Sihir, Telepati, Magnetisme, Harut dan Marut
Perlu kiranya kita memberi perhatian pada persoalan sihir, khususnya sihir yang dipergunakan untuk memisahkan seorang suami dari istrinya. Al-Qur’an menyebut bahwa praktik semacam ini dipelajari oleh sebagian orang dari apa yang diajarkan oleh setan. Bani Israil pun terjerumus ke dalamnya hingga mereka meninggalkan Kitab Allah dan mengikuti sesuatu yang tidak membawa mereka kepada kebenaran.
Persoalan ini sekaligus mengajak manusia untuk menyadari bahwa tidak seluruh fenomena yang terjadi di alam dapat segera dijelaskan oleh pengetahuan yang dimilikinya. Dalam perjalanan sejarah, manusia menemukan berbagai gejala dan kemampuan tertentu yang belum sepenuhnya tersingkap hakikatnya. Manusia kemudian memberinya nama dan istilah, tetapi pemberian nama tidak selalu berarti bahwa hakikatnya telah dipahami.
Misalnya, ada yang disebut telepati, yaitu semacam getaran atau komunikasi dari jarak jauh. Tetapi apakah telepati itu? Bagaimana mekanismenya? Bagaimana seseorang dapat memanggil atau merasakan kehadiran orang lain yang berada jauh darinya, tanpa suara dan tanpa melihatnya secara langsung, seolah-olah jarak yang memisahkan keduanya tidak ada?
Demikian pula dengan apa yang disebut magnetisme. Bagaimana suatu kehendak dapat memengaruhi kehendak yang lain? Bagaimana satu pikiran berhubungan dengan pikiran lain, sehingga yang satu memengaruhi dan yang lain menerima pengaruh, seakan-akan seseorang sedang membaca kitab yang terbuka di hadapannya?
Masih banyak persoalan semacam ini yang terus diperdebatkan. Bisa jadi karena bukti-bukti yang tersedia belum cukup untuk menjadikannya sebagai pengetahuan yang dapat diterima secara ilmiah. Bisa pula karena manusia belum menemukan metode, sarana, dan jalan penelitian yang tepat untuk mengujinya.
Bahkan pengalaman batin manusia pun memperlihatkan adanya wilayah yang tidak selalu mudah dijelaskan. Mimpi-mimpi yang membawa informasi tertentu, misalnya, tidak mudah begitu saja disangkal hanya karena manusia belum mampu menjelaskan seluruh mekanismenya. Bagaimana seseorang bermimpi tentang sesuatu yang belum diketahuinya, lalu beberapa waktu kemudian apa yang hadir dalam mimpinya itu terjadi dalam kenyataan?
Demikian pula dengan perasaan-perasaan halus yang terkadang muncul tanpa diketahui sumbernya. Seseorang merasa bahwa sesuatu akan terjadi dalam waktu dekat, atau merasakan bahwa seseorang akan datang, lalu kenyataan seakan-akan membenarkan perasaan tersebut.
Karena itu, merupakan suatu bentuk keangkuhan apabila manusia bersikap statis dengan mengingkari begitu saja segala sesuatu yang belum mampu dijelaskan oleh pengetahuannya. Ketidakmampuan ilmu pengetahuan menjelaskan suatu fenomena pada suatu masa tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa fenomena tersebut tidak ada.
Namun, sikap terbuka ini juga tidak berarti bahwa manusia boleh menyerah kepada segala khurafat dan menerima setiap mitos sebagai kebenaran.
Sikap yang lebih selamat adalah menempatkan akal secara proporsional di hadapan sesuatu yang belum diketahui. Ia tidak mengingkarinya secara mutlak, tetapi juga tidak menerimanya secara mutlak. Ia menunggu sampai ditemukan metode, sarana, dan bukti yang memungkinkan sesuatu itu dipahami dengan lebih baik.
Atau, manusia mengakui dengan rendah hati bahwa alam memiliki wilayah yang melampaui jangkauan pengetahuannya. Ia menyadari batas kemampuannya, lalu memperhitungkan kemungkinan adanya hal-hal yang belum mampu dipahaminya tanpa menjadikannya sebagai alasan untuk membenarkan segala macam kepercayaan.
Dalam kerangka inilah persoalan sihir dapat ditempatkan.
Sihir termasuk perkara yang memiliki dimensi yang tidak seluruhnya dapat dijelaskan dengan pengalaman inderawi biasa. Al-Qur’an menyebut adanya sesuatu yang diajarkan oleh setan kepada manusia. Pengaruhnya dapat saja muncul dalam berbagai bentuk: memengaruhi persepsi, pikiran, perasaan, bahkan hubungan seseorang dengan orang lain.
Al-Qur’an sendiri menggambarkan bagaimana para tukang sihir Fir'aun memengaruhi pandangan manusia. Allah berfirman bahwa tali-tali dan tongkat-tongkat mereka terbayang kepada Musa seakan-akan merayap cepat karena sihir mereka.
«“Maka, tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka terbayang kepada Musa seakan-akan ia merayap cepat, lantaran sihir mereka.”
(Thaha: 66)»
Ayat ini menunjukkan bahwa setidaknya sebagian bentuk sihir dapat bekerja melalui pengaruh terhadap persepsi manusia. Apa yang sebenarnya tidak berubah pada benda dapat tampak berbeda dalam pandangan orang yang terkena pengaruhnya.
Tidak tertutup kemungkinan bahwa daya pengaruh semacam inilah yang menjadi salah satu jalan terjadinya perpecahan antara manusia: antara suami dan istri, antara sahabat dengan sahabatnya, atau antara seseorang dengan orang yang dicintainya.
Pengaruh tersebut dapat bekerja melalui perasaan, persepsi, dan pikiran. Cara kerjanya mungkin belum sepenuhnya dapat dipahami manusia. Namun, apa pun bentuknya, sebab dan akibatnya tetap berada dalam ketetapan dan izin Allah. Tidak ada sesuatu pun yang dapat memberikan mudarat ataupun manfaat secara mandiri di luar kehendak-Nya.
Harut dan Marut
Adapun mengenai dua malaikat, Harut dan Marut, maka pertanyaan berikutnya adalah: siapakah mereka dan kapan mereka berada di negeri Babil?
Kisah tentang keduanya telah sangat populer di kalangan Yahudi. Al-Qur’an memberikan isyarat mengenai kisah tersebut secara global. Cara Al-Qur’an menyampaikannya menunjukkan bahwa perincian sejarah bukanlah tujuan utama ayat tersebut.
Al-Qur’an sering kali menyebut suatu kisah yang telah dikenal oleh orang-orang yang menjadi sasaran pembicaraannya. Karena itu, tidak semua detail diceritakan kembali. Isyarat yang diberikan sudah cukup untuk mencapai tujuan yang dikehendaki ayat.
Karena itu, tidak perlu kita membebani kisah Harut dan Marut dengan berbagai dongeng yang berkembang di sekitarnya. Tidak terdapat riwayat yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan yang memungkinkan kita memastikan seluruh rincian kisah tersebut.
Yang lebih penting adalah pesan yang hendak disampaikan Al-Qur’an.
Dalam perjalanan sejarah manusia, Allah menghadirkan berbagai ujian sesuai dengan keadaan dan perkembangan manusia. Bentuk ujian itu dapat beraneka ragam. Kadang-kadang ia datang melalui manusia biasa, kadang melalui sesuatu yang memiliki kemampuan luar biasa, dan kadang melalui sesuatu yang tidak segera dapat dijelaskan oleh manusia.
Jika ujian itu digambarkan melalui dua malaikat, atau melalui dua manusia yang memiliki penampilan dan kemampuan seperti malaikat, hal itu tidaklah terlalu mengherankan jika dibandingkan dengan beragam bentuk ujian dan peristiwa luar biasa yang telah mewarnai perjalanan manusia.
Yang terpenting bukanlah memburu setiap rincian yang samar, tetapi menangkap pesan yang jelas dan tegas dari ayat tersebut.
Di sinilah kita perlu berhenti sejenak dan merenung.
Manusia sering kali tertarik kepada sesuatu yang misterius. Ia ingin mengetahui siapa Harut dan Marut, bagaimana sihir bekerja, bagaimana kekuatan luar biasa itu terjadi, dan bagaimana berbagai kejadian ganjil dapat dijelaskan. Keingintahuan itu sendiri bukanlah kesalahan.
Namun, ketika perhatian kepada perkara-perkara yang samar membuat manusia meninggalkan pesan yang sudah jelas, di situlah masalah bermula.
Bani Israil menjadi contoh penting. Mereka meninggalkan Kitab Allah yang diyakini kebenarannya, lalu mengejar sesuatu yang bersifat misterius dan penuh mitos. Mereka memilih sesuatu yang memuaskan rasa ingin tahu, tetapi meninggalkan petunjuk yang seharusnya membimbing kehidupan.
Karena itu, yang muhkamat tidak boleh ditinggalkan hanya demi mengejar yang mutasyabihat.
Kita tidak perlu mengetahui seluruh rahasia di balik sesuatu untuk mengetahui apakah sesuatu itu membawa manusia kepada Allah atau justru menjauhkannya dari-Nya. Kita tidak harus memahami seluruh mekanisme sihir untuk mengetahui bahwa sihir merupakan perbuatan yang tercela. Kita tidak harus mengetahui seluruh rincian Harut dan Marut untuk memahami bahwa manusia sedang diuji dengan ilmu, kekuatan, dan pilihan yang dimilikinya.
Pada akhirnya, persoalan sihir bukan sekadar persoalan tentang kemampuan misterius manusia. Ia adalah persoalan iman, pilihan, dan tanggung jawab.
Sihir adalah bagian dari perbuatan setan dan merupakan jalan kekufuran yang mendatangkan konsekuensi berat bagi manusia. Orang yang memilih jalan tersebut bukan sedang memperoleh kekuatan yang bebas tanpa batas. Ia justru sedang mempertaruhkan keselamatannya sendiri.
Di dunia mungkin ia merasa memiliki kemampuan untuk memengaruhi orang lain. Tetapi di hadapan Allah, seluruh kemampuan itu tidak menjadikannya berkuasa. Ia tetap seorang hamba yang akan dimintai pertanggungjawaban.
Karena itu, pelajaran terpenting dari pembahasan ini bukanlah bagaimana manusia mengejar kekuatan yang tersembunyi, melainkan bagaimana ia menjaga dirinya agar tidak terseret oleh kekuatan yang menjauhkannya dari Allah.
Ilmu mengajarkan manusia untuk rendah hati di hadapan sesuatu yang belum diketahuinya. Wahyu mengajarkan manusia untuk tetap memiliki batas dalam rasa ingin tahunya. Dan iman mengajarkan bahwa di balik seluruh fenomena yang belum mampu dipahami manusia, tetap ada Allah Yang Mahamengetahui, sementara pengetahuan manusia hanyalah sebagian kecil dari apa yang telah Dia ajarkan kepadanya.
0 komentar: