Generasi Muda Israel Kian Radikal, Trauma, dan Terasing dari Realitas
Tel Aviv, khususnya lingkungan seperti Florentine, kerap diposisikan sebagai oasis kebudayaan kontemporer—sebuah laboratorium seni alternatif tempat dentuman musik elektronik, galeri pop-up, dan kedai kopi hipster hidup berdampingan.
Namun, di balik narasi kemewahan urban yang tampaknya terisolasi ini, membentang realitas sosial-militaris yang sangat terfragmentasi.
Di luar batas-batas kota pesisir ini, kehidupan generasi muda Israel dibentuk oleh kontras yang tajam: trauma konflik berkepanjangan, hegemoni wajib militer yang melembaga, serta pergeseran ideologi politik ke arah kanan radikal. Menjelajahi dinamika pemuda di sana berarti menyaksikan benturan antara krisis kesehatan mental yang mendalam dan erosi empati yang kian masif.
Artikel ini membedah akar sosiologis di balik fenomena tersebut berdasarkan kesaksian veteran, data empiris, dan pengamatan lapangan.
Pergeseran ke Kanan: Generasi Muda yang Jauh Lebih Hawkish Dibanding Orang Tua Mereka
Satu hal yang paling menonjol dari lanskap politik Israel kontemporer adalah pergeseran ekstrem generasi muda ke spektrum kanan (hawkish).
Berbeda dari pola sosiologis global di mana pemuda cenderung bersikap liberal atau progresif, pemuda Yahudi Israel justru tercatat jauh lebih religius, ultranasionalis, dan berpendirian keras dalam konflik ketimbang generasi orang tua mereka.
Kecenderungan ini terekam secara gamblang dalam berbagai penelitian dan jajak pendapat terbaru:
74% Pandangan Kanan: Jajak pendapat dari Channel 12 News menunjukkan bahwa 74% pemuda Yahudi Israel usia 18 hingga 22 tahun mengidentifikasikan diri dengan pandangan politik sayap kanan atau tengah-kanan. Temuan dari studi sosiologis pada 2024 juga mengonfirmasi bahwa pergeseran ini dibarengi dengan tingkat religiusitas yang lebih tinggi dibanding generasi sebelumnya.
Lonjakan Dukungan Kanan-Jauh: Sebanyak 15% pemilih muda memberikan dukungan penuh kepada partai-partai kanan-jauh (far-right), seperti Otzma Yehudit pimpinan Itamar Ben Gvir dan Religious Zionist Party pimpinan Bezalel Smotrich—dua entitas politik yang secara terbuka mengadvokasi pengusiran warga Palestina dari wilayah pendudukan Gaza dan Tepi Barat.
Indikator Simulasi Pemilu: Dalam pemilu simulasi di sebuah sekolah menengah di Ramat Gan, partai-partai kanan-jauh (termasuk Otzma Yehudit, Religious Zionist Party, dan partai Amcha Yisrael) meraih hampir 15% suara. Angka ini mencatatkan lonjakan dukungan sebesar 10% dibandingkan data pemilu sekolah tahun 2022.
Radikalisasi ini bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan telah meresap ke dalam kesadaran publik sehari-hari. Sebuah insiden mengejutkan terjadi ketika komedian berhaluan kiri, Lior Schleien, melakukan wawancara jalanan dengan seorang pemuda Yahudi Israel.
Tanpa ragu, pemuda tersebut menyatakan di depan kamera: "Beri aku pisau, akan kubunuh mereka. Setiap orang Arab." Ketika Schleien mempertanyakan kelayakan tindakan tersebut, pemuda itu menegaskan bahwa setiap warga Yahudi Israel harus dipersenjatai untuk membunuh sebanyak mungkin orang Arab.
Insiden ini berujung pada permohonan orang tua pemuda tersebut untuk menghapus rekaman video dari media sosial karena merasa syok atas ucapan anak mereka sendiri.
Dominasi pandangan ultranasionalis di kalangan pemudi dan pemuda ini menjadi penentu utama bahwa masa depan politik Israel akan digerakkan oleh garis keras yang menolak kompromi.
Gelembung Tel Aviv: Seni, Musik Kencang, dan Upaya Melupakan Trauma Perang
Di Florentine, di antara deretan bangunan industrial berhiaskan graffiti dan kedai Cofix yang menjual bir seharga lima shekel (sekitar 80 sen Dolar AS), anak-anak muda berkumpul setiap malam. Tempat ini berfungsi sebagai "gelembung kedap suara" (soundproof bubble)—sebuah ruang pertahanan psikologis untuk mengisolasi diri dari raungan sirene serangan udara dan ingatan buruk perang.
Namun, gelembung ini sangat rapuh. Rekam jejak trauma militer yang diidentifikasi para peneliti sejak Perang Lebanon 2006 dan Operasi Protective Edge 2014 kini bermuara pada krisis psikologis yang kian akut.
Kehidupan para veteran muda memperlihatkan bagaimana trauma tersebut disamarkan melalui pelarian budaya:
Wolf (24): Seorang musisi dan mantan tentara yang pernah bertugas di Dataran Tinggi Golan. Untuk menutupi bunyi sirene roket, Wolf dan teman-temannya memutar musik selantang mungkin di dalam studio. Kini, ia hidup dengan refleks wajah terganggu (mouth twitch) yang memaksanya menggigit bibir bawah setiap sepuluh kata, sembari terus mengurung diri dalam gelembung musik buatan demi memblokir memori ketakutan.
Yoel (28): Veteran Perang Lebanon 2006 yang kini bekerja di toko roti lapis. Yoel menghabiskan waktunya melukis karakter bergaya Manga Jepang dan graffiti tanpa pesan politik. Ia mengaku mulai melukis saat mengambil gap year di Australia pasca-dinas militer demi mengosongkan pikirannya. "Aku bahkan tidak tahu mengapa aku melukisnya," ujarnya jujur, menunjukkan keengganan untuk berurusan dengan realitas politik di sekitarnya.
Secara statistik, dampak psikologis perang meluas secara masif. Data dari Fakultas Sosiologi Tel Aviv University mencatat bahwa sekitar 10–15% populasi mengalami Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD), dengan gejala klinis berupa insomnia, kecemasan akut, depresi, hingga flashback berulang terhadap ledakan roket.
Militerisme Sebagai Ritus Wajib dan Stigma Sosial
Setiap akhir pekan, pemandangan unik sekaligus ganjil terlihat di stasiun kereta dan bus antarkota. Ratusan remaja berseragam militer menguasai ruang publik. Mereka memegang senjata laras panjang yang siap tembak, namun suasana di dalam bus diselimuti kesunyian yang mencekam (deadly silence). Tanpa percakapan atau canda tawa, para konskrip ini duduk berdampingan tetapi terasing satu sama lain, menatap layar ponsel mereka dengan tatapan kosong.
Wajib militer berlaku bagi pria dan wanita usia 18 hingga 21 tahun (dengan pengecualian bagi warga Yahudi Ultra-Orthodox dan warga Palestina warga negara Israel). Namun, indoktrinasi sistemik telah dimulai jauh sebelum mereka mengenakan seragam.
Shaoul (25), seorang veteran perang Gaza yang kini menempuh studi teknik di Tel Aviv University, menceritakan kenyataan pahit tersebut. Shaoul, yang menderita cedera kaki berat dan PTSD akibat pertempuran di Gaza, menuturkan:
"Sejak usia 16 tahun, mereka mulai mencuci otakmu dengan gagasan bahwa kamu harus menjadi seorang prajurit tempur demi melindungi Israel. Di TV, di sekolah, di mana-mana... Lalu saat berada di militer, kamu bersaing dengan kawan-kawanmu untuk bertempur di garis depan demi membuktikan nilai dirimu. Kamu melakukan hal-hal yang kauyakini benar, tetapi setelah beberapa saat, kamu tidak yakin lagi."
Sosiolog Profesor Giora Rahav dari Tel Aviv University menjelaskan bahwa wajib militer memotong perkembangan usia muda secara brutal, menciptakan periode "moratorium" di mana masa remaja tidak berlangsung secara normal. Konsekuensi sosial dari sistem ini meliputi:
Stigma dan Pengucilan Karir: Seseorang yang tidak mengikuti wajib militer akan menanggung stigma seumur hidup. Dunia kerja dan perguruan tinggi umumnya menolak pendaftar di bawah usia 22 atau 23 tahun. Muncul asumsi kolektif bahwa mereka yang tidak mengabdi pasti menderita sakit parah, bagian dari kelompok Ultra-Orthodox, atau individu yang tidak dapat dipercaya.
Perwira Sebagai "Kartu Bisnis": Rekam jejak sebagai perwira atau anggota batalyon tempur menjadi kualifikasi utama dan penentu reputasi sosial dalam melamar pekerjaan di masa depan.
Fenomena Gap Year dan Keputusasaan: Setelah dibebaskan dari dinas militer, mayoritas pemuda melarikan diri dalam perjalanan panjang ke India, Amerika Latin, atau Asia Tenggara untuk melupakan ingatan buruk perang. Bagi Shaoul, yang sempat terlibat dalam aksi protes sosial atas melonjaknya biaya hidup pada 2011 namun gagal membawa perubahan, masa depan di Israel terasa buntu. Ia kini berharap dapat melanjutkan studi PhD ke Amerika Serikat atau Australia dan tidak akan pernah kembali.
Hilangnya Empati dan Desensitisasi Total Terhadap "Pihak Sebelah"
Di luar benteng militerisme dan mekanisme pelarian diri di Tel Aviv, berkembang fenomena desensitisasi moral yang masif terhadap warga Palestina. Keberadaan "pihak sebelah" tidak sekadar diabaikan, tetapi di-dehumanisasi secara total hingga dianggap tidak eksis.
Temuan sosiologis dan kesaksian elit politik mengonfirmasi kedalaman pergeseran moral ini:
Pengabaian Status Sipil: Sebanyak 64% warga Israel menyetujui pernyataan bahwa "tidak ada orang polos" (no innocent people) di Gaza.
Kesaksian Yair Lapid: Mantan Perdana Menteri Yair Lapid menceritakan pengalamannya dalam sebuah pertemuan yang emosional dengan sekelompok pemuda. Ketika para pemuda tersebut menyerukan bahwa seluruh warga di Gaza harus dibunuh, Lapid bertanya tentang nasib bayi-bayi di sana. Mereka merespons secara dingin bahwa "bayi berusia dua minggu pun harus dibunuh, karena kelak mereka akan tumbuh menjadi teroris."
Erosi Standar Moral: Menanggapi logika ekstrem ini, Lapid memperingatkan bahwa kegagalan menetapkan batas moral telah meruntuhkan nilai dasar masyarakat: "Artinya Hamas yang menang... karena itulah standar Hamas. Mereka ingin kita menjadi persis seperti mereka."
Pengasingan total antar-manusia ini ditegaskan oleh Vered Cohen Barzilay, pendiri organisasi hak asasi manusia Novelrights:
"Pemuda Palestina dan pemuda Israel tidak saling mengenal. Mereka tidak berkomunikasi sama sekali... karena 'yang lain' bagi mereka memang tidak ada."
Barzilay menambahkan bahwa kondisi ini dipelihara oleh negara melalui konstruksi narasi sejarah mendalam (deep history). Memori Holokaus dan narasi korban abadi (eternal persecution) terus diinternalisasikan untuk melegitimasi tindakan militer. Ketika kesadaran kolektif ini dikombinasikan dengan fakta bahwa perekonomian Israel sangat bertumpu pada industri perang, ruang bagi generasi muda untuk mengenali kemanusiaan pihak lain secara sistematis telah tertutup rapat.
Kombinasi antara hidup dalam gelembung sosial untuk melarikan diri dari trauma, indoktrinasi militer sejak usia dini, serta narasi korban abadi yang dilembagakan oleh industri perang negara telah melumpuhkan prospek perdamaian secara mendasar.
Generasi muda Israel terjebak dalam lingkaran setan: mereka dibesarkan dalam ketakutan, ditempa dalam militerisme yang traumatis, dan akhirnya kehilangan kapasitas emosional untuk melihat warga Palestina sebagai sesama manusia.
Ketika garis pemisah telah ditarik begitu tegas dan "pihak sebelah" dianggap tidak lebih dari entitas musuh yang abstrak, sebuah pertanyaan krusial membayangi masa depan: Bagaimana mungkin sebuah masyarakat yang dibangun di atas fondasi industri perang dan dehumanisasi total mampu menciptakan stabilitas jangka panjang, ketika generasi mudanya sendiri dibesarkan dalam trauma melingkar dan erosi empati yang mendalam?
0 komentar: