basmalah Pictures, Images and Photos
Mitos Bangsa Terpilih, Apakah hanya Yahudi? - Our Islamic Story

Postingan Popular Pekan ini

Mitos Bangsa Terpilih Bacaan Fundamentalis tentang Zionisme Politik «“Beginilah ...

Mitos Bangsa Terpilih, Apakah hanya Yahudi?

Mitos Bangsa
Terpilih


Bacaan Fundamentalis tentang Zionisme Politik

«“Beginilah firman Tuhan: Israel ialah anak-Ku, anak-Ku yang sulung.”
(Keluaran IV: 22)»

«“Penduduk dunia dapat dibagi antara Israel dan bangsa lain yang dianggap satu. Israel adalah bangsa yang terpilih: dogma pangkal.”
— Rabi Cohen, Le Talmud (Paris: Payot, 1986), hlm. 104.»

Bangsa Terpilih: Wahyu atau Konstruksi Sejarah?

Apa yang sebenarnya dimaksud dengan “bangsa terpilih”?

Apakah ia merupakan sebuah kenyataan sejarah yang dapat dibuktikan secara objektif, ataukah sebuah keyakinan teologis yang kemudian berkembang menjadi identitas politik?

Pertanyaan ini penting, sebab gagasan tentang “bangsa terpilih” sering kali ditempatkan sebagai dasar pembenaran bagi Zionisme politik. Dalam pembacaan fundamentalis, dunia seolah-olah terbagi secara tegas menjadi dua: Israel sebagai bangsa pilihan dan bangsa-bangsa lain sebagai kelompok di luar pilihan tersebut.

Tetapi benarkah monoteisme dan gagasan tentang bangsa terpilih sejak awal sudah hadir dalam bentuk yang matang sebagaimana dipahami kemudian?

Jika kita membaca sejarah agama-agama Timur Tengah secara lebih kritis, jawabannya ternyata tidak sesederhana itu.

Dari Henoteisme Menuju Monoteisme

Ada anggapan bahwa monoteisme lahir bersamaan dengan Perjanjian Lama dan sejak awal menjadi ciri khas bangsa Israel. Namun, pembacaan historis terhadap teks-teks Bibel menunjukkan perkembangan yang jauh lebih kompleks.

Dua tradisi utama yang sering disebut sebagai Yahvis dan Elohis, misalnya, belum menunjukkan monoteisme absolut dalam pengertian yang kemudian berkembang. Yang tampak pada tahap awal lebih menyerupai penegasan superioritas Yahve atas tuhan-tuhan bangsa lain.

Bukankah dalam Kitab Keluaran terdapat perintah:

«“Kamu tidak mempunyai tuhan selain Aku.”
(Keluaran XX: 3)»

Kalimat itu dapat dibaca bukan semata-mata sebagai pernyataan filosofis bahwa tidak ada tuhan lain sama sekali, tetapi sebagai tuntutan agar Israel tidak menyembah tuhan selain Yahve.

Bahkan teks-teks Bibel sendiri masih mengenal keberadaan tuhan-tuhan bangsa lain. Kamos, misalnya, disebut sebagai tuhan orang Moab. Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran religius masyarakat Israel mengalami proses perkembangan yang panjang.

Terjemahan Bibel secara Oekumenik bahkan memberikan catatan yang menegaskan bahwa sejak lama di Israel terdapat kepercayaan mengenai keberadaan dan kekuasaan tuhan-tuhan lain.

Lalu, kapan monoteisme dalam pengertian yang benar-benar tegas muncul?

Perkembangannya terutama semakin kuat setelah masa pengasingan, khususnya melalui seruan para nabi. Rumusan teologis kemudian bergerak dari tuntutan agar Israel hanya menyembah Yahve menuju pernyataan yang lebih radikal:

«“Aku adalah Tuhan dan tidak ada yang lain.”
(Yesaya XLV: 22)»

Di sinilah terjadi perubahan penting: dari eksklusivitas penyembahan menuju afirmasi ontologis tentang keesaan Tuhan.

Pernyataan monoteisme yang tegas ini oleh penulis ditempatkan sekitar pertengahan abad VI SM, antara 550 dan 539 SM.

Maka muncul pertanyaan yang lebih mendasar:

Jika monoteisme berkembang melalui proses sejarah, mungkinkah gagasan tentang “bangsa terpilih” juga harus dibaca dalam konteks perkembangan sejarah itu, bukan sebagai doktrin politik yang sejak awal telah sempurna?

Monoteisme dan Perjumpaan Kebudayaan

Lebih jauh lagi, apakah monoteisme merupakan fenomena yang hanya lahir dari tradisi Israel?

Sejarah agama-agama Timur Tengah menunjukkan bahwa gagasan mengenai keesaan Tuhan muncul melalui proses panjang dalam berbagai kebudayaan.

Mesir memberikan salah satu contoh penting. Pada abad XIV SM, Fir'aun Akhenaton melakukan reformasi keagamaan yang sangat radikal dengan mengangkat Aten sebagai pusat pemujaan.

Mesopotamia pun menunjukkan perkembangan pemikiran keagamaan yang menarik. Dalam tradisi Babilonia, Marduk memperoleh kedudukan tertinggi, sementara berbagai tuhan dipahami dalam suatu hubungan yang semakin terintegrasi.

Sejarawan Albright melihat perkembangan tersebut sebagai bagian dari transformasi religius yang secara bertahap mendekati monoteisme. Dalam Hymne kepada Matahari, misalnya, terdapat gagasan bahwa banyak nama dan bentuk ilahi pada akhirnya menunjuk kepada satu realitas ketuhanan.

Dengan demikian, bukankah lebih tepat jika sejarah monoteisme dipahami sebagai perjalanan intelektual dan spiritual umat manusia yang panjang?

Bukannya sebagai hak eksklusif suatu bangsa?

Bahkan Gagasan tentang Manusia yang Menderita Bersifat Universal

Menariknya, perkembangan religius tersebut bukan hanya berkaitan dengan konsep Tuhan. Ia juga menyentuh pertanyaan tentang penderitaan manusia.

Dalam sastra Babilonia terdapat gambaran manusia saleh yang menderita, merasa ditinggalkan Tuhan, tetapi tetap berusaha mempertahankan kepercayaannya.

Gambaran tersebut mengingatkan kita kepada figur Ayub dalam tradisi Bibel.

Demikian pula, teks-teks Ugarit dari Ras Shamra memuat kisah tentang Danel, seorang tokoh yang mengalami penderitaan dan hukuman ilahi. Bahkan Yehezkiel menyebut Danel bersama Ayub dan Nuh sebagai figur yang dikenal karena kesalehannya.

Lalu, apa yang hendak dikatakan oleh semua kemiripan ini?

Barangkali bahwa pengalaman spiritual manusia tidak lahir dari satu bangsa saja.

Manusia di berbagai tempat menghadapi pertanyaan yang sama:

Mengapa orang yang benar harus menderita?
Mengapa Tuhan membiarkan kejahatan terjadi?
Apakah penderitaan memiliki makna?
Dan apakah manusia masih dapat berharap ketika segala sesuatu tampak runtuh?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih tua daripada batas-batas politik sebuah bangsa.

Eksodus: Sejarah atau Perumpamaan Spiritual?

Contoh lain yang menarik adalah kisah Keluaran atau Eksodus.

Mircea Eliade berpendapat bahwa penyeberangan Laut Merah tidak dapat begitu saja diperlakukan sebagai peristiwa sejarah yang dapat diverifikasi secara sederhana. Namun, apakah keterbatasan historis itu membuat kisah tersebut kehilangan arti?

Sama sekali tidak.

Justru di sinilah kekuatan mitos religius terlihat.

Eksodus menjadi simbol pembebasan manusia dari perbudakan. Ia bukan hanya kisah tentang perpindahan sekelompok manusia dari Mesir menuju tanah yang dijanjikan, tetapi juga sebuah gambaran spiritual tentang manusia yang keluar dari penindasan menuju kebebasan.

Sejak sekitar 621 SM, perayaan Eksodus semakin memperoleh posisi penting dalam perayaan Paskah. Kisah pembebasan itu kemudian menjadi bagian dari memori kolektif dan sejarah suci Yahudi.

Tetapi apakah pengalaman pembebasan semacam itu hanya dimiliki Israel?

Ternyata tidak.

Berbagai bangsa memiliki kisah tentang perjalanan panjang, penderitaan, pertolongan ilahi, dan pencarian tanah atau kehidupan yang lebih baik.

Bangsa Aztek, misalnya, memiliki kisah pengembaraan panjang menuju tempat yang dijanjikan oleh petunjuk ilahi. Suku-suku pengembara di berbagai wilayah Timur Tengah juga memiliki tradisi mengenai perjalanan dan pemberian tanah oleh Tuhan.

Dengan demikian, Eksodus dapat dipahami sebagai salah satu bentuk dari pengalaman religius manusia yang universal:

manusia ditindas, manusia berharap, manusia berjalan, dan manusia mencari kebebasan.

Mitos sebagai Bahasa Universal Manusia

Di sinilah kita menemukan fungsi penting mitos.

Mitos bukan sekadar cerita yang harus diuji hanya berdasarkan apakah setiap detailnya dapat diverifikasi secara historis. Mitos juga dapat menjadi bahasa simbolik untuk mengungkap pengalaman terdalam manusia.

Kisah banjir besar, misalnya, muncul dalam berbagai peradaban. Kita menemukannya dalam Gilgamesh di Mesopotamia hingga Popol Vuh dalam tradisi Maya.

Polanya hampir selalu mengandung gagasan yang serupa:

Manusia melakukan kesalahan.
Tuhan atau kekuatan ilahi memberikan hukuman.
Dunia lama berakhir.
Kemudian penciptaan dimulai kembali.

Bukankah pola semacam ini menunjukkan adanya pengalaman spiritual manusia yang melampaui batas etnis?

Demikian pula dengan himne-himne pujian kepada Tuhan. Setiap kebudayaan memiliki bentuknya sendiri dalam mengungkapkan rasa takjub terhadap penciptaan.

Dalam tradisi Inca, misalnya, terdapat pujian kepada Pachamama dan Wiraqocha:

«“Wiraqocha, akar dari wujud,
Tuhan selalu dekat,
yang menciptakan dengan berkata:
Jadilah pria,
Jadilah wanita.”»

Kemudian dilanjutkan dengan permohonan agar Tuhan menjaga ciptaan-Nya sehingga kehidupan dapat berkembang dan berjalan di jalan yang lurus.

Apakah pengalaman religius semacam ini dapat begitu saja dianggap tidak memiliki nilai hanya karena tidak lahir dari tradisi Israel?

Bahaya Etnosentrisme

Di titik ini muncul persoalan yang lebih besar.

Jika seseorang menjadikan satu tradisi sebagai ukuran mutlak untuk seluruh pengalaman religius manusia, bukankah ia sedang terjebak dalam etnosentrisme?

Mengapa pengalaman pencarian Tuhan dari bangsa lain harus dianggap lebih rendah?

Mengapa kisah pembebasan suatu bangsa harus dipandang universal, sementara kisah spiritual bangsa lain dianggap sekadar mitos lokal?

Bukankah setiap manusia, apa pun bangsanya, menghadapi persoalan yang sama tentang hidup, mati, penderitaan, kebebasan, keadilan, dan Tuhan?

Karena itu, persoalan “bangsa terpilih” menjadi semakin menarik.

Terpilih untuk apa?

Jika “terpilih” berarti menerima amanah moral dan spiritual, maka maknanya dapat dipahami sebagai tanggung jawab.

Tetapi jika “terpilih” diterjemahkan menjadi superioritas rasial, hak istimewa permanen, atau legitimasi politik atas bangsa lain, maka di situlah persoalan serius bermula.

Sebab pilihan ilahi, jika benar-benar berasal dari Tuhan, seharusnya melahirkan tanggung jawab—bukan kesombongan.

Dari Israel Menuju Universalitas

Dalam kerangka penulis, pesan kehidupan dan ajaran Yesus kemudian dipandang mencapai universalitas yang lebih luas.

Mengapa?

Karena visi tentang Kerajaan Tuhan tidak lagi dibatasi oleh kemenangan politik suatu bangsa. Ia justru berakar pada harapan orang-orang miskin dan tertindas.

Di sinilah terjadi pergeseran yang penting.

Agama tidak lagi semata-mata dibaca sebagai kisah tentang satu bangsa yang memperoleh kemenangan sejarah. Ia dibaca sebagai panggilan universal kepada manusia.

Bukankah ini juga yang membuat pesan spiritual menjadi hidup?

Sebab manusia tidak hanya membutuhkan identitas kolektif. Manusia juga membutuhkan makna yang dapat menembus batas bangsa, bahasa, dan zaman.

Monoteisme Bukan Milik Satu Bangsa

Menariknya, perjalanan menuju gagasan tentang Tuhan Yang Esa bahkan ditemukan dalam kebudayaan yang jauh dari Timur Tengah.

Tradisi Veda di India memberikan contoh yang sangat tua.

Rig-Veda memuat ungkapan:

«“Orang-orang bijak memberi lebih dari satu nama kepada wujud yang unik.”»

Dalam bagian lain dikatakan bahwa satu realitas ilahi menjadi sumber berbagai bentuk dan nama.

Gagasan tersebut kemudian diringkas dalam ungkapan:

«“Nama-namanya beragam, tetapi Dia adalah satu.”»

Teks-teks Veda tersebut berasal dari rentang waktu yang panjang, sekitar abad XVI hingga VI SM.

Jules Monchanin, dalam upayanya memahami dimensi spiritual Veda, menyebutnya sebagai bentuk “puisi liturgis yang mutlak”.

Sekali lagi kita dihadapkan pada pertanyaan yang sama:

Apakah pencarian manusia terhadap Tuhan Yang Esa benar-benar milik satu bangsa?

Atau justru merupakan bagian dari perjalanan panjang kesadaran manusia?

Refleksi Penutup

Maka, sebelum menjadikan konsep “bangsa terpilih” sebagai dasar politik, kita perlu berhenti sejenak dan bertanya:

Apa arti sebenarnya dari “terpilih”?

Apakah terpilih berarti lebih tinggi daripada yang lain?

Ataukah berarti memikul tanggung jawab yang lebih besar?

Apakah pilihan Tuhan merupakan lisensi untuk menguasai?

Ataukah amanah untuk menegakkan keadilan?

Jika sejarah agama-agama manusia memperlihatkan bahwa pencarian Tuhan, pengalaman penderitaan, kisah pembebasan, dan kerinduan terhadap kehidupan yang lebih baik ditemukan di berbagai peradaban, maka klaim eksklusivitas harus dibaca dengan sangat hati-hati.

Sebab bisa jadi yang universal bukanlah monopoli sebuah bangsa atas Tuhan, melainkan kerinduan seluruh manusia untuk menemukan Tuhan, kebebasan, keadilan, dan makna hidup.

Dan pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukanlah:

“Bangsa mana yang paling dipilih?”

Melainkan:

“Siapa yang paling sungguh-sungguh menjalankan amanah yang dipercayakan Tuhan kepadanya?”


0 komentar:

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adam (5) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Akhirat (8) Al-Baqarah (1) Al-Qur'an (363) Al-Qur’an (75) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) An-Nadwi (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bahaya Kemunduran Umat Islam (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (53) Cerita kegagalan (1) cerpen Nabi (8) cerpen Nabi Musa (2) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) dakwah (19) Dakwah (36) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) ekonomi (3) Ekonomi (42) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) english (6) English (6) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fiqh (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (7) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) hikmah (1) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum (7) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) ikhtilaf (1) Ikhtilaf (9) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) Islam (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) kecerdasan (22) Kecerdasan (342) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Hadist (4) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) kisah para nabi dan (2) kisah para nabi dan rasul (61) kisah para Nabi dan Rasul (1) Kisah para nabi dan rasul (120) Kisah Para Nabi dan Rasul (577) kisah para nabi dan rasul. Nabi Daud (1) kisah para nabi dan rasul. nabi Musa (2) Kisah Penguasa (1) Kisah ulama (1) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) nabi adam (1) Nabi Adam (75) nabi Adam. Adam (1) Nabi Ayub (1) Nabi Daud (3) Nabi Ibrahim (3) Nabi Isa (2) nabi Isa. nabi ismail (1) Nabi Ismail (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Khidir (1) Nabi Musa (29) Nabi Nuh (6) Nabi Sulaiman (2) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (15) Namrudz (2) Nasrulloh Baksolahar (1) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) nusantara (11) Nusantara (323) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (799) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) politik (3) Politik (28) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rasulullah shalallahu alaihi wassalam (1) Rehat (493) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) Sahabat (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) Salimul Aqidah (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Serah Nabawiyah (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (338) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) sirah penguasa (1) Sirah penguasa (11) Sirah Penguasa (253) sirah Sahabat (2) Sirah Sahabat (174) Sirah Tabiin (43) Sirah ulama (36) Sirah Ulama (158) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tamim Ad Dari (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Wakaf (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)