Mematahkan Anggapan Bohong Ahli Kitab
Konteks berikutnya adalah pembongkaran terhadap anggapan-anggapan kosong Ahli Kitab, baik Yahudi maupun Nasrani. Masing-masing mengklaim dirinya sebagai satu-satunya golongan yang memperoleh petunjuk dan berhak masuk surga. Seolah-olah surga telah menjadi milik eksklusif mereka, sedangkan semua manusia di luar kelompok mereka telah tertutup dari rahmat Allah.
Klaim seperti ini bukanlah kebenaran yang dibangun di atas dalil. Ia hanyalah angan-angan yang diwariskan dan terus diulang sampai dianggap sebagai sebuah kepastian.
Di tengah klaim semacam itulah Al-Qur'an menghadirkan persoalan yang sebenarnya. Ukuran keselamatan tidak ditentukan oleh nama kelompok, identitas keturunan, atau label keagamaan, tetapi oleh sikap seseorang kepada Allah dan amal yang lahir dari sikap tersebut.
Allah berfirman:
«"Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata, 'Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nasrani.' Demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah, 'Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu orang yang benar!' (Tidak demikian), barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala di sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Dan orang-orang Yahudi berkata, 'Orang-orang Nasrani itu tidak mempunyai suatu pegangan,' dan orang-orang Nasrani berkata, 'Orang-orang Yahudi tidak mempunyai suatu pegangan,' padahal mereka sama-sama membaca Kitab. Demikian pula orang-orang yang tidak mengetahui mengatakan seperti ucapan mereka itu. Maka, Allah akan mengadili di antara mereka pada hari Kiamat tentang apa-apa yang mereka perselisihkan padanya."
(al-Baqarah: 111–113)»
Orang-orang yang berhadapan langsung dengan kaum muslimin di Madinah terutama adalah kaum Yahudi, karena pada masa itu tidak terdapat komunitas Nasrani yang sebanding dengan komunitas Yahudi di sana. Namun, nash Al-Qur'an ini tidak berhenti pada konteks lokal tersebut. Pernyataannya bersifat lebih umum. Al-Qur'an membongkar pola berpikir yang dapat muncul pada berbagai kelompok: merasa dirinya paling benar, menganggap pihak lain tidak memiliki kebenaran, lalu menjadikan identitas kelompok sebagai jaminan keselamatan.
Klaim tanpa bukti
"Dan mereka berkata, 'Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang yang beragama Yahudi atau Nasrani.'"
Perhatikan cara Al-Qur'an menggambarkan klaim tersebut: tilka amaniyyuhum—itu hanyalah angan-angan mereka.
Ada sesuatu yang sangat penting di sini. Sebuah keyakinan tidak menjadi benar hanya karena diyakini dengan penuh percaya diri. Sebuah klaim tidak menjadi kebenaran hanya karena telah diwariskan turun-temurun. Bahkan klaim tentang keselamatan akhirat pun harus memiliki dasar.
Karena itu Allah memerintahkan Rasul-Nya untuk menjawab:
«"Katakanlah, 'Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang-orang yang benar!'"»
Ini bukan sekadar bantahan terhadap Yahudi dan Nasrani pada masa itu. Ini adalah pendidikan Al-Qur'an tentang bagaimana manusia seharusnya menyikapi sebuah klaim.
Jika mengaku benar, datangkan bukti.
Jangan menggantikan dalil dengan kebanggaan kelompok. Jangan menggantikan kebenaran dengan identitas. Jangan menjadikan status keturunan atau sejarah komunitas sebagai tiket menuju keselamatan.
Ukuran Allah bukan nama, tetapi sikap dan amal
Setelah membantah klaim eksklusif tersebut, Al-Qur'an segera menjelaskan ukuran yang sebenarnya:
«"(Tidak demikian), barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala di sisi Tuhannya..."»
Di sinilah Al-Qur'an menetapkan sebuah kaidah penting dalam tata pembalasan.
Allah tidak memberikan keselamatan berdasarkan pilih kasih kepada suatu bangsa, umat, kelompok, atau perseorangan. Yang dinilai adalah hubungan manusia dengan Allah yang dibuktikan melalui amal.
Karena itu, ukuran yang dikemukakan Al-Qur'an bukan sekadar nama dan identitas, tetapi dua hal yang menyatu: menyerahkan diri kepada Allah dan berbuat kebajikan.
Islam tidak memisahkan keyakinan dari kehidupan.
Kata aslama mengandung makna tunduk dan menyerahkan diri. Ia bukan sekadar pengakuan batin, tetapi ketundukan yang memiliki konsekuensi dalam perilaku. Karena itu ayat tersebut langsung menyambungnya dengan keadaan:
«"...sedang ia berbuat kebajikan."»
Ada hubungan yang tidak dapat dipisahkan antara iman dan amal, antara akidah dan perilaku, antara ketundukan hati dan kebajikan perbuatan.
Inilah salah satu ciri penting Islam: kesatuan antara apa yang diyakini dengan bagaimana seseorang menjalani kehidupannya.
Akidah bukan sekadar kumpulan konsep di dalam pikiran. Akidah seharusnya menjadi manhaj kehidupan. Ia membentuk arah perasaan, pilihan, tindakan, dan hubungan manusia dengan sesama.
Dengan demikian, seorang mukmin tidak memiliki dua kehidupan yang terpisah—kehidupan keyakinan dan kehidupan nyata. Keyakinan justru memberi bentuk kepada kehidupan nyata.
Kaidah yang berlaku untuk semua manusia
Sebelumnya, Al-Qur'an telah menetapkan kaidah yang sama mengenai hukuman sebagai bantahan terhadap klaim Ahli Kitab bahwa mereka hanya akan disentuh api neraka beberapa hari saja.
Allah berfirman bahwa bukanlah demikian. Orang yang berbuat dosa lalu dosa itu meliputinya, mereka itulah penghuni neraka.
Sekarang, setelah menjelaskan sisi hukuman, Al-Qur'an menjelaskan sisi pahala:
«"Barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala di sisi Tuhannya..."»
Dengan demikian, terdapat satu kaidah yang mencakup kedua sisi: siksa dan pahala.
Tidak ada keselamatan otomatis hanya karena seseorang menyandang sebuah nama. Demikian pula tidak ada hukuman yang ditentukan semata-mata karena seseorang berasal dari kelompok tertentu.
Yang menjadi persoalan adalah hubungan manusia dengan kebenaran dan konsekuensi amalnya.
Orang yang membiarkan dirinya dikuasai dosa menjadi seperti tawanan dosa itu sendiri. Dosa yang terus dipelihara akhirnya meliputi dirinya, mengarahkan perasaan, pilihan, dan kehidupannya.
Sebaliknya, orang yang menyerahkan dirinya kepada Allah dengan tulus dan membuktikan ketundukannya melalui kebajikan sedang melepaskan dirinya dari belenggu dosa. Ia mengarahkan seluruh perasaannya kepada Allah dan berusaha menjadikan hidupnya sesuai dengan kehendak-Nya.
Karena itu Allah menjanjikan:
«"Maka, baginya pahala di sisi Tuhannya, dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati."»
Pahala itu tidak akan sia-sia di sisi Allah. Keamanan yang diberikan-Nya tidak akan digantikan oleh ketakutan, dan kebahagiaan yang dijanjikan-Nya tidak akan berakhir dengan kesedihan.
Ketika kelompok-kelompok saling meniadakan
Namun, setelah membantah klaim bahwa hanya Yahudi atau Nasrani yang berhak masuk surga, Al-Qur'an memperlihatkan ironi yang lebih dalam.
«"Dan orang-orang Yahudi berkata, 'Orang-orang Nasrani itu tidak mempunyai suatu pegangan,' dan orang-orang Nasrani berkata, 'Orang-orang Yahudi tidak mempunyai suatu pegangan,' padahal mereka sama-sama membaca Kitab."»
Masing-masing merasa dirinya memiliki kebenaran, sementara pihak lain dianggap tidak memiliki pegangan apa pun.
Ironinya, mereka sama-sama membaca kitab.
Kitab seharusnya menjadi sumber petunjuk dan sarana untuk mengenali kebenaran. Tetapi manusia dapat membaca kitab tanpa membiarkan dirinya ditundukkan oleh kebenaran yang terkandung di dalamnya.
Di sinilah Al-Qur'an memperlihatkan bahaya lain dari fanatisme kelompok: manusia dapat memiliki kitab, tetapi kehilangan semangat mencari kebenaran; dapat berbicara tentang petunjuk, tetapi menjadikan identitas kelompok sebagai ukuran kebenaran.
Bahkan orang-orang yang tidak memiliki pengetahuan tentang kitab pun akhirnya mengucapkan klaim yang sama:
«"Demikian pula orang-orang yang tidak mengetahui, mengatakan seperti ucapan mereka itu."»
Dalam konteks ayat ini, orang-orang yang tidak mengetahui dipahami sebagai orang-orang Arab yang tidak memiliki kitab. Mereka menyaksikan pertentangan antara Yahudi dan Nasrani—saling menuduh, saling meniadakan, dan sama-sama mengklaim kebenaran—lalu mengatakan bahwa kedua golongan itu tidak memiliki pegangan.
Dengan demikian, pertentangan tersebut justru memperlihatkan sesuatu yang lebih dalam: manusia dari berbagai kelompok dapat terjebak dalam pola yang sama ketika klaim kelompok lebih besar daripada kesediaan untuk tunduk kepada kebenaran.
Ketika manusia tidak mampu menyelesaikan perselisihan
Pada akhirnya Al-Qur'an tidak meminta manusia menjadi hakim mutlak atas seluruh perselisihan tersebut.
«"Maka, Allah akan mengadili di antara mereka pada hari Kiamat tentang apa-apa yang mereka perselisihkan padanya."»
Allah adalah Hakim Yang Mahaadil. Kepada-Nya seluruh perkara akan dikembalikan.
Ini bukan berarti Al-Qur'an mengajarkan manusia untuk berhenti berpikir atau berhenti mencari kebenaran. Justru sebelumnya Al-Qur'an telah menuntut mereka menghadirkan bukti. Tetapi ketika manusia terus mempertahankan klaim tanpa dalil dan menjadikan perselisihan sebagai pertentangan identitas, keputusan akhir bukan berada di tangan mereka.
Ada ketenangan tertentu dalam kesadaran ini.
Kita tidak harus memenangkan setiap perdebatan. Kita tidak harus memaksakan pengakuan dari orang lain. Yang jauh lebih penting adalah memastikan bahwa keyakinan kita sendiri berdiri di atas kebenaran, bukan sekadar kebanggaan terhadap kelompok.
Ayat ini akhirnya mengarahkan manusia kepada sebuah pertanyaan yang lebih mendasar:
Apakah kita benar-benar mencari kebenaran, atau hanya mencari pembenaran bagi kelompok kita sendiri?
Sebab seseorang dapat sangat yakin bahwa dirinya berada di pihak yang benar, tetapi keyakinan itu belum menjadi bukti.
Al-Qur'an mengajarkan: jangan membangun keselamatan di atas angan-angan. Hadirkan bukti. Tundukkan diri kepada Allah. Buktikan ketundukan itu dengan kebajikan.
Tidak ada kolusi di sisi Allah. Tidak ada pilih kasih karena nama, bangsa, atau kelompok.
Pada akhirnya, manusia akan berdiri sendiri di hadapan Allah dengan apa yang ia yakini dan apa yang ia kerjakan.
Dan ketika semua klaim manusia runtuh, hanya keputusan Allah yang tersisa.
0 komentar: