Di Mana Wilayah Al-Qur’an dan Di Mana Wilayah Ilmu Pengetahuan?
Ketika berbicara tentang Al-Qur’an dan ilmu pengetahuan, sebuah pertanyaan mendasar perlu kita ajukan:
Apakah Al-Qur’an adalah kitab ilmu pengetahuan yang menjelaskan seluruh rincian alam semesta?
Jika jawabannya ya, kita harus bertanya lagi: apakah Al-Qur’an menjelaskan rumus-rumus fisika, rincian kimia, metode kedokteran, hukum astronomi, atau teori-teori tentang perkembangan masyarakat?
Tentu bukan itu tujuan utama Al-Qur’an.
Objek utama Al-Qur’an adalah manusia dan kehidupannya.
Al-Qur’an membentuk konsep dasar tentang kedudukan manusia di alam semesta, hubungan manusia dengan alam, hubungan alam dengan Penciptanya, serta hubungan manusia dengan Tuhannya. Dari konsep dasar tersebut, Al-Qur’an membangun sistem kehidupan yang memungkinkan manusia mengembangkan seluruh potensi yang dianugerahkan Allah kepadanya.
Dan salah satu potensi terbesar itu adalah akal.
Akal diberi ruang untuk berpikir, mengamati, bertanya, melakukan eksperimen, meneliti, menemukan, menguji, kemudian menyusun kesimpulan.
Tetapi apakah setiap kesimpulan manusia bersifat mutlak?
Tidak.
Kesimpulan ilmiah selalu berada dalam batas data, metode, instrumen, dan kondisi penelitian yang tersedia. Apa yang dianggap benar hari ini dapat diperbaiki, direvisi, bahkan ditinggalkan ketika ditemukan bukti atau metode baru.
Di sinilah kita perlu membedakan dua wilayah:
Al-Qur’an memberikan petunjuk final tentang hakikat-hakikat yang menjadi tujuan wahyu, sedangkan ilmu pengetahuan manusia bekerja melalui proses penelitian yang terus berkembang.
Al-Qur’an Membina Manusia, Bukan Menggantikan Laboratorium
Kalau demikian, apa sebenarnya yang menjadi wilayah kerja Al-Qur’an?
Manusia itu sendiri.
Al-Qur’an membentuk konsepsinya, keyakinannya, perasaannya, pemahamannya, perilakunya, amal perbuatannya, ikatan sosialnya, serta hubungan-hubungannya.
Sedangkan ilmu-ilmu empiris bekerja terutama untuk memahami alam material dengan berbagai sarana penelitian yang dimiliki manusia.
Fisika meneliti materi dan energi.
Kimia meneliti struktur dan perubahan materi.
Biologi meneliti kehidupan.
Astronomi meneliti benda-benda langit.
Ilmu sosial meneliti berbagai gejala masyarakat.
Lalu apa yang dilakukan Al-Qur’an?
Al-Qur’an membentuk manusia yang menggunakan semua ilmu tersebut.
Ia meluruskan fitrah manusia agar tidak menyimpang. Ia membangun sistem kehidupan agar manusia dapat menggunakan potensi yang dianugerahkan kepadanya. Ia memberikan gambaran umum tentang alam semesta, hubungan alam dengan Penciptanya, keserasian penciptaan, dan kedudukan manusia di dalamnya.
Setelah itu, manusia diberi ruang untuk melakukan penelitian.
Mengapa?
Karena mengetahui rincian alam merupakan bagian dari aktivitas manusia sebagai khalifah.
Dengan demikian, Al-Qur’an tidak perlu menjadi buku teks laboratorium.
Ia justru melakukan sesuatu yang lebih mendasar:
membentuk manusia yang mampu menggunakan laboratorium dengan benar.
Mengapa Al-Qur’an Tidak Perlu “Dibuktikan” oleh Teori yang Berubah?
Di sinilah kita menemukan sebuah kekeliruan yang sering terjadi.
Ada orang yang begitu bersemangat memuliakan Al-Qur’an sehingga berusaha menemukan seluruh teori kedokteran, kimia, astronomi, biologi, dan ilmu sosial di dalamnya.
Niatnya mungkin baik.
Tetapi kita perlu bertanya:
Apakah benar memuliakan Al-Qur’an berarti memasukkan semua teori ilmu pengetahuan ke dalamnya?
Justru sebaliknya.
Al-Qur’an adalah kitab yang sempurna dalam objek kajiannya. Objek tersebut bahkan lebih besar daripada objek ilmu-ilmu empiris.
Mengapa?
Karena ilmu pengetahuan diteliti oleh manusia, sementara Al-Qur’an membina manusia yang melakukan penelitian itu.
Penelitian, eksperimen, dan praktikum merupakan aktivitas akal manusia.
Al-Qur’an membina akalnya.
Al-Qur’an membina nuraninya.
Al-Qur’an membina kepribadiannya.
Al-Qur’an membina masyarakatnya.
Setelah manusia dibentuk dengan konsepsi dan nilai yang benar, ia diberi kebebasan untuk melakukan penelitian: mencoba, menemukan, salah, memperbaiki, dan menemukan kembali.
Dengan demikian, Al-Qur’an tidak menggantikan aktivitas ilmiah.
Al-Qur’an memberikan neraca agar aktivitas manusia tidak kehilangan arah.
Hakikat Wahyu dan Kesimpulan Ilmiah
Sekarang kita sampai pada persoalan yang lebih penting.
Bagaimana hubungan antara hakikat yang disampaikan Al-Qur’an dengan kesimpulan yang diperoleh ilmu pengetahuan?
Kita harus membedakan keduanya.
Hakikat wahyu yang benar-benar ditegaskan oleh Al-Qur’an bersifat pasti dalam konteks yang dimaksudkan oleh wahyu. Adapun kesimpulan penelitian manusia selalu memiliki batas.
Ia bergantung pada:
- data yang tersedia,
- metode penelitian,
- instrumen yang digunakan,
- kondisi eksperimen,
- kemampuan manusia,
- serta interpretasi terhadap data tersebut.
Karena itu, ketika sebuah teori ilmiah berubah, Al-Qur’an tidak ikut berubah.
Yang berubah adalah pemahaman manusia terhadap alam.
Maka secara metodologis kita perlu berhati-hati:
jangan menjadikan teori yang belum final sebagai penafsir final terhadap wahyu.
Sebab jika teori itu berubah, apakah kita akan mengatakan bahwa Al-Qur’an juga berubah?
Tentu tidak.
Yang berubah adalah teori manusia.
Tiga Kesalahan dalam Menundukkan Al-Qur’an kepada Teori
Mengaitkan Al-Qur’an dengan teori ilmiah yang terus berubah dapat melahirkan setidaknya tiga persoalan.
Pertama: Menjadikan ilmu sebagai imam dan Al-Qur’an sebagai makmum
Ada kecenderungan sebagian orang merasa perlu membuktikan kebenaran Al-Qur’an melalui ilmu pengetahuan.
Seolah-olah ilmu adalah hakim, sedangkan Al-Qur’an adalah terdakwa yang harus menunggu keputusan ilmu.
Bukankah ini justru membalik posisi?
Ilmu pengetahuan adalah hasil kerja manusia.
Ia berkembang.
Ia melakukan koreksi terhadap dirinya sendiri.
Apa yang diyakini hari ini dapat berubah esok hari.
Sementara Al-Qur’an tidak membutuhkan teori manusia untuk menjadi benar.
Ilmu dapat membantu manusia memahami tanda-tanda Allah, tetapi ilmu bukan hakim atas wahyu.
Kedua: Tidak memahami fungsi Al-Qur’an
Kesalahan kedua adalah menganggap Al-Qur’an sebagai ensiklopedia seluruh pengetahuan material.
Padahal fungsi utama Al-Qur’an adalah membimbing manusia.
Al-Qur’an memberikan prinsip-prinsip yang memungkinkan manusia hidup selaras dengan fitrahnya dan dengan sunnatullah di alam.
Ia tidak memberikan seluruh rincian hukum alam dalam bentuk buku teks.
Manusia diperintahkan untuk mengamati, meneliti, melakukan eksperimen, dan menggunakan akalnya.
Dengan demikian, akal bukan sekadar wadah yang menerima pengetahuan secara pasif.
Akal adalah alat yang harus bekerja.
Ketiga: Memaksakan tafsir agar mengikuti teori yang sedang populer
Kesalahan ketiga lebih berbahaya.
Sebuah teori baru muncul.
Kemudian seseorang mencari ayat yang dianggap cocok.
Setelah menemukan kemiripan, ia berkata:
“Inilah yang dimaksud Al-Qur’an!”
Beberapa tahun kemudian teori tersebut direvisi.
Lalu muncul teori baru.
Ayat yang sama kembali ditafsirkan sesuai teori baru.
Jika hal ini terus dilakukan, bukankah yang sebenarnya berubah bukan Al-Qur’an, melainkan tafsir manusia yang terus mengejar perubahan teori?
Karena itu, kita harus berhati-hati terhadap penakwilan yang dipaksakan.
Al-Qur’an tidak boleh dijadikan pembebek teori ilmiah yang hari ini diterima dan mungkin besok ditinggalkan.
Tetapi Bukankah Al-Qur’an Mengajak Kita Membaca Alam?
Di sini muncul pertanyaan penting:
Kalau demikian, apakah kita tidak boleh menggunakan ilmu pengetahuan untuk memahami Al-Qur’an?
Tentu boleh.
Bahkan Al-Qur’an sendiri mengarahkan manusia untuk memperhatikan tanda-tanda Allah di alam dan dalam dirinya.
Allah berfirman:
«سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنفُسِهِمْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ
“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri sehingga jelas bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu benar.”
(QS. Fushshilat [41]: 53)»
Ayat ini justru membuka ruang yang luas bagi manusia untuk mengamati alam.
Semakin banyak manusia mengetahui alam, semakin banyak pula tanda-tanda kebesaran Allah yang dapat direnungkan.
Tetapi di sinilah diperlukan pembedaan yang halus:
ilmu pengetahuan dapat memperluas pemahaman kita terhadap ayat, tetapi teori ilmiah tidak boleh dipaksakan menjadi satu-satunya makna ayat.
Kita membaca alam melalui ilmu.
Kita membaca wahyu melalui tafsir yang benar.
Kemudian keduanya kita pertemukan dalam ruang refleksi.
Bukan dengan memaksa salah satunya tunduk secara serampangan kepada yang lain.
Alam Semesta: Dari Observasi Menuju Tadabbur
Allah berfirman:
«الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ... وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيرًا
“...Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.”
(QS. Al-Furqan [25]: 2)»
Kemudian manusia mengamati alam.
Ia menemukan keteraturan.
Ia menemukan ukuran.
Ia menemukan jarak.
Ia menemukan orbit.
Ia menemukan kecepatan.
Ia menemukan berbagai hubungan yang sangat kompleks antara satu bagian alam dengan bagian lainnya.
Semakin jauh manusia meneliti, semakin banyak keteraturan yang ditemukan.
Apa yang seharusnya kita lakukan?
Bukan mengatakan:
“Teori ini adalah maksud satu-satunya ayat tersebut.”
Tetapi mengatakan:
“Penemuan ini membuat saya semakin memahami betapa dalam makna keteraturan yang disebutkan Al-Qur’an.”
Inilah hubungan yang sehat antara wahyu dan ilmu.
Ilmu memperluas tadabbur.
Tadabbur memperdalam kesadaran.
Dan kesadaran mengantarkan manusia kepada pengenalan yang lebih dalam terhadap kebesaran Allah.
Contoh Pertama: Asal Penciptaan Manusia
Allah berfirman:
«وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ مِن سُلَالَةٍ مِّن طِينٍ
“Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati yang berasal dari tanah.”
(QS. Al-Mu’minun [23]: 12)»
Kemudian muncul teori-teori tentang asal-usul kehidupan dan manusia.
Di sinilah kita harus berhenti sejenak.
Apakah kita boleh langsung berkata:
“Teori inilah yang dimaksudkan oleh ayat tersebut!”
Tidak terburu-buru.
Teori ilmiah mengenai asal-usul kehidupan dan manusia merupakan wilayah penelitian yang berkembang. Ia memiliki berbagai model, bukti, perdebatan, dan interpretasi.
Maka janganlah kita membebani ayat dengan teori tertentu hanya karena menemukan kemiripan.
Al-Qur’an menyampaikan hakikat yang menjadi tujuan ayat tersebut. Adapun rincian mekanisme ilmiah penciptaan dan perkembangan kehidupan merupakan wilayah yang membutuhkan penelitian lebih lanjut.
Dengan demikian:
jangan memaksa Al-Qur’an mengikuti teori; gunakan ilmu untuk memperluas pemahaman kita terhadap ciptaan Allah.
Contoh Kedua: Matahari Berjalan
Allah berfirman:
«وَالشَّمْسُ تَجْرِي لِمُسْتَقَرٍّ لَّهَا
“Dan matahari berjalan di tempat peredarannya.”
(QS. Yasin [36]: 38)»
Ayat ini menyampaikan sebuah pernyataan mengenai matahari.
Kemudian astronomi berkembang.
Manusia mengamati gerak matahari, rotasinya, geraknya dalam galaksi, serta berbagai fenomena yang berkaitan dengannya.
Pengetahuan tersebut dapat memperkaya kekaguman kita terhadap ayat.
Tetapi apakah seluruh detail astronomi modern harus dimasukkan ke dalam ayat sebagai makna tunggal?
Tidak.
Observasi ilmiah terus berkembang.
Data bertambah.
Instrumen semakin canggih.
Model ilmiah dapat diperbaiki.
Karena itu, lebih aman mengatakan:
Al-Qur’an memberikan pernyataan yang menjadi dasar refleksi, sedangkan ilmu pengetahuan terus mengungkap rincian fenomena yang berada di baliknya.
Contoh Ketiga: Langit dan Bumi
Allah berfirman:
«أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا
“Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi dahulu keduanya menyatu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya?”
(QS. Al-Anbiya [21]: 30)»
Ayat ini telah melahirkan berbagai renungan tentang asal-usul alam semesta.
Kemudian manusia mengembangkan berbagai teori kosmologi.
Ada model-model tentang keadaan awal alam semesta, pembentukan galaksi, bintang, planet, dan berbagai proses kosmik lainnya.
Lalu muncul godaan:
“Inilah yang dimaksud Al-Qur’an!”
Sekali lagi, kita perlu berhenti.
Apakah teori ilmiah tertentu merupakan satu-satunya penjelasan yang dimaksud oleh ayat?
Tidak dapat disimpulkan demikian secara otomatis.
Sebab teori ilmiah dapat berkembang, sedangkan ayat memiliki konteks bahasa dan tujuan yang harus terlebih dahulu dipahami melalui tafsir.
Karena itu, kita dapat menggunakan temuan ilmu pengetahuan untuk memperluas perenungan terhadap ayat, tetapi tidak seharusnya menjadikan satu teori sebagai makna final ayat.
Bukan Memisahkan Wahyu dan Ilmu, tetapi Menempatkannya secara Proporsional
Pada akhirnya, persoalannya bukan:
“Al-Qur’an atau ilmu pengetahuan?”
Pertanyaan yang lebih tepat adalah:
“Apa fungsi masing-masing, dan bagaimana keduanya ditempatkan secara benar?”
Al-Qur’an memberi petunjuk tentang manusia, tujuan hidup, nilai, moral, hubungan manusia dengan Allah, dan prinsip-prinsip kehidupan.
Ilmu pengetahuan meneliti alam melalui observasi, eksperimen, pengukuran, dan penalaran.
Al-Qur’an membentuk arah.
Ilmu pengetahuan membantu manusia memahami mekanisme.
Al-Qur’an memberi nilai.
Ilmu pengetahuan memberikan pengetahuan empiris.
Al-Qur’an membina manusia.
Ilmu pengetahuan menjadi salah satu alat yang digunakan manusia dalam menjalankan amanah kekhalifahannya.
Karena itu, kita tidak perlu menjadikan ilmu pengetahuan sebagai pembela Al-Qur’an.
Al-Qur’an tidak membutuhkan pembelaan melalui teori yang berubah-ubah.
Yang dibutuhkan adalah manusia yang mampu membaca dua ayat Allah sekaligus:
ayat yang tertulis dalam wahyu dan ayat yang terbentang di alam.
Keduanya tidak perlu dipertentangkan.
Tetapi keduanya juga tidak boleh dicampuradukkan secara metodologis.
Sebab ketika manusia membaca alam dengan akalnya, ia sedang meneliti ciptaan Allah.
Dan ketika manusia membaca Al-Qur’an dengan iman, ilmu, dan tafsir yang benar, ia sedang menerima petunjuk dari Pencipta alam.
Maka pertanyaan terakhirnya bukan lagi:
“Teori ilmiah apa yang paling cocok dengan ayat ini?”
Melainkan:
“Setelah ilmu pengetahuan membuka sebagian rahasia alam, apakah kita menjadi semakin mengenal kebesaran Penciptanya?”
Di situlah ilmu berubah menjadi tadabbur.
Di situlah pengetahuan berubah menjadi hikmah.
Dan di situlah akal manusia menemukan kedudukannya: bukan sebagai pengganti wahyu, tetapi sebagai anugerah Allah untuk membaca tanda-tanda-Nya di alam semesta.
0 komentar: