"Jika melenyapkan Israel adalah sebuah impian yang mustahil, haruskah kita menyerah pada kenyataan dan memilih ko-eksistensi damai di bawah bayang-bayang kekuatan Zionisme global?"
Pertanyaan itu sering kali menggema di ruang-ruang diskusi, dilontarkan oleh mereka yang menyebut dirinya "realistis." Mereka berargumen bahwa melawan kekuatan super-raksasa yang didukung dana tak terbatas adalah kesia-siaan, dan mengakui eksistensi Israel adalah satu-satunya jalan rasional.
Namun, mari kita renungkan kembali: Bukankah sikap pragmatis semacam itu justru menjadi awal dari kehancuran itu sendiri?
Tidak ada yang lebih memperkokoh posisi pihak yang batil selain pengakuan sukarela atas eksistensi mereka, ditambah cara pandang kita yang tunduk pada realitas buatan mereka. Jalan menuju kemenangan sejati tidak pernah lahir dari kompromi yang melemahkan, melainkan dari keberanian untuk mempertahankan eksistensi dan melenyapkan ancaman demi masa depan kita sendiri.
Belajar dari Sejarah: Pasukan Salib dan Perang Hitthin
Tujuan kita memang terasa teramat jauh, terlebih ketika kita terus "lari di tempat" sementara musuh semakin menancapkan kukunya dengan mantap. Namun, apakah sejarah mengajarkan kita untuk tunduk pada keputusasaan?
Mari menengok ke belakang. Keberadaan Israel hari ini tidaklah lebih hebat dari cengkeraman Pasukan Salib di masa lalu. Selama kurang lebih dua abad, mereka menjejakkan kaki di tanah Palestina, dan Baitul Maqdis berada di bawah kekuasaan mereka selama hampir 92 tahun. Dunia Islam sempat diliputi spekulasi bahwa wilayah suci tersebut telah tertutup selamanya.
Lalu, apa yang mengubah keadaan?
Keadaan itu tidak berjalan selamanya. Tirai keputusasaan tersingkap ketika lahir seorang pemimpin saleh dan bertakwa—Salahuddin al-Ayyubi—yang berhasil membangkitkan kembali semangat yang mati, memperbaharui keimanan dalam kalbu, dan memimpin barisan hingga pecahnya Perang Hitthin.
Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wa an-Nihayah melukiskan kemenangan tersebut dengan penuh takjub:
"Belum pernah terdengar adanya kekayaan Islam yang bisa menandingi keberhasilan yang dicapai pada perang ini. Kebatilan dan para pendukungnya dimusnahkan... situasi yang ada waktu itu hanya mampu ditandingi oleh masa para sahabat dan tabi'in dulu."
Jika direnungkan secara objektif, manakah yang jauh lebih sulit dicapai: melenyapkan Israel yang kini berdiri di atas semenanjung kecil, ataukah mendirikannya pada sembilan puluh tahun silam ketika bangsa Yahudi hanyalah minoritas kecil yang tidak berarti?
Menyingkirkan mereka hari ini jauh lebih mungkin ketimbang saat Theodore Herzl keluar dari Kongres Zionis pertama di Basel pada tahun 1897 dengan penuh percaya diri berujar:
"Lima puluh tahun nanti, dunia akan menyaksikan berdirinya sebuah negara Yahudi..."
Dan sejarah membuktikan, tepat lima puluh tahun kemudian—pada 29 November 1947—Liga Bangsa-Bangsa mengumumkan pembagian Palestina, disusul berdirinya negara Israel, hingga impian mereka menjejakkan kaki di Yerusalem benar-benar menjadi kenyataan.
Menembus Ilusi Diplomasi Internasional
Lantas, di tengah kenyataan pahit ini, cara apa yang harus kita tempuh?
Sebagian kalangan masih percaya bahwa jalan keluar terletak pada meja perundingan, konferensi internasional, dan lobi diplomasi di sidang-sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa. Mereka menganggap jalur militer telah usai membawa kekalahan, sehingga opsi damai dan politis adalah satu-satunya sisa harapan.
Tetapi, mari kita tanyakan pada nurani kita yang paling jujur: Apakah kita benar-benar lupa atau sengaja melupakan apa yang telah dihasilkan oleh panggung-panggung internasional tersebut sepanjang dua dekade terakhir?
Kita telah mengirimkan delegasi terbaik, menyampaikan pidato bernada keras hingga lembut, serta mengadu ke Dewan Keamanan. Namun, adakah manfaat nyata yang kita petik? Apakah resolusi-resolusi itu pernah benar-benar mereka laksanakan?
Sama sekali tidak. Hubungan kita dengan mekanisme internasional tersebut tak lebih dari apa yang digambarkan oleh firman Allah dalam Surah Fathir ayat 14:
"Jika kamu menyeru mereka, mereka tidak akan mendengarkan seruanmu, dan kalaupun mereka mendengarkannya, pasti mereka tidak akan memenuhi permintaanmu."
Di balik gemerlap ruang sidang itu, dolar dan kekuasaan Zionis bermain jauh lebih efektif. Suara dapat dibeli, dan skema ancaman pembeberan rahasia kerap menjadi senjata ampuh untuk membungkam keadilan. Jejak kelam pengendalian cakar-cakar Zionis ini telah dibongkar dengan telanjang oleh Jenderal Turki Pif'at Itlkhan maupun panglima militer Arab Abdullah al-Tall dalam karya-karya mereka.
Sebuah Pertanyaan Reflektif Terakhir
Jika diplomasi global hanyalah ilusi yang dikendalikan oleh uang dan kekuasaan, dan jika kompromi pragmatis adalah bentuk bunuh diri perlahan, masihkah kita bergeming dalam kelengahan?
Sejarah telah menyediakan cetak biru kemenangannya melalui Hiththin. Tinggal kini, apakah kita memilih untuk terus berlari di tempat dalam keputusasaan, atau bangkit menyusun langkah pasti demi merebut kembali apa yang telah dirampas?
0 komentar: