemah dan sedih. Tak lemah karena bencana. Tidak pernah lesu dan menyerah sebelum hidup mulia ditegakkan dan sebelum mati syahid diraih.

Perang Uhud adalah pembelajaran keteguhan. Saat pasukan Muslimin diporakporandakan musuh oleh kelalaiannya sendiri. Saat berita syahidnya Rasulullah saw menggaung kencang yang melemahkan jiwa muslimin. Saat orang terbaik berguguran di depan batang hidungnya. Apa yang bisa meneguhkannya?

Yang bisa menjaga keteguhan di tengah badai hempasan adalah janji kita kepada Allah dan Rasulullah saw. Janji seorang hamba kepada Rabb-nya, pada Malik-nya dan pada Illah-nya. Janji setia prajurit kepada qiyadahnya Rasulullah saw.

Istri Imran, bernazarkan bahwa bayi yang dikandung diperuntukkan bagi pembebasan Baitul Maqdis yang sedang dijajah oleh Romawi. Ternyata, yang lahir seorang bayi wanita yang diberi nama Maryam. Apakah kecewa? Maryam tetap dididik untuk berkhidmat di Baitul Maqdis. Kelak, cucunya, Isa bin Maryam yang melanjutkan.

Nabi Zakaria tetap teguh berdoa untuk memiliki putra. Beliau tidak pernah kecewa dengan doanya, walaupun sudah tua renta. Walapun istrinya mandul. Walapun infrastruktur tidak mendukung. Sebab semua penyebab adalah Allah swt. Keteguhanlah yang membuat gunung pun dapat dipindahkan.

Merdeka Dengan Sabar Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Allah menutup kisah Nabi Musa dengan janji akan menganugerahkannya kekuasaan di...

Merdeka Dengan Sabar

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Allah menutup kisah Nabi Musa dengan janji akan menganugerahkannya kekuasaan di Timur dan Barat. Allah menutup kisah Nabi Musa dengan kehancuran Firaun dan pasukannya dengan sebab kesabarannya. Allah menjelaskan masuknya orang beriman ke surga pun karena kesabarannya.

Para Nabi dan Rasul yang diberi gelar ulul azmi, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan Muhammad, disebabkan oleh kesabarannya. Kualitas para Nabi dan Rasul pun ditentukan oleh kualitas kesabarannya. Para Nabi dan Rasul melalui liku-liku kehidupan dengan kesabaran. Sebab, semuanya hak prerogatif-Nya Allah.

Semua hasil butuh proses dan waktu. Tak ada yang seketika jadi. Tak ada seorang Nabi dan Rasul pun yang berdakwah langsung berhasil. Penghulu para Nabi pun, Muhammad saw, meraih kemenangan melalui kesabaran. Bila ada kesabaran maka akan muncul perjuangan. Bila ada kesabaran maka akan muncul keistiqamahan.

Sabar menghasilkan sikap moderat. Tak serampangan. Tidak terlena. Tak tergesa-gesa.  Tak berdiam diri. Ada optimisme dan kewaspadaan. Dalam kesabaran ada kelenturan sesuai kondisi zaman. Tidak terbawa arus tetapi juga tidak kaku. Dalam kesabaran ada pemikiran yang mendalam.

Dalam kesabaran ada daya tahan, ketegaran, daya tahan dan nafas panjang. Sabar dalam kesulitan dan pertarungan. Dalam semua pertempuran dan peperangan, yang memenangkannya adalah mereka yang sabar. Bukan yang memiliki infrakstruktur militer yang kuat dan canggih.

Dalam kesabaran tidak ada hujatan dan cacian. Tak ada keluhan dan menyalahkan. Tak ada kegalauan dan keresahan. Tak ada ketakutan dan kekhawatiran. Tak ada penyakit hati dan akhlak yang  buruk. Yang ada hanya terus melangkah dengan prinsip yang diyakininya.

Sabar itu lahir dari kepahaman akan diri, kehidupan dan Tuhannya. Diri ini hanya seorang hamba. Kehidupan ini hanya ujian sementara. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Akibat yang terbaik hanya bagi yang bertakwa. Dari sabar, lahirlah kemerdekaan diri dan hidup.

Tahapan Tanda-Tanda Kehancuran Penguasa Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Rezim kezaliman lahir karena ketakutan dan keserakah...


Tahapan Tanda-Tanda Kehancuran Penguasa

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 



Rezim kezaliman lahir karena ketakutan dan keserakahan. Semuanya harus dalam kendali dan genggamannya. Saat mendengar ada sosok yang akan mengusiknya, selagi masih bayi pun, harus dihancurkan. Seperti Firaun yang mimpinya ditafsirkan sebagai penggulingan rezimnya dari bayi yang akan dilahirkan. Maka, pembantaian terhadap sosok tersebut pun dilakukan secara terencana dan massif dengan penggunaan alat kekuasaan negara.

Kezaliman justru yang memelihara bayi perlawanan. Kezaliman yang lebih massif, kejam dan terorganisir, justru yang lebih kuat memelihara dan menyuburkan api perlawanan. Seperti Firaun yang memelihara bayi Musa, padahal bayi Musalah yang kelak melakukan perlawanan terhadap kezalimannya.

Tanda perlawanan itu berawal dari ditariknya jenggot Firaun. Firaun murka. Musa kecil pun hendak dihukumnya. Perlindungan itu selalu ada. Istrinya meminta Firaun untuk menguji Musa kecil dengan roti dan bara api, mana yang dipilh? Allah melindungi Musa kecil dengan memilih bara api untuk makan. Sangat menyakitkan, namun sekenario besar pembunuhan terhadap Musa kecil pun gagal. Itulah penyelamatan dari Allah.

Tindakan kedua adalah dengan pengusiran pemuda Musa dengan dalih telah melakukan pembunuhan terhadap pemuda Mesir. Padahal Musa ingin membela seseorang yang lemah yang dizalimi. Namun pukulannya membuat pemuda yang berbuat zalim mati. Pasukan pun dikerahkan untuk menangkap pemuda Musa. Namun pemuda Musa berhasil menyelamatkan diri dengan ijin Allah. Ditinggalkan Musa, Firaun semakin semena-mena.

Musa telah menjadi Nabi. Nabi Musa diutus untuk memberikan nasihat dan peringatan pada Firaun. Namun ditolak Firaun. Firaun pun menyebarkan isu bahwa Musa datang untuk mengambil kekuasaan dan mengusir rakyat Mesir dari tanah airnya. Saat gemuruh nasihat ditolak. Saat nasihat perbaikan dianggap ancaman, maka Allah memberikan peringatan berupa krisis ekonomi.

Saat krisis ekonomi terjadi, Firaun justru menyalahkan Nabi Musa. Rakyat Mesir pun mengkambinghitamkan Nabi Musa. Padahal krisis yang terjadi karena prilaku kezaliman dan mismanajemen pemerintahan dan pembangunan penguasa. Semua nasihat perbaikan ditolak. Dengan berkata kepada Nabi Musa, "Bukti apa pun yang engkau bawa kepada kami untuk menyihir kami, kami tidak akan beriman kepadamu."

Saat krisis ekonomi tak juga menyadarkan untuk melakukan reformasi kekuasaan dan sosial. Maka Allah menurunkan krisis baru berupa dikirimkan kepada rakyat Mesir berupa angin taufan, belalang, kutu, katak dan darah (air minum berubah menjadi darah). Namun krisis yang baru pun tidak juga menyadarkan diri. Kesombongan terus mewarnai pengelolaan kekuasaan.

Saat krisis tak juga berhenti, lalu mereka mendatangi Nabi Musa dengan berkata, "Wahai Musa, mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu sesuai dengan janji-Nya kepadamu. Jika engkau menghilangkan azab itu dari kami, niscaya kami akan beriman kepadamu." Namun janji komitmen perbaikan hanyalah janji palsu. Saat krisis selesai, mereka pun mengulangi dan meneruskan kezaliman sebelumnya. Apa yang terjadi setelah itu?

Allah menghukum rezim Firaun dengan menghancurkan seluruh kekuatannya sehingga tak tersisa di lautan. Padahal sebelumnya mereka mengira akan menghancurkan Nabi Musa dan pengikutnya. Seperti itulah tahapan peringatan Allah swt kepada penguasa yang zalim sebelum dihancurkan.

Memberangus Politik Kesukarelaan Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Bagaimana cara memberangus  politik kesukarelaan yang hendak mengha...

Memberangus Politik Kesukarelaan

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Bagaimana cara memberangus  politik kesukarelaan yang hendak menghancurkan kezaliman? Hanya, intimidasi dan kekerasan. Sebab, tawaran syahwat, kekayaan dan jabatan tak menarik lagi. Semua tawaran tersebut terasa hina bila dibandingkan harus menghancurkan harga dirinya. Janji Allah di akhirat lebih mulia dari semua tawaran tersebut.

Saat para penyihir telah menyaksikan kebenaran Nabi Musa, mereka pun menjatuhkan diri dengan bersujud dan beriman kepada Tuhan seluruh alam. Firaun pun marah besar, mengapa para penyihir langsung berbalik arah? Tidak meminta ijin terlebih dahulu? Firaun meyakini semuanya merupakan sekenario tipu muslihat yang sudah direkayasa  sebelumnya antara penyihir dan Nabi Musa untuk mengusir penduduk Mesir. Disini, Firaun selalu mengatasnamakan rakyatnya walaupun sebenarnya hanya untuk kepentingan kekuasaannya semata. Siapa yang sebenarnya melakukan tipu daya?

Firaun tak sadar bahwa hukum yang tertulis abadi sebelum alam semesta diciptakan hingga Hari Kiamat adalah rencana jahat akan kembali kepada yang merencanakannya. Makar Allah lebih baik dari semua makar yang ada di muka bumi. Allah SWT sebaik-baiknya penolong dan pelindung.

Bagaimana melenyapkan pengaruh pemikiran para penyihir yang telah sadar sebelum meluas ke tengah masyarakat? Mencap mereka sebagai pembangkang dan penghianat, dengan mengatakan mengapa tidak meminta ijin dan restu? Firaun pun merekayasa informasi dan berita bahwa ada persengkokolan besar antara penyihir dan Nabi Musa yang direncanakan dengan rapih. Dengan alasan ini para penyihir layak untuk dihukum dengan cara yang amat kejam.

Firaun merealisasikan hukumannya kepada para penyihir, tangan dan kakinya dipotong secara bersilang, kemudian menyalibnya. Namun para penyihir tetap teguh. Mereka berkata, "Sesungguhnya kami semua akan kembali kepada Tuhan kami, dan engkau (Firaun) tidak melakukan balas dendam kepada kami, melainkan karena kami beriman kepada ayat-ayat Tuhan kami ketika ayat-ayat itu datang kepada kami."

Penghancuran politik kesukarelaan tak puas hanya di level atas, tetapi juga harus hingga ke akar rumput. Semua benih kekuatan harus dihancurkan dan diberangus sebelum membesar. Maka pembesar Mesir berkata kepada Firaun, "Apakah engkau akan membiarkan Musa dan kaumnya untuk membuat kerusakan di negri ini dan meninggalkanmu dan tuhan-tuhanmu? Atas saran ini, Firaun membuat keputusan yang sangat tegas dan kejam terhadap semua pendukung kebenaran.

Firaun membuat keputusan hukum bahwa seluruh anak laki-laki mereka akan dibunuh dan membiarkan  hidup anak-anak perempuan mereka. Firaun meyakini bahwa semuanya dapat dilakukan dengan mudah karena Firaun memiliki kekuasaan yang besar. Dalam suasana yang mencekam ini, apa yang dilakukan oleh Nabi Musa?

Nabi Musa menjawab atas kegelisahan kaumnya tersebut, "Mudah-mudahan Tuhanmu membinasakan musuhmu dan menjadikan kamu khalifah di bumi, maka Dia akan melihat bagaimana perbuatanmu." Allah pun mewahyukan kepada Nabi Musa, "Ambillah beberapa rumah di Mesir untuk tempat tinggal kaummu dan jadikan rumah-rumahmu itu tempat ibadah dan laksanakanlah shalat serta gembirakanlah orang-orang mukmin."

Saat pemberangusan semakin merajalela dan kejam, maka dibangunlah kelompok perjuangan yang menyebar di setiap rumah. Tema penempaannya adalah ibadah, shalat dan terus menggelorakan berita gembira akan janji Allah. 

Dari Politik Transaksional Menuju Politik Kesukarelaan Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Politik transaksional sudah sangat melekat da...

Dari Politik Transaksional Menuju Politik Kesukarelaan

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Politik transaksional sudah sangat melekat dan massif. Pemenang Pilpres, Pilkada, terpilihnya Caleg hingga kepala desa cendrung dimenangkan oleh mereka yang massif berpolitik uang, politik dagang sapi hingga gentong babi. Mungkinkah bisa dirubah menjadi politik kesukarelaan? Bagaimana membangun politik kesukarelaan? Mari membuka kisah Nabi Musa.

Allah SWT mengutus Nabi Musa kepada Firaun. Misinya, menyadarkan Firaun bahwa tuhan itu bukan dirinya, tetapi Allah SWT. Ada rasa ketakutan pada diri Nabi Musa dalam  menghadapi Firaun. Maka, Allah memberikan dua mukjizat yaitu tongkat yang bisa berubah menjadi ular yang besar dan tangannya menjadi putih bercahaya bagi orang yang melihatnya. Nabi Musa pun meminta agar saudaranya, Harun, menjadi Nabi sebagai pendampingnya karena dia sangat ahli berkomunikasi.

Bagaimana cara menghancurkan kebenaran? Mempersepsikan kebenaran sebagai  sosok hantu dan gerakan yang menakutkan sehingga  dapat menghancurkan singgasana kekuasaan. Saat mukjizat Nabi Musa diperlihatkan di hadapan Firaun, pemuka kerajaan Mesir mempengaruhi Firaun dengan mengatakan bahwa Nabi Musa merupakan sosok pesihir yang pandai yang hendak mengusir Firaun dari Mesir. Lalu, bagaimana menghadapi Nabi Musa?

Menghancurkan kebenaran yang kecil pun butuh gerakan yang massif, terencana, kuat dengan dukungan ragam sumber daya yang besar. Para pemuka kerajaan Mesir pun menyarankan pada Firaun agar menahan Nabi Musa dan Harun untuk sementara waktu. Secara bersamaan, utusan kerajaan disebar ke seluruh kota untuk mencari, menemukan dan mengumpulkan semua pesihir terbaik yang ada di Mesir untuk menghadapi kemukjizatan Nabi Musa. Para penyihir pun tiba di Istana Firaun. Apa yang dibicarakan mereka?

Dialog Firaun dan para penyihir merupakan dialog politik transaksional. Apa yang didapatkan? Apa imbalannya? Politik transaksional harus jelas dulu apa yang diperoleh sebelum eksekusi misi dilakukan. Firaun menjanjikan jika para penyihir menang maka akan mendapatkan imbalan yang besar dan mereka dijadikan orang terdekat di sisi Firaun. Pada prinsipnya, yang melawan kebenaran tidak saling mempercayai dan bersatu. Mereka bergerak bila mendapatkan imbalan.

Pertarungan Nabi Musa dan para penyihir pun dimulai. Para penyihir mengelabuhi mata orang  yang melihatnya sehingga menjadikan orang banyak itu takut karena sihirnya sangat menakjubkan. Nabi Musa diperintahkan Allah untuk melemparkan tongkatnya. Maka tongkat Nabi Musa menelan habis semua  kepalsuan sihir mereka. Kebenaran itu digdaya walaupun harus menghadapi kerumunan yang banyak dan besar.

Sia-sialah kekuatan para penyihir. Segala yang telah mereka kerjakan jadi sia-sia. Maka, mereka dikalahkan di tempat tersebut dan jadilah mereka orang-orang yang hina. Pertarungan akan mengungkapkan jati diri kebenaran dan sihir kepalsuan. Perjalanan waktu akan mengungkapkan selimut kepalsuan, kebobrokan dan kebohongan. Di saat semuanya terungkap, barulah muncul kesadaran pada diri para penyihir. Kesadaran berproses secara alamiah setelah menyaksikan kenyataan kasat mata.

Saat kepalsuan terungkap, para penyihir berbalik menjadi pembela Nabi Musa tanpa meminta imbalan apa pun. Keberanian para penyihir tiba-tiba muncul. Para penyihir rela mengorbankan jiwa dan raganya. Rela dihukum, walaupun hukumannya dipotong tangan dan kaki dengan bersilang, kemudian disalib. Disini lahirlah politik kesukarelaan.

Butuh proses panjang dan berliku dari politik transaksional menuju politik kesukarelaan. Ada momentum pertarungan ide, gagasan dan implementasi operasional. Pelaku kebenaran harus konsisten melakukan dari waktu ke waktu di setiap sektor kehidupan untuk mewujudkannya. Kelak, politik transaksional akan ditinggalkan dan terkubur. Minimal, terus  semakin berkurang  pendukungnya.

Pergulatan Politik Kekuasaan Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Allah berikan kekuasaan kepada yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut k...

Pergulatan Politik Kekuasaan

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 



Allah berikan kekuasaan kepada yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kekuasaan kepada yang Engkau kehendaki. Setiap periode kekuasaan penguasa menggigit dan diktator pun ada waktunya yang telah ditentukan oleh Allah. Saat para ulama Tabiin mengadukan kekejaman gubernur Hajaj Ats Tsaqafi kepada Anas bin Malik, dijawab bahwa semuanya ada waktunya.

Nabi Nuh bersabar dengan perjuangan. Tak perlu bertanya, kapan dimenangkan Allah? Sebab semuanya sudah tertulis di Lauhul Mahfudz sebelum alam semesta diciptakan. Rasulullah saw harus menghadapi periode Mekah terlebih dahulu. Maka, bersabarlah dalam perjuangan karena yang merancang kemenangan adalah Allah. Bila masih ada hari esok berarti masih ada harapan.

Bersabarlah atas ketetapan Allah. Bersabarlah bahwa janji Allah itu benar. Seperti para panglima perang Muslimin di Perang Salib. Walapun para sultan saling berperang sendiri dalam pertikaian internal. Para ulama dan panglima level gubernur terus bahu membahu. Banyak ulama dan panglima yang berguguran pula akibat diserang oleh Muslimin sendiri yang bekerjasama dengan tentara salib. Namun mereka terus berjuang hingga Allah mentakdirkan pemimpin perlawanan sekelas Nurudin Zanky dan Shalahuddin Ayubi.

Nabi Musa dikejar-kejar Firaun tanpa kekuatan yang sebanding.  Namun Nabi Musa tak pernah mengendorkan perlawanannya. Para ahli sihir dipotong kaki dan tangannya secara bersilang karena beriman kepada Allah. Puncaknya, Nabi Musa terhimpit di Laut Merah.  Namun perlawanan terus dilakukan. Sebab, Allah yang berkuasa memberikan dan mencabut kekuasaan. Sikap kita hanya bagaimana bersikap yang benar terhadap ragam para penguasa.

Sikap yang konsisten terhadap ragam penguasa adalah dengan amar makruf nahi munkar dan terus berdakwah. Ini yang dinilai oleh Allah. Apakah terus dilakukan? Baik terhadap penguasa yang zalim maupun yang adil? Bukan hanya bergulat bagaimana memenangi kekuasaan atau tidak?  Kekonsistenan amar makruf nahi munkar dan berdakwahlah yang menjadi ukuran kemenangannya.

Akhir yang baik hanya bagi yang beriman dan bertakwa. Jadi kekalahan dan kemenangan sama saja. Allah pasti akan mendesain akhir yang baik bagi yang beriman dan bertakwa. Terus berbuat baik dan beriman, maka apapun keburukan akan dipatahkan dan dihalau oleh Allah.

Rencana jahat itu akan kembali kepada yang merencanakan. Allah sebaik-baiknya penolong dan pelindung. Allah sebaik-baiknya pembuat makar. Seperti Allah menghancurkan seluruh kekuatan Firaun, saat Firaun merasa kemenangannya sudah dalam genggaman.

Cara Nabi Daud Mengokohkan Kekuasaan  Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Bagaimana menciptakan ketahanan pangan? Bagaimana  meningkatka...

Cara Nabi Daud Mengokohkan Kekuasaan 

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Bagaimana menciptakan ketahanan pangan? Bagaimana  meningkatkan gross nasional produk? Bagaimana menciptakan pemerataan pembangunan? Bagaimana mengokohkan kekuasaan? Bagaimana agar keputusannya bijaksana? Semuanya sangat mudah. Bukalah kisah Nabi Daud.

Allah menundukkan gunung. Gunung bertasbih bersama Nabi Daud. Apa maknanya? Bukankah gunung sumber ketahanan pangan? Hujan dan air berasal dari gunung. Kesuburan tanah bersumber dari gunung. Bukankah gunung menjadi sumber energi panas bumi yang menggerakkan infrakstruktur teknologi?

Hasil panen lebih berlimpah di gunung dibandingkan di dataran rendah. Lereng gunung, membuat tanah menjadi lebih luas dibandingkan tanah datar. Air mengalir bertanda pengelolaan kebun yang terbaik. Gunung melayani manusia selama manusia mentaati Allah.

Allah menantang manusia, siapakah yang bisa menghentikan burung yang sedang terbang? Namun, Allah menundukkan burung kepada Nabi Daud karena  Nabi Daud mentaati-Nya. Apa maknanya? Bukankah burung telah dijadikan tentara dan intelejen di era Nabi Sulaiman? Bukankah burung dijadikan sarana pengiriman surat? Bukankah burung menjadi penguasa angkasa? Menguasai angkasa dengan mentaati-Nya.

Allah mengkisahkan bagaimana Nabi Daud menjadi sosok penguasa yang mampu mengokohkan kekuasaannya. Hingga anaknya menjadi penggantinya pun, semuanya ridha dan mendukungnya. Sebab, keduanya mentaati Allah. Menegakkan tujuan-tujuan syariat-Nya. Menegakkan syariat-Nya, secara otomatis mengokohkan kekuasaannya. Dalam syariat-Nya ada keadilan, kemakmuran, ketentraman dan menunaikan hak seluruh manusia dan alam semesta.

Ada dua kisah kasus penduduk yang diajukan ke pengadilan Nabi Daud dan Sulaiman. Mengapa keputusan benar dan adil? Allah melimpahkan hikmah kepada Nabi Daud dan Sulaiman karena sebab ketaatan kepada Allah. Memahami hakikat sebuah peristiwa. Bisa membaca tipu muslihat dan rekayasa.  Taat kepada Allah menyebabkan semua sarana ditundukkan oleh Allah.

Taat kepada Allah bukan sekedar membuat seseorang menjadi pribadi shaleh, tetapi mengokohkan kekuasaan, keputusan benar dan adil, serta ditundukkannya alam semesta. Hanya jalan ini yang paling mudah untuk dilalui bagi manusia untuk mencapai cita-cita peradaban dunia.

  Menggelorakan  Perubahan  Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Semangat perubahan terus terpatri. Semangat perubahan terus hidup. Seper...


 

Menggelorakan  Perubahan 

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Semangat perubahan terus terpatri. Semangat perubahan terus hidup. Seperti para pendukung para Nabi dan Rasul. Seperti, para Hawariyun di sisi Nabi Isa dan para Sahabat di sisi Rasulullah saw. Walaupun dihalangi dan dimusuhi oleh para raja, kaisar, pembesar istana dan kaumnya, gerakan perubahan terus hidup dan muncul menunggu momentumnya.

Hukum perguliran terus hidup. Kekuasaan dan kekuatan yang paling besar dan kuat pun, tidak ada yang bisa menghentikannya. Tidak ada yang bisa memberangusnya. Tidak ada yang bisa mengentikan perubahan malam dan siang. Tidak ada yang bisa menghentikan perputaran matahari dan bulan. Tak ada yang bisa menghentikan perputaran masa dan waktu.

Namrudz dan Firaun tak bisa menghentikannya. Para pembesar kaum tidak bisa menghambatnya. Semakin dihambat, kekuatannya semakin besar dan terakumulasi. Keikhlasan menuju perubahan sangat berbeda dengan pengorbanan mempertahankan kezaliman. Dalam kezaliman ada ambisi keserakahan, penguasaan, perebutan dan kompensasi yang besar.

Apa suasana Musyrikin Mekah dengan Muslimin di perang Badar? Muslimin merasakan ketentraman walaupun di tengah keterbatasan dan kekurangan. Orientasinya jelas, hidup mulia atau mati syahid. Musyrikin dipenuhi dendam dan nafsu menghancurkan. Seperti penjajah Israel yang menghancurkan Gaza. Namun, mereka mengalami tekanan mental yang berat karena targetnya tidak pernah tercapai.

Kezaliman menggunakan kekuatan besar kekuasaan, kekayaan dan anteknya untuk menekan, menakuti dan menghasut. Itulah yang diagungkan dan dilakukan para pembesar pendurhaka kepada para Nabi dan Rasul. Para nabi dan rasul menggunakan kekuatan seruan penyadaran. Menyeru hati dan akal. Membuka cakrawala kebenaran, lalu bebas memilih. Apakah mau menjadi pembela kebenaran?

Arus perubahan menggerakkan penyadaran bukan tekanan, janji dan iming-iming kompensasi. Para nabi dan rasul dilarang memaksa, yang diperintahkan hanya menyampaikan risalah dakwah saja. Menyampaikan peran dan tanggungjawab kehidupan pada diri setiap manusia. Hanya itu tugas utamanya.

Mana yang akan dipilih perubahan atau kezaliman? Semuanya diserahkan kepada manusia itu sendiri. Sebab, setiap pilihan memiliki konsekuensi dan akibat yang akan dirasakannya sendiri. Yang penting gelora perubahan terus dikumandangkan agar tanggungjawab terhadap umat tertunaikan.

Kesamaan Suasana Kejiwaan Para Nabi dan Manusia Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Membaca kisah para nabi dan rasul di Al-Qur'an s...

Kesamaan Suasana Kejiwaan Para Nabi dan Manusia

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Membaca kisah para nabi dan rasul di Al-Qur'an seperti membaca kisah keseharian manusia. Kisah kekayaan dan kemiskinan. Kisah kejayaan dan kebangkrutan. Kisah penguasa dan rakyat jelata. Kisah penghargaan dan penghinaan. Kisah anak dan kerabat. Semua serba serbi persoalan manusia sangat amat terasa dekatnya.

Apa perbedaan Nabi dengan kita? Nabi itu utusan Allah. Para kekasih Allah. Bukankah ujiannya pun lebih besar dan berat dari manusia biasa? Semakin tinggi derajatnya, semakin besar ujiannya. Oleh sebab itu, doa-doa para Nabi diabadikan dalam Al-Qur'an. Untuk apa? Agar umat manusia mencontohnya.

Ujian manusia biasa tidak seberat para Nabi dan Rasul. Oleh karena itu, derajatnya pun tidak setinggi para Nabi dan Rasul. Apa artinya? Suasana kejiwaan para Nabi dan Rasul sama dengan manusia biasa. Yang dirasakan para Nabi dan Rasul sama dengan yang dirasakan oleh manusia biasa. Ada titik keseimbangan dan kesamaan antara para Nabi dan Rasul dengan manusia biasa dalam menjalani liku-liku kehidupan.

Maka, perjalanan para Nabi dan Rasul pada hakikatnya adalah perjalanan manusia biasa. Mereka diberi mukjizat karena ujian dan tantangannya melampaui kemampuan manusia biasa. Ini bentuk keadilan Allah. Setiap diberi tantangan yang besar, maka Allah memberikan "fasilitas" yang besar pula.

Perintah dan larangan Allah kepada para Nabi dan Rasul sama dengan yang diperintahkan kepada manusia biasa. Bila para Nabi dan Rasul mampu melewati tantangan tersebut dengan menjalani perintah dan menjauhi larangan Allah, maka manusia pun bisa mendapatkan solusi dan kemudahan seperti yang diperoleh oleh para Nabi dan Rasul.

Bila liku-liku kehidupan para Nabi dan Rasul sama dengan liku-liku kehidupan manusia, maka dengan mencontoh para Nabi dan Rasul dalam menyelesaikan masalah maka manusia akan lebih mudah menyesuaikan persoalannya. Karena, hanya tinggal mengikuti dan mencontoh para Nabi dan Rasul saja.

Kitab suci bukan filsafat. Indah dan ideal, namun tak bisa dipraktekkan dalam dunia nyata. Kitab suci adalah ayat-ayat yang nyata, realistis dan mudah dilaksanakan karena para Nabi dan Rasul pun manusia biasa bukan malaikat, bukan manusia setengah tuhan, bukan pula anak tuhan. Menjadi manusia dengan mengikuti para Nabi dan Rasul.

Mengembalikan Kejayaan Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Allah menguji Nabi Ayyub dengan kekayaan berlimpah, anak yang banyak dan kelu...

Mengembalikan Kejayaan

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Allah menguji Nabi Ayyub dengan kekayaan berlimpah, anak yang banyak dan keluarga yang bahagia. Bagaimana bila sebaliknya? Miskin, kehancuran bisnis, kehilangan anak dan ditinggalkan istri? Apakah masih tetap berkarakter yang sama? Iman dan bertakwa? Perguliran kejayaan dan kehancuran. Perguliran kekayaan dan kemiskinan untuk menguji keistiqamahan di semua kondisi kehidupan.

Saat bangkrut dan miskin. Saat sakit dan hancurnya keluarga. Nabi Ayub hanya berdoa, "Ya Allah, sungguh, aku telah ditimpa penyakit, padahal Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang." Dengan doa tersebut Allah melenyapkan semua penyakit, mengembalikan dan melipatgandakan yang telah hilang. Semuanya rahmat dari Allah. Keistiqamahan dalam beragam kondisi, merupakan solusi persoalan hidup.

Nabi Yunus dalam kegelapan lautan, kegelapan malam dan kegelapan di perut ikan paus, berdoa, "Tidak ada tuhan selain Engkau, Maha suci Engkau, Sungguh, aku termasuk orang yang zalim. Dalam keterpurukan, tauhidkan Allah. Akui kezaliman diri bukan orang lain. Itulah jalan keluarnya dari persoalan. Menyalahkan hanya membuat rahmat Allah semakin jauh.

Tazkiyatu Nafs, membersihkan diri, awal semua perbaikan dan dikembalikannya kepemimpinan dan kejayaan. Seperti Nabi Adam yang bersegera mengatakan kepada Allah bahwa dirinya telah menzalimi dirinya sendiri. Awal semua perbaikan adalah hanya beristighfar dan bertaubat. Melihat ke dalam bukan menyalahkan ke luar.

Nabi Zakaria sudah tua renta. Istrinya juga sudah tua dan mandul. Hingga di usia senjanya belum memiliki putra. Nabi Zakaria berdoa, "Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan aku hidup seorang diri (tanpa keturunan) dan Engkaulah ahli waris yang terbaik." Solusi hidup adalah yakin kepada Allah walaupun tidak memiliki sumberdaya sama sekali untuk meraihnya.

Ikhtiar yang dilakukan oleh Nabi Zakaria adalah bersegera melakukan kebaikan, berdoa dengan rasa penuh harap dan cemas dan hatinya khusyu kepada Allah. Allah tidak pernah menyia-nyiakan kebaikan para hamba-Nya. Itulah yang suratan takdir yang tercatat di Lauhul Mahfudz.

Kisah para nabi dan rasul untuk meneguhkan hati yang beriman. Menentramkan dalam kegelisahan. Terlihat cahaya walaupun di kegelapan. Optimisme walaupun tak memiliki sumber daya yang cukup untuk meraih impian. Syaratnya, lalui apa yang pernah dilalui dan kerjakan apa yang telah dikerjakan oleh para nabi dan rasul.

Nabi Uzair dan Kehancuran Gaza Oleh: Nasrulloh Baksolahar Reruntuhan Gaza, bisakah bangkit kembali? Allah berkisah tentang Uzair...

Nabi Uzair dan Kehancuran Gaza

Oleh: Nasrulloh Baksolahar


Reruntuhan Gaza, bisakah bangkit kembali? Allah berkisah tentang Uzair yang melewati sebuah kota yang hancur, bagaimana kota yang hancur bisa dibangun kembali? Allah menidurkan Uzair selama 100 tahun. Saat terbangun dari tidur, kota yang sebelumnya runtuh sudah bergeliat kembali.

Nabi Ibrahim bertanya kepada Allah tentang bagaimana yang mati bisa hidup kembali? Allah memerintahkan menyembelih burung. Lalu, memotong motong  tubuh burung menjadi bagian kecil dan disebar ke sejumlah tempat yang berbeda dan berjauhan. Ternyata, burung itu bisa hidup kembali dan lalu terbang tinggi.

Banyak kota-kota yang telah dibumihanguskan dan pendudukan dibantai hingga tak tersisa. Perhatian saat Tentara Mongol menyerbu sejumlah kota di eranya? Perhatian saat Baghdad dibumihanguskan oleh Tentara Mongol? Saat ini Baghdad tetap berdiri kokoh. Kekejaman dan kekejian manusia tidak akan pernah menghapus apapun dari muka bumi.

Tanah yang kering kerontang. Tanah yang mati, hidup kembali hanya dengan air hujan. Semudah itu membangun kembali yang telah hancur. Dalam setiap kehancuran tetap tersimpan sebuah kebangkitan. Walaupun mayat sudah terkubur lama, kebangkitan tetap bisa tercipta.

Syarat kebangkitan hanya bersumber dari langit. Berenergikan langit. Keimanan dan keyakinan dari langit. Kepemimpinan dari langit. Sistem dari langit. Harapan dari langit. Menengadahkan ke langit. Menerapkan metodologi langit. Itulah langkah awal dan pembangunan kembali yang tercepat. Seperti air hujan yang menyiram tanah.

Bila iman dan takwa masih dalam gengaman, jangan pernah khawatir dengan kehancuran yang disebabkan oleh kezaliman. Sebab kezaliman tidak akan pernah bisa menghancurkan apapun. Kezaliman tidak akan pernah bisa merampas hak kemanusiaan manusia. Kezaliman terlihat kokoh, memiliki sumberdaya tak terbatas, kejam dan perkasa, namun sebenarnya dia tengah mengalami ketakutan dan sedang terancam akan takdir kehancurannya.

Kisah Nabi Uzair akan terus berulang. Kehidupan dan kebangkitan kembali sebuah wilayah yang infrastrukturnya hancur lebur oleh kezaliman akan terus berulang. Kezaliman hanya menghabiskan sumber dayanya saja, namun tanpa hasil apapun. Bahkan menuju kehancurannya. Itulah perjalanan golongan yang sesat dan yang dimurkai. Seperti penjajah Israel yang melakukan agresi ke Gaza bukan kemenangan yang diraih, namun membuat perekonomian, mental rakyatnya hancur dan hancurnya diplomasi hubungan internasionalnya.

Kisah Nabi Uzair yang berasal dari Bani Israel seharusnya menjadi pelajaran penjajah Israel, bahwa sebuah negri walaupun dihancurkan akan tetap bangkit kembali dengan iman dan takwa para penghuninya.

Mengembalikan Kejayaan Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Allah menguji Nabi Ayyub dengan kekayaan berlimpah, anak yang banyak dan kelu...

Mengembalikan Kejayaan

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Allah menguji Nabi Ayyub dengan kekayaan berlimpah, anak yang banyak dan keluarga yang bahagia. Bagaimana bila sebaliknya? Miskin, kehancuran bisnis, kehilangan anak dan ditinggalkan istri? Apakah masih tetap berkarakter yang sama? Iman dan bertakwa? Perguliran kejayaan dan kehancuran. Perguliran kekayaan dan kemiskinan untuk menguji keistiqamahan di semua kondisi kehidupan.

Saat bangkrut dan miskin. Saat sakit dan hancurnya keluarga. Nabi Ayub hanya berdoa, "Ya Allah, sungguh, aku telah ditimpa penyakit, padahal Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang." Dengan doa tersebut Allah melenyapkan semua penyakit, mengembalikan dan melipatgandakan yang telah hilang. Semuanya rahmat dari Allah. Keistiqamahan dalam beragam kondisi, merupakan solusi persoalan hidup.

Nabi Yunus dalam kegelapan lautan, kegelapan malam dan kegelapan di perut ikan paus, berdoa, "Tidak ada tuhan selain Engkau, Maha suci Engkau, Sungguh, aku termasuk orang yang zalim. Dalam keterpurukan, tauhidkan Allah. Akui kezaliman diri bukan orang lain. Itulah jalan keluarnya dari persoalan. Menyalahkan hanya membuat rahmat Allah semakin jauh.

Tazkiyatu Nafs, membersihkan diri, awal semua perbaikan dan dikembalikannya kepemimpinan dan kejayaan. Seperti Nabi Adam yang bersegera mengatakan kepada Allah bahwa dirinya telah menzalimi dirinya sendiri. Awal semua perbaikan adalah hanya beristighfar dan bertaubat. Melihat ke dalam bukan menyalahkan ke luar.

Nabi Zakaria sudah tua renta. Istrinya juga sudah tua dan mandul. Hingga di usia senjanya belum memiliki putra. Nabi Zakaria berdoa, "Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan aku hidup seorang diri (tanpa keturunan) dan Engkaulah ahli waris yang terbaik." Solusi hidup adalah yakin kepada Allah walaupun tidak memiliki sumberdaya sama sekali untuk meraihnya.

Ikhtiar yang dilakukan oleh Nabi Zakaria adalah bersegera melakukan kebaikan, berdoa dengan rasa penuh harap dan cemas dan hatinya khusyu kepada Allah. Allah tidak pernah menyia-nyiakan kebaikan para hamba-Nya. Itulah yang suratan takdir yang tercatat di Lauhul Mahfudz.

Kisah para nabi dan rasul untuk meneguhkan hati yang beriman. Menentramkan dalam kegelisahan. Terlihat cahaya walaupun di kegelapan. Optimisme walaupun tak memiliki sumber daya yang cukup untuk meraih impian. Syaratnya, lalui apa yang pernah dilalui dan kerjakan apa yang telah dikerjakan oleh para nabi dan rasul.

Melatih Kepemimpinan Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Bagaimana belajar kepemimpinan? Bagaimana mendidik kepemimpinan? Bagaimana memb...

Melatih Kepemimpinan

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Bagaimana belajar kepemimpinan? Bagaimana mendidik kepemimpinan? Bagaimana membangun model kepemimpinan?  Caranya, hanya taat kepada Allah. Ridha kepada Allah, Islam dan Rasulullah saw. Bacalah surat Al-Baqarah, yang mengungkapkan model kepemimpinan yang berhasil dan gagal, juga cara penempaan menjadi pemimpin.

Kisah Nabi Adam dalam surat Al-Baqarah merupakan model kepemimpinan yang pertama. Apa yang diajarkan Allah? Mentaati-Nya. Lalu, mengajarkan nama-nama yang ada di seluruh alam semesta. Mengajarkan nama, berarti memahami karakter, peran, manfaat, keunggulan, spesifikasi dan perbedaan di alam semesta. Setelah mentaati-Nya, Allah akan mengajarkan semua yang dibutuhkan untuk menjalankan roda kepemimpinan.

Nabi Adam melanggar perintah Allah. Dia memakan buah khuldi karena ingin abadi berkuasa. Kemaksiatan merupakan awal dicabutnya dan diambilnya tongkat kepemimpinan dari Nabi Adam dengan diturunkan ke muka bumi. Di bumi, Nabi Adam bertaubat, maka kepemimpinannya pun diserahkan kembali.

Setelah kisah Nabi Adam, Allah berkisah tentang Bani Israel di bawah bimbingan Nabi Musa dan Harun. Allah menghendaki Bani Israel menjadi pemimpin di era tersebut. Mereka gagal, sebab mengingkari nikmat Allah dan menentang hukum Allah. Puncak kesesatan Bani Israel ada pada kisah sapi betina.

Di kisah sapi betina, Bani Israel meminta solusi. Allah memberikannya. Syaratnya, menyembelih sapi betina. Bani Israel mencoba mengingkarinya dengan dalih belum jelas ciri-cirinya. Akhirnya kepemimpinan Bani Israel dicabut. Mereka disesatkan selama 40 tahun. Mereka terlunta-lunta walaupun di sisinya ada dua Nabi yang mulia.

Setelah itu, Allah berkisah tentang Nabi Ibrahim dan Ismail. Ujian ketaatannya, menyembelih Nabi Ismail dan membangun Kabah. Nabi Ibrahim selalu menyempurnakan perintah Allah.  Inilah model kepemimpinan yang sempurna karena kepemimpinan terus diwariskan hingga kehadiran Nabi Muhammad dan pewaris risalahnya.

Tak sulit mendidik kepemimpinan. Tak sulit melahirkan para pemimpin. Pelatihan kepemimpinan itu sebenarnya hanya berupa ketaatan kepada Allah, Nabi dan menjalankan Islam. Setiap diri mengemban amanah melatih dirinya menjadi pemimpin. Kepemimpinan dicabut saat mendurhakai Allah.

Ditolong Alam Semesta dari Kisah Nabi Daud dan Sulaeman Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Allah menciptakan alam semesta untuk melayan...

Ditolong Alam Semesta dari Kisah Nabi Daud dan Sulaeman

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Allah menciptakan alam semesta untuk melayani dan menolong manusia untuk beribadah dan menjadi khalifah di muka bumi. Seperti Allah menciptakan surga saat Nabi Adam hidup di dalamnya bersama istrinya. Di dalam surga tidak ada kelaparan dan kekhawatiran. Semuanya dijamin. Hanya saja diberi satu ujian, yaitu pohon khuldi.

Alam semesta akan senantiasa melayani dan menolong, selama manusia memiliki karakter yang sama dan bersahabat dengan alam semesta. Yaitu, bersama-sama bertasbih, sujud dan berdoa. Seperti Nabi Daud, yang bertasbih bersama gunung dan burung. Apa buahnya? Anaknya, Nabi Sulaiman, yang menikmatinya. Apa itu?

Dari tasbih dan bersujud bersama alam. Dari persahabatan dan memahami alam semesta, Nabi Sulaiman dianugerahkan kekuatan alam dapat diberdayakan untuk kemudahan, kemakmuran dan membangun kekuatan peradaban yang dibangunnya. Jin, burung, awan, dan angin tunduk. Manusia yang beriman dan berilmu membersamainya. Itulah yang menyebabkan negri yang baru tumbuh bisa mengalahkan kekuatan negri yang sudah lama berdiri, yaitu negri Saba.

Ilmu manusia bisa memindahkan singgasana Ratu Saba dalam sekejap mata. Istananya sangat mencengangkan. Seluruh sumber daya hingga di lautan dapat dieksplorasi. Militernya sangat kuat karena memadukan karakter manusia, jin dan burung. Seluruh makhluk berdampingan dari manusia, jin, dan hewan lainnya berpadu membangun infrastruktur yang dibutuhkan saat itu.

Ketinggian ilmu dan teknologi terlihat dari kecepatannya. Perjalanan setengah hari Nabi Sulaiman sama dengan perjalanan satu bulan. Pemindahan singgasana ratu Bilqis hanya dalam kedipan mata. Seluruh sumber daya bisa dimanfaatkan hingga yang ada di dasar lautan. Kerukunan dan keamanan masyarakatnya terlihat dari keterpaduan dan gotong royongnya.

Mengapa semuanya tercipta? Allah yang menganugerahkannya karena sebab ketaatan dan keadilannya. Keadilannya terlihat dari bagaimana cara Nabi Sulaiman dan Daud memecahkan persoalan hukum di tengah masyarakat dalam kisah sengketa antar petani dengan kambingnya dan sengketa antar wanita yang bayinya diterkam oleh srigala.

Allah menolong manusia dengan dua cara yaitu mematuhi syariat-Nya dan bersahabat dengan alam semesta. Bila manusia bermaksiat dan berprilaku zalim. Maka pertolongan Allah akan dicabut.

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Al-Qur'an (185) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (48) Cerita kegagalan (1) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (6) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) Kecerdasan (219) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) Kisah Para Nabi dan Rasul (198) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) Nabi Adam (1) Nabi Ibrahim (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Musa (1) Nabi Nuh (3) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (1) Namrudz (2) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) Nusantara (209) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (137) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rehat (406) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (144) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah Penguasa (190) Sirah Sahabat (113) Sirah Tabiin (42) Sirah Ulama (89) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)