Pernahkah kita memperhatikan sesuatu yang sederhana dalam kehidupan kita?
Ketika seseorang memberikan bantuan kepada kita, meskipun kecil, sering kali kita segera mengucapkan terima kasih. Bahkan kita dapat berkali-kali memuji orang yang telah membantu kita. Kita mengingat kebaikannya dan merasa berutang budi kepadanya.
Namun, pernahkah kita berhenti sejenak untuk menghitung nikmat Allah yang kita terima setiap hari?
Bukankah nikmat-Nya jauh lebih besar daripada bantuan manusia kepada kita?
Kita menerima penglihatan, pendengaran, akal, kesehatan, makanan, air, udara, keluarga, keamanan, kesempatan hidup, dan begitu banyak nikmat lainnya tanpa pernah mampu membayarnya. Bahkan kita sering menikmatinya tanpa menyadari bahwa semua itu adalah karunia Allah.
Seolah-olah nikmat tersebut adalah hak kita.
Seolah-olah kita memperolehnya semata-mata karena usaha kita sendiri.
Lebih ironis lagi, ada manusia yang menggunakan nikmat Allah justru untuk mendurhakai-Nya.
Bukankah ini sebuah kelalaian?
Bukankah ini bentuk ketidaksyukuran yang sangat besar?
Allah berfirman,
«“Dan apa saja nikmat yang ada padamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka kepada-Nyalah kamu meminta pertolongan. Kemudian apabila Dia telah menghilangkan kemudharatan itu daripada kamu, tiba-tiba sebagian dari kamu mempersekutukan Tuhannya dengan (yang lain). Biarlah mereka mengingkari nikmat yang telah Kami berikan kepada mereka; maka bersenang-senanglah kamu, kelak kamu akan mengetahui (akibatnya).”
(QS. An-Nahl: 53–55)»
Sering kali manusia baru menyadari nilai sebuah nikmat setelah nikmat itu hilang.
Ketika mata masih melihat, kita jarang memikirkannya. Ketika pendengaran masih berfungsi, kita tidak banyak merenungkannya. Ketika tubuh sehat, kita menganggap kesehatan sebagai sesuatu yang biasa.
Tetapi ketika sakit datang, ketika penglihatan terganggu, ketika pendengaran hilang, atau ketika anggota tubuh tidak lagi berfungsi sebagaimana mestinya, barulah kita menyadari betapa mahalnya nikmat yang selama ini kita miliki.
Mengapa harus menunggu kehilangan untuk bersyukur?
Mengapa harus menunggu musibah untuk mengenal karunia Allah?
Allah telah mengingatkan kita,
«“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak dapat menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat).”
(QS. Ibrahim: 34)»
Karena itu, Al-Qur’an mengajak kita bukan sekadar menerima nikmat, tetapi mengenali nikmat, menyadari sumbernya, menghargainya, memuji Allah atasnya, dan menggunakannya untuk menaati-Nya.
Mari kita berhenti sejenak.
Mari kita bertanya kepada diri sendiri:
Sudahkah kita benar-benar mengenal nikmat Allah yang selama ini kita nikmati?
---
Nikmat Terbesar: Nikmat Islam
Mari kita mulai dari nikmat yang paling besar dan paling agung: nikmat Islam.
Allah berfirman,
«“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam itu menjadi agama bagimu.”
(QS. Al-Ma’idah: 3)»
Allah juga berfirman,
«“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.”
(QS. Ali ‘Imran: 19)»
Dan,
«“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama) itu daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.”
(QS. Ali ‘Imran: 85)»
Lalu, apakah kita benar-benar menyadari besarnya nikmat Islam?
Sebagian kaum Muslimin mungkin kurang merasakan nilainya karena mereka memperoleh Islam melalui keluarga. Mereka lahir dari orang tua Muslim, tumbuh dalam lingkungan Muslim, mendengar azan sejak kecil, dan mengenal nama Allah sejak masih kanak-kanak.
Karena tidak perlu bersusah payah mendapatkannya, terkadang kita justru tidak menyadari betapa mahalnya nikmat tersebut.
Padahal nikmat Islam adalah nikmat yang tidak dapat dibandingkan dengan nikmat dunia apa pun.
Kehilangan harta adalah musibah.
Kehilangan pekerjaan adalah musibah.
Kehilangan sebagian kesehatan adalah musibah.
Kehilangan orang yang kita cintai adalah musibah.
Tetapi kehilangan agama jauh lebih besar daripada semua itu.
Sebab harta hanya menemani kita di dunia. Sedangkan agama menentukan keselamatan kita di dunia dan akhirat.
Dengan Islam, manusia menemukan arah hidup, mengenal Rabb-nya, mengetahui tujuan penciptaannya, memahami halal dan haram, serta memiliki harapan terhadap kehidupan setelah kematian.
Karena itu, Rasulullah saw. mengajarkan doa agar musibah terbesar bukanlah musibah dunia, tetapi musibah yang menimpa agama.
Maka pantaskah kita hanya bangga karena terlahir sebagai Muslim?
Bukankah kita harus berusaha menjadi Muslim yang benar-benar tunduk kepada Allah, bukan sekadar Muslim karena keturunan dan pengakuan?
Allah mengajarkan kepada kita sebuah doa yang sangat indah:
«“Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini, dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk.”
(QS. Al-A’raf: 43)»
Maka jangan hanya berkata, “Saya seorang Muslim.”
Tetapi tanyakan kepada diri:
Apakah nikmat Islam itu telah mengubah cara saya hidup?
Apakah Islam telah menjadi pedoman dalam pikiran, perkataan, pekerjaan, keluarga, dan seluruh kehidupan saya?
---
Mempertahankan Nikmat Islam Sampai Akhir Hayat
Mendapatkan nikmat Islam adalah karunia.
Tetapi mempertahankannya sampai akhir hayat adalah perjuangan.
Allah berfirman,
«“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu sekali-kali mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.”
(QS. Ali ‘Imran: 102)»
Perhatikanlah doa Nabi Yusuf a.s.
Setelah Allah memberinya kekuasaan, ilmu, dan kedudukan, beliau tidak meminta agar kekuasaannya bertambah.
Beliau justru memohon keselamatan yang lebih besar:
«“Ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah mengaruniakan kerajaan kepadaku dan mengajarkan kepadaku sebagian dari takwil mimpi. Ya Tuhanku, Pencipta langit dan bumi, Engkaulah pelindungku di dunia dan di akhirat. Wafatkanlah aku dalam keadaan Muslim dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh.”
(QS. Yusuf: 101)»
Mengapa Nabi Yusuf berdoa demikian?
Karena segala sesuatu pada akhirnya dinilai dari kesudahannya.
Bukan hanya bagaimana kita memulai hidup, tetapi bagaimana kita mengakhirinya.
Bukan hanya berapa banyak yang kita miliki, tetapi dalam keadaan apa kita bertemu dengan Allah.
---
Nikmat Ukhuwah
Setelah nikmat Islam, ada nikmat besar lainnya yang sering kita lupakan: ukhuwah karena Allah.
Pernahkah kita merasakan nikmat memiliki saudara yang mencintai kita bukan karena harta, jabatan, keturunan, atau kepentingan dunia, tetapi karena Allah?
Ada orang yang mengingatkan kita ketika kita salah.
Ada yang mendoakan kita ketika kita tidak mengetahuinya.
Ada yang menolong ketika kita kesulitan.
Ada yang menasihati ketika kita mulai menyimpang.
Ada yang ikut bahagia ketika kita mendapatkan kebaikan.
Bukankah semua itu nikmat?
Allah berfirman,
«“Dan (Allah-lah) yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua kekayaan yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”
(QS. Al-Anfal: 63)»
Dan Allah berfirman,
«“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara.”
(QS. Ali ‘Imran: 103)»
Bayangkan kehidupan tanpa ukhuwah.
Bagaimana rasanya hidup di tengah orang-orang yang hatinya dipenuhi dendam?
Bagaimana rasanya hidup bersama orang yang selalu iri terhadap keberhasilan kita?
Bagaimana rasanya hidup dalam lingkungan yang dipenuhi kebencian, permusuhan, dan saling menjatuhkan?
Bukankah kehidupan seperti itu sangat melelahkan?
Maka ketika Allah mempertemukan kita dengan orang-orang yang mencintai kita karena-Nya, jangan anggap itu sesuatu yang biasa.
Itu nikmat.
Dan nikmat harus disyukuri.
---
Pernahkah Kita Membayangkan Kehilangan Penglihatan?
Sekarang mari kita turun kepada nikmat yang lebih dekat dengan tubuh kita.
Cobalah duduk sendirian sejenak.
Pejamkan mata.
Bayangkan suatu hari penglihatan kita benar-benar hilang.
Dokter mengatakan bahwa penglihatan itu tidak mungkin kembali.
Bagaimana kehidupan kita setelah itu?
Bagaimana kita bekerja?
Bagaimana kita membaca?
Bagaimana kita berjalan?
Bagaimana kita mengenali wajah orang yang kita cintai?
Bagaimana kita menikmati keindahan alam?
Betapa banyak aktivitas yang tiba-tiba menjadi sulit.
Pada saat itu, bukankah kita akan menyadari bahwa penglihatan ternyata jauh lebih berharga daripada harta yang selama ini kita kejar?
Jika seseorang menawarkan pilihan:
“Kamu boleh memiliki harta yang sangat banyak, tetapi kehilangan penglihatanmu, atau mempertahankan penglihatanmu tanpa mendapatkan harta itu.”
Apa yang akan kita pilih?
Bukankah kita akan memilih penglihatan?
Lalu mengapa ketika mata masih sehat, kita gunakan untuk melihat sesuatu yang Allah haramkan?
Mengapa kita baru berjanji untuk taat setelah kehilangan?
Mengapa tidak bersyukur sebelum musibah datang?
---
Bagaimana Jika Pendengaran Pun Hilang?
Sekarang bayangkan sesuatu yang lebih berat.
Penglihatan hilang.
Kemudian pendengaran pun hilang.
Kita tidak dapat melihat dunia dan tidak dapat mendengar suara di sekitar kita.
Betapa sempit rasanya kehidupan.
Betapa besar kebutuhan kita kepada orang lain.
Saat itulah kita mungkin baru menyadari:
Ternyata mendengar adalah nikmat.
Suara anak kita adalah nikmat.
Suara pasangan kita adalah nikmat.
Suara azan adalah nikmat.
Suara Al-Qur’an adalah nikmat.
Suara orang yang memberi nasihat adalah nikmat.
Bukankah selama ini kita sering mendengar semuanya tanpa pernah benar-benar bersyukur?
Karena itu, selama pendengaran masih diberikan, mari kita gunakan untuk mendengar yang halal dan bermanfaat.
Jangan tunggu pendengaran hilang untuk mengetahui nilainya.
---
Bagaimana Jika Suara Kita Pun Hilang?
Sekarang bayangkan suara kita pun tidak dapat digunakan.
Kita ingin menyampaikan sesuatu, tetapi tidak mampu mengucapkannya.
Orang lain ingin memahami keinginan kita, tetapi kita kesulitan menyampaikannya.
Betapa beratnya berkomunikasi.
Bukankah kemampuan berbicara adalah nikmat?
Maka selama suara masih ada, mengapa kita gunakan untuk mencela?
Mengapa untuk berdusta?
Mengapa untuk menyakiti?
Mengapa untuk menyebarkan keburukan?
Bukankah lebih pantas jika kita berkata:
“Ya Allah, selama Engkau memberikan suara kepadaku, jadikan lisanku sebagai sarana untuk berkata benar, mengingat-Mu, menasihati dalam kebaikan, dan tidak menyakiti hamba-Mu.”
---
Nikmat Akal
Lalu bagaimana dengan akal?
Ini adalah nikmat yang sangat besar.
Kita dapat berpikir.
Kita dapat memahami.
Kita dapat membedakan yang bermanfaat dan yang berbahaya.
Kita dapat belajar.
Kita dapat mengambil pelajaran dari masa lalu.
Kita dapat mengenal tanda-tanda kebesaran Allah.
Cobalah bayangkan jika tubuh kita sehat, mata kita melihat, telinga kita mendengar, tetapi kemampuan berpikir kita hilang.
Kita tidak mampu memahami apa yang terjadi.
Kita tidak mampu mengendalikan tindakan.
Kita tidak mampu berkomunikasi secara normal dengan orang lain.
Bukankah saat itu kita akan menyadari betapa agungnya nikmat akal?
Karena itu, akal jangan digunakan untuk mencari jalan menuju kemurkaan Allah.
Gunakan akal untuk mengenal Allah.
Gunakan untuk memahami wahyu-Nya.
Gunakan untuk mencari ilmu.
Gunakan untuk membedakan kebenaran dari kebatilan.
Gunakan untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi manusia.
---
Tubuh yang Sehat: Nikmat yang Sering Dianggap Biasa
Masih banyak nikmat lain pada tubuh kita.
Tangan.
Jari-jemari.
Kaki.
Telapak kaki.
Saraf.
Jantung.
Paru-paru.
Ginjal.
Lambung.
Dan berbagai organ yang bekerja tanpa pernah kita perintah satu per satu.
Pernahkah kita bertanya:
Siapa yang membuat semuanya bekerja begitu teratur?
Satu gangguan kecil pada sistem tubuh dapat mengubah kehidupan seseorang secara drastis.
Satu saraf yang terganggu dapat menyebabkan kelumpuhan.
Satu organ yang gagal berfungsi dapat membuat seseorang harus menjalani perawatan panjang.
Maka Allah mengingatkan,
«“Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah, yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang, dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu.”
(QS. Al-Infithar: 6–8)»
Lalu mengapa kita masih merasa biasa saja?
Mengapa kita baru menyadari nikmat kesehatan ketika sakit?
Bukankah lebih baik bersyukur ketika sehat daripada menyesal ketika sakit?
---
Air, Udara, Makanan, dan Kehangatan
Tubuh kita membutuhkan makanan.
Membutuhkan air.
Membutuhkan udara.
Membutuhkan suhu yang sesuai.
Semua itu tersedia di sekitar kita.
Tetapi pernahkah kita memikirkan perjalanan sebuah gelas air sampai ke tangan kita?
Air laut menguap.
Uap air naik.
Awan terbentuk.
Angin membawa dan menggerakkannya.
Hujan turun.
Air mengalir melalui tanah, pegunungan, sungai, dan berbagai saluran.
Kemudian air itu sampai kepada kita.
Kita hanya membuka keran.
Air mengalir.
Kita minum.
Selesai.
Tetapi apakah sesederhana itu?
Tidak.
Di balik segelas air terdapat rangkaian proses yang sangat panjang dan berada dalam ketetapan Allah.
Allah berfirman,
«“Dan Kami jadikan dari air segala sesuatu yang hidup.”
(QS. Al-Anbiya: 30)»
Begitu pula udara.
Kita menghirupnya tanpa membeli.
Kita tidak menghitung setiap tarikan napas.
Kita tidak memikirkan nilainya setiap detik.
Namun jika udara terhenti hanya beberapa saat saja, kita akan menyadari betapa mahalnya nikmat tersebut.
Maka mengapa kita tidak bersyukur ketika masih dapat bernapas?
---
Nikmat Keluarga
Bagaimana dengan pasangan hidup?
Bagaimana dengan anak-anak?
Bukankah mereka juga nikmat Allah?
Allah mengajarkan doa,
«“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.”
(QS. Al-Furqan: 74)»
Pasangan yang saleh bukan sekadar teman hidup.
Ia dapat menjadi tempat beristirahatnya jiwa.
Ia dapat menjadi teman dalam ketaatan.
Ia dapat menjadi orang yang mengingatkan ketika kita lalai.
Demikian pula anak.
Anak yang saleh dapat menjadi sumber kebahagiaan dan doa bagi orang tuanya.
Sebaliknya, pasangan atau keturunan yang tidak baik dapat menjadi sumber kesusahan dan fitnah.
Maka jangan hanya meminta keluarga yang membahagiakan kita.
Mintalah kepada Allah agar kita juga menjadi pasangan dan orang tua yang membahagiakan keluarga kita.
Allah berfirman,
«“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.”
(QS. Ar-Rum: 21)»
---
Sudahkah Kita Berpikir?
Allah berfirman,
«“Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezeki bagimu; dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan pula bagimu sungai-sungai. Dan Dia telah menundukkan pula bagimu matahari dan bulan yang terus-menerus beredar dalam orbitnya; dan telah memberikan kepadamu keperluanmu dari segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak dapat menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).”
(QS. Ibrahim: 32–34)»
Maha benar Allah.
Kita tidak akan mampu menghitung nikmat-Nya.
Bahkan kemampuan kita untuk menghitung pun merupakan nikmat dari-Nya.
Kita tidak mampu memenuhi seluruh hak syukur kepada-Nya.
Karena itu, bagaimana mungkin kita sombong?
Bagaimana mungkin kita merasa tidak membutuhkan-Nya?
Bagaimana mungkin kita menggunakan nikmat-Nya untuk mendurhakai-Nya?
---
Pernahkah Kita Memikirkan Nikmat Malam dan Siang?
Kita terbiasa dengan pergantian siang dan malam.
Pagi datang.
Siang berlalu.
Malam tiba.
Kita tidur.
Kemudian bangun kembali.
Semuanya terasa biasa.
Tetapi bagaimana jika malam tidak pernah berakhir?
Allah berfirman,
«“Katakanlah: ‘Terangkanlah kepadaku jika Allah menjadikan untukmu malam itu terus-menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan siang kepadamu yang kamu beristirahat padanya? Maka apakah kamu tidak memperhatikan?’”
(QS. Al-Qashash: 71)»
Allah melanjutkan,
«“Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya.”
(QS. Al-Qashash: 73)»
Tidur pun nikmat.
Bayangkan seseorang ingin tidur, tetapi tidak mampu tidur.
Ia berbaring berjam-jam.
Tubuhnya lelah.
Pikirannya ingin beristirahat.
Tetapi matanya tidak kunjung terpejam.
Saat itu ia akan memahami:
Ternyata tidur adalah nikmat.
Demikian pula bangun.
Demikian pula pagi.
Demikian pula siang.
Demikian pula malam.
Semuanya adalah nikmat Allah.
---
Apakah Engkau Telah Bersyukur?
Sungguh, kita tidak akan mampu menyelesaikan pembicaraan tentang nikmat Allah.
Bagaimana mungkin?
Setiap detik kehidupan kita dipenuhi nikmat.
Ketika bergerak, ada nikmat.
Ketika berbicara, ada nikmat.
Ketika makan, ada nikmat.
Ketika minum, ada nikmat.
Ketika tidur, ada nikmat.
Ketika bangun, ada nikmat.
Ketika melihat, ada nikmat.
Ketika mendengar, ada nikmat.
Ketika mencium, ada nikmat.
Ketika merasakan, ada nikmat.
Bahkan ketika kita mampu mengucapkan “Alhamdulillah”, kemampuan itu sendiri adalah nikmat.
Maka pertanyaannya bukan lagi:
“Berapa banyak nikmat yang saya miliki?”
Sebab kita tidak akan mampu menghitungnya.
Pertanyaannya adalah:
“Sudahkah saya menyadari nikmat tersebut?”
“Sudahkah saya bersyukur?”
“Untuk apa saya menggunakan nikmat itu?”
Sebab syukur bukan sekadar ucapan Alhamdulillah.
Syukur juga berarti menggunakan nikmat sesuai dengan tujuan yang Allah ridhai.
Mata yang disyukuri adalah mata yang dijaga dari yang haram.
Telinga yang disyukuri adalah telinga yang digunakan untuk mendengar kebenaran.
Lisan yang disyukuri adalah lisan yang berkata baik.
Akal yang disyukuri adalah akal yang digunakan untuk mengenal Allah dan mencari kebenaran.
Harta yang disyukuri adalah harta yang digunakan pada jalan yang halal.
Kesehatan yang disyukuri adalah kesehatan yang digunakan untuk ketaatan.
---
Jangan Mengukur Nikmat Hanya dengan Uang
Salah satu kesalahan manusia adalah menganggap nikmat hanya berupa pendapatan.
Jika gajinya bertambah, ia merasa Allah memuliakannya.
Jika penghasilannya berkurang, ia merasa Allah menghinakannya.
Padahal Allah berfirman,
«“Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu memuliakannya dan diberinya kesenangan, maka dia berkata, ‘Tuhanku telah memuliakanku.’ Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, ‘Tuhanku menghinakanku.’”
(QS. Al-Fajr: 15–16)»
Benarkah kemuliaan hanya diukur dengan banyaknya harta?
Benarkah kesempitan rezeki selalu berarti kehinaan?
Tidak.
Hidup ini adalah ujian.
Allah berfirman,
«“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan yang sebenar-benarnya. Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.”
(QS. Al-Anbiya: 35)»
Kita diuji dengan kekayaan.
Kita juga diuji dengan kemiskinan.
Kita diuji dengan kesehatan.
Kita juga diuji dengan sakit.
Kita diuji dengan keberhasilan.
Kita juga diuji dengan kegagalan.
Kita diuji dengan kelapangan.
Kita juga diuji dengan kesempitan.
Maka jangan hanya bertanya:
“Mengapa Allah memberikan ini kepadaku?”
Tetapi bertanyalah:
“Apa yang Allah kehendaki dariku melalui nikmat ini?”
---
Dari Menikmati Nikmat Menuju Mengenal Pemberi Nikmat
Setelah perjalanan panjang ini, semoga kita memperoleh satu bekal penting: ma’rifah terhadap karunia Allah.
Kita mulai menyadari bahwa seluruh kehidupan kita bergantung kepada-Nya.
Kita tidak berdiri sendiri.
Kita tidak hidup dengan kekuatan kita sendiri.
Kita tidak bernapas dengan kemampuan kita sendiri.
Kita tidak melihat dengan kekuatan kita sendiri.
Kita tidak berpikir dengan kekuatan kita sendiri.
Bahkan kemampuan kita untuk berusaha pun merupakan nikmat Allah.
Lalu, bagaimana mungkin kita menggunakan nikmat-Nya untuk melawan-Nya?
Bagaimana mungkin mata yang Allah berikan digunakan untuk bermaksiat kepada-Nya?
Bagaimana mungkin telinga yang Allah berikan digunakan untuk mendengar sesuatu yang Dia murkai?
Bagaimana mungkin lisan yang Allah berikan digunakan untuk menyakiti hamba-hamba-Nya?
Bagaimana mungkin harta yang Allah titipkan digunakan untuk sesuatu yang haram?
Nikmat yang tidak disyukuri dapat berubah menjadi bencana.
Sebab masalahnya bukan hanya pada apa yang kita miliki, tetapi bagaimana kita menggunakan apa yang kita miliki.
---
Mari Bertanya kepada Diri Sendiri
Maka sebelum kita mengakhiri renungan ini, mari duduk sejenak bersama diri kita sendiri.
Tanyakanlah:
Sudahkah aku bersyukur atas nikmat Islam?
Sudahkah aku menjaga iman yang Allah karuniakan kepadaku?
Sudahkah aku mensyukuri keluarga yang Allah berikan?
Sudahkah aku mensyukuri kesehatan sebelum kesehatan itu hilang?
Sudahkah aku menggunakan mataku untuk melihat yang halal?
Sudahkah aku menggunakan telingaku untuk mendengar kebaikan?
Sudahkah aku menggunakan lisanku untuk berkata benar?
Sudahkah aku menggunakan akalku untuk mengenal Allah?
Sudahkah aku menggunakan hartaku untuk sesuatu yang diridhai-Nya?
Sudahkah aku mensyukuri waktu yang setiap hari berlalu tanpa pernah kembali?
Dan pertanyaan yang paling penting:
Jika semua nikmat yang sedang kita nikmati hari ini adalah titipan Allah, apakah kita telah menggunakan titipan itu sesuai dengan kehendak Pemiliknya?
Mungkin selama ini kita terlalu sibuk menghitung apa yang belum kita miliki.
Padahal Allah telah memberikan begitu banyak hal yang bahkan tidak pernah kita minta.
Mungkin kita terlalu sibuk mengeluhkan kekurangan.
Padahal ada jutaan nikmat yang setiap hari bekerja dalam tubuh dan kehidupan kita tanpa kita sadari.
Mungkin kita terlalu sering meminta tambahan nikmat.
Padahal kita belum selesai mensyukuri nikmat yang sudah ada.
Maka mulai hari ini, jangan hanya melihat apa yang hilang.
Lihatlah apa yang masih Allah berikan.
Jangan hanya menghitung kekurangan.
Hitunglah karunia.
Jangan menunggu musibah untuk belajar bersyukur.
Bersyukurlah sebelum kehilangan.
Jangan menunggu sakit untuk mengenal nikmat sehat.
Kenalilah kesehatan ketika tubuh masih kuat.
Jangan menunggu kehilangan iman untuk memahami nikmat Islam.
Jagalah iman sebelum ajal datang.
Dan jangan menunggu kehidupan berakhir untuk menyadari bahwa seluruh kehidupan ini adalah karunia.
Sebab pada akhirnya kita akan kembali kepada-Nya.
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang mampu mengenali nikmat-Nya, mengakui karunia-Nya, memuji-Nya atas segala pemberian-Nya, serta menggunakan seluruh nikmat tersebut untuk menaati-Nya.
Ya Allah, jangan jadikan nikmat-Mu yang kami terima sebagai sebab kami semakin jauh dari-Mu.
Jadikanlah setiap nikmat yang Engkau berikan sebagai jalan bagi kami untuk semakin mengenal-Mu, mencintai-Mu, menaati-Mu, dan bersyukur kepada-Mu.
Amin.
0 komentar: