Jejak Terpencar 120 Ribu Sahabat Nabi: Lokasi Peristirahatan Mereka di Seluruh Dunia
Masyarakat awam umumnya membayangkan bahwa mayoritas jasad sahabat Nabi Muhammad SAW bersemayam di tanah suci Makkah dan Madinah. Hal ini sangat wajar, mengingat kedua kota tersebut dikenal oleh jutaan umat Islam sebagai pusat kelahiran dan perkembangan peradaban Islam awal.
Namun, sejarah mencatat kenyataan yang jauh lebih menakjubkan. Makkah dan Madinah memang menjadi titik awal pergerakan, tetapi jasad murni para sahabat justru terpencar di berbagai benua—mulai dari Asia, Afrika, hingga Eropa.
Perjalanan sejarah ini membuka wawasan kita tentang betapa luasnya daya jangkau perjuangan generasi pertama umat Islam tersebut.
Dari 120 Ribu Sahabat, Hanya 10 Ribu yang Berada di Pemakaman Al-Baqi'
Secara statistik, jumlah total sahabat Nabi SAW diperkirakan mencapai sekitar 120.000 orang. Angka ini menunjukkan betapa besarnya generasi awal yang hidup dan belajar langsung di bawah bimbingan Rasulullah SAW. Namun, fakta sejarah mencatat bahwa hanya sekitar 10.000 sahabat yang dimakamkan di Pemakaman Jannatul Baqi', Madinah.
Artinya, lebih dari 100.000 sahabat lainnya tidak meninggal di kota Madinah. Penyebaran yang masif ini menjelaskan bahwa Islam bukanlah ajaran yang terisolasi atau mengurung diri. Sebuah ungkapan reflektif merangkum fenomena penyebaran ini secara mendalam:
"Jika Islam adalah agama kerahiban yang mengajarkan umatnya untuk mengurung diri dan menghindari dunia, tentu Islam tidak akan pernah keluar dan menyebar melewati batas kota Mekkah..."
Perpindahan para sahabat ke luar kota Madinah membuktikan bahwa Islam sejak awal bergerak aktif menyampaikan pesan keagamaan dan kemanusiaan ke berbagai penjuru dunia, bukannya mengurung diri dalam batas geografis tertentu.
Jasad Murni yang Terpencar di Eropa, Asia Tengah, hingga Asia Timur
Langkah kaki para sahabat menembus batas-batas benua didorong oleh motivasi yang murni. Mereka bergerak ke wilayah-wilayah jauh bukan sebagai pasukan perang yang memburu harta rampasan dunia, melainkan hadir sebagai pembawa hidayah yang menyapa dan menembus sanubari manusia.
Jejak peristirahatan terakhir mereka tersebar di lokasi-lokasi yang sangat jauh dari Jazirah Arab:
Abu Ayyub al-Ansari: Wafat saat ikut serta dalam pengepungan pertama Konstantinopel pada masa Khalifah Muawiyah (sekitar tahun 52 Hijriah). Makamnya berada di Eyüp, Istanbul (Turki), dan menjadi salah satu situs bersejarah yang terkenal hingga kini.
Qutham bin al-Abbas: Sepupu Nabi SAW yang berpulang dan dimakamkan jauh di wilayah Asia Tengah, tepatnya di kompleks Shah-i-Zinda, Samarkand (Uzbekistan).
Ummu Haram (Al-Ghumaisha binti Milhan): Ikut dalam ekspedisi maritim Islam pertama pada masa Khalifah Utsman bin Affan. Beliau wafat di Siprus dan makamnya kini berada di Hala Sultan Tekke, Larnaca.
Saad bin Abi Waqqas: Memimpin rombongan utusan yang dikirim oleh Khalifah Utsman bin Affan pada tahun 650/651 M (sekitar tahun 30 H). Beliau berlayar mengarungi Samudera Hindia dan Laut China Selatan menuju pelabuhan Guangzhou, lalu melanjutkan perjalanan darat menuju Chang'an (Xi'an) melalui jejaring Jalur Sutra. Mengenai lokasi peristirahatannya, terdapat diskusi sejarah yang menarik: masyarakat Muslim Guangzhou meyakini beliau wafat dan dimakamkan di sana (kompleks Masjid Xianxian), sementara sejumlah riwayat sejarah lain mencatat bahwa beliau kembali dan wafat di Madinah serta dimakamkan di Pemakaman Al-Baqi'.
Jejak Arsitektur Islam Tertua Berdiri di Afrika Utara dan China
Perjalanan dakwah para sahabat tidak hanya meninggalkan situs peristirahatan, tetapi juga monumen peradaban megah yang diakui dunia hingga saat ini. Bangunan-bangunan bersejarah ini memiliki peran ganda: sebagai pilar spiritual bagi komunitas diaspora Muslim yang baru terbentuk, sekaligus markas taktis dan strategis dalam pembinaan peradaban Islam awal.
Masjid Huaisheng (Guangzhou, China)
Didirikan oleh Saad bin Abi Waqqas saat memimpin misi diplomatik di Guangzhou, masjid ini telah berusia lebih dari 1.300 tahun dan menjadi masjid tertua di daratan China. Bangunan ini juga dikenal sebagai Masjid Guangta atau Masjid Raya Guangzhou Remember the Sage (mengenang Nabi Muhammad SAW). Masjid ini menjadi bukti nyata bagaimana Islam masuk ke Asia Timur melalui jalur perdagangan maritim yang damai.
Masjid Uqbah bin Nafi' (Kairouan, Tunisia)
Didirikan pada tahun 670 Masehi oleh sahabat Uqbah bin Nafi' setelah memimpin ekspedisi ke Tunisia. Berdiri di atas lahan seluas 9.000 meter persegi, masjid yang dikenal sebagai Masjid Agung Kairouan ini telah diakui sebagai cagar budaya UNESCO.
Sekilas, struktur luar masjid ini tampak megah menyerupai benteng pertahanan strategis. Di bagian dalam, interiornya dihiasi 400 pilar melengkung yang mengelilingi halaman berbentuk tapal kuda. Arsitektur Masjid Kairouan menjadi cetak biru dan acuan model bagi pembangunan masjid-masjid agung lainnya di seluruh wilayah Afrika Utara.
Medan Mu'tah dan Negeri Syam sebagai Peraduan Terakhir para Ulama & Panglima
Wilayah Yordania, Mesir, dan Negeri Syam menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi banyak ulama dan panglima perang dari kalangan sahabat yang mengorbankan jiwa serta keilmuan mereka demi tegaknya nilai-nilai Islam.
Muadz bin Jabal: Ulama dan qadi (hakim) terkemuka yang diutus memperkenalkan Islam ke Yaman dan Syam. Beliau wafat akibat wabah di Yordania pada tahun 18 Hijriyah dalam usia yang masih sangat muda, yakni 38 tahun.
Zaid bin Haritsah & Abdullah bin Rawahah: Dua komandan utama Perang Mu'tah yang gugur di Yordania. Zaid bin Haritsah merupakan anak angkat Rasulullah SAW yang kedudukannya diabadikan secara khusus dalam Al-Qur'an (QS. Al-Ahzab: 37).
Amr bin Al-Ash & Uqbah bin Amir Al-Juhani: Tokoh kunci dalam penyebaran Islam di Afrika Utara. Amr bin Al-Ash (panglima penakluk Mesir dan gubernur pertama) dimakamkan di kompleks Masjid Amr bin Al-Ash, Kairo. Sementara Uqbah bin Amir Al-Juhani (ahli hadis dan qari) dimakamkan di wilayah Al-Abbasiya, Kairo.
Perjalanan hidup para sahabat Nabi menunjukkan bahwa penyebaran Islam dilakukan melalui pengorbanan fisik, peradaban, dan keilmuan yang melampaui batas-batas geografi. Jasad mereka yang tersebar di Afrika, Asia Tengah, Asia Timur, hingga Eropa menjadi bukti nyata dari komitmen mereka dalam merajut persaudaraan antarmanusia di bawah naungan nilai-nilai kedamaian.
"...keselamatan dan salam tercurah bagi jasad-jasad mulia yang terpencar di berbagai sudut bumi, yang pengorbanannya telah merajut hati jutaan manusia di bawah naungan satu akidah yang sama."
Melihat kembali catatan sejarah yang luar biasa ini, timbul sebuah perenungan mendalam bagi kita hari ini: Jika para sahabat rela melangkah puluhan ribu kilometer demi menyebarkan kebaikan, jejak apa yang sedang kita tinggalkan untuk generasi mendatang?
0 komentar: