basmalah Pictures, Images and Photos
Tauhid Rububiyyah bagi Penggiat Ekonomi Islam - Our Islamic Story

Choose your Language

Tauhid Rububiyyah bagi Penggiat Ekonomi Islam Apa yang membuat seorang penggiat ekonomi Islam mampu bertahan ketika perjuanganny...

Tauhid Rububiyyah bagi Penggiat Ekonomi Islam

Tauhid Rububiyyah bagi Penggiat Ekonomi Islam

Apa yang membuat seorang penggiat ekonomi Islam mampu bertahan ketika perjuangannya menghadapi tekanan, godaan materi, keterbatasan sumber daya, bahkan ketika hasil yang diharapkan belum juga terlihat?

Apakah semata-mata karena ilmu ekonomi yang dimilikinya?

Apakah karena kecakapannya mengelola lembaga?

Apakah karena besarnya modal, luasnya jaringan, atau kuatnya dukungan masyarakat?

Semua itu penting. Tetapi ada sesuatu yang jauh lebih mendasar: tauhid.

Sebab, tanpa tauhid yang kokoh, perjuangan ekonomi Islam sangat mudah berubah menjadi perjuangan mempertahankan kepentingan diri, mengejar jabatan, memburu keuntungan, atau sekadar membangun eksistensi kelompok.

Di sinilah pentingnya memahami tauhid rububiyyah.

Tauhid rububiyyah adalah mengesakan Allah SWT dalam segala perbuatan-Nya. Tauhid ini berkaitan dengan akidah seseorang, terutama keyakinan bahwa hanya Allah SWT yang menciptakan, memberi rezeki, dan mengatur seluruh alam semesta.¹

Jika keyakinan tersebut benar-benar hidup dalam hati seorang penggiat ekonomi Islam, maka ia tidak hanya memengaruhi cara pandangnya terhadap Allah, tetapi juga mengubah cara pandangnya terhadap dirinya sendiri, perjuangannya, rezekinya, dan hasil pekerjaannya.

Setidaknya ada tiga konsekuensi besar dari tauhid rububiyyah bagi seorang penggiat ekonomi Islam: meyakini Allah sebagai Pencipta, meyakini Allah sebagai Pemberi Rezeki, dan meyakini Allah sebagai Pengatur seluruh urusan.

---

1. Jika Allah adalah Pencipta, Mengapa Kita Harus Merasa Paling Dibutuhkan?

Mari kita mulai dari pertanyaan yang paling mendasar:

Siapakah yang menciptakan kita?

Allah SWT.

Lalu, siapakah yang menciptakan seluruh manusia yang terlibat dalam perjuangan ekonomi Islam?

Allah SWT.

Siapakah yang menciptakan ilmu, kemampuan berpikir, kesehatan, kesempatan, jaringan, modal, dan berbagai sarana yang kita gunakan untuk berjuang?

Allah SWT.

Allah berfirman:

«“Allah Pencipta segala sesuatu dan Dia Maha Pemelihara atas segala sesuatu.”
(QS. Az-Zumar: 62)»

Ayat ini seharusnya melahirkan sebuah kesadaran mendalam: Allah tidak membutuhkan makhluk, tetapi seluruh makhluk sangat membutuhkan Allah.

Kekuasaan Allah tidak bertambah karena seluruh makhluk menyembah-Nya. Sebaliknya, kekuasaan-Nya juga tidak berkurang apabila seluruh makhluk mendurhakai-Nya.

Dalam hadis qudsi Allah SWT berfirman:

«يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوا ضَرِّي فَتَضُرُّونِي وَلَنْ تَبْلُغُوا نَفْعِي فَتَنْفَعُونِي...»

“Wahai hamba-Ku, sesungguhnya kalian tidak akan pernah mampu memberikan mudarat kepada-Ku sehingga kalian dapat membahayakan-Ku, dan kalian tidak akan pernah mampu memberikan manfaat kepada-Ku sehingga kalian dapat memberi manfaat kepada-Ku.”

Allah kemudian menjelaskan bahwa seandainya seluruh manusia dan jin berada dalam keadaan paling bertakwa, hal itu tidak menambah kekuasaan-Nya sedikit pun. Sebaliknya, jika seluruh manusia dan jin berada dalam keadaan paling durhaka, hal itu juga tidak mengurangi kekuasaan-Nya sedikit pun.

(HR. Muslim)²

Lalu, apa hubungannya dengan penggiat ekonomi Islam?

Hubungannya sangat erat.

Keyakinan bahwa Allah adalah Pencipta seharusnya menghancurkan satu penyakit yang kadang tidak disadari: merasa diri paling dibutuhkan.

Seorang penggiat ekonomi Islam jangan sampai berpikir:

“Kalau saya tidak ada, siapa yang akan mengembangkan ekonomi Islam?”

Atau:

“Kalau saya meninggalkan perjuangan ini, ekonomi Islam akan mengalami kemunduran.”

Bukankah sebelum kita terlibat, Allah telah memiliki hamba-hamba lain yang berjuang?

Dan setelah kita tidak lagi terlibat, bukankah Allah juga mampu menghadirkan orang-orang lain?

Maka, siapa sebenarnya yang membutuhkan siapa?

Bukan ekonomi Islam yang membutuhkan kita. Kitalah yang membutuhkan kesempatan untuk berkhidmat melalui ekonomi Islam.

Kesadaran ini akan melahirkan sikap yang jauh lebih sehat: syukur, bukan kesombongan; tawaduk, bukan klaim kepemilikan.

Ketika Allah memberikan kesempatan untuk berkontribusi, seorang penggiat ekonomi Islam seharusnya berkata:

“Ya Allah, saya bersyukur Engkau memilih saya untuk ikut mengambil bagian dalam perjuangan ini.”

Bukan:

“Perjuangan ini membutuhkan saya.”

Perbedaannya tampak kecil, tetapi dampaknya sangat besar.

Kalimat pertama melahirkan syukur.

Kalimat kedua berpotensi melahirkan ujub.

Karena itu, seorang penggiat ekonomi Islam harus yakin bahwa apabila dirinya tidak lagi mampu melanjutkan perjuangan, Allah tetap mampu menghadirkan orang lain yang lebih baik.

Bahkan, sangat mudah bagi Allah untuk memenangkan agama-Nya melalui siapa pun yang Dia kehendaki.

Allah SWT berfirman:

«“Untuk setiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Kalau Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap karunia yang telah diberikan-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan...”
(QS. Al-Ma'idah: 48)»

Perhatikan ungkapannya: “berlomba-lombalah berbuat kebajikan.”

Bukan berlomba menjadi orang yang paling terkenal.

Bukan berlomba mendapatkan pengakuan.

Bukan pula berlomba mengklaim bahwa keberhasilan perjuangan merupakan hasil dirinya.

Tugas kita adalah berlomba dalam kebaikan.

Adapun siapa yang Allah pilih untuk menjadi sebab kemenangan, itu adalah urusan-Nya.

---

2. Jika Allah adalah Pemberi Rezeki, Mengapa Harus Takut Mempertahankan Prinsip?

Sekarang mari kita masuk kepada persoalan yang sering menjadi ujian paling nyata dalam kehidupan seorang penggiat ekonomi Islam:

rezeki.

Seberapa kuat seseorang mempertahankan prinsip ketika prinsip itu berhadapan dengan kepentingan ekonomi?

Ketika pilihan syariah memberikan keuntungan yang lebih kecil, sedangkan pilihan konvensional menawarkan pendapatan yang lebih besar, apa yang akan dipilih?

Ketika mempertahankan prinsip berarti harus kehilangan jabatan, apakah kita masih mampu bertahan?

Ketika bekerja di sektor ekonomi Islam ternyata belum memberikan penghasilan sebesar sektor lain, apakah kita akan berkata:

“Saya harus keluar. Saya membutuhkan penghasilan yang lebih besar.”

Di sinilah tauhid rububiyyah kembali diuji.

Seorang Muslim harus meyakini bahwa Allah adalah satu-satunya Pemberi Rezeki.

Allah SWT berfirman:

«“Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya...”
(QS. Hud: 6)»

Rasulullah saw. juga menjelaskan bahwa ketika manusia masih berada dalam kandungan, malaikat diperintahkan untuk menuliskan rezekinya, ajalnya, amalnya, serta nasibnya.
(HR. al-Bukhari dan Muslim)³

Jika demikian, apakah berarti manusia tidak perlu bekerja?

Tentu tidak.

Justru manusia diperintahkan untuk berikhtiar.

Tetapi ada perbedaan yang sangat mendasar antara mencari rezeki dan menganggap sumber rezeki adalah pekerjaan atau institusi.

Pekerjaan hanyalah sebab.

Perusahaan hanyalah sebab.

Jabatan hanyalah sebab.

Klien hanyalah sebab.

Pasar hanyalah sebab.

Sedangkan Ar-Razzaq adalah Allah.

Karena itu, seorang penggiat ekonomi Islam tidak boleh berpandangan bahwa memperjuangkan ekonomi Islam akan otomatis mengurangi rezekinya.

Lebih berbahaya lagi jika ia meninggalkan prinsip ekonomi Islam hanya karena institusi konvensional menawarkan pendapatan yang lebih menggiurkan.

Pertanyaannya bukan:

“Di mana saya akan mendapatkan uang lebih banyak?”

Pertanyaan yang lebih mendasar adalah:

“Dari jalan mana Allah menghendaki saya mencari rezeki?”

Sebab, bagi seorang mukmin, jumlah rezeki bukan satu-satunya persoalan. Kehalalan dan keberkahannya juga merupakan persoalan.

---

Ketika Tawaran Dunia Datang

Dalam sejarah dakwah Rasulullah saw., kita menemukan pelajaran yang sangat kuat.

Utbah bin Rabi'ah datang membawa berbagai tawaran dari Quraisy agar Rasulullah saw. menghentikan dakwahnya. Di antara tawaran itu adalah harta yang melimpah sehingga beliau dapat menjadi orang terkaya di kalangan Quraisy. Beliau juga ditawari kedudukan dan kemuliaan sehingga masyarakat Quraisy akan melibatkan beliau dalam berbagai urusan penting.⁴

Bayangkan.

Yang ditawarkan bukan sesuatu yang kecil.

Harta.

Kekuasaan.

Kedudukan.

Pengaruh.

Pengakuan.

Bukankah semuanya tampak menggiurkan?

Namun, apakah Rasulullah saw. menukar prinsip dengan semua itu?

Tidak.

Di sinilah seorang penggiat ekonomi Islam perlu bertanya kepada dirinya sendiri:

“Apa yang sebenarnya saya perjuangkan?”

Jika jawabannya adalah Allah, maka dunia tidak boleh menjadi alasan untuk meninggalkan prinsip.

Jika jawabannya adalah dakwah, maka keuntungan tidak boleh menjadi satu-satunya ukuran.

Jika jawabannya adalah tegaknya nilai Islam dalam kehidupan ekonomi, maka kita harus siap menghadapi masa-masa ketika jalan itu tidak selalu mudah.

Allah SWT berfirman:

«“Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.”
(QS. Muhammad: 7)»

Menolong agama Allah bukan berarti Allah membutuhkan pertolongan manusia.

Allah Mahakaya dan Mahakuasa.

Maksudnya adalah manusia diberi kesempatan untuk menjadi bagian dari perjuangan menegakkan kebenaran.

Dan kesempatan itulah yang seharusnya disyukuri.

---

3. Jika Allah Mengatur Segala Urusan, Mengapa Kita Harus Putus Asa?

Sekarang kita sampai pada persoalan ketiga:

hasil perjuangan.

Seorang penggiat ekonomi Islam mungkin sudah bekerja keras.

Ia melakukan penelitian.

Ia membangun lembaga.

Ia mengembangkan produk.

Ia memberikan edukasi.

Ia berdakwah.

Ia membangun jaringan.

Ia mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, bahkan hartanya.

Namun, setelah bertahun-tahun, hasil yang diharapkan belum juga terlihat.

Masyarakat belum banyak berubah.

Lembaga belum berkembang.

Produk belum diterima pasar.

Ekonomi Islam belum menjadi sistem dominan.

Lalu muncul pertanyaan:

“Apakah perjuangan saya sia-sia?”

Jawabannya:

Tidak.

Mengapa?

Karena seorang penggiat ekonomi Islam tidak diberi kewajiban untuk mengendalikan hasil.

Ia hanya diperintahkan untuk berusaha sebaik mungkin.

Allah SWT berfirman:

«“Dia mengatur segala urusan dari langit ke bumi...”
(QS. As-Sajdah: 5)»

Allah adalah pengatur segala sesuatu.

Maka, kita harus mengetahui batas antara wilayah ikhtiar manusia dan wilayah ketetapan Allah.

Kita mengajak, tetapi Allah yang memberikan hidayah.

Kita mendidik, tetapi Allah yang membukakan hati.

Kita membangun lembaga, tetapi Allah yang menentukan pertumbuhannya.

Kita menciptakan produk, tetapi Allah yang menentukan apakah produk itu diterima pasar.

Kita menanam, tetapi Allah yang menentukan kapan buahnya muncul.

Allah SWT berfirman:

«“Sungguh, engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki...”
(QS. Al-Qashash: 56)»

Jika Rasulullah saw. saja tidak memiliki kewenangan untuk memberikan hidayah kepada orang yang beliau cintai, bagaimana mungkin seorang penggiat ekonomi Islam merasa bahwa dirinya dapat memastikan perubahan masyarakat?

Kita hanya bisa menyampaikan, mengajak, mendidik, dan berusaha.

Allah SWT berfirman:

«“Maka jika mereka berpaling, maka ketahuilah kewajiban yang dibebankan atasmu (Muhammad) hanyalah menyampaikan (amanah Allah) dengan terang.”
(QS. An-Nahl: 82)»

Maka jangan mengukur perjuangan hanya dengan hasil yang tampak.

Sebab, hasil adalah wilayah Allah, sedangkan ikhtiar adalah wilayah tanggung jawab manusia.

---

4. Kalau Hasilnya di Tangan Allah, Apakah Kita Boleh Berhenti?

Tidak.

Justru di sinilah letak paradoksnya.

Karena hasil berada di tangan Allah, kita harus terus berusaha.

Jangan berkata:

«“Kalau Allah yang menentukan hasil, untuk apa saya bekerja?”»

Pernyataan tersebut keliru.

Bukankah Allah juga yang menentukan rezeki, tetapi kita tetap diperintahkan bekerja?

Bukankah Allah yang menentukan kesembuhan, tetapi kita tetap diperintahkan berobat?

Bukankah Allah yang menentukan kemenangan, tetapi manusia tetap diperintahkan mempersiapkan kekuatan?

Demikian pula dalam dakwah ekonomi Islam.

Tawakal tidak berarti berhenti berusaha.

Tawakal berarti berusaha sekuat tenaga sambil menyadari bahwa hasil akhirnya bukan milik kita.

Karena itu, seorang penggiat ekonomi Islam tidak boleh menyerah hanya karena perjuangannya belum membuahkan hasil.

Pahala perjuangan tidak semata-mata ditentukan oleh hasil akhir, tetapi juga oleh keikhlasan, kesungguhan, pengorbanan, dan keteguhan dalam menjalankan amanah.

Dalam kaidah fikih disebutkan:

Al-ajru bi qadril masyaqqah, yakni pahala berkaitan dengan kadar kesulitan yang dihadapi dalam menjalankan ketaatan.

Tentu, kesulitan bukan sesuatu yang sengaja dicari. Namun, ketika seseorang tetap berada di jalan kebaikan meskipun menghadapi kesulitan, kesungguhan dan pengorbanannya memiliki nilai di sisi Allah.

---

5. Belajar dari Keteguhan Rasulullah saw.

Lalu, dari siapa kita belajar tentang keteguhan tersebut?

Tentu dari Rasulullah saw.

Beliau berdakwah ketika keadaan tidak mudah.

Beliau menghadapi tekanan.

Beliau menghadapi penghinaan.

Para sahabat beliau mengalami penyiksaan.

Bahkan beliau sendiri menghadapi berbagai ancaman terhadap keselamatan hidupnya.

Namun, apakah semua tekanan itu membuat beliau meninggalkan dakwah?

Tidak.

Ketika Abu Thalib mendapat tekanan dari Quraisy agar menghentikan dakwah keponakannya, Muhammad saw., Rasulullah menunjukkan keteguhan yang luar biasa. Dalam riwayat sirah yang masyhur, beliau berkata:

«يَا عَمُ لَوْ وُضِعَتِ الشَّمْسُ فِي يَمِينِي وَالْقَمَرُ فِي يَسَارِي مَا تَرَكْتُ هَذَا الْأَمْرَ حَتَّى يُظْهِرَهُ اللَّهُ تَعَالَى أَوْ أَهْلِكَ فِي طَلَبِهِ»

“Wahai Pamanku! Andaikan matahari diletakkan di tangan kananku dan rembulan diletakkan di tangan kiriku, niscaya aku tidak akan meninggalkan urusan dakwah ini sampai Allah memenangkan urusan ini atau aku binasa dalam menjalankannya.”⁵

Inilah keteguhan.

Bukan keteguhan karena merasa diri pasti menang.

Bukan pula keteguhan karena mengetahui kapan kemenangan akan datang.

Tetapi keteguhan karena yakin kepada Allah dan tetap menjalankan amanah.

---

Tauhid Rububiyyah: Dari Keyakinan Menjadi Keteguhan

Pada akhirnya, apa yang sebenarnya ingin dibentuk oleh tauhid rububiyyah dalam diri seorang penggiat ekonomi Islam?

Bukan sekadar pengetahuan bahwa Allah adalah Pencipta.

Bukan sekadar hafalan bahwa Allah adalah Ar-Razzaq.

Bukan sekadar pengakuan bahwa Allah mengatur alam semesta.

Tauhid harus mengubah cara seseorang menjalani perjuangan.

Jika ia yakin Allah adalah Pencipta, ia tidak akan merasa dirinya pusat perjuangan.

Jika ia yakin Allah adalah Pemberi Rezeki, ia tidak akan mudah menjual prinsip demi keuntungan.

Jika ia yakin Allah adalah Pengatur segala urusan, ia tidak akan putus asa ketika hasil belum sesuai harapan.

Maka lahirlah tiga sikap besar:

Pertama, rendah hati ketika berhasil.

Sebab ia sadar bahwa keberhasilannya tidak pernah berdiri sendiri. Ada pertolongan Allah, ada manusia yang membantu, ada kesempatan yang Allah berikan, dan ada berbagai sebab yang tidak mungkin ia ciptakan sendiri.

Kedua, teguh ketika menghadapi godaan.

Sebab ia yakin bahwa rezeki tidak pernah tertukar. Ia tidak perlu mengorbankan prinsip demi mengejar sesuatu yang sebenarnya telah berada dalam ketetapan Allah.

Ketiga, sabar ketika hasil belum terlihat.

Sebab ia memahami bahwa kewajibannya adalah berikhtiar, sedangkan hasil akhirnya berada dalam kekuasaan Allah.

Maka, seorang penggiat ekonomi Islam tidak seharusnya berkata:

«“Ekonomi Islam akan berhasil karena saya.”»

Tetapi hendaknya berkata:

«“Saya bersyukur karena Allah memberi saya kesempatan untuk ikut memperjuangkannya. Saya akan bekerja sekuat tenaga, tetapi saya tidak akan menyandarkan keberhasilan kepada diri saya sendiri. Saya serahkan hasil akhirnya kepada Allah.”»

Inilah buah tauhid rububiyyah.

Kita bekerja, tetapi tidak menyembah pekerjaan.

Kita mencari rezeki, tetapi tidak menggantungkan hati kepada pekerjaan.

Kita membangun lembaga, tetapi tidak merasa menjadi pemilik perjuangan.

Kita mengejar keberhasilan, tetapi tidak menyamakan keberhasilan dengan nilai diri.

Dan yang paling penting:

Kita berjuang sekuat tenaga, tetapi hati tetap bergantung hanya kepada Allah SWT.


Sumber:
Abdul Wahid al-Faizin, Tafsir Ekonomi Kontemporer, GIP,  2018

0 komentar:

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adam (5) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Al-Baqarah (1) Al-Qur'an (362) Al-Qur’an (55) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) An-Nadwi (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bahaya Kemunduran Umat Islam (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (53) Cerita kegagalan (1) cerpen Nabi (8) cerpen Nabi Musa (2) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) dakwah (13) Dakwah (10) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) Ekonomi (2) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) english (6) English (6) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fiqh (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (7) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) hikmah (1) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) Islam (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) kecerdasan (20) Kecerdasan (331) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Hadist (4) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) kisah para nabi dan (2) kisah para nabi dan rasul (58) kisah para Nabi dan Rasul (1) Kisah para nabi dan rasul (110) Kisah Para Nabi dan Rasul (577) kisah para nabi dan rasul. Nabi Daud (1) kisah para nabi dan rasul. nabi Musa (2) Kisah Penguasa (1) Kisah ulama (1) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) nabi adam (1) Nabi Adam (75) nabi Adam. Adam (1) Nabi Ayub (1) Nabi Daud (3) Nabi Ibrahim (3) Nabi Isa (2) nabi Isa. nabi ismail (1) Nabi Ismail (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Khidir (1) Nabi Musa (29) Nabi Nuh (6) Nabi Sulaiman (2) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (15) Namrudz (2) Nasrulloh Baksolahar (1) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) nusantara (7) Nusantara (289) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (703) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rasulullah shalallahu alaihi wassalam (1) Rehat (493) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) Sahabat (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) Salimul Aqidah (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Serah Nabawiyah (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (318) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah penguasa (11) Sirah Penguasa (248) sirah Sahabat (2) Sirah Sahabat (173) Sirah Tabiin (43) Sirah ulama (36) Sirah Ulama (158) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tamim Ad Dari (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Wakaf (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)