basmalah Pictures, Images and Photos
Our Islamic Story

Postingan Popular Pekan ini

Atatürk di Palestina : Menyerahkan untuk Mendapatkan Jabatan? Dunia ...

Atatürk di Palestina : Menyerahkan untuk Mendapatkan Jabatan?

Dunia mengenal Mustafa Kemal Atatürk sebagai "Serigala Kelabu" dari Gallipoli, seorang jenius militer yang mengubah puing-puing Kekaisaran Utsmaniyah menjadi republik modern yang sekuler. Namun, sejarah sering kali ditulis oleh para pemenang dengan tinta yang selektif.

Di bawah terik matahari gurun Palestina, terdapat lembaran-lembaran yang tampaknya sengaja dihapus dari narasi resmi demi melindungi mitos sang "Bapak Bangsa".

Peristiwa jatuhnya Yerusalem pada akhir Perang Dunia I menyisakan lubang hitam dalam historiografi Turki modern. Sebagai komandan militer di front tersebut, keputusan-keputusan Atatürk melampaui sekadar taktik perang; mereka beraroma kalkulasi politik tingkat tinggi. 

Apakah benar jatuhnya tanah suci tersebut adalah murni kekalahan teknis, ataukah sebuah "pertukaran kepentingan" yang telah dirancang di balik tenda-tenda militer?

Artikel ini akan membedah sisi gelap dari karier militer Mustafa Kemal di Palestina, mengeksplorasi fakta-fakta yang menunjukkan bahwa kemerdekaan Anatolia mungkin dibayar dengan harga yang sangat mahal: penyerahan Palestina kepada mandat Inggris.


Hubungan Misterius dengan Intelijen Inggris

Keterlibatan Mustafa Kemal dengan pihak lawan adalah salah satu anomali paling tajam dalam karier militernya. Catatan dari agen intelijen Inggris bernama Armstrong mengungkapkan jalinan hubungan yang jauh melampaui batas kewajaran antara seorang komandan perang dengan musuhnya.

Armstrong bukan sekadar informan; ia adalah penghubung vital yang menyusup ke dalam lingkaran terdalam sang komandan saat berada di Palestina dan Suriah.

Yang lebih provokatif, Armstrong secara terang-terangan menyebut bahwa Mustafa Kemal memiliki masalah dengan kejiwaan (psikologis). 

Pengakuan ini menambah dimensi misterius pada hubungan mereka: apakah keterikatan ini didasari oleh manipulasi intelijen atau kerentanan pribadi sang pemimpin? Bagi seorang perwira tinggi Utsmani, jalinan ini adalah sebuah skandal loyalitas yang tak termaafkan.

"Amstrong pula yang menghubungkan jalinan intelijen Inggris dengan Mushtafa Kemal."


2. Jarak 50 Kilometer dan Sembilan Bulan Keheningan

Logika militer akan selalu kesulitan menjelaskan apa yang terjadi di garis depan Nablus saat Yerusalem (Al-Quds) jatuh ke tangan Inggris pada 8 Desember 1917.

Sebagai komandan Tentara ke-7, posisi Atatürk seharusnya menjadi benteng pertahanan terakhir. Namun, fakta di lapangan menunjukkan paradoks yang menyakitkan:

Kedekatan yang Menggugah Tanya: Posisi Atatürk di Nablus hanya berjarak 50 kilometer dari Yerusalem. Dalam kacamata strategi perang, ini adalah jarak tempuh yang sangat singkat untuk melakukan mobilisasi serangan balik atau pengiriman bala bantuan darurat.

Masa Diam yang Absurd: Setelah menduduki Yerusalem, pasukan Inggris tertahan selama sembilan bulan. Ini adalah periode yang sangat lapang bagi seorang "jenius militer" dan para pemimpin gerakan Persatuan dan Kemajuan (Ittihad ve Terakki) untuk menyusun rencana pembebasan.

Keheningan selama sembilan bulan ini bukan sekadar kegagalan taktis, melainkan sebuah pernyataan politik. 

Bagaimana mungkin seorang panglima yang dipuja karena kecepatan geraknya di Gallipoli tiba-tiba menjadi lumpuh secara strategis saat menghadapi musuh yang diam di depan mata?


3. Taktik "Meninabobokan" Perlawanan Rakyat Palestina 

Strategi Atatürk dalam menangani massa lokal di Palestina sering kali dibungkus dengan bahasa diplomasi militer, namun dampaknya justru melumpuhkan.

Ia mengeluarkan instruksi resmi agar rakyat Palestina tidak melakukan "perlawanan yang tidak terencana". Sebagai gantinya, ia memerintahkan mereka untuk meninggalkan pos-pos pertahanan lokal dan berkumpul di Nablus dengan janji untuk "menata barisan".

Dalam analisis kritis, ajakan ini adalah bentuk taktik lulling atau upaya meninabobokan kewaspadaan rakyat. Dengan melarang aksi spontan penduduk setempat, Atatürk secara fungsional mematikan potensi perang gerilya yang bisa menghambat gerak maju Inggris.

Rakyat Palestina dijanjikan sebuah serangan besar yang tak pernah datang, sementara energi perlawanan mereka perlahan-lahan dikuras di bawah komando yang stagnan.


4. Mundur dari Nablus: Sebuah Langkah Politik?

Puncak dari dugaan pengkhianatan ini terjadi pada September 1918. Saat pasukan Inggris melancarkan serangan ganda dalam Pertempuran Nablus dan Megiddo, sebuah keputusan dramatis diambil. 

Pada 25 September 1918, Atatürk menarik mundur sebagian besar pasukannya dari Nablus, membiarkan wilayah tersebut jatuh ke tangan musuh tanpa perlawanan berarti.

Langkah ini menyisakan luka mendalam bagi sejarah militer Utsmaniyah. Sementara unit-unit lain di Megiddo masih bertempur mati-matian hingga 1 Oktober 1918, sang komandan sudah lebih dulu mengamankan pasukannya menuju utara. Mundurnya Atatürk bukan sekadar retret militer, melainkan sebuah "penyerahan" yang terhitung.

Muncul spekulasi kuat bahwa pengorbanan Palestina adalah syarat mutlak atau "tugas" yang harus dipenuhi demi mendapatkan legitimasi kekuasaan di Turki pasca-perang.

"Tindakan Atatürk menyerahkan Palestina kepada Inggris adalah salah satu tugas yang karenanya ia mendapatkan (imbalan) takhta Turki."


5. Paradoks Sang Reformis: Antara Militer dan Modernisasi

Setelah "misi" di Palestina usai, Mustafa Kemal bertransformasi menjadi arsitek radikal bagi Turki. Ia mendirikan republik pada 1923 dan menjalankan serangkaian reformasi yang seolah ingin memutus total akar masa lalunya dengan dunia Arab dan Islam:

Sekularisasi Total: Menghapus sistem Khilafah pada 1924, menutup pengadilan Syariah, dan memisahkan agama dari urusan negara.

Revolusi Budaya: Mengganti alfabet Arab ke Latin, melarang pakaian tradisional seperti fez, dan mengadopsi hukum sipil Barat (Swiss).

Turkifikasi dan Minoritas: Menjalankan kebijakan asimilasi ketat demi bangsa yang homogen, yang diwarnai dengan penindasan terhadap etnis Kurdi.

Di sinilah letak paradoksnya. Sosok yang dipuja sebagai inspirator anti-kolonial ini ternyata membangun fondasi negaranya di atas kebijakan asimilasi yang represif dan meninggalkan wilayah-wilayah kekuasaan Utsmaniyah yang beragam demi sebuah entitas Anatolia yang seragam. 

Modernisasi yang ia bawa seolah menjadi pembenaran atas pengorbanan Palestina yang ia biarkan jatuh ke tangan kolonial.

Warisan Mustafa Kemal Atatürk di Palestina memberikan pelajaran pahit tentang pragmatisme politik. Narasi kepahlawanan yang kita baca di buku sekolah sering kali menutupi kenyataan bahwa kepentingan kekuasaan bisa berjalan beriringan dengan pengkhianatan terhadap solidaritas teritorial.

Sejarah tidak pernah benar-benar hitam atau putih. Kita dihadapkan pada pertanyaan retoris yang menggugah nurani: Haruskah kita memuja seorang pemimpin sebagai pahlawan modernisasi jika takhta yang ia duduki dibangun di atas puing-puing wilayah yang sengaja ia korbankan?

800 Tahun Kekuasaan Islam di India Banyak orang saat ini...

800 Tahun Kekuasaan Islam di India

Banyak orang saat ini memiliki miskonsepsi bahwa India selalu dan hanya merupakan negara Hindu sejak zaman dahulu. Padahal, bila melihat lembaran sejarah mencatat realitas yang jauh lebih kompleks dan berwarna.

Negeri yang sering dijuluki "tanah para dewa" ini sebenarnya pernah berada di bawah naungan kekuasaan Islam selama hampir delapan abad. Masa lalu India yang sering kali "terlupakan" dalam narasi modern ini menyimpan jejak peradaban agung yang tidak hanya mengubah peta politik, tetapi juga merevolusi struktur sosial dan ekonomi wilayah tersebut melalui rangkaian dinasti yang silih berganti.

Berikut adalah lima fakta penting yang mengungkap sejarah panjang dan transformatif kekuasaan Islam di India:

1. Kekuasaan yang Membentang Hampir Delapan Abad

Fondasi kekuasaan Islam di India diletakkan sejak penaklukan oleh Mahmud al-Ghaznawi dari Dinasti Ghaznawi pada tahun 1001 M. 

Sejak titik awal tersebut, Islam menjadi kekuatan politik dominan selama hampir 800 tahun hingga jatuhnya sultan terakhir pada tahun 1862 M. 

Rentang waktu yang luar biasa panjang ini bukanlah sebuah monolit, melainkan estafet kepemimpinan dari Dinasti Ghaznawi, lima dinasti di bawah Kesultanan Delhi (Mamluk, Khilji, Tughlaq, Sayyid, dan Lodhi), hingga puncaknya pada era Kesultanan Mughal.

Durasi delapan abad ini sangat signifikan karena pada masa inilah identitas fisik, arsitektur, dan kultural India modern dibentuk.

Namun, fakta ini sering kali luput dari perhatian generasi muda zaman sekarang yang cenderung melihat sejarah India melalui kacamata politik kontemporer yang sempit. Padahal, stabilitas dan integrasi wilayah seluas sub-kontinental ini pernah terjaga selama ratusan tahun di bawah panji Islam.


2. Ratu Razia Sultana, Pemimpin Wanita Pertama di Dunia Islam

Salah satu catatan paling progresif dalam sejarah Islam di India adalah kemunculan Ratu Razia Sultana (1236 M – 1240 M). Ia memerintah di bawah naungan Kesultanan Delhi dan dikenal karena kecerdasannya yang luar biasa serta ketangguhannya dalam memimpin militer.

Wilayah kekuasaannya mencakup area yang sangat luas, membentang dari Delhi di timur hingga Peshawar di barat, serta dari Kashmir di utara hingga ke wilayah Multan di selatan.

"Ratu Razia dikenal sangat cerdas. Dialah ratu pertama yang dimiliki dunia Islam."

Kehadiran Razia Sultana adalah bukti nyata yang mematahkan stereotip patriarki yang sering dilekatkan pada sejarah kesultanan kuno.

Fakta ini menunjukkan betapa progresifnya tatanan politik saat itu; kapasitas intelektual dan kemampuan manajerial seorang wanita diakui dan diberi ruang untuk memimpin sebuah imperium besar, jauh sebelum konsep kesetaraan gender menjadi diskursus di belahan dunia lain.


3. Alasan di Balik Pesatnya Penyebaran Islam 

Penyebaran Islam di India tidak terjadi secara instan melalui kekuatan pedang semata, melainkan melalui proses sosial yang mendalam selama berabad-abad. Berdasarkan catatan sejarah, masyarakat lokal berbondong-bondong memeluk Islam karena faktor-faktor berikut:

Pernikahan: Terjadinya asimilasi budaya melalui hubungan kekeluargaan antara pendatang Muslim dan penduduk lokal.

Integritas Ekonomi: Praktik perdagangan yang jujur dan adil yang dibawa oleh para pedagang Muslim menarik simpati masyarakat.

Dakwah Tokoh Sufi: Pendekatan spiritual yang inklusif, lembut, dan menyentuh hati dari para sufi yang masuk ke pelosok desa.

Keinginan Bebas dari Struktur Kasta: Dorongan kuat untuk keluar dari sistem kasta yang mengikat dan diskriminatif.

Secara sosiologis, Islam menawarkan "solusi sosial" dan perubahan kontrak sosial bagi masyarakat yang selama ini terbelenggu oleh hierarki kasta yang kaku.

Ajaran yang menekankan kesetaraan manusia di hadapan Tuhan menjadi magnet luar biasa bagi mereka yang mendambakan martabat kemanusiaan yang setara.


4. Transformasi Ekonomi dan Toleransi Beragama di Era Kesultanan Delhi

Memasuki awal abad ke-14 M, India mengalami transformasi ekonomi besar di bawah Kesultanan Delhi.

Pemerintahan saat itu memperkenalkan inovasi ekonomi moneter yang diterapkan hingga ke tingkat provinsi dan distrik. Jaringan pusat-pusat pasar mulai terbentuk, yang memperkuat tulang punggung ekonomi negara yang saat itu berbasis pada sektor pertanian.

Menariknya, meskipun administrasi negara dijalankan berdasarkan hukum yang bersumber dari Al-Qur'an, prinsip toleransi tetap dijunjung tinggi. Umat beragama lain diberikan kebebasan penuh untuk menjalankan keyakinan dan ritual mereka.

Sinergi antara tata kelola agama yang berintegritas dan sistem ekonomi yang maju terbukti mampu menciptakan stabilitas jangka panjang di wilayah yang sangat beragam secara etnis dan kepercayaan.


5. Akhir Tragis Sang Sultan Terakhir dan Tipu Daya Kolonial

Titik nadir kekuasaan Islam di India terjadi akibat campur tangan agresif Inggris melalui British East India Company. Perlawanan besar terakhir meletus pada tahun 1857, yang dipicu oleh semangat perlawanan kolektif.

Momentum ini diperkuat dengan adanya pertemuan penting para ulama di Masjid Jami, Delhi, yang kemudian mengeluarkan fatwa jihad untuk melawan penjajahan. Muhammad Bahadur Shah II, yang saat itu sudah berusia senja, dipilih sebagai simbol pemimpin perjuangan.

Inggris menumpas pemberontakan ini dengan kekejaman yang tak terperikan. Mereka menggunakan strategi pecah belah dengan memanfaatkan perpecahan internal dan dukungan kelompok tertentu, seperti Sikh.

 Sultan ditangkap, dan dalam sebuah tindakan yang sangat brutal untuk mematahkan mental sang raja, putra-putra sultan dieksekusi dengan cara dipenggal tepat di hadapan ayah mereka sendiri.

Sultan Muhammad Bahadur Shah II akhirnya wafat dalam pengasingan di Burma pada usia 89 tahun pada tahun 1862, menandai berakhirnya secara formal babak kekuasaan Islam di India.

Kisah ini adalah pengingat betapa kolonialisme sering kali bekerja melalui tipu daya dan perusakan struktur sosial yang telah mapan selama berabad-abad, meninggalkan luka sejarah yang mendalam bagi identitas Muslim di India.


Meskipun kekuasaan politiknya telah berakhir secara tragis di tangan kolonial, Islam telah meninggalkan warisan peradaban yang tak ternilai bagi India.

Jejaknya masih berdiri kokoh dan dapat kita saksikan hingga hari ini dalam kemegahan arsitektur, kekayaan harmoni musik, literatur yang mendalam, hingga tradisi religiusitas yang mewarnai keseharian masyarakat India.

Sejarah panjang ini mengajarkan kita bahwa identitas sebuah bangsa tidaklah tunggal, melainkan hasil dari dialektika panjang berbagai peradaban. Mengingat besarnya kontribusi dan penderitaan yang dialami para pendahulu kita, muncul satu pertanyaan reflektif: 

Mampukah kita menjaga ingatan kolektif sejarah ini agar tidak tenggelam oleh arus waktu atau kepentingan politik sesaat yang ingin menghapus jejak-jejak agung masa lalu?

Umar al-Mukhtar Tertangkap Karena Penghianatan Internal ...

Umar al-Mukhtar Tertangkap Karena Penghianatan Internal 

Dalam panggung sejarah perlawanan dunia, nama Umar al-Mukhtar berdiri tegak sebagai simbol integritas yang tak terpatahkan. Dikenal luas dengan julukan "Assad ash-Shahra" atau Sang Singa Padang Pasir, ia bukan sekadar pemimpin militer, melainkan nyawa dari persatuan Libya. 

Dampak kepahlawanannya begitu menggetarkan hingga biopik monumental The Lion of the Desert (1981) yang dibintangi Anthony Quinn sempat dilarang di Italia hingga tahun 2009.

Pemerintah Italia kala itu sadar bahwa heroisme Mukhtar memiliki daya ledak yang mampu melunturkan mental angkatan bersenjata mereka, membuktikan bahwa meski raganya telah tiada, spirit sang singa tetap menjadi ancaman bagi kolonialisme.


Disiplin Spiritual di Balik Kekuatan Militer

Kekuatan fisik dan ketajaman strategi Umar al-Mukhtar tidak lahir dari barak militer, melainkan dari kedalaman spiritualitas seorang mubaligh-sufi.

Lahir di Zanzur pada 20 Agustus 1858, ia ditempa oleh pendidikan di al-Jaghbub di bawah bimbingan Syekh Hussein al-Ghariani—sosok yang mengenalkannya pada dunia pergerakan sejak dini.

Disiplin spiritual inilah yang menjadi fondasi energinya yang tak kunjung padam meski usianya telah melewati tujuh dekade.

Pendidikan Tinggi: Menempuh studi selama delapan tahun di Universitas Senussi, pusat intelektual Islam di Libya timur.

Ketahanan Fisik: Dikenal karena rutinitasnya yang ekstrem dalam beribadah namun tetap bugar di medan perang.

Ritual Harian: Ia rutin menjalankan puasa sunnah Senin-Kamis serta puasa Nabi Daud.

"Ia tidak pernah tidur lebih dari tiga jam sehari. Tiap sepertiga malam terakhir, dia selalu bangun untuk melaksanakan shalat tahajud dan tadarus Alquran hingga Subuh menjelang."

Bagi Mukhtar, perjuangan fisik melawan Italia hanyalah perpanjangan dari disiplin batinnya. Tanpa fondasi spiritual ini, mustahil bagi seorang pria lansia untuk memimpin gerilya di medan yang begitu keras selama bertahun-tahun.


"Daud vs Goliath": Kemenangan Taktik Atas Teknologi

Perang di wilayah Cyrenaica (Libya Timur) adalah potret nyata ketimpangan kekuatan. Di satu sisi, Italia di bawah rezim fasis Mussolini mengerahkan Regio Esercito yang dilengkapi tank, pesawat tempur, dan panser.

Di sisi lain, laskar mujahidin Mukhtar hanya mengandalkan senjata usang dan kuda.

Namun, teknologi tidak menjamin kemenangan. Di wilayah Jabal Akhdhar (Gunung Hijau), Mukhtar membuktikan efektivitas taktik gerilyanya. Salah satu puncaknya adalah kemenangan telak atas pasukan Italia di Raheiba pada Maret 1927.

Kehebatan Mukhtar bahkan memaksa Gubernur Jenderal Attilio Teruzzi mengakui kualitas musuhnya tersebut. Teruzzi mencatat bahwa Mukhtar adalah sosok dengan "ketekunan yang luar biasa dan tekad yang kuat," mengibaratkan tentara Italia seperti hewan buas yang buta di tengah kegelapan gurun, terus-menerus terhantam oleh serangan yang tak terlihat.

Taktik Kejam: Keputusasaan Penjajah

Setelah fase negosiasi yang gagal di bawah Pietro Badoglio—di mana Mukhtar dengan tegas menolak kompromi jika bahasa Arab tidak diakui dan kedaulatan tidak diberikan—Italia mengganti strategi dengan kekejaman tanpa batas.

Gubernur Jenderal Rodolfo Graziani menerapkan kebijakan "bumi hangus" yang sangat ekstrem karena frustrasi menghadapi keteguhan Mukhtar:

Kamp Konsentrasi: Memindahkan paksa 100 ribu penduduk Jabal Akhdhar ke kamp-kamp kematian di pantai utara yang kering untuk memutus dukungan logistik.

Pagar Kawat Berduri: Menyegel perbatasan Mesir dengan pagar kawat sepanjang ratusan kilometer untuk mencegah bantuan masuk.

Teror Sumur: Meracuni sumur-sumur air di gurun untuk melumpuhkan fisik para mujahidin.

Tindakan tidak manusiawi ini merupakan pengakuan tersirat bahwa militer Italia telah kalah secara terhormat di medan tempur, sehingga mereka harus menyerang rakyat sipil untuk menang.


Plot Twist Sejarah: Pengkhianatan "La Banda"

Fakta yang sering disamarkan oleh sejarah populer adalah bahwa Sang Singa tidak ditangkap langsung oleh tentara reguler Italia. Mukhtar jatuh akibat pengkhianatan sistematis dari bangsanya sendiri melalui unit milisi lokal yang disebut "La Banda" (bande armate).

Italia menyadari bahwa mereka "buta" terhadap medan gurun dan membutuhkan kolaborator lokal. Pada 11 September 1931, setelah bentrokan hebat di lembah dekat Ain al-Lafu, kuda Mukhtar terluka dan jatuh. Ia tidak dikepung oleh tentara Italia, melainkan oleh tentara bayaran pribumi.

Seorang pengkhianat bernama Abdullah mengenalinya dan berteriak memanggil namanya untuk memastikan penangkapan tersebut. Mukhtar pun melontarkan kutukan tajam:

"Semoga kutukan menimpamu dan Allah membalasmu dengan malapetaka."

Tragisnya, upaya penyelamatan oleh mujahidin lain pada malam itu gagal karena disinformasi yang disebarkan oleh mata-mata lokal yang menyebarkan rumor bahwa Mukhtar telah tewas. 

Syekh Mujahid Abdul Hamid al-Abbar al-Aqeuri kemudian menyesali kejadian ini, menyatakan bahwa jika mereka tahu Mukhtar masih hidup, mereka akan menyerbu malam itu juga.

Penangkapan di dekat Slonta itu membawa Mukhtar ke pengadilan sandiwara. Dalam kondisi demam parah di usia 73 tahun, ia tetap menunjukkan martabat yang membuat musuhnya gentar. Rodolfo Graziani sendiri menuliskan kekagumannya dalam catatan sejarah:

"Umar diberkahi kecerdasan yang brilian dan lincah... sosok berpengetahuan luas dalam masalah agama, memiliki karakter yang energik, tidak kenal kompromi."

Ia dieksekusi gantung, namun bagi rakyat Libya, itu bukanlah akhir. Kematian Mukhtar justru menjadi bahan bakar yang membakar habis sisa-sisa legitimasi penjajahan Italia di tanah Afrika Utara.

Umar al-Mukhtar mengajarkan kita bahwa musuh paling berbahaya bukanlah mereka yang membawa tank dan pesawat, melainkan "La Banda"—mereka yang berada di dalam barisan namun menjual integritas demi kepentingan penjajah.

Sejarah mencatat bahwa militer sekelas Italia membutuhkan waktu 20 tahun, ribuan ton bom, dan bantuan pengkhianat lokal hanya untuk menundukkan seorang kakek berusia 73 tahun yang bersenjata doa dan keyakinan.

Kisah ini meninggalkan sebuah pertanyaan reflektif yang tajam bagi kita di era modern: Di tengah tekanan ekonomi dan politik hari ini, apakah kita sedang berjuang sebagai "Singa" yang teguh pada prinsip, atau tanpa sadar telah menjadi bagian dari "La Banda" yang menjual kedaulatan bangsa demi kenyamanan pribadi? 

Sejarah mungkin berulang, namun integritas Umar al-Mukhtar adalah standar yang akan selalu abadi.

Rasulullah SAW. Tidak Diutus untuk Menghapus Kebatilan d...

Rasulullah SAW. Tidak Diutus untuk Menghapus Kebatilan dengan Kebatilan

Rasulullah SAW. tidak diutus untuk menghapus kebatilan dengan kebatilan. Beliau tidak diutus untuk mengganti satu permusuhan dengan permusuhan yang lain, atau mengharamkan sesuatu di satu tempat lalu menghalalkannya di tempat lain demi kepentingan tertentu. Beliau juga tidak diutus sekadar untuk mengganti kekuasaan suatu bangsa dengan kekuasaan bangsa yang lain.

Karena itu, misi Rasulullah SAW. tidak dapat dipahami hanya sebagai gerakan politik, pembebasan suatu bangsa, atau perebutan kekuasaan. Beliau bukan pemimpin nasional yang bertugas menarik keuntungan bagi bangsanya sendiri. Beliau juga bukan tokoh politik yang hendak mengeluarkan bangsa Arab dari kekuasaan Persia dan Romawi untuk kemudian memasukkannya ke dalam kekuasaan 'Adnan dan Qathan.

Risalah beliau jauh lebih luas.

Rasulullah SAW. diutus kepada seluruh umat manusia sebagai Basyir, pembawa kabar gembira, dan Nadzir, pemberi peringatan. Beliau mengajak manusia kembali kepada kebenaran Allah SWT. yang terang dan membebaskan manusia dari berbagai bentuk kesesatan.

Beliau datang untuk mengeluarkan manusia dari penghambaan kepada selain Allah menuju penghambaan kepada Allah Yang Maha Esa; dari kepengapan kehidupan dunia menuju kehidupan yang baik di dunia dan kebahagiaan di akhirat; dari kezaliman akibat penyimpangan agama menuju keadilan Islam.

Beliau menyeru manusia agar berbuat kebajikan dan mencegah kemungkaran. Beliau menghalalkan bagi mereka segala sesuatu yang baik dan mengharamkan segala sesuatu yang buruk, sesuai dengan apa yang dihalalkan dan diharamkan Allah SWT. Beliau juga datang untuk melepaskan beban-beban berat dan belenggu yang selama ini membebani kehidupan manusia.

Dengan demikian, perubahan yang dibawa Rasulullah SAW. bukan sekadar perubahan pada siapa yang berkuasa, tetapi perubahan mengenai untuk apa manusia hidup, kepada siapa manusia tunduk, dan dengan nilai apa kehidupan harus dijalankan.

Seruan itu tidak ditujukan hanya kepada satu bangsa dengan mengecualikan bangsa lainnya. Ia ditujukan kepada jiwa manusia dan hati nurani seluruh umat manusia.

Namun, perubahan yang bersifat universal tetap harus dimulai dari suatu tempat. Karena kerusakan dan kemerosotan yang begitu kuat terjadi di tengah bangsa Arab pada masa itu, mereka memperoleh perhatian pertama dalam perjuangan Rasulullah SAW. yang sangat berat.

Mekah, Ummul Qura', dan Semenanjung Arabia menjadi pusat awal risalah tersebut. Dari tempat itulah seruan tauhid disampaikan, manusia dibentuk, dan masyarakat baru mulai dibangun.

Ada pula alasan yang berkaitan dengan karakter masyarakat Arab ketika itu. Dalam lingkungan mereka terdapat ciri-ciri kejiwaan dan keistimewaan dalam bidang bahasa dan sastra yang membuat pesan risalah dapat disampaikan dengan kekuatan yang sangat besar. Al-Qur'an turun dalam bahasa mereka, menggugah akal dan hati mereka, sekaligus menantang mereka dengan sesuatu yang sangat mereka kuasai: bahasa.

Maka, universalitas risalah tidak berarti bahwa perubahan harus dimulai dari seluruh dunia secara serentak. Risalah yang universal justru memiliki titik awal yang nyata, kemudian bergerak melampaui batas-batas bangsa dan wilayah.

Tabiat Manusia Merupakan Gembok dan Kuncinya

Rasulullah SAW. bukan seorang reformer seperti para pembaharu yang hanya berusaha masuk melalui salah satu sisi kehidupan masyarakat. Beliau tidak datang melalui "pintu belakang" untuk memperbaiki satu penyakit sosial, lalu meninggalkan penyakit lainnya.

Sebagian pembaharu mungkin berhasil memperbaiki satu persoalan pada suatu tempat dan suatu masa. Sebagian lainnya bahkan menghabiskan seluruh hidupnya untuk melakukan perubahan, tetapi tidak berhasil mencapai perubahan yang mendasar.

Mengapa demikian?

Karena masyarakat bukan sekadar kumpulan aturan. Masyarakat dibentuk oleh manusia, sedangkan manusia digerakkan oleh jiwa, keyakinan, keinginan, kebiasaan, dan nilai-nilai yang diyakininya.

Selama bagian yang paling dalam itu tidak berubah, perubahan pada permukaan akan mudah kembali kepada keadaan semula.

Dalam teks ini, Mahatma Gandhi dijadikan sebagai salah satu ilustrasi mengenai persoalan tersebut. Gandhi membangun perjuangannya antara lain di atas prinsip tanpa kekerasan dan perlawanan tanpa kekerasan. Ia juga berusaha memperbaiki kedudukan kelompok Paria melalui penolakan terhadap praktik diskriminatif yang menganggap mereka tidak layak disentuh.

Ia menyampaikan gagasan-gagasan tersebut melalui pidato, tulisan, dan perjuangan politik serta spiritual selama bertahun-tahun.

Namun, sebagaimana dicatat dalam teks asal, gagasan tersebut berhadapan dengan konflik sosial yang sangat berat. Kekerasan komunal yang menyertai proses pemisahan India pada 1947 menunjukkan betapa sulitnya mengubah perilaku masyarakat apabila akar kejiwaan dan struktur sosial yang melahirkannya belum berubah secara mendasar. Peristiwa kekerasan tersebut menelan korban jiwa dalam jumlah yang sangat besar dan meninggalkan luka mendalam dalam sejarah India.

Demikian pula, usaha memperbaiki kedudukan kelompok yang tertindas tidak serta-merta menghapus diskriminasi yang telah berakar panjang dalam masyarakat.

Pelajaran yang hendak ditarik dari contoh tersebut bukanlah bahwa setiap usaha pembaruan di luar risalah kenabian pasti gagal. Persoalannya lebih mendasar: perubahan manusia tidak cukup hanya dengan gagasan yang baik; gagasan itu harus menemukan tempat di dalam jiwa manusia dan membentuk cara hidupnya.

Di sinilah kita dapat memahami perbedaan mendasar antara perubahan yang menyentuh permukaan dan perubahan yang menyentuh akar.

Rasulullah SAW. datang membawa jalan perubahan yang dimulai dari manusia itu sendiri. Beliau tidak hanya memberitahukan apa yang harus dilakukan, tetapi terlebih dahulu membangun keyakinan yang membuat manusia rela melakukannya.

Beliau datang melalui "pintu depan" kehidupan manusia dengan membawa kunci yang sesuai dengan gemboknya.

Gembok itu adalah jiwa manusia.

Kuncinya adalah tauhid.

Selama berabad-abad, manusia telah mencoba membuka persoalan kehidupan dengan berbagai macam cara. Namun, jika akar persoalannya terletak pada penyimpangan hubungan manusia dengan Allah SWT., maka perubahan tidak akan sempurna selama hubungan itu belum diluruskan.

Karena itu, seruan pertama Rasulullah SAW. bukanlah:

Siapa yang akan menjadi penguasa?

Bukan pula:

Bangsa mana yang harus menguasai bangsa lain?

Seruan beliau dimulai dari pertanyaan yang jauh lebih mendasar:

Siapa Tuhan manusia? Kepada siapa manusia harus tunduk? Dan untuk apa manusia hidup?

Di tengah-tengah kaumnya, Rasulullah SAW. menyerukan agar manusia beriman kepada Allah Yang Maha Esa, meninggalkan penyembahan kepada berhala, dan berhenti mengikuti jalan setan dalam pengertian yang luas. Beliau menyeru:

"Wahai manusia, bersaksilah bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, niscaya kalian akan beruntung."

Beliau juga menyeru manusia untuk membenarkan risalahnya dan meyakini adanya kehidupan akhirat.

Dari sinilah perubahan dimulai.

Tauhid bukan sekadar mengganti nama sesembahan. Tauhid mengubah pusat kehidupan manusia. Sebelum tauhid, manusia dapat tunduk kepada berhala, penguasa, harta, hawa nafsu, tradisi, atau fanatisme. Setelah tauhid, manusia diarahkan untuk menempatkan Allah SWT. sebagai pusat ketaatan.

Ketika pusat kehidupan berubah, cara manusia memandang dunia pun berubah.

Kekuasaan tidak lagi menjadi alat untuk berbuat sewenang-wenang, tetapi amanah. Kekayaan tidak lagi menjadi tujuan akhir, tetapi titipan. Keberanian tidak lagi menjadi sarana menindas, tetapi kekuatan untuk membela kebenaran. Ilmu tidak lagi menjadi alat penipuan, tetapi sarana mengenali kebenaran. Kehidupan dunia tidak lagi dipandang sebagai tujuan terakhir, karena manusia menyadari adanya kehidupan akhirat.

Maka, perubahan yang dilakukan Rasulullah SAW. bukanlah pergantian satu bentuk Jahiliyah dengan bentuk Jahiliyah yang lain.

Beliau tidak sekadar mengganti siapa yang berada di atas. Beliau mengubah manusia agar memahami untuk apa ia berada di dunia.

Dari sinilah Jahiliyah mulai digantikan oleh Islam: bukan pertama-tama dengan pergantian kekuasaan, tetapi dengan pergantian orientasi hidup; bukan dengan kebatilan baru yang melawan kebatilan lama, tetapi dengan kebenaran yang membebaskan manusia dari seluruh bentuk penghambaan selain kepada Allah SWT.

Dari Jahiliyah ke Islam Cara yang Ditempuh Rasulullah SAW. dalam Usaha Perbaikan...

Dari Jahiliyah ke Islam

Cara yang Ditempuh Rasulullah SAW. dalam Usaha Perbaikan dan Perubahan

1. Dunia yang Dihadapi Rasulullah SAW.

Sayidina Muhammad bin Abdullah SAW. diutus Allah 'Azza wa Jalla sebagai Nabi dan Rasul ketika dunia berada dalam keadaan yang sangat kacau. Keadaannya dapat diibaratkan seperti sebuah bangunan yang diguncang gempa hebat. Isi bangunan itu berantakan dan tidak lagi berada pada tempatnya. Sebagian tiang dan perkakasnya rusak dan hancur. Ada yang miring dan bengkok, ada yang bergeser dari tempat semula, dan ada pula yang bertumpang tindih.

Demikianlah gambaran dunia yang dihadapi Rasulullah SAW. ketika beliau memulai tugas kenabiannya. Persoalannya bukan hanya terletak pada satu atau dua kerusakan. Hampir seluruh unsur kehidupan manusia telah kehilangan keseimbangan dan fungsi yang semestinya.

Dengan pandangan seorang Nabi dan Rasul, Sayidina Muhammad SAW. melihat manusia telah kehilangan kemanusiaannya. Ada manusia yang bersujud kepada batu, pepohonan, sungai, dan berbagai benda lain yang tidak mampu mendatangkan manfaat ataupun mudarat bagi dirinya.

Kerusakan itu tidak berhenti pada keyakinan. Cara manusia menggunakan akalnya pun telah mengalami pembalikan. Hal-hal yang sebenarnya penting dan mendasar justru dianggap sebagai persoalan yang tidak perlu dipikirkan. Sebaliknya, persoalan yang bersifat sekunder dan teoritis diperlakukan seolah-olah merupakan persoalan paling penting.

Yang jelas dan pasti diragukan, sedangkan yang meragukan justru diyakini. Yang benar dianggap salah, sementara yang salah dapat diterima sebagai kebenaran. Ketika ukuran berpikir telah rusak, manusia bukan hanya kehilangan kemampuan menemukan kebenaran, tetapi juga kehilangan kemampuan untuk mengenali bahwa dirinya sedang berada dalam kesesatan.

Selera manusia pun mengalami kerusakan. Yang pahit disukai, yang buruk dan jahat disenangi, bahkan sesuatu yang busuk dapat digemari dan dibanggakan. Perasaan kemanusiaan menjadi tumpul. Manusia tidak lagi mampu marah terhadap kezaliman dan tidak pula mampu mencintai orang yang datang memberikan nasihat yang baik.

Dalam keadaan seperti itu, kerusakan tidak lagi tampak sebagai sesuatu yang asing. Ia justru menjadi kebiasaan.

Rasulullah SAW. melihat masyarakat manusia dalam keadaan yang demikian: banyak hal tidak lagi berada pada tempatnya. Semuanya seperti kehilangan bentuk aslinya.

Serigala berubah menjadi penggembala. Musuh yang zalim berubah menjadi hakim. Orang yang berbuat dosa dan kesalahan memperoleh kebahagiaan, sedangkan orang yang benar dan saleh justru terlunta-lunta.

Dalam masyarakat seperti itu, kemungkaran dan kejahatan bahkan dapat memperoleh pengakuan sebagai sesuatu yang wajar. Ketika sebuah kebiasaan buruk telah diterima bersama, masyarakat tidak lagi merasa perlu mempertanyakannya. Di sinilah sebuah kerusakan menjadi jauh lebih berbahaya: bukan lagi sekadar dilakukan oleh sebagian orang, tetapi telah memperoleh pembenaran sosial.

Rasulullah SAW. melihat bahwa keadaan semacam itu, jika dibiarkan, akan mempercepat kehancuran manusia.

Beliau melihat manusia tenggelam dalam minuman keras hingga melampaui batas kewajaran. Pelacuran, perjudian, dan kedurhakaan telah berkembang menjadi kebiasaan. Praktik riba melampaui batas perampasan dan penindasan. Keserakahan mengejar kekayaan berubah menjadi loba dan ketamakan. Kekejaman mencapai tingkat yang sangat mengerikan, bahkan sampai mengubur hidup-hidup dan membunuh anak-anak yang tidak berdosa.

Beliau juga melihat para penguasa menjadikan bumi Allah SWT. seolah-olah sebagai milik pribadi mereka, sementara manusia diperlakukan sebagai hamba yang dapat dikuasai sesuka hati. Para pendeta dan rahib pun, dalam kritik Al-Qur'an terhadap penyimpangan keagamaan, dapat berubah menjadi pihak yang dipuja-puja, memakan harta manusia dengan cara yang batil, dan menghalangi manusia dari jalan Allah 'Azza wa Jalla.

Yang lebih menyedihkan, karunia Allah SWT. yang sebenarnya diberikan untuk membangun kehidupan justru disalahgunakan. Potensi yang seharusnya menjadi rahmat berubah menjadi sumber bencana.

Keberanian berubah menjadi keganasan dan kebiadaban. Kedermawanan berubah menjadi pemborosan dan penghamburan harta. Harga diri berubah menjadi fanatisme Jahiliyah. Kecerdasan berubah menjadi kelicikan dan penipuan. Akal digunakan untuk merancang kejahatan, sedangkan daya kreasi digunakan sebagai sarana memuaskan hawa nafsu.

Di sinilah kita dapat melihat bahwa persoalan Jahiliyah bukan sekadar banyaknya perilaku buruk. Persoalan yang lebih mendasar adalah berubahnya fungsi berbagai potensi manusia dari jalan yang semestinya.

Potensi yang seharusnya menjadi sarana kebaikan justru menjadi alat kejahatan. Akal tidak lagi menuntun kepada kebenaran. Keberanian tidak lagi melindungi yang lemah. Kekayaan tidak lagi menjadi sarana kemaslahatan. Kekuasaan tidak lagi menjadi amanah.

Muhammad SAW. sebagai Rasul Allah SWT. melihat manusia dan lembaga-lembaga kehidupan dalam keadaan seperti bahan mentah yang belum menemukan tangan yang mampu membentuknya menjadi peradaban yang baik. Manusia seperti lembaran-lembaran papan yang belum mendapatkan tukang kayu untuk menjadikannya bahtera yang mampu mengarungi samudra kehidupan.

Manusia seperti gerombolan domba tanpa penggembala. Politik seperti unta liar yang tali kekangnya terlepas dari tangan pengendaranya. Kekuasaan seperti pedang di tangan orang mabuk: bukannya digunakan untuk melindungi, tetapi justru dapat melukai dirinya sendiri, anak-anaknya, dan orang-orang di sekitarnya.

Pertanyaannya kemudian: dari mana perubahan harus dimulai?

Apakah cukup dengan mengganti penguasa? Apakah cukup dengan membuat peraturan baru? Apakah cukup dengan menghapus satu kebiasaan buruk? Ataukah persoalannya jauh lebih dalam daripada itu?

2. Segi-Segi Kehidupan yang Rusak

Semua kerusakan tersebut tentu menuntut perhatian seorang muslih atau pembaharu. Namun, seorang pembaharu biasa akan menghadapi persoalan yang sangat besar jika kerusakan telah menjalar ke berbagai sisi kehidupan sekaligus.

Ia mungkin mampu memperbaiki satu bidang. Ia dapat memperbaiki sistem ekonomi, atau memperbaiki politik, atau memperbaiki pendidikan, atau memberantas salah satu kebiasaan buruk. Tetapi selama akar kerusakan manusia belum disentuh, kerusakan dapat muncul kembali melalui pintu yang lain.

Hal ini karena jiwa manusia sangat kompleks. Ia mempunyai banyak celah, banyak kecenderungan, dan banyak jalan untuk mencari pembenaran bagi keinginannya sendiri.

Apabila jiwa manusia telah menyimpang, kebiasaan buruk tidak akan mudah dihilangkan hanya dengan memperbaiki gejalanya. Arah kecenderungan jiwa itu sendiri harus diubah: dari kejahatan menuju kebaikan, dari kerusakan menuju perbaikan, dan dari mengikuti hawa nafsu menuju ketundukan kepada Allah SWT.

Karena itu, jiwa manusia harus dibersihkan terlebih dahulu dari benih-benih kejahatan yang tumbuh akibat rusaknya masyarakat dan terganggunya pendidikan. Setelah benih-benih kejahatan itu dibersihkan, barulah dapat ditanamkan rasa cinta kepada kebajikan, keutamaan, dan rasa takut kepada Allah 'Azza wa Jalla.

Di sinilah letak persoalan perubahan yang sebenarnya.

Setiap penyakit yang telah menghinggapi masyarakat dan setiap cacat yang melekat pada suatu generasi membutuhkan waktu yang panjang untuk dihilangkan. Kadang-kadang, penyakit itu bahkan belum sembuh setelah melewati kehidupan beberapa orang pembaharu.

Bayangkan seseorang berusaha menghapus kebiasaan minum arak di sebuah masyarakat yang telah terbiasa hidup mewah, berfoya-foya, dan tenggelam dalam kesenangan duniawi. Apakah cukup dengan mengatakan bahwa arak berbahaya? Apakah cukup dengan menerbitkan buku, menyampaikan pidato, menjelaskan bahayanya bagi kesehatan dan akhlak, atau membuat peraturan yang disertai hukuman berat?

Semua itu mungkin diperlukan. Namun, jika kegemaran minum arak telah berakar pada jiwa yang mencintai kenikmatan tanpa batas, persoalannya tidak selesai hanya dengan melarang minumannya.

Sebab yang harus diubah bukan hanya objek kesenangannya, tetapi cara jiwa memandang kesenangan.

Jika akar itu tidak disentuh, kebiasaan buruk dapat mencari jalan lain. Ia dapat berganti nama, berganti bentuk, atau menemukan ruang baru untuk muncul kembali.

Karena itu, perubahan yang dilakukan Rasulullah SAW. tidak dimulai dengan sekadar memburu gejala. Beliau membangun manusia dari dalam. Beliau mengubah cara manusia memandang Allah, dirinya, kehidupan, dunia, kekayaan, kekuasaan, sesama manusia, dan kehidupan setelah kematian.

Ketika cara pandang berubah, arah kehidupan pun berubah.

Inilah salah satu pelajaran penting dari perjalanan Rasulullah SAW.: perubahan masyarakat yang kokoh harus berakar pada perubahan manusia.

3. Rasulullah SAW. Bukan Tokoh Daerah dan Bukan Sekadar Pemimpin Nasional

Jika Rasulullah SAW. hanya seorang pemimpin politik yang hendak membangun kekuasaan Arab, jalan yang ditempuh sebenarnya dapat dibuat jauh lebih sederhana.

Di Jazirah Arab terdapat banyak kabilah. Seandainya tujuan beliau semata-mata membangun sebuah negara Arab, beliau dapat menghimpun kabilah-kabilah tersebut di bawah satu bendera nasional. Quraisy yang kuat dapat dijadikan pusat kekuasaan, lalu Muhammad SAW. ditempatkan sebagai pemimpinnya.

Bahkan, secara sosial, terdapat modal yang cukup untuk itu. Orang-orang Quraisy mengenal Muhammad SAW. sebagai pribadi yang jujur dan tidak pernah dikenal berdusta. Dalam peristiwa peletakan kembali Hajar Aswad, misalnya, mereka menerima keputusan beliau ketika terjadi perselisihan tentang siapa yang berhak mengembalikannya ke tempat semula.

Dalam salah satu tawaran kepada beliau, bahkan pernah disampaikan bahwa apabila beliau menghendaki kepemimpinan, mereka siap memancangkan panji untuknya dan menjadikannya pemimpin selama hidupnya.

Jika persoalannya hanya kekuasaan, tawaran seperti itu tentu merupakan jalan yang sangat terbuka.

Dengan kepemimpinan politik yang kuat, bangsa Arab dapat diarahkan untuk memperluas kekuasaan. Mereka memiliki keberanian dan kemampuan militer. Mereka dapat diarahkan untuk menghadapi kekuatan-kekuatan besar di sekitar Jazirah Arab, baik Persia maupun Romawi, atau memperluas pengaruh ke wilayah seperti Yaman, Habasyah, dan negeri-negeri tetangga lainnya.

Namun, Rasulullah SAW. tidak mengambil jalan itu.

Mengapa?

Karena tugas yang beliau emban bukan sekadar memindahkan kekuasaan dari satu tangan ke tangan yang lain. Bukan sekadar mengganti penguasa Jahiliyah dengan penguasa Arab. Bukan pula sekadar mengganti bendera suatu pemerintahan dengan bendera pemerintahan yang lain.

Yang hendak diubah adalah manusia dan cara manusia menjalani kehidupan.

Jika yang berubah hanya penguasa, tetapi jiwa manusia tetap sama, maka kekuasaan baru dapat melahirkan bentuk kezaliman yang baru. Jika yang berubah hanya sistem, tetapi manusia yang menjalankannya masih dikuasai keserakahan, fanatisme, hawa nafsu, dan cinta dunia, maka kerusakan dapat kembali muncul dengan wajah yang berbeda.

Karena itu, Rasulullah SAW. memulai perubahan dari tempat yang paling dalam: aqidah, hati, akhlak, cara berpikir, dan kesadaran manusia terhadap amanahnya di hadapan Allah SWT.

Dari sanalah perubahan bergerak keluar—dari individu menuju keluarga, dari keluarga menuju masyarakat, dari masyarakat menuju kehidupan yang lebih luas.

Perubahan semacam ini tidak selalu menghasilkan perubahan yang paling cepat terlihat. Tetapi ia menyentuh akar persoalan.

Sebab Rasulullah SAW. tidak sedang membangun sebuah kekuasaan untuk satu bangsa. Beliau sedang membangun manusia yang mengenal Tuhannya, memahami kedudukannya sebagai hamba Allah, dan menyadari amanahnya dalam kehidupan.

Dari manusia yang demikianlah lahir masyarakat.

Dan dari masyarakat yang demikianlah sebuah peradaban dapat dibangun.

Peradaban yang Dibuat-buat dan Kehidupan Berfoya-foya Kemewahan yang Menjadi Uku...


Peradaban yang Dibuat-buat dan Kehidupan Berfoya-foya

Kemewahan yang Menjadi Ukuran Peradaban

Orang-orang dari lapisan atas di Persia dan Romawi hidup dalam kemewahan dan kecongkakan yang luar biasa. Mereka tenggelam dalam kehidupan yang serba berlebihan, seakan-akan kemewahan itu sendiri merupakan ukuran kemajuan sebuah peradaban.

Mereka bukan sekadar menikmati harta. Kemewahan telah berubah menjadi cara pandang terhadap kehidupan.

Raja-raja Persia dan Romawi, para bangsawan, penguasa, dan orang-orang yang berada di sekitar istana semakin jauh terbenam dalam kesenangan duniawi. Mereka mengejar makanan, pakaian, istana, pesta, pelayan, dan berbagai bentuk kenikmatan lainnya. Keangkuhan pun tumbuh seiring dengan bertambahnya kemewahan.

Maharaja Persia pada masa itu, Kisra Abruwis, disebut memiliki dua belas ribu selir, lima puluh ribu ekor kuda, istana-istana megah, dan berbagai kekayaan yang sulit dihitung.

Makarios menggambarkan kemewahan raja-raja Persia sebagai sesuatu yang luar biasa dalam sejarah. Para Kisra menerima hadiah dan upeti dari berbagai negeri yang berada di antara Timur Jauh dan Timur Dekat. Ketika kekuasaan mereka berakhir akibat masuknya Islam ke Irak, mereka meninggalkan simpanan pakaian kebesaran, hadiah, wewangian, dan berbagai benda berharga yang nilainya sangat besar.

Ketika orang-orang Arab memasuki Persia, mereka menemukan sejumlah wadah yang tertutup rapat dengan timah. Mereka mengira wadah-wadah tersebut berisi makanan. Setelah dibuka, ternyata isinya adalah emas dan perak.

Kemewahan itu bahkan diwujudkan dalam bentuk benda-benda yang menyerupai taman dan alam yang sebenarnya.

Diceritakan bahwa di Mada'in terdapat sebuah benda milik Kisra yang dibuat menyerupai pohon. Tingginya disebut mencapai enam puluh hasta, dengan hamparan yang sangat luas. Bagian-bagiannya dihiasi emas, permata, mutiara, sutera, dan berbagai bahan berharga lainnya. Di dalamnya dibuat gambaran jalan, sungai, taman, pepohonan, bunga, dan bangunan.

Bagi orang yang hidup dalam kesederhanaan, gambaran seperti itu mungkin sulit dibayangkan.

Namun, justru di situlah kita dapat melihat bagaimana kemewahan dapat berkembang menjadi sebuah dunia tersendiri. Alam tidak lagi cukup dinikmati sebagaimana adanya; ia harus dibuat ulang dengan emas, permata, sutera, dan benda-benda mahal agar sesuai dengan selera penguasa.

Peradaban akhirnya berubah menjadi pertunjukan.

Ketika Kemewahan Menjadi Gaya Hidup

Keadaan yang serupa juga terjadi di wilayah Syam yang berada di bawah kekuasaan Romawi.

Para pendeta, pejabat gereja, bangsawan, dan orang-orang yang dekat dengan kekuasaan hidup dalam kemewahan yang luar biasa. Istana dan gedung pertemuan digunakan untuk pesta-pesta. Peralatan yang digunakan serba mahal dan megah.

Hasan bin Tsabit, ketika menggambarkan pesta Jabalah bin Aiham al-Ghassani, menceritakan adanya sepuluh penyanyi perempuan. Lima orang menyanyikan lagu-lagu Romawi dengan iringan alat musik, sementara lima lainnya menyanyikan lagu-lagu rakyat Hirah.

Jabalah duduk di atas kasur empuk yang dilapisi permadani dan ditaburi bunga-bunga harum. Di hadapannya tersedia piring-piring emas dan perak yang berisi minyak wangi ambar dan misik.

Bahkan suhu ruangan pun disesuaikan dengan kenyamanan mereka. Pada musim dingin digunakan api pemanas, sedangkan pada musim panas disediakan salju sebagai penyejuk.

Pakaian pun disesuaikan dengan musim dan status sosial. Semua harus menunjukkan kemewahan.

Di sini terlihat bahwa kemewahan bukan lagi sekadar kebutuhan, melainkan simbol kedudukan.

Seseorang tidak cukup hanya menjadi kaya. Ia harus terlihat kaya.

Tidak cukup hanya memiliki kedudukan. Kedudukannya harus tampak dalam pakaian, rumah, makanan, pesta, kendaraan, dan seluruh gaya hidupnya.

Kemewahan yang Menular ke Masyarakat

Kebiasaan istana kemudian ditiru oleh kaum bangsawan, pedagang besar, hartawan, keluarga terhormat, dan lapisan menengah.

Mereka meniru cara berpakaian, makanan, pesta, dan berbagai bentuk kemewahan yang dilakukan oleh raja dan bangsawan.

Dengan demikian, pola hidup istana tidak berhenti di lingkungan istana. Ia menjalar ke masyarakat dan membentuk standar sosial baru.

Kemewahan akhirnya menjadi semacam hukum tidak tertulis.

Seorang bangsawan atau orang terkemuka harus hidup mewah. Jika tidak, ia dianggap rendah dan dapat dijauhkan dari pergaulan.

Ukuran kehormatan pun bergeser.

Bukan lagi akhlak yang menjadi ukuran utama, melainkan pakaian, harta, perhiasan, dan kemampuan menyelenggarakan kehidupan yang mewah.

Asy-Sya'bi meriwayatkan bahwa kopiah yang dikenakan penduduk Persia dibuat sesuai dengan martabat keturunan dan kedudukan sosial mereka. Orang yang sangat terpandang bahkan mengenakan kopiah yang bernilai sangat tinggi dan dihiasi mutiara serta berlian.

Seorang kepala daerah Hirah yang dianggap memiliki kedudukan setengah mulia disebut mengenakan kopiah seharga lima puluh ribu uang Persia.

Panglima perang Persia, Rustam, disebut pernah memiliki kopiah yang bernilai seratus ribu uang Persia.

Hal-hal semacam ini menunjukkan bahwa bahkan benda yang sederhana seperti penutup kepala dapat berubah menjadi tanda kelas sosial.

Ketika status sosial harus selalu dipertontonkan, manusia akhirnya hidup bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan, tetapi juga untuk memenuhi tuntutan gengsi.

Ketika Peradaban Menjadi Watak Kedua

Orang-orang dari lapisan atas dan menengah Persia semakin tenggelam dalam kehidupan mewah dan adat istiadat yang berlebihan.

Mereka dibesarkan dalam lingkungan seperti itu hingga kemewahan menjadi watak kedua.

Akibatnya, kembali kepada kehidupan sederhana terasa sangat berat, bahkan ketika keadaan sudah tidak memungkinkan.

Kisah tentang Yazdajird, Maharaja Persia terakhir, menggambarkan betapa dalam ketergantungan tersebut. Ketika melarikan diri dari Mada'in, ia disebut membawa seribu koki, seribu penyanyi, seribu perawat harimau, dan seribu perawat burung. Bahkan ada riwayat yang menyebut jumlah itu masih belum mencukupi seluruh rombongannya.

Terlepas dari rincian angka dalam riwayat tersebut, gambaran yang hendak disampaikan sangat kuat: sebuah kehidupan yang telah begitu lama dimanjakan oleh kemewahan akhirnya kehilangan kemampuan untuk hidup secara sederhana.

Ada sebuah kisah tentang Hurmuzah, bangsawan Iran yang berkuasa atas Ahwaz. Ketika ia meminta minum kepada Khalifah Umar bin Khaththab, ia diberi air dalam sebuah wadah yang sederhana. Ia menolak minum karena tidak terbiasa menggunakan wadah seperti itu. Akhirnya Umar memberinya wadah yang lebih sesuai dengan kebiasaannya.

Kisah ini memberikan gambaran betapa gaya hidup dapat membentuk jiwa seseorang. Bahkan dalam keadaan sederhana sekalipun, seseorang yang telah terbiasa dengan kemewahan dapat merasa bahwa sesuatu yang sebenarnya cukup justru tidak layak baginya.

Harga Kemewahan Dibayar oleh Rakyat

Namun, sebuah pertanyaan penting muncul:

Dari mana kemewahan itu dibiayai?

Kemewahan istana tidak muncul dari ruang kosong.

Ketika penguasa membutuhkan lebih banyak kekayaan untuk mempertahankan gaya hidupnya, beban akhirnya jatuh kepada masyarakat.

Berbagai Pajak Tambahan yang Sangat Memberatkan

Akibat kehidupan lapisan atas yang semakin mewah, rakyat harus memikul berbagai tambahan pajak.

Peraturan-peraturan baru dibuat untuk mengambil kekayaan yang masih dimiliki kaum tani, pengrajin, pedagang kecil, dan pekerja tangan.

Beban itu semakin berat hingga banyak rakyat tidak lagi mampu menanggungnya.

Di Iran, raja-raja memiliki kebiasaan menerima hadiah dan upeti yang disebut Aayiin, di luar pajak resmi. Rakyat diwajibkan memberikan hadiah pada hari raya Nuruz dan berbagai perayaan lainnya.

Tambang-tambang emas di Armenia bahkan dinyatakan sebagai milik raja dan digunakan untuk kepentingannya.

Di wilayah Syam yang berada di bawah Romawi, rakyat diwajibkan membayar berbagai bentuk upeti, sepersepuluh hasil panen, dan pungutan berdasarkan jumlah penduduk.

Sumber-sumber penghasilan seperti bea cukai, pertambangan, tanah pertanian, dan hasil bumi berada di bawah penguasaan pemerintah atau pihak-pihak yang memperoleh hak pemungutan.

Dalam praktiknya, para pemungut pajak dapat mengambil lebih banyak daripada jumlah yang sebenarnya harus dibayarkan. Kekuasaan untuk memungut pajak berubah menjadi kesempatan untuk memperkaya diri.

Mereka tidak hanya mengambil kekayaan rakyat, tetapi dalam kasus tertentu bahkan disebut memperjualbelikan penduduk sebagai budak.

Ada sebuah ungkapan yang menggambarkan keadaan tersebut:

«“Penggembala yang baik mencukur bulu kambingnya, tidak mencabutinya.”»

Maksudnya, penguasa seharusnya mengambil dari rakyat secukupnya tanpa menghancurkan sumber kehidupannya.

Namun, ketika pajak dan pungutan telah melampaui kemampuan rakyat, yang terjadi bukan lagi pengelolaan negara, melainkan penggerogotan kehidupan masyarakat.

Kemewahan di Atas, Kesengsaraan di Bawah

Akhirnya masyarakat terbelah secara tajam.

Di satu sisi terdapat raja, pangeran, pejabat istana, keluarga penguasa, bangsawan, dan hartawan. Mereka hidup di istana dan gedung-gedung megah, dikelilingi sutera, wewangian, makanan mewah, dan berbagai benda berharga.

Di sisi lain terdapat petani, pengrajin, dan pekerja tangan.

Mereka hidup di bawah tekanan pajak dan berbagai kewajiban. Mereka bekerja keras, tetapi hasil kerja mereka tidak cukup untuk membebaskan diri dari kemiskinan.

Perbedaan itu bukan sekadar perbedaan tingkat pendapatan.

Ia telah menjadi perbedaan dunia kehidupan.

Yang satu hidup untuk menikmati hasil kekayaan.

Yang lain hidup hanya untuk mempertahankan hidup.

Yang satu memiliki waktu dan sarana untuk mengejar kesenangan.

Yang lain bahkan kesulitan memenuhi kebutuhan dasar.

Yang satu memiliki kekuasaan untuk menentukan aturan.

Yang lain hanya menjadi objek dari aturan tersebut.

Inilah salah satu bentuk paling nyata dari ketidakadilan sosial: orang yang paling sedikit menikmati kekayaan justru menjadi orang yang paling berat menanggung biaya kemewahan.

Rakyat yang Melarikan Diri dari Penderitaan

Dalam keadaan yang demikian, sebagian rakyat mencari jalan untuk melupakan penderitaan.

Ada yang melarikan diri kepada minuman yang memabukkan. Ada pula yang mencari pelarian melalui berbagai perbuatan terlarang.

Ironisnya, sebagian dari mereka tetap berusaha meniru gaya hidup orang-orang kaya.

Mereka ingin menikmati standar kehidupan yang sebenarnya berada di luar kemampuan mereka.

Akibatnya, penderitaan menjadi semakin berat.

Kemewahan yang semula hanya menjadi kebiasaan kelompok atas akhirnya berubah menjadi cita-cita masyarakat luas. Orang miskin tidak hanya menderita karena kekurangan, tetapi juga karena terus-menerus membandingkan dirinya dengan kehidupan orang kaya.

Inilah sisi lain dari peradaban yang dibangun di atas gengsi: kemewahan bukan hanya memperkaya orang kaya, tetapi juga dapat menanamkan rasa kekurangan dalam jiwa orang miskin.

Antara Si Kaya yang Durhaka dan Si Miskin yang Terlupakan

Dalam keadaan seperti itu, persoalan akhirnya tidak lagi hanya bersifat ekonomi.

Ia menjadi persoalan moral dan spiritual.

Risalah para nabi semakin kehilangan pengaruh dalam kehidupan masyarakat. Nilai-nilai luhur dan akhlak utama tersisih oleh perlombaan mengejar kenikmatan dunia.

Si kaya menjadi durhaka karena terlalu sibuk mengejar kekayaan.

Si miskin menjadi terlupakan karena terlalu sibuk bertahan hidup.

Keduanya berada dalam kondisi yang berbeda, tetapi sama-sama kehilangan orientasi yang lebih tinggi.

Orang kaya tidak lagi memikirkan kehidupan akhirat karena tenggelam dalam kenikmatan dunia.

Orang miskin pun kesulitan memikirkan kehidupan akhirat karena seluruh energinya habis untuk menghadapi beban kehidupan.

Roda kehidupan berputar begitu keras di sekitar kebutuhan duniawi sehingga manusia tidak memiliki ruang untuk mengangkat kepala dan bertanya:

Untuk apa sebenarnya hidup ini?

Tidak ada lagi waktu untuk merenungkan hati nurani, nilai-nilai luhur, tanggung jawab kepada Allah, dan kehidupan setelah kematian.

Inilah keadaan yang lebih berbahaya daripada sekadar kemiskinan atau kemewahan.

Sebuah masyarakat dapat kehilangan arah bukan hanya ketika rakyatnya miskin, tetapi juga ketika orang-orang kaya kehilangan rasa tanggung jawab.

Gambaran Suasana Kejahiliyahan

Syeikh Waliyullah ad-Dahlawi memberikan gambaran yang sangat kuat mengenai keadaan tersebut.

Menurutnya, setelah berabad-abad memegang kepemimpinan dunia, masyarakat Persia dan Romawi tenggelam dalam kenikmatan duniawi dan melupakan akhirat. Mereka dikuasai hawa nafsu dan kehidupan mewah.

Berbagai kecerdasan manusia bahkan digunakan untuk menciptakan sarana-sarana baru bagi kenikmatan.

Mereka berlomba dalam kemegahan.

Seseorang dianggap rendah jika tidak mengenakan mahkota atau kopiah yang mahal, tidak memiliki istana, taman, kolam, air mancur, ternak, pelayan, makanan mewah, dan pakaian indah.

Kemewahan akhirnya bukan lagi sekadar pilihan pribadi.

Ia berubah menjadi standar sosial.

Orang yang tidak mampu mengikutinya dipandang rendah. Orang yang mampu mengejarnya justru semakin terdorong untuk melampaui yang lain.

Lalu penyakit itu menjalar ke seluruh lapisan masyarakat.

Tidak hanya orang kaya yang terjangkit, tetapi juga orang miskin.

Tidak hanya penguasa, tetapi juga rakyat.

Kemewahan menciptakan kebutuhan yang semakin besar. Kebutuhan yang semakin besar membutuhkan uang yang semakin banyak. Uang itu kemudian dicari dengan memperbesar pajak dan memeras hasil kerja petani, pedagang, serta rakyat kecil.

Jika mereka menolak, mereka dapat disiksa atau dibunuh.

Jika mereka tunduk, mereka diperlakukan seperti alat produksi yang hanya berguna selama mampu bekerja.

Mereka membajak tanah, menanam, menyiram, dan memanen. Tetapi mereka tidak benar-benar memiliki hasil dari tenaga mereka sendiri.

Mereka tidak diberi kesempatan untuk berhenti.

Tidak diberi kesempatan untuk mengangkat kepala.

Tidak diberi kesempatan untuk memikirkan kehidupan yang lebih tinggi.

Ketika Manusia Tidak Lagi Memiliki Waktu untuk Mengingat Allah

Di sinilah gambaran kejahiliyahan menjadi lebih dalam.

Jahiliyah bukan sekadar masyarakat yang tidak memiliki ilmu pengetahuan.

Sebuah masyarakat dapat memiliki istana yang megah, teknologi, kekayaan, administrasi, perdagangan, dan berbagai bentuk kemajuan material, tetapi tetap berada dalam keadaan jahiliyah apabila manusia kehilangan arah tentang tujuan hidupnya.

Ketika kemewahan menjadi tujuan, manusia diperbudak oleh harta.

Ketika kekuasaan menjadi tujuan, manusia diperbudak oleh kekuasaan.

Ketika gengsi menjadi tujuan, manusia diperbudak oleh pandangan manusia lain.

Dan ketika kebutuhan dunia begitu mendominasi kehidupan, manusia bahkan tidak lagi memiliki waktu untuk memikirkan akhirat.

Inilah ironi sebuah peradaban yang tampak maju dari luar, tetapi mengalami kemiskinan dari dalam.

Istana-istana boleh semakin tinggi, tetapi jiwa manusia dapat semakin rendah.

Kekayaan boleh semakin banyak, tetapi rasa cukup dapat semakin hilang.

Peradaban boleh semakin gemerlap, tetapi manusia dapat semakin jauh dari tujuan penciptaannya.

Karena itu, persoalan yang dihadapi masyarakat Jahiliyah bukan semata-mata persoalan kemewahan. Persoalannya adalah ketika kemewahan kehilangan kendali moral, kekayaan kehilangan amanah, dan kehidupan dunia kehilangan hubungan dengan kehidupan akhirat.

Pada titik itulah peradaban yang tampak megah dari luar dapat berubah menjadi peradaban yang dibuat-buat: besar dalam penampilan, tetapi rapuh dalam nilai; kaya dalam harta, tetapi miskin dalam keadilan; dan maju dalam kemegahan, tetapi kehilangan arah tentang untuk apa manusia sebenarnya hidup.

Sistem Politik dan Ekonomi pada Masa Jahiliyah Monarki Absolut dan P...

Sistem Politik dan Ekonomi pada Masa Jahiliyah

Monarki Absolut dan Pemujaan terhadap Kekuasaan

Zaman Jahiliyah merupakan salah satu panggung sejarah yang memperlihatkan bagaimana kekuasaan dapat berubah menjadi alat penindasan ketika tidak dibatasi oleh nilai keadilan. Sistem politik pada masa itu di berbagai wilayah umumnya dibangun di atas kekuasaan yang terpusat dan mutlak. Raja atau penguasa memiliki kewenangan yang sangat besar, sementara rakyat berada dalam posisi yang lemah.

Di sejumlah negeri, kekuasaan bahkan tidak hanya dipandang sebagai hak politik, tetapi dibungkus dengan keyakinan yang memberikan kesan kesucian kepada penguasa. Kekuasaan diwariskan melalui dinasti tertentu dan dipertahankan dengan membangun keyakinan bahwa keluarga penguasa memang memiliki hak khusus untuk memerintah.

Di Persia, misalnya, Dinasti Sassanid meyakini bahwa hak mereka atas kerajaan berasal dari Tuhan. Keyakinan tersebut kemudian ditanamkan kepada masyarakat sehingga kekuasaan dinasti tidak sekadar diterima sebagai kenyataan politik, tetapi juga dianggap sebagai sesuatu yang memiliki legitimasi suci.

Di sinilah persoalan kekuasaan menjadi lebih dalam. Ketika sebuah kekuasaan berhasil meyakinkan rakyat bahwa dirinya memiliki hak suci untuk memerintah, maka perlawanan terhadap penguasa tidak lagi dipandang sekadar sebagai perlawanan politik. Ia dapat dianggap sebagai pelanggaran terhadap tatanan yang dianggap telah ditetapkan.

Kekuasaan akhirnya bukan hanya menguasai tubuh manusia, tetapi juga berusaha menguasai cara manusia berpikir.

Pemujaan terhadap Raja

Pola serupa ditemukan di Cina. Raja dipandang sebagai Maharaja, Putra Langit, dan dianggap memiliki kedudukan khusus dalam tatanan kosmis.

Dalam kepercayaan yang berkembang ketika itu, langit dipandang sebagai unsur laki-laki dan bumi sebagai unsur perempuan, yang kemudian melahirkan alam semesta. Maharaja Cina yang pertama dipandang sebagai anak sulung dari pasangan tersebut. Karena itu, seorang maharaja dianggap sebagai bapak bagi seluruh bangsa Cina.

Kedudukan tersebut memberikan ruang kekuasaan yang sangat luas. Rakyat dapat memandang raja sebagai sosok yang berhak menentukan segala sesuatu. Bahkan, ungkapan yang berkembang menggambarkan hubungan tersebut secara sangat paternalistik: raja dianggap sebagai bapak dan ibu bangsa.

Ketika Maharaja Lie Yan atau Thai Tsung meninggal dunia, seluruh negeri Cina berkabung. Kesedihan itu bahkan diekspresikan melalui tindakan-tindakan ekstrem. Ada yang menusuki wajahnya dengan jarum, menggunduli kepala, atau memukuli telinganya sendiri sebagai bentuk duka.

Kita dapat melihat sebuah pola yang berulang dalam sejarah: ketika penguasa ditempatkan terlalu tinggi, rakyat tidak lagi diposisikan sebagai manusia merdeka yang memiliki kehormatan, melainkan sebagai bagian dari struktur kekuasaan yang harus tunduk kepada penguasa.

Pemujaan terhadap Bangsa dan Tanah Air: Imperium Romawi

Bentuk lain dari pemujaan terhadap kekuasaan terdapat dalam Imperium Romawi. Jika di tempat lain kekuasaan dipusatkan pada raja atau dinasti, di Romawi kebanggaan terhadap bangsa dan imperium menjadi salah satu dasar kehidupan politik.

Bangsa dan tanah Romawi ditempatkan sebagai pusat kepentingan. Negeri-negeri lain dipandang terutama berdasarkan manfaatnya bagi kepentingan imperium.

Dalam keadaan seperti itu, bangsa yang ditaklukkan kehilangan kedudukan yang setara. Mereka diperlakukan sebagai pihak yang harus menyediakan tenaga, kekayaan, dan sumber daya untuk kepentingan pusat kekuasaan.

Robert Briffault menggambarkan bahwa keruntuhan Romawi bukan semata-mata disebabkan oleh kerusakan moral seperti korupsi, tetapi juga oleh kerusakan yang telah melekat dalam struktur negara sejak awal. Menurutnya, lembaga-lembaga negara dan kemasyarakatan dibangun di atas landasan yang tidak sehat sehingga pada akhirnya tidak mampu menyelamatkan negara dari akibat kesalahan dan penyimpangan fundamental.

Ada pelajaran penting di sini: sebuah negara dapat memiliki hukum, lembaga, kekuatan militer, kemampuan administrasi, bahkan peradilan yang maju, tetapi semua itu belum tentu menyelamatkan sebuah masyarakat apabila fondasi keadilannya telah rusak.

Negara yang hanya menjadi alat kesejahteraan bagi segelintir orang, sementara sebagian besar rakyat diperas untuk menopangnya, pada akhirnya akan menghadapi keretakan dari dalam.

Pemerintahan Romawi di Mesir dan Syam

Gambaran tersebut semakin jelas ketika melihat pemerintahan Romawi di wilayah yang mereka kuasai.

Mengenai Mesir, Doktor Alfred G. Butler menggambarkan bahwa pemerintahan Romawi lebih berorientasi pada pengerukan kekayaan rakyat untuk kepentingan penguasa daripada peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Tujuan untuk mendidik rakyat, meningkatkan taraf kehidupan, atau memperbaiki kesejahteraan mereka bukan menjadi perhatian utama. Pemerintahan dijalankan oleh orang-orang asing yang bertumpu pada kekuatan dan kekerasan serta tidak memiliki kedekatan dengan masyarakat yang mereka perintah.

Keadaan di Syam juga mengalami perubahan.

Menurut sejarawan Syam, Al-Ustadz Kurdi Ali, pada mulanya penduduk Syam diperlakukan dengan cukup baik oleh Romawi. Namun, setelah imperium menjadi semakin kuat, perlakuan tersebut berubah menjadi sistem penghambaan dan penindasan.

Penduduk Syam tetap tinggal di tanah mereka sendiri, tetapi secara politik dan ekonomi mereka merasa seperti orang asing di negeri sendiri.

Pajak yang dibebankan kepada rakyat begitu berat sehingga sebagian mereka bahkan menjual anak-anaknya untuk memenuhi kewajiban yang ditetapkan pemerintah.

Kerja paksa, pemerasan, dan perbudakan pun merajalela.

Ironisnya, pada saat yang sama, kekuasaan tersebut mampu membangun tempat-tempat pendidikan dan istana-istana megah. Hal ini memperlihatkan bahwa kemajuan pembangunan tidak selalu identik dengan kesejahteraan rakyat.

Sebuah peradaban dapat membangun bangunan yang megah, tetapi jika manusia yang menopang pembangunan itu hidup dalam penindasan, maka kemegahan tersebut menyimpan persoalan moral yang mendalam.

Pergantian Penguasa, tetapi Penindasan Tetap Berulang

Syam mengalami sejarah panjang pergantian kekuasaan. Romawi memerintah wilayah itu selama berabad-abad. Sebelumnya dan sesudahnya, kekuasaan Yunani juga meninggalkan jejak konflik dan peperangan.

Dalam catatan yang dikutip dalam sumber ini, masa pemerintahan berbagai kekuatan asing di Syam digambarkan sebagai periode yang diwarnai peperangan, perpecahan, dan penderitaan rakyat.

Karena itu, persoalannya tidak berhenti pada siapa yang menjadi penguasa.

Pergantian penguasa tidak otomatis mengubah nasib rakyat apabila struktur kekuasaan yang menindas tetap dipertahankan.

Inilah salah satu pelajaran penting dari sejarah: perubahan nama penguasa tidak selalu berarti perubahan sistem.

Sistem Perpajakan di Negeri Iran

Keadaan serupa juga terlihat di Persia.

Sistem ekonomi dan politik Iran pada masa Sassanid digambarkan tidak stabil dan sarat dengan ketidakadilan. Salah satu sumber persoalan adalah sistem perpajakan yang sangat bergantung pada perilaku para pejabat yang bertugas memungut pajak.

Besarnya pajak dapat berubah-ubah. Dalam praktiknya, para pemungut pajak memiliki ruang untuk melakukan penyimpangan, bahkan merampas kekayaan rakyat.

Seorang penulis sejarah Iran pada zaman Sassanid menggambarkan bahwa besarnya pajak dan upeti dapat bertambah atau berkurang sehingga pemasukan negara tidak stabil. Sementara itu, biaya peperangan yang terus berlangsung membutuhkan sumber dana yang besar.

Ketika negara membutuhkan uang untuk membiayai peperangan, jalan yang ditempuh adalah menambah beban pajak rakyat.

Daerah-daerah yang dikenal kaya, seperti Babil, menjadi sasaran pajak baru.

Di sini terlihat bagaimana peperangan dan sistem perpajakan dapat membentuk lingkaran yang merugikan rakyat: peperangan membutuhkan biaya, biaya ditarik dari rakyat, beban rakyat meningkat, sementara kekuasaan tetap membutuhkan lebih banyak sumber daya untuk mempertahankan dirinya.

Harta Kekayaan Raja-Raja Iran

Di tengah beratnya beban rakyat, kekayaan para raja Iran justru terkonsentrasi dalam jumlah yang sangat besar.

Sebagian besar sumber daya negara tidak digunakan untuk meningkatkan kehidupan rakyat, tetapi tersimpan dalam bentuk kekayaan kerajaan.

Menurut sumber yang dikutip dalam tulisan ini, raja-raja Iran terbiasa menimbun uang dan benda-benda berharga.

Antara tahun 607 dan 608 M, ketika Maharaja Kisra II memindahkan hartanya ke istana barunya di Mada'in, disebutkan bahwa nilai kekayaan yang dipindahkan mencapai 468 juta tail emas. Sumber yang sama menyebut bahwa pada tahun ketiga belas pemerintahannya, simpanan kekayaannya mencapai 800 juta tail emas.

Terlepas dari rincian angka yang berasal dari sumber sejarah tersebut, gambaran yang ingin disampaikan sangat jelas: terdapat konsentrasi kekayaan yang sangat besar di lingkungan istana, sementara sebagian besar rakyat hidup dalam kondisi yang jauh lebih berat.

Persoalannya bukan semata-mata tentang banyak atau sedikitnya harta seorang penguasa. Persoalan yang lebih mendasar adalah ketika kekayaan yang dihasilkan masyarakat terkonsentrasi di tangan segelintir orang, sementara masyarakat luas tidak menikmati hasil dari kekayaan tersebut.

Jurang antara Lapisan Masyarakat

Ketimpangan sosial semakin terlihat dalam struktur masyarakat Iran.

Golongan hartawan hanya terdiri atas segelintir orang, sedangkan sebagian besar penduduk mengalami kemiskinan.

Penulis Iran fi Ahdis Sassanid, ketika membahas masa yang dianggap sebagai salah satu periode paling sengsara di Iran, menggambarkan bahwa pembenahan keuangan yang dilakukan Kisra Anusyirwan lebih banyak menguntungkan kepentingan istana daripada rakyat.

Rakyat tetap hidup dalam kebodohan dan kemelaratan.

Para filosof Byzantium bahkan mengkritik struktur sosial Persia karena melihat adanya jurang yang sangat lebar antara lapisan masyarakat. Dalam masyarakat seperti itu, orang yang kuat menindas orang yang lemah.

Kekuasaan dan kekayaan kemudian saling menguatkan. Orang yang telah memiliki kekayaan memperoleh kedudukan; kedudukan menghasilkan pengaruh; pengaruh memberikan akses terhadap kekuasaan; dan kekuasaan kembali memperkuat kekayaan.

Sebuah lingkaran sosial pun terbentuk.

Sistem Kelas dan Warisan Kedudukan

Pangkat dan kedudukan dalam masyarakat juga cenderung diberikan kepada keluarga atau keturunan yang telah memiliki kekayaan, kedudukan, dan pengaruh di lingkungan penguasa.

Robert Briffault menggambarkan bahwa dalam masyarakat Romawi pada masa kemerosotan, sistem kelas semakin kuat. Ketika lembaga-lembaga sosial menghadapi ancaman perubahan, kelompok yang berkuasa justru berusaha mencegah munculnya gerakan yang dapat mengubah struktur tersebut.

Akibatnya, masyarakat terikat pada kelas sosialnya.

Seseorang tidak bebas menentukan masa depannya. Anak harus mengikuti profesi ayahnya. Kedudukan sosial diwariskan dan sulit ditembus oleh orang dari lapisan bawah.

Ketika status sosial ditentukan sejak lahir, manusia kehilangan salah satu unsur penting dari kebebasannya: kesempatan untuk mengembangkan dirinya berdasarkan kemampuan dan usahanya sendiri.

Kaum Tani di Negeri Iran

Lapisan masyarakat yang paling merasakan beratnya sistem tersebut adalah kaum tani.

Rakyat dibebani berbagai pajak baru yang sangat memberatkan. Tidak sedikit petani yang meninggalkan pekerjaannya atau masuk ke biara untuk menghindari pajak dan kewajiban menjadi serdadu bagi negara yang tidak mereka rasakan sebagai milik mereka.

Ketika sistem ekonomi membuat pekerjaan tidak lagi memberikan kehidupan yang layak, pengangguran dan berbagai bentuk kejahatan pun berkembang.

Penulis Iran fi Ahdis Sassanid menggambarkan penderitaan kaum petani. Mereka terikat pada tanah garapan, tetapi tenaga mereka dapat digunakan tanpa upah dan mereka dipaksa melakukan berbagai pekerjaan.

Sejarawan Ammianus Marcellinus juga menggambarkan kaum tani yang mengikuti pasukan dengan berjalan kaki dalam keadaan sengsara, tanpa memperoleh gaji atau upah yang layak.

Hubungan antara petani dan tuan tanah akhirnya menyerupai hubungan antara budak dan tuannya.

Di sini kita melihat bagaimana ketidakadilan ekonomi bukan hanya persoalan angka pajak atau kepemilikan tanah. Ketidakadilan dapat mengubah hubungan antarmanusia: satu pihak menjadi pemilik kekuasaan, sementara pihak lain kehilangan kebebasan untuk menentukan hidupnya sendiri.

Penindasan dan Kesewenang-wenangan

Penindasan juga terjadi di berbagai wilayah lain.

Di Syam dan Irak, sumber yang dikutip dalam tulisan ini menyebut adanya penindasan terhadap rakyat oleh kelompok-kelompok yang memiliki kekuasaan. Di Mesir, kelompok Jacobian juga disebut melakukan tindakan yang merugikan rakyat.

Kezaliman tidak hanya menyentuh harta benda. Jiwa manusia dan kehormatan perempuan pun ikut menjadi korban.

Lebih menyedihkan lagi, para pejabat yang seharusnya menegakkan keadilan justru tidak memedulikan keluhan rakyat.

Ketika ketidakadilan berlangsung terlalu lama, manusia dapat mengalami keadaan yang lebih berbahaya daripada sekadar kemiskinan: mereka mulai menganggap kezaliman sebagai sesuatu yang normal.

Rakyat akhirnya menerima penderitaan sebagai nasib yang tidak mungkin diubah. Keadaan yang seharusnya dilawan justru dianggap sebagai takdir yang harus diterima.

Bahkan dalam kondisi tertentu, sebagian orang lebih memilih kematian daripada terus menjalani kehidupan yang penuh penindasan.

Ketika Kekuasaan Kehilangan Amanah

Jika seluruh gambaran tersebut direnungkan, tampak bahwa persoalan masyarakat Jahiliyah bukan hanya persoalan buruknya seorang raja atau pejabat tertentu.

Masalahnya lebih mendasar: kekuasaan kehilangan amanahnya.

Ketika raja dianggap memiliki hak mutlak, ketika dinasti dianggap memiliki hak suci untuk memerintah, ketika bangsa tertentu merasa berhak menguasai bangsa lain, ketika pajak digunakan untuk menopang peperangan dan kemewahan istana, ketika kekayaan terkonsentrasi pada segelintir orang, dan ketika rakyat tidak memiliki ruang untuk mengubah keadaan, maka politik dan ekonomi tidak lagi menjadi sarana untuk menjaga kehidupan manusia.

Keduanya berubah menjadi instrumen kekuasaan.

Sejarah seperti ini penting untuk direnungkan bukan sekadar agar kita mengetahui bagaimana manusia hidup pada masa lalu. Sejarah memperlihatkan sebuah pola yang dapat berulang kapan saja:

ketika kekuasaan tidak dibatasi oleh keadilan, kekayaan tidak disertai amanah, dan manusia kehilangan kehormatan di hadapan manusia lainnya, maka sistem politik dan ekonomi perlahan berubah menjadi alat penindasan.

Karena itu, perubahan sebuah peradaban tidak cukup hanya dengan mengganti penguasa.

Yang harus diperbaiki adalah cara manusia memandang kekuasaan, harta, hukum, dan kehormatan manusia itu sendiri.

Di situlah kita dapat memahami mengapa risalah Islam tidak hanya berbicara tentang ibadah individual, tetapi juga membawa perubahan terhadap cara manusia membangun kehidupan bersama.

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adam (5) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Akhirat (8) Al-Baqarah (1) Al-Qur'an (363) Al-Qur’an (75) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) An-Nadwi (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bahaya Kemunduran Umat Islam (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (53) Cerita kegagalan (1) cerpen Nabi (8) cerpen Nabi Musa (2) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) dakwah (19) Dakwah (36) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) ekonomi (3) Ekonomi (42) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) english (6) English (6) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fiqh (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (7) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) hikmah (1) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum (7) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) ikhtilaf (1) Ikhtilaf (9) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) Islam (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) kecerdasan (22) Kecerdasan (342) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Hadist (4) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) kisah para nabi dan (2) kisah para nabi dan rasul (61) kisah para Nabi dan Rasul (1) Kisah para nabi dan rasul (120) Kisah Para Nabi dan Rasul (577) kisah para nabi dan rasul. Nabi Daud (1) kisah para nabi dan rasul. nabi Musa (2) Kisah Penguasa (1) Kisah ulama (1) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) nabi adam (1) Nabi Adam (75) nabi Adam. Adam (1) Nabi Ayub (1) Nabi Daud (3) Nabi Ibrahim (3) Nabi Isa (2) nabi Isa. nabi ismail (1) Nabi Ismail (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Khidir (1) Nabi Musa (29) Nabi Nuh (6) Nabi Sulaiman (2) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (15) Namrudz (2) Nasrulloh Baksolahar (1) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) nusantara (11) Nusantara (323) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (791) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) politik (3) Politik (28) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rasulullah shalallahu alaihi wassalam (1) Rehat (493) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) Sahabat (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) Salimul Aqidah (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Serah Nabawiyah (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (338) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah penguasa (11) Sirah Penguasa (253) sirah Sahabat (2) Sirah Sahabat (173) Sirah Tabiin (43) Sirah ulama (36) Sirah Ulama (158) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tamim Ad Dari (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Wakaf (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)