Kesesatan Persepsi tentang Hakikat Uluhiah
Setelah Al-Qur'an membongkar klaim-klaim Ahli Kitab tentang keselamatan, menunjukkan usaha mereka menghalangi manusia dari masjid, dan menjelaskan ketidaksenangan mereka terhadap Rasulullah saw., pembicaraan kemudian bergerak lebih dalam: kepada sumber persoalannya, yaitu kesesatan dalam memahami hakikat uluhiah.
Penyimpangan dalam mengenal Allah bukan sekadar kesalahan dalam sebuah konsep teologis. Ia akan memengaruhi seluruh cara manusia memandang kehidupan, manusia, alam semesta, bahkan dirinya sendiri.
Karena itu, Al-Qur'an meluruskan kembali dasar yang paling fundamental: siapa Allah, bagaimana hubungan-Nya dengan makhluk, dan bagaimana seharusnya manusia memandang dirinya di hadapan Sang Pencipta.
Allah berfirman:
«"Mereka berkata, 'Allah mempunyai anak.' Mahasuci Allah, bahkan apa yang ada di langit dan di bumi adalah kepunyaan Allah; semua tunduk kepada-Nya. Allah Pencipta langit dan bumi, dan apabila Dia hendak menetapkan sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya, 'Jadilah!' Maka jadilah ia. Dan orang-orang yang tidak mengetahui berkata, 'Mengapa Allah tidak berbicara dengan kami atau datang kepada kami suatu tanda?' Demikian pula orang-orang sebelum mereka telah mengatakan seperti ucapan mereka itu. Hati mereka serupa. Sungguh, Kami telah menjelaskan tanda-tanda kekuasaan Kami kepada kaum yang yakin."»
«(al-Baqarah: 116–118)»
Allah Mahasuci dari segala penyandaran anak
Perkataan bahwa Allah mempunyai anak tidak hanya berkaitan dengan satu kelompok tertentu. Klaim semacam ini muncul dalam berbagai bentuk: kaum Nasrani mengaitkannya dengan Al-Masih, sebagian Yahudi dengan Uzair, sementara kaum musyrikin mengaitkannya dengan malaikat.
Al-Qur'an tidak perlu memaparkan satu per satu seluruh bentuk klaim tersebut. Yang hendak dibongkar adalah akar pikirannya: menyamakan Allah dengan makhluk dan memasukkan hubungan ketuhanan ke dalam kategori hubungan biologis atau hubungan makhluk.
Karena itu jawaban Al-Qur'an sangat tegas:
«"Mahasuci Allah."»
Allah Mahasuci dari segala sifat yang tidak layak bagi-Nya.
Dia bukan bagian dari alam.
Dia bukan makhluk yang membutuhkan keturunan.
Dia tidak berasal dari sesuatu dan tidak bergantung kepada sesuatu.
Justru seluruh yang ada di langit dan di bumi adalah milik-Nya:
«"Bahkan apa yang ada di langit dan di bumi adalah kepunyaan Allah; semua tunduk kepada-Nya."»
Di sini Al-Qur'an membalik cara pandang manusia.
Yang selama ini hendak ditempatkan sebagai bagian dari ketuhanan ternyata seluruhnya adalah makhluk.
Tidak ada satu pun yang menjadi "anak" Allah.
Semuanya adalah hamba-Nya.
Antara Al-Khaliq dan makhluk
Kemudian Al-Qur'an memberikan dasar yang sangat penting:
«"Allah Pencipta langit dan bumi."»
Inilah batas yang harus dijaga oleh tashawwur Islam: Al-Khaliq adalah Pencipta, sedangkan seluruh selain-Nya adalah makhluk.
Pencipta tidak sama dengan ciptaan.
Yang menciptakan tidak identik dengan yang diciptakan.
Makhluk membutuhkan Allah, sedangkan Allah tidak membutuhkan makhluk.
Karena itu, segala gagasan yang mengaburkan perbedaan antara Khaliq dan makhluk bertentangan dengan fondasi tauhid.
Alam semesta memiliki satu sumber penciptaan, satu kehendak yang mengaturnya, dan satu sistem yang mengarahkan seluruh makhluk kepada ketentuan-Nya. Tetapi kesatuan ini bukan berarti bahwa Allah dan alam adalah satu hakikat.
Alam tetap alam.
Allah tetap Allah.
Makhluk tidak berubah menjadi Khaliq, dan Khaliq tidak menjadi makhluk.
Kesadaran terhadap perbedaan mendasar inilah yang menjaga manusia dari berbagai bentuk penyimpangan dalam memahami uluhiah.
"Kun fayakun" dan keterbatasan manusia
Al-Qur'an kemudian menggambarkan kekuasaan Allah:
«"Apabila Dia hendak menetapkan sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya, 'Jadilah!' Maka jadilah ia."»
Ini bukan sekadar gambaran tentang cara penciptaan yang harus dibayangkan manusia secara mekanis. Ayat ini menegaskan mutlaknya kehendak dan kekuasaan Allah.
Ketika Allah menghendaki sesuatu, tidak ada kekuatan yang dapat menghalangi kehendak-Nya.
Adapun bagaimana hakikat hubungan antara iradah Allah dan terjadinya sesuatu yang dikehendaki-Nya, itu berada di luar jangkauan manusia.
Di sinilah Islam mengajarkan adab intelektual yang penting: mengetahui batas kemampuan akal.
Akal manusia sangat berharga. Dengan akal, manusia dapat memahami tanda-tanda kekuasaan Allah, menyingkap hukum-hukum alam, mengembangkan ilmu pengetahuan, dan menjalankan tugas kekhalifahannya di bumi.
Namun, akal bukanlah alat untuk mengetahui segala sesuatu.
Ada wilayah yang dapat dijangkau manusia melalui pengamatan, pengalaman, penalaran, dan penelitian. Ada pula wilayah gaib yang memang tidak diberikan kemampuan kepada manusia untuk menguasainya secara langsung.
Menyadari batas ini bukan berarti merendahkan akal.
Justru sebaliknya, itulah penghormatan terhadap akal.
Akal yang sehat tidak hanya mengetahui apa yang dapat diketahuinya. Ia juga mengetahui apa yang tidak mampu diketahuinya.
Manusia diciptakan untuk menjadi khalifah di bumi. Karena itu, ia dibekali kemampuan untuk mempelajari alam dan memanfaatkan hukum-hukumnya dalam menjalankan amanah tersebut.
Adapun memaksa kemampuan manusia untuk menembus hakikat Zat Allah dan perkara gaib yang tidak diberikan perangkat untuk mengetahuinya hanya akan menyeret manusia ke dalam spekulasi tanpa batas.
Di sinilah seseorang dapat kehilangan pijakan: bukan karena terlalu sedikit berpikir, tetapi karena menggunakan pikirannya di luar wilayah yang dapat dijangkaunya.
Ketika filsafat kehilangan batas
Sejarah pemikiran menunjukkan bagaimana manusia sering mencoba menjawab perkara-perkara metafisik dengan perangkat yang sebenarnya tidak memadai untuk menjangkaunya.
Ketika spekulasi tentang hakikat Tuhan dipaksakan tanpa wahyu sebagai petunjuk, manusia mudah terjebak dalam berbagai dugaan yang saling bertentangan.
Dalam perspektif Islam, persoalan ini tidak diselesaikan dengan mematikan akal, tetapi dengan menempatkan akal pada kedudukannya yang benar.
Akal digunakan untuk memahami ayat-ayat Allah.
Akal digunakan untuk membaca alam.
Akal digunakan untuk menimbang bukti.
Akal digunakan untuk menjalankan amanah kekhalifahan.
Tetapi akal tidak dijadikan hakim mutlak atas perkara gaib yang memang berada di luar jangkauannya.
Dengan demikian, wahyu bukan musuh akal.
Wahyu justru memberikan arah agar akal tidak tersesat di wilayah yang tidak mampu dijangkaunya.
Kesatuan alam bukan berarti kesatuan Allah dan alam
Dari sini menjadi jelas pula perbedaan antara tauhid Islam dengan gagasan yang menyamakan Allah dengan alam atau menganggap alam sebagai bagian dari hakikat Allah.
Dalam pandangan Islam, seluruh alam memiliki kesatuan dalam satu hal: semuanya berasal dari kehendak satu Pencipta, tunduk kepada aturan-Nya, dan berada di bawah pengaturan-Nya.
Tetapi kesatuan sumber dan aturan itu tidak berarti bahwa Allah dan makhluk merupakan satu wujud.
Allah adalah Al-Khaliq.
Alam adalah makhluk.
Allah Mahasuci dari segala sesuatu yang menyerupai-Nya.
Karena itu, seorang muslim memandang alam bukan sebagai Tuhan, tetapi sebagai ayat—tanda yang menunjukkan kebesaran Tuhan.
Langit, bumi, kehidupan, kematian, pergantian siang dan malam, serta seluruh keteraturan alam tidak mengarahkan manusia untuk menyembah alam, tetapi untuk mengenal Penciptanya.
Semakin manusia memahami alam, seharusnya semakin ia menyadari kebesaran Al-Khaliq.
Hati yang sama di balik persepsi yang berbeda
Setelah meluruskan persepsi Ahli Kitab tentang Allah, Al-Qur'an kembali menyebut kelompok lain:
«"Dan orang-orang yang tidak mengetahui berkata, 'Mengapa Allah tidak berbicara dengan kami atau datang kepada kami suatu tanda?' Demikian pula orang-orang sebelum mereka telah mengatakan seperti ucapan mereka itu. Hati mereka serupa."»
Orang-orang yang tidak mengetahui dalam konteks ayat ini adalah kaum musyrik yang tidak memiliki kitab. Mereka menuntut agar Allah berbicara langsung kepada mereka atau mendatangkan tanda-tanda kekuasaan-Nya sesuai dengan tuntutan mereka.
Menariknya, Al-Qur'an tidak hanya menunjukkan kemiripan ucapan mereka.
Al-Qur'an mengatakan:
«"Hati mereka serupa."»
Di sinilah persoalannya menjadi lebih dalam.
Perbedaan identitas, sejarah, dan tradisi ternyata tidak selalu berarti perbedaan penyakit hati.
Seseorang dapat memiliki kitab, sementara yang lain tidak memiliki kitab. Seseorang dapat mengaku sebagai pengikut agama wahyu, sementara yang lain terang-terangan menyembah berhala. Namun keduanya dapat memiliki pola berpikir yang sama: tidak mau tunduk sebelum kebenaran memenuhi keinginan mereka.
Mereka tidak berkata, "Apa yang harus kami lakukan setelah kebenaran datang?"
Mereka justru berkata, "Mengapa Allah tidak memberikan bukti sesuai dengan yang kami inginkan?"
Ini adalah perbedaan besar antara mencari kebenaran dan menuntut kebenaran mengikuti selera kita.
Keyakinan membuka mata terhadap tanda-tanda Allah
Allah kemudian berfirman:
«"Sungguh, Kami telah menjelaskan tanda-tanda kekuasaan Kami kepada kaum yang yakin."»
Ayat ini mengajarkan bahwa masalah utama tidak selalu terletak pada kurangnya bukti.
Tanda-tanda Allah telah terbentang.
Wahyu telah datang.
Alam telah menjadi ayat.
Sejarah manusia penuh dengan pelajaran.
Namun, tidak semua hati mampu melihatnya sebagai petunjuk.
Orang yang memiliki keyakinan akan melihat tanda-tanda itu dengan hati yang terbuka. Keyakinan membuatnya siap menerima petunjuk, bukan memaksa petunjuk agar sesuai dengan keinginannya.
Karena itu, bukan banyaknya tanda yang selalu melahirkan keyakinan.
Sering kali justru hati yang memiliki kesiapan untuk yakinlah yang mampu membaca tanda dengan benar.
Rasul membawa kebenaran, bukan mengikuti hawa nafsu manusia
Setelah itu, pembicaraan kembali kepada Rasulullah saw.
Allah menegaskan:
«"Sesungguhnya Kami telah mengutusmu dengan kebenaran sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan."»
Rasulullah diutus dengan kebenaran.
Bukan untuk mengikuti tuntutan kelompok.
Bukan untuk mencari kerelaan semua pihak.
Bukan untuk mengubah wahyu agar tidak menyinggung siapa pun.
Tugas beliau adalah menyampaikan kebenaran, memberi kabar gembira kepada mereka yang menerima petunjuk, dan memberikan peringatan kepada mereka yang memilih jalan kesesatan.
Karena itu, Rasulullah tidak dibebani untuk memastikan semua manusia menerima dakwahnya.
Beliau menyampaikan.
Manusia memilih.
Allah mengadili.
Ketidaksenangan yang berakar pada tuntutan untuk berkompromi
Allah kemudian mengungkap:
«"Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepadamu hingga kamu mengikuti agama mereka."»
Ayat ini menunjukkan bahwa persoalan yang dihadapi Rasulullah bukan semata-mata kurangnya bukti atau lemahnya argumentasi.
Ada tuntutan yang lebih mendasar: agar beliau meninggalkan sebagian kebenaran yang dibawanya dan mengikuti jalan mereka.
Di sinilah hakikat persoalan akidah terlihat.
Kebenaran tidak boleh diubah hanya agar manusia merasa nyaman.
Dakwah boleh disampaikan dengan hikmah.
Bahasa boleh dipilih dengan kelembutan.
Hubungan sosial boleh dibangun dengan baik.
Tetapi prinsip tauhid tidak dapat ditukar dengan penerimaan manusia.
Karena itu jawaban Allah sangat singkat:
«"Katakanlah, 'Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk yang benar.'"»
Petunjuk Allah bukan salah satu pilihan di antara banyak jalan yang setara.
Ia adalah petunjuk yang harus menjadi orientasi utama manusia.
Bahaya mengikuti hawa nafsu setelah mengetahui kebenaran
Allah kemudian memberikan peringatan yang sangat keras:
«"Dan sungguh, jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu."»
Ancaman ini bahkan diarahkan kepada Rasulullah saw.
Bukan karena Rasulullah mungkin menyimpang dari wahyu, tetapi untuk menegaskan betapa seriusnya persoalan tersebut.
Jika mengikuti hawa nafsu setelah datang pengetahuan merupakan bahaya yang demikian besar, maka manusia biasa tentu lebih membutuhkan kewaspadaan.
Sering kali masalah bukan karena seseorang tidak mengetahui.
Justru masalah muncul ketika seseorang sudah mengetahui, tetapi tidak mau tunduk.
Pengetahuan seharusnya membawa kepada ketundukan. Tetapi jika pengetahuan hanya digunakan untuk memperkuat hawa nafsu, maka ilmu yang seharusnya menjadi cahaya justru dapat menjadi alat pembenaran.
Karena itu, pertanyaan terpenting bukan hanya:
"Apa yang saya ketahui?"
Tetapi:
"Apa yang saya lakukan setelah mengetahui?"
Membaca kitab dengan sebenar-benarnya
Namun, sekali lagi Al-Qur'an tidak menggeneralisasi seluruh Ahli Kitab.
Allah berfirman:
«"Orang-orang yang telah Kami berikan Al-Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itu beriman kepadanya."»
Ada orang-orang yang ketika membaca kitab, tidak menjadikannya alat untuk mempertahankan identitas kelompok.
Mereka membacanya untuk menemukan petunjuk.
Mereka membaca dengan kesiapan untuk menerima kebenaran, bahkan ketika kebenaran itu menuntut mereka meninggalkan sesuatu yang sebelumnya mereka yakini.
Inilah makna membaca dengan sebenar-benarnya.
Membaca bukan sekadar melafalkan.
Membaca berarti memahami.
Memahami berarti menerima konsekuensinya.
Dan menerima konsekuensi kebenaran berarti bersedia tunduk kepadanya.
Karena itu, orang yang membaca kitab dengan jujur dapat mengenali kebenaran ketika kebenaran itu datang kepadanya.
Sebaliknya, orang yang menolak kebenaran setelah mengetahuinya justru menjadi orang yang paling merugi.
Kerugian terbesar bukan kehilangan harta.
Bukan kehilangan kedudukan.
Bukan kehilangan pengaruh.
Kerugian terbesar adalah kehilangan iman setelah kesempatan untuk mengenal kebenaran diberikan.
Seruan terakhir kepada Bani Israil
Setelah rangkaian penjelasan tersebut, pembicaraan kembali diarahkan kepada Bani Israil.
Seakan-akan setelah berbagai perdebatan, pembongkaran penyimpangan, dan penjelasan tentang kebenaran, Al-Qur'an memberikan seruan terakhir kepada mereka.
Allah berfirman:
«"Wahai Bani Israil, ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan bahwa Aku telah melebihkan kamu atas segala umat pada masa itu. Dan takutlah kamu terhadap suatu hari ketika seseorang tidak dapat menggantikan orang lain sedikit pun, tebusan tidak diterima darinya, syafaat tidak berguna baginya, dan mereka tidak akan ditolong."
(al-Baqarah: 122–123)»
Seruan ini mengingatkan mereka kepada sesuatu yang seharusnya menjadi sumber kerendahan hati: nikmat Allah.
Keutamaan yang pernah diberikan kepada suatu umat bukanlah jaminan keselamatan tanpa syarat.
Justru semakin besar nikmat yang diterima, semakin besar pula amanah yang menyertainya.
Bani Israil pernah menerima wahyu, diutus kepada mereka para nabi, dan diberikan berbagai nikmat serta keistimewaan pada zamannya. Tetapi semua itu tidak menghapus kewajiban untuk tunduk kepada Allah.
Pada akhirnya, setiap manusia akan kembali kepada Allah secara pribadi.
Tidak ada seseorang yang dapat menggantikan orang lain.
Tidak ada identitas kelompok yang dapat menjadi jaminan.
Tidak ada tebusan yang dapat dibeli dengan kekayaan.
Tidak ada kebanggaan sejarah yang dapat menggantikan iman dan amal.
Dan tidak ada keistimewaan yang dapat menyelamatkan seseorang apabila ia berpaling dari petunjuk Allah.
Di sinilah seluruh rangkaian pembicaraan ini menemukan ujungnya.
Allah adalah Al-Khaliq, manusia adalah makhluk. Allah memberi petunjuk, manusia dituntut untuk tunduk. Allah memberi nikmat, manusia memikul amanah. Dan pada akhirnya, setiap orang akan berdiri sendiri di hadapan-Nya.
Maka pertanyaan yang tersisa bukan lagi:
"Dari kelompok mana aku berasal?"
Melainkan:
"Ketika kebenaran telah datang kepadaku, apakah aku bersedia tunduk kepadanya?"
0 komentar: