Mengalahkan Zionis Israel dengan Ilmu Pengetahuan dan Harta
Sebagian orang mengatakan bahwa jalan menuju kemenangan tidak terletak pada keberpihakan kepada Blok Timur ataupun Blok Barat. Jalan menuju kemenangan, menurut mereka, adalah membangun kekuatan material: ilmu pengetahuan dan kekayaan.
Bukankah keduanya memang merupakan unsur penting pembentuk kekuatan manusia? Dengan ilmu pengetahuan, kita menguasai teknologi. Dengan kekayaan, kita membiayai pembangunan, penelitian, pendidikan, dan pertahanan. Dengan keduanya, kita dapat merebut kembali hak-hak yang terampas.
Pandangan ini tentu tidak sepenuhnya salah. Bahkan, kita sepakat bahwa umat Islam harus membangun kekuatan material semaksimal mungkin.
Bukankah Allah telah berfirman:
«"Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan kuda-kuda yang ditambatkan untuk berperang, yang dengan itu kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu."
(QS. Al-Anfal, 8:60)»
Ayat ini jelas memerintahkan persiapan kekuatan.
Para ulama juga menetapkan bahwa mempelajari ilmu pengetahuan yang dibutuhkan kaum Muslimin dalam kehidupan agama dan dunia mereka dapat menjadi fardhu kifayah. Jika tidak ada sebagian umat yang menguasainya, seluruh umat menanggung dosa karena mengabaikannya.
Ada pula kaidah fikih yang sangat penting:
«"Sesuatu yang kewajiban tidak dapat terlaksana kecuali dengannya, maka sesuatu itu menjadi wajib."»
Maka, jika menjaga kehormatan umat dan membebaskan negeri yang terjajah membutuhkan penguasaan teknologi, ekonomi, ilmu pengetahuan, dan kemampuan pertahanan, maka menyiapkan semua itu bukan sekadar pilihan strategis. Ia merupakan tanggung jawab kolektif umat.
Namun, di sinilah persoalan yang lebih mendasar muncul.
Apakah ilmu pengetahuan dan harta itu sendiri sudah cukup untuk menjamin kemenangan?
Di sinilah kita harus berhenti sejenak dan berpikir.
Kita tidak menolak ilmu pengetahuan. Kita tidak menolak kekayaan. Kita bahkan wajib mengejarnya.
Yang harus ditolak adalah ketika manusia mulai mendewakan kekuatan material dan menganggap bahwa materi merupakan satu-satunya sumber kemenangan.
Sebab, ketika ilmu dan harta ditempatkan sebagai "tuhan", persoalannya bukan lagi sekadar strategi. Ia telah menyentuh persoalan akidah.
Seolah-olah materi memiliki kekuasaan mutlak untuk menentukan masa depan manusia. Seolah-olah teknologi dapat menjamin kemenangan. Seolah-olah uang dapat membeli segala sesuatu. Seolah-olah manusia dengan ilmu dan hartanya dapat berkata kepada segala sesuatu, "Jadilah!", lalu terjadilah.
Padahal, siapa yang sebenarnya memiliki kekuasaan mutlak?
Allah.
Karena itu, kita harus membedakan dua hal: memiliki kekuatan material dan menggantungkan kemenangan kepada kekuatan material.
Yang pertama adalah kewajiban.
Yang kedua adalah kekeliruan.
---
Ada orang yang mungkin berkata:
"Kalau begitu, mari kita bangun ilmu pengetahuan. Mari kita kumpulkan kekayaan. Mari kita ciptakan teknologi modern. Mari kita bangun industri pertahanan. Dengan ilmu dan dana yang besar, kita akan mampu menandingi Israel, bahkan mengungguli mereka."
Bukankah secara logika hal itu terdengar masuk akal?
Tetapi apakah sejarah membenarkannya?
Lihatlah pengalaman perang Arab-Israel pada 5 Juni 1967.
Pada saat itu, negara-negara Arab memiliki persenjataan modern dan sumber daya yang besar. Secara material, mereka tidak datang ke medan perang dengan tangan kosong.
Namun, apakah persenjataan yang banyak itu otomatis menghasilkan kemenangan?
Tidak.
Kesaksian yang dikutip dalam tulisan ini justru menggambarkan pemandangan yang sangat kontras: persenjataan modern memenuhi padang pasir Sinai. Tank-tank, meriam, senjata antipesawat, dan berbagai perlengkapan perang tersedia dalam jumlah besar.
Melihat semua itu, orang mungkin berpikir:
"Dengan persenjataan sebanyak ini, bagaimana mungkin mereka kalah?"
Tetapi justru itulah pertanyaan yang harus kita renungkan.
Mengapa senjata yang begitu banyak tidak otomatis melahirkan keberanian?
Mengapa teknologi yang begitu canggih tidak otomatis melahirkan keteguhan?
Mengapa harta yang begitu besar tidak otomatis melahirkan kemenangan?
Karena senjata tidak berperang dengan sendirinya.
Teknologi tidak menentukan tujuan dengan sendirinya.
Uang tidak memiliki keberanian.
Manusialah yang menggunakan semuanya.
Maka persoalan sesungguhnya bukan hanya:
"Seberapa canggih senjata kita?"
Tetapi:
"Manusia seperti apa yang memegang senjata itu?"
Bukan hanya:
"Berapa besar dana yang kita miliki?"
Tetapi:
"Untuk apa dana itu digunakan, dan manusia seperti apa yang mengelolanya?"
Bukan hanya:
"Seberapa tinggi ilmu pengetahuan kita?"
Tetapi:
"Nilai apa yang mengarahkan ilmu pengetahuan itu?"
---
Sejarah memberikan pelajaran yang sama dalam berbagai bentuk.
Para pejuang Aljazair pernah menghadapi kekuatan Prancis yang memiliki ilmu pengetahuan, teknologi, organisasi, dan sumber daya jauh lebih besar. Namun kekuatan material tidak otomatis membuat sebuah bangsa mampu mempertahankan penjajahannya selamanya.
Demikian pula pengalaman Vietnam menghadapi Amerika Serikat menunjukkan bahwa keunggulan teknologi dan kekayaan tidak selalu berbanding lurus dengan kemenangan politik dan militer.
Apa pelajarannya?
Bukan berarti teknologi tidak penting.
Bukan pula berarti orang yang lemah persenjataannya pasti menang.
Pelajarannya jauh lebih sederhana:
Kekuatan material hanyalah alat.
Ia menjadi kuat atau lemah tergantung pada manusia yang menggunakannya, tujuan yang mengarahkannya, dan keteguhan yang menopangnya.
Karena itu, umat Islam tidak boleh memilih antara iman atau ilmu pengetahuan.
Tidak boleh memilih antara akidah atau teknologi.
Tidak boleh memilih antara spiritualitas atau kekayaan.
Yang diperlukan justru adalah integrasi semuanya.
Kita membutuhkan ilmuwan.
Kita membutuhkan pengusaha.
Kita membutuhkan kekayaan.
Kita membutuhkan teknologi.
Kita membutuhkan industri.
Kita membutuhkan pendidikan.
Tetapi kita juga membutuhkan manusia yang memiliki iman, keberanian, disiplin, integritas, kesabaran, dan kesediaan berkorban.
Sebab apa gunanya ilmu yang tinggi jika manusia kehilangan arah?
Apa gunanya harta yang melimpah jika manusia kehilangan tujuan?
Apa gunanya senjata yang canggih jika orang yang memegangnya kehilangan keberanian?
Dan apa gunanya sebuah bangsa memiliki teknologi tinggi jika jiwanya rapuh?
---
Menariknya, bahkan seorang tokoh Zionis seperti David Ben-Gurion pernah menyampaikan gagasan yang sangat penting: ketergantungan semata-mata kepada hasil ilmu pengetahuan modern untuk memenangkan perang tidaklah cukup. Penentu akhirnya bukan sekadar meriam atau pesawat tempur, melainkan manusia yang menggunakan semua sarana tersebut.
Kita tidak perlu menerima seluruh pandangan politik Ben-Gurion untuk mengambil hikmah dari sebuah pengamatan yang masuk akal.
Bukankah sejarah memang menunjukkan demikian?
Senjata tidak menentukan semuanya.
Uang tidak menentukan semuanya.
Teknologi tidak menentukan semuanya.
Pada akhirnya, semuanya kembali kepada manusia.
Manusia yang memiliki ilmu tetapi tidak memiliki karakter dapat menyalahgunakan ilmunya.
Manusia yang memiliki kekayaan tetapi tidak memiliki visi dapat menghamburkan hartanya.
Manusia yang memiliki senjata tetapi tidak memiliki keberanian dapat meninggalkan senjatanya.
Sebaliknya, manusia yang memiliki keterbatasan material tetapi mempunyai keteguhan, organisasi, disiplin, visi, dan keyakinan dapat menghasilkan kekuatan yang jauh lebih besar daripada yang tampak di atas kertas.
---
Karena itu, jika kita berbicara tentang kemenangan, janganlah kita bertanya hanya:
"Berapa banyak senjata yang kita punya?"
Tanyakan juga:
"Berapa banyak ilmuwan yang kita lahirkan?"
"Berapa banyak institusi riset yang kita bangun?"
"Berapa banyak industri strategis yang kita kuasai?"
"Berapa kuat ekonomi kita?"
"Seberapa baik pendidikan kita?"
Tetapi jangan berhenti di sana.
Tanyakan pula:
"Manusia macam apa yang sedang kita bentuk?"
"Nilai apa yang mengarahkan ilmu kita?"
"Untuk apa kekayaan kita digunakan?"
"Apakah generasi kita memiliki keberanian untuk mempertahankan kebenaran?"
Di sinilah letak keseimbangannya.
Kita tidak boleh menjadi umat yang miskin karena malas belajar.
Tetapi kita juga tidak boleh menjadi umat yang mabuk teknologi.
Kita harus menguasai ilmu pengetahuan tanpa menyembah ilmu pengetahuan.
Kita harus memiliki kekayaan tanpa menyembah kekayaan.
Kita harus membangun kekuatan tanpa menyembah kekuatan.
Sebab ilmu adalah sarana.
Harta adalah sarana.
Teknologi adalah sarana.
Sedangkan kemenangan bukan milik sarana.
Kemenangan berada dalam kehendak Allah, dan manusia diperintahkan untuk menyiapkan sebab-sebabnya dengan sebaik-baiknya.
Maka perjuangan membangun kekuatan umat tidak cukup hanya dengan membangun persenjataan.
Kita harus membangun manusia.
Membangun sekolah.
Membangun universitas.
Membangun laboratorium.
Membangun industri.
Membangun ekonomi.
Membangun institusi.
Membangun karakter.
Dan yang paling penting, membangun manusia yang ketika memegang ilmu tidak menjadi sombong, ketika memegang harta tidak menjadi tamak, dan ketika memegang kekuasaan tidak menjadi zalim.
Sebab pada akhirnya, pertanyaan terbesar bukanlah:
"Seberapa besar kekuatan yang kita miliki?"
Melainkan:
"Untuk apa kekuatan itu kita miliki, siapa yang mengarahkannya, dan kepada siapa kita menggantungkan kemenangan?"
Di situlah ilmu pengetahuan dan harta menemukan tempatnya yang benar:
bukan sebagai Tuhan yang disembah, tetapi sebagai amanah yang digunakan untuk menegakkan kebenaran dan membangun peradaban.
0 komentar: