Dakwah Secara Umum dalam Periode Sirriyah di Mekah
Sekilas, bukankah ada pertentangan antara dakwah secara umum dengan karakteristik pertama, yaitu dakwah secara rahasia?
Tidak demikian.
Dakwah secara rahasia tidak berarti dakwah hanya ditujukan kepada kelompok tertentu. Sirriyah bukanlah pembatasan sasaran dakwah, melainkan pengaturan cara dan tahapan dakwah.
Dakwah tetap harus menjangkau seluruh lapisan masyarakat.
Lalu, mengapa dimulai dari orang-orang tertentu?
Karena sebuah masyarakat tidak dibangun dengan menjangkau semua orang sekaligus. Ia dibangun melalui manusia-manusia yang terlebih dahulu menerima kebenaran, memahami risalah, membentuk kepribadian, lalu menjadi bagian dari bangunan masyarakat Islam.
Perhatikanlah hasil dakwah pada periode sirriyah.
Siapa saja yang masuk Islam?
Ada orang merdeka.
Ada budak.
Ada laki-laki.
Ada perempuan.
Ada pemuda.
Ada orang tua.
Ada orang kaya.
Ada orang miskin.
Ada berbagai kabilah Quraisy.
Bahkan hampir tidak ada keluarga di Mekah yang sama sekali tidak memiliki anggota yang bersentuhan dengan dakwah Islam.
Bukankah ini menunjukkan sesuatu?
Dakwah yang dilakukan secara bertahap ternyata tidak berarti dakwah yang sempit.
Justru melalui pembinaan orang-orang tertentu, dakwah mulai memasuki seluruh lapisan masyarakat.
Jika kita melihat daftar generasi pertama kaum Muslimin berdasarkan kabilah mereka, terlihat betapa luasnya jangkauan dakwah tersebut.
1. Bani Hasyim
1. Ali bin Abu Thalib
2. Ja'far bin Abu Thalib
3. Ummul Fadhl binti al-Harits
4. Ubaidah binti al-Harits
5. Asma binti Umais, istri Ja'far
6. Khadijah binti Khuwailid
2. Bani Umayyah
7. Utsman bin Affan
8. Khalid bin Sa'ad
9. Aminah binti Khalid
10. Hathib bin Amr
11. Abdullah bin Jahsy
12. Abu Ahmad bin Jahsy
13. Fathimah, istri Abu Ahmad
3. Bani Makhzum
14. Abu Salamah bin Abdul Asad
15. Iyasy bin Abi Rabi'ah
16. Asma, istri Iyasy
17. Yasir bin Amir
18. Sumayyah binti Khayyath, istri Yasir
19. Al-Arqam bin Abi Al-Arqam
4. Bani Taim
20. Abu Bakar ash-Shiddiq
21. Thalhah bin Ubaidillah
22. Amir bin Fahirah, mantan budak
23. Bilal bin Abi Rabbah, mantan budak
5. Bani Adi
24. Sa'id bin Zaid
25. Fatimah binti al-Khaththab
26. Amir bin Abi Rabi'ah
27. Na'im bin Abdullah
28. Waqid bin Abdullah
29. Khalid bin al-Bakir
30. Amir bin al-Bakir
31. Iyas bin al-Bakir
6. Bani Zuhrah
32. Sa'ad bin Abi Waqqash
33. Abdurrahman bin Auf
34. Umar bin Abi Waqqash
35. Abdullah bin Mas'ud
36. Al-Muthalib bin Azhar
37. Khabbab bin al-Aratt
7. Bani Sahm
38. Khu-nays bin Hudzafah
39. Hafshah binti Umar, istrinya
8. Bani Jamh
40. Hathib bin al-Harits
41. Fathimah, istri Hathib
42. Khaththab bin al-Harits
43. Faqihah, istrinya
44. Sa'id bin Utsman
9. Bani Asad
45. Zubair bin Awwam
10. Bani Amir
46. Abu Ubaidah bin al-Jarrah
47. Salith bin Amr
11. Dari kabilah-kabilah lainnya
48. Shuhaib bin Sinan ar-Rumi
49. Mas'ud bin Rabi'ah
50. Mu'ammar bin Habib
51. Zaid bin Haritsah
52. Amr bin Abasah
53. Utsman bin Mazh'un
54. Qudamah bin Mazh'un
55. Abdullah bin Mazh'un
56. Raqiqah, istrinya
Demikianlah, sekitar enam puluh orang dari generasi pertama Islam berasal dari berbagai lapisan masyarakat dan berbagai kabilah.
Apa yang dapat kita pelajari?
Bahwa sirriyah bukan berarti eksklusif.
Dakwah tetap bersifat universal, tetapi pembinaannya dilakukan secara bertahap.
Dakwah menjangkau masyarakat luas melalui manusia-manusia yang terlebih dahulu dibina menjadi pembawa risalah.
---
Peranan Wanita pada Periode Sirriyah
Pernahkah kita bertanya:
Di manakah posisi kaum wanita dalam fase awal perjuangan Islam?
Jawabannya sangat jelas: mereka bukan sekadar penonton.
Seperempat dari masyarakat Islam pada periode ini terdiri dari kaum wanita.
Banyak pemuda yang menerima Islam kemudian diikuti oleh istri mereka. Dengan demikian, rumah tangga menjadi salah satu ruang penting bagi pertumbuhan masyarakat Islam generasi pertama.
Kita harus memberikan perhatian yang semestinya terhadap peranan kaum wanita dalam perjalanan dakwah.
Mereka hadir sebagai:
- saudara,
- istri,
- ibu,
- pendamping perjuangan,
- dan bagian dari masyarakat Islam yang sedang dibangun.
Khadijah r.a. adalah contoh yang sangat jelas.
Ia bukan hanya orang pertama yang beriman kepada Rasulullah saw., tetapi juga menjadi pendamping yang memberikan ketenangan, dukungan, dan pengorbanan pada fase paling awal dakwah.
Demikian pula para wanita lainnya.
Sebagian riwayat menyebutkan bahwa Asma r.a. termasuk sosok yang berperan aktif dalam fase awal tersebut, bahkan disebut dalam konteks perjuangan pada usia yang masih sangat muda.
Lalu apa pelajarannya?
Membangun masyarakat Islam bukan pekerjaan laki-laki saja.
Jika wanita dikeluarkan dari proses pembinaan, maka separuh kekuatan masyarakat akan diabaikan.
Bukankah rumah adalah tempat pertama pembentukan manusia?
Bukankah seorang ibu memiliki pengaruh besar terhadap generasi berikutnya?
Maka peranan wanita dalam dakwah tidak boleh dipandang sebagai pelengkap.
Ia merupakan bagian dari bangunan dakwah itu sendiri.
---
Shalat: Ruh Pembinaan pada Periode Sirriyah
Di tengah dakwah yang dilakukan secara tersembunyi, ada satu perkara yang tetap hadir: shalat.
Menurut riwayat yang masyhur, tidak ada fase kehidupan kaum Muslimin yang kosong dari pelaksanaan shalat.
Ibnu Ishaq meriwayatkan bahwa ketika shalat diwajibkan kepada Rasulullah saw., Jibril datang kepada beliau ketika berada di sebuah tempat di Mekah. Jibril mengajarkan tata cara wudhu dan shalat kepada beliau. Rasulullah saw. kemudian mempraktikkannya. Setelah itu Rasulullah saw. mengajarkan wudhu dan shalat kepada Khadijah r.a. dan mengimaminya.
Apa yang dapat kita renungkan dari peristiwa ini?
Dakwah boleh dilakukan secara sirriyah.
Pembinaan boleh dilakukan secara bertahap.
Tanzhim boleh dirahasiakan.
Tetapi hubungan dengan Allah tidak boleh diputuskan.
Bagaimana mungkin manusia membangun masyarakat tanpa terlebih dahulu membangun hubungan dengan Rabb-nya?
Bagaimana mungkin seseorang mampu menghadapi tekanan dakwah jika hatinya tidak memiliki tempat untuk bersandar?
Karena itu, shalat bukan sekadar aktivitas ritual.
Shalat adalah sumber kekuatan.
Shalat membentuk kedisiplinan.
Shalat menghubungkan manusia dengan Allah.
Shalat menanamkan kesadaran bahwa perjuangan manusia bukan untuk dirinya sendiri, tetapi untuk menjalankan amanah Allah.
Maka tidak mengherankan jika shalat hadir sejak fase awal pembentukan masyarakat Islam.
---
Pengetahuan Orang Quraisy tentang Dakwah
Lalu bagaimana sikap Quraisy terhadap dakwah pada masa itu?
Apakah mereka langsung marah?
Apakah mereka langsung melakukan perlawanan?
Belum.
Mengapa?
Karena fenomena kehanifan sebenarnya telah dikenal di Mekah.
Ada orang-orang seperti Zaid bin Amr bin Naufal, Waraqah bin Naufal, dan Umayyah bin Abi Shalt yang telah menunjukkan ketidakpuasan terhadap penyembahan berhala.
Masyarakat Mekah sudah mengenal orang-orang yang menjauh dari berhala.
Selama seseorang hanya melakukan pencarian spiritual secara pribadi dan tidak mengganggu sistem keyakinan serta struktur sosial yang ada, Quraisy tidak terlalu memberikan perhatian.
Rasulullah saw. sendiri sebelum kenabian biasa melakukan tahannuts di Gua Hira.
Namun Quraisy tidak menganggapnya sebagai ancaman.
Mengapa?
Karena mereka belum melihat Islam sebagai kekuatan yang akan mengubah kehidupan masyarakat.
Bahkan pada periode awal, orang-orang hanif kadang lebih mendapatkan perhatian karena mereka secara terbuka menunjukkan keraguan terhadap berhala-berhala Quraisy, sedangkan kaum Muslimin belum menyampaikan sikap tersebut secara terbuka kepada masyarakat luas.
Ada sebuah riwayat yang menggambarkan keadaan tersebut.
Seorang pedagang pernah berkunjung ke rumah Abbas. Ia melihat seorang laki-laki, seorang wanita, dan seorang anak sedang melakukan shalat dengan cara yang berbeda dari kebiasaan Quraisy.
Ia bertanya kepada Abbas tentang mereka.
Abbas menjelaskan bahwa laki-laki tersebut adalah Muhammad saw., wanita tersebut adalah Khadijah, dan anak tersebut adalah Ali.
Fenomena itu diketahui oleh sebagian masyarakat.
Namun pengetahuan tersebut belum berubah menjadi konflik terbuka.
Mengapa?
Karena dakwah masih berada dalam fase pembinaan.
---
Abu Thalib Mengetahui Dakwah
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Ali r.a. sering pergi bersama Rasulullah saw. untuk melaksanakan shalat di berbagai tempat di Mekah.
Suatu hari Abu Thalib melihat keduanya sedang shalat.
Ia bertanya kepada Rasulullah saw.:
“Wahai anak saudaraku, agama apakah yang kamu anut ini?”
Rasulullah saw. menjelaskan bahwa agama tersebut adalah agama Allah, agama para malaikat-Nya, agama para rasul-Nya, dan agama Nabi Ibrahim.
Kemudian Rasulullah saw. mengajak pamannya kepada hidayah dan meminta dukungannya.
Abu Thalib belum bersedia meninggalkan agama nenek moyangnya. Tetapi ia mengatakan bahwa selama dirinya masih hidup, Rasulullah saw. tidak akan mendapatkan gangguan darinya.
Ia juga berbicara kepada Ali.
“Wahai anakku, agama apakah yang kamu anut ini?”
Ali menjawab bahwa ia beriman kepada Rasulullah saw., membenarkan apa yang dibawanya, melaksanakan shalat bersamanya, dan mengikutinya.
Abu Thalib kemudian mengatakan bahwa Muhammad tidak akan mengajak Ali kecuali kepada kebaikan.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa keberadaan kaum Muslimin pada masa itu bukan sesuatu yang sepenuhnya tidak diketahui.
Tetapi ada perbedaan penting antara diketahui dan dianggap sebagai ancaman.
Quraisy mengetahui adanya sekelompok orang yang menyembah Allah dengan cara yang berbeda.
Namun selama aktivitas tersebut belum secara terbuka menantang sistem sosial dan keyakinan Quraisy, mereka belum melihatnya sebagai ancaman besar.
---
Islam yang Hanya Dipandang sebagai Urusan Pribadi
Di sinilah terdapat sebuah pelajaran penting.
Sebuah kekuasaan jahiliah mungkin saja membiarkan agama berkembang selama agama tersebut hanya dipahami sebagai keyakinan pribadi dan ibadah individual.
Mengapa?
Karena agama yang hanya berada di dalam hati tidak dianggap mengancam struktur kekuasaan.
Tetapi ketika agama mulai membentuk manusia, membangun masyarakat, memperbaiki hubungan sosial, mengubah standar benar dan salah, serta menuntut kehidupan tunduk kepada nilai-nilai wahyu, situasinya menjadi berbeda.
Maka kita perlu bertanya:
Apakah Islam hanya persoalan keyakinan pribadi?
Apakah Islam hanya persoalan ibadah di masjid?
Atau Islam memiliki konsekuensi terhadap seluruh cara manusia menjalani kehidupan?
Pertanyaan inilah yang kelak menjadi semakin penting ketika dakwah Rasulullah saw. memasuki fase terbuka.
---
Hidup Berdampingan dengan Masyarakat Lain
Pada periode sirriyah, kita tidak mendapati benturan terbuka antara komunitas Muslim yang sedang tumbuh dan masyarakat jahiliah.
Mengapa?
Karena dakwah terbuka belum menjadi sasaran utama.
Fikrah belum diumumkan kepada seluruh masyarakat.
Kaum Muslimin sedang membangun fondasi internal.
Mereka membentuk keimanan.
Mereka membangun hubungan dengan Allah.
Mereka membina persaudaraan.
Mereka menyiapkan manusia.
Karena itu, mereka belum diperintahkan untuk melakukan konfrontasi terbuka dengan masyarakat.
Bukan karena Islam tidak memiliki sikap terhadap kebatilan.
Bukan pula karena kaum Muslimin tidak memiliki keyakinan yang berbeda.
Tetapi karena setiap fase memiliki tuntutan dan prioritasnya sendiri.
Bukankah sebuah bangunan harus memiliki fondasi sebelum dindingnya didirikan?
Bukankah sebuah pohon harus memiliki akar sebelum mampu memberikan buah?
Demikian pula masyarakat Islam.
Sebelum menghadapi perubahan besar di tengah masyarakat, manusia-manusia yang menjadi fondasinya harus terlebih dahulu dibentuk.
---
Tidak Semua Kebenaran Harus Disampaikan dengan Cara yang Sama pada Setiap Fase
Pada fase ini, kaum Muslimin tidak diperintahkan untuk secara terang-terangan mengkritik, menantang, atau melakukan konfrontasi dengan masyarakat Quraisy.
Prinsipnya adalah menjaga keselamatan dakwah dan komunitas yang sedang tumbuh.
Ketidaksetujuan tidak perlu ditampakkan secara terbuka kecuali dalam keadaan yang menuntutnya.
Tanzhim dan fikrah masih harus dijaga.
Mengapa?
Karena tujuan utama fase ini bukan memenangkan perdebatan.
Tujuannya adalah membangun manusia.
Bukankah ini pelajaran penting bagi siapa pun yang ingin melakukan perubahan?
Kadang-kadang kita terlalu cepat ingin mengubah masyarakat.
Kita ingin mengkritik semua kesalahan.
Kita ingin membongkar semua kebatilan.
Kita ingin menunjukkan kepada semua orang bahwa kita benar.
Tetapi apakah manusia yang akan membawa perubahan itu sudah dibentuk?
Apakah iman mereka sudah kuat?
Apakah hubungan mereka dengan Allah sudah kokoh?
Apakah mereka sudah memiliki kesabaran?
Apakah mereka sudah memiliki ukhuwah?
Apakah mereka sudah mampu menanggung konsekuensi dari dakwah?
Jika jawabannya belum, mungkin persoalannya bukan kurangnya keberanian untuk berbicara.
Mungkin persoalannya adalah belum cukupnya proses pembinaan.
---
Pelajaran Besar dari Fase Sirriyah
Jika kita melihat seluruh karakteristik periode ini secara utuh, kita menemukan sebuah pola yang sangat menarik.
Dakwah bersifat umum, tetapi dilakukan melalui pembinaan orang-orang tertentu.
Masyarakat yang dibangun berasal dari berbagai lapisan, bukan kelompok sosial tertentu saja.
Wanita mengambil peranan penting.
Shalat menjadi sumber kekuatan spiritual.
Dakwah dikenal sebagian masyarakat, tetapi belum menjadi konfrontasi terbuka.
Kaum Muslimin hidup berdampingan dengan masyarakat lain.
Tanzhim dan fikrah dijaga.
Semua itu menunjukkan bahwa Rasulullah saw. tidak membangun perubahan hanya dengan memperbanyak jumlah pengikut.
Beliau membangun manusia.
Dan manusia-manusia itulah yang kemudian menjadi fondasi masyarakat Islam.
Maka mungkin pertanyaan terpenting bagi kita bukan:
“Berapa banyak orang yang telah mengikuti dakwah?”
Tetapi:
“Berapa banyak manusia yang benar-benar telah berubah karena dakwah?”
Bukan sekadar berapa banyak yang mendengar.
Tetapi berapa banyak yang memahami.
Bukan sekadar berapa banyak yang mengaku beriman.
Tetapi berapa banyak yang menjadikan iman sebagai kekuatan hidup.
Bukan sekadar membangun kerumunan.
Tetapi membangun pribadi.
Karena perubahan masyarakat pada akhirnya bermula dari perubahan manusia.
Dan perubahan manusia tidak terjadi dalam satu malam.
Ia membutuhkan iman, pembinaan, kesabaran, kedisiplinan, ukhuwah, dan proses yang bertahap.
Inilah salah satu pelajaran besar dari fase sirriyah dalam perjalanan dakwah Rasulullah saw.:
Dakwah boleh dilakukan secara bertahap, tetapi cita-citanya tetap universal.
Pembinaan boleh dimulai dari sedikit orang, tetapi tujuannya adalah kebaikan bagi seluruh masyarakat.
Dan sebelum sebuah masyarakat berubah, selalu ada manusia-manusia yang terlebih dahulu ditempa untuk menjadi pembawa perubahan.
0 komentar: