Mengapa seseorang yang telah menyaksikan begitu banyak tanda kebesaran Allah masih meminta bukti yang lebih nyata?
Mengapa berbagai mukjizat, pertolongan, ampunan, dan nikmat yang telah diterimanya belum juga cukup untuk membuat hatinya tunduk?
Pertanyaan-pertanyaan semacam ini membawa kita kepada salah satu episode penting dalam perjalanan Bani Israel bersama Nabi Musa a.s.
Al-Qur'an menggambarkan bagaimana sebagian dari mereka tidak mau beriman kepada Musa sebelum melihat Allah secara terang-terangan. Mereka meminta sesuatu yang berada di luar batas kemampuan manusia untuk menyaksikannya.
Allah SWT berfirman:
«“Dan (ingatlah) ketika kamu berkata, ‘Wahai Musa! Kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan jelas.’ Maka petir menyambar kamu, sedang kamu menyaksikan. Kemudian Kami membangkitkan kamu setelah kamu mati agar kamu bersyukur. Dan Kami menaungi kamu dengan awan dan Kami menurunkan kepadamu manna dan salwa. Makanlah dari makanan yang baik-baik yang telah Kami berikan kepadamu. Dan tidaklah mereka menzalimi Kami, tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri.”
(QS. Al-Baqarah: 55–57)»
Apa yang sebenarnya terjadi?
Mengapa setelah menyaksikan berbagai tanda kekuasaan Allah, mereka masih menuntut bukti dengan cara seperti itu?
Di sinilah kita perlu melihat persoalan ini bukan hanya sebagai kisah tentang sebuah permintaan, tetapi sebagai gambaran tentang kondisi jiwa manusia ketika fitrahnya telah lama dibentuk oleh penindasan, materialisme, dan ketergantungan kepada sesuatu yang dapat ditangkap oleh pancaindra.
---
Ketika Sesuatu Harus Selalu Terlihat untuk Dipercaya
Bayangkan seseorang yang telah hidup begitu lama dalam lingkungan yang hanya mengakui sesuatu jika dapat dilihat, disentuh, dan diukur.
Bagaimana cara berpikir seperti itu memengaruhi jiwanya?
Ia akan sulit mempercayai sesuatu yang berada di luar jangkauan pancaindra.
Ia membutuhkan bukti yang kasatmata.
Ia meminta tanda yang dapat disentuh.
Ia ingin melihat terlebih dahulu sebelum bersedia percaya.
Dalam konteks inilah permintaan sebagian Bani Israel kepada Nabi Musa menjadi sangat penting untuk direnungkan.
Mereka berkata:
«“Kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan jelas.”»
Bukankah kalimat ini menunjukkan persoalan yang lebih dalam daripada sekadar permintaan bukti?
Seolah-olah mereka berkata:
“Kami tidak cukup hanya dengan penjelasan.”
“Kami tidak cukup dengan mukjizat yang telah kami lihat.”
“Kami tidak cukup dengan pengalaman pertolongan Allah.”
“Kami harus melihat dengan mata kepala sendiri.”
Di sinilah tampak bagaimana cara berpikir materialistik dapat memengaruhi hubungan manusia dengan perkara gaib.
Bukan berarti penggunaan akal dan pancaindra itu salah.
Tidak.
Islam justru mengajarkan manusia untuk menggunakan akal, mengamati alam, dan mengambil pelajaran dari berbagai tanda kekuasaan Allah.
Masalahnya muncul ketika manusia menjadikan pancaindra sebagai satu-satunya ukuran kebenaran, lalu menolak segala sesuatu yang berada di luar jangkauannya.
Padahal, apakah segala sesuatu yang benar harus selalu dapat dilihat?
Bukankah akal, ruh, cinta, kesadaran, dan banyak realitas lainnya tidak dapat disamakan dengan benda yang dapat disentuh?
Lebih-lebih lagi perkara Allah dan alam gaib tidak dapat diukur dengan standar material semata.
---
Apakah Mereka Benar-Benar Tidak Tahu?
Namun, ada pertanyaan lain yang lebih tajam:
Apakah mereka benar-benar tidak mengetahui?
Ataukah mereka sebenarnya mengetahui, tetapi sengaja mengajukan tuntutan yang sulit untuk memenuhi?
Kita tidak boleh gegabah menyederhanakan keadaan hati seseorang. Tetapi dari rangkaian sikap mereka dalam Al-Qur'an, tampak adanya kecenderungan untuk banyak membantah, meminta bukti, dan menunda ketaatan.
Maka, tuntutan tersebut dapat dibaca sebagai sebuah persoalan kejiwaan:
ketika seseorang tidak ingin tunduk, ia dapat terus-menerus menemukan alasan untuk menunda ketundukan.
Hari ini ia meminta satu bukti.
Setelah bukti diberikan, ia meminta bukti berikutnya.
Mukjizat telah datang, tetapi hati belum tunduk.
Nikmat telah diberikan, tetapi syukur belum tumbuh.
Kesempatan telah diberikan, tetapi ketaatan masih ditunda.
Bukankah ini juga menjadi peringatan bagi kita?
Jangan-jangan persoalannya bukan kekurangan bukti.
Jangan-jangan persoalannya adalah hati yang tidak mau tunduk kepada konsekuensi dari bukti tersebut.
---
Dari Kehinaan Menuju Mentalitas Budak
Lalu, mengapa kondisi kejiwaan semacam itu dapat terbentuk?
Di sinilah pengalaman panjang mereka di bawah kekuasaan Fir'aun menjadi penting.
Mereka telah mengalami penindasan yang panjang.
Mereka hidup di bawah kekuasaan penguasa yang zalim.
Mereka mengalami penghinaan, tekanan, dan berbagai bentuk pemaksaan.
Apa yang terjadi pada sebuah masyarakat jika pengalaman seperti itu berlangsung sangat lama?
Penindasan tidak hanya melukai tubuh.
Ia juga dapat melukai cara manusia memandang dirinya sendiri.
Kehinaan yang berlangsung terus-menerus dapat merusak rasa percaya diri, mengikis keberanian, dan membentuk pola hubungan yang tidak sehat dengan kekuasaan.
Seseorang dapat terbiasa tunduk ketika diancam.
Tetapi ketika ancaman itu hilang, ia justru dapat berubah menjadi keras kepala.
Ketika memperoleh sedikit kekuatan, ia dapat berubah menjadi sombong.
Seolah-olah dalam dirinya terbentuk pola:
takut ketika lemah, membangkang ketika aman, dan sombong ketika kuat.
Inilah salah satu pelajaran penting yang dapat kita renungkan dari kisah Bani Israel.
Penindasan yang panjang bukan hanya menghasilkan korban.
Jika tidak dipulihkan, ia dapat meninggalkan warisan psikologis dan sosial yang memengaruhi generasi berikutnya.
Karena itu, membebaskan suatu bangsa dari tirani tidak cukup hanya dengan membebaskan wilayahnya.
Yang lebih sulit adalah membebaskan jiwanya.
Membebaskan cara berpikirnya.
Membebaskan keberaniannya.
Membangun kembali kehormatannya.
Mengajarinya untuk hidup sebagai manusia merdeka yang bertanggung jawab, bukan sebagai manusia yang hanya bergerak ketika diperintah atau diancam.
---
Ketika Penindasan Mengubah Cara Manusia Merespons Kekuasaan
Bukankah ini sebuah pelajaran yang sangat relevan?
Seseorang yang terlalu lama hidup di bawah penguasa zalim dapat mengalami kerusakan dalam hubungan dengan kekuasaan.
Ketika penguasa mengancam, ia tunduk.
Ketika penguasa pergi, ia belum tentu otomatis menjadi manusia yang matang.
Bahkan, ia dapat membawa mentalitas lama ke dalam kehidupan barunya.
Karena itu, pembebasan sejati membutuhkan lebih dari sekadar pergantian penguasa.
Yang harus dibangun kembali adalah manusia.
Manusia yang berani.
Manusia yang bertanggung jawab.
Manusia yang memiliki prinsip.
Manusia yang mampu taat kepada Allah tanpa harus terlebih dahulu dipaksa oleh ancaman manusia.
Di sinilah tauhid memiliki fungsi pembebasan yang sangat besar.
Jika seseorang benar-benar menyadari bahwa hanya Allah yang memiliki kekuasaan mutlak, maka ia tidak akan menjadikan manusia sebagai pusat ketakutannya.
Ia tidak tunduk kepada manusia secara mutlak.
Ia tidak menjadikan penguasa sebagai sumber keselamatan.
Ia tidak menggantungkan kehormatannya kepada kekuasaan dunia.
Ia tunduk kepada Allah, tetapi justru karena itu ia memiliki keberanian untuk tidak menjadi budak manusia.
---
Mereka Meminta Melihat Allah, Lalu Petir Menyambar
Ketika tuntutan itu mencapai batasnya, Allah memberikan balasan yang sangat keras.
«“Maka petir menyambar kamu, sedang kamu menyaksikan.”»
Mereka meminta untuk melihat Allah secara terang-terangan.
Namun, mereka justru berhadapan dengan salah satu tanda kekuasaan Allah yang dahsyat.
Ini menjadi pelajaran penting:
Manusia tidak boleh menentukan sendiri bagaimana Allah harus membuktikan kekuasaan-Nya.
Allah tidak berada di bawah standar pembuktian yang dibuat manusia.
Manusia adalah makhluk.
Allah adalah Rabb.
Manusia memiliki keterbatasan.
Allah Mahasempurna.
Karena itu, iman bukanlah tuntutan agar manusia melihat seluruh realitas gaib dengan matanya.
Iman justru berarti mempercayai apa yang diberitakan Allah melalui wahyu yang benar, sambil menggunakan akal secara proporsional.
---
Tetapi Hukuman Bukan Akhir dari Segalanya
Namun, apakah Allah membinasakan mereka dan mengakhiri semuanya?
Tidak.
Di sinilah kita menemukan sisi lain yang sangat menggetarkan.
Allah berfirman:
«“Kemudian Kami membangkitkan kamu setelah kamu mati agar kamu bersyukur.”
(QS. Al-Baqarah: 56)»
Mereka dihukum.
Tetapi mereka diberi kesempatan hidup kembali.
Mengapa?
Agar mereka bersyukur.
Ini menunjukkan bahwa hukuman Allah tidak selalu berarti berakhirnya kesempatan.
Terkadang, hukuman menjadi peringatan.
Terkadang, manusia dipertemukan dengan akibat perbuatannya agar ia sadar.
Terkadang, setelah mengalami guncangan hebat, manusia justru diberi kesempatan untuk kembali.
Maka pertanyaannya:
Apa yang kita lakukan setelah Allah memberi kita kesempatan kedua?
Apakah kita berubah?
Ataukah kita kembali kepada kebiasaan lama?
---
Nikmat yang Datang Setelah Hukuman
Belum selesai.
Setelah itu, Allah mengingatkan mereka kembali dengan berbagai nikmat:
«“Dan Kami menaungi kamu dengan awan...”»
Bayangkan perjalanan mereka di padang pasir.
Panas.
Kering.
Keras.
Tidak mudah.
Namun Allah memberikan perlindungan.
Awan menaungi mereka dari panas yang menyengat.
Kemudian Allah memberikan makanan:
«“Dan Kami menurunkan kepadamu manna dan salwa.”»
Manna dan salwa menjadi bagian dari rezeki yang Allah berikan kepada mereka.
Mereka tidak dibiarkan menghadapi perjalanan itu sendirian.
Mereka diberi perlindungan.
Mereka diberi makanan.
Mereka diberi kesempatan.
Mereka diberi kehidupan.
Lalu, apa yang seharusnya muncul dari semua itu?
Satu kata:
syukur.
Allah bahkan berfirman:
«“Makanlah dari makanan yang baik-baik yang telah Kami berikan kepadamu.”»
Perhatikan kata-katanya:
“Yang telah Kami berikan kepadamu.”
Artinya, manusia menikmati rezeki, tetapi jangan sampai lupa kepada Sang Pemberi rezeki.
Manusia menikmati perlindungan, tetapi jangan sampai lupa kepada Sang Pelindung.
Manusia menikmati kehidupan, tetapi jangan sampai lupa kepada Sang Pemberi kehidupan.
---
Setelah Begitu Banyak Nikmat, Apakah Mereka Bersyukur?
Sekarang mari kita berhenti sejenak.
Bayangkan jika kita berada di posisi mereka.
Kita telah diselamatkan.
Kita telah dibebaskan dari penindasan.
Kita telah menyaksikan berbagai tanda kekuasaan Allah.
Kita telah memperoleh perlindungan.
Kita telah mendapatkan makanan.
Kita bahkan telah diberi kesempatan hidup setelah mengalami hukuman.
Apakah semua itu cukup untuk membuat kita bersyukur?
Seharusnya iya.
Namun, Al-Qur'an menutup rangkaian ayat ini dengan pernyataan yang sangat tajam:
«“Dan tidaklah mereka menzalimi Kami, tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri.”
(QS. Al-Baqarah: 57)»
Mengapa Allah menegaskan hal ini?
Karena kemaksiatan manusia tidak mengurangi kekuasaan Allah sedikit pun.
Kekufuran manusia tidak merugikan Allah.
Pembangkangan manusia tidak mengurangi kerajaan-Nya.
Yang dirugikan adalah manusia itu sendiri.
Allah tidak membutuhkan syukur manusia.
Manusialah yang membutuhkan syukur.
Allah tidak membutuhkan ketaatan manusia.
Manusialah yang membutuhkan ketaatan.
Allah tidak membutuhkan iman manusia.
Manusialah yang membutuhkan iman untuk keselamatan dirinya.
Maka ketika seseorang kufur setelah menerima nikmat, sesungguhnya ia tidak sedang menghukum Allah.
Ia sedang menghukum dirinya sendiri.
---
Jangan Sampai Nikmat Hanya Mengubah Kenyamanan, Bukan Hati
Di sinilah kisah tersebut menjadi sangat dekat dengan kehidupan kita.
Berapa banyak nikmat yang telah kita terima?
Kesehatan.
Keluarga.
Ilmu.
Pekerjaan.
Makanan.
Tempat tinggal.
Keamanan.
Kesempatan hidup.
Bahkan kesempatan untuk membaca Al-Qur'an dan mengenal Allah.
Lalu, apakah semua itu membuat kita semakin bersyukur?
Ataukah nikmat hanya membuat kita semakin nyaman?
Ini pertanyaan yang perlu kita ajukan kepada diri sendiri.
Sebab, masalah manusia terkadang bukan karena kekurangan nikmat.
Justru karena terlalu banyak nikmat tetapi terlalu sedikit kesadaran.
Ketika mendapatkan kesulitan, kita meminta pertolongan Allah.
Ketika pertolongan datang, kita kembali lupa.
Ketika terdesak, kita berdoa.
Ketika keadaan membaik, kita kembali sibuk dengan dunia.
Bukankah pola seperti ini sangat mirip dengan penyakit jiwa yang sedang dibongkar oleh kisah tersebut?
---
Dari Bani Israel kepada Diri Kita
Karena itu, kisah ini tidak seharusnya membuat kita sibuk menunjuk:
“Lihatlah betapa keras kepala Bani Israel!”
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
“Jangan-jangan ada bagian dari sikap mereka yang hidup dalam diri kita?”
Ketika Allah memberikan petunjuk, apakah kita langsung tunduk?
Ataukah kita meminta bukti tambahan karena sebenarnya kita belum siap menjalankan konsekuensinya?
Ketika mendapatkan nikmat, apakah kita bersyukur?
Ataukah kita justru menganggapnya sebagai sesuatu yang memang sudah seharusnya kita terima?
Ketika mengalami kesulitan, apakah kita bersabar?
Ataukah kita baru mau taat ketika berada dalam tekanan?
Dan ketika memperoleh kekuatan, apakah kita semakin rendah hati?
Ataukah justru menjadi sombong?
Inilah pertanyaan yang jauh lebih penting daripada sekadar memahami kisah sejarah.
---
Fitrah yang Harus Dipulihkan
Kisah ini juga mengajarkan bahwa kerusakan manusia tidak selalu tampak dalam bentuk kejahatan yang besar.
Kadang-kadang ia bermula dari cara berpikir.
Dari kebiasaan mempertanyakan kebenaran bukan untuk mencari petunjuk, tetapi untuk menghindari ketaatan.
Dari kecenderungan hanya mempercayai sesuatu yang dapat dilihat.
Dari kebiasaan membantah.
Dari ketergantungan kepada ancaman.
Dari hilangnya rasa syukur.
Dari kesombongan ketika memperoleh kekuatan.
Semua itu perlahan-lahan dapat mengeraskan hati.
Karena itu, pembinaan manusia tidak cukup dengan memberikan pengetahuan.
Yang harus dibangun adalah fitrah yang sehat.
Fitrah yang mengenal Rabb-nya.
Fitrah yang mampu menerima kebenaran.
Fitrah yang bersyukur ketika diberi nikmat.
Fitrah yang bersabar ketika diuji.
Fitrah yang tidak menjadi budak manusia.
Dan yang paling penting, fitrah yang mampu berkata:
“Aku beriman kepada Allah meskipun tidak semua perkara gaib dapat kulihat dengan mataku.”
---
Nikmat atau Ujian?
Pada akhirnya, kisah ini membawa kita kepada sebuah pertanyaan yang lebih dalam:
Apakah nikmat selalu berarti Allah sedang memuliakan kita?
Belum tentu.
Nikmat juga bisa menjadi ujian.
Demikian pula hukuman tidak selalu berarti akhir dari segalanya.
Ia dapat menjadi peringatan agar manusia kembali.
Bani Israel diberi hukuman.
Kemudian diberi kehidupan.
Diberi perlindungan.
Diberi makanan.
Diberi kesempatan.
Namun semua itu tetap menjadi ujian:
Apakah mereka akan bersyukur?
Demikian pula kehidupan kita.
Kesehatan adalah ujian.
Kekayaan adalah ujian.
Jabatan adalah ujian.
Ilmu adalah ujian.
Kekuasaan adalah ujian.
Bahkan kesulitan pun adalah ujian.
Pertanyaannya bukan hanya:
“Apa yang Allah berikan kepada kita?”
Tetapi:
“Apa yang kita lakukan terhadap apa yang Allah berikan?”
---
Jangan Menunggu Azab untuk Belajar Bersyukur
Maka, pelajaran terakhir dari ayat ini sangat sederhana tetapi mendalam:
Jangan menunggu kehilangan untuk menyadari nikmat.
Jangan menunggu sakit untuk menghargai kesehatan.
Jangan menunggu kehilangan kebebasan untuk menghargai kemerdekaan.
Jangan menunggu rezeki menyempit untuk menghargai kelapangan.
Jangan menunggu hati mengeras untuk kembali kepada Al-Qur'an.
Dan jangan menunggu datangnya hukuman untuk belajar bersyukur.
Sebab Allah telah memberikan terlalu banyak tanda.
Terlalu banyak nikmat.
Terlalu banyak kesempatan.
Terlalu banyak jalan untuk kembali.
Maka, ketika kita belum mampu melihat seluruh perkara gaib dengan mata, jangan menjadikan keterbatasan penglihatan sebagai alasan untuk menolak kebenaran.
Gunakan akal.
Gunakan hati.
Renungkan wahyu.
Perhatikan tanda-tanda kekuasaan Allah.
Lalu tundukkan diri.
Sebab pada akhirnya, persoalan iman bukan sekadar:
“Apakah aku sudah melihat?”
Tetapi:
“Apakah setelah melihat tanda-tanda-Nya, aku bersedia tunduk?”
Dan jangan lupa penutup ayat itu:
«“Dan tidaklah mereka menzalimi Kami, tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri.”»
Sebuah peringatan yang sangat jelas:
Allah tidak kehilangan apa pun ketika manusia membangkang. Manusialah yang kehilangan ketika ia berpaling dari Allah.
0 komentar: