Terpilih
Bacaan Fundamentalis tentang Zionisme Politik
«“Beginilah firman Tuhan: Israel ialah anak-Ku, anak-Ku yang sulung.”
(Keluaran IV: 22)»
«“Penduduk dunia dapat dibagi antara Israel dan bangsa lain yang dianggap satu. Israel adalah bangsa yang terpilih: dogma pangkal.”
— Rabi Cohen, Le Talmud (Paris: Payot, 1986), hlm. 104.»
Bangsa Terpilih: Wahyu atau Konstruksi Sejarah?
Apa yang sebenarnya dimaksud dengan “bangsa terpilih”?
Apakah ia merupakan sebuah kenyataan sejarah yang dapat dibuktikan secara objektif, ataukah sebuah keyakinan teologis yang kemudian berkembang menjadi identitas politik?
Pertanyaan ini penting, sebab gagasan tentang “bangsa terpilih” sering kali ditempatkan sebagai dasar pembenaran bagi Zionisme politik. Dalam pembacaan fundamentalis, dunia seolah-olah terbagi secara tegas menjadi dua: Israel sebagai bangsa pilihan dan bangsa-bangsa lain sebagai kelompok di luar pilihan tersebut.
Tetapi benarkah monoteisme dan gagasan tentang bangsa terpilih sejak awal sudah hadir dalam bentuk yang matang sebagaimana dipahami kemudian?
Jika kita membaca sejarah agama-agama Timur Tengah secara lebih kritis, jawabannya ternyata tidak sesederhana itu.
Dari Henoteisme Menuju Monoteisme
Ada anggapan bahwa monoteisme lahir bersamaan dengan Perjanjian Lama dan sejak awal menjadi ciri khas bangsa Israel. Namun, pembacaan historis terhadap teks-teks Bibel menunjukkan perkembangan yang jauh lebih kompleks.
Dua tradisi utama yang sering disebut sebagai Yahvis dan Elohis, misalnya, belum menunjukkan monoteisme absolut dalam pengertian yang kemudian berkembang. Yang tampak pada tahap awal lebih menyerupai penegasan superioritas Yahve atas tuhan-tuhan bangsa lain.
Bukankah dalam Kitab Keluaran terdapat perintah:
«“Kamu tidak mempunyai tuhan selain Aku.”
(Keluaran XX: 3)»
Kalimat itu dapat dibaca bukan semata-mata sebagai pernyataan filosofis bahwa tidak ada tuhan lain sama sekali, tetapi sebagai tuntutan agar Israel tidak menyembah tuhan selain Yahve.
Bahkan teks-teks Bibel sendiri masih mengenal keberadaan tuhan-tuhan bangsa lain. Kamos, misalnya, disebut sebagai tuhan orang Moab. Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran religius masyarakat Israel mengalami proses perkembangan yang panjang.
Terjemahan Bibel secara Oekumenik bahkan memberikan catatan yang menegaskan bahwa sejak lama di Israel terdapat kepercayaan mengenai keberadaan dan kekuasaan tuhan-tuhan lain.
Lalu, kapan monoteisme dalam pengertian yang benar-benar tegas muncul?
Perkembangannya terutama semakin kuat setelah masa pengasingan, khususnya melalui seruan para nabi. Rumusan teologis kemudian bergerak dari tuntutan agar Israel hanya menyembah Yahve menuju pernyataan yang lebih radikal:
«“Aku adalah Tuhan dan tidak ada yang lain.”
(Yesaya XLV: 22)»
Di sinilah terjadi perubahan penting: dari eksklusivitas penyembahan menuju afirmasi ontologis tentang keesaan Tuhan.
Pernyataan monoteisme yang tegas ini oleh penulis ditempatkan sekitar pertengahan abad VI SM, antara 550 dan 539 SM.
Maka muncul pertanyaan yang lebih mendasar:
Jika monoteisme berkembang melalui proses sejarah, mungkinkah gagasan tentang “bangsa terpilih” juga harus dibaca dalam konteks perkembangan sejarah itu, bukan sebagai doktrin politik yang sejak awal telah sempurna?
Monoteisme dan Perjumpaan Kebudayaan
Lebih jauh lagi, apakah monoteisme merupakan fenomena yang hanya lahir dari tradisi Israel?
Sejarah agama-agama Timur Tengah menunjukkan bahwa gagasan mengenai keesaan Tuhan muncul melalui proses panjang dalam berbagai kebudayaan.
Mesir memberikan salah satu contoh penting. Pada abad XIV SM, Fir'aun Akhenaton melakukan reformasi keagamaan yang sangat radikal dengan mengangkat Aten sebagai pusat pemujaan.
Mesopotamia pun menunjukkan perkembangan pemikiran keagamaan yang menarik. Dalam tradisi Babilonia, Marduk memperoleh kedudukan tertinggi, sementara berbagai tuhan dipahami dalam suatu hubungan yang semakin terintegrasi.
Sejarawan Albright melihat perkembangan tersebut sebagai bagian dari transformasi religius yang secara bertahap mendekati monoteisme. Dalam Hymne kepada Matahari, misalnya, terdapat gagasan bahwa banyak nama dan bentuk ilahi pada akhirnya menunjuk kepada satu realitas ketuhanan.
Dengan demikian, bukankah lebih tepat jika sejarah monoteisme dipahami sebagai perjalanan intelektual dan spiritual umat manusia yang panjang?
Bukannya sebagai hak eksklusif suatu bangsa?
Bahkan Gagasan tentang Manusia yang Menderita Bersifat Universal
Menariknya, perkembangan religius tersebut bukan hanya berkaitan dengan konsep Tuhan. Ia juga menyentuh pertanyaan tentang penderitaan manusia.
Dalam sastra Babilonia terdapat gambaran manusia saleh yang menderita, merasa ditinggalkan Tuhan, tetapi tetap berusaha mempertahankan kepercayaannya.
Gambaran tersebut mengingatkan kita kepada figur Ayub dalam tradisi Bibel.
Demikian pula, teks-teks Ugarit dari Ras Shamra memuat kisah tentang Danel, seorang tokoh yang mengalami penderitaan dan hukuman ilahi. Bahkan Yehezkiel menyebut Danel bersama Ayub dan Nuh sebagai figur yang dikenal karena kesalehannya.
Lalu, apa yang hendak dikatakan oleh semua kemiripan ini?
Barangkali bahwa pengalaman spiritual manusia tidak lahir dari satu bangsa saja.
Manusia di berbagai tempat menghadapi pertanyaan yang sama:
Mengapa orang yang benar harus menderita?
Mengapa Tuhan membiarkan kejahatan terjadi?
Apakah penderitaan memiliki makna?
Dan apakah manusia masih dapat berharap ketika segala sesuatu tampak runtuh?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih tua daripada batas-batas politik sebuah bangsa.
Eksodus: Sejarah atau Perumpamaan Spiritual?
Contoh lain yang menarik adalah kisah Keluaran atau Eksodus.
Mircea Eliade berpendapat bahwa penyeberangan Laut Merah tidak dapat begitu saja diperlakukan sebagai peristiwa sejarah yang dapat diverifikasi secara sederhana. Namun, apakah keterbatasan historis itu membuat kisah tersebut kehilangan arti?
Sama sekali tidak.
Justru di sinilah kekuatan mitos religius terlihat.
Eksodus menjadi simbol pembebasan manusia dari perbudakan. Ia bukan hanya kisah tentang perpindahan sekelompok manusia dari Mesir menuju tanah yang dijanjikan, tetapi juga sebuah gambaran spiritual tentang manusia yang keluar dari penindasan menuju kebebasan.
Sejak sekitar 621 SM, perayaan Eksodus semakin memperoleh posisi penting dalam perayaan Paskah. Kisah pembebasan itu kemudian menjadi bagian dari memori kolektif dan sejarah suci Yahudi.
Tetapi apakah pengalaman pembebasan semacam itu hanya dimiliki Israel?
Ternyata tidak.
Berbagai bangsa memiliki kisah tentang perjalanan panjang, penderitaan, pertolongan ilahi, dan pencarian tanah atau kehidupan yang lebih baik.
Bangsa Aztek, misalnya, memiliki kisah pengembaraan panjang menuju tempat yang dijanjikan oleh petunjuk ilahi. Suku-suku pengembara di berbagai wilayah Timur Tengah juga memiliki tradisi mengenai perjalanan dan pemberian tanah oleh Tuhan.
Dengan demikian, Eksodus dapat dipahami sebagai salah satu bentuk dari pengalaman religius manusia yang universal:
manusia ditindas, manusia berharap, manusia berjalan, dan manusia mencari kebebasan.
Mitos sebagai Bahasa Universal Manusia
Di sinilah kita menemukan fungsi penting mitos.
Mitos bukan sekadar cerita yang harus diuji hanya berdasarkan apakah setiap detailnya dapat diverifikasi secara historis. Mitos juga dapat menjadi bahasa simbolik untuk mengungkap pengalaman terdalam manusia.
Kisah banjir besar, misalnya, muncul dalam berbagai peradaban. Kita menemukannya dalam Gilgamesh di Mesopotamia hingga Popol Vuh dalam tradisi Maya.
Polanya hampir selalu mengandung gagasan yang serupa:
Manusia melakukan kesalahan.
Tuhan atau kekuatan ilahi memberikan hukuman.
Dunia lama berakhir.
Kemudian penciptaan dimulai kembali.
Bukankah pola semacam ini menunjukkan adanya pengalaman spiritual manusia yang melampaui batas etnis?
Demikian pula dengan himne-himne pujian kepada Tuhan. Setiap kebudayaan memiliki bentuknya sendiri dalam mengungkapkan rasa takjub terhadap penciptaan.
Dalam tradisi Inca, misalnya, terdapat pujian kepada Pachamama dan Wiraqocha:
«“Wiraqocha, akar dari wujud,
Tuhan selalu dekat,
yang menciptakan dengan berkata:
Jadilah pria,
Jadilah wanita.”»
Kemudian dilanjutkan dengan permohonan agar Tuhan menjaga ciptaan-Nya sehingga kehidupan dapat berkembang dan berjalan di jalan yang lurus.
Apakah pengalaman religius semacam ini dapat begitu saja dianggap tidak memiliki nilai hanya karena tidak lahir dari tradisi Israel?
Bahaya Etnosentrisme
Di titik ini muncul persoalan yang lebih besar.
Jika seseorang menjadikan satu tradisi sebagai ukuran mutlak untuk seluruh pengalaman religius manusia, bukankah ia sedang terjebak dalam etnosentrisme?
Mengapa pengalaman pencarian Tuhan dari bangsa lain harus dianggap lebih rendah?
Mengapa kisah pembebasan suatu bangsa harus dipandang universal, sementara kisah spiritual bangsa lain dianggap sekadar mitos lokal?
Bukankah setiap manusia, apa pun bangsanya, menghadapi persoalan yang sama tentang hidup, mati, penderitaan, kebebasan, keadilan, dan Tuhan?
Karena itu, persoalan “bangsa terpilih” menjadi semakin menarik.
Terpilih untuk apa?
Jika “terpilih” berarti menerima amanah moral dan spiritual, maka maknanya dapat dipahami sebagai tanggung jawab.
Tetapi jika “terpilih” diterjemahkan menjadi superioritas rasial, hak istimewa permanen, atau legitimasi politik atas bangsa lain, maka di situlah persoalan serius bermula.
Sebab pilihan ilahi, jika benar-benar berasal dari Tuhan, seharusnya melahirkan tanggung jawab—bukan kesombongan.
Dari Israel Menuju Universalitas
Dalam kerangka penulis, pesan kehidupan dan ajaran Yesus kemudian dipandang mencapai universalitas yang lebih luas.
Mengapa?
Karena visi tentang Kerajaan Tuhan tidak lagi dibatasi oleh kemenangan politik suatu bangsa. Ia justru berakar pada harapan orang-orang miskin dan tertindas.
Di sinilah terjadi pergeseran yang penting.
Agama tidak lagi semata-mata dibaca sebagai kisah tentang satu bangsa yang memperoleh kemenangan sejarah. Ia dibaca sebagai panggilan universal kepada manusia.
Bukankah ini juga yang membuat pesan spiritual menjadi hidup?
Sebab manusia tidak hanya membutuhkan identitas kolektif. Manusia juga membutuhkan makna yang dapat menembus batas bangsa, bahasa, dan zaman.
Monoteisme Bukan Milik Satu Bangsa
Menariknya, perjalanan menuju gagasan tentang Tuhan Yang Esa bahkan ditemukan dalam kebudayaan yang jauh dari Timur Tengah.
Tradisi Veda di India memberikan contoh yang sangat tua.
Rig-Veda memuat ungkapan:
«“Orang-orang bijak memberi lebih dari satu nama kepada wujud yang unik.”»
Dalam bagian lain dikatakan bahwa satu realitas ilahi menjadi sumber berbagai bentuk dan nama.
Gagasan tersebut kemudian diringkas dalam ungkapan:
«“Nama-namanya beragam, tetapi Dia adalah satu.”»
Teks-teks Veda tersebut berasal dari rentang waktu yang panjang, sekitar abad XVI hingga VI SM.
Jules Monchanin, dalam upayanya memahami dimensi spiritual Veda, menyebutnya sebagai bentuk “puisi liturgis yang mutlak”.
Sekali lagi kita dihadapkan pada pertanyaan yang sama:
Apakah pencarian manusia terhadap Tuhan Yang Esa benar-benar milik satu bangsa?
Atau justru merupakan bagian dari perjalanan panjang kesadaran manusia?
Refleksi Penutup
Maka, sebelum menjadikan konsep “bangsa terpilih” sebagai dasar politik, kita perlu berhenti sejenak dan bertanya:
Apa arti sebenarnya dari “terpilih”?
Apakah terpilih berarti lebih tinggi daripada yang lain?
Ataukah berarti memikul tanggung jawab yang lebih besar?
Apakah pilihan Tuhan merupakan lisensi untuk menguasai?
Ataukah amanah untuk menegakkan keadilan?
Jika sejarah agama-agama manusia memperlihatkan bahwa pencarian Tuhan, pengalaman penderitaan, kisah pembebasan, dan kerinduan terhadap kehidupan yang lebih baik ditemukan di berbagai peradaban, maka klaim eksklusivitas harus dibaca dengan sangat hati-hati.
Sebab bisa jadi yang universal bukanlah monopoli sebuah bangsa atas Tuhan, melainkan kerinduan seluruh manusia untuk menemukan Tuhan, kebebasan, keadilan, dan makna hidup.
Dan pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukanlah:
“Bangsa mana yang paling dipilih?”
Melainkan:
“Siapa yang paling sungguh-sungguh menjalankan amanah yang dipercayakan Tuhan kepadanya?”
0 komentar: