Sesungguhnya, geliat dan semangat kembalinya Islam ke gelanggang kehidupan telah menjadi perhatian dan bahan kajian, baik di Barat maupun di Timur.
Mengapa?
Karena dalam beberapa dasawarsa terakhir, berbagai gerakan Islam mengalami tekanan yang sangat berat. Terutama di Mesir, gerakan-gerakan Islam berkali-kali dihantam dengan berbagai tindakan represif. Ada yang mengira bahwa tekanan tersebut akan mampu mengakhiri gerakan Islam untuk selamanya.
Tetapi benarkah demikian?
Fakta sejarah justru menunjukkan sesuatu yang berbeda. Tekanan tidak selalu mematikan sebuah keyakinan. Dalam banyak keadaan, tekanan justru menguji kedalaman iman para penganutnya.
Akidah Islam tidak lahir dari kenyamanan. Ia tumbuh melalui ujian. Para pengikutnya diuji kesetiaannya, keteguhannya, dan kesabarannya. Ketika tekanan datang, sebagian mungkin mundur. Tetapi sebagian lainnya justru semakin teguh.
Bukankah sejarah dakwah Islam memperlihatkan bahwa selalu ada manusia yang tetap berdiri ketika yang lain berbalik?
Karena itulah, kebangkitan Islam kemudian menjadi objek perhatian berbagai pihak. Ada yang mempelajarinya untuk memahami fenomenanya, tetapi ada pula yang berusaha menghambat dan melemahkannya.
Allah telah mengingatkan:
«"Mereka membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya."
(QS. Al-Anfal: 30)»
Ketika Kebangkitan Islam Dipandang sebagai Ancaman
Salah satu contoh yang sering dikutip dalam pembahasan ini adalah laporan yang disebut pernah dimuat oleh majalah Ad-Da'wah Mesir pada 31 Desember 1978. Laporan tersebut diklaim sebagai dokumen rahasia mengenai strategi menghadapi gerakan Islam, khususnya Jamaah Ikhwanul Muslimin.
Isi dokumen yang dikutip dalam sumber tersebut menggambarkan adanya upaya untuk melemahkan tokoh-tokoh gerakan Islam melalui berbagai cara, termasuk tekanan politik, kooptasi, dan upaya memisahkan mereka dari basis gerakannya.
Terlepas dari persoalan keaslian, konteks, dan verifikasi historis dokumen tersebut, gagasan yang hendak disampaikan sangat menarik untuk direnungkan:
Bagaimana sebuah gerakan yang memiliki keyakinan kuat dapat dilemahkan?
Apakah cukup dengan menekan para pemimpinnya?
Apakah cukup dengan menawarkan jabatan?
Apakah cukup dengan mengisolasi tokoh-tokohnya?
Atau justru yang paling efektif adalah mengubah cara berpikir para pengikutnya sehingga mereka tidak lagi memahami Islam sebagai sistem kehidupan?
Pertanyaan terakhir inilah yang membawa kita kepada persoalan yang lebih mendasar.
Mungkinkah Islam Dipisahkan dari Kehidupan?
Pada suatu masa, sebagian kaum Muslimin mulai terpesona oleh berbagai filsafat dan ideologi yang berkembang di Barat: komunisme, sosialisme, kapitalisme, eksistensialisme, nasionalisme, bahkan berbagai gerakan pemikiran lainnya.
Mengapa mereka tertarik?
Karena mereka melihat Eropa mengalami kemajuan setelah membatasi peran institusi keagamaan dalam kehidupan publik.
Mereka kemudian mengambil sebuah kesimpulan:
"Kalau Eropa maju setelah agama dipisahkan dari kehidupan, bukankah umat Islam juga harus melakukan hal yang sama?"
Tetapi apakah pengalaman Eropa dapat begitu saja diterapkan kepada Islam?
Di sinilah persoalannya.
Sejarah agama Kristen di Eropa memiliki latar belakang yang berbeda dengan Islam. Konflik antara gereja dan perkembangan ilmu pengetahuan di Eropa tidak dapat begitu saja dijadikan pola untuk memahami hubungan Islam dengan ilmu pengetahuan.
Islam tidak memiliki konsep kependetaan yang menjadikan sekelompok manusia sebagai perantara antara manusia dan Allah.
Dalam tradisi keilmuan Islam, ulama memperoleh kedudukan karena ilmu, bukan karena pakaian khusus, upacara tertentu, atau kelas sakral yang tidak boleh disentuh.
Seorang ulama dihormati karena kedalaman pemahamannya terhadap Al-Qur'an, Sunnah, fikih, akidah, dan berbagai cabang ilmu yang diperlukan untuk memahami kehidupan.
Maka pertanyaannya:
Apakah Islam harus mengalami "revolusi" melawan agama seperti yang pernah terjadi di Eropa?
Tidak.
Sebab Islam tidak pernah memusuhi ilmu.
Islam dan Ilmu Pengetahuan
Al-Qur'an justru berulang kali mengajak manusia memperhatikan alam semesta dan dirinya sendiri.
Allah berfirman:
«"Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda kekuasaan Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur'an itu benar."
(QS. Fussilat: 53)»
Allah juga berfirman:
«"Dan pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?"
(QS. Adz-Dzariyat: 21)»
Bukankah ini sebuah undangan untuk berpikir?
Bukankah manusia diminta mengamati?
Bukankah alam raya merupakan salah satu ruang untuk mengenal kebesaran Sang Pencipta?
Karena itu, seorang Muslim tidak semestinya memandang ilmu pengetahuan sebagai musuh iman.
Justru semakin luas pengetahuan manusia tentang alam, semakin banyak tanda-tanda kebesaran Allah yang dapat direnungkan.
Allah berfirman:
«"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata: 'Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.'"
(QS. Ali 'Imran: 190-191)»
Perhatikan keseimbangan ayat tersebut.
Mengingat Allah.
Kemudian berpikir tentang alam.
Zikir dan pikir tidak dipertentangkan.
Iman dan ilmu tidak dipisahkan.
Ibadah dan penelitian tidak harus bermusuhan.
Justru manusia yang benar-benar menggunakan akalnya akan melihat alam sebagai tanda-tanda kekuasaan Allah.
Al-Qur'an Bukan Buku Fisika
Namun demikian, ada satu hal yang perlu ditegaskan agar hubungan Islam dan ilmu pengetahuan tidak dipahami secara keliru.
Al-Qur'an bukan buku teks fisika, biologi, astronomi, atau kedokteran.
Fungsi utama Al-Qur'an adalah memberikan petunjuk kepada manusia.
Ia mengarahkan manusia agar menggunakan akal, memperhatikan alam, mencari ilmu, dan mengenali sunnatullah yang berlaku di dalam kehidupan.
Karena itu, ketika ilmu pengetahuan menemukan fakta baru, seorang Muslim tidak perlu tergesa-gesa mencari pembenaran ilmiah bagi setiap ayat. Demikian pula, teori ilmiah yang masih berubah tidak seharusnya dijadikan fondasi untuk menafsirkan wahyu secara serampangan.
Yang lebih kokoh adalah memahami bahwa alam dan wahyu sama-sama berasal dari Allah, sehingga kebenaran yang benar-benar mapan tidak akan bertentangan dengan wahyu yang dipahami secara benar.
Dari Al-Qur'an Menuju Peradaban Ilmu
Dalam sejarah Islam, tidak terdapat pertentangan permanen antara ulama dan ilmuwan sebagaimana konflik gereja dengan ilmuwan dalam sejarah Eropa.
Mengapa?
Karena umat Islam memandang pencarian ilmu sebagai bagian dari amanah manusia sebagai khalifah di bumi.
Ilmu pengetahuan mengungkap sebagian hukum Allah yang berlaku di alam.
Setiap kali manusia menemukan keteraturan baru dalam alam, sebenarnya ia sedang menemukan sebagian dari sunnatullah.
Maka ilmu seharusnya membawa manusia kepada dua hal sekaligus:
kekaguman terhadap ciptaan dan ketundukan kepada Pencipta.
Inilah semangat yang dapat kita lihat dalam firman Allah:
«"Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri hingga jelas bagi mereka bahwa Dia adalah benar."
(QS. Fussilat: 53)»
Dengan demikian, semakin luas ilmu manusia, seharusnya semakin dalam pula kesadarannya terhadap keterbatasan dirinya.
Sebab semakin banyak yang diketahui, semakin jelas pula betapa luas wilayah yang belum diketahui.
Ketika Umat Kembali Bertanya
Setelah sekian lama sebagian umat Islam terpesona oleh berbagai ideologi yang datang dari luar, mulai muncul pertanyaan baru:
Benarkah kemajuan harus dibayar dengan meninggalkan Islam?
Benarkah agama adalah penghambat ilmu?
Benarkah Islam hanya mengatur ibadah ritual?
Ketika pertanyaan-pertanyaan itu mulai diajukan dengan serius, sebagian pemuda Muslim kembali mempelajari agamanya.
Mereka membaca Al-Qur'an.
Mereka mempelajari sejarah.
Mereka mengkaji pemikiran Islam.
Mereka mempertanyakan kembali anggapan bahwa Islam identik dengan keterbelakangan.
Dan perlahan-lahan lahirlah kesadaran baru:
Islam bukan sekadar agama yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan di tempat ibadah. Islam juga memiliki pandangan tentang manusia, ilmu, keluarga, ekonomi, masyarakat, keadilan, dan kehidupan.
Kesadaran semacam inilah yang membuat kebangkitan pemikiran Islam menjadi fenomena penting.
Dan ketika sebuah umat mulai menemukan kembali identitasnya, tentu saja akan muncul pihak-pihak yang merasa kepentingannya terganggu.
Ketika Identitas Kembali Ditemukan
Di sinilah kita perlu berhati-hati.
Kebangkitan Islam tidak semestinya dipahami sebagai kebencian kepada bangsa lain.
Islam tidak mengajarkan umatnya memusuhi manusia karena ras, bangsa, atau agama semata.
Yang ditolak adalah kezaliman, penjajahan, penindasan, dan segala bentuk ketidakadilan.
Karena itu, pembahasan tentang konflik politik dan dukungan internasional terhadap suatu negara harus ditempatkan dalam kerangka yang adil dan faktual, bukan semata-mata dalam generalisasi terhadap suatu kelompok agama atau bangsa.
Al-Qur'an sendiri mengingatkan:
«"Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak mengusirmu dari negerimu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil."
(QS. Al-Mumtahanah: 8)»
Maka kekuatan umat Islam bukanlah pada kebencian.
Kekuatan itu justru terletak pada iman, ilmu, keadilan, persatuan, dan kemampuan membangun kehidupan yang bermartabat.
Kebangkitan yang Sejati
Lalu, apa sebenarnya tanda kebangkitan Islam?
Apakah sekadar bertambahnya jumlah orang yang berbicara tentang Islam?
Apakah semakin banyak simbol keislaman?
Apakah semakin keras perdebatan tentang identitas?
Belum tentu.
Kebangkitan yang sejati adalah ketika Islam kembali membentuk manusia.
Ketika ilmu melahirkan ketundukan kepada Allah.
Ketika kekayaan melahirkan kepedulian.
Ketika kekuasaan melahirkan keadilan.
Ketika perbedaan tidak berubah menjadi permusuhan.
Ketika umat tidak lagi menjadi konsumen pemikiran, tetapi mampu melahirkan ilmu dan peradabannya sendiri.
Ketika pemuda Muslim tidak merasa rendah diri di hadapan Barat, tetapi juga tidak menjadi sombong terhadapnya.
Ia belajar dari siapa pun yang memiliki ilmu, mengambil yang bermanfaat, meninggalkan yang bertentangan dengan prinsip, lalu mengembangkan pengetahuan itu untuk kemaslahatan manusia.
Bukankah demikian seharusnya sikap seorang Muslim?
Terbuka terhadap ilmu, tetapi kokoh dalam akidah.
Maju dalam teknologi, tetapi tunduk kepada Allah.
Membangun peradaban, tetapi tidak kehilangan akhlak.
Dari Kesadaran Menuju Peradaban
Pada akhirnya, persoalannya bukan sekadar apakah Islam dapat dipisahkan dari kehidupan.
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
Apakah umat Islam sendiri bersedia menjadikan Islam sebagai sumber pembentukan dirinya?
Sebab Islam tidak akan bangkit hanya karena kita menginginkannya.
Ia membutuhkan manusia yang belajar.
Membutuhkan keluarga yang mendidik.
Membutuhkan ulama yang mendalam ilmunya.
Membutuhkan ilmuwan yang bertakwa.
Membutuhkan pemimpin yang adil.
Membutuhkan masyarakat yang berani memperbaiki dirinya.
Dan semua itu membutuhkan proses yang panjang.
Perubahan peradaban tidak dibangun hanya dengan slogan.
Ia dibangun dengan pendidikan.
Dengan ilmu.
Dengan akhlak.
Dengan kerja.
Dengan kesabaran.
Dengan doa.
Dan dengan keteguhan untuk tetap berada di jalan Allah.
Maka jangan hanya bertanya:
"Mengapa Islam belum kembali memimpin peradaban?"
Tanyakan kepada diri sendiri:
"Apa yang sudah saya bangun?"
Sudahkah kita membangun manusia?
Sudahkah kita membangun keluarga?
Sudahkah kita membangun ilmu?
Sudahkah kita membangun ekonomi yang adil?
Sudahkah kita membangun teknologi?
Sudahkah kita membangun budaya membaca dan berpikir?
Sudahkah kita menghadirkan Islam melalui akhlak yang membuat manusia melihat keindahannya?
Sebab kebangkitan Islam yang paling kuat bukanlah kebangkitan yang membuat manusia takut kepada umat Islam.
Melainkan kebangkitan yang membuat manusia melihat kembali keadilan, ilmu, rahmat, dan kemuliaan manusia melalui Islam.
Dan mungkin di situlah makna terdalam dari kebangkitan:
bukan sekadar Islam kembali ke gelanggang kehidupan, tetapi Islam kembali hidup di dalam diri umatnya.
0 komentar: