Sesungguhnya, dapatkah perubahan besar selalu menunggu kesadaran seluruh masyarakat?
Pertanyaan ini penting. Sebab dalam kenyataan sosial, tidak semua orang memiliki tingkat kesadaran, pengetahuan, dan keberanian yang sama. Sebagian besar masyarakat sering kali mengikuti arus. Mereka bersorak ketika orang lain bersorak, mendukung ketika mayoritas mendukung, dan menolak ketika lingkungan sekitarnya menolak.
Apakah itu berarti mereka jahat? Tidak selalu. Sering kali mereka hanya belum memiliki kesadaran yang cukup untuk memahami mana yang benar-benar bermanfaat dan mana yang justru membawa mudarat.
Karena itu, perubahan tidak selalu lahir dari jumlah yang besar. Tidak jarang perubahan justru dimulai dari kelompok kecil yang memiliki kesadaran, keyakinan, ilmu, dan keteguhan.
Allah Swt. berfirman:
«"Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak, dengan izin Allah."
(QS. Al-Baqarah: 249)»
Bukankah ayat ini mengingatkan kita bahwa ukuran kebenaran tidak selalu ditentukan oleh jumlah?
Allah juga berfirman:
«"Dan sedikit dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur."
(QS. Saba': 13)»
Demikian pula dalam Surah Al-Waqi'ah, Allah menggambarkan adanya kelompok-kelompok manusia yang jumlahnya tidak selalu sama: sebagian besar dari generasi terdahulu dan sebagian kecil dari generasi kemudian (QS. Al-Waqi'ah: 13-14), serta sebagian besar dari generasi terdahulu dan sebagian besar pula dari generasi kemudian (QS. Al-Waqi'ah: 39-40).
Maka, yang menentukan bukan semata-mata berapa banyak orang yang berada di dalam sebuah kelompok. Yang lebih penting adalah siapa yang memiliki kesadaran, iman, ilmu, dan kesanggupan untuk memikul tanggung jawab perubahan.
Pendidikan Rabbani dan Lahirnya Generasi Perubahan
Lalu, bagaimana perubahan itu dimulai?
Sejarah Rasulullah saw. memberikan jawaban yang sangat jelas.
Rasulullah tidak memulai perubahan dengan menunggu seluruh masyarakat Quraisy menjadi sadar. Beliau mendidik manusia-manusia pilihan dengan pendidikan Rabbani. Para sahabat, baik dari kalangan Muhajirin maupun Anshar, dibina sehingga mereka tidak hanya mengenal Islam sebagai sebuah ajaran, tetapi menjadikan Islam sebagai kepribadian dan jalan hidup.
Mereka dibersihkan dari karat kemusyrikan dan nilai-nilai jahiliah. Mereka dididik menjadi manusia yang mampu memimpin sekaligus menjadi guru. Mereka menjadi contoh hidup dari nilai-nilai Islam.
Dari kelompok kecil itulah kemudian perubahan meluas.
Mengapa?
Karena perubahan masyarakat membutuhkan manusia yang terlebih dahulu mengalami perubahan di dalam dirinya.
Seseorang yang belum memiliki kesadaran tidak akan mampu membangunkan kesadaran orang lain. Orang yang belum memiliki keteguhan tidak akan mampu memimpin perubahan yang penuh risiko. Dan orang yang belum memahami Islam secara mendalam akan mudah terseret oleh arus pemikiran yang datang dari luar.
Namun demikian, masyarakat tidaklah berada pada tingkat kesadaran yang sama. Ada yang telah kokoh imannya, ada yang baru tunduk secara lahiriah, dan ada pula yang masih berada dalam proses menuju keimanan.
Al-Qur'an menggambarkan keadaan itu dengan sangat jelas:
«"Orang-orang Badui itu berkata, 'Kami telah beriman.' Katakanlah, 'Kamu belum beriman, tetapi katakanlah, 'Kami telah tunduk (Islam),' karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu. Dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikit pun pahala amalmu. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang."
(QS. Al-Hujurat: 14)»
Jadi, apakah setiap orang yang menyatakan Islam otomatis memiliki tingkat iman dan kesadaran yang sama?
Tentu tidak.
Dan justru di situlah pentingnya pendidikan.
Ketika Rasulullah Wafat: Siapa yang Tetap Teguh?
Ujian terbesar terhadap kualitas sebuah masyarakat sering kali datang ketika pemimpinnya tidak lagi berada di tengah mereka.
Hal itu terjadi ketika Rasulullah saw. wafat.
Kabar wafatnya Rasulullah mengguncangkan kaum Muslimin. Umar bin Khattab r.a. bahkan pada awalnya tidak sanggup menerima kenyataan tersebut. Ia menyatakan bahwa Rasulullah tidak meninggal, sebagaimana Nabi Musa a.s. pergi untuk menghadap Allah.
Namun di tengah keguncangan itu, Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a. berdiri dengan keteguhan yang luar biasa.
Ia berkata:
«"Barang siapa menyembah Muhammad, maka sesungguhnya Muhammad telah wafat. Dan barang siapa menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah Mahahidup dan tidak akan mati."»
Kemudian ia membacakan firman Allah:
«"Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa berbalik ke belakang, maka ia tidak akan merugikan Allah sedikit pun. Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur."
(QS. Ali 'Imran: 144)»
Ayat itu seakan-akan mengembalikan kesadaran kaum Muslimin kepada prinsip yang paling mendasar: Islam tidak boleh bergantung kepada keberadaan seorang manusia, betapapun mulianya manusia itu.
Rasulullah telah wafat, tetapi Allah tetap hidup.
Risalah tetap ada.
Kewajiban tetap ada.
Dan umat tetap memiliki tanggung jawab.
Setelah itu, para sahabat menghadapi persoalan besar: umat tidak boleh dibiarkan tanpa kepemimpinan yang mengurus kepentingannya. Mereka kemudian bermusyawarah dan mengangkat Abu Bakar sebagai khalifah.
Di sinilah tampak perbedaan antara orang yang hanya mengenal Islam secara lahiriah dengan orang yang telah memahami Islam sebagai amanah kehidupan.
Ketika Sebagian Besar Umat Goyah
Sepeninggal Rasulullah, muncul gelombang pembangkangan dan kemurtadan di berbagai wilayah. Sebagian kelompok menolak kewajiban zakat dan sebagian lainnya kembali kepada praktik-praktik jahiliah.
Apakah Abu Bakar menunggu sampai seluruh masyarakat sadar dengan sendirinya?
Tidak.
Ia bersama para sahabat menghadapi keadaan tersebut dengan keteguhan. Mereka berusaha mempertahankan kesatuan umat dan menegakkan kembali kewajiban-kewajiban agama yang ditolak.
Di sinilah terlihat sebuah pelajaran penting:
Kelompok kecil yang sadar dapat memainkan peran yang sangat besar ketika kelompok itu memiliki iman, ilmu, organisasi, dan kepemimpinan yang kuat.
Namun, pelajaran ini tidak boleh dipahami secara serampangan.
Kelompok kecil bukan berarti otomatis benar. Sedikitnya jumlah tidak dengan sendirinya menjadi bukti kebenaran. Ukuran kebenaran tetaplah wahyu, ilmu, dan ketundukan kepada Allah.
Yang hendak ditekankan adalah bahwa mayoritas tidak selalu menjadi ukuran kebenaran, sebagaimana minoritas juga tidak otomatis menjadi ukuran kebenaran.
Islam Bukan Sekadar Mengikuti Suara Mayoritas
Karena itu, Islam tidak dapat begitu saja disamakan dengan ideologi atau sistem pemikiran buatan manusia.
Islam memiliki sumber nilai yang berasal dari wahyu Allah. Prinsip-prinsip dasarnya tidak berubah hanya karena jumlah suara manusia berubah.
Bayangkan jika sebuah masyarakat melalui mekanisme politik memilih sesuatu yang bertentangan dengan ketentuan Allah. Apakah banyaknya suara otomatis menjadikannya benar?
Tidak.
Namun di sinilah kita harus berhati-hati.
Menolak anggapan bahwa mayoritas adalah sumber kebenaran bukan berarti memberikan hak kepada sekelompok kecil untuk bertindak sewenang-wenang terhadap masyarakat. Islam juga tidak membenarkan perubahan dilakukan dengan kezaliman, kekerasan tanpa hak, atau pemaksaan kehendak.
Perubahan harus dilakukan dengan ilmu, hikmah, dakwah, kesabaran, musyawarah, dan cara-cara yang dibenarkan syariat.
Karena itu, tugas kelompok yang sadar bukanlah sekadar "mengalahkan" mayoritas. Tugas mereka adalah membangunkan kesadaran masyarakat.
Jangan Menunggu Semua Orang Sadar
Di sinilah sering terjadi kekeliruan dalam gerakan perubahan.
Sebuah organisasi atau komunitas mungkin berkata, "Kita tunggu sampai seluruh masyarakat memahami Islam. Setelah semua sadar, barulah kita bergerak."
Tetapi bukankah itu berarti perubahan ditunda tanpa batas?
Kenyataannya, tidak semua orang akan memiliki tingkat kesadaran yang sama pada waktu yang sama.
Maka, yang dibutuhkan adalah membina manusia-manusia yang benar-benar sadar terlebih dahulu. Mereka menjadi pusat pendidikan, keteladanan, dan pelayanan kepada masyarakat.
Bukan untuk merasa lebih tinggi daripada masyarakat.
Bukan pula untuk menganggap diri sebagai kelompok yang pasti benar.
Melainkan untuk menjadi pelayan perubahan yang sabar dan bertanggung jawab.
Seberapa Besar Kelompok Penggerak Perubahan?
Sejumlah kajian sosiologi populer sering menyebut bahwa orang yang memikirkan perubahan jumlahnya jauh lebih banyak daripada mereka yang benar-benar bersedia bekerja untuk mewujudkannya. Sebagian besar lainnya cenderung mengikuti arus.
Gambaran ini sebenarnya mudah kita lihat dalam kehidupan sehari-hari.
Berapa banyak orang yang menginginkan perubahan?
Banyak.
Berapa banyak yang membicarakannya?
Lebih banyak lagi.
Tetapi berapa banyak yang bersedia belajar, berkorban, bekerja secara konsisten, menghadapi kesulitan, dan tetap bertahan ketika perubahan tidak segera menghasilkan sesuatu?
Jumlahnya jauh lebih sedikit.
Karena itu, Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah dinisbatkan pernah membagi manusia menjadi tiga golongan: ulama Rabbani, para pencari ilmu dan kebenaran, serta orang-orang rendah yang mengikuti setiap suara yang terdengar.
Gambaran ini mengandung sebuah pelajaran penting: masyarakat tidak pernah sepenuhnya homogen.
Ada yang memimpin kesadaran.
Ada yang sedang mencari kebenaran.
Ada pula yang sekadar mengikuti arus.
Perubahan Tidak Selalu Mengikuti Teori yang Sederhana
Sejarah politik dunia juga menunjukkan bahwa perubahan besar tidak selalu terjadi melalui proses perubahan masyarakat secara seragam dan bertahap.
Revolusi Rusia, misalnya, menunjukkan bagaimana sebuah kelompok politik yang terorganisasi dapat memainkan peranan sangat besar dalam perebutan kekuasaan, meskipun tidak seluruh masyarakat sebelumnya memiliki kesadaran ideologis yang sama.
Ini menunjukkan bahwa organisasi, kepemimpinan, disiplin, dan momentum sejarah dapat menjadi faktor penting dalam perubahan.
Namun sejarah tersebut sekaligus memberi pelajaran lain: kemampuan mengambil alih kekuasaan tidak sama dengan kemampuan membangun masyarakat yang baik.
Perebutan kekuasaan dapat terjadi dengan cepat.
Membangun manusia membutuhkan waktu.
Mengubah budaya membutuhkan generasi.
Dan membangun peradaban membutuhkan ketekunan yang jauh lebih panjang.
Karena itu, perubahan yang hanya bertumpu pada perebutan kekuasaan tanpa pembinaan manusia akan mudah kehilangan ruhnya.
Siapakah Kelompok Kecil Itu?
Lalu, siapakah kelompok kecil yang benar-benar dibutuhkan?
Bukan kelompok yang merasa dirinya paling suci.
Bukan kelompok yang gemar mencela masyarakat.
Bukan pula kelompok yang hanya pandai berteriak tentang perubahan.
Kelompok yang dibutuhkan adalah mereka yang beriman, berilmu, sabar, bersih dari kesombongan, dan bersedia bekerja untuk kemaslahatan manusia.
Mereka tidak mudah tergiur oleh berbagai ideologi yang datang silih berganti.
Mereka memiliki prinsip, tetapi tidak kehilangan hikmah.
Mereka memiliki keberanian, tetapi tidak kehilangan akhlak.
Mereka memiliki visi, tetapi tidak mengabaikan kenyataan.
Mereka ingin mengubah masyarakat, tetapi terlebih dahulu bersedia mengubah dirinya sendiri.
Mereka membaca Al-Qur'an bukan hanya untuk menemukan dalil bagi pendapatnya, tetapi untuk menemukan petunjuk bagi kehidupannya.
Mereka mendekat kepada Allah dalam kesunyian.
Mereka menangis dalam doa.
Mereka bersujud ketika manusia lain sedang mengejar popularitas.
Mereka belajar ketika yang lain sibuk berdebat.
Dan mereka bekerja ketika yang lain hanya menunggu.
Dari Kelompok Kecil Menuju Perubahan Besar
Bukankah demikian pula perjalanan dakwah Rasulullah saw.?
Dari satu manusia yang menerima wahyu.
Kemudian keluarga.
Kemudian beberapa sahabat.
Kemudian sebuah jamaah.
Kemudian sebuah masyarakat.
Dan akhirnya, Islam menyebar melampaui batas Jazirah Arab.
Perubahan besar itu tidak dimulai dengan jutaan manusia yang serentak sadar.
Ia dimulai dari manusia-manusia yang benar-benar sadar.
Maka pertanyaannya sekarang bukan:
"Mengapa masyarakat belum berubah?"
Pertanyaan yang lebih mendasar adalah:
"Sudahkah kita berubah?"
Bukan:
"Mengapa orang lain belum memahami Islam?"
Tetapi:
"Sudahkah Islam benar-benar hidup dalam diri kita?"
Bukan:
"Mengapa mayoritas tidak bergerak?"
Melainkan:
"Sudahkah kita menjadi bagian dari sedikit orang yang mau belajar, beriman, bekerja, dan bersabar?"
Sebab perubahan masyarakat tidak akan lahir hanya dari suara yang keras.
Ia lahir dari manusia yang kokoh.
Tidak dari jumlah yang besar semata.
Tetapi dari kualitas iman, ilmu, akhlak, dan amal.
Dan jika Allah menghendaki, dari kelompok kecil yang sungguh-sungguh memperbaiki dirinya itulah lahir gelombang perubahan yang jauh lebih besar.
Maka mulailah dari diri sendiri.
Bersihkan akidah.
Luruskan niat.
Perdalam ilmu.
Perbaiki akhlak.
Bangun persaudaraan.
Didik keluarga.
Layani masyarakat.
Dan teruslah bekerja dengan sabar.
Sebab boleh jadi kita tidak akan pernah melihat seluruh hasil perjuangan itu.
Tetapi bukankah tugas seorang mukmin bukan memastikan hasil berada di tangannya?
Tugasnya adalah berusaha sebaik-baiknya, tetap berada di jalan Allah, dan menyerahkan hasil akhirnya kepada-Nya.
Di situlah kelompok kecil yang beriman menemukan kekuatannya: bukan karena jumlahnya besar, tetapi karena ia yakin bahwa pertolongan Allah tidak pernah bergantung pada banyaknya manusia.
"Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak, dengan izin Allah."
(QS. Al-Baqarah: 249)
0 komentar: