basmalah Pictures, Images and Photos
Liku-Liku Kemerdekaan Palestina: Propaganda Kaum Pragmatis yang Merusak - Our Islamic Story

Liku-Liku Kemerdekaan Palestina: Propaganda Kaum Pragmatis yang Merusak  Ada orang mengatakan, “Melenyapkan Israel hanyalah sebuah impian. K...

Liku-Liku Kemerdekaan Palestina: Propaganda Kaum Pragmatis yang Merusak

Liku-Liku Kemerdekaan Palestina: Propaganda Kaum Pragmatis yang Merusak 

Ada orang mengatakan, “Melenyapkan Israel hanyalah sebuah impian. Karena itu, kita harus bersikap realistis. Kita harus mengakui kenyataan yang ada dan membangun ko-eksistensi damai dengan Israel.”

Bukankah sekilas pemikiran seperti ini terdengar masuk akal?

Bukankah politik memang menuntut kita untuk berhadapan dengan kenyataan, bukan dengan angan-angan?

Namun, di sinilah persoalannya: realistis terhadap kenyataan tidak sama dengan menyerah kepada ketidakadilan.

Mengakui bahwa sesuatu itu ada tidak berarti kita harus menganggap seluruh tindakan dan kebijakannya benar. Sebaliknya, kita dapat mengakui realitas politik sambil tetap menolak pendudukan, diskriminasi, perampasan hak, dan berbagai bentuk ketidakadilan.

Karena itu, persoalan sebenarnya bukan sekadar: “Apakah Israel ada atau tidak?”

Pertanyaan yang jauh lebih mendasar adalah:

“Apakah keberadaan suatu negara boleh dijadikan alasan untuk mengabaikan hak dan martabat manusia lain?”

Di sinilah pragmatisme dapat menjadi berbahaya. Ketika kata “realistis” digunakan untuk membenarkan ketidakadilan, ia tidak lagi menjadi kebijaksanaan politik, melainkan dapat berubah menjadi pembenaran terhadap keadaan yang semestinya diperjuangkan untuk diperbaiki.

JANGAN MENYAMAKAN REALISME DENGAN KEPASRAHAN

Kita memang harus mengakui bahwa persoalan Palestina sangat kompleks. Israel tidak berdiri sendirian. Di belakangnya terdapat jaringan dukungan politik, ekonomi, militer, dan diplomatik yang membuat persoalan tersebut tidak mudah diselesaikan.

Lalu apakah kesulitan itu berarti perjuangan harus dihentikan?

Tentu tidak.

Sejarah menunjukkan bahwa banyak keadaan yang dahulu dianggap permanen ternyata berubah ketika muncul generasi yang memiliki visi, ketekunan, organisasi, dan kepemimpinan.

Kita dapat melihat kembali sejarah Perang Hiththin.

Selama berpuluh-puluh tahun, kekuatan Salib menguasai sebagian besar wilayah Palestina. Baitul Maqdis berada di bawah kekuasaan mereka selama sekitar sembilan puluh tahun. Keadaan itu tentu menimbulkan kesan seolah-olah kekuasaan tersebut akan bertahan selamanya.

Namun sejarah berkata lain.

Kemudian tampil Salahuddin al-Ayyubi. Ia bukan sekadar seorang panglima yang mengandalkan kekuatan militer. Ia hadir dalam konteks kebangkitan politik, sosial, dan keagamaan yang lebih luas.

Kemenangan Hiththin pada 1187 kemudian membuka jalan bagi kembalinya Baitul Maqdis ke tangan kaum Muslimin.

Pelajarannya bukan bahwa sejarah harus diulang melalui kekerasan.

Pelajarannya adalah bahwa keadaan politik yang tampaknya permanen tetap dapat berubah.

Dan perubahan itu biasanya tidak lahir dari kepasrahan.

APAKAH YANG HARI INI TERLIHAT MUSTAHIL SELAMANYA AKAN MUSTAHIL?

Inilah pertanyaan yang seharusnya diajukan kepada mereka yang menyebut setiap cita-cita perubahan sebagai “utopia”.

Bukankah banyak perubahan besar dalam sejarah dahulu juga dianggap mustahil?

Bukankah sesuatu yang hari ini tampak kokoh dapat berubah ketika kondisi politik, sosial, ekonomi, dan moral yang menopangnya mengalami perubahan?

Karena itu, persoalannya bukan sekadar seberapa jauh tujuan itu dari kita.

Pertanyaannya adalah:

Apakah kita memiliki keyakinan, strategi, kesabaran, dan langkah nyata untuk mendekatinya?

Tujuan yang jauh memang tidak akan tercapai dengan angan-angan.

Namun tujuan yang jauh juga tidak akan pernah tercapai apabila sejak awal kita menyatakan bahwa perubahan itu mustahil.

Yang diperlukan adalah visi yang jelas, strategi yang rasional, pendidikan yang panjang, persatuan masyarakat, penguatan institusi, diplomasi yang efektif, dan perjuangan politik yang konsisten.

DARI PERLAWANAN MENUJU STRATEGI

Lalu bagaimana jalan yang harus ditempuh?

Sebagian orang menjawab:

“Kita harus merebut simpati internasional. Kita harus mengandalkan konferensi-konferensi, diplomasi, dan forum Perserikatan Bangsa-Bangsa.”

Yang lain menjawab:

“Bukankah selama puluhan tahun kita telah menempuh jalan diplomasi? Mengapa hasilnya belum memadai?”

Pertanyaan ini patut direnungkan.

Namun kita juga perlu menghindari kesimpulan yang terlalu sederhana.

Kegagalan diplomasi pada masa tertentu tidak otomatis berarti diplomasi tidak berguna. Sebaliknya, keberadaan diplomasi juga tidak berarti seluruh persoalan dapat diselesaikan melalui meja perundingan.

Maka strategi yang matang tidak seharusnya mempertentangkan seluruh instrumen perjuangan secara hitam-putih.

Diplomasi, hukum internasional, pendidikan, ekonomi, media, pembangunan institusi, solidaritas masyarakat sipil, dan perjuangan politik dapat menjadi bagian dari satu strategi yang lebih luas.

Pertanyaannya bukan:

“Diplomasi atau perjuangan?”

Tetapi:

“Bagaimana berbagai bentuk perjuangan yang sah dapat disusun menjadi strategi yang efektif untuk mewujudkan keadilan?”

APAKAH DUNIA INTERNASIONAL BENAR-BENAR NETRAL?

Di sinilah kritik terhadap sistem internasional menjadi relevan.

Selama bertahun-tahun, berbagai resolusi, pertemuan, dan pernyataan internasional telah muncul berkaitan dengan konflik Palestina-Israel.

Tetapi sebuah pertanyaan sederhana tetap perlu diajukan:

Apakah setiap keputusan politik otomatis menghasilkan keadilan di lapangan?

Tentu tidak.

Lembaga internasional bukanlah ruang yang sepenuhnya bebas dari kepentingan negara-negara besar. Di dalamnya terdapat pertarungan kepentingan geopolitik, ekonomi, keamanan, dan pengaruh diplomatik.

Karena itu, mengandalkan satu lembaga atau satu forum saja tentu tidak memadai.

Tetapi dari sini pun kita tidak boleh melompat pada kesimpulan bahwa seluruh diplomasi internasional sia-sia.

Justru tantangannya adalah bagaimana membuat tekanan diplomatik, hukum internasional, opini publik, dan kekuatan masyarakat sipil saling memperkuat.

KEKUATAN BUKAN HANYA SENJATA

Inilah bagian yang sering dilupakan dalam perdebatan mengenai perjuangan.

Kekuatan tidak hanya berbentuk senjata.

Kekuatan juga dapat berupa:

- kekuatan ilmu pengetahuan;
- kekuatan pendidikan;
- kekuatan ekonomi;
- kekuatan institusi;
- kekuatan diplomasi;
- kekuatan hukum;
- kekuatan media dan komunikasi;
- kekuatan persatuan masyarakat;
- serta kekuatan moral.

Sebuah masyarakat yang terdidik, terorganisasi, mandiri secara ekonomi, kuat secara institusional, dan memiliki visi politik jangka panjang akan memiliki daya tawar yang jauh lebih besar.

Maka perjuangan tidak seharusnya dipersempit menjadi pertanyaan tentang siapa yang memiliki senjata lebih banyak.

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

Siapa yang memiliki visi lebih panjang?

Siapa yang mampu membangun institusi lebih kuat?

Siapa yang mampu menjaga persatuan ketika menghadapi tekanan?

Dan siapa yang mampu mengubah penderitaan menjadi energi untuk membangun masa depan?

BELAJAR DARI SALAHUDDIN

Kisah Salahuddin al-Ayyubi dapat dibaca bukan hanya sebagai kisah seorang panglima yang memenangkan perang.

Ia dapat dibaca sebagai kisah tentang konsolidasi kekuatan yang panjang.

Sebelum kemenangan besar terjadi, terdapat proses membangun kepemimpinan, menyatukan kekuatan yang sebelumnya tercerai-berai, memperkuat institusi, dan membangkitkan kembali kepercayaan diri masyarakat.

Dengan demikian, Hiththin bukanlah keajaiban yang muncul dalam satu malam.

Ada proses panjang yang mendahuluinya.

Inilah pelajaran terpentingnya:

Jangan hanya menginginkan kemenangan. Bangunlah kondisi yang memungkinkan kemenangan itu terjadi.

Jangan hanya menginginkan perubahan politik.

Bangunlah masyarakat yang mampu menopang perubahan tersebut.

Jangan hanya menginginkan kebebasan.

Bangunlah institusi yang mampu menjaga kebebasan.

Dan jangan hanya mengutuk ketidakadilan.

Bangunlah kekuatan moral, intelektual, sosial, ekonomi, dan politik yang mampu melawannya secara efektif.

PERTANYAAN TERAKHIR UNTUK KAUM “REALISTIS”

Maka kepada mereka yang mengatakan, “Kita harus realistis,” kita dapat menjawab:

Ya.

Kita harus realistis.

Tetapi realistis bukan berarti menyerah.

Realistis berarti mengetahui kekuatan lawan tanpa melebih-lebihkannya.

Realistis berarti memahami kelemahan sendiri tanpa menjadikannya alasan untuk selamanya lemah.

Realistis berarti mengetahui bahwa perubahan membutuhkan waktu.

Realistis berarti menyusun strategi berdasarkan kenyataan.

Dan yang paling penting:

realistis berarti berani membedakan antara menerima kenyataan dan menerima ketidakadilan.

Sebab sejarah tidak pernah hanya ditulis oleh mereka yang memiliki kekuasaan pada hari ini.

Sejarah juga ditulis oleh mereka yang, ketika melihat sesuatu yang dianggap mustahil, bertanya:

“Benarkah keadaan ini harus berlangsung selamanya?”

Pertanyaan itulah yang menjaga harapan tetap hidup.

Dan harapan yang disertai ilmu, kesabaran, organisasi, strategi, serta perjuangan yang bermartabat dapat menjadi kekuatan perubahan yang sangat besar.

0 komentar:

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adam (5) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Al-Baqarah (1) Al-Qur'an (362) Al-Qur’an (55) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) An-Nadwi (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bahaya Kemunduran Umat Islam (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (53) Cerita kegagalan (1) cerpen Nabi (8) cerpen Nabi Musa (2) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) dakwah (13) Dakwah (13) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) Ekonomi (3) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) english (6) English (6) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fiqh (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (7) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) hikmah (1) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) Islam (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) kecerdasan (20) Kecerdasan (331) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Hadist (4) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) kisah para nabi dan (2) kisah para nabi dan rasul (58) kisah para Nabi dan Rasul (1) Kisah para nabi dan rasul (110) Kisah Para Nabi dan Rasul (577) kisah para nabi dan rasul. Nabi Daud (1) kisah para nabi dan rasul. nabi Musa (2) Kisah Penguasa (1) Kisah ulama (1) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) nabi adam (1) Nabi Adam (75) nabi Adam. Adam (1) Nabi Ayub (1) Nabi Daud (3) Nabi Ibrahim (3) Nabi Isa (2) nabi Isa. nabi ismail (1) Nabi Ismail (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Khidir (1) Nabi Musa (29) Nabi Nuh (6) Nabi Sulaiman (2) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (15) Namrudz (2) Nasrulloh Baksolahar (1) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) nusantara (7) Nusantara (291) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (705) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rasulullah shalallahu alaihi wassalam (1) Rehat (493) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) Sahabat (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) Salimul Aqidah (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Serah Nabawiyah (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (318) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah penguasa (11) Sirah Penguasa (248) sirah Sahabat (2) Sirah Sahabat (173) Sirah Tabiin (43) Sirah ulama (36) Sirah Ulama (158) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tamim Ad Dari (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Wakaf (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)