basmalah Pictures, Images and Photos
Kisah Sapi Betina: Ketika Perintah yang Mudah Menjadi Sulit karena Hati yang Keras - Our Islamic Story

Kisah Sapi Betina: Ketika Perintah yang Mudah Menjadi Sulit karena Hati yang Keras ...

Kisah Sapi Betina: Ketika Perintah yang Mudah Menjadi Sulit karena Hati yang Keras

Kisah Sapi Betina: Ketika Perintah yang Mudah Menjadi Sulit karena Hati yang Keras


Ada satu kisah menarik di penghujung rangkaian pelajaran tentang Bani Israil dalam Surah Al-Baqarah.

Allah menyebutkannya bukan sekadar sebagai isyarat, tetapi sebagai sebuah kisah yang cukup panjang dan terperinci. Kisah itu adalah kisah sapi betina (al-baqarah).

Mengapa kisah ini diceritakan secara khusus?

Karena di dalamnya terdapat gambaran yang sangat jelas tentang watak sebuah kaum ketika hati mereka tidak tunduk kepada Allah: suka berdebat, keras kepala, banyak bertanya bukan untuk memahami, mencari-cari alasan, menunda pelaksanaan perintah, dan mempersulit sesuatu yang sebenarnya mudah.

Dan yang lebih penting, kisah ini bukan sekadar cerita tentang seekor sapi.

Ia adalah cerita tentang hati manusia.

Mengapa sebuah perintah yang sederhana bisa menjadi begitu rumit?

Mengapa seseorang terus bertanya, padahal jawabannya sudah cukup?

Mengapa semakin banyak penjelasan diberikan, semakin sempit ruang geraknya?

Dan yang paling mengkhawatirkan:

Apakah mungkin seseorang menyaksikan begitu banyak tanda kekuasaan Allah, tetapi hatinya tetap tidak berubah?

Al-Qur'an mengajak kita melihat jawabannya melalui kisah ini.

---

Ketika Perintah Allah Datang

Allah berfirman:

«وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تَذْبَحُوا بَقَرَةً ۖ

“Dan ingatlah ketika Musa berkata kepada kaumnya, ‘Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina.’”
(QS. Al-Baqarah: 67)»

Coba perhatikan kalimat Nabi Musa.

Tidak panjang.

Tidak rumit.

Tidak membutuhkan perdebatan.

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu...”

Selesai.

Bukankah seharusnya orang beriman cukup mendengar perintah Allah lalu melaksanakannya?

Apalagi yang menyampaikan perintah itu adalah Nabi Musa—nabi yang telah menjadi perantara keselamatan mereka dari penindasan Fir'aun dengan izin Allah.

Musa tidak berkata, “Ini pendapatku.”

Tidak pula berkata, “Menurut pemikiranku, sebaiknya kalian menyembelih sapi.”

Ia menegaskan:

“Allah menyuruh kamu.”

Namun bagaimana jawaban mereka?

«قَالُوا أَتَتَّخِذُنَا هُزُوًا

“Mereka berkata, ‘Apakah kamu hendak menjadikan kami bahan ejekan?’”»

Sungguh mengejutkan.

Perintah Allah belum dilaksanakan, tetapi mereka justru menuduh nabi mereka sedang mempermainkan mereka.

Di sinilah kita melihat persoalan pertama:

Masalah mereka bukan kurangnya informasi. Masalah mereka adalah sikap hati terhadap perintah Allah.

---

Ketika Hati Tidak Siap Tunduk

Musa menjawab:

«قَالَ أَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ

“Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang jahil.”»

Perhatikan kelembutan jawaban Musa.

Ia tidak membalas dengan kemarahan.

Ia tidak menghina mereka sebagaimana mereka telah menuduhnya.

Ia justru berlindung kepada Allah dari menjadi orang jahil.

Ada pelajaran besar bagi seorang pendidik dan dai di sini.

Ketika berhadapan dengan orang yang keras kepala, jangan biarkan kebodohan orang lain menyeret kita menjadi kasar.

Musa tetap menjaga adab.

Namun apakah mereka kemudian segera melaksanakan perintah?

Belum.

Mereka justru bertanya lagi:

«قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّنْ لَنَا مَا هِيَ

“Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami sapi betina apakah itu.”»

Perhatikan ucapan mereka:

“Tuhanmu.”

Seolah-olah Allah hanya Tuhan Musa, bukan Tuhan mereka.

Seolah-olah mereka sedang berhadapan dengan Musa, bukan sedang berhadapan dengan perintah Allah.

Padahal Musa sudah menyampaikan dengan sangat jelas:

“Allah menyuruh kamu.”

Bukankah seharusnya cukup?

Namun ketika hati tidak siap tunduk, pertanyaan bisa berubah fungsi.

Bukan lagi untuk mencari pemahaman.

Tetapi untuk menunda ketaatan.

---

Pertanyaan yang Mempersempit

Musa menjawab:

«إِنَّهَا بَقَرَةٌ لَا فَارِضٌ وَلَا بِكْرٌ عَوَانٌ بَيْنَ ذَٰلِكَ

“Sesungguhnya sapi betina itu adalah sapi betina yang tidak tua dan tidak muda, pertengahan antara itu.”»

Sebenarnya, sekarang urusan mereka menjadi lebih jelas.

Sapi betina yang mana?

Yang berusia pertengahan.

Tidak tua.

Tidak muda.

Mudah, bukan?

Seandainya mereka berhenti sampai di sini, mereka dapat mencari sapi dengan kriteria tersebut dan segera melaksanakan perintah.

Tetapi mereka kembali bertanya:

«قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّنْ لَنَا مَا لَوْنُهَا

“Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami apa warnanya.”»

Sekarang, perhatikan apa yang terjadi.

Awalnya, pilihan mereka luas.

Kemudian mereka sendiri meminta penjelasan tambahan.

Dan setiap tambahan penjelasan membuat pilihan semakin sempit.

Musa menjawab:

«إِنَّهَا بَقَرَةٌ صَفْرَاءُ فَاقِعٌ لَوْنُهَا تَسُرُّ النَّاظِرِينَ

“Sesungguhnya sapi betina itu berwarna kuning tua, yang menyenangkan orang-orang yang memandangnya.”»

Sekarang kriterianya semakin khusus.

Tidak hanya berusia pertengahan.

Tetapi juga harus berwarna kuning tua dan menarik ketika dipandang.

Namun apakah mereka berhenti?

Belum.

---

Ketika Kerewelan Mengubah Kelapangan Menjadi Kesempitan

Mereka berkata:

«قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّنْ لَنَا مَا هِيَ

“Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami bagaimana hakikat sapi betina itu.”»

Lalu mereka memberikan alasan:

«إِنَّ الْبَقَرَ تَشَابَهَ عَلَيْنَا

“Sesungguhnya sapi itu masih samar bagi kami.”»

Mereka bahkan menambahkan:

«وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ لَمُهْتَدُونَ

“Dan sesungguhnya kami, insya Allah, akan mendapat petunjuk.”»

Akhirnya, datanglah penjelasan yang semakin mempersempit pilihan:

«إِنَّهَا بَقَرَةٌ لَا ذَلُولٌ تُثِيرُ الْأَرْضَ وَلَا تَسْقِي الْحَرْثَ مُسَلَّمَةٌ لَا شِيَةَ فِيهَا

“Sesungguhnya sapi betina itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak pula untuk mengairi tanaman, tidak bercacat, dan tidak ada belangnya.”»

Sekarang kita bisa melihat bagaimana proses itu terjadi.

Perintah awalnya sederhana.

Tetapi karena terlalu banyak bertanya dengan sikap yang tidak tepat, kriterianya semakin banyak.

Semakin mereka memperumit, semakin sempit pilihan mereka.

Ini bukan karena Allah sejak awal bermaksud menyulitkan mereka.

Justru merekalah yang mempersempit ruang yang semula luas.

Dan bukankah ini juga bisa terjadi dalam kehidupan kita?

Allah memberikan jalan yang jelas.

Tetapi kita mencari-cari celah.

Allah memberikan kemudahan.

Kita mencari alasan.

Allah memberikan petunjuk.

Kita menuntut pengecualian.

Allah memerintahkan.

Kita bertanya:

“Kenapa harus begitu?”

Bertanya untuk memahami tentu berbeda dengan bertanya untuk menghindari ketaatan.

---

“Sekarang Baru Jelas!”

Setelah semua kriteria diberikan, mereka berkata:

«قَالُوا الْآنَ جِئْتَ بِالْحَقِّ

“Sekarang barulah kamu menerangkan hakikat sapi betina yang sebenarnya.”»

Sekarang?

Seolah-olah penjelasan Musa sebelumnya belum benar.

Seolah-olah baru setelah mereka memperoleh seluruh detail itu mereka mengakui kebenaran.

Akhirnya:

«فَذَبَحُوهَا وَمَا كَادُوا يَفْعَلُونَ

“Kemudian mereka menyembelihnya dan hampir saja mereka tidak melaksanakan perintah itu.”»

Perhatikan kalimat terakhir ini.

“Hampir saja mereka tidak melaksanakannya.”

Bahkan setelah semua penjelasan diberikan, setelah kriteria diperinci, setelah ruang pilihan dipersempit, mereka masih hampir tidak melaksanakannya.

Bukankah ini menunjukkan bahwa masalah sebenarnya bukan pada kurangnya penjelasan?

Masalahnya adalah kerasnya hati.

---

Ternyata Ada Perkara yang Lebih Besar

Namun mengapa Allah memerintahkan mereka menyembelih sapi?

Di sinilah kita menemukan bagian kedua dari kisah ini.

Allah berfirman:

«وَإِذْ قَتَلْتُمْ نَفْسًا فَادَّارَأْتُمْ فِيهَا

“Dan ingatlah ketika kamu membunuh seorang manusia lalu kamu saling tuduh-menuduh tentang itu.”»

Ada seseorang yang terbunuh.

Pembunuhnya tidak diketahui.

Mereka saling melempar tuduhan.

Tidak ada saksi yang mampu menyelesaikan perkara.

Lalu Allah berfirman:

«وَاللَّهُ مُخْرِجٌ مَا كُنْتُمْ تَكْتُمُونَ

“Dan Allah hendak menyingkapkan apa yang selama ini kamu sembunyikan.”»

Di sinilah rahasia perintah itu terungkap.

Allah memerintahkan:

«فَقُلْنَا اضْرِبُوهُ بِبَعْضِهَا

“Lalu Kami berfirman, ‘Pukullah mayat itu dengan sebagian anggota sapi betina itu.’”»

Kemudian Allah berfirman:

«كَذَٰلِكَ يُحْيِي اللَّهُ الْمَوْتَىٰ

“Demikianlah Allah menghidupkan orang-orang yang telah mati.”»

Apa yang terjadi?

Mayat itu hidup kembali dengan izin Allah dan menjadi sarana untuk menyingkap kebenaran perkara pembunuhan tersebut.

Betapa mengejutkan!

Mereka sebelumnya memperdebatkan seekor sapi.

Mereka menganggap perintah itu aneh.

Mereka hampir tidak melaksanakannya.

Ternyata di balik perintah yang mereka anggap sederhana itu terdapat tanda kekuasaan Allah yang sangat besar.

---

Allah Tidak Membutuhkan Sebab, tetapi Manusia Membutuhkan Pelajaran

Lalu mungkin muncul pertanyaan:

Bukankah Allah Mahakuasa?

Bukankah Allah bisa menghidupkan orang mati tanpa sapi?

Tentu.

Allah tidak membutuhkan sapi itu.

Allah tidak membutuhkan bagian tubuh sapi itu.

Allah tidak membutuhkan sebab apa pun.

Tetapi manusia membutuhkan tanda.

Manusia membutuhkan sesuatu yang dapat dilihat untuk membantunya memahami sesuatu yang tidak dapat dilihat.

Karena itu Allah berfirman:

«وَيُرِيكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

“Dan Dia memperlihatkan kepadamu tanda-tanda kekuasaan-Nya agar kamu mengerti.”»

Perhatikan ujung ayatnya:

“Agar kamu mengerti.”

Bukan sekadar agar mereka melihat keajaiban.

Tetapi agar mereka menggunakan akal untuk mengambil pelajaran.

Mukjizat bukan tontonan.

Tanda kekuasaan Allah bukan hiburan.

Ia adalah panggilan untuk berpikir, tunduk, dan memperbaiki hati.

---

Dari Kematian Menuju Kebangkitan

Kisah ini juga membawa kita kepada hakikat yang lebih besar:

Allah berkuasa menghidupkan orang yang telah mati.

Bagi manusia, jarak antara kehidupan dan kematian tampak sangat jauh.

Yang hidup bergerak.

Yang mati diam.

Yang hidup berbicara.

Yang mati tidak menjawab.

Yang hidup memiliki kesadaran.

Yang mati tidak menunjukkan kehidupan.

Lalu manusia bertanya:

Bagaimana mungkin yang telah mati dapat hidup kembali?

Jawabannya sederhana:

Bagi Allah, itu mudah.

Manusia mungkin tidak memahami hakikat bagaimana kehidupan dikembalikan.

Kita mungkin tidak mengetahui prosesnya.

Tetapi ketidaktahuan kita tentang cara Allah melakukan sesuatu tidak berarti Allah tidak mampu melakukannya.

Bukankah banyak sekali hal yang kita lihat setiap hari tetapi tidak kita kuasai hakikatnya?

Kita melihat kehidupan.

Tetapi siapa yang menciptakannya?

Kita melihat kematian.

Tetapi siapa yang menentukan waktunya?

Kita melihat manusia lahir.

Tetapi siapa yang memberikan ruh?

Kita melihat manusia mati.

Tetapi siapa yang mampu menghidupkannya kembali?

Al-Qur'an membawa kita dari sesuatu yang dapat kita lihat menuju sesuatu yang harus kita imani.

Kematian bukan akhir.

Ada kebangkitan.

Ada pertanggungjawaban.

Ada kehidupan setelah kehidupan dunia.

Dan Allah memperlihatkan tanda-tanda kekuasaan-Nya agar kita menggunakan akal dan hati.

---

Namun Mengapa Hati Mereka Tetap Keras?

Seharusnya setelah menyaksikan peristiwa sebesar itu, hati mereka menjadi lembut.

Seharusnya mereka menangis.

Seharusnya mereka tunduk.

Seharusnya mereka berkata:

“Ya Allah, kami telah melihat tanda kekuasaan-Mu. Ampunilah kami.”

Tetapi ternyata tidak demikian.

Justru setelah kisah itu, Allah memberikan penilaian yang sangat keras:

«ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُم مِّن بَعْدِ ذَٰلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً

“Kemudian setelah itu, hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi.”
(QS. Al-Baqarah: 74)»

Di sinilah klimaks kisah ini.

Ternyata inti kisah sapi betina bukanlah sapi.

Intinya adalah hati.

Bukan sekadar bagaimana mereka menyembelih sapi.

Tetapi bagaimana mereka memperlakukan perintah Allah.

Bukan sekadar bagaimana mayat dihidupkan.

Tetapi bagaimana hati mereka tetap mati setelah menyaksikan tanda kekuasaan Allah.

---

Lebih Keras daripada Batu

Allah tidak sekadar mengatakan bahwa hati mereka keras.

Allah mengatakan:

“Seperti batu, bahkan lebih keras lagi.”

Mengapa batu dijadikan perbandingan?

Karena batu yang tampaknya keras pun ternyata memiliki kelembutan tertentu di hadapan kekuasaan Allah.

Allah berfirman:

«وَإِنَّ مِنَ الْحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنْهُ الْأَنْهَارُ

“Padahal di antara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai darinya.”»

Ada batu yang mengeluarkan sungai.

Ada batu yang terbelah lalu memancarkan mata air.

Ada batu yang jatuh karena takut kepada Allah.

Lalu bagaimana dengan hati manusia?

Hati yang seharusnya lebih peka daripada batu justru bisa menjadi lebih keras daripada batu.

Bukankah ini sebuah peringatan yang menggetarkan?

Batu saja dapat mengalirkan air.

Batu saja dapat pecah.

Batu saja dapat jatuh karena takut kepada Allah.

Tetapi hati manusia bisa mendengar ayat-ayat Allah dan tidak berubah.

Bisa melihat tanda-tanda kekuasaan-Nya dan tetap membangkang.

Bisa menyaksikan mukjizat dan tetap keras.

Bisa mengetahui kebenaran tetapi memilih untuk menolaknya.

---

Masalah Terbesar Bukan Tidak Tahu, tetapi Tidak Mau Tunduk

Di sinilah kita perlu berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri.

Apakah masalah terbesar manusia adalah tidak mengetahui kebenaran?

Belum tentu.

Bani Israil mengetahui banyak hal.

Mereka melihat mukjizat.

Mereka menyaksikan pertolongan Allah.

Mereka menerima wahyu.

Mereka memiliki nabi.

Namun pengetahuan itu tidak otomatis membuat hati tunduk.

Mengapa?

Karena ilmu tanpa ketundukan dapat menjadi beban, bukan cahaya.

Maka pertanyaan yang lebih penting bukan:

“Berapa banyak yang sudah kita ketahui?”

Tetapi:

“Berapa banyak dari yang kita ketahui yang benar-benar membuat kita tunduk kepada Allah?”

Kita bisa membaca banyak ayat.

Kita bisa mendengar banyak kajian.

Kita bisa mengetahui banyak hadis.

Kita bisa memahami banyak ilmu.

Tetapi apakah hati menjadi lebih lembut?

Apakah dosa semakin kita tinggalkan?

Apakah ketaatan semakin mudah kita lakukan?

Apakah kita semakin takut kepada Allah?

Jika tidak, jangan-jangan masalah kita bukan kekurangan ilmu.

Jangan-jangan hati kita mulai mengeras.

---

Jangan Sampai Kita Mengulangi Kesalahan Mereka

Kisah Bani Israil bukan sekadar kisah tentang mereka.

Al-Qur'an tidak menceritakannya hanya agar kita mengetahui sejarah.

Al-Qur'an mengajak kita bercermin.

Jangan sampai ketika Allah memberikan perintah yang jelas, kita justru mencari-cari alasan.

Jangan sampai kita bertanya bukan untuk memahami, tetapi untuk menghindar.

Jangan sampai kita mempersempit sesuatu yang Allah lapangkan.

Jangan sampai kita menunda ketaatan sampai akhirnya hati terbiasa menolak.

Dan jangan sampai kita menyaksikan begitu banyak nikmat dan tanda kekuasaan Allah, tetapi hati kita tidak juga berubah.

Sebab hati memiliki penyakit yang sangat berbahaya:

Ia dapat terbiasa menolak sampai penolakan terasa normal.

Awalnya berat melakukan dosa.

Lama-lama terbiasa.

Awalnya malu melanggar.

Lama-lama tidak merasa apa-apa.

Awalnya ayat membuat takut.

Lama-lama ayat hanya terdengar.

Awalnya nasihat menyentuh hati.

Lama-lama hanya lewat di telinga.

Itulah proses kerasnya hati.

---

Dari Sapi Betina Menuju Cermin Hati

Maka kisah sapi betina sebenarnya adalah sebuah cermin.

Allah seakan-akan bertanya kepada kita:

Ketika Aku memerintahkan sesuatu, bagaimana sikapmu?

Apakah engkau segera berkata:

“Kami dengar dan kami taat”?

Ataukah engkau berkata:

“Mengapa?”

Lalu ketika dijelaskan, engkau bertanya lagi.

Ketika dijelaskan lagi, engkau mencari pengecualian.

Ketika diperjelas, engkau meminta detail tambahan.

Hingga akhirnya perintah yang awalnya mudah menjadi begitu sulit.

Dan mungkin kita tidak sadar:

bukan perintah Allah yang semakin sulit; hati kitalah yang semakin berat untuk taat.

---

Penutup: Jangan Biarkan Hati Menjadi Lebih Keras daripada Batu

Kisah ini berakhir bukan dengan kebanggaan Bani Israil karena mereka berhasil menyelesaikan sebuah perintah.

Kisah ini justru berakhir dengan peringatan:

«وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

“Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.”»

Betapa kuat penutupnya.

Allah mengetahui semuanya.

Allah mengetahui siapa yang taat dan siapa yang berkelit.

Allah mengetahui pertanyaan yang lahir dari keinginan memahami dan pertanyaan yang sengaja digunakan untuk menghindari perintah.

Allah mengetahui apa yang tampak dan apa yang tersembunyi di dalam hati.

Karena itu, jangan sampai kita sibuk mengkritik Bani Israil, tetapi tidak pernah bertanya tentang diri sendiri.

Jangan sampai kita berkata:

“Betapa kerasnya hati mereka!”

sementara hati kita sendiri tidak bergetar ketika ayat Allah dibacakan.

Jangan sampai kita heran mengapa mereka terus bertanya, sementara kita sendiri terus mencari alasan untuk menunda ketaatan.

Jangan sampai kita kagum melihat mayat yang dihidupkan kembali, tetapi lupa bahwa yang lebih penting adalah:

Apakah hati kita masih hidup?

Sebab hati yang hidup akan segera tunduk ketika kebenaran datang.

Hati yang hidup akan takut ketika mengingat Allah.

Hati yang hidup akan segera kembali ketika melakukan kesalahan.

Sedangkan hati yang keras dapat melihat tanda-tanda, mendengar nasihat, bahkan mengetahui kebenaran—namun tetap memilih untuk membangkang.

Maka kisah sapi betina meninggalkan satu pertanyaan besar untuk kita:

Ketika Allah memerintahkan sesuatu yang jelas kepada kita, apakah kita segera taat, atau justru sibuk mencari alasan?

Dan ketika Allah memperlihatkan tanda-tanda kekuasaan-Nya, apakah hati kita semakin lembut?

Ataukah justru semakin keras?

Jangan sampai batu lebih mudah tunduk kepada kebesaran Allah daripada hati kita.

Jangan sampai hati kita menjadi lebih keras daripada batu.

0 komentar:

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adam (5) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Al-Baqarah (1) Al-Qur'an (362) Al-Qur’an (55) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) An-Nadwi (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bahaya Kemunduran Umat Islam (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (53) Cerita kegagalan (1) cerpen Nabi (8) cerpen Nabi Musa (2) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) dakwah (14) Dakwah (16) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) ekonomi (2) Ekonomi (8) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) english (6) English (6) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fiqh (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (7) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) hikmah (1) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) Islam (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) kecerdasan (20) Kecerdasan (331) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Hadist (4) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) kisah para nabi dan (2) kisah para nabi dan rasul (58) kisah para Nabi dan Rasul (1) Kisah para nabi dan rasul (113) Kisah Para Nabi dan Rasul (577) kisah para nabi dan rasul. Nabi Daud (1) kisah para nabi dan rasul. nabi Musa (2) Kisah Penguasa (1) Kisah ulama (1) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) nabi adam (1) Nabi Adam (75) nabi Adam. Adam (1) Nabi Ayub (1) Nabi Daud (3) Nabi Ibrahim (3) Nabi Isa (2) nabi Isa. nabi ismail (1) Nabi Ismail (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Khidir (1) Nabi Musa (29) Nabi Nuh (6) Nabi Sulaiman (2) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (15) Namrudz (2) Nasrulloh Baksolahar (1) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) nusantara (7) Nusantara (295) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (710) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rasulullah shalallahu alaihi wassalam (1) Rehat (493) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) Sahabat (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) Salimul Aqidah (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Serah Nabawiyah (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (321) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah penguasa (11) Sirah Penguasa (248) sirah Sahabat (2) Sirah Sahabat (173) Sirah Tabiin (43) Sirah ulama (36) Sirah Ulama (158) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tamim Ad Dari (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Wakaf (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)