Kini, marilah kita berhenti sejenak pada satu kata yang sangat penting dalam Al-Qur'an: 'ibadah.
Mengapa Al-Qur'an berulang kali memerintahkan manusia untuk beribadah hanya kepada Allah?
Mengapa para rasul, dari generasi ke generasi, selalu membawa seruan yang sama?
«Ù‚َالَ ÙŠَا Ù‚َÙˆْÙ…ِ اعْبُدُوا اللَّÙ‡َ Ù…َا Ù„َÙƒُÙ… Ù…ِّÙ†ْ Ø¥ِÙ„َٰÙ‡ٍ غَÙŠْرُÙ‡ُ
"Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia."
(QS. Hûd [11]: 50)»
Apakah seruan itu hanya berarti: jangan menyembah berhala, jangan sujud kepada patung, jangan mempersembahkan sesaji kepada selain Allah?
Ataukah maknanya jauh lebih luas?
Di sinilah kita perlu kembali kepada makna asli 'ibadah.
Ibadah: Bukan Sekadar Ritual
Kita sering memahami ibadah terutama sebagai aktivitas ritual: salat, puasa, zakat, haji, doa, dan berbagai bentuk penghambaan yang bersifat langsung kepada Allah.
Semua itu memang ibadah.
Tetapi apakah seluruh makna ibadah berhenti di sana?
Tidak.
Secara bahasa, kata 'abada mengandung makna tunduk, patuh, merendahkan diri, dan menghambakan diri. Karena itu, 'ibadah pada hakikatnya menunjuk kepada ketundukan manusia kepada Allah.
Maka pertanyaannya berubah.
Bukan sekadar:
"Kepada siapa kita melakukan ritual?"
Tetapi:
"Kepada siapa kita tunduk?"
Bukan hanya:
"Siapa yang kita sembah di masjid?"
Tetapi:
"Siapa yang kita taati dalam seluruh kehidupan?"
Inilah titik penting yang sering terlewat.
Ketika Al-Qur'an pertama kali turun kepada masyarakat Arab di Makkah, kewajiban ritual Islam belum turun secara lengkap seperti yang kita kenal kemudian. Namun mereka sudah diperintahkan untuk beribadah kepada Allah.
Lalu apa yang mereka pahami dari seruan itu?
Tentu bukan sekadar ritual.
Mereka memahami bahwa mereka dituntut untuk menundukkan diri kepada Allah dan menolak ketundukan kepada selain-Nya.
Dengan demikian, persoalan tauhid sejak awal bukan hanya persoalan siapa yang disembah secara ritual, tetapi juga siapa yang menjadi tempat ketundukan manusia.
---
Ketika Ibadah Direduksi Menjadi Ritual
Di sinilah kita perlu berhati-hati.
Jika ibadah dipersempit hanya menjadi ritual, maka seseorang mungkin berkata:
"Saya tidak menyembah patung. Saya tidak bersujud kepada berhala. Saya tetap salat dan berpuasa. Berarti saya sudah terbebas dari seluruh bentuk kemusyrikan."
Benarkah sesederhana itu?
Bagaimana jika seseorang tidak menyembah patung, tetapi dalam persoalan tertentu ia menempatkan manusia sebagai sumber ketaatan yang lebih tinggi daripada Allah?
Bagaimana jika seseorang mengakui Allah sebagai Tuhan, tetapi dalam kehidupan nyata ia mengikuti aturan yang bertentangan dengan petunjuk-Nya karena menganggap aturan manusia lebih layak ditaati?
Di sinilah pemahaman tentang ibadah menjadi penting.
Rasulullah saw. memberikan penjelasan yang sangat mendalam ketika menafsirkan firman Allah:
«Ø§ØªَّØ®َذُوا Ø£َØْبَارَÙ‡ُÙ…ْ ÙˆَرُÙ‡ْبَانَÙ‡ُÙ…ْ Ø£َرْبَابًا Ù…ِÙ†ْ دُونِ اللَّÙ‡ِ
"Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah..."
(QS. At-Taubah [9]: 31)»
Ketika 'Adi bin Hatim mempertanyakan hal itu, Rasulullah saw. menjelaskan bahwa mereka mengikuti para pemimpin agama tersebut dalam menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal.
Artinya, persoalannya bukan karena mereka melakukan ritual penyembahan kepada para pendeta.
Mereka tidak bersujud kepada para rahib.
Tetapi mereka mengikuti ketetapan mereka dalam persoalan halal dan haram.
Di situlah Rasulullah saw. menunjukkan bahwa makna ibadah tidak boleh direduksi menjadi ritual semata.
Ritual adalah salah satu bentuk ibadah karena ia merupakan bentuk ketundukan kepada Allah.
Tetapi ibadah memiliki cakupan yang lebih luas daripada ritual.
---
Lalu Apa Persoalan Hud dengan Kaumnya?
Sekarang mari kita kembali kepada kisah Nabi Hud 'alaihis-salam.
Allah mengabadikan seruan beliau:
«"Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia."
(QS. Hûd [11]: 50)»
Apa sebenarnya yang diminta Hud dari kaumnya?
Apakah sekadar agar mereka berhenti menyembah patung?
Jika hanya itu, mengapa perjuangan para rasul demikian panjang?
Mengapa dakwah mereka menghadapi penolakan, permusuhan, bahkan penyiksaan?
Mengapa persoalan tauhid menjadi begitu besar dalam sejarah manusia?
Jawabannya karena dakwah para rasul tidak berhenti pada perubahan ritual.
Mereka datang untuk mengubah ketundukan manusia secara menyeluruh.
Mereka menyeru manusia agar tidak menjadikan makhluk sebagai pusat ketaatan yang menggantikan Allah.
Karena itu, seruan:
"Sembahlah Allah!"
pada hakikatnya juga mengandung seruan:
"Tunduklah kepada Allah!"
Dan konsekuensinya:
"Jangan menjadikan selain Allah sebagai tujuan ketundukan mutlak."
---
Kaum 'Ad: Mengapa Mereka Dibinasakan?
Al-Qur'an kemudian menjelaskan keadaan kaum 'Ad:
«"Dan itulah (kisah) kaum 'Ad yang mengingkari tanda-tanda kekuasaan Tuhan mereka, mendurhakai rasul-rasul Allah, dan menuruti perintah semua penguasa yang sewenang-wenang lagi menentang kebenaran."
(QS. Hûd [11]: 59)»
Perhatikan rangkaian ayat ini.
Mereka mengingkari ayat-ayat Allah.
Mereka mendurhakai rasul-rasul.
Dan mereka mengikuti perintah para penguasa yang sewenang-wenang.
Bukankah ini menunjukkan bahwa persoalannya jauh lebih dalam daripada sekadar ritual?
Persoalannya adalah siapa yang mereka ikuti dan kepada siapa mereka tunduk.
Karena itu, dakwah Hud bukan hanya:
"Jangan menyembah patung!"
Tetapi:
"Jangan serahkan ketundukan mutlakmu kepada selain Allah."
Inilah yang menjadikan tauhid memiliki konsekuensi dalam kehidupan nyata.
---
Al-Qur'an: Kitab Dakwah Sepanjang Zaman
Namun mengapa kisah Hud diceritakan kepada kita?
Bukankah peristiwa itu telah berlalu ribuan tahun?
Mengapa Al-Qur'an masih mengajak kita berhenti dan merenungkannya?
Karena Al-Qur'an bukan sekadar kitab sejarah.
Kisah para rasul merupakan petunjuk bagi perjalanan dakwah sepanjang zaman.
Jahiliyah mungkin berubah bentuk.
Teknologi berubah.
Sistem politik berubah.
Struktur ekonomi berubah.
Cara manusia berkomunikasi berubah.
Tetapi persoalan mendasarnya tetap ada:
Kepada siapa manusia tunduk?
Siapa yang menjadi sumber nilai?
Siapa yang menentukan arah kehidupan?
Siapa yang menjadi tujuan akhir?
Karena itulah dakwah para rasul tetap relevan.
Manusia dapat berpindah dari menyembah patung kepada menyembah kekuasaan.
Dapat berpindah dari tunduk kepada berhala batu kepada tunduk kepada hawa nafsu.
Dapat berpindah dari mengagungkan benda kepada mengagungkan manusia.
Bentuknya berubah.
Tetapi penyakitnya bisa tetap sama:
ketundukan yang diberikan kepada selain Allah.
---
Tauhid Mengubah Seluruh Kehidupan
Karena itu, tauhid tidak boleh berhenti sebagai pengakuan lisan.
Tauhid harus mempunyai konsekuensi dalam kehidupan.
Tauhid uluhiyyah berarti mengesakan Allah dalam peribadatan.
Tauhid rububiyyah mengakui Allah sebagai Rabb, Pemilik dan Pengatur.
Dan pengakuan tersebut semestinya membentuk cara manusia memahami kepemimpinan, hukum, nilai, tujuan hidup, dan seluruh manhaj kehidupannya.
Dengan demikian, tauhid bukan sekadar tema teologis yang dibicarakan di ruang kelas atau masjid.
Tauhid adalah pandangan hidup.
Ia menjawab pertanyaan paling mendasar:
Siapa Tuhan kita?
Siapa yang kita sembah?
Siapa yang kita taati?
Dari mana nilai dan petunjuk kehidupan kita?
Ke mana seluruh kehidupan kita diarahkan?
Ketika jawaban atas semua pertanyaan itu kembali kepada Allah, maka tauhid mulai menemukan pengaruhnya dalam kehidupan.
---
Mengapa Para Rasul Berjuang Sedemikian Berat?
Sekarang kita dapat memahami mengapa dakwah tauhid menjadi pusat seluruh kerasulan.
Jika ibadah hanya berarti ritual, mengapa para rasul harus menghadapi perlawanan sedemikian hebat?
Mengapa para penguasa jahiliyah merasa terancam oleh kalimat:
"Sembahlah Allah, tidak ada Tuhan bagimu selain Dia."
Bukankah kalimat itu tampaknya hanya berbicara tentang ibadah?
Tetapi justru di situlah kekuatannya.
Seruan tauhid berarti membebaskan manusia dari penghambaan kepada manusia.
Ia mengembalikan manusia kepada penghambaan kepada Allah.
Itulah sebabnya tauhid memiliki konsekuensi yang sangat luas.
Ia membebaskan hati dari penghambaan kepada selain Allah.
Ia membebaskan akal dari taklid yang membutakan.
Ia membebaskan manusia dari ketundukan mutlak kepada penguasa yang zalim.
Ia membebaskan manusia dari perbudakan hawa nafsu.
Dan ia mengarahkan seluruh kehidupan kepada Allah.
Maka perjuangan para rasul bukanlah perjuangan yang sempit.
Ia adalah perjuangan memanusiakan manusia dengan mengembalikannya kepada penghambaan hanya kepada Allah.
---
Dari Jahiliyah Menuju Islam
Menurut kerangka ini, sejarah manusia dapat dilihat sebagai perjalanan antara dua keadaan:
Islam, yaitu ketundukan kepada Allah,
dan jahiliyah, yaitu ketika manusia menyimpang dari ketundukan tersebut.
Adam 'alaihis-salam membawa petunjuk Allah ketika memulai kehidupan manusia di bumi.
Kemudian manusia mengalami penyimpangan.
Datanglah para rasul.
Mereka mengingatkan manusia kembali.
Lalu manusia kembali menyimpang.
Datang lagi para rasul.
Demikianlah perjalanan itu berlangsung dari generasi ke generasi.
Karena itu, dakwah Islam bukan sesuatu yang asing bagi manusia.
Dakwah Islam adalah seruan untuk kembali kepada fitrah ketundukan kepada Allah.
Dan Al-Qur'an datang untuk mengembalikan manusia kepada jalan tersebut.
---
Ibadah sebagai Pembebasan
Pada akhirnya, kita sampai pada satu kesimpulan penting.
Ibadah bukan sekadar ritual.
Ibadah adalah ketundukan kepada Allah.
Dan penghambaan kepada Allah memiliki konsekuensi: manusia tidak boleh memberikan ketundukan mutlak kepada selain-Nya.
Karena itu, ketika Islam menyeru:
«"Sembahlah Allah!"»
seruan itu sesungguhnya juga mengandung pesan:
"Bebaskan dirimu dari penghambaan kepada selain Allah."
Inilah rahasia mengapa tauhid menjadi inti dakwah seluruh rasul.
Allah tidak membutuhkan ibadah manusia. Allah Mahakaya dan tidak membutuhkan makhluk-Nya.
Kitalah yang membutuhkan tauhid.
Kitalah yang membutuhkan kehidupan yang lurus.
Kitalah yang membutuhkan arah.
Kitalah yang membutuhkan standar kebenaran.
Kitalah yang membutuhkan pembebasan dari perbudakan manusia, hawa nafsu, kekuasaan, materi, dan berbagai bentuk penghambaan yang menjauhkan kita dari Allah.
Maka pertanyaan akhirnya bukan hanya:
"Apakah kita sudah melakukan ritual ibadah?"
Tetapi lebih dalam:
"Apakah seluruh kehidupan kita benar-benar tunduk kepada Allah?"
Jika salat kita menghadap Allah, tetapi keputusan hidup kita sepenuhnya tunduk kepada hawa nafsu, apa yang sebenarnya sedang kita sembah?
Jika lisan kita mengucapkan la ilaha illallah, tetapi hati kita menjadikan selain Allah sebagai sumber ketundukan mutlak, apakah kita sudah memahami sepenuhnya makna kalimat itu?
Dan jika tauhid benar-benar telah hidup dalam diri manusia, bukankah ia akan membentuk seluruh kehidupannya?
Ibadah membentuk hati.
Tauhid membentuk arah.
Dan ketundukan kepada Allah membentuk kehidupan.
Itulah sebabnya seruan Hud 'alaihis-salam tetap bergema hingga hari ini:
«"Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia."»
Bukan sekadar seruan untuk mengubah ritual.
Tetapi seruan untuk mengubah pusat ketundukan manusia:
dari makhluk kepada Al-Khaliq,
dari jahiliyah kepada Islam,
dari penghambaan kepada manusia menuju penghambaan hanya kepada Allah.
0 komentar: