«إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ
“Sungguh, Kami telah memberimu (Muhammad) nikmat yang banyak. Maka laksanakanlah salat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah). Sungguh, orang-orang yang membencimu, dialah yang terputus (dari rahmat Allah).”
(QS. Al-Kautsar: 1–3)»
Ketika Kekufuran Menyerang dengan Cara yang Murah
Pernahkah kita membayangkan bagaimana perasaan Rasulullah ﷺ ketika dakwah baru saja dimulai, sementara tekanan dari orang-orang Quraisy semakin keras?
Beliau tidak hanya menghadapi penolakan terhadap risalah. Beliau juga menghadapi ejekan, cemoohan, tuduhan, dan berbagai tipu daya yang sengaja dirancang untuk menjauhkan manusia dari kebenaran.
Namun, ada sesuatu yang lebih menyakitkan daripada sekadar penolakan terhadap dakwah: serangan yang diarahkan kepada pribadi beliau.
Orang-orang Quraisy yang memusuhi Rasulullah ﷺ—di antaranya Al-'Ash bin Wa'il, 'Uqbah bin Abi Mu'aith, Abu Lahab, Abu Jahal, dan yang lainnya—mengatakan bahwa Muhammad adalah al-abtar, orang yang terputus.
Apa maksud mereka?
Mereka mengaitkannya dengan wafatnya anak-anak lelaki Rasulullah ﷺ. Mereka ingin mengatakan, kurang lebih, “Biarkan saja dia. Dia akan mati tanpa keturunan lelaki. Setelah itu, namanya akan hilang dan urusannya selesai.”
Sungguh, sebuah serangan yang murah.
Tidak mampu membantah kebenaran risalahnya, mereka menyerang kehidupan pribadinya.
Tidak mampu memadamkan cahaya wahyu, mereka mencoba merendahkan pembawanya.
Tidak mampu menghentikan dakwah dengan argumentasi, mereka menggunakan ejekan.
Bukankah pola seperti ini sering terjadi?
Ketika seseorang tidak mampu mengalahkan kebenaran dengan hujah, ia sering berusaha menjatuhkan pembawa kebenaran dengan celaan.
Dan pada saat seperti itulah, seorang dai membutuhkan sesuatu yang lebih kuat daripada sekadar kemampuan membalas.
Ia membutuhkan pertolongan Allah.
Allah Mengusap Hati Rasul-Nya
Di tengah tekanan itulah Surat Al-Kautsar hadir.
Surat ini—sebagaimana Surat Adh-Dhuha dan Surat Asy-Syarh—menjadi penghiburan langsung dari Allah kepada Rasulullah ﷺ.
Allah seakan-akan berkata:
Jangan lihat apa yang mereka katakan tentangmu. Lihat apa yang telah Kami berikan kepadamu.
Jangan ukur masa depan dakwahmu berdasarkan ejekan mereka. Ukurlah berdasarkan janji Tuhanmu.
Maka Allah berfirman:
«إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ
“Sungguh, Kami telah memberimu Al-Kautsar.”»
Perhatikan kata yang digunakan Allah: Al-Kautsar.
Ia berasal dari kata yang menunjukkan makna banyak dan melimpah.
Seolah-olah Allah membalikkan seluruh tuduhan mereka.
Mereka berkata:
“Muhammad terputus.”
Allah menjawab:
“Tidak. Kami justru telah memberimu kebaikan yang banyak dan melimpah.”
Mereka melihat kehilangan.
Allah menunjukkan karunia.
Mereka melihat masa depan yang akan berakhir.
Allah menunjukkan masa depan yang membentang tanpa batas.
Bukankah di sinilah letak perbedaan antara pandangan manusia dan ukuran Allah?
Al-Kautsar: Karunia yang Tidak Terbatas
Jika seseorang ingin menyelidiki apa yang dimaksud dengan Al-Kautsar, ia akan menemukan karunia Allah kepada Rasulullah ﷺ di berbagai penjuru kehidupan beliau.
Ia menemukannya dalam kenabian.
Betapa agungnya nikmat ketika seorang manusia dipilih Allah untuk menerima wahyu dan menjadi pembawa risalah-Nya.
Ia menemukannya dalam Al-Qur'an.
Satu surat saja dari Al-Qur'an merupakan sumber kebaikan yang tidak pernah habis. Dibaca dari generasi ke generasi, dipelajari oleh manusia di berbagai negeri, dihafalkan oleh jutaan manusia, dan terus menjadi petunjuk hingga hari kiamat.
Ia menemukannya dalam kedudukan Rasulullah ﷺ di alam malaikat dan di bumi.
Namanya disebut bersama risalah yang dibawanya. Allah memuliakannya, para malaikat bershalawat kepadanya, dan kaum beriman terus bershalawat kepadanya.
Ia menemukannya dalam sunnah beliau yang membentang sepanjang zaman.
Berabad-abad telah berlalu, tetapi ajaran beliau tetap dipelajari. Kehidupannya ditelusuri. Sabdanya dihafalkan. Akhlaknya diteladani.
Berapa banyak hati yang mencintai beliau?
Berapa banyak lisan yang menyebut namanya?
Berapa banyak manusia yang mengucapkan salawat kepadanya?
Dan berapa banyak manusia yang memperoleh kebaikan melalui ajaran yang beliau bawa?
Bahkan kebaikan itu tidak hanya dirasakan oleh orang yang mengenal beliau lalu beriman kepadanya. Banyak manusia memperoleh manfaat dari warisan risalah beliau tanpa pernah mengenal seluruh sumber kebaikan itu.
Itulah Al-Kautsar.
Kebaikan yang melimpah.
Kebaikan yang terus mengalir.
Kebaikan yang tidak habis hanya karena manusia berusaha menghitungnya.
Karena itu, Allah tidak membatasinya dalam ayat ini dengan satu bentuk tertentu.
Al-Kautsar mencakup berbagai kebaikan yang banyak dan terus bertambah.
Memang terdapat banyak riwayat yang menjelaskan bahwa Al-Kautsar adalah sebuah sungai di surga yang Allah berikan kepada Rasulullah ﷺ. Namun, sebagaimana dijelaskan dari Ibnu Abbas, sungai tersebut merupakan bagian dari berbagai kebaikan yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya.
Sebuah kebaikan dari sekian banyak kebaikan.
Satu bentuk Al-Kautsar dari Al-Kautsar yang begitu luas.
Ketika Mendapat Karunia, Apa yang Harus Dilakukan?
Tetapi apakah Allah hanya memberikan hiburan kepada Rasulullah ﷺ?
Tidak.
Setelah menyebut karunia yang begitu besar, Allah langsung memberikan arahan:
«فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
“Maka laksanakanlah salat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah.”»
Mengapa salat dan kurban?
Karena ketika seseorang menerima karunia yang besar, respons yang paling benar bukanlah kesombongan.
Bukan pula sibuk membalas orang yang mencelanya.
Tetapi bersyukur kepada Allah.
Salat menunjukkan penghambaan dan ketundukan hanya kepada Allah.
Kurban menunjukkan keikhlasan dalam ibadah dan pengorbanan hanya untuk-Nya.
Maka pesan ini sangat dalam bagi seorang dai:
Jangan biarkan penghinaan manusia mengalihkan arah pengabdianmu.
Ketika manusia mencela, tetaplah salat.
Ketika manusia merendahkan, tetaplah beribadah.
Ketika manusia menghalangi, tetaplah mengabdi kepada Allah.
Sebab orientasi seorang dai bukan manusia.
Orientasinya adalah Rabb-nya.
Karena itu Allah berfirman:
«فَصَلِّ لِرَبِّكَ
“Maka salatlah karena Tuhanmu.”»
Bukan karena manusia.
Bukan untuk mendapatkan pujian.
Bukan untuk membungkam musuh.
Bukan untuk membuktikan diri.
Tetapi karena Allah.
Tauhid Harus Membersihkan Seluruh Kehidupan
Perintah untuk berkurban juga membawa pesan tauhid yang sangat kuat.
Penyembelihan bukan sekadar aktivitas fisik. Ia adalah ibadah.
Karena itu, nama Allah harus menjadi pusatnya.
Islam tidak hanya membersihkan akidah dari kemusyrikan dalam pikiran. Islam juga membersihkan ibadah, kebiasaan, simbol, dan berbagai praktik kehidupan dari unsur syirik.
Mengapa?
Karena Islam memandang kehidupan sebagai satu kesatuan.
Apa yang tersembunyi di dalam hati akan memengaruhi perilaku.
Apa yang diyakini akan memengaruhi ibadah.
Apa yang dianggap sakral akan memengaruhi tradisi.
Karena itu, tauhid tidak boleh berhenti sebagai konsep di kepala.
Ia harus hadir dalam kehidupan.
Dalam salat.
Dalam kurban.
Dalam cara mencari harta.
Dalam cara menggunakan harta.
Dalam hubungan dengan manusia.
Dalam tradisi.
Dalam seluruh orientasi kehidupan.
Islam mengarahkan semuanya kepada Allah secara murni, jernih, dan terbebas dari berbagai noda kemusyrikan.
Lalu, Siapakah yang Sebenarnya Terputus?
Kemudian datang ayat terakhir:
«إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ
“Sungguh, orang-orang yang membencimu, dialah yang terputus.”»
Perhatikan sekali lagi.
Mereka mengatakan:
“Muhammad adalah orang yang terputus.”
Tetapi Allah mengatakan:
“Justru orang yang membencimu itulah yang terputus.”
Betapa sempurnanya pembalikan keadaan itu.
Manusia mengira mereka sedang menjatuhkan Rasulullah ﷺ.
Allah justru menetapkan bahwa merekalah yang akan kehilangan.
Mereka mengira nama Muhammad akan hilang.
Hari ini, siapa yang paling sering disebut namanya?
Mereka mengira dakwahnya akan berakhir.
Hari ini, di berbagai penjuru bumi, azan dikumandangkan dan nama Muhammad ﷺ disebut.
Mereka mengira jejaknya akan terhapus.
Namun, sunnahnya terus dipelajari.
Mereka mengira manusia akan melupakannya.
Namun, hati orang-orang beriman terus mencintainya.
Lalu, di manakah nama para pencela itu?
Di manakah kebanggaan mereka?
Di manakah pengaruh mereka?
Di manakah jejak yang dahulu mereka kira akan mengalahkan Rasulullah ﷺ?
Di situlah kita melihat kebenaran janji Allah.
Ukuran Allah Tidak Sama dengan Ukuran Manusia
Manusia sering tertipu oleh ukuran yang tampak.
Jika seseorang memiliki banyak pengikut, kita mengira ia kuat.
Jika seseorang memiliki kekuasaan, kita mengira ia menang.
Jika seseorang memiliki harta, kita mengira ia berhasil.
Jika sebuah kebatilan tampak besar, kita mengira ia akan bertahan lama.
Tetapi apakah ukuran itu selalu benar?
Tidak.
Ukuran Allah berbeda dengan ukuran manusia.
Kebenaran mungkin tampak kecil pada awalnya.
Orang-orang yang membawa kebenaran mungkin sedikit.
Dakwah mungkin dimulai dari rumah-rumah kecil.
Para dai mungkin ditekan.
Orang-orang beriman mungkin dihina.
Tetapi apakah itu berarti mereka kalah?
Tidak.
Karena kekuatan kebenaran tidak ditentukan oleh jumlah orang yang mendukungnya pada suatu waktu.
Kebenaran terhubung kepada Allah.
Dan Allah Mahahidup, tidak pernah mati.
Allah Mahakekal, tidak pernah berakhir.
Karena itu, kebenaran yang bersambung kepada-Nya tidak akan terputus.
Kebenaran Tidak Pernah Menjadi Al-Abtar
Di sinilah Surat Al-Kautsar memberikan sebuah hukum kehidupan yang sangat penting.
Iman, kebenaran, dan kebaikan tidak pernah benar-benar terputus.
Ia memiliki akar yang menghunjam.
Ia memiliki cabang yang terus tumbuh.
Ia berpindah dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Sebaliknya, kekufuran, kebatilan, dan keburukan—sekalipun pernah tampak besar—pada akhirnya akan menuju keterputusan.
Mungkin kebatilan tumbuh.
Mungkin ia membesar.
Mungkin ia memiliki kekuasaan.
Mungkin ia menguasai panggung untuk sementara.
Tetapi semua itu bukan jaminan keabadian.
Bukankah sejarah telah berkali-kali menunjukkan hal tersebut?
Berapa banyak orang yang dahulu merasa memiliki kekuatan untuk menghancurkan kebenaran, tetapi akhirnya nama mereka hanya tersisa sebagai pelajaran sejarah?
Dan sebaliknya, berapa banyak orang yang dahulu tampak lemah, terasing, bahkan dihina, tetapi jejak kebaikannya justru terus hidup?
Pelajaran bagi Para Dai
Karena itu, Surat Al-Kautsar bukan hanya penghiburan bagi Rasulullah ﷺ.
Ia juga menjadi bekal mental bagi setiap orang yang berjalan di jalan dakwah.
Jika hari ini seorang dai dicemooh, jangan buru-buru mengira dakwahnya gagal.
Jika hari ini ia tidak dihargai, jangan mengira Allah tidak melihatnya.
Jika jumlah orang yang mengikutinya sedikit, jangan langsung menyimpulkan bahwa kebenaran telah kalah.
Dan jika kebatilan tampak besar, jangan terburu-buru menganggapnya akan bertahan selamanya.
Tanyakan kepada diri sendiri:
Kita sedang mengukur dakwah dengan ukuran siapa?
Ukuran manusia atau ukuran Allah?
Kita sedang melihat apa?
Keadaan sesaat atau janji Allah?
Kita sedang mendengar siapa?
Cemoohan manusia atau firman Tuhan?
Rasulullah ﷺ menghadapi semua itu.
Dan Allah tidak mengatakan kepada beliau, “Balaslah mereka.”
Allah justru mengatakan:
“Kami telah memberimu Al-Kautsar.”
Kemudian:
“Salatlah karena Tuhanmu dan berkurbanlah.”
Lalu:
“Sesungguhnya orang yang membencimu, dialah yang terputus.”
Seolah-olah Allah mengajarkan kepada para dai:
Jangan habiskan energimu untuk membalas semua hinaan. Sibukkan dirimu dengan syukur, ibadah, dan meneruskan kebenaran.
Sebab tugasmu bukan memastikan semua manusia menyukaimu.
Tugasmu adalah tetap berada di jalan Allah.
Dari Mana Datangnya Kekuatan Seorang Dai?
Maka kekuatan seorang dai bukan terutama berasal dari banyaknya pengikut.
Bukan dari popularitas.
Bukan dari tepuk tangan.
Bukan dari kemenangan sesaat dalam perdebatan.
Kekuatan itu lahir ketika ia menyadari bahwa dirinya memiliki Al-Kautsar.
Allah telah memberinya nikmat yang jauh lebih besar daripada apa pun yang dapat dirampas manusia.
Jika manusia merampas popularitasnya, Allah masih memberikan kemuliaan.
Jika manusia menolak dakwahnya, Allah masih memberikan kebenaran.
Jika manusia merendahkannya, Allah masih memberikan kedekatan kepada-Nya.
Jika manusia menutup satu pintu, Allah mampu membuka pintu-pintu yang tidak pernah ia bayangkan.
Maka mengapa harus takut kepada ejekan?
Mengapa harus patah hanya karena dicela?
Mengapa harus berhenti hanya karena dakwah belum mendapatkan hasil yang segera?
Bukankah Allah telah mengajarkan:
Al-Kautsar lebih besar daripada al-abtar.
Karunia Allah lebih luas daripada hinaan manusia.
Kebenaran lebih panjang umurnya daripada kebatilan.
Kebaikan lebih luas jangkauannya daripada keburukan.
Dan janji Allah lebih kuat daripada seluruh tipu daya manusia.
Kekufuran yang Terputus dan Kebenaran yang Membentang
Pada akhirnya, Surat Al-Kautsar mengajarkan sebuah perspektif yang sangat penting.
Jangan tertipu oleh apa yang tampak besar.
Jangan takut kepada apa yang tampak kuat.
Jangan pula merasa kalah hanya karena berada dalam posisi yang sedikit.
Lihatlah dengan ukuran Allah.
Kebenaran mungkin memulai perjalanannya dalam keadaan kecil, tetapi ia dapat membentang jauh.
Kebaikan mungkin bermula dari satu hati, tetapi dapat menjalar ke ribuan hati.
Dakwah mungkin dimulai dari satu suara, tetapi dapat diwariskan dari generasi ke generasi.
Sebaliknya, kebatilan mungkin terdengar keras, tetapi suara yang keras tidak berarti suara yang abadi.
Ia dapat berakhir.
Ia dapat dilupakan.
Ia dapat terputus.
Karena itu, jangan bertanya hanya:
“Seberapa besar kekuatan kita hari ini?”
Tanyakan pula:
“Kepada siapa kita terhubung?”
Jika kita terhubung kepada manusia, kita akan takut ketika manusia meninggalkan kita.
Jika kita terhubung kepada popularitas, kita akan hancur ketika popularitas hilang.
Jika kita terhubung kepada kekuasaan, kita akan gelisah ketika kekuasaan berakhir.
Tetapi jika kita terhubung kepada Allah, maka kita memiliki sumber kekuatan yang tidak pernah terputus.
Itulah Al-Kautsar.
Itulah karunia Tuhan tanpa batas.
Dan itulah sebabnya seorang dai tidak boleh membiarkan cemoohan orang-orang yang membenci kebenaran membuatnya lupa kepada karunia Allah.
Mereka mungkin berkata: “Engkau akan terputus.”
Tetapi Allah telah menjawab:
«إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ
“Sungguh, Kami telah memberimu nikmat yang banyak.”»
Mereka mungkin berkata: “Dakwahmu akan berakhir.”
Tetapi Allah mengajarkan:
«إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ
“Sungguh, orang-orang yang membencimu, dialah yang terputus.”»
Maka teruslah berjalan.
Salatlah.
Berkurbanlah.
Bersyukurlah.
Tetaplah ikhlas.
Jangan sibuk menghitung suara para pencela.
Hitunglah karunia Allah.
Sebab manusia boleh membuat tipu daya, tetapi Allah menentukan kesudahan.
Manusia boleh mencela, tetapi Allah yang menentukan kemuliaan.
Manusia boleh mengatakan “terputus”, tetapi Allah mampu menjadikan sebuah risalah membentang hingga akhir zaman.
Mahabenar Allah Yang Agung.
Dan sungguh, betapa kecilnya tipu daya para penipu di hadapan karunia Tuhan yang tidak terbatas.
0 komentar: