Ujian Akidah di Balik Pemindahan Kiblat
Studi ini mengungkap berbagai bentuk makar dan tipu daya yang dilakukan oleh sebagian kaum Yahudi terhadap Islam dan kaum muslimin. Namun, yang lebih penting dari sekadar mengetahui bentuk tipu daya tersebut adalah memahami bagaimana sebuah serangan dapat diarahkan kepada fondasi keimanan manusia.
Kaum muslimin diperingatkan agar waspada terhadap permainan politik, rekayasa, fitnah, dan berbagai upaya yang dapat menimbulkan mudarat. Mereka juga diingatkan agar tidak menyerupai orang-orang kafir dari kalangan Ahli Kitab, baik dalam perkataan maupun dalam perbuatan.
Sebab, sebuah makar tidak selalu datang dalam bentuk serangan yang terbuka. Ia dapat hadir melalui pertanyaan, keraguan, argumentasi yang tampaknya masuk akal, bahkan melalui sesuatu yang pada permukaannya terlihat seperti pembelaan terhadap kebenaran.
Di sinilah Al-Qur’an membongkar sebab-sebab yang tersembunyi di balik sebagian perkataan dan perbuatan kaum Yahudi pada masa itu. Mereka tidak hanya berusaha menghadapi kaum muslimin secara lahiriah, tetapi juga berusaha mengguncang keyakinan mereka dari dalam.
Salah satu persoalan yang mereka jadikan sarana adalah nasakh, yaitu penghapusan atau penggantian sebagian perintah dan ketentuan agama dengan ketentuan yang lain sesuai dengan kehendak dan hikmah Allah.
Mereka menjadikan perubahan hukum sebagai bahan untuk menimbulkan keraguan terhadap sumber wahyu. Mereka berkata, kurang lebih:
«“Kalau semua ini benar-benar berasal dari Allah, mengapa ada perintah yang dihapus? Mengapa muncul perintah baru yang menggantikan perintah sebelumnya?”»
Pertanyaan itu sekilas tampak sederhana. Tetapi di baliknya terdapat persoalan yang jauh lebih mendasar: apakah manusia percaya bahwa Allah Mahamengetahui apa yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya?
Jika Allah adalah Rabb Yang Mahabijaksana, maka perubahan suatu ketentuan tidak menunjukkan adanya pertentangan dalam wahyu. Sebaliknya, ia menunjukkan bahwa Allah menetapkan sesuatu sesuai dengan hikmah, maslahat, serta keadaan manusia yang Dia ciptakan dan Dia ketahui secara sempurna.
Persoalan ini kemudian menjadi semakin nyata ketika terjadi pemindahan kiblat.
Pemindahan Kiblat dan Guncangan yang Ditimbulkannya
Setelah hijrah ke Madinah, Rasulullah saw. melaksanakan shalat menghadap Baitul Maqdis. Kiblat ini juga menjadi arah shalat kaum Yahudi. Keadaan tersebut kemudian dijadikan oleh sebagian mereka sebagai alasan untuk mengklaim bahwa agama yang dibawa Nabi Muhammad saw. tidak berbeda dari agama mereka.
Namun, Rasulullah saw. memiliki keinginan agar kiblat kaum muslimin diarahkan kepada Ka'bah, Baitullah, rumah Allah yang menjadi pusat tauhid sejak masa Nabi Ibrahim a.s.
Keinginan itu tidak disampaikan sebagai keputusan pribadi. Rasulullah saw. menunggu petunjuk Allah. Hingga akhirnya Allah mengabulkannya dan memerintahkan kaum muslimin menghadap ke Masjidilharam.
Pemindahan kiblat bukan sekadar perubahan arah ketika shalat.
Ia merupakan perubahan orientasi umat.
Ka'bah menjadi simbol bahwa umat Islam memiliki identitas, arah, dan pusat kehidupan spiritualnya sendiri. Karena itu, perubahan tersebut juga memutus salah satu klaim yang selama ini digunakan oleh kaum Yahudi untuk mengaitkan Islam dengan agama mereka berdasarkan kesamaan kiblat.
Ketika argumentasi itu runtuh, muncul persoalan baru.
Keraguan mulai diarahkan kepada kaum muslimin:
«“Jika menghadap Baitul Maqdis itu sekarang dianggap tidak benar, bagaimana dengan shalat dan ibadah kalian selama ini? Apakah semuanya sia-sia? Dan jika sebelumnya benar, mengapa sekarang kiblat harus dipindahkan?”»
Pertanyaan seperti ini tampaknya berbicara tentang arah kiblat. Tetapi sesungguhnya sasarannya jauh lebih dalam.
Yang hendak diguncang bukan sekadar arah shalat, melainkan kepercayaan kaum muslimin terhadap wahyu dan kepemimpinan Rasulullah saw.
Jika mereka berhasil membuat kaum muslimin meragukan sumber perintah, maka yang terguncang bukan hanya satu hukum. Yang terguncang adalah fondasi akidah.
Ketika Keraguan Masuk ke Dalam Jiwa
Makar semacam ini ternyata dapat memberikan pengaruh kepada sebagian kaum muslimin. Mereka kemudian bertanya kepada Rasulullah saw. dengan perasaan cemas dan gelisah.
Hal ini menunjukkan sesuatu yang sangat manusiawi.
Orang yang telah beriman sekalipun dapat mengalami keguncangan ketika berhadapan dengan pertanyaan yang terus-menerus diulang dan diarahkan kepada titik paling sensitif dalam keyakinannya.
Keraguan sering kali tidak datang sebagai penolakan langsung terhadap agama. Ia datang melalui pertanyaan yang sedikit demi sedikit menggerogoti kepastian.
Karena itu, Al-Qur’an tidak membiarkan persoalan ini berlalu tanpa penjelasan.
Allah menjelaskan bahwa penghapusan atau penggantian sebagian ketentuan bukanlah tanda kelemahan dalam wahyu. Nasakh merupakan bagian dari kebijaksanaan Allah dalam menetapkan hukum bagi manusia.
Allah mengetahui apa yang dibutuhkan hamba-hamba-Nya. Dia mengetahui apa yang lebih baik bagi mereka, kapan suatu ketentuan harus diberlakukan, dan kapan suatu ketentuan diganti dengan ketentuan yang lain.
Dengan demikian, perubahan hukum tidak menunjukkan perubahan pengetahuan Allah. Justru manusialah yang mengalami perubahan keadaan, sedangkan Allah mengetahui seluruh perubahan itu sejak awal.
Di sinilah kaum muslimin diajarkan untuk membedakan antara perubahan hukum dan perubahan kebenaran.
Hukum dapat berubah sesuai dengan hikmah dan ketetapan Allah, tetapi kebenaran wahyu tidak pernah cacat.
Bahaya Kedengkian terhadap Nikmat Allah
Al-Qur’an kemudian mengungkap bahwa di balik sebagian penolakan tersebut terdapat kedengkian terhadap karunia Allah kepada kaum muslimin.
Allah telah memilih mereka untuk menerima risalah terakhir dan menurunkan kitab terakhir melalui Nabi Muhammad saw.
Persoalan ini bukan lagi sekadar perselisihan mengenai arah kiblat. Ia menyentuh persoalan yang lebih dalam: siapa yang dipilih Allah untuk menerima amanah risalah terakhir?
Karena itu, kaum muslimin diperingatkan agar tidak membiarkan dirinya dikembalikan kepada kekafiran setelah beriman hanya karena terpengaruh oleh tekanan, propaganda, atau keraguan yang dilemparkan dari luar.
Namun, peringatan ini juga mengandung pelajaran yang lebih luas.
Sebuah komunitas tidak selalu dihancurkan dengan kekuatan dari luar. Terkadang ia dilemahkan dengan membuat anggotanya meragukan identitas, sumber nilai, dan kepemimpinannya sendiri.
Ketika keyakinan terhadap fondasi itu melemah, masyarakat akan mudah terpecah.
Perselisihan di antara Ahli Kitab
Al-Qur’an juga membongkar sebuah ironi besar di antara kaum Ahli Kitab.
Masing-masing kelompok merasa dirinya memiliki kebenaran dan menjatuhkan kelompok yang lain. Orang-orang Yahudi mengatakan bahwa orang-orang Nasrani tidak mempunyai pegangan, sementara orang-orang Nasrani mengatakan hal yang sama terhadap orang-orang Yahudi.
Mereka saling meniadakan, sementara masing-masing mengklaim dirinya berada di atas kebenaran.
Hal ini memperlihatkan bahwa klaim keagamaan tidak selalu identik dengan ketundukan kepada kebenaran.
Seseorang dapat berbicara tentang agama, membawa simbol agama, bahkan mengklaim memiliki kitab suci, tetapi tetap dapat terjebak dalam fanatisme, kedengkian, dan penolakan terhadap kebenaran ketika kebenaran itu datang tidak sesuai dengan kepentingannya.
Ka'bah dan Perebutan Arah Peradaban
Dalam konteks pemindahan kiblat, Al-Qur’an juga membongkar adanya upaya menghalangi kaum muslimin dari menghadap Ka'bah.
Persoalan ini tidak berhenti pada arah tubuh ketika shalat. Ka'bah adalah Baitullah dan salah satu simbol utama tauhid.
Karena itu, menghalangi manusia dari masjid dan dari mengingat nama Allah di dalamnya bukanlah persoalan kecil. Ia menyentuh hubungan manusia dengan tempat ibadah dan dengan Tuhannya.
Dari sini kita dapat memahami bahwa perebutan arah kiblat pada hakikatnya adalah bagian dari perebutan orientasi umat.
Ke mana umat menghadap?
Kepada siapa mereka tunduk?
Dari mana mereka mengambil nilai?
Dan kepada siapa mereka menyerahkan loyalitas tertingginya?
Pertanyaan-pertanyaan inilah yang menjadikan persoalan kiblat jauh lebih besar daripada sekadar perubahan arah dalam shalat.
Sasaran Akhir: Menggoyahkan Identitas
Pada akhirnya, kaum muslimin dihadapkan pada satu kenyataan penting: sebagian Ahli Kitab tidak akan merasa puas sebelum kaum muslimin mengikuti jalan mereka.
Jika kaum muslimin tidak mengikuti agama mereka, maka tekanan dapat mengambil berbagai bentuk: argumentasi, propaganda, fitnah, tipu daya, dan berbagai bentuk permusuhan lainnya.
Namun, pelajaran yang lebih penting bagi kaum muslimin bukanlah membangun prasangka terhadap seluruh orang dari suatu kelompok. Al-Qur’an mengajarkan agar manusia melihat sikap, tindakan, dan posisi terhadap kebenaran, bukan membuat generalisasi tanpa batas.
Yang perlu diwaspadai adalah setiap upaya yang berusaha memalingkan manusia dari agamanya, mengguncang keyakinannya terhadap wahyu, atau membuatnya meninggalkan identitas dan prinsip yang telah diyakininya.
Di balik berbagai argumentasi yang tampak rasional, bisa saja terdapat kepentingan yang tersembunyi. Karena itu, seorang mukmin tidak cukup hanya mendengar sebuah argumentasi. Ia juga harus bertanya:
Ke mana argumentasi ini akan membawaku?
Apakah ia semakin mendekatkanku kepada Allah atau justru menjauhkan?
Apakah ia membuatku semakin tunduk kepada kebenaran atau semakin tunduk kepada tekanan manusia?
Apakah ia membangun keyakinan atau justru menanamkan keraguan tanpa dasar?
Inilah pelajaran reflektif dari pergolakan di sekitar pemindahan kiblat.
Ujian terbesar terkadang bukan ketika seseorang diminta meninggalkan agama secara terang-terangan. Ujian terbesar justru ketika ia dibuat meragukan agamanya sedikit demi sedikit, sampai akhirnya ia sendiri tidak lagi yakin mengapa harus mempertahankannya.
Karena itu, Al-Qur’an tidak hanya memberi tahu kaum muslimin tentang apa yang terjadi pada masa lalu. Ia juga membentuk kewaspadaan batin agar umat mampu mengenali pola yang sama ketika ia muncul dalam bentuk yang berbeda.
Sebab, sejarah dapat berganti wajah, bahasa dapat berubah, dan metode dapat berkembang. Tetapi pergulatan antara kebenaran dan kebatilan, iman dan keraguan, ketundukan kepada Allah dan ketundukan kepada hawa nafsu, akan terus menjadi bagian dari perjalanan manusia.
0 komentar: