Memperbaiki Interaksi dengan Al-Qur’an
Apakah Al-Qur’an Benar-Benar Mengubah Kita?
Sekarang mari kita bertanya kepada diri sendiri:
Apa yang sebenarnya terjadi pada diri kita ketika membaca Al-Qur’an?
Apakah kita hanya menyelesaikan halaman demi halaman?
Apakah kita sekadar mengejar target tilawah?
Apakah perhatian kita berhenti pada kelancaran membaca, makhraj, dan hukum-hukum tajwid?
Ataukah ayat-ayat Allah benar-benar masuk ke dalam hati, mengguncang kesadaran, memperbaiki cara berpikir, lalu mengubah perilaku kita?
Pertanyaan ini penting. Sebab Al-Qur’an bukan sekadar kitab yang dibaca dengan lisan. Ia adalah wahyu yang diturunkan untuk menghidupkan hati, menambah iman, membimbing manusia, dan mengarahkan kehidupannya menuju jalan Allah.
Allah berfirman:
«“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakal.”
(QS. Al-Anfal: 2)»
Perhatikan urutannya.
Nama Allah disebut, hati mereka bergetar.
Ayat-ayat-Nya dibacakan, iman mereka bertambah.
Kemudian kepada Allah mereka bertawakal.
Dengan demikian, interaksi dengan Al-Qur’an seharusnya menghasilkan perubahan batin. Membaca Al-Qur’an bukan sekadar aktivitas lisan, tetapi perjalanan hati menuju Allah.
---
Al-Qur’an yang Menggetarkan Hati
Mengapa sebagian orang membaca Al-Qur’an lalu hatinya berubah, sementara sebagian lainnya membaca ayat yang sama tetapi hampir tidak merasakan apa-apa?
Bukankah Al-Qur’annya sama?
Ayatnya sama.
Kitabnya sama.
Wahyu yang dibaca sama.
Lalu apa yang berbeda?
Salah satunya adalah cara hati berinteraksi dengan kalam Allah.
Allah menggambarkan pengaruh Al-Qur’an:
«“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al-Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang. Gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka ketika mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah; dengan kitab itu Dia memberi petunjuk siapa yang Dia kehendaki.”
(QS. Az-Zumar: 23)»
Bahkan Allah memberikan perumpamaan yang lebih dahsyat:
«“Kalau sekiranya Kami menurunkan Al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah-belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia agar mereka berpikir.”
(QS. Al-Hasyr: 21)»
Bayangkan.
Gunung yang begitu kokoh digambarkan akan tunduk dan terpecah apabila menerima Al-Qur’an dengan kesadaran penuh terhadap kebesaran Allah.
Lalu bagaimana dengan hati manusia?
Bukankah hati manusia jauh lebih lembut daripada gunung?
Jika demikian, persoalannya bukan apakah Al-Qur’an memiliki kekuatan untuk mengubah kita. Al-Qur’an memiliki kekuatan itu.
Pertanyaannya adalah:
Seberapa terbuka hati kita ketika berhadapan dengannya?
---
Satu Ayat yang Benar-Benar Dihidupkan
Bayangkan kita memiliki sebuah kabel listrik yang tersambung dengan sumber energi yang sangat besar.
Apa yang terjadi ketika alirannya tersambung?
Energi mengalir.
Lampu menyala.
Kekuatan muncul.
Tetapi bagaimana jika kabel itu terputus?
Sumber energinya tetap ada, tetapi tidak ada aliran yang sampai kepada kita.
Demikian pula Al-Qur’an.
Sumber petunjuk itu sempurna.
Kalam Allah tidak pernah kehilangan kekuatannya.
Namun, hati manusia bisa menjadi seperti saluran yang terputus.
Karena itu, memperbaiki hubungan dengan Al-Qur’an berarti memperbaiki saluran hati agar kembali menerima aliran petunjuknya.
Bahkan jika kita hanya benar-benar memahami dan menghayati satu ayat, kemudian ayat itu kita ulang-ulang hingga meresap ke dalam jiwa, pengaruhnya dapat jauh lebih besar daripada membaca banyak ayat tanpa menghadirkan hati.
Al-Qur’an mengupas persoalan keimanan dari berbagai sisi. Ia memberikan argumentasi, peringatan, kisah, perumpamaan, janji, ancaman, dan berbagai tanda kekuasaan Allah.
Semakin seseorang membacanya dengan kesadaran dan tadabbur, semakin banyak pula pintu keimanan yang terbuka.
---
Al-Qur’an Menjawab Pertanyaan: Untuk Apa Kita Hidup?
Ada satu pertanyaan yang sering kita hindari:
Untuk apa sebenarnya kita hidup?
Kita bekerja.
Kita belajar.
Kita membangun keluarga.
Kita mengejar karier.
Kita mengumpulkan harta.
Kita membangun berbagai cita-cita.
Tetapi untuk apa semua itu?
Al-Qur’an memberikan jawaban yang sangat jelas:
«“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
(QS. Adz-Dzariyat: 56)»
Ayat ini mengembalikan seluruh aktivitas manusia kepada satu pusat:
Allah.
Maka Al-Qur’an tidak hanya memberitahu kita apa yang harus dipercayai. Ia juga mengajarkan bagaimana menjalani kehidupan berdasarkan keimanan tersebut.
Bagaimana kita bersikap ketika miskin?
Bagaimana ketika sakit?
Bagaimana ketika menghadapi kesulitan?
Bagaimana ketika terdesak?
Bagaimana ketika berhadapan dengan musuh?
Bagaimana ketika memperoleh nikmat?
Bagaimana ketika melakukan kesalahan?
Al-Qur’an memberikan jawabannya melalui kisah para nabi dan doa-doa mereka.
---
Ketika Kita Membutuhkan Pertolongan
Nabi Musa a.s. pernah berada dalam keadaan sangat membutuhkan.
Beliau berdoa:
«“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan suatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.”
(QS. Al-Qashash: 24)»
Apa yang diajarkan ayat ini kepada kita?
Ketika kebutuhan menghimpit, jangan biarkan kebutuhan itu membawa kita menjauh dari Allah.
Justru kebutuhan seharusnya membawa kita lebih dekat kepada-Nya.
---
Ketika Kita Ditimpa Penyakit
Nabi Ayyub a.s. mengajarkan adab yang luar biasa ketika menghadapi penderitaan:
«“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit, dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.”
(QS. Al-Anbiya: 83)»
Perhatikan.
Ayyub mengadukan keadaannya kepada Allah, tetapi tetap menjaga adab kepada-Nya.
Ia menyebut penderitaannya, tetapi yang lebih dahulu ia hadirkan adalah rahmat Allah.
Inilah pendidikan Al-Qur’an:
Ketika sakit, jangan hanya melihat penyakit.
Lihatlah Allah di balik ujian itu.
---
Ketika Kita Terperangkap dalam Kegelapan
Nabi Yunus a.s. mengalami keadaan yang jauh lebih berat. Ia berada dalam kegelapan yang bertumpuk.
Namun dari sana lahir sebuah doa:
«“Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim.”
(QS. Al-Anbiya: 87)»
Allah kemudian berfirman:
«“Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari kedukaan. Dan demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman.”
(QS. Al-Anbiya: 88)»
Ayat ini tidak hanya menceritakan keselamatan Yunus.
Ayat ini juga memberikan harapan kepada kita:
Jika kita berada dalam kegelapan, jangan berhenti memanggil Allah.
---
Ketika Berhadapan dengan Musuh
Al-Qur’an juga mengajarkan bagaimana orang beriman menghadapi ancaman.
Ketika Thalut dan pasukannya berhadapan dengan Jalut dan tentaranya, mereka berdoa:
«“Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran kepada kami, kokohkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir.”
(QS. Al-Baqarah: 250)»
Mereka tidak hanya meminta kemenangan.
Mereka meminta kesabaran dan keteguhan terlebih dahulu.
Mengapa?
Karena kemenangan tanpa keteguhan dapat menjadi bencana, sedangkan keteguhan akan membuat seseorang tetap berada di jalan Allah bahkan ketika hasil belum terlihat.
---
Ketika Kita Mendapat Nikmat
Al-Qur’an juga mengajari kita bagaimana merespons nikmat.
Allah mengabadikan doa seorang manusia yang telah mencapai usia matang:
«“Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan agar aku dapat berbuat amal saleh yang Engkau ridai; berilah kebaikan kepadaku dengan memberi kebaikan kepada anak cucuku. Sungguh, aku bertobat kepada-Mu dan sungguh, aku termasuk orang-orang yang berserah diri.”
(QS. Al-Ahqaf: 15)»
Perhatikan.
Ketika memperoleh nikmat, Al-Qur’an tidak mengajarkan kita untuk menjadi sombong.
Justru kita diajarkan berdoa:
“Ya Allah, ajarkan aku bersyukur.”
Sebab nikmat yang tidak melahirkan syukur dapat berubah menjadi fitnah.
---
Al-Qur’an Mengajarkan Kita untuk Tidak Berputus Asa
Ada masa ketika seseorang merasa telah terlalu jauh.
Dosa menumpuk.
Kesalahan bertambah.
Masa lalu terasa begitu gelap.
Lalu setan membisikkan:
“Sudah terlambat. Tidak ada lagi jalan kembali.”
Benarkah?
Al-Qur’an datang mematahkan keputusasaan itu:
«“Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.’”
(QS. Az-Zumar: 53)»
Betapa luasnya rahmat Allah.
Karena itu, Al-Qur’an bukan hanya kitab yang memperingatkan manusia.
Ia juga menyelamatkan manusia dari keputusasaan.
Ia menumbuhkan ketenangan.
Ia menumbuhkan harapan.
Ia mengajarkan optimisme kepada Allah.
---
Al-Qur’an: Bekal Perjalanan Para Aktivis Dakwah
Lalu bagaimana dengan orang yang bergerak dalam dakwah?
Apa bekal terpentingnya?
Ilmu tentu penting.
Kemampuan berbicara penting.
Pengalaman penting.
Strategi penting.
Jaringan juga penting.
Tetapi ada satu bekal yang tidak boleh ditinggalkan:
Al-Qur’an.
Dari Al-Qur’an seorang aktivis dakwah belajar bagaimana para rasul berdakwah.
Ia belajar bagaimana menghadapi penolakan.
Ia belajar bagaimana menghadapi penghinaan.
Ia belajar bagaimana bersabar ketika kaumnya tidak menerima kebenaran.
Ia belajar bagaimana tetap teguh ketika jalan dakwah terasa panjang.
Ia belajar bahwa tugas seorang dai adalah menyampaikan dan berusaha, sementara hidayah berada di tangan Allah.
Dengan Al-Qur’an, seorang aktivis dakwah bukan hanya memperoleh materi dakwah, tetapi juga memperoleh jiwa dakwah.
Hafalan ayat pun memiliki manfaat yang besar.
Ketika membicarakan suatu persoalan, ayat yang telah dihafal dapat menjadi dasar dan penguat pembicaraan.
Namun jangan sampai terjadi kesalahan mendasar:
kita menghafal ayat untuk memenangkan pembicaraan, tetapi lupa membiarkan ayat itu memenangkan hati kita sendiri.
Itulah sebabnya interaksi dengan Al-Qur’an harus dimulai dari diri sendiri.
Sebelum mengajak orang lain berubah, biarkan Al-Qur’an terlebih dahulu mengubah kita.
---
Aplikasi: Bagaimana Memperbaiki Interaksi dengan Al-Qur’an?
Lalu, apa yang harus kita lakukan?
Tidak cukup mengatakan, “Saya ingin lebih dekat dengan Al-Qur’an.”
Kita perlu mengubahnya menjadi kebiasaan nyata.
1. Bacalah dengan tadabbur
Jangan hanya bertanya:
“Berapa halaman yang sudah saya baca?”
Sesekali tanyakan:
“Apa yang Allah ingin ubah dalam diri saya melalui ayat ini?”
Jika satu ayat belum kita pahami dan hayati, tidak mengapa mengulanginya.
Bahkan terdapat riwayat sahih bahwa Rasulullah saw. pernah melakukan shalat malam dengan mengulang satu ayat:
«“Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”
(QS. Al-Ma’idah: 118)»
Satu ayat.
Diulang.
Dihayati.
Dihidupkan dalam hati.
Bukankah ini menunjukkan bahwa ukuran interaksi dengan Al-Qur’an tidak selalu terletak pada seberapa banyak ayat yang selesai dibaca, tetapi juga pada seberapa dalam ayat itu mengubah diri kita?
---
2. Bacalah dengan semangat untuk tunduk
Jangan menjadikan Al-Qur’an sekadar objek pengetahuan.
Jangan hanya bertanya:
“Apa arti ayat ini?”
Tanyakan juga:
“Apa yang harus saya lakukan setelah mengetahui ayat ini?”
Allah berfirman:
«“Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sebelum azab datang kepadamu secara tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya.”
(QS. Az-Zumar: 55)»
Jadi tujuan membaca Al-Qur’an bukan sekadar mengetahui, tetapi mengikuti.
Bukan sekadar memahami, tetapi tunduk.
Bukan sekadar mengagumi ayat, tetapi merealisasikannya dalam kehidupan.
---
3. Jangan berhenti pada keindahan bacaan
Makhraj penting.
Tajwid penting.
Kelancaran membaca penting.
Keindahan suara juga merupakan sesuatu yang baik.
Tetapi jangan sampai seluruh perhatian kita berhenti pada aspek bacaan sehingga lupa kepada pesan yang sedang dibaca.
Apa gunanya bacaan semakin indah jika hati semakin jauh?
Apa gunanya suara semakin merdu jika perilaku tidak berubah?
Apa gunanya hafalan semakin banyak jika ayat-ayat tersebut tidak menjadi petunjuk dalam kehidupan?
Al-Qur’an diturunkan bukan hanya agar terdengar indah, tetapi agar hidup di dalam diri manusia.
---
4. Jadikan Al-Qur’an sebagai teman harian
Jangan biarkan hubungan dengan Al-Qur’an hanya muncul pada waktu-waktu tertentu.
Bacalah secara rutin.
Sedikit tetapi terus-menerus lebih baik daripada banyak tetapi terputus.
Mengapa?
Karena perjalanan hati membutuhkan bekal yang terus diperbarui.
Hari ini kita membaca satu ayat.
Besok kita membaca lagi.
Lusa kita kembali kepadanya.
Sedikit demi sedikit, ayat-ayat itu membentuk cara berpikir.
Kemudian membentuk cara merasa.
Lalu membentuk cara mengambil keputusan.
Akhirnya membentuk kehidupan.
---
5. Hafalkan semampunya
Menghafal Al-Qur’an juga merupakan bagian penting dari interaksi dengannya.
Hafalan membantu kita dalam shalat.
Membantu qiyamul lail.
Membantu tadabbur.
Membantu dakwah.
Bahkan ada keadaan tertentu ketika kita tidak dapat membuka mushaf, tetapi ayat yang telah kita hafalkan tetap dapat menemani kita.
Allah berfirman:
«“Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?”
(QS. Al-Qamar: 17)»
Pertanyaannya sekarang kembali kepada kita:
Apakah kita termasuk orang yang mengambil pelajaran?
---
Dari Membaca Menuju Perubahan
Pada akhirnya, memperbaiki interaksi dengan Al-Qur’an bukan sekadar memperbanyak tilawah.
Lebih jauh daripada itu, kita sedang berusaha mengubah hubungan kita dengan wahyu.
Dari membaca menuju memahami.
Dari memahami menuju menghayati.
Dari menghayati menuju mengamalkan.
Dari mengamalkan menuju mengajak orang lain kepada kebaikan.
Dan semuanya kembali kepada satu pertanyaan:
Apakah Al-Qur’an sudah benar-benar mengubah kita?
Jika kita sedang takut, apakah Al-Qur’an mengajarkan kita untuk kembali kepada Allah?
Jika kita sedang miskin, apakah Al-Qur’an mengajarkan kita untuk tetap berharap?
Jika kita sedang sakit, apakah Al-Qur’an mengajarkan kita untuk bersabar?
Jika kita sedang menghadapi musuh, apakah Al-Qur’an mengajarkan kita untuk memohon pertolongan dan keteguhan?
Jika kita mendapatkan nikmat, apakah Al-Qur’an membuat kita semakin bersyukur?
Jika kita melakukan dosa, apakah Al-Qur’an membawa kita kembali kepada Allah?
Dan jika kita sedang berdakwah, apakah Al-Qur’an membuat kita semakin sabar, lembut, teguh, dan ikhlas?
Jika jawabannya ya, berarti Al-Qur’an mulai hidup dalam diri kita.
Tetapi jika kita membaca Al-Qur’an setiap hari sementara hati tetap keras, kesombongan tetap tumbuh, dosa tetap dipelihara, dan perilaku tidak berubah, maka kita perlu berhenti sejenak dan bertanya:
Jangan-jangan selama ini yang bergerak hanya lisan kita, sementara hati kita belum benar-benar mendengarkan?
Karena Al-Qur’an bukan sekadar untuk dibaca.
Ia adalah petunjuk untuk diikuti.
Bukan sekadar untuk dihafal.
Ia adalah cahaya untuk menerangi jalan.
Bukan sekadar untuk didengar.
Ia adalah seruan untuk dijawab.
Maka mari kita kembali kepada Al-Qur’an.
Baca dengan hati.
Pahami dengan pikiran.
Renungkan dengan jiwa.
Amalkan dengan anggota badan.
Dan jadikan setiap ayat sebagai kesempatan untuk semakin dekat kepada Allah.
Sebab bisa jadi, bukan Al-Qur’an yang perlu kita cari.
Kitalah yang perlu memperbaiki cara kita datang kepadanya.
0 komentar: