Ulama yang Menghubungkan Haramain dengan Nusantara
Jika jaringan ulama telah terbentuk di pusat-pusat keilmuan Islam, lalu bagaimana jaringan tersebut bekerja ketika gagasan-gagasan pembaruan dibawa kembali ke Dunia Melayu-Indonesia?
Apakah ia berhenti sebagai pengetahuan yang tersimpan di lingkungan Haramain?
Tentu tidak.
Gagasan tidak akan menjadi kekuatan sejarah sebelum ia berpindah dari satu manusia kepada manusia lainnya, dari seorang guru kepada muridnya, dari satu pusat keilmuan menuju masyarakat yang lebih luas. Dalam konteks inilah kedudukan Syaikh Yusuf Al-Maqassari dan 'Abd Al-Ra'uf Al-Sinkili menjadi sangat penting.
Keduanya membawa semangat pembaruan yang sama ke Dunia Melayu-Indonesia. Keduanya pernah belajar kepada guru-guru yang sama di Tanah Suci. Namun, apakah kesamaan guru berarti kesamaan metode?
Tidak.
Di sinilah menariknya sejarah.
Syaikh Yusuf cenderung menempuh jalan yang lebih tegas dan radikal, sedangkan 'Abd Al-Ra'uf tampil lebih lembut dan toleran. Sikap 'Abd Al-Ra'uf bahkan mencerminkan kelembutan gurunya, Ibrahim Al-Kurani.
Ketika berhadapan dengan perbedaan pendapat atau doktrin yang dianggap menyimpang, ia tidak mudah menjatuhkan vonis. Ia mengingatkan dirinya dengan sebuah hadis:
«"Janganlah seorang Muslim menuduh Muslim lainnya sebagai kafir. Jika ia memang demikian, keuntungan apa yang diperoleh darinya? Dan jika tuduhan itu tidak benar, ia akan berbalik menghantam dirinya."»
Pesan ini memperlihatkan bahwa pembaruan Islam tidak selalu harus dilakukan dengan nada keras. Ada pembaruan yang bergerak melalui ketegasan, tetapi ada pula yang bekerja melalui pendidikan, keteladanan, kesabaran, dan perluasan jaringan.
Dan 'Abd Al-Ra'uf merupakan salah satu contoh penting dari model kedua ini.
Gagasan Tidak Bergerak Sendiri
Terlepas dari perbedaan temperamen dan metode, baik Syaikh Yusuf maupun 'Abd Al-Ra'uf mempunyai posisi yang sangat strategis: keduanya menjadi penghubung antara jaringan ulama internasional dan ulama regional di Dunia Melayu-Indonesia.
Di sinilah kita menemukan satu pelajaran penting tentang bagaimana perubahan sosial berlangsung.
Apakah sebuah gagasan cukup hanya ditulis dalam sebuah kitab?
Belum tentu.
Apakah sebuah doktrin cukup hanya diajarkan dalam sebuah majelis?
Juga belum tentu.
Gagasan membutuhkan manusia yang membawanya, menjelaskannya, menghidupkannya, dan meneruskannya kepada generasi berikutnya.
Karena itu, dalam jaringan ulama sebelum zaman modern, kontak personal mempunyai arti yang sangat besar. Hubungan guru dan murid bukan sekadar hubungan akademik. Ia adalah hubungan intelektual, spiritual, sosial, dan bahkan organisatoris.
Seorang murid bukan hanya menerima kitab. Ia menerima cara berpikir, metode belajar, adab, orientasi keagamaan, dan semangat perjuangan gurunya.
Demikian pula afiliasi dengan tarekat memperkuat hubungan tersebut. Tarekat melibatkan hubungan langsung antara guru dan murid sehingga membentuk jaringan personal yang kuat dan berkelanjutan.
Dari sinilah jaringan ulama memperoleh kekuatannya.
Ia bukan sekadar jaringan pengetahuan.
Ia adalah jaringan manusia yang membawa pengetahuan.
Dan ketika manusia-manusia tersebut kembali ke daerah asalnya, mereka membawa sesuatu yang lebih besar daripada sekadar kitab: mereka membawa visi pembaruan.
'Abd Al-Ra'uf: Titik Penghubung Jaringan
Dalam kerangka inilah kita dapat memahami kedudukan strategis 'Abd Al-Ra'uf dalam ekstensi atau perluasan jaringan ulama.
Tidak lama setelah kembali ke Dunia Melayu-Indonesia, ia segera tampil sebagai tokoh penghubung penting antara jaringan ulama internasional dan masyarakat Muslim regional.
Ia menarik dan merekrut banyak murid dari berbagai wilayah Dunia Melayu-Indonesia.
Mengapa hal ini penting?
Karena semakin luas jaringan murid, semakin luas pula jangkauan sebuah gagasan.
Melalui murid-muridnya, 'Abd Al-Ra'uf tidak hanya memperkenalkan corak Islam yang lebih berorientasi pada syariat, tetapi juga menginisiasi mereka ke dalam berbagai tarekat, antara lain Syathariyyah, Naqsyabandiyyah, Qadiriyyah, dan Chistiyyah.
Dengan demikian, penyebaran gagasan pembaruan tidak berlangsung secara spontan. Ia berlangsung melalui rantai transmisi keilmuan:
guru → murid → murid kembali ke daerah asal → terbentuk pusat baru → lahir murid-murid baru → jaringan semakin meluas.
Inilah mekanisme sosial yang membuat sebuah gagasan mampu bertahan melampaui satu generasi.
Dari Aceh Menuju Jawa: Abd Al-Muhyi
Salah seorang murid 'Abd Al-Ra'uf yang berperan penting dalam menyebarkan semangat baru Islam di Jawa adalah Syaikh 'Abd Al-Muhyi.
Setelah belajar selama beberapa waktu kepada 'Abd Al-Ra'uf di Aceh, 'Abd Al-Muhyi kembali ke daerah asalnya di Jawa Barat.
Apa yang dibawanya?
Salah satunya adalah tarekat Syathariyyah.
Tarekat tersebut kemudian menyebar dengan cepat ke Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Mengapa penyebarannya dapat berlangsung begitu cepat?
Karena jaringan keilmuan bertemu dengan jaringan sosial dan politik yang sudah berkembang.
Pada masa itu, arus informasi mengenai Islam semakin meningkat seiring dengan semakin intensifnya hubungan antara Kesultanan Banten dan Timur Tengah, terutama sejak paruh pertama abad ke-17.
Banten dan Jawa Barat kemudian berkembang menjadi salah satu pusat ortodoksi Islam. Cara hidup Islami semakin dihargai, demikian pula kedudukan ulama.
Dalam kondisi seperti itu, tarekat Syathariyyah menemukan ruang yang sangat kondusif untuk berkembang.
Ia bahkan segera berhadapan dengan corak tasawuf yang bercorak panteistik yang sebelumnya dikaitkan dengan ajaran Hamzah Fansuri dan jaringan pengaruhnya.
Dengan demikian, sejarah penyebaran tarekat tidak dapat dipahami hanya sebagai sejarah spiritual.
Ia juga merupakan sejarah perebutan otoritas keagamaan, pembentukan identitas Islam, dan perubahan orientasi keislaman masyarakat.
Dari Aceh Menuju Sumatra Barat
Jaringan yang sama juga berkembang antara 'Abd Al-Ra'uf dan murid-muridnya dari Sumatra.
Sejumlah muridnya, yang sebagian tidak diketahui namanya, membawa tarekat Syathariyyah ke Bengkulu dan Sumatra Barat. Perkembangan jaringan tersebut kemudian berhubungan dengan munculnya tarekat Qusyasyiyyah yang dikaitkan dengan Ahmad Al-Qusyasyi.
Namun, salah satu murid 'Abd Al-Ra'uf yang paling terkenal dari Sumatra Barat adalah Syaikh Burhan Al-Din.
Bersama empat orang lainnya dari Sumatra Barat, Burhan Al-Din belajar kepada 'Abd Al-Ra'uf selama beberapa waktu.
Kemudian, menjelang akhir abad ke-17, ia kembali ke Ulakan, kampung halamannya.
Kepulangannya bukan sekadar kepulangan seorang murid.
Ia adalah kepulangan seorang pembawa jaringan.
Setelah diangkat oleh 'Abd Al-Ra'uf sebagai khalifah Syathariyyah, Burhan Al-Din segera mendirikan surau.
Dan surau inilah yang kemudian menjadi salah satu sarana paling efektif dalam penyebaran tarekat Syathariyyah di Minangkabau.
Surau sebagai Pusat Jaringan
Mengapa surau menjadi begitu penting?
Karena surau bukan sekadar tempat ibadah.
Ia dapat menjadi pusat pendidikan, tempat transmisi ilmu, tempat pembentukan murid, sekaligus pusat reproduksi jaringan ulama.
Dalam kehidupan Syaikh Burhan Al-Din, Surau Ulakan bahkan memperoleh otoritas keagamaan yang sangat kuat. Ia dipandang sebagai pusat rujukan dalam persoalan keagamaan di Minangkabau.
Burhan Al-Din sendiri memperoleh kedudukan yang sangat tinggi dalam pandangan masyarakat.
Dengan demikian, Surau Ulakan berkembang menjadi lebih dari sekadar tempat belajar.
Ia menjadi pusat produksi otoritas keagamaan.
Dari sanalah islamisasi Minangkabau memperoleh salah satu titik pijakan penting.
Tetapi sejarah tidak berhenti di sana.
Sebuah pusat keilmuan yang berhasil tidak hanya menghasilkan pengikut. Ia menghasilkan generasi baru.
Surau Ulakan kemudian melahirkan ulama-ulama terkemuka, termasuk figur seperti Tuanku Nan Tuo, yang kelak memainkan peran penting dalam gelombang baru pembaruan Islam di Minangkabau pada perempat terakhir abad ke-18.
Di sini terlihat bagaimana sebuah jaringan bekerja lintas generasi:
Ibrahim Al-Kurani → 'Abd Al-Ra'uf → Burhan Al-Din → jaringan surau → generasi ulama berikutnya.
Dengan demikian, sejarah pembaruan Islam bukan hanya sejarah tokoh. Ia adalah sejarah rantai transmisi pengetahuan dan otoritas.
---
Kesimpulan
Islam Nusantara dan Jaringan Dunia Muslim
Setelah menelusuri perjalanan jaringan ulama tersebut, satu kesimpulan penting menjadi semakin jelas:
Islam Asia Tenggara bukanlah entitas yang terpisah dari Dunia Muslim.
Secara geografis, Dunia Melayu-Indonesia memang berada di kawasan periferal dari pusat-pusat Islam Timur Tengah.
Namun, apakah jarak geografis berarti keterputusan intelektual?
Tidak.
Justru jaringan ulama menunjukkan sebaliknya.
Islam di Asia Tenggara terus menerima berbagai dorongan intelektual, spiritual, dan keagamaan dari pusat-pusat Islam di Timur Tengah.
Pada abad ke-17, salah satu penghubung terpenting antara Timur Tengah dan Asia Tenggara adalah jaringan ulama internasional yang berpusat di Haramain.
Jaringan ini mempertemukan ulama dari berbagai wilayah Dunia Muslim. Di dalamnya, murid-murid Jawi yang datang dari Dunia Melayu-Indonesia memperoleh kesempatan untuk mempelajari berbagai disiplin keislaman.
Tetapi apakah yang mereka bawa pulang hanya ilmu?
Tidak.
Mereka juga membawa semangat pembaruan Islam.
Mereka kembali ke tanah air bukan sekadar sebagai orang yang telah menyelesaikan studi. Mereka kembali sebagai agen transmisi pengetahuan, guru, pemimpin tarekat, pendiri pusat pendidikan, dan penghubung jaringan ulama.
Karena itu, tidak mengherankan jika para murid Jawi tersebut kemudian tampil sebagai tokoh-tokoh penting dalam gerakan pembaruan Islam di Asia Tenggara.
Abad ke-17: Titik Balik Islam Nusantara
Jika kita melihat perjalanan Islam di Dunia Melayu-Indonesia secara lebih panjang, abad ke-17 tampak sebagai salah satu fase yang sangat krusial.
Mengapa?
Pada abad sebelumnya telah berlangsung proses konversi besar-besaran masyarakat ke Islam.
Namun, konversi belum tentu sama dengan pemantapan.
Seseorang dapat memeluk Islam, tetapi tradisi lama belum tentu langsung hilang. Kepercayaan Hindu-Buddha dan praktik animistis masih dapat bertahan dan bercampur dengan praktik keislaman.
Karena itu, setelah paruh kedua abad ke-17, mulai tampak gerakan pembaruan yang lebih kuat.
Orientasinya adalah melakukan pemurnian Islam dari berbagai unsur yang dianggap tidak sesuai dengan ajaran Islam sekaligus memperkuat kehidupan keagamaan yang berorientasi pada syariat.
Dengan demikian, proses islamisasi memasuki tahap baru.
Jika sebelumnya pertanyaan utamanya adalah:
"Bagaimana masyarakat menerima Islam?"
maka pada tahap berikutnya muncul pertanyaan yang berbeda:
"Islam seperti apa yang hendak diwujudkan dalam kehidupan masyarakat?"
Pertanyaan kedua inilah yang membuka jalan bagi gerakan pembaruan.
Jaringan yang Terus Bergerak
Kecenderungan pembaruan tersebut tidak berhenti pada abad ke-17.
Ia terus berkembang pada abad ke-18 dan ke-19, bersamaan dengan semakin kuatnya penetrasi kekuasaan kolonial Eropa ke Dunia Melayu-Indonesia.
Di sini muncul hubungan sejarah yang menarik.
Semakin kuat tekanan eksternal, semakin kuat pula kebutuhan sebagian masyarakat Muslim untuk mempertegas identitas keislamannya.
Kolonialisme bukan hanya menghadirkan persoalan politik dan ekonomi. Ia juga menciptakan tantangan terhadap identitas, otoritas, dan tatanan sosial masyarakat Muslim.
Karena itu, gerakan pembaruan Islam pada periode berikutnya tidak dapat dipisahkan dari perubahan lingkungan politik dunia.
Jaringan ulama kemudian menjadi semakin penting.
Ia menyediakan saluran untuk pertukaran gagasan, perjalanan intelektual, transmisi kitab, pembentukan guru-murid, dan penyebaran gerakan pembaruan.
Dengan demikian, kita dapat melihat bahwa sejarah Islam Nusantara bukanlah sejarah sebuah wilayah yang berdiri sendiri.
Ia merupakan bagian dari sejarah Dunia Muslim yang lebih luas.
Ada Haramain sebagai pusat keilmuan.
Ada para ulama sebagai penghubung.
Ada murid-murid Jawi sebagai pembawa gagasan.
Ada surau, pesantren, masjid, dan pusat-pusat pendidikan sebagai simpul jaringan.
Dan ada masyarakat Nusantara sebagai ruang tempat gagasan itu diuji, diterapkan, dinegosiasikan, serta diwariskan.
Pada akhirnya, kekuatan jaringan ulama tidak terutama terletak pada luasnya wilayah yang mereka hubungkan, tetapi pada kemampuan mereka menghubungkan manusia, ilmu, otoritas, dan visi pembaruan lintas generasi.
Jaringan itu membuat jarak geografis menjadi relatif.
Haramain mungkin jauh dari Aceh, Jawa, atau Minangkabau. Tetapi melalui perjalanan ulama dan murid, melalui kitab dan tarekat, melalui guru dan surau, gagasan dapat menempuh jarak ribuan kilometer.
Dan di situlah kita menemukan salah satu rahasia perkembangan Islam di Nusantara:
Islam tidak tumbuh dalam keterisolasian. Ia tumbuh melalui jaringan.
Jaringan ilmu melahirkan ulama.
Ulama melahirkan murid.
Murid membangun pusat-pusat baru.
Pusat-pusat baru melahirkan generasi berikutnya.
Dan generasi berikutnya meneruskan pembaruan.
Maka, sejarah jaringan ulama pada akhirnya bukan hanya kisah tentang perjalanan dari Haramain menuju Nusantara.
Ia adalah kisah tentang bagaimana ilmu melakukan perjalanan, bagaimana gagasan menjadi gerakan, dan bagaimana sebuah tradisi keagamaan mampu membangun kesinambungan lintas ruang dan zaman.
0 komentar: