basmalah Pictures, Images and Photos
Our Islamic Story

Postingan Popular Pekan ini

Islam dan Geliat Kebangkitan Umat Sesungguhnya, geliat dan semangat kembalinya Islam ke gela...

Islam dan Geliat Kebangkitan Umat





Sesungguhnya, geliat dan semangat kembalinya Islam ke gelanggang kehidupan telah menjadi perhatian dan bahan kajian, baik di Barat maupun di Timur.

Mengapa?

Karena dalam beberapa dasawarsa terakhir, berbagai gerakan Islam mengalami tekanan yang sangat berat. Terutama di Mesir, gerakan-gerakan Islam berkali-kali dihantam dengan berbagai tindakan represif. Ada yang mengira bahwa tekanan tersebut akan mampu mengakhiri gerakan Islam untuk selamanya.

Tetapi benarkah demikian?

Fakta sejarah justru menunjukkan sesuatu yang berbeda. Tekanan tidak selalu mematikan sebuah keyakinan. Dalam banyak keadaan, tekanan justru menguji kedalaman iman para penganutnya.

Akidah Islam tidak lahir dari kenyamanan. Ia tumbuh melalui ujian. Para pengikutnya diuji kesetiaannya, keteguhannya, dan kesabarannya. Ketika tekanan datang, sebagian mungkin mundur. Tetapi sebagian lainnya justru semakin teguh.

Bukankah sejarah dakwah Islam memperlihatkan bahwa selalu ada manusia yang tetap berdiri ketika yang lain berbalik?

Karena itulah, kebangkitan Islam kemudian menjadi objek perhatian berbagai pihak. Ada yang mempelajarinya untuk memahami fenomenanya, tetapi ada pula yang berusaha menghambat dan melemahkannya.

Allah telah mengingatkan:

«"Mereka membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya."
(QS. Al-Anfal: 30)»

Ketika Kebangkitan Islam Dipandang sebagai Ancaman

Salah satu contoh yang sering dikutip dalam pembahasan ini adalah laporan yang disebut pernah dimuat oleh majalah Ad-Da'wah Mesir pada 31 Desember 1978. Laporan tersebut diklaim sebagai dokumen rahasia mengenai strategi menghadapi gerakan Islam, khususnya Jamaah Ikhwanul Muslimin.

Isi dokumen yang dikutip dalam sumber tersebut menggambarkan adanya upaya untuk melemahkan tokoh-tokoh gerakan Islam melalui berbagai cara, termasuk tekanan politik, kooptasi, dan upaya memisahkan mereka dari basis gerakannya.

Terlepas dari persoalan keaslian, konteks, dan verifikasi historis dokumen tersebut, gagasan yang hendak disampaikan sangat menarik untuk direnungkan:

Bagaimana sebuah gerakan yang memiliki keyakinan kuat dapat dilemahkan?

Apakah cukup dengan menekan para pemimpinnya?

Apakah cukup dengan menawarkan jabatan?

Apakah cukup dengan mengisolasi tokoh-tokohnya?

Atau justru yang paling efektif adalah mengubah cara berpikir para pengikutnya sehingga mereka tidak lagi memahami Islam sebagai sistem kehidupan?

Pertanyaan terakhir inilah yang membawa kita kepada persoalan yang lebih mendasar.

Mungkinkah Islam Dipisahkan dari Kehidupan?

Pada suatu masa, sebagian kaum Muslimin mulai terpesona oleh berbagai filsafat dan ideologi yang berkembang di Barat: komunisme, sosialisme, kapitalisme, eksistensialisme, nasionalisme, bahkan berbagai gerakan pemikiran lainnya.

Mengapa mereka tertarik?

Karena mereka melihat Eropa mengalami kemajuan setelah membatasi peran institusi keagamaan dalam kehidupan publik.

Mereka kemudian mengambil sebuah kesimpulan:

"Kalau Eropa maju setelah agama dipisahkan dari kehidupan, bukankah umat Islam juga harus melakukan hal yang sama?"

Tetapi apakah pengalaman Eropa dapat begitu saja diterapkan kepada Islam?

Di sinilah persoalannya.

Sejarah agama Kristen di Eropa memiliki latar belakang yang berbeda dengan Islam. Konflik antara gereja dan perkembangan ilmu pengetahuan di Eropa tidak dapat begitu saja dijadikan pola untuk memahami hubungan Islam dengan ilmu pengetahuan.

Islam tidak memiliki konsep kependetaan yang menjadikan sekelompok manusia sebagai perantara antara manusia dan Allah.

Dalam tradisi keilmuan Islam, ulama memperoleh kedudukan karena ilmu, bukan karena pakaian khusus, upacara tertentu, atau kelas sakral yang tidak boleh disentuh.

Seorang ulama dihormati karena kedalaman pemahamannya terhadap Al-Qur'an, Sunnah, fikih, akidah, dan berbagai cabang ilmu yang diperlukan untuk memahami kehidupan.

Maka pertanyaannya:

Apakah Islam harus mengalami "revolusi" melawan agama seperti yang pernah terjadi di Eropa?

Tidak.

Sebab Islam tidak pernah memusuhi ilmu.

Islam dan Ilmu Pengetahuan

Al-Qur'an justru berulang kali mengajak manusia memperhatikan alam semesta dan dirinya sendiri.

Allah berfirman:

«"Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda kekuasaan Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur'an itu benar."
(QS. Fussilat: 53)»

Allah juga berfirman:

«"Dan pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?"
(QS. Adz-Dzariyat: 21)»

Bukankah ini sebuah undangan untuk berpikir?

Bukankah manusia diminta mengamati?

Bukankah alam raya merupakan salah satu ruang untuk mengenal kebesaran Sang Pencipta?

Karena itu, seorang Muslim tidak semestinya memandang ilmu pengetahuan sebagai musuh iman.

Justru semakin luas pengetahuan manusia tentang alam, semakin banyak tanda-tanda kebesaran Allah yang dapat direnungkan.

Allah berfirman:

«"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata: 'Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.'"
(QS. Ali 'Imran: 190-191)»

Perhatikan keseimbangan ayat tersebut.

Mengingat Allah.

Kemudian berpikir tentang alam.

Zikir dan pikir tidak dipertentangkan.

Iman dan ilmu tidak dipisahkan.

Ibadah dan penelitian tidak harus bermusuhan.

Justru manusia yang benar-benar menggunakan akalnya akan melihat alam sebagai tanda-tanda kekuasaan Allah.

Al-Qur'an Bukan Buku Fisika

Namun demikian, ada satu hal yang perlu ditegaskan agar hubungan Islam dan ilmu pengetahuan tidak dipahami secara keliru.

Al-Qur'an bukan buku teks fisika, biologi, astronomi, atau kedokteran.

Fungsi utama Al-Qur'an adalah memberikan petunjuk kepada manusia.

Ia mengarahkan manusia agar menggunakan akal, memperhatikan alam, mencari ilmu, dan mengenali sunnatullah yang berlaku di dalam kehidupan.

Karena itu, ketika ilmu pengetahuan menemukan fakta baru, seorang Muslim tidak perlu tergesa-gesa mencari pembenaran ilmiah bagi setiap ayat. Demikian pula, teori ilmiah yang masih berubah tidak seharusnya dijadikan fondasi untuk menafsirkan wahyu secara serampangan.

Yang lebih kokoh adalah memahami bahwa alam dan wahyu sama-sama berasal dari Allah, sehingga kebenaran yang benar-benar mapan tidak akan bertentangan dengan wahyu yang dipahami secara benar.

Dari Al-Qur'an Menuju Peradaban Ilmu

Dalam sejarah Islam, tidak terdapat pertentangan permanen antara ulama dan ilmuwan sebagaimana konflik gereja dengan ilmuwan dalam sejarah Eropa.

Mengapa?

Karena umat Islam memandang pencarian ilmu sebagai bagian dari amanah manusia sebagai khalifah di bumi.

Ilmu pengetahuan mengungkap sebagian hukum Allah yang berlaku di alam.

Setiap kali manusia menemukan keteraturan baru dalam alam, sebenarnya ia sedang menemukan sebagian dari sunnatullah.

Maka ilmu seharusnya membawa manusia kepada dua hal sekaligus:

kekaguman terhadap ciptaan dan ketundukan kepada Pencipta.

Inilah semangat yang dapat kita lihat dalam firman Allah:

«"Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri hingga jelas bagi mereka bahwa Dia adalah benar."
(QS. Fussilat: 53)»

Dengan demikian, semakin luas ilmu manusia, seharusnya semakin dalam pula kesadarannya terhadap keterbatasan dirinya.

Sebab semakin banyak yang diketahui, semakin jelas pula betapa luas wilayah yang belum diketahui.

Ketika Umat Kembali Bertanya

Setelah sekian lama sebagian umat Islam terpesona oleh berbagai ideologi yang datang dari luar, mulai muncul pertanyaan baru:

Benarkah kemajuan harus dibayar dengan meninggalkan Islam?

Benarkah agama adalah penghambat ilmu?

Benarkah Islam hanya mengatur ibadah ritual?

Ketika pertanyaan-pertanyaan itu mulai diajukan dengan serius, sebagian pemuda Muslim kembali mempelajari agamanya.

Mereka membaca Al-Qur'an.

Mereka mempelajari sejarah.

Mereka mengkaji pemikiran Islam.

Mereka mempertanyakan kembali anggapan bahwa Islam identik dengan keterbelakangan.

Dan perlahan-lahan lahirlah kesadaran baru:

Islam bukan sekadar agama yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan di tempat ibadah. Islam juga memiliki pandangan tentang manusia, ilmu, keluarga, ekonomi, masyarakat, keadilan, dan kehidupan.

Kesadaran semacam inilah yang membuat kebangkitan pemikiran Islam menjadi fenomena penting.

Dan ketika sebuah umat mulai menemukan kembali identitasnya, tentu saja akan muncul pihak-pihak yang merasa kepentingannya terganggu.

Ketika Identitas Kembali Ditemukan

Di sinilah kita perlu berhati-hati.

Kebangkitan Islam tidak semestinya dipahami sebagai kebencian kepada bangsa lain.

Islam tidak mengajarkan umatnya memusuhi manusia karena ras, bangsa, atau agama semata.

Yang ditolak adalah kezaliman, penjajahan, penindasan, dan segala bentuk ketidakadilan.

Karena itu, pembahasan tentang konflik politik dan dukungan internasional terhadap suatu negara harus ditempatkan dalam kerangka yang adil dan faktual, bukan semata-mata dalam generalisasi terhadap suatu kelompok agama atau bangsa.

Al-Qur'an sendiri mengingatkan:

«"Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak mengusirmu dari negerimu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil."
(QS. Al-Mumtahanah: 8)»

Maka kekuatan umat Islam bukanlah pada kebencian.

Kekuatan itu justru terletak pada iman, ilmu, keadilan, persatuan, dan kemampuan membangun kehidupan yang bermartabat.

Kebangkitan yang Sejati

Lalu, apa sebenarnya tanda kebangkitan Islam?

Apakah sekadar bertambahnya jumlah orang yang berbicara tentang Islam?

Apakah semakin banyak simbol keislaman?

Apakah semakin keras perdebatan tentang identitas?

Belum tentu.

Kebangkitan yang sejati adalah ketika Islam kembali membentuk manusia.

Ketika ilmu melahirkan ketundukan kepada Allah.

Ketika kekayaan melahirkan kepedulian.

Ketika kekuasaan melahirkan keadilan.

Ketika perbedaan tidak berubah menjadi permusuhan.

Ketika umat tidak lagi menjadi konsumen pemikiran, tetapi mampu melahirkan ilmu dan peradabannya sendiri.

Ketika pemuda Muslim tidak merasa rendah diri di hadapan Barat, tetapi juga tidak menjadi sombong terhadapnya.

Ia belajar dari siapa pun yang memiliki ilmu, mengambil yang bermanfaat, meninggalkan yang bertentangan dengan prinsip, lalu mengembangkan pengetahuan itu untuk kemaslahatan manusia.

Bukankah demikian seharusnya sikap seorang Muslim?

Terbuka terhadap ilmu, tetapi kokoh dalam akidah.

Maju dalam teknologi, tetapi tunduk kepada Allah.

Membangun peradaban, tetapi tidak kehilangan akhlak.

Dari Kesadaran Menuju Peradaban

Pada akhirnya, persoalannya bukan sekadar apakah Islam dapat dipisahkan dari kehidupan.

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

Apakah umat Islam sendiri bersedia menjadikan Islam sebagai sumber pembentukan dirinya?

Sebab Islam tidak akan bangkit hanya karena kita menginginkannya.

Ia membutuhkan manusia yang belajar.

Membutuhkan keluarga yang mendidik.

Membutuhkan ulama yang mendalam ilmunya.

Membutuhkan ilmuwan yang bertakwa.

Membutuhkan pemimpin yang adil.

Membutuhkan masyarakat yang berani memperbaiki dirinya.

Dan semua itu membutuhkan proses yang panjang.

Perubahan peradaban tidak dibangun hanya dengan slogan.

Ia dibangun dengan pendidikan.

Dengan ilmu.

Dengan akhlak.

Dengan kerja.

Dengan kesabaran.

Dengan doa.

Dan dengan keteguhan untuk tetap berada di jalan Allah.

Maka jangan hanya bertanya:

"Mengapa Islam belum kembali memimpin peradaban?"

Tanyakan kepada diri sendiri:

"Apa yang sudah saya bangun?"

Sudahkah kita membangun manusia?

Sudahkah kita membangun keluarga?

Sudahkah kita membangun ilmu?

Sudahkah kita membangun ekonomi yang adil?

Sudahkah kita membangun teknologi?

Sudahkah kita membangun budaya membaca dan berpikir?

Sudahkah kita menghadirkan Islam melalui akhlak yang membuat manusia melihat keindahannya?

Sebab kebangkitan Islam yang paling kuat bukanlah kebangkitan yang membuat manusia takut kepada umat Islam.

Melainkan kebangkitan yang membuat manusia melihat kembali keadilan, ilmu, rahmat, dan kemuliaan manusia melalui Islam.

Dan mungkin di situlah makna terdalam dari kebangkitan:

bukan sekadar Islam kembali ke gelanggang kehidupan, tetapi Islam kembali hidup di dalam diri umatnya.

Perubahan Masyarakat Dimulai dari Kelompok Kecil yang Sadar Sesunggu...

Perubahan Masyarakat Dimulai dari Kelompok Kecil yang Sadar



Sesungguhnya, dapatkah perubahan besar selalu menunggu kesadaran seluruh masyarakat?

Pertanyaan ini penting. Sebab dalam kenyataan sosial, tidak semua orang memiliki tingkat kesadaran, pengetahuan, dan keberanian yang sama. Sebagian besar masyarakat sering kali mengikuti arus. Mereka bersorak ketika orang lain bersorak, mendukung ketika mayoritas mendukung, dan menolak ketika lingkungan sekitarnya menolak.

Apakah itu berarti mereka jahat? Tidak selalu. Sering kali mereka hanya belum memiliki kesadaran yang cukup untuk memahami mana yang benar-benar bermanfaat dan mana yang justru membawa mudarat.

Karena itu, perubahan tidak selalu lahir dari jumlah yang besar. Tidak jarang perubahan justru dimulai dari kelompok kecil yang memiliki kesadaran, keyakinan, ilmu, dan keteguhan.

Allah Swt. berfirman:

«"Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak, dengan izin Allah."
(QS. Al-Baqarah: 249)»

Bukankah ayat ini mengingatkan kita bahwa ukuran kebenaran tidak selalu ditentukan oleh jumlah?

Allah juga berfirman:

«"Dan sedikit dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur."
(QS. Saba': 13)»

Demikian pula dalam Surah Al-Waqi'ah, Allah menggambarkan adanya kelompok-kelompok manusia yang jumlahnya tidak selalu sama: sebagian besar dari generasi terdahulu dan sebagian kecil dari generasi kemudian (QS. Al-Waqi'ah: 13-14), serta sebagian besar dari generasi terdahulu dan sebagian besar pula dari generasi kemudian (QS. Al-Waqi'ah: 39-40).

Maka, yang menentukan bukan semata-mata berapa banyak orang yang berada di dalam sebuah kelompok. Yang lebih penting adalah siapa yang memiliki kesadaran, iman, ilmu, dan kesanggupan untuk memikul tanggung jawab perubahan.

Pendidikan Rabbani dan Lahirnya Generasi Perubahan

Lalu, bagaimana perubahan itu dimulai?

Sejarah Rasulullah saw. memberikan jawaban yang sangat jelas.

Rasulullah tidak memulai perubahan dengan menunggu seluruh masyarakat Quraisy menjadi sadar. Beliau mendidik manusia-manusia pilihan dengan pendidikan Rabbani. Para sahabat, baik dari kalangan Muhajirin maupun Anshar, dibina sehingga mereka tidak hanya mengenal Islam sebagai sebuah ajaran, tetapi menjadikan Islam sebagai kepribadian dan jalan hidup.

Mereka dibersihkan dari karat kemusyrikan dan nilai-nilai jahiliah. Mereka dididik menjadi manusia yang mampu memimpin sekaligus menjadi guru. Mereka menjadi contoh hidup dari nilai-nilai Islam.

Dari kelompok kecil itulah kemudian perubahan meluas.

Mengapa?

Karena perubahan masyarakat membutuhkan manusia yang terlebih dahulu mengalami perubahan di dalam dirinya.

Seseorang yang belum memiliki kesadaran tidak akan mampu membangunkan kesadaran orang lain. Orang yang belum memiliki keteguhan tidak akan mampu memimpin perubahan yang penuh risiko. Dan orang yang belum memahami Islam secara mendalam akan mudah terseret oleh arus pemikiran yang datang dari luar.

Namun demikian, masyarakat tidaklah berada pada tingkat kesadaran yang sama. Ada yang telah kokoh imannya, ada yang baru tunduk secara lahiriah, dan ada pula yang masih berada dalam proses menuju keimanan.

Al-Qur'an menggambarkan keadaan itu dengan sangat jelas:

«"Orang-orang Badui itu berkata, 'Kami telah beriman.' Katakanlah, 'Kamu belum beriman, tetapi katakanlah, 'Kami telah tunduk (Islam),' karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu. Dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikit pun pahala amalmu. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang."
(QS. Al-Hujurat: 14)»

Jadi, apakah setiap orang yang menyatakan Islam otomatis memiliki tingkat iman dan kesadaran yang sama?

Tentu tidak.

Dan justru di situlah pentingnya pendidikan.

Ketika Rasulullah Wafat: Siapa yang Tetap Teguh?

Ujian terbesar terhadap kualitas sebuah masyarakat sering kali datang ketika pemimpinnya tidak lagi berada di tengah mereka.

Hal itu terjadi ketika Rasulullah saw. wafat.

Kabar wafatnya Rasulullah mengguncangkan kaum Muslimin. Umar bin Khattab r.a. bahkan pada awalnya tidak sanggup menerima kenyataan tersebut. Ia menyatakan bahwa Rasulullah tidak meninggal, sebagaimana Nabi Musa a.s. pergi untuk menghadap Allah.

Namun di tengah keguncangan itu, Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a. berdiri dengan keteguhan yang luar biasa.

Ia berkata:

«"Barang siapa menyembah Muhammad, maka sesungguhnya Muhammad telah wafat. Dan barang siapa menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah Mahahidup dan tidak akan mati."»

Kemudian ia membacakan firman Allah:

«"Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa berbalik ke belakang, maka ia tidak akan merugikan Allah sedikit pun. Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur."
(QS. Ali 'Imran: 144)»

Ayat itu seakan-akan mengembalikan kesadaran kaum Muslimin kepada prinsip yang paling mendasar: Islam tidak boleh bergantung kepada keberadaan seorang manusia, betapapun mulianya manusia itu.

Rasulullah telah wafat, tetapi Allah tetap hidup.

Risalah tetap ada.

Kewajiban tetap ada.

Dan umat tetap memiliki tanggung jawab.

Setelah itu, para sahabat menghadapi persoalan besar: umat tidak boleh dibiarkan tanpa kepemimpinan yang mengurus kepentingannya. Mereka kemudian bermusyawarah dan mengangkat Abu Bakar sebagai khalifah.

Di sinilah tampak perbedaan antara orang yang hanya mengenal Islam secara lahiriah dengan orang yang telah memahami Islam sebagai amanah kehidupan.

Ketika Sebagian Besar Umat Goyah

Sepeninggal Rasulullah, muncul gelombang pembangkangan dan kemurtadan di berbagai wilayah. Sebagian kelompok menolak kewajiban zakat dan sebagian lainnya kembali kepada praktik-praktik jahiliah.

Apakah Abu Bakar menunggu sampai seluruh masyarakat sadar dengan sendirinya?

Tidak.

Ia bersama para sahabat menghadapi keadaan tersebut dengan keteguhan. Mereka berusaha mempertahankan kesatuan umat dan menegakkan kembali kewajiban-kewajiban agama yang ditolak.

Di sinilah terlihat sebuah pelajaran penting:

Kelompok kecil yang sadar dapat memainkan peran yang sangat besar ketika kelompok itu memiliki iman, ilmu, organisasi, dan kepemimpinan yang kuat.

Namun, pelajaran ini tidak boleh dipahami secara serampangan.

Kelompok kecil bukan berarti otomatis benar. Sedikitnya jumlah tidak dengan sendirinya menjadi bukti kebenaran. Ukuran kebenaran tetaplah wahyu, ilmu, dan ketundukan kepada Allah.

Yang hendak ditekankan adalah bahwa mayoritas tidak selalu menjadi ukuran kebenaran, sebagaimana minoritas juga tidak otomatis menjadi ukuran kebenaran.

Islam Bukan Sekadar Mengikuti Suara Mayoritas

Karena itu, Islam tidak dapat begitu saja disamakan dengan ideologi atau sistem pemikiran buatan manusia.

Islam memiliki sumber nilai yang berasal dari wahyu Allah. Prinsip-prinsip dasarnya tidak berubah hanya karena jumlah suara manusia berubah.

Bayangkan jika sebuah masyarakat melalui mekanisme politik memilih sesuatu yang bertentangan dengan ketentuan Allah. Apakah banyaknya suara otomatis menjadikannya benar?

Tidak.

Namun di sinilah kita harus berhati-hati.

Menolak anggapan bahwa mayoritas adalah sumber kebenaran bukan berarti memberikan hak kepada sekelompok kecil untuk bertindak sewenang-wenang terhadap masyarakat. Islam juga tidak membenarkan perubahan dilakukan dengan kezaliman, kekerasan tanpa hak, atau pemaksaan kehendak.

Perubahan harus dilakukan dengan ilmu, hikmah, dakwah, kesabaran, musyawarah, dan cara-cara yang dibenarkan syariat.

Karena itu, tugas kelompok yang sadar bukanlah sekadar "mengalahkan" mayoritas. Tugas mereka adalah membangunkan kesadaran masyarakat.

Jangan Menunggu Semua Orang Sadar

Di sinilah sering terjadi kekeliruan dalam gerakan perubahan.

Sebuah organisasi atau komunitas mungkin berkata, "Kita tunggu sampai seluruh masyarakat memahami Islam. Setelah semua sadar, barulah kita bergerak."

Tetapi bukankah itu berarti perubahan ditunda tanpa batas?

Kenyataannya, tidak semua orang akan memiliki tingkat kesadaran yang sama pada waktu yang sama.

Maka, yang dibutuhkan adalah membina manusia-manusia yang benar-benar sadar terlebih dahulu. Mereka menjadi pusat pendidikan, keteladanan, dan pelayanan kepada masyarakat.

Bukan untuk merasa lebih tinggi daripada masyarakat.

Bukan pula untuk menganggap diri sebagai kelompok yang pasti benar.

Melainkan untuk menjadi pelayan perubahan yang sabar dan bertanggung jawab.

Seberapa Besar Kelompok Penggerak Perubahan?

Sejumlah kajian sosiologi populer sering menyebut bahwa orang yang memikirkan perubahan jumlahnya jauh lebih banyak daripada mereka yang benar-benar bersedia bekerja untuk mewujudkannya. Sebagian besar lainnya cenderung mengikuti arus.

Gambaran ini sebenarnya mudah kita lihat dalam kehidupan sehari-hari.

Berapa banyak orang yang menginginkan perubahan?

Banyak.

Berapa banyak yang membicarakannya?

Lebih banyak lagi.

Tetapi berapa banyak yang bersedia belajar, berkorban, bekerja secara konsisten, menghadapi kesulitan, dan tetap bertahan ketika perubahan tidak segera menghasilkan sesuatu?

Jumlahnya jauh lebih sedikit.

Karena itu, Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah dinisbatkan pernah membagi manusia menjadi tiga golongan: ulama Rabbani, para pencari ilmu dan kebenaran, serta orang-orang rendah yang mengikuti setiap suara yang terdengar.

Gambaran ini mengandung sebuah pelajaran penting: masyarakat tidak pernah sepenuhnya homogen.

Ada yang memimpin kesadaran.

Ada yang sedang mencari kebenaran.

Ada pula yang sekadar mengikuti arus.

Perubahan Tidak Selalu Mengikuti Teori yang Sederhana

Sejarah politik dunia juga menunjukkan bahwa perubahan besar tidak selalu terjadi melalui proses perubahan masyarakat secara seragam dan bertahap.

Revolusi Rusia, misalnya, menunjukkan bagaimana sebuah kelompok politik yang terorganisasi dapat memainkan peranan sangat besar dalam perebutan kekuasaan, meskipun tidak seluruh masyarakat sebelumnya memiliki kesadaran ideologis yang sama.

Ini menunjukkan bahwa organisasi, kepemimpinan, disiplin, dan momentum sejarah dapat menjadi faktor penting dalam perubahan.

Namun sejarah tersebut sekaligus memberi pelajaran lain: kemampuan mengambil alih kekuasaan tidak sama dengan kemampuan membangun masyarakat yang baik.

Perebutan kekuasaan dapat terjadi dengan cepat.

Membangun manusia membutuhkan waktu.

Mengubah budaya membutuhkan generasi.

Dan membangun peradaban membutuhkan ketekunan yang jauh lebih panjang.

Karena itu, perubahan yang hanya bertumpu pada perebutan kekuasaan tanpa pembinaan manusia akan mudah kehilangan ruhnya.

Siapakah Kelompok Kecil Itu?

Lalu, siapakah kelompok kecil yang benar-benar dibutuhkan?

Bukan kelompok yang merasa dirinya paling suci.

Bukan kelompok yang gemar mencela masyarakat.

Bukan pula kelompok yang hanya pandai berteriak tentang perubahan.

Kelompok yang dibutuhkan adalah mereka yang beriman, berilmu, sabar, bersih dari kesombongan, dan bersedia bekerja untuk kemaslahatan manusia.

Mereka tidak mudah tergiur oleh berbagai ideologi yang datang silih berganti.

Mereka memiliki prinsip, tetapi tidak kehilangan hikmah.

Mereka memiliki keberanian, tetapi tidak kehilangan akhlak.

Mereka memiliki visi, tetapi tidak mengabaikan kenyataan.

Mereka ingin mengubah masyarakat, tetapi terlebih dahulu bersedia mengubah dirinya sendiri.

Mereka membaca Al-Qur'an bukan hanya untuk menemukan dalil bagi pendapatnya, tetapi untuk menemukan petunjuk bagi kehidupannya.

Mereka mendekat kepada Allah dalam kesunyian.

Mereka menangis dalam doa.

Mereka bersujud ketika manusia lain sedang mengejar popularitas.

Mereka belajar ketika yang lain sibuk berdebat.

Dan mereka bekerja ketika yang lain hanya menunggu.

Dari Kelompok Kecil Menuju Perubahan Besar

Bukankah demikian pula perjalanan dakwah Rasulullah saw.?

Dari satu manusia yang menerima wahyu.

Kemudian keluarga.

Kemudian beberapa sahabat.

Kemudian sebuah jamaah.

Kemudian sebuah masyarakat.

Dan akhirnya, Islam menyebar melampaui batas Jazirah Arab.

Perubahan besar itu tidak dimulai dengan jutaan manusia yang serentak sadar.

Ia dimulai dari manusia-manusia yang benar-benar sadar.

Maka pertanyaannya sekarang bukan:

"Mengapa masyarakat belum berubah?"

Pertanyaan yang lebih mendasar adalah:

"Sudahkah kita berubah?"

Bukan:

"Mengapa orang lain belum memahami Islam?"

Tetapi:

"Sudahkah Islam benar-benar hidup dalam diri kita?"

Bukan:

"Mengapa mayoritas tidak bergerak?"

Melainkan:

"Sudahkah kita menjadi bagian dari sedikit orang yang mau belajar, beriman, bekerja, dan bersabar?"

Sebab perubahan masyarakat tidak akan lahir hanya dari suara yang keras.

Ia lahir dari manusia yang kokoh.

Tidak dari jumlah yang besar semata.

Tetapi dari kualitas iman, ilmu, akhlak, dan amal.

Dan jika Allah menghendaki, dari kelompok kecil yang sungguh-sungguh memperbaiki dirinya itulah lahir gelombang perubahan yang jauh lebih besar.

Maka mulailah dari diri sendiri.

Bersihkan akidah.

Luruskan niat.

Perdalam ilmu.

Perbaiki akhlak.

Bangun persaudaraan.

Didik keluarga.

Layani masyarakat.

Dan teruslah bekerja dengan sabar.

Sebab boleh jadi kita tidak akan pernah melihat seluruh hasil perjuangan itu.

Tetapi bukankah tugas seorang mukmin bukan memastikan hasil berada di tangannya?

Tugasnya adalah berusaha sebaik-baiknya, tetap berada di jalan Allah, dan menyerahkan hasil akhirnya kepada-Nya.

Di situlah kelompok kecil yang beriman menemukan kekuatannya: bukan karena jumlahnya besar, tetapi karena ia yakin bahwa pertolongan Allah tidak pernah bergantung pada banyaknya manusia.

"Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak, dengan izin Allah."

(QS. Al-Baqarah: 249)

Perlawanan Bersenjata Pribumi Islam terhadap Penjajah VOC Bangsa-ban...

Perlawanan Bersenjata Pribumi Islam terhadap Penjajah VOC


Bangsa-bangsa Asia Tenggara tidak pernah menerima begitu saja kedatangan imperialis Barat. Sejak abad ke-16 M, ketika Portugis dan Spanyol mulai memasuki kawasan Nusantara, perlawanan muncul di berbagai wilayah. Pada abad berikutnya, tantangan semakin kompleks dengan hadirnya Belanda melalui VOC dan kemudian Inggris.

Di antara berbagai bentuk perlawanan tersebut, terdapat satu corak yang sangat menonjol: perlawanan bersenjata yang dipimpin oleh para sultan, bangsawan, ulama, dan tokoh masyarakat Muslim.

Mengapa perlawanan itu muncul?

Apakah semata-mata karena perebutan kekuasaan? Ataukah karena persoalan perdagangan? Atau terdapat persoalan yang lebih mendasar, yakni penolakan terhadap dominasi politik dan ekonomi bangsa asing atas negeri-negeri Muslim Nusantara?

Pertanyaan-pertanyaan inilah yang penting untuk diajukan ketika membaca sejarah hubungan Nusantara dengan imperialisme Barat.

VOC: Berdagang dengan Senjata?

VOC pada dasarnya didirikan sebagai perusahaan dagang. Namun, dalam praktiknya, VOC memiliki kekuasaan politik dan militer yang sangat besar. Ia dapat membuat perjanjian, membangun benteng, mengerahkan tentara, melakukan blokade, bahkan berperang.

Di sinilah muncul sebuah paradoks sejarah.

Jika tujuan utamanya berdagang, mengapa perdagangan harus ditopang oleh kekuatan militer?

M.C. Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern menunjukkan bagaimana beberapa Gubernur Jenderal VOC memainkan peran penting dalam ekspansi militer Belanda di Nusantara. Di antara tokoh yang menonjol ialah Antonio van Diemen, Johan Maetsuycker, dan Cornelis Janszoon Speelman.

Ekspansi tersebut terutama diarahkan ke kawasan Indonesia Timur dan Kepulauan Maluku, wilayah yang sangat penting karena produksi rempah-rempahnya.

Namun, untuk menguasai Maluku, VOC harus terlebih dahulu memperhitungkan kekuatan-kekuatan politik yang sudah ada di Nusantara.

Mataram di Jawa, Banten di bagian barat Jawa, Makassar di Sulawesi Selatan, Ternate dan Tidore di Maluku, serta berbagai kesultanan lainnya bukanlah ruang kosong yang dapat begitu saja dikuasai oleh bangsa asing.

Karena itu, penguasaan perdagangan pada akhirnya berubah menjadi persoalan penguasaan politik.

Jayakarta: Mata Rantai Strategis Nusantara

VOC memahami arti penting Jayakarta.

Jayakarta bukan sekadar sebuah kota pelabuhan. Letaknya menjadikannya salah satu simpul penting jaringan perdagangan Nusantara. Kapal-kapal dari berbagai bandar di Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan Maluku dapat singgah sebelum melanjutkan pelayaran menuju Sumatra, Sri Lanka, India, Afrika, hingga Timur Tengah.

Bukankah dengan menguasai sebuah bandar strategis, seseorang dapat mengawasi lalu lintas perdagangan yang jauh lebih luas?

Inilah yang membuat Jayakarta menjadi sangat penting bagi VOC.

Secara geografis, Jayakarta relatif jauh dari pusat kekuasaan Demak, Cirebon, dan Banten. Kondisi tersebut memberikan ruang bagi VOC untuk membangun kekuatan.

Pada 1619 M, VOC berhasil menguasai Jayakarta dan mengganti namanya menjadi Batavia.

Dengan demikian, sebuah bandar dagang berubah menjadi pusat kekuatan kolonial.

J.P. Coen, yang menjadi Gubernur Jenderal VOC pada 1619–1623 dan 1627–1629 M, mempunyai pandangan ekspansionistis yang sangat jelas. Dalam gambaran Ricklefs, penguatan perdagangan VOC tidak dapat dipisahkan dari upaya menghancurkan kekuatan yang dianggap menghalangi kepentingannya.

Maka pertanyaan kembali muncul:

Apakah ini masih sekadar perdagangan? Ataukah perdagangan telah berubah menjadi instrumen kekuasaan?

Sultan Agung dan Pembebasan Batavia

Setelah Batavia dikuasai VOC, Kesultanan Mataram di bawah Sultan Agung menjadi salah satu kekuatan utama yang berusaha menentang ekspansi tersebut.

Sultan Agung memerintah Mataram pada 1613–1645 M. Ia tidak memandang keberadaan VOC di Batavia sebagai persoalan kecil.

Bersama Dipati Ukur dari Tatar Ukur, Sultan Agung melancarkan serangan terhadap Batavia pada 1628 dan 1629 M.

Serangan tersebut merupakan salah satu episode penting dalam sejarah perlawanan terhadap VOC.

Mengapa Sultan Agung menyerang Batavia?

Karena Batavia bukan sekadar kota. Di balik Batavia terdapat jaringan kekuasaan dan perdagangan yang sedang dibangun VOC. Dengan mempertahankan Batavia, VOC dapat memperluas pengaruhnya ke wilayah-wilayah lain.

Serangan Mataram memang tidak berhasil menghancurkan VOC. Namun, perlawanan tersebut menunjukkan bahwa ekspansi kolonial tidak berlangsung tanpa perlawanan.

Bahkan dalam konflik tersebut, terjadi pula tawanan perang dan hubungan diplomatik sementara antara Mataram dan VOC.

Dengan demikian, hubungan Mataram-VOC tidak selalu berupa perang terbuka. Kadang berlangsung melalui diplomasi, kadang melalui tekanan, dan pada saat tertentu berubah menjadi peperangan.

Dari Sultan Agung kepada Amangkurat I

Di sinilah sejarah mulai memperlihatkan sebuah ironi.

Sultan Agung dikenal sebagai penguasa yang berhadapan dengan VOC. Namun, setelah wafatnya, orientasi politik Mataram berubah secara drastis di bawah putranya, Amangkurat I.

Amangkurat I memerintah pada 1646–1677 M.

Jika Sultan Agung berusaha membendung pengaruh VOC, mengapa Amangkurat I justru mendekatinya?

Perubahan orientasi politik inilah yang kemudian menimbulkan konflik internal yang sangat besar.

Amangkurat I mengambil kebijakan yang semakin menjauh dari sebagian ulama dan kelompok-kelompok yang sebelumnya mempunyai pengaruh kuat dalam kehidupan politik Mataram.

Sejumlah sumber sejarah juga mencatat terjadinya pembunuhan besar-besaran terhadap ulama pada masa pemerintahannya. Angka sekitar 6.000 ulama sering disebut dalam literatur, meskipun rincian dan penafsiran atas peristiwa tersebut perlu ditempatkan secara kritis dalam kajian sejarah.

Apa akibatnya?

Alih-alih memperkuat kerajaan, kebijakan represif tersebut justru memperbesar perlawanan.

Dan dari sinilah muncul Trunajaya.

Trunajaya dan Perlawanan Ulama

Pemberontakan Trunajaya berlangsung pada 1675–1680 M. Gerakan ini mendapat dukungan dari berbagai kelompok yang menentang pemerintahan Amangkurat I, termasuk tokoh-tokoh ulama seperti Kiai Kajoran.

Perlawanan tersebut bukan sekadar perebutan takhta.

Di dalamnya terdapat pertarungan mengenai arah politik Mataram:

Apakah kerajaan akan berdiri sebagai kekuatan yang mandiri, ataukah bergantung kepada VOC?

Dalam konteks inilah sebagian masyarakat melihat perjuangan Trunajaya sebagai bagian dari perlawanan terhadap kekuasaan yang dianggap telah bersekutu dengan penjajah.

Ricklefs mencatat kuatnya kesadaran Islam di tengah masyarakat Jawa pada masa itu. Keyakinan bahwa keberadaan kekuatan asing non-Muslim di Jawa menjadi penghalang bagi datangnya keberkahan merupakan salah satu unsur yang memperkuat dukungan masyarakat terhadap perlawanan.

Tetapi semangat saja tidak cukup.

Perang membutuhkan persenjataan, logistik, jaringan ekonomi, organisasi, dan kemampuan militer.

Di sinilah kelemahan gerakan Trunajaya mulai terlihat.

Mengapa Perlawanan Trunajaya Gagal?

Trunajaya menghadapi lawan yang memiliki keunggulan militer dan ekonomi.

VOC memiliki tentara profesional, benteng, kapal, persenjataan, serta jaringan perdagangan yang luas. Selain itu, VOC memperoleh dukungan dari Amangkurat II dan Arung Palakka dari Bone.

Sementara itu, pasukan Trunajaya beroperasi terutama dari pedalaman Jawa Timur.

Bagaimana mereka memperoleh dana perang?

Bagaimana perdagangan dapat berlangsung jika jalur laut dikuasai VOC?

Di sinilah blokade ekonomi menjadi senjata yang sangat efektif.

VOC tidak harus selalu memenangkan setiap pertempuran di darat. Dengan menguasai jalur perdagangan dan laut, VOC dapat memutus sumber daya lawannya.

Maka terlihat sebuah pelajaran penting:

Dalam perang, kekuatan militer tidak berdiri sendiri. Ia bergantung pada ekonomi, perdagangan, logistik, dan jaringan politik.

Trunajaya akhirnya terdesak dan gugur pada 1680 M.

Kiai Kajoran juga mengalami nasib tragis. Ia tertangkap dan kemudian gugur pada 1679 M. Tradisi sejarah lokal dan berbagai sumber mengenai periode ini juga mengaitkan wafatnya sejumlah tokoh agama dengan konflik yang sedang berlangsung.

Banten: Sultan Ageng Tirtayasa Melawan VOC

Pada saat Mataram menghadapi persoalan internal, Banten tampil sebagai kekuatan penting lainnya.

Sultan Ageng Tirtayasa memerintah Banten pada 1651–1683 M.

Berbeda dengan politik VOC yang berusaha mengendalikan perdagangan, Sultan Ageng mengembangkan Banten sebagai bandar yang terbuka bagi berbagai bangsa.

Pedagang dari Asia, Afrika, Prancis, Denmark, dan Inggris melakukan hubungan dagang dengan Banten.

Bukankah kebijakan seperti ini justru dapat memperkuat posisi Banten?

Bagi VOC, justru di sinilah persoalannya.

Banten terlalu dekat dengan Batavia. Jika Banten dapat berdagang bebas dengan bangsa-bangsa lain, monopoli VOC akan terganggu.

Karena itu, konflik antara Banten dan VOC semakin tajam.

VOC kemudian menggunakan berbagai cara untuk melemahkan Banten, termasuk tekanan politik dan upaya memanfaatkan konflik internal kerajaan.

Di sinilah politik divide et impera memperoleh ruang.

Jika sebuah kekuatan tidak dapat dihancurkan dari luar, bukankah lebih mudah jika ia dibuat terpecah dari dalam?

Sultan Ageng, Trunajaya, dan Syekh Yusuf

Sultan Ageng Tirtayasa tidak hanya berhadapan dengan VOC di Banten. Ia juga memberikan dukungan kepada gerakan Trunajaya yang menentang Amangkurat I dan VOC.

Dalam perjuangan tersebut tampil pula seorang ulama besar dari Makassar: Syekh Yusuf al-Makassari.

Kehadiran Syekh Yusuf memperlihatkan bahwa jaringan perlawanan tidak selalu dibatasi oleh wilayah kerajaan.

Ulama, santri, pedagang, bangsawan, dan kekuatan politik dapat terhubung melampaui batas geografis.

Namun, sekali lagi, persoalan terbesar bukan hanya kekuatan lawan.

Banten sendiri mengalami konflik internal.

Putra Sultan Ageng, Sultan Haji, berbalik dan bekerja sama dengan VOC. Konflik internal tersebut akhirnya melemahkan Banten.

Pada akhirnya, Sultan Ageng kehilangan kekuasaan, sementara Syekh Yusuf ditangkap dan dibuang ke berbagai tempat hingga akhirnya sampai ke Afrika Selatan.

Maka sejarah kembali memberikan pertanyaan yang pahit:

Mengapa kekuatan yang besar sering kali tidak hancur karena serangan dari luar, tetapi karena perpecahan dari dalam?

Dua Sultan Hasanuddin, Dua Zaman Perlawanan

Dalam sejarah Banten dan Makassar terdapat dua tokoh yang sama-sama bernama Sultan Hasanuddin, tetapi berasal dari kesultanan dan zaman yang berbeda.

Pertama, Sultan Hasanuddin dari Banten, yang memerintah pada abad ke-16 M dan menghadapi ekspansi Portugis.

Kedua, Sultan Hasanuddin dari Gowa-Makassar, yang memerintah pada 1653–1669 M dan menghadapi VOC.

Keduanya memperlihatkan pola yang hampir serupa:

Kesultanan yang memiliki posisi strategis dalam perdagangan akan menjadi sasaran kekuatan imperialis yang ingin menguasai jalur ekonomi Nusantara.

Sultan Hasanuddin dan Perang Makassar

Sultan Hasanuddin dari Gowa merupakan salah satu tokoh terbesar dalam perlawanan terhadap VOC.

Perang Makassar mencapai titik penting dengan Perjanjian Bongaya pada 18 November 1667 M.

Perjanjian tersebut sangat membatasi kekuatan politik dan perdagangan Gowa-Makassar serta memperkuat posisi VOC dalam perdagangan di kawasan tersebut.

Namun, apakah kemenangan VOC semata-mata diperoleh karena keunggulan jumlah pasukan Belanda?

Tidak.

VOC juga memperoleh bantuan Arung Palakka dari Bone.

Cornelis Speelman sendiri membawa kekuatan VOC yang relatif terbatas. Keunggulan VOC terletak pada kombinasi antara kekuatan laut, blokade perdagangan, diplomasi, dan kemampuan memanfaatkan konflik antarkekuatan lokal.

Dengan demikian, perang Makassar memberikan pelajaran yang sama seperti konflik Mataram dan Banten:

Kekuatan kolonial tidak selalu menang karena jumlah tentaranya lebih besar. Mereka dapat menang karena mampu menggabungkan militer, ekonomi, diplomasi, dan politik pecah belah.

Sultan Hasanuddin kemudian kembali melancarkan perlawanan pada 1668–1669 M. Namun, tekanan VOC dan sekutu-sekutunya akhirnya membuat Gowa semakin terdesak.

VOC dan Pemutusan Jaringan Perdagangan

Salah satu kunci keberhasilan VOC adalah penguasaan laut.

Ini penting untuk dipahami.

VOC tidak hanya menyerang benteng atau pasukan lawannya. Ia juga berusaha mengendalikan jalur perdagangan yang menjadi sumber pembiayaan kerajaan.

Ketika jalur laut ditutup, perdagangan terhenti.

Ketika perdagangan terhenti, pemasukan kerajaan berkurang.

Ketika pemasukan berkurang, kemampuan membiayai perang ikut melemah.

Dengan demikian, blokade ekonomi dapat menjadi senjata perang yang sama pentingnya dengan senjata di medan tempur.

Inilah salah satu sebab mengapa perlawanan yang memiliki dukungan rakyat sekalipun dapat mengalami kekalahan apabila tidak mempunyai basis ekonomi dan logistik yang kuat.

Ketika Sesama Pribumi Berhadapan

Di sinilah bagian paling getir dari sejarah ini.

VOC tidak selalu menghadapi kerajaan-kerajaan Nusantara seorang diri. Dalam berbagai konflik, VOC berhasil memperoleh sekutu dari kalangan penguasa atau kelompok lokal yang mempunyai kepentingan politik masing-masing.

Arung Palakka merupakan salah satu contoh paling penting dalam konteks Perang Makassar.

Dalam konflik Trunajaya, VOC juga memperoleh dukungan dari pihak yang berseberangan dengan Trunajaya.

Dengan demikian, perlawanan terhadap VOC tidak hanya berhadapan dengan tentara Belanda.

Ia juga berhadapan dengan fragmentasi politik di antara kekuatan-kekuatan pribumi sendiri.

Apakah VOC terlalu kuat?

Mungkin.

Tetapi apakah perpecahan di antara kekuatan Nusantara juga ikut membuat VOC semakin kuat?

Inilah pertanyaan sejarah yang tidak boleh diabaikan.

Perlawanan yang Tidak Pernah Benar-Benar Berhenti

Kekalahan Sultan Agung dalam menyerang Batavia tidak mengakhiri perlawanan.

Kekalahan Sultan Hasanuddin tidak menghapus semangat perlawanan di Makassar.

Jatuhnya Sultan Ageng Tirtayasa tidak menghilangkan perlawanan di Banten.

Gugurnya Trunajaya tidak membuat seluruh masyarakat menerima kekuasaan VOC begitu saja.

Perlawanan terus muncul dalam berbagai bentuk dan wilayah.

Pada 1750, misalnya, Banten kembali mengalami pemberontakan yang dikaitkan dengan Kiai Tapa dan memperoleh dukungan dari sebagian masyarakat Tionghoa.

Mengapa dukungan lintas kelompok seperti itu dapat terjadi?

Karena kolonialisme tidak selalu menghadapkan satu bangsa dengan bangsa lain secara sederhana. Di lapangan, kepentingan ekonomi, agama, politik, perdagangan, dan kekuasaan saling berkelindan.

Karena itu, sejarah perlawanan terhadap VOC tidak cukup dibaca sebagai cerita Belanda melawan pribumi.

Ia jauh lebih kompleks.

Ada kerajaan melawan VOC.

Ada kerajaan bekerja sama dengan VOC.

Ada ulama melawan penguasa pribumi yang bekerja sama dengan VOC.

Ada pedagang yang kepentingannya dirugikan oleh monopoli.

Ada pula kelompok pribumi yang akhirnya berada di pihak VOC karena pertimbangan politiknya sendiri.

Pelajaran dari Sejarah

Dari rangkaian perlawanan Sultan Agung, Sultan Ageng Tirtayasa, Trunajaya, Syekh Yusuf, dan Sultan Hasanuddin, terlihat bahwa kekuatan kolonial tidak hanya mengandalkan senjata.

Ia mengandalkan monopoli perdagangan, penguasaan laut, blokade ekonomi, diplomasi, benteng, tentara profesional, dan politik pecah belah.

Sebaliknya, para pejuang Nusantara memiliki modal yang berbeda: legitimasi kerajaan, dukungan rakyat, jaringan ulama, semangat keagamaan, kemampuan menguasai wilayah, dan jaringan perdagangan.

Namun, kekuatan tersebut sering kali tidak terintegrasi dalam satu strategi bersama.

Di sinilah sejarah menjadi cermin.

Apakah sebuah bangsa cukup hanya memiliki keberanian?

Tidak.

Keberanian harus bertemu dengan ilmu.

Semangat harus bertemu dengan organisasi.

Kekuatan militer harus ditopang ekonomi.

Perjuangan harus memiliki jaringan.

Dan yang tidak kalah penting, persatuan politik harus dijaga.

Sebab sejarah VOC memperlihatkan satu kenyataan yang pahit: sebuah kekuatan asing dapat menjadi sangat kuat bukan hanya karena kekuatannya sendiri, tetapi karena lawan-lawannya terpecah dan saling berhadapan.

Karena itu, membaca sejarah perlawanan Islam terhadap VOC bukan sekadar mengenang siapa yang menang dan siapa yang kalah.

Lebih jauh dari itu, kita sedang bertanya kepada diri sendiri:

Mengapa sebuah bangsa yang memiliki kerajaan, ulama, pedagang, tentara, kekayaan alam, dan rakyat yang besar dapat dikalahkan oleh kekuatan asing yang jumlahnya jauh lebih kecil?

Jawabannya mungkin tidak hanya berada di medan perang.

Ia juga berada di pelabuhan, pasar, istana, jaringan perdagangan, meja diplomasi, dan—yang paling menentukan—di dalam persatuan atau perpecahan masyarakat itu sendiri.

Hakikat Ibadah: Dari Ritual Menuju Ketundukan Total kepada Allah Kin...

Hakikat Ibadah: Dari Ritual Menuju Ketundukan Total kepada Allah

Kini, marilah kita berhenti sejenak pada satu kata yang sangat penting dalam Al-Qur'an: 'ibadah.

Mengapa Al-Qur'an berulang kali memerintahkan manusia untuk beribadah hanya kepada Allah?

Mengapa para rasul, dari generasi ke generasi, selalu membawa seruan yang sama?

«Ù‚َالَ ÙŠَا Ù‚َÙˆْÙ…ِ اعْبُدُوا اللَّÙ‡َ Ù…َا Ù„َÙƒُÙ… Ù…ِّÙ†ْ Ø¥ِÙ„َٰÙ‡ٍ غَÙŠْرُÙ‡ُ

"Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia."
(QS. Hûd [11]: 50)»

Apakah seruan itu hanya berarti: jangan menyembah berhala, jangan sujud kepada patung, jangan mempersembahkan sesaji kepada selain Allah?

Ataukah maknanya jauh lebih luas?

Di sinilah kita perlu kembali kepada makna asli 'ibadah.

Ibadah: Bukan Sekadar Ritual

Kita sering memahami ibadah terutama sebagai aktivitas ritual: salat, puasa, zakat, haji, doa, dan berbagai bentuk penghambaan yang bersifat langsung kepada Allah.

Semua itu memang ibadah.

Tetapi apakah seluruh makna ibadah berhenti di sana?

Tidak.

Secara bahasa, kata 'abada mengandung makna tunduk, patuh, merendahkan diri, dan menghambakan diri. Karena itu, 'ibadah pada hakikatnya menunjuk kepada ketundukan manusia kepada Allah.

Maka pertanyaannya berubah.

Bukan sekadar:

"Kepada siapa kita melakukan ritual?"

Tetapi:

"Kepada siapa kita tunduk?"

Bukan hanya:

"Siapa yang kita sembah di masjid?"

Tetapi:

"Siapa yang kita taati dalam seluruh kehidupan?"

Inilah titik penting yang sering terlewat.

Ketika Al-Qur'an pertama kali turun kepada masyarakat Arab di Makkah, kewajiban ritual Islam belum turun secara lengkap seperti yang kita kenal kemudian. Namun mereka sudah diperintahkan untuk beribadah kepada Allah.

Lalu apa yang mereka pahami dari seruan itu?

Tentu bukan sekadar ritual.

Mereka memahami bahwa mereka dituntut untuk menundukkan diri kepada Allah dan menolak ketundukan kepada selain-Nya.

Dengan demikian, persoalan tauhid sejak awal bukan hanya persoalan siapa yang disembah secara ritual, tetapi juga siapa yang menjadi tempat ketundukan manusia.

---

Ketika Ibadah Direduksi Menjadi Ritual

Di sinilah kita perlu berhati-hati.

Jika ibadah dipersempit hanya menjadi ritual, maka seseorang mungkin berkata:

"Saya tidak menyembah patung. Saya tidak bersujud kepada berhala. Saya tetap salat dan berpuasa. Berarti saya sudah terbebas dari seluruh bentuk kemusyrikan."

Benarkah sesederhana itu?

Bagaimana jika seseorang tidak menyembah patung, tetapi dalam persoalan tertentu ia menempatkan manusia sebagai sumber ketaatan yang lebih tinggi daripada Allah?

Bagaimana jika seseorang mengakui Allah sebagai Tuhan, tetapi dalam kehidupan nyata ia mengikuti aturan yang bertentangan dengan petunjuk-Nya karena menganggap aturan manusia lebih layak ditaati?

Di sinilah pemahaman tentang ibadah menjadi penting.

Rasulullah saw. memberikan penjelasan yang sangat mendalam ketika menafsirkan firman Allah:

«Ø§ØªَّØ®َذُوا Ø£َØ­ْبَارَÙ‡ُÙ…ْ ÙˆَرُÙ‡ْبَانَÙ‡ُÙ…ْ Ø£َرْبَابًا Ù…ِÙ†ْ دُونِ اللَّÙ‡ِ

"Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah..."
(QS. At-Taubah [9]: 31)»

Ketika 'Adi bin Hatim mempertanyakan hal itu, Rasulullah saw. menjelaskan bahwa mereka mengikuti para pemimpin agama tersebut dalam menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal.

Artinya, persoalannya bukan karena mereka melakukan ritual penyembahan kepada para pendeta.

Mereka tidak bersujud kepada para rahib.

Tetapi mereka mengikuti ketetapan mereka dalam persoalan halal dan haram.

Di situlah Rasulullah saw. menunjukkan bahwa makna ibadah tidak boleh direduksi menjadi ritual semata.

Ritual adalah salah satu bentuk ibadah karena ia merupakan bentuk ketundukan kepada Allah.

Tetapi ibadah memiliki cakupan yang lebih luas daripada ritual.

---

Lalu Apa Persoalan Hud dengan Kaumnya?

Sekarang mari kita kembali kepada kisah Nabi Hud 'alaihis-salam.

Allah mengabadikan seruan beliau:

«"Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia."
(QS. Hûd [11]: 50)»

Apa sebenarnya yang diminta Hud dari kaumnya?

Apakah sekadar agar mereka berhenti menyembah patung?

Jika hanya itu, mengapa perjuangan para rasul demikian panjang?

Mengapa dakwah mereka menghadapi penolakan, permusuhan, bahkan penyiksaan?

Mengapa persoalan tauhid menjadi begitu besar dalam sejarah manusia?

Jawabannya karena dakwah para rasul tidak berhenti pada perubahan ritual.

Mereka datang untuk mengubah ketundukan manusia secara menyeluruh.

Mereka menyeru manusia agar tidak menjadikan makhluk sebagai pusat ketaatan yang menggantikan Allah.

Karena itu, seruan:

"Sembahlah Allah!"

pada hakikatnya juga mengandung seruan:

"Tunduklah kepada Allah!"

Dan konsekuensinya:

"Jangan menjadikan selain Allah sebagai tujuan ketundukan mutlak."

---

Kaum 'Ad: Mengapa Mereka Dibinasakan?

Al-Qur'an kemudian menjelaskan keadaan kaum 'Ad:

«"Dan itulah (kisah) kaum 'Ad yang mengingkari tanda-tanda kekuasaan Tuhan mereka, mendurhakai rasul-rasul Allah, dan menuruti perintah semua penguasa yang sewenang-wenang lagi menentang kebenaran."
(QS. Hûd [11]: 59)»

Perhatikan rangkaian ayat ini.

Mereka mengingkari ayat-ayat Allah.

Mereka mendurhakai rasul-rasul.

Dan mereka mengikuti perintah para penguasa yang sewenang-wenang.

Bukankah ini menunjukkan bahwa persoalannya jauh lebih dalam daripada sekadar ritual?

Persoalannya adalah siapa yang mereka ikuti dan kepada siapa mereka tunduk.

Karena itu, dakwah Hud bukan hanya:

"Jangan menyembah patung!"

Tetapi:

"Jangan serahkan ketundukan mutlakmu kepada selain Allah."

Inilah yang menjadikan tauhid memiliki konsekuensi dalam kehidupan nyata.

---

Al-Qur'an: Kitab Dakwah Sepanjang Zaman

Namun mengapa kisah Hud diceritakan kepada kita?

Bukankah peristiwa itu telah berlalu ribuan tahun?

Mengapa Al-Qur'an masih mengajak kita berhenti dan merenungkannya?

Karena Al-Qur'an bukan sekadar kitab sejarah.

Kisah para rasul merupakan petunjuk bagi perjalanan dakwah sepanjang zaman.

Jahiliyah mungkin berubah bentuk.

Teknologi berubah.

Sistem politik berubah.

Struktur ekonomi berubah.

Cara manusia berkomunikasi berubah.

Tetapi persoalan mendasarnya tetap ada:

Kepada siapa manusia tunduk?

Siapa yang menjadi sumber nilai?

Siapa yang menentukan arah kehidupan?

Siapa yang menjadi tujuan akhir?

Karena itulah dakwah para rasul tetap relevan.

Manusia dapat berpindah dari menyembah patung kepada menyembah kekuasaan.

Dapat berpindah dari tunduk kepada berhala batu kepada tunduk kepada hawa nafsu.

Dapat berpindah dari mengagungkan benda kepada mengagungkan manusia.

Bentuknya berubah.

Tetapi penyakitnya bisa tetap sama:

ketundukan yang diberikan kepada selain Allah.

---

Tauhid Mengubah Seluruh Kehidupan

Karena itu, tauhid tidak boleh berhenti sebagai pengakuan lisan.

Tauhid harus mempunyai konsekuensi dalam kehidupan.

Tauhid uluhiyyah berarti mengesakan Allah dalam peribadatan.

Tauhid rububiyyah mengakui Allah sebagai Rabb, Pemilik dan Pengatur.

Dan pengakuan tersebut semestinya membentuk cara manusia memahami kepemimpinan, hukum, nilai, tujuan hidup, dan seluruh manhaj kehidupannya.

Dengan demikian, tauhid bukan sekadar tema teologis yang dibicarakan di ruang kelas atau masjid.

Tauhid adalah pandangan hidup.

Ia menjawab pertanyaan paling mendasar:

Siapa Tuhan kita?

Siapa yang kita sembah?

Siapa yang kita taati?

Dari mana nilai dan petunjuk kehidupan kita?

Ke mana seluruh kehidupan kita diarahkan?

Ketika jawaban atas semua pertanyaan itu kembali kepada Allah, maka tauhid mulai menemukan pengaruhnya dalam kehidupan.

---

Mengapa Para Rasul Berjuang Sedemikian Berat?

Sekarang kita dapat memahami mengapa dakwah tauhid menjadi pusat seluruh kerasulan.

Jika ibadah hanya berarti ritual, mengapa para rasul harus menghadapi perlawanan sedemikian hebat?

Mengapa para penguasa jahiliyah merasa terancam oleh kalimat:

"Sembahlah Allah, tidak ada Tuhan bagimu selain Dia."

Bukankah kalimat itu tampaknya hanya berbicara tentang ibadah?

Tetapi justru di situlah kekuatannya.

Seruan tauhid berarti membebaskan manusia dari penghambaan kepada manusia.

Ia mengembalikan manusia kepada penghambaan kepada Allah.

Itulah sebabnya tauhid memiliki konsekuensi yang sangat luas.

Ia membebaskan hati dari penghambaan kepada selain Allah.

Ia membebaskan akal dari taklid yang membutakan.

Ia membebaskan manusia dari ketundukan mutlak kepada penguasa yang zalim.

Ia membebaskan manusia dari perbudakan hawa nafsu.

Dan ia mengarahkan seluruh kehidupan kepada Allah.

Maka perjuangan para rasul bukanlah perjuangan yang sempit.

Ia adalah perjuangan memanusiakan manusia dengan mengembalikannya kepada penghambaan hanya kepada Allah.

---

Dari Jahiliyah Menuju Islam

Menurut kerangka ini, sejarah manusia dapat dilihat sebagai perjalanan antara dua keadaan:

Islam, yaitu ketundukan kepada Allah,

dan jahiliyah, yaitu ketika manusia menyimpang dari ketundukan tersebut.

Adam 'alaihis-salam membawa petunjuk Allah ketika memulai kehidupan manusia di bumi.

Kemudian manusia mengalami penyimpangan.

Datanglah para rasul.

Mereka mengingatkan manusia kembali.

Lalu manusia kembali menyimpang.

Datang lagi para rasul.

Demikianlah perjalanan itu berlangsung dari generasi ke generasi.

Karena itu, dakwah Islam bukan sesuatu yang asing bagi manusia.

Dakwah Islam adalah seruan untuk kembali kepada fitrah ketundukan kepada Allah.

Dan Al-Qur'an datang untuk mengembalikan manusia kepada jalan tersebut.

---

Ibadah sebagai Pembebasan

Pada akhirnya, kita sampai pada satu kesimpulan penting.

Ibadah bukan sekadar ritual.

Ibadah adalah ketundukan kepada Allah.

Dan penghambaan kepada Allah memiliki konsekuensi: manusia tidak boleh memberikan ketundukan mutlak kepada selain-Nya.

Karena itu, ketika Islam menyeru:

«"Sembahlah Allah!"»

seruan itu sesungguhnya juga mengandung pesan:

"Bebaskan dirimu dari penghambaan kepada selain Allah."

Inilah rahasia mengapa tauhid menjadi inti dakwah seluruh rasul.

Allah tidak membutuhkan ibadah manusia. Allah Mahakaya dan tidak membutuhkan makhluk-Nya.

Kitalah yang membutuhkan tauhid.

Kitalah yang membutuhkan kehidupan yang lurus.

Kitalah yang membutuhkan arah.

Kitalah yang membutuhkan standar kebenaran.

Kitalah yang membutuhkan pembebasan dari perbudakan manusia, hawa nafsu, kekuasaan, materi, dan berbagai bentuk penghambaan yang menjauhkan kita dari Allah.

Maka pertanyaan akhirnya bukan hanya:

"Apakah kita sudah melakukan ritual ibadah?"

Tetapi lebih dalam:

"Apakah seluruh kehidupan kita benar-benar tunduk kepada Allah?"

Jika salat kita menghadap Allah, tetapi keputusan hidup kita sepenuhnya tunduk kepada hawa nafsu, apa yang sebenarnya sedang kita sembah?

Jika lisan kita mengucapkan la ilaha illallah, tetapi hati kita menjadikan selain Allah sebagai sumber ketundukan mutlak, apakah kita sudah memahami sepenuhnya makna kalimat itu?

Dan jika tauhid benar-benar telah hidup dalam diri manusia, bukankah ia akan membentuk seluruh kehidupannya?

Ibadah membentuk hati.
Tauhid membentuk arah.
Dan ketundukan kepada Allah membentuk kehidupan.

Itulah sebabnya seruan Hud 'alaihis-salam tetap bergema hingga hari ini:

«"Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia."»

Bukan sekadar seruan untuk mengubah ritual.

Tetapi seruan untuk mengubah pusat ketundukan manusia:

dari makhluk kepada Al-Khaliq,

dari jahiliyah kepada Islam,

dari penghambaan kepada manusia menuju penghambaan hanya kepada Allah.

Al-Hikmah: Kebijaksanaan dalam Dakwah Ekonomi Islam Al-Hakim berarti Mahabijaksa...

Al-Hikmah: Kebijaksanaan dalam Dakwah Ekonomi Islam


Al-Hakim berarti Mahabijaksana. Salah satu konsekuensi dari memahami Allah sebagai Al-Hakim adalah bahwa para penggiat ekonomi Islam harus belajar menyampaikan ekonomi Islam dengan hikmah dan kebijaksanaan.

Tetapi apa sebenarnya yang dimaksud dengan bijaksana dalam berdakwah?

Apakah bijaksana berarti selalu berbicara dengan lembut?

Ataukah cukup dengan menyampaikan dalil sebanyak-banyaknya?

Tentu tidak.

Kebijaksanaan dalam dakwah berarti mampu menempatkan perkataan, metode, argumentasi, dan tindakan pada tempat yang tepat. Karena manusia yang kita hadapi tidak semuanya sama. Mereka memiliki latar belakang, kapasitas intelektual, pengalaman, kebutuhan, dan keadaan psikologis yang berbeda-beda.

Karena itu, bukankah aneh jika kita menggunakan satu cara untuk menghadapi semua orang?

Bagaimana mungkin metode yang efektif bagi seorang ekonom yang sangat rasional akan sama efektifnya ketika digunakan kepada masyarakat awam yang belum memahami ekonomi Islam?

Bagaimana mungkin cara berbicara kepada seseorang yang memiliki keterikatan emosional dengan Islam disamakan dengan cara berbicara kepada seseorang yang hanya tertarik pada pertanyaan: "Apa manfaatnya bagi saya?"

Begitu pula, cara menghadapi orang yang telah memiliki pemahaman agama yang kuat tentu tidak selalu sama dengan cara menghadapi orang yang hanya memahami teori ekonomi konvensional.

Inilah pentingnya hikmah.

Allah SWT berfirman:

«"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik...."
(QS. An-Nahl: 125)»

Ayat ini memberikan kepada kita sebuah prinsip penting dalam berdakwah: kebenaran yang disampaikan dengan metode yang salah dapat kehilangan daya pengaruhnya.

Dalam ayat tersebut terdapat tiga pendekatan yang dapat menjadi pedoman dalam dakwah ekonomi Islam: al-hikmah, al-mau'izhah al-hasanah, dan mujadalah billati hiya ahsan.

1. Al-Hikmah: Berbicara dengan Argumen yang Kuat

Menurut Sayyid Thanthawi, al-hikmah adalah pendapat atau argumentasi yang kuat, jelas, benar, sesuai dengan kenyataan, serta mampu menghilangkan keragu-raguan.

Maka berdakwah dengan al-hikmah bukan sekadar mengatakan:

"Ekonomi Islam itu benar."

Tetapi kita harus mampu menjelaskan:

Mengapa ia benar?

Apa dasar teorinya?

Bagaimana mekanismenya?

Apa buktinya?

Apa hasil empirisnya?

Di sinilah dakwah ekonomi Islam membutuhkan kemampuan intelektual.

Menurut al-Baidhawi, metode al-hikmah terutama diperlukan ketika menghadapi orang-orang yang membutuhkan bukti dan argumentasi, baik secara teoritis maupun empiris.

Bayangkan kita berhadapan dengan seorang ekonom yang menguasai teori ekonomi konvensional, memahami statistik, menguasai kebijakan moneter, memahami sistem keuangan global, tetapi belum memahami ekonomi Islam.

Apakah cukup kita mengatakan kepadanya:

"Ekonomi Islam lebih baik karena bersumber dari wahyu."

Bagi seorang yang belum memiliki kerangka berpikir yang sama, jawaban itu mungkin belum memadai.

Ia akan bertanya:

"Di mana keunggulannya?"

"Bagaimana sistemnya bekerja?"

"Apa buktinya?"

"Bagaimana penerapannya dalam dunia modern?"

Maka di sinilah para penggiat ekonomi Islam dituntut untuk hadir dengan argumentasi yang kuat, data yang dapat dipertanggungjawabkan, teori yang kokoh, dan bukti empiris yang relevan.

Dakwah kepada kaum intelektual harus mampu memasuki ruang intelektual mereka.

Jangan hanya meminta mereka percaya; tunjukkan pula alasan mengapa mereka layak percaya.

---

2. Al-Mau'izhah al-Hasanah: Menyentuh Hati dengan Cara yang Baik

Namun apakah semua orang membutuhkan argumentasi akademik yang panjang?

Tentu tidak.

Ada masyarakat yang tidak memiliki pengetahuan mendalam tentang ekonomi Islam. Mereka tidak menentang ekonomi Islam. Mereka hanya belum mengenalnya.

Kepada mereka, apakah kita harus datang membawa bahasa akademik yang rumit?

Jika kita melakukan itu, bukankah kita justru membuat sesuatu yang sederhana menjadi sulit dipahami?

Menurut Sayyid Thanthawi, al-mau'izhah al-hasanah adalah perkataan yang mengandung pelajaran dan disampaikan dengan cara yang lembut sehingga hati orang yang mendengarnya tertarik kepada apa yang didakwahkan.

Inilah dakwah yang menyentuh hati.

Masyarakat awam tidak selalu membutuhkan kuliah tentang teori ekonomi.

Terkadang mereka hanya perlu memahami pertanyaan sederhana:

Mengapa Islam melarang riba?

Mengapa Islam memerintahkan keadilan dalam transaksi?

Mengapa Islam mengajarkan zakat?

Mengapa harta tidak boleh hanya berputar di kalangan orang kaya?

Dan yang lebih penting:

Apa manfaat semua itu bagi kehidupan mereka?

Di sinilah al-mau'izhah al-hasanah bekerja.

Kita menjelaskan ekonomi Islam dengan bahasa yang mudah dipahami, contoh yang dekat dengan kehidupan, kisah yang menggugah, serta perkataan yang lembut dan membangkitkan harapan.

Dakwah bukan perlombaan untuk menunjukkan siapa yang paling pintar.

Tujuan dakwah bukan membuat orang kagum kepada kepintaran kita, tetapi membuat mereka semakin dekat kepada kebenaran.

---

3. Mujadalah: Berdialog dengan Argumentasi Terbaik

Lalu bagaimana jika orang yang kita hadapi bukan sekadar belum memahami ekonomi Islam, tetapi justru menolak dan mengkritiknya?

Di sinilah metode mujadalah diperlukan.

Tetapi perhatikan baik-baik: Al-Qur'an tidak sekadar mengatakan, "berdebatlah."

Allah berfirman:

«"...dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang paling baik."
(QS. An-Nahl: 125)»

Artinya, debat pun memiliki etika.

Kita boleh berbeda.

Kita boleh membantah.

Kita boleh menunjukkan kesalahan argumentasi.

Tetapi mengapa harus menghina?

Mengapa harus merendahkan?

Mengapa harus menyerang pribadi?

Bukankah yang kita koreksi adalah argumennya, bukan kehormatan orangnya?

Karena itu, ketika menghadapi para pengkritik ekonomi Islam, kita harus memahami terlebih dahulu basis pemikiran mereka.

Apa teori yang mereka gunakan?

Apa asumsi ekonominya?

Apa data yang mereka jadikan dasar?

Di mana letak kelemahan argumentasinya?

Setelah itu, barulah kita memberikan bantahan berdasarkan kerangka ilmiah yang mereka pahami.

Dengan demikian, kita tidak menjawab kritik dengan emosi, tetapi dengan ilmu.

Tidak membalas hujatan dengan hujatan, tetapi dengan argumentasi.

Tidak menghindar dari pertanyaan sulit, tetapi menghadapinya dengan ketenangan.

Dan setelah argumentasi mereka berhasil dijawab, barulah kita menjelaskan keunggulan ekonomi Islam dengan landasan teori dan bukti empiris yang kuat.

Inilah mujadalah yang beradab: kuat dalam argumentasi, tetapi tetap baik dalam cara penyampaian.

---

Rasulullah Mengajarkan Kebijaksanaan

Untuk memahami makna kebijaksanaan secara lebih nyata, lihatlah bagaimana Rasulullah saw. menghadapi manusia.

Ada sebuah peristiwa yang sangat terkenal dalam hadis al-Bukhari.

Seorang Arab pedalaman datang ke masjid. Karena ketidaktahuannya, ia buang air kecil di dalam masjid.

Para sahabat tentu merasa terganggu.

Mereka hendak mencegahnya.

Namun Rasulullah saw. justru melarang para sahabat menghentikannya secara kasar. Beliau membiarkannya sampai selesai. Setelah itu, beliau memerintahkan agar bekas air kencing tersebut disiram dengan seember air.

Mengapa Rasulullah tidak langsung memarahinya?

Mengapa tidak mempermalukannya di hadapan orang banyak?

Karena Rasulullah memahami keadaan orang yang sedang dihadapinya.

Orang itu bukan sedang melakukan penghinaan terhadap masjid. Ia tidak mengetahui hukum dan adabnya.

Kesalahannya lahir dari ketidaktahuan.

Maka pendekatan yang digunakan pun disesuaikan dengan keadaan dirinya.

Bukankah ini pelajaran dakwah yang luar biasa?

Kesalahan seseorang tidak selalu membutuhkan respons yang sama.

Ada kesalahan karena kebodohan.

Ada karena kelalaian.

Ada karena kesalahpahaman.

Ada karena kesombongan.

Ada pula yang lahir dari permusuhan.

Apakah semuanya harus kita hadapi dengan cara yang sama?

Tentu tidak.

Inilah hikmah.

---

Dakwah Ekonomi Islam Membutuhkan Kecerdasan Membaca Manusia

Karena itu, seorang penggiat ekonomi Islam tidak cukup hanya menguasai apa yang akan disampaikan.

Ia juga harus memahami:

kepada siapa ia menyampaikannya,

kapan menyampaikannya,

bagaimana menyampaikannya,

dan dengan bahasa seperti apa menyampaikannya.

Seorang akademisi mungkin membutuhkan jurnal dan data.

Seorang pengusaha mungkin membutuhkan contoh konkret dan perhitungan bisnis.

Seorang pembuat kebijakan mungkin membutuhkan bukti empiris dan analisis dampak kebijakan.

Masyarakat awam mungkin membutuhkan bahasa sederhana dan contoh kehidupan sehari-hari.

Seorang Muslim yang telah memahami dasar-dasar agama mungkin membutuhkan dalil dan penjelasan syariah yang lebih mendalam.

Pesannya bisa sama, tetapi pintu masuknya berbeda.

Inilah seni dakwah.

Bukan mengubah kebenaran agar diterima manusia, tetapi menemukan cara yang paling tepat untuk menyampaikan kebenaran kepada manusia.

Sebab dakwah bukan hanya soal benar atau salahnya isi.

Dakwah juga menyangkut cara manusia menerima kebenaran tersebut.

Maka jangan sampai kita memiliki ilmu yang benar tetapi menyampaikannya dengan cara yang membuat orang menjauh.

Jangan sampai kita memiliki argumentasi yang kuat tetapi menyampaikannya dengan kesombongan.

Jangan sampai kita ingin mengajak manusia menuju ekonomi Islam, tetapi cara kita berbicara justru membuat mereka membenci Islam.

Pada akhirnya, bukankah dakwah ekonomi Islam membutuhkan dua kekuatan sekaligus?

Kekuatan ilmu untuk menjelaskan kebenaran dan kekuatan hikmah untuk membuat kebenaran itu dapat diterima.

Ilmu menjawab:

"Apa yang benar?"

Hikmah mengajarkan:

"Bagaimana kebenaran itu disampaikan?"

Dan di antara keduanya terdapat satu prinsip yang sangat penting:

Jangan hanya benar dalam isi; benarlah pula dalam cara.

Itulah salah satu makna dakwah dengan al-hikmah.

Mengalahkan Zionis Israel dengan Ilmu Pengetahuan dan Harta Sebagian orang mengatakan bahwa ...

Mengalahkan Zionis Israel dengan Ilmu Pengetahuan dan Harta


Sebagian orang mengatakan bahwa jalan menuju kemenangan tidak terletak pada keberpihakan kepada Blok Timur ataupun Blok Barat. Jalan menuju kemenangan, menurut mereka, adalah membangun kekuatan material: ilmu pengetahuan dan kekayaan.

Bukankah keduanya memang merupakan unsur penting pembentuk kekuatan manusia? Dengan ilmu pengetahuan, kita menguasai teknologi. Dengan kekayaan, kita membiayai pembangunan, penelitian, pendidikan, dan pertahanan. Dengan keduanya, kita dapat merebut kembali hak-hak yang terampas.

Pandangan ini tentu tidak sepenuhnya salah. Bahkan, kita sepakat bahwa umat Islam harus membangun kekuatan material semaksimal mungkin.

Bukankah Allah telah berfirman:

«"Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan kuda-kuda yang ditambatkan untuk berperang, yang dengan itu kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu."
(QS. Al-Anfal, 8:60)»

Ayat ini jelas memerintahkan persiapan kekuatan.

Para ulama juga menetapkan bahwa mempelajari ilmu pengetahuan yang dibutuhkan kaum Muslimin dalam kehidupan agama dan dunia mereka dapat menjadi fardhu kifayah. Jika tidak ada sebagian umat yang menguasainya, seluruh umat menanggung dosa karena mengabaikannya.

Ada pula kaidah fikih yang sangat penting:

«"Sesuatu yang kewajiban tidak dapat terlaksana kecuali dengannya, maka sesuatu itu menjadi wajib."»

Maka, jika menjaga kehormatan umat dan membebaskan negeri yang terjajah membutuhkan penguasaan teknologi, ekonomi, ilmu pengetahuan, dan kemampuan pertahanan, maka menyiapkan semua itu bukan sekadar pilihan strategis. Ia merupakan tanggung jawab kolektif umat.

Namun, di sinilah persoalan yang lebih mendasar muncul.

Apakah ilmu pengetahuan dan harta itu sendiri sudah cukup untuk menjamin kemenangan?

Di sinilah kita harus berhenti sejenak dan berpikir.

Kita tidak menolak ilmu pengetahuan. Kita tidak menolak kekayaan. Kita bahkan wajib mengejarnya.

Yang harus ditolak adalah ketika manusia mulai mendewakan kekuatan material dan menganggap bahwa materi merupakan satu-satunya sumber kemenangan.

Sebab, ketika ilmu dan harta ditempatkan sebagai "tuhan", persoalannya bukan lagi sekadar strategi. Ia telah menyentuh persoalan akidah.

Seolah-olah materi memiliki kekuasaan mutlak untuk menentukan masa depan manusia. Seolah-olah teknologi dapat menjamin kemenangan. Seolah-olah uang dapat membeli segala sesuatu. Seolah-olah manusia dengan ilmu dan hartanya dapat berkata kepada segala sesuatu, "Jadilah!", lalu terjadilah.

Padahal, siapa yang sebenarnya memiliki kekuasaan mutlak?

Allah.

Karena itu, kita harus membedakan dua hal: memiliki kekuatan material dan menggantungkan kemenangan kepada kekuatan material.

Yang pertama adalah kewajiban.

Yang kedua adalah kekeliruan.

---

Ada orang yang mungkin berkata:

"Kalau begitu, mari kita bangun ilmu pengetahuan. Mari kita kumpulkan kekayaan. Mari kita ciptakan teknologi modern. Mari kita bangun industri pertahanan. Dengan ilmu dan dana yang besar, kita akan mampu menandingi Israel, bahkan mengungguli mereka."

Bukankah secara logika hal itu terdengar masuk akal?

Tetapi apakah sejarah membenarkannya?

Lihatlah pengalaman perang Arab-Israel pada 5 Juni 1967.

Pada saat itu, negara-negara Arab memiliki persenjataan modern dan sumber daya yang besar. Secara material, mereka tidak datang ke medan perang dengan tangan kosong.

Namun, apakah persenjataan yang banyak itu otomatis menghasilkan kemenangan?

Tidak.

Kesaksian yang dikutip dalam tulisan ini justru menggambarkan pemandangan yang sangat kontras: persenjataan modern memenuhi padang pasir Sinai. Tank-tank, meriam, senjata antipesawat, dan berbagai perlengkapan perang tersedia dalam jumlah besar.

Melihat semua itu, orang mungkin berpikir:

"Dengan persenjataan sebanyak ini, bagaimana mungkin mereka kalah?"

Tetapi justru itulah pertanyaan yang harus kita renungkan.

Mengapa senjata yang begitu banyak tidak otomatis melahirkan keberanian?

Mengapa teknologi yang begitu canggih tidak otomatis melahirkan keteguhan?

Mengapa harta yang begitu besar tidak otomatis melahirkan kemenangan?

Karena senjata tidak berperang dengan sendirinya.

Teknologi tidak menentukan tujuan dengan sendirinya.

Uang tidak memiliki keberanian.

Manusialah yang menggunakan semuanya.

Maka persoalan sesungguhnya bukan hanya:

"Seberapa canggih senjata kita?"

Tetapi:

"Manusia seperti apa yang memegang senjata itu?"

Bukan hanya:

"Berapa besar dana yang kita miliki?"

Tetapi:

"Untuk apa dana itu digunakan, dan manusia seperti apa yang mengelolanya?"

Bukan hanya:

"Seberapa tinggi ilmu pengetahuan kita?"

Tetapi:

"Nilai apa yang mengarahkan ilmu pengetahuan itu?"

---

Sejarah memberikan pelajaran yang sama dalam berbagai bentuk.

Para pejuang Aljazair pernah menghadapi kekuatan Prancis yang memiliki ilmu pengetahuan, teknologi, organisasi, dan sumber daya jauh lebih besar. Namun kekuatan material tidak otomatis membuat sebuah bangsa mampu mempertahankan penjajahannya selamanya.

Demikian pula pengalaman Vietnam menghadapi Amerika Serikat menunjukkan bahwa keunggulan teknologi dan kekayaan tidak selalu berbanding lurus dengan kemenangan politik dan militer.

Apa pelajarannya?

Bukan berarti teknologi tidak penting.

Bukan pula berarti orang yang lemah persenjataannya pasti menang.

Pelajarannya jauh lebih sederhana:

Kekuatan material hanyalah alat.

Ia menjadi kuat atau lemah tergantung pada manusia yang menggunakannya, tujuan yang mengarahkannya, dan keteguhan yang menopangnya.

Karena itu, umat Islam tidak boleh memilih antara iman atau ilmu pengetahuan.

Tidak boleh memilih antara akidah atau teknologi.

Tidak boleh memilih antara spiritualitas atau kekayaan.

Yang diperlukan justru adalah integrasi semuanya.

Kita membutuhkan ilmuwan.

Kita membutuhkan pengusaha.

Kita membutuhkan kekayaan.

Kita membutuhkan teknologi.

Kita membutuhkan industri.

Kita membutuhkan pendidikan.

Tetapi kita juga membutuhkan manusia yang memiliki iman, keberanian, disiplin, integritas, kesabaran, dan kesediaan berkorban.

Sebab apa gunanya ilmu yang tinggi jika manusia kehilangan arah?

Apa gunanya harta yang melimpah jika manusia kehilangan tujuan?

Apa gunanya senjata yang canggih jika orang yang memegangnya kehilangan keberanian?

Dan apa gunanya sebuah bangsa memiliki teknologi tinggi jika jiwanya rapuh?

---

Menariknya, bahkan seorang tokoh Zionis seperti David Ben-Gurion pernah menyampaikan gagasan yang sangat penting: ketergantungan semata-mata kepada hasil ilmu pengetahuan modern untuk memenangkan perang tidaklah cukup. Penentu akhirnya bukan sekadar meriam atau pesawat tempur, melainkan manusia yang menggunakan semua sarana tersebut.

Kita tidak perlu menerima seluruh pandangan politik Ben-Gurion untuk mengambil hikmah dari sebuah pengamatan yang masuk akal.

Bukankah sejarah memang menunjukkan demikian?

Senjata tidak menentukan semuanya.

Uang tidak menentukan semuanya.

Teknologi tidak menentukan semuanya.

Pada akhirnya, semuanya kembali kepada manusia.

Manusia yang memiliki ilmu tetapi tidak memiliki karakter dapat menyalahgunakan ilmunya.

Manusia yang memiliki kekayaan tetapi tidak memiliki visi dapat menghamburkan hartanya.

Manusia yang memiliki senjata tetapi tidak memiliki keberanian dapat meninggalkan senjatanya.

Sebaliknya, manusia yang memiliki keterbatasan material tetapi mempunyai keteguhan, organisasi, disiplin, visi, dan keyakinan dapat menghasilkan kekuatan yang jauh lebih besar daripada yang tampak di atas kertas.

---

Karena itu, jika kita berbicara tentang kemenangan, janganlah kita bertanya hanya:

"Berapa banyak senjata yang kita punya?"

Tanyakan juga:

"Berapa banyak ilmuwan yang kita lahirkan?"

"Berapa banyak institusi riset yang kita bangun?"

"Berapa banyak industri strategis yang kita kuasai?"

"Berapa kuat ekonomi kita?"

"Seberapa baik pendidikan kita?"

Tetapi jangan berhenti di sana.

Tanyakan pula:

"Manusia macam apa yang sedang kita bentuk?"

"Nilai apa yang mengarahkan ilmu kita?"

"Untuk apa kekayaan kita digunakan?"

"Apakah generasi kita memiliki keberanian untuk mempertahankan kebenaran?"

Di sinilah letak keseimbangannya.

Kita tidak boleh menjadi umat yang miskin karena malas belajar.

Tetapi kita juga tidak boleh menjadi umat yang mabuk teknologi.

Kita harus menguasai ilmu pengetahuan tanpa menyembah ilmu pengetahuan.

Kita harus memiliki kekayaan tanpa menyembah kekayaan.

Kita harus membangun kekuatan tanpa menyembah kekuatan.

Sebab ilmu adalah sarana.

Harta adalah sarana.

Teknologi adalah sarana.

Sedangkan kemenangan bukan milik sarana.

Kemenangan berada dalam kehendak Allah, dan manusia diperintahkan untuk menyiapkan sebab-sebabnya dengan sebaik-baiknya.

Maka perjuangan membangun kekuatan umat tidak cukup hanya dengan membangun persenjataan.

Kita harus membangun manusia.

Membangun sekolah.

Membangun universitas.

Membangun laboratorium.

Membangun industri.

Membangun ekonomi.

Membangun institusi.

Membangun karakter.

Dan yang paling penting, membangun manusia yang ketika memegang ilmu tidak menjadi sombong, ketika memegang harta tidak menjadi tamak, dan ketika memegang kekuasaan tidak menjadi zalim.

Sebab pada akhirnya, pertanyaan terbesar bukanlah:

"Seberapa besar kekuatan yang kita miliki?"

Melainkan:

"Untuk apa kekuatan itu kita miliki, siapa yang mengarahkannya, dan kepada siapa kita menggantungkan kemenangan?"

Di situlah ilmu pengetahuan dan harta menemukan tempatnya yang benar:

bukan sebagai Tuhan yang disembah, tetapi sebagai amanah yang digunakan untuk menegakkan kebenaran dan membangun peradaban.

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adam (5) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Akhirat (8) Al-Baqarah (1) Al-Qur'an (362) Al-Qur’an (65) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) An-Nadwi (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bahaya Kemunduran Umat Islam (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (53) Cerita kegagalan (1) cerpen Nabi (8) cerpen Nabi Musa (2) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) dakwah (19) Dakwah (36) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) ekonomi (3) Ekonomi (33) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) english (6) English (6) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fiqh (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (7) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) hikmah (1) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum (3) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) ikhtilaf (1) Ikhtilaf (4) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) Islam (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) kecerdasan (22) Kecerdasan (342) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Hadist (4) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) kisah para nabi dan (2) kisah para nabi dan rasul (61) kisah para Nabi dan Rasul (1) Kisah para nabi dan rasul (120) Kisah Para Nabi dan Rasul (577) kisah para nabi dan rasul. Nabi Daud (1) kisah para nabi dan rasul. nabi Musa (2) Kisah Penguasa (1) Kisah ulama (1) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) nabi adam (1) Nabi Adam (75) nabi Adam. Adam (1) Nabi Ayub (1) Nabi Daud (3) Nabi Ibrahim (3) Nabi Isa (2) nabi Isa. nabi ismail (1) Nabi Ismail (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Khidir (1) Nabi Musa (29) Nabi Nuh (6) Nabi Sulaiman (2) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (15) Namrudz (2) Nasrulloh Baksolahar (1) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) nusantara (11) Nusantara (319) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (773) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) politik (3) Politik (20) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rasulullah shalallahu alaihi wassalam (1) Rehat (493) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) Sahabat (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) Salimul Aqidah (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Serah Nabawiyah (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (338) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah penguasa (11) Sirah Penguasa (250) sirah Sahabat (2) Sirah Sahabat (173) Sirah Tabiin (43) Sirah ulama (36) Sirah Ulama (158) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tamim Ad Dari (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Wakaf (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)