BANI ISRAIL: KETIKA NIKMAT TIDAK MENGUBAH JIWA
Refleksi dari Al-Baqarah Ayat 58–61
Allah berfirman:
«وَإِذْ قُلْنَا ادْخُلُوا هَٰذِهِ الْقَرْيَةَ فَكُلُوا مِنْهَا حَيْثُ شِئْتُمْ رَغَدًا وَادْخُلُوا الْبَابَ سُجَّدًا وَقُولُوا حِطَّةٌ نَّغْفِرْ لَكُمْ خَطَايَاكُمْ وَسَنَزِيدُ الْمُحْسِنِينَ فَبَدَّلَ الَّذِينَ ظَلَمُوا قَوْلًا غَيْرَ الَّذِي قِيلَ لَهُمْ فَأَنزَلْنَا عَلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا رِجْزًا مِّنَ السَّمَاءِ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ»
«“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman, ‘Masuklah kamu ke negeri ini, lalu makanlah darinya dengan nikmat di mana saja yang kamu sukai. Masukilah pintu gerbangnya sambil bersujud dan katakanlah, ‘Bebaskanlah kami dari dosa.’ Niscaya Kami ampuni kesalahan-kesalahanmu dan Kami akan menambah karunia kepada orang-orang yang berbuat baik. Lalu, orang-orang yang zalim mengganti perkataan dengan perkataan yang tidak diperintahkan kepada mereka. Maka Kami timpakan kepada orang-orang yang zalim itu siksa dari langit karena mereka selalu berbuat fasik.’”
(QS. Al-Baqarah: 58–59)»
Ayat ini membawa kita kembali kepada sebuah episode penting dalam perjalanan Bani Israel.
Mereka telah keluar dari Mesir.
Mereka telah diselamatkan dari penindasan Fir'aun.
Mereka telah menyaksikan berbagai pertolongan Allah.
Namun sekarang mereka berhadapan dengan ujian yang berbeda.
Bukan lagi ujian berupa penindasan.
Bukan lagi ujian berupa kelaparan dan ketakutan.
Melainkan ujian setelah pertolongan datang.
Dan bukankah ujian setelah mendapatkan nikmat terkadang justru lebih berat daripada ujian ketika berada dalam kesulitan?
---
DARI MESIR MENUJU TANAH YANG DIJANJIKAN
Sebagian riwayat tafsir menyebutkan bahwa negeri yang dimaksud dalam ayat ini adalah Baitul Maqdis.
Allah memerintahkan Bani Israel untuk memasukinya setelah mereka keluar dari Mesir.
Tetapi ketika Musa a.s. mengajak mereka menghadapi penduduk negeri tersebut, keberanian mereka runtuh.
Al-Qur'an menggambarkan jawaban mereka:
«“Wahai Musa, sesungguhnya di dalamnya ada orang-orang yang sangat kuat. Kami tidak akan memasukinya sebelum mereka keluar darinya. Jika mereka keluar darinya, kami pasti akan memasukinya.”
(QS. Al-Ma'idah: 22)»
Bahkan mereka berkata:
«“Kami tidak akan memasukinya selama mereka masih ada di dalamnya. Maka pergilah engkau bersama Tuhanmu dan berperanglah kamu berdua. Kami akan tetap duduk di sini.”
(QS. Al-Ma'idah: 24)»
Perhatikan kalimat terakhir itu.
“Kami akan tetap duduk di sini.”
Bukankah ini gambaran tentang mentalitas yang kehilangan keberanian?
Mereka menginginkan tanah.
Tetapi tidak mau membayar harga perjuangan.
Mereka menginginkan kemerdekaan.
Tetapi tidak mau menanggung risikonya.
Mereka menginginkan kemuliaan.
Tetapi tidak mau meninggalkan mentalitas lama yang membuat mereka terbiasa hidup dalam ketundukan.
Karena pembangkangan tersebut, mereka dihukum untuk tersesat di Padang Tih selama empat puluh tahun, hingga muncul generasi baru di bawah kepemimpinan Yusya' bin Nun.
---
KETIKA KEMENANGAN DATANG, JANGAN KEHILANGAN KERENDAHAN HATI
Setelah kesempatan memasuki negeri itu kembali datang, Allah memberikan perintah yang sangat sederhana:
Masukilah pintu gerbangnya dengan bersujud.
Mengapa harus bersujud?
Karena kemenangan tidak boleh melahirkan kesombongan.
Mereka diperintahkan memasuki negeri itu bukan sebagai manusia yang merasa hebat, tetapi sebagai hamba yang menyadari bahwa kemenangan datang dari Allah.
Mereka juga diperintahkan mengucapkan:
حِطَّةٌ — Hiththah.
Maknanya adalah permohonan agar dosa-dosa mereka dihapuskan dan diampuni.
Jadi, setelah memperoleh kemenangan, apa yang pertama kali harus dilakukan?
Bukan menyombongkan diri.
Bukan memamerkan kekuatan.
Bukan menganggap kemenangan sebagai hasil kehebatan diri sendiri.
Tetapi bersujud dan memohon ampun.
Inilah pendidikan Al-Qur'an tentang kemenangan:
«Semakin besar kemenangan, semakin besar pula kebutuhan manusia untuk merendahkan diri di hadapan Allah.»
Namun sebagian dari mereka justru mengganti perintah itu.
Mereka mengubah perkataan yang diperintahkan.
Bukan sekadar perubahan bahasa.
Di balik perubahan itu terdapat perubahan sikap.
Perintah yang seharusnya diterima dengan ketundukan justru diperlakukan dengan permainan dan penyimpangan.
Mereka mengganti sesuatu yang bernilai spiritual dengan sesuatu yang bernilai material.
Dan di sinilah masalahnya:
Ketika manusia mulai mempermainkan perintah Allah, yang rusak bukan hanya ucapan. Yang rusak adalah karakter.
---
NIKMAT BESAR TIDAK SELALU MELAHIRKAN JIWA BESAR
Setelah itu Allah mengingatkan mereka tentang nikmat lain:
«وَإِذِ اسْتَسْقَىٰ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِ فَقُلْنَا اضْرِب بِّعَصَاكَ الْحَجَرَ فَانفَجَرَتْ مِنْهُ اثْنَتَا عَشْرَةَ عَيْنًا...»
«“Dan ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman, ‘Pukullah batu itu dengan tongkatmu.’ Maka memancarlah darinya dua belas mata air...”
(QS. Al-Baqarah: 60)»
Bayangkan keadaan mereka.
Mereka berada di tengah padang gurun.
Tanah kering.
Batu-batu keras.
Panas yang menyengat.
Dalam kondisi seperti itu, Allah mengeluarkan air dari batu melalui mukjizat yang diberikan kepada Musa a.s.
Bahkan bukan satu mata air.
Dua belas mata air.
Setiap kelompok mengetahui tempat minumnya masing-masing.
Bukankah ini nikmat yang luar biasa?
Allah juga memberi mereka makanan dan naungan.
Manna dan salwa menjadi bagian dari rezeki yang mereka terima.
Namun sekali lagi Al-Qur'an mengingatkan:
«“Makan dan minumlah rezeki Allah dan janganlah kamu berkeliaran di bumi dengan berbuat kerusakan.”»
Perhatikan susunannya.
Nikmat → syukur → tanggung jawab.
Allah tidak hanya memberikan rezeki.
Allah juga memberikan peringatan agar rezeki tersebut tidak menjadi alasan untuk melakukan kerusakan.
Sebab nikmat yang tidak melahirkan syukur dapat berubah menjadi ujian.
---
MENGAPA MANUSIA SERING MERINDUKAN MASA LALU?
Namun kemudian mereka mengeluh.
«لَن نَّصْبِرَ عَلَىٰ طَعَامٍ وَاحِدٍ»
«“Kami tidak akan sabar dengan satu macam makanan.”»
Mereka meminta kepada Musa agar Allah mengeluarkan bagi mereka hasil bumi berupa sayuran, mentimun, bawang putih, kacang adas, dan bawang merah.
Musa menjawab:
«أَتَسْتَبْدِلُونَ الَّذِي هُوَ أَدْنَىٰ بِالَّذِي هُوَ خَيْرٌ»
«“Apakah kamu hendak menukar sesuatu yang lebih baik dengan sesuatu yang lebih rendah?”»
Pertanyaan ini sangat dalam.
Mengapa kalian menukar yang lebih tinggi dengan yang lebih rendah?
Bukankah Allah telah memberikan sesuatu yang jauh lebih istimewa?
Bukankah kalian baru saja keluar dari penindasan?
Bukankah kalian sedang diarahkan menuju kehidupan yang lebih mulia?
Lalu mengapa kalian justru merindukan makanan yang mengingatkan kepada kehidupan lama?
Di sinilah kita menemukan salah satu penyakit jiwa manusia:
Kerinduan terhadap kenyamanan masa lalu dapat menghambat perjalanan menuju kemuliaan masa depan.
Manusia sering mengatakan ingin berubah.
Tetapi ketika perubahan menuntut pengorbanan, ia mulai merindukan kehidupan lama.
Ia ingin kehidupan baru dengan kenyamanan lama.
Ia ingin kemerdekaan tanpa tanggung jawab.
Ia ingin kemuliaan tanpa perjuangan.
Ia ingin perubahan tanpa perubahan dirinya sendiri.
Bukankah itu sebuah kontradiksi?
---
“KEMBALI SAJA KE KOTA”
Musa kemudian mengatakan:
«“Pergilah kamu ke suatu kota, niscaya kamu akan memperoleh apa yang kamu minta.”»
Ungkapan ini dapat dipahami sebagai teguran keras terhadap rendahnya orientasi mereka.
Jika yang kalian inginkan hanyalah makanan-makanan tersebut, bukankah itu mudah diperoleh di kota?
Mengapa kalian meminta Allah mengganti rezeki yang telah diberikan-Nya dengan sesuatu yang lebih rendah?
Dalam salah satu penafsiran, perkataan Musa ini juga dipahami sebagai sindiran:
Jika kalian benar-benar lebih memilih kehidupan lama itu, maka kembalilah kepada kehidupan lama kalian.
Kembali kepada kehidupan yang dahulu.
Kembali kepada kebiasaan yang dahulu.
Kembali kepada pola hidup yang dahulu.
Tetapi bukankah kalian sendiri yang dahulu meminta dibebaskan dari kehidupan tersebut?
Di sinilah letak ironi perjalanan mereka.
Mereka telah keluar secara fisik dari Mesir, tetapi mentalitas Mesir belum sepenuhnya keluar dari diri mereka.
Dan mungkin inilah pelajaran yang paling dalam.
---
KELUAR DARI PENJAJAHAN TIDAK SELALU BERARTI MERDEKA
Seseorang dapat keluar dari sebuah penjara, tetapi masih membawa mentalitas seorang tahanan.
Sebuah bangsa dapat memperoleh kebebasan politik, tetapi masih mempertahankan mentalitas ketergantungan.
Seseorang dapat meninggalkan kehidupan lama, tetapi tetap mencintai nilai-nilai yang membentuk kehidupan lamanya.
Karena itu, pembebasan sejati tidak hanya memindahkan manusia dari satu tempat ke tempat lain.
Pembebasan sejati mengubah manusia dari dalam.
Itulah sebabnya perjalanan Bani Israel tidak selesai ketika mereka keluar dari Mesir.
Mereka harus menjalani proses pendidikan yang panjang.
Padang Tih menjadi semacam ruang pembentukan generasi.
Generasi lama yang dibentuk oleh ketakutan perlahan digantikan oleh generasi baru yang lebih siap memikul amanah.
Maka ada sebuah sunnatullah yang perlu kita pahami:
«Perubahan lingkungan tidak otomatis menghasilkan perubahan karakter.»
Karakter harus dibentuk.
Mentalitas harus diperbarui.
Keberanian harus dilatih.
Disiplin harus dibangun.
Dan orientasi hidup harus diarahkan kepada tujuan yang lebih tinggi.
---
MASALAH SEBENARNYA BUKAN MAKANAN
Sekilas, kisah ini tampak seperti kisah tentang makanan.
Manna dan salwa versus bawang merah, bawang putih, mentimun, dan kacang adas.
Tetapi apakah persoalannya benar-benar makanan?
Tidak.
Persoalannya adalah orientasi hidup.
Yang satu merupakan rezeki yang Allah berikan dalam perjalanan mereka menuju sebuah misi besar.
Yang lain adalah kerinduan kepada pola konsumsi yang telah mereka kenal sebelumnya.
Maka Musa tidak sekadar mengatakan:
“Jangan makan bawang.”
Tidak.
Yang dikritik adalah:
Mengapa kalian menukar sesuatu yang lebih tinggi dengan sesuatu yang lebih rendah?
Bukankah pertanyaan ini masih sangat relevan?
Berapa banyak manusia yang menukar masa depan dengan kenyamanan sesaat?
Berapa banyak organisasi yang mengorbankan visi karena keuntungan jangka pendek?
Berapa banyak bangsa yang kehilangan kemandirian karena lebih memilih kenyamanan daripada perjuangan?
Dan berapa banyak manusia yang sebenarnya telah diberi kesempatan untuk naik derajat, tetapi justru memilih kembali kepada kebiasaan lama?
---
DARI KENYAMANAN MENUJU KEMULIAAN
Al-Qur'an kemudian menyebut konsekuensi yang berat:
«“Ditimpakanlah kepada mereka kehinaan dan kenistaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah.”»
Kemudian Allah menjelaskan sebabnya:
«“Hal itu karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah, membunuh para nabi tanpa alasan yang benar, dan karena mereka durhaka serta melampaui batas.”
(QS. Al-Baqarah: 61)»
Dengan demikian, permintaan makanan itu bukanlah satu-satunya sebab kehinaan mereka.
Ayat tersebut menghubungkannya dengan rangkaian penyimpangan yang lebih luas: mengingkari ayat-ayat Allah, melakukan pembangkangan, melampaui batas, dan berbagai kejahatan yang dilakukan sebagian mereka dalam perjalanan sejarahnya.
Makanan hanyalah salah satu jendela untuk melihat penyakit yang lebih dalam:
ketika selera hidup lebih dominan daripada panggilan amanah.
---
PELAJARAN UNTUK KITA
Sekarang mari kita lepaskan sejenak kisah ini dari Bani Israel.
Mari kita tanyakan kepada diri sendiri:
Apakah kita juga pernah melakukan hal yang sama?
Allah memberikan kesempatan, tetapi kita justru mengeluh.
Allah membuka jalan, tetapi kita merindukan kebiasaan lama.
Allah mengangkat kita menuju sesuatu yang lebih baik, tetapi kita memilih kenyamanan yang lebih rendah.
Allah memberikan amanah besar, tetapi kita meminta hidup tanpa beban.
Kita ingin hasil besar.
Tetapi tidak ingin membayar harganya.
Kita ingin kemuliaan.
Tetapi tidak ingin meninggalkan kebiasaan yang merendahkan.
Kita ingin perubahan.
Tetapi tidak ingin berubah.
Bukankah itu penyakit yang sangat manusiawi?
Karena itu, kisah Bani Israel bukan sekadar cerita tentang bangsa yang telah berlalu.
Ia adalah cermin bagi setiap generasi.
Cermin untuk individu.
Cermin untuk keluarga.
Cermin untuk organisasi.
Cermin untuk masyarakat.
Dan cermin bagi sebuah bangsa.
Pertanyaan akhirnya bukan:
“Apa yang diminta Bani Israel?”
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
“Apa yang selama ini kita minta kepada Allah?”
Apakah kita meminta kehidupan yang nyaman?
Ataukah kita meminta kekuatan untuk memikul amanah?
Apakah kita meminta rezeki yang banyak?
Ataukah kita juga meminta kemampuan untuk mensyukurinya?
Apakah kita meminta kemenangan?
Ataukah kita juga meminta kerendahan hati agar tidak menjadi sombong ketika kemenangan itu datang?
Sebab kemuliaan tidak lahir hanya karena seseorang keluar dari kesulitan.
Kemuliaan lahir ketika seseorang mampu berubah setelah keluar dari kesulitan.
Dan inilah pelajaran besar dari perjalanan Bani Israel:
«Jangan hanya keluar dari Mesir. Keluarkanlah “Mesir” dari dalam diri.»
Sebab bisa jadi seseorang telah meninggalkan tanah penindasan, tetapi belum meninggalkan mentalitas yang membuatnya mencintai kehidupan di sana.
Dan bisa jadi, justru itulah perjalanan terberat:
bukan perjalanan dari satu negeri menuju negeri lain, tetapi perjalanan dari jiwa yang rendah menuju jiwa yang merdeka dan mulia.
0 komentar: