Al-Hikmah: Kebijaksanaan dalam Dakwah Ekonomi Islam
Al-Hakim berarti Mahabijaksana. Salah satu konsekuensi dari memahami Allah sebagai Al-Hakim adalah bahwa para penggiat ekonomi Islam harus belajar menyampaikan ekonomi Islam dengan hikmah dan kebijaksanaan.
Tetapi apa sebenarnya yang dimaksud dengan bijaksana dalam berdakwah?
Apakah bijaksana berarti selalu berbicara dengan lembut?
Ataukah cukup dengan menyampaikan dalil sebanyak-banyaknya?
Tentu tidak.
Kebijaksanaan dalam dakwah berarti mampu menempatkan perkataan, metode, argumentasi, dan tindakan pada tempat yang tepat. Karena manusia yang kita hadapi tidak semuanya sama. Mereka memiliki latar belakang, kapasitas intelektual, pengalaman, kebutuhan, dan keadaan psikologis yang berbeda-beda.
Karena itu, bukankah aneh jika kita menggunakan satu cara untuk menghadapi semua orang?
Bagaimana mungkin metode yang efektif bagi seorang ekonom yang sangat rasional akan sama efektifnya ketika digunakan kepada masyarakat awam yang belum memahami ekonomi Islam?
Bagaimana mungkin cara berbicara kepada seseorang yang memiliki keterikatan emosional dengan Islam disamakan dengan cara berbicara kepada seseorang yang hanya tertarik pada pertanyaan: "Apa manfaatnya bagi saya?"
Begitu pula, cara menghadapi orang yang telah memiliki pemahaman agama yang kuat tentu tidak selalu sama dengan cara menghadapi orang yang hanya memahami teori ekonomi konvensional.
Inilah pentingnya hikmah.
Allah SWT berfirman:
«"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik...."
(QS. An-Nahl: 125)»
Ayat ini memberikan kepada kita sebuah prinsip penting dalam berdakwah: kebenaran yang disampaikan dengan metode yang salah dapat kehilangan daya pengaruhnya.
Dalam ayat tersebut terdapat tiga pendekatan yang dapat menjadi pedoman dalam dakwah ekonomi Islam: al-hikmah, al-mau'izhah al-hasanah, dan mujadalah billati hiya ahsan.
1. Al-Hikmah: Berbicara dengan Argumen yang Kuat
Menurut Sayyid Thanthawi, al-hikmah adalah pendapat atau argumentasi yang kuat, jelas, benar, sesuai dengan kenyataan, serta mampu menghilangkan keragu-raguan.
Maka berdakwah dengan al-hikmah bukan sekadar mengatakan:
"Ekonomi Islam itu benar."
Tetapi kita harus mampu menjelaskan:
Mengapa ia benar?
Apa dasar teorinya?
Bagaimana mekanismenya?
Apa buktinya?
Apa hasil empirisnya?
Di sinilah dakwah ekonomi Islam membutuhkan kemampuan intelektual.
Menurut al-Baidhawi, metode al-hikmah terutama diperlukan ketika menghadapi orang-orang yang membutuhkan bukti dan argumentasi, baik secara teoritis maupun empiris.
Bayangkan kita berhadapan dengan seorang ekonom yang menguasai teori ekonomi konvensional, memahami statistik, menguasai kebijakan moneter, memahami sistem keuangan global, tetapi belum memahami ekonomi Islam.
Apakah cukup kita mengatakan kepadanya:
"Ekonomi Islam lebih baik karena bersumber dari wahyu."
Bagi seorang yang belum memiliki kerangka berpikir yang sama, jawaban itu mungkin belum memadai.
Ia akan bertanya:
"Di mana keunggulannya?"
"Bagaimana sistemnya bekerja?"
"Apa buktinya?"
"Bagaimana penerapannya dalam dunia modern?"
Maka di sinilah para penggiat ekonomi Islam dituntut untuk hadir dengan argumentasi yang kuat, data yang dapat dipertanggungjawabkan, teori yang kokoh, dan bukti empiris yang relevan.
Dakwah kepada kaum intelektual harus mampu memasuki ruang intelektual mereka.
Jangan hanya meminta mereka percaya; tunjukkan pula alasan mengapa mereka layak percaya.
---
2. Al-Mau'izhah al-Hasanah: Menyentuh Hati dengan Cara yang Baik
Namun apakah semua orang membutuhkan argumentasi akademik yang panjang?
Tentu tidak.
Ada masyarakat yang tidak memiliki pengetahuan mendalam tentang ekonomi Islam. Mereka tidak menentang ekonomi Islam. Mereka hanya belum mengenalnya.
Kepada mereka, apakah kita harus datang membawa bahasa akademik yang rumit?
Jika kita melakukan itu, bukankah kita justru membuat sesuatu yang sederhana menjadi sulit dipahami?
Menurut Sayyid Thanthawi, al-mau'izhah al-hasanah adalah perkataan yang mengandung pelajaran dan disampaikan dengan cara yang lembut sehingga hati orang yang mendengarnya tertarik kepada apa yang didakwahkan.
Inilah dakwah yang menyentuh hati.
Masyarakat awam tidak selalu membutuhkan kuliah tentang teori ekonomi.
Terkadang mereka hanya perlu memahami pertanyaan sederhana:
Mengapa Islam melarang riba?
Mengapa Islam memerintahkan keadilan dalam transaksi?
Mengapa Islam mengajarkan zakat?
Mengapa harta tidak boleh hanya berputar di kalangan orang kaya?
Dan yang lebih penting:
Apa manfaat semua itu bagi kehidupan mereka?
Di sinilah al-mau'izhah al-hasanah bekerja.
Kita menjelaskan ekonomi Islam dengan bahasa yang mudah dipahami, contoh yang dekat dengan kehidupan, kisah yang menggugah, serta perkataan yang lembut dan membangkitkan harapan.
Dakwah bukan perlombaan untuk menunjukkan siapa yang paling pintar.
Tujuan dakwah bukan membuat orang kagum kepada kepintaran kita, tetapi membuat mereka semakin dekat kepada kebenaran.
---
3. Mujadalah: Berdialog dengan Argumentasi Terbaik
Lalu bagaimana jika orang yang kita hadapi bukan sekadar belum memahami ekonomi Islam, tetapi justru menolak dan mengkritiknya?
Di sinilah metode mujadalah diperlukan.
Tetapi perhatikan baik-baik: Al-Qur'an tidak sekadar mengatakan, "berdebatlah."
Allah berfirman:
«"...dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang paling baik."
(QS. An-Nahl: 125)»
Artinya, debat pun memiliki etika.
Kita boleh berbeda.
Kita boleh membantah.
Kita boleh menunjukkan kesalahan argumentasi.
Tetapi mengapa harus menghina?
Mengapa harus merendahkan?
Mengapa harus menyerang pribadi?
Bukankah yang kita koreksi adalah argumennya, bukan kehormatan orangnya?
Karena itu, ketika menghadapi para pengkritik ekonomi Islam, kita harus memahami terlebih dahulu basis pemikiran mereka.
Apa teori yang mereka gunakan?
Apa asumsi ekonominya?
Apa data yang mereka jadikan dasar?
Di mana letak kelemahan argumentasinya?
Setelah itu, barulah kita memberikan bantahan berdasarkan kerangka ilmiah yang mereka pahami.
Dengan demikian, kita tidak menjawab kritik dengan emosi, tetapi dengan ilmu.
Tidak membalas hujatan dengan hujatan, tetapi dengan argumentasi.
Tidak menghindar dari pertanyaan sulit, tetapi menghadapinya dengan ketenangan.
Dan setelah argumentasi mereka berhasil dijawab, barulah kita menjelaskan keunggulan ekonomi Islam dengan landasan teori dan bukti empiris yang kuat.
Inilah mujadalah yang beradab: kuat dalam argumentasi, tetapi tetap baik dalam cara penyampaian.
---
Rasulullah Mengajarkan Kebijaksanaan
Untuk memahami makna kebijaksanaan secara lebih nyata, lihatlah bagaimana Rasulullah saw. menghadapi manusia.
Ada sebuah peristiwa yang sangat terkenal dalam hadis al-Bukhari.
Seorang Arab pedalaman datang ke masjid. Karena ketidaktahuannya, ia buang air kecil di dalam masjid.
Para sahabat tentu merasa terganggu.
Mereka hendak mencegahnya.
Namun Rasulullah saw. justru melarang para sahabat menghentikannya secara kasar. Beliau membiarkannya sampai selesai. Setelah itu, beliau memerintahkan agar bekas air kencing tersebut disiram dengan seember air.
Mengapa Rasulullah tidak langsung memarahinya?
Mengapa tidak mempermalukannya di hadapan orang banyak?
Karena Rasulullah memahami keadaan orang yang sedang dihadapinya.
Orang itu bukan sedang melakukan penghinaan terhadap masjid. Ia tidak mengetahui hukum dan adabnya.
Kesalahannya lahir dari ketidaktahuan.
Maka pendekatan yang digunakan pun disesuaikan dengan keadaan dirinya.
Bukankah ini pelajaran dakwah yang luar biasa?
Kesalahan seseorang tidak selalu membutuhkan respons yang sama.
Ada kesalahan karena kebodohan.
Ada karena kelalaian.
Ada karena kesalahpahaman.
Ada karena kesombongan.
Ada pula yang lahir dari permusuhan.
Apakah semuanya harus kita hadapi dengan cara yang sama?
Tentu tidak.
Inilah hikmah.
---
Dakwah Ekonomi Islam Membutuhkan Kecerdasan Membaca Manusia
Karena itu, seorang penggiat ekonomi Islam tidak cukup hanya menguasai apa yang akan disampaikan.
Ia juga harus memahami:
kepada siapa ia menyampaikannya,
kapan menyampaikannya,
bagaimana menyampaikannya,
dan dengan bahasa seperti apa menyampaikannya.
Seorang akademisi mungkin membutuhkan jurnal dan data.
Seorang pengusaha mungkin membutuhkan contoh konkret dan perhitungan bisnis.
Seorang pembuat kebijakan mungkin membutuhkan bukti empiris dan analisis dampak kebijakan.
Masyarakat awam mungkin membutuhkan bahasa sederhana dan contoh kehidupan sehari-hari.
Seorang Muslim yang telah memahami dasar-dasar agama mungkin membutuhkan dalil dan penjelasan syariah yang lebih mendalam.
Pesannya bisa sama, tetapi pintu masuknya berbeda.
Inilah seni dakwah.
Bukan mengubah kebenaran agar diterima manusia, tetapi menemukan cara yang paling tepat untuk menyampaikan kebenaran kepada manusia.
Sebab dakwah bukan hanya soal benar atau salahnya isi.
Dakwah juga menyangkut cara manusia menerima kebenaran tersebut.
Maka jangan sampai kita memiliki ilmu yang benar tetapi menyampaikannya dengan cara yang membuat orang menjauh.
Jangan sampai kita memiliki argumentasi yang kuat tetapi menyampaikannya dengan kesombongan.
Jangan sampai kita ingin mengajak manusia menuju ekonomi Islam, tetapi cara kita berbicara justru membuat mereka membenci Islam.
Pada akhirnya, bukankah dakwah ekonomi Islam membutuhkan dua kekuatan sekaligus?
Kekuatan ilmu untuk menjelaskan kebenaran dan kekuatan hikmah untuk membuat kebenaran itu dapat diterima.
Ilmu menjawab:
"Apa yang benar?"
Hikmah mengajarkan:
"Bagaimana kebenaran itu disampaikan?"
Dan di antara keduanya terdapat satu prinsip yang sangat penting:
Jangan hanya benar dalam isi; benarlah pula dalam cara.
Itulah salah satu makna dakwah dengan al-hikmah.
0 komentar: